KOLABORASI METODE DRILL DENGAN METODE KINESTETIK DALAM MATERI TATA CARA SHALAT UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SLB
AIR RANDAH KECAMATAN LAREH SAGO HALABAN KABUPATEN LIMA PULUH KOTA
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam
dalam Bidang Pendidikan Agama Islam
Oleh :
WINDA NOVITA SARI NIM. 15 300 100 116
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI IAIN BATUSANGKAR
1441 H/2019 M
i ABSTRAK
WINDA NOVITA SARI. NIM 15300100116 (2019). Judul Skripsi :
“KOLABORASI METODE DRILL DENGAN METODE KINESTETIK DALAM MATERI TATA CARA SHALAT UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SLB AIR RANDAH KECAMATAN LAREH SAGO HALABAN KABUPATEN LIMA PULUH KOTA”. Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Neger (IAIN) Batusangkar.
Penelitian ini dilatar belakangi oleh ketidak mampuan siswa tunanetra kelas VII SLB Air Randah Kecamatan Lareh Sago Halaban melaksanakan gerakan shalat dan ketidak fasihan dalam melafalkan bacaan shalat. hal ini terlihat dalam proses pembelajaran ketika siswa tunanetra mempraktekkan gerakan shalat yang di instruksikan langsung oleh guru, yang terlihat siswa tunanetra belum mampu melaksanakannya seperti gerakan takbirratul ihram siswa tunanetra megangkat kedua tangannya terlalu jauh ke belakang dengan jari-jarinya terlalu rengang, pada gerakan ruku‟ yang terjadi kepala siswa terlalu merunduk ke bawah sehingga punggungnya seperti membungkuk dan begitupun yang terjadi degan gerakan shalat lainnya yang mana siswa belum mampu melaksankan dengan benar. Dan dalam bacaan shalat terdengar ketidak fasihan siswa tunanetra dalam melafalkan makhrijul hurufnya.
Penelitian ini bertujuan “Untuk Mengetahui Dapat Tidaknya Dengan Mengkolaborasikan Metode Drill Dengan Metode Kinestetik Dapat Memperbaiki Keterampilan Gerakan dan Bacaan Shalat Siswa Tunanetra Di SLB Air Randah Kecamatan Lareh Sago Halaban Kabupaten Lima Puluh Kota”. Dalam penelitian ini rumusan masalahnya adalah “Apakah Dengan Mengkolaborasikan Metode Drill Dengan Metode Kinestetik Dapat Memperbaiki Keterampilan Gerakan dan Bacaan Shalat Siswa Tunanetra di SLB Air Randah Kecamatan Lareh Sago Halaban Kabupaten Lima Puluh Kota?”.
Metode penelitian yang digunakan kuantitatif dengan Jenis penelitian Pre- Experimental dengan jenis rancangan penelitian One Group Pretest-Posttest Design. Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 6 orang siswa tunanetra kelas VII SLB Air Randah Kecamatan Lareh Sago Halaban. Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah Penerapan Kolaborasi Metode Drill Dengan Metode Kinestetik dalam gerakan dan bacaan shalat.
Setelah dianalisis diketahui terdapat perbedaan yang signifikan antara keterampilan gerakan dan bacaan shalat siswa tunanetra terlhat pada nilai pretest dengan nilai posttest. Dan secara keseluruhan terdapat Perbedaan mean menunjukkan bahwa penerapan Metode Drill dan Kinestetik dapat memperbaiki keterampilan gerakan shalat dan bacaan shalat peserta didik. Dengan to = 34,61 berarti lebih besar dari tt pada taraf signifikan 5% maupun pada taraf signifikan 1% (2,57 < 34,61 > 4,03) dengan demikian berarti Ho di tolak.
ii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN PERSETUJUAN PEMBIMBING PENGESAHAN TIM PENGUJI BIODATA
HALAMAN PERSEMBAHAN
ABSTRAK i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR LAMPIRAN viii
BAB 1 PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Identifikasi Masalah 10
C. Batasan Masalah 11
D. Rumusan Masalah 11
E. Tujuan Penelitian 11
F. Manfaat Penelitian 12
G. Definisi Operasional 12
BAB II KAJIAN PUSTAKA 15
A. Metode Drill 15
1. Pengertian Metode Drill 15
2. Tujuan Metode Drill 16
3. Langkah-Langkah Metode Drill 17
4. Kelebihan dan Kelemahan Metode Drill 18
iii B. Metode Kinestetik
1. Pengertian Metode Kinestetik 20
2. Langkah-Langkah Metode Kinestetik 21 3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Kinestetik 23 C. Langkah-Langkah Kolaborasi Metode Drill dengan Metode
Kinestetik 23
D. Tata Cara Shalat 25
E. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) 34
F. Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) 39
G. Kajian Penelitian yang Relavan 41
H. Kerangka Berfikir 43
I. Hipotesis Penelitian 43
BAB III METODE PENELITIAN 45
A. Jenis Penelitian 45
B. Tempat dan Waktu Penelitian 45
C. Metode Penelitian 45
D. Rancangan Penelitian 46
E. Populasi dan Sampel 47
F. Pengembangan Instrumen 48
G. Teknik Pengumpulan Data 52
H. Teknik Analisis Data 53
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 58
A. Deskripsi Data 58
B. Pengujian Hipotesis 88
C. Pembahasan 95
BAB V PENUTUP 98
A. Kesimpulan 98
B. Implikasi 99
C. Saran 99
DAFTAR KEPUSTAKAAN LAMPIRAN
iv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Data Jumlah Peserta Didik Tunanetra Kelas VII 47 Tabel 3.2 Kisi-Kisi Penilaian Unjuk Kerja (Performance Test) 49 Tabel 3.3 Rubrik Penilaian Unjuk Kerja (Performance Test) 50 Tabel 4.1 Jadwal Penerapan Metode Driil Dengan Metode Kinestetik 58
Tabel 4.2 Skor Gerakan Pretest 59
Tabel 4.3 Skor Bacaan Shalat Pretest 60
Tabel 4.4 Jumlah Skor Gerakan Dan Bacaan Shalat Pretest 61
Tabel 4.5 Skor Gerakan Treatment I 64
Tabel 4.6 Skor Bacaan Shalat Treatment I 65
Tabel 4.7 Jumlah Skor Gerakan Dan Bacaan Shalat Treatment I 66
Tabel 4.8 Skor Gerakan Treatment II 69
Tabel 4.9 Skor Bacaan Shalat Treatment II 69
Tabel 4.10 Jumlah Skor Gerakan Dan Bacaan Shalat Treatment II 71
Tabel 4.11 Skor Gerakan Treatment III 73
Tabel 4.12 Skor Bacaan Shalat Treatment III 74
Tabel 4.13 Jumlah Skor Gerakan Dan Bacaan Shalat Treatment III 75
Tabel 4.11 Skor gerakan Treatment IV 73
Tabel 4.12 Skor Bacaan Shalat Treatment IV 74
Tabel 4.13 Jumlah Skor Gerakan Dan Bacaan Shalat Treatment IV 75 Tabel 4.18 Rekapitulasi Perolehan Jumlah Skor 83
Tabel 4.19 Hasil Nilai Hipotesis 87
v
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Kerangka Berfikir 43
Gambar 2.1 Grafik Data Pretest Dan Postest Gerakan Shalat 85 Gambar 3.1 Grafik Data Pretest Dan Postest Bacaan shalat Shalat 86
vi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I Tabel skor Gerakan dan Bacaan Shalat (Pretest) 100 Lampiran 2 Tabel skor Gerakan dan Bacaan Shalat (Treatment I) 101 Lampiran 3 Tabel skor Gerakan dan Bacaan Shalat (Treatment II) 102 Lampiran 4 Tabel skor Gerakan dan Bacaan Shalat (Treatment III) 103 Lampiran 5 Tabel skor Gerakan dan Bacaan Shalat (Treatment IV 104 Lampiran 6 Tabel skor Gerakan dan Bacaan Shalat (Postest) 105
Lampiran 7 Kisi-Kisi Penilaian 107
Lampiran 8 Rubrik Penilaian 107
1
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan selain befungsi menjadikan manusia yang berbudaya diharapkan juga mampu memenuhi tugasnya sebagai manusia yang diciptakan Allah yang terpilih sebagai khalifah di muka bumi dan sekaligus menjadi warga negara yang berarti dan bermanfaat bagi suatu negara (Masnur Muslich, 2011: 490).
Berdasarkan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional sebagaimana yang telah diuraikan di atas, bahwa pendidikan adalah sebuah proses yang berujung pada pembentukan sikap, pengembangan kecerdasan intelektual serta pengembangan keterampilan anak sesuai dengan kebutuhan. Dengan pendidikan diharapkan akan menggali potensi yang ada dalam diri manusia sehingga ia dapat bertahan hidup dengan mandiri dan berinteraksi dengan baik dengan manusia lainnya. Menjadi manusia yang berakhlak mulia adalah tujuan utama dalam pendidikan “Memanusiakan manusia” maka semboyan ini ada dalam pendidikan sebagai tujuan dari pendidikan tersebut.
Menurut (Jamal Ma‟ruf Asmaini, 2011: 29) Tujuan pendidikan nasional selaras dengan tujuan pendidikan Islam, di dalam Islam pendidikan memiliki kedudukan yang sangat penting, manusia diciptakan Allah dan hidup di bumi memiliki tujuan hidup yaitu sebagai khalifah di
muka bumi sebagaimana firman Allah Swt dalam (QS. Ad-Dzari‟at ayat 56) :
Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS. Ad-Dzari‟at ayat 56).
Berdasarkan ayat di atas, manusia memiliki tujuan hidup mengabdi dan beribadah kepada Allah, maka dari itu, untuk menjadi seorang abdi Allah yang baik dimuka bumi manusia butuh akan ilmu yang di dapat melalui proses pendidikan. Dengan bertakwa dan mengabdi hanya kepada Allah menjadikan berakhlak mulia sebab mengikuti aturan-aturan yang telah Allah tentukan dimuka bumi. Menjadikan manusia menjadi insan kamil adalah tujuan dari pendidikan Islam. Karena pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Pendidikan menjadi hak bagi setiap warga negara seperti yang tercantum di dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 Ayat 1 yang berbunyi “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Dengan kata lain berdasarkan undang-undang tersebut setiap warga negara indonesia berhak menerima pendidikan tanpa membedakan satu dengan yang lain baik dari ras, agama, suku budaya bahkan fisik. Seseorang yang mempunyai fisik yang berbeda seperti penyandang ketunaan atau disability juga berhak mendapat pendidikan. Hak atas pendidikan bagi penyandang kelainan atau penyandang kebutuhan khusus. tertuang dalam Undang- Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 32 disebutkan bahwa “Pendidikan Khusus (Pendidikan Luar Biasa) merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial. Merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial”.
Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, menjadi suatu landasan yang kuat bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus untuk memperoleh kesempatan yang sama dengan anak-anak normal lainnya dalam hal memperoleh pendidikan dan pengajaran. Dengan kesempatan pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada anak berkelainan dan ketunaan anak-anak penyandang ketunaan tetap bisa menggali potensi yang ada pada diri mereka sehingga bisa hidup secara mandiri sesuai dengan kebutuhan. Dengan adanya Undang-Undang mengenai pendidikan khusus tersebut dapat di pahami bahwa sebegitu penting pendidikan untuk dikenyam oleh setiap manusia, baik individu tersebut terlahir sebagai manusia yang normal maupun yang terlahir dengan keistimewaan seperti anak yang terlahir dengan kebutuhan khusus. (Novan Ardy Wiyani, 2014:
17).
Manusia yang paling mulia disisi Allah adalah bukan manusia yang baik rupanya atau hal-hal fisik lainnya semata atau hal indrawi saja.
Artinya bahwa setiap orang baik yang berkebutuhan khusus harus senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Begitu juga dengan pendidikan mereka berhak mendapatkan pendidikan tidak memandang dari status, agama, ras, suku dan budaya. Tidak ada manusia yang tidak memiliki kekurangan dimata Allah yang membedakan hanyalah ketaqwaannya. Bentuk ketaqwaan kepada Allah adalah salah satunya dengan mengerjakan shalat perintah melaksanakan shalat dengan baik dan benar yang sesuai dengan ketentuan syariat islam baik dari pelaksanaan gerakan maupun bacaan shalatnya. Dan shalat juga merupakan kewajiban untuk semua umat muslim, dalam melaksanakannya yang tidak membeda- bedakan budaya, suku dan begitu juga dengan kelainan fisik mereka juga memiliki kewajiban untuk melaksanakan shalat sesuai dengan ketentuan yang sudah ada yang sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki oleh penyandang berkebutuhan khusus.
Allah SWT di dalam Q.S An-Nisa‟ ayat 103:
Artinya: 103. Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.
kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Q.S An-Nisa’:
103).
Dalam kandungan ayat di atas maka disimpulan bahwa sebagian umat Islam mempunyai kewajiban shalat lima waktu yang tidak boleh ditinggalkan, maka setiap umat Islam ketika belum bisa melaksanakan atau mengerjakan shlat harus tetap belajar agar bisa dalam mengerjakan ibadah shalat. Pendidikan tidak hanya untuk orang yang mempunyai fisik yang normal saja, tetapi juga untuk yang menyandang difabelitas.
Menurut (Aqila Smart, 2010: 36) definisi anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang memiliki keterbatasan, anak yang memiliki kelainan dari anak yang lain, maka dari itu dengan keterbatasan dan kekurangan yang ada pada diri anak dengan penyandang berkebutuhan khusus pasti mengalami kesulitan dalam mengikuti program pembelajaran seperti anak pada umumnya contohnya saja dalam hal shalat, bagi orang normal melaksanakan shalat sangatlah muda, akan tetapi tidak untuk penyandang berkebutuhan khusus yang secara fisik mengalami kekurangan dan keterbatasan.
Dengan kata lain anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak dengan karakterisitik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya.
Ada beberapa macam anak berkebutuhan khusus diantaranya, tunarungu merupakan anak yang memiliki gangguan pada alat pendengarannya,
tunanetra anak yang memiliki gangguan pada alat penglihatannya, tunagrahita yaitu anak yang memiliki gangguan pada keterbatasan intelegensi, tunadaksa anak yang memiliki gangguan fisik yang berhubungan dengan kemampuan motorik, tunalaras anak yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial, kemudian autis merupakan sebutan bagi anak yang memiliki gangguan perkembangan otak, terutama pada areal bahasa, sosial dan fantasi. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk membahas dan mengkaji anak tunanetra karena anak tunanetra ini anak yang hanya memiliki gangguan pada alat penglihatannya sehingga termasuk mudah dalam mengajarkannya.
Kemudian menurut peneliti anak tunanetra ini mereka hanya memiliki gangguan pada alat penglihatannya saja tidak memiliki hambatan dalam menyerap dan memahami materi pelajaran karena, intelegensi tunanetra sama dengan anak normal lainnya hanya saja memiliki hambatan dalam melihat dan berbeda dengan tunagrahita yang memiliki gangguan pada intelegensinya. Dan anak tunanetra ini tidak memiliki hambatan dalam mereka untuk bergerak, beraktivitas, mengerakkan badan, kaki tangan dan lainnya dalam proses pembelajaran karena, anak tunanetra ini tidak semuanya mengalami buta total dan ada sebagian siswa yang memiliki pandangan yang kabur apabila objek yang dilihat itu memiliki jarak yang jauh.
Para penyandang berkebutuhan khusus seperti tunanetra jelas memiliki kebutuhan yang berbeda dan khusus dari anak normal lainnya terutama dalam melaksankan shalat yang meliputi gerakan dan bacaan shalatnya. Maka dari itu untuk keberhasilan pembelajaran anak tunanetra ini sangat ditentukan oleh pendidiknya atau guru yang mengajarnya.
Bagaimana cara guru mengajar serta metode yang digunakan guru dalam pembelajaran, sangat menentukan keberhasilan pembelajaran anak tunanetra ini.
Menurut (Sutirman, 2013: 78) Pembelajaran merupakan sebuah proses pemberian ilmu kepada anak didik melalui media untuk menciptakan kegiatan belajar mengajar yang baik sesuai dengan kemampuan anak didik. Masing-masing komponen dalam proses pembelajaran merupakan suatu kesatuan yang terorganisir dan saling berhubungan satu sama lain guna mencapai tujuan pembelajaran. Pada dasarnya proses pembelajaran membutuhkan adanya pengelolah yang baik, dimulai dengan adanya perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, baik perencanaan yang bersifat tertulis, maupun perencanaan persiapan diri (praktek) karena perencanaan dan persiapan yang matang akan mengurangi hambatan dalam proses belajar mengajar, sehingga guru dapat memotivasi anak untuk belajar secara efektif dan efesien.
SLB merupakan pendidikan bagi peserta didik yang mengalami hambatan dalam proses pembelajaran karena terdapat kelainan fisik, emosi, mental dan sosial, atau SLB merupakan singkatan dari sekolah luar biasa. Sekolah yang menampung berbagai macam tuna. SLB Air randah merupakan sekolah luar biasa yang menampung dari jenjang pendidikan TKLB, SMPLB, SMALB. Pada penelitian ini peneliti hanya mengambil tingkat SMPLB kelas VII yang terdiri dari 1 kelas tunanetra, 1 kelas tunagrahita, untuk kelas VIII terdiri dari 1 kelas tunagrahita dan 1 kelas tunarungu. Dan kelas IX terdiri dari 1 kelas anak autis dan 1 kelas tunagrahita dan 1 kelas tunarunggu. Berdasarkan pemaparan di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti kelas VII tunanetra yang merupakan kelas satu-satunya tunanetra di SLB Air Randah Kec. Lareh Sago Halaban Kab.
Lima Puluh Kota.
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di SLB Air Randah Kecamatan Lareh Sago Halaban pada tanggal 25 Maret 2019, dari pengamatan yang peneliti lakukan kepada siswa tunanetra dapat terlihat siswa tunanetra kelas VII memiliki ketidak mampuan melaksanakan gerakan shalat, hal ini dapat terlihat dari masih banyaknya gerakan shalat siswa tunanetra yang belum tepat dan belum sempurna. Pada saat posisi
berdiri posisi kaki siswa tunanetra sebagian belum direngangkan selebar bahu, posisi badan dan wajah siswa belum mengarah ke tempat sujud dan ke arah kiblat. Pada saat siswa melakukan takbiratul ikhram banyak dari siswa yang mengangkat tangannya terlalu ke belakang sehingga jauh melewati daun telinga. Ketika takbir siswa mengangkat tangan mereka dengan rentang waktu yang sangat cepat (terburu-buru) sehingga berkesan seperti main-main. Pada saat berdiri terlihat posisi tangan dan kaki siswa belum tepat, pandangan siswa masih belum ke arah tempat sujud dan ada sebagian siswa yang melirik-lirik teman yang berada di sampingnya.
Kemudian saat posisi bersedekap sering terjadi kesalahan, banyak dari siswa yang belum tepat meletakkan posisi tangan kanan dan tangan kiri mereka. Begitu juga saat sujud sering terlihat kesalah di posisi kaki dan tangan, yang seharusnya sebelum sujud kedua lutut terlebih dahulu dijatuhkan ke lantai baru disusul kedua telapak tangan. Dan pada saat sujud kedua tangan untuk laki-laki agak direnganggkan dan bagi yang perempuan agak dirapatkan kedua tangan, Hal seperti ini siswa belum terlihat melaksanakannya.
Dalam posisi ruku‟ tulang punggung siswa belum sejajar dengan kepala, sedangkan posisi ruku‟ yang tepat adalah betul-betul menundukan kepala sampai datar tulang pungung dengan leher, serta meletakkan dua telapak tangan ke lutut dan selanjutnya muka sejajar dengan tempat sujud.
Di samping itu siswa belum bisa membedakan posisi kaki antara duduk tasyahud awal dan duduk tasyahud akhir, yang mana ketika duduk tasyahud awal posisi ibu jari kaki kanan siswa tidak ditegakkan, melainkan kedua kaki siswa dihimpit sehingga posisi duduk siswa belum tepat, Terkadang posisi duduk tasyahud awal sama dengan posisi duduk tasyahud akhir yaitu pinggul menempel pada sajadah shalat, dan kaki kiri dimasukkan ke bawah kaki kanan. Selanjutnya untuk salam, siswa cukup mengerti dan tidak terjadi kesalahan yang rumit pada siswa. Dengan demikian kesalahan gerakan shalat siswa tersebut harus diperbaiki, agar gerakan shalat siswa dapat dilakukan dengan benar.
Kemudian, peneliti melakukan observasi lanjutan pada tanggal 22 Agustus 2019 dalam observasi peneliti mendengar siswa tunanetra belum fasih dalam melafalkan bacaan shalat. Seperti bacaan shalat yang dimulai dari niat, sebagian siswa tunanetra masih ada yang belum tepat dalam melafalkan niatnya dan makhrijul hurufnya belum sempurna. Sedangkan dari bacaan do‟a iftitah kebanyakan dari siswa tunanetra sudah ada yang hafal dan lancar dalam membacanya adapun sebagian siswa yang masih kurang lancar dan tepat. Dan kesalahan yang banyak terdengar dalam melafalkan ayat yang seharusnya dibaca panjang dipendekkan dan sebaliknya. Dalam bacaan surat Al-Fatihah semua siswa tunanetra sudah hafal dan fasih dalam membacanya, tetapi masih ada sebagian siswa tunanetra mengalami kesalahan dalam melafalkan makhrijul hurufnya.
Dalam membaca ayat pendek siswa sudah lancar dan fasih dalam membacanya. Cendrung kesalahan sering terlihat saat siswa tunanetra membaca do‟a tasyahud akhir pada saat membaca sholawat nabi. Saat bacaan salam tidak terdengar kesalahan bacaan siswa tunanetra dalam melafakannya.
Pada hari yang sama pada tanggal 22 Agustus 2019 dari pengamatan yang peneliti lakukan dalam proses belajar mengajar, terlihat upaya guru dalam mengajarkan gerakan dan bacaan shalat siswa tunanetra dengan guru pertama-tama menjelaskan materi pelajaran dengan metode ceramah tanpa adanya kombinasi dari metode lainnya, setelah guru menyampaikan materi pelajaran guru memberikan instruksi kepada siswa tunanetra tentang gerakan shalat dan bacaan shalat siswa tunanetra dengan meminta siswa untuk mempraktekkannya yang di mulai dari pisisi berdiri sampai dengan salam yang langsung diiringi dengan bacaan shalat. Dan guru belum terlihat dalam membetulkan secara langsung gerakan dan posisi badan siswa tunanetra jika ada yang salah, dalam bacaan shalat guru kurang memperhatikan bacaan dan gerakan shalat siswa tunanetra secara individu yang hanya mendengar bacaan shalat siswa secara keseluruhan dan dalam gerakan shalat guru memantau siswa dari arah depan saja tidak
sampai melihat siswa tunanetra yang arah belakang. Kegiatan praktek tersebutpun hanya dengan 2 kali latihan.
Berdasarkan permasalahan di atas walaupun mereka mengalami kekurangan sebagai guru khususnya guru agama tetap memiliki kewajiban mengajarkan bagaimana gerakan shalat yang benar kepada mereka, supaya mereka dapat melaksanakan perintah Allah SWT dengan melaksanakan ibadah shalat sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki, tetapi tidak terlepas dari tata cara yang tepat sesuai ajaran agama. Seorang guru harus mampu mendidik siswa tunanetra dengan menggunakan metode pembelajaran yang cocok yang sesuai dengan kebutuhan siswa tunanetra tersebut agar tujuan dari pembelajaran tersampaikan.
Menurut (Djainul Ismanto, 2018: 75) metode pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) yang dapat digunakan yaitu metode drill, metode diskusi, tanya jawab, demonstrasi, ceramah dan metode kinestetik. Metode drill adalah suatu metode dalam menyampaikan pelajaran dengan menggunakan latihan secara terus menerus sampai anak didik memiliki ketangkasan dan keterampilan yang diharapkan. Metode drill ini sering disebut juga dengan metode latihan dimaksudkan agar pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat menjadi milik anak didik dan dikuasai sepenuhnya. Metode drill ini lebih menitik beratkan kepada keterampilan siswa seperti kecakapan motoris, mental, asosiasi yang dibuat dan sebagainya Menurut (Armai Arief, 2002 : 179).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh (Ridha Annisa, 2016: 8) Metode kinestetik adalah metode yang lebih menekankan kepada konsep dan dijelaskan melalui praktek atau aplikasi langsung. Selain itu metode ini berfungsi memasukkan informasi ke dalam otak siswa melalui gerakan, sentuhan dan pembetulan posisi anggota tubuh, sehingga dapat membantu siswa tunanetra dalam melaksanakan shalat sesuai dengan tata cara gerakan yang tepat.
Menurut peneliti kedua metode ini cocok untuk dikolaborasikan untuk diterapkan pada anak berkebutuhan khusus (ABK) terutama untuk siswa tunanetra yaitu anak yang memiliki gangguan dengan alat penglihatannya dan cocok diterapkan untuk materi gerakan dan bacaan shalat siswa. Sebab yang diharapkan pada materi tata cara shalat tersebut adalah agar siswa mampu mempraktekkan gerakan dan bacaan shalat yang benar mulai dari berdiri dan niat, bersedekap, takbirratul ikhram, ruku‟, i‟tidal, sujud, duduk antara dua sujud, duduk tasyahud awal, duduk tasyahud akhir dan salam. Oleh sebab itu untuk mencapai tujuan tersebut perlu ada langkah dan cara yang tepat agar siswa dapat belajar dengan aktif dalam pembelajaran, yang akhirnya dapat mempraktekkan gerakan dan bacaan shalat yang tepat. Dalam hal ini dengan mengkolaborasikan metode drill dengan metode kinestetik.
Berdasarkan fenomena di atas maka peneliti tertarik mengadakan penelitian lebih lanjut tentang “Kolaborasi Metode Drill Dengan Metode Kinestetik Dalam Materi Tata Cara Shalat Untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Di SLB Air Randah Kec. Lareh Sago Halaban Kab.
Lima Puluh Kota”.
B. Identifikasi Masalah
Sesudah peneliti melakukan observasi awal, dimana hasil dari observasi tersebut dapat di identifikasi bahwa:
1. Ketidak mampuan siswa tunanetra dalam melaksanakan gerakan shalat yang benar yang sesuai dengan ketentuannya.
2. Siswa tunanetra belum fasih dalam melafalkan bacaan shalat.
3. Metode pembelajaran yang digunakan guru kurang bervariasi masih didominasi ceramah tanpa ada variasi metode lain, jadi siswa tunanetra merasa bosan dan susah dalam memahami materi pelajaran.
4. Siswa tunanetra cendrung kurang aktif, kurang terlibat langsung dalam pembelajaran dan kurangnya melakukan penggulangan (praktek) dalam proses pembelajaran.
C. Batasan Masalah
Agar peneliti lebih terarah dan terpusat, maka peneliti membatasi permasalahannya sebagai berikut:
1. Memperbaiki keterampilan gerakan shalat siswa tunanetra dengan mengkolaborasikan metode drill dengan metode kinestetik di SLB Air Randah Kecamatan Lareh Sago Halaban Kab. Lima Puluh Kota.
2. Membetulkan dan memperbaiki keterampilan bacaan shalat siswa tunanetra dengan mengkolaborasikan metode drill dengan metode kinestetik di SLB Air Randah Kecamatan Lareh Sago Halaban Kab.
Lima Puluh Kota.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah dengan mengkolaborasikan metode drill dengan metode kinestetik dapat memperbaiki keterampilan gerakan shalat siswa tunanetra di SLB Air Randah Kec. Lareh Sago Halaban Kab. Lima Puluh Kota Tahun Pelajaran 2019-2020”?.
2. Apakah dengan mengkolaborasikan metode drill dengan metode kinestetik dapat memperbaiki keterampilan bacaan shalat siswa tunanetra di SLB Air Randah Kec. Lareh Sago Halaban Kab. Lima Puluh Kota Tahun Pelajaran 2019-2020”?.
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pertanyaan penelitian diatas maka tujuan penelitian yang peneliti lakukan yaitu sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dapat tidaknya dengan mengkolaborasikan metode drill dengan metode kinestetik dapat memperbaiki keterampilan gerakan siswa tunanetra di SLB Air Randah Kecamatan Lareh Sago Halaban Kab. Lima Puluh Kota Tahun Pelajaran 2019-2020?.
2. Untuk mengetahui dapat tidaknya dengan mengkolaborasikan metode drill dengan metode kinestetik untuk memperbaiki keterampilan bacaan shalat siswa tunanetra di SLB Air Randah Kecamatan Lareh Sago Halaban Kab. Lima Puluh Kota Tahun Pelajaran 2019-2020?.
F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Penelitian
a. Sebagai syarat untuk skripsi
b. Sebagai subangsi ilmu pengetahuan di bidang pendidikan
c. Sebagai masukan dan pertimbangan bagi guru pendidikan agama Islam
2. Luaran Penelitian
a. Dapat dipublikasikan pada jurnal IAIN Batusangkar
b. Dapat dijadikan bahan bacaan di perpustakaan IAIN Batusangkar
G. Definisi Operasional
Adapun istilah-istilah yang terdapat dalam proposal penelitian ini adalah sebagai berikut:
Kolaborasi Metode
kolaborasi adalah kerja sama. Makna dari kolaborasi adalah suatu bentuk proses sosial, dimana didalamnya terdapat aktivitas tertentu yang menunjukan untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan saling memahami aktivitas masing-masing. Kolaborasi metode yang peneliti maksud yaitu menggabungkan beberapa metode dalam pembelajaran, yang peneliti maksud adalah metode kinestetik dengan metode drill.
Metode Drill
Adapun yang peneliti maksud dengan metode drill atau latihan ini yaitu peserta didik memiliki keterampilan gerakan seperti menghafal kata- kata, menulis, mempergunakan alat, membuat suatu bentuk atau melaksanakan gerakan dalam olahraga. Metode ini juga bertujuan untuk
mengembangkan kecakapan intelek seperti mengalihkan, membagi, menjumlah, mengurangi, menarik akar dalam menghitung, menebak benda dan lain sebagainya.
Metode Kinestetik
Adapun yang peneliti maksud dengan metode kinestetik ini adalah belajar melalui aktivitas fisik melalui gerakan, sentuhan, bekerja dan adanya keterlibatan langsung dari siswa, guru menyampaikan materi pelajaran dan siswa tidak hanya mendengarkan tetapi juga bergerak dan ikut berbicara. Dengan memasukkan informasi ke dalam otak siswa dengan gerakan, sentuhan dan pembetulan posisi anggota tubuh siswa sehingga akan mampu membantu siswa dalam melaksanakan gerakan shalat yang benar.
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Adapun anak berkebutuhan khusus (ABK) yang peneliti maksud disini adalah anak penyandang tunanetra. tunanetra merupakan sebutan untuk individu yang mengalami gangguan pada indra penglihatan. Pada dasarnya, tunanetra dibagi menjadi dua kelompok, yaitu buta total dan kurang penglihatan (low vision). Buta total apabila tidak dapat melihat dua jari di mukanya atau hanya melihat sinar atau cahaya yang lumayan dapat dipergunakan untuk orientasi mobilitas. Mereka tidak dapat atau tidak bisa menggunakan huruf lain selain huruf braille. Sedangkan yang disebut dengan low vision adalah mereka yang memiliki pemandangan kabur ketika melihat objek. tunanetra ini tidak jauh berbeda dengan anak normal umumnya.
Tata Cara Shalat
Shalat adalah perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dan dengan itu kita beribadah kepada Allah menurut syarat dan rukun yang telah ditentukan. Adapun shalat yang peneliti maksud adalah shalat fardhu untuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Tata cara shalat yang dimaksud adalah keterampilan gerakan shalat dan bacaan shalat siswa. Yang mana gerakan shalat yang dimulai
dari posisi berdiri, takbirrotul ihrom, ruku‟, i‟tidal, sujud, duduk antara dua sujud, duduk tasyahhud awal, duduk tasyahhud akhir, dan terakhir salam. Sedangkan bacaan shalat yang dimaksud adalah keterampilan membaca niat, takbirratul ihram, bacaan „itidal, ruku‟, sujud, duduk antara dua sujud, duduk tasyahud awal, duduk tasyahud akhir, dan salam.
Adapun maksud dari judul secara keseluruhan adalah “Kolaborasi metode drill dengan metode kinestetik dalam materi tata cara shalat untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) di SLB Air Randah Kec. Lareh sago Halaban Kab. Lima Puluh Kota”.
15 1. Pengertian Metode Drill
Sebelum mendefinisikan tentang metode drill ada baiknya terlebih dahulu mengetahui tentang metode mengajar. Metode mengajar adalah cara guru memberikan pelajaran dan cara murid menerima pelajaran pada waktu pelajaran berlangsung, baik dalam bentuk memberitahukan atau membangkitkan. Dengan metode pembelajaran yang tepat diharapkan. Tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa, dengan kata lain terciptalah interaksi pembelajaran yang baik antara guru dengan siswa.
Dalam interaksi ini guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan siswa berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan dengan baik jika siswa lebih aktif dibandingkan dengan gurunya. Oleh karena itu metode mengajar yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa dan sesuai dengan materi pembelajaran (Nurdyansyah, 2013: 19).
Dari uraian definisi metode mengajar, dapat disimpulkan bahwa metode mengajar adalah suatu cara mengajar siswa melakukan kegiatan latihan, agar siswa memiliki ketangkasan atau ketrampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari. Metode latihan yang disebut juga dengan metode training yaitu merupakan suatu cara kebiasaan tertentu. Juga sarana untuk memelihara kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini juga dapat digunakan untuk ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.
Menurut Armai Arief (2002: 174) metode drill menurut beberapa pendapat memiliki arti sebagai berikut:
a. Roestiyah N.K, Suatu teknik yang dapat diartikan sebagai suatu cara mengajar siswa melakukan kegiatan latihan, siswa memiliki
ketangkasan dan keterampilan lebih tinggi dari apa yang dipelajari.
b. Zuhairini, Suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dengan jalan melatih siswa terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan.
c. Shalahuddin, Suatu kegiatan dalam melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan sungguh-sungguh dengan tujuan untuk menyempurnakan suatu keterampilan supaya menjadi permanen.
d. Dalam buku Nana Sudjana, metode drill adalah satu kegiatan melakukan hal yang sama, berulang-ulang secara sungguh- sungguh dengan tujuan untuk menyempurnakan suatu ketrampilan agar menjadi permanen. Ciri-ciri yang khas dari metode ini adalah kegiatan berupa pengulangan yang berkali-kali dari suatu hal yang sama.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa metode drill adalah latihan dengan praktek yang dilakukan berulang kali secara kontinyu untuk mendapatkan keterampilan dan ketangkasan praktis tentang pengetahuan yang dipelajari. Dari segi pelaksanaannya siswa terlebih dahulu telah dibekali dengan pengetahuan secara teori.
Kemudian dengan tetap dibimbing oleh guru, siswa diminta mempraktikkan sehingga menjadi mahir dan terampil.
2. Tujuan Penggunaan Metode Drill
Menurut (Mulyono, 2011: 110) Metode drill biasanya digunakan agar siswa:
a. Memiliki kemampuan menghafalakan kata-kata, garakan, menulis, mempergunakan alat.
b. Mengembangkan kecakapan intelektual, seperti mengalikan, membagi, menjumlahkan.
c. Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan yang lain.
d. Untuk memperoleh suatu ketangkasan, keterampilan tentang sesuatu yang dipelajari siswa dengan melakukannya secara praktis pengetahuan yang telah dipelajari. Dan siap dipergunakan bila sewaktu-waktu diperlukan
3. Langkah-Langkah Metode Drill
Menurut (Rusman, 2012: 192) adapun langkah-langkah penerapan metode drill yaitu:
a. Tahap Perencanan
1) Guru mempersiapakan rencana pelaksanaan pembelajaran.
2) Instrument penilaian, daftar kehadiran siswa dan soal untuk setiap pertemuan.
3) Menentukan tujuan yang akan dicapai.
4) Latihan diberikan sesuai dengan kemampuan siswa, ada petunjuk membantu siswa dan memberikan waktu yang cukup untuk mengerjakan latihan tersebut.
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
1) Menyampaikan kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran.
2) Menyampaikan materi pembelajaran sesuai indikator pembelajaran.
3) Memberikan bimbingan/pengawasan oleh guru, diberikan dorongan agar siswa mau bekerja, dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain.
c. Tahap Tindak Lanjut dan Evaluasi
1) Melakukan tes perbuatan untuk mengukur keterampilan gerakan dan bacaan shalat siswa.
2) Melakukan penilaian terhadap tugas yang telah diberikan dalam bentuk perbuatan.
Berdasarkan langkah-langkah metode drill di atas, adapun menurut penulis langkah-langkah metode drill untuk anak tunanetra yang dapat digunakan yaitu sebagai berikut ini:
a) Guru menyampaikan kompetensi dasar, indikator pembelajaran.
b) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
c) Guru menyampaikan materi pembelajaran yang memfokuskan kepada pendengaran dan kemampuan keterampilan siswa tunanetra tersebut.
d) Guru menjelaskan kebiasaan, ucapan, gerakan tertentu dan lain sebagainya yang akan dilatihkan, sehingga siswa tunanetra mengetahui dengan jelas apa yang seharusnya mereka kerjakan.
e) Guru memberikan waktu kepada siswa tunanetra untuk melakukan latihan dengan mempraktekkan gerakan dan bacaan shalat yang telah dipelajari yang di bimbing oleh guru.
f) Guru memerintahkan siswa tunanetra agar melakukan latihan tersebut secara berulang kali.
g) Guru melakukan selingan dengan mengadakan game supaya siswa tunanetra tersebut tidak merasa bosan.
h) Guru memperhatikan kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa tunanetra dalam melaksanakan latihan praktek gerakan dan bacaan shalat.
Dengan langkah-langkah di atas, latihan diharapkan dapat betul- betul bermanfaat bagi siswa tunanetra untuk menguasai kecakapan tersebut. Serta dapat menumbuhkan pemahaman untuk melengkapi penguasaan pelajaran yang di terima secara teori dan praktek.
4. Kelebihan Metode Drill
Menurut (Basyiruddin Usman, 2010: 57) Metode drill memiliki kelebihan sebagai berikut:
a. Mengkokohkan daya ingatan murid, karena seluruh pikiran, perasaan, kemauan dikonsentrasikan pada pelajaran yang dilatihkan.
b. Siswa dapat menggunakan daya fikirnya dengan baik, dengan pengajaran yang baik, maka siswa menjadi lebih teliti.
c. Adanya pengawasan, bimbingan dan koreksi yang segera serta langsung dari guru.
d. Siswa akan memperoleh ketangkasan dan kemahiran dalam melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dipelajarinya.
e. Guru bisa lebih mudah mengontrol dan dapat membedakan mana siswa yang disiplin dan yang tidak.
f. Pemanfaatan kebiasaan yang tidak memerlukan konsentrasi yang tinggi dalam pelaksanaannya serta dapat membentuk kebiasaan yang baik.
g. Pengertian siswa lebih luas melalui latihan berulang-ulang.
h. Dengan adanya berbagai kelebihan dari penggunaan metode drill ini maka diharapkan bahwa latihan dapat bermanfaat bagi siswa untuk menguasai materi.
i. Serta dapat menumbuhkan pemahaman untuk melengkapi penguasaan pelajaran yang diterima secara teori dan praktek.
5. Kelemahan Metode Drill dan Cara Mengatasinya
Menurut (Armai Arief, 2002: 178) Sebagai suatu metode yang diakui banyak mempunyai kelebihan, juga tidak dapat dipungkiri bahwa metode drill juga mempunyai kelemahan, yaitu:
a. Latihan yang dilakukan dibawah pengawasan yang ketat dan suasana serius mudah sekali menimbulkan kebosanan.
b. Latihan yang selalu diberikan dibawah bimbingan guru, perintah guru dapat melemahkan inisiatif maupun kreatifitas siswa.
c. Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan mudah membosankan.
Maka dari itu, guru yang ingin mempergunakan metode ini ada baiknya memahami karakteristik metode ini terlebih dahulu. Akan tetapi ada beberapa cara untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut, yaitu:
1) Janganlah seorang guru menuntut dari murid suatu respons yang sempurna.
2) Jika terdapat kesulitan pada murid pada saat merespon, hendaknya guru segera meneliti penyebabnya.
3) Berikanlah segera penjelasan-penjelasan, baik respon yang betul maupun yang salah.
4) Usahakan murid memiliki ketepatan merespon kemudian kecepatan merespon.
5) Istilah-istilah baik berupa kata maupun kalimat yang digunakan B. Metode Kinestetik
1. Pengertian Metode Kinestetik
Menurut (Darmadi, 2017: 175) Metode berasal dari kata meta yang berarti melalui, dan hodos jalan. Jadi metode adalah jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan menurut Depag RI dalam buku metodologi pendidikan agama Islam (2001: 19) metode bararti cara kerja yang bersistem untuk mempermudah pelaksanaan sesuatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Menurut Kamus Bahasa Indonesia (2005: 240) metode adalah cara yang tersusun dan teratur untuk mencapai tujuan khususnya dalam hal ilmu pengetahuan.
Adapun kinestetik adalah kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuh dalam mengekpresikan ide, perasaan, dan menggunakan tangan untuk menghasilkan atau mentransformasi sesuatu. Komponen inti dalam kinestetik adalah kemampuan-
kemampuan fisik yang spesifik, seperti keordinasi, keseimbangan, keterampilan, kekuatan, kelenturan, dan kemampuan untuk merangsang dan hal yang berkaitan dengan sentuhan (Siti Syamsiyah, 2014: 16).
Berdasarkan uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa Metode kinestetik adalah metode yang lebih menekankan kepada konsep dan dijelaskan melalui praktek atau aplikasi langsung.
Selain itu metode ini juga berfungsi memasukkan informasi ke dalam otak siswa melalui gerakan, sentuhan dan pembetulan posisi anggota tubuh, sehingga dapat membantu siswa tunanetra dalam melaksanakan shalat sesuai dengan tata cara dan gerakan shalat yang tepat.
2. Langkah-Langkah Metode Kinestetik
Adapun langkah-langkah dalam penerapan metode kinestetik menurut (Hevi Noer Maya Sari, 2013: 6) yaitu sebagai berikut:
a. Tahap persiapan
1) Merumuskan kompetensi dasar, prosedur kegiatan, tujuan pembelajaran, standar kompetensi dasar yang merujuk kepada kurikulum dan silabus.
2) Merumuskan tujuan pembelajaran.
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
1) Guru memberikan motivasi kepada siswa untuk membangkitkan minat belajar siswa dan sekaligus menyampaikan tujuan pembelajaran.
2) Guru menyampaikan materi pembelajaran.
3) Guru membantu siswa untuk mengintegrasi dan menyerap pengetahuan serta keterampilan dengan cara menyentu, bekerja, mengerakkan anggota fisik siswa secara langsung.
4) Guru memberi instruksi kepada siswa/peserta didik untuk melaksanakan praktek sesuai yang telah diajarkan dengan mengerakkan anggota tubuh.
5) Guru mengarahkan siswa untuk menyerap dan memahami materi pelajaran yang baru secara mandiri, menyenangkan, relevan, melibatkan panca indera.
c. Tahap Lanjutan dan Evaluasi
1) Mengajukan sejumlah pertanyaan terkait dengan kegiatan praktek yang telah dilaksanakan sesuai dengan catatan yang telah dibuat selama kegiatan praktek langsung.
2) Memberikan kesempatan kepada siswa/ peserta didik untuk menyampaikan komentar terkait dengan kegiatan praktek yang melibatkan aktivitas fisik yang telah dilaksanakan.
Berdasarkan langkah-langkah metode kinestetik di atas, menurut penulis langkah-langkah metode kinestetik yang dapat diterapkan untuk siswa tunanetra yaitu sebagai berikut ini:
a) Merumuskan kompetensi dasar, indikator, dan tujuan pembelajaran.
b) Memberikan motivasi kepada siswa tunanetra untuk membangkitkan semangat siswa tunanetra.
c) Menyampaikan tujuan pembelajaran.
d) Menyampaikan materi pelajaran yang memfokuskan kepada pendengaran dan kemampuan keterampilan siswa tunanetra.
e) Guru membantu siswa untuk mengintegrasi dan menyerap pengetahuan serta keterampilan dengan cara menyentu, mengerakkan anggota fisik siswa secara langsung.
f) Menginstruksikan kepada siswa/peserta didik untuk melaksanakan praktek sesuai dengan yang telah diajarkan.
g) Guru mengarahkan siswa tunanetra agar belajar sambil melibatkan aktivitas fisik yang melibatkan gerakan, misalnya sambil berjalan, berdiri dan kegiatan lainnya.
h) Melakukan koreksi terhadap gerakan dan bacaan shalat siswa/peserta didik tunanetra yang melakukan kesalahan.
3. Kelebihan metode kinestetik
Adapun kelebihan metode kinestetik kini adalah sebagai berikut:
a. Dengan menerapkan metode ini akan lebih mudah membuat siswa paham terhadap materi pelajaran karena siswa secara aktif terlibat langsung dalam proses pembelajaran (Aris Shoimin, 2013: 18).
b. Metode kinestetik untuk mengajarkan anak dapat membuat lebih aktif berfikir karena dapat membayangkan informasi berdasarkan aktivitas atau sentuhan yang mereka lakukan.
c. Lebih membuat siswa bersemangat dalam belajar.
d. Dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa.
4. Kekurangan metode kinestetik
Kekurangan dalam metode kinestetik ini sebagai berikut:
a. Membutuhkan waktu yang lama karena siswa untuk menangkap dan memahami informasi pembelajaran, guru secara langsung melakukan pendekatan kepada masing- masing siswa. (Aris Shoimin, 2013: 19).
b. Metode ini memungkinkan Guru harus mempunyai keterampilan dan skill dalam mengajarkan siswa karena metode ini membutuhkan praktek secara langsung
c. Dalam metode ini cendrung membutuhkan alat bantu peraga seperti benda, dan sebagianya yang relevan dengan materi yang diajarkan untuk membuat siswa paham terhadap topik pembelajaran.
C. Langkah-Langkah Kolaborasi Metode Drill Dengan Metode Kinestetik
Dengan menerapkan kombinasi metode ini, diharapkan agar membantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa tunanetra secara efektif. Selain itu penerapan kombinasi metode ini diharapkan dapat memperbaiki gerakan tata cara shalat siswa tunanetra karena dengan penerapan kombinasi metode ini akan membiasakan siswa tunanetra untuk berpratisipasi aktif dalam kelas, dan memanfaatkan secara maksimal alat indra yang masih berfungsi seperti pendengaran, melatih keterampilan siswa, melatih kemampuan ingatan siswa dan menyenangkan bagi siswa.
Adapun langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan kombinasi metode drill dengan metode kinestetik pada materi gerakan dan bacaan shalat siswa tunanetra sebagai berikut:
1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
2) Guru menjelaskan konsep materi tentang gerakan dan bacaan shalat.
3) Guru melafalkan bacaan shalat yang diiringi dengan gerak kemudian diikuti oleh semua siswa tunanetra.
4) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk latihan/mencoba dan mempraktekkan materi yang telah dijelaskan sebelumnya.
5) Guru melihat, memperhatikan dan memantau siswa tunanetra dalam melakukan latihan gerakan dan bacaan shalat.
6) Guru mengoreksi dan mengevaluasi dari latihan yang dilakukan siswa tunanetra.
7) Guru melakukan selingan dengan mengadakan game supaya siswa tunanetra tersebut tidak merasa bosan.
8) Guru meminta salah satu dari siswa tunanetra untuk mempraktekkan gerakan dan bacaan shalat untuk melihat tingkat kepahaman.
9) Guru memberikan penilaian terhadap apa yang telah di peragakan oleh siswa.
10) Guru meminta siswa untuk membuat kesimpulan dari latihan yang dilakukan pada materi.
11) Guru menanyakan kembali materi yang belum dipahami dan menjelaskan kembali dan membetulkan gerakan shalat dan bacaan shalat siswa yang benar.
12) Guru menyuruh siswa untuk melakukan latihan atau praktek gerakan dan bacaan shalat secara berulang-ulang di rumah.
D. Tata Cara Shalat 1. Pengertian Shalat
Pengertian shalat dari bahasa Arab As-sholah, shalat menurut Bahasa /Etimologi berarti Do‟a dan secara terminology/
istilah, para ahli fiqh mengartikan secara lahir dan hakiki.
Secara lahiriah shalat berarti beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah menurut syarat- syarat yang telah ditentukan.
Adapun secara hakikinya ialah berhadapan hati (jiwa) kepada Allah, secara yang mendatangkan takut kepadaNya serta menumbuhkan di dalam jiwa rasa kebesaranNya atau mendhohirkan hajat dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan pekerjaan atau kedua-duanya.
(Achmad Rofi‟i, 2014: 45).
Dari beberapa pengertaian di atas dapat disimpulkan bahwa shalat merupakan ibadah kepada Tuhan, berupa perkataan dengan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam menurut syarat dan rukun yang telah ditentukan syara‟.
2. Tujuan Shalat
Menurut (Muhammad Sholikhin, 2011: 15) Shalat dalam agama Islam menempati kedudukan yang tidak dapat ditandingi
oleh ibadah manapun juga, ia merupakan tiang agama dimana ia tak dapat tegak kecuali dengan shalat.
Adapun tujuan didirikan shalat menurut Al- Qur‟an dalam surah Al- Ankabut ayat 45 yang Artinya dan dirikanlah shalat.
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.
Dari unsur kata – kata melaksanakan itu tidak mengandung unsur batiniah sehingga banyak mereka yang Islam dan melaksanakan shalat tetapi mereka masih berbuat keji dan mungkar. Sementara kata mendirikan selain mengandung unsur lahir juga mengandung unsur batiniah sehingga apabila shalat telah mereka dirikan, maka mereka tidak akan berbuat jahat.
3. Syarat-Syarat dan Rukun Sah Shalat
Menurut (Rahman Ritonga, 2002: 94) Syarat wajib shalat yaitu Islam, baligh, berakal, suci dari hadist dan najis. Sedangkan syarat sah shalat pertama suci dari hadast, baik hadats kecil maupun besar, suci badan, pakaian dan tempat shalat dari najis, menutup aurat, baik laki-laki maupun perempuan, telah masuk waktu shalat, menghadap kiblat. Perbedaan antara syarat dan rukun shalat adalah bahwa syarat merupakan sesuatu yang harus ada pada suatu pekerjaan amal ibadah itu dikerjakan, sedangkan pengertian rukun atau fardhu adalah sesuatu yang harus ada pada suatu pekerjaan/amal ibadah pada waktu pelaksanaan suatu pekerjaan/amal ibadah tersebut.
Rukun shalat yang disepakai oleh para ulama ada 13 yaitu:
a. Niat, yaitu menyengajakan untuk mengerjakan shalat karena allah swt.
b. Berdiri bagi yang mampu c. Takbirotul ihram
d. Membaca surat al-fatihah e. Ruku‟ dan thuma‟ninah f. I‟tidal dengan thum‟ninah.
g. Sujud dua kali dengan thuma‟ninah.
h. Duduk diantara dua sujud dengan thum‟ninah.
i. Duduk tasyahud akhir dengan thuma‟ninah j. Membaca tasyahud pada waktu duduk akhir.
k. Membaca shalawat atas Nabi Muhammad Saw l. Salam
m. Tertib
4. Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat
Menurut (Junaidi Arsyad, 2017: 187) hal- hal yang dapat membatalkan shalat sebagai berikut:
a. Meninggalkan salah satu rukun shalat atau memutuskan rukun sebelum sempurna dilakukan.
b. Tidak memenuhi salah satu dari syarat shalat seperti berhadats, terbuka aurat.
c. Berbicara dengan sengaja.
d. Banyak bergerak dengan sengaja.
e. Makan dan minum.
f. Menambah rukun fi‟li, seperti sujud tiga kali.
g. Tertawa.
5. Gerakan dan Bacaan Shalat
Menurut ajaran Rasulullah, shalat harus dilakukan serasi antara gerakan dan bacaan shalat. Setiap orang yang beragama Islam harus menguasai gerakan shalat dan bacaan shalat yang benar. Shalat akan sah apabila dilakukan dengan benar. Shalat adalah ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan di sudahi dengan salam serta memenuhi beberapa syarat yang telah ditentukan.
Menurut (M. Rifa‟i, 1976: 35) Dari 13 rukun shalat diatas yang bersifat qauliyah (bacaan) seperti membaca takbir, membaca al-fatihah, tasyahud, sholawat atas nabi dan membaca salam.
Sedangkan yang bersifat fi’liyah (perbuatan), duduk antara dua
sujud, ruku, takbirrotul ihram, berdiri, salam duduk tasyahud.
Rukun-rukun shalat tersebut harus dipenuhi oleh setiap orang yang mengerjakan shalat. Karena apabila ia tidak memenuhi dan meninggalkan rukun dan tidak dilaksanakan sesuai dengan ketentuannya syariat maka shalatnya batal dan harus mengulanginya dari awal, berikut ini akan dibahas beberapa rukun shalat yang bersifat perbuatan (fi’liyah).
a. Berdiri (tegak)
Pada dasarnya shalat wajib dilakukan dalam keadaan berdiri, kecuali jika ada unzur syar’i seperti sakit atau gangguan lainnya yang mana mengakibatkan tidak mampu untuk berdiri. Berdiri tegak menghadap kiblat dan ambil berniat mengerjakan shalat. Niat shalat yang disesuaikan dengan shalat yang dikerjakan. Tidak diperbolehkan menghiasi sikap berdirinya dengan perbuatan yang tidak patut, seperti memalingkan pandangan ke kanan dan ke kiri, meletakkan tangan di atas lambung, tertawa, banyak bergerak atau mengerak-gerak tangan diluar ketentuan syariat, melayangkan pandangan kelangit-langit dan sebagainya. Perbuatan tersebut dilarang oleh Rasulullah SAW (M. Sholikhin, 2011: 97).
Contoh bacaan niat shalat subuh:
ةلبقلا لبقتسم نٌتعكر حبصلا ضرف ًلصأ ىلاعت لله امامإ/امومأم/ءادأ
b. Takbiratul ikhram
Takbiratul ihram mengucapkan takbir Allahu Akbar disertai dengan mengangkat kedua tangan, sebagai tanda masuknya shalat dengan mencegah dari segala perbuatan yang tidak ada kaitannya dengan amalan shalat. Gerakan takbiratul ihram ini menurut para ulama berbeda-beda pendapat, dapat dilakukan dengan cara mengangkat kedua tangan hingga ujung
jari sejajar dengan dahi atau mengangkat kedua tangan sampai sejajar dengan daun telinga. Dan posisi tangan setelah takbirratul ihram yaitu meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri diatas dada dengan posisi tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri (Achmad Rofi‟i, 2014: 52).
Bacaan takbir yang dibaca 3 kali:
ُرَبْكَا ُ ّ َاَلل
c. Besedekap
Bersedekap dilakukan sesudah takbirrtul ihram, adapun caranya yaitu telapak tangan kanan diletakkan di atas pergelangan tangan kiri tidak digenggamkan, meletakkan tangan boleh di dada atau di bawah pusar. Saat bersedekap, doa pertama kali yang di baca adalah Doa Iftitah, Al-Fatahihah dan Surat Ayat-Ayat Pendek.
Do‟a iftitah:
،ا ًرٌِثَك ِ ه ِلله ُدْم َحْلا َو ،ا ًرٌِبَك ُرَبْكَأ ُلله ا
ًلٌ ِصَأ َو ًة َرْكُب ِاَلل َنا َحْبُس َو
ًامِل ْسُم ًافٌِْن َح َض ْرَ ْلْا َو ِتا َوَمهسلا َرَطَف ْيِذهلِل ًَِه ْج َو ُتْههج َو ًِْتاَمَم َو َياٌَ ْحَم َو ًِْكُسُن َو ًِْت َلََص هنِإ . َنٌِْك ِرْشُمْلا َنِم اَنَأ اَم َو ُهَل َكٌْ ِرَش َلَ َنٌِْمَلاَعْلا ِّب َر ِ ه ِلله نٌِْمِل ْسُمْلا َنِم اَنَأ َو ُت ْرِمُأ َكِلَذِب َو
Surat Al-Fatihah:
َنٌِمَلا َعْلا ِّب َر ِ ه ِلله ُدْم َحْلا مٌِح هرلا ِن ََٰم ْحهرلا ِنٌِّدلا ِم ْوٌَ ِكِلاَم ُنٌِعَت ْسَن َكاهٌِإ َو ُدُبْعَن َكاهٌِإ َمٌِقَت ْسُمْلا َطا َرِّصلا اَنِدْها َتْمَعْنَأ َنٌِذهلا َطا َر ِص ِرٌَْغ ْمِهٌَْلَع
نٌِّلاهضلا َلَ َو ْمِهٌَْلَع ِبوُضْغَمْلا
ََ
Selanjutnya membaca surat ayat-ayat pendek: surat-surat pendek di Juz Amma, seperti Surat Al Ikhlas, Al „Asr, dan An Nasr.
d. Ruku‟
Ruku‟ dan iktidal merupakan rangkaian gerakan yang menjadi rukun shalat. Bisa jadi, sebenarnya hanya ruku‟
gerakan jeda yang memisahkan antara dari ruku‟ menuju sujud. Kedua gerakan inilah (ruku‟ atau sujud) sebenarnya yang menjadiinti shalat, yang secara genenal keduanya memiliki persamaan makna “tunduk patuh terhadap segala ketentuan Allah. Bacaan ruku‟ yaitu dengan mengucapkan kalimat takbir Allahu Akbar seraya mengangkat kedua tangan lalu membungkuk dan membaca doa saat ruku‟. Dan melakukan gerakan „Itidal yaitu gerakan bangkit dari ruku‟
seraya mengucapkan
هدمح نمل اَلل عمس
sami’allahuliman hamidah kemudian berdiri sempurna dan membaca doa ketika„itidal.
Ruku‟ dari segi bahasa berarti membungkukkan kepala, atau menundukan, dalam arti tunduk dan patuh. Gerakan adalah menundukkan kepala. Inti dari gerakan ruku‟ adalah membungkukkan badan sehingga membentuk siku 90 derajat, dimana kedua telapak tangan diletakkan pada lutut, sambil ditekan, seperti menggenggam lutut, dengan jari-jari direnggkan. Posisi punggung harus sampai benar-benar tegak atau rata dan sejajar dengan kepala (M. Sholikhin, 2011: 61).
Bacaa i‟tidal:
تئش ام ءلمو ضرلْا ءلمو تاومسلا ءلم دمحللا كل انبر
دعب ءًش نم
Bacaan saat ruku’ yang dibaca 3 kali:
هدمحبو مٌظعلا ًبر ناحبس ”
e. Sujud
Setelah melakukan iktidal serta berdoa, orang yang shalat bergerak menuju ke sujud dengan melakukan takbir tanpa mengangkat tangan. Suara takbir dihabiskan sebelum sampai ke tempat sujud dan langsung membaca doa ketika sujud (Mimi Yusrita, 2013: 215).
Dalam melakukan sujud diutamakan terlebih dahulu dua lutut, baru disusul dengan meletakkan kedua telapak tangan sebagai penyangga, kemudian diantara dua telapak tangan itu, diletakkan di dahi. Gerakan seperti ini mengacu pada sunnah (model/contoh) Nabi Muhammad Saw sesuai dengan pernyataan Wai‟l yang telah berkata: “Saya melihat Rasullullah Saw apabila sujud, ia menaruh dua lututnya terlebih dahulu daripada kedua tangannya. Dan apabila ia bangkit berdiri, ia angkat kedua tangannya terlebih dahulu daripada kedua lututnya”.
Sementara itu ujung-ujung jari tangan dan kaki dihadapkan ke kiblat, kedua siku diangkat, kedua tangan direnggangkan dari lambung, perut renggang dari paha, kedua paha renggang dari betis, sehingga kedua telapak tangan letaknya agak jauh sedikit ke muka. Dalam sujud ini, sebagian ulama menyatakan bahwa tidak boleh ada halangan antara dahi dengan tempat sujud, baik oleh kain, sorban, pakaian atau rambut. Hal ini bertujuan agar menampakkan kehinaan kita sebagai hamba Allah di hadapan Allah Swt.
Bacaan sujud yang dibaca 3 kali:
هدمحبو ىلعلْا ًبر ناحبس
f. Duduk diantara dua sujud
Menurut (Rahman Ritonga, 2002: 101) Setelah sujud dilakukan dengan sempurna, maka akan mengangkat kepala dengan dengan membaca takbir menuju gerakan duduk di antara dua sujud tanpa mengangkat tangan. Bentangkan kaki kiri, kita duduk diatasnya, sedangkan telapak kaki kanan ditegakkan dan memperhadapkan anak jari kaki ke arah kiblat sembari dengan membaca doa ketika duduk antara dua sujud.
Sebuah riwayat mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: “ Apabila engkau sujud, hendaklah engkau bereskan sujudmu, dan apabila engkau duduk, hendaklah engkau duduk diatas kaki kirimu.” (HR. Ahmad).
Posisi ini juga berlaku dalam tahiat awal degan posisi tangan kanan diatas paha kanan dengan merapatkan jari manis dan kelingking ke telapak tangan. Gulungkan ibu jari ke ujung jari tengah dan luruskan telunjuk de depan. Sedangkan jari kiri dan tangan kanan dalam duduk antara dua sujud diatas paha masing-masing ulurkan jari-jari tangan ke ujung paha secara santai tanpa melebihi batas paha (Rahman Ritonga, 2002:
101).
Bacaan ketika duduk antara dua sujud:
ًلررفغا بر ًندههاو ًنقزراو ًنعفراو ًنربجاو ًنمحراو
ًنفاعو
ًنع فعاو
g. Posisi duduk tahiat awal dan akhir
Posisi duduk tasyahud awal terdapat pada rokaat kedua, kalau shalat yang kita kerjakan adalah shalat yang memiliki jumlah bilangan tiga rokaat atau empat rokaat, maka pada rokaat kedua duduk untuk membaca tasyahud awal/tahiyyat awal. Cara duduknya adalah kaki kanan tegak dan telapak kaki bagian kiri diduduki.
Menurut (Chakimatul Munawaroh, 2018: 133) Setelah selesai bacaan sujud kedua dari rakaat terakhir, kemudian bangkit dengan takbir tanpa mengangkat tangan, dan kemudian mengambil posisi duduk tawaruk, dengan meletakkan pinggul atau bokong pada tempat shalat serta memasukan jari-jari kiri ke bawah kaki kanan yang ditegakkan dengan jari-jari kaki ke arah kiblat. Mengenai hal ini sahabat Abu Humaid berkata:”
Adalah Rasulullah Saw apabila berdiri sembahyang hinga apabila telah sampai dirakaat yang penghabisan, ia keluarkan kakinya yang kiri dan ia duduk miring di atas punggungnya (yang kiri). (HR. Ahmad dan Abu Daud).
Membaca lafadz tahiat dan tasyahud yang dikehendaki sambil melakukan isyarat dengan jari telunjuk setiap kali mengucapkan asma Allah dengan menggerakkan telunjuk. Jari telunjuk di luruskan, lalu selesai syahadat, jari telunjuk agak dilemahkan (sedikit melengkung ke bawah), untuk digerak- gerakkan setiap mengucapkan syahadat.
Bacaa tasyahud:
ِ ُتاَبٌِّهطلا ُتا َوَلهصلا ُتاَك َراَبُمْلا ُتاهٌِحهتلَا اَهٌَُّأ َكٌَْلَع ُمَلَهسلَا .ِلله
ِاَلل ِداَبِع ىَلَع َو اَنٌَْلَع ُمَلَهسلَا .ُهُتاَك َرَب َو ِاَلل ُةَم ْح َر َو ًُِّبهنلا ُل ْوُس َر اًدهم َحُم هنَأ ُدَهْشَا َو ُاَلل هلَِإ َهَلِإَلَ ْنَا ُدهْشَأ . َنٌِْحِلاهصلا ِ اَلل
Bacaan sholawat nabi:
همُههللَا ىَل َع َتٌْهلَص اَمَك ،ٍدهم َحُم ِلَا ىَلَع َو ٍدهم َحُم ىَلَع ِّلَص
ِلَا ىَلَع َو ٍدهم َحُم ىَلَع ْك ِراَب َو .ِمٌِْهاَرْبِإ ِلَا ىَلَع َو ِمٌِْهاَرْبِإ ىِف . ِمٌِْهاَرْبِإ ِلَا ىَلَع َو ِمٌِْهاَرْبِإ ىَلَع َتْكَراَب اَم َََك ،ٍدهمَحُم ِم َح َكهنِإ َنٌِْمَلاَعْلا
ٌدٌِْجَم ٌدٌْ
h. Salam
Menurut (M. Sholikhin, 2011: 342) dalam salam posisi tangan hendaknya diperhatikan disaat akan melaksanakan salam ini. Lepaskan genggaman tangan kanan dengan mengulurkan jari-jari di atas paha. Lalu palingkan wajah ke kanan sehingga terlihat oleh orang sebelahnya, seraya mengucapkan lafadz salam. Kemudian palingkan muka ke arah kiri sehingga terlihat orang disebelahnya seraya mengucapkan salam.
salam ke arah kanan dan kiri seraya mengucapkan:
َم ْح َر َو ْمُكٌَْلَع ُمَلَهسلا ِاَلل ُة
E. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Istilah anak berkebutuhan khusus bukan berarti mengantikan istilah anak penyandang cacat atau anak luar biasa tetapi menggunakan sudut pandang yang lebih luas dan positif terhadap anak didik atau anak yang memiliki kebutuhan yang beragam. Dengan demikian dari penjelasan tersebut. Maka anak luar biasa merupakan salah satu anak yang dimaksud dengan anak yang berkebutuhan khusus. Istilah mengenai anak berkebutuhan khusus mengalami perkembangan seiring dengan pemahaman ilmu pengetahuan dan kesadaran masyarakat serta budaya masyarakat (Novan Ardy Wijaya, 2014:17).
Menurut (anak berkebutuhan khusus) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya. Menurut para ahli anak berkebutuhan khusus memiliki bakat tinggi dibandingkan dengan anak yang normal. Untuk mencapai itu semua kita harus memahami anak tersebut.
1) Macam-macam anak berkebutuhan khusus (ABK)
Menurut (Aqila Smart, 2010: 33) Dalam dunia pendidikan, anak berkebutuhan khuss (ABK) diklarifikasikan atas beberapa kelompok
sesuai dengan jenis kelainan anak. Berikut ini akan dijelaskan beberapa jenis-jenis anak berkebutuhan khusus, sebagai berikut:
a) Tunarungu b) Tunanetra c) Tunadaksa d) Tunagrahita e) Tunalaras f) Autis
g) Down syndrom h) Retardasi mental
2) Hak-hak anak berkebutuhan khusus (ABK) Landasan yuridis formal
Hak-hak yang dimiliki anak berkebutuhan khusus berdasarkan pada landasan yuridis formal meliputi:
a) UUD 1945 (Amandemen)
Pasal 31 ayat (1) “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Ayat (2) setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”.
3) Klarifikasi Anak Tunanetra
Menurut (M. Takdir Ilahi, 2013: 136) Tunanetra merupakan sebutan untuk individu yang mengalami gangguan pada indrapenglihatan. Pada dasarnya, tunanetra dibagi menjadi dua kelompok, yaitu buta total dan kurang pengelihatan (low vision).
Buta total bila tidak dapat melihat dua jari dimukanya atau hanya melihat sinar atau cahaya matahari yang lumayan dapat dipergunakan untuk orientasi mobalitas. Mereka tidak bisa menggunakan huruf lain selain huruf braille.
Sedangkan, yang disebut low vision adalah mereka yang bila melihat sesuatu, mata harus didekatkan, atau mata harus dijauhkan dari objek yang dilihatnya, atau ereka yang memiliki pemandangan kabur ketika mereka melihat objek. Untuk mengatasi permasalahan