llo
233
Tll'te.r
WACANA
Mengurai
Subsidi
BBM
dari
Sejara$a
BEBERAPA hari terakhir pekan
lalu
masyarakat ,kebanyakan,ter-masuk penulis, harus
merasakan antre untuk mendapatkan premiumbeisubsidi. Jika
biasanya hanyamengante
lima
sampaitujuh
ken-daraan
di
depan,kali
ihi
luar biasa karena antrean membeludak sampaike jalanan hingga sepanjang
bebe-rapa puluh meter dari mesin pompa.
Meskipun
mengantre,toh
masih dapat bersyukur daripada harus ke-habisan premium. Penulis jugaikut
menjadi pengantre di tengah-tengah kerumuman orang dengan
kendara-annya masing-masing. Barangkali
itu
sisiposi{f
dari kelangkaanpre-"mium bersubsidi akhir-akhir ini,
latihan mengantre secara tertib selain
juga
menambah kenalan baru dari sesama pengantre!Situasi
kelangkaan
premiumbersubsidi
yang
kita
rasakan saatini
sebenarnya bersumber
padapersoalan subsidi itu sendiri. Subsidi
BBM
mulai muncul
pada
masa pemerintahan Orde Baru. Pada awaltahun
1970-an, Presiden Soeharto merasaperlu untuk
menggelontor-kan dana APBN untuk subsidi
BBM.
Alasannya karena saat itu daya beli masyarakat rendah dan kondisi
per-ekbnomian nasional yang
belumstabil.
Pada tahun-tahun tersebut cadanganminyak
bumi
Indonesiajuga
masih berlimpah dan
cukupuntuk
membiayai pembangunan diberbagai sektor.
Pendapatan
dari
sektor
pajakpada masa awal pemerintahan
Soe-harto
belum
signifikan.Ketika itu
aturan
soal
perpajakanbelum
se-terdtur
sekarang
ditambah
lagi
kesadaran masyarakat membayar
pajak yang masih
sangat.rendah.Tak
heran apabila
hasil
minyakmentah
Indonesia menjadi
peno-pang
utama sumber
pendapatan negara. SubsidiBBM
saatitu
tidak menjadi persoalan yang membebaniAPBN. Rakyat saat
itu
henar-benarterbantu dengan transportasi yang
murah
dan
harga
barang-barang kebutuhan pokok yang relatif stabilkarena
biaya untuk distribusi
pa-sokan
juga
tidak tinggi.Tak
dapat
dipungkiri
bahwa produksi minyak menjadi persoalantersendiri.
Indonesia
mengalamikesulitan soal produksi
sehingga harus mendatangkanahli
dari luar. Indonesia akhirnya menjadi negarapengekspor
minyak
mentah bagidunia.
Pertambahanjumlah
pen-duduk dunia dan
menipisnya ca-dangan minyak bumi membuaihargaminyak
dunia terus meningkat.Di
Indonesia sendiri juga terjadi an penduduk disertai dengan
ledak-an jumlah kendaraan bermotor.
Ke-majuan zaman dan kebutuhan yang terus meningkat menjadi
keuntung-an
bagi
para produsen kendaraan\
ra
Senin
Pon,1
September20
BERNAS
JOGJA
vv"'|r'|
'!""'
'
"":::'l
HALAMAI
Oleh:
Hendra Kurniawan
bermotor
untuk
semakin
gencarmemasarkan
produknya.
Kemu-dahan
kredit
hingga
rendahnyauang
muka
semakin
mendorongbertambahnya kepemilikan sepeda
motor maupun mobil.
Peningkatan
jumlah
kendaraanbermotor berakibat pada konsumsi
bahan bakar terutama premium dan
solar yang terus melonjak dengan
cepat. Hampir setiap rumah tangga,
termasuk mereka yang
berpendapat-an rendah, dipat dipastikan memiliki
sepeda motor paling tidak satu hingga
dua unit. Bahkan kalau perlu setiap
anggota keluarga dalam satu rumah memiliki sepedamotor sendki-sendiri.
Belgm
lagi
keluarga yangberpen-dapararr* di atas rata-rata, tidak hanya
sepeda
motor
saja,
merekajuga
memilih mobil sebagai alat transpor-tasi yang harus
dimiliki.
Kenyataanini
tidak lepas dari kegagalan peme-rintah menyediakan sarana transpor-tasi umum yang layak, nyaman, danaman. Kendaraan pribadi dinilai jauh lebih memberi kenyamanan dan tidak membuang waktu.
Meledaknya.
jumlah
kendaraantentu semakin membutuhkan
kon-sumsi
BBM
dalamjumlah
besar.Saat
produksi
dalam negeri tidak mencukupi, maka tidak ada pilihanlain bagi pemerintah kecuali
meng-impor
BBM.
Ini harus dibarengide-ngan mengurangi subsidi
abahkan dihapus agar
tidak
sanmengalami
defisit
APBN.
SubBBMjuga lambat laun menjadi ti
tepat sasaran karena pemilik ker
raan kebanyakan adalah kalan
menengah ke atas. Dengan demil
justru
orang-brang mampulah y lebih menikmati subsidi BBM. Hanormal premium tanpa
subr berkisar pada Rp 10.500,- ini arti dengan harga saatini,
pemerirmenggelontorkan
subsidi
sebtRp 4.000,- untuk setiap liter premi
Artinya
tidak
sedikit
subsidi y harus dikeluarkan oleh pemerirsetiap tahunnya.
Niat
Jokowi,
presiden terpldalam
pemerintahan
mendat yang akan menghapus subsidi B dan mengalihkannya ke. sektor patut didukun g. Pemerintah mem harus berani mengambil kebijademi menyelamatkan rakyat sel
pun tidak
populer. Subsidi
Bdapat dimanfaatkan untuk sektor yang lebih mendasar dan mengr
seperti pendidikan dan keseha
Situasi sekarang sudah jauh bert dengan
di
masa pemerintahan Isiden Soeharto. Lepas dari soal
salahan hitung-menghitung ku
bagaimanapun subsidi
BBM
sutidak lagi relevan,
***
Hendra Kurniawan MPd,
D(Pendidikan Sejarah
FKIP
Uni