• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Relasi Rekursif 01

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Makalah Relasi Rekursif 01"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Mata

Mata Kuliah Kuliah :: Matematika Diskrit Lanjut Matematika Diskrit Lanjut  Dosen

Dosen

::

Prof. Dr. Abdul Rahman, M.Pd.Prof. Dr. Abdul Rahman, M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

PROGRAM PASCASARJANA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

RELASI REKURSIF

RELASI REKURSIF

SUBHANUDIN SUBHANUDIN :161 :161 5 5 7 7 1 1 NURWAHIDA NURWAHIDA :161 :161 5 5 7 7 1 1 6969 NUR

(2)

RELASI REKURSIF

A. Definisi Relasi Rekursif

Relasi rekursif adalah sebuah formula rekursif dimana setiap bagian dari suatu barisan dapat ditentukan menggunakan satu atau lebih bagian sebelumnya. Jika

 adalah banyak cara untuk menjalankan prosedur dengan k obyek, untuk k = 0,1,2,3,4…. Maka relasi rekursi adalah sebuah persamaan yang menyatakan

 sebagai sebuah fungsi dari

 

 untuk k < n.

 Nilai

tidak akan pernah dapat dicari jika suatu nilai awal tidak diberikan. Jika suatu relasi rekursif melibatkan r buah

 , maka r buah nilai awal

,

,….

−

  harus diketahui. Sebagai contoh, pada relasi rekursif

= 

−

+ 

−

, tidak cukup diketahui sebuah nilai

= 2

, akan tetapi  butuh sebuah nilai lagi yaitu missal

=3.

Dengan demikian

=

+ 

=3+5=8;

=

+ 

= 5+3 = 8;

=

+ 

= 8+5 = 13; dst.

Definsi lain menyatakan suatu

relasi rekursi

untuk sebuah barisan

merupakan sebuah rumus untuk menyatakan

  ke dalam satu atau lebih suku-suku sebelumnya dari barisan tersebut, untuk suatu bilangan bulat nonnegatif

.

Atau dengan kata lain, bila persamaan yang mengekspresikan an

dinyatakan secara rekursif dalam satu atau lebih term  elemen sebelumnya, yaitu a0, a1, a2, …, an – 1, maka persamaan tersebut dinamakan

relasi rekurens

.

Contoh

an = 2an – 1 + 1

an = an – 1 + 2an – 2

(3)

Dalam relasi rekurens terdapat kondisi awal untuk suatu barisan. Kondisi awal (initial conditions) suatu barisan adalah satu atau lebih nilai yang diperlukan untuk memulai menghitung elemen-elemen selanjutn ya.

Contoh: an = 2an – 1 + 1; a0 = 1

an = an – 1 + 2an – 2; a0 = 1 dan a1 = 2

Karena relasi rekurens menyatakan definisi barisan secara rekursif, maka kondisi awal merupakan langkah basis pada definisi rekursif tersebut. Contoh . Barisan Fibonacci 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, …

dapat dinyatakan dengan relasi rekurens  f n = f n – 1 + f n – 2 ;  f 0 = 0 dan f 1 = 1

Kondisi awal secara unik menentukan elemen-elemen barisan. Kondisi awal yang berbeda akan menghasilkan elemen-elemen barisan yang berbeda  pula. Solusi dari sebuah relasi rekurens adalah sebuah formula yang tidak melibatkan lagi term rekursif. Formula tersebut memenuhi relasi rekurens yang dimaksud atau dengan kata lain suatu barisan disebut

 solusi

dari sebuah relasi rekursi jika suku-suku pada barisan tersebut memenuhi relasi rekursinya.

Contoh 1

Misal

 barisan yang memenuhi relasi rekursi

=

−1 -

−2. untuk

≥2,lalu

misalkan

0=3 dan

1=5. Tentukan nilai

2 dan

3.

 Jawab

Karena

2=

1−

0, maka

2=2.

Karena

3=

2−

1, maka

3=−3.

Contoh 2

Untuk bilangan bulat nonnegatif

,apakah barisan

=3

,

=2

 dan

=5 merupakan solusi bagi relasi rekursi

=2

−1-

−2 ?

(4)

=2

−1 -

−2

=2(3(

−1)) − 3(

−2)

=3

.

Maka

=3

 merupakan solusi bagi relasi rekursi

=2

−1 -

−2

(ii) Misal

=2

, untuk bilangan bulat nonnegatif

. Maka

=2

−1 -

−2

=2(2(

−1)) − 2(

−2)

=2

−2

−2

=2

(1−

)=2

≠2

.

Maka

=2

 bukan merupakan solusi bagi relasi rekursi

=2

−1-

−2

(iii) Misal

=5, untuk bilangan bulat nonnegatif

. Maka

=2

−1 -

−2

=2(5)−5

=5

Maka

=5 merupakan solusi bagi relasi rekursi



=2

−1−

−2.

Catatan:

Kondisi awal

(

0) akan menentukan suku-suku pada barisan

 berikutnya. Contoh 3

Tentukan barisan yang merupakan solusi dari relasi rekursi

=3

−1, jika

diketahui

0=2.

 Jawab:

=3

−1

=3(3

−2) = 32∙

−2

=3(3(3

−3)) = 33∙

−3

=3

=3

0 (

0=2)

=2∙3

(5)

Sehingga barisan

=2∙3

  merupakan solusi dari relasi rekursi

=3

−1

dengan nilai awal

0=2.

Fungsi

 

  dikatakan fungsi rekursif jika definisi fungsinya mengacu  pada dirinya sendiri.

Tinjau kembali fungsi untuk menghitung faktorial dari bilangan bulat tak-negatif n yang didefinisikan sebagai berikut:

!={1

12…(  1), >0

,=0

Sebagai contoh, 0! = 1 1! = 1 2! = 1x 2 3! = 1x 2x 3 4! = 1x2x3x4

Sekarang coba perhatikan bahwa faktorial dari n dapat didefinisikan dalam terminologi faktorial juga:

0! = 1 1! = 1 2! = 1x 2 3! = 1x 2x 3 4! = 1x2x3x4

 Nyatakan, bahwa untuk

 > 0

 kita melihat bahwa: n! = 1 x 2 x….x(n-1)xn = (n-1)!xn

Dengan menggunakan notasi matematika, maka n! didefinisikan dalam hubungan rekursif sebagai berikut:

(6)

!={1

(  1)!, >0

,=0

Jika kita misalkan

 ()

 = n!, maka fungsi factorial di atas dapat juga ditulis sebagai

 () = {1

(  1), >0

,=0

Kita dapat melihat bahwa dalam proses perhitungan factorial  bilangan tak-negatif n terdapat definisi factorial itu sendiri. Cara  pendefinisian seperti itu, yang mendefinisikan sebuah objek dalam

terminology dirinya sendiri dinamakan definisi rekursif. Fungsi rekursif disusun oleh dua bagian:

(i)  Basis  : bagian yang berisi nilai awal yang tidak mengacu pada dirinya sendiri.

(ii)  Rekurens

• Bagian ini mendefinisikan fungsi dalam terminologi dirinya sendiri. • Berisi kaidah untuk menemukan nilai fungsi pada suatu input dari

nilai-nilai lainnya pada input yang lebih kecil Contoh 4

Tinjau kembali perhitungan n! Secara rekursif dan tentukan nilai dari 5!. Dengan mengingat kembali definisi rekursif dari faktorial.

(i) Basis

n! = 1 , jika n = 0 (ii) Rekurens :

n! = n x (n-1)! , jika n>0

maka 5! Dihitung dengan langkah berikut:

(1) 5! = 5 x 4! (rekurens)

(2) 4! = 4 x 3!

(3) 3! = 3 x 2!

(7)

(5) 1! = 1 x 0!

(6) 0! = 1

Pada baris (6) kita memperoleh nilai yang terdefinisi secara langsung dan bukan faktorial dari bilangan lainnya. Dengan melakukan runut-balik (backtrack) dari baris (6) ke baris (1), kita mendapatkan nilai pada setiap  baris untuk menghitung hasil pada baris sebelumnya:

(6’) 0! =1 (5’) 1! = 1 x 0! (4’) 2! = 2 x 1! (3’) 3! = 3 x 2! (2’) 4! = 4 x 3! (1’) 5! = 5 x 4! Jadi, 5! = 120 Contoh 5

 Nyatakan

 dalam argumen rekursif Jawab:

Contoh 6

 Nyatakan a  b  secara rekursif, yang dalam hal ini a dan b adalah bilangan  bulat positif.. 1 kali 1 kali ... ...              n n n n a a a a a a a a a a a a      

0 , 0 , 1 1 n a a n a n n

(8)

Jawab:

Contoh 7

(Barisan Rekursif)

Perhatikan barisan bilangan berikut ini: 1, 2, 4, 8, 16, 64, …

Setiap elemen ke-n untuk n = 0, 1, 2, … merupakan hasil perpangkatan 2 dengan n, atau an= 2n.

Secara rekursif, setiap elemen ke-n  merupakan hasil kali elemen sebelumnya dengan 2, atau an = 2an –  1.

Basis: a0= 1

Rekurens: an= 2an –  1.

Kasus:

Koloni bakteri dimulai dari lima buah bakteri. Setiap bakteri membelah diri menjadi dua bakteri baru setiap satu jam. Berapa jumlah bakteri baru sesudah 4 jam?

Misalkan an= jumlah bakteri setelah n jam, yang dapat dinyatakan

dalam relasi rekursif sebagai berikut:

n = 1  jumlah bakteri = a1 = 2a0 = 2 5 = 10

n = 2  jumlah bakteri = a2 = 2a1 = 2 10 = 20

n = 3  jumlah bakteri = a3 = 2a2 = 2 20 = 40

n = 4  jumlah bakteri = a4 = 2a3 = 2 40 = 80

Jadi, setelah 4 jam terdapat 80 buah bakteri

b a b b b b b b b b b b a a a

)

1

(

...

...

kali 1 kali                           

1 , ) 1 ( 1 , a b a b a b b a

 , 0 2 0 , 5 1 n a n a n n

(9)

B. Pemodelan dengan Relasi Rekursif

Relasi rekursif yang paling terkenal dan sering digunakan yaitu  barisan Fibonacci.

Relasi rekursif ini merupakan salah satu relasi rekursif yang paling tua di dunia, dibahasa pada buku Liber Abacci yang ditulis oleh Leonardo Of Pisa atau yang lebih dikenal dengan nama Fibonacci pada tahun 1202.

Pada saat itu dicoba untuk menghitung jumlah pasangan kelinci yang ada, jika setiap pasangan kelinci setiap bulan dapat menghasilkan sepasang anak kelinci baru.

Jika syarat awal diberikan dengan harga

=1,

=

1, maka  bilangan yang diperoleh dengan rumus rekursif

= 

−

+ 

−

  untuk

n=3,4.. disebut barisan Fibonacci dan suku

 disebut bilangan Fibonacci. Jadi, barisan Fibonacci sebagai berikut:

1,1,2,3,5,8,13,21,34,55,89,114,233,…. Contoh 8

(Arrangements)

Tentukan relasi rekursif untuk menentukan banyaknya cara menyusun n  buah objek yang berbeda dalam suatu barisan. Tentukan banyaknya cara

untuk menyusun 8 buah objek. Penyelesaian:

Misalkan

menyatakan banyaknya cara menyususn n objek yang berbeda, maka ada n cara meletakkan n objek pada urutan pertama dibarisan. Dengan cara yang sama untuk

−

, maka ada n-1 cara. Oleh karena itu formula relasi rekursi dapat dinyatakan sebagai

 =



−

(10)

Contoh 9

(Climbing Stair s)

Sebuah rumah memiliki tangga dengan n buah anak tangga untuk dinaiki. Setiap langkah dapat melewati satu atau dua anak tangga. Tentukan relasi rekursi untuk

, banyaknya cara berbeda seseorang dapat menaiki n buah anak tangga.!

 Penyelesaian:

=

1

=

2, yaitu 1,1 atau 2

=

3, yaitu 1,1,1 atau 1,2 atau 2,1

= 4

, yaitu 1,1,1,1 atau 1,2,1 atau 1,1,2 atau 2,2 atau 2,1,1

Sangat jelas terlihat bahwa ketika sebuah langkah dijalankan, maka akan ada tiga atau kurang anak tangga lagi yang tersisa untuk dinaiki. Dengan demikian setelah langkah pertama menaiki sebuah anak tangga, akan ada

cara untuk meneruskan menaiki tiga anak tangga berikutnya. Jika langkah  pertama menaiki dua anak tangga, maka akan ada

cara untuk meneruskan

menaiki dua anak tangga yang tersisa. Dengan demikian

= 

+ 

= 3 +

2

Contoh 10

Bunga Majemuk

Misalkan uang sebanyak Rp10.000 disimpan di bank dengan sistem bunga  berbunga dengan besar bunga 11% per tahun. Berapa banyak uang setelah 30

tahun?

Misalkan  P n menyatakan nilai uang setalah n tahun. Nilai uang setelah n

tahun sama dengan nilai uang tahun sebelumnya ditambah dengan bunga uang:

(11)

• Solusi relasi rekurens P n = P n – 1 + 0,11 P n – 1 ; P 0 = 10.000 dapat dipecahkan sebagai berikut:  P n = P n – 1 + 0,11 P n – 1 = (1,11) P n – 1 = (1,11) [(1,11) P n – 2] = (1,11)2 P n – 2 = (1,11)2 [(1,11) P n – 3] = (1,11)3 P n – 3 = … = (1,11)n P 0 Jadi, P n = (1,11)n P 0 = 10.000 (1,11)n

Setelah 30 tahun, banyaknya uang adalah  P 30 = 10.000 (1,11)30 = Rp228.922,97

Contoh 11

Menara Hanoi (

The Tower of H anoi 

)

Menara Hanoi adalah sebuah puzzle yang terkenal pada akhir abad 19. Puzzle ini ditemukan oleh matematikawan Perancis, Edouard Lucas.

Dikisahkan bahwa di kota Hanoi, Vietnam, terdapat tiga buah tiang tegak setinggi 5 meter dan 64 buah piringan (disk ) dari berbagai ukuran. Tiap  piringan mempunyai lubang di tengahnya yang memungkinkannya untuk dimasukkan ke dalam tiang. Pada mulanya piringan tersebut tersusun pada sebuah tiang sedemikian rupa sehingga piringan yang di bawah mempunyai ukuran lebih besar daripada ukuran piringan di atasnya. Pendeta Budha memberi pertanyaan kepada murid-muridnyanya: bagaimana memindahkan seluruh piringan tersebut ke sebuah tiang yang lain; setiap kali hanya satu  piringan yang boleh dipindahkan, tetapi tidak boleh ada piringan besar di atas  piringan kecil. Tiang yang satu lagi dapat dipakai sebagai tempat peralihan dengan tetap memegang aturan yang telah disebutkan. Menurut legenda  pendeta Budha, bila pemindahan seluruh piringan itu berhasil dilakukan,

(12)

Pemodelan :

Kasus untuk n=3 Piringan

Secara umum, untuk n  piringan, penyelesaian dengan cara berpikir rekursif adalah sebagai berikut:

Kita harus memindahkan piringan paling bawah terlebih dahulu ke tiang  B  sebagai alas bagi piringan yang lain. Untuk mencapai maksud demikian, berpikirlah secara rekursif: pindahkan n –  1 piringan teratas dari A ke C, lalu pindahkan piringan paling bawah dari  A ke B, lalu pindahkan n –  1  piringan dari C  ke B.

 pindahkan n

 – 

 1 piringan dari A ke C   pindahkan 1 piringan terbawah dari A ke B  pindahkan n

 – 

 1 piringan dari C ke B

(13)

Selanjutnya dengan tetap berpikir rekursif-pekerjaan memindahkan n  –  1  piringan dari sebuah tiang ke tiang lain dapat dibayangkan sebagai memindahkan n –  2 piringan antara kedua tiang tersebut, lalu memindahkan  piringan terbawah dari sebuah tiang ke tiang lain, begitu seterusnya.

Misalkan  H n  menyatakan jumlah perpindahan piringan yang dibutuhkan

untuk memecahkan teka-teki Menara Hanoi.

 pindahkan n

 – 

 1 piringan dari A ke C   H n-1 kali

 pindahkan 1 piringan terbawah dari A ke B   1 kali  pindahkan n

 – 

 1 piringan dari C ke B   H n-1 kali

Maka jumlah perpindahan yang terjadi adalah:  H n= 2 H n-1 + 1

dengan kondisi awal H 1 = 1

Penyelesaian relasi rekurens:  H n = 2 H n-1+ 1 = 2(2 H n-2 + 1) + 1 = 22 H n-2 + 2 + 1 = 22(2 H n-3 + 1) + 2 + 1 = 23 H n-3 + 22 + 2 + 1  = 2n-1 H 1 + 2n-2 + 2n-3+ … + 2 + 1 = 2n-1 + 2n-2 + 2n-3 + … + 2 + 1  deret geometri = 2n –  1

• Untuk n = 64 piringan, jumlah perpindahan piringan yang terjadi adalah

 H 64= 264 –  1 = 18.446.744.073.709.551.615

• Jika satu kali pemindahan piringan membutuhkan waktu 1 detik, maka

waktu yang diperlukan adalah

18.446.744.073.709.551.615 detik

(14)

• Karena itu, legenda yang menyatakan bahwa dunia akan kiamat bila

orang berhasil memindahkan 64 piringan di menara Hanoi ada juga  benarnya, karena 584 milyar tahun tahun adalah waktu yang sangat lama,

dunia semakin tua, dan akhirnya hancur. (Wallahualam)

C. Definisi Relasi Rekursif Linear Dengan Koefisien Konstanta

Sebuah relasi rekurensi linier berkoefisien konstan dari sebuah fungsi numerik a, secara umum ditulis sebagai berikut

C0 an + C1 an-1 + C2 an-2 + … + Ck  an-k  = f(n)

dimana Ci , untuk i = 0,1,2,…,k adalah konstan dan f(n) adalah sebuah

fungsi numerik dengan variabel n.

Relasi rekurensi tersebut dikatakan relasi rekurensi linier berderajat k ,  jika C0 dan Ck  keduanya tidak bernilai 0 (nol).

Contoh

2 an + 2 an-1 = 3n adalah sebuah relasi rekurensi linier berderajat 1

tn = 7 tn-1 adalah sebuah relasi rekurensi linier berderajat 1

an –  an-1 –  an-2 = 0 adalah sebuah relasi rekurensi linier berderajat 2

 bn-3 –  3bn= n+3 adalah sebuah relasi rekurensi linier berderajat 3

Untuk sebuah relasi rekurensi dengan koefisien konstan derajat k, jika diberikan k buah harga a j yang berurutan am-k , am-k+1 , … , am-1  untuk

suatu nilai m tertentu, maka setiap nilai am yang lain dapat dicari dengan

rumus

am =

0

1 C 

  ( C1 am-1 + C2 am-2+ … + Ck  am-k - f(m) ) dan selanjutnya, harga am+1 juga dapat dicari dengan cara

(15)

am+1 =

0

1 C 

  ( C1 am + C2 am-1+ … + Ck  am-k+1- f(m+1) )

demikian pula untuk nilai am+2 , am+3 dan seterusnya. Di lain pihak, harga

am-k-1 dapat pula dihitung dengan;

am-k-1 =

C  1

  ( C1 am-1 + C2 am-2 + … + Ck-1 am-k - f(m-1) ) dan am-k-2 dapat dicari dengan

am-k-2 =

C  1

  ( C1 am-2 + C2 am-3+ … + Ck-1 am-k-1- f(m-2) ).

Harga am-k-3  dan seterusnya dapat dicari dengan cara yang sama. Jadi,

untuk sebuah relasi rekurensi linier berkoefisien konstan derajat k  , bila harga k  buah a j yang berurutan diketahui, maka harga a j yang lainnya dapat

ditentukan secara unik. Dengan kata lain, k  buah harga a j  yang diberikan

merupakan himpunan syarat batas (kondisi batas) yang harus dipenuhi oleh relasi rekurensi tersebut untuk dpat memperoleh harga yang unik.

Jika f(n) = 0, maka relasi rekursif tersebut disebut homogeny; jika tidak demikian, disebut nonhomogen.  Konstanta, maka relasi rekursif tersebut dinamakan relasi rekursif dengan koefisien konstanta.

Misalnya,

(i) a1 = a2  = 0; an= an-1+an-2+1, n

3 adalah relasi rekursif linear

nonhomogen derajat dua dengan koefisien konstanta.

(ii) a1 = a2 = 0; an = an-1+an-2, n

3 adalah relasi rekursif linear homogeny

 berderajat dua dengan koefisien konstanta

(iii) a0 = a1  = 1; an= a0 an-1+ a2an-2+ an-1a0, n

1 adalah relasi rekursif non

linear.

(iv) D1 =1; Dn=nDn-1+ (-1)n, n

1 adalah relasi rekursif linear nonhomogen

(16)

Perlu dicatat bahwa suatu relasi rekursif berderajat k terdiri dari sebuah  bagian rekursif dan k kondisi awal berurutan. Relasi rekursif demikian

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2015. Relasi Rekursi http:// ratih_kurniasih.staff.gunadarma.ac.id /Downloads/files/49596/RELASI+REKURSI.ppt. diakses tanggal 06 juni 2017.

Budayasa, I Ketut. 2014. Matematika Diskrit , Cet.V. Unesa University Press: Semarang.

Indarti, Dina. 2015. Relasi Rekursi. http://dina_indarti.staff.gunadarma.ac.id /Downloads/files/44823/Relasi+Rekursi.pdf. diakses tanggal 06 Juni 2017. Liu, C.L., 1986.  Elements of Discrete Mathematics, Edisi ke-2, Mc.Graw Hill:

Singapore.

Munir, Rinaldi. 2012. Matematika Diskrit . Informatika Bandung: Bandung.

Sumantri Slamet dan Hendrik Makaliwe. 1991.  Matematika Kombinatorik , Elex Media Komputindo dan PAU –  UI: Jakarta.

Townsend, Michael. 1987.  Discrete Mathematics: Applied Combinatorics and Graph Theory. The Benjamin/Cummings Publishing Company: California. Wirawan, Onggo. 2015 Relasi Rekursi. http://onggo.staff.gunadarma.ac.id

/Downloads/files/40764/Relasi+Rekursi+-+Onggo+Wiryawan.pdf. diakses tanggal 06 Juni 2017.

Referensi

Dokumen terkait