Oleh:
LAELATUL AZIZAH J 100 050 034
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan Guna Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Untuk Menyelesaikan
Program Pendidikan Diploma III Fisioterapi
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI FAKULTAS ILMU KESEHATAN
ii
Jurusan Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta dan diterima untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Fisioterapi, pada:
Hari : Tanggal :
Tim penguji Karya Tulis Ilmiah
Nama Terang Tanda Tangan
Penguji I : Ichwan Murtopo, SKM., M.Kes. ( )
Penguji II : Umi Budi Rahayu ( )
Penguji III : Yoni Rustiana, S.ST., FT. ( )
Disahkan oleh,
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta
iii
Telah disetujui pembimbing untuk dipertahankan di depan Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Program Studi Fisioterapi Program Diploma III Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Pembimbing
iv
Jangan pernah di nanti-nanti”
“Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang”
(QS. Yusuf, 12: 64)
“Kuatkanlah harapanmu dalam meraih apa-apa yang bermanfaat bagimu” (HR. Muslim)
“Tidak ada seorangpun dapat kembali ke masa lalu untuk membuat suatu awal yang baru. Namun, setiap orang dapat memulai saat ini untuk
membuat suatu akhir yang baru”.
v
Karya tulis ini kupersembahkan untuk 1. Ayah dan Ibu tercinta
2. Kakak dan Adikku tersayang 3. Keluarga besarku
4. Rekan-rekan Fisioterapi Angkatan ‘05 5. Agama, Nusa dan Bangsa
vi
melimpahkan Rahmat, Hidayah dan Ridha-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini yang berjudul “Penatalaksanaan Micro Wave Diathermy dan Terapi Latihan pada Kondisi Osteoarthritis Genu Bilateral Di RSUD Sragen” guna memenuhi tugas dan syarat dalam menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Fisioterapi di Akademi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Bambang Setiadi, MM, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta.
2. Bapak Arif Widodo, A.Kep., M.Kes., selaku ketua Studi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
3. Ibu Umi Budi Rahayu, S.ST., FT, S.Pd., selaku Ketua Program Studi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
4. Bapak Ichwan Murtopo, SKM., M.Kes., selaku pembimbing terima kasih atas nasehat dan bimbingannya.
5. Segenap Dosen Jurusan Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta, terima kasih atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis.
vii
anggok makasih banyak, kamu adalah teman terbaik dan hidupku.
9. Buat teman-teman yang ada di kost Bp. Susilo M. Neini, Idha Idoet, M. Erna, M. Tutik, M Eni Makasih atas bantuannya.
10.Teman teman seperjuangan akfis Fisioterapi D3 UMS semoga kita semua menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat. Amiin.
11.Buat kelompok VI (Koh Cipit (Ari), Nero (Nurma), Ika W, Indriyana, Yulia (Ipeh), Tri R (Tesi), Vasco (Handayani)) terima kasih atas semangat dan dorongannya, semoga suskses buat kalian
12.Buat pembaca yang budiman semoga KTI ini bisa menambah ilmunya... Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini jauh dari sempurna yang tak lain disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu penulis mengharapkan segala saran dan kritik dari semua pihak yang bersifat membangun demi perbaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
Penulis berharap Karya Tulis ini berguna bagi penulis sendiri dan rekan-rekan fisioterapi pada khususnya serta masyarakat pada umumnya.
Surakarta, 2008
viii
Laelatul Azizah, 94 halaman, 2008 RINGKASAN
Osteoarthtritis adalah merupakan penyakit sendi degeneratif dimana terjadi suatu gangguan yang seakan-akan merupakan proses penuaan dan ditandai dengan adanya degeneratif pada tulang rawan sendi disertai pertumbuhan tulang baru pada bagian tepi sendi (bony spur). Osteoarthtritis genu bilateral sering menyerang pada mereka yang sudah lanjut usia terutama di atas 40 tahun.
Adapun permasalahan yang akan timbul baik kapasitas fisik berupa: adanya nyeri pada kedua lutut, penurunan lingkup gerak sendi, penurunan kekuatan otot fleksor dan ekstensor kedua lutut, serta masalah kemampuan fungsional berupa gangguan aktifitas jongkok, dan berjalan. Untuk mengetahui seberapa besar permasalahan yang timbul perlu dilakukan pemeriksaan, misalnya untuk nyeri dengan VDS, krepitasi dengan gerak pasif, penurunan lingkup gerak sendi dengan LGS, penurunan kekuatan otot dengan MMT, dan pemeriksaan kemampuan fungsional dengan Skala jette. Dalam mengatasi permasalahan tersebut modalitas MWD dan terapi latihan dapat diperoleh adanya pengurangan nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi dan peningkatan kekuatan otot serta berkurangnya gangguan untuk aktivitas fungsional.
Penelitian karya tulis ini menggunakan metode studi kasus dengan pelaksanaan terapi sebanyak enam kali. Adapun hasil setelah dilaksanakan terapi selama enam kali adalah sebagai berikut : nyeri dengan VDS : nyeri gerak lutut kanan T1=5 menjadi T6 = 2, kiri T1 = 6 menjadi T6 = 2, nyeri tekan lutut kanan
T1 = 5 menjadi T6 = 2, kiri T1=6 menjadi T6 = 2; lingkup gerak sendi dengan
goniometer aktif lutut kanan T1 S=0o-0o-90o menjadi T6 S= 0o-0o-110o, aktif lutut
kiri T1 S=0o-0o-90° menjadi T6 S= 0o-0o-110o, pasif lutut kanan T1 S=0o-0o-100o
menjadi T6 S= 0o-0o-120o, pasif lutut kiri T1 S=0o-0o-100o menjadi T6 S= 0o-0o
ix
pada kondisi Osteoarthtritis genu bilateral yaitu bahwa gangguan aktivitas fungsional dapat diatasi.
xi
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
RINGKASAN ... viii
ABSTRAK ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GRAFIK ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan ... 3
D. Manfaat ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
A. Anatomi Fisiologi ... 6
B. Patologi ... 25
xii
A. Rancangan Penelitian ... 44
B. Kasus Terpilih ... 44
C. Instrumen Penelitian ... 44
D. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 45
E. Prosedur Pengambilan dan Pengumpulan Data ... 45
F. Teknik dan Analisa Data ... 46
BAB IV HASIL DAN PERSEMBAHAN ... 47
A. Pelaksanaan Studi Kasus ... 47
B. Diagnosa Fisioterapi ... 57
C. Tujuan ... 58
D. Pelaksanaan Fisioterapi ... 58
E. Protolol Studi Kasus ... 63
F. Pembahasan Kasus ... 87
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 92
A. Kesimpulan ... 92
B. Saran ... 93 DAFTAR PUSTAKA
xiii
Gambar 2.2. Sendi lutut kanan dilihat dari belakang ... 15
Gambar 2.3. Ligamen pada sendi lutut dilihat dari depan ... 18
Gambar 2.4. Ligamen pada sendi lutut dilihat dari belakang ... 19
Gambar 2.5. Bursa disekitar lutut ... 20
Gambar 2.6. Otot sendi lutut dilihat dari (a) depan (b) belakang ... 21
Gambar 2.7. Pembuluh darah arteri pada sendi lutut ... 22
Gambar 2.8. Pembuluh darah vena pada sendi lutut ... 23
Gambar 4.1. Tes laci sorong ke depan ... 53
Gambar 4.2. Tes laci sorong ke belakang ... 53
Gambar 4.3. Hipermobuilitas valgus ... 54
Gambar 4.4. Hipermobuilitas varus ... 54
Gambar 4.5. Hiperekstensi ... 45
Gambar 4.6. Gravity sign ... 45
Gambar 4.7. Assisted active movement ... 75
Gambar 4.8. Free active moveemnt ... 75
Gambar 4.9. Resisted active movement ... 77
xiv
Tabel 2.1. Otot-otot pada sendi lutut ... 13
Tabel 2.2. Kriteria kekuatan otot ... 37
Tabel 4.1. Nilai VDS pada sendi lutut ... 78
Tabel 4.2. Evaluasi kekuatan otot flexor dan extensor sendi lutut ... 79
Tabel 4.3. Evaluasi LGS sendi lutut ... 81
Tabel 4.4. Hasil penelitian nyeri dengan VDS ... 83
Tabel 4.5. Hasil penelitian lingkup gerak sendi dengan goniometer ... 85
Tabel 4.6. Hasil penelitian otot dengan MMT ... 86
xv
Grafik 4.2. Penurunan rasa nyeri pada lutut kiri ... 79 Grafik 4.3. Peningkatan kekuatan otot flexor pada lutut kanan ... 80 Grafik 4.4. Peningkatan kekuatan otot flexor pada lutut kiri ... 80 Grafik 4.5. Peningkatan kekuatan otot ekstensor pada lutut kanan dan kiri .. 81 Grafik 4.6. Hasil evaluasi LGS dengan parameter skala ROM gerak aktif
knee kanan dan kiri dalam bidang sagital ... 82 Grafik 4.7. Hasil evaluasi LGS dengan parameter skala ROM gerak pasif
x ABSTRAK
Osteoarhtritis adalah merupakan proses penemuan dan ditandai dengan adanya degeneratif pada tulang rawan sendi. Hal ini mengakibatkan terjadinya permasalahan kapasitas fisik berupa nyeri pada kedua lutut, penurunan lingkup gerak sendi, penurunan kekuatan otot fleksor dan ekstensor kedua lutut dan adanya gangguan aktivitas fungsional berupa gangguan aktivitas jongkok, berdiri lama dan berjalan. Untuk memberikan penanganan yang efektif dan efisien, maka dilakukan suatu penatalaksanaan fisioterapi atau proses fisioterapi yang diadakan serta dokumentasi. Penelitian karya tulis ini menggunakan metode studi kasus dengan pelaksanaan terapi sebanyak enam kali. pelaksanaan meliputi segala tindakan fisioterapi yaitu pemeriksaan nyeri dengan VDS, penurunan lingkup gerak sendi dengan LGS, penurunan kekuatan dengan MMT dan pemeriksaan kemampuan fungsional dengan Skala jette. Hal yang dapat membantu mengatasi permasalahan tersebut di atas dapat digunakan modalitas berupa Micro Wave Diathermy dan Terapi Latihan. Tujuan dari modalitas tersebut yaitu pengurangan nyeri pada kedua lutut, adanya peningkatan lingkup gerak sendi dan kekuatan otot serta adanya pningkatan aktivitas fungsional.
1 BAB I PENDAHULUAN
Bangsa Indonesia sedang giat melaksanakan pembangunan di segala bidang, salah satunya pembangunan di bidang kesehatan. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Mewujudkan derajat kesehatan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan keadaan kesehatan yang lebih baik dari sebelumnya. Derajat kesehatan masyarakat yang optimal adalah tingkat kondisi kesehatan yang tinggi dan mungkin dapat dicapai pada suatu saat sesuai dengan kondisi dan situasi serta kemampuan yang nyata dari setiap orang atau masyarakat dan harus selalu diusahakan peningkatannya secara terus menerus (UU Kes. No 32 Tahun 1992).
Fisioterapi merupakan salah satu bagian dari tim medis yang bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan. Menurut Purnamadyawati (2006), fisioterapi memiliki peran dalam mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak serta fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual maupun dengan peralatan seperti electrotherapy dan mekanis.
A. Latar Belakang Masalah
gangguan gerakan sendi sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari (Adnan, 2007).
Sendi lutut merupakan sendi yang paling penting dalam menumpu berat badan, dengan demikian sendi lutut sangat mudah mengalami osteoarthritis yang akan menimbulkan kekakuan sendi, perubahan bentuk dan nyeri untuk berjalan, naik tangga dan berdiri dari duduk. Osteoarthritis banyak menyerang pada usia lanjut. Pada umumnya pria dan wanita sama-sama dapat terkena penyakit ini meskipun pada usia sebelum usia 45 tahun. Osteoarthritis banyak menyerang atau terjadi pada pria dan wanita setelah usia 45 tahun, akan tetapi ostearthritis banyak menyerang wanita (Hudaya, 1996).
Ada beberapa faktor predisposisi yang diketahui berhubungan erat dengan terjadinya osteoarthritis sendi lutut yaitu umur, jenis kelamin, obesitas, faktor hormonal atau metabolisme, genetik, aktivitas kerja dan trauma.
Tujuan dari penatalaksanaan osteoarthritis sendi lutut adalah untuk mencegah atau menahan kerusakan yang lebih lanjut pada sendi lutut, untuk mengatasi nyeri dan kaku sendi guna mempertahankan mobilitas (Carter, 1995).
Modalitas yang digunakan penulis pada kasus ini adalah Micro Vave Diathermy (MWD) dan terapi latihan. MWD adalah salah satu modalitas
sehingga akan memberi efek relaksasi pada otot dan meningkatkan aliran darah intra muskuler, hal ini terjadi karena adanya peningkatan temperatur yang signifikan (Low, 2000).
Selain MWD modalitas lain yang digunakan penulis untuk kasus osteoarthritis sendi lutut yaitu terapi latihan. Manfaat dari terapi latihan pada pasien osteoarthritis sendi lutut adalah peningkatan lingkup gerak sendi (LGS), penguatan otot, peningkatan ketahanan (endurance) statik maupun dinamik dan kenyamanan (mellbeing) pasien (Tulaar, 2006).
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah karya tulis ilmiah ini adalah:
1. Apakah pemakaian modalitas MWD dan terapi latihan dapat mengurangi nyeri dan oedem
2. Apakah pemakaian modalitas MWD dan terapi latihan dapat meningkatkan LGS pada penderita osteoarthritis genu bilateral?
3. Apakah pemakaian modalitas MWD dan terapi latihan dapat meningkatkan kekuatan otot pada penderita osteoarthritis genu bilateral?
C. Tujuan 1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penulis adalah:
a. Untuk mengetahui pengaruh MWD dan terapi latihan dalam mengurangi nyeri pada penderita osteoarthritis knee bilateral.
b. Untuk mengetahui proses terapi latihan terhadap peningkatan kekuatan otot pada penderita osteoarthritis knee bilateral.
c. Untuk mengetahui proses terapi latihan terhadap peningkatan lingkup gerak sendi pada penderita osteoarthritis knee bilateral.
d. Untuk mengetahui proses peningkatan aktifitas fungsional pada penderita osteoarthtritis knee bilateral.
D. Manfaat 1. Bagi penulis
Dapat lebih dalam mengenal osteoarthritis lutut sehingga dapat menjadi bekal untuk penulis setelah lulus.
2. Bagi masyarakat
Dapat memberikan informasi yang benar kepada pasien, keluarga, masyarakat, sehingga dapat lebih mengenal dan mengetahui gambaran osteoarthritis lutut dalam pendekatan fisioterapi.
3. Bagi pendidikan
4. Bagi institusi kesehatan
Dapat memberikan informasi obyektif mengenai osteoarthritis lutut kepada tenaga medis, baik yang bekerja di rumah sakit maupun puskesmas.
5. Bagi fisioterapi
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sebelum pembahasan lebih lanjut akan penulis ungkapkan terlebih dahulu beberapa hal yang merupakan landasan teori yang mendasari proses pemecahan masalah pada OA knee bilateral. Dalam hal ini antara lain: (A) Anatomi, Fisiologi, dan Biomekanik (B) Patologi (C) Obyek yang dibahas dan (D) Modalitas fisioterapi.
A. Anatomi, Fisiologi, dan Biomekanik Regio Lutut 1. Anatomi, fisiologi lutut
a. Tulang Pembentuk Sendi Lutut
Tulang yang membentuk sendi lutut antara lain: Tulang femur distal, tibia proximal, tulang fibula, dan tulang patella.
1) Tulang Femur (Tulang paha)
Tulang femur termasuk tulang panjang yang bersendi ke atas dengan pelvis dan ke bawah dengan tulang tibia. Tulang femur terdri dari epiphysis proximal diaphysis dan epiphysis distalis. Pada tulang femur ini yang berfungsi
dalam persendian lutut adalah epiphysis distalis. Epiphysis distalis merupakan bulatan sepasang yang disebut condylus femoralis lateralis dan medialis. Di bagian proximal tonjolan tersebut terdapat sebuah bulatan kecil yang disebut epicondylus lateralis dan epicondylus lateralis. Pandangan dari depan, terdapat
lateralis dan medialis terdapat cekungan yang disebut fossa
intercondyloidea (Platser W, 1993).
2) Tulang patella (Tulang tempurung lutut)
Tulang patella merupakan tulang dengan bentuk segitiga pipih dengan apeks menghadap ke arah distal. Pada permukaan depan kasar sedangkan permukaan dalam atau dorsal memiliki permukaan sendi yaitu fades articularis lateralis yang lebar dan fades articulararis medialis yang sempit (Platser W,
1993).
3) Tulang Tibia (Tulang kering)
Tulang tibia terdiri dan epiphysis proximalis, diaphysis distalis. Epiphysis proximalis pada tulang tibia terdiri dari dua bulatan yang disebut condylus
lateralis dan condylus medialis yang atasnya terdapat dataran sendi yang disebut
fades artikularis lateralis dan medialis yang dipisahkan oleh ementio iniercondyloidea (Evelyn, 2002).
Lutut merupakan sendi yang bentuknya dapat dikatakan tidak ada kesesuaian bentuk, kedua condylus dari femur secara bersama sama membentuk sejenis katrol (troclea), sebaiknya dataran tibia tidak rata permukaanya, ketidak sesuaian ini dikompensasikan oleh bentuk meniscus (Platser W, 1993).
4) Tulang Fibula
Tulang fibula ini berbentuk kecil panjang terletak disebelah lateral dan tibia juga terdiri dari tiga bagian yaitu: epiphysis proximalis, diaphysis dan
epiphysis distalis.
Epiphysis proximalis membulat disebut capitulum fibula yang ke
proximalis meruncing menjadi apex capitulis fibula. Pada capitulum terdapat dua
Gambar 2.1
Tulang pembentuk sendi lutut (Putz adn Pabtz, 2000) 13 12
11
10 1
2 3
9 8
7 6 4
b. Ligamentum, kapsul sendi dan jaringan lunak sekitar sendi lutut 1) Ligamentum
Ligamentum mempunyai sifat extensibility dan kekuatan, yang cukup kuat
(tensile strength) yang berfungsi sebagai pembatas gerakan dan stabilisator sendi. Ada beberapa ligamen sendi lutut yaitu: (1) Ligamentum cruciatum anterior yang berjalan dari depan culimentio intercondyloidea tibia ke permukaan medial condyler lateralis femur yang berfungsi menahan hiperekstensi dan menahan
bergesernya tibia ke depan, (2) Ligamentum cruciatum posterior berjalan dan fades lateralis condylus medialis femoris menuju ke fossa intercondyloidea tibia,
berfungsi menahan bergesernya tibia ke arah belakang, (3) Ligamentum collateral lateral yang berjalan dan epicondylus lateralis ke capitulum fibula yang berfungsi
menahan gerakkan varus atau samping luar, (4) Ligamentum collateral mediale berjalan dari epicondylus medialis ke permukaan medial tibia (epicondylus medialis tibia) berfungsi menahan gerakan valgus atau samping dalam eksorotasi.
Namun secara bersamaan fungsi-fungsi ligament colateralle menahan bergesemya tibia ke depan pada posisi lutut 90°, (5) ligament popliteum obliqum berasal dari
condylus lateralis femur menuju ke insertio musculus semi membranosus melekat
2) Kapsul sendi
Kapsul sendi lutut terdiri dan dua lapisan yaitu (1) stratum fibroswn merupakan lapisan luar yang berfungsi sebagai penutup atau selubung (2) stratum synovial yang bersatu dengan bursa suprapatellaris, stratum synovial ini merupakan lapisan dalam yang berfungsi memproduksi cairan synovial untuk melicinkan permukaan sendi lutut. Kapsul sendi lutut ini termasuk jaringan fibrosus yang avasculer sehingga jika cedera sulit untuk proses penyembuhan (Evelyn, 2002).
3) Jaringan lunak a) Meniscus
Meniscus merupakan jaringan lunak, meniscus pada sendi lutut adalah
meniscus lateralis, Adapun fungsi meniscus adalah (1) penyebaran pembebanan
(2) peredam kejut (shock absorber) (3) mempermudah gerakan rotasi (4) mengurangi gerakan dan stabilisator setiap penekanan akan diserap oleh meniscus dan diteruskan ke sebuah sendi.
b) Bursa
Bursa merupakan kantong yang berisi cairan yang memudahkan terjadinya gesekan dan gerakan, berdinding tipis dan dibatasi oleh membran synovial. Ada beberapa bursa yang terdapat pada sendi lutut antara lain: (1) bursa popliteus, (2) bursa supra pateliaris (3) bursa infra paterallis (4) bursa sulcutan prapateliaris
c) Otot-otot penggerak sendi lutut
Disini penulis ingin membahas tentang otot-otot yang bekerja pada sendi lutut termasuk didalamnya perlekatan dan persyarafan serta fungsi dari otot tersebut.
1) Bagian anterior adalah m. rectus femoris, m. vastus lateralis, m. vastusmedialis, m. vastus intermedialis.
2) Bagian posterior adalah m. bicep femoris, m. semitendinosis, m. semimembranosis, m. gastrocnemius.
Tabel 2.1. Otot-otot pada sendi lutut
No Nama otot Origo Insertio Innervasi Fungsi
1
Bagian anterior
m. rectus femoris Spina illiaca Anterior Inferior superior
patella n. femoris L24
Ekstensi sendi lutut
2
Acetabulum
m. vastus lateralis Dataran lateral dan anterior trochantor mayor femoris, labium lateralis linia aspera Lateral os patella n. femoris L24 Ekstensi sendi lutut
3 m. vastus medialis Labium medial linea aspera Setengah bagian atas os patella n. femoris L24 Ekstensi sendi lutut 4 m. vastus
intermedius Dataran anterior corpus femoris Tuborisitas tibiae n. femoris L24 Ekstensi sendi lutut 5 Bagian Posterior
m. bicep femoris Tuber Isciadicum Caput brevis, pada labium laterale linea aspera Fibula bagian lateral dan condylus tibia Condylus medialis tibia n.peroneus communis Exorotasi sendi lutut
6 m. semi-tendinosus
Tuber ischiadicum
Condylus medialis tibia
n. tibialis Flexi dan endorotasi sendi lutut 7 m.
semimembranosus
Tuber ischiadicum
Posterior os calcaneus
n. tibialis Flexi dan endorotasi sendi lutut 8 m. gastrocnemius Caput medial:
pada condylus medialis femuris Caput lateral: Pada condylus lateral femoris
Posterior os calcaneus
9
Bagian
Medial
m. sartorius SIAS Tubersitas tibia n. femoralis L2-3 Flexi Internal rotalor sendi lutut 10 m. gracilis Ramus inferior
osis pubis dan osis ischii Tuberositas tibia dibelakang tendo m. sartorius n. femoralis L2-4 Flexi external rotatoir sendi lutu 11 Bagian Lateral m. tensorfacia latae Spina iliaca anterior inferior dan fascialatae Tractus illio tibialis m. gluteus superior cabang n. femoralis L4-5, S1-2 Flexor abduktor, internal rotasi hip
Gambar 2.2.
Sendi lutut kanan dilihat dari belakang (Putz and Pabstz, 2000) 1
2
3
4
5
6
7
8
9
9 9
10
12
13 14
16 17
c. Sistem persyarafan
Pada regio lutut, tungkai mendapat persyarafan dari nervus ischiadicus yang berasal dari serabut lumbal ke-4 sampai dengan sacrum ke-3. Ini merupakan serabut yang terbesar di dalam tubuh yang keluar dan foramen ischiadicus mayor, berjalan terus disepanjang permukaan posterior paha ke ruang poplitea, lalu syaraf ini membagi dua bagian yang nervus peroneus communis dan nervus tibialis. Nervus peroneus communis pada dataran lateral capitulum fibula akan pecah menjadi nervus superficialis.
d. Sistem peredaran darah 1) Sistem peredaran darah arteri
Peredaran darah yang akan dibahas kali ini adalah sistem peredaran darah yang menuju ke tungkai dan vena yang juga memelihara darah sekitar sendi lutut, Arteri yang memelihara darah sekitar sendi lutut, arteri yang memelihara sendi lutut.
a) Arteri fermoralis
Merupakan lanjutan dari arteri iliaca external yang keluar dan cavum abdominalis lacuna vasorum lalu berjalan ke lateral dari venanya kemudian ke bawah menuju kedalam fossa illipectiana kemudian masuk ke canal is addectorius sehingga arteri poplitea masuk ke fossa poplitea disisi medial femur, lalu arteri femoralis bercabang menjadi cabang arteri superficial dan cabang profunda.
b) Arteripoplitea
menjadi (1) a. genus superior later alls, (2) a. genus superior medialis (3) a. genus inferior lateralis (4) a. genus inferior medialis.
2) Sistem peredaran darah vena
Gambar 2.3.
Ligamen pada sendi lutut dilihat dari depan (Putz and Pabtz, 2000) 1
2 3 4 5 6
Gambar 2.4.
Ligamen pada sendi lutut dilihat dari belakang (Putz and Pabtz, 2000) 1
2
3
4
5
6
7 8
9 10
11 12
[image:34.612.170.480.151.589.2]Gambar 2.5.
Bursa di sekitar lutut (Putz and Pabts, 2000) 4
1
2
Gambar 2.6.
Otot sendi lutut dilihat dari (a) depan, (b) belakang (Putz and Pabts, 2000)
a b
Gambar 2.7
Pembuluh darah arteri pada sendi lutut (Putz and Pabts, 2000) 1
2 3 4
5
6
16 7
8 9 15
14
13
2.
Gambar 2.8.
Pembuluh darah vena pada sendi lutut (Putz and Pabts, 2000) 1
2 3
4 5
6 7
13 14
15
[image:38.612.142.491.135.626.2]3. Biomekanik lutut
Biomekanik adalah ilmu yang mempelajari gerakan tubuh manusia. Pada bahasan Karya Tulis Ilmiah ini penulis hanya membahas komponen kinematis. ditinjau dan gerak secara osteokinematika dan secara artrokinematika yang terjadi pada sendi lutut.
a. Osteokinematika
Lutut termasuk dalam sendi giglymus (hinge modified) dan mempunyai gerak yang cukup luas seperti sendi siku, luas gerak flexinya cukup besar. Osteokinematika yang memungkinkan terjadi adalah gerak flexi dan extensi pada bidang segitiga dengan lingkup gerak sendi untuk gerak flexi sebesar 130° hingga 135° dengan posisi extensi 0° atau 5°, dan gerak putaran ke dalam 30° hingga 35° sedangkan putaran keluar 40° hingga 45° dari awal mid posisi.
Flexi sendi lutut adalah gerakan permukaan posterior ke bawah menjauhi permukaan posterior tungkai bawah. Putaran ke dalam adalah gerakan yang membawa jari-jari ke arah sisi dalam tungkai (medial). Putaran keluar adalah gerakan membawa jari-jari ke arah luar (lateral) tungkai. Untuk putaran (rotasi) dapat terjadi pada posisi lutut flexi 90°, R (< 90°).
b. Artrokinematika
berlawanan. Dan ”jika permukaan sendi cekung bergerak pada permukaan sendi cembung, maka gerak slidding dan rolling searah”.
Pada permukaan femur cembung (konvek) bergerak, maka gerakan slidding dan rolling berlawanan arah. Saat gerak flexi femur rolling kearah belakang dan sliddingnya ke depan untuk gerak extensi rollingnya keventral dan sliddingnya kebelakang. Dan pada permukaan tibia cekung (konkaf) bergerak, flexi ataupun extensi menuju kedepan atau ventral.
B. Patologi 1. Etiologi
Sarnpai saat ini etiologi yang pasti dari osteoartritis ini belum diketahui dengan jelas, ternyata tidak ada satu faktor pun yang jelas sebagai proses destruksi rawan sendi, akan tetapi beberapa faktor predoposisi terjadinya OA telah diketahui. Faktor resiko yang berperan pada osteoarthritis dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu, (1) faktor predoposisi umum, antara lain umur, jenis kelamin, kegemukan, hereditas, hipermobilitas, merokok, densitas tulang, hormoral, dan penyakit rematik lainnya, (2) faktor mekanik, antara lain trauma, bentuk sendi, penggunaan sendi yang berlebihan oleh karena pekerjaan atau aktivitas dan kurang gerak (Isbagio, 2003).
a. Umur
Sebagai faktor bahwa semakin tua semakin menurun kualitas cartilago persendian. Cartilago sebagai bantalan penahan tekanan semakin tua semakin berkurang elastisitasnya, sehingga akan mengakibatkan gangguan fungsi.
b. Gangguan mekanik
Trauma langsung atau tidak langsung (trauma kecil-kecil yang dialami sepanjang masa menjelang tua) mengakibatkan rusaknya katilago persendian. c. Kecacatan genu valgus atau genu varus
Kecacatan tersebut lama mengakibatkan kerusakan pada karlilago persendian, karena berat badan hanya ditumpu oleh sebagian dan persendian. d. Infeksi
Infeksi disebabkan oleh virus, virus yang masuk ke dalam tubuh kedalam pembuluh darah kemudian dilalirkan oleh darah. Virus tersebut akan berhenti ke tempat yang disukainya.
e. Metabolic Syndrome
Kaitannya dengan penurunan fungsi dari mitokondria. Mitokondria menghasilkan energi yang akan digunakan oleh inti sel. Usia yang sudah tua akan membuat metokondri tidak mampu menghasilkan energi sehingga DNA tidak bisa menyelenggarakan prises metabolisme tubuh.
f. Kegemukan atau obesitas
g. Penyakit Endokrin
Pada hipotiroidisme terjadi produksi air dan garam-garam proteoglikan yang berlebihan pada seluruh jaringan penyokong, sehingga akan merusak si fat fisik rawan sendi, ligamen, tendon, synovial dan kulit pada diabetes mellitus, ghukosa akan menyebabkan produksi proteoglikan menurun. Semua ini akan menyebahkan Osteoartritis.
h. Penyakit sendi lain
Osteoartritis dapat timbul sebagai akibat berbagai penyakit sendi lainnya seperti arthritis, arthritis karena infeksi akut, atau karena infeksi, kronis seperti TBC. Sendi infeksi tersebut menimbulkan reaksi peradangan dan mengeluarkan enzim permukaan matrik rawan sendi oleh membran synovial dan sel-sel radang.
Berdasarkan kriteria A.R.A (American Rheumaticam Associaton), Osteoarthritis dapat dilklasifikasikan sebagai berikut:
a) Osteoarthritis primer
Yang penyebabnya berupa idiopatik dan erosive Osteoarthritis. Osteoarthritis primer dikatakan sebagai perubahan degeneratif yang penyebabnya tidak diketahui. Saiter menyebutkan sebagai ”Aging Process” dan sendi normal. b) Osteoarthritis sekunder
2. Perubahan patologi
Pada kondisi osteoartritis terjadi perubahan lokal pada cartilago berupa timbulnya bulla atau blister yang menyebabkan serabut kolagen terputus proteoglikan mengalami pembengkakan pada tahap laju, terjadi perubahan air proteoglikan dan bercerai berai yang mengakibatkan struktur dan tulang rawan sendi rusak (Hudaya, 1996).
Dimana tulang rawan sendi mengadakan reaksi dengan hiperaktifitas pembentukan janngan kolagen baru dan proteoglikan namun reaksi ini kadang tidak menolong. Pada jaringan juga mengadakan selerotis hilang dan akhimya terjadi disorganisasi sendi dan diikuti dengan absorb si kapsula yang berlanjut di dalam suatu kondisi sinovitis yang menyebabkan terjadinya ankilosis (Hudaya, 1996).
Pada Osteoarthritis terdapat proses degradasi, reparasi dan inflamasi yang terjadi dalam jaringan ikat. lapisan rawan, sinovium dan tulang subchondral. Perubahan-perubahan yang terjadi pada Osteoarthritis adalah sebagai berikut: a. Degradasi tulang rawan sendi, yang timbul sebagai akibat dan
b. Osteofit, bersama timbulnya degenerasi tulang rawan sendi. Selanjutnya diikuti reparasi tulang rawan sendi. Reparasi berupa pembentukan osteofit ditulang subchondral (Parjoto, 2000).
c. Skierosis subchondral, pada tulang subchondral terjadi reparasi berupa sklerosis (pemadatan atau penguatan tulang tepat di bawah lapisan rawan yang mulai rusak) (Parjoto, 2000).
d. Sinovitis adalah inflamasi dan sinovium yang terjadi akibat proses sekunder degenerasi dan fragmentasi. Sinovitis dapat meningkatkan cairan sendi. Cairan lutut yang mengandung bermacam-macam enzim akan tertekan ke dalam celah-celah rawan, ini akan mempercepat proses pengrusakan tulang rawan (Parjoto, 2000).
Dengan adanya perubahan-perubahan tersebut, sifat-sifat biomekanis tulang rawan sendi akan berubah, sehingga akan menyebabkan tulang rawan sendi rentan terhadap beban yang biasa (Kamiati, 1995).
3. Gambaran klinis
Secara klinis Osteoarthritis dapat dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu: a. Subklinis, pada tingkatan ini belum ada keluhan atau tanda kilnis lainnya.
Kelainan baru terbatas pada tingkat sekunder dan biokimiawi rawan sendi. b. Osteoartritis manifest, pada tingkatan itu biasanya penderita datang ke
c. Osteoartritis decompensasi, pada tingkatan ini rawan sendi setelah rusak sama sekali biasanya diperlukan tindakan bedah. Tanda dan gejala yang muncul adalah saat istirahat terasa nyeri, kontraktur serta deformitas sendi (Hudaya, 1996).
4. Tanda dan Gejala
disebabkan oleh akumulasi keluhan yang juga ditambah oleh karena menurunnya kekuatan otot (Isbagyo, 2000).
5. Diagnosis Medis
Diagnosis sendi lutut berdasarkan gambaran klinis dan radiologi. Kriteria Actman merupakan salah satu pedoman diagnosis osteoarthritis sendi lutut. Bila seseorang ditemukan hanya nyeri lutut, diagnosa osteoarthritis harus ditambah tiga dan lima kriteria, yaitu umur diatas 50 tahun, kaku sendi di pagi hari kurang dan 30 menit. nyeri tekan pada tulang pembesaran tulang, perabaan sendi tidak panas.
Bila ada gambaran osteofit pada pemeriksaan radiologi dibutuhkan satu dan tiga kriteria, yaitu umum diatas 50 tahun, kaku sendi kurang dan 30 menit dan krepilasi (Parjoto, 2000).
Diagnosis Osteoarthritis lutut berdasarkan gambaran klinik dan nadiologis. Kriteria Altman merupakan salah satu pedoman diagnosis Osteoarthritis lutut (Parjoto dalam, TITAFI 2000). Bila seseorang ditemukan hanya nyeri lutut, diagnosis harus ditambah 3 dan 5 kriteria yaitu:
a. Umur di atas 50 tahun.
b. Kaku sendi pagi hari kurang dari 0 menit. c. Nyeri tekan pada tulang.
d. Pembesaran tulang.
e. Perabaan sendi tidak panas.
a. Umur di atas 50 tahun.
b. Kaku sendi kurangdani 30 menit c. Dan kreditasi.
6. Diagnosa Banding
Pemeriksaan pasien yang sejumlah kemungkinan diderita oleh penderita. Ada kondisi yang mempunyai gejala-gejala hampir sama dengan Osteoartritis sendi lutut sehingga akan mengacaukan kita dalam menentukan diagnosa pada kondisi osteoartritis sendi lutut yang mempunyai rematoid arthritis sendi lutut.
Namun pada rematoid arthritis sendi lutut selalu disertai gejala dan keluhan ekstra artictilar dan aktualisasi inflamasi cukup tinggi. Sementara osteoarthritis sendi lutut tidak dijumpai gejala dan keluhan tersebut. Pada kasus rematoid arthritis sendi lutut didapat keluhan seperti nodul rematoid di jaringan sub cutan vasculatis episkerins miositis, limfadenopaty. Pada rematoid arthritis sendi lutut menyerang umur lebih muda, selalu bilateral, nyeri sangat tajam (sharp pain) morning stiffness. Rematoid arthritis lebih berat selama 1 jam, sendi lebih menonjol disertai demam, kelemahan otot dan penurunan berat badan (Hudaya, 19%).
Kelainan artritis lutut di luar asteoartritis yang umumnya banyak dijadikan diagnosa banding dengan osteoartritis adalah (Kalim, 1997):
a. Rheumatoid Arthritis
b. Gout Arthritis
Adalah sindrom klinis yang mempunyai gambaran khusus yaitu Arthritis akut. Gejala Arthritis akut disebabkan oleh inflamasi jaringan terhadap pembentukan kristal monosodium urat monohidrat akibat adanya gangguan metabolisme purin dalam tubuh. Sering terjadi pada sendi metatarsophalangeal dan pada sendi lutut. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar asam urat yang tinggi dalam darah serta diketahui adanya jumlah leukosit dan laju endap darah yang meningkat (Kalim, 1997).
7. Komplikasi
Penyakit ini apabila tidak mendapat penanganan yang baik dan tepat, maka memerlukan berbagai masalah baru yang teriadi akibat proses penyakit itu sendiri. Seperti adanya spur (osteofit) sehingga teriadi proses penghancuran tulang rawan sendi. Tulang subkondral lama kelamaan dapat menusuk pada metafisis dari tulang tibia dan tulang femur sebagai akibatnya terjadi komplikasi seperti nyeri, kaki terbentuk varus dan valgus, atrofi kelemahan otot meniscus quadriceps femoris, menurunya ketahanan struktur dan komplikasi deformitas varus dan valgus (Reksoprojo, 1990). Terganggunya aktifitas sehari-hari seperti aktifitas beribadah, jongkok, duduk, bendiri dan jalan.
8. Prognosis
maka penjalanan penyakit dapat dihambat dengan cara membuat atau berusaha untuk memperbaiki stabilitas sendi.
a. Quo ad vitam baik, karena mengingat kondisi penyakitnya secara langsung tidak membahayakan jiwa.
b. Quo ad sanam ragu-ragu, karena interverensi fisioterapi tidak dapat menyembuhkan osteoartritis sendi lutut. sifatnya simpthomatik yaitu mengurangi gejala-gejala yang timbul.
c. Quo ad funcionam ragu-ragu, karena tergantung pada derajat nyerinya. d. Quo ad cosmeticam buruk, karena sudah terjadi adanya deformitas varus.
Kita ketahui bahwa stabilitas sendi tergantung dan bentuk sendi, ligamen dan kapsul serta pegang peranan penting adalah otot. Bentuk sendi, ligament dan kapsul tidak dapat dipengaruhi kecuali menjaga agar jangan terlalu mendapat beban dan stress sedangkan otot dapat diperkuat dengan cara latihan, sehingga kunci dan stabilitas yang masih bisa dikendalikan adalah mengurangi rasa sakit dan melatih otot agar menjadi kuat (Reksoprodjo, 1990).
C. Obyek yang Dibahas
Di sini penulis akan membahas masalah yang terjadi pada Osteoarthritis genu bilateral.
1. Nyeri a. Definisi
b. Macam-macam nyeri
Macam-macam nyeri dilihat dari sumber penebab nyeri antara lain: 1) nyeri neuromuscolosceletal non neurogenik yang dirasakan pada anggota gerak yang timbul akibat proses patologik jaringan yang dilengkapi serabut nyeri. 2). Nyeri neuromuscolo societal neurogenik yaitu nyeri akibat iritasi langsung terhadap sensoris perifer dengan ciri khas nyeri menjalar sepanjang kawasan distal saraf yang bersangkutan dan penjalaran nyeri tersebut berpangkal pada bagian saraf yang mengalami iritasi. 3) nyeri ridiculer yaitu nyeri yang timbul akibat adanya iritasi pada serabut sensorik dibagian radiks posterior maupun saraf spinal (Sidarta, 1999)
c. Mekanisme nyeri
Melzack dan wall mengemukakan teori gerbang kontrol yang banyak diterima bayak ahli. Menurut teori afferent terdiri dari 2 kelompok serabut yaitu serabur yang berukuran besar (A-Beta) dan serabut kecil (A-delta dan C). Mekanisme nyeri mealui terapi latihan yaitu: terpi latihan merupakan salah satu pengobatan dalam fisioterapi yang dalam pelaksanaannya menggunakan gerakan tubuh baik secara aktif maupun pasif sehingga dapat mempercepat penyembuhan cidera atau penyakit lainnya yang telah merubah pola hidup yang normal.
d. Pengukuran derajat Nyeri
Perameter yang penulis gunakan yaitu menggunakan skala verbal descriptive scare (VDS) yaitu cara pengukuran derajat nyeri dengan tujuh skala
penilaian yaitu : 1) tidak nyeri, 2) nyeri sangat ringan, 3) nyeri ringan , 4) nyeri tidak begitu berat, 5) nyeri begitu berat, 6) nyeri berat, 7) nyeri tidak tertahankan (Mardiman, dkk 1994).
Nyeri diartikan sebagai proses normal pertahanan tubuh yang diperlukan untuk memberi tanda bahwa telah terjadi kerusakan jaringan. Nyeri dapat diukur dengan bebagai skala VDS dan skala 5 tingkat (Wall dan Melzack, 1999).
Penulis melakukan pemeriksaan derajat nyeri dengan menggunakan skala VDS (Verbal Descriptive Scale) adalah dengan cara menanyakan nyeri kepada pasien, pasien disuruh menyebutkan rasa nyerinya sesuai dengan skala penilaian derajat nyeri. Ada tujuh skala penilaian, yaitu: 1) Tidak nyeri, 2) Nyeri sangat ringan, 3) Nyeri ringan, 4) Nyeri tak begitu berat, 5) Nyeri cukup berat, 6) Nyeri berat, 7) Nyeri tak tertahankan.
2. LGS (Lingkup Gerak Sendi)
LGS adalah lingkup gerak sendi yang bisa dilakukan oleh suatu sendi. Alat yang digu nakan adalah goniometer. Posisi awal biasanya posisi anatomi dan disebut Neutral Zero Starting Position (NZSP). Ada tiga bidang gerak dasar yaitu bidanng sagital, bidang frontal dan bidang transversal.
3. Kekuatan Otot (MMT)
pemeriksaan MMT ini dengan sistem manual yaitu dengan cara terapis memberikan tahanan kepada pasien dan pasien disuruh melawan tahanan dan terapis dan saat itu terapis menilai sesuai dengan kriteria nilai kekuatan otot (Sujatno, etal., 1993).
Tabel 2.2 Kriteria Kekuatan Otot
Loveit, Naniel dan Worthinghom Kendal dan McCreary Medical Normal : Subyek bergerak
dengan pasien melawantahanan maximal
100%: Subyek bergerak mempertahankan posisi dengan melawan gravitasi dan tahanan maximal
5
Good : subyek bergerak dengan penuh melawan gravitasi tanpa melawan tahanan
80% : Subyek bergerak dan empertahankan posisi dengan melawan gravitasi dan tahanan kurang maximal.
4
Fair : subyek bergerak penuh LGS melawan gravitasi tanpa
melawan gravitasi
50% : Subyek bergerak dan mempertahankan posisi dengan melawan tahanan
3
Poor : subyek bergerak dengan LGS penuh tanpa melawan gravitasi
20% : subyek bisa bergerak sedikit dengan tanpa melawan gravitasi
2
Fraze : kontraksi otot bisa di palpasi tetapi tidak ada pergerakan sendi
5% : kontraksi otot bisa dipalpasitetapi tidak ada pergerakan sendi
1
Zero : ontraksi otot tidak dapat dipalpasi.
0% : kontraksi otot tidak dapat dipalpasi
0
4. Kemampuan Fungsional
Indeks ini pertama kali digunakan dalam The Pilot Geriatric Arthritis Program, Wilconsm USA tahun 1977 berdasarkan indeks ini, status fungsional mempunyai 3 dimensi yang saling berkaitan yaitu: a) nyeri, derajat nyeri saat melakukan aktivitas terdiri dari tidak nyeri, 2 = nyeri, 3 = nyeri sedang, 4 = sangat nyeri; b) kesulitan, derajat kesukaran untuk melakukan aktivitas, terdiri dan 1 = sangat mudah, 2 = agak mudah, 3 = tidak mudah tetapi juga tidak sulit, 4 = agak sulit, 5 = sangat sulit; c) ketergantungan, derajat ketergantungan seseorang untuk melakukan aktivitas terdiri dari 1 tanpa bantuan, 2 = butuh bantuan alat, 3 = butuh bantuan orang, 4 = butuh bantuan alat dan orang, 5 = tidak dapat melakukan aktivitas (Parjoto, 2000).
D. Modalitas Fisioterapi
Micro Wave Diathermy (EEM 2450 Mhz) merupakan suatu pengobatan dengan menggunakan stressor fisis berupa energi elektromagnetik yang dihasilkan oleh arus listrik bolak-balik frekuensi 2450 MHz dengan panjang gelombang 12,25 km (DepKes, 1993).
1. Efek fisiologis
lokal. Consersual efek, timbulnya respon panas pada sisi kontra lateral dan segment yang sama (Sujono, 2002).
Penetrasi dan perubahan temperatur lebih terkonsentrasi pada jaringan otot sebab jaringan otot lebih banyak mengandung cairan/daerah.
b. Jaringan ikat
Meningkatkan elastisitas jaringan ikat 5-10 kali lebih baik seperti jaringan/collagen, kulit, otot, tendon, ligamen dan capsul sendi akibat menurunnya viskositas matrik jaringan, tetapi terbatas pada jaringan ikat yang letak kedalamannya ±3 cm (Sujono, 2002).
c. Jaringan otot
Selain meningkatkan elastisitas jaringan otot, juga menurunkan tonus otot lewat normalisasi nocisensorik kecuali hipertonik otot akibat emosional. d. Jaringan saraf
Misalnya: meningkatkan elastisitas pembungkus jaringan saraf, meningkatkan nerve conduction (konduktivitas saraf) dan meningkatkan ambang rangsang/ theshold.
2. Efek terapeutik
a. Penyembuhan luka dapat meningkat proses respirasi jaringan secara fisiologis.
b. Nyeri, hipertropi, gangguan vaskularisasi, dapat menurunkan, nyeri, normalisasi tonus otot lewat efek sedatif, perbankan sistem metabolisme. c. Kontraktur jaringan lemah, dengan peningkatan elastisitas jaringan
d. Gangguan konduktifitas dan trashold jaringan saraf, apabila elastisitas dan trashold jaringan saraf semakin pula, prosesnya lewat efek fisiologik.
3. Efek-efek yang lain
Efek umum misalnya merasa lemah badan, pusing mengantuk. 4. Indikasi. '
a. Kelainan-kelainan patah tulang, sendi dan otot misalnya rhematoid artritis, post traumatik, low back pain.
b. Kelainan-kelainan pada syaraf perifer seperti neuropati dan neuralgia. 5. Kontra indikasi
a. Logam dalam tubuh
b. Alat elektronis misalnya: jam tangan, alat audiovisual yang sedang dipakai.
c. Gangguan peredaran darah
d. Memakai nilon dan bahan lain yang tidak menyerap keringat
e. Jaringan dan organ yang mempunyai banyak cairan, misalnya: pada mata atau luka basah, eksim basah yang dapat menimbulkan kebakaran di jaringan.
f. Gangguan sensabilitas
g. Infeksi akut dan demam dapat memperluas infeksi bakteri melalui aliran darah.
i. Menstruasi dan Kehamilan
j. Apabila daerah yang diterapi bagian punggung dan perut.
Terapi Latihan
Tujuan dari terapi latihan adalah: (1) untuk mengurangi nyeri, (2) mengurangi spasme, (3) mobilitas spasme, (4) meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot, (5) meningkatkan lingkup gerak sendi.
Untuk mencapai tujuah tersebut maka latihan yang efektif adalah latihan: 1. Latihan active movement
a. Assisted active movement
Adalah gerakan yang terjadi karena kontraksi otot pasien dibantu oleh kekuatan dari luar (Kisner, 1996) Bantuan berupa alat atau dari terapis. Latihan ini dapat dilakukan dengan posisi tengkurap untuk fleksi knee, tangan terapis memfiksasi pada otot hamstring dan tangan yang satunya membantu menggerakkan. Dilakukan secara bergantian 8x2 hitungan.
b. Free active movement
Adalah gerakan yang berasal dan otot itu sendiri (Kisner, 1996) Latihan pada sendi lutut ini dikerjakan dengan posisi tidur tengkurap atau duduk di tepi bed dengan pasien disuruh menggerakkan fleksi ekstensi. Yang penting tidak dikerjakan dengan posisi menumpu berat badan penuh karena dapat memperberat kerusakan sendinya. Dilakukan secara bergantian 8x2 hitungan.
c. Resisted active movement
tidur tengkurap, posisi terapis disamping pasien memfiksasi. Tangan kiri berada pada lutut atas dan tangan satu pada pergelangan kaki. Terapis memberikan tahanan minimal dan pasien disuruh menggerakkan atau melawan gerakan tadi ke arah fleksi. Dilakukan secara bergantian kanan dan kiri 8x2 hitungan.
d. Hold relax
Kerangka Berfikir Osteoartritis Knee Bilateral Ekstrinsik: Aktivitas fisik/ pekerjaan Intrinsik: - Usia - Obesitas - Jenis Kelamin - Faktor hormnonal Kapsik: - Nyeri - Keterbatasan LGS
- Kelemahan otot - Spasme
Kemampuan fungsional: - Kemampuan
jongkok berdiri - Naik turun
tangga - Berjalan jauh
sakit
Fisioterapi:
- MWD
- Terapi latihan - Edukasi
Evaluasi:
1. Nyeri dengan VDS 2. LGS dengan goneometer 3. Kekuatan otot dengan MMT
4. Kemampuan fungsional dnegan skala jette
Hasil terapi:
1. Nyeri berkurang 2. Peningkatan LGS
44 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam karya tulis ilmiah dengan adalah studi kasus.
B. Kasus Terpilih
Kasus yang digunakan dalam penelitian karya tulis ilmiah adalah OA genu bilateral.
C. Instrumen Penelitian
Variabel dependent: kondisi OA knee bilateral yang disebabkan karena aktivitas yang berlebihan yang ditandai dengan adanya nyeri saat melakukan aktivitas. Variabel independent: pelaksanaan terapi yang dilaksanakan adalah MWD dan terapi latihan. Dalam instrumen penelian ini digunakan metode operasional sebagai berikut:
1. Verbal Deskriptive Scale (VDS)
Pengukuran derajat nyeri dengan skala penelitian yaitu: 1 = Tidak Nyeri
2 = Nyeri Sangat Ringan 3 = Nyeri Ringan
4 = Nyeri Tak Begitu Berat 5 = Nyeri Cukup Berat 6 = Nyeri Berat
2. Manual Muscle Testing (MMT)
Suatu usaha untuk mengatahui kekuatan seseorang dalam mengkontraksikan otot atau group otot secara voluntary. Dengan alasan dapat mengetahui kekuatan otot sehingga dapat menentukan jenis terapi latihan yang harus diberikan.
3. Goniometer
Untuk mengetahui luas lingkup gerak sendi yang bisa dilakukan oleh suatu sendi.
4. Skala Jette
Untuk mengetahui kemampuan aktivitas fungsional pasien melakukan aktifltas.
D. Lokasi dan Waktu Penelitian
Kasus penelitian karya tulis ilmiah ini diambil dari poli fisiotepi di RS RSUD Sragen pada tanggal 19 sampai dengan 29 Februari 2008
E. Prosedur Pengambilan dan Pengumpulan Data 1. Data primer dengah menggunakan
a. Pemeriksaan fisik
Bertujuan untuk mengetahui keadaan fisik pasien. Pemeriksaan fisik terdiri dari: vital sign, inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi.
b. Interview
c. Observasi
Dilakukan untuk mengambil perkembangan pasien selama dilakukan terapi.
2. Data sekunder dengan menggunakan a. Studi dokumentasi
Dalam studi dokumentasi penulis mengamati dan mempelajari data-data medis dan fisioterapi dari awal sampai akhir.
b. Studi pustaka
Dari buku-buku, internet, majalah dan yang berkaitan dengan osteoarthritis.
F. Teknik Analisa Data
47 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Studi Kasus 1. Proses Pemecahan Masalah Fisioterapi
Melalui pengenalan penyakit, pemeriksaan umum dan khusus, penulis mendapatkan data yang menjadi bahan analisa untuk menentukan problematika fisioterapi. Dengan ditetapkannya problematika fisioterapi selanjutnya dapat diberikan dengan harapan tercapainya tujuan yang diinginkan.
a. Pengkajian Data
Pengkajian data pada umumnya meliputi teknik dan obyek yang akan diukur atau dikumpulkan data, obyek data yang berhubungan dengan kondisi osteoarthritis bilateral.
1) Teknik Pengumpulan Data a) Anamnesis
Anamnesis adalah cara pengumpulan data dengan jalan tanya jawab antara terapis dengan sumber data, hal ini dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:
(1) Autoanamnesis, bila mengadakan tanya jawab langsung kepada pasien.
a) Anamnesis umum
Dari anamnesis ini didapatkan data nama pasien, umur, alamat, agama, jenis kelamin, pekerjaan.
b) Anamnesis khusus
Dari anamnesis khusus ini kita dapat memperoleh keterangan tentang hal-hal yang berkaitan dengan keadaan atau penyakit pasien, seperti:
a) Keluhan utama merupakan keluhan yang paling dirasakan oleh pasien berkaitan dengan penyakit yang dideritanya.
b) Riwayat penyakit sekarang, menggambarkan riwayat perjalanan penyakit secara lengkap.
c) Riwayat penyakit dahulu berupa penyakit-penyakit yang pernah dialami yang tidak berhubungan langsung dengan munculnya keluhan sekarang.
d) Riwayat pribadi menjelaskan tentang pekerjaan maupun hobi
e) Riwayat keluarga, dimaksudkan untuk menelusuri adanya penyakit penyakit yang bersifat menurun (herediter) dan orang tua atau keluarga.
b. Pemeriksaan 1) Pemeriksaan fisik meliputi:
lutut ini adalah baik sehingga memungkinkan untuk dilakukan pelaksanaan terapi.
b) Inspeksi, merupakan suatu cara pemeriksaan dengan cara melihat dan mengamati. Pada kasus osteoarthritis kedua lutut ini, inspeksi yang dilakukan didapatkan hasil seperti: (1) keadaan umum baik, (2) Inspeksi statis didapatkan, ekspresi wajah saat diam biasa, tidak ada bengkak pada kedua lutut, tidak ada atropi dan warna kemerahan tidak ada, (3) Inspeksi dinamis, dengan mengamati sejak pasien datang apakah ekspresi wajah menahan nyeri saat pasien duduk, saat jalan pasien tidak menggunakan alat bantu, tripod dan alat bantu lain saat berjalan.
c) Palpasi, merupakan cara pemeriksaan dengan jalan meraba, menekan, dan memegang bagian tubuh pasien. Pada kasus osteoarthritis kedua lutut ini, palpasi yang dilakukan didapatkan: (1) Suhu pada daerah kedua lutut normal, (2) Tidak ada nyeri tekan, pada kedua lutut, (3) Tidak ada bengkak pada kedua lutut, (4) Tidak ada spasme pada otot quadriceps, (5) Tidak terdapat nyeri gerak.
c. Perkusi
Pemeriksaan dengan menggunakan palu atau diketok untuk mengetahui adanya cairan.
d. Auskultasi
e. Pemeriksaan gerak dasar
Pemeriksaan dilakukan pada anggota gerak atas dan bawah bawah baik kanan maupun kiri pada penderita osteoarthritis, fexi dan extensi
f. Pemeriksaan gerak pasif
Pemeriksaan gerak pasif pada kondisi osteoarthritis knee bilateral ini tentang gerak knee dextra dan sinistra tetapi pasien dibantu terapis.
g. Pemeriksaan gerak aktif
Pemeriksaan gerak aktif pada kondisi osteoarthritis knee bilateral ini tentang gerak knee dextra dan sinistra tetapi pasien melakukan sendiri.
h. Pemeriksaan gerak isometric melawan tahanan
Tahanan untuk terapis, arah gerak berlawanan flexi dan extensi. Dilakukan untuk kedua tungkai dextra dan sinistra.
i. Pemeriksaan kognitif, intrapersonal, interpersonal osteoarthritis knee bilateral gerak
Kognitif : pasien dapat berkomunikasi dengan baik dengan terapis Intrapersonal : pasien mempunyai keinginan untuk sembuh
Interpersonal : hubungan baik sama terapis dan keluarga saling mendukung j. Kemampuan fiingsional dan lingkungan aktifitas
1) Fungsional dasar
2) Fungsional aktivitas
Dari pemeriksaan untuk mengetahui aktivitas merawat diri secara mandiri, aktivitas sholat tidak mampu untuk membungkuk, aktivitas untuk berjalan jauh apakah pasien merasakan nyeri.
3) Lingkungan aktivitas
Dari pemeriksaan untuk mengetahui Lingkungan rumah: WC jongkok, tidak ada tangga trap atau tangga rumah.dirumah pasien apakah tempat memasak posisinya membungkuk sehingga pasien memasak cenderung membungkuk.
Pemeriksaan spesifik dilakukan untuk mengungkapkan ciri khusus serta ada tidaknya gangguan dan struktur atau jaringan tertentu. Pada kasus osteoarthritis sendi lutut ini, pemeriksaan yang dilakukan meliputi:
a. Tes pengukuran nyeri VDS (Verbal Descriptive Scale)
Yaitu cara pengukuran derajat nyeri dengan tujuh skala penilaian yaitu : (1) tidak nyeri, (2) nyeri sangat ringan, (3) nyeri ringan, (4) nyeri tidak begitu berat, (5) nyeri cukup berat, (6) nyeri berat, (7) nyeri tak tertahankan. Pasien disuruh merasakan nyerinya pada nomor tersebut. Pasien tersebut harus memenuhi persyaratan yaitu bukan anak-anak, tidak buta.
b. Manual Muscle Testing (MMT)
Tes kekuatan otot ini dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa fisioterapi, jenis terapi atau jenis alat bantu yang akan diberikan dan menentukan prognosis pasien serta bahan evaluasi.
Gradasi nilai otot menurut dr. Robert W lovelt atau metode lovelt adalah: 1) Normal (N) atau 5, yaitu otot dapat berkontraksi dengan LGS penuh, mampu melawan gravitasi, tahanan sebagian, 2) Normal (N) atau 3, yaitu otot dapat berkontraksi dengan LGS penuh, mampu melawan gravitasi tanpa tahanan, 3) poor (P) atau 2, yaitu otot dapat berkontraksi dengan LGS penuh tanpa melawan gravitasi dan tahanan, 4) Trace (T) atau 1, yaitu otot dapat sedikit kontraksi tanpa ada gerakan sendi, 5) Zero (Z) atau 0, tidak ada kontraksi.
c. Test lingkup gerak sendi (LGS)
Pengukuran lingkup gerak sendi bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya keterbatasan untuk sendi lutut. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan menggunakan goniometer dan dapat diukur pada gerak aktif maupun pasif, dan mengacu pada kriteria ISOM normal dimana LGS sendi dextra (aktif) S = 90° (pasif) = S = 120°, knee sinistra (aktif) S=90°, (pasif) S = 0°-0°-120°.
Pada pengukuran LGS sendi knee dextra dan knee sinistra ini dilakukan secara aktif dan pasif. Gerakan pasif dilakukan setelah gerakan aktif.
d. Tes stabilitas sendi lutut 1) Tes laci sorong depan
Gambar 4.1.Tes laci sorong ke depan (de Wolf, 1994) 2) Tes laci sorong ke belakang
Posisi pasien berbaring terlentang di atas bed, satu lutut pasien ditekuk dan lutut yang lain tetap lurus. Posisi pemeriksa duduk di tepi bed sambil menekan kaki pasien dimana lututnya ditekuk bersamaan dengan itu pemeriksaan memberikan dorongan ke arah posterior (de wolf, 1994).
Gambar 4.2.Tes laci sorong ke belakang 3) Tes hipermobilitas valgus
[image:68.612.226.416.391.511.2]Gambar 4.3.Hipermobilitas valgus (de wolf, 1994) 4) Tes Hipermobilitas Varus
Posisi pasien berbaring terlentang di atas bed, satu tungkai bawah pasien terjuntai di bawah bed, posisi terapis di samping penderita dengan satu tangan berada di bawah lutut pasien yang terjuntai, tangan yang lain berada di atas kaki pasien yang terjuntai, gerakannya ke arah valrus. Pemeriksaan ini untuk mengetahui stabilitas ligament collarteral laterale (de wolf, 1954).
Gambar 4.4. Hipermobilitas varus (de wolf, 1994) 5) Tes Hiperekstensi
[image:69.612.246.384.405.496.2]Gambar 4.5. Hiperekstensi (de wolf, 1994) 6) Tes Gravity Sign
Pasien berada dalam posisi berbaring terlentang, diminta agar kedua kakinya diangkat sehingga lutut dan pangkal pahanya membuat sudut 90 derajat, kedua tumitnya diletakkan di atas tangan pemeriksa. Pemeriksa mengamati kedua tibia dan menilai apakah tuberositas tibia yang satu letaknya mungkin lebih
rendah dari pada yang lainnya. Perbedaan akan tampak lebih jelas bila pasien diminta agar menekan tangan pemeriksa dengan kedua tumitnya (menegangkan hamstring) (de wolf. 1994).
Gambar 4.6. Gravity sign (de wolf, 1994) 7) Pemeriksaan derajat nyeri
Skala penilaian derajat nyeri yang digunakan pada kondisi osteoarthritis knee bilateral ini adalah dengan skala VDS (Verbal Descriptive Scale). Skala ini
[image:70.612.257.377.448.555.2]tertahankan. Pemeriksaan dengan skala ini tujuannya untuk mengetahui derajat nyeri, dimana pasien di minta untuk menandai pada salah satu titik pada skala dan titik awal sampai akhir yang ditandai pasien adalah nilai intensitas nyeri yang dirasakan pasien.
Tidak Nyeri Nyeri tak tertahankan
1 2 3 4 5 6 7
8) Pemeriksaan luas gerak sendi (LGS)
Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya gerak sendi lutut, pemeriksaan ini dilakukan dengan goniometer dan diukur pada gerak aktif maupun pasif, pada kedua tungkai.
9) Pemeriksaan kekuatan otot
Untuk mengetahui kekuatan otot dapat dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan Manual Muscle Testing (MMT). Otot yang diperiksa yaitu otot fleksor dan ekstensor kedua lutut.
10)Pemeriksaan aktivitas fungsional dasar
Untuk mengetahui ada tidaknya gangguan aktivitas fungsional dasar berupa kemampuan bangkit dari posisi duduk, beijalan 15 meter dan naik tangga 3 step dapat digunakan indeks status fungsional skala "jette" berdasarkan indeks ini status fungsional mempunyai 3 dimensi yang saling berkaitan yaitu:
a) Nyeri, derajat nyeri saat melakukan aktivitas terdiri dari: 1: tidak nyeri, 2: nyeri ringan, 3: nyeri sedang, 4: sangat nyeri. b) Kesulitan, derajat kesukaran untuk melakukan aktivitas terdiri dari:
c) Ketergantungan, derajat ketergantungan seseorang untuk melakukan aktivitas terdiri dari:
1: tanpa bantuan, 2: butuh bantuan alat, 3: butuh bantuan orang, 4: butuh bantuan alat dan orang, 5: tidak dapat melakukan aktivitas. (Platzer W, Kankle W, Leonhardt H, 1983).
B. Diagnosa Fisioterapi
Diagnosa fisioterapi merupakan upaya menegakkan masalah aktivitas gerak dan fungsi berdasarkan pernyataan yang logis dan dapat dilayani fisioterapi. Adapun tujuan dan diagnosis fisioterapi adalah untuk mengetahui permasalahan fisioterapi yang dihadapi oleh penderita serta untuk menentukan layanan fisioterapi yang tepat. Hasil pemeriksaan fisioterapi yang telah dilaksanakan pada penderita osteoarthritis kedua lutut ini didapatkan permasalahan fisioterapi sebagai berikut:
1. Permasalahan kapasitas fisik untuk Osteoartritis : a. Adanya nyeri pada kedua lututnya saat jongkok
b. Adanya rasa nyeri pada kedua lututnya pada saat duduk diantara dua sujud c. Adanya rasa nyeri pada saat jalan dan berdiri
d. Adanya nyeri tekan dan nyeri gerak pada sendi knee 2. Permasalahan kemampuan fungsional, yaitu:
C. Tujuan
Tujuan fisioterapi akan dibedakan antara tujuan jangka pendek dan jangka panjang.
1. Tujuan jangka pendek ini meliputi: a. Meningkatkan dan memelihara LGS
b. Meningkatkan dan memelihara kekuatan otot c. Mengurangi nyeri tekan dan nyeri gerak
d. Mengurangi spasme pada otot quadriceps dan hamstring. 2. Tujuan jangka panjang, tujuan ini meliputi:
a. Meneruskan tujuan jangka pendek b. Meningkatkan aktivitas fungsional
D. Pelaksanaan Fisioterapi
Pada karya tulis ini penulis akan membahas mengenai penanganan fisioterapi untuk mengurangi nyeri dengan Micro Wave Diathermy dan meningkatkan luas gerak sendi dengan modalitas terapi latihan.
1. Penatalaksanaan Micro Wave Diathermy a. Persiapan alat
b. Persiapan pasien
Sebelum dilakukan terapi, pasien diberi tahu akan tujuan dan terapi, apa yang dirasakan pasien selama terapi. Pasien juga diberitahu untuk segera memberi tahu kepada terapis jika terjadi keadaan sebagai berikut: merasa terlalu panas, keluhan bertambah, merasa pusing atau mual.
Selanjutnya bebaskan daerah yang akan di terapi dari keringat yang berlebihan, pakaian yang tidak menyerap keringat serta benda atau barang yang mengandung metal. Sebelumnya juga dilakukan tes sensibilitas (panas/dingin) pada daerah sekitar lutut. Mungkin agar selama terapi penderita dapat rileks. Pada kondisi ini posisi pasien saat tidur diberikan pemanasan adalah cope/glas elektrode diposisikan di atas.
c. Pelaksanaan terapi
Posisi pasien comfortable agar selama terapi dapat rileks. Pada kondisi osteoarthritis kedua lutut ini posisi pasien adalah tidur tengkurap, kemudian cope/glas elektrode diposisikan pas di atas poplitea. Yang pertama kita sinari dulu yang sebelah kanan dengan waktu terapi ±10 menit, kemudian arur intensitas sesuai dengan toleransi pasien. Setelah waktu habis kop kita alihkan ke poplitea yang sebelah kiri. Disini para meter terapi yang digunakan adalah sebagai berikut:
1) Intensitas: sub mitis (50 mA) 2) Gelombang: continous 3) Waktu: 20 menit
5) Frekuensi terapi: 6 kali terapi dalam satu minggu selama terapi ini, fisioterapi harus selalu mengontrol perasaaan panas dari pasien yang bersifat subyektif. Jika selama terapi rasa nyeri dan ketegangan otot meninggi, dosis harus dikurangi dengan menurunkan intensitas juga bisa dengan mengakhiri terapi sebelum waktunya.
d. Evaluasi sesaat setelah terapi Terhadap pasien
Jika sudah selesai, fisioterapi memeriksa reaksi umum yang ditemukan. Kadang-kadang timbul reaksi umum, seperti mual, pusing setelah terapi, sehingga penderita harus diistirahatkan dahulu.
2. Terapi latihan dengan teknik hold relax a. Persiapan pasien
Posisi pasien sewaktu latihan adalah duduk ongkang-ongkang ditepi bed dengan posisi lutut flexi 90°.
b. Pelaksanaan Latihan 1) Prosedur latihan
diberikan force atau dorongan ke arah flexi untuk menambah LGS fleksi lutut.
2) Waktu latihan
Untuk latihan hold rilex dilakukan 6 - 8 X pengulangan atau sampai batas kemampuan pasien.
3) Frekuensi latihan
Dilakukan oleh pasien setiap hari selama satu minggu atau selama 6 kali terapi
3. Terapi latihan dengan free active movement a. Persiapan pasien
Pasien diposisikan tidur terlentang di bed dan duduk ongkang-ongkang
b. Pelaksanaan latihan
Pada posisi tidur terlentang terapi, meminta pasien untuk menggerakkan tungkainya seperti saat mengayuh sepeda dilakukan sebanyak 5 kali pengulangan lalu pada posisi duduk ongkang-ongkang terapis meminta pasien untuk menekuk dan meluruskan lututnya (fleksi dan ekstensi lutut), terapi memberikan fiksasi pada bagian atas lutut latihan ini juga dilakukan sebanyak 5 kali.
c. Waktu latihan
Untuk latihan free active movement dapat dilakukan 6 - 8 X pengulangan atau sampai batas kemampuan pasien.
d. Frekuensi latihan
4. Tindak lanjut dan evaluasi a. Tindak lanjut
Setelah dilakukan terapi pertama kali dan dievaluasi sesaat, selanjutnya bisa difikirkan mengenai terapi selanjutnya apakah terapi yang pertama dapat dilanjutkan diberhentikan atau mungkin perlu dilakukan modifikasi terapi selanjutnya. Dilanjutkan dengan cara mengamati apakah terapi pertama yang dilakukan menunjukkan adanya perubahan atau tidak. Dan selanjutnya perlu dilakukan dalam pemberian edukasi pada penderita osteoarthritis kedua lutut ini agar dapat mendukung program dan keberhasilan terapi itu sendiri.
b. Evaluasi
Evaluasi dilakukan 2 tahap, yakni evaluasi sesaat dan evaluasi setelah terapi evaluasi yang dilakukan untuk kondisi osteoarthritis kedua lutut ini hanya merupakan komponen yang menjadi pembahasan kasus pada karya tulis ilmiah ini, yaitu:
1) Nyeri dengan skala VDS
2) Luas gerak sendi dengan goniometer. 3) Kekuatan otot dengan MMT
4) Aktivitas fungsional dasar dengan skala ”jette” 5. Dokumentasi
Nama : Ny. Siti Romdiyah
Umur : 79 tahun
Pekerjaan : ibu Rumah Tangga Alamat : Pecing 03/14 Sragen Diagnosis : OA Genu Bilateral
Berdasarkan proses fisioterapi dilaksanakan pada penderita osteoarthritis knee bilateral, maka setelah dilakukan terapi dengan MWD dan
terapi latihan sebanyak 6 kali berturut-turut, nyeri sudah berkurang. 2.
E. Protokol Studi Kasus Tanggal Pembuatan Laporan : 23 Februari 2008
Kondisi/Kasus : FTB
I. KETERANGAN UMUM PENDERITA Nama : Ny Siti Romdiyah
Umur : 79 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Alamat : Pecing 03/14 Sragen
Hoby : Membaca al-Qur’an
II. DATA-DATA MEDIS RUMAH SAKIT A. DIAGNOSIS MEDIS:
Osteoarthritis
Nampak terdapat osteofit (muncul taji) pada bagian medial dan adanya penyempitan pada tibia femur joint.
C. TERAPI UMUM (GENERAL TREATMENT): Medica mentosa
- Glukosamine 500 mg 3 x 1 - Atorax al prazolan 0,5 mg x 2 x 1 - Mexophram 15 mg 2 x ½
- Osteocal 300 mg 1 x 1
D. RUJUKAN FISIOTERAPI DARI DOKTER:
Mohon tindakan fisioterapi pada pasien Ny. Siti Romdiyah (79 tahun) dengan diagnosa Osteoarthritis Genu Bilateral.
III. SEGI FISIOTERAPI Tanggal: 19 Februari 2008 A. ANAMNESIS (AUTO)
1. Keluhan utama:
Nyeri pada kedua lutut pada saat melakukan aktivitas sholat terutama pada gerakan duduk diantara dua sujud ke berdiri, pada saat berjalan jauh kedua lulutnya juga merasa nyeri, pada gerakan jongkok ke berdiri nyeri.
2. Riwayat penyakit sekarang:
bilateral kemudian pasien dirujuk oleh dokter untuk tindakan fisioterapi pada kedua lututnya.
3. Riwayat penyakit dahulu: - Trauma (-)
- Diabetes millitus (-) - Kolestrol (-)
- Hipertensi (+) - Jantung (+)
4. Riwayat penyakit penyerta:
Tidak ada riwayat penyakit penyerta
5. Riwayat pribadi (keterangan umum penderita):
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga dengan hobi membaca Al-Qur’an.
6. Riwayat keluarga
Tidak ada keluarga pasien yang mengalami penyakit serupa. 7. Anamnesis sistem
a) Kepala dan leher: - pusing (-)
- keluhan kaku leher (-) b) Kardiovaskuler:
- nyeri dada (-) - berdebar-debar (-) c) Respirasi:
- batuk (-) - asma (-)
d) Gastrointestinalis: - BAB terkontrol - mual, muntah (-) e) Urogenitas:
- BAK terkontrol f) Muskuloskeletal:
- Adanya nyeri gerak pada kedua sendi knee - Keterbatasan gerak karena nyeri
- Adanya spasme pada otot quadriceps dan hamstring - Adanya penurunan kekuatan otot pada kedua lutut g) Nervorum:
Kadang-kadang pasien merasakan kesemutan pada kedua kaki menjalar s