PENGENALAN VISUAL BASIC
Visual Basic adalah bahasa pemograman tingkat tinggi GUI (General User
Interface) dimana pengguna computer berkomunikasi dengan computer tersebut
menggunakan gambar/grafik.
Salah satu cara untuk mengaktifkan Visual Basic adalah menjalankannya dari Menu Start, pilih Microsoft Visual Basic 6.0 dan akhirnya pilih shortcut Microsoft Visual Basic 6.0. Setelah itu pilihlah Standard EXE, kemudian klik pada tombol Open. Maka akan muncul gambar dibawah ini:
Menu Bar berisi daftar menu dan perintah yang bisa digunakan dalam Visual Basic, kemudian Main Toolbar berisi perlengkapan dan fasilitas yang terdapat di Visual Basic, Toolbox berisi tools-tools yang sering digunakan dalam membuat program dalam Visual Basic tools ini bisa ditambah atau dikurangi sesuai kebutuhan, Project Explorer adalah window yang berisi nama project nama-nama form dan digunakan untuk menambah dan mengurangi form, Properties Window digunakan untuk memodifikasi form atau objek yang aktif. Dibawah ini kita akan membahas beberapa tools yang kita gunakan dalam praktikum ini:
1. Label : Kontrol yang digunakan untuk menampilkan teks yang tidak
Menu Bar Main Toolbar Project Explorer Toolbox Properties Window Form Window Code Window
3. Command Button : Untuk membuat sebuah tombol pelaksana perintah.
4. Line : Untuk menggambar garis.
5. MaskEdBox : Untuk membuat kotak inputan.
Cara Menambahkan Maskedbox Pada Toolbox 1. Klik kanan pada toolbox yang kosong.
2. Setelah itu pilih Components, cari dan beri tanda ceklis pada Microsoft Masked Edit Control 6.0.
3. Setelah itu klik Apply lalu klik Ok.
Keterangan :
Input merupakan tempat memasukkan data.
Proses adalah inputan terakhir sebelum menghasilkan output (tempat memasukkan koding).
Output adalah hasil yang didapat dari koding yang sudah dimasukkan dalam proses. MB 1 MB 2 MB 3 MB 4 MB 5 MB 6 Input Proses MB 7 Output
Cara mengganti nama pada Maskedbox, yaitu : 1. Klik pada maskedbox yang ingin diganti namanya
2. Pada properties “Name” ganti MaskedBox1 dengan nama PersediaanBDPAwal
Logika memasukkan koding untuk contoh diatas, yaitu :
1. Untuk memulainya klik 2x pada proses yang pertama (MaskedBox2)
2. Ganti change pada pojok kanan atas menjadi LostFocus.
3. Setelah itu masukkan koding pada proses 1 yaitu pada Biaya Produksi. BarangDalamProses = Val(PersediaanBDPAwal) + Val (BiayaProduksi)
BAB I
HARGA POKOK PRODUKSI
A. Definisi Harga Pokok Produksi
Harga Pokok Produksi adalah penjumlahan seluruh pengorbanan sumber ekonomi yang digunakan dalam pengolahan bahan baku menjadi produk.
Suatu perusahaan perlu menentukan harga pokok produksi yang dihasilkan, karena harga pokok itu merupakan salah satu faktor yang ikut memengaruhi penentuan harga jual dasar penentuan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan pengolahan perusahaan.
Harga pokok produksi juga digunakan untuk menentukan besarnya keuntungan yang diperoleh suatu perusahaan.Suatu harga dapat diketahui jumlahnya dari jumlah biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memproduksi suatu produk tersebut.
Perhitungan harga pokok produksi di mulai dengan menjumlahkan biaya-biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik, sehingga diperoleh total biaya yang dibebankan pada pekerjaan pada setiap periode.
Untuk menghitung harga pokok produksi secara tepat dan teliti, maka biaya yang harus dikeluarkan harus diklasifikasi menurut aliran-aliran biaya itu sendiri. Di dalam akuntansi yang konvensional komponen harga pokok produksi terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.
B. Komponen Biaya Harga Pokok Produksi
Komponen biaya produksi dimulai dengan menghubungkan biaya ke tahap yang berbeda dalam operasi suatu bisnis, total biaya produksi terdiri dari dua elemen yaitu, biaya manufaktur dan biaya komersial.
Biaya manufaktur dapat disebut juga biaya produksi atau biaya pabrik, biasanya didefinisikan sebagai jumlah dari tiga elemen biaya, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Biaya bahan baku sering disebut juga sebagai biaya utama (prime cost), sedangkan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik disebut sebagai biaya konversi.
Sedangkan biaya komersial adalah biaya yang timbul diluar dari kegiatan produksi seperti biaya pemasaran dan biaya administrasi dan umum.
Berikut penjelasan mengenai biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik:
1. Biaya Bahan Baku
Biaya ini timbul karena adanya pemakaian bahan baku. Biaya bahan baku merupakan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi untuk membuat barang atau produk. Biaya bahan baku merupakan bagian dari harga pokok barang jadi yang akan dibuat.
2. Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya ini timbul karena pemakaian tenaga kerja yang dipergunakan untuk mengolah bahan menjadi barang jadi.Biaya tenaga kerja langsung merupakan gaji dan upah yang diberikan kepada tenaga kerja yang terlibat langsung dalam pengolahan barang.
3. Biaya Overhead Pabrik
Biaya ini timbul akibat pemakaian fasilitas untuk mengolah barang berupa mesin, alat-alat, tempat kerja dan kemudahan lain. Dalam kenyataannya dan sesuai dengan label tersebut, kemudian biaya overhead pabrik adalah biaya-biaya selain dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
CONTOH KASUS
HARGA POKOK PRODUKSI
PT. COVENANT bergerak di bidang pembuatan Bantal Illustrator. Pada bulan April 2016 perusahaan memproduksi 250 unit bantal robot dengan harga Rp. 250.000 Per unit. Dengan data sebagai berikut :
a. Pembelian bahan baku Rp 4.500.000, dan bahan penolong 25% dari pembelian bahan baku.
b. Ongkos angkut pembelian Rp. 100.000.
c. Potongan pembelian 3% dari pembeli bahan baku langsung.
d. Perusahaan menggaji 20 orang karyawan dengan gaji Rp 400.000 Per bulan dan seorang manajer sebesar Rp 1.000.000.
e. Perusahaan mengeluarkan biaya listrik pabrik Rp 450.000, biaya penyusutan pabrik Rp 250.000, biaya asuransi pabrik Rp 150.000, biaya lain-lain Rp 230.000.
f. Biaya administrasi dan umum sebesar Rp 1.250.000, biaya pemasaran Rp 870.000. g. Pajak sebesar 10%
h. 3,5% dari penjualan adalah potongan penjualan.
Dibawah ini adalah data-data mengenai nilai persediaan perusahaan:
Persediaan (inventory) Awal Akhir
Bahan baku Rp 600.000 Rp 430.000
Barang dalam proses Rp 550.000 Rp 520.000
Barang jadi Rp 800.000 Rp 600.000
Diminta:
1. Hitung besarnya biaya bahan baku! 2. Hitung biaya overhead pabrik! 3. Hitung biaya produksi!
4. Hitung harga pokok produksi! 5. Hitung harga pokok penjualan! 6. Buat laporan laba rugi!
JAWABAN:
1. Hitung Besarnya Biaya Bahan Baku
Persediaan bahan baku awal Rp 600.000
Pembelian bahan baku Rp 4.500.000
Ongkos angkut pembelian Rp 100.000 +
RP 4.600.000
Potongan pembelian Rp 135.000 -
Pembelian bersih Rp 4.465.000 +
Bahan baku siap digunakan Rp 5.065.000
Persediaan bahan baku akhir Rp 430.000 -
Biaya bahan baku Rp 4.635.000
2. Menghitung Besarnya Biaya Overhead Pabrik
Bahan penolong Rp 1.125.000
Biaya tenaga kerja tak langsung Rp 1.000.000
Biaya listrik pabrik Rp 450.000
Biaya asuransi Rp 150.000
Biaya depresiasi pabrik Rp 250.000
Biaya pabrik lain-lain Rp 230.000 +
Biaya Overhead Pabrik Rp 3.205.000
3. Menghitung Besarnya Biaya Produksi
Biaya bahan baku langsung Rp 4.635.000
Biaya tenaga kerja langsung Rp 8.000.000
Biaya overhead pabrik Rp 3.205.000+
Biaya Produksi Rp 15.840.000
4. Menghitung Besarnya Harga Pokok Produksi
5. Menghitung Besarnya Harga Pokok Penjualan
Barang jadi awal Rp 800.000
Harga pokok produksi Rp 15.870.000 +
Barang tersedia untuk dijual Rp 16.670.000
Persediaan barang jadi akhir Rp 600.000 -
Harga Pokok Penjualan Rp 16.070.000
6. Membuat Laporan Laba Rugi
PT. COVENANT INCOME STATEMENT April 2016 Penjualan (250 x Rp 250.000) Rp 62.500.000 Potongan penjualan 3,5% x Rp 62.500.000 Rp 2.187.500 - Penjualan bersih Rp 60.312.500
Harga pokok penjualan Rp 16.070.000 -
Laba kotor Rp 44.242.500
Biaya Usaha :
Biaya pemasaran Rp 870.000
Biaya administrasi dan umum Rp 1.250.000 +
Jumlah beban usaha Rp 2.120.000 -
Laba sebelum pajak Rp 42.122.500
Pajak (10% x Rp 42.122.500) Rp 4.212.250 -
KASUS 1
HARGA POKOK PRODUKSI
PT. Lovely memproduksi 10.000 roti. Dengan harga penjualan bulan Mei 2016 sebesar Rp 8.000/ unit. Dengan data sebagai berikut:
a. Pembelian bahan baku Rp 4.000.000 dan bahan penolong 20% dari pembelian bahan baku
b. Ongkos angkut pembelian Rp 150.000
c. Potongan pembelian 2% dari pembelian bahan baku langsung
d. Perusahaan menggaji 10 orang karyawan dengan gaji Rp 400.000/ bulan dengan seorang kepala toko sebesar Rp 1.500.000
e. Perusahaan mengeluarkan biaya listrik pabrik Rp 400.000, biaya penyusutan Rp 200.000, biaya asuransi Rp 100.000, biaya lain-lain Rp 100.000
f. Biaya admin dan umum sebesar Rp 300.000 dan biaya pemasaran sebesar Rp 100.000
g. Pajak sebesar 10%
h. 3,5% dari penjualan adalah potongan penjualan
Dibawah ini adalah data-data mengenai nilai persediaan perusahaan:
Persediaan (inventory) Awal Akhir
Bahan baku Rp 400.000 Rp 100.000
Barang dalam proses Rp 300.000 Rp 250.000
Barang jadi Rp 450.000 Rp 250.000
Diminta:
1. Hitung besarnya biaya bahan baku! 2. Hitung biaya overhead pabrik! 3. Hitung biaya produksi!
KASUS 2
HARGA POKOK PRODUKSI
PT. Great Awakening bergerak dibidang pembuatan tas. Pada bulan Februari 2015 perusahaan memproduksi 300 unit tas wanita dengan harga Rp. 350.000 Per unit. Dengan data sebagai berikut :
a. Pembelian bahan baku Rp 4.000.000, dan bahan penolong 15% dari pembelian bahan baku.
b. Ongkos angkut pembelian Rp 300.000.
c. Potongan pembelian 2,5% dari pembeli bahan baku langsung.
d. Perusahaan menggaji 20 orang karyawan dengan gaji Rp 500.000 Per bulan dan seorang manajer sebesar Rp 1.400.000.
e. Perusahaan mengeluarkan biaya listrik pabrik Rp 550.000, biaya penyusutan pabrik Rp 300.000, biaya asuransi pabrik Rp 150.000, biaya lain-lain Rp 250.000.
f. Biaya administrasi dan umum sebesar Rp 1.100.000, biaya pemasaran Rp 900.000. g. Pajak sebesar 10%.
h. 5% dari penjualan adalah potongan penjualan.
Dibawah ini adalah data data mengenai nilai persediaan perusahaan :
Persediaan (inventory) Awal Akhir
Bahan baku Rp 700.000 Rp 300.000
Barang dalam proses Rp 600.000 Rp 400.000
Barang jadi Rp 800.000 Rp 600.000
Diminta :
1. Hitung besarnya biaya bahan baku! 2. Hitung biaya overhead pabrik! 3. Hitung biaya produksi! 4. Hitung harga pokok produksi! 5. Hitung harga pokok penjualan! 6. Buat laporan laba rugi!
FORM 1
BAB II
HARGA POKOK PESANAN (JOB ORDER COSTING)
A. Definisi Harga Pokok Pesanan
Harga pokok pesanan (job order costing) adalah cara perhitungan harga pokok produksi untuk produk yang dibuat berdasarkan pesanan.
B. Karekteristik Usaha Perusahaan yang produksinya Berdasarkan Pesanan
1. Proses pengolahan produk terjadi secara terputus – putus. Jika pesanan yang satu selesai dikerjakan, proses produksi mulai dihentikan dan mulai dengan pesanan berikutnya.
2. Produk dihasilkan sesuai dengan spesifikasinya yang ditentukan oleh pesanan yang satu dapat berbeda dengan pesanan yang lain.
3. Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan, bukan untuk memenuhi persediaan di gudang.
C. Ciri Khusus Harga Pokok Pesanan
1. Tujuan produksi perusahaan adalah untuk melayani pesanan pembeli yang bentuknya tergantung pada spesifikasi pesanan, sehingga sifat produksinya terputus-putus dan setiap pesanan dapat dipisahkan identitasnya secara jelas. 2. Biaya produksi dikumpulkan untuk setiap pesanan dengan tujuan dapat dihitung
harga pokok pesanan dengan relative teliti dan adil. 3. Biaya produksi dibagi menjadi dua jenis yaitu:
a. Biaya Langsung (direct cost) meliputi biaya bahan baku (raw material) dan biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost) yang dihitung berdasarkan biaya sebenarnya.
b. Biaya tidak langsung (indirect cost) meliputi biaya produksi diluar biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja tidak langsung yang dihitung berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka.
6. Untuk mengumpulkan biaya produksi masing-masing pesanan, dipakai kartu harga pokok pesanan (job order cost method).
D. Manfaat Informasi Harga Pokok Pesanan
1. Menentukan Harga yang akan dibebankan kepada pemesan 2. Mempertimbangkan penerimaan atau penolakan pesanan 3. Memantau realisasi produksi
4. Menghitung laba atau rugi tiap pesanan
5. Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang disajikan dalam neraca.
E. Menentukan Harga Jual yang Akan Dibebankan Kepada Pemesan
Harga jual yang dibebankan kepada pemesan ditentukan oleh besarnya biaya produksi yang akan dikeluarkan untuk memproduksi pesanan, dengan formula sebagai berikut :
Biaya produksi untuk pesanan Rp xxx
Biaya non produksi yang dibebankan kepada pemesan Rp xxx +
Total biaya pesanan /HP produk Rp xxx
Laba yang diinginkan Rp xxx +
Harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan Rp xxx
Untuk menghitung biaya produksi suatu pesanan dihitung sebagai berikut :
Biaya bahan baku Rp xxx
Biaya tenaga kerja langsung Rp xxx
Biaya overhead pabrik Rp xxx +
Biaya produksi Rp xxx
F. Mempertimbangkan Penerimaan atau Penolakan Pesanan
Untuk pengambilan keputusan, manajemen memerlukan informasi total harga pokok produksi pesanan yang bertujuan memberi perlindungan bagi manajemen agar dalam menerima pesanan tidak mengalami kerugian. Cara perhitungannya sebagai berikut :
Biaya produksi pesanan :
Taksiran biaya bahan baku Rp xxx
Taksiran biaya tenaga kerja langsung Rp xxx
Taksiran biaya overhead pabrik Rp xxx +
Total taksiran biaya produksi Rp xxx
Biaya non produksi : Taksiran biaya adm & umum Rp xxx
Taksiran biaya pemasaran Rp xxx +
Taksiran total biaya non produksi Rp xxx +
Total taksiran harga pokok pesanan Rp xxx
G. Memantau Realisasi Biaya Produksi
Akuntansi biaya digunakan untuk mengumpulkan informasi biaya produksi tiap pesanan yang diterima. Hal ini digunakan untuk memantau apakah proses produksi untuk memenuhi pesanan tersebut menghasilkan total biaya produksi pesanan sesuai dengan yang diperhitungkan sebelumnya. Cara perhitungannya sebagai berikut :
Biaya bahan baku sesungguhnya Rp xxx
Biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya Rp xxx
Biaya overhead pabrik Rp xxx +
Total biaya produksi sesungguhnya Rp xxx
H. Menghitung Laba atau Rugi Tiap Pesanan
Informasi laba atau rugi bruto tiap pesanan diperlukan untuk mengetahui kontribusi tiap pesanan dalam menutup biaya non produksi dan menghasilkan laba atau rugi, yang dihitung sebagai berikut :
Harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan Rp xxx
Biaya produksi pesanan tertentu:
Biaya bahan baku Rp xxx
Biaya tenaga kerja langsung Rp xxx
I. Menentukan Harga Pokok Persediaan Produk Jadi dan Produk Dalam Proses yang Disajikan Dalam Neraca
Biaya yang melekat pada pesanan yang selesai diproduksi namun belum diserahkan kepada pemesan pada tanggal neraca, disajikan dalam neraca sebagai harga pokok persediaan produk jadi. Biaya yang melekat pada pesanan yang belum selesai pada tanggal neraca, disajikan dalam neraca sebagai harga pokok persediaan produk dalam proses.
CONTOH KASUS
HARGA POKOK PESANAN (JOB ORDER COSTING)
JUNIOR COLLECTION menerima pesanan dengan nomor JC0406 untuk membuat 2000 PAKAIAN PRIA yang akan diselesaikan selama 30 hari. Proses produksi dilakukan melalui 3 departemen, yaitu departemen A adalah depertemen pemotongan bahan baku, Departemen B adalah Departemen Penjahitan dan Departemen C adalah departemen penyelesaian. Berikut ini informasi yang dibutuhkan :
Bahan baku utama Rp 600.000/jam TKL
Bahan baku tambahan Rp 200.000/jam TKL
KETERANGAN DEPT. A DEPT. B DEPT. C
Jumlah jam TKL 1.500 jam 2.500 jam 4.500 jam
Upah langsung Rp. 15.000 / jam Rp. 10.000 / jam Rp. 5.000 / jam
Jam mesin yang digunakan 2.000 jam 4.000 jam 3.000 jam
Perencanaan BOP pertahun untuk Departemen A sebesar Rp. 400.000.000 dengan kapasitas yang direncanakan 40.000 jam TKL, Departemen B sebesar Rp.200.000.000 dengan kapasitas yang direncanakan 20.000 JM, dan Departemen C sebesar Rp. 100.000.000 dengan kapasitas direncanakan 25.000 JM. Harga jual per unit 20 % dari total biaya produksi per unit.
Diminta :
1. Hitung total harga pokok produksi 2. Hitung harga jual
JAWABAN:
1. MENGHITUNG TOTAL HARGA POKOK PRODUKSI BBB Utama : Rp 600.000 x 1.500 = Rp 900.000.000 Tambahan : Rp 200.000 x 1.500 = Rp 300.000.000 + Total BBB Rp 1.200.000.000 BTK Dept A : 1.500 x Rp 15.000 = Rp 22.500.000 Dept B : 2.500 x Rp 10.000 = Rp 25.000.000 Dept C : 4.500 x Rp 5.000 = Rp 22.500.000+ Total BTK Rp 70.000.000
BOP Tarif dept A : Rp 400.000.000/40.000 = Rp 10.000/jam Tarif dept B : Rp 200.000.000/20.000 = Rp 10.000/jam Tarif dept C : Rp 100.000.000/25.000 = Rp 4.000/jam
BOP dept A : Rp 10.000 x 2.000 = Rp 20.000.000 BOP dept B : Rp 10.000 x 4.000 = Rp 40.000.000 BOP dept C : Rp 4.000 x 3.000 = Rp 12.000.000+
Total BOP Rp 72.000.000+
Jumlah Harga Pokok Produksi Rp 1.342.000.000
2. MENGHITUNG HARGA JUAL PER UNIT
3. KARTU HARGA POKOK PESANAN
JUNIOR COLLECTION JL. Hebras Tambun Selatan
Telp : (021) 88352952
JOB ORDER COST SHEET
ORDER NO : JC 0406 To : Adi S
Production : Pakaian Pria Quantity : 2.000 Unit
Character : Directly Date : 04/06/2014
Subscription
1. Raw Material Cost
Prime Rp 900.000.000 Addition Rp 300.000.000
Total Cost Rp 1.200.000.000
2. Direct Labor Cost
Dept A : 1.500 x Rp 15.000 = Rp 22.500.000 Dept B : 2.500 x Rp 10.000 = Rp 25.000.000 Dept C : 4.500 x Rp 5.000 = Rp 22.500.000+
Total Cost Rp 70.000.000
3. Factory Overhead Cost
Dept A : Rp 10.000 x 2.000 = Rp 20.000.000 Dept B : Rp 10.000 x 4.000 = Rp 40.000.000 Dept C : Rp 4.000 x 3.000 = Rp 12.000.000+
Total BOP Rp 72.000.000 +
KASUS 1
HARGA POKOK PESANAN (JOB ORDER COSTING)
TAQQIYA SHOP menerima pesanan dengan nomor QQ1081 untuk membuat 4000 Boneka Frozen yang akan diselesaikan selama 30 hari. Proses produksi dilakukan melalui 3 departemen, yaitu departemen A adalah depertemen pemotongan bahan baku, Departemen K adalah Departemen Penjahitan dan Departemen U adalah departemen penyelesaian. Berikut ini informasi yang dibutuhkan :
Bahan baku utama Rp 800.000/jam TKL
Bahan baku tambahan Rp 400.000/jam TKL
KETERANGAN DEPT. A DEPT. K DEPT. U
Jumlah jam TKL 2.000 jam 4.000 jam 6.000 jam
Upah langsung Rp. 40.000 / jam Rp. 20.000 / jam Rp. 10.000 / jam
Jam mesin yang digunakan 4.000 jam 10.000 jam 8.000 jam
Perencanaan BOP pertahun untuk Departemen A sebesar Rp. 600.000.000 dengan kapasitas yang direncanakan 60.000 jam TKL, Departemen K sebesar Rp.400.000.000 dengan kapasitas yang direncanakan 50.000 JM, dan Departemen U sebesar Rp. 200.000.000 dengan kapasitas direncanakan 40.000 JM. Harga jual per unit 40 % dari total biaya produksi per unit.
Diminta :
1. Hitung total harga pokok produksi 2. Hitung harga jual
KASUS 2
HARGA POKOK PESANAN (JOB ORDER COSTING)
CAYANK SHOP menerima pesanan dengan nomor KRR108 untuk membuat 4000 Boneka Doraemon yang akan diselesaikan selama 30 hari. Proses produksi dilakukan melalui 3 departemen, yaitu departemen I adalah depertemen pemotongan bahan baku, Departemen N adalah Departemen Penjahitan dan Departemen D adalah departemen penyelesaian. Berikut ini informasi yang dibutuhkan :
Bahan baku utama Rp 800.000/jam TKL
Bahan baku tambahan Rp 450.000/jam TKL
KETERANGAN DEPT. I DEPT. N DEPT. D
Jumlah jam TKL 2.500 jam 4.500 jam 5.500 jam
Upah langsung Rp. 25.000 / jam Rp. 20.000 / jam Rp. 15.000 / jam
Jam mesin yang digunakan 4.000 jam 8.000 jam 6.000 jam
Perencanaan BOP pertahun untuk Departemen I sebesar Rp. 500.000.000 dengan kapasitas yang direncanakan 50.000 jam TKL, Departemen N sebesar Rp.250.000.000 dengan kapasitas yang direncanakan 25.000 JM, dan Departemen D sebesar Rp. 150.000.000 dengan kapasitas direncanakan 30.000 JM. Harga jual per unit 40 % dari total biaya produksi per unit.
Diminta :
1. Hitung total harga pokok produksi 2. Hitung harga jual
BAB III
HARGA POKOK PROSES (PROCESS COSTING)
A. Definisi Harga Pokok Proses
Harga pokok proses (process costing) merupakan metode perhitungan harga pokok produk yang berdasarkan kepada pengumpulan biaya – biaya produksi dalam satu periode tertentu dibagi dengan jumlah unit produksi periode yang bersangkutan.
B. Ciri – Ciri Perusahaan menggunakan Harga Pokok Proses 1. Proses produksinya berlangsung sacara terus – menerus. 2. Produk yang dihasilkan bersifat produk standar.
3. Tujuan produksi adalah untuk persediaan yang selanjutnya untuk dijual. 4. Tidak tergantung kepada spesifikasi pembeli.
Contoh : Perusahaan pabrik kertas, semen, pupuk, textile.
C. Manfaat Informasi Harga Pokok Proses 1. Penentuan harga jual produk yang tepat 2. Memantau realisasi biaya produksi
3. Menghitung laba/rugi per periodik secara transparan
4. Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang disajikan dalam neraca.
D. Cara Menentukan Harga Pokok Produk pada Metode Harga Pokok Proses 1. Mengumpulkan data produksi setiap produk dalam periode tertentu untuk
menyusun laporan produksi dan menghitung produksi ekuivalen dan harga pokok satuan.
2. Mengumpulkan biaya bahan, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik untuk setiap jenis produk dalam periode tertentu.
3. Menghitung harga pokok satuan setiap elemen biaya, yaitu jumlah elemen biaya tertentu dibagi produksi ekuivalen dari elemen biaya yang bersangkutan.
4. Menghitung harga pokok produk selesei yang dipindahkan ke gudang atau ke departemen berikutnya dan menghitung harga pokok produk dalam proses akhir.
CONTOH KASUS
HARGA POKOK PROSES
PT. Butterfly mengolah produknya melalui 2 departemen yaitu departemen A dan B, dimana perusahaan ini menggunakan metode harga pokok proses dalam menentukan harga pokok produk yang dihasilkannya. Data produksi bulan Maret 2015 sebagai berikut:
(dalam unit) Dept. A Dept. B
Jumlah produk masuk proses 45.000 –
(unit started)
Selesai dikirim ke dept.berikut 25.000 –
(finished goods and transferred out)
Diterima dari dept.sebelumnya - 25.000
(unit received)
Selesai dikirim ke gudang - 20.000
(finished goods and tranfered out)
BBB 100%, BK 50% 20.000
BK 60% 5.000
Biaya-biaya produksi untuk bulan Maret 2015 :
Dept. A Dept. B
BBB (raw material cost) 49.500.000 –
BTK (direct labor cost) 28.000.000 21.850.000
BOP (factory overhead) 24.500.000 22.540.000
Data-data lain :
Pada bulan Maret 2015 terjual 15.000 unit dengan harga jual Rp. 20.000, dimana diketahui biaya administrasi dan umumRp. 6.500.000 dan biaya pemasaran Rp. 5.500.000.
JAWABAN:
1.PT. Butterfly
LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI DEPT. A (PRODUCTION COST REPORT DEPT. A)
Maret 2015
Laporan produksi (production report) unit
Jumlah masuk proses (unit started) 45.000
Selesai dikirim ke dept.berikut 25.000
Produk dalam proses akhir (BBB 100%,BK 50%) 20.000 +
Jumlahproduk yang dihasilkan 45.000
Biaya dibebankan di dept. A
Elemen biaya Jumlah Unit ekuivalen HPP/unit
BBB 49.500.000 25.000+(20.000*100%)=45.000 1.100
BTK 28.000.000 25.000+(20.000*50%) = 35.000 800
BOP 24.500.000+ 25.000+(20.000*50%)= 35.000 700 +
102.000.000 2.600
Perhitungan HP produk selesai ditransfer ke dept. B
HP. produk selesai (25.000*2.600) 65.000.000
Perhitungan HP produk dalam proses dept. A BBB = 20.000 * 100% * 1.100 = 22.000.000 BTK = 20.000 * 50% * 800 = 8.000.000 BOP = 20.000 * 50% * 700 = 7.000.000 +
37.000.000 +
PT. Butterfly
LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI DEPT. B (PRODUCTION COST REPORT DEPT. B)
Maret 2015
Laporan produksi (production report) unit
Produk diterima dari dept. A 25.000
Selesai dikirim ke gudang 20.000
Produk dalam proses akhir (BK 60%) 5.000_ +
25.000
Biaya dibebankan di dept. B
Elemen biaya Jumlah Unit ekuivalen HPP/unit
H.P. daridept. A 65.000.000 20.000+(5.000*100%)=25.000 2.600
BTK 21.850.000 20.000+(5.000*60%)=23.000 950
BOP 22.540.000 + 20.000+(5.000*60%)=23.000 _980 _ +
Biaya akumulatif di dept.B 109.390.000 4.530
Perhitungan HP produk
HP produk selesai ditransfer ke gudang ( 20.000 * 4.530) 90.600.000 Perhitungan HP produk dalam proses dept. B
HP daridept. A = 5.000 *2.600 = 13.000.000
BTK = 5.000 * 60% * 950 = 2.850.000
BOP = 5.000 * 60% * 980 = 2.940.000 +
18.790.000 +
2.
PT. Butterfly LAPORAN LABA RUGI
MARET 2015
Penjualan (sales) (15.000 unit *20.000) 300.000.000
Harga pokok penjualan (cost of good sold) (15.000 unit * 4.530) 67.950.000 –
Laba kotor (gross income) 232.050.000
(-) Biaya komersial : (commercial expenses)
Biaya administrasi dan umum 6.500.000
(general and administratif expense)
Biaya pemasaran (marketing expense) 5.500.000 +
12.000.000 –
KASUS 1
HARGA POKOK PROSES
PT. Mandiri Indah mengolah produknya melalui 2 departemen yaitu departemen X dan Y, dimana perusahaan ini menggunakan metode harga pokok proses dalam menentukan harga pokok produk yang dihasilkannya. Data produksi bulan April 2015 sebagai berikut:
(dalam unit) Dept. X Dept. Y
Jumlah produk masuk proses 50.000 –
(unit started)
Selesai dikirim ke dept.berikut 35.000 –
(finished goods and transferred out)
Diterima dari dept.sebelumnya - 35.000
(unit received)
Selesai dikirim ke gudang - 30.000
(finished goods and tranfered out)
BBB 100%, BK 50% 15.000
BK 60% 5.000
Biaya-biaya produksi untuk bulan April 2015 :
Dept. X Dept. Y
BBB (raw material cost) 75.000.000 –
BTK (direct labor cost) 51.000.000 43.200.000
BOP (factory overhead) 38.250.000 36.000.000
Data-data lain :
Pada bulan April 2015 terjual 21.000 unit dengan harga jual Rp. 15.000, dimana diketahui biaya administrasi dan umumRp. 8.500.000 dan biaya pemasaranRp. 5.800.000.
KASUS 2
HARGA POKOK PROSES
PT. Kharisma Indah mengolah produknya melalui 2 departemen yaitu departemen X dan Y, dimana perusahaan ini menggunakan metode harga pokok proses dalam menentukan harga pokok produk yang dihasilkannya. Data produksi bulan Desember 2015 sebagai berikut:
(dalam unit) Dept. X Dept. Y
Jumlah produk masuk proses 130.000 –
(unit started)
Selesai dikirim ke dept.berikut 70.000 –
(finished goods and transferred out)
Diterima dari dept.sebelumnya - 70.000
(unit received)
Selesai dikirim ke gudang - 50.000
(finished goods and tranfered out)
BBB 100%, BK 70% 60.000
BK 70% 20.000
Biaya-biaya produksi untuk bulan April 2015 :
Dept. X Dept. Y
BBB (raw material cost) 143.000.000 –
BTK (direct labor cost) 100.800.000 128.000.000
BOP (factory overhead) 89.600.000 76.800.000
Data-data lain :
Pada bulan Desember 2015 terjual 55.000 unit dengan harga jual Rp. 60.000, dimana diketahui biaya administrasi dan umum Rp. 8.500.000 dan biaya pemasaranRp. 7.500.000.
Diminta :
1. Buatlah laporan harga pokok produksi (production cost report) untuk bulan Des 2015! 2. Buatlah laporan rugi laba (income statement) untuk bulan Des 2015!
FORM 1
BAB IV
HARGA POKOK PROSES LANJUTAN
A. Definisi Harga Pokok Proses Lanjutan
Harga pokok persediaan produk dalam proses yang dihitung harga pokoknya pada akhir periode akan menjadi harga pokok persediaan produk dalam proses pada awal periode dalam departemen produksi yang bersangkutan.
B. Karakteristik persediaan produk dalam proses awal :
1. Dalam suatu departemen produksi, produk yang belum selesai diproses pada akhir periode akan menjadi persediaan produk dalam proses pada awal periode berikutnya.
2. Produk dalam proses awal periode ini membawa harga pokok produksi per satuan yang berasal dari periode sebelumnya, yang kemungkinan akan berbeda dengan harga pokok produksi per satuan yang dikeluarkan oleh departemen produksi yang bersangkutan dalam periode sekarang.
Metode penentuan harga pokok produksi yang digunakan untuk memperhitungkan harga pokok persediaan produk dalam proses awal adalah metode harga pokok rata-rata tertimbang (weighted average cost method), metode masuk pertama keluar pertama (first
CONTOH KASUS
HARGA POKOK PROSES LANJUTAN
PT. RA memiliki 2 departemen produksi untuk menghasilkan produknya, yaitu departemen R dan departemen A. Berikut ini merupakan data-data produksi yang terjadi selama bulan Januari 2013 :
Departemen R Departemen A Produk dalam proses awal:
BB = 100% ; BK = 40% 4.000 -
TKL = 20% ; BOP = 60% - 6.000
Produk Masuk Proses 40.000 -
Unit yang ditransfer ke Dept.A 35.000 -
Unit yang diterima dari Dept.R - 35.000
Produk yang ditransfer ke gudang - 34.000
Produk dalam proses akhir
BB 100%; BK 70% 9.000 -
TKL 40 %; BOP 80% - 7.000
Harga Pokok Produk Dalam Proses-Awal:
Harga Pokok dari Dep. R - Rp. 19.700.000
Biaya Bahan Baku Rp. 1.800.000 -
Biaya Tenaga Kerja Rp. 1.600.000 Rp. 3.400.000
Biaya Overhead Pabrik Rp. 1.920.000 Rp. 4.540.000
Biaya-biaya Produksi :
Biaya Bahan Baku Rp. 20.600.000 -
BTKL Rp. 28.640.000 Rp. 27.108.000
Biaya Overhead Pabrik Rp. 33.700.000 Rp. 36.420.000
Diminta :
Buatlah Laporan Harga Pokok Produksi (Production Cost Report) untuk masing-masing Departemen produksi dengan menggunakan Metode Rata-Rata!
JAWABAN: PT. RA
LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI DEPT. R BULAN JANUARI 2013
Laporan Produksi (Production Report) Unit
Produk dalam proses awal :
BB = 100% ; BK = 40% 4.000
Produk Masuk Proses 36.000 +
40.000
Unit yang ditransfer ke Dept. A 35.000
Produk dalam proses akhir
BB 100%; BK 70% 9.000 +
44.000
Biaya yang dibebankan pada Dept. R Elemen Biaya HPP PDP Awal Biaya Bulan Januari Jumlah Unit Ekuivalen HPP /Unit BBB Rp. 1.800.000 Rp. 20.600.000 Rp. 22.400.000 44.000 1) Rp. 509 BTK Rp. 1.600.000 Rp. 28.640.000 Rp. 30.240.000 41.300 2) Rp. 732 BOP Rp. 1.920.000 Rp. 33.700.000 Rp. 35.620.000 41.300 2) Rp. 862 Jumlah Rp. 5.320.000 Rp. 82.940.000 Rp. 88.260.000 Rp. 2.103 ** Keterangan: 1. 35.000 + (9.000 * 100%) = 44.000 2. 35.000 + (9.000 * 70% ) = 41.300
Perhitungan Harga Pokok :
Harga pokok produk yang ditransfer ke Departemen A yaitu :
( Rp. 35.000 * Rp. 2.103) Rp. 73.605.000
Perhitungan pokok produk dalam proses akhir :
PT. RA
LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI DEPT. A BULAN JANUARI 2013
Laporan Produksi (Production Report) Unit
Produk dalam proses awal :
TKL = 20% ; BOP = 60% 6.000
Produk yang diterima dari Dept. R 35.000 +
41.000
Produk yang ditransfer ke Gudang 34.000
Produk dalam proses akhir
TKL 40%; BOP 80% 7.000 +
41.000
Biaya yang dibebankan pada Dept. A Elemen Biaya HPP PDP Awal Biaya Bulan Januari Jumlah Unit Ekuivalen HPP /Unit HP Dept. R Rp. 19.700.000 Rp.73.605.000 Rp. 93.305.000 41.000 1) Rp.2.276 TKL Rp. 3.400.000 Rp. 27.108.000 Rp. 30.508.000 36.800 2) Rp.829 BOP Rp. 4.540.000 Rp. 36.420.000 Rp. 40.960.000 39.600 3) Rp.1.034 Jumlah Rp. 27.640.000 Rp. 137.133.000 Rp. 164.773.000 Rp.4.139 ** Keterangan: 1. 34.000 + 7.000 = 41.000 2. 34.000 + (7.000 * 40% ) = 36.800 3. 34.000 + (7.000 * 80% ) = 39.600 Perhitungan Harga Pokok :
Harga pokok produk yang ditransfer ke Gudang yaitu :
( Rp. 34.000 * Rp. 4.139) Rp. 140.726.000
Perhitungan pokok produk dalam proses akhir :
Dari Dept.R 7.000 * 100% * 2276 = Rp. 15.932.000
TKL 7.000 * 40% * 829 = Rp. 2.321.200
BOP 7.000 * 80% * 1034 = Rp. 5.790.400 +
Rp. 24.043.600 +
KASUS 1
HARGA POKOK PROSES LANJUTAN
PT. AS memiliki 2 departemen produksi untuk menghasilkan produknya, yaitu departemen A dan departemen S. Berikut ini merupakan data-data produksi yang terjadi selama bulan September 2013 :
Departemen A Departemen S Produk dalam proses awal :
BB = 100% ; BK = 70% 5.000 -
TKL = 40 % ; BOP = 45% - 5.000
Produk Masuk Proses 37.000 -
Unit yang ditransfer ke Dept.S 25.000 -
Unit yang diterima dari Dept.A - 40.000
Produk yang ditransfer ke gudang - 35.000
Produk dalam proses akhir
BB 100%; BK 50% 17.000 -
TKL 50 %; BOP 60% - 10.000
Harga Pokok Produk Dalam Proses-Awal:
Harga Pokok dari Dep. A - Rp. 19.125.000
Biaya Bahan Baku Rp. 3.500.000 -
Biaya Tenaga Kerja Rp. 3.450.000 Rp. 3.400.000
Biaya Overhead Pabrik Rp. 4.730.000 Rp. 3.300.000
Biaya-biaya Produksi :
Biaya Bahan Baku Rp. 20.850.000 -
BTKL Rp. 29.350.000 Rp. 32.600.000
Biaya Overhead Pabrik Rp. 33.500.000 Rp. 23.350.000
Diminta :
KASUS 2
HARGA POKOK PROSES LANJUTAN
PT. MA memiliki 2 departemen produksi untuk menghasilkan produknya, yaitu departemen M dan departemen A. Berikut ini merupakan data-data produksi yang terjadi selama bulan Oktober 2013 :
Departemen M Departemen A Produk dalam proses awal :
BB = 100% ; BK = 70% 8.000 -
TKL = 40 % ; BOP = 30% - 8.000
Produk Masuk Proses 49.000 -
Unit yang ditransfer ke Dept.A 36.000 -
Unit yang diterima dari Dept.M - 36.000
Produk yang ditransfer ke gudang - 32.000
Produk dalam proses akhir
BB 100%; BK 60% 21.000 -
TKL 50 %; BOP 60% - 12.000
Harga Pokok Produk Dalam Proses-Awal:
Harga Pokok dari Dep. M - Rp. 23.751.000
Biaya Bahan Baku Rp. 3.501.000 -
Biaya Tenaga Kerja Rp. 3.901.000 Rp. 2.051.000
Biaya Overhead Pabrik Rp. 5.721.000 Rp. 2.001.000
Biaya-biaya Produksi :
Biaya Bahan Baku Rp. 24.001.000 -
BTKL Rp. 31.351.000 Rp. 31.076.000
Biaya Overhead Pabrik Rp. 36.581.000 Rp. 22.361.000
Diminta :
Buatlah Laporan Harga Pokok Produksi (Production Cost Report) untuk masing-masing Departemen produksi dengan menggunakan Metode Rata-Rata!
FORM 1
BAB V
VARIABEL COSTING
A. Definisi Variabel Costing
Variabel Costing adalah metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel kedalam harga pokok produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.
B. Manfaat Variabel Costing
1. Laporan Laba/Rugi dengan contribusi margin hampir mengikuti pemikiran manajemen tentang prestasi laba sebagai fungsi penjualan.
2. Informasi untuk analisis Biaya-Volume-Laba dapat diperoleh langsung dari laporan Laba/Rugi.
3. Penentuan harga pokok variabel menyajikan dasar untuk menyiapkan anggaran fleksibel (yang memisahkan biaya variabel dan tetap).
C. Kelemahan Variabel Costing
1. Pemisahan pola perilaku biaya menjadi biaya variabel dan tetap sebenarnya sulit dan hasilnya merupakan taksiran.
2. Penentuan harga pokok variabel tidak dapat digunakan untuk pelaporan eksternal, maksudnya tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang lazim (SAK).
3. Untuk perusahaan yang kegiatan usahanya bersifat musiman, variabel costing akan menyajikan kerugian yang berlebihan dalam periode tertentu dan menyajikan labayang tidak normal pada periode lainnya.
4. Tidak diperhitungkannya biaya overhead pabrik tetap dalam persediaan dan harga pokok persediaan akan mengakibatkan nilai persediaan lebih rendah, sehingga akan mengurangi modal kerja yang dilaporkan untuk tujuan-tujuan analisis keuangan.
CONTOH KASUS
VARIABEL COSTING
Berikut ini adalah data biaya dan persediaan akhir tahun 2015 dari PT. SUKA-SUKA 1) Produksi selama tahun 2015 sebanyak 400.000 unit.
2) 70% dari produksi tahun 2015 terjual dan sisanya masih tersimpan digudang pada akhir tahun.
3) BBB sebesar Rp 70.000.000 4) BTKL sebesar Rp 60.000.000
5) BOP (V) sebesar Rp 50.000.000 dan BOP (T) sebesar Rp 20.000.000 6) Harga jual per unit Rp 12.000
7) Biaya administrasi dan umum (V) sebesar Rp 20.000.000 dan Biaya administrasi dan umum (T) sebesar Rp 10.000.000
8) Biaya pemasaran (V) sebesar Rp 40.000.000 dan Biaya pemasaran (T) sebesar Rp 70.000.000
Diminta :
a. Hitunglah nilai persediaan akhir tahun 2015 dengan metode variable costing dan full costing!
JAWABAN :
a. Menghitung nilai persediaan akhir
Produk terjual = 70% x 400.000 unit = 280.000 unit
Persediaan akhir tahun 2015 = 30% x 400.000 unit = 120.000 unit Nilai persediaan akhir tahun 2015 dengan metode variable costing :
BBB Rp 70.000.000
BTKL Rp 60.000.000
BOP (V) Rp 50.000.000 +
HP. Produksi Rp 180.000.000
HP. Produksi per unit = Rp 180.000.000 = Rp 450 400.000
Nilai persediaan akhir tahun 2015 = 120.000 unit x Rp 450 = Rp 54.000.000
Nilai persediaan akhir tahun 2015 dengan metode full costing :
BBB Rp 70.000.000
BTKL Rp 60.000.000
BOP (V) Rp 50.000.000
BOP (T) Rp 20.000.000 +
HP. Produksi Rp 200.000.000
HP. Produksi per unit = Rp 200.000.000 = Rp 500 400.000
b. Laporan Rugi/Laba
PT. SUKA-SUKA
LAPORAN L/R VARIABLE COSTING PER 31 DESEMBER 2015 Penjualan 280.000 unit x Rp 12.000 Rp 3.360.000.000 HPP BBB Rp 70.000.000 BTKL Rp 60.000.000 BOP (V) Rp 50.000.000 + HP. Produksi Rp 180.000.000 Persediaan akhir Rp 54.000.000 – HPP Variable Rp 126.000.000
By. Adm & Umum (V) Rp 20.000.000
By. Pemasaran (V) Rp 40.000.000 +
Total Biaya Variable Rp 186.000.000 –
Contribusi Margin Rp 3.174.000.000
Biaya Tetap BOP (T) Rp 20.000.000
By. Adm & Umum (T) Rp 10.000.000
By. Pemasaran (T) Rp 70.000.000 +
Total Biaya Tetap Rp 100.000.000 –
PT. SUKA-SUKA
LAPORAN L/R FULL COSTING PER 31 DESEMBER 2015 Penjualan 280.000 unit x Rp 12.000 Rp 3.360.000.000 HPP BBB Rp 70.000.000 BTKL Rp 60.000.000 BOP (V) Rp 50.000.000 BOP (T) Rp 20.000.000 + HP. Produksi Rp 200.000.000 Persediaan akhir Rp 60.000.000 – HPP Rp 140.000.000 – Laba Kotor Rp 3.220.000.000 Biaya Operasi
By. Adm & Umum (V) Rp 20.000.000
By. Pemasaran (V) Rp 40.000.000
By. Adm & Umum (T) Rp 10.000.000
By. Pemasaran (T) Rp 70.000.000 +
Total Biaya Operasi Rp 140.000.000 –
KASUS 1
VARIABEL COSTING
Berikut ini adalah data biaya dan persediaan akhir tahun 2016 dari PT. CHANNEL 1) Produksi selama tahun 2016 sebanyak 600.000 unit.
2) 80% dari produksi tahun 2016 terjual dan sisanya masih tersimpan digudang pada akhir tahun.
3) BBB sebesar Rp 90.000.000 4) BTKL sebesar Rp 80.000.000
5) BOP (V) sebesar Rp 70.000.000 dan BOP (T) sebesar Rp 60.000.000 6) Harga jual per unit Rp 15.000
7) Biaya administrasi dan umum (V) sebesar Rp 50.000.000 dan Biaya administrasi dan umum (T) sebesar Rp 25.000.000
8) Biaya pemasaran (V) sebesar Rp 60.000.000 dan Biaya pemasaran (T) sebesar Rp 30.000.000
Diminta :
a. Hitunglah nilai persediaan akhir tahun 2016 dengan metode variable costing dan full costing!
KASUS 2
VARIABEL COSTING
Berikut ini adalah data biaya dan persediaan akhir tahun 2014 dari PT. GUCCI 1) Produksi selama tahun 2014 sebanyak 700.000 unit.
2) 60% dari produksi tahun 2014 terjual dan sisanya masih tersimpan digudang pada akhir tahun.
3) BBB sebesar Rp 80.000.000 4) BTKL sebesar Rp 90.000.000
5) BOP (V) sebesar Rp 40.000.000 dan BOP (T) sebesar Rp 70.000.000 6) Harga jual per unit Rp 12.000
7) Biaya administrasi dan umum (V) sebesar Rp 40.000.000 dan Biaya administrasi dan umum (T) sebesar Rp 30.000.000
8) Biaya pemasaran (V) sebesar Rp 50.000.000 dan Biaya pemasaran (T) sebesar Rp 30.000.000
Diminta :
a. Hitunglah nilai persediaan akhir tahun 2014 dengan metode variable costing dan full costing!
FORM 1
FORM 3
BAB VI
BIAYA OVERHEAD PABRIK (BOP)
Biaya-biaya produksi yang tidak dapat dikategorikan ke dalam biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung atau yang wujud riilnya adalah biaya bahan baku tidak langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung serta biaya pabrik lainnya dikelompokkan tersendiri yang disebut biaya overhead pabrik.
Biaya overhead pabrik dibebankan ke harga pokok produk berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka. Kemudian analisa dan perlakuan terhadap selisih antara BOP yang dibebankan ke produk berdasarkan tarif dengan BOP yang sesungguhnya. Biaya overhead pabrik digolongkan dengan tiga cara penggolongan :
1. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut sifatnya.
2. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan. Merupakan penggolongan yang dibagi menjadi biaya overhead tetap, biaya overhead variabel dan biaya overhead semi variabel.
3. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut hubungannya dengan departemen. Biaya overhead yang yang meliputi semua jenis biaya yang terjadi di departemen-departemen pembantu yang digolongkan menjadi biaya overhead pabrik langsung departemen dan biaya overhead tidak langsung departemen.
Memilih dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk terbagi atas dasar pembebanan sebagai berikut :
1. Unit produksi 2. Biaya bahan baku
3. Biaya tenaga kerja langsung 4. Jam tenaga kerja
5. Jam mesin
Penggolongan BOP Menurut Perilakunya dalam Hubungan dengan Departemen, dibagi dua kelompok yaitu:
2. BOP tidak langsung departemen, yaitu BOP yang manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen. Contohnya biaya depresiasi, pemeliharaan dan asuransi gedung pabrik.
Apabila perusahaan mempunyai lebih dari satu departemen produksi maka proses penentuan tarif BOP adalah sebagai berikut :
1. Ditentukan anggaran BOP untuk masing-masing departemen produksi tersebut.
2. Ditentukan dasar pembebanan BOP tersebut, sesuai dengan sifat departemen produksi yang bersangkutan.
CONTOH KASUS
BIAYA OVERHEAD PABRIK
PT. MENTARI menggunakan tarif BOP ditentukan dimuka. Adapun anggaran perusahaan untuk September 2016 dengan kapasitas normal 13.500 jam mesin disajikan sebagai berikut:
JENIS BIAYA (EXPENSES) FIXED/VARIABLE TOTAL
Biaya bahan baku (Direct Material) Rp 4.000.000
Biaya tenaga kerja langsung Rp 1.500.000
Biaya bahan penolong V Rp 900.000
Biaya depresiasi pabrik F Rp 430.000
Biaya bahan baker pabrik (Fuel) V Rp 490.000
Biaya listrik pabrik (Electric Cost) V Rp 690.000
Biaya reparasi & pemeliharaan pabrik V Rp 350.000
Biaya reparasi & pemeliharaan pabrik F Rp 250.000
Biaya asuransi pabrik (Insurance) F Rp . 570.000
Biaya promosi dan iklan V Rp 320.000
Biaya tenaga kerja tidak langsung V Rp 650.000
Biaya tenaga kerja tidak langsung F Rp 850.000
Biaya kesejahteraan karyawan pabrik F Rp 550.000
Pada akhir tahun BOP sesungguhnya terjadi pada kapasitas sesungguhnya 11.000 jam mesin (machine hours) yang dapat disajikan sebagai berikut :
JENIS BIAYA (EXPENSES) FIXED/VARIABLE TOTAL
Biaya bahan baku (Direct Material) Rp 4.000.000
Biaya tenaga kerja langsung Rp 1.500.000
Biaya reparasi &pemeliharaan pabrik F Rp 250.000
Biaya asuransi pabrik (Insurance) F Rp 550.000
Biaya promosi dan iklan V Rp 300.000
Biaya tenaga kerja tidak langsung V Rp 600.000
Biaya tenaga kerja tidak langsung F Rp 800.000
Biaya kesejahteraan karyawan pabrik F Rp 520.000
Data lain berkaitan dengan produksi: Jam kerja langsung (Direct Labour Hours) 17.000 jam. Unit produksi (Production Units) 30.000 unit
Diminta :
1. Berapakah BOP Tetap dan variabel yang dianggarkan dan yang sesungguhnya ? 2. Hitunglah tarif BOP bulan September 2016 yang dianggarkan berdasarkan :
a. Jam Mesin (Machine Hours) (Rp)
b. Biaya Bahan Baku (Direct Material) (%)
c. Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor) (%) d. Jam Kerja Langsung (Direct Labor Hours) (Rp) e. Unit Produksi (Production Units) (Rp)
JAWABAN:
1. BOP yang dianggarkan dan yang sesungguhnya (budgeted and realized FOH) : BOP dianggarkan BOP sesungguhnya
BOP Tetap (Fixed FOH) Rp 2.650.000 Rp 2.520.000
BOP Variabel (Variable FOH) Rp 3.400.000 + Rp 3.180.000 +
Total BOP (Total FOH) Rp 6.050.000 Rp 5.700.000
2. Menghitung tarif BOP yang dianggarkan berdasarkan : a. Tarif BOP Jam Mesin
Tarif BOP Tetap (Fixed Rate of FOH) = = Rp 196,30 / JM
Tarif BOP Variabel (Variabel Rate) = = Rp 251,85/ JM +
Total tarif BOP Rp. 448,15/ JM
b. Tarif BOP berdasarkan biaya bahan baku :
Tarif BOP Tetap =
X 100% = 66,25 %
Tarif BOP Variabel = X 100% = 85 % +
Total tarif BOP 151,25 %
c. Tarif BOP berdasarkan biaya tenaga kerja langsung :
Tarif BOP Tetap = X 100% = 176,67 %
Tarif BOP Variabel = X 100% = 226,67 % +
Total tarif BOP 403,34 %
d. Tarif BOP berdasarkan jam kerja langsung :
Tarif BOP Tetap =
= Rp 88,33 / Unit
Tarif BOP Variabel =
= Rp 113,33 / Unit +
KASUS 1
BIAYA OVERHEAD PABRIK
PT. MILKY WAY menggunakan tarif BOP ditentukan dimuka. Adapun anggaran perusahaan untuk Januari 2016 dengan kapasitas normal 15.000 jam mesin disajikan sebagai berikut:
JENIS BIAYA (EXPENSES) FIXED/VARIABLE TOTAL
Biaya bahan baku (Direct Material) Rp 4.000.000
Biaya tenaga kerja langsung Rp 2.000.000
Biaya bahan penolong V Rp 940.000
Biaya depresiasi mesin offset (mesin cetak) F Rp 500.000
Biaya listrik mesin offset (Electric Cost) V Rp 700.000
Biaya reparasi & pemeliharaan mesin offset V Rp 515.000
Biaya reparasi & pemeliharaan mesin offset F Rp 350.000
Biaya asuransi mesin offset (Insurance) F Rp . 425.000
Biaya promosi dan iklan V Rp 525.000
Biaya tenaga kerja tidak langsung V Rp 680.000
Biaya tenaga kerja tidak langsung F Rp 930.000
Biaya kesejahteraan karyawan pabrik F Rp 555.000
Pada akhir tahun BOP sesungguhnya terjadi pada kapasitas sesungguhnya 20.000 jam mesin (machine hours) yang dapat disajikan sebagai berikut :
JENIS BIAYA (EXPENSES) FIXED/VARIABLE TOTAL
Biaya bahan baku (Direct Material) Rp 4.000.000
Biaya tenaga kerja langsung Rp 2.000.000
Biaya bahan penolong V Rp 920.000
Biaya promosi dan iklan V Rp 450.000
Biaya tenaga kerja tidak langsung V Rp 525.000
Biaya tenaga kerja tidak langsung F Rp 930.000
Biaya kesejahteraan karyawan pabrik F Rp 555.000
Data lain berkaitan dengan produksi: Jam kerja langsung (Direct Labour Hours) 12.000 jam. Unit produksi (Production Units) 30.000 unit
Diminta :
1. Berapakah BOP Tetap dan variabel yang dianggarkan dan yang sesungguhnya ? 2. Hitunglah tarif BOP bulan Januari 2016 yang dianggarkan berdasarkan :
a. Jam Mesin (Machine Hours) (Rp)
b. Biaya Bahan Baku (Direct Material) (%)
c. Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor) (%) d. Jam Kerja Langsung (Direct Labor Hours) (Rp) e. Unit Produksi (Production Units) (Rp)
KASUS 2
BIAYA OVERHEAD PABRIK
PT. MESSIER menggunakan tarif BOP ditentukan dimuka. Adapun anggaran perusahaan untuk Desember 2016 dengan kapasitas normal 25.000 jam mesin disajikan sebagai berikut:
JENIS BIAYA (EXPENSES) FIXED/VARIABLE TOTAL
Biaya bahan baku (Direct Material) Rp 5.000.000
Biaya tenaga kerja langsung Rp 2.500.000
Biaya bahan penolong V Rp 820.000
Biaya depresiasi mesin jahit F Rp 450.000
Biaya listrik mesin jahit (Electric Cost) V Rp 675.000
Biaya reparasi & pemeliharaan mesin jahit V Rp 450.000
Biaya reparasi & pemeliharaan mesin jahit F Rp 350.000
Biaya asuransi mesin jahit (Insurance) F Rp . 525.000
Biaya promosi dan iklan V Rp 650.000
Biaya tenaga kerja tidak langsung V Rp 655.000
Biaya tenaga kerja tidak langsung F Rp 900.000
Biaya kesejahteraan karyawan pabrik F Rp 425.000
Pada akhir tahun BOP sesungguhnya terjadi pada kapasitas sesungguhnya 30.000 jam mesin (machine hours) yang dapat disajikan sebagai berikut :
JENIS BIAYA (EXPENSES) FIXED/VARIABLE TOTAL
Biaya bahan baku (Direct Material) Rp 5.000.000
Biaya tenaga kerja langsung Rp 2.500.000
Biaya bahan penolong V Rp 800.000
Biaya promosi dan iklan V Rp 625.000
Biaya tenaga kerja tidak langsung V Rp 650.000
Biaya tenaga kerja tidak langsung F Rp 900.000
Biaya kesejahteraan karyawan pabrik F Rp 425.000
Data lain berkaitan dengan produksi: Jam kerja langsung (Direct Labour Hours) 12.500 jam. Unit produksi (Production Units) 50.000 unit
Diminta :
1. Berapakah BOP Tetap dan variabel yang dianggarkan dan yang sesungguhnya ? 2. Hitunglah tarif BOP bulan Desember 2016 yang dianggarkan berdasarkan :
a. Jam Mesin (Machine Hours) (Rp)
b. Biaya Bahan Baku (Direct Material) (%)
c. Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor) (%) d. Jam Kerja Langsung (Direct Labor Hours) (Rp) e. Unit Produksi (Production Units) (Rp)
FORM 1
FORM 3
BAB VII
DEPARTEMENTALISASI BIAYA OVERHEAD PABRIK
(Factory Overhead Departmentalization)
A. Definisi Departementalisasi BOP
Departementalisasi BOP adalah Pembagian pabrik ke dalam bagian-bagian yang disebut Departemen dimana BOP akan dibebankan. Departementalisasi BOP bermanfaat untuk pengendalian biaya dan ketelitian penentuan harga pokok produk.
B. Langkah-langkah Penentuan Tarif BOP Departementalisasi
Langkah-langkah penentuan tariff biaya overhead departementalisasi adalah sebagai berikut :
1. Penyusunan anggaran biaya overhead pabrik per departemen. Penyusunan anggaran biaya overhead pabrik per departemen dibagi menjadi empat tahap utama berikut ini:
a. Penaksiran BOP langsung departemen atas dasar kapasitas yang direncanakan untuk tahun anggaran.
b. Penaksiran BOP tidak langsung departemen.
c. Distribusi BOP tak langsung departemen ke departemen-departemen yang menikmati manfaatnya.
d. Penjumlahan BOP per departemen (baik BOP langsung maupun departemen tak langsung) untuk mendapatkan anggaran BOP per departemen (baik departemen produksi maupun departemen pembantu)
2. Mengalokasikan departemen BOP departemen pembantu ke departemen produksi dengan cara:
a. Metode alokasi langsung
Dalam metode alokasi langsung BOP departemen pembantu di alokasikan ke tiap-tiap departemen produksi yang menikmatinya. Metode alokasi langsung digunakan apabila jasa yang dihasilkan oleh departeman pembantu
b. Metode alokasi bertahap
Metode alokasi bertahap digunakan apabila jasa yang dihasilkan departemen pembantu tidak hanya dipakai oleh departemen produksi saja. Tetapi digunakan pula oleh departemen pembantu lain. Metode alokasi bertahap dibagi menjadi 2 kelompok yaitu :
Metode alokasi bertahap yang memperhitungkan jasa timbal balik antar departemen-departemen pembantu. Yang termasuk ke dalam metode ini adalah:
- Metode alokasi kontinyu (continous allocation method)
BOP departemen-departemen pembantu yang saling memberikan jasa di alokasikan secara terus menerus, sehingga jumlah BOP yang belum di alokasikan menjadi tidak berarti.
- Metode aljabar (algebraic method)
Dalam metode ini jumlah biaya tiap-tiap departemen pembantu dinyatakan dalam persamaan aljabar.
Metode alokasi bertahap yang tidak memperhitungkan transfer jasa timbal balik antar departemen pembantu. Metode alokasi yang termasuk dalam kelompok ini adalah ”metode urutan alokasi yang diatur” (specified order of
closing).
C. Perhitungan Tarif Pembebanan BOP Per Departemen
1. Istilah yang dipakai untuk menggambarkan pembagian BOP tak langsung departemen kepada departemen-departemen yang menikmati manfaatnya, baik departemen produksi maupun departemen pembantu adalah distribusi BOP.
2. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan pembagian BOP departemen pembantu ke deparatemen produksi, atau dari departemen pembantu ke departemen pembantu yang lain dan departemen produksi adalah alokasi BOP.
3. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan pembagian BOP di departemen produksi kepada produk adalah pembebanan BOP.
CONTOH KASUS
DEPARTEMENTALISASI BOP
(Factory Overhead Departmentalization)
Didalam menghitung tarif BOP tahun 2016 PT. DPK13 menggunakan metode langsung
(direct alocation method) untuk masing-masing departemen produksi. Berikut ini jumlah
BOP (FOH) sebelum adanya alokasi dari departemen pembantu C, O, dan D adalah sebagai berikut : PT. DPK13 menggunakan tarif BOP ditentukan dimuka. Adapun anggaran perusahaan untuk Juni 2016 dengan kapasitas normal 10.000 jam mesin disajikan sebagai berikut :
Departemen produksi (Production Department) K Rp 20.000.000 Departemen produksi (Production Department) Z Rp 45.000.000 Departemen produksi (Production Department) L Rp 30.000.000 Departemen produksi (Production Department) S Rp 12.000.000 Departemen produksi (Production Department) M Rp 32.000.000 Departemen pembantu (Production Department) C Rp 28.000.000 Departemen pembantu (Production Department) O Rp 10.000.000 Departemen pembantu (Production Department) D Rp 18.000.000
Dasar alokasi adalah pemakaian jasa departemen pembantu untuk setiaap departemen produksi yang dirincikan sebagai berikut :
Departemen Pembantu Departemen Produksi
K Z L S M
Departemen pembantu C 15% 15% 25% 25% 20%
Departemen pembantu O 20% 25% 30% 15% 10%
Departemen pembantu D 15% 25% 15% 10% 35%
L 450.000 / unit
S 350.000 / unit
M 100.000 / unit
Diminta :
1. Buatlah Tabel Alokasi Budget BOP dari departemen pembantu ke departemen produksi menggunakan metode alokasi langsung (direct alocation method)! 2. Hitunglah tabel BOP untuk masing-masing departemen produksi, apabila
pembebanan tarif BOP berdasarkan kapasitas normalnya (normal capasity)!
JAWABAN :
1. Tabel Alokasi Budget BOP (BUDGET FOH ALLOCATION TABLE)
(.000)
2. Perhitungan Tarif BOP
Dep. Produksi
Budgetr BOP Kapasitas
Tarif /unit Setelah Alokasi Normal
K Rp 28.900.000 150.000/ unit Rp 193 Z Rp 56.200.000 250.000/ unit Rp 225 L Rp 42.700.000 450.000/ unit Rp 95 S Rp 22.300.000 350.000/ unit Rp 64 M Rp 44.900.000 100.000/ unit Rp 449 Keterangan Jumlah
Departemen Produksi Departemen Pembantu
K Z L S M C O D
Budgety BOP sebelum Alokasi 139.000 20.000 45.000 30.000 12.000 32.000 28.000 10.000 18.000 Alokasi Departemen C 28.000 4.200 4.200 7.000 7.000 5.600 28.000 - - Alokasi Departemen O 10.000 2.000 2.500 3.000 1.500 1.000 - 10.000 - Alokasi Departemen D 18.000 2.700 4,500 2.700 1.800 6.300 - - 18.000 Alokasi dari Departemen Pembantu 56.000 8.900 11.200 12.700 10.300 12.900 28.000 10.000 18.000
Budget BOP setelah Alokasi
KASUS 1
DEPARTEMENTALISASI BOP
(Factory Overhead Departmentalization)
Didalam menghitung tarif BOP tahun 2016 PT. SLT123 menggunakan metode langsung
(direct alocation method) untuk masing-masing departemen produksi. Berikut ini jumlah
BOP (FOH) sebelum adanya alokasi dari departemen pembantu X, Y, dan Z adalah sebagai berikut : PT. SLT123 menggunakan tarif BOP ditentukan dimuka. Adapun anggaran perusahaan untuk Juli 2016 dengan kapasitas normal 10.000 jam mesin disajikan sebagai berikut :
Departemen produksi (Production Department) K Rp 12.000.000 Departemen produksi (Production Department) Z Rp 15.000.000 Departemen produksi (Production Department) L Rp 13.000.000 Departemen produksi (Production Department) S Rp 22.000.000 Departemen produksi (Production Department) M Rp 42.000.000 Departemen pembantu (Production Department) X Rp 18.000.000 Departemen pembantu (Production Department) Y Rp 20.000.000 Departemen pembantu (Production Department) Z Rp 48.000.000
Dasar alokasi adalah pemakaian jasa departemen pembantu untuk setiaap departemen produksi yang dirincikan sebagai berikut :
Departemen Pembantu Departemen Produksi
K Z L S M
Departemen pembantu X 12% 18% 15% 25% 30%
Departemen pembantu Y 10% 15% 23% 27% 25%
Departemen pembantu Z 26% 24% 23% 17% 10%
L 95.000 / unit
S 135.000 / unit
M 125.000 / unit
Diminta :
1. Buatlah Tabel Alokasi Budget BOP dari departemen pembantu ke departemen produksi menggunakan metode alokasi langsung (direct alocation method)! 2. Hitunglah tabel BOP untuk masing-masing departemen produksi, apabila
KASUS 2
DEPARTEMENTALISASI BOP
(Factory Overhead Departmentalization)
Didalam menghitung tarif BOP tahun 2016 PT. ABC menggunakan metode langsung
(direct alocation method) untuk masing-masing departemen produksi. Berikut ini jumlah
BOP (FOH) sebelum adanya alokasi dari departemen pembantu O, P, dan Q adalah sebagai berikut : PT. ABC menggunakan tarif BOP ditentukan dimuka. Adapun anggaran perusahaan untuk Agustus 2016 dengan kapasitas normal 10.000 jam mesin disajikan sebagai berikut :
Departemen produksi (Production Department) K Rp 13.000.000 Departemen produksi (Production Department) Z Rp 14.000.000 Departemen produksi (Production Department) L Rp 15.000.000 Departemen produksi (Production Department) S Rp 16.000.000 Departemen produksi (Production Department) M Rp 17.000.000 Departemen pembantu (Production Department) O Rp 18.000.000 Departemen pembantu (Production Department) P Rp 19.000.000 Departemen pembantu (Production Department) Q Rp 20.000.000
Dasar alokasi adalah pemakaian jasa departemen pembantu untuk setiaap departemen produksi yang dirincikan sebagai berikut :
Departemen Pembantu Departemen Produksi
K Z L S M
Departemen pembantu O 23% 27% 13% 17% 20%
Departemen pembantu P 10% 11% 29% 25% 25%
Departemen pembantu Q 26% 24% 23% 17% 10%
L 95.000 / unit
S 135.000 / unit
M 125.000 / unit
Diminta :
1. Buatlah Tabel Alokasi Budget BOP dari departemen pembantu ke departemen produksi menggunakan metode alokasi langsung (direct alocation method)! 2. Hitunglah tabel BOP untuk masing-masing departemen produksi, apabila
FORM 1
BAB VIII
BIAYA BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN
Biaya bersama dapat diartikan sebagai biaya overhead bersama yang harus dialokasikan ke berbagai departemen, baik dalam perusahaan yang kegiatan produksinya berdasarkan pesanan maupun yang kegiatan produksinya dilakukan secara massa.
Produk sampingan adalah satu produk atau lebih yang nilai jualnya relatif lebih rendah, yang produksi bersama dengan produk lain yang nilai jualnya lebih tinggi.
Karakteristik Produk Bersama dan Produk Sampingan A. Karakteristik Produk Bersama
1. Produk bersama merupakan tujuan utama kegiatan produksi.
2. Harga jual produk bersama relatif tinggi bila dibandingkan dengan produk sampingan yang dihasilkan pada saat yang sama.
3. Dalam mengolah produk bersama tertentu, produsen tidak dapat menghindarkan diri untuk menghasilakan semua jenis produk bersama, jika ingin memproduksi hanya salah satu diantara produk bersama tersebut.
B. Karakteristik Produk Sampingan
1. Produk sampingan yang dapat dijual setelah terpisah dari produk utama, tanpa memerlukan pengolahan lebih lanjut.
2. Produk sampingan yang memerlukan proses pengolahan lebih lanjut setelah terpisah dari produk utama.
CONTOH KASUS
BIAYA BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN
Biaya bersama yang dikeluarkan oleh PT. ABRE selama satu periode akuntansi berjumlah Rp 250.000.000,- dalam memproduksi empat jenis produknya. Data yang terkait adalah sebagai berikut:
Produk Bersama Jumlah Produk yang Dihasilkan Harga Jual/ Unit Biaya Pengolaan Lebih Lanjut/ Unit
Harga Jual / Unit Setelah Diproses Lebih Lanjut A 13.000 10.000 500 5.500 B 35.000 12.000 1.000 7.000 R 40.000 15.000 750 10.000 E 50.000 17.000 800 12.000 Data-data tambahan:
Satuan yang Terjual
Produk A Produk B Produk R Produk E
12.000 15.000 17.000 20.000
Diminta:
1. Hitunglah alokasi biaya bersama dan harga pokok produk per unit dengan metode nilai pasar relatif:
a. Biaya-biaya dikeluarkan pada saat titik pisah b. Biaya-biaya dikeluarkan setelah titik pisah
2. Berapa laba kotor perusahaan pada periode tersebut, bila perusahaan menggunakan nilai pasar relatif: Biaya-biaya yang dikeluarkan setelah titik pisah?