67 BAB V
ANALISA DAN PEMBAHASAN
5.1. Penentuan Zona Endapan Nikel Laterit
Penentuan zona endapan nikel laterit dilakukan setelah preparasi data selesai dimana zona dikonstruksi berdasarkan parameter yang dipilih dengan batasan kadar tertentu. Sebagai batasan kadar untuk penentuan zona endapan digunakan batasan kadar yang dirumuskan oleh PT. Aneka Tambang seperti ditunjukkan pada Tabel VI.1.
Tabel V.1 Batasan Kadar Zona Endapan Nikel Laterit
Zona % berat Ni % berat Fe % berat Mg
Max Min Max Min Max Min
Top Soil 1.0 0 50.0 0 1 0
Limonit 5.0 1.0 40.0 50.0 1.4 1.0
LSOZ 15.0 5.0 30.0 40.0 1.8 1.4
HSOZ 35 15 0 30 - 1.8
Bedrock
68
filter tersebut dibuat untuk saling melengkapi data hasil filter sebelumnya yang belum menunjukkan kesesuaian (individual zona belum terdefinisikan).
Dari hasil penentuan zona ini akan diperoleh data berupa top dan bottom zona, tebal zona serta kadar rata-rata masing-masing parameter per zona untuk data yang sudah teroptimasi maupun yang belum teroptimasikan. Optimasi zona dilakukan dengan memaksimalkan ketebalan zona berdasarkan kadar batas Ni-nya karena yang menjadi target penambangan disini adalah Ni. Hasil penentuan zona ini kemudian digunakan untuk melakukan perhitungan sumberdaya endapan nikel laterit.
5.2. Distribusi Lubang Bor
Berdasarkan data hasil pemboran yang diperoleh maka untuk Pulau Gee memiliki distribusi data yang sangat baik, dimana pemboran dilakukan dengan grid yang teratur dengan spasi rata-rata 25 meter dalam suatu grid yang teratur. Sementara untuk distribusi lubang bor pada Pulau Pakal sebarannya tidak teratur dimana bagian selatan dan tenggara pulau dari hasil plotting titik bor memiliki jarak antar lubang bor 25 meter sedangkan didaerah lain jarak antar lubang bor 50 meter, 100 meter atau bahkan 200 meter.
69
5.3. Perbandingan Profil Nikel Laterit Pulau Gee dengan Pulau Pakal
Dari hasil pengolahan data dan analisis stastisik data hasil olahan maka dapat dibuatkan profil endapan nikel laterit untuk Pulau Gee dan Pulau Pakal berdasarkan mean tebal dan mean kadar sebagai berikut :
( a ) ( b )
70
Gambar 5.2. Model Kadar Nikel Laterit Pulau Gee
71
Dari profil nikel laterit diatas, maka dapat disimpulkan bahwa secara umum Pulau Pakal memiliki tebal zona top soil yang sangat tebal, hampir 3 kali lipat ketebalan zona top soil Pulau Gee, dan bedrock Pulau Pakal juga lebih dalam dibandingkan dengan di Pulau Gee. Hal ini disebabkan tingkat pelapukan yang lebih tinggi di Pulau Pakal. Selain itu kadar Fe pada endapan nikel laterit di Pulau Gee lebih tingggi dari pada kandungan Fe di Pulau Pakal. Dari model kadar untuk Pulau Gee terlihat bahwa Fe lebih banyak terakumulasi pada lapisan limonit hal ini kemungkinan disebabkan karena zona top soil yang tipis sehingga iron cap terletak didaerah perbatasan zona top soil dengan limonit dan pada zona limonit terakumulasi mineral-mineral yang kaya akan Fe, misalnya magnetit, goethite, dan hematite, sehingga secara kuantitatif menyebabkan zona limonit menjadi kaya akan Fe.
5.4. Spasial Data
Dari peta topografi Pulau Gee dan sebaran masing-masing zona serta peta isokadar Ni, Fe dan MgO maka dapat dilihat pola penyebaran zona terhadap kondisi topografi Pulau Gee untuk kemudian dilakukan analisis sebagai berikut.
5.4.1. Zona Top Soil
Penyebaran waste pada Pulau Gee dominan terletak pada daerah yang relative datar atau pada daerah punggungan bukit. Sangat sedikit top soil yang terdapat pada daerah yang memiliki lereng yang curam. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh proses erosi sehingga pada daerah yang memiliki lereng curam akan tererosi dan terendapkan di daerah yang lebih landai.
5.4.2. Zona Limonit
72
kadar Ni pada daerah timur Pulau Gee lebih rendah dari pada di daerah barat Pulau Gee karena daerah Pulau Gee yang telah dibatasi oleh outline untuk analisis dan perhitungan sumberdaya di sebelah barat merupakan daerah yang lebih curam dibandingkan outline disebelah timur Pulau Gee. Dengan demikian maka proses pelapukan dan pelarutan akan lebih intensif terjadi di daerah yang memiliki lereng curam.
5.4.3. Zona LSOZ dan Zona HSOZ
Untuk zona LSOZ dan HSOZ penyebarannya berada merata hampir diseluruh pulau. Pada zona LSOZ ini kadar Fe akan drop dibandingkan dengan kadar Fe pada zona limonit sedangkan untuk kadar MgO akan mengalami peningkatan pada zona LSOZ dan HSOZ.
5.5. Perhitungan Sumber Daya
Untuk tujuan perhitungan sumberdaya endapan nikel laterit ini digunakan metode NNP (Nearest Neighborhood Point), ID (Inverse Distance) dan IDS (Inverse Distance Square) untuk menaksir nilai kadar dan tebal dari grid data yang telah dibuat. Ketiga metode diatas digunakan pada data yang sama dengan menggunakan jarak pengaruh 2x jarak rata-rata pemboran (50 meter) dan 4x jarak rata-rata pemboran (100 meter). Untuk perhitungan digunakan grid data berukuran 5 meter x 5 meter. Ukuran grid ini dianggap bisa mewakili karakter dari endapan nikel laterit Pulau Gee yang mana memiliki jarak rata-rata antar lubang sebesar 25 meter.
73
Berdasarkan pengolahan data didapat hasil sebagai berikut : Tabel V.2. Perhitungan Volume Top Soil
Top Soil
Radius Penc. Data NRP ID IDS
Volume (m3) 50 m 136950 134540 133966
Volume (m3) 25 m 136950 128918 129114
Tabel V.3. Perhitungan Volume Limonit Limonit
Radius Penc. Data NNP ID IDS
Volume Limonit(m3) 50 m 854100 846263 847491
Volume Ni (m3) 50 m 10471 6242 7398
Volume Limonit (m3) 25 m 854100 805690 807077
Volume Ni (m3) 25 m 10471 6727 7538
Tabel V.4. Perhitungan Volume LSOZ LSOZ
Radius Penc. Data NNP ID IDS
Volume LSOZ (m3) 50 m 981450 964352 969948
Volume Ni (m3) 50 m 14781 8850 10260
Volume LSOZ (m3) 25 m 981450 913952 918435
Volume Ni (m3) 25 m 14781 9053 10208
Tabel V.5. Perhitungan Volume HSOZ HSOZ
Radius Penc. Data NNP ID IDS
Volume HSOZ (m3) 50 m 4874500 4871005 4878626
Volume Ni (m3) 50 m 108099 97267 99975
Volume HSOZ (m3) 25 m 4874500 4663625 4666631
74