• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengembangkan Kebijakan Publik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Mengembangkan Kebijakan Publik"

Copied!
129
0
0

Teks penuh

(1)

Langkah

10

Mengembangkan

Kebijakan Publik

Langkah

10

Mengembangkan

Kebijakan Publik

Mencegah Penularan HIV/AIDS Di Lingkungan Seks Komersial 1 0 L an gk ah M en ge m b an gk an K eb ija ka n P ub lik

Sampai dengan pertengahan tahun 2003 diperkirakan bahwa di Indonesia telah terdapat 80.000 120.000 pengidap HIV, sekitar 4.000 orang diantaranya telah

meninggal karena AIDS, sebuah angka yang cukup mencengangkan sejak HIV/AIDS dilaporkan pertama kali, tahun 1987. Seiring perubahan cara penularan virus HIV, di Indonesia terjadi perkembangan sistem politik yang berpengaruh pada perubahan sistem

pemerintahan. Maka dipandang perlu untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap program nasional penanggulangan HIV/AIDS. Selama ini, masih sering terjadi dalam mengaplikasi b erbegai area prioritas dan program yang ada dalam strategi nasional, dirasakan masih ada kendala, khususnya dalam hal belum sinkronnya kebijakan nasional dan kebijakan daerah,

baik dalam bidang legalitas maupun legitimasi yang diberikan, juga belum terpadunya program

penanggulangan yang dilakukan oleh berbagai sektor terkait. Bila tidak ada perluasa upaya pencegahan yang intensif dan mampu menjangkau kelompok-kelompok yang rawan tertular HIV/AIDS, maka penularan baru sulit

dihindari. Penularan akan terus terjadi, tidak hanya dari penjaja seks ke pelanggan atau sebaliknya, tetapi juga meluas ke pasangan tetap (istri) dari suami yang

merupakan pelanggan penjaja seks. Tidak ada alternatif lain, penanggulangan HIV/AIDS harus diutamakan pada setiap kegitan seks berisiko.

...Merupakan kewajiban negara untuk selalu melindungi masyarakat, masyarakat

melindungi individu, dan individu melindungi diri sendiri dari HIV/AIDS...

(2)

10 Langkah

(3)
(4)

10 Langkah

Mengembangkan Kebijakan Publik

Mencegah Penularan HIV/AIDS di Lingkungan Seks Komersial

ASA – INSIST 2003

(5)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Tim Penulis INSIST

10 Langkah Mengembangkan Kebijakan Publik:

Mencegah Penularan HIV/AIDS di Lingkungan Seks Komersial, Yogyakarta: ReaD Book, November 2003

83 + xxvii halaman 14.5 x 21 cm, ilustrasi, bibliografi 1. Panduan Advokasi 2. Manual I Judul

ISBN: 979-97233-6-1

Cetakan pertama, November 2003

Rancang Sampul: Martopo Ilustrasi: nTok

Cetakan kedua, Maret 2007

Redisain: Arifin Fitrianto

Editor: Mansour Fakih dan Toto Rahardjo Penyelaras Akhir: Nanang Ananto

Diterbitkan atas kerja sama Aksi Stop AIDS (ASA) dan INSIST ASA

Kompleks P2M & PL Depkes RI Jl. Percetakan Negara No. 29 Jakarta 10560 Telp : (021) 4223463 Fax : (021) 4223455 Email: [email protected] INSIST Blimbingsari CT IV/38 Yogyakarta 55281 Telp/Fax: (0274) 446340 Email: [email protected] Dicetak oleh INSIST Press Printing

(6)

dan didedikasikan bagi mereka yang tanpa lelah bekerja untuk manusia yang ditindas, didiskriminasi dan mengalami

(7)
(8)

Kata Salam

Pasal Pertama dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menyatakan bahwa semua manusia dilahirkan merdeka, memiliki martabat dan hak-hak yang sama. Pasal pembuka tersebut sekaligus menjadi inti dari Hak Asasi Manusia yakni tidak boleh ada pembedaan perlakuan pada siapapun, tidak boleh ada diskriminasi pada segenap manusia, siapapun dia.

Namun kenyataanya semangat anti diskriminasi tidak sekuat semangat kebalikannya. Kepentingan ekonomi dan kepentingan politik seringkali telah mengaburkan kepentingan kemanusiaan, bahkan dimana-mana dengan mengatasnamakan “moral” dipakai untuk meruntuhkan moral kemanusiaan itu sendiri.

Diskriminasi terhadap orang-orang dengan HIV/AIDS merupakan contoh yang dapat dengan mudah kita saksikan. Permasalahan moralitas menjadi alasan utama mengapa mereka didiskriminasi.

Sifat virus ini memang menular, namun cara pandang terhadap penyakit tersebut sungguh-sungguh merontokkan semangat anti

(9)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Menangkal Ancaman Bencana Nasional AIDS Melalui Gerakan Nasional Penanggulangan HIV/

AIDS

Menyetujui hasil sidang khusus Majelis Umum PBB tentang HIV/ AIDS dan 7th ASEAN Summit on HIV/AIDS dengan memberi fokus prioritas pada :

a. Menciptakan kepemimpinan yang kuat di semua tingkat pemerintah, non pemerintah, masyarakat.

b. Pencegahan HIV/AIDS harus menjadi prioritas utama dan dilaksanakan melalui berbagai pendekatan, terutama pendekatan agama.

c. Perawatan, dukungan dan pengobatan yang terintegrasi dengan upaya pencegahan.

d. Pemberdayaan perempuan untuk mengurangi kerentanan penularan HIV/AIDS termasuk hak-hak reproduksi sehat.

e. Merealisasikan pendidikan/penyuluhan kesehatan reproduksi pada remaja/ generasi muda dan memberikan keterampilan hidup sehat (life skill education)

f. Merealisasikan hak asasi manusia untuk semua orang untuk mengurangi kerentanan, penghormatan atas hak-hak asasi penderita HIV/AIDS.

g. Mengurangi dampak sosial melalui evaluasi dampak, memberi perlindungan hak dan martabat orang dengan HIV/AIDS di lingkungan tempat kerja.

h. Melakukan, mengembangkan berbagai penelitian dan upaya selanjutnya untuk mengembangkan penggunaan obat terutama Anti-Retroviral (ARV) dan obat infeksi oportunistik yang dijamin kesediannya, murah dan terjangkau.

i. Melakukan aksi untuk pencegahan HIV/AIDS pada penduduk di tempat berisiko tinggi penularan HIV/AIDS, wilayah konflik, bencana alam, termasuk pengungsian.

(10)

karena rendahnya moralitas seseorang. AIDS dianggap semata-mata disebabkan karena seseorang yang tak bermoral, karena seks bebas, orientasi seksual yang berbeda dan adanya para penjaja seksual. Dinafikan bahwa tenyata penularannya juga bisa melalui jarum suntik, dari transfusi darah, bahkan bisa melalui ibu yang menyusui.

Diskriminasi berjalan terus, sehingga diam-diam menutup akses bagi mereka yang terkena untuk menikmati berbagai haknya seperti halnya manusia yang lain. Hak untuk mengembangkan diri, hak untuk bekerja, hak kesehatan dll.

Mengapa buku ini diterbitkan, yakni terutama dalam rangka mendorong para penentu kebijakan agar sensitive sekaligus mengambil langkah agar ada kebijakan yang memihak pada para penderita terutama juga bagi perlindungan hak masyarakat pada umumnya. Karena kalau para pelaksana negara membiarkan diskriminasi dan tidak menganggap penting pada persoalan ini, sesungguhnya sama saja dengan membiarkan pelanggaran HAM itu beranak pinak.

Dari berbagai pengalaman penanganan HIV/AIDS dan secara khusus tentang sosialisasi berbagai produk alat kontrasepsi dalam rangka perlindungan terhadap perempuan, selalu mengalami pertikaian-paling tidak pada cara pandang. Ada pandangan yang sama sekali menolak karena didasari oleh nilai-nilai tertentu yang dianut, ada pihak yang sangat gencar menawarkan alat-alat kontrasepsi, bahkan terkesan menjadi “sales”nya industri alat kontrasepsi, dan ada pihak yang menggunakan isu alat kontrasepsi dalam rangka mengejar target untuk menekan angka kelahiran (ini terjadi pada masa penggalakan program KB yang sebenarnya bentuk dominasi negara sampai ke tempat tidur rakyatnya). Di sisi lain ada juga pihak yang didasari oleh kepentingan terhadap

(11)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

reproduksinya. Jadi kewajiban penggunaan kondom diterapkan pada orang yang sudah beresiko, dan bukannya menggoda orang untuk masuk.

Buku ini didasari oleh cara pandang dimana secara teknis tiada pilihan lain terhadap upaya melindungi masyarakat dari bahaya HIV/ AIDS yang sampai sekarang belum ada pemecahan dan kalaupun ada, tak terjangkau oleh semua pihak.

Buku ini didesain bukan untuk kepentingan training, namun lebih merupakan sebuah panduan bagi siapapun yang akan bertindak memprakarsai perubahan melalui kebijakan. Semoga melaui buku ini dapat mendorong semua pihak (bahkan masyarakat luas) untuk mengupayakan kehidupan yang lebih baik dan lebih adil.

Editor

(12)

ARGUMENTASI

Mengapa Memilih Isu Penggunaan Kondom?

Sampai saat ini industri seks terus menyebar di seluruh wilayah Indonesia, dengan perkiraan ada 190-270 ribu penjaja seks, dan ada 7-10 juta lelaki yang menjadi pelanggannya. Lebih dari 50% lelaki pelanggan tersebut ternyata mempunyai pasangan tetap atau berstatus kawin. Ironisnya penggunaan kondom secara tetap oleh pelanggan para penjaja seks tidak mencapai 10%. Angka penggunaan kondom yang rendah ini tidak berhubungan dengan tingkat pengetahuan seseorang menganai HIV/AIDS, bagaimana virus ini ditularkan dan bagaimana pencegahannya. (Sumber: Estimasi Nasional Depkes 2002; Survei Surveilans Perilaku, Depkes, P2M, BPS, ASA, IHPCP 2003).

Upaya-upaya pencegahan diharapkan dapat mengurangi terjadinya penularan baru. Bila tidak ada upaya perluasan pencegahan yang intensif dan mampu menjangkau kelompok-kelompok yang rawan tertular HIV/AIDS, maka penularan baru sulit dihindari. Berdasar hitungan matematis, dengan menggunakan informasi hasil perkiraan jumlah orang yang rawan tertular HIV/AIDS, diperkirakan ada 90 ribu orang yang akan tertular HIV/AIDS di tahun 2003 saja. Bila kita tidak bisa meningkatkan penggunaan kondom pada kegiatan seks komersial, maka penularan akan terus terjadi, tidak hanya dari penjaja seks ke pelanggan atau sebaliknya, tetapi juda meluas ke pasangan tetap (istri) dari suami yang

(13)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Tidak ada alternatif lain, penanggulangan HIV/AIDS harus dengan upaya peningkatan penggunaan kondom pada setiap kegiatan seks berisiko. Pengalaman di banyak negara menunjukkan, dengan semakin tinggi penggunaan kondom pada kegiatan seks beresiko mampu mencegah penularan HIV/AIDS. Penggunaan kondom tidak hanya mencegah penularan antar kelompok beresiko tinggi, tetapi juga mencegah penularan selanjutnya pada kelompok beresiko rendah, yaitu pasangan atau istri serta anak-anak yang akan dilahirkan.

Untuk mengurangi lajunya penularan HIV/AIDS, dengan mengupayakan penggunaan kondom di lingkungan seks komersial, yang diperlukan tidak hanya kampanye penyadaran kepada masyarakat luas, tetapi juga dibutuhkan perangkat peraturan untuk mendukung usaha-usaha pencegahan. Di era desentralisasi saat ini, kebijakan di daerah tidak lagi tergantung dari pemerintah pusat. Diharapkan desentralisasi ini akn memberikan peluang bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk memantau dan mengelola kebijakan pembangunan di daerahnya dengan lebih demokratis, termasuk didalamnya pembangunan di bidang kesehatan. Perubahan situasi politik saat ini nampaknya memungkinkan masyarakat turut mendesakkan berbagai perubahan kebijakan demi kepentingan masyarakat luas.

Di lain pihak, LSM dan kelompok-kelompok masyarakat lain yang telah lama bergerak di bidang kesehatan pada umumnya dan pencegahan penyebaran penyakit HIV/AIDS pada khususnya, seringkali tidak siap dan tidak cepat menanggapi perubahan-perubahan politik dari tingkat lokal, nasional dan global. Dalam mengadvokasi sebuah kebijakan, seringkali mereka bertindak tidak strategis, tidak menguasai lapangan dan tidak tajam menganalisa siapa yang menjadi target advokasi mereka. Selain itu, terdapat indikasi lahirnya kebijakan-kebijakan baik di tingkat lokal maupun nasional yang justru menghalangi kerja-kerja pencegahan HIV/AIDS.

(14)

Data Tahun 2002

˜ Jumlah orang rawan tertular HIV/AIDS di Indonesia diperkirakan antara 13 juta-20 juta orang.

˜ Jumlah orang dengan HIV/AIDS di Indonesia sampai 2002 antara 90.000-130.000 orang.

˜ Hasil survei surveilans perilaku di beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari separuh kelompok lelaki dengan mobilitas tinggi membeli jasa seks setahun terakhir ini. Sebagian lelaki itu memiliki pasangan tetap yaitu istrinya.

˜ Diperkirakan ada 7-10 juta lelaki pelanggan jasa seks di Indone sia. Yang memprihatinkan, ternyata tidak sampai 10% yang mau melindungi diri dari resiko penularan, dengan menggunakan kondom secara teratur pada setiap kegiatan seks komersial tersebut.

˜ Tingkat prevalensi HIV pada kelompok waria penjaja seks telah mencapai sekitar 22%, meningkat tajam hampir 4 kali lipat dibandingkan tahun 1997.

˜ Penularan HIV/AIDS telah meluas ke istri. Telah dilaporkan pada beberapa wilayah Jakarta, ada sekitar 3% dari 500 ibu hamil yang dites secara sukarela telah terkena HIV/AIDS. Sumber: Komisi Penanggulangan AIDS Nasional 2002, Laporan Eksekutif

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tentang Ancaman HIV/AIDS di Indonesia 2002.

(15)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Pengalaman-pengalaman dari Thailand

Faktor penting yang mendukung kesuksesan Thailand adalah

˜ Komitmen Politik yang tinggi dari Perdana Menteri, Menteri Kesehatan, Kepolisian dan tokoh tokoh kampanye.

˜ Keterbukaan tentang keberadaan prostitusi, meskipun tetap ilegal, dan programnya ditinjau dari aspek kesehatan masyarakat, yaitu memotong rantai penularan HIV, bukan legalitas prostitusi.

˜ Kerjasama antara Gubernur, Dinas Kesehatan, Polisi, para pemilik dan manajemen tempat hiburan, dan LSM.

˜ Program Pemerintah di tingkat nasional maupun propinsi yang didukung oleh kebijakan, strategi terpadu, petunjuk teknis, anggaran dan sumber daya lain yang memadai.

Komponen program Thailand adalah:

˜ Kerja sama antara Dinas kesehatan, Kepolisian dan manajemen tempat hiburan sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing yang jelas.

˜ Strategi, termasuk anggaran dan manajemen dari Dinas

Kesehatan untuk pelaksanaan dan evaluasi program.

˜ Kondom yang bermutu yang disediakan, disimpan dan

didistribusikan secara gratis oleh Dinas Kesehatan untuk pelaksanaan dan evaluasi program.

˜ Pemeriksaan IMS dengan tujuan pengobatan, pencegahan

(16)

- Untuk penjaja seks, wajuib diperiksa setiap 2-4 bulan

- Untuk pelanggan, dapat memeriksa diri ke klinik IMS yang memadai.

˜ Kampanye besar dengan sasaran laki-laki. Upaya ini berupa

kampanye melalui media massa, program-program di tempatkerja, dan kegiatan LSM dengan tujuan meningkatkan permintaan akan kondom dari laki-laki pembeli jasa seks

Manfaat Program

Program tersebut menguntungkan semua pihak, lagipula tidak ada strategi alternatif lain yang efektif. Keuntungan tersebut yaitu;

Bagi pemerintah: mengurangi beban dari HIV; pemimpin

dipandang sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat.

Bagi PS: bisa “memaksa” penggunaan kondom dengan dukungan

penuh dari pemilik dan manajemen tempat kerja.

Bagi Pelanggan: program melindungi mereka dan pasangannya

dan mengubah norma sosial sehingga penggunaan kondom adalah lazim pada transaksi seks komersial

Bagi Industri Seks: mengurangi pendekatan “membumi

hanguskan mereka; sehingga mereka tidak kehilangan penghasilan karena semua tempat mendukung dan diikutsertakan dalam program; PS akan lebih sehat sehingga “kinerja” mereka lebih baik; kerja sama kepolisian dan dinkes mengubah posisinya dari “akar masalah” ke “solusinya”

(17)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Misalnya saja dengan menutup atau membungihanguskan kompleks-kompleks pelacuran, kebijakan yang melahirkan stigmatisasi dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA), pelanggaran menyediakan kondom bagi mereka yang beresiko tinggi, penangkapan terhadap pengguna narkotika yang bukan pedagang obat bius, dan lainnya.

Karena itulah kami merasa penting untuk menerbitkan sebuah buku panduan dalam melakukan advokasi untuk mengembangkan kebijakan Program Penggunaan Kondom 100% (PPK 100 %) di lingkungan seks komersial sehingga ada penggunaan kondom 100% pada 100% transaksi seks di 100% tempat transaksi seks di suatu daerah. Buku pegangan ini bukanlah buku teoritis mengenai apa itu advokasi tetapi lebih kepada langkah-langkah praktis melakukan advokasi mengembangkan kebijakan publik, khususnya penggunaan kondom 100% di lingkungan seks komersial.

Bagaimana Menggunakan Buku Panduan

10 Langkah Mengembangkan Kebijakan Publik: Mencegah Penularan HIV/AIDS di Lingkungan Seks Komersial

Buku ini adalah buku panduan dalam rangka melakukan kerja-kerja mengembangkan kebijakan publik khususnya untuk memperjuangkan penggunaan kondom 100%. Maka buku ini sengaja diterbitkan bagi mereka yang mempunyai perhatian dan peduli terhadap HIV/AIDS.

Membaca buku ini sebaiknya disejajarkan seperti halnya seorang aktor yang tengah mempelajari skenario yang akan dimainkan serupa dengan membaca suatu naskah drama. Bagi seorang advokator, bagaimana memperlakukan buku panduan ini diharapakan dapat membimbingnya pada suatu imajinasi tentang advokasi beserta seluruh aktivitasnya. Tanpa suatu imajinasi yang kuat, sulit untuk

(18)

memahami bagaimana tiap kegiatan dirancang untuk mencapai tujuan yang mengandung dimensi perubahan.

Tentu tidak mudah utnuk mengembangkan kebijakan pencegahan HIV/AIDS di lingkungan seks komersial dengan menekankan penggunaan kodom 100%, maka diperlukan suatu kelompok pendukung yang bergerak layaknya suatu pertunjukan opera, dimana para pelaku utama dan pendukung bahu membahu mempengaruhi untuk kemudian membentuk kebijakan. Singkat kata diperlukan kerja advokasi yang sungguh-sungguh. Buku ini adalh salah satu upaya untuk ikut memberi andil bagi terwujudnya advokasi termaksud. Para pengguna buku ini diharapkan tidak menelan mentah-mentah dan menerapkan begitu saja semuanya. Bisa jadi, ada sejumlah hal yang lebih baik diubah dan disesuaikan dengan keadaan, kecakapan maupun ketersediaan sumber daya.

Jika kegiatan mengubah kebijakan publik dipelajari dengan cermat, maka akan tampak satu hal yang sama, yakni pada dasarnya ditujukan terhadap suatu kebijakan tertentu dari pemerintah yang menyangkut kepentingan umum. Mungkin saja hasil yang hendak dicapai atau diinginkan dari kegiatan itu memang berbeda; ada yang hanya sekedar agar peraturan tertentu dicabut atau dihentikan, ada juga yang menuntut peraturan tersebut diubah atau diganti sama sekali, bahkan ada yang melangkah lebih jauh lagi dengan mengajukan usul-usul perubahan yang mereka inginkan, malah sampai mengajukan konsep-konsep tandingan terhadap seluruh peraturan atau inti kebijakan yang mendasari satu atau beberapa peraturan tertentu. Namun tujuan atau sasaran akhir sebenarnya sama saja: terjadi perubahan peraturan atau kebijakan.

Dengan kata lain, advokasi sebenarnya merupakan upaya untuk memperbaiki atau mengubah suatu kebijakan publik sesuai dengan

(19)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Maka menjadi penting untuk memahami apa sebenarnya kebijakan publik itu sendiri? Salah satu kerangka analisis yang berguna untuk memahami suatu kebijakan publik adalah dengan melihat kebijakan tersebut sebagai suatu “Sistem Hukum” (System

of Law) yang terdiri dari :

˜ Isi Hukum (Content of Law); yakni uraian atau penjabaran tertulis dari suatu kebijakan yang tertuang dalam bentuk perundang undangan, peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan pemerintah. Ada juga kebijakan-kebijakan yang lebih merupakan “kesepakatan umum” (konvensi) tidak tertulis, tetapi dalam hal ini kita lebih menitik beratkan perhatian pada naskah (text) hukum tertulis, atau “aspek tekstual” dari sistem hukum yang berlaku.

˜ Tatanan Hukum (Structure of law); yakni semua perangkat kelembagaan dan pelaksana dari isi hokum yang berlaku. Dalam pengertian ini tercakup lembaga-lembaga hukum (pengadilan, penjara, birokrasi, pemerintahan, partai politik dll) dan para pelaksananya (hakim, jaksa, pengacara, polisi, tentara pejabat pemerintah, anggota parlemen dll)

˜ Budaya Hukum (Culture of Law); yakni persepsi, pemahaman, sikap penerimaan, praktek-praktek pelaksanaan penafsiran terhadap dua aspek system hukum diatas: sisi dan tatanan hukum. Dalam pengertian ini juga tercakup bentuk-bentuk tanggapan masyarakat luas terhadap pelaksanaan isi dan tatanan hukum tersebut. Karena itu, hal ini merupakan “aspek kontekstual” dari sistem hukum yang berlaku.

Sebagai suatu kesatuan sistem tiga aspek hukum tersebut saling terkait satu sama lain. Karena itu idealnya, suatu kegiatan atau pro-gram advokasi, harus juga mencakup sasaran perubahan ketiganya. Karena dalam kenyataanya, perubahan yang terjadi pada salah satu

(20)

aspek saja tidak dengan serta merta membawa perubahan pada aspek lainnya. Perubahan suatu naskah perundang-undangan atau peraturan pemerintah, tidak dengan sendirinya mengubah mekanisme kerja lembaga atau aparat pelaksananya. Banyak contoh selama ini jelas-jelas memperlihatkan bahwa naskah undang-undang atau peraturan pemerintah yang, betapapun baiknya secara normatif, tidak didukung oleh kesiapan perangkat kelembagaan atau aparat pelaksana yang memadai dan akhirnya tersisa sebagai retorika murni belaka.

Demikian juga dengan budaya hukum. Naskah hukum mungkin sudah ada dan memenuhi semua tuntutan normatif yang diperlukan, juga tersedia perangkat kelembagaan dan aparat pelaksana yang cukup handal dan terpercaya, tetapi sikap dan perilaku masyarakat umumnya justru tidak mendukung isi maupun tatanan hukum tersebut. Sebaliknya juga demikian, tatanan hukum yang berubah tidak serta merta mengubah isi hukum yang berlaku. Budaya hukum yang juga berubah, tidak dengan sendiriya mengubah tatanan maupun isi hukum yang sudah ada.

Semua uraian tersebut memperlihatkan bahwa sasaran perubahan terhadap suatu kebijakan publik mestulah mencakup ketiga aspek hukum atau kebijakan tersebut sekaligus. Dengan kata lain, suatu kegiatan atau advokasi yang baik adalah yang secara

sengaja dan sistematis memang dirancang untuk mendesak akan terjadinya perubahan baik dalam isi, tatanan maupun budaya hukum yang berlaku. Kaidah ini tidak menafikan

kenyataan bahwa perubahan bisa saja terjadi secara bertahap atau berjenjang, mulai dari salah satu aspek hukum tersebut yang memang dianggap se3bagai titik tolak menentukan kemudian berlanjut (atau diharapkan membawa pengaruh atau dampak perubahan) ke

(21)

aspek-SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

prioritas dari kegiatan advokasi, tanpa harus mengorbankan prinsip dasarnya sebagai suatu upaya ke arah perubahan kebijakan

secara menyeluruh. Kerangka Kerja Dasar

Walaupun merupakan suatu kesatuan sistem yang saling berkait, namun tiga aspek hukum (kebijakan publik) yang menjadi sasaran advokasi tersebut harus didekati secara berbeda, terutama karena memang ketiganya terbentuk melalui proses proses legalisasi dan litigasi, sementara tatanan hukum dibentuk melalui proses-proses sosialisasi dan mobilisasi. Masing-masing proses ini memiliki tata-caranya sendiri. Karenan itu kegiatan advokasi juga harus mempertimbangkan dan memnempuh proses-proses yang sesuai.

Secara garis besar, ketiga jenis proses tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

˜ Proses-proses legalisasi dan litigasi; proses ini meliputi seluruh proses penyusunan rancangan undang undang atau peraturan sesuai dengan konstitusi dan sistem ketatanegaraan yang berlaku, mulai dari pengajuan gagasan atau usul dan tuntunan perlunya penyusunan undang-undang atau, peraturan baru, perdebatan parlemen untuk membahas gagasan atau tuntunan tersebut, pembentukan kelompok kerja dalam kabinet dan parlemen, seminar akademik untuk penyusunan naskah awal, penyajian naskah awal kepada pemerintah , pengajuan kembali ke parlemen, sampai akhirnya disepakati atau disetujui dalam pemungutan suara dalam parlemen. Tetapi pengertian proses legislasi dapat juga berarti prakarsa pengajuan rancangan tandingan atau bahkan peninjauan ulang undang-undang.

(22)

˜ Proses-proses politik dan birokrasi; proses ini meliputi semua tahap formasi dan konsolidasi organisasi pemerintahan sebagai perangkat kelembagaan dan pelaksana kebijakan publik. Bagian terpenting dan paling menentukan dalam keseluruhan proses ini adalah seleksi, rekrutmen dan induksi para aparat pelaksana pada semua tingkatan birokresasi yang terbentuk. Karena itu, seluruh tahapan tersebut sangat diwarnai oleh proses-proses politik dan manajemen hubungan (relasi-relasi) kepentingan kepentingan diantara berbagai kelompok yang terlibat di dalamnya, mulai dari lobi, mediasi, tawar menawar dan kolaborasi.

˜ Proses-proses sosialisasi dan mobilisasi ; proses ini meliputi semua bentuk pembentukan kesadaran dan pendapat umum serta tekanan massa terorganiser yang akan membentuk suatu pola perilaku tertentu dalam menyikapi suatu masalah bersama. Karena itu, proses-proses ini terwujud dalam berbgai bentuk tekanan politik mulai dari penggalangan pendapat dan dukungan (kampanye, debat umum, rangkaian diskusi dan seminar, pelatihan), pengorganisasian (pembentukan basis-basis massa dan konstituen, pendidikan politik kader), sampai ke tingkat pengerahan kekuatan.

Secara skematis, proses-proses pembentukan kebijakan publik dan advokasi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

(23)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Kegiatan advokasi, walaupun sasarannya adalah perubahan kebijakan publik sebagai bagian dari sistem hukum, namum tidak berarti hanya dapat dilakukan melalui jalur-jalur “legal” (proses legislasi dan litigasi) saja, tetapi juga melalui jalur-jalur “para legal” (proses-proses politik dan birokrasi serta proses-proses sosialisasi dan mobilisasi)

Barangkali memang perlu diperingatkan kembali disini bahwa salah satu tujuan kegiatan advokasi, khususnya dalam rangka pembentukan kegiatan umum dan penggalangan dukungan massa, bukanlah semata mata membuat orang “sekedar tahu”, tapi juga “mau terlibat dan bertindak”.

ISI HUKUM TATA LAKSANA HUKUM BUDAYA HUKUM PROSES-PROSES LEGISLASI & LITIGASI ISI/NASKAH HUKUM

(pengajuan usul, konsep tanding & pembelaan)

PROSES-PROSES PEMBENTUKAN/ POLITIK & BIROKRASI KEBIJAKAN PUBLIK (mempengaruhi pembuat pelaksana peraturan)

PROSES-PROSES SOSIALISASI & MOBILISASI (membentuk pendapat umum pengorganisasian basis Dan tekanan politik)

P K E E R B U I B J A A H K A A N N

(24)

Maka, menjadi jelas pula, bahwa kegiatan advokasi memerlukan keterlibatan banyak pihak dengan spesifikasi keahlian yang berbeda dalam suatu koordinasi yang terpadu dan sistematis. Selain alasan kapasitas teknis, juga ada pertimbangan strategis lainnya untuk melibatkan semakin banyak pihak dalam suatu kegiatan advokasi, yakni besaran masalah dan dampak pengaruhnya yang diharapkan semakin membesar pula dengan semakin banyaknya pihak yang terlibat menyuarakan hal yang sama. Keterlibatan berbagai pihak atau organisasi yang saling berbeda tersebut dapat digambarkan dalam suatu segitiga koordinatif seperti tampak dibawah ini.

KERJA PENDUKUNG

Menyediakan dukungan dana, logistik, informasi, data dan akses

KERJA GARIS DEPAN

Melaksanakan fungsi juru bicara, perunding, pelobbi, terlibat dalam proses legislasi dan litigasi, menggalang

sekutu

KERJA BASIS

”Dapur” gerakan advokasi: Membangun basis massa,

Pendidikan Politik kader, membentuk lingkar inti,

(25)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Meskipun dalam kenyataanya pembagian kerja antar ketiga unsur ini seringkali terkait satu sama lain, tetapi pemisahan fungsi utamanya masing-masing secara tegas harus disepakati antara semua pihak atau organisasi yang terlibat dalam kegiatan advokasi. Ini penting untuk menegaskan terjadinya kinerja optimum dari setiap fungsi yang berbeda. Karena sifatnya satu sama lain adalah saling mendukung dan saling melengkapi, maka mekanisme kinerja terbaik antara ketiganya adalah rangkaian pertemuan koordinasi berkala untuk menyepakati bersama pembagian tugas, alokasi sumber daya, penjadwalan kegiatan, penentuan langkah-langkah dalam proses pelaksanaan, tata cara pelaporan dan dokumentasi, dan sebagainya. Semua ini mengandaikan pentingnya kepemimpinan kolektif dalam suatu jaringan kerja advokasi, dimana tidak ada satu pihakpun yang merasa dirinya “pemimpin tertinggi”, tetapi lebih sebagai mitra kerja yang setara dan sinergik

(26)
(27)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Bagan 10 Langkah

Advokasi Penggunaan Kondom

B e n tu k P o kj a In ti Ri se t & O la h Da ta G a la ng pe n d u kun g Kerja M edia Pe ng ar uh i pem bu at k e bijak a n ke b Te nt uk an is u s trat e gis S os ialis as i & M o bilis as i R a n can g s a sa ra n & s trat e gi Ad ak a n s e m ina r

(28)

Daftar Isi

Kata Salam dari Editor ⎯ vii Argumentasi ⎯ xi

Daftar Isi ⎯ xxv

Langkah Pertama: Membentuk Kelompoki Kerja (POKJA) Inti

1. Bentuk Kelompok Kerja (POKJA)

Inti Advokasi Kebijakan Penggunaan Kondom 2

Syarat Pembentukan Kelompok Kerja (POKJA) Inti

Advokasi Kebijakan Penggunaan Kondom 3

Proses Pembentukan Kelompok Kerja (POKJA) Inti

Advokasi Kebijakan Penggunaan Kondom 4

Contoh Lembar Daftar Anggota POKJA 5

Langkah Dua: Kajian dan Olah Data

2. Kajian, Olah Data dan Kemas Isu 8

Kaidah dan Ciri Pokok Kajian Advokasi 9

Langkah-langkah Kajian Advokasi 9

Apa yang Perlu Diperhatikan Ketika Mendesain Pesan 10

Tunjuk Juru Bicara 11

(29)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Langkah Tiga: Menentukan Isu Strategis

3. Tentukan Isu Strategis 14

Tiga Ciri Pokok Isu Strategis 15 Tolok Ukur Isu Strategis Advokasi Penggunaan Kondom 16 Langkah-langkah Menentukan Isu Strategis 18

Langkah Empat: Menggalang Dukungan

4. Galang Sebanyak Mungkin Pendukung Untuk Memperjuangkan Kebijakan Penggunaan

Kondom 100% di Lingkungan Seks Komersial 22 Langkah-langkah Menggalang Dukungan 23 Kelompok Pendukung yang Efektif 25 Individu atau Organisasi yang Dapat Mendukung

Advokasi 26

Cara Lain untuk Memperluas Dukungan 27

Bangun Jaringan Pendukung 28 Apa yang Dilakukan Kalau Menghadapi

perbedaan 28

Langkah Lima: Merancang Sasaran dan Strategi

5. Tentukan Sasaran dan Strategi Advokasi kebijakan

Penggunaan Kondom 100% 32

Langkah-langkah 32

Susunlah Kerangka Dasar Strategi Advokasi 34

Langkah Enam: Sosialisasi dan Mobilisasi

6. Lakukan Sosialisasi dan Mobilisasi 38

(30)

Media Sosialisasi 39

Langkah Tujuh: Kerja Media

7. Lakukan Sosialisasi dan Publikasi Melalui Media Massa 44

Beberapa Kaidah 45

Mengemas Pesan Pada Media 46 Menyelenggarakan Talkshow 46 Menyelenggarakan Konferensi Pers 47 Feature 48 Surat Pembaca 48 Radio dan Televisi 48

Langkah Delapan: Seminar

8. Adakan Seminar 52

Langkah-langkah 53

Persiapan Pelaksanaan 54

Pelaksanaan 55

Yang Perlu Diperhatikan 56

Evaluasi 56

Langkah Sembilan: Mempengaruhi Pembuat Kebijakan

9. Pengaruhi Pembuat Kebijakan 58

Dasar Pelaksanaan Lobbi 58

Siapa yang Akan Dilobbi? 59

Cara-cara Melakukan Lobbi 60

(31)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Langkah Sepuluh: Mendesakkan Perubahan Kebijakan

10. Lakukan Desan untuk Perubahan Kebijakan 70 Langkah-langkah Perumusan Legal Drafting 70 Proses Konsultasi dan Pembentukan Opini Publik 72 Pertemuan Evaluasi dan Sharing Proses di Tingkat

Kabupaten, Propinsi dan Nasional 73

Pustaka 75

(32)

Langkah Pertama

Membentuk Kelompok Kerja

(POKJA) Inti

(33)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

1

Bentuk Kelompok Kerja (POKJA)

Advokasi Kebijakan Penggunaan

Kondom di Lingkungan Seks Komersial

Untuk mengurangi lajunya penyebaran HIV/AIDS, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), LSM, akademisi, media massa dan organisasi sosial serta orang-orang yang peduli AIDS perlu untuk mengadvokasi kebijakan penggunaan kondom 100% dalam seks komersial dengan cara mempengaruhi pemerintah dan parlemen agar mengembangkan, mengesahkan dan mengeluarkan kebijakan dan peraturan mendukung usaha-usaha pencegahan penularan HIV/ AIDS.

Langkah pertama dari proses advokasi adalah membentuk Kelompok Kerja Inti (POKJA). Dalam istilah advokasi sering disebut Tim Inti, yakni kumpulan orang-orang yang menjadi penggagas, pemrakarsa, penggerak dan pengendali utama seluruh kegiatan advokasi. Sebagai upaya sistematik dan terorganisir untuk mengembangkan kebijakan publik dalam rangka penggunaan kondom 100%, POKJA inilah yang akan melakukan terwujudnya segala persyaratan advokasi. Mulai melakukan riset, menentukan isu strategis, merumuskan sasaran yang akan dicapai, merancang strategi dan taktik yang akan digunakan, menyiapkan penggalangan dukungan sumber daya yang dibutuhkan, sampai pada pemantauan seluruh proses, hasil dan termasuk apa dampaknya. POKJA inti gerakan advokasi merupakan ’tim kerja’ yang siap bekerja purna-waktu, saling mendukung dan kompak, ibarat menghadapi suatu pertarungan antara ’menang’-’kalah’, POKJA berperan memegang

(34)

kendali utama dalam menjalankan strategi yang selalu siap setiap saat selama proses advokasi berlangsung.

Karena itu, pembentukan POJA inti dalam suatu gerakan advokasi memrlikan beberapa prasyarat tertentu yang cukup ketat, terutama dalam hal kesatuan atau kesamaan visi dan analisis (bahkan juga ideologis), dan kepentingan yang jelas terhadap persoalan yang diadvokasikan.

Syarat Pembentukan Kelompok Kerja (POKJA) Inti Advokasi Kebijakan Penggunaan Kondom Jumlah anggota POKJA sebaiknya tidak terlalu banyak untuk

memudahkan koordinasi.

POKJA terdiri dari orang-orang yang memiliki kemampuan menjadi penggagas dan penggerak kegiatan advokasi.

Anggota POKJA sebaiknya juga terdiri dari berbagai unsur seperti KPA, LSM yang berpengalaman di bidang HIV/AIDS, pengacara, akademisi serta mempunyai akses yang luas terutama kepada tokoh agama, pemerintah, legislatif dan tokoh masyarakat lain. Anggota POKJA harus memiliki visi,cara pandang dan

kepentingan yang sama.

Bersedia memberi waktu yang cukup sehingga dapat mencurahkan segala tenaga dan pikirannya.

Rendah hati untuk bekerja dan menerima pembagian peran secara proporsional. Sebaliknya anggota POKJA tidak boleh merasa menjadi bintang apabila berada di garis depan.

Mampu membedakan secara tegas kapan saatnya harus bersikap apa dan dengan cara bagaimana terhadap siapa.

(35)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Proses Pembentukan Kelompok Kerja (POKJA) Advokasi Kebijakan Penggunaan Kondom

Pembentukan POKJA dapat dimulai dengan memilih orang or-ang yor-ang mempunyai kemampuan untuk menjadi penggagas dan penggerak kegiatan advokasi.

Selanjutnya dilakukan pembagian peran dengan melihat rencana advokasi secara keseluruhan, sehingga dapat menentukan posisi dan peran masing-masing berdasar kemampuan yang dimiliki. Penentuan peran sampai perincian siapa yang akan menjalani fungsi kerja basis dan siapa yang bekerja di garis depan. Untuk menyatukan visi, cara pandang terhadap persoalan dan

isu penggunaan kondom 100% yang akan diadvokasi perlu diadakan diskusi intensif dalam POKJA.

Pertimbangkan, apakah jumlah orang dan kemampuan anggota POKJA telah mencukupi atau masih perlu menambah lagi. Jika masih dianggap perlu diskusikan bagian mana yang masih perlu dukungan dan pilihlah orang yang tepat untuk melakukannya.

(36)

Contoh Lembar Daftar Anggota POKJA (DAP) Daftar Anggota POKJA

(37)
(38)

Langkah Kedua

Kajian dan Olah Data

(39)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

2

Kajian, Olah Data dan Kemas Isu

Berbeda dengan kajian akademis yang mementingkan formalitas baku dalam proses dan hasilnya, kajian untuk advokasi kebijakan lebih menitik beratkan pada manfaat praktis dari semua data, fakta dan informasi yang dihasilkannya. Karena itu, kajian advokasi sebenarnya lebih merupakan kajian praktis dan terapan terutama dalam bentuk kajian kebijakan.

Tujuan utama kajian yakni untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data/fakta, kemudian diolah dan dikemas menjadi informasi yang diperlukan untuk mendukung semua kegiatan lain dalam proses advokasi. Data/fakta sangat berguna untuk merumuskan isu strategis, juga sebagai bahan untuk melakukan langkah-langkah advokasi berikutnya, mosalnya dalam rangka untuk kebutuhan proses legislasi, lobbi, kampanye dan lain sebagainya.

Dengan demikian, semua data dan informasi hasil riset itu pada akhirnya perlu dikemas sedemikian rupa untuk berbagai keperluan praktis. Data dan informasi yang sama, jika digunakan untuk keperluan melobbi pejabat pemerintah, misalnya, tentu saja memerlukan kemasan dan cara penyajian, dan sangat beda jika digunakan untuk menggalang dukungan langsung dan aktif dari berbagai pihak lain sebagai calon pendukung potensial atau jika digunakan untuk keperluan kampanye pembentukan pendapat umum.

(40)

Kaidah dan Ciri Pokok Kajian Advokasi

Tujuan kajian advokasi adalah pembuktian kasus dan berpegang pada kebenaran isu yang diadvokasikan.

Manfaat kajian advokasi adalah adanya pengakuan hak atau pelayanan publik yang lebih baik.

Kajian advokasi harus memihak dan dapat meyakinkan. Hindari kaidah-kaidah baku yang cenderung bersifat akademis. Penyajian hasil singkat, padat, jelas dan tegas.

Langkah-langkah Kajian Advokasi

POKJA Inti terlebih dahulu perlu memilih kebijakan publik apa yang menjadi obyek kajian.

Selanjutnya adalah menentukan tujuan melakukan kajian advokasi, dengan memperhatikan data dan informasi akan disampaikan kepada siapa atau digunakan untuk apa.

Di samping orang yang berpengalaman melakukan kajian, pelaksanaan kajian harus melibatkan aktivis dan rakyat (mereka yang terkena dampak kebijakan).

Agar kegiatan kajian dapat berjalan dengan lancar, sebaiknya juga dipikirkan hal-hal teknis, seperti pembuatan jadwal pelaksanaan kegiatan, pemilihan proses dan metoda

(41)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Apa yang perlu diperhatikan ketika mendesain informasi

Informasi hasil kajian kebijakan untuk keperluan kegiatan advokasi harus disajikan agar menarik dan mudah dipahami. Pikirkan mengenai siapa yang akan dijangkau, kemudian

kemaslah pesan dan sesuaikan dengan bahasa kelompok sasaran. Jika kita ingin menjangkau remaja, gunakanlah bahasa mereka. Jika ingin menjangkau orang tua, gunakan pesan untuk menyampaikan bahaya AIDS terhadap anak-anak mereka. Sedangkan jika akan menjangkau pejabat, pilihlah pesan yang tepat bagi mereka.

Kumpulkan fakta dan informasi pendukung untuk memperkuat pesan.

Gunakan cerita pribadi jika memungkinkan. Orang akan lebih mengenali cerita dibanding fakta kering. Gunakan cerita tersebut untuk menggambarkan mengapa isu itu penting. Gunakan contoh atau cerita pribadi yang berhubungan dengan pesan atau isu yang disampaikan. Lebih bagus lagi kalau ada orang saksi, misalnya ODHA, orang tua ODHA, dsb.

Kumpulkan kutipan dan pernyataan dari orang terkenal dan minta ijin untuk menggunakannya. Itu akan memberikan kredibilitas pada upaya yang dilakukan dan membuat orang lain memberi perhatian.

Maksimalkan nilai positif dan minimalkan nilai negatif. Beberapa nilai positif dari pemakaian kondom adalah pilihan, kesehatan dan merupakan tanggung jawab. Sedangkan nilai negatif yang harus dihindari adalah pernikahan dini, melegalkan zina/seks

(42)

bebas, tidak natural. Ingat bahwa penggunaan kata/ kalimat yang berbeda dapat menimbulkan arti berbeda pula, dan akan mempengaruhi pemahaman serta penerimaan seseorang. Gunakan nilai-nilai yang dapat diterima kelompok sasaran serta

diterima juga oleh masyarakat luas. Perhatikan bahwa tiap daerah mempunyai budaya yang berbeda pula.

Untuk setiap hal yang akan disampaikan, pastikan mengingatkan orang adanya lawan yang menentang. Sebagai contoh jika kita menekankan penggunaan kondom dalam mencegah AIDS, pasti akan berhadapan dengan orang yang menentang penggunaan kondom.

Buat jelas dan singkat pesan yang akan disampaikan.

Gunakan setiap kata terfokus pada isu yang akan dibicarakan. Ulangi pesan dalam setiap media yang digunakan. Dengan lebih banyak diulang, akan lebih , memungkinkan didengar atau dibaca. Buat poin yang lebih penting duluan. Latar belakang informasi

seperti jumlah penduduk dapat disampaikan kemudian.

Tunjuk Juru Bicara

Setelah kita menentukan isu dan pesan yang akan disampaikan,

langkah berikunya adalah menunjuk juru bicara. Tidak setiap orang yang terlibat dalam kegiatan advokasi dapat menyampaikan pesan secara baik. Maka pilihlah orang yang :

Fasih berbicara di depan umum.

(43)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Orang yang dikenal, orang dengan kredibilitas (seperti dokter, DPR dan public figure lain) atau orang yang energik dan antusias terhadap persoalan HIV/AIDS biasanya adalah juru bicara yang baik.

(44)

Langkah Ketiga

Menentukan isu Strategis

(45)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

3

Tentukan Apa Isu Strategis POKJA

Advokasi Kebijakan Penggunaan

Kondom 100% di Lingkungan Seks

Komersial

Setelah POKJA terbentuk dan melakukan kajian, tugas mereka berikutnya adalah memilih dan menetapkan isu yang akan diadvokasikan. Bagaimana dapat menetukan Isu Strategis tentang kebijakan penggunaan kondom 100%?. Pertama yang harus dilakukan POKJA adalah melakukan riset, mengumpulkan data dan informasi sebanyak mungkin-termasuk mengumpulkan berbagai kebijakan yang menyangkut prostitusi dan Infeksi Menular Seksual (IMS). Data tersebut lalu diolah dan dipelajari yakni dengan menganalasis mana diantara sekian banyak isu aktual dalam masyarakat yang benar benar strategis untuk diadvokasikan. Isu strategis merupakan perumusan jawaban terhadap sejumlah pertanyaan atau msalah kebijakan paling mendasar yang akan mempengaruhi kerja-kerja advokasi selanjutnya.

Kebijakan yang berlaku di masyarakat ada yang tertulis dan ada yang tidak tertulis. Pada beberapa tempat prostitusi telah memberikan sumbangan yang besar bagi pendapatan daerah, tetapi banyak kebijakan yang kontra produktif dengan melarang prostitusi. Adanya pelarangan itu tetap menempatkan istri pada posisi yang rentan tertular HIV. Pada sisi lain, PPK 100% bisa saja dilakukan tanpa ‘melegalkan’ prostitusi.

(46)

Tiga Ciri Pokok Isu Strategis :

a. Terumuskan secara singkat-padat-jelas, jika perlu dalam satu kalimat/ paragraf saja. Meskipun singkat rumusan ini harus mampu menjawab pertanyaan tentang apa yang dapat dilakukan POKJA terhadap isu tersebut. Kalau ternyata jawabannya adalah bahwa POKJA tidak dapat berbuat sesuatu apa pun, berarti isu tersebut bukanlah suatu isu yang strategis.

b. Meskipun rumusannya singkat, namun rumusan itu merupakan hasil diskusi panjang dan mendalam tentang sejumlah faktor yang menjadi alasan mengapa penggunaan kondom 100% dapat dianggap sebagai suatu masalah kebijakan yang paling mendasar. Inilah yang menjadi dasar bagi perumusan isu. c. Meski ringkas, namun tersedia satu rumusan terpisah yang

cukup rinci tentang konsekuensi-konsekuensi yang akan dialami POKJA jika nantinya gaagal menangani isu tersebut. Jika ternyata tidak ada konsekuensi atas kegagalan tersebut, maka isu tersebut tidak bisa dikatakan sebagai isu strategis. Sebaliknya jika konsekuensinya cukup berat jika terjadi kegagalan, maka berarti isu tersebut memeang sangat strategis dan harus ditangani.

(47)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Tolok Ukur Isu Strategis Advokasi Penggunaan Kondom

Selain faktor aktualitas (sedang hangat atau sedang menjadi perhatian masyarakat), pada dasarnya suatu isu dapat dikatakan sebagai ’isu yang strategis’ jika:

a. Isu Strategis sangat penting dan mendesak, dalam artian tuntutan tentang kepastian akan penggunaan kondom semakin meluas di masyarakat, jika tidak akan membawa dampak negatif lebih besar pada kehidupan masyarakat umum yakni tersebarnya HIV/AIDS dan penyakit lainnya.

b. Berdampak positif pada perubahan kebijakan publik lainnya dalam rangka mengarah pada perubahan sosial yang lebih baik

Isu Strategis Advokasi Kebijakan Penggunaan Kondom 100%

1. Kewajiban negara melindungi masyarakat, masyarakat melindungi individu, individu melindungi diri sendiri dari HIV/AIDS.

2. Selama ini istri tidak berdaya terhadap perilaku suami yang beresiko. 3. Laki-laki yang beresiko tingi diharuskan menggunakan kondom, karena mereka yang menentukan kondom digunakan atau tidak dalam transaksi seks komersial.

4. Penjaja seks perlu dilindungi dari kekerasan, tekanan, ancaman, pungutan dalam penerapan PPK 100%

(48)

c. Sesuai dengan visi dan agenda perubahan sosial yang lebih besar seperti yang dituntut oleh masyarakat dan juga dicanangkan oleh POKJA Advokasi Penggunaan Kondom 100%

d. Harus sesuai, cocok dengan kebutuhan dan aspirasi sebagian besar anggota masyarakat, khususnya bagi lapisan masyarakat bawah. Jika ada pendapat yang menentangnya, maka menjadi kewajiban POKJA Inti untuk meyakinkan pada masyarakat.

PERHATIAN

Dalam proses perumusan isu strategis sering ditemukan perbedaan-perbedaan atau bahkan bisa jadi mengarah ke pertentangan. Perbedaan atau pertentangan itu biasa terjadi. Maka harus ditelusuri apa, bagaimana, mengapa, termasuk soal pilihan tempat (dimana), waktu (kapan) dan dengan siapa orang-orang atau kelompok yang nantinya akan memperoleh manfaat atau sebaliknya dirugikan. Karena itu POKJA dan semua pihak yang terlibat harus siap menghadapi perbedaan dan pertentangan.

(49)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Langkah-langkah Menentukan Isu Strategis

1. Lakukan tukar pendapat semua anggota POKJA yakni dengan cara mendaftar sebanyak mungkin isu yang mereka anggap penting.

2. Setelah daftar isu terkumpul, lakukan penilaian terhadap setiap isu satu-persatu dengan menggunakan tolok ukur isu strategis yang telah dirumuskan dan disepakati

3. Pilih salah satu isu, yakni yang paling memenuhi tolak ukur yang ada (jika ada beberapa isu yang memenuhi semua tolak ukur, POKJA harus tetap mendiskusikannya dan memilih salah satu saja!)

4. Salah satu tulisan singkat (1-2 halaman saja) sebagai ’kertas posisi’ POKJA yang menjelaskan latar belakang data/ informasi dan alasan-alasan (argumentasi) mengapa isu tersebut dianggap penting dan perlu diadvokasikan.

Dalam kenyataanya, ada kalanya isu strategis sudah dipilih dan ditetapkan lebih dahulu, dan baru belakangan POKJA dibentuk. Kalau terjadi praktek seperti itu maka POKJA yang telah terbentuk sebaiknya duduk bersama dan membahas bersama kembali, yakni dengan melakukan penilaian lagi apakah isu yang telah dipilih dan ditetapkan itu memang benar-benar strategis atau tidak menurut POKJA.

(50)

Dalam Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS 2003-2007 disebutkan upaya pencegahan HIV/AIDS pada populasi beresiko tinggi seperti penjaja seks dan pelanggannya, ODHA dan pasangannya, penyalah guna napza suntik, dan petugas karena pekerjaanya beresiko terhadap penularan HIV/AIDS harus dilakukan dengan efektif seperti penggunaan kondom penerapan pengurangan dampak buruk dan penetapan kewaspadaan umum.

UNGASS 2001 telah mendeklarasikan bahwa tahun 2003 mengesahkan, mendukung atau menegakkan peraturan dan ketentuan lainnya sebagai perundang-undangan yang tepat untuk menghapuskan segala bentuk diskriminasi dan memastikan pemilikan hak-hak asasi dan kemerdekaan secara sepenuhnya oleh ODHA dan kelompok rentan.

(51)
(52)

Langkah Keempat

Menggalang Pendukung

(53)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

4

Galang Sebanyak Mungkin Pendukung

untuk Memperjuangkan Kebijakan

Penggunaan Kondom 100% di Linfkungan

Seks Komersial

Kerja-kerja mengembangkan kebijakan publik (advokasi) penggunaan kondom 100% adalah serangkaian kegiatan yang sangat rumit. Banyak jenis kegiatan yang harus dilakukan bahkan pada saat bersamaan, mulai dari pengumpulan data dan informasi, merumuskan isu, menggalang sekutu, beracara di peradilan, melobbi pejabat pemerintah, menyelenggarakan kampanye, berurusan dengan media, sampai membangun basis basis masyarakat pendukung. Padahal, tiap jen is kegiatan itu saja sudah cukup menyita banyak waktu , tenaga, pikiran dan dana. Sehingga tidak ada seseorang atau suatu kelompok (seberapapun besar dan kuatnya) yang akan mampu sendiri melakukan semua kegiatan advokasi tersebut. Dalam hal inilah, penggalangan pendukung menjadi sangat vital dalam setiap kegiatan advokasi.

Kesuksesan membangun opini jarang dihasilkan oleh sedikit orang. Kegiatan advokasi biasanya merupakan kerja sama dari berbagai orang dan organisasi dengan masing-masing menyumbangkan sumber daya, waktu dan tenaga. Orang dan organisasi saling bekerja sama karena adanya persamaan dan tujuan. Dengan menunjukkan kegiatan advokasi memiliki pendukung yang luas, merupakan kesempatan bagi tumbuhnya basis konstituen masyarakat dan semakin mengurangi bahkan menghilangkan pihak-pihak yang menentang.

(54)

Kelompok kerja (POKJA) dalam kegiatan mengembangkan kebijakan publik bisa perorangan, atau berasal dari kelompok atau organisasi yang memiliki sumber daya (keahlian, akses, pengaruh, informasi, prasarana dan sarana, juga dana) yang bersedia dan kemudian terlibat aktif langsung, mendukung dengan mengambil peran atau menjalankan suatu fungsi, tugas tertentu dalam seluruh rangkaian kegiatan advokasi secara terpadu. Adapun mereka yang tidak terlibat secara langsung, misalnya sekedar menyediakan sarana dan logistik yang dibutuhkan, atau tenaga ahli yang menyumbangkan pemikirannya, dapat kita katakan sebagai satuan pendukung. Terlibat langsung atau tidak langsung, tetap dibutuhkan proses-proses pendekatan kepada mereka agar bersedia terlibat. Jelas diperlukan berbagai keterampilan teknis dan kiat khusus untuk itu.

Kejelasan pada tujuan yang dirumuskan akan menguatkan upaya advokasi dan mendorong orang lain melihat kelompok advokasi ini kompak, serius dan dapat dipercaya. Persepsi demikian akan menarik dukungan masyarakat lebih luas.

Langkah Langkah Menggalang Dukungan

Dalam menggalang dukungan terhadap kegiatan advokasi, telebih dahulu tentukan pihak-pihak yang akan diajak kerja sama dan bagilah tugas atau peran yang harus mereka lakukan. Tentukan tolak ukur utama untuk menilai seseorang atau suatu organisasi dapat dijadikan pendukung kegiatan advokasi. Untuk menjaga kelancaran kerja, rumuskan mekanisme

penugasan mereka keseluruh koordinasi/ jaringan advokasi tersebut. Dengan demikian pendukung dapat dilibatkan dalam setiap kegiatan advokasi.

(55)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

melakukan perannya dengan baik, membantu kelancaran advokasi atau malah sebaliknya.

Bila mengalami kesulitan atau hambatan dalam proses kerja sama, segera atasi atau cari pemecahannya.

Susun rencana kerja bersama satuan pendukung dalam rangka rencana strategi advokasi keseluruhan.

Tanda keberhasilan advokasi adalah kemampuan untuk mengajak orang berfikir seperti apa yang kita fikirkan dan akhirnya mendukung upaya advokasi.

Ketika telah mendapat dukungan, perhatikan hal-hal berikut: Hindari membentuk suatu struktur organisasi formal kecuali

kalau memang sudah sangat dibutuhkan. Kalaupun terpaksa harus ada struktur formal, tetap pelihara situasi informal. Delegasikan tanggung jawab dan peran seluas mungkin kecuali

pada hal-hal yang memang sangat strategis dan hanya boleh diketahui oleh POKJA inti.

Usahakan selalu membuat keputusan secara bersama sama. Jadikan mekanisme keputusan bersama sebagai nilai penting. Pahami berbagai kendala, kekurangan dan keterbatasan yang

dimiliki semua pihak yang terlibat. Beri peran dan fungsi yang sesuai dengan kendala dan keterbatasan mereka jangan membebani dengan hal-hal menyulitkan.

Mutlak jaga kelancaran saluran komunikasi dengan mereka, POKJA harus mengambil prakarsa menghubungi mereka jika tidak terjadi komunikasi cukup lama, jangan tunggu mereka yang menghubungi. Jangan tunda menyampaikan informasi baru yang kita peroleh.

(56)

Kelompok Pendukung Yang Efektif

Kelompok pendukung dalam kegiatan advokasi akan bekerja cukup baik dan efektif jika memenuhi beberapa hal berikut ini ;

Terfokus pada tujuan atau sasaran advokasi yang telah disepakati bersama.

Tegas menetapkan dan menggarap suatu isu tertentu atau menggarap beberapa isu sekaligus sepanjang disepakati bersama. Ada pembagian peran dan tugas yang jelas diantara semua yang

terlibat.

Terbentuk sebagai hasil atau dampak dari adanya pertentangan dalam masyarakat. Mereka yang bergabung adalah mereka yang benar-benar meraskan perlunya bekerja sama.

Memanfaatkan berbagai ketegangan yang muncul dalam proses bekerja sama untuk menjaga dinamika dan perimbangan. Karena itu, kelenturan harus tetap dijaga tidak terlalu kaku dan serba mengikat.

Memungkinkan lahirnya bentuk bentuk kerja sama yang baru yang lebih berkembang di masa masa mendatang. Kerja sama itu memungkinkan terjadinya proses saling membagi pengalaman, harapan, keahlian, informasi dan keterampilan.

Ada mekanisme komunikasi yang lebih lancar, semua pihak mengetahui harus menghubungi siapa, tentang apa, pada saat kapan dan dimana.

Dibentuk untuk jangka waktu tertentu yang jelas: jangka pendek, menengah atau panjang? Harus jelas ada batas waktu kapankerja sama itu selesai dan (jika dibutuhkan) boleh dimulai lagi.

(57)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

PERHATIAN

Dalam menentukan apakah POKJA Inti perlu merekrut pendukung untuk mencapai tujuan, sebaiknya juga diperhatikan :

Siapa yang saat ini menjadi mitra POKJA, mantapkan kembali hubungan POKJA dengan mereka sebelum mencari tanbahan teman.

Apakah mencari partner yang tepat sesuai isu yang telah ditetapkan, pastikan kelompok atau individu lain yang mendukung dengan isu sejenis, sehingga tidak membawa isu lain.

Dapat pula kelompok itu bekerja dalam area yang berbeda tetapi mempunyai isu yang sama.

Pikirkan bagaimana cara menjangkau tiap pendukung potensial. Sebagai contoh kita perlu menggunakan pendekatan berbeda. Untuk mendekati penentu kebijakan dibanding mendekati media. Pendekatan pada individu yang telah terbiasa membicarakan kondom akan berbeda dengan individu yang tahu sedikit manfaatnya.

Individu atau organisasi yang dapat diajak untuk mendukung advokasi

Sebaiknya lakukan identifikasi pada berbagai pihak apakah ada kemungkinan sebagai pendukung, pikirkan orang yang akan bekerja pada isu sama atau mempunyai komitmen pada penanggulangan AIDS. Proses tersebut akan membantu kita untuk mengidentifikasi kelompok atau individu yang mungkin menjadi pendukung potensial. Kelompok atau individu yang dapat menjadi pendukung potensial adalah :

(58)

Organisasi yang bekerja pada isu berbeda, tetapi mempunyai komitmen pada penanggulangan AIDS.

Penentu kebijakan dan legislatif.

Perawat, pekerja sosial dan pekerja kesehatan lain.

Artis atau public figure yang dapat menambah kredibilitas upaya kita dan mempublikasikannya.

ODHA.

Tokoh masyarakat.

Individu kaya yang dapat menyumbang dana untuk mencegah HIV/AIDS.

Pemimpin agama. Petugas KB.

Wartawan yang menulis tentang isu AIDS. Kelompok Perempuan.

Cara lain untuk memperluas dukungan

Setelah POKJA Inti memperolah dukungan dari pihak-pihak

diatas, usahakan untuk selalu memperluas dukungan dan jangkauan, dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:

Ajak perwakilan kelompok lain untuk berbicara atau sebagai peserta pada acara atau kegiatan yang kita lakukan.

Buat daftra terbaru apa yang kelompok lain kerjakan, dimana kita dapat berpartisipasi, seperti dalam seminar, acara dan kegiatan lainnya.

Beri perhatian pada kelompok atau individu yang bersimpati pada kasus AIDS tetapi hanya terlibat secara tidak langsung.

(59)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Ajak mereka pada acara seminar, atau bisa juga ajak mereka menjadi anggota kehormatan.

Tidak kalah pentingnya untuk berbicara pada kelompok dan organisasi local, maka distribusikan informasi pada acara –acara local yang ada.

Pasang informasi pada tempat umum dan sampaikan pada or-ang-orang bagaimana cara mereka dapat membantu.

Putar film tentang kasus AIDS dan cara penanggulangannya pada masyarakat.

Bangun Jaringan Pendukung

Salah satu cara yang efektif agar kita dapat menjalin kerja sama

adalah dengan berpartisipasi dalam sebuah jaringan. Jaringan adalah sebuah kelompok dari beberapa organisasi yang sependirian/ sependapat bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Jaringan tersebut dapat bersifat tetap atau sementara, dengan isu tunggal penggunaan kondom 100%.

Jaringan dapat berperan untuk :

Membangun kelangsungan basis dukungan Meningkatkan pengaruh dan upaya advokasi Memperluas jaringan advokasi

Meningkatkan keuangan dan sumber daya

Apa yang dilakukan kalau menghadapi perbedaan pendapat

Kalau dua atau lebih kelompok bergabung, senantiasa akan terdapat perbedaan pendapat. Sebelum menjadi anggota jaringan,

(60)

sebaiknya dipikirkan apakah kita cukup fleksibel dan dapat melakukan kompromi, misalnya :

Berapa banyak yang siap dikorbankan untuk mencapai tujuan bersama

Apakah kita mau berbagi akses dengan organisasi lain Bagaiman mengatasi konflik diantra anggota jika terjadi.

Pahami dan hargai kepentingan lembaga masing-masing. Cari tahu lebih dalam semua organisasi atau individu yang ada dalam jaringan itu; bagaimana sejarah, budaya nilai dan agenda mereka. Adalah penting untuk setiap anggota memahami hal tersebut dan menghargai perbedaan-perbedaan.

Ketika konflik terjadi, gunakan itu sebagai kesempatan untuk menjaga dinamika dan menghargai perbedaan pandangan serta sikap. Pelihara agar upaya-upaya yang dilakukan dalam jaringan tetap terfokus pada tujuan bersama.

(61)
(62)

Langkah Kelima

Merancang Sasaran dan Strategi

(63)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

5

Tentukan Sasaran dan Strategi Advokasi

Kebijakan Penggunaan Kondom 100%

Apakah yang harus diingat dalam proses perumusan sasaran advokasi adalah hakekat dan tujuan utama advokasi itu sendiri sebagai upaya untuk mengembangkan kebijakan publik penggunaan kondom 100%, sehingga rumusan sasaran harus tetap mengacu pada tujuan tersebut. Ini penting diingatkankembali terlebih dahulu untuk mencegah kecenderungan merumuskan sasaran advokasi yang berlebihan atau sudah diluar batas lingkup advokasi. Ingat bahwa advokasi adalah gerakan yang menggunakan cara-cara bukan kekerasan melalui jalur, wadah dan proses demokrasi perwakilan yang ada.

Karena itu sasaran advokasi memang hanya tertuju atau terarah pada kebijakan-kebijakan publik (atau bahkan hanya satu kebijakan publik tertentu) saja, dengan asumsi bahwa perubahan yang terjadi pada satu kebijakan tersebut akan membawa dampak positif atau, paling tidak merupakan titik awal dari perubahan-perubahan yang lebih besar.

Langkah-langkah

Dalam merancang sasaran dan strategi hendaknya memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :

Sebelum menentukan kebijakan sasaran advokasi, lihat kembali hasil perumusan Isu Strategis yang telah dirumuskan olah POKJA Inti.

(64)

Berdasar Isu Strategis tersebut kemudian kita dapat menentukan kebijakan publik mana yang akan menjadai sasaran advokasi. Jika berbentuk peratauran atau undang undang resmi, harus disebutkan secara jelas: nomor berapa, tentang apa, dan pada tingkatan apa (desa, daerah, nasional).

Selanjutnya pilihlah aspek apa dari kebijakan publik tersebut yang akan difokuskan atau diprioritaskan sebagai sasaran advokasi. Aspek tersebut meliputi isi naskah, tatalaksana, budaya atau semuanya.

Ukurlah rancangan strategi dengan tolak ukur ‘SMART’

Specific-Apakah rumusan sasarannya itu memaeng spesifik, konkrit dan jelas

Measurable-Apakah hasilnya nanti cukup terukur (ada indicator yang jelas bisa dipantau dan diketahui)

Achievable-Apakah sasaran atau hasil itu memang sesuatau yang mungkin dicapai atau diwujudkan (bukan mimpi dan angan-angan yang mustahil)?

Realistic-Apakah team advokasi memang mungkin atau mampu

melaksanakan dan mencapainya (punya kemampuan, sumber daya dan akses untuk itu)?

Time-bound-Apakah ada batas waktu yang jelas (kapan dan berapa

(65)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Rumuskan pula bentuk perubahan apa yang diinginkan sebagai hasil konkret dari rencana advokasi

Perkiraan waktu yang diperlukan untuk melakukan advokasi dan mencapai sassaran tersebut

Susunlah kerangka dasar strategi advokasi sebagai acuan kerja :

Pilihlah proses-proses pembentukan kebijakan publik dan sasaran advokasi yang akan ditempuh dan diprioritaskan (proses legislasi-yuridiksi, proses politik birokrasi, atau prosses sosialisasi mobilisasi).

Atas dasar itu, tentukan bentuk-bentuk kegiatan apa saja yang akan ditempuh.

Tentukan siapa atau pihak-pihak mana saja yang akan diajak untuk bekerja sama mendukung advokasi tersebut. Mengapa dan apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh masing-masing pihak tersebut?

Rancanglah cara mengkoordinasikannya. (buatlah gambaran umum struktur kelompok dan mekanisme kerja yang akan diterapkan)

Lihatlah sumber daya yang dimiliki dan darimana saja akan memperolehnya? Bagaimana cara mengatasi berbagai kelemahan yang mungkin dimiliki atau kemungkinan hambatan/ ancaman yang dihadapi nanti.

(66)

Tabel kerangka dasar strategi advokasi Sumber daya yang dimiliki Cara Koordinasi Peran yang dilakukan Pihak yang diajak kerja sama Bentuk Kegiatan Proses yang akan ditempuh Tujuan Sumber daya yang dimiliki Cara Koordinasi Peran yang dilakukan Pihak yang diajak kerja sama Bentuk Kegiatan Proses yang akan ditempuh Tujuan

(67)
(68)

Langkah Keenam

Sosialisasi dan Mobilisasi

(69)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

6

Sosialisasi dan Mobilisasi

Proses sosialsisasi dan mobilisasi, bentuk-bentuk kegiatannya lebih beragam dan majemuk, mulai dari kampanyepembentukan kesadaran masyarakat dan pendapat umum, kampanye penggalangan dukungan, pelatihan dan pendidikan politik tentang suatu isu kepada anggota dan waraga korban, pembentukan basis-basis organisasi gerakan, samapai pengerahan kekeuatan massa melakukan berbagai aksi-aksi kesetiakawanan, bahkan bilamana perlu lakukan aksi unjuk rasa.

Kampanye pembentukan pandapat umum penting dalam kegiatan advokasi, bahkan mungkin bentuk kegiatan yang paling lazim dilakukan oleh banyak organisasi/ jaringan advokasi selama ini. Tetapi tidak banyak, terutama dikalangan ORNOP di Indonesia selama ini, yang pernah melakukannya secara cukup sistematis, efektif, kreatif, inovatif dan menarik! (bahkan ada kesan sering dibuat ’asal-asalan’

Langkah-langkah

Tentukan apa sasaran yang ingin dicapai sebagai hasil kampanye pembentukan pendapat umum dalam kerangka kerja advokasi Kenali siapa saja yang akan menjadi sasaran utama kampanye. Pilih tema (pesan-pesan) pokok yang akan dikampanyekan

dan siapkan bahan-bahan pendukungnya.

(70)

Pilih bentuk media yang tepat untuk menyampaikannya dan kemas pesan dengan efektif dan kreatif.

Buatlah jadwal pelaksanaan kampanye; berapa kali dan berapa lama kampanye akan dilakukan? Kapan, pada saat apa dan dimana saja?

Tentukan orang-orang yang akan melaksakan kampanye. Pikirkan cara mangkoordinasikannya secara terpadu dengan semua kegiatan advokasi lainnya.

Media Sosialisasi Lembar Fakta

Lembar fakta memuat tentang fakta dari berita/ suatu topik tertentu. Lembar fakta merupakan suatu cara yang sangat efektif untuk memberikan informasi ke publik, media pembuat kebijakan, karena lembar fakta menyimpulkan berita dengan ringkas. Lembar fakta juga seringkali menggunakan data yang menarik publik.

Ketika menulis lembar fakta, yakinlah bahwa kita menggunakan data terkini yang ditemukan, dengan catatan kaki/ petunjuk dimana dan dari siapa data tesebut berasal. Hal ini akan sangat meningkatkan kredibilitas kita diamta orang-otrang yang membaca lembar fakta tersebut.

Pamflet

Pamflet merupakan cara yang efektif untuk menyampaikan pesan yang akan disampaikan ke publik. Biasanya pamflet berisi 1 halaman dan memberikan informasi tentang siapa/ apa/ mengapa/ dimana/ kapan kegiatan dilakukan. Selain disebarkan, dapat pula dipasang

(71)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

digunakan apabila kita ingin memberitahukan kepada publik tentang agenda aktifitas advokasi, misalnya; rencana pertemuan mendatang, konferensi pers, atau kegiatan untuk membawa informasi dengan cepat. Pamflet juga baik digunakan mengirimkan pesan-pesan untuk orang dengan jumlah banyak. Tetapi kita perlu hati-hati menggunakannya, terutama jika pesan yang disampaikan masih menimbulkan kontroversi.

Brosur

Brosur merupakan salah satu dari kebanyakan publikasi dengan biaya yang efisien yang bisa kita gunakan. Dalam beberapa hal brosur juga bisa lebih efektif. Brosur harus mengandung unsur; menyolok/ menarik perhatian dan mudah dibaca.

Brosur harus meringkas inti utama dari misi dan kegiatan advokasi sesingkat mungkin, dan brosur juga harus dapat dipahami semudah mungkin. Brosur dengan kat yang banyak akan kurang menarik untuk dibaca. Ukuran dari brosur dan desainnya tergantung pada banyaknya informasi yang ingin dimasukkan.

Buku kecil/ Buku Saku

Buku kecil memberikan berita/ tempat yang lebih lengkap dan membutuhkan perencanaan, penelitian dan penulidan yang seksama. Buku kecil lebih mahal dalam pembuatannya, karena buku kecil biasanya berisis lebih banyak dokumentasi dan penelitian yang substansif. Buku kecil dapat digunakan untuk menumbuhkan kredibilitas dan visibilitas pada media massa, pelajar, pendididk, dan pendukung lainnnya. Untuk membuat buku kecil menarik minat baca, berilah halaman ringkasan atau kata-kata penutup yang merupakan ringkasan dari berita utama. Buku kecil juga dapat dijual kepada publik, apabila informasi itu bagi mereka dinilai dirasa bernilai dan dibutuhkan.

(72)

Laporan Berkala

Laporan berkala berisi berita yang berkaitan dengan perkembangan organisasi. Laporan berkala secara luas bisa menimbulkan pendidikan publik dan berfungsi sebagai alat membangun dukungan. Namum demikian Laporan Berkala harus terbit dengan waktu yang teratur. Ini berarti kita harus menyediakan waktu yang cukup untuk mengumpulkan bahan dan membuatnya serta untuk memperbaharui daftar pengiriman dan penyebarannya. Pamflet dapat dikerjakan dengan cepat dan brosur dikerjakan dengan waktu yang sebentar, sedangkan laporan berkala memerlukan waktu yang lama.

Laporan berkala dapat disajikan dalam bentuk yang panjang/ pendek sesuai dengan yang dibutuhkan, namun dalam kampanye tertentu, laporan berkala yang berbentuk pendek biasanya lebih baik. Suatu laporan berkala berisi suatu gambaran dari organisasi dalam setiap laporan/ berita dan menjelaskan secara lengkap kemenangan/ kekalahan kelompok pada saat ini.

Laporan Tahunan

Laporan tahunan merupakan dokumen komprehensif yang bisa

dibuat oleh suatu organisasi. Laporan tahunan menjelaskan organisasi dan kegiatan kita selama setahun dan memberikan laporan keuangan yang lengkap, daftar karyawan, sumber-sember dana, dan preatasi organisasi.

Naskah Posisi

Naskah posisi menyatakan posisi organisasi kita pada maslah-masalah tertentu. Meskipun naskah posisi mudah dalam membuatnya, namun naskah posisi seringkali lebih sulit dalam

(73)

SEPULUH LANGKAH MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PUBLIK

Ketika menulis pernyataan/ naskah posisi, perhatikan hal-hal berikut:

Gunakan bahasa yang tidak membingungkan dan pernyataan yang logis.

Nyatakan posisi kita dengan jelas dan ringkas. Beri kesempatan pembaca unttk membenarkan suatu posisi secara perlahan-lahan. Hindari penggunaan bahasa kelompok tertentu dan bahasa yang berlebih lebihan.

Berilah kesempatan pembaca lainnya untuk menyatakannya dan meyakinkan bahwa naskah tersebut sudah jelas. Mintalah pada individu yang sama untuk mencermati sisi yang berlawanan dari posisi kita dan perhatikanlah kesalahan/ ketidak konsistenan dalam posisi kita sehingga perubahan dapat dibuat sebelum dokumen disebar luaskan.

Petisi

Petisimerupakan pengumpulan nama dan alamat orang orang yang mendukung suatu kampanye tertentu. Petisimerupakan cara yang efektif dalam mengumpulkan nama dan alamat dari pendukung dan sukarelawan baru yang potensial, dan untuk dokumentasi kekuatan dari konstituen yang mendukung kita. Setiap orang yang akan menandatangani petisi harus diminta untuk melakukan beberapa kegian sukarelatdala am mendukung upaya- upaya advokasi.

(74)

Langkah Ketujuh

Kerja Media

Gambar

Tabel kerangka dasar strategi advokasi Sumber daya yang  dimilikiCara KoordinasiPeran yang dilakukanPihak yang diajak kerjasamaBentukKegiatanProses yang akan ditempuhTujuan Sumber daya yang dimilikiCara KoordinasiPeran yang dilakukanPihak yang diajak kerja

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data dari Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2015, kecenderungan jumlah penderita HIV/AIDS di kalangan pegawai negeri sipil (PNS)

PMTS (Program Pencegahan HIV- AIDS melalui Transmisi Seksual) merupakan program pencegahan HIV-AIDS yang dicetuskan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN),

Sahabat MQ/ perilaku seks sesama jenis menjadi pintu lain penyebaran HIV AIDS// Deputi Sekretaris Bidang Pengembangan Program Komisi Penanggulangan AIDS Nasional -Kemal

Mengacu kepada kebijakan nasional penanggulangan HIV dan AIDS, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) melakukan koordinasi

Para agen pelaksana program Penanggulangan Penyakit HIV dan AIDS di Jawa Tengah adalah Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) dan semua stakeholder- stakeholder

Kegiatan penanggulangan HIV/AIDS sebagaimana diatur dalam Perda Kabupaten Badung Nomor 1 Tahun 2008 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS dilaksanakan oleh suatu komisi yaitu

Para agen pelaksana program Penanggulangan Penyakit HIV dan AIDS di Jawa Tengah adalah Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) dan semua stakeholder- stakeholder

KPA Komisi Penanggulangan AIDS, Awan Gunawan dalam portaljabar.net mengatakan jumlah keseluruhan kasus HIV/AIDS di Karawang sebanyak 807 kasus dari tahun 2001 sampai 2017, dengan tiga