• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRACT. Keywords: Marketing, Channel Marketing, Margin, Copra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ABSTRACT. Keywords: Marketing, Channel Marketing, Margin, Copra"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

ABSTRACT

Mega Artha Ilahude "614409029", 2013. Copra Marketing Systems Analysis in Gorontalo regency (A Study in District Limboto). Department of Agribusiness Faculty of Agricultural Sciences, State University of Gorontalo 2013 Under the guidance Mahludin Baruwadi and Ria Indriani.

This study aims to analyze marketing agencies, marketing channels, marketing margin and margin distribution copra in the district especially in Sub Limboto Gorontalo. The research was conducted in May-June 2013. This type of research is a survey method. The data used are primary data and secondary data, primary data obtained where 15 farmers and 3 merchants and secondary data obtained from the District Office, Office of the Department of Agriculture and Plantation Gorontalo, Gorontalo and BPS. The sampling method used was purposive sampling (intentionally). Techniques of data collection were interviews and questionnaires. Data analysis techniques used are qualitative descriptive analysis and analysis of marketing margins. The results showed that marketing agencies associated with the marketing of copra farmers, rural traders, and large traders.

There are three marketing channels, ie indirect marketing channels, the marketing margin on the first line Rp. 400.000, 200.000 second channel and the third channel Rp. 100,000. and distribution of marketing margins in the channel I charge 68.75% is greater than 31.25% gain. Channel II acquired 50% cost advantage as large as 50%.

And for the third channel also acquired 50% cost advantage as large as 50% of the marketing margin.

Keywords: Marketing, Channel Marketing, Margin, Copra

(2)

2

ABSTRAK

Mega Artha Ilahude “614409029”, 2013. Analisis Sistem Pemasaran Kopra di Kabupaten Gorontalo (Suatu Studi di Kecamatan Limboto). Jurusan Agribisnis Fakultas Ilmu-Ilmu Pertanian Universitas Negeri Gorontalo 2013 Di bawah bimbingan Mahludin Baruwadi dan Ria Indriani.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lembaga pemasaran, saluran pemasaran, margin dan distribusi margin pemasaran kopra yang ada di Kabupaten Gorontalo khususnya di Kecamatan Limboto. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2013. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode survey. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, dimana data primer yang diperoleh 15 petani dan 3 pedagang sedangkan data sekunder diperoleh dari kantor Kecamatan, Kantor Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Gorontalo, dan BPS Kabupaten Gorontalo. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive sampling (sengaja). Tehnik pengumpulan data yaitu wawancara dan kuisioner. Tehnik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan analisis margin pemasaran. Hasil penelitian menunjukan bahwa lembaga pemasaran yang terkait dengan pemasaran kopra yaitu petani, pedagang pengumpul desa, dan pedagang pengumpul besar. Terdapat tiga saluran pemasaran, yaitu saluran pemasaran tidak langsung, dengan margin pemasaran pada saluran pertama Rp. 400.000, saluran kedua Rp.200.000, dan saluran ketiga Rp. 100.000. dan distribusi margin pemasaran pada saluran I biaya 68,75% lebih besar dari keuntungan 31,25%. Saluran II diperoleh biaya 50% sama besar dengan keuntungan 50%. Dan untuk saluran III juga diperoleh biaya 50% sama besar dengan keuntungan 50% dari margin pemasaran.

Kata Kunci : Pemasaran, Saluran Pemasaran, Margin, Kopra

(3)

3

PENDAHULUAN

Di Kabupaten Gorontalo Khususnya di Kecamatan Limboto, produk kelapa yang dihasilkan oleh petani adalah dalam bentuk butiran kelapa, kopra dan minyak kelapa tradisional. Tetapi, pada umumnya petani menjual kelapanya dalam bentuk kopra. Kopra adalah daging buah kelapa yang kemudian dikeringkan dan merupakan salah satu produk turunan kelapa yang sangat penting, karena merupakan bahan baku pembuatan minyak kelapa dan turunannya.

Selama ini petani dalam memasarkan kopra, sangat bergantung pada pedagang pengumpul maupun pedagang eceran, meskipun demikian belum ada informasi yang pasti tentang sistem pemasaran kopra yang menyangkut lembaga pemasaran, saluran pemasaran dan margin dan distribusi margin pemasaran kopra di Kabupaten Gorontalo khususnya di Kecamatan Limboto. Oleh karena itu diperlukan suatu kajian untuk mendapatkan informasi tersebut. Berdasarkan uraian di atas maka akan dilakukan penelitian tentang “Sistem Pemasaran Kopra di Kabupaten Gorontalo (Suatu Studi di Kecamatan Limboto).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui saluran pemasaran, lembaga apa saja yang berperan dalam pemasaran kopra, margin pemasaran dan distribusi margin pemasaran yang ada di Kabupaten Gorontalo.

METODE PENELITIAN

Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Gorontalo khususnya di Kecamatan Limboto. Penelitian dilaksanakan selama 2 (dua) bulan yaitu bulan Mei- Juni 2013. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei.

Jenis dan sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder, data Primer adalah data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan kusioner dan wawancara. Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi yang terkait. Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah petani dan pedagang kopra di Kabupaten Gorontalo, sampel ditentukan secara purposive sampling (sengaja) berdasarkan tujuan penelitian, yaitu dengan mengambil satu Kecamatan. Tehnik pengambilan sampel untuk penelitian di mulai dari pengambilan sampel kecamatan sampai dengan petani dan pedagang. Adapun data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh dari kuisioner, wawancara langsung dengan petani sampel dan pedagang yang ada di Kabupaten Gorontalo khususnya di Kecamatan Limboto dan mengambil data dari instansi yang terkait yaitu kantor Badan Statistik Kabupaten Gorontalo, Kantor Kecamatan Limboto dan Dinas

(4)

4 Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Gorontalo. Data di analisis dengan menggunakan metode deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif, yang ditinjau sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk saluran pemasaran dan lembaga pemasaran dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, margin pemasaran dan distribusi margin di analisis dengan menggunakan rumus margin dan distribusi margin pemasaran.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Lembaga pemasaran adalah suatu badan usaha yang membantu para petani untuk menyalurkan hasil produksinya. Berdasarkan hasil survey penelitian di lapangan, para petani kelapa ataupun pedagang kopra tidak melibatkan lembaga seperti koperasi. Karena menurut para petani dan pedagang lembaga koperasi hanya akan memperlambat proses jual beli dan tidak mempunyai keuntungan. Namun ada unsur-unsur yang sangat berperan yang terkait dalam lembaga pemasaran yang ada di Kabupaten Gorontalo khususnya di Kecamatan Limboto dapat dirincikan sebagai berikut.

1. Petani (produsen)

Petani adalah produsen yaitu yang melakukan usahatani dan menghasilkan produk sesuai usahataninya. Sedangkan petani kopra yaitu petani yang mengolah kelapa menjadi kopra. Petani kelapa yang berada di Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo menjual kelapa ke petani kopra namun ada pula yang langsung dijual ke pedagang pengumpul dalam bentuk kelapa. Petani merupakan pihak pertama yang menyalurkan hasil usahataninya. Dalam memasarkan hasilnya petani menghadapi kesulitan pada harga kelapa ataupun yang sudah diolah menjadi kopra, karena harga ditentukan oleh pembeli. Sehinggga terkadang petani mengalami kerugian.

2. Pedagang pengumpul desa

Pedagang pengumpul desa yaitu yang menghubungkan antara petani dan pengumpul besar atau langsung ke konsumen atau pabrik. Pedagang pengumpul desa merupakan pihak kedua dalam menyalurkan hasil produksi. Berdasarkan hasil penelitian Pedagang pengumpul desa yang ada di Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo membeli kelapa ataupun kopra dari petani yang kemudian di jual ke pedagang pengumpul besar atau pabrik dengan harga yang sudah ditentukan oleh pabrik.

3. Pedagang pengumpul besar

Pedagang pengumpul besar yaitu merupakan pihak ketiga setelah pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul besar langsung menjual hasil dengan jumlah

(5)

5 yang telah ditentukan pabrik atau menjual langsung ke luar daerah. Berdasarkan survey di lapangan, pedagang besar yang ada di Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo menjual kopra langsung ke pabrik Bimoli yang ada di daerah Bitung dan ada juga yang dijual ke luar daerah yaitu ke Amurang.

4. Konsumen (Pabrik)

Pabrik adalah suatu bangunan industri besar dimana ada orang-orang yang mengawasi atau mengolah suatu produk menjadi produk lain yang mempunyai nilai tambah. Pabrik mengumpulkan tenaga kerja, sumber daya alam, modal, dan mesin industry. Pabrik yang menjadi tempat pedagang besar menyalurkan kopra yaitu pabrik yang berada di Moutong, Bitung, dan Amurang (Bimoli dan Kargo).

Saluran pemasaran yaitu jalur atau proses pemasaran yang menghubungkan dari produsen hingga konsumen, Saluran pemasaran juga dapat mempengaruhi harga suatu produk. Dari hasil penelitian terdapat 3 (dua) macam sistim pemasaran kopra yang ada di Kabupaten Gorontalo khususnya di Kecamatan Limboto yaitu :

1. Saluran Pertama

Gambar 1. Saluran Pemasaran Kopra di Kabupaten Gorontalo 2013

Dari Gambar 1 di atas, saluran pemasaran kopra di Kabupaten Gorontalo khususnya di Kecamatan Limboto pada saluran pertama yaitu petani kelapa menjual kelapa butiran kepada pembuat kopra dan diolah menjadi kopra, kemudian di jual ke pedagang pengumpul desa, dari pedagang pengumpul desa kemudian di jual kepada pengumpul besar dan kemudian dari pengumpul besar ke pabrik ataupun ke luar daerah.

Petani kelapa

Pedagang pengumpul desa

Pedagang pengumpul

besar

Pabrik

Pembuat Kopra

(6)

6 2. Saluran kedua

Gambar 2. Saluran Pemasaran Kopra di Kabupaten Gorontalo 2013

Dari Gambar 2 di atas, saluran pemasaran kopra di di Kabupaten Gorontalo khususnya di Kecamatan Limboto pada saluran kedua tidak berbeda jauh dengan saluran pemasaran yang pertama bedanya petani langsung mengolah hasil panen kelapanya menjadi kopra, yang kemudian langsung di jual ke pedagang pengumpul desa, dari pedagang pengumpul desa di jual atau di beli oleh pedagang besar dan kemudian dari pengumpul besar ke pabrik ataupun ke luar daerah.

3. Saluran ketiga

Gambar 3. Saluran Pemasaran Kopra di Kabupaten Gorontalo 2013

Dari Gambar 3 di atas, saluran pemasaran kopra di di Kabupaten Gorontalo khususnya di Kecamatan Limboto pada saluran ketiga yaitu petani langsung mengolah hasil panen kelapanya menjadi kopra dan langsung di jual ke pedagang besar dengan harga yang di samakan dengan harga pedagang pengumpul desa, yang kemudian oleh pedagang besar langsung di jual ke pabrik dengan harga yang sudah ditentukan oleh pabrik.

Analisis margin pemasaran yaitu selisih harga antara harga dari petani (produsen) dengan pabrik atau perbedaan harga yang dibayar kepada penjual pertama dan harga yang dibayar oleh pembeli akhir. Biaya pemasaran mencakup biaya pengolahan kelapa menjadi kopra, pengumpulan, pengangkutan, dan penyusutan.

Biaya pemasaran akan semakin tinggi jika banyak pemasaran yang dilakukan lembaga pemasaran terhadap suatu produk sebelum sampai ke konsumen akhir.

Semakin tinggi kualitas dari suatu produk yang diinginkan konsumen maka akan Petani kelapa dan

kopra

Pedagang Besar Pabrik Petani

kelapa &

kopra

Pedagang pengumpul desa

Pedagang pengumpul

besar

Pabrik

(7)

7 semakin meningkat biaya pemasarannya. Analisis margin dan distribusi margin pemasaran kopra yang ada di Kabupaten Gorontalo khususnya di Kecamatan Limboto dapat dilihat pada Tabel 1, 2, dan 3.

Tabel 1. Margin dan Distribusi Margin Pemasaran Kopra pada Saluran I di Kabupaten Gorontalo, 2013

No Lembaga Pemasaran

Harga

(Rp/1000 butir/200 Kg)

Distribusi Margin Pemasaran (%) 1. Petani Kelapa

- Harga jual 500.000

2. Pembuat Kopra - Harga Beli

- Biaya pembuatan kopra - Biaya angkut

- Keuntungan - Harga Jual

500.000 125.000 50.000 25.000 700.000

31,25 12,5 6,25

3. Pedagang Pengumpul - Harga Beli

- Biaya angkut - Keuntungan - Harga Jual

700.000 50.000 50.000 800.000

12,5 12,5

4. Pedagang Besar - Harga beli - Biaya angkut - Keuntungan - Harga Jual

800.000 50.000 50.000 900.000

12,5 12,5

5. Pabrik

- Harga beli 900.000

Margin Pemasaran 400.000 100

Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2013

(8)

8 Berdasarkan Tabel 1, margin dan distribusi margin pemasaran kopra di Kabupaten Gorontalo khususnya di Kecamatan Limboto, menjelaskan bahwa nilai dari margin pemasaran adalah Rp. 400.000, biaya di hitung mulai dari pengolahan kelapa menjadi kopra, biaya pengangkutan, harga jual dan harga beli antara petani dan pedagang. Dari hasil survey di lapangan petani maupun pedagang kopra menjual dan membeli rata – rata 1000 butir kelapa, kelapa di jual Rp. 500/butir dan biaya pengangkutan rata – rata Rp. 50.000/ 1000 butir. Untuk pembuat kopra harga jual ke pedagang pengumpul adalah 3.500/Kg, pedagang pengumpul desa ke pedagang besar adalah 4000/Kg, dan pedagang besar menjual ke pabrik 4500/Kg.Selisih harga jual kopra per kg dari pedagang pengumpul ke pedagang besar hingga pabrik adalah Rp.

500, sedangkan keuntungan yang diperoleh oleh pedagang pengumpul dan pedagang besar yaitu Rp. 50.000. untuk distribusi margin pemasaran diperoleh biaya 68,75%

lebih besar daripada keuntungan 31,25% dari jumlah margin.

Tabel 2. Margin dan Distribusi Margin Pemasaran Kopra pada Saluran II di Kabupaten Gorontalo, 2013

No Lembaga Pemasaran Harga (Rp/200 Kg)

Distribusi Margin Pemasaran (%) 1. Petani Kelapa dan Kopra

- Harga Jual 700.000 2. Pedagang Pengumpul

- Harga Beli - Biaya Angkut - Keuntungan - Harga Jual

700.000 50.000 50.000 800.000

25 25

3. Pedagang Besar - Harga beli - Biaya angkut - Keuntungan - Harga Jual

800.000 50.000 50.000 900.000

25 25

4. Pabrik

- Harga beli 900.000

Margin Pemasaran 200.000 100

Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2013

(9)

9 Berdasarkan Tabel 2, margin dan distribusi margin pemasaran kopra di Kabupaten Gorontalo khususnya di Kecamatan Limboto, menjelaskan bahwa nilai dari margin pemasaran adalah Rp. 200.000, biaya di hitung mulai dari pengolahan kelapa menjadi kopra, biaya pengangkutan, harga jual dan harga beli antara petani dan pedagang. Untuk petani kelapa dan kopra harga jual ke pedagang pengumpul adalah 3.500/Kg, pedagang pengumpul desa ke pedagang besar adalah 4000/Kg, dan pedagang besar menjual ke pabrik 4500/Kg, Dari hasil survey di lapangan selisih harga kopra jual per kg dari pedagang pengumpul ke pedagang besar hingga pabrik adalah Rp. 500, sedangkan keuntungan yang diperoleh oleh pedagang pengumpul dan pedagang besar yaitu Rp. 50.000. Untuk distribusi margin pemasaran diperoleh biaya 50% sama besar dengan keuntungan 50% dari jumlah margin.

Tabel 3. Margin dan Distribusi Margin Pemasaran Kopra pada Saluran III di Kabupaten Gorontalo, 2013

Lembaga Pemasaran Harga (Rp/200 Kg)

Distribusi Margin Pemasaran (%) 1. Petani Kelapa dan Kopra

- Harga Jual 800.000 2. Pedagang Besar

- Harga beli - Biaya angkut - Keuntungan - Harga Jual

800.000 50.000 50.000 900.000

50 50

3. Pabrik

- Harga beli 900.000

Margin Pemasaran 100.000 100

Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2013

Berdasarkan Tabel 3, margin dan distribusi margin pemasaran kopra di Kabupaten Gorontalo khususnya Kecamatan Limboto, menjelaskan bahwa nilai dari margin pemasaran adalah Rp. 100.000, biaya di hitung mulai dari pengolahan kelapa menjadi kopra, biaya pengangkutan, harga jual dan harga beli antara petani dan pedagang. Untuk petani kelapa dan kopra harga jual ke pedagang besar adalah 4000/Kg, dan pedagang besar menjual ke pabrik 4500/Kg Untuk distribusi margin biaya 50% sama besar dengan keuntungan 50% dari jumlah margin pemasaran.

(10)

10

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan dari hasil penelitian sebagai berikut :

1. Lembaga pemasaran kopra yang ada di Kabupaten Gorontalo khususnya di Kecamatan Limboto yaitu petani kelapa, petani kopra, pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul besar dan pabrik. Saluran pemasaran kopra yang ada di Kabupaten Gorontalo khususnya di Kecamatan Gorontalo terdapat tiga saluran pemasaran, ketiga saluran tersebut merupakan saluran tidak langsung.

2. Dari analisis margin pemasaran kopra di Kabupaten Gorontalo khususnya di Kecamatan Limboto yaitu margin pemasaran Rp. 400.000 untuk saluran pemasaran I, Rp. 200.000 untuk saluran pemasaran II, dan Rp. 100.000 untuk saluran pemasaran III. Jadi semakin sedikit lembaga yang berperan dalam pemasaran maka margin pemasaran juga akan semakin sedikit. Distribusi margin pemasaran dari ketiga saluran tersebut diperoleh untuk Saluran I, biaya 68,75%

lebih besar daripada keuntungan 31,25% dari jumlah margin. Saluran II, biaya 50% sama besar dengan keuntungan 50% dari jumlah margin. Dan saluran III, biaya 50% sama besar dengan keuntungan 50% dari jumlah margin pemasaran.

DAFTAR PUSTAKA

Bappeda Kabupaten Gorontalo. 2013. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Gorontalo 2013

Badan Pusat Statistik. 2011. Gorontalo dalam Angka. Gorontalo.

Dinas Pertanian dan Perkebunan. 2013. Kinerja dan Data Informasi Pertanian dan Perkebunan. Kabupaten Gorontalo

Kantor Kecamatan Limboto. 2013. Profil Limboto. Kabupaten Gorontalo

Gambar

Gambar 2. Saluran Pemasaran Kopra di Kabupaten Gorontalo 2013

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini terlihat jelas dari peningkatan skor tes ARA dan morticity index (arm section) antara fase awal dan fase akhir setelah mengalami intervensi selama 6

Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data tes potensi akademik (TPA) dan nilai hasil ulangan harian matematika siswa kelas XI SMA Negeri se-Kabupaten Kutai Kartanegara

Islam juga menempatkan muslimah pada tempat yang layak dan terhormat, dimanapun tempatnya, apapun posisinya, baik sebagai pengajar keilmuan, dai, sebagai istri, sebagai anak

Desa wisata Sidoakur merupakan desa wisata yang terletak di 22 Km kearah selatan Kota Kabupaten Sleman yakni didesa Sidokarto, Kecamatan Godean, Kabupaten

Data ini menunjukkan terdapat peningkatan pendekatan bermain lempar tangkap terhadap hasil belajar servis bawah pada siswa kelas VII SMPN 1 Nanga Mahap

Dari. 'Gambar 8 terlihat nilai impedansi berubah dengan penambahan arang tetapi perubahannya tidak terlalu berarti karena perubahannya kecil sekali Penambahan arang

Berita Acara Serah Terima (BAST) sebagaimana tersebut pada huruf d harus ditandatangani oleh Satker Raskin dan Pokja Raskin Kelurahan SfJrta diketahui oleh pejabat Kelurahan dengan

tingkat penangkapan ikan pari (Elasmobranchii) oleh nelayan dari Kabupaten Batang ini cukup tinggi, yang diindikasikan oleh keberadaan ikan-ikan tersebut di pelelangan hampir