IMPLEMENTASI YADNYA SESA SESUAI SASTRA AGAMA HINDU
Oleh:
Ni Gusti Ayu Putu Suryani NIP. 19660915 199903 2 001
UPT-PPKB
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR
"Om Swastyastu"
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan anugerah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu yaitu makalah yang berjudul " IMPLEMENTASI YADNYA SESA SESUAI SASTRA AGAMA HINDU ".
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari yang namanya kata sempurna, baik dari segi tata bahasa, susunan kalimat, maupun isi. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati, kami selaku penulis menerima segala bentuk kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sekalian.
Demikian sepatah kata yang dapat kami sampaikan, kami berharap bahwa makalah ini dapat memberikan wawasan kepada para khalayak umum serta para pembaca sekalian.
"Om Santih, Santih, Santih, Om"
Denpasar, 27 Januari 2020
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Metode Penulisan ... 2
1.4 Tujuan Penulisan ... 2
1.5 Manfaat Penulisan ... 2
BAB II PEMBAHASAN ... 3
2.1 Tata Laksana Yadnya Sesa sesuai Sastra Agama Hindu Hindu ... 3
2.1.1 Hakekat Yadnya dalam Agama Hindu ... 3
2.1.2 Pengertian Yadnya Sesa ... 5
2.1.3 Yadnya Sesa dalam Sastra. ... 6
2.2. Banten Saiban Sebagai Implementasi Yadnya Sesa di Bali... ... 10
2.3 Edukasi Penerapan Yadnya Sesa Sesuai Sastra Sebagai Solusi PenerapanYadnya yang Tergolong Tamasika Yadnya ... 11
BAB III PENUTUP ... 12
3.1 Simpulan ... 12
3.2 Saran ... 12
DAFTAR PUSTAKA ... 13
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan kehidupan manusia di peradaban modern ini semakin marak terjadi. Perkembangan tersebut membawa berbagai perubahan di segala aspek kehidupan manusia baik dari segi sosial, ekonomi, budaya, bahkan cara manusia menjalankan agamanya. Perkembangan teknologi yang memiliki tujuan utama untuk mempermudah dan membantu kehidupan manusia ternyata memiliki pisau dengan dua mata di setiap ujungnya yaitu dampak positif dan negatif untuk manusia itu sendiri..
Perubahan gaya hidup dan pola pikir tidak dapat dihindari di tengah kejayaan dunia globalisasi saat ini, perubahan tersebut pasti terjadi walaupun manusia sudah berusaha meminimalisirnya.
Pulau Bali pun tidak terhindar dari pengaruh globalisasi dan kehidupan modern yang berdampak pada kehidupan masyarakat di Pulau Bali. Perubahan tersebut juga sangat terasa pada kehidupan keagamaan masyarakat, khususnya Agama Hindu di Bali, yang tidak lepas dari budaya masyarakat Bali. Kehidupan beragama dan berbudaya luluh menjadi satu, karena budaya yang dilahirkan tersebut sangat menunjang kehidupan beragama (Subagiasta, 2008).
Namun, di sisi lain hal tesebut juga menimbulkan permasalahan yaitu kebingungan masyarakat Bali dalam membedakan agama dan budaya dan hal tersebut berdampak pada kebiasaan masyarakat melakukan upacara atau yadnya tanpa mengetahui aspek agama dari upacara tersebut. Upacara keagamaan dilakukan tanpa mengetahui filosofi ataupun dasar sastra dari upacara tersebut. Hal tersebutlah yang pada akhirnya menimbulkan kebingungan, rasa resah, dan bahkan keraguan pada Umat Hindu di Bali dalam melaksanakan kewajibannya menjalankan ajaran Agama Hindu.
Padahal, dalam ajarannya, Agama Hindu selalu mengutamakan kedamaian dan kebahagiaan namun pada kenyataannya pada masa ini banyak orang memiliki kehidupan yang tidak damai, tidak bahagia, resah, dan penuh kesedihan. Padahal Agama Hindu menekankan untuk mendapat kedamaian dalam hidup haruslah dilandaskan oleh moral agama yang salah satunya dapat dilakukan dengan yadnya.
Salah satu jenis yadnya terkecil yang dilakukan Umat Hindu sehari-hari adalah Yadnya Sesa atau sering dikenal dengan banten saiban oleh masyrakat Hindu di Bali
namun pada penerapannya masih banyak masyarakat yang hanya melakukan upacara ini dengan alasan kebiasaan atau dilakukan turun temurun tanpa mengetahui dasar sastra dalam kitab suci agama Hindu.
Oleh sebab itu sangat penting untuk mengetahui hakekat upakara untuk upacara Agama Hindu dimulai dari yadnya terkecil yaitu Yadnya Sesa, agar betul-betul dipahami benar, sehingga upacara yang dilaksanakan bisa tepat dan bernilai keagamaan dan sakral (religius). Selain itu menjalankan upacara dalam agama haruslah mengetahui sastra yang menjadi pondasi upacara tersebut dilaksanakan. Agar agama tidak menjadi beban, tetapi betul-betul dapat menjadi sarana menuju kebahagiaan lahir dan batin (Tanu, 2016).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud Yadnya Sesa?
2. Atas dasar sastra apa Yadnya Sesa dilaksanakan?
3. Bagaimana penerapan Yadnya Sesa oleh masyrakat Hindu di Bali?
4. Apa solusi permasalahan penerapan mebanten saiban yang dilaksanakan masyarakat tanpa pengetahuan sastra Hindu?
1.3 Metode Penulisan
Dalam menulis makalah ini, penulis menggunakan metode studi pustaka dimana data-data dalam tulisan ini diambil dari buku dan jurnal-jurnal resmi yang dapat dibuktikan kebenarannya.
1.4 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui Yadnya Sesa.
2. Untuk mengetahui sastra Hindu yang mendasari Yadnya Sesa.
3. Untuk mengetahui implementasi Yadnya Sesa di Bali.
4. Untuk mengetahui solusi permasalahan penerapan mebanten saiban yang dilaksanakan masyarakat tanpa pengetahuan sastra.
1.5 Manfaat Penulisan
1. Dapat mengetahui makna Yadnya Sesa yang benar sesuai sastra Hindu.
2. Dapat menerapkan Banten Saiban sebagai implementasi Yadnya Sesa di Bali dengan benar.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Tata Laksana Yadnya Sesa sesuai Sastra Agama Hindu Hindu 2.1.1 Hakekat Yadnya dalam Agama Hindu
Dalam ajaran Hindu, Tuhan di puja sebagai pengisi berbagai aspek kehidupan, tempat ruang dan waktu. Hampir tidak ada aspek kehidupan yang lepas dari kemahakuasaan Hyang Widhi. Pada era modern ini tidak jarang orang mengartikan bahwa yadnya hanyalah upacara ritual keagamaan. Pemahaman ini tidak sepenuhnya salah karena upacara ritual keagamaan adalah bagian dari yadnya.
Yadnya berasal dari Bahasa Sansekerta dari akar kata "Yaj" yang artinya memuja. Secara etimologi pengertian Yadnya adalah korban suci secara tulus ikhlas dalam rangka memuja Hyang Widhi (Suparta, 2002). Pada dasarnya yadnya adalah penyangga dunia dan alam semesta, karena alam dan manusia diciptakan oleh Hyang Widhi melalui yadnya.
Pada masa srsti yaitu penciptaan alam Hyang Hidhi dalam kondisi Nirguna Brahma (Tuhan dalam wujud tanpa sifat) melakukan Tapa menjadikan diri beliau Saguna Brahma (Tuhan dalam wujud sifat Purusha dan Pradhana). Dari proses awal ini jelas bahwa awal penciptaan awal dilakukan Yadnya yaitu pengorbanan diri Hyang Widhi dari Nirguna Brahma menjadi Saguna Brahma. Selanjutnya semua alam diciptakan secara evolusi melalui Yadnya. Dalam Bhagawadgita Bab III, sloka 10 disebutkan (Maswinara, 1997):
saha-yajdaa prajah sdupwa purowaca prajapatih; anena prasawiuyadham eua wo 'stw iupa-kama-dhuk
Artinya: Dahulu kala Prajapati (Hyang Widhi) menciptakan manusia dengan yajnya dan bersabda; dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk keinginanmu.
Dari satu sloka di atas jelas bahwa manusia saja diciptakan melalui yadnya maka dari itu dalam menjalankan kehidupan beragamapun manusia harus melakukan yadnya.
Manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya sebab kesempurnaan dan kebahagiaan tak mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan yaitu dengan beryadnya.
Upacara dalam rangka pelaksanaan ajaran Agama Hindu dapat digolongkan menjadi lima kelompok besar berdasarkan sasaran dalam pelaksanaannya yang disebut Panca Yajna yang terdiri dari (Suparta, 2002) :
1) Dewa Yajna yaitu korban suci untuk Sang Hyang Widhi.
2) Rsi Yajna yaitu korban suci untuk para Rsi.
3) Manusia Yajna yaitu korban suci untuk manusia.
4) Pitra Yajna yaitu korban suci untuk para leluhur.
5) Bhuta Yajna yaitu korban suci untuk semua makhluk di luar manusia.
Dalam makalah ini kita akan berfokus pada penerapan Dewa Yadnya,
Bhuta Yadnya, dan Pitra yadnya yaitu melalui Banten saiban atau sering dikenal dengan Yadnya Sesa di Bali.
Dari segi kualitas yadnya dapat dibedakan atas:
1. Satwika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan dasar utama sradha bakti, lascarya, dan semata melaksanakan sebagai kewajiban. Apapun bentuk yadnya yang dilakukan seperti; persembahan, pengendalian diri, punia, maupun jnana jika dilandasi bakti dan tanpa pamrih maka tergolong Satwika Yadnya. Yadnya dalam bentuk persembahan / upakara akan sangat mulia dan termasuk satwika jika sesuai dengan sastra agama, daksina, mantra, Annasewa, dan nasmita.
2. Rajasika Yadnya yaitu yadnya dilakukan dengan motif pamrih serta pamer kemewahan, pamer harga diri, bagi yang melakukan punia berharap agar dirinya dianggap dermawan. Seorang guru/ pendarmawacana memberikan ceramah panjang lebar dan berapi-api dengan maksud agar dianggap pintar; semua bentuk yadnya dengan motif di atas tergolong rajasika yadnya. Seorang yang melakukan tapa, puasa tetapi dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan, kesaktian fisik, atau agar dianggap sebagai orang suci juga tergolong yadnya rajasik.
3. Tamasika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan tanpa sastra, tanpa punia, tanpa mantra dan tanpa keyakinan. Ini adalah kelompok orang yang beryadnya tanpa arah tujuan yang jelas, hanya ikutikutan. Contoh orang-orang yang tegolong melaksanakan tamasikan yadnya antara lain orang yang pergi sembahyang ke pura hanya ikut-ikutan, malu tidak ke pura karena semua tetangga pergi ke pura, orang gotong royong di pura atau di tempat umum juga hanya ikut-ikutan tanpa menyadari manfaatnya. Termasuk dalam katagori ini adalah orang yang beryadnya karena
terpaksa. Terpaksa maturan karena semua orang maturan. Terpaksa memberikan punia karena semua orang melakukan punia. Terpaksa puasa karena orang-orang berpuasa. Jadi apapun yang dilaksanakannya adalah sia-sia, tiada manfaat bagi peningkatan karmanya.
Dalam Kitab Manawa Dharmasastra V. 109 menyatakan (Pudja, 1999):
"Adbhirgatrani suddhayanti mana satyena suddhayanti, Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti"
Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar (Adi, 2019)
Berdasarkan sloka tersebut, dapat kita pahami bahwa dalam melaksanakan yadnya haruslah disasari oleh pengetahuan yang benar dalam hal ini segala perilaku beragama dalam Hindu diatur dalam sastra yang dapat berupa weda, lontar, dan kitab suci Hindu lainnya. Untuk itu, setiap yadnya yang kita lakukan tidaklah boleh hanya dilakukan sekedar warisan turun temurun yang menjadi kebiasaan masyarakat di Bali tanpa megetahui nilai filosofis dari yadnya tersebut. Yadnya seperti itu adalah Tamasika Yadnya yang pada pembahasan sebelumnya adalah yadnya yang dilakukan tanpa mantra, sastra, dan tanpa kepercayaan.
Dari gambaran sederhana di atas dapat disimpulkam bahwa demi mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup maka kita harus rela mengorbankan sebagian dari milik kita. Hyang Widhi akan merajut potongan-potongan pengorbanan kita dan menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. Tentu saja pengorbanan ini harus dilandasi rasa cinta, tulus dan ikhlas. Tanpa dasar tersebut maka suatu pengorbanan bukanlah yadnya.
2.1.2 Pengertian Yadnya Sesa
Yadnya Sesa merupakan persembahan harian yang dihaturkan setelah selesai memasak kepada Tuhan, roh leluhur, dan para butha merupakan praktek memuliakan semua ciptaan Tuhan. Disamping itu, yadnya sesa dimaksudkan agar apa yang dimasak dan kemudiaan dimakan, dipersembahkan terlebih dahulu kepada Sang Pencipta sebagai simbolilasi agar manusia tidak dianggap pencuri. Sebab, segala makanan yang dimakan manusia pada hari itu adalah anugerah dari Tuhan oleh sebab itu Yadnya Sesa
dihaturkan sebagai simbol rasa syukur atas anugerah-Nya. Mengambil dan mengkomsumsi cipataan-Nya tanpa terlebih dahulu mempersembahkannya adalah tindakan dosa (Yudha, 2018)
Yadnya sesa, persembahan kecil dan sederhana disebut saiban. Disejajarkan dengan rayunan, sodaan, ajuman yang artinya persembahan berupa makanan. Umat Hindu meyakini bahwa apa yang diterimanya bersumber dari Hyang Widhi oleh karenanya kita punya kewajiban mensyukuri kembali dengan menghaturkannya.
Bhagawadgita menyebutkan Tuhan menciptakan semesta berkat Yadnya oleh karenanya sudah menjadi kewajiban kita untuk beryadnya.
Sarana yadnya sesa berupa hasil masakan dapur: nasi, garam, lauk pauk beralaskan daun atau sejenis sebagai wadah banten. Disiapkan juga tirta (air suci) dan dupa. Di atas daun disuguhkan sejumput nasi, garam dan lauk pauk hasil masakan sukla, bukan surudan, sebagai ungkapan 'suksmaning manah' kita telah dikaruniai amerta, sebagai anugerah yang bisa kita nikmati bersama keluarga.
2.1.3 Yadnya Sesa dalam Sastra
Semua perbuatan kebajikan dapat diartikan sebagai 'Yadnya' atau korban suci.
Sedangkan 'Sesa' berasal dari kata 'Wisesa' yang artinya religius sebagai simbol dari kekuatan-kekuatan di luar diri manusia yang dilaksanakan untuk memelhara keseimbangan Sarwa Prani (alam semesta beserta isinya). Yadnya sesa adalah bagian- bagian dari Butha Yadnya yang ada dalam Agama Hindu. Yadnya sesa merupakan yadnya sehari-hari yang sangat sederhana namun memiliki makna yang dalam.
Upacara yadnya sesa yang sering disebut ngejot atau banten saiban adalah pelaksanaan yadnya yang dilakukan sehari-hari (Nimita Karma). Mebanten saiban biasanya dilakukan sesudah kita memasak di dapur. Pelaksanaan upacara ini memakan salah satu wujud bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, bahwa sebelum menyantap makanan, terlebih dahulu seseorang harus mempersembahkannya untuk Tuhan yang telah menciptakan segala yang ada sebagai wujud rasa terima kasih kita kepada Tuhan.
Jika kita tidak melakukan upacara mebanten saiban sama artinya kita mencuri karena tidak memohon izin kepada-Nya (Suparta, 2002).
Tujuan dari yadnya sesa yaitu:
1. Membuat sifat welas asih serta penyayang terhadap sesamanya,
2. Berkurangnya perasaan negatif yang telah menguasai diri manusia,
3. Menumbuhkan sifat kerohanian, sehingga menyebabkan orang-orang menjadi sabar dan tenang menghadapi cobaan,
4. Menumbuhkan sifat sosial, suka berdana punia dan tidak mempunyai sifat egois, dan
5. Yadnya juga sebagai sarana pendidikan, yaitu dengan menciptakan tempat pelaksanaan yadnya dari yang tidak suci menjadi suci. Itulah sebabnya alat-alat yang dipakai untuk upacara harus disucikan terlebih dahulu dengan upacara prayascita.
Maka seseorang termotivasi untuk berpikir suci dan berprilaku yang baik sesuai ajaran agama.
Tujuan Yadnya Sesa adalah moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Tujuan yadnya menurut Bhagawadgita adalah kebahagian dan pembebasan dosa.
"Yajnasistasinah santo, mucyante sarvakilbisaih, bhujante te tv agham papa, ye pacanty atma-karanat"
Artinya: Dipelihara oleh yadnya, para dewa akan memberimu kesenangan yang kau ingini. Ia menikmati pemberian-pemberian yang kau ingini. Ia yang menikmati pemberian ini tanpa memberi balasan kepadanya adalah pencuri. Orang-orang yang baik memakan apa yang tersisa dari yadnya, mereka terlepas dari dosa. Tapi mereka yang jahat yang menyediakan makanan hanya untuk kepentingan sendiri, mereka makan dosanya sendiri (Bhagawadgita 111.12-13).
Berdasarkan sloka di atas, dapat kita pahami bahwa nilai filosofis dari Yadnya Sesa memiliki makna bentuk rasa syukur dan terimakasih atas anugerah Tuhan, dimana rasa tersebut diwujudkan dengan menyisihkan makanan yang sukla untuk dihaturkan kepada Tuhan sebelum manusia dapat memakannya. Segala sesuatu yang manusia lakukan haruslah berdasarkan yadnya yang berarti pengorbanan, selain makna tersebut Yadnya Sesa juga dapat diartikan sebagai sebuah pengendalian diri, dimana manusia dapat mengendalikan rasa laparnya karena sebelumnya haruslah menghaturkan Yadnya Sesa. Hal ini merupakan cara manusia untuk selalu mengingat Tuhan di setiap kegiatan yang dilakukan bahkan sebelum makan, karena Tuhan sebagai Brahman merupakan sumber dari segala yang ada di dunia.
Dalam tata letak pelaksanaan upacara Yadnya Sesa adalah di tempat-tempat yang dianggap penting oleh umah Hindu, didasarkan melalui kitab Manawa Dharma
Sastra Bab 111.68.22, Yadnya Sesa atau Banten Saiban di letakkan dilima tempat antara lain:
1. Di altar perapian atau di dapur. Persembahan diletakkan di dekat api atau kompor.
Persembahaan ditunjukan kepada Dewa Brahma. Melalui persaksian api inilah persembahan Yadnya Sesa diterima, karena api dipandang sebagai saksi dan manifsetasi dari Tuhan dan api juga merupakan mulutnya para dewa di dalam fungsi sebagai pelebur segala yang ada (pralina).
2. Di tempat penyimpanan air. Persembahan diletakan di dekat sumur maupun di kamar mandi atau penyimpanan (jambangan) air. Persembahan ditunjukan kepada Dewa Wisnu (Dewa yang menguasai air), yaitu lambang sebagai penyucian segala kotoran. Di samping itu air adalah lambang dari sumber kehidupan, merupakan salah satu unsur dari Panca Maha Bhuta, salah satu sarana yang sangat penting dalam ajaran Agama Hindu.
3. Di atas genteng/atap rumah, persembahan ditunjujkan kepada Dewa Bayu (Dewa Udara). Dengan melakukan persembahaan ini, manusia diingatkan untuk selalu menghormati udara dan tidak mencemarkanya, sebab tanpa udara mustahil bagi manusia untuk hidup dan bernafas.
4. Di pekarang rumah, persembahan diletakan di atas tanah dan ditunjukan kepada Dewi Pratiwi dan Bumi sebagai simbol kebijksanaan dan kasih sayang yang selalu memberikan makanan (hasil bumi) kepada seluruh mahluk hidup.
5. Di penunggu karang, ditunjukan kepada Dewa Akasa atau Kehampaan, yang merukapan simbol Tuhan yang tiada akhirnya, asal mula dari segala yang ada.
Karena itu persembahan Yadnya Sesa di letakan di tugu yang diyakini sebagai simbol Tuhan yang senantiasa mengawasi perjalanan kehidupan seluruh umat manusia.
Namun, pada kenyataannya masih banyak masyarakat di Bali yang menghaturkan Yadnya Sesa tanpa mengetahui aturan yang telah tertulis dalam kitab Manawa Dharma Sastra tersebut. Tak jarang masyarakat menghaturkan Yadnya Sesa di setiap pelinggih yang ada di rumahnya atau tidak menghaturkan Yadnya Sesa sama sekali. Menghaturkan Yadnya Sesa yang benar haruslah sesuai aturan sehingga Yadnya tersebut dapat digolongkan sebagai Satwika Yadnya, tidak berlebihan atau kekurangan.
Menurut Bapak A. A. Gede Raka Mas, Yadnya Sesa dilakukan setiap pagi sehabis memasak di dapur, dianjurkan untuk mengambil selembar daun pisang, jika tidak ada diperbolehkan juga menggunakan selembar kertas yang bersih, atau juga piring kecil dari plastik atau dari wadah lain asalkan bersih. Kemudian daun pisang atau kertas tersebut di potong-potong. Dibagi berdasarkan besar kecilnya luas bangunan tempat tinggal keluarga yang melakukan persembahan Yadnya Sesa. Banyaknya jumlah persembahan tergantung banyaknya tempat-tempat yang di anggap penting oleh umat Hindu. Adapun isi dari banten saiban yaitu nasi ditambahkan dengan garam dan lauk pauk yang sudah dimasak saat itu, tidak ada keharusan lauk yang digunakan, semua makanan hanya diisikan sedikit saja karena hanya sebatas simbolik. Satu hal yang sangat harus di garis bawahi dalam membuat persembahan adalah keikhlasan sebagai kesadaran bhakti kepadan Tuhan Yang Maha Esa.
Adapun matra-mantra yang digunakan dalam prosesi penghaturan Yadnya Sesa tersebut yang di golongkan berdasarkan kepada siapa Yadnya itu di haturkan:
a) Menghaturkan ke hadapan Sarwa Prani (simbol-simbol Sang Hyang Widhi yang bersifat bhuta, yang bantennya di letakan di tanah):
Om atma ini swatma suhamam swaha swasti-swasti sarwa bhuta, kala, durgha, sukha pradahana ya namah swaha Artinya:
"Om Sang Hyang Widhi Wasa, Engkaulah Paramatma daripada Atma Semoga berbahagia semua ciptaan-Mu"
b) Menghaturkan ke hadapan para Dewata Om Atma tat swatma suhamam swaha, Swasti-swasti sarwa dewa,
sukha perdhana ya namah swaha Artinya:
Om Sang Hyang Widhi Wasa,
Engkaulah Paramatma daripada Atma Semoga berbahagia semua ciptaan-Mu
yang berwujud Dewa"
(Endah Humaidah, 2008)
2.2 Banten Saiban Sebagai Implementasi Yadnya Sesa di Bali
Mebanten Saiban atau Ngejot merupakan suatu tradisi Hindu di Bali yang biasa dilakukan setiap hari setelah selesai memasak di pagi hari. Mesaiban / Mejotan juga disebut dengan Yadnya Sesa, merupakan yadnya yang paling sederhana sebagai realisasi Panca Yadnya yang dilaksana umat Hindu dalam kehidupan sehari-hari.
Makna dan Tujuan Mesaiban Yadnya sesa atau mebanten saiban merupakan penerapan dari ajaran kesusilaan Hindu, yang menuntut umat untuk selalu bersikap anersangsya yaitu tidak mementingkan diri sendiri dan ambeg para mertha yaitu mendahulukan kepentingan di luar diri. Pelaksanaan yadnya sesa juga bermakna bahwa manusia setelah selesai memasak wajib memberikan persembahan berupa makanan, karena makanan merupakan sumber kehidupan di dunia ini. Tujuannya mesaiban yaitu sebagai wujud syukur atas apa yang di berikan Hyang Widhi kepada kita. Sebagaimana diketahui bahwa yadnya sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kesucian jiwa. Tidak saja kita menghubungkan diri dengan Tuhan, juga dengan manifestasi-Nya dan makhluk ciptaan-Nya termasuk alam beserta dengan isinya (Tanu, 2014)
Sarana Banten Saiban Banten saiban adalah persembahan yang paling sederhana sehingga sarana-sarananya pun sederhana. Biasanya banten saiban dihaturkan menggunakan daun pisang yang diisi nasi, garam dan lauk pauk yang disajikan sesuai dengan apa yang dimasak hari itu, tidak ada keharusan untuk menghaturkan lauk tertentu. Yadnya Sesa (Mesaiban) yang sempurna adalah dihaturkan lalu dipercikkan air bersih dan disertai dupa menyala sebagai saksi dari persembahan itu. Namun yang sederhana bisa dilakukan tanpa memercikkan air dan menyalakan dupa, karena wujud yadnya sesa itu sendiri dibuat sangat sederhana (Tanu, 2014)
Yadnya Sesa (Mesaiban) yang sempurna adalah dihaturkan lalu dipercikkan air bersih dan disertai dupa menyala sebagai saksi dari persembahan itu. Namun yang sederhana bisa dilakukan tanpa memercikkan air dan menyalakan dupa, karena wujud yadnya sesa itu sendiri dibuat sangat sederhana. (Kimabs, 2018) Didalam Kitab Manawa Dharma Sastra Adhyaya III 69 dan 75 dinyatakan: Dosa-dosa yang kita
lakukan saat mempersiapkan hidangan sehari-hari itu bisa dihapuskan dengan melakukan nyadnya sesa.
2.3 Edukasi Penerapan Yadnya Sesa Sesuai Sastra Sebagai Solusi Penerapan Yadnya yang Tergolong Tamasika Yadnya
Dalam hal penerapan Yadnya Sesa masyarakat Hindu di Bali yang dilakukan melalui upakara Banten Saiban atau Banten Jotan tidaklah jarang dilaksanakan dengan menghiraukan aturan yang ada. Apabila ditanyakan masyarakat akan menjawab bahwa upacara ini dilakukan secara turun temurun yang diajarkan oleh orangtuanya, namun apabila ditanya arti makna dari upacara ini mereka hanya menjawab "Nak mula keto"
yang berarti memang seperti itu yang dilakukan orang-orang lainnya. Namun, Yadnya yang dilakukan dengan cara demikian dapat digolongkan sebagai Tamasika Yadnya dimana yadnya dilakukan tanpa mengetahui dasar sastranya, hanya ikut-ikutan orang, atau dilakukan tanpa ada kepercayaan.
Untuk itu, solusi yang diberikan penulis adalah berupa edukasi kepada masyarakat melalui dharma wacana dimana dalam dharma wacana masyarakat yang awam akan ajaran Agama Hindu dapat mengetahui lebih jauh mengenai ajaran agama yang sesuai dengan sastra. Seperti yang kita ketahui, masyarakat yang beragama Hindu masih sangat jauh akan pengetahuan agama karena Weda sebagai kitab suci Hindu hanya boleh dipelajari oleh kaum Brahmana. Selain itu, ajaran mengenai Yadnya yang benar juga dapat dilakukan pada prasaman yang sering dilakukan di banjar ataupun sekolah dimana anak-anak diajarkan untuk mengetahui agama lebih jauh.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Yadnya berarti korban suci yang dilaksanakan dengan tulus ikhlas dalam ajaran Agama Hindu. Kata ini berasal dari bahasa sansekerta yaitu (yajna) yang merupakan akar kata Yaj yang berarti memuja, mempersembahkan atau korban suci. Di dalam agama hindu yadnya dibagi menjadi lima bagian yaitu Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Manusa Yadnya, Rsi Yadnya, dan Pitra Yadnya. Salah satu jenis yadnya terkecil yang dilakukan umat Hindu sehari-hari adalah Yadnya Sesa atau sering dikenal dengan banten saiban yang merupakan penerapan dari Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, dan Pitra Yadnya. Namun pada penerapannya masih banyak masyarakat yang hanya melakukan upacara ini dengan alasan kebiasaan atau dilakukan turun temurun tanpa mengetahui dasar sastra dalam kitab suci agama Hindu.
3.2 Saran
1. Kepada pembaca
Diharapkan pembaca dapat menerapkan ajaran agama hindu khususnya dalam beryadnya dengan baik dan benar
2. Kepada pemerintah
Diharapka pemerintah dapat mengedukasikan ajaran-ajaran agama hindu melalui sosialisasi dan acara dharma wacana kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Kepada masyarakat
Diharapkan masyarakat memiliki kesadaran untuk mengedukasi diri agar penerapan Yadnya dapat dilaksanakan tidak hanya sekedar melaksanakan upacara namun juga harus mengetahui makna filosofis dari yadnya tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Adi, N. 2019. Analisis Panca Yadnya Dalam Konteks Saguna Brahman Dalam Menciptakan Aktivitas Sosial Budaya. Singaraja.
Endah, H. 2008. Makna Yadnya Sesa Bagi Kehidupan Keseharian Umat Hindu. Jakarta
Kimbabs, 2018, Makna Mebanten Saiban (Ngejot) dalam Tradisi Hindu-Bali Pengantar Acara Agama Hindu. Surabaya : Paramita
Suparta A. 2002. Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Indonesia. (Surabaya:
Paramita. Hal 6-7.
Tanu. 2014. Penonjolan Konsep Serimonial Mengurangi Nilai Spiritual Perspektif Yadnya Umat Hindu di Bali.
Yudha, T. 2018. Konsep Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam Hindu. UNHI.