• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

3.1. Pendahuluan

Metodologi penelitian adalah proses atau cara ilmiah untuk mendapatkan data yang akan digunakan untuk keperluan penelitian. Dalam metodologi penelitian terdiri dari suatu tahapan-tahapan yang akan digunakan untuk menentukan langkah-langkah didalam suatu penelitian. Adapun objek masalah dalam penelitian ini adalah Pervious Concrete dengan berfokus pada masalah pengaruh pada karakteristik campuran pervious concrete yang dilakukan perawatan (curing) dengan menggunakan bahan tambahan mineral berupa silica

fume sebagai substitusi semen dan penggunaan agregat limbah botol kaca atau waste glass aggregate (WGA) sebagai substitusi sebagian agregat kasar.

Penelitian ini dilakukan dengan membuat 10 variasi penambahan silica fume dan waste glass aggregate yaitu sebesar :

1) 0% silica fume dan 0% waste glass aggregate 2) 10% silica fume dan 2,5% waste glass aggregate 3) 10% silica fume dan 7,5% waste glass aggregate 4) 10% silica fume dan 12,5% waste glass aggregate 5) 15% silica fume dan 2,5% waste glass aggregate 6) 15% silica fume dan 7,5% waste glass aggregate 7) 15% silica fume dan 12,5% waste glass aggregate 8) 20% silica fume dan 2,5% waste glass aggregate 9) 20% silica fume dan 7,5% waste glass aggregate 10) 20% silica fume dan 12,5% waste glass aggregate

Pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah slump test pada beton segar, pengujian permeabilitas dan pengujian kuat tekan beton pada umur beton 7, 14 dan 28 hari.

(2)

3.2. Studi Literatur

Studi literatur merupakan suatu tahapan pengumpulan data dan bahan acuan yang berkaitan dengan masalah dalam fokus penelitian. Dari data-data hasil penelitian tersebut kemudian dibahas, dianalisa, dan diolah sesuai dengan acuan yang ada dan pernah dilakukan oleh penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan permasalahan yang akan dibahas.

Pada tahapan ini, peneliti menghimpun dan menginventarisasi bahan acuan tersebut dari karya ilmiah, jurnal, paper, standar dan peraturan, buku, project

report, naskah publikasi, tesis penelitian, diktat, internet standar-standar acuan

dan referensi-referensi terpercaya lainnya. Untuk data yang didapat berupa literatur mengenai hal yang berhubungan dengan pengaruh penggunaan silica

fume sebagai substitusi sebagian semen dan waste glass aggregate sebagai

substitusi sebagian agregat kasar pada campuran pervious concrete dengan curing.

3.3. Alur Penelitian

Alur penelitian merupakan tahapan-tahapan metodologi yang disajikan dalam bentuk diagram alir (flow chart) yang digunakan sebagai panduan dalam melakukan penelitian.. Flow chart atau diagram alir adalah bagan-bagan berbentuk grafis yang terdiri dari simbol kotak yang beragam yang menyatakan proses atau langkah-langkah dari suatu pekerjaan dan disambungkan oleh garis alir yang menandakan bahwa antara satu pekerjaan dan pekerjaan yang lain saling berhubungan.

Pada penelitian ini terdapat lima tahap yaitu tahap pertama terdiri dari studi literatur dan persiapan penelitian. Tahap kedua terdiri dari persiapan alat dan bahan serta pengujian material terlebih dahulu (uji properties bahan-bahan yang akan digunakan dalam campuran pervious concrete). Tahap ketiga terdiri dari pembuatan mix design pervious concrete. Tahap keempat terdiri dari proses pencampuran lalu melakukan pengujian beton segar (slump test) kemudian melakukan perawatan (curing) benda uji hingga capping benda uji. Tahap kelima terdiri dari pengujian tekan beton dan pengujian permeabilitas pada benda uji selanjutnya menganalisa data dan menarik kesimpulan. Diagram alir pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.1.

(3)

Mulai

Studi literatur

Pengujian beton segar (slump test)

• Alat uji properties material • Alat Slump test

• Alat Permeabilitas test (Falling Head) Persiapan Material dan Tahap I Tahap II Pengujian Material dan Persiapan alat

Pembuatan mix design • ACI 522R-10 • Jurnal terdahulu • SF 10% +WGA 2,5% • SF 10% +WGA 7,5% • SF 10% +WGA 12,5% • SF 15% + WGA 2,5% • SF 15% +WGA 7,5% • SF 15% +WGA 12,5% • SF 20% +WGA 2,5% • SF 20% +WGA 7,5% • SF 20% +WGA 12,5% Pencampuran material Tahap III A Memenuhi Memenuhi SF 0% + WGA 0%

(4)

Gambar 3.1. Diagram tahap metodelogi penelitian

3.4. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini bertempat di PT. Waskita Beton Precast Tbk Batching

Plant Jakabaring III yang terlihat pada gambar 3.2.

Gambar 3.2. Laboratorium PT. Waskita Beton Precast Tbk BP. Jakabaring III Pencetakan benda uji silinder

Tahap IV

Tahap V Pengujian kuat tekan beton pada umur 7, 14 dan 28 hari

dan permeabilitas pada umur 28 hari

Analisa data dan Pembahasan

Kesimpulan dan saran

Selesai A

Perawatan (curing)

Capping Benda Uji

(5)

3.5. Material Penyusun Pervious Concrete

Berikut ini merupakan material penyusun pervious concrete yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :

3.5.1. Semen

Semen yang digunakan pada penelitian ini adalah semen padang dengan jenis OPC (Ordinary Portland Cement) Tipe 1 yang ditunjukkan pada gambar 3.3

Gambar 3.3. Ordinary Portland Cement

3.5.2. Air

Air yang digunakan pada penelitian ini adalah air PAM bersih yang telah memenuhi syarat ASTM C1602 berasal dari Laboratorium PT. Waskita Beton Precast Plant Jakabaring 3 yang ditunjukkan pada gambar 3.4.

(6)

3.5.3. Agregat Kasar

Agregat kasar yang digunakan pada penelitian ini adalah split Bojonegoro. Ukuran batu pecah yang digunakan pada penelitian ini adalah 1-2 cm yang ditunjukkan pada gambar 3.5.

Gambar 3.5. Agregat Kasar

3.5.4. Waste Glass Aggregate

Waste Glass Aggregate merupakan Limbah Botol kaca yang berasal dari

botol minuman bekas hasil limbah rumah tangga. Kemudian dipecahkan menggunakan mesin Los Angeles Abration sehingga ukurannya menjadi 1-2 cm sebagai substitusi sebagian agregat kasar yang ditunjukkan pada gambar 3.6.

(7)

3.5.5. Silica Fume

Bahan tambah Silica Fume adalah sisa produk industri silikon yang mengandung logam yang diproduksi oleh PT. SIKA yang ditunjukkan pada gambar 3.7.

Gambar 3.7. Silica Fume

3.5.6. Superplasticizer

Penggunaan superpalsticizer berfungsi untuk mengurangi faktor air semen (w/c) tanpa mengurangi workability beton segar. Bahan tambah superplasticizer yang digunakan berbahan dasar Sikament ln yaitu superplasticizer tipe F yang ditunjukkan pada gambar 3.8.

(8)

3.5.7. Belerang

Belerang merupakan bahan yang digunakan untuk capping pada beton. Belerang ditunjukkan pada Gambar 3.9.

Gambar 3.9. Belerang

3.6. Persiapan Alat

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini yaitu alat untuk pengambilan material, saringan agregat, los angeles abration machine, mixer, gelas ukur, timbangan dengan kapasitas 5 kg dan 50 kg, alat uji slump, bekisting silinder, alat

capping beton, alat pengujian kuat tekan beton, dan alat pengujian permeabilitas

seperti berikut :

3.6.1. Saringan Agregat

Saringan agregat kasar berdiameter 3/4“ sampai 3/8” diperlukan untuk mendapatkan ukuran butiran agregat kasar dan ukuran butiran limbah botol kaca yang sesuai dengan desain rencana campuran beton segar. Saringan agregat dapat dilihat pada gambar 3.10.

(9)

3.6.2. Los Angeles Abration machine

Los angeles abration machine adalah mesin yang diperlukan untuk

menghancurkan limbah botol kaca. Los Angeles Abration machine ditunjukkan pada gambar 3.11.

Gambar 3.11. Los Angeles Abration Machine

3.6.3. Mixer

Mixer pada penelitian ini memiliki 2 blade yang berfungsi untuk

mengaduk material agar material yang masuk kedalam mixer dapat tercampur dengan merata. Mixer ini berkapasitas 30 liter yang dapat dilihat pada gambar 3.12.

(10)

3.6.4. Gelas Ukur

Gelas ukur pada penelitian ini digunakan untuk menimbang material berupa bahan tambahan superplasticizer yang ditunjukkan pada gambar 3.13.

Gambar 3.13. Gelas Ukur

3.6.5. Timbangan

Timbangan yang digunakan pada penelitian ini diperlukan untuk menimbang berat material sesuai dengan mix design. Timbangan yang ditunjukkan pada gambar 3.14 (a). memiliki ketelitian 0,5 berkapasitas 50 kg. Timbangan yang ditunjukkan pada gambar 3.14 (b). memiliki ketelitian 0,1 berkapasitas 5 kg

(a) (b)

(11)

3.6.6. Slump Cone

Slump cone adalah alat yang digunakan untuk uji slump yang bertujuan

untuk menguji workability pada pervious concrete. Slump cone terdiri dari corong

slump, base plate, tongkat pemadat, dan meteran. Berikut ini satu set slump cone

dapat dilihat pada gambar 3.15.

Gambar 3.15. Slump Cone

3.6.7. Bekisting Silinder

Bekisting silinder pada penelitian ini digunakan untuk mencetak beton

segar. Bekisting silinder yang digunakan pada penelitian ini berukuran diameter 10 cm dan tinggi 20 cm yang ditunjukkan pada gambar 3.16.

(12)

3.6.8. Vertical Cylinder Capping Set

Vertical cylinder capping set digunakan untuk meratakan bagian ujung

beton yang berbentuk silinder berdiameter 15 cm. Berdasarkan standar proses

capping pada sampel beton bertujuan untuk menyeragamkan permukaan

pembebanan pada saat dilakukan pengujian kuat tekan berdasarkan ASTM C-617.

Vertical cylinder capping set dapat dilihat pada gambar 3.17.

Gambar 3.17. Vertical cylinder capping set

3.7. Tahapan Pengujian di Laboratorium

Berikut ini tahapan yang harus dilakukan pada penelitian ini agar mendapatkan hasil penelitian yang diharapkan antara lain:

3.7.1. Tahapan Persiapan Peralatan dan Material

Pada tahap I hal yang harus dilakukan yaitu menyiapkan material dan peralatan yang akan digunakan pada penelitian ini. Material yang harus disiapkan antara lain agregat kasar, air, semen padang OPC tipe 1, waste glass aggregate,

silica fume, dan superplasticizer. Peralatan yang harus disiapkan adalah alat

pengujian material, saringan agregat, concrete mixer, timbangan, alat penguji

slump, bekisting silinder, alat pengujian kuat tekan beton dan alat pengujian

permeabilitas.

Pada tahapan persiapan ini, waste glass aggregate atau limbah botol kaca bening ini terlebih dahulu di bersihkan dan dicuci agar bau dan kotoran yang menempel di bagian luar dan dalam botol tersebut hilang. Pada gambar 3.20.

(13)

Limbah botol kaca yang telah di cuci dan dibersihkan kemudian dijemur terlebih dahulu agar limbah botol kaca dalam keadaan kering. Setelah proses penjemuran, kemudian limbah botol kaca dilakukan proses penggilingan dengan menggunakan mesin los angeles abration guna mendapatkan pecahan ukuran butiran kaca sehingga mempermudah pada saat proses penyaringan. Proses selanjutnya yaitu proses penyaringan pada limbah botol kaca yang telah dihancurkan sebelumnya agar mendapatkan butiran kaca yang lolos saringan agregat berukuran 3/4” dan tertahan 3/8” atau ukuran butiran kaca sebesar 1-2 cm.

Gambar 3.18. Limbah botol kaca yang dijemur yang kemudian dihancurkan

Tahap selanjutnya dalam penggunaan agregat kasar pada penelitian ini menggunakan split bojonegoro dengan ukuran butiran 1-2 cm yang diperolah dari laboratorium PT. Waskita Beton Precast Batching Plant Jakabaring III. Penggunaan agregat kasar berpengaruh pada kualitas dan mutu beton, maka dari itu untuk mendapatkan hasil yang optimal, agregat kasar terlebih dahulu harus dibersihkan dari kadar lumpur, senyawa kimia, dan unsur-unsur lain. Setelah agregat kasar dibersihkan dan dikeringkan, kemudian dilakukan penggetaran dan penyaringan menggunakan sieve shaker dan saringan agregat kasar guna mendapatkan ukuran butiran sebesar 1-2 cm.

(14)

Berikut ini pada gambar 3.19. terlihat proses pembersihan agregat kasar.

Gambar 3.19. proses pembersihan agregat kasar

3.7.2. Tahap Pemeriksaan Karakteristik Material

Pada Tahap II merupakan tahap pemeriksaan karakteristik dari setiap material. Pemeriksaan karakteristik material penyusun beton (uji properties) dilakukan untuk mengetahui kandungan yang ada pada material. Pada penelitian ini dilakukan pengujian pada agregat kasar diantaranya pengujian kadar air berdasarkan referensi ASTM C 566, pengujian berat volume dalam kondisi padat dan gembur berdasarkan ASTM C 29/ C 29 M, pengujian SSD (Saturated Surface

Dry) berdasarkan ASTM C 128, penyerapan agregat berdasarkan ASTM C 127,

dan analisis saringan agregat kasar berdasarkan ASTM C 117. Hasil pengujian material terlampir.

3.7.3. Tahap Penentuan Komposisi Campuran Pervious Concrete

Pada Tahap III adalah tahap menentukan komposisi campuran pervious

concrete. Komposisi campuran pervious concrete dilakukan dengan pengumpulan

data dari jurnal dan mengacu pada standar ACI 522R-10 yang dapat dilihat pada tabel 2.6. Persentase variasi waste glass aggregate dan silica fume sebagai pada beton pervious concrete dapat dilihat pada Tabel 3.1. dan untuk komposisi campuran pervious concrete yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 3.2.

(15)

Tabel 3.1. Persentase Variasi Silica Fume dan Waste Glass Aggregate

Kode

Persentase Kadar (%)

Silica Fume Semen Waste Glass Aggregate Agregat

Kasar SF₀WG₀ 0 100 0 100 SF₁₀WG₂,₅ 10 90 2,5 97,5 SF₁₀WG₇,₅ 10 90 7,5 92,5 SF₁₀WG₁₂,₅ 10 90 12,5 87,5 SF₁₅WG₂,₅ 15 85 2,5 97,5 SF₁₅WG₇,₅ 15 85 7,5 92,5 SF₁₅WG₁₂,₅ 15 85 12,5 87,5 SF₂₀WG₂,₅ 20 80 2,5 97,5 SF₂₀WG₇,₅ 20 80 7,5 92,5 SF₂₀WG₁₂,₅ 20 80 12,5 87,5

Tabel 3.2. Komposisi Campuran Pervious Concrete

Kode % SF % WGA Semen (Kg/m3) SF (Kg/m3) Agregat Kasar (Kg/m3) Air (Kg/m3) WGA (Kg/m3) SP (Kg/m3) SF0WG0 0 0 373,6 0 1980,8 119,5 0 0 SF10WG2,5 10 2,5 336,2 37,4 1918,3 117,8 49,2 1,7 SF10WG7,5 10 7,5 336,2 37,4 1820,0 117,8 147,6 1,7 SF10WG12,5 10 12,5 336,2 37,4 1721,6 117,8 245,9 1,7 SF15WG2,5 15 2,5 317,5 56,0 1911,8 117,9 49,0 1,6 SF15WG7,5 15 7,5 317,5 56,0 1813,8 117,9 147,1 1,6 SF15WG12,5 15 12,5 317,5 56,0 1715,8 117,9 245,1 1,6 SF20WG2,5 20 2,5 298,9 74,7 1905,4 118,0 48,9 1,5 SF20WG7,5 20 7,5 298,9 74,7 1807,6 118,0 146,6 1,5 SF20WG12,5 20 12,5 298,9 74,7 1709,9 118,0 244,3 1,5

3.7.4. Tahap Pembuatan Pervious Concrete

Pada Tahap IV adalah tahap pengecoran benda uji pervious concrete di Laboratorium PT. Waskita Beton Precast Plant Jakabaring III. Proses pencampuran material dilakukan seperti pencampuran beton konvensional pada umumnya. Sebelum dilakukan pencampuran seluruh material, dipastikan agregat kasar harus dalam kondisi SSD. SSD atau Saturated Surface Dry adalah keadaan pada agregat dimana tidak terdapat air pada permukaannya tetapi pada rongganya

(16)

terisi oleh air sehingga tidak mengakibatkan penambahan maupun pengurangan kadar air dalam beton. Setelah agregat kasar sudah dalam kondisi SSD. Lalu dilakukan tahap proses pengecoran beton pervious concrete menggunakan mixer yang terlihat pada gambar 3.20.

Gambar 3.20. Proses Pengecoran Pervious Concrete

Setelah dilakukan pengecoran, maka sebagian campuran beton pervious tersebut dibentuk menjadi bola. Apabila pada sampel campuran tersebut saling mengikat antara pasta semen dan agregat maka tingkat rasio air semen dalam mix

design sudah optimal sehingga memudahkan dalam pengerjaan campuran seperti

yang terlihat pada gambar 3.21.

(17)

Proses selanjutnya dilakukan uji slump. Pengujian slump bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan silica fume terhadap semen dan pengaruh penambahan waste glass aggregate terhadap agregat kasar pada perilaku

workability pervious concrete. Syarat pengujian slump pervious concrete berbeda

dengan beton konvensional. Uji slump pada pervious concrete mengacu pada standar ACI 522R-10 yaitu dengan syarat 0 atau >20 mm. Uji slump terlihat pada gambar 3.22.

Gambar 3.22. Uji Slump Pervious Concrete

Setelah dilakukan uji slump, benda uji di cetak dalam bekisting silinder ukuran 10 cm x 20 cm. Kemudian setelah bekisting dibuka, selanjutnya dilakukan

curing jika beton sudah mencapai umur 7, 14 dan 28 hari. Curing dilakukan

dengan cara benda uji direndam didalam bak berisi air untuk dijaga suhu kelembapannya yang terlihat pada gambar 3.23.

(18)

3.7.5. Tahap Penimbangan Berat Benda Uji

Pada tahap V adalah tahap penimbangan berat benda uji menggunakan timbangan berkapasitas 5 kg. Hal ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan data berat dari setiap variasi persentase benda uji. Penimbangan berat benda uji terlihat pada gambar 3.24.

Gambar 3.24. Penimbangan berat benda uji

3.7.6. Tahap Pengujian Pervious Concrete

Pada Tahap VI adalah tahap pengujian kuat tekan dan permeabilitas pada benda uji. Sebelum beton di uji kuat tekannya terlebih dahulu beton harus di dilakukan capping beton. Berikut ini capping beton pervious concrete yang terlihat pada gambar 3.25.

(19)

1. Pengujian Kuat Tekan Pervious Concrete

Setelah beton dilakukan capping kemudian beton diuji kuat tekannya pada umur 7,14, dan 28 hari dengan menggunakan alat Compression Testing Machine seperti terlihat pada gambar 3.26. Hasil pengujian 3 sampel pervious concrete dapat dilihat pada lampiran 1 ( kuat tekan umur 7 hari), lampiran 2 (kuat tekan umur 14 hari) dan lampiran 3 (kuat tekan umur 28 hari).

Gambar 3.26. Proses Pengujian Kuat Tekan Pervious Concrete

2. Pengujian Permeabilitas Pervious Concrete

Pengujian permeabilitas dilakukan pada umur 28 hari dengan menggunakan metode Falling Head.

Adapun tahapan-tahapan pengujian permeabilitas sebagai berikut :

a. Persiapkan peralatan pengujian permeabilitas (seperti yang terlihat pada gambar 3.28.), benda uji (sampel beton), dan stopwatch.

b. Sampel beton yang telah dipersiapkan kemudian dimasukkan ke pipa uji yang berukuran 10 cm x 20 cm

c. Kemudian sampel beton tersebut disambungkan ke tabung ukur pada alat uji permeabilitas

d. Di sekeliling sambungan antara tabung ukur dan pipa uji diberi lem silikon agar pada saat pengujian tidak keluar air diantara sela-sela sambungan

(20)

e. Pastikan posisi alat uji permeabilitas dalam keadaan datar dengan menggunakan waterpass sehingga data yang didapatkan lebih akurat. f. Pengisian air dilakukan pada tabung akrilik (1) sampai penuh hingga

air keluar pada sisi tersebut kemudian tutup katup air. Selanjutnya air diisi kembali pada tabung ukur (2) sampai ketinggian 29 cm.

g. Buka katup air secara bersamaan dengan menekan stopwatch kemudian hitung waktu pengaliran air hingga air yang ada didalam tabung akrilik (1) berhenti keluar atau sampai permukaan benda uji 0 cm dan catat waktu yang telah dilakukan pengujian.

Berikut ini proses pengujian permeabilitas beton pervious concrete seperti terlihat pada gambar 3.27.

Gambar 3.27. Proses Pengujian Permeabilitas Pervious Concrete 1

Gambar

Gambar 3.1. Diagram tahap metodelogi penelitian
Gambar 3.3. Ordinary Portland Cement
Gambar 3.6. Waste Glass Aggregate
Gambar 3.8. Superplasticizer
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam menjamin kualitas farmasetik, sediaan yang dibuat harus memenuhi beberapa parameter fisik yang meliputi daya sebar, viskositas, dan daya lekat Uji sifat fisik repelan

Segala puji hanya milik Allah Yang Maha Agung atas segala rahmat, kemudahan, dan pertolongan-Nya sehingga Tugas Akhir saya dengan Judul “Prosedur Pelaksanaan

Pada saat memberikan perlakuan di kelas eksperimen yaitu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), peserta didik dibagi ke

Jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan sebagian besar responden (81 %) adalah berjumlah kurang dari 5 orang. Dengan melihat pada data demografi responden dapat dikatakan

Penyebabnya memang sebagian oleh seniman diskriminasi ras, namun yang lebih tepat lagi adalah karena "fulus", yakni uang atau dana, yang perlu diperoleh oleh oknum-oknum

ANALISIS RESEPSI PEMBERITAAN WACANA PERKAWINAN ANAK DI MEDIA DARING MAGDALENE.CO ABSTRAK Oleh: Mila Sari Perkawinan anak merupakan masalah yang belum bisa teratasi hingga saat

Pada pengenceran 2x terlihat bahwa ekstrak pepes kontrol dengan nilai IS 1,259 memiliki nilai lebih besar dari pada sampel pepes iradiasi B (1,084) dan C yaitu dengan

Hal tersebut terjadi karena lokasi pegerakan yang diteliti oleh Kridijantoro berbeda dengan penelitian yang sekarang, kemudian pada saat itu salah satu pohon pakan