• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran beragam untuk sektor garmen Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Gambaran beragam untuk sektor garmen Indonesia"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Buletin Sektor Garmen dan Alas Kaki Indonesia

Edisi I | September 2017

Gambaran beragam untuk sektor garmen Indonesia

Oleh Richard Horne dan Marina Cruz de Andrade | Kantor Regional untuk Asia dan Pasifik | [email protected]

1. Pendahuluan

Buletin ini memberikan gambaran kinerja dan kemajuan industri garmen, tekstil dan alas kaki (tekstil, produk tekstil dan alas kaki / TPA) Indonesia, dengan fokus pada lapangan pekerjaan, upah dan jam kerja. Buletin ini menunjukkan bahwa TPA terus menjadi komponen utama industri manufaktur Indonesia, dan merupakan sumber lapangan pekerjaan yang signifikan, terutama bagi perempuan. Meskipun demikian, pangsa pekerjaan untuk perempuan di industri ini menurun. Pada saat yang sama, upah di industri ini terus naik, dan lebih lagi bagi perempuan daripada laki-laki. Selain itu, industri TPA memiliki tingkat kepatuhan upah minimum yang lebih tinggi daripada industri manufaktur secara keseluruhan, walaupun lapangan pekerjaan di industri TPA cenderung terkonsentrasi di provinsi-provinsi yang memiliki tingkat upah minimum terendah.

Buletin ini diambil dari data resmi tentang ekonomi, ketenagakerjaan dan upah sebagaimana yang disediakan oleh kantor statistik nasional Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) – kecuali dinyatakan lain.

2. Karakteristik Industri Output ekonomi

Industri TPA menyumbang sekitar 7 persen dari nilai tambah bruto (NTB) manufaktur Indonesia1 pada tahun 2016, menurut perkiraan sementara, setara dengan sekitar 1,4 persen dari total PDB.2 Ini menunjukkan sedikit penurunan, dengan kedua ukuran tersebut, masing-masing dari 7,5 persen dan 1,6 persen pada tahun 2012.

1 NTB adalah PDB minus konsumsi antara. Kontribusi terhadap PDB oleh industri biasanya mengacu pada NTB, karena tidak mencakup pajak dan subsidi.

Ini sesuai dengan penurunan jangka panjang dalam output TPA dibandingkan dengan manufaktur, di mana pangsa TPA telah menurun dari sekitar 3 persen NTB manufaktur pada tahun 2005. Hal ini sebagian disebabkan oleh kontraksi besar di industri ini pada tahun 2007 dan 2008, yang memerlukan waktu hingga tahun 2011 untuk pulih ke tingkat pra-kontraksi. Dalam tahun-tahun terakhir, yaitu 2015 dan 2016, NTB di industri TPA terus menurun secara riil (Gambar 1).

Gambar 1: Indeks nilai tambah bruto (NTB) riil, menurut industri (harga konstan), 2012-2016 (2012=100)

Catatan: Nilai tukar tahunan yang berlaku.

Sumber: BPS, Statistical Yearbook of Indonesia, 2017

Perlambatan kinerja output industri TPA sebagian besar didorong oleh sub-industri tekstil dan pakaian jadi, yang menyumbang sekitar 80 persen output TPA Indonesia. NTB di industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh sekitar 0,7 persen per tahun antara tahun 2012 dan 2016, setelah inflasi diperhitungkan, dibandingkan dengan kenaikan 5,7 persen untuk kulit dan produk terkait dan alas kaki (Gambar 1). Ini juga buruk jika dibandingkan dengan pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar

2 Untuk data neraca nasional, TPA didefinisikan sebagai ‘tekstil dan pakaian jadi, kulit dan produk terkait dan alas kaki’

90 95 100 105 110 115 120 125 130

2012 2013 2014 2015 2016

Manufaktur, pertumbuhan NTB Tekstil dan pakaian jadi, pertumbuhan NTB

Kulit dan produk terkait dan alas kaki, pertumbuhan NTB Industri GTF, pertumbuhan NTB

(2)

4,4 persen untuk manufaktur secara keseluruhan selama periode ini.

Produktivitas tenaga kerja dan ukuran perusahaan

Produktivitas tenaga kerja Indonesia di industri TPA – didefinisikan sebagai nilai tambah bruto per orang yang dipekerjakan – diperkirakan lebih tinggi daripada sejumlah negara lain secara regional, termasuk Vietnam dan Kamboja, tetapi lebih rendah daripada negara-negara seperti Thailand dan Filipina (Gambar 2).

Gambar 2: Produktivitas tenaga kerja di manufaktur TPA ($ aktual), tahun terakhir yang tersedia

Catatan: Produktivitas tenaga kerja didefinisikan sebagai nilai tambah bruto dalam harga aktual per orang yang dipekerjakan, dengan nilai tukar nominal resmi yang berlaku;

Sumber: Perkiraan berdasarkan data resmi dari neraca nasional dan survei angkatan kerja nasional (berbagai tahun); World Bank: World Development Indicators (2014).

Pluralitas – sekitar 37 persen (2015) – pekerja yang bekerja di industri TPA adalah di perusahaan berukuran besar dan sedang, menurut data survei perusahaan.3 Perusahaan-perusahaan berukuran ini dapat menunjukkan skala ekonomi yang jelas, dengan tingkat produktivitas tenaga kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan berukuran kecil dan mikro, meskipun lebih rendah dari rata-rata manufaktur (Gambar 3).

3 Statistical yearbook (Berbagai tahun). Ukuran perusahaan didefinisikan sebagai berikut: manufaktur skala besar (100 karyawan atau lebih), manufaktur berukuran sedang (20-99

Sekitar 63 persen pekerja yang bekerja di industri TPA ada di perusahaan kecil dan mikro, menurut data survei perusahaan.

Gambar 3: Produktivitas tenaga kerja menurut ukuran perusahaan, industri TPA dan seluruh manufaktur (US$), 2015

Catatan: Produktivitas tenaga kerja didefinisikan sebagai nilai tambah bruto per orang yang dipekerjakan.

Sumber: Perkiraan penulis dihitung dari temuan Survey Perusahaanndirian yang dikutip dalam Statistical Yearbook of Indonesia, (berbagai tahun).

Rata-rata, perusahaan berukuran besar dan sedang mempekerjakan sekitar 260 pekerja per perusahaan. Mayoritas pekerja ini berada di manufaktur tekstil (45 persen), dengan sedikit di bawah 40 persen dalam manufaktur pakaian jadi dan 16 persen sisanya di kulit dan produk terkait (yang didominasi oleh alas kaki).

Ekspor

Industri TPA Indonesia menyumbang sekitar 6,6 persen dari total ekspor produk perdagangan (dalam harga aktual) pada tahun 2015.4 Ini sama dengan sekitar US $11,6 miliar. Total ekspor garmen mencapai sekitar $7,5 miliar, sedikit di bawah $7,8 miliar yang diekspor pada tahun 2011.

Sementara itu, ekspor alas kaki terus meningkat, dari $3,3 miliar pada tahun 2011 menjadi $4,1 miliar pada tahun 2015.

Amerika Serikat menjadi tujuan utama ekspor TPA, yang menyumbang sekitar 41 persen dari

karyawan), manufaktur skala kecil (5-19 karyawan) dan industri mikro (1-4 karyawan)

4 Untuk ekspor, TPA mengacu pada kategori berlabel ‘garmen dan alas kaki’

$1,741

$1,783

$1,848

$2,282

$4,149

$4,646

$8,178

$0 $2,000 $4,000 $6,000 $8,000 $10,000 Vietnam, 2013

India, 2011/2012 Kamboja, 2012 Pakistan, 2013 Indonesia, 2014 Filipina, 2013 Thailand, 2013

0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000

Perusahaan berukuran besar

dan sedang

Perusahaan

berukuran kecil Perusahaan berukuran mikro Manufaktur GTF

(3)

ekspor pada tahun 2016 (turun dari sekitar 53 persen pada tahun 2006) (Gambar 4). Uni Eropa merupakan mitra ekspor terbesar kedua Indonesia, yang menyumbang sekitar 24 persen ekspor TPA Indonesia (turun dari 29 persen pada tahun 2006), dan Jepang, yang menyumbang 8,3 persen ekspor TPA pada tahun 2016 (naik dari 3,3 persen pada tahun 2006). Cina juga menyumbang pangsa yang lebih besar dari ekspor TPA Indonesia, sebesar 4,7 persen pada tahun 2016, naik dari 0,5 persen pada tahun 2006.

Gambar 4: Pangsa ekspor TPA (%), menurut mitra ekspor utama, 2006 dan 2016

Sumber: Perkiraan dari UNCTAD: UNCTADstat Database.

Cerminan dari kontraksi yang dialami oleh industri TPA pada tahun 2007 dan 2008, ekspor TPA menyusut sekitar 6 persen untuk garmen dan 8 persen untuk alas kaki pada tahun 2009.

Sebagai satu pangsa ekspor barang perdagangan, penyusutan ini bertahan hingga tahun 2013 dan kemungkinan karena berkurangnya permintaan dari para mitra ekspor utama dan sangat lambannya pemulihan dibandingkan dengan produk ekspor produk perdagangan lainnya.

Terkait dengan kawasan ini, pertumbuhan ekspor di industri TPA Indonesia berkembang pada tingkat yang relatif lambat, di belakang Vietnam, Kamboja, India dan Bangladesh (Gambar 5, panel B). Meskipun demikian, Indonesia masih mengekspor lebih banyak produk TPA daripada Kamboja dan Pakistan, tetapi masih di belakang

5 Data penanaman modal dalam negeri dan asing diambil dari Badan Koordinasi Penanaman Modal; Domestic and Foreign Direct Investment Realization in Quarter IV and January-December 2016

Vietnam, India dan Bangladesh (Gambar 5, panel A).

Gambar 5: Ekspor TPA dan pertumbuhan ekspor Panel A: Ekspor (juta US$), 2016

Panel B: Pertumbuhan ekspor (tingkat

pertumbuhan rata-rata tahunan, %), 2010-2016

Sumber: Perkiraan dari UNCTAD: UNCTADstat Database.

Penanaman modal dalam negeri dan asing5

Dalam hal penanaman modal langsung dalam negeri (DDI), total US $241 juta diinvestasikan ke dalam 284 proyek berbeda di industri tekstil dan

$5,1 juta ke dalam 21 proyek di industri barang dari kulit dan alas kaki pada tahun 2016 (Gambar 6).

DDI setara dengan sekitar $0,8 juta per proyek di industri tekstil dan $0,2 juta per proyek di industri barang dari kulit dan alas kaki, yang merepresentasikan penurunan masing-masing dari $1,1 juta dan $0,03 juta per proyek pada

0 10 20 30 40 50 60

Australia ASEAN Korea, Republik China Jepang Uni Eropa Amerika serikat

2006

2016

0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 45,000

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

(4)

tahun 2015. Ini dibandingkan dengan rata-rata

$2,6 juta per proyek pada tahun 2015 dan $2,2 juta per proyek pada tahun 2016, untuk DDI di semua industri. Sebagai pangsa dari penanaman modal DDI total, penanaman modal TPA menyumbang sekitar 1,5 persen baik pada tahun 2015 maupun 2016.

Gambar 6: Penanaman modal dalam negeri dan asing di garmen dan alas kaki, 2015 dan 2016

Sumber: Badan Koordinasi Penanaman Modal; Domestic and Foreign Direct Investment Realization in Quarter IV and January-December 2016

Dalam hal penanaman modal langsung asing (FDI), total $321 juta diinvestasikan ke dalam 886 proyek industri tekstil dan $144 juta ke dalam 279 proyek industri barang dari kulit dan alas kaki pada tahun 2016. Ini setara dengan $0,4 juta per proyek industri tekstil dan $0,5 juta per proyek barang dari kulit dan alas kaki, yang merepresentasikan penurunan dari $1,5 juta per proyek tekstil dan $1,5 juta per proyek barang dari kulit dan alas kaki pada tahun 2015. Ini dibandingkan dengan $0,6 juta per proyek pada tahun 2015 dan $1,1 juta per proyek pada tahun 2016 untuk FDI di semua industri. Sebagai pangsa dari FDI total, penanaman modal tekstil, kulit dan alas kaki menyumbang 2 persen pada tahun 2015, turun menjadi 1,6 persen pada tahun 2016.

Meskipun terjadi penurunan investasi dolar per proyek untuk DDI dan FDI, jumlah total satuan proyek tekstil, kulit dan alas kaki yang diinvestasikan meningkat secara substansial.

Untuk penanaman modal dalam negeri, jumlah satuan proyek tekstil, kulit dan alas kaki yang diinvestasikan naik dari 198 menjadi 305 antara tahun 2015 dan 2016 (peningkatan 54 persen), dan untuk penanaman modal asing, jumlah proyek yang diinvestasikan meningkat dari 913 menjadi 1165 (peningkatan 27 persen).

0 200 400 600 800 1000 1200 1400

0.0 100.0 200.0 300.0 400.0 500.0 600.0 700.0

2015 2016 2015 2016

DDI FDI

Penanaman modal total (US$ juta), lajur kiri Satuan proyek, lajur kanan

(5)

3. Ketenagakerjaan6

Pada tahun 2016, sekitar 4,2 juta orang dipekerjakan di industri TPA di Indonesia, yang menyumbang 26,6 persen dari semua pekerjaan manufaktur.7 Ini merepresentasikan penurunan tipis dari sekitar 4,3 juta pada tahun 2012, tetapi juga mencerminkan peningkatan pada tahun 2016 (Gambar 7). Perempuan menjadi mayoritas (sekitar 58 persen) dari orang yang dipekerjakan di industri ini, yang berbanding dengan sekitar 38 persen manufaktur non-TPA.

Pada tahun 2016, industri TPA mempekerjakan 35,3 persen dari semua pekerja manufaktur perempuan, ini berbanding dengan 19,8 persen dari semua pekerja manufaktur laki-laki.

Mayoritas (92,5 persen) pekerja TPA pada tahun 2016 berada di kategori pekerjaan ‘Operator produksi, transportasi dan penyewaan peralatan, pekerja produksi dan yang terkait, operator peralatan transportasi dan buruh’, namun ini sedikit lebih tinggi untuk perempuan, yang menyumbang 95 persen, berbanding dengan 89 persen untuk laki-laki. Laki-laki juga cenderung menempati posisi manajemen yang lebih senior.

Gambar 7: Pekerjaan di industri TPA menurut jenis kelamin (ribu), 2012-2016

Sumber: Perkiraan penulis berdasarkan Sakernas BPS

Terutama, perempuan menjadi mayoritas penurunan dalam lapangan pekerjaan TPA total antara tahun 2012 dan 2015 (Gambar 6). Dalam periode ini, ketenagakerjaan TPA laki-laki meningkat tipis sebesar 0,3 persen per tahun saat ketenagakerjaan TPA perempuan menurun 2,5 persen per tahun. Mayoritas (90 persen)

6 Data di bagian ini adalah dari Sakernas.

pemulihan antara tahun 2015 dan 2016 juga dapat dijelaskan dengan ketenagakerjaan laki-laki.

Pendidikan dan keterampilan

Perbedaan yang signifikan dengan negara-negara berkembang Asia lainnya adalah lebih tingginya tingkat pendidikan pekerja TPA di Indonesia.

Sekitar 70 persen pekerja mencapai pendidikan menengah atau lebih tinggi, berbanding dengan 37 persen di Vietnam, 25 persen di Pakistan, dan 5 persen di Kamboja (Gambar 8).

Gambar 8: Komposisi pendidikan ketenagakerjaan TPA, Indonesia dan negara-negara terpilih (%), tahun terkini data yang tersedia

Sumber: Perkiraan penulis berdasarkan sumber nasional.

Mayoritas pekerja TPA Indonesia memiliki tingkat pendidikan menengah (66,6 persen perempuan, 64,3 persen laki-laki) pada tahun 2016. Ada proporsi sedikit lebih tinggi perempuan dengan tingkat pendidikan tidak lulus pendidikan dasar ( 7,3 persen untuk perempuan, 5,9 persen untuk laki-laki) dan proporsi sedikit lebih tinggi laki-laki dengan pendidikan perguruan tinggi (1,7 persen perempuan, 3,3 persen laki-laki). Antar berbagai sektor TPA, alas kaki dan kulit cenderung memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi daripada garmen dan tekstil.

7 Jumlah di SAKERNAS berbeda dengan survei perusahaan, karena perbedaan dalam ruang lingkup masing-masing survei.

3,700 3,800 3,900 4,000 4,100 4,200 4,300

0 500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000

2012 2013 2014 2015 2016

Perempuan (lajur kiri) Laki-laki (lajur kiri)

0% 20% 40% 60% 80% 100%

Pakistan 2014/15 Bangladesh 2013 Kamboja 2012 India 2011/12 Vietnam 2016 Indonesia 2016

Tidak lulus Pendidikan Dasar Dasar

Menengah Perguruan Tinggi

Lainnya

(6)

Status dalam ketenagakerjaan

Karyawan berupah dan bergaji merepresentasikan sekitar 72 persen dari orang yang bekerja di industri TPA pada tahun 2016. Ini lebih tinggi daripada manufaktur secara keseluruhan (sekitar 65 persen). Mayoritas karyawan cenderung dipekerjakan di perusahaan berukuran besar dan sedang, menurut catatan dalam survei manufaktur.

Sementara itu, 20,3 persen diklasifikasikan sebagai pekerja mandiri dan sekitar 3,5 persen sebagai pekerja keluarga tidak dibayar (4,2 persen lainnya adalah pemberi kerja). Ini berarti relatif rendahnya pangsa pekerjaan yang rentan – yang didefinisikan sebagai pangsa pekerja mandiri dan pekerja keluarga tidak dibayar – di industri TPA sebesar 23,7 persen, naik sedikit dari 19 persen pada tahun 2012. Ini juga berbanding dengan tingkat pekerjaan rentan sebesar 30,3 persen dalam manufaktur Indonesia secara keseluruhan.

Ada kesenjangan antara pangsa karyawan laki-laki dan perempuan, dengan 78,1 persen laki-laki diklasifikasikan karyawan berbanding dengan 73,3 persen perempuan. Kesenjangan tersebut meluas menjadi 7,5 persen bila dibatasi hanya pada pegawai tetap, (75,9 persen laki-laki berbanding dengan 68,4 persen perempuan), menunjukkan bahwa perempuan di industri ini masih cenderung tidak menduduki posisi reguler daripada laki-laki.

Pada saat yang sama, karyawan tidak tetap sebagai pangsa dari semua karyawan sedikit lebih rendah (6 persen) daripada rata-rata untuk manufaktur secara keseluruhan (7,1 persen). Namun, tingkat casualization lebih tinggi untuk karyawan TPA perempuan (8,1 persen) daripada laki-laki (3,5 persen) pada tahun 2016.

Distribusi geografis pekerjaan

Lokasi utama untuk pekerjaan TPA adalah provinsi-provinsi di pulau Jawa. Sebanyak 1,6 juta orang dipekerjakan di industri ini di Jawa Barat, 1,1 juta di Jawa Tengah, sekitar 470.000 di Jawa Timur, 360.000 di Banten dan sekitar 110.000 di DKI Jakarta (Gambar 9). Secara bersama, provinsi-provinsi ini menyumbang lebih dari 85 persen dari semua pekerjaan TPA pada tahun 2016.

Terdapat beberapa perubahan dalam beberapa tahun terakhir, dengan pengurangan bersih sekitar 113.000 pekerja TPA di lima lokasi teratas ini sejak tahun 2012. Selanjutnya, antara tahun 2015 dan 2016, perubahan paling menonjol dalam hal jumlah pekerjaan di provinsi-provinsi ini adalah penurunan 40 persen di DKI Jakarta dan 15 persen di Banten. Pada saat yang sama, terjadi peningkatan di Jawa Barat (7 persen) dan Jawa Tengah (8 persen).

Gambar 9: Heatmap yang menunjukkan konsentrasi pekerjaan TPA menurut provinsi (ribu), 2016

Sumber: Perkiraan penulis berdasarkan Sakernas BPS.

(7)

4. Tren upah

Upah rata-rata riil untuk karyawan di industri TPA meningkat secara signifikan antara tahun 2012 dan 2016, setelah mengalami penurunan pada tahun 2014 dan 2015. Pada tahun 2016, upah nominal bulanan per pekerja TPA adalah sekitar Rp. 2 juta per bulan (setara dengan sekitar 154 USD).8 Ini merepresentasikan pertumbuhan sekitar 8,8 persen per tahun sejak 2012, yang berbanding dengan rata-rata upah nominal sebesar Rp. 2,4 juta di bidang manufaktur (yang tumbuh sebesar 8 persen per tahun antara tahun 2012 dan 2016; Gambar 10).

Gambar 10. Indeks upah bulanan riil (2012=100), industri terpilih, 2012-2016

Sumber: Perkiraan penulis berdasarkan Sakernas BPS.

Tingkat pertumbuhan upah riil tidak merata bagi laki-laki dan perempuan. Bagi pekerja upahan perempuan di industri TPA, upah riil rata-rata tumbuh 10,1 persen per tahun antara tahun 2012 dan 2016 berbanding dengan 7,2 persen untuk laki-laki, tetapi tingkat upah rata-rata untuk laki- laki tetap lebih tinggi daripada tingkat upah bagi perempuan (lihat bagian selanjutnya).

Terdapat premi pendapatan yang besar terkait dengan peningkatan tingkat pendidikan. Bagi mereka yang berpendidikan tidak lulus pendidikan dasar, pendapatan di industri TPA adalah sekitar Rp. 1,1 juta pada tahun 2016, berbanding dengan Rp. 1,5 juta untuk mereka yang berpendidikan dasar, dan Rp. 2,2 juta untuk mereka yang

8 Nilai tukar pasar per Agustus 2016: 1 USD adalah Rp. 13.097,15

berpendidikan menengah. Mereka yang memiliki kualifikasi teknis memiliki upah bulanan nominal sebesar Rp. 2,8 juta dan mereka yang berpendidikan perguruan tinggi, sebesar Rp. 4,7 juta.

Karyawan tidak tetap biasanya mendapatkan penghasilan setara dengan 35 persen jumlah yang diterima oleh rata-rata seluruh karyawan di industri TPA. Perbedaan paling mencolok untuk pekerja tidak tetap perempuan yang berpenghasilan setara dengan 26 persen rata-rata, berbanding dengan pekerja tidak tetap laki-laki yang berpenghasilan hampir 60 persen.

Kesenjangan upah gender

Dari tahun 2012 hingga 2016, karyawan perempuan di bidang manufaktur mendapatkan penghasilan jauh lebih rendah daripada rekan laki- laki mereka. Upah nominal karyawan perempuan sekitar 30 persen rata-rata upah laki-laki antara tahun 2012 dan 2016, meskipun terjadi penyempitan sementara kesenjangan tersebut hingga sekitar 20 persen pada tahun 2015.

Kesenjangan gender kurang mencolok di industri TPA dan menunjukkan kemajuan yang lebih berkelanjutan. Antara tahun 2012 dan 2016, kesenjangan gender menyempit dari 17,5 persen menjadi 8,2 persen.

Untuk sub sektor industri TPA, alas kaki dan kulit menunjukkan pembalikan kesenjangan gender, dengan pendapatan bulanan nominal untuk karyawan perempuan pada tahun 2016 17,4 persen lebih tinggi daripada untuk laki-laki. Ini berkebalikan dengan tekstil dan garmen, yang meskipun kesenjangan gendernya menyempit, perempuan masih berpenghasilan jauh lebih rendah daripada laki-laki di kawasan ini sebesar 25 persen dan 14 persen pada tahun 2016.

Tingkat upah minimum9

Upah minimum ditetapkan di tingkat provinsi dan pada tahun 2017 berkisar dari yang tertinggi

9 Upah minimum yang disitir di sini dan di sepanjang laporan diberikan oleh Direktorat Jenderal Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Kementerian Tenaga Kerja Indonesia.

100 105 110 115 120 125 130 135 140 145

2012 2013 2014 2015 2016

Semua karyawan, tidak termasuk sektor publik Karyawan manufaktur

Karyawan GTF

Indeks harga konsumen (IHK)

(8)

sebesar Rp 3,5 juta per bulan (setara dengan

$266) di DKI Jakarta hingga Rp 1,3 juta di DI Yogyakarta (setara dengan $99).10 Dispersi, yaitu perbedaan antara upah minimum tertinggi dan terendah menurut provinsi semakin melebar dalam dekade terakhir sebagaimana ditunjukkan oleh tren kenaikan pada Gambar 11.

Gambar 11: Dispersi upah minimum antar provinsi (koefisien variasi), 1997-2016

Catatan: Koefisien variasi diukur sebagai deviasi standar yang dibagi dengan rataan aritmetika.

Provinsi-provinsi utama penghasil TPA yang meliputi Jawa Barat (Rp 1,4 juta), Jawa Timur (Rp 1,4 juta) dan Jawa Tengah (Rp 1,4 juta) merupakan tiga dari empat tingkat upah minimum terendah di negara ini. Banten, satu produsen utama lainnya, memiliki upah minimum Rp 1,9 juta – masih di bawah rata-rata Rp 2,1 juta di seluruh provinsi. DKI Jakarta adalah pengecualian, dengan upah minimum tertinggi di semua provinsi, serta merupakan provinsi penghasil TPA yang signifikan. Perundang-undangan penetapan upah baru yang diterapkan pada awal tahun 2016 bisa membantu memfasilitasi konvergensi yang lebih besar antar tingkat upah minimum di seluruh negeri di tahun-tahun mendatang.

Kepatuhan upah minimum

Kepatuhan terhadap upah minimum di industri TPA secara keseluruhan meningkat dalam lima tahun terakhir. Tingkat kepatuhan, berdasarkan pendapatan bulanan – yaitu, pangsa pendapatan karyawan berupah dan bergaji yang lebih banyak daripada jumlah minimum legal, yang dihitung

10 Nilai tukar pasar per Maret 2017: 1 USD adalah Rp. 13.179,45

pada tingkat bulanan – meningkat dari 29,4 persen pada tahun 2012 menjadi 40,5 persen pada tahun 2015 (gambar 12, panel A ). Ini berbanding dengan tingkat kepatuhan sebesar 42,4 persen seluruh karyawan manufaktur pada tahun 2015 (naik dari 32,4 persen pada tahun 2012). Tingkat kepatuhan di industri TPA lebih dari dua kali lipat untuk laki-laki – dari 24,4 persen menjadi 48,3 persen, antara tahun 2012 dan 2015 – sementara naik hanya sedikit untuk perempuan – dari 32,9 persen menjadi 34,9 persen dalam periode yang sama.

Gambar 12. Tingkat kepatuhan upah minimum di industri TPA (%), 2012 dan 2015

Panel A: Industri TPA, pecahan terpilih

Panel B: Industri TPA, provinsi terpilih

Sumber: Perkiraan penulis berdasarkan Statistik BPS.

Antara tahun 2012 dan 2015, hampir semua provinsi TPA utama menunjukkan peningkatan kepatuhan upah minimum (Gambar 12, panel B).

Namun, kepatuhan sangat rendah di industri TPA

0.10 0.12 0.14 0.16 0.18 0.20 0.22 0.24 0.26

1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

0 20 40 60 80 100

Alas kaki dan kulit Tekstil Garmen Perempuan Laki-laki

Total GTF 2012

2015

0 20 40 60 80 100

Banten Jawa Barat Jawa Timur Jawa Tengah Indonesia

DKI Jakarta 2012

2015

(9)

DKI Jakarta pada tahun 2015, yaitu 34,5 persen, meskipun meningkat dari 19,4 persen di tahun 2012. Tingkat kepatuhan tertinggi adalah di Banten sebesar 88,2 persen, diikuti oleh Jawa Barat (81 persen).

5. Jam kerja

Industri TPA di Indonesia bercirikan jam kerja panjang, sebagaimana lazimnya di seluruh industri manufaktur negara ini. Waktu kerja rata-rata di manufaktur TPA adalah sekitar 43 jam seminggu di tahun 2016, sama seperti semua manufaktur.

Namun, ada perbedaan menurut jenis kelamin, di mana laki-laki cenderung bekerja seminggu sekitar 5 jam lebih lama dari perempuan, masing- masing 45 jam berbanding 40 jam. Perbedaan semacam itu lazim, karena tidak sepadannya tanggung jawab pengasuhan dan kerumahtanggaan yang ditanggung oleh perempuan.

Di dalam industri TPA, perbedaan gender dalam jam kerja yang dijalani paling mencolok untuk manufaktur tekstil, di mana laki-laki bekerja seminggu rata-rata 11 jam lebih lama daripada perempuan, 46 jam berbanding 35 jam. Di bidang pakaian jadi perbedaannya lebih sedikit, dengan laki-laki bekerja 47 jam berbanding dengan perempuan selama 39 jam, sedangkan di bidang kulit dan produk terkait, laki-laki bekerja sekitar 47 jam dan perempuan 43 jam.

Gambar 13: Jam kerja berlebihan menurut jenis kelamin dan sub-sektor dalam TPA dan manufaktur (%), 2016

Sumber: Perkiraan penulis berdasarkan Sakernas BPS.

Hampir 60 persen pekerja di industri TPA bekerja dengan jam berlebihan (didefinisikan di

sini sebagai lebih dari 48 jam per minggu) pada tahun 2016 (Gambar 13). Ini umumnya konsisten dengan rata-rata di seluruh manufaktur sebesar 55 persen. Tingkat tertinggi jam kerja berlebihan adalah di industri tekstil, sekitar 66 persen, dengan tingkat terendah sebesar 51 persen di kulit dan alas kaki. Laki-laki lebih cenderung bekerja dengan jam berlebihan, di mana sebanyak 73 persen dari mereka yang bekerja di tekstil bekerja lebih dari 48 jam seminggu pada tahun 2016, berbanding dengan 58 persen perempuan.

6. Kesimpulan

Sektor garmen, tekstil dan alas kaki Indonesia terus menjadi penyumbang utama nilai tambah bruto manufaktur negara tersebut. Namun, meskipun ada investasi yang apik dan diversifikasi mitra ekspor, output melambat. Menurunnya kinerja ekonomi industri ini didorong oleh sub- industri tekstil dan pakaian jadi, dengan peningkatan di alas kaki dan produk kulit. Ini mungkin membantu membendung penurunan dalam ketenagakerjaan TPA secara keseluruhan.

Produktivitas tenaga kerja di industri ini relatif tinggi dibandingkan pesaing regional (meskipun lebih rendah dari negara-negara seperti Thailand dan Filipina) yang sebagian mungkin mencerminkan relatif tingginya tingkat pendidikan di industri ini.

Upah bulanan riil tumbuh di industri TPA pada tingkat yang lebih cepat daripada rata-rata manufaktur. Tingkat kepatuhan upah minimum di industri TPA lebih rendah daripada rata-rata manufaktur di seluruh negara ini, namun daerah- daerah penghasil TPA utama cenderung menunjukkan tingkat kepatuhan yang relatif tinggi.

Meskipun demikian, industri TPA cenderung berbasis di provinsi-provinsi dengan tingkat upah minimum terendah. Pada saat yang sama, ada perbedaan gender yang mencolok dalam pendapatan rata-rata. Penting untuk mempersempit kesenjangan gender ini dan memastikan keberlanjutan dan peningkatan kepatuhan upah minimum diperkuat melalui perundingan bersama dan dialog sosial yang kondusif di seluruh negeri.

0 20 40 60 80

Manufaktur Alas kaki Tekstil Garmen GTF

Kedua Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan

(10)

- Lampiran tabel 1. Indikator pekerjaan terpilih, 2012-2016

2012 2013 2014 2015 2016

Total L P Total L P Total L P Total L P Total L P

Total pekerjaan (juta) 110,8 69,1 41,7 112,8 70,3 42,4 114,6 71,5 43,2 114,8 72,2 42,7 118,4 72,9 45,5

Total manufaktur (juta) 15,9 9,1 6,8 15,5 9,1 6,5 15,6 9,2 6,4 15,5 9,2 6,4 15,87 9,0 6,9

Total manufaktur TPA (000) 4.251 1.625 2.625 4.269 1.678 2.591 4.172 1.712 2.461 4.078 1.641 2.437 4.217 1.768 2.449

Tekstil 1.231 513 718 1208 523 685 1.302 582 720 1.248 534 714 1.197 496 701

Garmen 2.350 801 1.549 2363 824 1.539 2.162 783 1.379 2.167 795 1.372 2.238 906 1.332

Alas kaki dan kulit 670 311 359 698 331 367 708 346 362 663 311 351 782 366 416

Pangsa pekerjaan TPA (%)

Tekstil 29 31,6 27,3 28,3 31,2 26,4 31,2 34 29,3 30,6 32,6 29,3 28,4 28,1 28,6

Garmen 55,3 49,3 59 55,4 49,1 59,4 51,8 45,7 56 53,1 48,5 56,3 53,1 51,3 54,4

Alas kaki dan kulit 15,8 19,1 13,7 16,3 19,7 14,2 17 20,2 14,7 16,3 19 14,4 18,5 20,7 17

TPA menurut pendidikan (% disribusi)

Less than primary 7,6 5,1 9,2 7,5 5,1 9 6,4 4,6 7,6 6,7 4,9 8 6,7 5,9 7,3

Primary 25 24,5 25,3 23,5 22,6 24 23,2 21,7 24,2 23,3 24,4 22,5 23,9 24,9 23,2

Secondary 65 67,4 63,5 66,1 68,3 64,6 66,9 69,6 65 66,1 66,5 65,9 65,6 64,3 66,6

Technical degree 1 0,9 1 1,2 1,7 0,9 1,5 1,7 1,4 1,5 1,2 1,8 1,3 1,6 1,1

Tertiary education 1,4 2,1 1 1,8 2,2 1,5 2 2,5 1,7 2,3 3 1,9 2,4 3,3 1,7

TPA menurut status pekerjaan (% distribusi)

Karyawan 73,5 80 69,5 71,7 77,3 68 74,1 78,5 71,1 75,2 78,1 73,3 72,1 75,6 69,5

Pemberi kerja 7,9 11,1 5,9 6,8 11,8 3,5 7,4 11,9 4,4 6,5 10,8 3,6 8,2 13,6 4,3

Pekerja mandiri 12,6 7,2 16 14,2 8,2 18,1 14,8 7,9 19,5 14,3 9,6 17,4 16,3 8,9 21,6

Pekerja keluarga tidak dibayar 6 1,8 8,6 7,3 2,7 10,3 3,7 1,7 5,1 4 1,5 5,7 3,5 2 4,5

TPA menurut provinsi utama (000)

Jawa Barat 1.566 723 843 1.507 722 786 1.528 771 758 1.459 700 758 1.561 808 752

Jawa Tengah 948 384 564 1.064 387 677 990 382 608 997 364 633 1.080 442 638

Jawa Timur 516 125 391 499 164 335 465 152 313 469 160 309 472 154 318

Banten 416 170 246 442 186 257 443 181 262 433 207 225 365 176 189

Jakarta 258 105 153 215 80 136 195 102 93 190 92 98 113 55 58

- Catatan: usia 15 ke atas; Industri TPA sesuai dengan International Standard Industrial Classification of All Economic Activities (ISIC) Rev. 4 kelompok 13 (tekstil), 14 (garmen) dan 15 (alas kaki dan kulit).

(11)

- Lampiran tabel 2. Indikator terpilih rata-rata pendapatan bulanan dan jam kerja, 2012-2016

2012 2013 2014 2015 2016

Total L P Total L P Total L P Total L P Total L P

Rata-rata pendapatan bulanan (000Rupiah)

Manufaktur 1.328 1.508 1.040 1.638 1.829 1.314 1.668 1.870 1.326 1.778 1.910 1.553 2.252 2.506 1.833

TPA 1.151 1.283 1.058 1.408 1.518 1.328 1.434 1.547 1.346 1.514 1.399 1.596 2.012 2.109 1.935

Tekstil 1.138 1.327 954 1.244 1.420 1.068 1.354 1.565 1.127 1.366 1.446 1.287 1.772 2.012 1.513

Garmen 1.094 1.226 1.021 1.363 1.482 1.295 1.376 1.527 1.291 1.509 1.241 1.655 1.888 2.061 1.771

Alas kaki dan kulit 1.318 1.319 1.316 1.762 1.750 1.772 1.696 1.550 1.826 1.770 1.622 1.892 2.602 2.364 2.776

Menurut provinsi terpilih

Jawa Barat 1.201 1.259 1.151 1.468 1.521 1.422 1.462 1.498 1.428 1.556 1.095 1.952 2.050 2.165 1.936

Jawa Tengah 894 1.058 784 918 1.032 840 993 1.199 859 1.157 1.133 1.171 1.303 1.489 1.165

Jawa Timur 944 1.128 859 1.236 1.491 1.065 1.297 1.454 1.196 1.474 1.797 1.282 1.924 1.996 1.891

Banten 1.552 1.607 1.513 2.011 2.014 2.009 2.089 2.138 2.055 1.996 2.105 1.899 3.329 3.083 3.516

Jakarta 1.524 1.871 1.280 2.117 2.256 2.039 2.120 2.104 2.135 2.291 2.460 2.159 4.632 3.702 5.300

Menurut tingkat pendidikan

Less than primary 762 982 660 863 1.154 686 907 1.077 811 741 913 641 1.120 1.380 869

Primary 902 1.013 817 1.075 1.161 1.012 1.073 1.082 1.067 987 801 1.140 1.472 1.619 1.335

Secondary 1.204 1.313 1.128 1.483 1.565 1.422 1.474 1.559 1.406 1.619 1.499 1.702 2.169 2.220 2.131

Technical 2.398 2.195 2.594 2.029 2.361 1.600 2.151 2.316 1.974 2.575 2.717 2.519 2.818 2.798 2.832

Tertiary 3.082 3.481 2.469 3.266 3.422 3.127 4.265 5.245 3.281 3.968 4.067 3.868 4.708 5.929 3.292

Rata-rata jam kerja

Manufaktur 46 47 44 39 40 37 44 46 42 45 46 43 46 47 45

TPA 46 47 45 39 41 37 45 46 43 45 48 44 43 45 40

Tekstil 45 47 43 39 42 36 45 47 43 44 47 41 46 48 45

Garmen 46 48 45 38 39 37 44 46 43 46 49 44 43 45 40

Alas kaki dan kulit 46 48 44 40 41 39 44 44 44 46 47 44 47 48 46

Jam kerja berlebih (%)

Manufaktur 56,0 59,6 50,1 44,2 48,0 37,8 53,8 57,5 46,2 51,2 55,8 44,0 54,5 58,3 48,2

TPA 58,5 65,1 53,8 45,3 53,0 39,7 55,7 62,1 50,5 53,4 53,8 46,5 59,6 68,5 52,6

- Catatan: usia 15 ke atas; Industri TPA sesuai dengan International Standard Industrial Classification of All Economic Activities (ISIC) Rev. 4 kelompok 13 (tekstil), 14 (garmen) dan 15 (alas kaki dan kulit);

jam berlebih didefinisikan sebagai lebih dari 48 jam per minggu; upah dan pendapatan hanya mencakup karyawan berupah.

(12)

Publikasi ini telah diterbitkan di dalam kerangka program Labour Standards in Global Supply Chains yang dibiayai oleh Pemerintah Republik Federal Jerman. Program tersebut diprakarsai sebagai bagian dari kemitraan baru antara Kementerian Kerjasama Pembangunan Jerman (BMZ) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO). Tanggung jawab atas pendapat yang diungkapkan dalam publikasi ini semata-mata berada pada penulisnya, dan publikasinya tidak merupakan dukungan oleh ILO atau Pemerintah Republik Federal Jerman terhadap pendapat yang diungkapkan di dalamnya.

Informasi Kontak

ILO Regional Office for Asia and the Pacific United Nations Building

Rajdamnern Nok Avenue Bangkok 10200, Thailand Tel.: +66 2 288 1234 Fax: +66 2 288 3062 Internet: www.ilo.org/asia Email: [email protected]

Copyright © International Labour Organization 2016

Gambar

Gambar  1:  Indeks  nilai  tambah  bruto  (NTB)  riil,  menurut  industri  (harga  konstan),  2012-2016  (2012=100)
Gambar  3:  Produktivitas  tenaga  kerja  menurut  ukuran  perusahaan,  industri  TPA  dan  seluruh  manufaktur (US$), 2015
Gambar 5: Ekspor TPA dan pertumbuhan ekspor  Panel A: Ekspor (juta US$), 2016
Gambar  6:  Penanaman  modal  dalam  negeri  dan  asing di garmen dan alas kaki, 2015 dan 2016
+6

Referensi

Dokumen terkait

Merupakan bentuk struktur kabel yang terdiri dari dua buah tiang penumpu yang dihubungkan oleh kabel sehingga tercipta sebuah rentangan kabel yang disususn secara sejajar

Untuk mendapatkan lapisan tipis a-Si yang mempunyai tahanan yang cukup rendah dan lapisan tipis yang mempunyai refleksivitas yang cukup tinggi, maka dilakukan variasi

Penelitian tahap II dilakukan untuk mengetahui pengaruh antibakteri ekstrak lamun T.hemprichii terhadap pertumbuhan bakteripada fillet ikan lele yang disimpan pada suhu dingin

Mengurangi konsumsi makanan cepat saji atau fastfood, makanan ringan dalam kemasan, minuman ringan ( softdrink ), cemilan manis atau makanan dengan kandungan lemak

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar pengantar ekonomi dan bisnis pada siswa kelas X PM 1 SMK Negeri 1 Banyudono tahun ajaran

Untuk menguji permasalahan kedua yaitu untuk mengetahui ramalan penjualan pertahun dari penjualan kopi rakyat di Desa Sidomulyo dan Desa Garahan digunakan analisa trend

Daun katu diketahui mempunyai kandungan isoflavon yang bersifat estrogenik, yakni fitoestrogen yang diduga dapat memperbaiki keluhan pada wanita premenopause tersebut melalui