• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSTRUKSI PERALATAN dan KOMPONEN KUSASI, 2012 BUKU-1. KONSTRUKSI PERALATAN dan KOMPONEN PESAWAT LIFT (ELEVATOR) Ditulis oleh: Ir.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KONSTRUKSI PERALATAN dan KOMPONEN KUSASI, 2012 BUKU-1. KONSTRUKSI PERALATAN dan KOMPONEN PESAWAT LIFT (ELEVATOR) Ditulis oleh: Ir."

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BUKU-1

KONSTRUKSI PERALATAN dan KOMPONEN PESAWAT LIFT

(ELEVATOR)

Ditulis oleh:

Ir. Sarwono Kusasi

(2)

KATA PENGANTAR

Materi pelatihan ini disajikan sebagai pendahuluan dalam rangka program pelatihan system transportasi vertical dalam gedung (TVG). Bagi mereka yang terlah terjun dalam praktek lapangan sebagai pemasang instalasi (fitter) lift selama dua atau tiga tahun tentunya telah paham dengan tiap-tiap komponen dan fungsinya.

Kami berpendapat pelatihan pengenalan konstruksi peralatan harus dibarengi dengan tinjauan dilapangan pada instalasi beberapa jenis lift yang berbeda kecepatannya, agar memahami bahwa banyak komponen yang berbeda bentuk dan konstruksinya berdasarkan beda kecepatan dan kapasitas daya angkutnya. Tinjauan dilapangan harus dibimbing oleh tenaga ahli atau terampil dibidang lift, dan harus memperhatikan syarat-syarat keselamatan, terutama saat naik keatas atap kereta atau masuk kedalam pit harus mengikuti SOP pemeriksaan.

Setelah memahami materi ini, peserta pelatihan tidak canggung untuk mengikuti pelatihan- pelatihan berikutnya jika diperlukan, dan banyak diantaranya materi pelatihan dalam tahap persiapan, yaitu :

1. Pekerjaan pemasangan dan perakitan 2. Teknik perawatan dan Reparasi (perbaikan) 3. Konstruksi peralatan eskalator

4. Manajemen Perawatan

5. Syarat-syarat K3 operasi pesawat lift dan eskalator 6. Perencanaan teknis sistem mekanik lift

7. Pemilihan sistem TVG

8. Panduan tata cara pemeriksaan (audit) 9. Prinsip kinematika gerakan

10. Kendali operasi kerja dan kendali gerak (drive)

11. Tata cara pengujian layak fungsi sistem dan pelaporan

Demikianlah, mudah-mudahan informasi kata pengantar ini berguna adanya. Kami tetap menantikan saran dari rekan-rekan agar tulisan ini makin sempurna.

Jakarta, Mei 2012 Penulis

(3)

URAIAN SINGKAT

1. Judul Pelatihan : Instalasi Lift dan Eskalator

2. Mata Pelajaran : “Konstruksi Peralatan dan Komponen”

3. Peserta : Tehnisi lapangan, Perencana dan Penyelia bangunan

4. Waktu : 2 JP

5. Uraian Singkat : Tiap-tiap bagian dari suatu pesawat lift mempunyai fungsi tersendiri, baik yang aktif bergerak, maupun yang diam (tidak bergerak). Juga ada bagian-bagian yang sifatnya sebagai pelengkap saja (sebutlah asesories), sehingga tidak ada pengaruh terhadap kerja pesawat, tetapi tidak boleh diabaikan. Bahan dan bentuk rekayasa komponen mempunyai maksud-maksud tertentu dalam melaksanakan fungsinya.

6. Tujuan Instruksional :

A. Umum : Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta akan mampu mengenali fungsi tiap-tiap komponen lift.

B. Khusus : Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta pelatihan akan mampu :

1. Menyebutkan fungsi jenis-jenis komponen.

2. Membedakan komponen utama dan pelengkap.

7. Acuan : 1. Vertical Transportation, Elevators and Escalators 2ndedition 1982, George R. Strakosch

John Waley & Sons, New York.

2. Elevator mechanical design.

Lubomir Janousky

3. Standar Nasional Indonesia (SNI)

SNI 03-2190-1999 “Syarat-syarat Umum Konstruksi Lift yang dijalankan dengan motor traksi”.

(4)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ……….. i

Uraian Singkat ……… ii

Daftar Isi ……….. iii

BAB I : Pendahuluan ... 1

BAB II : Komponen yang tetap (tidak berpindah tempat) ... 6

1. Rel pemandu (guide rails) ... 6

2. Penyangga dan peredam (buffer) ... 11

3. Mesin, motor dan rem mesin (machine brake) ... 11

BAB III : Komponen Bergerak (moving components) ... 22

1. Kereta (car) ... 22

2. Bobot imbang (counterweight) ……….. 23

3. Tali baja traksi (steel wire ropes) ……….. 23

4. Pintu lantai dan pintu kereta (landing doors) ... 25

BAB IV : Komponen Pelengkap ... 29

1. Sinyal dan Indikator ... 29

2. Saklar (switches) ... 34

3. Pesawat pengaman kereta (safety device) ... 35

BAB V : Kesimpulan ... 46

BAB VI : Latihan ……….……. 48

Lampiran : 1. Kata Padanan ... 50

2. Rujukan ………. 61

3. Daftar Gambar ……… 62

4. Daftar Singkatan ……… 63

(5)

BAB I PENDAHULUAN

1. Ditinjau dari sistem transportasi vertikal dalam gedung (TVG), secara garis dasar komponen lift dibagi menjadi empat bagian, yaitu :

Bagian 1 : Komponen diam (tidak berpindah tempat) a. Rel pemandu (guide rails)

b. Penyangga / peredam (buffer) c. Mesin traksi / mesin hidrolik d. Motor penggerak (drive)

e. Pintu - pintu lantai (landing doors) Bagian 2 : Komponen-komponen bergerak

a. Kereta (car, cabin)

b. Bobot imbang (counterweight) c. Tali baja tarik (hoist ropes) Bagian 3 : Komponen pelengkap

a. Di ruang mesin : kendali, pengindra kecepatan (speed governor) b. Di ruang luncur : sinyal, saklar-saklar dan indikator

Bagian 4 : Alat pengaman atau keselamatan a. Mekanis (safety devices) b. Elektris (switches)

Untuk menghasilkan kerja yang sempurna semua komponen saling mendukung, masing-masing sesuai peranan fungsinya. Tidak semua komponen akan diuraikan disini karena telah/akan dibahas pada mata pelajaran lain, diantaranya pekerjaan pemasangan dan perawatan (lihat kata pengantar).

2. Sejarah perkembangan pesawat lift sejak 1855 telah menghasilkan banyak sekali penemuan-penemuan jenius, dan bermacam-macam paten. Sebagai contoh, rel pemandu pada masa awal lift komersil, dibuat dari kayu dan berbentuk profil bulat atau segi empat. Pada waktu itu operasi lift berangkat dan berhenti harus dilakukan oleh seorang pelayan (atendan) didalam kereta yang memutar roda kemudi. Atendan juga harus membukakan pintu secara manual jika kereta telah sampai, dan menutup pintu dahulu jika lift mau berangkat.

(6)

3. Sejak tahun 1924 pesawat lift telah mengalami kemajuan luar biasa, karena serba electric, yaitu electric signal control, electric door operation. Seorang atendan masih diperlukan untuk menutup pintu cukup dengan menekan tombol. Atendan harus memutar roda kendali untuk memulai berangkat. Hebatnya lift telah pandai berhenti sendiri pada tiap-tiap lantai dimana ada calon penumpang, dan akan berbalik arah dengan sendirinya, jika semua perlayanan pada arah tertentu diselesaikan.

4. Sejak tahun 1955 pesawat lift sudah dilengkapi dengan peralatan atau aparatus serba

“electronic”, seperti : rectifiers, transistors, electronic vacum-tube, semi-conductor, dan sebagainya. Secara umum “electric control” berubah menjadi “electronically controlled”

operation.

Istilah - istilah berikut timbul : a. electronic call button b. electronic detector c. electronic digital indicator

d. electronic decoder (tacho, generator atau transducer) e. electronic chime

f. electronic speech sythesizer g. electronic display (liquid crystal)

Seorang atendan tidak diperlukan lagi, karena pesawat lift sudah tahu apa tugasnya, bahkan jika ada seorang atendan, maka akan mengurangi kinerja lift, karena kerja lift lebih mementingkan efisiensi kelompok (group operation). Jika ada seorang atendan dipasang didalam kereta, maka dia lebih cenderung bertugas untuk mengelu-elukan tamu. Di Jepang dikenal dengan nama girl starter.

5. Lift modern dilengkapi dengan saran aparatus yang tidak ada hubunganya dengan operasi lift dan dipasang atas permintaan (bersifat optional). Diantaranya ialah :

a. Information display (biasa dipasang pada hotel)

b. Speech synthesizer (berguna bagi penumpang yang mudah lalai/lupa) c. Close circuit TV (berguna mencegah tindakan jahil)

d. Addressing systems (public address)

(7)

Asesories berikut dipasang dan ada manfaatnya, diantaranya merupakan keharusan:

1. Electronic key card (option) 2. Alarm bell (keharusan)

3. Emergency lighting automatic charger (keharusan) 4. Emergency Rescue Device (ERD atau ARD) (option) 5. Fire operation (keharusan untuk 8 lantai keatas) 6. Earthquake operation pada zona 3 (option) 7. Fasilitas bagi penumpang cacat (option) 8. Intercom didalam kereta (keharusan)

6. Semua komponen lift harus diproduksi mengikuti standar nasional. Pesawat lift yang diimpor, mengikuti standar negara asalnya, umpamanya merk dagang dari USA mengikuti ASME 17.1 dari Jepang mengikuti JIS (Japanese Industrial Standard), dari Eropa mengikuti EN.81, SNI di Indonesia dibuat berdasarkan ASME dan BSI (British Standard Institute), isinya cukup memenuhi kebutuhan, mendukung mutu dan keselamatan. Lihat gambar 1 dan 2.

SNI nomor Judul

SNI 05-2189-1999 Definisi dan Istilah

SNI 03-2190-1999 Syarat-syarat Umum Konstruksi Lift dengan Motor Traksi SNI 03-2190.2-2000 SUK Lift pelayan (dumbwaiter)

SNI 03-6247.1-2000 SUK Lift pasien (bed elevator) SNI 03-6247.2-2000 SUK Lift khusus perumahan SNI 03-6247-2000 SUK Eskalator

SNI 03-2190.1-2000 SUK Lift dengan transmisi hidrolik

SNI 03-6573-2001 Tatacara perancangan sistem transportasi vertikal SNI 03-7017.1-2004 Pemeriksaan dan Pengujian Serah Terima

SNI 03-7017.2-2004 Pemeriksaan dan Pengujian Berkala

SNI 05-7052-2004 Syarat Umum Konstruksi Lift tanpa kamar mesin

(8)

Gambar-1 :

Typical Installation, geared machine

(9)

Gambar-2 :

Typical Installation, gearless machine

(10)

BAB II

KOMPONEN DIAM (stand still components)

1. Rel Pemandu (guide rails)

Fungsi rel ada empat macam, yaitu :

1) Sebagai pemandu jalannya kereta dan bobot imbang.

2) Sebagai penahan gaya-gaya reaksi saaat bongkar muat.

3) Sebagai penahan gaya reaksi saat pesawat pengaman bekerja 4) Sebagai tempat memasang saklar dan tuas (cam).

Rel pemandu dibuat dari baja canai liat (ductile steel) dengan tegangan batas (yield point) maksimal 370 N/mm2biasa disebut structural steel. Pengerjaan mesin dengan skrap (planed) pada muka bidang kepala (web) sampai kehalusan 2,0 m, dan pada bagian kaki (base) tidak dimesin. Kelurusan yang dituntut ialah penyimpangan maksimal (maximum desplacement) 0,3 mm per meter untuk kecepatan lebih rendah dari 240 m/m, sampai 0,2 mm per meter untuk kecepatan mencapai 420 m/m.

Rel-rel yang bengkok, terputir atau berubah bentuk dan sebagainya tidak boleh dipasang, oleh karena itu cara pengepakan dan handling selama transport harus mengikuti aturan, dan petunjuk produsennya.

Rel pemandu harus dipasang secara vertikal dan diikat dengan braket dan diangker baut ke dinding beton ruang luncur. Masing-masing kereta dan bobot imbang bergerak mengikuti sepasang rel yang kekar. Jarak spasi (rentang) braket-braket harus mengikuti perhitungan agar tidak terjadi tegangan tekuk (buckling stress) saat rel berfungsi no.3, menahan gaya reaksi pesawat pengaman.

Tegangan tekuk maksimal yang diizinkan sebesar 140 N/mm2untuk baja mutu st 370.

Batang rel panjang 5 m disambung satu sama lain dengan plat fishplate.

Ada dua versi ukuran rel, yaitu versi Amerika mengikuti ASME dan versi Eropa mengikuti ISO, BS dan EN.81. Berikut ini ukuran fisik dengan berat per meter lari. Rel versi Eropa, mengikuti ISO 7465, perbatang = 5 meter. Contoh beberapa rel tersebut ialah sebagai berikut :

Referensi

Dokumen terkait