BERITA DAERAH
KOTA TANGERANG SELATAN
No.74,2020 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN.
Peraturan Pelaksana Peratran Daerah Nomor 1 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Kota Layak Anak.
PROVINSI BANTEN
PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 74 TAHUN 2020
TENTANG
PERATURAN PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH NOMOR 1 TAHUN 2018 TENTANG PENYELENGGARAAN KOTA LAYAK ANAK
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG SELATAN,
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (7), Pasal 18 ayat (4), Pasal 19 ayat (5), Pasal 27 ayat (2), Pasal 31 ayat (3), Pasal 33 ayat (3), Pasal 37 ayat (4), Pasal 45 ayat (2), Peraturan Daerah Kota Tangerang
Selatan Nomor 1 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Kota Layak Anak, perlu menetapkan Peraturan Walikota
tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Kota Layak Anak;
Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 297, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5606);
3. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan di Provinsi
Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 188, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4935);
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang–Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);
5. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 11 Tahun 2011 tentang Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 168);
6. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 8 Tahun 2014 tentang Kebijakan Sekolah Ramah Anak (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 1761);
7. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 1 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Kota Layak Anak (Lembaran Daerah Kota Tangerang
Selatan Tahun 2018 Nomor 1, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 85);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA TENTANG PERATURAN
PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH NOMOR 1 TAHUN 2018 TENTANG PENYELENGGARAAN
KOTA LAYAK ANAK.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Walikota ini yang dimaksud dengan:
1. Daerah adalah Kota Tangerang Selatan.
2. Pemerintah Daerah adalah Walikota sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah otonom.
3. Walikota adalah Walikota Tangerang Selatan.
4. Perangkat Daerah adalah unsur pembantu Walikota dan Dewan Perwakilan Rakayat Daerah dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah.
5. Dinas adalah Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan
Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Kota Tangerang Selatan.
6. Kota Layak Anak yang selanjutnya disingkat KLA adalah Kota yang mempunyai sistem pembangunan berbasis hak anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan program dan kegiatan untuk menjamin terpenuhinya hak anak.
7. Gugus Tugas Kota Layak Anak yang selanjutnya disebut Gugus Tugas KLA adalah lembaga koordinatif di tingkat Kota yang mengkoordinasikan upaya kebijakan, program dan kegiatan untuk mewujudkan KLA.
8. Rencana Aksi Daerah Pengembangan KLA yang selanjutnya disingkat RAD KLA adalah dokumen yang memuat kebijakan, program dan kegiatan untuk mewujudkan KLA.
9. Sekolah Ramah Anak yang selanjutnya disingkat SRA adalah satuan pendidikan formal, nonformal, dan informal yang aman, bersih dan sehat, peduli dan berbudaya lingkungan hidup, mampu menjamin, memenuhi, menghargai hak-hak anak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya, dan mendukung partisipasi anak terutama dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran, pengawasan, dan mekanisme pengaduan terkait pemenuhan hak dan perlindungan anak di pendidikan.
10. Fasilitas Pelayanan Kesehatan Ramah Anak adalah fasilitas pelayanan kesehatan tingkat kesatu, kedua, dan ketiga baik negeri maupun swasta yang memberikan pelayanan persalinan, pengobatan, rawat inap, kesehatan ibu dan anak yang mampu memenuhi hak-hak anak dan mengedepankan pelayanan yang ramah kepada anak, baik pada anak yang datang berkunjung atau pada anak yang berobat.
11. Pelayanan Kesehatan Ramah Anak adalah pelayanan kesehatan yang mampu memenuhi hak anak untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan mengedepankan pelayanan yang ramah kepada anak, baik kepada anak yang sedang berobat ataupun anak sehat yang sedang berkunjung.
12. Ruang Bermain Ramah Anak yang selanjutnya disingkat RBRA adalah ruang yang dinyatakan sebagai tempat dan/atau wadah yang mengakomodasi kegiatan anak bermain dengan aman dan nyaman, terlindungi dari kekerasan, dan hal lain yang membahayakan, tidak dalam situasi dan kondisi diskriminatif, demi keberlangsungan tumbuh kembang anak secara optimal dan menyeluruh, baik fisik, spiritual, intelektual, sosial, moral, mental, emosional, dan pengembangan bahasa, dapat dibangun dan dikembangkan di lingkungan alami dan lingkungan buatan.
Pasal 2
Pemerintah Daerah bertanggungjawab untuk mengembangkan KLA di Daerah.
BAB II
GUGUS TUGAS KOTA LAYAK ANAK Pasal 3
(1) Walikota dalam mengembangkan KLA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 membentuk Gugus Tugas KLA.
(2) Struktur Gugus Tugas KLA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. pembina;
b. pengarah;
c. ketua;
d. sekretaris; dan e. anggota.
(3) Anggota Gugus Tugas KLA sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e terdiri atas:
a. bidang kelembagaan;
b. bidang hak sipil dan kebebasan;
c. bidang lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif;
d. bidang kesehatan dasar dan kesejahteraan;
e. bidang pendidikan, pemanfaatan waktu luang, dan kegiatan budaya; dan
f. bidang perlindungan khusus.
(4) Anggota Gugus Tugas KLA sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling sedikit terdiri atas unsur:
a. Pemerintah Daerah;
b. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
c. Polisi Resort Tangerang Selatan;
d. Pengadilan Negeri Tangerang;
e. Kejaksaan Negeri Kota Tangerang Selatan;
f. Komando Distrik Militer 0506;
g. perguruan tinggi;
h. lembaga swadaya masyarakat;
i. dunia usaha;
j. tokoh masyarakat;
k. tokoh agama;
l. organisasi profesi;
m. organisasi kemasyarakatan;
n. media massa; dan o. forum anak.
(5) Gugus Tugas KLA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Walikota.
Pasal 4
(1) Gugus Tugas KLA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 bertugas:
a. mengkoordinasikan berbagai upaya pengembangan KLA;
b. melaksanakan sosialisasi, advokasi, edukasi, dan komunikasi pengembangan KLA;
c. mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan data kebijakan, program, dan kegiatan terkait pemenuhan hak anak;
d. menyusun RAD KLA;
e. melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan kebijakan, program, dan kegiatan dalam RAD KLA;
f. menyiapkan dan mengusulkan peraturan terkait kebijakan KLA;
g. membina dan melaksanakan hubungan kerjasama dengan pelaksana Pengembangan KLA di tingkat kecamatan dan kelurahan dalam perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan pengembangan KLA di tingkat kecamatan dan kelurahan;
h. mengadakan konsultasi dan meminta masukan dari tenaga profesional dan akademisi;
i. melakukan evaluasi setiap akhir tahun terhadap pelaksanaan kebijakan, program, dan kegiatan dalam RAD KLA; dan
j. membuat laporan kepada Walikota.
(2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Gugus tugas KLA berfungsi:
a. melakukan pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data kebijakan, program, dan kegiatan terkait pemenuhan hak anak;
b. melaksanakan kebijakan, program, dan kegiatan sesuai dengan RAD KLA;
c. membina dan melaksanakan hubungan kerja sama dengan pelaksana pengembangan KLA di tingkat kecamatan dan kelurahan dalam perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan pengembangan KLA di tingkat kecamatan dan kelurahan; dan
d. mengadakan konsultasi dan meminta masukan dari tenaga profesional untuk mewujudkan KLA.
BAB III
JAM BELAJAR MASYARAKAT Pasal 5
(1) Pelaku usaha yang kegiatannya bersegmentasi anak wajib mentaati ketentuan jam belajar masyarakat.
(2) Jam belajar masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan jumlah waktu yang ditetapkan untuk belajar bagi anak di luar lingkungan sekolah sebagai upaya untuk menumbuhkembangkan budaya belajar.
(3) Jam belajar masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan setiap hari antara pukul 18.00 WIB sampai dengan pukul 21.00 WIB.
BAB IV
SEKOLAH RAMAH ANAK Bagian Kesatu
Umum Pasal 6
(1) Setiap sekolah di Daerah, wajib menyelenggarakan SRA.
(2) SRA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada kemampuan sekolah dalam menjamin pemenuhan hak anak dalam proses belajar mengajar yang aman, nyaman, bebas dari kekerasan, dan diskriminasi, dan menciptakan ruang bagi anak untuk belajar berinteraksi, berpartisipasi, bekerjasama, menghargai keberagaman, toleransi, dan perdamaian.
Bagian Kedua
Kebijakan Sekolah Ramah Anak Pasal 7
(1) Kebijakan SRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 sebagai acuan bagi pemangku kepentingan termasuk anak dalam mengembangkan SRA sebagai upaya untuk mewujudkan salah satu indikator KLA.
(2) Pelaksanaan SRA didasarkan pada indikator yang telah ditetapkan di dalam kebijakan SRA.
(3) Indikator SRA sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memuat komponen:
a. kebijakan SRA;
b. pelaksanaan kurikulum yang berbasis hak anak;
c. pendidik dan tenaga kependidikan terlatih hak anak;
d. memiliki sarana dan prasarana SRA;
e. partisipasi anak; dan
f. partisipasi orang tua, lembaga masyarakat, dunia usaha, alumni, dan pemangku kepentingan lainnya.
Pasal 8
Kebijakan SRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a meliputi:
a. memenuhi standar pelayanan minimal di satuan pendidikan;
b. memiliki kebijakan anti kekerasan terhadap peserta didik;
c. melakukan berbagai upaya untuk melaksanakan kebijakan anti kekerasan terhadap peserta didik;
d. adanya ragam aktivitas peserta didik secara individu maupun kelompok dalam menggiatkan gerakan siswa bersatu mewujudkan SRA terintegrasi ke dalam rencana kerja dan anggaran sekolah;
e. menghapus pungutan untuk penyelenggaraan pendidikan yang sudah didanai oleh anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran pendapatan dan belanja Daerah;
f. melaksanakan afirmasi pendidikan bagi anak dari keluarga miskin paling kurang 20% (dua puluh per seratus) dari jumlah daya tampung;
g. proaktif untuk mencari anak yang belum terjangkau oleh pelayanan pendidikan;
h. proaktif untuk mencegah peserta didik berhalangan hadir ke satuan pendidikan;
i. melakukan upaya untuk mencegah peserta didik putus sekolah;
j. memiliki komitmen untuk menerapkan prinsip SRA dalam manajemen berbasis sekolah dan rencana kerja dan anggaran sekolah setiap tahun;
k. melakukan pelatihan tentang hak anak dan SRA bagi pendidik dan tenaga kependidikan;
l. tersedia tenaga konseling yang terlatih gender, konvensi hak anak, dan peserta didik yang memerlukan perlindungan khusus atau penyandang disabilitas;
m. terdapat proses penyadaran dan dukungan bagi warga satuan pendidikan untuk memahami gender, konvensi hak anak, dan anak yang membutuhkan perlindungan khusus atau penyandang disabilitas;
n. memiliki komitmen untuk mewujudkan kawasan tanpa rokok;
o. memiliki komitmen untuk mewujudkan kawasan bebas narkoba, psikotropika, dan zat adiktif lainnya;
p. memiliki komitmen untuk menerapkan sekolah aman dari bencana secara struktural dan nonstruktural;
q. menjamin, melindungi, dan memenuhi hak peserta didik untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama;
r. memastikan pengarusutamaan pengurangan risiko bencana di dalam proses pembelajaran;
s. mengintegrasikan materi kesehatan di dalam proses pembelajaran; dan t. mengintegrasikan materi lingkungan hidup di dalam proses
pembelajaran.
Pasal 9
Pelaksanaan kurikulum yang berbasis hak anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf b meliputi:
a. tersedia dokumen kurikulum di satuan pendidikan yang berbasis hak anak;
b. perencanaan pendidikan yang berbasis hak anak;
c. proses pembelajaran; dan
d. penilaian hasil belajar mengacu pada hak anak.
Pasal 10
Pendidikan dan tenaga kependidikan terlatih hak anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf c meliputi:
a. kepala sekolah;
b. guru;
c. guru bimbingan konseling;
d. petugas perpustakaan;
e. tata usaha;
f. penjaga satuan pendidikan;
g. petugas kebersihan;
h. komite satuan pendidikan; dan
i. pembimbing kegiatan ekstra kurikuler.
Pasal 11
Sarana dan prasarana SRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf d meliputi:
a. memiliki kapasitas ruangan kelas yang sesuai dengan jumlah murid;
b. peralatan belajar yang ramah anak;
c. memiliki toilet yang sesuai standar;
d. memiliki saluran pembuangan air limbah yang tidak mencemari lingkungan;
e. memiliki tempat cuci tangan;
f. memiliki air yang bersih;
g. bangunan ramah anak dan aman bencana;
h. memiliki ruang usaha kesehatan sekolah;
i. memiliki ruang konseling;
j. memiliki ruang kreativitas;
k. memiliki lapangan olah raga;
l. memiliki area atau ruang bermain dengan lokasi dan desain yang memiliki perlindungan memadai, sehingga dapat dimanfaatkan oleh semua peserta didik, termasuk anak penyandang disabilitas;
m. memiliki ruang perpustakaan;
n. memiliki tempat ibadah;
o. memiliki kantin sehat;
p. tersedia tempat pembuangan sampah terpilah dan tertutup di setiap kelas;
q. terdapat simbol atau tanda terkait dengan SRA; dan
r. tersedianya media komunikasi, informasi, dan edukasi yang terkait dengan SRA.
Pasal 12
Partisipasi anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf e meliputi:
a. melibatkan peserta didik dalam proses penyusunan rencana kerja dan anggaran sekolah;
b. melibatkan peserta didik dalam menyusun kebijakan dan tata tertib sekolah;
c. mengikutsertakan perwakilan peserta didik sebagai anggota Tim Pelaksana SRA;
d. memberdayakan peserta didik sebagai kader kesehatan, kesiapsiagaan, keselamatan, kenyamanan, keamanan, dan kelayakan satuan pendidikan; dan
e. pendidik, tenaga kependidikan, dan komite sekolah atau Satuan Pendidikan mendengarkan dan mempertimbangkan usulan peserta didik untuk memetakan pemenuhan hak dan perlindungan anak dan rekomendasi untuk rencana kegiatan dan anggaran sekolah.
Pasal 13
Partisipasi orang tua, lembaga masyarakat, dunia usaha, alumni, dan pemangku kepentingan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf f meliputi:
a. menyediakan waktu rutin;
b. menyediakan waktu, pikiran, tenaga, dan materi sesuai kemampuan untuk memastikan tumbuh kembang minat, bakat, dan kemampuan anak;
c. memberikan persetujuan setiap kegiatan peserta didik di satuan pendidikan selama sesuai dengan prinsip SRA;
d. mengawasi keamanan, keselamatan, dan kenyamanan peserta didik termasuk memastikan penggunaan internet sehat dan media sosial yang ramah anak;
e. bersikap proaktif untuk memastikan SRA masuk dalam penyusunan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban rencana kegiatan dan anggaran sekolah;
f. aktif mengikuti pertemuan koordinasi penyelenggaraan SRA;
g. memfasilitasi kegiatan yang terkait dengan penyelenggaraan SRA;
h. mengawasi keamanan, keselamatan, dan kenyamanan peserta didik;
i. bersikap proaktif dalam mendukung upaya penerapan prinsip SRA;
j. memberi akses kepada peserta didik dan pendidik untuk karyawisata, praktik kerja lapangan, kegiatan seni dan budaya; dan
k. membangun sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan SRA.
Bagian Ketiga
Tahapan Sekolah Ramah Anak Pasal 14
SRA dilaksanakan melalui tahapan:
a. persiapan;
b. perencanaan; dan c. pelaksanaan.
Pasal 15
Tahapan persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf a meliputi:
a. melakukan sosialisasi pemenuhan hak dan perlindungan anak, bekerjasama dengan Gugus Tugas KLA;
b. melakukan konsultasi anak untuk memetakan pemenuhan hak dan perlindungan anak, dan menyusun rekomendasi dari hasil pemetaan oleh anak;
c. mengembangkan SRA dalam bentuk kebijakan SRA di setiap satuan pendidikan; dan
d. membentuk tim pelaksana SRA.
Pasal 16
(1) Tahapan perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf b dilaksanakan dengan menyusun rencana kegiatan dan anggaran sekolah untuk mewujudkan SRA.
(2) Penyusunan rencana kegiatan dan anggaran sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan mengintegrasikan kebijakan, program, dan kegiatan sebagai komponen penting dalam perencanaan pengembangan SRA.
Pasal 17
(1) Tahapan pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf c yaitu melaksanakan rencana kegiatan dan anggaran sekolah dengan mengoptimalkan semua sumber daya sekolah.
(2) Pelaksanaan rencana kegiatan dan anggaran sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat bermitra dengan antara lain:
a. pemerintah;
b. pemerintah daerah;
c. masyarakat; dan d. dunia usaha.
Pasal 18
Perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dan pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dilakukan oleh tim pelaksana SRA.
Bagian Keempat
Tim Pelaksana Sekolah Ramah Anak Pasal 19
(1) Gugus Tugas KLA dalam melaksanakan SRA membentuk tim pelaksana SRA.
(2) Tim pelaksana SRA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas:
a. mengoordinasikan berbagai upaya pengembangan SRA;
b. melakukan sosialisasi pentingnya SRA;
c. menyusun dan melaksanakan rencana SRA;
d. memantau proses pengembangan SRA;
e. melakukan evaluasi SRA; dan
f. mengidentifikasi potensi, kapasitas, kerentanan, dan ancaman di satuan pendidikan untuk mengembangkan SRA.
(3) Tim Pelaksana SRA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Kepala Sekolah.
BAB V
PELAYANAN KESEHATAN RAMAH ANAK Bagian Kesatu
Indikator Pelayanan Kesehatan Ramah Anak Pasal 20
(1) Pelayanan Kesehatan Ramah Anak dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah dan non pemerintah.
(2) Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Ramah Anak harus memenuhi indikator yang telah ditetapkan di dalam kebijakan Pelayanan Kesehatan Ramah Anak.
(3) Indikator Pelayanan Kesehatan Ramah Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:
a. cakupan tenaga kesehatan dilatih Konvensi Hak Anak;
b. tersedianya media komunikasi, informasi, dan edukasi terkait kesehatan anak;
c. tersedianya ruang pelayanan dan konseling bagi anak;
d. tersedianya ruang tunggu atau bermain bagi anak yang berjarak aman dari ruang tunggu pasien;
e. tersedianya ruang air susu ibu;
f. terdapat tanda peringatan dilarang merokok sebagai kawasan tanpa rokok;
g. tersedianya sanitasi lingkungan puskesmas yang sesuai gambar;
h. tersedianya sarana dan prasarana bagi anak penyandang disabilitas;
i. cakupan bayi kurang dari 6 (enam) bulan yang mendapatkan air susu ibu;
j. cakupan pelayanan konseling kesehatan peduli remaja;
k. menyelenggarakan tata laksana kasus kekerasan terhadap anak;
l. tersedianya data anak yang memperbolehkan pelayanan kesehatan anak;
m. pusat informasi tentang hak anak atas kesehatan;
n. adanya mekanisme untuk menampung suara anak; dan o. pelayanan penjangkauan kesehatan anak.
Bagian Kedua
Tahapan Pelayanan Kesehatan Ramah Anak Pasal 21
Pelayanan Kesehatan Ramah Anak sebagaimana dmaksud dalam Pasal 20 dilaksanakan melalui tahapan:
a. persiapan;
b. perencanaan; dan c. pelaksanaan.
Pasal 22
Tahapan persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf a meliputi:
a. melakukan sosialisasi pemenuhan hak dan perlindungan anak kepada pegawai di lingkungan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Ramah Anak;
b. melakukan pemetaan pemenuhan hak dan perlindungan anak serta menyusun rekomendasi hasil pemetaan;
c. membuat kebijakan Pelayanan Kesehatan Ramah Anak; dan d. membentuk tim pelaksana Pelayanan Kesehatan Ramah Anak.
Pasal 23
Tahapan perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf b, dilaksanakan dengan menyusun rencana kegiatan dan anggaran untuk mewujudkan pelayanan kesehatan ramah anak.
Pasal 24
Tahapan pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf c yaitu melaksanakan rencana pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Ramah Anak.
Pasal 25
Perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 dan pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dilakukan oleh tim pelaksana Fasilitasi Kesehatan Ramah Anak.
Bagian Ketiga
Tim Pelaksana Fasilitasi Pelayanan Kesehatan Ramah Anak Pasal 26
(1) Gugus Tugas KLA dalam melaksanakan Fasilitasi Pelayanan Kesehatan Ramah Anak membentuk tim pelaksana Fasilitasi Pelayanan Kesehatan Ramah Anak.
(2) Tim pelaksana Fasilitasi Pelayanan Kesehatan Ramah Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas:
a. mengoordinasikan berbagai upaya pengembangan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Ramah Anak;
b. melakukan sosialisasi pentingnya Fasilitas Pelayanan Kesehatan Ramah Anak;
c. menyusun dan melaksanakan rencana pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Ramah Anak;
d. memantau proses pengembangan Pelayanan Kesehatan Ramah Anak; dan
e. mengidentifikasi potensi, kapasitas, kerentanan, dan ancaman untuk mengembangkan Pelayanan Kesehatan Ramah Anak.
(3) Tim pelaksana Fasilitasi Pelayanan Kesehatan Ramah Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan pimpinan fasilitasi pelayanan kesehatan pemerintah dan non pemerintah.
BAB VI
RUANG BERMAIN RAMAH ANAK Bagian Kesatu
Umum Pasal 27
(1) Setiap penyelenggara fasilitas pelayanan publik, taman bermain anak, pusat perbelanjaan, perkantoran, Pemerintah Daerah, dan swasta menyediakan RBRA.
(2) RBRA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pemenuhan hak anak untuk beristirahat, memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi mengembangkan diri.
(3) RBRA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas ruang bermain di dalam ruangan dan di luar ruangan.
Bagian Kedua Persyaratan
Pasal 28
(1) Fasilitas RBRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 harus memenuhi persyaratan.
(2) Persyaratan fasilitas RBRA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. penetapan lokasi;
b. pemanfaatan;
c. kemudahan;
d. material;
e. vegetasi;
f. sirkulasi udara;
g. peralatan bermain dan peralatan lingkungan;
h. keselamatan;
i. keamanan;
j. kesehatan dan kebersihan;
k. kenyamanan; dan l. pencahayaan.
Pasal 29
Penetapan lokasi fasilitas RBRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf a harus memenuhi ketentuan lokasi, dilarang:
a. di dalam area inti pengelolaan atau tempat pemilahan sampah;
b. di dalam area inti kegiatan pertambangan; dan c. di dalam area sepadan jalan arteri dan kolektor.
Pasal 30
Pemanfaatan fasilitas RBRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf b harus memenuhi ketentuan:
a. sesuai dengan peruntukan pemanfaatan ruang berdasarkan perencanaan tata ruang; dan
b. kesesuaian hubungan kerjasama antara pemilik lahan dengan pengembang lahan.
Pasal 31
Kemudahan fasilitas RBRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf c meliputi harus memenuhi ketentuan:
a. kemudahan penggunaan bagi anak, termasuk anak disabilitas, anak difabilitas, dan anak marjinal;
b. tidak ada biaya penggunaan atau tiket masuk; dan c. sarana pendukung menuju area bermain sangat baik.
Pasal 32
Material fasilitas RBRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf d harus memenuhi ketentuan:
a. durabilitas sesuai dengan fungsi;
b. sesuai norma standar prosedur keselamatan tentang penggunaan material bermain; dan
c. penggunaan material dari bahan lokal atau dalam negeri yang murah dan mudah didapat.
Pasal 33
Vegetasi fasilitas RBRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf e harus memenuhi ketentuan:
a. volume penggunaan vegetasi endemik lokal pada lokasi di dalam ruangan dan di luar ruangan sebagai usaha dari pengembangan ilmu pengetahuan dan konservasi; dan
b. volume penggunaan vegetasi endemik lokal pada lokasi di dalam ruangan dan di luar ruangan sebagai kontribusi RBRA terhadap kelestarian ekosistem yang ada, seperti O2 (oksigen) atau penyerapan CO2 (karbon dioksida).
Pasal 34
Sirkulasi udara fasilitas RBRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf f, harus memenuhi ketentuan memiliki kualitas udara yang sangat baik pada sirkulasi udara, baik sirkulasi udara alami atau sirkulasi udara buatan.
Pasal 35
Peralatan bermain dan peralatan lingkungan fasilitas RBRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf g harus memenuhi ketentuan:
a. perlengkapan bermain yang digunakan sesuai untuk ruang bermain atau ruang fungsi jenis;
b. kualitas sambungan antar bagian dari wahana bermain dan peralatan lingkungan terpasang baik, tidak mudah lepas, dan hanya bisa dilepas dengan alat bantu;
c. semua sambungan wahana bermain dan peralatan lingkungan terlindungi dengan pelindung yang bertekstur lembut;
d. wahana bermain dan peralatan lingkungan yang terbuat dari besi terlindungi dari pancaran sinar matahari langsung, terletak pada daerah teduh, atau menggunakan pelapis anti panas;
e. perlengkapan bermain dan peralatan lingkungan terlindungi dari karat dan cat terkelupas atau dibungkus selubung dari karet;
f. wahana bermain dan peralatan lingkungan yang terbuat dari kayu tahan terhadap rayap namun bebas pestisida; dan
g. sudut pada peralatan bermain dan peralatan lingkungan tumpul dan aman.
Pasal 36
Keselamatan fasilitas RBRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf h harus memenuhi ketentuan:
a. rencana fisik bangunan tempat ruang bermain anak, ruang terbuka hijau, dan ruang terbuka biru pada tapak ruang bermain anak harus memenuhi persyaratan keselamatan dan ketentuan aksesibilitas untuk anak difabel, disabilitas, dan manula; dan
b. tersedianya perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan yang memadai.
Pasal 37
Keamanan fasilitas RBRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf i harus memenuhi ketentuan:
a. bebas dari gangguan lalu lintas, gangguan saat menuju tempat bermain, atau gangguan pada saat sedang bermain;
b. jauh dari sumber potensi bahaya baik bencana alam atau bencana akibat perbuatan manusia;
c. material tidak menghasilkan polutan yang menyebabkan anak sakit saat bermain dan setelah bermain;
d. vegetasi aman atau tidak menimbulkan gangguan pada anak seperti tertimpa, tertusuk, tersayat, dan teracuni oleh tanaman atau bagiannya;
e. terdapat petugas keamanan, satpam, atau relawan dari masyarakat ataupun profesional; dan
f. terdapat closed circuit television, peluit keamanan, dan papan informasi tentang tata cara dan tata tertib pemanfaatan ruang bermain anak dan perlengkapannya.
Pasal 38
Kesehatan dan kebersihan fasilitas RBRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf j harus memenuhi ketentuan:
a. desain tapak, persil, atau kavling, gedung, peralatan bermain, material, vegetasi, struktur, dan konstruksi ruang bermain anak mengacu kepada aspek kesehatan;
b. tidak ada pencemaran yang membahayakan kesehatan baik yang bersumber dari bencana alam maupun bencana akibat perbuatan manusia;
c. pada setiap ruang bermain anak terdapat sistem pemeliharaan ruang bermain anak dengan standar higenitas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
d. pada setiap ruang bermain anak ada tempat sampah terpilah, organik, dan non organik, tempat cuci tangan, dan toilet anak.
Pasal 39
Kenyamanan fasilitas RBRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf k harus memenuhi ketentuan:
a. desain tapak, persil, atau kavling, gedung, peralatan bermain, material,
vegetasi, struktur, dan konstruksi ruang bermain anak mengacu kepada aspek kenyamanan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
b. terdapat toilet umum dan suplai air bersih; dan
c. terdapat air minum mancur, tempat mencuci tangan, dan toilet ramah anak.
Pasal 40
Pencahayaan fasilitas RBRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf harus memenuhi ketentuan:
a. pencahayaan alami maksimal;
b. pencahayaan yang tidak menyilaukan untuk ruang dalam, dan pencahayaan yang cukup terang di malam hari untuk ruang luar; dan c. sumber pencahayaan cadangan untuk ruang bermain anak di dalam
ruangan dan di luar ruangan.
Bagian Ketiga Tahapan Pasal 41
Pengembangan RBRA dilaksanakan melalui tahapan:
a. persiapan;
b. perencanaan; dan c. pelaksanaan.
Pasal 42
Tahapan persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf a meliputi:
a. melakukan persiapan lokasi atau tempat yang akan dibangun ruang bermain ramah anak di dalam ruangan atau di luar ruangan;
b. melakukan pemetaan kebutuhan anak yang akan menggunakan fasilitas ruang bermain ramah anak dan menyusun rekomendasi hasil pemetaan;
c. membuat kebijakan tentang RBRA; dan
d. membentuk tim pelaksana pengembangan RBRA.
Pasal 43
Tahapan Perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf b dilaksanakan dengan menyusun rencana kegiatan dan anggaran untuk mewujudkan pengembangan RBRA.
Pasal 44
Tahapan Pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf c yaitu melaksanakan rencana pelaksanaan pengembangan RBRA.
Pasal 45
Perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 dan pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 dilaksanakan oleh tim pelaksana pengembangan RBRA.
Bagian Keempat Tim Pelaksana
Pasal 46
(1) Gugus Tugas KLA dalam pengembangan RBRA membentuk tim pelaksana pengembangan RBRA.
(2) Tim pelaksana pengembangan RBRA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas:
a. mengoordinasikan berbagai upaya pengembangan RBRA;
b. melakukan sosialisasi pentingnya fasilitas RBRA;
c. menyusun dan melaksanakan rencana pengembangan RBRA;
d. memantau proses pengembangan RBRA; dan
e. mengidentifikasi potensi, kapasitas, kerentanan, dan ancaman untuk mengembangkan RBRA;
(3) Tim pelaksana pengembangan RBRA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Kepala Pengelola RBRA.
BAB VII
PEMANTAUAN DAN EVALUASI Bagian Kesatu
Umum Pasal 47
(1) Gugus Tugas KLA melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan KLA.
(2) Pemantauan dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan mulai dari tingkat kelurahan, tingkat kecamatan, sampai dengan tingkat kota.
(3) Pemantauan dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan antara lain:
a. bersamaan dengan pertemuan Gugus Tugas KLA: dan/atau b. kunjungan lapangan.
Bagian Kedua Pemantauan
Pasal 48
(1) Pemantauan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan hambatan dalam penyelenggaraan KLA.
(2) Pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara berkala setiap 6 (enam) bulan sekali.
(3) Pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada setiap tahapan:
a. persiapan
b. perencanaan; dan c. pelaksanaan.
(4) Pemantauan pelaksanaan KLA sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c dilakukan terhadap:
a. proses input;
b. output; dan
c. kemajuan target pencapaian yang hendak dicapai untuk memenuhi seluruh Indikator KLA.
Bagian Ketiga Evaluasi Pasal 49
(1) Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dilakukan untuk menilai hasil pelaksanaan penyelenggaraan KLA.
(2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setiap 1 (satu) tahun sekali.
(3) Evaluasi terhadap penyelenggaraan KLA dilakukan pada setiap tahapan:
a. persiapan
b. perencanaan; dan c. pelaksanaan.
(4) Evaluasi pelaksanaan KLA sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c dilakukan terhadap keseluruhan proses yang dilakukan dalam rangka pencapaian seluruh indikator KLA.
Pasal 50
(1) Gusus Tugas KLA dalam melakukan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 membentuk tim evaluasi.
(2) Tim evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. tim evaluasi SRA;
b. tim evaluasi Fasilitas Pelayanan kesehatan ramah anak; dan c. tim evaluasi pengembangan RBRA.
(3) Tim evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Walikota.
BAB VIII
SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 51
(1) Walikota berwenang memberikan sanksi administratif bagi dunia usaha,
sekolah, atau penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pasal
6, Pasal 20 (2) Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, Pasal 32, Pasal 33, Pasal 34, Pasal 35, Pasal 36, Pasal 37, Pasal 38, Pasal 39, dan Pasal 40, berupa:
a. teguran lisan;
b. peringatan tertulis; dan c. pencabutan izin.
(2) Pemberian sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan secara bertahap berdasarkan rekomendasi dari Gugus Tugas KLA.
Pasal 52
(1) Dunia usaha, sekolah, atau penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) dikenakan sanksi administratif berupa teguran lisan.
(2) Teguran lisan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan 1 (satu) kali dalam tenggang waktu 2 (dua) bulan.