• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-54/PJ/2016 TENTANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-54/PJ/2016 TENTANG"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-54/PJ/2016

TENTANG

PETUNJUK TEKNIS PENILAIAN PROPERTI, PENILAIAN BISNIS, DAN PENILAIAN ASET TAK BERWUJUD UNTUK TUJUAN PERPAJAKAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

A. Umum

Dalam rangka mendukung pelaks anaan kegiatan penilaian untuk penggalian potens i pajak dan tujuan perpajakan lainnya s ebagaimana dimaks ud dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-61/PJ/2015 tentang Optimalis as i Penilaian (Appraisal) Untuk Penggalian Potens i Pajak dan Tujuan Perpajakan Lainnya, perlu dis us un Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak tentang Petunjuk Teknis Penilaian Properti, Penilaian Bis nis , dan Penilaian As et Tak berwujud untuk Tujuan Perpajakan.

B. Maksud dan Tujuan 1. Maks ud

Surat Edaran Direktur Jenderal ini dimaks udkan s ebagai petunjuk bagi Kantor Pelayanan Pajak, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak, dan Kantor Pus at Direktorat Jenderal Pajak, dalam melakukan penilaian properti, penilaian bis nis , dan penilaian as et tak berwujud untuk tujuan perpajakan.

2. Tujuan

Surat Edaran Direktur Jenderal ini bertujuan untuk memberikan kemudahan dan kes eragaman bagi Penilai dalam melakukan penilaian properti, penilaian bis nis , dan penilaian as et tak berwujud untuk tujuan perpajakan, agar berjalan s ecara efektif dan efis ien.

C. Ruang Lingkup

Ruang Lingkup Surat Edaran Direktur Jenderal ini mengatur tentang:

1. Das ar Penilaian;

2. Tujuan Penilaian;

3. Permintaan Bantuan Penilai;

4. Surat Tugas Penilaian;

5. Tim Penilai/Penilai;

6. Pendekatan dan Metode Penilaian;

7. Laporan Penilaian; dan

8. Tindak Lanjut Laporan Penilaian.

D. Dasar

1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan s ebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009;

2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghas ilan s ebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008;

3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jas a dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah s ebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009;

(2)

4. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paks a s ebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2007;

5. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-61/PJ/2015 tentang Optimalis as i Penilaian (Appraisal) untuk Penggalian Potensi Pajak dan Tujuan Perpajakan Lainnya; dan

6. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor 06/PJ/2016 tentang Kebijakan Pemeriks aan.

E. Pengertian

Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal ini, yang dimaks ud dengan:

1. Penilai adalah Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang menjabat s ebagai Fungs ional Penilai, atau yang ditetapkan menjadi Petugas Penilai dengan Keputus an Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yang diberi tugas , wewenang, dan tanggung jawab untuk melakukan Penilaian.

2. Penilaian adalah s erangkaian kegiatan untuk menentukan bes aran s uatu jenis nilai tertentu pada s uatu s aat tertentu yang dilaks anakan s ecara objektif dan profes ional berdas arkan s uatu s tandar penilaian dalam rangka melaks anakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

3. Penilaian Properti adalah s erangkaian kegiatan untuk menentukan bes aran s uatu jenis nilai tertentu pada s uatu s aat tertentu yang dilaks anakan s ecara objektif dan profes ional berdas arkan s uatu s tandar penilaian dalam rangka melaks anakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, atas s uatu kons ep hukum yang mencakup kepentingan, hak dan manfaat yang berkaitan dengan s uatu kepemilikan atas properti.

4. Penilaian Bis nis adalah s erangkaian kegiatan untuk menentukan bes aran s uatu jenis nilai tertentu pada s uatu s aat tertentu yang dilaks anakan s ecara objektif dan profes ional berdas arkan s uatu s tandar penilaian dalam rangka melaks anakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, atas s uatu kelangs ungan us aha (going concern) termas uk berbagai kepentingan dan kepemilikan (business ownership interest), serta trans aks i dan kegiatan yang memiliki pengaruh terhadap nilai perus ahaan.

5. Penilaian As et Tak berwujud adalah s erangkaian kegiatan untuk menentukan bes aran s uatu jenis nilai tertentu pada s uatu s aat tertentu yang dilaks anakan s ecara objektif dan profes ional berdas arkan s uatu s tandar penilaian dalam rangka melaks anakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, atas as et non-moneter tanpa wujud fis ik yang dapat diidentifikas i dan yang tidak dapat diidentifikas i (goodwill).

F. Materi

1. Das ar Penilaian yaitu s uatu jenis nilai tertentu berupa Nilai Pas ar atau jenis nilai lain yang diatur s es uai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

2. Tujuan Penilaian yaitu untuk menentukan bes aran s uatu jenis nilai tertentu atas objek penilaian berupa properti, bis nis , atau as et tak berwujud, yang dapat digunakan s ebagai das ar untuk menghitung pajak terutang atau tujuan lain dalam rangka melaks anakan fungs i pengawas an, pemeriks aan, penyidikan, penagihan, dan fungs i lainnya s es uai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

3. Permintaan Bantuan Penilai a. Dalam melakukan Penilaian:

1) Kepala KPP menugas kan Penilai KPP yang bers angkutan dan/atau dapat meminta bantuan Penilai kepada Kepala Kantor Wilayah DJP dengan menyampaikan s urat permintaan bantuan Penilai; dan

2) Kepala Kantor Wilayah DJP, Direktur Pemeriks aan dan Penagihan dan Direktur Penegakan Hukum, dapat meminta bantuan Penilai kepada Direktur Eks tens ifikas i dan Penilaian dengan menyampaikan s urat permintaan bantuan Penilai.

b. Dalam menindaklanjuti s urat permintaan bantuan Penilai s ebagaimana dimaks ud pada huruf a angka 1), Kepala Kantor Wilayah DJP dapat:

(3)

1) menugas kan Penilai Kantor Wilayah DJP dan/atau Penilai KPP di lingkungan Kantor Wilayah DJP yang bers angkutan; atau

2) meminta bantuan Penilai kepada Direktur Eks tens ifikas i dan Penilaian.

c. Dalam menindaklanjuti s urat permintaan bantuan Penilai s ebagaimana dimaks ud pada huruf a angka 2) dan huruf b angka 2), Direktur Eks tens ifikas i dan Penilaian dapat meminta bantuan Penilai kepada Kepala Kantor Wilayah DJP lainnya.

d. Surat permintaan bantuan Penilai s ebagaimana dimaks ud pada huruf a harus dilengkapi dengan latar belakang perlunya dilakukan Penilaian, tujuan Penilaian, data objek yang dinilai, dan informas i penting lainnya.

4. Surat Tugas Penilaian

a. Penilaian dilakukan berdas arkan:

1) Surat Tugas Membantu Pelaks anaan Pemeriks aan, dalam hal Penilai melaks anakan fungs i pemeriks aan s ebagai tenaga ahli; atau

2) s urat tugas penilaian, dalam hal Penilai melaks anakan fungs i s elain s ebagaimana dimaks ud pada angka 1).

b. Surat Tugas Membantu Pelaks anaan Pemeriks aan s ebagaimana dimaks ud pada huruf a angka 1) dan s urat tugas penilaian s ebagaimana dimaks ud pada huruf a angka 2) diterbitkan oleh:

1) Kepala KPP, dalam hal Penilai merupakan pegawai KPP yang bers angkutan;

2) Kepala Kantor Wilayah DJP, dalam hal Penilai merupakan pegawai Kantor Wilayah DJP atau pegawai KPP lain dalam Kantor Wilayah DJP; atau

3) Sekretaris DJP atau Direktur Eks tens ifikas i dan Penilaian, dalam hal Penilai merupakan pegawai s elain s ebagaimana dimaks ud pada angka 1) dan angka 2).

c. Dalam hal diperlukan peninjauan lapangan objek Penilaian, s urat tugas peninjauan lapangan diterbitkan oleh kepala unit yang melaks anakan Penilaian dalam rangka melaks anakan fungs i pemeriks aan dan s elain pemeriks aan.

5. Tim Penilai/Penilai

a. Penilaian dilakukan oleh Tim Penilai yang terdiri dari 1 (s atu) orang ketua tim merangkap anggota dan s ekurang-kurangnya 1 (s atu) orang anggota tim; atau

b. Penilaian dapat dilakukan oleh 1 (s atu) orang Penilai, antara lain dalam hal pengujian kewajaran:

1) nilai pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan; atau

2) biaya yang dikeluarkan untuk membangun bangunan atas kegiatan membangun s endiri.

6. Penilaian dilakukan berdas arkan pendekatan dan metode Penilaian s es uai dengan Petunjuk Teknis Penilaian Properti, Petunjuk Teknis Penilaian Bis nis , dan Petunjuk Teknis Penilaian As et Tak berwujud.

7. Kes impulan nilai yang dihas ilkan dari penerapan pendekatan dan metode Penilaian dituangkan dalam Laporan Penilaian yang ditandatangani oleh Tim Penilai/Penilai.

8. Laporan Penilaian dis ampaikan kepada pemberi tugas untuk ditindaklanjuti s es uai ketentuan.

G. Contoh Penerapan Penilaian yaitu

1. Penilaian Properti, antara lain diterapkan untuk menguji kewajaran:

a. nilai pengalihan hak atau pers ewaan harta berupa tanah dan/atau bangunan, s ebagai implementas i Pas al 4 ayat (2) huruf d Undang-Undang Pajak Penghas ilan;

b. nilai pas ar atas harta dalam pros es tukar menukar, s ebagai implementas i Pas al 10 ayat (2) Undang-Undang Pajak Penghas ilan;

(4)

c. biaya yang dikeluarkan untuk membangun bangunan yang memenuhi kriteria terutang Pajak Pertambangan Nilai Kegiatan Membangun Sendiri, s ebagai implementas i Pas al 16C Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai; atau

d. nilai pas ar atas penyerahan barang kena pajak, yang menurut tujuan s emula tidak untuk diperjualbelikan, s epanjang pajak mas ukan atas perolehan BKP ters ebut tidak dapat dikreditkan, s ebagai implementas i Pas al 16D Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai.

2. Penilaian Bis nis , antara lain diterapkan untuk menguji kewajaran:

a. nilai pengalihan harta ke pers eroan, pers ekutuan, dan badan lainnya s ebagai pengganti s aham atau penyertaan modal;

b. nilai pengalihan harta kepada pemegang s aham, s ekutu, atau anggota dari pers eroan, pers ekutuan, atau badan lainnya;

c. nilai penjualan, pembelian, pengalihan, atau pemanfaatan harta berupa perus ahaan, antar pihak yang mempunyai hubungan is timewa s ebagai implementas i Pas al 10 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghas ilan; atau

d. nilai pengalihan harta berupa perus ahaan dalam rangka likuidas i, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan us aha s ebagai implementas i Pas al 10 ayat (3) Undang-Undang Pajak Penghas ilan.

3. Penilaian As et Tak berwujud antara lain diterapkan untuk menguji kewajaran:

a. nilai pengalihan atau pemanfaatan as et tak berwujud berupa merk dagang antar pihak yang mempunyai hubungan is timewa, s ebagai implementas i Pas al 10 ayat (1) Undang- Undang Pajak Penghas ilan; atau

b. nilai pengalihan atau pemanfaatan as et tak berwujud dalam rangka likuidas i, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan us aha s ebagai implementas i Pas al 10 ayat (3) Undang-Undang Pajak Penghas ilan.

H. Ketentuan Lain-Lain

1. Dalam hal objek Penilaian tidak ditemukan, Laporan Penilaian menyatakan Penilaian tidak dapat dilakukan.

2. Dalam hal pada s aat Penilaian ditemukan data terkait potens i pajak lainnya, agar diterus kan s ebagai alat keterangan berdas arkan mekanis me produks i data s es uai dengan ketentuan.

3. Penilaian dilakukan mengikuti Petunjuk Teknis Penilaian s ebagai berikut:

a. Petunjuk Teknis Penilaian Properti s ebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I;

b. Petunjuk Teknis Penilaian Bis nis s ebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II; dan c. Petunjuk Teknis Penilaian As et Tak berwujud s ebagaimana ditetapkan dalam Lampiran

III,

yang merupakan bagian tidak terpis ahkan dari Surat Edaran Direktur Jenderal ini.

4. Contoh format:

a. Laporan Penilaian Properti Kriteria I s ebagaimana ditetapkan dalam Lampiran IV-A;

b. Laporan Penilaian Properti Kriteria II s ebagaimana ditetapkan dalam Lampiran IVB;

c. Laporan Penilaian Bis nis s ebagaimana ditetapkan dalam Lampiran IV-C;

d. Laporan Penilaian As et Tak berwujud s ebagaimana ditetapkan dalam Lampiran IVD; dan e. Laporan pelaks anaan tugas dalam hal Penilaian tidak dapat dilakukan s ebagaimana

ditetapkan dalam Lampiran IV-E,

yang merupakan bagian tidak terpis ahkan dari Surat Edaran Direktur Jenderal ini.

5. Surat Edaran Direktur Jenderal ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Demikian dis ampaikan untuk dilaks anakan dengan s ebaik-baiknya.

(5)

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 9 Des ember 2016 DIREKTUR JENDERAL,

ttd.

KEN DWIJUGIASTEADI

Referensi

Dokumen terkait

SPT Tahunan kemudian diteruskan kepada seksi PDI jika SPT Tahunan termasuk SPT yang diolah seksi PDI, atau diteruskan kepada petugas pengemas SPT, sesuai jenis SPT yang diolah UPDDP

Khusus untuk ketetapan yang terbit sejak tahun 2008, sehubungan dengan pentingnya mengantisipasi tidak terpantaunya nilai piutang yang disetujui namun belum

Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan terkait penafsiran perlakuan tarif Pajak Penghasilan badan dalam naskah kontrak atau perjanjian bagi Wajib Pajak yang

Menyatakan Pasal 1 ayat (1) huruf c, Pasal 1 ayat (2) huruf a, Pasal 2 ayat (1) huruf f, dan Pasal 2 ayat (2) huruf c Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2007 tentang

[r]

kendaraan bermotor yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah, pos tarif. dari uraian Barang Kena Pajak yang tergolong mewah selain

1) Komponen kriteria penilaian, indikator dan perkiraan kondisi yang digunakan minimal sesuai dengan lampiran II Surat Edaran ini, namun dimungkinkan untuk

Peta Kepatuhan CRM Fungsi Pemeriksaan dan Pengawasan adalah peta yang menggambarkan risiko kepatuhan Wajib Pajak dalam melakukan pelaporan, pembayaran, dan kebenaran