• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang

Al-Qur‟an merupakan kitab suci yang membahas tentang segala sesuatu, dan tema mengenai binatang adalah salah satu tema yang dibahas dalam Al-Qur‟an bahkan, Allah SWT menamakan beberapa surat dalam Al-Qur‟an dengan nama-nama binatang . Nama-nama surat dalam Al-Qur‟an yang memakai nama binatang adalah sebagai berikut: Al-Baqarah (sapi betina), al-An‟am (binatang ternak), Al-Nahl (lebah), Al-Naml (semut), Al-Ankabut (laba-laba), Al-Adiyat (kuda perang yang berlari kencang), dan Al-Fil (gajah). Selain digunakan sebagai nama surat dalam Al- Qur‟an, ada juga binatang yang digunakan oleh Allah Swt dalam sumpah-Nya.1 Ini menunjukan bahwa tema binatang mempunyai kedudukan yang cukup penting. Akan tetapi, dalam Al-Qur‟an tidak semua binatang yang ada di dunia disebutkan karena Al-Qur‟an bukan kitab yang membahas permasalahan mengenai binatang saja.

Penyebutan binatang dalam Al-Qur‟an selalu terdapat dalam nama surat yang menggunakan tema binatang seperti yang telah disebutkan di atas, binatang juga disebutkan dalam kisah-kisah perumpamaan, sumpah dan yang lain-lain. Ada beberapa kisah dalam Al-Qur‟an yang menyebutkan binatang dalamnya. Di antara kisah dalam Al-Qur‟an yang menyebutkan binatang adalah kisah Nabi Sulaiman a.s.

dengan burung Hudhud2 selain burung Hudhud, dalam kisah Nabi Sulaiman a.s juga disebutkan burung yang lainnya yaitu Semut.3

Binatang juga banyak disebutkan dalam perumpamaan. Dimana Perumpamaan yang menyebutkan binatang adalah perumpamaan orang yang mengambil pelindung selain Allah Swt adalah seperti Laba-laba yang membuat rumah, sedangkan rumah yang paling rapuh adalah rumah Laba-laba. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Qs. Al-Ankabut /29: 41.

1Qs. Al- „Adiyat / 100:1

2Qs. Al-Naml / 27: 20-24

3Qs. Al-Naml / 27: 18 dan 19

(2)









































Artinya: ”Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.4

Al-Qur‟an disebut juga beberapa binatang yang mempunyai kajian dengan mukjizat beberapa Nabi Allah Swt seperti disebutkan dalam Al-Qur‟an bahwa salah satu mukjizat Nabi Musa a.s adalah tongkatnya bisa berubah menjadi seekor Ular yang besar5dan salah satu mukjizat Nabi Isa a.s adalah membuat burung dari tanah.6

Adapun susunan-susunan nama binatang yang terdapat di dalamal-Qur‟an adalah sebagai berikut:

Tabel.17

No Nama binatang Nama surat Ayat

1 Anjing :

- Anjing dalam cerita Ashabul Khahfi - Perumpamaan seperti Anjing

Al-Khahfi Al- A‟araf

22 176

2 Babi :

-Pengharaman babi Al- Baqarah

Al- Maidah Al- An‟am An- Nahl

176 3 145 115 3 Burung :

-Binatang terbang sebagai tanda kebesaran An- Nahl 179

4Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemah (Bandung: Jamanatul „Ali Art, 2005), hlm. 402

5Qs. Al-A‟raf /7: 107. Qs. Thaha / 20: 20, Qs. Al-Naml / 27: 10

6Qs. Ali imran / 3: 49; Qs. Al-Maidah / 5: 110

7Ahmad Lutfi Fatullah, Al-Qur’an Al-Hadi . DVD Interaktif. (Jakarta: Pusat Kajian Hadis)

(3)

Allah

-Burung sebagai media melihat kebesaran Allah

-Cerita Nabi Ibrahim ingin mengetahui cara Allah menghidupkan yang mati

-Cerita Nabi Yusuf dan mimpi melihat burung

-Nabi Sulaiman dapat memahami bahasa burung dan Semut

-Burung sebagai salah satu mukjizat nabi Isa -Cerita burung Hudhud

-Burung Ababil

-Burung dalam bahasa perumpamaan

Al- Baqarah Al-Mulk

Al- Baqarah

Yusuf

An- Naml

Ali Imran Al- Maidah

Al- Fil Al- Haj

260 19

260

36 41 16

49 110

3 31 4 Gajah :

-Gajah sebagai tunggangan -Cerita pasukan gajah

Al- Fil Al- Fil

1 1-5

5 kuda/keledai

-Penyebutan bighal dalam al-qur‟an -Hewan tunggangan

-Simbol kekuatan

-Simbol kekayaan

An- Nahl Lukman Al- Hashr

Al-„Anfal

Ali Imran

8 9 6

60

14

(4)

6 Ikan :

-Ikan dalam kisah nabi Yunus -Ikan dalam kisah nabi Musa -Ikan dalam bahasa perumpamaan

As-Saffat Al- Khahfi Al- Qalam

142 63 48

7 Kambing Al-An‟am

Al- Anbiya

143 146 78

8 Kupu-kupu Al-Qariah 4

9 Laba-laba Al- Ankabut 41

10 Lalat Al- Haj 73

11 Lebah An- Nahl 68

12 Monyet Al- Baqarah

Al- Maidah Al- A‟raf

65 60 40

13 Nyamuk Al-Baqarah 26

14 Onta Al- A‟raf 40

15 Sapi Al-Baqarah

Al- An‟am

67-71 144

146

16 Semut An- Naml 18

(5)

Penyebutan binatang juga terdapat dalam bentuk adzab kepada kaum tertentu yang melanggar perintah Allah Swt misalnya, Allah Swt mengutuk menjadi Kera kepada Bani Israil yang melanggar kemuliaan hari Sabtu. Allah Swt berfirman dalam Qs. Al-Baqarah/2:65.



























Artinya : Dan Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu (Hari Sabtu ialah hari yang khusus untuk beribadat bagi orang-orang Yahudi), lalu Kami berfirman kepada mereka: "Jadilah kamu kera (Sebagian ahli tafsir memandang bahwa ini sebagai suatu perumpamaan , artinya hati mereka menyerupai hati kera, karena sama-sama tidak menerima nasehat dan peringatan. Pendapat jumhur mufassir ialah mereka betul-betul beubah menjadi kera, hanya tidak beranak, tidak Makan dan minum, dan hidup tidak lebih dari tiga hari) yang hina".8

Mengenai ayat di atas sebagian ahli tafsir berpendapat sebutan Kera adalah perumpamaan untuk menunjukan bahwa hati mereka menyerupai Kera karena sama- sama tidak menerima nasihat dan peringatan. Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa mereka benar-benar menjadi Kera. Hanya tidak beranak tidak makan dan minum, dan hidup tidak lebih dari tiga hari.9 dan Allah Swt juga mengirimkan beberapa binatang seperti Belalang, Kutu, dan Katak sebagai bentuk adzab.10

Semuanya itu menunjukan bahwa tema binatang dalam Al-Qur‟an mempunyai kedudukan yang cukup penting, oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk membahas permasalahan mengenai binatang yang tertulis dalam judul, (Kajian Tafsir Ilmi Tentang Hewan Di Dalam Al-Qur‟an).

Di antara pandangan mufasir, al-Razi misalnya menafsirkan Al-Qur‟an dari kaca mata ilmu pengetahuan yang lebih condong kea arah Sains. Terlebih ketika berbicara mengenai ayat-ayat yang mengarah kepada alam, penciptaan dan yang lain

8 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemah, Catatan no. 67, hlm. 13

9 Ibid

10Qs. Al-A‟raf / 7: 133

(6)

sebagainya. Hal ini sebenarnya bukan hal yang berlebihan karena tafsir dengan corak ini bertujuan untuk memudahkan manusia menangkap petunjuk Al-Qur‟an. Namun tafsir corak ini tentu saja tidak terlepas dari titik para ulama. Misalnya definisi yang diajukan oleh Amin Al-Khuli mengenai tafsir bil „ilmi adalah:” Tafsir yang memaksakan istilah-istilah keilmuan kontemporer atas redaksi Al-Qur‟an, dan berusaha menyimpulkan berbagai ilmu dan pandangan-pandangan filosofi dari redaksi Al-Qur‟an itu.”11 Demikian juga dengan definisi yang diajukan oleh Abdul Majid Abdul Muhtasib, yaitu: “Tafsir yang mensubornasikan redaksi Al-Qur‟an ke bawah teori dan istilah-istilah sains sampai keilmuan dengan mengarahkan segala daya untuk menyimpulkan berbagai masalah keilmuan dan pandangan filosofis dari redaksi Al-Qur‟an itu .12

Kedua definisi di atas tampak mirip, dan dapat kita berikan catatan dalam dua hal yaitu: yang pertama, kedua definisi tersebut mendeskripsikan model tafsir saintifik, sebab memberi kesan bagi orang awam yang membaca definisi itu bahwa corak tafsir itu agar di hindari karena di nilai telah “menduduki redaksi Al-Qur‟an”

kedalam teori-teori sains yang kerap berubah-ubah. Lagi pula sosok Amin Al-Khuli dan Abdul Muhtasib ini dikenal berada di barisan ulama yang kontra dan tak merestui corak tafsir ini. Mengenai tafsir bil „ilmi, Amin Al-Khuli mengkritik keras dalam bukunya, ia menulis :”Bagaimana mungkin prinsip-prinsip dasar kedokteran, astronomi, ilmu menghitung, dan kimia disimpulkan dari Al-Qur‟an dengan cara sebagaimana yang dikatakan tadi, sementara prinsip-prinsip tersebut pada saat ini tidak ada seorangpun yang memberikan kaidah pasti. Setiap sarjana muncul merevisi prinsip tersebut dalam suatu waktu atau lebih.Adapun yang telah menginformasikan oleh sarjana terdahulu pastikan mengalami perubahan, lemudian mengalami perubahan yang lebih dahsyat untuk waktu berikutnya”.13

Kedua definisi tersebut tidak mampu menggambarkan konsep yang sebenarnya diinginkan para pendukung tafsir bil „ilmi. Para pendukungnya tak pernah berkeinginan untuk memaksakan istilah-istilah keilmuan modern kepada redaksi Al-

11Abdul Majid al-Muhtasib, Ittijahat al-Tafsir fi al-Ashar al-Hadits, hlm. 247

12Al-Muhtasib, Ittijahat al-Tafsir fi al-Ashar al-Hadits, hlm. 247

13 Amin al-Khuli, Metode Tafsir Sastra (Yogyakarta: Adab Press, 2004), hlm. 41

(7)

Qur‟an, atau menundukan redaksi Al-Qur‟an itu kepada teori-teori sains yang selalu berubah. Apa yang dimaksudkan para ulama pendukung corak tafsir ini adalah berupaya menjelaskan salah satu aspek kemukjizatan Al-Qur‟an agar mudah difahami oleh manusia modern, terlebih di saat rasa cita kebahasaan Arab sudah sangat melemah, di kalangan orang Arab sekalipun. Dalam pandangan Muhammad Abduh, masyarakat amat membutuhkan petunjuk-petunjuk guna mengantarkan mereka menuju kebahagiaan dunia dan akherat. Masyarakat tidak akan menanyakan hal-hal terkait kaidah bahasa, I’rab dan sebagainya, begitupula denga Allah Swt. Masih menurut Abduh, hal-hal tersebut yang terdapat dalam beberapa kitab tafsir di masanya, dan masa-masa sebelumnya, justru menjadikan kitab tersebut bagaikan pelajaran bahasa, dan kitab-kitab yang seolah hanya merupakan penjelasan ulama yang berbeda-beda tersebut makin menjauh dari tujuan diturunkannya Al- Qur‟an.14Apalagi kini, ilmu dan sains telah menyerbu seluruh sendi kehidupan umat manusia. Oleh sebab itu kiranya, definisi yang lebih tepat untuk corak tafsir bil „ilmi dan sesuai dengan realitas di lapangan adalah“Tafsir yang berbicara tentang istilah- istilah sains yang terdapat dalam Al-Qur‟an dan berusaha sungguh-sungguh untuk menyimpulkan berbagai ilmu dan pandangan filosofis dari istilah-istilah Al-Qur‟an itu.

Dengan latar belakang ilmiah penulis mengkaji lebih dalam lagi masalah ini.

Untuk itu penulis mengkaji skripsi ini dengan judul Kajian Tafsir Ilmi Tentang Hewan Di Dalam Al-Qur‟an.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas yang menjadi fokus kajian dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana penafsiran ayat-ayat tentang Hewan dalam Kajian Tafsir Departemen Agama RI ?

2. Bagaimana Klasifikasi Hewan Berdasarkan Fungsi Penyebutan di Dalam Tafsir Departemen Agama RI ?

14 M.Quraish Shihab, Rasionalisme Al-Qur’an: Studi Kritis Atas Tafsir al-Manar (Jakarta:

Lentera Hati.2006), hlm. 20

(8)

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan penelitian ialah:

a. Untuk mengetahui bagaimana pesan ayat-ayat tentang Hewan dalam Al- Qur‟an.

b. Untuk mengetahui penafsiran mengenai Hewan dalam Tafsir Departemen Agama RI.

2. Kegunaan Penelitian

a. Hasil penelitian ini di harapkan dapat memiliki arti akademis dan mampu menambah informasi dalam khazanah kajian Qur‟an khususnya studi tematik.

b. Penelitian ini juga berguna untuk kajian Al-Qur‟an di Indonesia, terutama yang memfokuskan diri pada kajian tematik khususnya dalam ilmu pengetahuan pada umumnya.

D. Tinjauan Pustaka

Adapun dalam tinjauan pustaka ini penulis melakukan penelusuran terhadap bahan pustaka yang mengangkat tema tentang binatang di antaranya:

Ahmad Bahjat yang berjudul Kisah-kisah Hewan dalam Al-Qur‟an dengan judul asli Qishashul hayawan fil-Qur’an. Dalam bukunya beliau mengemukakan berbagai kisah hewan yang disebutkan dalam al-Qur‟an, tetapi ada beberapa hewan yang disebutkan dalam al-Qur‟an tidak disebutkan dalam bukunya, pembahasan dalam buku ini lebih menitikberatkan kepada kisah-kisah yang dikemas dalam bentuk cerita atau dongeng.15

Selain buku yang membahas tentang binatang ada beberapa Skripsi lain yang membahas binatang adalah skripsi yang ditulis oleh saudara Arif Nur Safri yang berjudul “Tamsil Himar” (Perumpamaan Keledai) dalam Al-Qur’an (Telaah atas Tafsir al Kasysyaf Karya al-Zamakhsyari)”, di dalamnya membahas panjang lebar

15Ahmad Bahjat, Kisah-kisah Hewan Dalam Al-Qur’an.Terj. Yendri Junaidi (Jakarta: Gema Insani Press, 2007).

(9)

tentang keledai dengan menitik beratkan pada penafsiran al-Zamakhsyari dalam kitab al-Kasyasyaf, dengan bemuara pada pandangan di kalangan orang Arab yang menganggap bahwa orang yang diumpamakan dengan keledai itu amat dungu dan bodoh. Konotasi negartif inilah yang mungkin ingin di rubah oleh Afif, karena di dalamnya banyak sekali memaparkan manfaat keledai bagi kebutuhan manusia dalam kehidupan sehari-hari, namun dalam skripsi ini hanya membahas perumpamaan keledai saja tidak membahas perumpamaan binatang yang lainnya.16

Untuk itu perlu dilakukan penelitian yang lebih menyeluruh mengenai tema binatang dalam Al-Qur‟an.Perbedaan dengan hasil-hasil penelitian di atas, penulis akan membahas tema ( Kajian Tafsir ilmi di Dalam Al-Qur‟an) .

E. Kerangka Pemikiran

Al-Qur‟an merupakan sumber segala hikmah dan “tambang” segala keutamaan.17 Untuk menggali hikmah yang terdapat di dalamnya, Al-Qur‟an itu harus dipelajari dan dipahami apa maksud yang terkandung di dalamnya. Ada beberapa cara ataupun pendekatan yang dapat ditempuh dalam memahami isi kandungan Al- Qur‟an, di antaranya adalah tafsir, ta‟wil, dan terjemah. Ketiga hal tersebut berkaitan dengan penelitian ini, pendekatan yang digunakan dan dipilih penulis dalam memahami Al-Qur‟an adalah pendekatan tafsir.

Tafsir Pengertian tafsir menurut az-Zarkasyi seperti dikutif Manna‟ Khalil Al- Qaththan dalam salah satu bukunya adalah:

“ Tafsir adalah ilmu untuk memahami Kitabullah yang diturunkan kepada Muhammad, menjelaskan makna-maknanya serta mengeluarkan hukum dan hikmahnya.”18 apabila dilihat dari sumbernya dapat dibagi menjadi dua, yaitu pertama, tafsir bi al-ma‟tsur dan tafsir bi al-ra‟yi. Sedangkan di jelaskan oleh al- Farmawi, tafsir bi al-ma‟tsur (disebut pula bi al-riwayah dan al-naql) adalah

16 Arif Nur Safri, Tamsil Himar (Perumpamaan Keledai) Dalam al-Qur’an (Telaah atas Tafsir al Khasysyaf karya al zamakhsyari), skripsi No. 09-00079, Fakultas Ushuluddin, UIN sunan Kalijaga, Yogyakarta,2009.

17Manna‟ Khalil Al-Qaththan, studi ilmu-ilmu al-Al-Qur’an, terj. Mudzakir AS (Bogor: Litera Antar Nusa, Bogor 2004), hlm. 461

18 Manna‟ Khalil Al-Qaththan, studi ilmu-ilmu al-Qur’an terj. Mudzakir AS (Bogor: Litera Antar Nusa, Bogor 2004), hlm. 457 Atau lihat Al-Itqan, jilid 2, hlm. 174

(10)

penafsiran Al-Qur‟an yang mendasarkan pada penjelasan Al-Qur‟an, penjelasan Nabi SAW penjelasan sahabat melalui ijtihadnya, dan pendapat tabi‟in.19Sekian banyak kitab tafsir bi al-ma‟tsur, kitab yang paling tinggi nilainya sebagaimana dikemukakan oleh M. Hasbi Ash Shiddieqy adalah kitab tafsir yang ditulis oleh Ibnu Jarir al- Thabari yang bernama Jami‟ al-Bayan fi al-Tafsir al-Qur’an.20Kitab tafsir karya Ibnu Jarir al- Thabari ini merupakan sebuah karya monumental tafsir tradisional, yang berdasarkan laporan-laporan dari generasi yang telah lalu (membahas riwayat).21Kedua, adalah tafsir bi al-ra‟yi sebagaimana didefinisikan oleh al-Dzhabi adalah tafsir yang penjelasannya diambil berdasarkan ijtihad dan pemikiran mufasir setelah mengetahui bahasa Arab dan metodenya, dalil hukum yang ditunjukan, serta penafsiran seperti asbab an nuzul, dan nasakh mansukh.22

Beberapa contoh kitab tafsir bi al-ra‟yi yang cukup terkenal adalah Mafatih al-Ghaib karya Fakhr al-Razi, Al-Jami‟li Ahkam al-Qur‟an karya Imam al-Qurtubi dan Tafsir al-Jalalain karya Jalaludin al-Mahali dam Jalaludin al-Suyuti.23 Adapun klasifikasi tafsir berdasarkan metodenya dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu, tafsir yang menggunakan metode tahlily (analisis), metode ijmaly (global), muqaran (perbandingan), dan metode maudhu‟i (tematik).

Binatang atau sinonimnya hewan, satwa adalah makhluk bernyawa yang mampu bergerak (berpindah tempat) dan mampu beraksi terhadap rangsangan, tetapi tidak berakal budi.24 Binatang adalah salah satu makhluk Allah SWT yang mempunyai peran yang cukup penting dalam menjaga kelestarian alam di sekitarnya dan dapat membantu manusia dalam menjalankan kehidupannya. Salah satu contoh peran binatang dalam menjaga kelestarian alam di antaranya adalah adanya binatang yang dapat membantu dalam pengembangbiakan tumbuhan dengan cara terlibat dalam proses penyerbukan, di antaranya adalah lebah atau serangga lainnya. Manfaat

19 Ibid, hlm. 459

20 M. Hasbi Ash Shiddieqy, ilmu-ilmu Al-Qur’an (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), hlm. 195

21 Fazlur Rahman, Islam, Terj. Ahsin M (Bandung: Pustaka, 1984), hlm. 48

22Robinson Anwar, ilmu Tafsir (Bandung : Pustaka Setia, 2005), hlm. 162

23 Mahmud Basuni Faudah, Tafsir-Tafssir Al-Qur’an;Perkenalan dengan Metodologi Tafsir, Terj. Mochtar Z. Dan Abdul Qodir H (Bandung: Pustaka, 1987), hlm. 78

24http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Republik Indonesia,2008.diambil tanggal 9 Februari 2014.

(11)

lainnya dari binatang adalah ada beberapa binatang yang dapat dijadikan sebagai sumber makanan, bahan pembuat alat rumah tangga, perhiasan dan alat transportasi.

Salah satu binatang yang disebutkan dalam Al-Qur‟an adalah Kambing, Kambing adalah hewan Herbivora atau binatang pemakan tumbuhan yang disebutkan oleh Allah Swt dalam Al-Qur‟an sebanyak sepuluh kali. Al-Qur‟an menyebutkannya yang berbeda-beda, yaitu :25

Dha‟n (domba) merupakan jenis binatang gunung dan berbulu yang biasa dibudidayakan untuk diambil daging dan susunya. Biasanya orang menyebutnya dengan Domba kibas untuk pejantannya. Jenis ini disebutkan dalam Al-Qur‟an hanya satu kali yaitu pada Qs. Al-An‟am ayat 143.

Na‟jah adalah sebutan bagi domba yang berkelamin betina dan na‟jah ini masih satu spesies dengan Dha‟n. Na‟jah disebut dalam Al-Qur‟an sebanyak empat kali, yaitu pada Qs. Shad ayat 23 dan 24.

Ma‟z atau Biri-biri, binatang jenis ini memiliki ciri-ciri seperti domba. Ma‟z disebutkan satu kali yaitu pada Qs. Al-An‟am ayat 143.

Ghanam, merupakan binatang yang sesungguhnya karena berbeda dengan domba maupun biri-biri. Ghanam disebutkan dalam Al-Qur‟an sebanyak tiga kali, yaitu pada Qs. Al-An‟am ayat 146, Qs. Thaha ayat 18 dan Qs. Al-Anbiya ayat 78.

Washilah. Jika seekor domba melahirkan anak kembar, yamg yang terdiri atas jantan dan betina, maka yang jantan di sebut washilah, tidak disembelih tetapi diserahkan kepada berhala. Penyebutan washilah hanya satu kali, yaitu pada Qs. Al-Maidah ayat 103.

Al-Qur‟an juga menyebutkan manfaat yang bisa diperoleh dari binatang untuk kelangsungan hidup umat manusia. Di antara manfaat yang bisa diperoleh adalah ada beberapa binatang yang dapat dijadikan sebagai sumber makanan. Sebagaimana dalam Qs. An-An‟am/6 :142 Allah Swt berfirman:

25Saiful Hadi, Sketsa Al-Qur‟an : Tempat, Tokoh, Nama dan Istilah dalam Al-Qur’an, jilid 1 dan 2 (Jakarta: PT Lista Fariska Putra, 2005), hlm. 352

(12)



































Artinya : Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. makanlah dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.26

Tetapi, tidak semua makanan yang berasal dari binatang itu dihalalkan karena ada beberapa binatang yang diharamkan seperti,bangkai, babi dan binatang yang disembelih dengan tanpa menyebut nama Allah Swt sebagaimana dalam Qs. Al- Baqarah/2 :173 Allah Swt berfirman:























 





























Artinya : Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.

Haram juga menurut ayat ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah.27 tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.28

Al-Qur‟an juga menginformasikan kepada seluruh umat manusia bahwa ada di antara binatang yang dijadikan perumpamaan. Salah satunya adalah Allah Swt mengumpamakan kepada mereka yang nantinya menjadi penghuni neraka disebabkan karena mereka itu mempunyai telinga tetapi tidak mendengar, sbagai binatang ternak bahkan yang lebih sesat lagi. Dalam Qs. Al-A‟raf /7: 179 Allah berfirman:

26 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemah, hlm. 147

27 Ibid

28Ibid

(13)































































Artinya: Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.29

Penyebutan binatang dalam Al-Qur‟an terutama dalam perumpamaan mempunyai maksud tertentu selain itu, banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari penyebutan binatang dalam Al-Qur‟an, salah satunya adalah penyebutan gagak dalam Al-Qur‟an yang disebutkan dalam kisah Habil dan Qabil sebanyak dua kali, yaitu dalam Qs. Al-Maidah / 5: 31.



















































 

Artinya : “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlibatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya Berkata Qabil “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lali aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.”30

29 Ibid

30Ibid. hlm. 113

(14)

Dalam ayat tersebut diceritakan bahwa burung gagak “mengajarkan” kepada manusia (Qabil) bagaimana caranya menguburkan mayat untuk pertama kalinya.

Selain itu, tentu masih banyak pelajaran lainnya yang dapat dipetik dari penyebutan binatang dalam Al-Qur‟an.

F. Metodologi Penelitian

Untuk memudahkan penelitian ini, penulis menempuh langkah-langkah penelitian sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Metode deskriptif31-analisis, yaitu mensistematisasikan keterangan atau data yang telah terkumpul dalam sebuah penjelasan yang terperinci disertai dengan analisis penulis.32

2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua. Yaitu:

a) Sumber data primer, yaitu sumber data yang diperoleh langsung oleh peneliti dari objek penelitian, sumber data primer dalam penelitian ini adalah Al-Qur‟an dan Tafsir Departemen Agama.

b) Sumber data sekunder, yakni keterangan-keterangan yang dapat digunakan untuk membantu penelitian yang diperoleh dari penelitian orang lain yang kemudian terbitkan seperti buku-buku, kitab tafsir yang terkait, situs-situs dan lain sebagainya.

3. Analisis Data

Adapun langkah-langkah yang penulis tempuh adalah sebagai berikut:

a) Mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah yang akan di bahas.

b) Mempelajari dan meneliti ayat-ayat tersebut lalu mengklasifikasikannya menjadi bagian-bagian yang akan dikaji.

31Metode deskriptif termasuk dalam kategori penelitian kualitatif yang untuk menyelidiki obyeknya tidak dapat diukur dengan angka-angka. Metode deskriptif ditujukan untuk mengumpulkan informasi secara aktual dan terperinci dan mengidentifikasikan masalah. Lihat Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian. (Jakarta: PT. Rineka Cipta,2002). hlm. 213

32Ibid, hlm. 213

(15)

c) Mengumpulkan dan mempelajari literatur-literatur yang masih berkaitan dengan masalah yang akan dibahas.

d) Mengkaji dan menganalisis masalah yang sedang dibahas.

e) Membuat kesimpulan dari masalah yang dibahas.

G. Sistematika Pembahasan

Gambaran yang jelas tentang skripsi yang akan disusun, maka dirumuskan sistematika sebagai berikut :

Bab I, pendahuluan, merupakan pengantar dari pembahsan skripsi ini. Dalam bab I dijelaskan latar belakang masalah yang mengantarkan kepada perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kerangka pemikiran, tinjauan pustaka, metode penelitian yang digunakan, dan terakhir adalah gambaran isi penyajian dalam bentuk sistematika pembahasan.

Bab II, Sejarah Penulisan Tafsir Departemen Agama yang meliputi: Sejarah Penulisan Departemen Agama, Analisis Kitab Tafsir Departemen Agama, dan Hermeneutik Al-Qur‟an Indonesia.

Bab III, penulis mendeskripsikan pengertian binatang/hewan secara umum, selanjutnya memaparkan sekelumit tentang tafsir ilmi, yang meliputi: pengertian tafsir ilmi, pro-kontra tafsir ilmi, prinsip dasar dalam penyusunan tafsir ilmi, dan mekanisme penyusunan tafsir ilmi, dan yang terahir memaparkan klasifikasi istilah kata binatang yang meliputi; anjing, babi, burung, gajah, kuda/keledai, ikan, kambing/domba, kupu-kupu, laba-laba, lalat, lebah, monyet, nyamuk, sapi, semut, dan unta.

Bab IV, penulis menguraikan makna perumpamaan/amsal secara umum, hewan dalam al-kisah, hewan dalam mukjizat, dan hewan ternakan. Penulis akan menjelaskan penafsiran ayat-ayat tentang binatang/hewan dalam tafsir Departemen Agama .

Bab V, penulis akan membaginya menjadi 2 sub bagian, yang pertama akan mengemukakan tentang kesimpulan hasil dari pembahasan tersebut, yang kedua penulis akan menampilkan saran atas materi yang telah disampaikan.

Referensi

Dokumen terkait

Melihat latar belakang diatas maka penulis bermaksud untuk melakukan penelitian mengenai Upaya Pengelola Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Dalam Meningkatkan Pemahaman

Memberikan informasi serta pemahaman mengenai anak berkebutuhan khusus tunarungu dalam belajar membaca al-Qur`an sehingga guru bisa berusaha untuk berkontribusi

Berdasarkan paparan diatas penulis memandang perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara tingkat pengetahuan IMS dan HIV/ AIDS dengan pemakaian

Penelitian mengenai pola perilaku sedentari pada anak usia sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta masih belum banyak diteliti, oleh karena itu penulis merasa perlu

Sejauh yang diketahui dan sejauh penelusuran, penulis belum menemukan adanya penelitian yang membahas mengenai pelestarian sumber daya air dengan teknik rawa buatan

Sementara, penelitian mengenai problematika hukum Pemilihan Umum KDH dan WKDH di Salatiga khususnya tahun 2011 belum pernah dilakukan penelitian secara menyeluruh

Persamaan dengan penelitian Noor Jannah adalah membahas terkait strategi pemasaran, adapun perbedaan penelitian Noor Jannah terletak pada tolak ukur dari hasil pencapaian penjualan yang

Berdasarkan pemaparan di atas, maka penelitian ini akan membahas mengenai makna takwa dalam al-Qur’an dan relevansinya dengan kelapangan rezeki perspektif ulama Indonesia yakni Buya