Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
i
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
ii KATA PENGANTAR
Seminar Ilmiah Tahunan Lingkungan Hidup tahun 2016, merupakan seminar nasional yang diselenggarakan sebagai bagian program kegiatan Riset Grup Rekayasa Lingkungan dan Riset Grup Bioproses Limbah di Universitas Brawijaya. Seminar ini dilaksanakan di Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya dengan mengambil tema “Mewujudkan Lingkungan Hidup Berkelanjutan melalaui Rekayasa lingkungan dan Biproses Limbah”. Tema tersebut diambil dalam rangka upaya dari riset grup dalam meningkatkan kualitas lingkungan dimana perlu dukungan dari berbagai sektor baik pemerintah, swasta, akademisi, maupun masyarakat umum. Dengan demikian kontribusi dari semua pihak tersebut menjadi sangat penting.
Tujuan utama seminar ini akan mewadahi hasil penelitian dari berbagai pihak untuk berdiskusi dan bertukar informasi mencapai tujuan bersama yaitu lingkungan hidup yang berkelanjutan. Selain itu juga diharapkan agar dari pertemuan ini juga dapat menciptakan jaringan antar peserta seminar sehingga untuk selanjutnya dapat saling besinergi dalam pemecahan masalah lingkugan.
Terima kasih kami ucapkan atas partisipasi pemakalah, peserta, instansi pemerintah dan swasta, serta semua pihak yang telah berkontribusi sehingga seminar ini dapat terselenggara dengan baik. Semoga informasi yang kita dapatkan bersama dapat menjadi modal kita untuk bersama-sama menjaga, memperbaiki dan mencapai kualitas lingkungan yang lebih baik untuk generasi mendatang.
Ketua Panitia
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
iii REDAKTUR
Penanggungjawab
Dr. Ir. Sudarminto Setyo Yuwono, M.App
Scientific Commitee
Prof. Dr. Ir. Wigyanto, MS
Prof. Dr. Ir. Bambang Suharto, MS Dr. Ir. J. Bambang Rahadi W., MS Dr. Ir. Nur Hidayat, MP
Editor
Dr. Eng. Evi Kurniati, STP, MT
Dr. Eng Akhmad Adi Sulianto, STP, MT Angga Dheta Shirajjudin Aji, S. Si., M. Si.
Muhammad Arif Kamal, STP, Msi Satwika Desantina M, ST, MT
Comitee
Euis Elih Nurlaelih, SP, MP Irnia Nurika, STP, MP, PhD Novia Lusiana, STP. M.Si Dina Wahyu Indriani, STP, M.Sc
Rizky Luthfian Ramadhani Silalahi, STP, M.Sc Suprayogi, STP, MP, PhD
Dr. Ir. Maimunah Hindun Pulungan, MS
Aulia Nur Mustaqiman, STP, M.Sc
Luhur Akbar Devianto, ST, MT
Danang Triagus Setiawan, ST ,MT
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
iv
DAFTAR ISI
Addin Kurnia Sandy, Rico Rizadana dan Dyah Ilminingtyas W.H. Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah Organik Ternak Kambing dengan Metode Fermentasi di Desa Boja Kabupaten Kendal. Processing and Utilization The Organic Waste Of Goats With Fermentation In Boja Village Kendal District. --- 1 Ahmad Nubli Gadeng, Dede Sugandi, dan Ramli Gadeng. Kearifan Lokal Masyarakat Dalam Menjaga Ekosistem Hutan Di Kota Sabang Provinsi Aceh. Local Wisdom Society To Keep The Forest Ecosystem At Sabang Aceh Province. --- 8 Albertus Tatag Pudy Rahayu, dan Diah Kartikawati. Pengaruh penambahan tepung ampas wortel (daucus carota l.) dan tepung kacang merah (phaselous vulgaris l.) Terhadap kandungan Gizi kerupuk. The influence addition of carrot pomace powder (daucus carota l.) And Red bean powder (phaseolus vulgaris l.) On The nutrient content of crackers. --- 26
Andry Pratama A., Nur Syamsi M. Andi, Yuwan Febi P. , Benedicta Putri, Aqila Fitri M., Angga Dheta S. S.Si. M.Si.. Water Strider: Perangkat Monitoring Sedimen dan Kualitas Air Waduk menggunakan Sonar System dan Image Processing. Water Strider: Sediment Monitoring Device and Reservoir Water Quality using Sonar System and Image Processing. ---36
Arga Murbiantoro, Liliya Dewi Susanawati, Ruslan Wirosoedarmo. Pemanfaatan Limbah Cair Industri Tahu Pada Sistem Aeroponik Tanaman Selada (Lactuca Sativa, l). The use of tofu industrial wastewater for aeroponic system lecttuce plan (Lactuca Sativa, l). --- 45
Bambang Aris Sistanto. Peran Aktivitas Mikroba Tanah pada Pertanian Bantaran Sungai untuk menurunkan Air Limpasan bermuatan Sedimen pada Proses Pendangkalan Sungai. The role of soil microbes activities in agricultural riverbank to reduce water runoff sedimen at the process of shallowing river --- 55
Bambang Suharto, Liliya Dewi Susanawati, Sulanda RH,
Pengolahan Limbah Batik Tulis Dengan Fitoremediasi Menggunakan Tanaman Eceng Gondok (Eichornia Crassipes). Batik Waste Reduction With Phytoremediation Using Water Hyacinth Plants (Eichornia Crassipes). -65
Delvian. Peranan Mikoriza dan Vetiver dalam Upaya Perbaikan Kualitas Lahan Tercemar Logam Berat. Role of Mycorrhizae and Vetiver in Quality Improvement Effort of Heavy Metal Contaminated Land --- 73
Fadil Arif T. Munaf, M. Isnu A. Khoir, Mikailla Danianti, Miftakhul Ikhsan, Angga Dheta
S. Aji. “PEREMAS” Pereduksi Emisi Gas Pada Cerobong Asap dengan Mikroalga (Spirulina
sp.) sebagai Upaya Meminimalkan Pencemaran Lingkungan. --- 82
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
v Farianna Prabandari. Kajian Zona Pemanfaatan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Dalam Kerangka Review Rancangan Tapak Pengelolaan Wisata Alam. (Study of Utilization Zone at Bromo Tengger Semeru National Park for Review the Natural Tourism Site Plan Design). --- 89
Gracya Niken, Nindya Sylvia. Dampak Keberadaan Bank Sampah Hijau Lestari terhadap Kehidupan Masyarakat Sekitar. Effect Of Existence Of Rubbish Bank “Hijau Lestari” For The Leaving Of Around People --- 105
Harmonis Rante, Rudy Djamaluddin, Herman Parung, Victor Sampebulu. Studi Eksperimental Penggunaan CFRPS Sebagai Alternatif Sistim Sambungan Balok-Kolom Precast.
Experimental Study of Using CFRPS as an Alternetive of Precast Beam Column Joint. --- 112
Hartini. Pemanfaatan Abu Sekam Padi sebagai Adsorben Air Limbah Cold Storage dengan Parameter BOD, COD, dan TSS. The Use of Rice Husk Ash as Adsorbent of Cold Storage Wastewater with BOD, COD, and TSS Parameters. --- 121 Ieke Wulan Ayu, Husni Thamrin Sebayang, Soemarno, Sugeng Prijono, Model Neraca Air Lahan untuk Mendukung Pola Tanam pada Pengelolaan Lahan Kering Berkelanjutan Di kabupaten sumbawa, NTB. --- 131 Indah Nurhayati, Sri Widyastuti,, Diah Karunia Binawati. Pemberdayaan Masyarakat Desa Kalanganyar Sidoarjo melalui Pengolahan Limbah Kotoran Ikan menjadi Pupuk Organik Cair.
Community Empowerment Of Kalanganyar Village of Sidoarjo Civilian Through Fish Waste Treatment Into Liquid Organic Fertilizer --- 145 Juwita Amanda Lestari, Bambang Rahadi Widiatmono, Bambang Suharto, Penilaian Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Probolinggo Terhadap Laju Erosi. --- 154 Marina Bela Norika. Perilaku Coding Masyarakat Terhadap Banjir Dan Penanggulangannya (Studi Kasus Banjir Desa Cicalengka Wetan Limpahan Sungai Ci Tarik). Behavior Coding Of Community Flood Tackled (Case Study Flood In Desa Cicalengka Wetan Overflow Of River Ci Tarik) --- 164
Ninik Sri Haryadi, Diah Kartikawati dan Dyah Ilminingtyas WH. Substitusi Bekatul
Sebagai Sumber Serat, Antioksidan Dan Mineral (Kalsium Dan Fosfor) dalam Pembuatan
Biskuit. Rice Bran Substitution As Sources Of Fiber, Antioxidant And Minerals (Calcium And
Phosphorus) In The Manufacture Of Biscuits) --- 175
Nur Asia Umar, Sry Mulyani, dan Ida Suryani. Studi Data Parameter Lingkungan Dan
Hubungan Tropodinamik Perairan Danau Tempe Kab.Soppeng Prop.Sul Sel. Study Data
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
vi Enviromental Parameters And Relathionship Tropodinamik In The Water Lake Tempe Soppeng Regency Province South Sulawesi --- 186
Nur Indah Sari Arbit, Suparman Supardi, dan Suparjo Razasli Carong. Usaha Memperbaiki Kualitas Tepung Limbah Udang Sebagai Pakan Ternak Di Kabupaten Pangkep.
Efforts To Improving Quality Of Flour Shrimp Waste As Animal Feed In The District Pangkep.
--- 194 Otik Nawansih, Tanto Pratondo Utomo , Sri Hidayati dan Siti Zuhrotul Munawaroh.
Potensi Mikroalga yang Dikultivasi pada Media Limbah Cair Industri Karet Remah Sebagai Sumber Protein. (Potential of Microalgae Cultivated in Crumb Rubber Industrial Wastewater as a Source of Protein). --- 201 Popi Delima Putri. Strategi Pengelolaan Lahan Gambut Melalui Investasi Ramin (Gonystylus Bancanus Kurz.) Di Kecamatan Kerumutan, Provinsi Riau. Management Strategy of Peatlands Through Gonystylus Bancanus Kurz. Investment in The Sub District Kerumutan, Riau Province.
--- 210
Prieskarinda Lestari. Pengujian Performansi Prototipe Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Domestik Skala Rumah Tangga G-Wars (Grey Water Recycle System) Untuk Penyediaan Air Bersih Kelas III. Performance Testing Of Domestic Wastewater Plant (Wwtp) Household Scale G-Wars (Grey Water Recycle System) For Clean Water Supply Class III. --- 220
Qonyta Ayu Zhafarina Kusuma, Irnia Nurika, Nur Hidayat. Pengaruh Konsentrasi FE-CL3 Dan Lama Inkubasi Terhadap Hasil Degradasi Lignoselulosa Limbah Kayu Sengon Dan Pinus Menggunakan Jamur Serpula lacrymans. Effect Of FE-CL3 Consentration And Incubation Time To Lignocellulosic Degradation Of Sengon And Pine Wood Waste By Serpula Lacrymans Fungi.
--- 232
Renanda Ariska Faradina, Bambang Rahadi, dan Bambang Suharto. Analisis Kesesuaian Penggunaan Lahan Existing Dan Rencana Tata Ruang Wilayah (Rtrw) Berdasarkan Kelas Kemampuan Lahan (Studi Kasus Di Kabupaten Sidoarjo). Suitability Analysis Of Existing Landuse And Spatial Planning (Rtrw) Based On The Land Capability Class (A Study Case At Sidoarjo Regency). --- 247
Reny Nurul Utami, Nur Hidayat, Irnia Nurika. Isolasi Dan Uji Kemampuan Proteolitik Isolat
Bakteri Indigenous Dari Limbah Cair Tahu. (Isolation And Proteolytic Capabilities Test Of
Indigenous Bacteria Isolates From Liquid Soybean-Waste). --- 262
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
vii Rhenny Ratnawati, Rima Auliyati Wulandari, dan Nurul Matin. Pengolahan Limbah Padat Rumah Potong Hewan dengan Metode Pengomposan Aerobik dan Anerobik. Slaughterhouse Solid Waste Treatment Using Aerobic and Anaerobic Composting Methods. --- 277
Rizki Apriliawati, Suprihanto Notodarmojo dan Qomarudin Helmy. Aplikasi Metode Advanced Oxidation Process (AOP) Ozon-UV dalam menyisihkan konsentrasi Reactive Black 5.
Application Methods of Ozone-UV Advanced Oxidation Process (AOP) in Degrading Reactive Black 5 Concentrations. --- 288
Rizki Dwika Amalia, Alexander Tunggul Sutan Haji, Bambang Suharto. Status Daya Dukung Lingkungan berdasarkan Kemampuan Ketersediaan Air dan Kebutuhan Air di Kota Batu.. Status of Environmental Capacity Based on The Capacity of Water Supply and Water Demand in Batu --- 304
Roni Syaputra dan Subiyakto. Potensi Debu Tembakau Sebagai Kompos. The Potency of Tobacco Dust as Compost. --- 316
Rony Irawanto. Fitoremediasi Mengunakan Tumbuhan Akuatik Koleksi Kebun Raya Purwodadi. --- 323 Siti Fatimatul Umaroh, Nur Hidayat dan Suprayogi. Pengaruh Penambahan Bekatul Pada Media Tanam Terhadap Kadar Protein Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus). Effect Of Addition Of Bran In Growing Media To The Protein Content Of White Oyster Mushroom (Pleurotus ostreatus). --- 335
Siti Mechram, J. Bambang Rahadi W, dan Agus Arip M. Studi Pengelompokan Curah Hujan berdasarkan Karakteristiknya di Waduk Pondok, Ngawi. Studi of Cluster Rainfall Base on Characteristics In Pondok Reservoir Irrigation Areas, Ngawi --- 348
Sri Muljaningsih. Bank Sampah Berbasis Konsep 3 R : Minat Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya Untuk Mengelola Sampah. Trash Bank Based on 3 R Concept:
The Interest of Economics Department Students of Brawijaya University to Manage Garbage.
--- 354
Syaifa Nuraini, Musyaroh , Rahmat Hidayat, Agus Susanto. Penerapan Integrasi 4F (Food,
Feed, Fuel, And Fertilizer) Di Desa Garung, Lamongan. The application of integrated 4F (Food,
Feed, Fuel, and Fertilizer) in garung’s Village, lamongan. --- 366
Taufik Abdullah, Nurani Ikhlas, dan Rahmat Boedisantoso. Metode Perhitungan Ruang
Terbuka Hijau Berdasarkan Emisi Karbon Dioksida Tiap Area (Studi Kasus di Surabaya).--377
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
viii Tia Dwi Irawandani, A. Tunggul Sutanhaji, Ruslan Wirosoedarmo. Inventarisasi Dan Optimalisasi Fungsi Ruang Terbuka Hijau Dalam Menyerap CO2 Di Kota Pasuruan. Inventory And Optimalization Function Of Green Spaces Based Co2 Absorption In Pasuruan. --- 385
Titik Asiatun, Nur Hidayat dan Nur Lailatul Rahmah. Pengaruh Perbedaan Media Tanam Serbuk Gergaji SengonDan Serbuk Gergaji Kayu JatiTerhadap Pertumbuhan Dan Produktivitas Jamur Tiram Putih (Pleurotus Ostreatus). (The effect of different planting medium sawdust of albasia and tectona grandis on oyster mushroom’s (Pleurotus ostreatus) growth and productivity) --- 399 Wathri Fitrada, Priana Sudjono, dan Barti Setiani Muntalif. Identifikasi Sampah Yang b Tertahan Pada Tanah Hutan Bakau Di Muara Angke Jakarta. Identification Of Retained Waste On Soil Of Mangrove Ecosystem At Muara Angke Jakarta. --- 409
Yohanis Tulak Todingrara’, M.W. Tjaronge, Tri Harianto, Muhammad Ramli. Kuat Tekan Campuran Tanah Laterit Dan Batu Kapur Yang Diikat Oleh Pasta Semen Portland Komposit.
Compressive Strength Of Laterite Soil And Lime Stone Blended That Bonded With Portland
Cement Composite Paste. --- 418
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
ISBN 978-979-99002-6-5 Page 8
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DALAM MENJAGA EKOSISTEM HUTAN DI KOTA SABANG PROVINSI ACEH
LOCAL WISDOM SOCIETY TO KEEP THE FOREST ECOSYSTEM AT SABANG ACEH PROVINCE
Ahmad Nubli Gadeng1), Dede Sugandi2), dan Ramli Gadeng3) Mahasiswa Pendidikan Geografi SPS UPI
Jalan Dr. Setiabudhi, No.229, Cidadap, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, 40154 Email: 1) [email protected]; 2) [email protected]; 3) [email protected];
Abstrak
Isu yang sedang hangat untuk dibahas saat ini yaitu isu tentang lingkungan. Ternyata, pada era globalisasi seperti saat ini, masih ada daerah yang berusaha untuk tetap menjaga lingkungan melalui cara tradisional. Di tengah pesatnya pembangunan Kota Sabang untuk menjadi daerah wisata. Wilayah yang dijadikan sebagai ekosistem hutan sebagai habitat flora dan fauna masih tetap dijaga dengan baik. Adapun tujuan dalam penelitian ini: untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana bentuk kearifan lokal masyarakat Sabang dalam menjaga ekosistem. Penelitian ini dilakukan karena rasa ingin tau untuk menggali lebih dalam tentang bagaimana bentuk kearifan lokal yang terdapat di dalam masyarakat Kota Sabang. Kemudian, pengkajian data dalam penelitian ini bersifat kualitatif verifikatif yang akan dituangkan dalam bentuk uraian. Adapun hasil dalam penelitian ini adalah ternyata benar ada kearifan lokal masyarakat Sabang dalam menjaga ekosistem hutan yang berbentuk seperti peraturan-peraturan adat dan harus dipatuhi oleh semua masyarakat yang berada di Kota Sabang. Apabila ada yang melanggar peraturan adat, maka akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Kata kunci: Kearifan Lokal, Masyarakat dan Menjaga Ekosistem Hutan
Abstract
Issues that are hot to be discussed today is the issue of the environment. Apparently, in the era of globalization, there are still areas that are trying to keep the environment through traditional means. In the middle of Sabang city's rapid development into a tourist area. Areas that serve as the forest ecosystem as a habitat for flora and fauna are still maintained properly. The purpose of this study: to study and analyze how the form of local wisdom Sabang in maintaining the ecosystem. This research was done because of curiosity to know to dig deeper into how the shape of local wisdom that existed in society Kota Sabang. Then, review the data in this study is qualitative verification that will be poured in narrative form. The results in this study is in fact true there are indigenous people of Sabang in maintaining forest ecosystems that are shaped like customs and regulations must be obeyed by all the people who were in the city of Sabang. If anyone violates customs regulations, it will be penalized in accordance with applicable regulations
Keywords: Local Wisdom, Communities and Forest Ecosystems Keeping.
PENDAHULUAN
Isu yang sedang hangat untuk dibahas saat ini yaitu isu tentang
lingkungan. Lingkungan merupakan tempat tinggal semua makhluk hidup yang
berada di bumi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Muhaimin (2015:1) yang
menyatakan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya,
keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
ISBN 978-979-99002-6-5 Page 9
mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia dan mahluk hidup lainnya. Senada dengan itu, Sumaatmadja (2012:23) menyatakan yaitu lingkungan hidup manusia adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang berpengaruh terhadap sifat-sifat dan pertumbuhan manusia yang bersangkutan.
Maka sudah sangat jelas, jikalau lingkungan memiliki peranan penting bagi setiap makhluk hidup, tanpa adanya lingkungan maka makhluk hidup tidak dapat melangsungkan kehidupannya di masa yang akan datang. Akan tetapi permasalahan yang dihadapi saat ini yaitu semakin berkurangnya lahan atau lingkungan yang dijadikan sebagai tempat tinggal makhluk hidup. Apakah itu sebagai tempat tinggal manusia, hewan dan bahkan tumbuh-tumbuhan. Luas lahan yang ada di bumi tidak mengalami pertambahan, akan tetapi jumlah penduduk semakin bertambah setiap tahunnya. Sesuai dengan pendapat Sumaatmadja (1988:2) secara absolut ruang di bumi tidak bertambah.
Sehingga menyebabkan semakin berkurangnya lahan yang dijadikan sebagai tempat tinggal untuk hewan dan tumbuh-tumbuhan. Kemudian lahan tersebut dijadikan sebagai tempat tinggal untuk manusia. Sehingga menyebabkan, lahan yang dijadikan sebagai tempat tinggal manusia semakin bertambah luas.
Seiring dengan bertambahnya penduduk maka tempat tinggal juga akan semakin bertambah, hal ini dikarenakan tempat tinggal menjadi kebutuhan pokok manusia sebagai tempat untuk berlindung dan beristirahat.
Ternyata, di tengah era globalisasi seperti yang sedang terjadi saat ini, masih ada daerah yang berusaha untuk tetap menjaga lingkungan dengan baik.
Adapun usaha yang dilakukan dengan cara tradisional dan masih dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu melalui kearifan lokal yang berlaku di dalam masyarakat. Kearifan lokal merupakan suatu budaya atau tradisi yang masih bersifat tradisional serta berlaku di dalam masyarakat dan tetap dilestarikan kepada generasi-generasi selanjutnya. Yang mana kearifan lokal tersebut hanya terdapat khas di daerah tertentu, dan tidak terdapat di daerah lain.
Hal ini senada dengan pendapat Sartini (2004:111) Kearifan lokal terdiri dari dua kata, yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Wisdom (kearifan) memiliki arti kebijaksanaan, sedangkan local (lokal) memiliki arti setempat. Maka secara umum local wisdom (kearifan lokal) adalah gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Kemudian, Suyami dkk (2005:23) kearifan lokal adalah kebijaksanaan atau pengetahuan yang melahirkan perilaku hasil dari adaptasi mereka terhadap lingkungan. Kemudian, Maryani dan Yani (2015:116) kearifan lokal yaitu, sebagai berikut:
Kata indigenous (indu dan gignere) menunjukkan suatu lahir, berkembang atau dihasilkan secara alami dan asli (naturally and native) di suatu wilayah atau tempat. Lahir dan berkembangnya suatu gagasan merupakan hasil penemuan atau penciptaan (invention) individu dalam masyarakat sebagai respon dari kebutuhan dan interpretasi terhadap peristiwa, kejadian atau fenomena dari lingkungan secara internal dan ekternal. Buah penciptaan itu, setelah teruji kegunaannya, disosialisasikan dan diinternalisasikan, diwariskan (institusionalisasi) menjadi pembiasaan atau tradisi yang dihayati dan diyakini kebenaranannya, sehingga memiliki keajegan.
Kearifan lokal atau local wisdom memiliki pengertian, maksud dan tujuan
yang sama. Kesemua kata tersebut merujuk kepada satu kesimpulan yaitu
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
ISBN 978-979-99002-6-5 Page 10
pengetahuan yang dimiliki oleh setiap masyarakat yang berada di suatu kawasan khusus, dan yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Setiap daerah memiliki ciri khas yang berbeda-beda dan keunikan tersendiri. Yang mana pengetahuan tersebut diperoleh atau diciptakan dari hasil pengalaman-pengalaman orang-orang terdahulu dalam menyikapi atau menyelesaikan suatu permasalahan yang terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat.
Sehingga yang dianggap oleh masyarakat bahwa solusi tersebut sangat ampuh untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada masa itu. Baik itu yang berhubungan dengan alam, maupun berhubungan dengan sesama manusia seperti pola tingkah laku, tata krama dan adat istiadat. Serta telah diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi, dan tidak boleh terputus atau hilang sedikitpun di setiap generasi. Karena mereka beranggapan bahwa apabila kearifan lokal itu terputus akan mengakibatkan dampak yang begitu besar bagi kehidupan manusia untuk generasi di masa yang akan datang. Jadi, intinya harus terus dilestarikan dan dibudidayakan kearifan lokal yang sudah diciptakan oleh leluhur atau nenek moyang mereka.
Selanjutnya, fungsi kearifan lokal menurut Sartini (2004:112) mengemukakan yaitu, sebagai berikut:
1) Berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam.
2) Berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia.
3) Berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
4) Berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan.
5) Bermakna sosial misalnya upacara integrasi komunal/kerabat.
6) Bermakna sosial, misalnya pada upacara daur pertanian.
7) Bermakna etika dan moral.
8) Bermakna politik.
Apabila berbagai cara sudah ditempuh dalam usaha menjaga lingkungan, akan tetapi masih juga tidak berhasil, maka melalui kearifan lokal merupakan cara yang sangat ampuh dalam menjaga lingkungan. Adapun tujuannya yaitu untuk menjaga lingkungan agar tetap asri dan memiliki peran dan fungsi sebagaimana mestinya di dalam alam. Jadi, sangat banyak manfaat dan fungsi yang didapatkan dari kearifan lokal yang terdapat di dalam masyarakat, sehingga diharapkan kepada seluruh masyarakat agar dapat mematuhi berbagai kearifan lokal yang berlaku di setiap daerah, demi untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia. Karena kearifan lokal tersebut telah diterapkan sejak lama dari generasi ke generasi, dikarenakan sudah terbukti akan manfaat yang didapatkan dari kepatuhan apabila menuruti dan menjalankan kearifan lokal yang berlaku tersebut di dalam kehidupan bermasyarakat.
Kearifan lokal inilah yang dijunjung tinggi oleh masyarakat dalam
menjaga lingkungan. Salah satu daerah yang terletak di wilayah paling barat atau
paling ujung Indonesia yaitu Pulau Weh dengan wilayah administratif Kota
Sabang yang termasuk ke dalam bagian dari Provinsi Aceh. Kota Sabang
merupakan zona ekonomi bebas Indonesia, ia sering disebut sebagai titik paling
utara Indonesia, tepatnya di Pulau Rondo. Kota Sabang terkenal dengan
keindahan alamnya yang sangat memanjakan setiap wisatawan yang datang ke
daerah ini, sehingga Kota Sabang terkenal dengan pariwisatanya.
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
ISBN 978-979-99002-6-5 Page 11
Menurut Arjana (2013:25) Ekosistem pada hakikatnya identik dengan lingkungan hidup alami, di dalamnya terdapat suatu tatanan yang sifatnya utuh menyeluruh serta dibentuk oleh hubungan atau interaksi dan interdependensi intra pengada insani dengan pengada ragawi, yang di dalamnya terdapat sirkulasi materi, energi dan informasi. Suharini dan Palangan (2014:131) berpendapat ekosistem adalah kesatuan fungsional antara komponen biotik dan abiotik atau interaksi antara organisme dengan lingkungan abiotiknya. Disamping itu, sejak beberapa tahun terakhir ada gerakan massal yang bersifat sosial dan komersial mengampanyekan gerakan ramah lingkungan, perlindungan lingkungan, konservasi lingkungan, pelestarian lingkungan dan penanaman pohon secara massal. (Arjana, 2013:25)
Indonesia dan khususnya Provinsi Aceh memliki sangat banyak jenis hutan hujan tropis. Salah satu daerah yang memiliki hutan hujan tropis yaitu di Provinsi Aceh dan bahkan lebih khususnya lagi di Kota Sabang. Hal ini karena dipengaruhi oleh jenis iklim dan jenis tumbuh-tumbuhan yang hidup di Indonesia.
Wiryono (2008:1) Sebagian besar hutan Indonesia termasuk dalam kategori hutan hujan tropis karena memiliki curah hujan tinggi dan suhu hangat sepanjang tahun.
Hutan hujan tropis merupakan salah satu tipe ekosistem yang paling produktif di dunia, meskipun secara umum tanah di hutan hujan tropis merupakan tanah yang tingkat kesuburannya rendah akibat pencucian hara oleh curah hujan yang tinggi.
Selanjutnya, Banowati (2014:143) dalam rangka menjaga ekosistem maka sudah saatnya dilakukan dengan menyediakan cagar alam (adalah suatu tempat yang dilindungi baik dari segi tanaman maupun binatang yang hidup di dalamnya yang nantinya dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan di masa kini dan masa mendatang) dan suaka margasatwa. Kemudian, Fatchan (2013:248) memperhatikan permasalahan dan kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup dewasa ini, maka kebijakan di bidang pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup ditujukan pada upaya yaitu:
1) Mengelola sumber daya alam, baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui melalui penerapan teknologi ramah lingkungan dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampungnya.
2) Menegakkan hukum secara adil dan konsisten untuk menghindari perusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan.
3) Mendelegasikan kewenangan dan tanggung jawab kepada pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup secara bertahap.
4) Memberdayakan masyarakat dan kekuatan ekonomi dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
5) Menerapkan secara kolektif penggunaan indikator-indikator untuk mengetahui keberhasilan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup.
6) Memelihara kawasan konservasi yang sudah ada dan menetapkan kawasan konservasi baru di wilayah tertentu.
7) Mengikutsertakan masyarakat dalam rangka menanggulangi permasalahan lingkungan global.
Lingkungan membutuhkan bantuan dari manusia untuk menjaga dan
melestarikannya. Dan bahkan begitu juga sebaliknya, manusia membutuhkan
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
ISBN 978-979-99002-6-5 Page 12
alam untuk dapat bertahan hidup di bumi ini. Oleh karena itu, sudah saatnya setiap manusia menjaga dan melindungi alam dari kerusakan untuk kebaikan bersama dan anak cucu di masa yang akan datang. Tindakan yang dapat merusak alam seperti penebangan pohon secara sembarangan harus dihentikan. Penggunaan kayu dan bahan-bahan lainnya yang menggunakan pohon sebagai bahan baku untuk membuatnya juga harus dikurangi. Membuang sampah sembarangan juga harus dihentikan. Penggunaan sampah platik yang berlebihan juga harus dihentikan.
Ditengah pesatnya pembangunan Kota Sabang untuk mendukung dalam menjadikan daerah wisata, berbagai fasilitas hotel, dan tempat-tempat pendukung lainnya untuk pariwisata sudah mulai dibangun oleh masyarakat (atau pihak swasta) dan pemerintah, akan tetapi ada hal unik yang terjadi di Kota Sabang.
Adapun hal yang unik tersebut yaitu wilayah yang dijadikan sebagai ekosistem hutan untuk tempat tinggal hewan dan tumbuh-tumbuhan masih tetap dijaga dengan baik. Wilayah ini lebih luas dari pada wilayah yang dijadikan sebagai tempat tinggal penduduk dan sebagai tempat untuk mendirikan fasilitas penunjang pariwisata lainnya. Jadi, meskipun dunia pariwisata di Kota Sabang mengalami peningkatan yang sangat pesat, akan tetapi ekosistem alamnya juga masih sangat asri.
Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat (pihak swasta) dalam menjaga ekosistem alam yang ada di Kota Sabang. Sehingga membuat masyarakat umum penasaran dengan bagaimana bentuk dari kearifan lokal yang terdapat di dalam masyarakat Kota Sabang, sehingga Kota Sabang berhasil dalam menjaga ekosistem hutan di saat pemerintah sedang gencarnya menggalakkan pembangunan dalam menyukseskan program pariwisata yang ada di Kota Sabang. Oleh karena itulah, membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Kearifan Lokal Masyarakat Dalam Menjaga Ekosistem di Kota Sabang. Adapun tujuan dalam penelitian ini: untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana bentuk kearifan lokal masyarakat Sabang dalam menjaga ekosistem. Penelitian ini dilakukan karena rasa ingin tau untuk menggali lebih dalam tentang bagaimana bentuk kearifan lokal yang terdapat di dalam masyarakat Kota Sabang.
METODE
Metode Penelitian
Pengkajian data dalam penelitian ini bersifat kualitatif verifikatif yang akan dituangkan dalam bentuk uraian. Penelitian kualitatif verifikatif merupakan sebuah upaya pendekatan induktif terhadap seluruh proses penelitian yang akan dilakukan. Bungin (2010:70) format penelitian kualitatif verifikatif lebih banyak mengkonstruksi format penelitian dan strategi memperoleh data di lapangan sehingga format penelitiannya menganut model induktif (atau dari khusus ke umum).
Penelitian kualitatif sangat bagus dilakukan untuk mengkaji berbagai
fenomena sosial atau kemanusiaan yang terjadi di dalam masyarakat. Penelitian
ini juga identik dengan menceritakan berbagai kejadian-kejadian atau temuan-
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
ISBN 978-979-99002-6-5 Page 13
temuan yang didapatkan di lapangan dan dituangkan dalam bentuk kata-kata yang disusun melalui paragraf di dalam tulisan ilmiah. Acuan dalam penelitian ini dengan menggunakan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu oleh peneliti sebelum melakukan penelitian di lapangan.
Teknik Pengumpulan Data
Studi Kepustakaan Library research (penelitian kepustakaan), yaitu penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan literarur (kepustakaan), baik berupa buku, catatan, maupun laporan hasil penelitian dari penelitian terdahulu (Bungin, 2010:11). Menurut Sarwono (2010:34) “studi kepustakaan (literature) merupakan suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti dengan menelaah teori-teori, pendapat-pendapat, serta pokok-pokok pikiran yang terdapat dalam media cetak, khususnya buku-buku yang menunjang dan relevan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian”.
Dalam memecahkan masalah pada makalah ini literature yang digunakan berasal dari buku-buku, jurnal ilmiah dan dari sumber-sumber yang terdapat di internet serta relevan dengan materi pembahasan pada judul makalah ini. Teknik ini digunakan dengan menelaah sejumlah literatur atau buku-buku penunjang yang berkaitan dengan masalah yang diteliti guna memperdalam masalah yang akan diteliti penulis sebelum mengadakan penelitian ke lapangan.
a) Studi Dokumentasi
Bungin (2010:121) Studi dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan dalam metodologi penelitian sosial untuk menelusuri data historis yang berbentuk surat, catatan harian, laporan dan lain sebagainya. Dapat disimpulkan yaitu teknik ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data yang berisi tentang deskripsi-deskripsi, penjelasan-penjelasan, daftar-daftar, contoh- contoh, objek dari sistem informasi yang didapatkan selama penelitian dilakukan di lapangan oleh peneliti.
Oleh karena itu, peneliti haruslah mencatat semua temuan yang didapatkan di lapangan, jangan sampai ada informasi yang lupa dicatat atau ada informasi yang hilang. Karena informasi tersebut sangat berharga sebagai data primer yang dibutuhkan dalam penelitian. Yang mana informasi tersebut juga dapat dimanfaatkan ketika pengolahan data dilakukan oleh peneliti, dan nantinya data tersebut akan dimuat pada makalah, laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi, dan jurnal.
b) Observasi Parsipatori
Menurut Bungin (2010:115) mengatakan metode observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan. Dapat disimpulkan observasi adalah cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.
Observasi yang baik adalah observasi yang menggunakan alat bantu untuk
mendokumentasikan segala temuan yang didapatkan di lapangan. Jadi, apabila
hendak melakukan observasi , maka peneliti sudah siap dengan berbagai alat-alat
dokumentasi yang diperlukan sesuai kebutuhan dalam melakukan penelitian
seperti kamera, handycam dan sebagainya.
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
ISBN 978-979-99002-6-5 Page 14
c) Wawancara Mendalam
Wawancara (interview) adalah pelaksanaan kuesioner secara lisan dan pribadi dengan setiap anggota sampel. Karena itu pewawancara (peneliti) harus mempunyai pedoman tertulis yang menunjukkan apa pertanyaan yang diajukan, bagaimana urutannya dan apa pertanyaan tambahan atau pertanyaan pendalaman yang diperlukan (Sianipar, 2007:154).
Jadi, semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi.
Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara tanya jawab yang dikerjakan dengan sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian. Pada umumnya dua orang atau lebih hadir secara fisik dalam proses tanya jawab dan masing-masing pihak dapat menggunakan saluran-saluran komunikasi secara wajar dan lancar.
Dalam melakukan wawancara, diperlukan kemampuan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan secara tajam, halus dan tepat, serta kemampuan untuk menangkap buah pikiran orang lain dengan tepat dan cepat.
Bila pertanyaan disalahtafsirkan, pewawancara harus mampu merumuskannya dengan kata-kata lain yang yang lebih dapat dimengerti oleh intervewee.
Subjek Penelitian
Subjek Penelitian adalah sesuatu, baik orang, benda ataupun lembaga yang sifat atau keadaannya akan diteliti. Subjek penelitian terdiri dari pihak-pihak yang berdasarkan pertimbangan peneliti dinilai memiliki kapasitas yang tepat dalam arti subjek penelitian atas bertindak sebagai informan penelitian memiliki kualitas dan ketepatan sebagai subjek penelitian yang representatif sesuai dengan tuntutan karakteristik masalah (Bungin, 2010:107)
Dalam penelitian kualitatif subyek penilitian dikenal dengan istilah informan. Akan tetapi, jikalau di dalam penelitian kuantitatif subyek penelitian dikenal dengan istilah populasi dan sampel. Nah, adapun subjek dalam penelitian ini adalah ketua adat. kepala pemerintahan, masyarakat dan wisatawan.
Teknik Analisis Data
Setelah mendapatkan data yang diperlukan bagi penelitian ini, data yang diperoleh akan dianalisis terlebih dahulu agar bisa dimanfaatkan secara maksimal.
Analisis data lebih difokuskan selama proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulan data, dalam hal ini menggunakan analisis data induktif yang merujuk pada proses. Bungin (2010:145) menyebutkan tahapan dalam analisis induktif adalah sebagai berikut:
Melakukan pengamatan terhadap fenomena sosial, melakukan identifikasi, revisi-revisi, dan pengecekan ulang tehadap data yang ada.
1. Melakukan kategorisasi terhadap data yang diperoleh.
2. Menelusuri dan menjelaskan kategorisasi.
3. Menarik kesimpulan-kesimpulan umum.
4. Membangun atau menjelaskan teori.
5. Kemudian, model interaktif dalam analisis data adalah, sebagai
berikut:
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
ISBN 978-979-99002-6-5 Page 15
Reduksi Data
Data yang diperoleh di lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu harus dicatat secara teliti dan rinci. Setelah itu diperlukan analisis data dengan menggunakan reduksi data. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sugiyono (2012:339) mengatakan bahwa mereduksi data adalah merangkum memilih hal- hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting.
Display Data
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data atau menyajikan data yang didapat. Menurut Sugiyono (2012:341) dalam penelitian kualitatif, penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, chart dan sejenisnya. Data yang sudah didapatkan selanjutnya akan ditampilkan di laporan penelitian dan sebagainya.
Conclusion Drawing/Verification
Pengambilan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan sehingga diharapkan dapat menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan pada bagian awal, terkadang juga tidak, hal tersebut sesuai dengan pendapat Sugiyono (2012:345) mengatakan bahwa karena masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada di lapangan.
Rencana Pengujian Keabsahan Data
Validasi data penelitian merupakan tahapan penting dalam penelitian kualitatif dengan tujuan untuk membuktikan bahwa apa yang diteliti dan apa yang dijelaskan oleh peneliti sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan. Untuk tujuan tersebut, dalam penelitian ini dilakukan pengujian keabsahan data. Berikut rencana pengujian keabsahan data:
Triangulasi
Menurut Kuntjara (2009:96) triangulasi adalah pengumpulan informasi dari berbagai tempat dan individu dengan menggunakan berbagai cara, hal ini dapat mengurangi resiko. Teknik triangulasi adalah teknik untuk memeriksa kebenaran suatu data yang memanfaatkan sesuatu di luar data tersebut dengan tujuan untuk pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang sudah didapatkan.
Selanjutnya, Menurut Bungin (2010:256) pelaksanaan teknik dari pengujian keabsahan data ini meliputi:
1. Triangulasi Kejujuran Hati
Cara ini dilakukan untuk menguji kejujuran, subjektivitas peneliti di
lapangan, dan kemampuan merekam data oleh peneliti di lapangan.
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
ISBN 978-979-99002-6-5 Page 16
2. Triangulasi dengan sumber data
Dilakukan dengan membandingkan dan mengecek baik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan cara yang berbeda.
3. Triangulasi dengan metode
Triangulasi ini diadakan untuk melakukan pengecekan terhadap penggunaan metode pengumpulan data apakah informasi yang didapat dengan interview sama dengan metode observasi atau apakah hasil observasi sesuai dengan informasi ketika interview.
4. Triangulasi dengan Teori.
Jadi, di dalam triangulasi data ini dilakukan berbagai proses pengecekan data yang didapatkan di lapangan dengan data yang benar dan akurat yang didapatkan dari sumber yang dijamin kebenarannya.
5. Meningkatkan Ketekunan
Penelitian ini juga melakukan peningkatan ketekunan yang berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan untuk mendapatkan kepastian. Karena data yang pasti akan membuat hasil penelitian lebih bagus dari pada data yang didapatkan dengan tidak pasti. Sehingga berpengaruh terhadap tingkat keakuratan data, data yang baik adalah data yang memiliki tingkat keakuratan data yang tinggi. Dan sebaliknya data yang tidak baik yaitu data yang memiliki tingkat keakuratan data yang rendah.
6. Mengadakan Member Cek
Sugiyono (2010: 375) menjelaskan bahwa member cek adalah proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data. Pengecekan terhadap hasil-hasil yang diperoleh bertujuan untuk perbaikan dan tambahan dengan kemungkinan kekeliuran atau kesalahan dalam memberikan data yang dibutuhkan. Caranya dengan memberikan laporan tertulis mengenai wawancara yang telah dilakukan untuk dibaca oleh responden agar diperbaiki yang salah atau menambahkan data yang belum lengkap.
7. Menggunakan Bahan Referensi
Bahan referensi dalam hal ini berperan sebagai pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti. Bahan referensi bisa diidapatkan dari hasil penelitian sebelumnya, atau dari berbagai sumber lainnya yang dapat dijadikan sebagai referensi yang dapat dipercaya.
DISKUSI
Gambaran umum Kota Sabang
Kota Sabang terletak antara 5º46’28” hingga 5º54’28’’ LU. Dan 95º13’12”
hingga 95º22’36” BT dengan ketinggian rata-rata 28 MDPL. Wilayahnya terdiri dari lima pulau, yaitu: Pulau Weh (Sabang), Pulau Rondo, Pulau Rubiah, Pulau Ceulako Pulau Klah dan 1 (satu) danau Aneuk Laot. Wilayah Kota Sabang merupakan daerah kepulauan, maka secara geologis hampir seluruh daratannya (yaitu 98,57 persen) berupa batuan, baik berupa batuan vulkanis dan batuan aluvial. Adapun batas-batas wilayahnya yaitu: (BPS 2015,5).
1. Utara berbatasan dengan Selat Malaka.
2. Timur berbatasan dengan Selat Malaka.
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
ISBN 978-979-99002-6-5 Page 17
3. Selatan berbatasan dengan Laut Andaman.
4. Barat berbatasan dengan Laut Andaman.
Luas wilayah Kota Sabang secara keseluruhan mencapai 122,14 Km².
Secara administratif Kota Sabang dibagi dalam 2 (dua) kecamatan yaitu Kecamatan Sukajaya dan Kecamatan Sukakarya, kemudian dengan 18 (delapan belas) desa secara keseluruhan, 72 (tujuh puluh dua) lingkungan, dan 7 (tujuh) mukim. Pada tahun 2014, tekanan udara di Kota Sabang mencapai 1012,4 MB ini terjadi di bulan Januari, sedangkan untuk suhu tertinggi terjadi pada bulan Mei, dimana dengan ketinggian suhu mencapai 28,4 ºC (BPS 2015,5).
Berdasarkan BPS (2015,5) Topografis wilayah Kota Sabang terdiri dari: ± 14,10% dataran sangat curam, ± 48,17% bergunung, ± 31,17% bergelombang, ± 6,03% landai sampai datar. Kemudian, jika ditinjau dari segi geologis wilayah terdiri dari: ± 0,86% batuan aluvial, ± 97,71% batuan vulkanik, ± 1,43% tidak ada data.
Pertumbuhan jumlah penduduk Kota Sabang tahun 2014 sebesar 1,70 persen yaitu dari 32.191 jiwa pada tahun 2013 menjadi 32.739 jiwa pada tahun 2014 dengan kepadatan penduduk sekitar 268 jiwa/km². Penduduk Kota Sabang pada tahun 2014 terdiri dari 16.713 laki-laki dan 16.026 perempuan, sehingga rasio jenis kelaminnya adalah sebesar 104. Jika dirinci menurut kecamatan, sebanyak 16.565 jiwa tinggal di Kecamatan Sukajaya dan sisanya 16.174 jiwa tinggal di Kecamatan Sukakarya (BPS, 2015:37).
Beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan jumlah penduduk adalah kelahiran, kematian dan migrasi atau perpindahan penduduk itu sendiri. Tahun 2014 di Kota Sabang terdapat 136 kelahiran yang tercatat pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (DISDUKCAPIL) Kota Sabang. Sedangkan jumlah kematian yang tercatat sebanyak 232 jiwa. Bukan hanya pribumi, di Sabang juga banyak terdapat warga asing yang menetap atau tinggal sementara.
Terbukti sebanyak 108 warga asing yang memperpanjang visanya (BPS, 2015:37).
Penduduk Sabang terdiri dari berbagai macam suku, agama dan budaya yang hidup berdampingan dengan rukun. Mayoritas penduduk Sabang beragama Islam, oleh karena itu dapat ditemui 90 mesjid dan meunasah yang digunakan untuk beribadah umat Islam. Sedangkan gereja untuk umat Katolik ada 1 (satu) buah, begitu juga gereja protestan dan klenteng, masing-masing ada 1 (satu) buah (BPS, 2015:56).
Kota Sabang selain terkenal dengan julukan Nol Kilometer Indonesia juga
dikenal dengan memiliki pemandangan yang indah dan taman laut yang
mengundang decak kagum. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pada tahun
2014 tak kurang dari 3.624 wisatawan asing dan 512.992 wisatawan domestik
berkunjung ke Sabang. Berikut akan ditampilkan destinasi wisata yang ada di
Kota Sabang (BPS, 2015:56).
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
ISBN 978-979-99002-6-5 Page 18
Gambar 1. Peta Kota Sabang
Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang
Kearifan lokal masyarakat Kota Sabang dalam menjaga ekosistem
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan informan dan berasal dari latar belakang pekerjaan yang berbeda-beda (heterogen) serta dengan latar belakang tempat tinggal yang berbeda-beda (akan tetapi dapat dipastikan masih berada di sekitaran wilayah Kota Sabang) dengan perbedaan umur yang berbeda-beda (rentang umur informan mulai dari 25 tahun sampai 55 tahun). Serta dengan beberapa wisatawan yang berasal dari luar Kota Sabang, luar Provinsi Aceh dan bahkan ada yang dari wisatawan mancanegara.
Maka diperolehlah kesimpulan jawaban yang sudah dirangkum yaitu,
sebagai berikut: seluruh informan menjawab “seluruh informan mengetahui
tentang keberadaan kearifan lokal dalam menjaga ekosistem yang berada di Kota
Sabang.” Selanjutnya, seluruh informan juga menjawab “sangat setuju dengan
adanya kearifan lokal tersebut, dan juga respon atau tanggapan sangatlah positif
untuk dijalankan dengan baik”.
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
ISBN 978-979-99002-6-5 Page 19
Gambar 2. Bentuk Papan Pengumuman yang dipasang di Kota Sabang Sumber: Dokumen Pribadi
Gambar 3. Bentuk Papan Pengumuman yang dipasang di Kota Sabang Sumber: Dokumen Pribadi
Gambar 4. Bentuk Papan Pengumuman yang dipasang di Kota Sabang Sumber: Dokumen Pribadi
Prosiding Seminar Lingkungan Hidup 2016
ISBN 978-979-99002-6-5 Page 20
Gambar 5. Bentuk Papan Pengumuman yang dipasang di Kota Sabang Sumber: Dokumen Pribadi
Gambar 6. Bentuk Papan Pengumuman yang dipasang di Kota Sabang Sumber: Dokumen Pribadi
Gambar 7. Bentuk Papan Pengumuman yang dipasang di Kota Sabang Sumber: Dokumen Pribadi