• Tidak ada hasil yang ditemukan

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

23 | Juris and Society

KLAIM GANDA JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT TERDAMPAK VIRUS COVID – 19 YANG DIBERIKAN OLEH

PEMERINTAH DAN PERUSAHAAN ASURANSI SWASTA DALAM PERSPEKTIF KITAB UNDANG – UNDANG HUKUM

DAGANG

Muhammad Haikal Yushendri

Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung [email protected]

ABSTRAK

Pandemi Covid – 19 yang berdampak sangat cepat terhadap masyarakat membuat Pemerintah memberikan jaminan kesehatan sesuai dengan amanat Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dan Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Perusahaan Asuransi Swasta yang sebelumnya tidak memberikan jaminan kesehatan dari penyakit wabah mulai memberikan penawaran kepada masyarakat untuk mendapatkan klaim kesehatan. Adanya jaminan kesehatan dari Pemerintah dan Perusahaan Asuransi Swasta menimbulkan opini adanya klaim ganda. Pada prinsip asuransi klaim ganda sendiri merupakan pengembalian biaya yang ditanggung oleh asuransi tambahan atas klaim yang tidak ditutup oleh asuransi utama. Klaim yang diberikan Perusahaan Asuransi Swasta sendiri telah sesuai dengan aturan dalam KUHD dan tidak ada kaitan dengan prinsip klaim ganda pada asuransi.

Kata Kunci : Asuransi, Covid – 19, Klaim Ganda

ABSTRACT

The Covid-19 pandemic which has a very rapid impact on society has made the Government provide health insurance in accordance with the mandate of Law Number 4 of 1984 concerning Infectious Disease Outbreaks and Law Number 6 of 2018 concerning Health Quarantine. Private insurance companies that previously did not provide health coverage from epidemic diseases began offering the public to get health claims. The existence of health insurance from government and private insurance companies creates a double claim opinion. In principle, double claim insurance itself is a return of costs borne by additional insurance for claims that are not covered by the main insurance. Claims given by private insurance companies are in

(2)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

24 | Juris and Society

accordance with the rules in the KUHD and have nothing to do with the principle of double claims on insurance.

Keywords : Covid – 19, Double Claim, Insurance

A. Pendahuluan

Era globalisasi di seluruh dunia tidak lepas dari perkembangan ekonomi. Asuransi menjadi bagian penting yang menjadi kebutuhan setiap manusia dalam sistem ekonomi yang modern. Peran dalam asuransi pada ruang lingkup globalisasi dan liberasisasi perdagangan, akselerasi inovasi pada teknologi dan proses difusinya, juga deregulasi berbagai sektor finansial dan pasar riil kian signifikan. Setiap orang pasti akan berupaya untuk selalu hidup sehat, dan ketika seseorang sakit tentunya membutuhkan biaya pengobatan dan perawatan di Rumah Sakit. Biaya tersebut tentu tidak murah, oleh karenanya ada kutipan bahwa sehat itu mahal.

Pada awal tahun 2020, munculnya Virus baru yang dinamakan SARS-CoV-2 atau lebih dikenal Virus Covid – 19. Virus yang bermula muncul di Wuhan, Tiongkok pada penghujung akhir tahun 2019 membuat organisasi kesehatan dunia yaitu World Health Organization atau yang disingkat WHO menetapkan virus ini sebagai Pandemi karena risiko penyebaran yang relatif sangat cepat dan menimbulkan banyak korban jiwa. Indonesia sendiri mulai terkonfirmasi angka positif dimulai pada awal bulan Maret 2020, yang akhirnya Pemerintah menetapkan situasi darurat dengan melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar.

Selain langkah pencegahan tersebut juga Pemerintah menetapkan situasi darurat dengan membuat tempat khusus di berbagai tempat seperti Wisma Atlit, Perhotelan, Rumah Sakit dan tempat lainnya untuk mengkarantina pasien Virus Covid-19 dengan jaminan semua biaya ditanggung oleh Pemerintah.

Indonesia sempat mengalami angka penurunan dan mulai melakukan tahap New Normal, namun seiring berjalannya waktu dengan berbagai munculnya varian baru dari Virus Covid-19 tersebut tetap menaikkan angka positif semakin melesat keatas. Konsekuensi inilah banyak masyarakat yang positif terpaksa harus dapat perawatan di Rumah Sakit, atau tempat karantina lainnya untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan dan Pemerintah menerapkan kembali Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau yang disingkat PPKM Darurat yang berlaku pada tanggal 03 Juli 2021 sampai dengan sekarang.

(3)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

25 | Juris and Society

Pemerintah mengeluarkan kebijakan bahwa pasien Virus Covid-19 yang melakukan perawatan di Fasilitias Kesehatan selama isolasi mandiri, berhak untuk memperoleh jaminan kesehatan yaitu segala bentuk pengobatan, rehabilitasi dan biaya inap ditanggung oleh Pemerintah (www.kemenkeu.go.id,2020). Keputusan tersebut dikeluarkan sesuai dengan amanat Undang -Undang Nomor 4 tahun 1984 Tentang Wabah Penyakit Menular yang diatur pada Pasal 10:

“Pemerintah bertanggung jawab untuk melaksanakan upaya penanggulangan wabah sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ayat (1).”

Penanganan Pandemi Virus Covid – 19 fokus dilakukan secara maksimal oleh Pemerintah baik pusat sampai ke tingkat daerah. Kewajiban penyelenggara negara dalam upayanya dengan dikeluarkannya beberapa kebijakan pada khususnya jaminan kesehatan pasien terdampak Virus Covid – 19 yang harus mendapatkan penanganan di Rumah Sakit. Jumlah klaim yang diajukan oleh Rumah Sakit di Indonesia kepada Pemerintah adalah sejumlah 40,97 Triliun Rupiah yang terkonfirmasi sampai pada tanggal 17 September 2001 (www.ekonomi.bisnis.com, 2021).

Aturan lainnya juga menguatkan status kewajiban Pemerintah dalam upaya melindungi masyarakat yang tidak perlu khawatir untuk mendapatkan jaminan kesehatan karena Pandemi, diatur pada Undang – Undang Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan diatur dalam Pasal 8:

“Setiap orang mempunyai hak mendapatkan pelayanan kesehatan dasar sesuai kebutuhan medis, kebutuhan pangan dan kebutuhan kehidupan sehari – hari lainnya selama Karantina.”

Asuransi dalam perkembangannya, semakin banyak diminati oleh kalangan masyarakat. Dengan adanya asuransi, masyarakat mendapatkan kepastian. Kitab Undang – Undang Hukum Dagang, asuransi dalam definisinya diatur pada Pasal 246 yang dijabarkan sebagai berikut:

“Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana penanggung mengikatkan diri kepada pihak tertanggung dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggungjawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa tidak pasti, atau untuk memberikan suatu

(4)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

26 | Juris and Society

pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.”

Asuransi menjadi penawaran dan langkah yang penting tentu untuk menyelesaikan masalah pada kesehatan. Asuransi jika dikategorikan sebagai Lembaga non bank, mendapatkan apresiasi yang baik di hati masyarakat, baik dari kalangan pengusaha dan kebutuhan primer masyarakat, sering kita jumpai dalam segala urusan pasti akan dihadapakan pada pertanggungan.

Pertanggungan menjadi kunci untuk kebutuhan masyarakat demi menghadapi dan mencegah berbagai permasalahan yang akan berdampak dan bisa menimbulkan risiko. Kegiatan perusahaan – perusahaan besar di Indonesia, pertanggungan dapat berperan penting dalam memegang peranan yang sangat krusial. Bersamaan pada kehidupan di masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari – hari menjadi suatu kebutuhan utama tentang perlunya untuk mengetahui bahwa pentingnya pertangunggan jiwa, pertanggungan kecelakaan dan sebagainya.

Perkembangan ekonomi dan dunia teknologi yang semakin canggih, tentunya risiko yang membahayakan dan berdampak pada kebutuhan masyarakat akan semakin banyak. Pada sebab tersebut, semakin tinggi resiko yang muncul kepada masyarakat baik secara langsung atau tidak langsung.

Asuransi atau dikenal juga dengan istilah pertanggungan adalah merupakan suatu kesepakatan, maka dalam kesepakatan setidaknya paling sedikit terdiri dari dua belah pihak yang mengikatkan dirinya dalam kesepakatan tersebut.

Pihak yang satu seharusnya membebani resikonya sendiri tetapi kemudian mengalihkannya kepada pihak lain, pihak pertama pada kondisi tersebut umum disebut sebagai tertanggung atau dengan kata lain adalah pihak yang berpotensi memiliki resiko. Sedangkan pihak lainnya adalah pihak yang mendapatkan pengalihan atau pembagian resiko dari pihak pertama dengan mendapatkan suatu pembayaran yang disebut dengan istilah premi. Pihak yang menerima resiko umum disebut sebagai penanggung dalam praktiknya berasal dari perusahaan pertanggungan atau asuransi (Emy, 1997 : 7).

Kepastian pada proses pelaksanaan perjanjian dalam pertanggungan, kedua belah pihak harus dibuat aturan secara jelas ketentuan tugas masing – masing pihak, sehingga pada hak dan kewajibannya diatur dalam perjanjian tersebut. Upaya tersebut ditujukan agar meminimalisir dari segala sesuatu yang tidak diharapkan ketika munculnya evenement, dimana pihak yang dipercaya untuk menanggulangi risiko bisa benar – benar mengetahui jika kondisi tersebut memang telah diperjanjikan sebelumnya. Beberapa risiko yang mengancam kehidupan manusia disebabkan karena suatu perisitiwa yang muncul secara mendadak tanpa diketahui diluar pengetahuan manusia seperti

(5)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

27 | Juris and Society

meninggal dunia, menderita sakit, terjadi kecelakaan, atau yang sedang benar terjadi munculnya pandemic Covid – 19 yang telah membuat banyak korban jiwa.

Seseorang terkena penyakit, kemudian harus mendapatkan perawatan dan pengobatan di rumah sakit tentu akan memerlukan biaya yang tidak murah nilainya. Orang yang berpenghasilan tinggi dan mendapatkan jaminan hidup yang baik tentunya tidak akan menjadi masalah, namun lain lagi dengan orang yang berpenghasilan rendah akan menimbulkan masalah. Berbagai cara salah satunya dengan menabung tentu mengantipasi hal – hal yang tidak diinginkan kedepan dengan mengamalkan prinsip sedia payung sebelum hujan, dengan analogi sederhana pada kondisi tersebut adalah menabung. Namun, bagaimana ketika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan dan tabungan belum mencukupi untuk membayarnya. Situasi tersebut dibutuhkan adanya asuransi kesehatan, melewati asuransi kesehatan tersebut biaya untuk pengobatan, perawatan dan segala bentuk biaya lainnya dialami oleh tertanggung akan diganti oleh penanggung.

Perusahaan Asuransi Swasta banyak kehadirannya di Indonesia dengan menawarkan berbagai macam pilihan asuransi termasuk asuransi kesehatan.

Dengan tawaran klaim pembiayaan rumah sakit ditanggung oleh Perusahaan Asuransi Swasta menjadikan masyarakat memilih bergabung untuk mendapatkan jaminan disuatu hari ketika mereka sakit atau meninggal. Kondisi Pandemi Virus Covid – 19 yang terjadi khususnya di Indonesia, berbagai upaya dilakukan oleh masyarakat untuk mendapatkan klaim asuransi kesehatan bagi yang terdampak Virus Covid – 19 sebagai dalih kewajiban Perusahaan Asuransi melaksanakan kewajibannya membuat mereka berupaya untuk mengajukan klaim tersebut. Padahal dalam penerapannya, klaim tersebut sebenarnya sudah dibebankan kepada Pemerintah sebagai penyelenggara negara melakukan tanggung jawab demi kepastian kesehatan bagi masyarakat.

Situasi tersebut bisa dimanfaatkan dan disalahgunakan oleh masyarakat untuk mendapatkan keuntungan dengan melakukan klaim dengan dalih mereka meminta ganti rugi atas sakit yang dideritanya karena Virus Covid – 19.

Hadirnya pandemi Virus Covid – 19 membuat semua pihak untuk bisa bertahan hidup dan mendapatkan keuntungan ekonomi melihat dari konsekuensi diberlakukannya pembatasan kegiatan oleh Pemerintah yang secara umum sudah berjalan memasuki dua tahun. Melihat uraian tersebut, maka yang akan coba dibahas pada penulisan ini adalah mengenai peran Pemerintah dalam memberikan jaminan kesehatan kepada pasien terdampak Virus Covid – 19 dan legalitas klaim yang diberikan oleh Perusahaan Asuransi Swasta kepada masyarakat terdampak Virus Covid – 19.

(6)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

28 | Juris and Society

B. Hasil dan Pembahasan

Negara dapat dikatakan menjadi stabil dan berkembang dengan baik diukur dari sejauh mana terciptanya suatu kesejahteraan pada masyarakatnya.

Kesejahteraan itu sendiri merupakan sebuah bentuk kepuasan yang dirasakan oleh seseorang dari hasil apa yang telah dia terima, akan tetapi kepuasan sendiri bersifat relatif karena tolak ukur kepuasan itu dinilai dari seseorang itu sendiri.

Kesejahteraan sendiri adalah dasar dari suatu kehidupan dan penghidupan sosial.

Kesejahteraan adalah tolak ukur bagi masyarakat yang berarti bisa berada pada posisi sejahtera. Definisi sejahtera adalah kondisi dimana masyarakat dimana setiap orang berada pada tingkat yang makmul, sehat dan bahagia sehingga untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan suatu usaha.

Kesejahteraan pada tafsirannya tidak ada suatu yang jelas, namun indikator standar mengenai kesejahteraan meliputi sektor pangan, pendidikan, sosial, keamanan, dan kesehatan.

Tujuan mencapai negara yang kuat disertai dengan masyarakat yang sejahtera harus dijalankan oleh Pemerintah dari kebijakan dan kegiatan yang berdampak bermanfaat untuk masyarakat. Pada sektor kesehatan, pemerintah wajib untuk memberikan jaminan kepada masyarakat untuk mendapatkan hak memperoleh pengobatan, perawatan, dan bantuan lainnya, jika melihat kondisi sekarang dengan munculnya Pandemi maka pemerintah dituntut untuk memberikan sumbangsih dan pelayanannya kepada masyarakat.

Pemerintah secara konsisten memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat. Dari total klaim yang diajukan umumnya adalah dari biaya pengobatan pasien selama isolasi, biaya penanganan medis dan tunjangan tenaga kesehatan. Perlindungan hukum bagi pasien tersebut tertuang dalam bentuk perlindungan hukum baik secara keperdataan, pidana atau administrasi.

Pasien yang dirugikan dapat meminta ganti rugi, melakukan tuntutan sesuai dengan kerugian yang pasien alami, baik itu berupa tuntutan keperdataan maupun pidana (Ni Komang, I Ketut, Ida Ayu, 2021).

Pertanggungjawaban pemerintah pada kaitannya dengan hukum administrasi yaitu tanggung jawab pemerintah dengan warga negaranya yang berdasarkan atas segala ketentuan hukum yang berlaku. Pada perspektif hukum publik kebijakan pemerintah digunakan dan dituangkan kedalam instrumen hukum yang disebut dengan kebijakan. Hubungan ini dikatakan bersifat internal yang artinya adanya hubungan hukum antar negara dan warga negaranya.

Tugas dan fungsi Pemerintah untuk menjaga kehidupan bermasyarakat baik dalam skala kecil maupun besar. Pemerintah merupakan subjek memproduksi, mendistribusikan atau menjual segala pemenuhan

(7)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

29 | Juris and Society

masyarakat baik dalam bentuk barang atau jasa melalui jasa publik atau layanan sipil. Dengan diterapkannya pembatasan sosial, khususnya di DKI Jakarta sebagai Ibukota Negara Indonesia, dapat mencegah dan bisa memperlambat penyebaran virus corona di seluruh wilayah di Indonesia.

Berbeda dengan himbauan social distancing, pembatasan ini dapat menerapkan dikeluarkannya peraturan yang jauh lebih ketat untuk masyarakatnya. Terdapat beberapa hal yang dibatasi selama pandemi ini berlangsung, diantaranya adalah (Haqkida, Dauri, Ummi, Nadya, Retias, 2020) :

1. Aktivitas di Sekolah dan Tempat Kerja

Melakukan pengetatan dan pembatasan di sekolah juga tempat kerja menjadi salah satu kategori harus diperhatikan selama pandemi berlangsung, namun mendapat pengecualian kepada kantor atau instansi strategi yang memberikan pelayanan ketahanan atau keamanan, ketertiban umum, kebutuhan pangan, bahan bakar minyak atau gas, kesehatan, perekonomian, keuangan, dan kebutuhan dasar lainnya.

2. Kegiatan Keagamaan

Masyarakat juga diminta untuk sementara waktu sampai pandemi mereda tidak untuk melakukan kegiatan di luar rumah yang berpotensi melakukan kontak fisik dengan kelompok orang dalam jumlah lebih dari dua. Pada sektor kegiatan keagamaan juga harus diawasi dalam kebijakan yang dikeluarkan dalam segi aturan, himbauan dalam bentuk fatwa atau pernyataan lembaga keagamaan legal yang diakui oleh Pemerintah.

3. Kegiatan di Tempat atau Fasilitas Umum

Selama pandemi, kegiatan yang dilaksanakan di tempat atau fasilitas umum wajib untuk dilaksanakan dalam pembatasan jumlah kehadiran orang dan pemberlakuan pengaturan jarak atau physical distancing. Namun, pembatasan mendapatkan pengecualian untuk supermarket, minimarket, pasar sederhana, toko, atau tempat penjualan obat dan peralatan medis, kebutuhan pangan, barang kebutuhan pokok, bahan bakar minyak dan gas serta energi. Selain itu, fasilitas pelayanan kesehatan dan tempat kegiatan olahraga juga masuk ke dalam daftar yang dikecualikan.

4. Kegiatan Sosial dan Budaya

Sama halnya dengan kegiatan yang dilakukan di tempat atau fasilitas umum, pembatasan kegiatan pada sektor sosial dan budaya juga harus diadakan dalam bentuk pelarangan kerumunan banyak orang. Larangan ini juga berpedoman pada pandangan yang dikeluarkan oleh lembaga adat resmi yang diakui pemerintah dan dan diatur pada peraturan perundang - undangan.

(8)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

30 | Juris and Society

5. Operasional Transportasi Umum

Selama masa pandemi, transportasi umum masih dapat untuk beroperasi seperti biasa. Hanya saja, pemberlakuan pembatasan dilakukan dengan memperhatikan pada jumlah penumpang yang memanfaatkan layanan transportasi serta menjaga jarak yang diterapkan antar penumpang. Tidak hanya itu, moda transportasi barang dan jasa yang beroperasi untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat juga mendapatkan pengecualian.

Dimasa pandemi ini, pembiayaan atas pelayanan kesehatan masyarakat dibebankan kepada Pemerintah dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor HK.01.07/Menkes/104/2020.

Pembebasan segala bentuk biaya dimulai sejak pasien ditetapkan terdampak positif Virus Covid – 19 dibuktikan dengan hasil laboratorium. Khusus pada pasien yang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit harus dibuktikan dengan adanya Swab PCR sebagai acuan untuk mendapatkan perawatan medis dan pengobatan sampai dinyatakan sembuh atau meninggal dunia.

Perlindungan hukum dalam prakteknya dapat dibedakan menjadi dua yaitu perlindungan hukum secara preventif dan perlindungan hukum secara represif. Perlindungan hukum prefentif adalah perlindungan hukum dengan upaya awal yang dilakukan oleh pihak kepolisian dengan tujuan untuk mencegah terjadinya suatu kejahatan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan cara menanamkan norma – norma yang benar dan norma tersebut dijadikan landasan kehidupan bermasayarakat. Dengan cara itulah pihak kepolisian dapat meminimalisir terjadinya suatu tindak kejahatan.

Perlindungan hukum preventif adalah perlindungan hukum yang dilakukan dengan upaya tindakan yang dapat menghilangkan kesempatan seseorang dalam melakukan tindak kejahatan. Karena upaya mencegah kejahatan lebih baik daripada mendidik pelaku kejahatan menjadi orang yang lebih baik. Perlindungan hukum secara represif dilakukan dengan cara menegakan hukum bagi mereka yang melakukan kejahatan. Penegakan hukum ini adalah penjatuhan hukum bagi mereka yang melakukan kejahatan, dengan harapan dapat menyadari apa yang telah dilakukan bertentangan dan melakukan perbuatan hukum yang bertentangan dengan peraturan. Pasien Virus Covid – 19 mendapatkan perlindungan hukum sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku, dengan tujuan dapat memberikan rasa aman bagi pasien dan melindungi hak – hak pasien dalam pelayanan kesehatan.

Perlindungan pasien adalah pertanggungjawaban hukum atas tindak atau upaya perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh tenaga kesehatan atau rumah sakit (Hariyani S, 2010).

(9)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

31 | Juris and Society

Penanggulangan Pandemi Virus Covid – 19 dijelaskan dalam Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular, diatur pada pasal 5 ayat (1):

Upaya Penanggulangan Wabah meliputi : a. Penyelidikan epidemologis;

b. Pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita, termasuk tindakan karantina;

c. Pencegahan dan pengebalan;

d. Pemusnahan penyebab penyakit;

e. Penanganan jenazah akibat wabah;

f. Penyuluhan kepada masyarakat;

g. Upaya penanggulangan lainnya.

Pengobatan dan perawatan yang diberikan kepada pasien Virus Covid – 19 sudah sepatutnya mendapatkan kepastian hukum yang dibebankan kepada Pemerintah. Beberapa fakta dilapangan bahwa masih ada masyarakat yang harus dibebankan biaya sangat mahal untuk mendapatkan perawatan di Rumah Sakit. Kasus tersebut jelas menyimpang dari ketentuan hukum dan menambah penderitaan pasien yang seharusnya Rumah Sakit tersebut adalah rujukan bagi pasien terdampak Virus Covid – 19. Kedua, pasien yang melakukan isolasi mandiri di rumah dirasakan sulit untuk memperoleh obat – obatan gratis yang difasilitasi oleh Pemerintah. Kondisi ini disebabkan oleh moda layanan yang tidak memiliki perangkat digital dan kurangnya dalam pemahaman teknologi. Sehingga, banyak pasien yang melakukan perawatan isolasi mandiri meninggal karena situasi dan kondisi yang tidak mendukung (www.laporcovid19.org, Negara Harus Menjamin Pembiayaan Perawatan Pasien Covid – 19, diakses pada tanggal 18 Agustus 2021).

Perkembangan Asuransi di Indonesia semakin signifikan. Industri asuransi berkembang seiring dengan berjalannya bisnis itu sendiri. Namun seiring dengan adanya Pandemi perusahaan Asuransi justru mengalami penurunan drastis. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan pendataan bahwa pada tahun 2020 terdapat 139 perusahaan asuransi yang telah mendapat izin. Berbeda dengan tahun sembelumnya dimana jumlah tersebut mengalami penurunan drastis. Data Tahun 2019 dan tahun 2018 terdapat sebanyak 151 perusahaan Asuransi. Adapun data tahun 2020 terdapat klasifikasi diantaranya merupakan 74 perusahaan asuransi umum, 54 perusahaan asuransi jiwa, 7 perusahaan reasuransi, 3 perusahaan penyelenggara asuransi wajib, dan 2 badan penyelenggaraan jaminan sosial (www.databoks.katadata.co.id, 2020).

(10)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

32 | Juris and Society

Asuransi dalam definisi secara yuridis akan coba dijabarkan berdasarkan Undang – Undang Nomor 40 tahun 2014 tentang Perasuransian yang diatur dalam Pasal 1 ayat (1) huruf a dan b:

Asuransi merupakan bentuk suatu perjanjian antara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi dengan pemegang polis, yang menjadi suatu landasan dasar bagi penerimaan premi oleh perusahaan asuransi sebagai imbalan untuk:

a. memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti; atau

b. memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya tertanggung atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya tertanggung dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana.

Asuransi yang hakekatnya bisa disebut sebagai sebuah perjanjian, diikat dalam adanya kesepakatan bersama kedua belah pihak antara penanggung dan tertanggung. Penanggung dan tertanggung yang akan melaksanakan perjanjian tentunya harus sepakat pada poin - poin yang pokok dari perjanjian yang dilaksanakan itu (Subekti, 2001 : 1). Kesepakatan yang akan diwujudkan tersebut, maka pihak penanggung juga dikehendaki pihak tertanggung. Penanggung dan tertanggung sepakat mengadakan perjanjian asuransi yang kesepakatan tersebut pada pokoknya meliputi (Abdulkadir Muhammad, 2006 : 82):

a. Objek yang akan menjadi dasar untuk mendapatkan asuransi, pada asuransi kesehatan yaitu objek pada asuransi tersebut adalah jiwa dari tertanggung;

b. Pengalihan risiko dan pembayaran premi;

c. Syarat – syarat khusus asuransi;

d. Dibuat secara tertulis yang disebut polis.

Prestasi adalah ketentuan yang harus dilaksanakan oleh debitur dalam setiap perikatan yang dibuat. Pemenuhan prestasi adalah poin utama dari suatu perikatan (Abdulkadir Muhammad, 2001 : 8). Prestasi adalah suatu ketentuan yang dimana kewajiban tersebut harus dilaksanakan oleh para pihak yang tertuang didalam perjanjian sebagai dasar pelaksanaan dari

(11)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

33 | Juris and Society

adanya perjanjian tersebut. Kewajiban yang muncul dari suatu perjanjian berdasarkan pada Pasal 1234 KUH Perdata menjelaskan bahwa setiap perikatan yang dibuat adalah untuk memberikan sesuatu, untuk melaksanakan sesuatu, atau untuk tidak melaksanakan sesuatu. Maka dalam hal ini merupakan bentuk dari wujud prestasi pada perjanjian untuk melakukan pemberian atau penyerahan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Pada hubungannya asuransi bentuk prestasinya adalah berbuat sesuatu, yaitu melakukan perbuatan yang dilaksanakan antara pihak tertanggung dengan penanggung.

Dasar perjanjian asuransi dalam segi filosofis menganut azas konsensualisme. Kesepakatan yang telah terjadi, maka perjanjian pertanggungan lahir. Tahapan untuk mencapai kesepakatan pada asuransi kesehatan diawali dengan ketika tertanggung telah melakukan pengisian surat permohonan asuransi kesehatan. Dalam hal calon tertanggung pada dasarnya telah menyetujui ketentuan produk atau program – program yang diselengarakan oleh penanggung.

Perusahaan asuransi pada posisinya adalah menjadi penanggung pertama dalam suatu perusahaan yang dengan sengaja untuk dapat mengambil alih dan menerima suatu risiko pihak lain, yang didasari melalui perjanjian asuransi. Keadaan ini membawa perusahaan asuransi pada posisi yang tidak bisa dianggap remeh. Perusahaan asuransi pada satu sisi bersedia dengan menerima dan mengambil alih risiko dari pihak lain yang mengajukan, membuat perusahaan asuransi mempunyai beban dan amanah atas risiko yang diberikan kepadanya. Perusahaan asuransi dalam kondisi lain yang melakukan kegiatan perusahaan dengan jasa asuransi, tetap mempunyai beban risiko yang memang menjadi amanah pribadi dalam menjalankan kegiatan dalam usaha asuransi (Devi, 2018).

Perusahaan asuransi meskipun mendapatkan posisi yang sangat sulit, tetapi perusahaan asuransi sebagai bagian dalam perjanjian asuransi tetap memiliki tanggung jawab yang utama untuk melaksanakan kewajibannya yaitu memberikan kompensasi atas tuntutan klaim yang diajukan oleh tertanggung ketika peristiwa yang diperjanjikan terjadi pada suatu hari.

Perusahaan asuransi sendiri (penanggung) akan bersedia menanggung risiko dengan catatan telah memenuhi ketentuan – ketentuan yang telah diatur, baik dalam peraturan Undang - Undang maupun dalam klausul perjanjian. Lembaga asuransi oleh karenanya dapat ditelaah dalam berbagai pandangan yaitu sebagai dunia usaha (bisnis) yang berarti

(12)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

34 | Juris and Society

semangatnya adalah untuk mencari keuntungan. Pasal 246 Kitab Undang - Undang Hukum Dagang (KUHD), menjelaskan mengenai defisini asuransi yang dijabarkan sebagai berikut:

“Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian, dimana penanggung dengan menikmati suatu premi mengikat dirinya terhadap tertanggung untuk membebaskan dirinya dari kerugian karena kehilangan keuntungan, atau ketiadaan keuntungan yang diharapkan, yang akan dapat diderita olehnya karena suatu kejadian yang tidak pasti”.

Pada penulisan ini, akan coba melakukan kajian dari fenomena maraknya perusahaan Asuransi Swasta yang menawarkan Asuransi Kesehatan yang bisa memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat yang terdampak Virus Covid 19. Pada tanggal 03 Juli 2021, Pemerintah mengumumkan diberlakukannya PPKM Darurat sebagai respon terhadap lonjaknya angka positif di Indonesia, tentunya juga masyarakat yang terdampak serius harus dilarikan ke Rumah Sakit untuk mendapatkan penanganan. Pemerintah memang telah melakukan jaminan segala bahwa segala bentuk penanganan kepada pasien Virus Covid - 19 sampai dengan sembuh atau meninggal dunia.

Melihat kondisi tersebut, apakah relevan atau tidak ketika masyarakat yang mengajukan klaim kesehatan karena terdampak Virus Covid – 19 yang sudah ditanggung oleh Pemerintah dapat secara legal untuk mengajukan klaim kepada Perusahaan Asuransi Swasta sehingga mereka yang mengajukan bisa dikatakan mendapatkan klaim ganda. Prinsip dasar dari klaim ganda, perlu ditelaah lebih spesifik, berikut prinsip klaim ganda dalam asuransi (www.cermati.com, 2021) :

a. Asuransi bukanlah wadah untuk mencari sebuah keuntungan, tetapi sebagai sarana untuk memfasilitasi kerugian yang. Artinya, bila seseorang memiliki dua polis asuransi dan dari salah satu polis telah mengganti kerugian secara penuh, maka perusahaan asuransi lain tidak akan mengganti lagi kerugian yang dialami oleh orang tersebut;

b. Klaim ganda sebenarnya dapat untuk dilakukan, namun mekanismenya tidak akan memberikan ganti rugi lebih dari total kerugian yang diderita;

c. Pengajuan klaim kedua asuransi ini adalah untuk dapat membayar kekurangan atau selisih biaya selama pengobatan, bukan untuk membayar secara keseluruhan sehingga seseorang dapat memperoleh penggantian ganda.

(13)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

35 | Juris and Society

Klaim ganda dijelaskan dalam ketentuan pada Perusahaan Asuransi, merupakan proteksi atau reimbursement (pengembalian) biaya yang ditanggung oleh asuransi tambahan atas klaim yang tidak terlindungi oleh asuransi utama. Hubungan dalam posisi Pemerintah dan Perusahaan Asuransi Swasta dalam masyarakat yang terdampak Covid – 19 mempunyai perannya masing – masing.

Ketentuan mengenai penjelasan klaim ganda dalam peraturan perundang – undangan dapat dilihat pada Kitab Undang – Undang Hukum Dagang dalam Pasal 252 yang akan dijelaskan sebagai berikut :

“Kecuali dalam hal yang diuraikan oleh ketentuan undang-undang, tidak telah diadakan pertanggungan kedua untuk waktu yang sama, dan untuk bahaya yang sama atas barang-barang yang telah dipertanggungkan untuk nilainya secara penuh, dengan ancaman kebatalan terhadap penanggungan yang kedua.”

Perusahaan Asuransi pada umumnya memberikan tanggungan ketika seseorang sakit, kecelakaan, meninggal dunia. Namun, ada beberapa penyakit yang dikecualikan dan tidak mendapatkan cover, diantaranya adalah sebagai berikut (www.cejaka.com, 2020) :

1. Penyakit Bawaan

Penyakit yang tidak mendapatkan perlindungan oleh asuransi kesehatan adalah penyakit bawaan yang diderita oleh seseorang semenjak dia lahir akibat keturunan. Penyakit keturunan ini diantaranya adalah seperti kelainan tubuh yang dialami sejak lama contohnya penyakit asma, penyakit yang berkaitan dengan seseorang yang berkebutuhan khusus, hernia dan penyakit bawaan lainnya.

2. Penyakit Langka

Pihak perusahaan asuransi juga pada ketentuan umum tidak memberikan proteksi kepada penyakit langka sebagai penyakit yang mendapatkan jaminan. Penyakit langka tersebut sangat jarang ditemui di dunia dan segelintir orang saja yang mengalami. Penyakit langka ini terdapat beberapa jenis diantaranya adalah kelainan genetik pada bayi, kelainan otot, dan kelainan lainnya yang dapat mengganggu sistem perkembangan tubuh dan membuat seseorang tidak berdaya.

3. Penyakit Kritis

Penyakit yang tidak mendapatkan perlindungan asuransi kesehatan selanjutnya adalah penyakit – penyakit kritis yang bisa menyebabkan

(14)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

36 | Juris and Society

mematikan. Biaya yang harus dikeluarkan kepada penyakit kritis juga umumnya sangat mahal dan perawatannya harus dilaksanakan secara rutin.

Penyakit ini terdapat beberapa jenis seperti serangan jantung, kanker otak, kanker payudara, gagal ginjal, paru – paru, diabetes dan penyakit kritis lainnya. Penyakit kritis tersebut walaupun tidak mendapatkan perlindungan pada umumnya, akan tetapi ada juga perusahaan asuransi yang memberikan perlindungan kepada penyakit kritis tersebut.

4. Penyakit Kritis Stadium Awal

Asuransi kesehatan ada yang menerapkan perlindungan kesehatan yang memasukan penyakit kritis sebagai penyakit yang dijamin biayanya.

Penyakit kritis tersebut tentunya diterima pada tahap stadium akhir, dan tidak memberikan perlindungan kepada penyakit kritis stadium awal.

5. Penyakit Psikologis

Penyakit Psikologis hampir serupa dengan penyakit kritis, dimana pada umumnya perusahaan asuransi tidak memasukan penyakit psikologis sebagai penyakit yang mendapatkan jaminan perlindungan.

6. Penyakit yang disebabkan Wabah

Penyakit yang dikarenakan oleh suatu wabah akan menyebar sangat cepat ke berbagai daerah bahkan ke penjuru dunia, sehingga pada kondisi tersebut jumlah korban pastinya tidak akan sedikit. Penyakit yang disebabkan oleh wabah juga masuk sebagai salah satu penyakit yang tidak mendapatkan perlindungan oleh perusahaan asuransi karena dampak yang bisa menyebabkan korban massal. Penyakit wabah tersebut seperti contohnya adalah polio, flu babi, flu burung, ebola dan penyakit wabah lainnya.

7. Penyakit yang diidap sebelum memiliki Asuransi

Penyakit lainnya yang tidak mendapatkan perlindungan asuransi adalah penyakit yang diderita sebelum seseorang memiliki asuransi. Solusinya adalah jika seseorang akan membeli asuransi kesehatan, maka perlu untuk memastikan kondisi kesehatan. Jika diperiksa terdapat suatu penyakit yang diderita maka harus dipastikan sebelum membeli asuransi kesehatan penyakit yang diderita mendapatkan perlindungan jaminan.

8. HIV / AIDS

Penderita penyakit HIV / AIDS tentunya akan memiliki kekebalan tubuh yang sangat lemah sehingga seseorang yang mengidap akan mudah sekali

(15)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

37 | Juris and Society

terserang oleh penyakit. Perusahaan asuransi menetapkan sebagian besarnya jika HIV / AIDS merupakan jenis penyakit yang tidak mendapatkan perlindungan jaminan. HIV / AIDS juga dinilai sebagai penyakit yang muncul akibat kesengajaan seseorang yang didapatkan dari penyalahgunaan narkoba melalui jarum suntik, juga seks bebas yang tidak melakukan pengaman.

9. Pengecekan dan Perawatan Kehamilan

Seorang ibu yang tengah mengandung, tidak mendapatkan jaminan perlindungan kehamilan. Jaminan perlindungan yang tidak diberikan tersebut dari segala bentuk perawatan kehamilan seperti melakukan cek kandungan, biaya layanan perawatan saat di IGD yang berhubungan dengan kandungan saat kehamilan, serta biaya saat melahirkan.

Perusahaan Asuransi juga tidak memberikan perlindungan pada perawatan anak pasca kelahirannya, seperti program imunisasi bayi dan perawatan lainnya.

10. Penyakit yang dikecualikan

Penyakit yang tidak mendapatkan perlindungan asuransi kesehatan adalah penyakit yang memang sejak awal tidak masuk dalam polis asuransi.

Perusahaan asuransi mempunyai daftar penyakit yang tidak mendapatkan perlindungan. Penyakit tersebut diantaranya adalah transplantasi organ, cuci darah, kelainan mata, check up kelainan mata dan kesehatan gigi berkala yang tidak disebabkan oleh penyakit, biaya kecantikan, biaya pengobatan dan perawatan untuk diet menurunkan berat badan, biaya pengobatan alternatif, dan pengobatan lainnya.

Pandemi Virus Covid – 19 sebenarnya merupakan salah satu kategori yang masuk pada penyakit yang disebabkan oleh wabah. Namun karena banyak dibutuhkan dan mengikuti kondisi sosial yang ada akhirnya ada beberapa perusahaan Asuransi Swasta yang memberikan penawaran untuk menanggung segala bentuk perawatan dan pengobatan yang disebabkan oleh Pandemi Virus Covid – 19. Jadi, sebenarnya tidak ada permasalahan secara aturan jika memang kesepakatan antara penanggung dan tertanggung terdapat ketentuan jika terdampak Virus Covid – 19 mendapatkan tanggungan sesuai dengan peraturan dalam perjanjian.

Namun, kita harus melihat dari sisi sosial, dengan dikeluarkannya kebijakan oleh Perusahaan Asuransi Swasta bisa dimanfaatkan dengan baik karena memang tidak semua mendapatkan jaminan oleh Pemerintah.

Terdapat beberapa penanganan yang memang mengeluarkan biaya pribadi

(16)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

38 | Juris and Society

dan tidak mendapatkan tanggungan oleh Pemerintah seperti ruangan rawat inap diluar ketentuan standar, penanganan khusus yang diminta secara pribadi oleh pasien, dan pengobatan diluar dari yang diberikan oleh Pemerintah. Akan tetapi, diluar dari penjelasan tersebut ada sebagian yang mengambil momentum untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Dengan dalih terdampak Virus Covid – 19, namun tetap melakukan klaim kesehatan kepada Perusahaan Asuransi Swasta yang sebenarnya tidak mendapatkan kerugian karena sudah ditanggung oleh Pemerintah dan akhirnya masyarakat berpandangan mereka mendapatkan Klaim Ganda dari Pemerintah dan Perusahaan Asuransi Swasta.

C. Penutup

Pemerintah telah maksimal dalam melakukan upaya untuk memberikan tanggungan kepada masyarakat yang terkena dampak dari Virus Covid -19 berupa bantuan obat – obatan bagi mereka yang melakukan isolasi mandiri dan harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit. Kebijakan tersebut sesuai dengan amanat Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dan Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Perusahaan Asuransi Swasta bisa menanggung kerugian dan pengobatan penuh pada masyarakat yang terdampak Covid – 19 sesuai dengan ketentuan Kitab Undang – Undang Hukum Dagang dan tidak ada kaitannya dengan prinsip Klaim Ganda pada Asuransi.

DAFTAR PUSTAKA

Bisnis.com. (2021, September 21). Tagihan RS Capai Rp 4097 Triliun Kemenkes Setop Terima Klaim Pasien Covid – 19. Diakses pada tanggal 21 September

2021. bisnis.com:

https://ekonomi.bisnis.com/read/20210923/12/1445918/tagihan-rs-capai- rp4079-triliiun-kemenkes-setop-terima-klaim-pasien-covid-19

Cejaka.com. (2020, Juli 17). Penyakit yang Tidak Dicover Asuransi. Diakses pada tanggal 17 Juli 2020. cejaka.com: https://www.cekaja.com/info/penyakit- yang-tidak-dicover-asuransi

Cermati.com. (2021, Juni 2). Pahami Maksud Double Claim dalam Asuransi Kesehatan. Diakses pada tanggal 2 Juni 2021. cermati.com:

https://www.cermati.com/artikel/pahami-maksud-double-claim-dalam- asuransi-kesehatan

(17)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

39 | Juris and Society

Databoks.katadata.co.id. (2020, Mei 12). Perusahaan Asuransi di Indonesia Menurun Drastis pada 2020. Diakses pada tanggal 12 Mei 2020, databoks.katadata.co.id:https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/05/

12/perusahaan-asuransi-di-indonesia-menurun-drastis-pada-2020

Hariyani. (2010). Sengketa Medik Alternatif Penyelesaian Perselisihan Antara Dokter dengan Pasien. Jakarta: Diadit Media.

Kancana, Haqkida, dkk. (2020). Bentuk Tanggung Jawab Negara Menghadapi Covid – 19 dalam Perspektif Otonomi Daerah (Telaah Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar), Jurnal Pemikiran dan Penelitian Ilmu – Ilmu Sosial, Hukum, dan Pengajarannya, Volume X Nomor 2, 87 – 100.

Kemenkeu.go.id. (2020, April 15). Pemerintah Menanggung Seluruh Biaya Pasien Covid – 19. Diakses pada tanggal 15 April 2020, kemenkeu.go.id:

https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/pemerintah-menanggung- seluruh-biaya-pasien-covid-19

Kitab Undang – Undang Hukum Dagang.

Kitab Undang – Undang Hukum Perdata.

Laporcovid19.org. (2021, Agustus 18). Negara Harus Menjamin Pembiayaan Perawatan Pasien Covid – 19. Diakses pada tanggal 18 Agustus 2021, laporcovid19.org : https://laporcovid19.org/post/negara-harus-menjamin- pembiayaan-perawatan-pasien-covid-19

Mardianti, Devi. (2018). Kepastian Hukum terhadap Asuransi Ganda (Double Insurance) atas Satuan Rumah Susun (Sarusun) Dihubungkan dengan Prinsip Indemnity dalam Asuransi Kerugian, Jurnal Universitas Pasundan, http://repository.unpas.ac.id/35459/

Muhammad, Abdulkadir. (1990). Pokok – Pokok Hukum Pertanggungan, Bandung:

Citra Aditya Bakti.

………. (2006). Hukum Asuransi Indonesia. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Nuratih, Ni Komang Rosi Triana Ayu, dkk. (2021) Tanggung Jawab Pemerintah Terhadap Penanggulangan Covid – 19 Dalam Rangka Pelayanan Medis di Rumah Sakit, Jurnal Prefensi Hukum, 2(2), 248-253.

Simanjuntak, Emy Pangribuan. (1995). Pertanggungan Wajib. Yogyakarta:

Universitas Gajah Mada.

Subekti. (2001). Hukum Perjanjian. Jakarta: PT. Intermasa.

Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan

(18)

Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 1 No. 2 Desember 2021: 23-40

40 | Juris and Society

Undang – Undang Nomor 40 Tahun 2014 Perasuransian

Referensi

Dokumen terkait

pengetahuan, status ekonomi, peran petugas kesehatan dan peran keluarga terhadap vaksinasi HPV (Human Papilloma Virus) yang telah dilakukan pada bulan November tahun

KESIMPULAN Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan diatas ditemukannya beragam kesalahan sintaksis dengan persentase tinggi pada penulisan kalimat tunggal sehingga dapat disimpulkan