PENERAPAN MODEL PICTURE WORD INDUCTIVE MODEL (PWIM) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MAPEL IPS TERPADU DI
MTs AL IKHLAS KOTA BONTANG Rosmini
MTs Al Ikhlas Kota Bontang, Indonesia [email protected]
Abstrak:
Di masa pandemi Covid -19 ini peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran lain yang kemungkinan cocok dipakai melalui daring atau online. Sebab pembelajaran yang biasanya dilakukan melalui tatap muka sungguh berbeda dengan pembelajaran jarak jauh ini. Melihat aktivitas belajar peserta didik dan hasil belajar peserta didik yang pada masa awal-awal pembelajaran dirasa belum memuaskan dan maksimal. Oleh karena itu, peneliti mencoba untuk mencari model pembelajaran yang dirasa cocok diterapkan pada peserta didik untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada sehingga diperoleh hasil belajar dan aktivitas peserta didik yang diharapkan. tujuan penelitian ini adalah “untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar peserta didik mata pelajaran IPS Terpadu pada peserta didik kelas IX di MTS Al Ikhlas Kota Bontang. Dari hasil penelitian ini akan diuraikan tentang hasil belajar serta aktivitas peserta didik selama pelaksanaan siklus I dan siklus II yang maisng-masing siklus dilakukan dua kali pertemuan Hasil penelitian diperoleh dari pengamatan pada saat pembelajaran dan hasil tes pada akhir pembelajaran untuk mengukur peningkatan pencapaian peserta didik. Berdasarkan tindakan siklus I diperoleh data sebagai berikut 55% dimiliki 17 peserta didik yang tidak aktif dalam aktivitas pembelajaran. Perolehan ini diambil dari nilai tes peserta didik.
Berdasarkan data tersebut dapat dinyatakan bahwa hasil belajar pada mata pelajaran IPS di MTS AL IKHLAS masih rendah. Sedangkan nilai hasil belajar peserta didik pada siklus II menggunakan Picture Word Inductive Model (PWIM) mengalami peningkatan yang signifikan dibanding siklus I. Hampir 98% siswa sudah menunjukkan keaktifan.
Kata kunci:
model picture word inductive model (pwim); hasil belajar; aktivitas peserta didik
PENDAHULUAN
Hingga saat ini sekolah hanya bisa dikatakan sebagai tempat untuk memperoleh pengetahuan yang pada umumnya hanya dihafal bukan sebagai tempat untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran IPS yang disusun secara berurutan, integrated dan terpadu diharapkan dapat membantu peserta didik memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang Ilmu IPS. Pasal 37 Undang-Undang Sisdiknas Tahun 2003 menempatkan pendidikan IPS pada mata pelajaran wajib pada setiap jenjang pendidikan dasar dan menengah yang dalam penjelasannya bertujuan mengembangkan pengetahuan, pemahaman dan kemampuan analisis peserta didik terhadap kondisi sosial masyarakat.
Selama ini pembelajaran IPS memiliki beberapa kelemahan terutama dalam hal pemrosesan informasi. Dalam proses pembelajaran di kelas di tingkat SMP/MTs selama ini, peserta didik jarang sekali diarahkan untuk berpikir induktif dalam hal pemrosesan informasis. Mereka hanya diarahakan sebagai pembaca informasi, bukan sebagai seorang yang memahami bacaan.
Pembelajaran IPS sendiri mendapat tantangan dari guru dan peserta didik. Mata pelajaran IPS masih dianggap sebagai mata pelajaran nomor dua karena tidak ada dalam Ujian Nasional sehingga peserta didik bermin-main dengan pelajaran tersebut. Ditambah pula dengan latar belakang guru yang bukan guru IPS tetapi memiliki background pada bidang studi lain seperti sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi menyebabkan penguasaan materi pada pelajaran IPS sangat kurang. Mereka akan lebih banyak menguasai pada bidang studi yang mereka kuasai, sedangkan bidang studi yang tidak mereka kuasai akan dipadatkan atau bahkan hanya dibahas secara sekilas saja. Peserta didik juga kurang terlatih dalam proses pemecahan masalah, sebagai akibat dari sajian materi yang bersifat pengetahuan tanpa banyak melibatakan ranah keterampilan.
Peserta didik sangat lemah dalam hal menyaring informasi yang berasal dari internet.
Beberapa waktu lalu ditemukan bahwa peserta didik di MTs Al Ikhlas cenderung bertanya pada mesin pencarian seperti google ketika menjawab soal-soal yang bersifat uraian. Pada mesin pencarian utama ditemukan brainly untuk menjawab soal-soal dari guru. Ketika sudah menemukan jawaban tersebut maka peserta didik akan lansung menyalin jawaban tersebut tanpa membaca terlebih dahulu uraian jawabannya sehingga terkadang hal yang dimaksudkan oleh guru tidak tersampaikan dalam jawaban peserta didik tersebut.
Permasalahan yang mendasar pada pembelajaran jarak jauh ini adalah ketika peserta didik mendapatkan informasi dari internet, mereka tidak melakukan telaah informasi terlebih dahulu.
Peserta didik terjebak dalam jawaban instan yang mereka temukan dalam mesin pencarian google.
Penurunan minat belajar IPS pada masa pandemi ini dikarenakan tidak adanya tatap muka antara guru dan peserta didik. Kalaupun dilakukan melalui tatap muka virtual, hal ini juga dirasa belum maksimal. Masih banyak guru yang mengajarkan IPS dengan satu arah ketika dilakukan secara virtual tapi tidak memberikan peluang kepada peserta didik untuk berkreasi, dan menganalisa permasalahan sendiri. Dalam menerima informasi, peserta didik jarang sekali dilibatkan. Padahal pembelajaran IPS di tingkat SMP/MTs pada pembelajaran jarak jauh ini peserta didik juga diharapkan untuk turut aktif ketika berada pada ruang obrolan atau tatap muka secara virtual.
Model pembelajaran pemrosesan informasi seperti berpikir induktif, pemahaman konsep, peta konsep atau mnemonik telah banyak dilakukan dalam bidang mata pelajaran IPS sedangkan Picture Word Inductive Model (PWIM) sendiri belum banyak dilakukan penelitian. Oleh karena
itu, Picture Word Inductive Model (PWIM) menjadi sangatlah penting sebab merupakan model pembelajaran paling awal yang harus dilalui peserta didik sebelum bisa menguasai pemahaman konsep-konsep dasar IPS.
Dalam menunjang Picture Word Inductive Model (PWIM) ini diperlukan sebuah metode dalam pelaksanaannya. Alasan pentingnya Picture Word Inductive Model (PWIM) sangat perlu diajarkan pada mata pelajaran IPS adalah karena peserta didik akan dilibatkan dalam mengolah dan memahami informasi yang mereka temukan pada gambar dan bahan bacaan yang ada.
Pada Picture Word Inductive Model (PWIM) ini, peserta didik akan diminta mengamati sebuah gambar lalu merumuskan kata-kata kunci atau khusus yang mereka temukan. Setelah mereka menemukan kata-kata kunci tersebut, peserta didik akan diminta untuk membuat kalimat dan menguraikannya secara jelas apa yang diminta oleh guru. Jadi, masing-masing peserta didik akan memiliki kalimat yang berbeda dengan peserta didik yang lain. Dalam hal ini, maka peserta didik sudah melakukan aktivitas pemrosesan informasi.
Berdasarkan pengalaman peneliti sebagai guru di kelas IX B MTs Al Ikhlas Bontang Kalimantan Timur, pembelajaran IPS selama masa pandemi Covid-19 berlangsung secara jarak jauh melalui daring virtual dunia maya dirasa belum maksimal. Peserta didik mengalami kesulitan ketika berinteraksi dan berkomunikasi dengan guru ketika mereka melakukan pembelajaran virtual. Kondisi seperti ini pada akhirnya menyebabkan rendahnya hasil belajar dan aktivitas peserta didik di kelas IX B MTs Al Ikhlas Bontang Kalimantan Timur.
Kajian Tentang Picture Word Iductive Model (PWIM)
Model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Melalui model pembelajaran guru dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi, ide, ketrampilan, cara berpikir, dan mengekspresikan ide (Suprijono, 2009:46).
Dalam menjawab tantangan Kurikulum 2013, peserta didik perlu didorong sebagai seorang literat yang baik bukan hanya sebagai pembaca informasi saja. Merek harus banyak membaca, mengembangkan kosakata, mengembangkan keterampilan dalam analisis fonetik dan struktural, memahami dan memanfaatkan teks-teks yang terhampar luas. Dalam hal ini, Picture Word Inductive Model (PWIM) dirancang untuk menghadapi hal itu, utamanya untuk para pembaca di tingkat dasar dan di tingkat yang lebih tinggi (Huda, 2013:85).
Dalam struktur Picture Word Inductive Model (PWIM) peserta didik disajikan gambar aktivitas sehari-hari yang berkaitan dengan materi pelajaran. Lalu, mereka menghubungan kata- kata dengan gambar tersebut dengan cara mengidentifikasi objek, tindakan, dan kualitas yang mereka kenali. Sebuah garis dibuat merentang dari objek-objek yang ada dalam gambar hingga sampai pada kertas background yang sudah tersedia di belakang gambar, yang di kertas tersebut sudah tertulis kata atau frasa yang sesuai dengan objek yang ditunjuk. Kemudian, peserta didik menghubungkan objek-objek yang mereka identifikasi dengan kata-kata yang sudah ada dalam kosakata percakapan dan pendengaran mereka yang telah berkembang secara alamiah (Joyce, 2009:151).
Picture Word Inductive Model (PWIM) sebenarnya berusaha melakukan pendekatan langsung pada perkembangan kosakata. Menurut Joyce (2009:153),untuk belajar membaca dan
menulis, peseta didik harus membangun konsep tentang konvensi-konvensi yang digunakan dalam bahasa untuk menghubungkan bunyi-bunyi dan struktur-struktur dengan bentuk tulisan.
Picture Word Inductive Model (PWIM) berusaha mengajak peserta didik untuk mengklasifikasi kata-kata yang baru mereka peroleh, membangun konsep-konsep yang akan memungkinkan mereka memecahkan kata-kata yang belum mereka temukan sebelumnya. Picture Word Inductive Model (PWIM) merupakan salah satu model yang berorientasi penelitian dengan cara mengarahkan peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas yang cukup kompleks terutama fokus pada membaca dan menulis.
Singkatnya, Picture Word Inductive Model (PWIM) memanfaatkan kemampuan siswa untuk berpikir secara induktif. Ini berhubungan dengan kemampuan mereka dalam berpikir (Joyce, 2009:154). Prinsip terpenting dalam belajar dengan Picture Word Inductive Model (PWIM) adalah membaca dan menulis secara alamiah berhubungan satu sama lain dan dapat dipelajari secara simultan. Prinsip terpenting dalam model ini adalah membangun perkembangan kosakata dan bentuk-bentuk sintaksis peserta didik dalam melakukan peralihan dari bahasa tutur (didengar dan diucapkan) menjadi bahasa tulis (dibaca dan ditulis). Dengan kata lain, peserta didik mampu menghubungkan antara kata-kata degan objek yang ada di sekelilingnya.
Penelitian dilakukan melalui dua siklus yang masing-masing siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Pada pelaksanaan tindakan yang dilakukan guru untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan Picture Word Inductive Model (PWIM) meliputi;
Tabel 1. Kegiatan Picture Word Inductive Model (PWIM) a. Pengenalan Guru memilih sebuah gambar.
Peserta didik mengidentifikasi apa yang mereka lihat dalam gambar tersebut.
Peserta didik menandai bagian-bagian gambar yang telah diidentifikasi.
b. Identifikasi Guru membaca/mereview bagan kata bergambar.
Peserta didik mengklasifikasi kata-kata ke dalam berbagai jenis kelompok.
Peserta didik mengidentifikasi konsep-konsep umum dalam kata-kata tersebut ke dalam kelas/golongan kata tertentu.
Peserta didik membaca kata-kata itu dengan merujuk pada bagan jika kata tersebut tidak mereka kenali.
c. Review Guru membaca/mereview bagan kata bergambar (mengucapkan, mengeja, dan mengucapkan).
Guru menambah kata-kata, jika diinginkan, pada bagan kata bergambar atau yang sering dikenal dengan “bank kata”.
Peserta didik memikirkan judul yang tepat untuk bagan kata bergambar itu.
III Menyusun kata
dan kalimat Peserta didik menyusun sebuah kalimat, kalimat-kalimat, atau suatu paragraf secara langsung yang berhubungan dengan bagan kata bergambar tadi.
Peserta didik mengklasifikasi seperangkat kalimat yang dapat menghasilkan satu kategori kelompok tertentu.
Guru memperagakan membuat kalimat-kalimat tersebut secara bersamaan menjadi suatu paragraf yang baik.
Guru dan siswa membaca/mereview kalimat-kalimat atau paragraf- paragraf.
Hasil Belajar
Hasil belajar biasanya dilakukan oleh guru pada saat akhir pembahasan kompetensi belajar.
Tujuan dilakukan hasil belajar adalah untuk mengukur kemajuan peserta didik dalam kompetensi dasar yang diharapkan dalam tujuan pembelajaran. Hal ini akan menentukan guru untuk memberikan umpan balik kepada peserta didiknya atau akan melakukan remedial kepada peserta didik. Biasanya, hasil belajar ini berbentuk tes (ujian ataupun ulangan). Menurut Slamet (2010), penilaian hasil belajar bertujuan sebagai umpan balik kepada peserta didik mengenai tingkat pencapaian materi pelajaran yang telah dipelajari sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Dengan adanya umpan balik ini maka fungsi penilaian adalah sebagai pendorong semangat supaya peserta didik dapat meningkatkan kesungguhannya dalam belajar.
METODE
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan Model Kurt Lewin. Data yang diperoleh adalah melalui pengamatan dan hasil tes yang diperoleh dari peserta didik. Subyek penelitian tindakan kelas ini adalah kelas IX B MTs Al Ikhlas Kota Bontang yang berjumlah 31 peserta didik. Obyek penelitian tindakan kelasnya adalah Picture Word Inductive Model (PWIM) dalam pembelajaran IPS Terpadu dengan materi Negara- negara di Dunia dan Benua. Penelitian ini dilaksanakan di Kelas IX B MTs Al Iklas Kota Bontang yang beralamat di Jl. Kapten Pierre Tendean No. 20 Bontang Kuala, Bontang Utara, Kalimantan Timur. Waktu penelitian tindakan kelas dilaksanakan pada semester I ganjil tahun pembelajaran 2020/2021, tepatnya pertengahan di bulan Agustus sampai dengan akhir bulan September. Pembelajaran dilakukan melalui Whatsapp Group, Google Classroom, dan Google Meet/Zoom Meeting.
Penelitian tindakan kelas Model Kurt Lewin ini menggunakan dua siklus. Prosedur penelitian dalam setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksaan, observasi, dan refleksi. Masing-masing siklus mempunyai durasi dua kali pertemuan mengingat terbatasnya waktu ketika melakukan pembelajaran jarak jauh ini.
Pada tahap perencanaan, peneliti menyiapkan rancangan pembelajaran jarak jauh dan materi yang akan diambil sebagai penelitian. Materi Negara-Negara di Dunia dan Benua diambil karena sesuai dengan model yang akan peneliti gunakan yaitu Picture Word Inductive Model (PWIM). Peneliti juga menyiapkan instrument pengamatan yang akan dipakai dalam penelitian untuk mengamati aktivitas peserta didik dan soal tes yang akan digunakan. Mengingat pembelajaran dilakukan secara jarak jauh, maka soal yang akan digunakan dibuat dalam bentuk Google Form yang dibagikan melalui Goggle Classroom. Sedangkan penyampaian materi dan instruksi pengerjaannya dilakukan melalui Google Meet/Zoom Meeting.
Pada tahap pelaksanaan, dilakukan dua siklus yang masing-masing siklus dilakukan melalui dua kali pertemuan atau dua kali tatap muka. Tindakan kelas dilakukan berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah dibuat oleh guru. Adapun langkah-langkah yang dilakukan oleh guru melalui Google Meet/Zoom Meeting adalah sebagai berikut;
a. Guru membuka pembelajaran dengan mengucap salam, mengajak peserta didik untuk berdoa, bertanya kabar
b. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran hari ini yang akan dicapai oleh peserta didik
c. Guru menjelaskan materi dengan Picture Word Inductive Model (PWIM) melalui PPT yang telah dipersiapkan melalui share room.
d. Setiap peserta didik diberi kesempatan untuk menguraikan penjelasan yang telah diperoleh dari guru
e. Peserta didik menyimpulkan hasil kegiatan pada saat itu
f. Guru memberikan soal di google form melalaui google classroom.
g. Guru mengakhiri pembelajaran, mengucapkan salam dan tak lupa mengingatkan kembali tentang protocol kesehatan
Pada tahap pengamatan ini dilakukan terhadap proses ataupun hasil dari tindakan yang dilkukan guru terhadap pengaruh yang diperoleh hasil / tindakan baik yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Dalam penelitian ini alat ukur yang dilakukan adalah lembar tes tulis, lembar observasi dan angket peserta didik. Pengamatan yang dilakukan oleh peserta didik dilakukan di setiap proses tindakan kelas yang dilakukan oleh guru melalui google meet/zoom meeting.
Lembar pengamatan digunakan untuk mengetahui aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Tentunya hal ini dilakukan oleh guru dengan mewajibkan seluruh peserta didik untuk membuka video roomnya.
Refleksi dari tindakan dapat kita peroleh setelah kita melakukan pengukuran terhadap proses dan hasil dari tindakan. Hal tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang pengaruh tindakan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Berhubung pembelajarannya dilakukan melalui jarak jauh, maka soal tersebut bisa dikerjakan oleh peserta didik di rumah masing-masing dengan cara mengerjakan google formnya. Hasil temuan selama pelaksanaan yang diperoleh melalui hasil pengamatan dan soal tes digunakam untuk menemukan perbaikan dan pemecahan yang tepat guna mempertimbangkan penyususnan rencana tindakan kelas berikutnya ataupun untuk mencapai hasil yang diharapkan dalam penelitian.
Menurut Latif (2010:40) prosedur penelitian dilaksanakam terdiri dari empat pokok bagian yaitu merencanakan, melakukan tindakan, mengamati, dan melaksanakan refleksi. Hal ini dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Gambar 1. Alur Model PTK Menurut Kurt Lewin
Rancangan PTK menurut Kurt Lewin merupakan model dasar yang dikembangakan oleh para ahli. Model PTK tersebut memiliki empat komponen yang terdiri dari perencanaan (planning), tindakan (action), pengamtan (observing), refleksi (reflecting).
Pelaksanaan tindakan dimulai dengan siklus pertama. Apabila diketahui letak kekurangaannya maka peneliti merancang untuk siklus kedua. Tujuan dari siklus kedua ini adlah memperbaiki kekurangan pada siklus pertama. Prosedur pelaksanaan rancangan penelitian tindakan kelas empat komponen tersebut diuraikan sebagai berikut;
a. Perencanaan
Peneliti mempersiapkan berbagai perencanaan tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki hasil pembelajaran. Adapun yang harus dipersiapkan peneliti antara lain;
jadwal pelaksanaan tindakan, rencana pelaksanaan pembelajaran, materi dan bahan ajar yang sesuai dengan pokok bahasan, lembar kerja peserta didik, lembar penilaian hasil belajar, instrument lembar pengamatan.
b. Tindakan
Pada tahap ini, tindakan yang dilakukan peneiti adalah melaksanakan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya. Yang bertindak sebagai peneliti yaitu guru sendiri.
c. Pengamatan
Pada tahap pengamatan, kegiatan pengumpulan data dilakukan oleh peneliti yang dilaksanakan bersamaan dengan tahap tindakan. Hal ini akan dibantu oleh teman sejawat yang akan membantu proses jalannya pembelajaran. Tugas teman sejawat ini adalah mengamati aktivitas baik guru dan peserta didik selama proses pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan.
d. Refleksi
Pada tahap refleksi, data-data yang diperoleh Selama pengamatan akan dikumpulkan lalu dievaluasi dan dianalisa. Dengan melihat data pengamatan yang ada pada setiap siklus.
Apabila pada siklus pertama belum mendapatkan hasil yang diharapkan maka dilakukan siklus kedua.
HASIL
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di MTs Al Ikhlas Bontang Kelas IX B pada pembelajaran IPS dengan menggunakan Picture Word Inductive Model (PWIM) maka didapatkan tingkat keberhasilan peserta didik mengalami peningkatan dari Siklus I ke SIklus II.
Pada pembelajaran jarak jauh ini meskipun dalam pelaksanaannya mengalami beberapa kendala karena menggunakan Google Meet/Zoom Meeting ataupun Google Classroom tetapi pelaksanaannya masih dalam keadaan terlaksana dengan baik dan lancar.
Dari hasil penelitian ini akan diuraikan tentang aktivitas peserta didik serta hasil belajar peserta didik selama pelaksanaan siklus I dan siklus II. Masing-masing siklus diadakan pertemuan dua kali. Hasil penelitian diperoleh dari pengamatan pada saat pembelajaran dan hasil tes pada akhir pembelajaran untuk mengukur peningkatan pencapaian peserta didik.
Berikut ini dipaparkan hasil penelitian selama siklus I dan siklus II
Tabel 2. Presentase Nilai Siklus I
Kriteria Jumlah Peserta Didik Presentase
Sangat Aktif 5 16%
Aktif 9 29&
Tidak Aktif 17 55%
Gambar 2. Nilai Siklus 1
Berdasarkan dari tabel dan grafik nilai tindakan siklus I dinyatakan bahwa hasil belajar IPS dinyatakan belum berhasil. Hal ini ditunjukkan oleh pencapaian nilai yang hanya 16% dimiliki oleh 5 orang peserta didik yang sangat aktif. Sedangkan 29% dimiliki 9 orang peserta didik yang aktif. Sisanya 55% dimiliki 17 peserta didik yang tidak aktif. Berdasarkan data tersebut dapat dinyatakan bahwa hasil belajar pada mata pelajaran IPS di MTs Al Ikhlas masih rendah.
Tabel 3. Presentase Nilai Siklus II
Kriteria Jumlah Peserta Didik Presentase
Sangat Aktif 18 58%
Aktif 11 35%
Tidak Aktif 2 7%
16% 29% 55%
5 9
17
Tabel Siklus 1
Sangat Aktif Aktif Tidak Aktif
Gambar 2. Nilai Siklus 2
Berdasarkan presentase di atas maka dapat dinyatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan Picture Word Inductive Model (PWIM) dapat meningkatkaan hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran IPS.
Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas mata pelajaran IPS pada aspek hasil belajar dengan menggunakan Picture Word Inductive Model (PWIM). Dalam simulasi yang dilakukan oleh peneliti menggunakan Google Meet keaktifan peserta didik dalam pembelajaran sangat berperan penting untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS.
Namun demikian, indikator keberhasilan dalam penelitian ini difokuskan pada peningkatan aktivitas dan hasil belajar peserta didik.
Pada kegiatan siklus I dan siklus II guru bertindak sebagai peneliti melakukan apersepsi dengan baik yaitu dengan cara menyiapkan peserta didik untuk memulai pembelajaran dnegan sikap berdoa lalu dilanjutkan dengan mengabsensi peserta didik. Guru juga tidak lupa menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi peserta didik.
Pada kegiatan inti, guru menggunakan Picture Word Inductive Model (PWIM) yang dilakukan dengan baik. Pemberian umpan balik terkait materi yang disajikan juga telah dilakukan. Pada siklus I penyampaian materi sudah mengena kepada peserta didik hanya saja masih terdapat beberapa peserta didik yang mengalami kebingungan dan masih malu-malu untuk menyampaikan jawabannya. Ketika siklus II, guru sudah sangat baik dalam menjelaskan sehingga mengakibatkan peserta didik bersemangat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari guru. Kegiatan akhir pembelajaran ditutup dengan sangat baik oleh guru dan gak lupa untuk merefleksi hasil kegiatan belajar pada hari ini, membuat kesimpulan dan tak lupa memberikan motivasi belajar kepada peserta didik untuk selalu rajin membaca.
Berdasarkan data pengamatan tersebut, aktivitas guru mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II semakin terampil dalam mengelola kelas maya. Jadi hasil penelitian dengena penggunaan Picture Word Inductive Model (PWIM) mempengaruhi hasil belajar dan aktivitas peserta didik.
58% 35%
7%
18 11
2
Tabel Siklus II
Sangat Aktif Aktif Tidak Aktif
Hasil pengamatan aktivitas peserta didik selama pembelajaran siklus I dan siklus II menunjukkan adanya peningkatan yang baik dan signifikan. Walaupun terdapat aktivitas yang rendah pada beberapa peserta didik di siklus I tetapi pada siklus II sudah mengalami peningkatan.
Semua peserta didik antusias ketika menggunakan Picture Word Inductive Model (PWIM) melalui Google Meet. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap aktivitas peserta didik dapat dikatakan bahwa dengan menggunakan model tersebut mengalami peningkatan.
Hasil belajar peserta didik yang diperoleh adalah berdasarkan hasil tes yang sudah dikerjakan melalui google formnya. Hasil belajar dan aktivitas belajar peserta didik cenderung mengalami peningkatakn ketika diberi perlakuan. Hal ini tidak terlepas dengan model yang digunakan oleh guru dapat menarik peserta didik untuk belajar. Menurut Sadiman (1996), media gambar bersifat konkrit dan realistis dalam memunculkan pokok masalah dibandingkan denagn Bahasa verbal.
Kelebihan dari penggunaan Picture Word Inductive Model (PWIM) dalam penelitian tindakan kelas pada masa pandemi covid-19 sifatnya lebih realistis dan konkrit ketiak guru menggunakan model kata bergambar melalui PPT yang telah disajikan oleh guru. Hal ini menarik peserta didik untuk mengamati gambar yang dimunculkan oleh guru dan peserta didik menangkap makna-makna kata penting yang bisa diambil dalam gambar tersebut. Hasil belajar materi Negara-negara di Dunia dan Benua dengan menggunakan Picture Word Inductive Model (PWIM) dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas peserta didik dalam penegtahuan dan pemahaman peserta didik yang bisa diketahui melalui siklus I dan siklus II.
SIMPULAN
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap konsep dan teori pembelajaran yang telah ada terutama yang berkaitan dengan penerapan Picture Word Inductive Model (PWIM) yang sesuai dengan mata pelajaran IPS di SMP/MTs. Selain itu juga dapat memberikan kontribusi kepada guru pengajar IPS di SMP/MTs untuk menjadi bahan alternatif pilihan ketika mengajarkan pembelajaran IPS di kelas. Dengan adanya Picture Word Inductive Model (PWIM) ini juga dapat membantu guru untuk mengkombinasikan dengan model pembelajaran lain sehingga tercipta guru yang kreatif dan inovatif sehingga mata pelajaran IPS tidak lagi dipandang sebelah mata oleh para siswa dan bukan menjadi mata pelajaran yang membosankan.
DAFTAR RUJUKAN
Adjierante, A. D. 2014. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN 10 Keramat Melalui Media Gambar. Jurnal Kreatif Online 5t (3) hal 104.
Arikunto. Suharsimi. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara Arsyad, Azhar. 1995. Media Pembelajaran. Jakarta: Pt. Raja Grafindo.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Daryanto. 2011. Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah. Yogyakarta: Gava Media
Depdiknas. 2003. Standar Prosedur Operasional Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
Depdiknas. 2003. UU No 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikn Nasional. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
Depdiknas. 2006. Kepmendiknas No 22, 23 dan 24 tentang KTSP. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Gie, The Liang. 1994. Cara Belajar Yang Efisien. Yogyakarta: Penerbit Liberty.
Hamalik. 1994. Media Pendidikan. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Jihad, asep dan Haris Abdul. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.
Siregar, R. 2017. Penggunaan Media Gambar Untuk Meningkatkan HAsil Belajar IPA pada Siswa SD. Jurnal Ilmu Pendidikan Sosial, Sains, dan Humaniora, 3 (4) hal 715.
Slamet. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Suyaadi. 2011. Panduan Penelitian tindakan Kelas Buku Panduan Wajib Bagi Para Pendidik.
Yogyakarta: Diva Press.
Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek.