JURNAL PENELITIAN PERIKANAN INDONESIA
Volume 19 Nomor 2 Juni 2013
Nomor Akreditasi: 455/AU2/P2MI/LIPI/08/2012 (Periode: Agustus 2012 - Agustus 2015)
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia adalah wadah informasi perikanan, baik laut maupun perairan umum daratan. Jurnal ini menyajikan hasil penelitian
sumber daya, penangkapan, oseanografi, lingkungan, rehabilitasi lingkungan, dan pengkayaan stok ikan.
Terbit pertama kali tahun 1994. Tahun 2006, frekuensi penerbitan Jurnal ini tiga kali dalam setahun pada
bulan April, Agustus, dan Desember.
Tahun 2008, frekuensi penerbitan menjadi empat kali yaitu pada bulan MARET, JUNI, SEPTEMBER, dan DESEMBER.
Ketua Redaksi: Prof. Dr. Wudianto, M.Sc
Anggota:
Prof. Dr. Ir. Ngurah Nyoman Wiadnyana, DEA Prof. Dr. Ir. Ari Purbayanto, M.Sc.
Prof. Dr. Ir. Indra Jaya Prof. Dr. Ir. M.F. Rahardjo, DEA
Dr. Ir. Abdul Ghofar, M.Sc.
Mitra Bestari untuk Nomor ini: Prof. Dr. Ir. Endi Setiadi Kartamihardja, M.Sc.
Redaksi Pelaksana: Dra. Endang Sriyati Arief Gunawan, S.Kom.
Desain Grafis : Kharisma Citra, S.Sn
Alamat Redaksi/Penerbit:
Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan Gedung Balitbang KP II, Jl. Pasir Putih II Ancol Timur Jakarta Utara 14430 Telp. (021) 64700928, Fax. (021) 64700929
Email: [email protected]
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia diterbitkan oleh Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan-Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan-Kementerian Kelautan dan Perikanan.
i
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia (JPPI) di tahun 2013 memasuki Volume ke-19. Pencetakan jurnal ini dibiayai oleh Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan anggaran tahun 2013. Semua naskah yang terbit telah melalui proses evaluasi oleh Dewan Redaksi dan editing oleh Redaksi Pelaksana.
Penerbitan kedua di Volume 19 tahun 2013 menampilkan tujuh artikel hasil penelitian perikanan di perairan Indonesia. Ketujuh artikel tersebut mengulas tentang: Pengaruh kecerahan air laut terhadap struktur komunitas ikan karang di perairan Pulau Belitung; Selektivitas jaring insang monofilamen dan aspek biologi ikan Oscar (Amphilopus citrinellus) di Situ Panjalu, Ciamis; Optimisasi hasil tangkapan perikanan pukat cincin di perairan Laut Jawa dan sekitarnya; Pengaruh lama setting dan jumlah pancing terhadap hasil tangkapan rawai tuna di Laut Banda; Interaksi antar trawl dan rawai dasar pada perikanan kakap merah (Lutjanus malabaricus) di Laut Timor dan Arafura; Kapasitas penangkapan pancing ulur tuna di Kepulauan Banda Neira; Pengaruh iluminasi atraktor cahaya terhadap hasil tangkapan ikan pada bagan apung.
Diharapkan tulisan ini dapat memberikan kontribusi bagi para pengambil kebijakan dan pengelola sumber daya perikanan di Indonesia. Redaksi mengucapkan terima kasih atas partisipasi aktif para peneliti dari lingkup dan luar Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan.
JURNAL PENELITIAN PERIKANAN INDONESIA
Volume 19 Nomor 2 Juni 2013
DAFTAR ISI
Halaman i iii 55-64 65-72 73-80 81-88 89-95 97-103 105-111 KATA PENGANTAR ………... DAFTAR ISI ………. Pengaruh Kecerahan Air Laut terhadap Struktur Komunitas Ikan Karang di Perairan Pulau Belitung Oleh: Isa Nagib Edrus dan Iwan Erik Setyawan ... Selektivitas Jaring Insang Monofilamen dan Aspek Biologi Ikan Oscar (Amphilopus citrinellus) di Situ Panjalu, CiamisOleh: Andri Warsa dan Kunto Purnomo ... Optimisasi Hasil Tangkapan Perikanan Pukat Cincin di Perairan Laut Jawa dan Sekitarnya Oleh: Suherman Banon Atmaja dan Duto Nugroho ... Pengaruh Lama Setting dan Jumlah Pancing terhadap Hasil Tangkapan Rawai Tuna di Laut Banda Oleh: Setiya Triharyuni, Budi Nugraha dan Umi Chodriyah ...
Interaksi Antar Trawl dan Rawai Dasar pada Perikanan Kakap Merah (Lutjanus malabaricus) di Laut Timor dan Arafura
Oleh: Bambang Sadhotomo dan Suprapto ... Kapasitas Penangkapan Pancing Ulur Tuna di Kepulauan Banda Neira
Oleh: Baihaqi dan Hufiadi ... Pengaruh Iluminasi Atraktor Cahaya terhadap Hasil Tangkapan Ikan pada Bagan Apung
55 ___________________
Korespondensi penulis: Balai Penelitian Perikanan Laut
Jl. Muara Baru Ujung, Komp. Pelabuhan Perikanan Nizam Zachman, Jakarta Utara
PENGARUH KECERAHAN AIR LAUT TERHADAP STRUKTUR
KOMUNITAS IKAN KARANG DI PERAIRAN PULAU BELITUNG
EFFECTS OF WATER TRANSPARENCY ON COMMUNITY
STRUCTURES OF REEF FISH IN BELITUNG ISLAND WATERS
Isa Nagib Edrus dan Iwan Erik Setyawan Balai Penelitian Perikanan Laut, Muara Baru-Jakarta
Teregistrasi I tanggal: 01 Juni 2012; Diterima setelah perbaikan tanggal: 30 Mei 2013; Disetujui terbit tanggal: 19 Juni 2013
ABSTRAK
Ikan karang selalu memberikan respon terhadap perubahan habitatnya, terutama ganguan yang terjadi pada terumbu karang dan kolom airnya. Penelitian ini dilakukan pada Juli 2010 di pesisir Pulau Belitung. Tujuan penelitian adalah untuk mengindentifikasi struktur komunitas ikan karang dan hubungannya dengan kecerahan perairan. Metode pengumpulan data adalah mengunakan cara sensus visual dalam transek sabuk seluas 250 m2 dan alat secchi disk. Hasil penelitian pada
25 lokasi transek menunjukkan bahwa sedikitnya terdapat 163 jenis ikan karang dari 75 genus dan 30 famili. Indeks kekayaan jenis berkisar pada nilai 2,3 sampai 9,3. Keanekaragam komunitas ikan tergolong sedang, dibawah 3,6. Kepadatan individu per meter persegi tergolong sangat jarang pada semua lokasi transek. Kecerahan perairan berkisar dari 1,5 sampai 15 meter. Peubah jumlah jenis dan indeks ekologisnya berkorelasi nyata dengan peubah kecerahan. Kecerahan di bawah 5 meter berpengaruh negatif pada keanekaragaman ikan karang.
KATA KUNCI: Ikan karang, kecerahan air, keanekaragaman hayati, Belitung
ABSTRACT
Reef fishes are always responsive to their habitat changes especially to alterations on coral reefs and body water. This study was caried out in July 2010 in the Belitung Island and adjacent waters. The objective of this study is to identify community structures of reef fishes and their relationship with water transparency. This study used a visual census technique within area of 250 m2, while transparency was
measured using a secchi disk from 25 sampling sites. The results show that at least there were 163 reef-fish species represented 75 genus and 30 families. Richness index of fish ranged from 2.3 to 9.3. Diversity indices of fish community were grouped in moderate level (< 3.6). The density of fish per square meter was very rare in each transect are. Water transfarency ranged from 1.5 to 15 meter. The species numbers and their ecological indices have a significant relationship with water transparency variables. The low level of water transfarency negatively influenced to reef fish diversity.
KEYWORDS: Reef fishes, water transparency, biodiversity, Belitung
PENDAHULUAN
Pulau Belitung memiliki sejarah panjang dengan pertambangan timah. Dampak negatif pertambangan tersebut sampai pada perairan terumbu karang, dimana memberi pengaruh nyata terhadap tingginya sedimentasi dari daratan ke perairan sekitarnya dan diprediksi berpengaruh pada biota laut seperti ikan karang.
Dalam proses ko-evolusi, ikan karang tumbuh berkembang seiring dengan tumbuh berkembangnya terumbu karang sebagai habitatnya. Ikan karang selalu merespon terhadap perubahan dalam ekosistem terumbu karang dan terumbu karang juga akan terpengaruh dan dapat berubah oleh
perkembangan populasi ikan karang, terutama oleh adanya peranan ikan-ikan herbivora (grazers) (Fitz et al., 2002; Steneck, 2010). Secara umum setiap terumbu karang memiliki keanekaragaman ikan yang tinggi (Nybakken, 1988), tetapi pada kenyataannya hubungan yang harmonis tersebut juga terbuka terhadap gangguan-gangguan eksternal pada terumbu karang yang selanjutnya berpengaruh pada struktur komunitas ikan karang.
Beberapa penelitian menunjukan hubungan yang signifikan antara kelimpahan dan keanekaragaman jenis ikan karang dengan tutupan karang hidup, dimana gerombolan ikan karang sering memperlihatkan perubahan dramatis dalam struktur dan keanekaragaman menurun dalam hubungannya
dengan penurunan persen tutupan karang (Halford et al., 2004; Jones et al., 2004; Graham et al., 2006). Masing-masing jenis dalam komunitas ikan karang memiliki ketertarikan yang kuat pada karang sesuai fungsinya pada tiap relung ekologi. Sebagian ikan karang secara khusus menyukai karang jenis tunggal karena dapat hidup dan bertahan disitu (Munday, 2004). Sebagian yang lain menyukai karang batu dengan beragam jenis tertentu karena berpindah-pindah mencari makan di permukaan terumbu dan disela-sela terumbu dan beberapa jenis lainnya, seperti blenid dan gobid, menyukai permukaan pasir dan ada yang hidup meliang pada dasar perairan (Green, 1996). Adanya perubahan struktur komunitas ikan dalam merespon perubahan habitat berkaitan dengan menurunnya kualitas atau gangguan pada relung ekologi tersebut, dimana fungsi ikan yang sepesifik pada habitatnya juga terganggu. Mekanisme terjadinya perubahan struktur komunitas ikan karang pada lokasi yang berbeda dan faktor penyebab yang berbeda masih sedikit informasinya (Feary et al., 2007).
Perubahan habitat ikan karang pada suatu lokasi dianggap sebagai akibat dari peristiwa hilangnya karang hidup dalam skala luas dan kejadian ini adalah faktor terpenting yang menyebabkan terjadinya pergantian dalam struktur komunitas ikan karang (Allen et al., 2003; Booth, 2002; Garpe et al., 2006; Graham et al., 2006; Jones et al., 2004). Selain itu, faktor yang juga sama pentingnya adalah laju sedimentasi tanah dari daratan. Sedimentasi dapat mempengaruhi struktur komunitas dan komposisi tropik dari ikan karang (Mallela et al., 2007). Sedimentasi berpengaruh langsung pada kehidupan karang karena turbiditas yang rendah dan juga berpengaruh tidak langsung pada komunitas ikan sebagai akibat degradasi terumbu karang (Manthachitra & Cheevaporn, 2007). Kajian tentang hubungan antara kelimpahan dan keanekaragaman dengan kondisi terumbu karang sudah banyak dilakukan, tetapi masih sangat jarang dikaitkan dengan kecerahan perairan (Amesbury, 1981).
Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi struktur komunitas ikan karang, terutama mengukur indeks-indeks penting seperti kekayaan jenis, keanekaragaman, dominasi, dan keseragaman
populasi dalam komunitas serta menganalisa hubungannya dengan variabel kecerahan air laut. BAHAN DAN METODE
Penelitian dilaksanakan pada 25 titik transek pengamatan di wilayah perairan pesisir pulau Belitung dan pulau-pulau kecil yang ada di sekitarnya (Gambar 1). Pengumpuan data dilakukan selama 15 hari pada Juli 2010.
Metode yang digunakan adalah sensus visual (English et al., 1994) yang dikerjakan oleh penyelam sepanjang garis transek 50 meter dengan luas area sensus (50 x 5) m2. Identifikasi jenis ikan menggunakan buku petunjuk bergambar (Kuiter & Tonozuka, 2001). Data kecerahan air laut diperoleh dengan menggunakan cakram (secchi disk) dengan satuan meter.
Analisa keragaman hayati ikan karang menggunakan beberapa indeks, yaitu Indeks Kekayaan Jenis (Indeks Margalef), Indeks Keanekaragaman (Indeks Shannon Weaver & Simpson) dan Indeks Keseimbangan (Indeks Pielou). Rumus untuk memperoleh nilai masing-masing indeks tersebut adalah sebagai berikut:
Indeks Margalef R = (S-1)/ln(n) ... (1) Indeks Dominasi (D) Simpson λλλλλ = ∑∑∑∑∑ {{{{{(ni(ni – 1) / (N(N –1)}}}}} ...(2) Indeks Shannon H = Σ{Σ{Σ{Σ{Σ{(ni/N) ln(ni/N)}}}}} ...(3) dimana ni = jumlah ikan jenis ke I, dan N = total individu ikan untuk semua jenis.
Indeks Pielou E = {{{{{H / ln (S)}}}}} …...(4) dimana S = banyaknya jenis, H = Indeks Shannon.
Hubungan antara indeks ekologi tersebut dengan kecerahan air laut ditampilkan dengan grafik untuk melihat fluktuasinya dan keeratan hubungannya dianalisa dengan menggunakan nilai korelasi (R). Nilai R semakin mendekati 1, semakin memiliki keeratan hubungan antara variabel indeks dan angka kecerahan air.
57
Gambar 1. Lokasi transek pengamatan di perairan Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung Figure 1. Transect sites for observation in Belitung Island waters, Bangka Belitung Province HASIL DAN BAHASAN
HASIL
Dari hasil sensus visual pada 25 titik lokasi penelitian telah teridentifikasi sebanyak 163 jenis ikan karang yang mewakili 75 genus dan 32 famili, dengan sebaran jumlah di setiap stasiunnya disajikan dalam Tabel 1. Dalam tabel ini juga dirangkum berbagai indeks ekologi, dan kepadatan ikan karang serta kecerahan perairan di setiap stasiun. Gambar 2 menunjukkan variasi dari masing-masing peubah jenis dan indeks ekologi pada setiap stasiun pengamatan. Variasi tersebut dipresentasikan juga menurut hubungannya dengan peubah kecerahan perairan di setiap stasiun, dimana peubah jenis, indeks H dan indeks E mengikuti pola fluktuasi peubah kecerahan, sebaliknya peubah indeks D terlihat berlawanan
dengan peubah kecerahan. Hasil uji data dengan menggunakan regresi sederhana menunjukkan nilai koefisien determinasi (R2) yang cukup signifikan, berkisar pada nilai 0,57 sampai 0,71 (Gambar 3). Nilai koefisien korelasi (r) berturut-turut untuk korelasi antara variabel (1) jumlah jenis, (2) indeks kekayaan jenis, (3) indeks keanekaragaman, (4) indeks dominasi, dan (5) indeks keseragaman populasi dengan variabel kecerahan adalah masing-masing 0,78, 0,79, 0,58, 0,75, dan 0,62. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan antar semua peubah tersebut dengan kecerahan perairan.
Tingkat kepadatan individu per meter persegi mulai dari 1 sampai 2,8 individu per m2 (Gambar 4). Kepadatan dibawah 5 individu per m2 tergolong pada kriteria sangat jarang (Djamali & Darsono, 2005).
T
abel 1.
Data struktur komunitas ikan karang, kondisi karang dan tranparansi perairan di sekitar pulau Belitung
T
able
1.
Data of reef fish community structures, reef condition and water tranparency along the coast of Belitung Island
KA TE GO RI (Ca te go ri es ) 123 4 5 6 7 8 9 10 11 1 2 13 14 15 16 17 18 19 2 0 21 22 23 24 25 Ju m lah (N um be r) Jeni s (S pec ie s) 39 37 39 40 53 55 47 57 60 27 28 39 46 44 55 35 17 15 55 32 27 42 49 54 50 M ar ga (G en us ) 252 5 262 8 34 303 2 35 352 2 212 73 0 253 0 23 11 10 36 242 2 323 2 35 35 Su ku (F am ilie s) 10 10 9 11 14 14 11 13 15 8 11 11 11 11 13 11 4 5 16 12 14 16 12 15 16 In deks (I nd ic es ) R 6, 26 ,06 ,26 ,38 ,88 ,9 7, 7 8, 69 ,34 ,6 4, 46 ,17 ,46 ,98 ,2 5, 52 ,92 ,38 ,45 ,34 ,77 ,07 ,88 ,47 ,5 D 0, 1 0, 1 0, 1 0, 1 0, 04 0, 1 0, 1 0, 04 0, 03 0, 1 0, 1 0, 1 0, 1 0, 1 0, 1 0, 1 0, 2 0, 2 0, 0 0, 1 0, 1 0, 1 0, 1 0, 1 0, 1 H 2, 62 ,52 ,93 ,23 ,53 ,3 3, 1 3, 43 ,62 ,4 2, 83 ,02 ,93 ,23 ,3 3, 11 ,83 ,32 ,73 ,12 ,13 ,32 ,92 ,73 ,1 E 0, 90 ,90 ,80 ,90 ,90 ,8 0, 8 0, 80 ,90 ,7 0, 80 ,80 ,80 ,80 ,8 0, 80 ,70 ,80 ,90 ,80 ,80 ,80 ,80 ,80 ,8 K epa da ta n/ De ns ity Ind iv idu al /m 2 1, 81 ,71 ,81 ,91 ,41 ,7 1, 6 2, 62 ,31 ,2 2 2 1, 8 2 3 2 1 1, 82 ,51 ,4 1 1, 41 ,92 ,32 ,8 Tu tu pa n Ka ra ng (pe rc ent c ov er s) 51 ,7 66, 7 53, 4 34 60 ,1 65, 3 46, 1 74 ,2 55 26, 4 22, 5 33, 3 34 ,4 63 ,4 49 ,8 49, 8 66 60 ,2 23, 3 46, 2 52 ,7 49 ,8 49 ,7 37, 6 69, 1 Ko nd is i K ar an g (R ee f H eal th ) Bk Bk B k S d B k B k Sd Bk Bk Sd B r S d S d B k Sd S d B k Bk B r S d B k Sd Sd S d B k K ecer ah an (m ) (T ran sp ar enc y-m ) 2 1, 5 47 7 15 10 1 0 10 546 8 10 10 2, 5 2 10 67 2, 5 75 48 Ke te ra ng an /Re m ar ks : R : K eka ya an je nis /S pe cie s Ri ch ne ss Bk : Ba ik ( go od ) D : Do mi na n/ Do mi na nc e Br : B ur uk (Po or ) H : K ean ek ar ag am an /Di ve rs ity Sd : S ed an g (Fa ir) E : K em er ata an po pu las i/P op ula tion E ven ne ss LO KA SI T R A N SE K DI P ER A IR A N B EL IT U N G (Tra ns ec t S ite s in th e B eli tu ng W ar te rs ) No m o r S ta si u n ( Nu m eri cs o f th e S ta ti o n )
59 0 2 4 6 8 10 12 14 16 0 10 20 30 40 50 60 70 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 K ecer ah an (T ran sp ar en cy ) Ju m lah Jen is (S p eci es N u m b er ) Stasiun (Stations )
Jenis (Species) Kecerahan (Transparency)
0 2 4 6 8 10 12 14 16 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 K ecer ah an ( T ran sp ar en cy ) Ind e ks H (H Ind ice s ) Stasiun (Stations )
Indeks H (H Indices) Kecerahan (Transparency)
0 2 4 6 8 10 12 14 16 0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 0,80 0,90 1,00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Kecerah an ( T ran sp ar en cy ) N il a i I n d eks (I n d ex V a lu es ) STASIUN (Stations)
Indeks Dominasi (Dominance Indices) Indeks Keseragaman (Evenness Indices) Kecerahan (Transparency)
Gambar 2. Hubungan antara peubah jenis ikan karang dan kecerahan perairan (atas), hubungan antara peubah indeks H dan kecerahan (tengah), dan hubungan antara peubah indeks E serta D dan kecerahan (bawah).
Figure 2. Relationship between fish species variables and water transparency (above), relationship between H-diversity index variables and water transparency (middle), and relationship between E and D index variables and water transparency (below)
y = 2,876x + 22,86 R² = 0,612 0 10 20 30 40 50 60 70 0 5 10 15 20 Jumlah Jenis Ikan Species number Kecerahan Perairan Water Transparency y = 0,436x + 3,76 R² = 0,623 0,0 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0 12,0 0 5 10 15 20 Indeks R Richness Indices Kecerahan Periran (Water Transparency) y = 0,262x-0,69 R² = 0,712 0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,30 0 5 10 15 20 Indeks D Dominant Indices Kecerahan Perairan Water Transparency y = 0,668x0,097 R² = 0,570 0,60 0,65 0,70 0,75 0,80 0,85 0,90 0 5 10 15 20 Indeks E Eveness Indices Kecerahan Perairan Water Transparency y = 2,072x0,198 R² = 0,566 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 0 5 10 15 20 Indeks H Diversity Indices Kecerahan Perairan Water Transparency
Gambar 3. Hubungan antara peubah indeks-ekologi dan peubah kecerahan
Figure 3. Relationship between ecology index variables and transparency variables
Gambar 4. Kepadatan ikan karang di perairan karang Belitung dengan kriteria sangat jarang Figure 4. Reef fish density in the Belitung’s reef waters with very rare kriteria
0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Individu / M2
(Individual per Square)
STASIUN (Stations)
61 BAHASAN
Hasil sensus visual ikan karang di seluruh perairan karang pulau Belitung sebanyak 163 jenis dengan variasi antara 15 sampai 60 spesies adalah tergolong kategori rendah, sementara kondisi tutupan karang batu masih cukup baik dengan status sedang sampai baik (Tabel 1). Secara teoritis, hal ini menunjukkan suatu fenomena yang tidak biasa karena terumbu karang di perairan Belitung masih cukup baik sebagai habitat ikan. Rendahnya jumlah jenis ikan karang diasumsikan karena adanya ganngguan pada kolom air. Jika diperbandingkan dengan kondisi perairan Taman Laut Nasional yang memiliki perairan yang sehat dan jenih, seperti Bunaken misalnya, kondisi kekayaan jenis atau keanekaragaman jenis ikan karang di perairan Pulau Belitung jauh lebih kecil dan berada di bawah batas rata-rata variasi indeks kekayaan jenis dan indeks keanekaragaman di perairan Bunaken. Jenis ikan yang dijumpai di perairan Bunaken sebanyak 314 species dari 127 genus dan 46 famili, dimana variasi antar lokasi berkisar antara 48 sampai 192 jenis (Anonimous, 2007).
Jumlah jenis ikan karang per lokasi atau total dari seluruh lokasi di perairan Belitung menunjukkan sesuatu keterbatasan dalam kaitannya dengan pengembangan jumlah populasi. Jumlah populasi maupun kepadatan dari masing-masing populasi tergolong rendah dan hanya populasi yang mampu bertahan pada kondisi kekeruhan tinggi di periran Belitung yang berkembang. Hal ini terbukti dari kecilnya nilai kekayaan jenis dan indeks keanekaragaman (Tabel 1). Menurut Nybakken (1988), banyak fungsi dari populasi ikan dalam relung (niches) ekologinya terganggu ketika kolom airnya terganggu oleh sedimentasi. Hal ini menjadi jelas ketika struktur komunitasnya diperbandingkan dengan wilayah-wilayah pusat keanekaragaman Indo-Pasifik yang lain, seperti Halmahera (Anonimous, 2006) dan Raja Ampat Papua (Allen, 2002), yang dengan kondisi perairan yang jernih hingga populasi ikan berkembang baik. Dibandingankan dengan berbagai lokasi yang memiliki tingkat kecerahan mulai dari baik sampai kritis, seperti terumbu karang di Teluk Saleh atau perairan Banggai (Saputro & Edrus, 2008) akan lebih memperjelas bahwa telah terjadi suatu masalah keterbatasan kecerahan air yang sama di perairan Pulau Belitung. Masalah yang sama juga ditemukan di perairan karang Kalimantan Barat dengan tutupan karang kategori baik, tetapi populasi ikan kurang berkembang (Edrus et al., 2007).
Kecerahan perairan laut sekitar pulau Belitung sesuai dengan kondisi setempat dan musim adalah bervariasi antara 1,5 sampai 15 meter (Tabel 1).
Kecerahan yang rendah disebabkan oleh kekeruhan yang tinggi sebagai akibat dari sedimentasi daratan. Aktivitas penambangan timah sejak abad ke 18 diasumsikan berdampak negatif pada kualitas perairan pulau Belitung.
Di perairan Belitung, kekeruhan dibentuk antara lain oleh sedimen lumpur dan debris makro algae. Fenomena seperti ini dipengaruhi oleh gerakan masa air laut (gelombang dan arus) dari arah luar yang menyebabkan dasar perairan tidak stabil, walaupun pada sekitar tempat penelitian kondisi permukaan relatif tenang dan cuaca cerah. Dapat dijelaskan lebih lanjut bahwa variasi tingkat kecerahan tersebut berpengaruh pada kehadiran jenis maupun jumlah individu. Pada kondisi keruh jumlah jenis ikan menurun dan populasi jenis yang mampu beradaptasi akan bertahan dan mengembangkan populasinya, sementara sebagian yang lain menghilang karena berbagai sebab, seperti mencari tempat yang lebih memenuhi syarat sesuai dengan mobilitasnya yang tinggi (Lieske &. Myers. 1997).
Selain sifat mobilitas, ikan karang lebih peka dalam memilih habitat pada rentang spasial yang disukainya, yang mana ikan dapat menjalankan fungsi ekologisnya dalam relung dengan menggunakan penciuman (Atema et al., 2002; Lecchini et al., 2005; Gerlach et al., 2007), penglihatan (Booth, 1992; Leis & Carson- Ewart, 1999) dan pendengaran (Egner & Mann, 2005; Simpson et al., 2005; Wright et al., 2005). Faktor penglihatan dan penciuman diprediksi menjadi terganggu pada kondisi kekeruhan yang tinggi. Seperti diketahui bahwa wilayah yang keruh akan mengganggu hubungan antara pemangsa dan mangsa. Ikan-ikan predator berukuran besar pada umumnya mengontrol lingkungannya pada jarak jauh dan kecerahan yang rendah akan mengganggu pandangannya. Oleh karena itu, jenis ikan karang yang bertahan pada tetorialnya dan menyandarkan aktivitasnya pada ruang yang terbatas, akan terus menempati habitat dengan tingkat turbiditas air yang optimal. Pengaruh rendahnya tingkat kecerahan sebagai akibat dari kekeruhan perairan dapat berupa penurunan kekayaan dan keanekragaman jenis, serta penurunan kelimpahan individu ikan karang (Amesbury, 1981; Mallela et al., 2007), seperti terjadi di perairan pulau Belitung.
Gambar 2 menunjukkan adanya peningkatan nilai indeks dominasi ketika kecerahan rendah karena adanya sedimentasi yang tinggi, seperti pada stasiun 1, 2, 16, 17, dan 21, sementara indeks keseragaman meningkat seiring meningkatnya kecerahan perairan. Pada kondisi yang ekstrim (keruh), hanya populasi tertentu yang biasanya mampu bertahan, berkembang
dan mendominasi dalam komunitas ikan karang. Sebaliknya, indeks keseragaman mendekati nilai 1 dalam kondisi yang lebih baik, populasi akan hadir dalam jumlah individu yang relatif sama dan alam memberikan kesempatan setiap populasi tumbuh berkembang bersama. Oleh karena itu tidak ada populasi yang menonjol membentuk dominasi tunggal sehubungan indeks dominasi mendekati nilai “nol”.
Pola sebaran jumlah jenis ikan karang dan indeks-indeks ekologis yang diilustrasikan pada Gambar 2, terlihat mengikuti pola sebaran kecerahan perairan pada ke 25 stasiun penelitian. Hasil uji regresi sederhana menunjukkan nilai koefisien determinasi (R2) yang cukup signifikan dan menggambarkan adanya keeratan hubungan antara semua unsur indeks ekologi dan nilai kecerahan perairan. Hasil uji ini menunjukkan adanya pengaruh kecerahan perairan terhadap struktur komunitas ikan karang. Secara logika dapat diterangkan bahwa ikan selalu menyukai tempat-tempat yang menyenangkan (favorable), seperti sehatnya terumbu karang dan kolom air. Tutupan karang batu di perairan Belitung menunjukkan status dengan kategori sedang sampai baik (Tabel 1), untuk kolom air di beberapa lokasi mengalami kekeruhan akibat sedimentasi dan pergerakan kuat massa air (gelombang) di beberapa lokasi yang terbuka. Dengan demikian kondisi kolom air yang keruh lebih kuat pengaruhnya dan dapat menjadi penyebab ketidakhadiran ikan di suatu lokasi, karena sifat mobilitas ikan memberikan kesempatan menghingdar dari area dimana kualitas lingkungan menurun (Amesbury, 1981).
Ketika energi ombak berubah, keseimbangan antara erosi dan deposisi juga saling berpengaruh (Tomascik et al., 1997). Ketika intensitas gelombang kecil, proses sedimentasi dapat terbatas pada area pesisir karena proses deposisi partikel sedimen terbatas pada pesisir, tetapi ketika gelombang besar proses sedimentasi menjadi meluas. Pada pesisir timur Belitung, pengaruhnya sampai pada pulau-pulau kecil yang terdekat di bagian Tenggara dan Timur Laut. Pada area karang dangkal, pertumbuhan karang terbantu oleh adanya gerak arus kuat yang mencuci karang (Hubbard, 1997; Philip & Febricius, 2003), sebaliknya kekeruhan berpengaruh pada sebaran ikan karang, dimana jumlah jenis ikan karang yang hadir dalam kondisi kekeruhan seperti itu hanya sedikit, yakni 37 sampai 60 jenis.
KESIMPULAN DAN SARAN
Struktur komunitas ikan karang di perairan Belitung dicirikan oleh:
1. Kekayaan (jumlah) jenis ikan karang dan kepadatannya tergolong rendah pada seluruh sisi pulau Belitung.
2. Indeks keanekaragaman ikan karang berada di bawah kriteria “sedang” untuk semua lokasi, yang menunjukkan adanya keterbatasan pertumbuhan populasi ikan karang. Hanya populasi tertentu dari ikan berukuran kecil dan menyukai wilayah sedikit gelap yang dapat berkembang dan mendominasi komunitas pada tingkat kecerahan rendah, seperti kelompok kepe-kepe - Chaetodon octofasciatus dan Chelmon rostratus, kelompok beseng -Apogon spp., kelompok betok – Dischistodus spp., Neopomacentrus spp., dan Pomacentrus grammorhynchus, kelompok kakatua -Scarus gobban, kelompok labrid - Halichoeres argus, dan H. Chloropterus, dan kelompok kapaskapas -Gerres oeyana.
3. Peubah-peubah dari jumlah jenis dan semua indeks ekologis berkorelasi positif dengan peubah kecerahan perairan (< 5 m) dan hal ini menjadi tanda adanya pengaruh yang signifikan dari kekeruhan terhadap struktur komunitas ikan karang di perairan Belitung.
Saran untuk kepentingan pengelolaan perairan pesisir meliputi :
1. Perairan Belitung Barat Daya, Barat Laut dan Timur Laut perlu dipastikan bebas sedimentasi di masa mendatang, karena wilayah ini merupakan sumber plasma nutfah dan memiliki prospek pariwisata bahari.
2. Diperlukan penataan dalam pengembangan wilayah pesisir dan menutup area tambang yang sudah tidak produktif lagi serta menghentikan program eksplorasi pertambangan timah di laut. Gerakan yang dianjurkan adalah melakukan reboisasi hutan dan penanaman mangrove. PERSANTUNAN
Penelitian ini merupakan bagian dari Kegiatan Survei Inventarisasi Sumber Daya Alam Laut dan Pesisir Pulau Belitung dan sekitarnya oleh Bakosurtanal pada Tahun Anggaran APBN 2010. DAFTAR PUSTAKA
Amesbury, S. S. 1981. Effects of turbidity on shallow-water reef fish assemblages in Truk, Eastern Caroline Islands. Proceedings of the Fourth International Coral Reef Symposium, Manilla 1, p. 155–159.
Anonimous, 2006. Kajian Analisis dan Data Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan:
63 Penyusunan dan Pemetaan Perwilayahan
Ekosistem Pesisir. Bappeda Maluku Utara dan BPTP Maluku Utara, Ternate, 169 p.
Anonimous, 2007. Pulau Mantehage. Inventarisasi Sumber Daya Alam Laut dan Pesisir. INSDAL Publ, Bakosurtanal, Cibinong.
Allen, G.R. 2002. Reef Fishes of the Raja Ampat Islands, Papua Province, Indonesia. Dalam: A Marine Rapid Assessment of the Raja Ampat Isalands, Papua Province, Indonesia. S.A. McKenna, G.R. Allen, & S. Suryadi (Eds). RAP Bulletin of Biological Assessment 22, Conservation International Center for Applied Biodiversity Science, Washington, USA. 46 p. Allen, .G.R., R.C. Steene,., P. Humann, & N.
DeLoach. 2003. Reef Fish identifcation: Tropical Pacific. New World Publications, Fla.
Atema, J., M.J. Kingsford, & G. Gerlach. 2002. Larval reef fish could use odour for detection, retention and orientation to reefs. Mar. Ecol. Prog. Ser. 241: 151–160.
Booth, D.J. 1992. Larval settlement patterns and preferences by domino damselfish Dascyllus albisella Gill. J. Exp. Mar. Biol. Ecol. 155: 85– 104.
Booth, D.J. 2002. Distribution changes after settlement in six species of damsel fish (Pomacentridae) in One Tree Island lagoon, Great Barrier Reef. Mar. Ecol Prog. Ser. 226: 157–164. Djamali, A. & P. Darsono. 2005. Petunjuk teknis Lapangan untuk Penelitian Ikan Karang di Ekosistem terumbu Karang. Materi Kursus. Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah-LIPI, Jakarta. Egner, S.A. & D. Mann. 2005. Auditory sensitivity of
sergeant major damselfish Abudefduf saxatilis from post-settlement juvenile to adult. Mar. Ecol. Prog. Ser. 285: 213–222.
Edrus, I.N., Y. Siswantoro, & I. Suprihanto. 2007. Jenis-jenis dan kepadatan ikan karang di pulau Penata Besar, Lemukutan, dan pulau Kabung, Perairan Kalimantan Barat. Jur. Pen. Perikanan Indonesia. 13 (1) : 21 – 34.
English, S., C. Wilkinson & V. Baker. 1994. Survei Manual for Tropical Marine Resources. Australian Institute of Marine Science, Townsville. Australia.
Feary, D.A., G.R. Almany, G.P. Jones, & M.I. McCormick. 2007. Coral degradation and the structure of tropical reef fish communities. Mar. Ecol. Prog. Ser. 333: 243–248.
Fitz, H.C., M.L. Reaka, E. Bermingham, & N.G. Wolf. 2002. Coral Recruitment at Moderate Depths: The Influence of Grazing. Converted to electronic format by Damon J. Gomez. NOAA/RSMAS, Miami Regional Library. 96 p.
Garpe, K.C., S.A.S. Yahya, U. Lindahl, & M.C. Öhman. 2006. Long-term effects of the 1998 bleaching event on reef fish assemblages. Mar. Ecol. Prog. Ser. 315: 237–247.
Gerlach, G., J. Atema, M.J. Kingsford, K.P. Black, & V. Miller-Sims. 2007. Smelling home can prevent dispersal of reef fish larvae. Proc. Nat. Acad. Sci. USA 104: 858–863.
Graham N.A.J, S.K. Wilson, S. Jennings V.V.C. Polunin, J.P. Bijoux, & J. Robinson. 2006. Dynamic fragility of oceanic coral reef ecosystems. Proc. Natl. Acad. Sci. USA 103:8425–8429
Green, A.L. 1996. Spatial, temporal and ontogenetic patterns of habitat use by coral reef Fishes (family Labridae). Mar. Ecol. Prog. Ser. 133:1–11. Halford, A., A.J. Cheal, D.A.J. Ryan, & D.M. Williams.
2004. Resilience to large-scale disturbance in coral and fish assemblages on the Great Barrier Reef. Ecology 85:1892–1905.
Hubbard, D.K. 1997. Reef as Dynamic System. Edited by Charles Brikeland. Life and Death of Coral Reef. Champman and Hall. USA. p. 43 – 67.
Jones, G.P., M.I. McCormick, M. Srinivasan, & J.V. Eagle. 2004. Coral decline threatens fish biodiversity in marine reserves. Proc. Natl. Acad. Sci. USA 101:8251–8253.
Kuiter, R.H. & T. Tonozuka. 2001. Pictorial Guide to : Indonesian Reef Fishes. Zoonetics Publc. Seaford VIC 3198. Australia.
Lecchini, D., J.S. Shima, B. Banaigs, & R. Galzin. 2005. Larval sensory abilities and mechanisms of habitat selection of a coral reef fish during settlement. Oecologia. 143: 326–334.
Leis, J.M. & B.M. Carson-Ewart. 1999. In situ swimming and settlement behaviour of larvae of an Indo-Pacific coral-reef fish, the coral trout
Plectropomas leopardus (Pisces: Serranidae). Mar. Biol. 134: 51–64.
Lieske, E. & R. Myers. 1997. Reef Fishes of the World. Periplus Edition. Jakarta, Indonesia. Mallela, J., C. Roberts, C. Harrod, & C.R. Goldspink.
2007. Distributional patterns and community structure of Caribbean coral reef fishes within a river-impacted bay. Journal of Fish Biology. 70, 523-537.
Manthachitra, V. & V. Cheevaporn. 2007. Reef fish and coral assemblages at Maptaput, Rayong Province. Songklanakarin J. Sci. Technol., 2007, 29(4) : 907-918.
Munday, P.L. 2004. Habitat loss, resource specialization, and extinction on coral reefs. Global Change Biol. 10:1642–1647.
Philip, E & K. Febricius. 2003. Photophysiological Stress In Sclerectinian Corals In Response To Short Term Sedimentation. J. Exp. Mar. Biol. & Ecol. (287): 57 – 78.
Nybakken, 1988., Biologi Laut: suatu pendekatan ekologi. (penterjemah : M. Eidman; Koesoebion; Ditriech; Hutomo; dan Sukarjo). PT. Gramedia. Saputro, G.B. & I.N. Edrus. 2008. Sumber daya ikan
karang perairan Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Jur. Pen. Perikanan Indonesia. 14 (1) : 79 – 121.
Simpson, S.D., M.G. Meekan, J.C. Montogomery, R. McCauley, & A. Jeffs. 2005. Homeward sound. Science 308:221.
Steneck, B. 2010. How to kill a coral reef: Lessons from the Caribbean. Bahamas Biocomplexity Project. Dalam : Herbivory. http:// w w w. r e e f r e s i l i e n c e . o r g / To o l k i t _ C o r a l / C3a1_Herbivory.html.
Tomascik, T., A.J. Mah, A. Nontji, & M.K. Moosa. 1997. The Ecology of the Indonesian Seas: Part One. Periplus Edition (HK) Ltd. Singapore. Wright, K.J., D.M. Higgs, A.J. Belanger, & J.M. Leis.
2005. Auditory and olfactory abilities of pre-settlement larvae and post-pre-settlement juveniles of a coral reef damselfish (Pisces: Pomacentridae). Mar. Biol. 147:1425–1434.
65
SELEKTIVITAS JARING INSANG MONOFILAMEN DAN ASPEK BIOLOGI
IKAN OSCAR (Amphilopus citrinellus) DI SITU PANJALU, CIAMIS
MONOFILLAMENT GILLNETS SELECTIVITY AND BIOLOGY ASPECT
OF MIDAS CICHLID (Amphilopus citrinellus)
AT PANJALU LAKE, CIAMIS-WEST JAVA
Andri Warsa dan Kunto Purnomo Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumberdaya Ikan
Teregistrasi I tanggal: 20 Desember 2012; Diterima setelah perbaikan tanggal: 15 Mei 2013; Disetujui terbit tanggal: 21 Mei 2013
ABSTRAK
Situ Panjalu yang terdapat di Kabupaten Ciamis dengan luas ± 45 ha memiliki keragaman ikan yang cukup tinggi. Ikan oscar merupakan ikan introduksi yang berasal dari benua Afrika yang hidup
pada perairan yang hangat dengan kisaran suhu 28–33oC. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui selektivitas jaring insang dan aspek biologi ikan oscar (Amphilopus Citrinellus) di Situ Panjalu, Kabupaten Ciamis – Jawa Barat. Penelitian dilakukan di Situ Panjalu pada bulan Mei, Juni, Agustus dan Oktober 2010 dengan menggunakan jaring insang percobaan dengan mesh size 2,54-7,62 cm dengan interval 0,65 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang infinity (L”) ikan oscar adalah 21,0 cm TL dengan kecepatan pertumbuhan (K) adalah 1,7 /tahun. Ikan oscar yang terdapat di Situ Panjalu mempunyai pola pertumbuhan alometrik negatif dengan nilai b = 2,890. Panjang total ikan oscar yang ditemukan matang gonad adalah 11-17 cm TL dan berat 27,0 – 80,0 gram dengan fekunditas berkisar 463 – 3.663 butir. Ikan oscar di Situ Panjalu termasuk karnivora dengan pakan alami berupa ikan dan udang. Faktor selektivitas jaring insang dengan ukuran mata jaring 2,54; 3,18; 3,81 dan 4,45 cm yang dipasang secara bersamaan untuk penangkapan ikan oscar adalah 3,074. Panjang total optimal ikan oscar yang tertangkap pada ukuran mata jaring 2,54; 3,18; 3,81 dan 4,45 cm masing-masing adalah 7,5; 10; 11,5 dan 14 cm TL.
KATA KUNCI : Aspek biologi, ikan oscar,selektivitas jaring insang, Situ Panjalu
ABSTRACT
The area of Panjalu Pond, Ciamis Regency estimated about 45 ha, has a high diversity of fish. Midas cichlid (Amphilophus citrinellus) as fish introduction from Africa which live in warm water with temperature around 28-33oC. The purpose of this research were to know gillnet selectivity and some
biology aspect of midas cichlid at Panjalu Lake, Ciamis Regency-West Java Province. This research was done in May, June, August and October 2010. Using experimental gillnet by 2.54-7.62 cm mesh size with 0.65 cm interval. The result show that lenght infinity (L”) and growth contants (k) of this fish were 21.0 cmTL and 1.7 /year respectively. Lenght-weight relationship of this fish was negative allometric with value of b=2.890. Total lenght of fish at maturity ranged 11-17 cm, weight ranged between 27-80 g and fecundity ranged between 463-3.663 eggs. Midas cichlid was carnivore by feed of small fish and shrimp. Gillnets selectivity factor for the following mesh size 2.54; 3.18; 3.81 dan 4.45 cm of mesh size for midas cichlid capture was 3.074. Optimal total lenght of midas cichlid cought by gillnet with the following mesh size 2.54; 3.18; 3.81 and 4.45 cm mesh size were 7.5; 10.0; 11.5 and 14 cm TL.
KEY WORD : Biology aspect, midas cichlid, gillnet monofilament selsctivity, Panjalu Lake PENDAHULUAN
Situ Panjalu yang terdapat di Kabupaten Ciamis dengan luas ± 45 ha memiliki keragaman ikan yang cukup tinggi antara lain keril (Aequidens rivulatus), kongo (Parachromis managuensis), nila (Oreochromis niloticus), betok (Anabas testudineus), sepat (Trichogaster trichopterus), oscar (Amphilophus citrinellus), golsom (Aequidens goldsom), lele (Clarias batrachus), patin (Pangasianodon hypopthalmus),
sapu–sapu (Liposarcus pardalis) dan corencang (Cyclocheilichthys apogon). Ikan oscar umumnya ditemukan di danau dan di sungai dengan arus yang lemah. Hasil penelitian di Costa Rica menunjukkan bahwa jenis ikan tersebut terdapat di Sungai San Juan, Danau Nicaragua, Managua, Masaya dan Apoyo di Australia hanya terdapat di Sungai Ross, Queensland Utara (Corfield et al., 2008). Ikan oscar merupakan jenis ikan yang diintroduksi secara tidak disengaja di Situ Panjalu dan merupakan jenis ikan yang dominan ___________________
Korespondensi penulis:
Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumber Daya Ikan-Jatiluhur
tertangkap dengan persentase sebesar 59,1% (Warsa, 2011). Ikan ini merupakan jenis ikan hias namun tidak mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Keberadaan ikan ini berdampak pada penurunan populasi udang (Caridina sp) di Situ Panjalu (Warsa & Purnomo, 2012). Adanya dominansi ikan oscar berdampak negatif terhadap komunitas ikan yaitu penurunan keragaman jenis di Waduk Djuanda (Hedianto & Purnamaningtyas, 2011).
Salah satu alat tangkap yang efektif untuk menangkap ikan oscar adalah jaring insang (gillnet monofilamen). Jaring insang merupakan alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan di Situ Panjalu selain tangkul (lift net), jala (cash net) dan pancing (hooks). Jaring insang merupakan alat tangkap yang selektif, dimana penggunaan ukuran mata jaring yang tepat akan mencegah tertangkapnya juvenil dan memungkinkan untuk menangkap ukuran ikan yang diinginkan (Petrakis & Stergiou, 1996). Ikan yang tertangkap dengan menggunakan jaring insang berhubungan dengan karakteristik jaring dan bentuk dari tubuh ikan (Ozekinci, 2005). Selektivitas jaring insang monofilamen ini dapat digunakan untuk pengendalian populasi ikan oscar di Situ Panjalu. Hal
ini pernah dilakukan untuk pengendalian populasi ikan asing di Mizoro Ga Ike di Jepang dan ikan nile perch (Lates niloticus) di Danau Victoria (Perrow et al., 2002; Abekura, 2004). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui selektivitas jaring insang monofilamen dan beberapa aspek biologi ikan oscar di Situ Panjalu, Kabupaten Ciamis – Jawa Barat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk pengendalian populasi ikan oscar di Situ Panjalu. BAHAN DAN METODE
Penelitian dilakukan di Situ Panjalu, Kabupaten Ciamis – Jawa Barat pada bulan Maret, Mei, Juni dan Agustus 2010. Contoh ikan ditangkap dengan jaring insang monofilamen berukuran mata jaring 1,0–3,0 inci (2,45-7,62 cm) dengan interval 0,25 inci (0,65 cm). Pemasangan jaring insang percobaan dilakukan di sekitar Pulau Larangan (Gambar 1). Kombinasi dari beberapa ukuran mata jaring dari ukuran kecil hingga ukuran yang lebih besar di mana ikan jenis tertentu hanya sedikit yang tertangkap sangat diperlukan untuk menghindari kesalahan dalam menentukan distribusi ukuran stok ikan (Albert & Einarson, 2004).
Gambar 1. Lokasi pemasangan jaring insang percobaan di Situ Panjalu Figure 1. Sampling stations using monofilamen gillnet in Panjalu Lake Jaring insang dipasang secara serentak pada
lokasi yang telah ditentukan pada sore hari dan diangkat pada keesokan paginya. Ikan yang diperoleh kemudian dipisahkan berdasarkan ukuran mata jaring dimana ikan tersebut tertangkap. Contoh ikan kemudian diukur panjangnnya menggunakan papan ukur dengan ketelitian 0,1 cm dan ditimbang beratnya dengan menggunakan timbangan digital ketelitian 0,1 g. Sampel ikan yang masih utuh kemudian diawetkan dengan formalin 10% dan didentifikasi berdasarkan
buku bergambar Kottelat et al (1993), Kullander (2003), dan situs Fishbase (Froese & Pauly, 2012).
Untuk mengetahui kebiasaan makannya, ikan oscar di ambil ususnya dan diawetkan dengan formalin 4%. Sampel kemudian dianalisa dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x. Identifikasi jenis makanan menggunakan acuan Needham & Needham (1963); Edmonson (1959) dan Sachlan (1982).
67 ANALISA DATA
Penentuan parameter pertumbuhan meliputi kecepatan pertumbuhan (k) dan panjang asimptotik (L”) menggunakan perangkat lunak melalui “ Electronic Lenght Frequency Analysis (ELEFAN 1) yang terdapat pada program “Stock Assessment Tools (FiSAT) (Gayanilo & Pauly, 1997).
Analisa indeks makanan bagian terbesar kandugan isi lambung ikan dihitung dengan menggunakan Indeks Preponderan sebagai berikut (Natarajan & Jhingran dalam Effendie, 1979).
(
)
==
n i i ixO
V
IP
1 i ix
O
V
(%)
x 100 ... (1) dimana:Ii = indeks prepoderan jenis makanan ke i, Vi = persentase volume pakan ke i dan Oi = persentase kejadian pakan ke i.
Untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan dilakukan analisis dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
W = aLb ... (2)
di mana:
W = berat tubuh ikan (g) L = panjang ikan (cm) a dan b = konstanta
Nilai konstanta “b” yang diperoleh dari persamaan tersebut diatas selanjutnya diuji ketepatannya terhadap nilai b = 3 menggunakan “uji t”.
Perhitungan jumlah butir telur atau fekunditas ikan dengan TKG IV dilakukan dengan menggunakan metode gravimetri (Effendie, 1979):
Q
GxVxX
F
=
dimana:
F = fekunditas (butir) G = berat gonad total (gram) V = volume pengenceran (ml) X = jumlah telur tiap ml (butir) Q = berat telur contoh (gram)
Metode yang digunakan untuk mengestimasi selektivitas jaring insang adalah indirect method.
Metode ini mengestimasi parameter selektivitas dengan membandingkan hasil tangkapan dari dua ukuran mata jaring yang berbeda, ma dan mb untuk kelas panjang yang sama. Metode ini telah dimodifikasi oleh Sparre & Venema (1999) dan dituliskan sebagai berikut:
Logaritma natural dari jumlah tangkapan tiap kelas panjang, Ca dan Cb untuk jaring insang dengan ukuran mata jaring yang berbeda, ma dan mb adalah linier terhadap panjang ikan. Ca dan Cb adalah frekuensi panjang total ikan pada kelas yang sama yang tertangkap pada ukuran mata jaring a dan b. Untuk ma dan mb adalah ukuran mata jaring insang yang digunakan.
ln (Cb/Ca) = a +bL ...(4) keterangan:
L : kelas panjang ikan yang tertangkap (cm) a : intercept
b : slope
Panjang optimum (Lma dan Lmb) untuk ukuran mata jaring ma dan mb,
Lma = -2[ama/b(ma + mb)] ... (5) Lmb = -2[amb/b(ma + mb)] ... (6) Faktor selektivitas (SF) dan standar deviasi (Sd) diestimasi dari pemasangan jaring insang percobaan menggunakan lebih dari dua ukuran mata jaring digunakan persamaan sebagai berikut:
SF =-2 2] . (7)
SD = {1/n – 1) (mi+1 – mi)]/bi2(m
i + mi + 1)]} 1/2 ..8)
Kemungkinan tertangkapnya (P) untuk panjang L pada suatu jaring insang dengan ukuran mata jaring m ditentukan dengan persamaan:
P = exp[-(L-Lm)2/(2SD)2] ... (9)
Panjang optimal (kemungkinan tertangkap 100%) untuk setiap ukuran mata jaring diperoleh:
Lm = SF x m ... (10) Keterangan:
Lm = Panjang optimal ikan yang diperoleh (cm) SF = Faktor selektivitas
HASIL DAN BAHASAN HASIL
Kisaran panjang total ikan oscar yang tertangkap di Situ Panjalu dengan jaring insang monofilamen percobaan selama penelitian berkisar antara 6,0–17,5 cm. Ukuran panjang total ikan yang dominan tertangkap berkisar antara 8,5-11,5 cm. Analisa menggunakan program FiSAT di peroleh panjang asimptotik (L”) ikan oscar di Situ Panjalu adalah 21,0 cm TL dengan kecepatan pertumbuhan (K) adalah 1,7 /tahun (Gambar 2).
Gambar 2. Kurva pertumbuhan Von Bartalanfy ikan oscar di Situ Panjalu
Figure 2. Von Bartalanfy Growth curve of midas cichlid at Panjalu Lake
Jumlah contoh ikan yang digunakan dalam analisa hubungan panjang berat sebanyak 900 ekor. Ikan oscar yang terdapat di Situ Panjalu mempunyai pola pertumbuhan alometrik negatif dengan nilai b = 2,8813 (Gambar 3).
Gambar 3. Hubungan panjang berat ikan oscar tertangkap di Situ Panjalu
Figure 3. Lenght-weight relationships of midas cichlid at Panjalu Lakes
Pola pertumbuhan ikan oscar setiap bulan pengamatan menunjukkan nilai yang sama yaitu alometrik negatif (Tabel 1). Berdasarkan uji t dengan batas kepercayaan 95% nilai b‘“3 yang menandakan bahwa pertambahan panjang ikan lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan berat.
Tabel 1. Pola pertumbuhan ikan oscar berdasarkan bulan pengamatan.
Table 1. Lenght-weight relationships of midas cichlid based on research periode.
Panjang total ikan oscar di Situ Panjalu yang ditemukan matang gonad berkisar antara 11–17 cm TL dan berat berkisar antara 27,0–80,0 gram. Ikan oscar tersebut memiliki fekunditas berkisar antara 463-3663 butir.
Ikan oscar di Situ Panjalu memanfaatkan fitoplankton, tumbuhan, insekta moluska, detritus, ikan dan udang sebagai pakan alaminya (Gambar 4). Ikan ini merupakan jenis ikan karnivora. Insekta dan moluska merupakan jenis pakan alami yang paling banyak digunakan oleh ikan oscar. Untuk pakan alami berupa fitoplankton, detritus, tumbuhan, udang dan ikan ditemukan dalam jumlah yang sedikit.
Gambar 4. Indeks preponderan pakan alami ikan oscar
Figure 4. Index of preponderance for food habits of midas cichlid
Bulan Persamaan R2 Pola pertumbuhan Mei W = 0,057 TL 2,457 0,915 Alometrik negatif Juni W = 0,022 TL 2,862 0,921 Alometrik negatif Agustus W = 0,022 TL 2,891 0,948 Alometrik negatif Oktober W = 0,022 TL 2,891 0,948 Alometrik negatif W = 0,0217L 2,8813 R² = 0,9494 n=900 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 0 5 10 15 20 Be ra t ( g r) We ig h t ( g ) Panjang total (cm) Total lenght (cm) 0 20 40 60 80 100 Maret juni Agustus Oktober Indeks preponderance (%) fitoplankton Tumbuhan Insecta Molusca Detritus Ikan Udang
69 Data ukuran panjang total ikan untuk seluruh
periode pengamatan dikelompokan berdasarkan ukuran mata jaring 1,0-1,75 inci disajikan pada Tabel 2. Ukuran panjang total ikan yang tertangkap pada mata jaring 2,54; 3,18; 3,81 dan 4,45 cm masing-masing berkisar antara 5,5-8,5 cm; 5,5-14,5 cm; 7,5-12,5cm dan 8,5-17,5 cm.
Distibusi panjang total ikan yang tertangkap pada setiap pasangan mata jaring digunakan dalam analisis regresi. Nilai slope dan intersept yang diperoleh dari regresi antara natural logaritma rasio jumlah hasil tangkapan dengan nilai tengah kelas panjang total ikan, panjang optimum dan faktor seleksi untuk setiap kombinasi pasangan uuran mata jaring disajikan pada Tabel 3.
Tabel 2. Distibusi frekuensi panjang ikan oscar berdasarkan ukuran mata jaring Tabel 2. Length frekuency distribution of midas cichlid based on mesh size
Kelas Panjang (cm) Ukuran mata jaring (cm)
2,54 3,18 3,81 4,45 4,5 5,5 6 1 6,5 32 2 7,5 17 22 1 8,5 3 76 8 7 9,5 50 46 7 10,5 16 33 45 11,5 5 50 12,5 1 7 13,5 6 14,5 1 15,5 1 16,5 1 17,5 1
Tabel 3. Konstanta regresi dan parameter selektivitas jaring insang monofilament ikan oscar Table 3. Regression constans and selectivity parameter of monofilament gillnet for midas cichlid
Ukuran mata jaring (cm)
mesh size (cm) Konstanta regresi Constanta regresion Parameter selektivitas Parameters selectivity ma mb a b r2 Lma (cm) Lmb (cm) SF SD 2,54 3,18 -7,5988 0,907 0,9968 7,4 9,3 2,9294 1,4377 3,18 3,81 -10,1210 0,828 0,9999 10,7 12,8 3,3566 1,3216 3,81 4,45 -14,1210 1,211 0,9268 11,2 13,3 3,4987 1,6319
Ukuran panjang total ikan oscar dengan kemungkinan tertangkap 100% untuk kombinasi dua ukuran mata jaring disajikan pada Gambar 5. Untuk kombinasi ukuran mata jaring 2,54 dan 3,18 cm, panjang total ikan optimal dengan kemungkinan tertangkap 100% adalah 7,4 dan 9,3 cm. Kombinasi ukuran mata jaring 3,18 dan 3,81 cm maka panjang total optimal dengan kemungkinan tertangkap 100% adalah 10,7 dan 12,8 cm. Kombinasi ukuran mata jaring 3,81 dan 4,45 cm panjang total optimal ikan
dengan kemungkinan tertangkap 100% adalah 11,2 dan 13,3 cm.
Faktor selektivitas jaring insang untuk kombinasi ukuran mata jaring 2,54; 3,18; 3,81 dan 4,45 cm yang dipasang secara bersamaan adalah 3,0745. Panjang total optimal ikan yang tertangkap dengan kemungkinan tertangkap 100% untuk ukuran mata jaring 2,54; 3,18; 3,81 dan 4,45 cm masing-masing adalah 7,5; 10; 11,5 dan 14 cm TL (Gambar 6).
A B C
Gambar 5. Kurva selektivitas ikan oscar pada ukuran mata jaring A. (2,54 & 3,18 cm). B. (3,18 & 3,81 cm) dan C. (3,81 & 4,45 cm).
Figure 5. Selectivity curve for midas cichlid at mesh size A. (2.54 & 3.18 cm). B. (3.18 & 3.81 cm) dan C. (3.81 & 4.45 cm).
Gambar 6. Kurva selektivitas jarring insang ikan oscar untuk kombinasi 2,54; 3,18; 3,81 dan 4,45 cm
Figure 6. Selectivity curve for midas cichlid at combination mesh size 2,54; 3,18; 3,81 and 4,45 cm.
BAHASAN
Tingkat ekploitasi ikan oscar di Situ Panjalu cukup rendah dikarenakan jumlah nelayan yang sedikit dan alat tangkap yang digunakan masih sederhana. Faktor lainnya yang menyebabkan rendahnya tingkat eksploitasi karena ikan ini bukan merupakan jenis ikan ekonomis penting. Hal ini menyebabkan nelayan tidak mau menangkap ikan tersebut. Berdasarkan data fishbase ikan ini dapat mencapai panjang maksimal 24 cm (Corfield et al., 2008), sedangkan untuk genus Amphilophus spp dapat mencapai panjang maksimal berkisar 30 cm (Stolting, 2004). Panjang asimptotik ikan oscar di Waduk Djuanda adalah 21,6 cm (Tampubolon et al., 2012). Perbedaaan panjang asimptotik ikan oscar di Situ Panjalu dengan perairan di Australia disebabkan oleh karena perbedaan suhu habitat tempat ikan tersebut hidup (King, 1995). Laju pertumbuhan ikan sangat dipengaruhi oleh suhu, ketersediaan pakan dan nilai nutrisi yang terkandung di dalam pakan tersebut. (Welcomme, 2001). Suhu air yang menjadi habitat
ikan ini adalah 28–33oC sedangkan suhu air di Situ
Panjalu berkisar 25–27,6 oC dengan demikian maka
suhu air di Situ Panjalu lebih rendah dari pada suhu air optimal untuk pertumbuhan ikan oscar.
Pola pertumbuhan oscar ini berbeda dengan yang ditemukan di Djuanda yaitu isometrik dengan nilai b = 3,5705 (Purnamaningtyas & Tjahjo, 2010). Ukuran panjang total ikan oscar yang matang gonad dan fekunditas di Situ Panjalu lebih kecil jika dibandingkan yang ditemukan di Waduk Djuanda yaitu berkisar 12– 21 cm dan berat 15 – 210 gram dengan fekunditas 1.595 – 3.567 butir (Purnamaningtyas & Tjahjo, 2010). Pakan alami suatu jenis ikan kemungkinan akan berbeda dari waktu ke waktu (Bowen, 1985). Pakan alami ikan oscar di Situ Panjalu cenderung bervariasi berdasarkan bulan pengamatan. Pada pengamatan bulan Maret, ikan oscar hanya memanfaatkan insekta sebagai pakan alaminya. Pada pengamatan bulan Juni selain memanfaatkan insekta sebagai pakan utamanya, ikan ini juga memanfaatkan udang sebagai pakan tambahanya dan sebagai pakan pelengkapnya memanfaatkan ikan, moluska dan tumbuhan. Pada pengamatan bulan Agutus dan Oktober pakan utama ikan ini adalah insekta dan moluska sedangkan sebagai pakan pelengkapnya adalah udang, ikan, detritus dan tumbuhan. Jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh suatu spesies ikan akan dipengaruhi oleh umur, tempat, waktu dan faktor lingkungan yang mempengaruhi ketersediaan makanan (Effendi, 1997; Lagler, 1972).
Pakan alami ikan oscar yang ditemukan di Situ Panjalu berbeda dengan pakan alami ikan oscar yang ditemukan di Waduk Djuanda. Ikan oscar di Waduk Djuanda cenderung lebih banyak memilih Cyanophyceae, Bacillariophyceae, Rotifera, Cladocera dan potongan ikan. Berdasarkan persentase indeks kebiasaan makan maka ikan oscar
71 di Waduk Djuanda termasuk dalam kelompok
omnivora cenderung karnivora (Nurnaningsih et al., 2005) sedangkan di Situ Panjalu termasuk kedalam kelompok karnivora.
Nilai modus ukuran panjang total suatu jenis ikan yang tertangkap semakin bertambah dengan bertambahnya ukuran mata jaring yang digunakan (Oginni et al .,2006). Hal yang sama juga diperoleh pada hasil penelitian Ozyurt & Avsar (2005) untuk ikan mas (Cyprinus carpio) di Danau Seyhan Dam, Turki. Jika dibandingkan dengan panjang total ikan oscar yang tertangkap pada tingkat kematangan gonad (TKG) menunjukkan bahwa jaring insang dengan ukuran mata jaring 3,8-4,45 cm akan menangkap ikan pada TKG IV. Diharapkan penangkapan ikan dengan menggunakan ukuran mata jaring tersebut dapat mengendalikan populsi ikan oscar tersebut.
KESIMPULAN
Panjang asimptotik (L”) ikan oscar adalah 21 cm TL dengan kecepatan pertumbuhan (K) adalah 1,7 / tahun. Pola pertumbuhan ikan oscar bersifat alometrik negatif dengan persamaan panjang-berat W= 0,0217L
2,8813 dan nilai b = 2,8813. Kisaran panjang total ikan
oscar yang matang gonad berkisar 11–17 cm TL dan berat 27,0 – 80,0 gram dengan fekunditas berkisar antara 463 - 3663 butir. Ikan oscar yang ditemukan di Situ Panjalu termasuk karnivora dengan pakan alami berupa insekta dan moluska. Faktor selektivitas jaring insang dengan ukuran mata jaring 2,54; 3,18; 3,81 dan 4,45 cm untuk penangkapan ikan oscar adalah 3,074 dengan panjang total optimal ikan oscar yang tertangkap pada masing-masing ukuran mata jaring yang diteliti adalah 7,5; 10; 11,5 dan 14 cm TL. PERSATUNAN
Tulisan ini merupakan bagian dari kegiatan penelitian dengan judul Penelitian Perikanan Berbasis Budidaya (Culture base fisheries, CBF) di Situ Panjalu, Kabupaten Ciamis-Jawa Barat dan Waduk Malahayu, Kabupaten Brebes-Jawa Tengah T.A 2010. DAFTAR PUSTAKA
Abekura, K., M. Hori & Y. Takemon. 2004. Changes in fish community after invansion and control of alien fish poplatuin in Mizoro-Ga-Ika. Kyoto City. Global Environmental Research 8(2). p. 145 – 154. Albert, A & H. A. Einarsson, 2004. Selectivity of gillnet series in sampling of perch (Perca fluviatilis L.) and roach (Rutilus rutilus L.) in the coastal sea of Estonia. The United National University. 34 p.
Corfield J., B. Diggles, C. Jubb, R. M. McDowall, A. Moore, A. Richards & D. K. Rowe, 2008. Review of the impacts of introduced ornamental fish species that have established wild populations in Australia. Commonwealth of Australia. 284 p. Edmonson. W.T. 1959. Freshwater biology. 2 nd Ed.
John Wiley & Sonc. Inc. New York.1248 p. Effendi, M.I. 1997. Biologi perikanan. Yayasan
Pustaka Nusatama. Yogyakarta. 163 p.
Froese, R. & D. Pauly. Editors. 2012. FishBase. World Wide Web electronic publication. www.fishbase.org
Gayanilo, F. C. Jr & D. Pauly. 1997. FAO-ICLARM Stock Assessmment Tools (Fisat) Refernce Manual.FAO Computerized Information Series (Fisheries). No. 8. FAO, Rome. 262 p.
King, M. 1995. Fisheries biology: assessment and Management. Blackwell Science. Ltd. Australia. 341 p.
Kottelat, M., J. A. Whitten, S. N. Kartikasari & S. Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater Fishes of Western Indonesia And Sulawesi. Periplus Edition (HK) Ltd. Hongkong. 377 p.
Kullander, S. O. 2003. Family cichlidae (cichlids). p. 605-654. In R.E. Reis, S.O. Kullander & C. J. Ferraris, Jr. (eds.) Checklist of the Freshwater Fishes of South and Central America. Porto Alegre: Brasil.
Hedianto, D. A & S. E. Purnamaningtyas. 2011. Penerapan Kurva ABC (Rasio Kelimpahan/ Biomassa) untuk mengevaluasi Dampak introduksi terhadap komunitas ikan di Waduk Ir. H. Djuanda. Kartamihardja, E. S., M. F. Rahardjo & K. Purnomo; Eds. Forum Nasional Pemacuan Sumberdaya Ikan III: p. 1-11.
Lagler, K.F., 1972. Freshwater fishery biology. W.M. C. Brown Comp. Publ. Dubuque. 421 p.
Needham. J.G & P.R. Needham 1963. A guide to the study of freshwater biology. Fifth Edition. Revised and Enlarged. Holden Day. Inc. San Fransisco: 180 p.
Nurnaningsih, M.F. Rahardjo, & S. Sukimin. 2005. Pemanfaatan makanan oleh ikan-ikan dominan di perairan waduk Ir. H. Djuanda. Jurnal lktiologi Indonesia. 4 (2). 62-65
Ozekinci, U. 2005. Determination of the selectivity of monofilament gillnets used for catching the annular sea bream (Diplodus annularis L., 1758) by lenght-girth relationship in Izmir Bay (Aegen Sea). Turk J Vet Anim Sci .29: 375 – 380.
Ozenkici, U., U. Altinagac., A. Ayaz & O. Cengis. 2007. Monofilament gillnets selectivity parameters for european chub (Leuciscus cephalus L. 1758) in Atikhisar Reservoir, Canakkale, Turkey. Pakistan Journal of Biological Sciences. 10 (8): 1305 – 1308.
Ozyurt, C. C & D. Avsar. 2005. Investiation of the selectivity parameters for carp (Cyprinus carpio Linnaeus, 1758) in Seyhan Dam Lake. Turk.J Vet. Anim Sci 29. 219-223.
Perrow, M. R., M. L. Tomlinson & L. Zambrano. 2002. Handbooks of Ecological restoration priciples of Restoration: Fish. Volume 1. Perrow, M. R & A. J. Davy: edts. Cambridge University Press. United Kingdom. 444 p.
Petrakis, G & K.I Stergiou. 1996. Gill net selectivity for four fish species (Mullus barbatus, Pagellus erythrinus, Pagellus acarne and Spicara flexuosa) in Greek waters. Fisheries research. 27: 17 – 27. Purnamaningtyas S.E & D.W.H Tjahjo. 2010. Beberapa aspek biologi ikan oscar (Amphilophus citrinellus) di Waduk Ir H Djuanda, Jatiluhur, Jawa Barat. Bawal. 3 (1): 9-16.
Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Fakutas Peternakan dan Perikanan. Universitas Diponegoro. Semarang. 156p.
Sparre, P & S. C Venema, 1999. Introduksi pengkajian stok ikan tropis. FAO. 438 p. Stolting, K. N. 2004. The Midas Cichlid species flock:
Incipient sympatric speciation. Thesis. Frachbereich biologie der universiat konstanz. 86 p.
Tampubolon, P. A. R. P., M. F Rahardjo dan Krismono. 2012. Pertumbuhan ikan oscar (Amphilophus citrinellus Gunther 1864) di Waduk Ir. H. Djuanda, Jawa Barat. Jurnal Iktiologi Indonesia. 12 (2): 195-202.
Warsa, A. 2011. Komposisi dan keragaman jenis ikan hasil tangkapan gillnet di Situ Panjalu, Kabupaten Ciamis-Jawa Barat. Isnansetyo, I., Djumanto & Suadi: Eds. Prosiding Seminasr Nasional Tahunan VII.Universitas Gadjah Mada: p. 1-7
Warsa, A & k. Purnomo. 2012. Struktur komunitas ikan pasca penebaran ikan patin (Pangasianodon hypophthalmus) di Situ Panjalu, Kabupaten Ciamis – Jawa Barat. J. Lit. Perikan. Ind. 18 (3): 145-156.
Welcomme, R. L. 2001. Inland fisheries: Ecology and Management. Blackwell Science. United Kingdom: 358 p.
73
OPTIMISASI HASIL TANGKAPAN PERIKANAN PUKAT CINCIN
DI PERAIRAN LAUT JAWA DAN SEKITARNYA
OPTIMUM SUSTAINABLE YIELD OF PURSE SEINE FISHERIES IN THE
JAVA SEA AND ITS ADJACENT WATERS
Suherman Banon Atmaja dan Duto Nugroho Peneliti pada Balai Penelitian Perikanan Laut
Teregistrasi I tanggal: 05 November 2012; Diterima setelah perbaikan tanggal: 15 April 2013; Disetujui terbit tanggal: 19 April 2013
ABSTRAK
Dinamika dan kompleksitas perikanan pukat cincin di Laut Jawa memerlukan kajian dari berbagai sudut pandang analisis. Perkembangan ini memberikan peluang dilakukannya pendekatan integrasi bio-ekonomi untuk menduga tingkat hasil tangkapan, upaya penangkapan dan biomassa optimum, melalui aplikasi model surplus produksi Schaefer dan konsep optimisasi Gordon & Schaefer.
Pandangan umum selama ini mencerminkan bahwa sebagian besar pengelolaan perikanan di berbagai perairan selalu mengacu pada pencarian tingkat upaya penangkapan tertinggi untuk menghasilkan nilai hasil ekonomi maksimum (MEY) daripada mencari tingkat upaya penangkapan optimum untuk menghasilkan tangkapan lestari maksimum (MSY). Kajian ini secara umum memberikan indikasi bahwa semakin tinggi rasio nilai biaya eksploitasi (p/c) maka tingkat tangkapan optimum lestari (OSY) akan mendekati nilai MSY. Apabila nilai OSY atau JTB (total tangkapan yang
diperbolehkan) sungguh-sungguh akan diterapkan sebagai landasan utama pengelolaan perikanan
pukat cincin di Laut Jawa, maka sudah sewajarnya dilakukan penataan upaya penangkapan melalui pengurangan intensitas pemanfaatan sekitar 30%. Selain itu, perlu dilaksanakan pengendalian
teknologi terhadap peningkatan bertahap upaya penangkapan (technological creep atau effort creep)
dan pembatasan investasi tambahan input lainnya.
KATA KUNCI: Hasil tangkapan, lestari, optimum, pukat cincin, Laut Jawa
ABSTRACT
The dynamic and existence of purse seine fisheries operated in the Java Sea need to be explored from a broader view to manage the fisheries. This situation allows to describe and discuss the integration of bio-economy to determine the level optimum of catch, fishing effort and biomass, through application of surplus production models and concepts Gordon & Schaefer. It has been generally accepted that most of fisheries management reference point rely on effort level which produces maximum economic
yield (MEY) rather than at effort level produces maximum sustainable yield (MSY). Overall, the higher
the ratio price/exploitation cost (p/c) then optimum sustainable yield (OSY) close to MSY. If OSY or TAC (Total Allowable Catch) seriously applied as a baseline of fisheries management plan on purse seine fleets in the Java Sea, the on going fishing efforts should be decreased by about 30%. In addition a regular monitoring and control of technological creep or effort creep including additional investment restrictions on other inputs must be done.
KEY WORDS: Optimum, sustainable, yield, purse seine, Java Sea
PENDAHULUAN
Sejarah pengelolaan perikanan berbagai perairan tropis masih belum memberikan hasil nyata seperti yang diharapkan. Berbagai upaya pengelolaan sumber daya ikan telah diupayakan dalam skala internasional antara lain dilakukan melalui pembentukan pedoman tata kelola perikanan tangkap secara bertanggung jawab yang dikeluarkan oleh FAO (1995), dimana saat ini telah menjadi salah satu payung besar pengelolaan sumberdaya ikan di berbagai negara. Sebagian besar upaya pengelolaan
perikanan dilakukan melalui inisiasi pemetaan ulang jumlah armada dan teknologi perikanan tangkap di perairan tropis belum memberikan indikasi adanya upaya pengendalian terhadap hasil tangkapan yang lestari. Berbagai pertimbangan yang sangat sering
dikaitkan dengan rendahnya ketersediaan informasi ilmiah sebagai landasan pembuatan keputusan pengelolaan yang memadai, yang berakibat pada kesulitan para pembuat kebijakan untuk melakukan tindakan praktis di lapang (Sinclair & Murawski, 1997).
Beberapa acuan berdasarkan temuan penelitian di berbagai perairan dunia memberikan pelajaran tentang ___________________
Korespondensi penulis: Balai Penelitian Perikanan Laut
pelaksanaan pengelolaan perikanan yang tidak efisien dan berakibat pada kegagalan pencapaian prinsip keberlanjutannya (Hilborn & Walters, 1992; Hall, 1999; Charles, 2001; Dankel et al., 2007). Banyak kasus sumber daya alam belum dikelola berdasarkan prinsip berkelanjutan baik ditinjau dari aspek biologis maupun sosio-ekonomi. Hal ini dicerminkan dalam tren statistik Organisasi Pangan Duniaselama 25 tahun terakhir, menunjukkan bahwa penurunan stok ikan di kawasan Asia-Pasifik sekitar 6-33% (FAO, 2004). Selanjutnya, kajian terhadap status dan tren pemanfaatan sumberdaya ikan (FAO, 2005) mengemukakan bahwa stok ikan laut dunia saat ini yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi hanya tersisa sekitar 24% dan 52% stok ikan telah termanfaatkan secara maksimal dan tidak mungkin dieksploitasi lebih lanjut, sedangkan sisanya telah dieksploitasi berlebihan atau stoknya sudah menurun.
Eksploitasi berlebihan sumber daya perikanan di berbagai perairan dunia terlihat semakin menjadi gejala umum, dengan proporsi terbesar disebabkan oleh tidak terkendalinya peningkatan upaya penangkapan yang berakibat pada status pemanfaatan yang dikategorikan sebagai lebih tangkap. Kajian ilmiah terhadap fenomena tingkat kapasitas berlebih telah dilakukan untuk membatasi hal ini, dengan memperkenalkan beberapa bentuk konsep dasar regulasi melalui pengendalian akses terhadap sumber daya yang cenderung semakin berkurang (Beddington et al., 2007). Perubahan radikal kesehatan ekosistem laut yang terjadi akhir akhir ini merupakan dampak dari aktivitas manusia, sehingga menimbulkan kesepakatan mendasar antara pemangku kepentingan untuk memperbaiki pengelolaan sumberdaya tersebut (Erlandson et al.,2008). Kapitalisasi penangkapan dunia telah berdampak pada penurunan stok secara bertahap, hasil tangkapan ikan yang berumur panjang telah tergantikan oleh kelompok jenis ikan dengan siklus pendek dan invertebrate, sehingga terjadi perubahan rantai makanan menjadi lebih sederhana yang berdampak pada penurunan kapasitas daya dukung (Pauly et al., 2002; Mullon et al., 2005). Investasi berlebih pada armada perikanan dunia, dan dampak pertumbuhan populasi manusia pada kesehatan ekosistem memerlukan pencarian perbaikan kerangka pengelolaan (Caddy, 1999).
Pendekatan hasil tangkapan optimum lestari (Optimum Sustainable Yield, OSY) merupakan suatu konsep pengelolaan perikanan dan perspektif ini tercermin pada hampir semua model ekonomi. Kriteria pengelolaan yang optimum adalah memaksimalkan nilai sekarang dari keuntungan bersih
atau imbalan pemanfaatan sumber daya sesuai dengan tingkat upaya yang lebih rendah dibandingkan dengan hasil maksimum yang lestari (Clark, 1985; Conrad & Clark, 1987). Berbeda dengan model ekonomi yang secara umum menggunakan konsep maksimalisasi keuntungan bersih, tampaknya tidak menjadi tujuan kebijakan yang memotivasi pengelolaan perikanan. Perkembangan pengelolaan perikanan yang lebih sesuai dengan kondisi saat ini cenderung menggunakan pendekatan dengan mempertimbangkan kepentingan kesehatan ekosistem secara berkelanjutan sebagai tujuan utama dari pengelolaan perikanan berbasis ekosistem (Charles, 2001).
Sebagai kelanjutan dari penelitian sebelumnya, kajian ini menjelaskan dan membahas integrasi bio-ekonomi untuk menetapkan tingkat hasil tangkapan,
upaya penangkapan dan biomassa optimum sebagai
dasar pertimbangan pengelolaan perikanan pukat cincin di laut Jawa.
BAHAN DAN METODE
Sumber data berasal dari kapal pukat cincin komersial yang berpangkalan di Pekalongan dan Juwana, yaitu data berupa hasil tangkapan dan upaya penangkapan selama kurun waktu 1976 – 2004, serta data dan informasi yang dikumpulkan terkait dengan pendaratan selama 6 tahun terakhir. Sementara parameter model surplus produksi Schaefer yang digunakan dari hasil penelitian Atmaja (2007), yaitu: r = 1,05; B” = 348 000 ton, q=1,08 10-5.
Perubahan besarnya stok ikan berdasarkan pergeseran waktu akibat tekanan penangkapan adalah selisih antara laju pertumbuhan stok dikurangi dengan hasil tangkapan (C) dimana dapat diturunkan dalam fungsi logistic sebagai berikut:
F(B) = “B/”t = rB (1 – B/B”) – C (1) Dimana pada kondisi pertumbuhan biomassa ikan sama dengan hasil tangkapan dari persamaan 1 maka diperoleh persamaan menjadi:
C = rB (1 – B/B”) (2) dimana:
C = hasil tangkapan B = biomassa
r = laju pertumbuhan intrinsik
B” = daya dukung lingkungan (enviromental carrying capacity)