5. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Operasi Penangkapan 5.1.1. Persiapan di Darat
CV. Sari Usaha Bitung memiliki beberapa staff tenaga kerja yang
mendapat tugas dan tanggung jawabnya masing – masing diantaranya adalah bagian operasional dan logistik. Dalam rangka mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan operasi penangkapan terlebih dahulu bagian operasional dan logistik mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan oleh KM. Sinar Bahari sebelum keberangkatan kapal menuju fishing ground, yaitu diawali terlebih dahulu dengan perencanaan dan persiapan agar dalam pelaksanaan pada saat kapal berlayar dan melakukan operasi penangkapan tidak terjadi kendala teknis seperti terdapatnya kekurangan kebutuhan dalam operasi penangkapan. Adapun persiapan :
1. Mempersiapkan surat – surat kapal dan pengurusan dokumen – dokumen berupa Surat Ijin Berlayar (SIB) dan Sijil Awak Kapal kepada pejabat yang berwenang atau instansi yang berwenang dalam hal ini dinas kesyahbandaran Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung,
2. Pengisian bahan bakar, es, air tawar dan perbekalan makanan yang diperlukan selama satu trip operasi. Bahan bakar solar yang dibutuhkan sekitar 7.000 liter dengan harga Rp. 4.725/liter, bensin 50 liter dan es yang dibutuhkan setiap satu trip rata - rata 175 balok dengan harga Rp. 12.000/ kg dengan berat tiap balok 50 kg.
3. Pengecekan kelengkapan alat tangkap, mesin, alat bantú penangkapan dan perlengkapan navigasi.
5.1.2 Persiapan di laut
Sebelum kapal menuju daerah penangkapan telebih dahulu kapal menyediakan umpan hidup yang merupakan faktor utama keberhasilan penangkapan cakalang (Katsuwonus pelamis).
5.1.2.1. Pengambilan umpan hidup
Umpan hidup merupakan faktor utama dalam pengoperasian huhate (pole
and line), karena dengan umpan hidup akan memudahkan memancing cakalang
untuk mendekati kapal dan naik ke permukaan laut.
Pengambilan umpan hidup dilakukan dalam dua tahap dan pada umumnya dilakukan pada malam hari. Tahapan tersebut antara lain :
1. Tahap penanganan umpan dari bagan apung
Pengangkatan umpan hidup dari bagan apung dilakukan oleh dua orang ABK jaga, pertama kantong jaring bagan yang berisi umpan diperkecil agar mempermudah pada saat pengambilan umpan untuk dipindahkan ke bak penampung umpan hidup di atas kapal, berikutnya pengambilan umpan dilakukan dengan mengunakan ember. Umpan hidup tersebut diperoleh dengan membeli dari bagan – bagan umpan milik nelayan yang tinggal di pesisir pantai, Sistim pembeliannya dengan dua cara yaitu sistim borong dan pembelian dalam hitungan ember sebesar Rp. 50.000 – Rp.100.000 per ember.
Dalam operasinya KM. Sinar Bahari memerlukan sekitar 190 – 200 ember umpan hidup atau sekiatar 9.500 – 10.000 liter umpan hidup dimana 1 ember berisi 50 liter atau 15 – 20 ekor per liter.
Ketika jaring mulai diangkat dari dalam air, kondisi ikan umpan masih dalam keadaan tenang karena belum sadar akan keberadaanya yang sudah terkurung oleh jaring. Ketika jaring mulai di angkat maka ruang gerak umpan akan terbatas sehingga mengakibatkan umpan mengalami shock dan akan bergerak kesegala arah. Untuk mencegah hal itu, maka diusahakan ruang gerak umpan tersebut tidak terlalu sempit dan jaring diusahakan oleh ABK jaga agar tidak terlipat, karena apabila hal itu terjadi maka ikan umpan akan terjepit. Salah satu cara/usaha para ABK KM. Sinar Bahari untuk menghindari kondisi ini adalah dengan menarik jaring sesuai dengan banyaknya umpan yang tertangkap. Jika umpan banyak maka jaring sisa penarikan dibuat lebih besar dan bentuk jaring di buat sebaik mungkin agar airnya tidak terlalu kering atau terlalu sedikit karena umpan yang berada dalam jaring sedikit airnya biasanya menyebabkan terjadinya gesekan antara ikan - ikan tersebut selanjutnya menyebabkan ikan akan kehilangan sisik atau terluka. Kerusakan fisik sering juga terjadi pada saat pemindahan umpan dari bagan ke dalam bak penampung umpan, oleh karena itu saat pemindahan umpan juru umpan (boi – boi) selalu mengontrol proses pemindahannya jangan sampai pengisian setiap embernya terlalu padat dan mengakibatkan ikan umpan tersebut berdesak - desakkan dan sisiknya dapat terkelupas. Apabila penanganan ini tidak diperhatikan, umpan akan cepat mati, meskipun ada yang masih hidup pada waktu pemancingan, tetapi umpan hidup
tersebut sudah tidak efektif lagi untuk dipakai sebagai umpan karena tidak mampu lagi memberikan refleksi cahaya yang menyolok dalam gerakannya.
Proses pemindahan dari bagan apung ke dalam bak penampung umpan di KM. Sinar Bahari telah dilakukan dengan benar. Pemindahan umpan hidup kedalam bak penampung umpan dilakukan sangat hati – hati, yakni dengan cara ditumpahkan secara perlahan - lahan dan bahkan umpan tersebut dibiarkan keluar dengan sendirinya dari ember ke dalam bak penampung umpan ketika posisi ember umpan dicelupkan kedalam bak penampung umpan.
Gambar 20. Pengumpulan Umpan Hidup Pada Bagan Umpan
Gambar 21. Pengangkatan Umpan Hidup dari Bagan Umpan 2. Tahap Penanganan Umpan Hidup Di Atas Kapal
Agar ikan umpan hidup yang telah tersimpan di dalam bak penampung umpan dapat bertahan hidup lebih lama dan pada saat ditebarkan masih dalam kondisi hidup normal, untuk itu para ABK selalu memperhatikan hal sebagai berikut :
1). Kepadatan umpan di dalam bak penampung
Salah satu hal yang harus dilakukan oleh ABK jaga di KM. Sinar Bahari ialah mengusahakan agar jumlah umpan hidup yang akan dimasukkan ke dalam bak umpan tidak terlalu padat. Oleh sebab itu jumlah umpan yang dimasukkan disesuaikan dengan kapasitas bak penampung umpan.
Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan kepada nakhoda KM. Sinar Bahari, bahwa kapasitas pada bak penampung umpan untuk menampung umpan hidup dapat memuat sekitar 190 – 200 ember/ 9500 – 10.000 liter.
2). Sirkulasi air
Pengaturan sirkulasi di dalam bak umpan dilakukan agar ikan dapat membentuk kelompok (schooling) yang baik. Pada KM. Sinar Bahari sirkulasi air yang dilakukan di dalam bak penampung umpan menggunakan belahan bambu yang ujungnya sedikit dikeluarkan dari lunas kapal melalui lubang dasar kapal yang ada pada bak penampung umpan. Dengan kapal bergerak maju, air laut masuk pada bak penampung melalui belahan bambu dan keluar melalui lubang yang ditutup dengan saringan (jala – jala) pada bak penampung. Susunan
monofilamen berbentuk seperti jaring yang diikatkan pada besi dengan diameter
lingkaran 10 cm. Untuk mengatur kekuatan sirkulasi air ini dengan cara memanjangkan atau memendekkan ujung belahan bambu yang berada di luar lubang dasar kapal, dengan demikian sirkulasi air yang terjadi di dalam bak penampung umpan tidak terlalu kuat atau terlalu lemah.
Gambar 22. Sirkulasi air di dalam bak penampung umpan hidup Keterangan :
1. Leper bambu 4. Dinding palkah 2. Lubang pengeluaran air 5. Saringan (jala – jala) 3. Arah gerak kapal 6. Papan dek
3). Penerangan pada bak penampung umpan
Sumber cahaya yang dipasang pada bak penampung umpan menggunakan lampu berkekuatan 20 - 25 watt, adapun aliran listrinya diambil dari anjungan kapal. Penerangan ini diperlukan pada bak penampung umpan untuk penerangan pada malam hari hingga menjelang pagi hari, kegunaannya agar umpan hidup dalam bak penampung menjadi tenang sehingga daya tahan hidup umpanpun lebih lama.
Pada saat menjelang siang hari lampu pada bak penampung dikeluarkan oleh ABK jaga yang bertugas pada saat itu, kemudian bak ditutup dengan mengunakan papan untuk menguragi masuknya cahaya matahari dengan tujuan agar umpan tidak berpencar dan tenang selama kapal berlayar menuju fishing
ground.
\ (a) (b)
Gambar 23. a). Bak penampung pada malam hari, b). Bak penampung pada siang hari.
Penanganan umpan hidup pada saat pengoperasian dan saat berada dalam bak penampung umpan hidup adalah :
3). Penangana umpan hidup saat beroperasi
Penanganan yang dilakukan ABK jaga dalam penanganan umpan hidup saat pengoperasian antara lain, pemberian umpan hidup ke dalam bak penebar umpan dilakukan secara bertahap dan tidak terlalu banyak. Apabila umpan hidup yang sudah dimasukkan ke dalam bak penebar ternyata tidak habis dipakai/ditebar ke laut, maka umpan tersebut oleh ABK akan dimasukkan kembali ke dalam bak penampung umpan. Biasanya dalam hal ini akan menyebabkan umpan menjadi lemah dan tidak dapat menarik perhatian ikan cakalang karena sisiknya yang sudah rusak. Oleh sebab itu banyaknya pemasukan ikan ke dalam bak penebar umpan dikontrol oleh juru umpan (boi - boi).
Tabel 6. Daerah pengambilan umpan hidup KM. Sinar Bahari
No. Daerah Posisi
Lintang Bujur 1 Kinabahutan 010 50' 00’ LU 1250 05' 00’ BT 2 Gangga 010 40' 00’ LU 1250 05' 00’ BT 3 Trosik 000 24' 00’ LS 1240 12' 00’ BT 4 Jiko Blanga 000 27' 00’ LS 1240 29' 00’ BT 5 Ratatotok 000 53' 00’ LS 1240 43' 00’ BT 6 Pintu Kota 000 54' 00’ LS 1230 43' 00’ BT
Jenis - jenis ikan yang sering digunakan sebagai umpan hidup pada KM. Sinar Bahari Lampiran 5 :
1. Ikan Teri (Stolephorus commersonii) 2. Ikan Layang (Decapterus russelli)
3. Ikan Tembang (Sardinella fimbriata)
Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa ikan layang ( Decapterus russelli ) merupakan jenis ikan yang paling baik untuk dijadikan sebagai umpan hidup. Hal ini dikarenakan ikan tersebut memiliki daya tahan hidup yang lama dalam
keadaan berdesak – desakkan dalam bak umpan serta ukuran yang sesuai, tetap aktif bila dilemparkan ke laut. Ditinjau dari tingakah laku makan ikan cakalang bahwa ukuran jenis layang merupakan umpan yang sesuai dengan selera ikan cakalang, warna putih keperak – perakkan bila terkena cahaya matahari.
5.1.2.2. Persiapan alat tangkap (huhate)
Sebelum kapal tiba di lokasi daerah penangkapan para ABK telah mempersiapkan alat tangkap dan memasangnya pada haluan kapal dengan tujuan bila setibanya di fishing ground para ABK akan menempati posisinya masing – masing sesuai kemahirannya dalam memancing.
Pada umumnya untuk pemancing yang telah mahir menempati bagian depan di haluan kapal dan bagi para pemula posisi yang ditempati adalah pada bagian barisan belakang haluan kapal.
Gambar 24. Persiapan alat tangkap
Operasi penangkapan ikan dilakukan pada saat menjelang matahari terbit atau sekitar pukul 05.30 – 11.00 WITA dan menjelang matahari terbenam antara pukul 14.30 – 17.30 WITA. Hal ini menyesuaikan aktivitas makan cakalang yang diduga dua kali dalam satu hari yakni pagi hari pada saat matahari mulai terbit dan sore hari saat matahari mulai terbenam. Pada saat – saat itu terjadi perubahan cahaya (sinar matahari) yang relatif cepat dan kondisi ikan dalam keadaan lapar sehingga memudahkan pemancingan cakalang di sekitar rumpon.
Selama dalam pelayaran berlangsung menuju fishing ground. Nakhoda dibantu lima petugas jaga deck atau juru mudi yang dalam setiap empat jam sekali saling bergantian memegang kemudi sampai kapal tiba di daerah yang menjadi tujuan penangkapan.
Tahapan operasi penangkapan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) antara lain :
5.1.3.1. Pengintaian
Juru umpan (boi – boi) yang sekaligus bertugas membantu dalam mencarí rumpon dan penentuan daerah penangkapan (Gambar 25), mereka mencari dengan mengunakan teropong untuk melihat adanya gerombolan cakalang yang biasanya terlihat pada saat tanda – tanda seperti :
1. Sekelompok burung – burung yang menukik dan menyambar ke permukaan air,
2. Ikan – ikan yang melompat ke atas permukaan air,
3. Terjadinya perubahan warna air akibat gerombolan ikan yang berenang dekat permukaan air.
Gambar 25. Pengintaian (Searching)
5.1.3.2. Penebaran umpan hidup
Setelah terlihat tanda – tanda adanya gerombolan ikan maka segera kapal diarahkan dengan kecepatan konstan, juru umpan (boi – boi), pemancing segera bersiap pada posisinya masing – masing dan juru minyakpun segera menghidupkan water pump (pompa air), kemudian pipa penyemprot (sprayer) dibuka untuk mengaburkan penglihatan ikan. Setelah kapal mendekati gerombolan cakalang, nakhoda mengambil bagian dalam mengemudi kapal, kemudian juru umpan memulai menebar umpan hidup ke laut sehingga gerombolan cakalang mendekati kapal. Sementara itu kapal membuat gerakan melingkar sambil secara terus - menerus juru umpan menebar umpan hidup sampai gerombolan ikan cakalang berada di bagian haluan kapal.
Peranan juru umpan dalam hal pelemparan umpan sangatlah penting diantaranya dalam upaya menjaga gerombolan cakalang agar tidak menghilang (menjauh). Cara melemparkan umpanpun merupakan keahlian tersendiri, mereka berupaya menebar umpan hidup dengan tidak terputus - putus sambil
mengarahkan buangan umpan ke arah haluan kapal di mana terdapat para pemancing yang handal.
5.1.3.3. Pemancingan
Pada saat cakalang sudah mendekati haluan kapal, maka para ABK yang bertugas sebagai pemancing mulai melakukan pemancingan. Pancing diturunkan ke permukaan laut sambil digerak - gerakkan ke kanan dan ke kiri. Bila cakalang telah menyambar mata kail (umpan buatan), segera ikan diangkat dengan cara dihentakkan ke atas deck kapal.
Cakalang yang sedang aktif makan biasanya ditandai dengan banyaknya cakalang yang tertangkap di atas deck. Para pemancing bertugas untuk memancing cakalang yang berada di laut tersebut sebanyak – banyaknya, terutama pada saat cakalang sedang terihat lapar. Untuk itu diperlukan kecepatan, kekuatan, kesabaran dan yang paling penting adalah keterampilan dan keahlian pemancing. Berdasarkan posisi pemancingan untuk ABK yang telah mahir menduduki posisi pada bagian depan haluan kapal (A) dan seterusnya untuk yang masih tergolong masih pemula biasanya mendapat posisi pada bagian bawah atau belakang haluan kapal (B). Untuk jumlah para pemancing ± 32 pemancing diantaranya 12 pemancing bagian haluan kiri kanan kapal dan 8 pemancing pada bagian depan haluan. Adapun posisi tersebut dapat dilihat pada Gambar 26.
(A)
(B) (B)
Gambar 26. Kegiatan pemancingan
Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi akan keberhasilan penangkapan yaitu :
1. Faktor internal
1. Faktor internal ini meliputi kemampuan nakhoda sebagai fishing
master dalam mengemudi kapal dan menentukan daerah penangkapan,
2. jenis dan jumlah umpan yang digunakan pada saat pemancingan, 3. kemahiran juru umpan (boi – boi) pada saat menebarkan umpan, 4. ketangkasan dan kelihaian pemancing pada saat melakukan
pemancingan. 2. Faktor eksternal
Kondisi daerah penangkapan (suhu, salinitas, cuaca, dan kecerahan permukaan laut).
Jenis ikan yang tertangkap dengan menggunakan huhate pada umumnya adalah ikan cakalang, namun ada juga jenis ikan lain yang ikut tertangkap, hal ini disebabkan karena ikan - ikan tersebut berenang secara bergerombol bersamaan dengan ikan cakalang untuk mencari makan.
Selama dua bulan operasi penangkapan yaitu selama bulan Maret a/d April 2010 total hasil tangkapan yang diperoleh KM. Sinar Bahari adalah sebesar 167.059 Kg, terdiri dari cakalang sebanyak 138.842 kg dan baby tuna sebanyak 28.217 kg. Secara rinci hasil tangkapan KM. Sinar Bahari selama bulan Maret s/d April 2010 dapat dilihat dalam Tabel 7,8,dan 9 :
Tabel 7. Jumlah hasil tangkapan bulan maret 2010
Operasi Cakalang Baby tuna
Penangkapan Jumlah tangkapan Presentase Jumlah tangkapan Presentase /Trip (Kg) (Kg) Maret (A) (B) 1 13.855 85,28 2.390 14,18 2 12.450 88,77 1.575 11,22 3 12.534 81,32 2.879 18,67 4 12.627 77,83 3.595 22,16 5 12.550 82,9 2.588 17,09 6 12.750 88,6 1.640 11,39 Jumlah 76.766 83,95 14.667 16,04
Gambar 27. Persentase hasil tangkapan periode bulan maret 2010 (6 Trip) Tabel 8. Jumalah hasil tangkapan bulan April 2010
Operasi Cakalang Baby tuna
Penangkapan Jumlah tangkapan Presentase Jumlah tangkapan Presentase /Trip (Kg) (Kg) April (A) (B) 1 12.622 77,5 3.664 22,49 2 12.320 83,41 2.450 16,58 3 12.558 81,73 2.806 18,26 4 12.404 87,88 1.710 12,11 5 12.172 80,65 2.920 19,34 Jumalah 62.076 82,08 13.550 17,91
Gambar 28. Persentase hasil tangkapan periode bulan April 2010 (5 Trip) Tabel 9. Jumlah hasil tangkapan bulan Maret s/d April 2010
Operasi Cakalang Baby tuna
Penangkapan Jumlah tangkapan Presentase Jumlah tangkapan Presentase /Trip (Kg) (Kg) Maret (A) (B) 1 13855 85,28 2390 14,18 2 12450 88,77 1575 11,22 3 12534 81,32 2879 18,67 4 12627 77,83 3595 22,16 5 12550 82,9 2588 17,09 6 12750 88,6 1640 11,39 April 7 12622 77,5 3664 22,49 8 12320 83,41 2450 16,58 9 12558 81,73 2806 18,26 10 12404 87,88 1710 12,11 11 12172 80,65 2920 19,34 Total 138.842 83,10 28.217 16,89
Keterangan tabel 9 : Jumlah hasil tangkapan bulan Maret s/d April 2010
a. Jumlah hasil tangkapan bulan Maret (Cakalang + Baby Tuna) : 91.433 Kg b. Jumlah hasil tangkapan bulan April (Cakalang + Baby Tuna) : 75.626 Kg c. Total keseluruhan hasil tangkapan bulan Maret s/d April (Cakalang +
April) : 138.842 + 28.217 = 167.059 Kg
Gambar 29. Persentase hasil tangkapan periode bulan Maret s/d April 2010 (11 Trip)
Keterangan :
A : Jumlah tangkapan cakalang (Kg) B : Jumlah tangkapan baby tuna (Kg)
Berdasarkan Tabel 9 dan Gambar 29 dapat dilihat bahwa jenis ikan yang dominan tertangkap selama periode bulan Maret s/d April 2010 adalah ikan
A Persentase % =
X 100 % A + B
cakalang dengan jumlah tangkapan sebesar 138.842 kg atau sebesar 83% sedangkan baby tuna hanya mencapai 17% atau sebesar 28.217 kg.
(a) (b)
Gambar 30. Jenis hasil tangkapan KM. Sainar Bahari
a). Cakalang (Katsuwonus pelamis), b). Baby Tuna (Yellowfin tuna – Thunus
albacares).
5.1.5. Daerah Penangkapan Cakalang
Daerah penangkapan KM. Sinar Bahari umumnya dilakukan dekat rumpon (ponton) yang telah ditanam atau dipasang oleh para nelayan sekitar maupun milik CV. Sari Usaha sendiri yang kemudian dimanfaatkan oleh kapal penangkap ikan. Adapun rumpon (ponton) yang digunakan pada saat penulis mengikuti dan melaksanakan praktek terletak pada koordinat Lampiran 10.
2 0 L U 0 .0 0 2 0L S 4 0L S 1160BT 1180BT 1200BT 1220BT 1240BT 1260BT
28.52
28.54
28.56
28.58
28.6
28.62
28.64
28.66
28.68
28.7
28.72
28.74
28.76
28.78
28.8
28.82
28.84
28.86
28.88
28.9
28.92
28.94
28.96
28.98
29
29.02
122.5
123
123.5
124
124.5
125
125.5
126
126.5
B u j u r
1
1.5
L
i n
t
a
n
g
Gambar 31. Daerah Penangkapan KM. Sinar Bahari Berdasarkan Suhu dan Hasil Tangkapan di Daerah Laut Utara Sulawesi (April 2010)
2 0L U 0 .0 0 2 0L S 4 0L S 1160BT 1180BT 1200BT 1220BT 1240BT 1260BT
122.5
123
123.5
124
124.5
125
125.5
B u j u r
-0.5
0
0.5
L
i n
t
a
n
g
Suhu (0C)Gamabar 32. Daerah Penangkapan KM. Sinar Bahari Berdasarkan Suhu dan Hasil Tangkapan di Daerah Laut Teluk Tomini (April 2010)
Berdasarkan Tabel pada Lampiran 11 yang telah diolah dalam program
software surfur versi 09, suhu daerah penangkapan cakalang pada bulan April
2010 dapat dilihat dari Gambar 31dan 32 bahwa pada kisaran suhu 28,90 – 28,940
cakalang (Katsuwonus pelamis) lebih banyak dan pada kisaran suhu demikian banyak terdapat cakalang sehingga dapat dijadikan sebagai daerah penangkapan dengan posisi 10 LU – 00LS s/d 1260 – 1220 BT.
5.1.5.1. Oseanografi daerah penangkapan di Laut Sulawesi (April 2010) Daerah penangkapan cakalang (Katsuwonus pelamis) di daerah Laut Sulawesi dan sekitarnya (10 LU – 00 LS s/d 1260 – 1220 BT ) diantaranya
dipengaruhi suhu dan konsentrasi klorofil yang terkandung didalamnya.
1. Kisaran sebaran suhu
Sebaran suhu pada bulan April 2010 berdasarkan penginderaan jauh dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) (Lampiran 21) yang telah dimodifikasi menunjukan di daerah Sulawesi dan sekitarnya berkisar antara 290 C– 31,50 C yang dapat dilihat pada Gambar 33 dan 35.
2. Konsentrasi klorofil-a
Sebaran konsentrasi klorofil-a pada bulan April 2010 berdasarkan penginderaan jauh dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) (Lampiran 22) yang telah dimodifikasi menunjukan di daerah Sulawesi dan sekitarnya berkisar antara 0 – 0,5 mg/L Gambar 34 dan 36.
Gambar 33. Sebaran suhu permukaan laut di wilayah perairan Sulawesi pada MT 22 April 2010 Pkl. 09:04 WIB.
Gambar 34. Sebaran konsentrasi klorofil di wilayah perairan Sulawesi pada MT 22 April 2010 Pkl. 09:04 WIB. 0.00 LS 1200 BT 1300 BT 1200 BT 1300 BT 1300 BT 0.00 LS
Gambar 35. Sebaran suhu permukaan laut di wilayah perairan Sulawesi pada MT 27 April 2010 Pkl. 12:20 WIB.
Gambar 36. Sebaran konsentrasi klorofil di wilayah perairan Sulawesi pada MT 27 April 2010 Pkl. 12:20 WIB. 0.00 LS 1200 BT 1300 BT 0.00 LS 1200 BT 1300 BT
5.1.6. Penanganan Hasil Tangkapan
Penanganan hasil tangkapan bertujuan untuk menjaga mutu kesegaran ikan pada saat berada di kapal penangkap hingga di daratkan ke fishing base. Tahap-tahap penanganan ikan hasil tangkapan adalah sebagai berikut:
5.1.6.1. Penanganan hasil tangkapan di kapal
Ikan yang sudah ditangkap sebelum dimasukkan ke dalam palka, terlebih dahulu dicuci dengan cara menyemprotkan air laut pada ikan untuk menghilangkan darah dan lendir yang menempel pada tubuh ikan. Setelah ikan bersih dari darah, lendir, dan kotoran lainnya lalu ikan disortir kemudian dimasukkan ke dalam palka dimana palka tersebut sudah berisikan pecahan es (Lampiran 4). Pengisian ikan kedalam palka diatur oleh bagian pengawetan yang bertugas sebagai pengatur banyaknya ikan yang dimasukkan ke dalam palka dan pengunaan banyaknya es balok yang telah dihancurkan dengan perbandingan 2 : 1 dimana 2 Kg ikan dengan 1 Kg es yang dihancurkan.
Dalam perjalanan kembali menuju fishing base untuk melakukan pembongkaran, juru pengawetan selalu melakukan pengecekan keadaan hasil tangkpan dan es yang berada dalam palka. Apabila es yang berada dalam palka telah berkurang atau mencair maka juru pengawetan akan menambah es kembali dengan tujuan agar ikan tetap dalam kondisi segar.
5.1.6.2. Penanganan hasil tangkapan di darat
Ikan yang sudah dibongkar dari dalam palka dimasukkan ke dalam keranjang kemudian disortir setelah itu ditimbang berdasarkan ukuran, jenis dan berat ikan yang dilakukan oleh bagian produksi dari CV. Sari Usaha. Setelah ikan
hasil tangkapan telah selesai ditimbang, ikan dinaikkan ke atas truk pengangkut untuk dibawa ke perusahaan pengolahan.
Gambar 37. Penimbangan hasil tangkapan di darat 5.1.7. Komposisi Hasil Tangkapan
Komposisi hasil tangkapan yang diperoleh selama bulan Maret s/d April 2010 adalah sebagai gerikut :
Tabel 10. Komposisi hasil tangkapan bulan Maret 2010 (6 Trip) Produksi Jumlah Produksi Jumlah Produksi
(Kg) (Rp)
Cakalang 76.766 498.979.000
Baby Tuna 14.667 117.336.000
Gambar 38. Komposisi hasil tangkapan periode bulan Maret 2010 (6 Trip) Tabel 11. Komposisi Hasil Tangkapan Bulan April 2010 (6 Trip)
Produksi Jumlah Produksi Jumlah Produksi
(Kg) (Rp)
Cakalang 62.076 403.494.000
Baby Tuna 13.550 108.400.000
Jumlah 75.626 511.894.000
Tabel 12. Komposisi Hasil Tangkapan Bulan Maret s/d April 2010 (11 Trip) Produksi Jumlah Produksi Jumlah Produksi
(Kg) (Rp)
Cakalang 138.842 902.473.000
Baby Tuna 28.217 225.736.000
Jumlah 167.059 1.128.209.000
Gambar 40. Komposisi hasil tangkapan periode bulan Maret s/d April 2010 (11 Trip)
Berdasarkan Tabel 12 dan Gambar 40 dapat dilihat bahwa jenis ikan yang dominan tertangkap sepanjang bulan Maret s/d April 2010 adalah ikan cakalang dengan jumlah tangkapan sebesar 138.842 kg sedangkan baby tuna sebanyak 28.217 kg.
5.2. Manajemen Operasi Penangkapan Cakalang pada KM. Sinar Bahari Manajemen operasi penangkapan yang diterapkan pihak CV. Sari Usaha dapat dijelaskan berdasarkan fungsi - fungsi manajemen, antara lain:
5.2.1. Perencanaan (Planning)
Rencana operasi penangkapan yang dilakukan pihak manajemen CV. Sari Usaha bersifat mikro dan makro. Bersifat mikro terbatas pada kegiatan penangkapan, permasalahan di fishing ground, persiapan operasi penangkapan dan sebagainya. Sedangkan rencana yang bersifat makro mencakup seluruh kegiatan perusahaan antara lain : penentuan pasar, target hasil tangkapan yang ingin dicapai, besarnya biaya yang dibutuhkan dan sebagainya.
Perencanaan yang bersifat makro yang diterapkan pihak CV. Sari Usaha antara lain :
1. Pasar (Market)
Pertama – tama melakukan perencanaan terhadap perusahaan yang akan menjadi rekan kerja dalam pengelolaan hasil produksi yang akan dihasilkan dalam hal ini adalah produksi cakalang sebagai hasil tangkapan utama dan tuna yang dapat langsung dijual ketika KM. Sinar Bahari tiba di fishing base untuk melakukan pembongkaran hasil tangkapan. Perusahaan yang menjadi rekan kerja adalah perusahaan pengolahan yang beroperasi di daerah Sulawesi Utara yaitu PT. Celebes, Manado Mina dan Etmico.
2. Anggaran / biaya (Money)
Perencanaan berikutnya adalah anggaran/biaya operasional yang akan dikeluarkan pihak perusahaan untuk perbekalan KM. Sinar Bahari dalam operasi penangkapan selama 1 bulan dengan 5 – 6 trip (1 trip = ± 5 hari). Anggaran yang dikeluarkan antara lain bahan bakar solar dalam 1 trip dibutuhkan sekitar 7.000 liter, minyak tanah 20 liter, oli 10 liter, es 175 balok dengan ukuran 50 kg/balok,
perbekalan makanan dan obat – obatan, serta pengurusan dukumen (SIB dan Sijil Awak Kapal) dan administrasi lainnya.
3. Umpan hidup dan rumpon (ponton)
Selain perencanaan terhadap anggaran perbekalan perencanaan selanjutnya perencanaan penyediakan umpan hidup yang dibutuhkan ketika operasi penangkapan akan dilakukan KM. Sinar Bahari. Umpan hidup merupakan hal penentu dari keberhasilan penangkapan cakalang (Katsuwonus pelamis).
Selanjutnya adapun perencanaan yang merupakan perencanaan yang mendukung agar hasil tangkapan (cakalang) yang menjadi target tangkapan dapat diperoleh secara optimal adalah pemasangan rumpon (ponton) pada titik koordinat yang telah ditentukan oleh pihak perusahaan yang terletak di wilayah Laut Utara Sulawesi dan sekitarnya dengan posisi antara 10 LU – 00 LS s/d 1260 BT – 1220
BT.
5. Target hasil tangkapan (produksi)
Selain perencanaan mengenai anggaran, penyediaan umpan, maupu pemasangan rumpon (ponton), dari pihak perusahaan juga memberikan target kepada KM. Sinar Bahari terhadap hasil tangkapannya (cakalang) harus minimal mampu menghasilkan produksi hasil tangkapan sebanyak 5.000 kg atau ± 5 ton dalam 1 trip, tujuannya untuk menutupi anggaran yang sudah dikeluarkan untuk pembiayaan operasi penangkapan pada KM. Sinar Bahari.
Perencanaan operasi penangkapan diatur oleh bagian operasional dengan pertimbangan melihat situasi yang kondusif di laut (cuaca baik dan ikan umpan banyak), serta melakukan konsultasi dengan pimpinan. Apabila pimpinan mengijinkan, maka setiap kapal dapat melakukan kegiatan operasi penangkapan.
Semua ini dilakukan bertujuan untuk memperoleh keberhasilan dalam operasi penangkapan ikan dalam hal ini cakalang. Kembali lagi kegiatan operasi penangkapan KM. Sinar Bahari telah direncanakan selama 5 - 6 trip dalam satu bulan (1 trip = ± 5 hari).
Perencanaan perawatan kapal/doking oleh CV. Sari Usaha telah direncanakan secara periodik setiap tahun sekali. Jadwal doking tersebut disusun oleh pihak pimpinan perusahaan yang dibantu oleh bagian operasional.
Perencanaan yang bersifat mikro antara lain : 1. Operasi penangkapan cakalang
Perencanaan dalam penentuan daerah penangkapan yang akan menjadi tempat tujuan penangkapan, salah satu tujuannya adalah wilayah yang dimana sebelumnya telah dipasang rumpon (ponton) untuk mengifisiensi kegiatan operasi penangkapan baik dari segi lamanya perjalanan yang akan ditempuh dan jumlah hasil tangkapan (cakalang) yang optimal dengan tentu saja tidak mengesampingkan akan kelestarian sumber daya cakalang itu sendiri.
Adapun bagan alur (flow of chart) untuk standarisasi kegiatan pegoperasian penangkapan yang dapat dilihat pada Lampiran 19.
Flow of chart atau bagan alur kerja operasi huhate dimulai dari
perencanaan operasi, persiapan di darat yaitu meliputi persiapan kapal dan alat tangkap, awak kapal, perbekalan, kesiapan dokumen dan surat – surat kapal, selanjutnya persiapan di laut meliputi penyediaan umpan hidup, alat tangkap (huhate) yang telah dipasang pada bagian haluan kapal sesuai posisi para pemancing pada saat akan melakukan pemancingan, tenaga kerja yaitu kesiapan ABK pada saat penoperasian penangkapan, alat bantu (bak penebar umpan, pipa
penyemprot (sprayer), sibu – sibu (palo) dan lainnya)), selanjutnya menuju
fishing ground, tibanya di fishing ground pengoperasian penangkapan dilakukan
hingga selesai dan kembali ke fishing base.
Identefikasi tersebut untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 13, di buatnya tabel akan mempermudah dalam mengidentifikasi proses kegiatan yang akan dijalankan dan dapat memperoleh gambaran tentang keseluruhan kegiatan produksi hingga selesai.
Tabel 13. Identifikasi dan standarisasi kegiatan operasi huhate
Proses Input Output
Pengamatan Standarisasi Pengamatan Standarisasi
1.Persiapan di
darat Kapal berada di pelabuhan Perbaikan dan perawatan Kapal siap berangkat mesin bagus, alat Kapal bersih,
tangkap dan alat bantu penangkapan baik Pengisian perbekalan dan pengurusan dokumen kapal Pengisian supply, bahan bakar dan
material, dokumen lengkap
Solar, oli, bekal makanan dan lainnya cukup satu trip Dokumen lengkap, awak sesuai sijil, kondisi kapal siap
operasi 2.Perjalanan
menuju fishing
ground
Informasi fishing
ground fishing ground1 hari menuju Pembagian tugas jaga, Kecepatan kapal 8 – 9 knot
Kapal dan ABK selamat 3.Pengintaian (searching) Adanya burung – burung, percikan – percikan air, perubahan warna air Kecepatan kapal stabil dan terarah
Alat tangkap tersusun di haluan kapal Kondisi daerah penangkapan mendukung (cerah) tidak bergelombang 4.Tiba di fishing
ground Persiapan operasi penangkapan, karakteristik daerah penangkapan Mesin, pompa penyemprot, pipa penyemprot (sprayer), alat bantu siap Alat tangkap tersusun di haluan kapal Kondisi daerah penangkapan mendukung (cerah) tidak bergelombang 5.Penebaran
umpan tangkap (huhate)kesiapan alat Gerombolan cakalang
mendekati kapal Pemancing berada pada posisinya masing - masing Kecepatan kapal berkurang menjadi 4 -3 knot
Lanjutan Tabel 13. Identifikasi dan standarisasi kegiatan operasi huhate
6.Pemancingan Penebaran umpan
terus menerus memakan mata Cakalang
pancing Cakalang yang tertangkap segera diangkat dan disentakan keatas deck Cakalang yang tertangkap tidak terlepas dan berada diatas deck 7.Penanganan Hasil Tangkapan ABK berada di posisi masing – masing Mengukur, menimbang dan memisahkan ikan berdasarkan ukuran Ikan di siram dengan air laut, pengisian es ke dalam palka dan
pengisian ikan dan es kembali Cepat, higienis, mutu dan kesegaran ikan terjaga 8.Kembali ke fishing base Navigasi ke fishing base, Alat tangkap dirapikan dan disimpan. Kapal di bersihkan. Cepat kembali ke
fishing base, Suhu
palka dikontrol Kapal, alat tangkap, hasil tangkapan, dan awak kapal selamat
9.Pelabuhan tolak Bongkar hasil
tangkapan timbang dan di Cakalang di
angkut dengan mobil truk Bongkar, perbaikan alat tangkap dan persiapan trip berikutnya Pemasaran berjalan lancar 5.2.2. Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian merupakan keseluruhan aktivitas manajemen dalam menempatkan orang - orang sesuai dengan tugas, fungsi, wewenang serta tanggung jawab sehingga terciptanya aktivitas yang berdaya guna dan berhasil guna untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
CV. Sari Usaha sangat menyadari arti pentingnya pengorganisasian dalam operasi penangkapan karena pada saat operasi dibutuhkan kerja sama yang harmonis, terstruktur, terorganisir agar semua kegiatan dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam struktur organisasi pada CV. Sari Usaha terdapat 2 struktur organisasi yaitu 1. Struktur organisasi di darat yaitu organisasi perusahaan
(Gambar 41) dan 2. Struktur organisasi di laut yaitu organisasi pada KM. Sinar Bahari (Gambar 42).
1. Struktur organisasi di darat
Gambar 41. Struktur organisasi CV. Sari Usaha
Adapun susunan tugas dan tanggung jawab setiap orang yang ditempatkan pada struktur organisasi CV. Sari Usaha adalah sebagai berikut:
1. Pimpinan perusahaan
a. Sebagai pendiri perusahaan/pemegang saham
b. Yang bertanggung jawab penuh terhadap segala sesuatunya yang berkaitan dengan aktivitas di CV. Sari Usaha, Bitung.
2. Bagian Personalia.
a. Penempatan / mutasi seluruh ABK dan karyawan darat
b. Pengaturan cuti seluruh karyawan Keterangan : : Garis komando
PIMPINAN CV. SARI USAHA
PERSONALIA OPERASIONAL KASIR
LOGISTIK DECK
c. Pelaporan ketenaga kerjaan Asing dan Lokal kepada Instansi terkait d. Pengurusan pesangon, kematian dan kecelakaan kerja
3. Bagian Operasional
a. Pengawas di darat sebagai wakil dari pimpinan b. Pelaporan kedatangan dan keberangkatan kapal
c. Pengurusan dokumen kapal guna kelaikan operasional seluruh kapal 4. Bagian Keuangan (kasir)
a. Pendataan pengeluaran keuangan harian dan bulanan
b. Mempersiapkan penggunaan uang pada bulan sebelumnya c. Pelaporan pemakaian keuangan per bulan
d. Melaksanakan pembayaran tagihan dari semua relasi kerja e. Pembayaran gaji dan premi hasil tangkapan semua kapal 5. Bagian Logistik Deck dan Mesin
a. Menyediakan perbekalan dan bahan bakar untuk kebutuhan operasional semua kapal
b. Mempersiapkan pembelian spare part untuk kebutuhan semua kapal c. Perencanaan perbaikan tahunan dan per trip
e. Penyediaan kebutuhan part dan material untuk semua kapal
f. Mendata pemakaian part dan material untuk docking dan keberangkatan kapal
g. Melaksanakan perbaikan, penggantian spare part dan material kapal 6. Produksi (pemasaran)
a. Mendata seluruh hasil penangkapan harian, baik ukuran (size) maupun jumlah
b. Pengawasan terhadap produk hasil tangkapan yang tiba di pelabuhan
Berdasarkan data kepegawaian CV. Sari Usaha Bitung dapat dikatakan bahwa orang - orang yang ditempatkan di setiap bagian telah sesuai dengan latar belakang pendidikan/keahliannya.
2. Struktur organisasi di laut
Adapun tugas dan tanggung jawab dari masing-masing bagian pada struktur organisasi di KM. Sinar Bahari, telah dibuat secara rinci dan dapat penulis uraikan sebagai berikut :
NAKHODA MUALIM I MUALIM II JURU MUDI KKM MASINIS I & II
Keterangan : : Garis komando
Gambar 42. Struktur organisasi KM. Sinar Bahari
1. Nakhoda
a. Sebagai pimpinan tertinggi di atas kapal,
b. Bertanggung jawab terhadap kapal baik di darat maupun di laut, c. Bertanggung jawab terhadap keselamatan kapal selama berlayar,
d. Mengkoordinir semua kegiatan di atas kapal khususnya operasi penangkapan dan penanganan hasil tangkap.
e. Merangkap sebagai fishing master pada saat operasi penangkapan. 2. Mualim
a. Sebagai pembantu nakhoda pada saat kapal berlayar, b. Membuat jadwal jaga deck,
c. Membuat pendataan hasil tangkapan,
d. Pendataan biaya pembelian umpan hidup dan kebutuhan lainnya di atas kapal
3. Juru Mudi
a. Membantu nakhoda dalam mengemudi kapal selama pelayaran menuju daerah penangkapan dan kembali ke fishing base.
SERANG JURU UMPAN KLASI JURU MINYAK I,II,III JURU MASAK
4. Serang
a. Sebagai kepala kerja yang mengatur mengenai kebersihan kapal pengisian air tawar pengaturan tata letak perlengkapan kapal dan alat tangkap
5. Juru umpan (boi – boi)
a. Mengkoordinir ABK dalam pemindahan umpan hidup dari bagan ke bak penampung umpan,
b. Penebar umpan pada saat pengoperasian penangkapan. 6. Pengawetan
a. Koordinator pengisi es pada saat penanganan hasil tangkapan ke dalam palka,
b. Menentukan susunan banyaknya ikan dan pengunaan es pada saat penanganan ke dalam palka,
c. Pengontrol keadaan es pada saat setelah hasil tangkapan telah berada di dalam palka.
7. Klasi
a. Melaksanakan kegiatan di atas kapal sesuai perintah nakhoda,
b. Melaksanakan jaga kapal apabila kapal pada saat akan memuat umpan hidup dari bagan ke dalam bak penampung umpan dan pada saat kapal berlabuh,
c. Pemancing.
8. Kepala Kamar Mesin (KKM)
a. Pimpinan tertinggi dalam ruang kamar mesin. c. Sebagai penanggung jawab kamar mesin.
9. Masinis
a. Membantu KKM dalam kelancaran kegiatan di ruang mesin, b. Koordinator perbaikan perawatan mesin sesuai perintah KKM, c. Membuat daftar jaga ruang,
10. Juru minyak
a. Melakukan dinas jaga ruang mesin,
b. Melaksanakan pengisian bahan bakar dan oli,
c. Melaksanakan perbaikan dan perawatan mesin sesuai perintah masinis. 11. Koki
a. Juru masak di atas kapal,
b. Mengangkat umpan hidup dari bak penampung umpan ke bak penebar umpan,
c. Membantu juru umpan dalam pengisian umpan hidup ke dalam bak penebar pada saat pelaksanaan kegiatan penangkapan.
5.3.3. Pelaksanaan (Actuating)
5.3.3.1. Pelaksanaan di darat CV. Sari Usaha
Dalam pelaksanaan pemasaran produksi (cakalang) sebagai hasil tangkapan utama dari perusahaan memiliki staf tenaga kerja yang bertanggung jawab dalam hal tersebut yaitu bagian produksi. Adapun tahapan yang dilakukan oleh bagian produksi untuk menjaga agar hasil tangkapan tidak menurun pada saat pembongkaran dari kapal ke darat adalah cakalang yang telah dibongkar/dikeluarkan dari palka penyimpanan, dituang kedalam keranjang kemudian segera ditimbang (Gambar 37) dan setelah itu cakalang yang telah ditimbang dimuat keatas truk pengangkut yang terlebi dahulu pada bagian bak
truk telah dilapisi terpal dengan berisikan es dan air dengan tujuan agar suhu tubuh ikan tetap terjaga dan tetap segar.
Kerjasama yang dilakukan oleh pihak perusahaan di laut yaitu kerjasama dalam pengadaan umpan hidup yang dibutuhkan pada pengoperasian penangkapan, dimana perusahaan telah terlebih dahulu melakukan negosiasi dengan para pemilik bagan apung umpan hidup yang masi berada di wilayah sekitar perairan Bitung dengan tujuan mengoptimalkan dan mengefisiensikan dalam pengumpulan umpan hidup untuk mendukung operasi penangkapan nantinya.
Pemasangan rumpon (ponton), dari pihak perusahaan selain memiliki kapal huhate (pole and line) juga memiliki kapal mini purse saine selain untuk kapal penangkap ikan juga sebagai kapal yang bertugas memasang rumpon (ponton) di wilayah laut utara sulawesi dan sekitarnya dengan tujuan mengefisiensi dan mengoptimalkan hasil tangkapan pada setiap kapal penangkap dalam hal ini kapal
pole and line.
Selain melakukan kerjasama pimpinan perusahaan berusaha menjalin
hubungan kerja yang baik dengan cara membuat suasana yang kondusif, nyaman dan memberikan motivasi kepada seluruh karyawannya. Sehingga setiap kegiatan dapat dilaksanankan dengan baik dan selesai pada waktu yang sudah ditentukan.
Demikian juga di KM. Sinar Bahari, sebagai seorang nakhoda yang memegang jabatan tertinggi di atas kapal melakukan hal yang sama kepada seluruh bawahannya pada saat bekerja di atas kapal.
Sistem pembagian upah atau penghasilan dari pada CV. Sari Usaha berbeda antara karyawan yang bekerja di darat dengan para ABK yang bekerja di
laut. Untuk karyawan yang bekerja di darat mendapatkan gaji pokok serta insentif berupa tunjangan hari raya. Sedangkan untuk para ABK menggunakan sistem bagi hasil. Jadi, para ABK tidak memperoleh pendapatan apabila tidak melaut. Adapun dari pihak perusahaan memberikan uang bongkar muat ikan dari hasil penangkapan kepada seluruh ABK.
Di samping itu, apabila hasil tangkapan yang diperoleh para ABK tidak mampu menutupi biaya operasional, maka para ABK tetap memperoleh pendapatan tetapi tidak dari hasil tangkapan tersebut, melainkan dalam bentuk pinjaman yang diberikan dari pihak perusahaan. Hal ini secara tidak langsung dapat menurunkan gairah kerja para ABK karena dibebankan utang dari pihak perusahaan. Sehingga dari hasil pendapatan yang diperoleh setelah dikurangi dengan biaya operasional, akan dikurangi lagi untuk membayar utang kepada perusahaan. Pembayaran utang ini dilakukan secara bertahap/mencicil dan jumlah yang harus dibayar sesuai ketentuan yang telah disepakati antara pihak perusahaan dengan para ABK.
Besarnya pendapatan yang diterima oleh masing-masing ABK ditentukan oleh nakhoda. Pembagian hasil yang dilakukan oleh nakhoda tidak berdasarkan keahlian/keterampilan masing-masing pemancing, tetapi berdasarkan jenjang jabatan di atas kapal serta dilihat juga dari rajin tidaknya setiap ABK saat bekerja di atas kapal. Jadi, besarnya pendapatan yang diterima oleh masing-masing jabatan dapat bertambah ataupun berkurang tergantung dari pengamatan nakhoda kepada ABK pada saat bekerja di atas kapal.
Hal ini sangat baik untuk diterapkan karena dapat merangsang kinerja para ABK untuk bekerja lebih giat. Pihak perusahaan tidak membuat atau menentukan
standar kriteria kinerja ABK, sehingga dalam pembagian hasil cenderung bersifat subyektif yang dapat menimbulkan kecemburuan sosial antar ABK.
Selama penulis melaksanakan praktek pada KM. Sinar Bahari, jaminan perusahaan memberikan adalah perbekalan makanan meskipun dirasakan masih kurang memadai karena belum memiliki standar 4 sehat 5 sempurna. Sehingga untuk melengkapi lauk terkadang ABK harus memanfaatkan ikan cakalang untuk dimakan.
Sistem perekrutan nakhoda yang dilakukan oleh CV. Sari Usaha sesuai dengan yang memiliki ijasah maupun sertifikat (ANKAPIN I/II/III) disamping itu seleksi terhadap ABK berdasarkan pengamatan dan pertimbangan terhadap mereka yang mempunyai pengalaman kerja dan dedikasi serta loyalitas mereka selama bekerja di atas kapal. Mereka yang diangkat sebagai nakhoda adalah yang sudah memiliki minimal sertifikat ANKAPIN III. Sedangkan untuk pemilihan sebagi kepala kamar mesin (KKM) harus minimal memiliki sertifikat ATKAPIN III atau yang setara, sedangkan kelasi dilakukan oleh nakhoda sendiri yang dianggap mampu dan mempunyai keterampilan yang baik.
5.3.3.2. Pelaksanaan di laut KM. Sinar Bahari
Selama aktifitas diatas kapal dilakukan pembagian kerja yang terdiri dari dua group yaitu pada bagian deck dan pada bagian mesin, pada bagian deck terdiri dari 5 orang bagian kemudi mengantikan nakhoda pada saat pelayaran menuju
fishing groud berlangsung dengan pembagian jam kerja 4 jam sekali dilakukan
pergantian jaga yaitu dimulai pada saat kapal mulai berlayar pada pukul 16.00 – 20.00 dan berganti lagi pukul 20.00 – 00.00 selanjutnya 00.00 – 04.00 dan seterusnya pengantian dilakukan setiap 4 jam terus menerus, 2 orang bagian
pengintai yg dilakukan oleh juru umpan (boi – boi) pada saat pencarian dan membantu penentuan fishing ground, 2 orang bagian jaga umpan pada bak penampung dengan tugasnya adalah mengontrol keadaan umpan hidup pada saat pelayaran menuju fishing ground sampai pada saat kegiatan pongoperasian penangkapan, selesai, dan berlanjut menuju daerah penangkapan lainnya, 1 orang bagian mengatur dan mengontrol kesiapan alat tangkap dan perlengkapan lain yang dibutuhkan pada saat pengoperasian penangkapan akan berlangsung seperti kesiapan alat bantu (bak penebar umpan, sibu – sibu besar, pipa penyemprot (sprayer)), 2 orang bagian penyedia makanan (koki), dan untuk bagian mesin 1 orang sebagai kepala kamar mesin yang bertangung jawab dan mengontrol keadaan ruang mesin yang dibantu 2 orang masinis sebagai wakil dari KKM untuk memberi perintah kepada juru minyak yang terbagi dari 3 orang dengan tugas mengontrol dan mengisi pelumas pada mesin.
Selanjutnya setelah daerah penangkapan telat ditemukan, selain nakhoda semuanya bertindak sebagai pemancing. Untuk pemancing yang ahli/terampil, mengambil posisi memancingan di bagian depan, sudut kiri dan kanan haluan kapal, dan untuk yang kurang terampil mengambil posisi pada bagian belakang haluan kapal. Hal ini bertujuan agar pada saat pengoperasian antara pemancing terampil dan pemula tidak terganggu karena terbelitnya tali pancing.
Pembagian tugas yang dilakukan oleh nakhoda kepada ABK dilakukan berdasarkan keahlian masing - masing. Dengan demikian, setiap pekerjaan di atas kapal dapat dilakukan dengan baik dan lancar karena ditangani oleh orang-orang yang sesuai dengan keahliannya masing-masing.
Adapun hambatan – hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan pengoperasian baik di darat maupun di laut antara lain :
1. Tenaga kerja
Salah satu penentu keberhasilan operasi penangkapan cakalang dengan huhate adalah tenaga kerja atau pemancing, dengan jumlah pemancing yang sedikit akan mempegaruhi banyaknya hasil tangkapan dan selain itu sulitnya memperoleh tenaga kerja pemancing yang handal,
2. Surat dan dokument kapal
Habisnya masa berlaku SIPI, SIUP dan keterlambatannya pengurusan sijil awak kapal yang disebabkan ketidak pastian kehadiran awak kapal yang akan mengikuti operasi penangkapan,
3. Umpan hidup
Faktor kesuksesannya operasi penangkapan cakalang dengan huhate adalah umpan hidup, memperoleh umpan hidup yang sulit dikarenakan faktor musim yang mempengaruhi ketersediaan umpan pada bagan – bagan apung yang menyediakan umpan.
Ketersediaan umpan yang sedikit ataupun tidak ada sama sekali (kosong) sehingga umpan yang dibutuhkan untuk operasi penangkapan tidak mencukupi target akan mempengaruhi dan menghambat kelancaran keberangkatan menuju
fishing ground yang pada perencanaan awalnya hanya 1 hari perjalanan untuk
menuju fishing ground dapat terhambat menjadi 2 hari untuk tiba di fishing
ground.
Sedikitnya hasil tangkapan yang tidak mencapai target akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan pada saaat penjualan hasil tangkapan tidak dapat menutupi biaya operasional sehingga pihak perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar tenaga awak kapal pada saat melakukan pembongkaran hasil tangkapan dari kapal dipindahkan kedarat dan dimuat dalam truk milik perusahaan pengolahan yang bekerja sama dengan CV. Sari Usaha.
5.3.4. Pengawasan (Controlling)
Pengawasan di laut dilakukan langsung oleh nakhoda sebagai pemimpin tertinggi di atas kapal, bertindak sebagai wakil dari perusahaan untuk memastikan bahwa semua kegiatan telah dilakukan dengan baik.
Selama operasi penangkapan berlangsung nakhoda dapat mengawasi hal - hal mengenai persiapan operasi, mulai dari kesiapan para ABK pada saat kapal akan berangkat melakukan operasi penangkapan, pengambilan umpan hidup dari bagan apung yang menyediakan umpan hidup, hingga kegiata operasi penangkapan berlangsung sampai kembali ke fishing base. Dari hasil pengamatan dan pengawasan tersebut akan dilaporkan ke perusahaan untuk dievaluasi dan sebagai pertimbangan pimpinan untuk menilai kinerja ABK. Apabila ditemukan kendala pada saat di laut, maka nakhoda dapat berkomunikasi dengan perusahaan melalui radio. Dengan demikian kegiatan pengawasan merupakan kegiatan yang sangat penting dalam suatu operasi penangkapan di laut sehingga lebih mudah untuk perusahaan menila kinerja ABK.
Adapun unsur – unsur produksi (6 M) yang mendukung dalam penerapan fungsi – fungsi manajemen pada CV. Sari Usaha agar dalam pelaksanaan fungsi – fungsi tersebut dapat terlaksanan secara optimal antara lain :
1. Pasar (Markets)
Hasil tangkapan (produksi) akan memiliki nilai apabila produksi laku terjual, oleh karena itu dari pihak CV. Sari Usaha melakukan kerjasama dengan beberapa perusahaan pengolahan yang berada di daerah Sulawesi Utara diantaranya PT. Celebes, Manado Mina dan Etmico. Dengan demikian melalui kerjasama dengan perusahaan pengolahan, hasil produksi (cakalang) yang didapat KM. Sinar Bahari dapat langsung terjual.
2. Manusia (Man)
Suksenya sebuah manajemen dapat terlaksana sesuai tujuan apabila ada manusia yang melaksanakan apa yang menjadi tujuan dari sebuah perencanaan. Tanpa adanya manusia, manajemen tidak akan mungkin mencapai tujuannya, harus diingat kembali bahwa manajemen adalah orang yang mencapai hasil melalui orang – orang lain.
CV. Sari Usaha dalam pencapaian tujuan yang telah direncanakan memerlukan tenaga kerja yang dapat melaksanakan apa yang menjadi tujuan, oleh karena itu adanya struktur organisasi baik di darat (perusahaan) dan struktur organisasi di laut (KM. Sinar Bahari) adalah bertujuan agar dalam pelaksanaan apa yang telah direncanakan dapat terlaksana dan terarah sesuai tujuan dari perusahaan.
Adapun struktur organisasi tersebut antara lain : 1). Struktur organisasi di darat (CV. Sari Usaha)
Struktur organisasi pada CV. Sari Usaha terdiri dari pimpinan, kemudian dibantu oleh beberapa staff kerja (Bagian personalia, Operasional, Accounting (kasir), Bagian logistik deck dan mesin dan Bagian produksi (pemasaran)) dengan perincian tugas dan tanggung jawabnya dapat dilihat pada Gambar 41 beserta penjelasannya.
2). Struktur organisasi di laut (KM. Sinar Bahari)
Struktur organisasi pada KM. Sinar Bahari terdiri dari Nakhoda, kemudian dibantu oleh awak kapal yang lain dengan perincian susunan organisasi dan tanggung jawab dapat dilihat pada Gambar 42 beserta penjelasannya.
3. Uang (Money)
Untuk melaksanakan berbagai aktivitas diperlukan uang, seperti upah dan gaji bagi orang – orang yang membuat perencanaan, mengadakan pengawasan, bekerja dalam proses produksi, membeli bahan – bahan, peralatan – peralatan, dan lain sebagainya. Ditinjau dari segi manajemen, pihak CV. Sari Usaha sangat berhati – hati dalam pengunaan uang antara lain dari segi anggaran yang harus dikeluarkan untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhan dari kapal penangkap ikan (KM. Sinar Bahari) yang akan melakukan operasi penangkapan cakalang yang ditargetkan dalam 1 trip ± 5 hari. Kegagalan atau ketidak lencaran proses manajemen sedikit banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh perhitungan atau ketelitian dalam penggunaan uang.
Dalam proses pelaksanaan kegiatan, manusia mengunakan material atau bahan – bahan, karenanya dianggap pula sebagai alat sarana manajemen untuk mencapai tujuan. Adapun material tersebut antara lain untuk mendukung agar kegiatan operasi penangkapan cakalang dapat terlaksana maka diperlukan alat tangkap (huhate) dan alat bantu lainnya.
5. Mesin (Machine)
KM. Sinar Bahari merupakan kapal penangkapan ikan cakalang (pole and
line) yang merupakan hal pendukung dalam pelaksanaan operasi penangkapan
cakalang, karena tanpa adanya kapal tentu saja kegiatan operasi penangkapan tidak dapat berjalan sesuai tujuan dari manjemen.
6. Cara (Metode)
Metode atau cara dianggap pula sebagai sarana atau alat manajemen untuk mencapai tujuan. CV. Sari Usaha. Dalam pemanfaatan sumberdaya cakalang yang cukup melimpah khususnya di laut Utara Sulawesi dan sekitarnya (laut Utara Maluku, Samudera Pasifik dan Teluk Tomini). CV. Sari Usaha mengunakan kapal
pole and line (KM. Sinar Bahari) dalam kegiatan operasi penangkapan cakalang
(Katsuwonus pelamis) dengan penangkapannya mengunakan umpan hidup, selain itu untuk mendukung agar operasi penangkapan dapat berlangsung optimal CV. Sari Usaha memiliki rumpon (ponton) yang telah dipasang di setiap daerah yang menjadi target penangkapan cakalang.
5.4. Pengelolaan Sumber Daya Cakalang (Katsuwonus pelamis)
Pengelolaan sumber daya perikanan merupakan suatu sistem yang terdiri dari 3 subsistem, yaitu :
Dengan adanya informasi dari data – data operasi penangkapan baik berupa jurnal penangkapan dengan dilengkapi data posisi daerah penangkapan dan bentuk fisik daerah penangkapan setidaknya akan membantu dalam penambahan informasi bahwasanya pada daerah penangkapan tersebut memiliki potensi sumber daya ikan dalam hal ini cakalang (Katsuwonus pelamis) cukup besar.
Berdasarkan data hasil tangkapan KM. Sinar Bahari yang diperoleh selama periode bulan Maret s/d April 2010 menunjukan potensi sumber daya cakalang banyak terdapat pada kisaran suhu 280C – 290C yang dapat terlihat pada
Gambar
32 dengan titik koordinat 10 LU – 00 LS s/d 1230 – 1220 BT. Dengan demikian
pada kisaran suhu tersebut dapat dijadikan sebagai daerah pemanfaatan penangkapan selanjutnya.
2. Subsistem pemanfaatan sumber daya dan pembinaan usaha :
Dengan pemanfaatan sumber daya cakalang yang optimal dapat mendukung kelangsungan usaha pemanfaatan sumber daya yang produktif dan memberi nilai jaminan bagi para pelaku (perusahaan dan awak kapal).
Untuk mengoptimalkan hasil tangkapan dari pihak perusahaan CV. Sari Usaha menggunakan rumpon yang telah dipasang dan disebarkan diwilayah laut utara sulawesi dengan tujuan sebagai alat bantu dalam mendukung keberhasilan penangkapan yang optimal.
3. Subsistem pengawasan dan pengendalian
Operasi penangkapan dengan huhate merupakan alat tangkap yang efisien karena cakalang yang tertangkap rata – rata berukuran 40 – 50 cm (Lampiran 18)
dimana dapat dikatakan sudah matanggonat dan sesuai dengan ketentuan yang ada yaitu alat tangkap ramah lingkungan dan dapat diterima oleh masyarakat nelayan.
Dengan penerapan pengelolaan sumber daya perikanan berdasarkan subsistem ini, dapat diambil kesimpulan bahwa dengan pemanfaatan sumber daya yang optimal dengan memperhatikan pemanfaatan yang bertanggung jawab baik dalam pengoperasian alat tangkap dapat mencegah dan meminimalkan kerusakan sumber daya itu sendiri.
5.3. Analisis Finansial 5.3.1. Biaya investasi
Investasi kapal penangkap KM. Sinar Bahari dapat diperinci sebagai berikut yaitu pada Tabel 14 :
Tabel 14. Rincian Jenis dan Harga Barang Investasi
No. Unit Investasi Jumlah
Umur
Ekonomis Harga/Unit Nilai Total
Unit (Tahun) (Rp) (Rp)
1 Kapal Pole and line 1 10
700.000.00 0 700.000.000 2 Mesin 1 10 150.000.00 0 150.000.000 3 Generator 2 10 3.000.000 6.000.000 4 Motor pompa 2 5 1.500.000 3.000.000 5 GPS 1 5 12.500.000 12.500.000 6 Radio SSB 1 5 1.000.000 1.000.000 7 Kompas 1 10 1.100.000 1.100.000 8 Teropong 2 2 1.100.000 2.200.000
9 Alat tangkap (Huhate) 1 1 500000 500.000
Berdasarkan Tabel 14 di atas total investasi untuk satu unit KM. Sinar Bahari, CV. Sari Usaha telah mengeluarkan dana investasi sebesar Rp. 873.900.000,- (Delapan ratus tuju puluh tiga juta sembilan ratus ribu rupiah).
5.3.2. Pendapatan hasil usaha
Pendapatan hasil perusahaan diperoleh dari besarnya hasil tangkapan yang diperoleh dan yang laku terjual. Yang diperoleh KM. Sinar Bahari selama periode Maret s/d April 2010 dapat dilihat pada Tabel 15 berikut :
Tabel 15. Hasil Produksi Ikan KM. Sinar Bahari Untuk Bulan Maret s/d April 2010
Produksi Jumlah Produksi Jumlah Produksi
(Kg) (Rp)
Cakalang 138.842 902.473.000
Baby Tuna 28.217 225.736.000
Jumlah 167.059 1.128.209.000
Dari data Tabel 15 pendapatan hasil perusahaan yang diperoleh dari penjualan hasil tangkapan KM. Sinar Bahari selama periode bulan Maret s/d April 2010 adalah sebesar Rp. 1.128.209.000,-
5.3.3. Biaya tetap (Fixed Cost)
1. Biaya Penyusutan (Depresiasi)
Perhitungan yang digunakan untuk menghitung nilai penyusutan adalah dengan berdasarkan metode garis lurus (Straight Line Method) yaitu perhitungan biaya pembelin kapal, mesin, generator, motor pompa, GPS, radio SSB, kompas,
dan alat tangkap (Huhate) dikurangi dengan nilai sisa dibagi umur ekonomis jenis investasi. Perhitungan penyusutan metode garis lurus (Straight Line Method) :
Keterangan :
NB : Harga perolehan
NS : Nilai sisa (10% dari NB) T : Umur ekonomis
t : Jumlah trip operasi dalam setahun Tabel 16. Biaya penyusutan
No. Unit Investasi
Jumlah NB NS T t Penyusutan Unit 10 % x NB NB - NS T x t 1 Kapal Pole and line 1 700.000.000 70.000.000 10 60 63.000.000
2 Mesin 1 150.000.00 0 15.000.000 1 0 60 13.500.000 3 Generator 2 6.000.000 600.000 1 0 60 540.000 4 Motor pompa 2 3.000.000 300.000 5 60 2.700.000 5 GPS 1 12.500.000 1.250.000 5 60 11.250.000 6 Radio SSB 1 1.000.000 100.000 5 60 900.000 7 Kompas 1 1.100.000 110.000 1 0 60 990.000 8 Teropong 2 1.100.000 110.000 2 60 495.000 9 Alat tangkap (Huhate) 1 500.000 50.000 1 60 450.000 Jumlah 93.825.000
Dari Tabel 16 diketahui total biaya penyusutan untuk KM. Sinar Bahari adalah Rp. 93.825.000,-/ Tahun. Perinciannya dapat dilihat pada Lampiran 2.
NB – NS (% NB) Penyusutan =
2. Biaya pemeliharaan
Biaya pemeliharaan kapal terdiri dari biaya perbaikan, perawatan, dan docking :
Tabel 17. Biaya pemeliharaan dalam periode bulan Maret s/d April 2010 N0. Jenis Biaya Total Biaya
1 Perbaikan, perawatan 3.000.000
2 Docking 15.000.000
Total 18.000.000
Total biaya pemeliharaan untuk KM. Sinar Bahari periode bulan Maret s/d April 2010 sebesar Rp. 18.000.000,-. (Tabel 17)
3. Biaya tenaga kerja
CV. Sari Usaha tidak memberikan gaji kepada awak kapal penangkap ikan melainkan dengan memberikan bagi hasil, sehingga besarnya pendapatan awak kapal tergantung pada besarnya hasil tangkapan. Bagi hasil dihitung dari jumlah pendapatan satu trip dikurangi biaya operasional 20 % kemudian laba di bagi 50% untuk perusahaan dan 30% dibagi untuk seluruh awak kapal. Sistem bagi hasil dapat dijelaskan dengan bagan berikut :
. Laba 30% Awak Kapal 50% Perusahaan 15%
Nakhoda & Boi - boi
10% KKM & Mualim
75%
Dibagi jumlah ABK 20%
Gambar 43. Skema Sistem Bagi Hasil Antara Perusahaan Dengan Awak Kapal. Biaya tenaga kerja pada KM. Sinar Bahari Rp. 150.000.000,- untuk periode bulan Maret s/d April 2010.
4. Biaya umum dan administrasi
Adapun biaya – biaya umum dan administrasi yang dikeluarkan untuk KM. Sinar Bahari per tahunnya adalah Rp. 30.000.000,-.
Pungutan Hasil Perikanan (PHP) sejak 29 September 2009 s/d 29 September 2010 sebesar Rp. 9.709.900,- (Lampiran 16).
Tabel 18. Biaya tetap (Fixed Cost) pada KM. Sinar Bahari bulan Maret s/d April 2010.
No. Jenis Biaya Biaya (Rp)
1 Penyusutan 3.127.500
2 Pemeliharaan 18.000.000
3 Tenaga kerja 150.000.000
4 Umum & Administrasi 3.000.000
Total 174.127.500
Jumlah total biaya tetap (Fixed Cost) operasional untuk KM. Sinar Bahari dalam periode bulan Maret s/d April 2010 adalah Rp. 174.127.500,-
5.3.4. Biaya tidak tetap (Variable Cost)
Variable Cost adalah biaya yang bervariasi mengikuti alur secara
Adapun biaya tidak tetap pada KM. Sinar Bahari untuk periode bulan Maret s/d April 2010 dengan 11 trip adalah sebagai berikut :
Tabel 19. Biaya Tidak Tetap (Variable Cost) Periode Bulan Maret s/d April 2010 No. Jenis Biaya Nilai Harga (Rp) Harga Keseluruhan
(Rp) Satuan
1 Bahan bakar solar 13.000 liter 4,725 61.425.000
2 Bahan bakar bensin 200 liter 4,500 9.000.000
3 Oli 100 liter 25,000 2.500.000
4 Es 1925 balok 12,000 23.100.000
5 Perbekalan makanan 1 unit 4.500.000
6 Obat - obatan 1 unit 100.000
7 Pengurusan dokumen 1 unit 500.000
8 Umpan 1800 ember 50,000 95.000.000
9 Uang bongkar 22.000.000
Jumlah 218.125.000
Berdasarkan total nilai variabel cost dari Tabel 19 diketahui bahwa jumlah total biaya tidak tetap periode bulan Maret s/d April 2010 selama 11 trip adalah sebesar Rp. 218.125.000,-
5.3.5. Perhitungan laba rugi usaha
Hasil produksi KM. Sinar Bahari untuk periode Maret s/d April 2010 selama 11 trip total produksi hasil tangkapan 167.059 kg dengan total nilai jual produksi sebesar Rp. 1.128.209.000,-.
Tabel 20. Perhitungan Laba Rugi 11 trip periode bulan Maret s/d April 2010.
Uraian Biaya (Rp) Total (Rp)
Tetap Variabel
A. Pendapatan 1.128.209.000
JUMLAH PENDAPATAN (A) 1.128.209.000
B. Biaya Operasi
Solar 61.425.000
Oli 2.500.000 Es 23.100.000 Bahan makanan 4.500.000 Obat – obatan 100.000 Pengurusan dokumen 500.000 Umpan 90.000.000 Premi 33.750.000
C. Jumlah biaya operasi (B) 218.125.000
D. Laba operasi (A-B) 910.084.000
E. Biaya umum
Biaya umum & administrasi 3.000.000 Upah awak kapal
150.000.00 0 Perbaikan & perawatan 18.000.000
Biaya penyusutan 3.127.500
PHP 9.709.900
F. Jumlah biaya umum (E) 183.837.400
G. Jumlah biaya usaha (C+F) 401.962.400
H. Laba usaha (D-F) 726.246.600
I. LABA BERSIH (H-G) 324.284.200
Berdasarkan hasil analisa laba rugi periode Maret s/d April 2010 pada Tabel 20, selama 11 trip operasi penangkapan dengan hasil tangkapan sebanyak 167.059 kg dengan pendapatan penjualan produksi Rp. 1.128.209.000, maka untuk KM. Sinar Bahari diperoleh laba bersih senilai Rp. 324.284.200,-
Laba rugi usaha :
П = TR – TC Keterangan : П = Keuntungan TR = Total penerimaan TC = Total Biaya Jadi : Keuntungan = Rp. 726.246.600 – Rp. 401.962.400 = Rp.
324.284.200,-Ditinjau dari segi layak atau tidaknya sebuah usaha apakah usaha tersebut layak dan dapat terus berlanjut maka dapat dikatakan untuk usaha penangkapan cakalang dengan mengunakan kapal huhate pada perusahaan CV. Sari Usaha dapat terus berlanjut dan dapat dikatakan layak dimana jumlah penerimaan (TR) > dari jumlah biaya (TC) maka usaha itu dapat dikatakan layak dan dapat terus berlanjut.
5.3.6. Analisis titik impas (BEP)
Perhitungan Break Event Point dimaksudkan untuk mengetahui nilai standar. Hasil tangkapan ini adalah jumlah kuantitas produk yang harus dihasilkan oleh KM. Sinar Bahari untuk dapat menutupi biaya – biaya yang yang digunakan dalam operasi penangkapan tiap trip, sehingga mendapatkan laba.
Perhitungan atas dasar penjualan dalam (Kg) :
) ( Pr ) ( Pr ) ( Kg oduksi VC Kg oduksi TR FC BEP Kg − =
atau BEP (Dalam Kg) =
V P FC -= 183.837.400 6753,3 - 1297,5 = Rp. 183.837.400 5455,8 BEP(Kg) = 33.695,7 kg. Di mana : P = Penjualan (Kg) V = biaya variabel per Kg FC = biaya tetap
penjualan
iabel
Biaya
Tetap
Biaya
BEP
Rpvar
1
) (−
=
atau BEP (dalam Rp) =
P V -1 FC = Rp. 183.837.400 1 – Rp. 218.125.000 Rp.1.128.209.000 = Rp. 183.837.400 0.806 BEP(Rp) = Rp. 228.086.107,- Di mana : FC = biaya tetap V = biaya variabel (Rp) P = Penjualan (Rp)
Melihat dari perhitungan titik impas maka dapat disimpulkan KM. Sinar Bahari mengalami keuntungan karena hasil pendapatan tiap trip melebihi titik impas. Untuk lebih jelasnya terdapat pada grafik Break Even Point (Gambar 44).
1.128.209.000
228.086.107
33.695,7 167.059 Gambar 44. Grafik Break Even Point