• Tidak ada hasil yang ditemukan

MOTIF BATIK PADA BUSANA PENGANTIN ADAT YOGYAKARTA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "MOTIF BATIK PADA BUSANA PENGANTIN ADAT YOGYAKARTA."

Copied!
210
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Umi Putri Yulyani
  • Pengajar:
    • Ismadi, S.Pd.,M.A.
  • Sekolah: Universitas Negeri Yogyakarta
  • Mata Pelajaran: Pendidikan Kriya
  • Topik: Motif Batik Pada Busana Pengantin Adat Yogyakarta
  • Tipe: skripsi
  • Tahun: 2016
  • Kota: Yogyakarta

I. PENDAHULUAN

Bagian ini menjelaskan latar belakang pentingnya busana dalam budaya Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Penulis menekankan bahwa busana pengantin adat tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, tetapi juga sebagai simbol budaya yang mengandung makna dan filosofi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang motif batik yang digunakan dalam busana pengantin adat Yogyakarta, serta makna dan fungsi dari motif tersebut. Hal ini relevan dengan tujuan pendidikan yang mengedukasi masyarakat tentang warisan budaya dan pentingnya pelestariannya.

1.1. Latar Belakang Masalah

Dalam sub-bagian ini, penulis menjelaskan bahwa busana pengantin adat Yogyakarta memiliki kekhasan yang mencerminkan budaya lokal. Setiap motif batik yang digunakan mengandung filosofi dan harapan yang mendalam. Penulis juga mencatat bahwa seiring waktu, pemahaman masyarakat tentang makna simbolik dari motif batik ini semakin berkurang. Oleh karena itu, penting untuk mengedukasi generasi muda mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam budaya mereka.

1.2. Fokus Masalah

Fokus penelitian ini mencakup berbagai aspek dari motif batik pada busana pengantin adat Yogyakarta. Penulis ingin mendeskripsikan motif, warna, makna simbolik, fungsi, dan nilai estetis dari motif batik tersebut. Ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang budaya lokal dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pelestarian budaya.

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam berbagai elemen yang terkait dengan motif batik dalam busana pengantin adat Yogyakarta. Dengan memahami motif dan simbolik yang terkandung, diharapkan pembaca dapat menghargai dan melestarikan budaya batik sebagai warisan nenek moyang yang berharga.

II. KAJIAN TEORI

Kajian teori ini membahas tentang pengertian batik, motif, dan warna yang digunakan dalam batik. Penulis menjelaskan bahwa batik adalah seni melukis di atas kain yang memiliki nilai seni tinggi dan merupakan warisan budaya Indonesia. Bagian ini juga membahas berbagai jenis motif dan warna yang digunakan dalam batik, serta makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Ini memberikan landasan teoritis yang kuat untuk penelitian, yang penting untuk pemahaman dan pengajaran dalam konteks pendidikan seni.

2.1. Tinjauan Batik

Dalam sub-bagian ini, penulis menjelaskan asal-usul batik dan teknik pembuatannya. Batik dianggap sebagai seni yang memerlukan keterampilan tinggi dan telah ada sejak lama. Penjelasan ini penting untuk memberikan konteks budaya tentang batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang diakui oleh UNESCO.

2.2. Tinjauan Motif dan Warna

Sub-bagian ini membahas berbagai jenis motif batik yang ada, termasuk motif pokok dan pelengkap. Penulis juga menjelaskan pentingnya warna dalam batik, serta simbolisme yang terkandung dalam warna-warna tersebut. Hal ini relevan untuk memahami bagaimana elemen visual dalam batik dapat mengkomunikasikan makna tertentu.

2.3. Tinjauan Makna Simbolik

Bagian ini menguraikan tentang makna yang terkandung dalam setiap motif batik, yang sering kali mencerminkan harapan dan nilai-nilai budaya. Memahami makna simbolik ini sangat penting dalam konteks pendidikan untuk menanamkan rasa cinta dan bangga terhadap budaya lokal di kalangan generasi muda.

III. METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian ini mencakup pendekatan kualitatif yang digunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisis motif batik pada busana pengantin adat Yogyakarta. Penulis mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode ini sangat relevan untuk penelitian budaya, karena memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang konteks sosial dan budaya di balik penggunaan motif batik.

3.1. Pendekatan Penelitian

Penulis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dalam penelitian ini. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menggali informasi secara mendalam dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang fenomena yang diteliti. Ini penting dalam pendidikan untuk mengembangkan keterampilan analisis kritis di kalangan mahasiswa.

3.2. Data Penelitian

Data yang dikumpulkan mencakup informasi tentang motif batik, warna, dan makna simbolik yang terdapat dalam busana pengantin adat Yogyakarta. Pengumpulan data ini penting untuk memberikan bukti empiris yang mendukung analisis dan kesimpulan yang diambil dalam penelitian.

IV. MOTIF BATIK PADA BUSANA PENGANTIN ADAT YOGYAKARTA

Bagian ini menjelaskan secara rinci berbagai motif batik yang digunakan dalam busana pengantin adat Yogyakarta. Penulis mendeskripsikan setiap motif, warna, dan makna simbolik yang terkandung dalamnya. Ini sangat penting untuk pendidikan seni, karena dapat memberikan wawasan kepada siswa tentang kekayaan budaya lokal dan pentingnya pelestarian tradisi.

4.1. Motif dan Warna yang Terdapat dalam Busana Pengantin Adat Yogyakarta

Dalam sub-bagian ini, penulis menjelaskan berbagai motif yang digunakan dalam busana pengantin adat Yogyakarta, termasuk warna yang mendominasi. Penjelasan ini penting untuk memahami bagaimana elemen visual dapat mencerminkan identitas budaya dan nilai-nilai yang terkandung dalam masyarakat.

4.2. Makna Simbolik Motif Batik pada Busana Pengantin Adat Yogyakarta

Sub-bagian ini membahas makna simbolik dari setiap motif batik yang digunakan dalam busana pengantin. Memahami makna ini sangat penting untuk membangun kesadaran akan nilai-nilai budaya dan spiritual yang terkandung dalam setiap elemen desain.

4.3. Fungsi Motif pada Busana Pengantin Adat Yogyakarta

Penulis menjelaskan fungsi dari setiap motif batik dalam konteks upacara pengantin. Fungsi ini menunjukkan bagaimana desain tidak hanya berfungsi secara estetis, tetapi juga memiliki peran sosial dan ritual yang penting dalam budaya.

V. PENUTUP

Bagian penutup menyimpulkan temuan penelitian dan memberikan saran untuk penelitian lebih lanjut. Penulis menekankan pentingnya melestarikan budaya batik dan mengedukasi generasi muda tentang nilai-nilai yang terkandung dalamnya. Ini sangat relevan dengan tujuan pendidikan yang berfokus pada pelestarian budaya dan pengembangan karakter siswa.

5.1. Simpulan

Simpulan dari penelitian ini menegaskan pentingnya motif batik dalam busana pengantin adat Yogyakarta sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dilestarikan. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana elemen desain dapat mencerminkan nilai-nilai budaya yang lebih dalam.

5.2. Saran

Penulis memberikan saran untuk penelitian lebih lanjut dan pentingnya pendidikan tentang batik di sekolah-sekolah. Meningkatkan kesadaran akan budaya lokal di kalangan generasi muda sangat penting untuk pelestarian tradisi dan identitas nasional.

Gambar

Gambar  1. Prosesi Siraman GKR Bendara Sumber:
Gambar 2. Prosesi Midodareni GKR Bendara Sumber:
Gambar 3. Prosesi Panggih GKR Hayu                          Sumber: Dokumentasi Kraton, 2016
Gambar 5. Motif Cuwiri Sumber: Dokumentasi Prasetyo, 2010
+7

Referensi

Dokumen terkait

Fuzzifikasi warna atau pola bercak memiliki 6 himpunan fuzzy , yaitu kekuningan, putih, putih pinggiran hitam, keabuan, abu-abu pinggiran cokelat dan cokelat yang

Untuk hasil penelitian dan pembahasan diketahui motif batik khas Madiun berupa motif batik porang terinspirasi dari tumbuhan di Madiun yang berkaitan dengan kebudayaan mata

Warna putih menggambarkan dunia terang yang melambangkan kehidupan, warna kuning kecoklatan merupakan lambang kematangan dan kejujuran, sedang warna hitam adalah

Motif yang akan digunakan dalam karya terinspirasi dari benda-benda ruang angkasa dengan motif pendukung yang diambil dari pengembangan motif utama, motif batik ini

Warna-warna yang digunakan pada karya kelima ini adalah warna hitam pada tubuh burung beo nias, di tambah dengan warna kuning pada bagian gelambir cuping telinga dan warna putih

Lebih jauh dapat diartikan simbol-simbol yang dinukilkan pada kain kerawang Gayo berfungsi menginterpretasikan makna yang terkandung dalam motif kerawang Gayo sesuai

Fuzzifikasi warna atau pola bercak memiliki 6 himpunan fuzzy, yaitu kekuningan, putih, putih pinggiran hitam, keabuan, abu-abu pinggiran cokelat dan cokelat yang

Motif dasar berupa segi empat dengan tumpulan dan sisi-sisinya yang berbulu, diberi variasi 3 warna, motif dasar berwarna coklat, variasi warna motif pada daun bersegi empat