• Tidak ada hasil yang ditemukan

ART Maruli BT Representasi Diri Ibu di Televisi fulltext

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ART Maruli BT Representasi Diri Ibu di Televisi fulltext"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

148 REPRESENTASI DIRI IBU DI TELEVISI

(Analisis Semiotik Peirce dalam Program Talk show “Indonesia

Lawyer s Club” TVONE)

Oleh:

Maruli Bonardo Tua

ABSTRACT

Television is one of t he mass media w hich r epr esents t he r eal it y of people's l ives. Television can illustr at e var ious dimensions of l ife in societ y i ncluding t he r epr esent at ion of a mot her. On t he impr essions t hat a mot her is por tr ayed as a r ough figur e, r ut hless and dar es t o kill his son. The mot her is also r epr esent ed as a figur e w ho is able t o under st and t he needs and w ishes of chi ldr en. Television w as able t o br i ng t he r eal it y of l ife in var ious aspects and has a r ole for imaging t o r eal it y ar ound us. Imaging r eal it y of t he figur e of t he mot her in t he ILC TVONE foot age is in t he for m of sound and image. Wit h t he analysis of semiot ik Peir ce w as chosen because invest igat or s w ant ed t o r eveal how t he depict ion of t he figur e of t he mot her in t he impr essions. Fr om t he r esults of t he analysis can be put for w ar d t hat in t he impr essions it is r epr esent ed as t he mot her figur e, a r ugged, r ut hless and dar es t o kill her chi ld, t he mot her figur e i n t he impr essions it contr ar y t o r epr esent ations of t he mot her in a societ y t hat is ver y fond of his son figur e, full of w ar mt h and hospit al it y, ar e able t o under st and t he needs and w ishes of chi ldr en.

Key wor ds: r epr esentations, mother, television, semiotics

1. PENDAHULUAN

Kasus keker asan t er hadap anak yang dialami Engeline, bocah

perempuan ber usia 8 tahun di Denpasar Bali menyentak per hatian banyak

kalangan, t er masuk media massa di Indonesia. Tanpa t er kecuali media massa

elektronik, khususnya t elevisi. Secar a membabi buta, t elevisi member itakan

Engeline yang t ew as ditangan ibu angkatnya, Mar gr iet Megaw e. Bahkan stasiun

t elevisi sw asta TVONE mengemas ber ita kekerasan pada anak yang dialami

Engeline t er sebut lew at program talkshow unggulannya yakni Indonesia

(2)

149 Kematian Engeline”. Kasus kekerasan t er hadap Engeline mer upakan masalah

sosial yang kronis dar i sebuah jalinan relasi sosial.

Komunikasi mempunyai banyak makna, namun dar i sekian banyak

definisi yang diungkapkan oleh para ahli dapat disimpulkan secara lengkap

dengan makna hakiki bahw a komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh

seseorang kepada orang lain untuk member itahu atau untuk mengubah sikap,

pendapat atau per ilaku baik langsung secara lisan maupun tidak langsung

melalui media.31

Komunikasi antara orangtua dengan anak memegang peran penting

dalam membina hubungan keduanya. Namun hingga kini tak sedikit orangtua

yang masih melakukan kekerasan secara ver bal (menggunakan kata-kata)

kepada anak-anak mereka, baik menyangkut kemampuan dan nilai mereka

sebagai manusia, bahkan diser tai dengan kekerasan fisik hingga menyebabkan

kematian. Menur ut or ang t erdekat Engeline, sang ibu angkat itu setiap har i

selalu memar ahi dan membentak-bentak Engeline diser tai pemukulan dan

penyiksaan secara fisik. Mar gr iet pun tak segan-segan untuk tidak member i

Engeline makan sehar ian, hanya kar ena dianggap tidak menger jakan tugas

dengan baik.32

Peran orangtua (ayah dan ibu) di dalam keluar ga adalah ber tanggung

jaw ab member ikan pendidikan yang layak t er hadap anak-anaknya berdasar kan

nilai-nilai akhlak dan spir itual yang luhur. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

(KBBI), orangtua adalah ayah dan ibu kandung. Sedangkan menur ut (Wr ight ),

orangtua dibagi menjadi tiga macam, yaitu:33 (1) Orang tua Kandung, yaitu ayah

dan ibu yang mempunyai hubungan darah secara biologis (yang melahir kan), eline.Sering.Dibentak.dan.Dipukul.M argriet , diunduh 1 Agust us 2015, pukul 04.08 WIB

33

(3)

150 ket entuan hukum atau adat yang ber laku, (3) Or angtua yang membiayai hidup

seseorang yang bukan anak kandungnya atas dasar kemanusiaan.

Televisi menjadi bagian yang tak t er pisahkan dalam proses pemenuhan

infor masi bagi masyarakat . Kecepatan dan kedalamannya akan sebuah

infor masi menjadi daya tar ik t er sendir i. Dalam menyampaikan infor masi para

peker ja t elevisi menggunakan bahasa sebagai 'kendaraannya' yang dijabar kan

dalam bentuk narasi (t eks media). Menur ut Susilo, t eks media mer upakan

bentuk realitas kedua (second hand r ealit y) yang hanya menyajikan 'pot ongan-pot ongan' realitas, bukan keselur uhan r ealitas. Keselur uhan t eks media yang

disajikan peker ja t elevisi pada dasar nya mer upakan suatu konstr uksi realitas.

Lebih lanjut Alex Sobur menegaskan bahw a peker jaan media pada hakikatnya

adalah mengkonstr uksi realitas, isi media menur utnya adalah hasil para peker ja

media mengkonstr uksikan ber bagai realitas yang dipilih.34

Hasil konstr uksi para peker ja media t er sebut cender ung bias dan

par sial dalam menggambar kan realitas sosial yang ada. Realitas kedua disajikan

sebagai pesan yang akan disampaikan kepada masyarakat . Realitas t er sebut

cender ung dianggap masyarakat sebagai cer min yang merefleksikan diri

mereka sendir i. Namun, fakt or dist or si dalam realitas di t elevisi yang ber fungsi

untuk memper tahankan atau memper bar ui aturan dalam masyarakat t elah

menciptakan pandangan bar u yang ser ing dilupakan masyarakat . Dist or si

t er sebut t er masuk didalamnya sosok ibu seper ti yang dipahami masyarakat

pada umumnya. Per bincangan dalam talk show Indonesia Law yer s Club (ILC)

TVONE sebagai bentuk pesan media tidak bisa lepas dar i konstr uksi-konstr uksi

t er sebut . Pemunculan Mar gr iet Megaw e sebagai ibu angkat yang kasar, kejam

dan t ega menghabisi anak angkatnya pada hakikatnya mer upakan konstr uksi

realitas semata yang dilakukan oleh para peker ja t elevisi sebagai bagian dar i

proses penger jaan isi media sendir i. Kajian t eks media per lu dilakukan untuk

melihat semua proses dan kecender ungan yang mungkin ada mengenai

34

(4)

151 representasi ibu. Dar i sini diharapkan dapat diperoleh gambaran detil t entang

makna tanda-tanda yang t er konstr uksi pada tayangan talk show Indonesia

Law yer s Club (ILC) TVONE episode 23 Juni 2015 dengan t opik “Menyingkap

Tabir Kematian Engeline”.

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Media Massa dan Kontr uksi Realitas Sosial

Pada dasar nya khalayak mener ima sebuah bentuk realitas yang

dikonstr uksi oleh media. Gebner dan kaw an-kaw an mengemukakan, dunia

simbol media membentuk konsepsi khalayak t entang dunia nyata atau dengan

kata lain media mer upakan konstr uksi realitas.35 Segala bentuk realitas sosial

t er masuk isi media mer upakan realitas yang sengaja dikonstr uksi. Ber ger dan

Luckmann mengungkapkan: “institusi masyarakat t ercipta dan diper tahankan

atau diubah melalui tindakan dan int eraksi manusia. Meskipun masyarakat dan

institusi sosial t er lihat nyata secara objektif. Namun pada kenyataannya semua

dibangun dalam defini subjektif melalui proses int eraksi. Objektivasi bar u bisa

t er jadi melalui penegasan ber ulang-ulang yang diber ikan oleh orang lain yang

memiliki definisi subjektif sama.36

Ber ger dan Luckmann menyebut realitas sosial sebagai pengetahuan

yang ber sifat kesehar ian yang hidup dan ber kembang di masyarakat seper ti

konsep, kesadaran umum, w acana publik, sebagai hasil dar i konstr uksi sosial.37

Sedangkan Ibnu Hamad menyebut usaha mengkonstr uksi realitas sebagai upaya

'mencer itakan' (konseptualisasi) sebuah per istiw a, keadaan, benda atau apapun

juga. Mochamad Riyant o Rasyid menyatakan bahw a karena t elevisi memiliki

sifat yang ber beda dar i media massa yang lain, yakni ber sifat audio visual, tak

35

M arvin de Fleur. 1996. Theory of M ass Com m unication. New York. Long m an, hal 207

36

Bungin, Burhan. 2001. Im aji M edia M assa. Yogyakarta: Jendela, hal 12

37

(5)

152 pelak dew asa ini t elevisi mer upakan media massa yang paling komunikatif dan

paling digemar i masyarakat . Televisi dianggap mampu member ikan kesan

sebagai penyampai pesan secara langsung antara komunikat or (pembaw a acar a

atau pengisi acara) dan komunikan (pemirsanya). Sedangkan Danesi menyebut

bahw a t elevisi memiliki sejumlah kekuatan. Danesi menyebut kan bahw a t elevisi

mampu membentuk cara kita mempr oses infor masi secara alamiah dan w ajar,

t elevisi t elah mampu mer ingkas sejumlah pengetahuan mengenai ber bagai hal

untuk dit er ima, dimenger ti dan dipahami masyarakat sebagai sebuah

kebenar an.

2.2. Media Massa Mengkonstr uksikan Realitas

Gramsci dan Alt husser sepakat bahw a media massa bukanlah sesuatu

yang bebas, independen t etapi memiliki ket er kaitan dengan realitas sosial.38

Ar tinya, media massa menyimpan ber bagai kepentingan ideologi dalam setiap

t eks yang dihasilkan. Media massa juga menyimpan kepentingan t er selubung

pemilik media, w ar taw an dan kar yaw annya. Kenyataannya inilah yang membuat

media menjadi bias. Masyarakat pun memandang media massa sebagai institusi

penyampai kebenaran atau kenyataan secara apa adanya.

Saat ini ker ja media massa tak lagi hanya menunggu dan mengejar

per istiw a atau kejadian untuk disampaikan menjadi sebuah ber ita. Media massa

kini t elah mendahului hal itu dan menciptakan atau mengkonstr uksi sebuah

per istiw a. Bahkan juga t elah mampu menafsir kan dan mengarahkannya

menjadi sebuah kebenaran yang bar u. Dengan demikian, realitas dar i sebuah

fakta per istiw a menjadi luntur.

Fakta per istiw a biasanya disajikan lew at t eks media atau bahasa ber ita

yang tidak bebas nilai. Atau dengan kata lain dengan t eks-lah media massa

mengkonstr uksi realitas. Sedangkan bahasa mer upakan elemen pembentuk t eks

38

(6)

153 t er sebut .39Menur ut M.Wonohit o, bahasa bagi per s mer upakan sine quanon,

ar tinya tanpa bahasa, per s tidak mungkin dapat beker ja. Dengan bahasa,

infor masi bisa dilukiskan sehingga menjadi penting bagi per s untuk membuat

produk jur nalistik. Lew at bahasa, per s bisa mengkomunikasikan segala realitas.

Menur ut Ibnu Hamad, bahasa adalah unsur utama dalam mengkonstr uksi

realitas. Bahasa menjadi instr umen pokok untuk mencer itakan realitas dan alat

konseptualisasi serta alat narasi. Saking pentingnya bahasa, maka tak ada ber ita,

cer ita, ataupun ilmu pengetahuan tanpa adanya bahasa.40

Setio Budi mengemukakan, apa yang diker jakan bahasa adalah

memungkinkan mengkomunikasikan infor masi, perasaan, ide, dan sist

em-sist em yang t elah mapan yang dipelajar i orang. Seper ti adanya tata bahasa untuk

penulisan dan percakapan, t erdapat pula tata bahasa (gr ammar ) untuk ber macam-macam t eks dan untuk media yang ber beda-beda. Menur ut Saussure,

dalam Setio Budi menyebut ada per bedaan yang bermanfaat antara bahasa dan

percakapan. Bahasa adalah sebuah institusi sosial yang t er susun dar i

aturan-aturan dan konvensi yang t elah disist ematisasikan, memungkinkan kita untuk

ber bicara (lebih luas: ber komunikasi). Setiap orang “ber bicara” menur ut

caranya masing-masing, t etapi pembicaraan/ percakapan t er sebut berdasar

pada bahasa dan aturan-aturan yang t elah dipelajar inya.41

Marcel Danesi dalam bukunya Pesan, Tanda dan Makna menyebut kan

bahw a segala sesuatu–w ar na, isyarat , kedipan mata, objek, r umus, mat ematika

dan lain-lain–yang merepresentasikan sesuatu yang lain selain dir inya

disebutnya sebagai sebuah tanda.42 Ferdinand de Saussure menyebut kan bahw a

ilmu yang mempelajar i kehidupan tanda-tanda dalam masyar akat dapat

Ham ad, Ibnu, Agus Sudibyo, dan M uham ad Qodar. 2001. Kabar- kabar Kebencian Prasangka Agam a di M edia M assa: ISAI. Hal 69

41

Budi HH, Setio. 2000. Teknik-t eknik Analisa M edia. Yogyakarta: Universitas Atm a Jaya, hal 13.

42

(7)

154 juga bagian dar i psikologi sosial dan karenanya juga bagian dar i psikologi

umum. Saya akan menyebutnya semiologi (dar i bahasa Yunani, semeion

“tanda”). Semiologi akan menunjukkan hal-hal yang membangun tanda-tanda

dan hukum-hukum yang mengatur nya. (Ferdinand de Saussure 1857-1913).

2.3. Sosok Ibu dalam Media Massa

Sosok ibu yang kini kerap muncul di media massa ter nyata sangat jauh

dar i gambaran ideal. Di ber bagai media massa banyak kita baca ibu yang t ega

membunuh anaknya, menganiaya, menjual bayinya, bahkan menyerahkannya

kepada lelaki hidung belang, ser ta mempeker jakan anak di batas

kemampuannya tanpa member ikan haknya secar a layak. Ada pula ibu-ibu

moder n yang sibuk dengan dunianya sendir i dengan ber kar ier, tr avelling, shopping dan bergaul dengan komunitasnya. Ibu seper ti ini lebih memilih menyibukkan dir i dengan hal-hal yang mampu menunjang ekonomi keluar ga

atau sekadar eksist ensi dir i dan pengakuan lingkungan.

Kekerasan t er hadap anak ada dimana-mana, Koran Kompas mer ilis

data yang diambil dar i KPAI dan Dir jen KSA Kemensos menunjukkan bahw a

kasus kekerasan t er hadap anak mengalami jumlah t er tinggi pada per iode tahun

2011 hingga Apr il 2015. Pada tahun 2011 ada 2.178 kasus, tahun 2012 ada

3.512 kasus, tahun 2013 ada 4.311 kasus dan tahun 2014 ada 5.066 kasus.43

Sedangkan Komisi Nasional Per lindungan Anak (Komnas PA) mer ilis

laporan bahw a ada 339 kasus keker asan t er hadap anak yang t er jadi sepanjang

bulan Januar i hingga Mei 2015. Dar i 339 kasus t er sebut 50 per sennya adalah

kejahatan seksual pada anak.44

Selain kekerasan domestik, ada data yang menunjukkan bahw a dalam

43

Koran Kom pas. 24 Juli 2015. Rehabilitasi Pelaku M inim : Kekerasan Terhadap Anak Rentan Berulang. Hal 12.

44

(8)

155 setiap daerah konflik baik konflik w ilayah, etnis, ras, atau agama, kaum w anita

dan anak-anaklah yang kerap menjadi kor ban keganasan pihak law an, apakah

itu melalui pelecehan, per kosaan, penganiayaan, penyiksaan hingga

pembunuhan.45

Kehadiran t elevisi t entu menjadi bagian yang tak t er pisahkan dalam

proses pemenuhan infor masi bagi masyarakat . Bahkan t elevisi seper tinya

sudah menjadi 'menu w ajib' dalam masyarakat moder n. Melalui media, khalayak

tidak hanya mener ima infor masi sebagai fakta yang t er jadi di lapangan atau

yang t er lihat jelas dalam sebuah per istiw a. Menur ut Jacob Oetama, dalam buku

ber judul “Ashadi Siregar : Penjaga akal sehat dar i kampus bir u”, menyatakan

bahw a fakta tidak lagi sebagai kejadian, melainkan hasil konstr uksi w ar taw an.

Fakta akhir nya menyangkut konstr uksi sosial. Dalam dunia media massa, fakta

ber ur usan antara yang faktual dan yang ber sifat opini hasil rekonstr uksi

w ar taw an.46

Kekerasan aktual yang dilakukan Mar gr iet Chr istina Megaw e, ibu angkat

Engeline memunculkan reaksi di masyar akat . Namun ada kekerasan simbolik

yang dikonstr uksi media massa t er hadap Mar griet Chr istina Megaw e, yaitu

bahw a seorang ibu angkat adalah sosok yang keras, kasar, kejam, dan tak

segan-segan menghabisi nyaw a anak angkatnya. Label t er sebut t elah dibentuk oleh

media massa secara masif dan selanjutnya diserap pemir sa sebagai sebuah

kebenar an yang hakiki. Melihat fenomena di atas peneliti mencoba

memfokuskan penelitian pada realitas sosial yang t elah dikonstr uksi media

massa lew at perdebatan di program ILC (Indonesia Law yer s Club) TVONE

episode 23 Juni 2015 dengan t opik kasus pembunuhan Engeline, bahw a

seorang ibu angkat mer upakan sosok yang keras, kasar, kejam, dan tak

segan-segan menghabisi nyaw a anak angkatnya.

45

Sunart o. 2009. Televisi, Kekerasan, & Perem puan. PT. Kompas M edia Nusantara, Jakarta. Hal 3

46

(9)

156 Ibu memiliki per anan yang sangat penting dalam membesar kan anak, dan

panggilan ibu dapat diber ikan untuk perempuan yang bukan orangtua kandung

(biologis) dar i seseorang yang mengisi peranan ini, cont oh ibu angkat atau ibu

asuh. Definisi ibu kandung menur ut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ibu

yang melahir kan (ibu sendir i). Sedangkan definisi ibu tir i menur ut Kamus Besar

Bahasa Indonesia adalah sebutan anak kepada istri ayahnya (w anita itu bukan

ibu kandungnya). Sementara definisi ibu angkat menur ut Kamus Besar Bahasa

Indonesia (KBBI) adalah w anita yang mengambil dan memelihar a anak or ang

lain; ibu dar i anak angkat .

Ada analogi psikis diantara kedudukan ibu tir i dengan ibu angkat antara

lain, yaitu:47

1. Anak-anak itu oleh sebab-sebab t er t entu menjadi piatu. Kondisi ini

disebabkan oleh karena mer eka ditinggalkan oleh ibunya (lar i, atau kaw in

dengan pria lain); atau disebabkan oleh kematian ibu kandungnya.

2. Kedudukan ibu t er sebut lalu diambil alih oleh seor ang ibu subtitutm (ibu

pengganti), yang ber peran sebagai ibu angkat atau ibu adopsi; ataupun pada

kasus lain pada ibu tir i karena dikaw in oleh sang duda. Namun, per bedaan

peranggapan dan per bedaan sosial psikologis antara kondisi ibu angkat dan ibu

tir i memang ada. Yaitu ada pendapat tradisional dan prasangka yang

menyatakan bahw a semua ibu tir i itu pasti menyebabkan kesengsaraan, azab

dan kepedihan pada anak-anak tir inya. Hal ini disebabkan karena ibu tir i selalu

menggunakan pola tingkah laku tradisional, ber atr ibut kejam, agresif, egoistis,

ir i, dengkih, sadistis, ganas, dan suka ber musuhan ser ta sifat bur uk lainnya.

3. Sedangkan ibu-ibu angkat pada umumnya ber sifat lembut , per hatian,

penuh kasih sayang, tidak egoistis, ber sedia menggantikan kedudukan ibu

kandung secara suka r ela dan dibekali dengan hati belas kasih.

47

(10)

157 Komunikasi dalam keluar ga sangat penting dilakukan bagi orang tua

t er hadap anaknya baik anak kandung, anak tiri ataupun anak angkat agar tidak

t er jadi kesenjangan yang dapat mengakibat kan keretakan hubungan antara

orangtua dengan anak. Pada orangtua kandung, kedalaman emosi dibangun

sejak anak masih di kandungan, sehingga t er jalinlah ikatan yang erat .

Sedangkan hubungan orangtua tir i dan anak tir i atau orangtua angkat dan anak

angkat lemah karena kur angnya hubungan emosional dan singkatnya

keber samaan bar u muncul saat orangtua tir i atau orangtua angkat masuk ke

dalam keluar ga. Hal itu menambah sulit hubungan mereka, bahkan membuat

hubungan yang tidak baik.

Komunikasi antara ibu dengan anak tir i yang jarang t er jadi, akibatnya

kesalahpahaman mulai muncul, adanya prasangka, perasaan diabaikan,

cembur u dan dikhianati bisa muncul. Komunikasi int er per sonal akan sangat

membantu t ercapainya komunikasi yang efektif dan efisien dan tujuan atau

harapan bagi kedua belah pihak sebagai pelaku komunikasi.

Komunikasi int er per sonal sangat diper lukan dalam keluar ga baik antar a

suami dan istr i ataupun antara orang tua dan anak untuk membangun keluar ga

yang har monis apalagi dalam keluar ga yang mempunyai ibu tir i. Komunikasi

int er per sonal sangat penting dalam memelihara dan menumbuhkan hubungan

yang har monis antara ibu tir i dengan anak-anaknya. Komunikasi memiliki

peran yang penting dalam menyatukan setiap pandangan dalam anggota

keluar ga yang ber beda, khususnya bagi anak kepada ibu tir inya, kar ena ibu

akan membantu suami dalam mendidik anak.

2.4. Semiotika

Sebagaimana juga analisis konstr uksi sosial media massa yang

menganalisis realitas sosial media massa, analisis semiotika juga menganalisis

tidak sekadar realitas media massa akan t etapi konteks realitas pada umumnya.

(11)

158 memiliki unit dasar yang disebut dengan 'tanda'. Dengan demikian, semiotika

pada hakikatnya mer upakan ilmu yang mempelajar i keberadaan suatu tanda.

Umber t o Eco bahkan menyebut tanda sebagai 'kebohongan' dalam tanda ada

sesuatu yang t er sembunyi di baliknya dan bukan mer upakan tanda itu sendiri.

Menur ut Sausssure, per sepsi dan pandangan kita t entang realitas,

dikonstr uksikan oleh kata-kata dan tanda-tanda lain yang digunakan dalam

kont eks sosial. Hal ini dianggap sebagai pendapat yang cukup mengejut kan dan

dianggap revolusioner, karena hal itu berar ti tanda membentuk per sepsi

manusia, lebih dar i sekadar merefleksikan realitas yang ada.48

Sedangkan Char les Sander Peirce memaknai semiotika sebagai studi

t entang tanda dan segala yang ber hubungan dengan tanda; cara ber fungsi

(sintaktik semiotik) dan hubungan antar tanda (semantik semiotik), ser ta

mengkaji pengir im dan pener imanya oleh mereka yang menggunakan tanda

(pragmatik semiotik). Peirce adalah i lmuw an Amer ika yang hidup sezaman

dengan Saussure. Sekalipun tidak per nah ber hubungan dan mengenal Saussur e,

begitu juga sebaliknya, Peirce mempunyai kemir ipan dengan pemikiran

Saussure, t er utama t entang ar ti penting kelahiran pandangan atau t eor i bar u

yang memfokuskan per hatiannya pada upaya menganalisis dan menafsir kan

tanda. Oleh karena itu menur ut Peirce, tanda tidak hanya melekat pada bahasa

dan kebudayaan, t etapi juga menjadi sifat intr insik pada selur uh fenomena alam

(pansemiotik). Melalui tanda, manusia mampu memaknai kehidupan dengan

realitas. Disini, bahasa menempati posisi t er penting sebagai sist em tanda yang

paling fundamental bagi manusia.

Adapun tanda-tanda nonver bal, seper ti gerak-ger ik ser ta beragam

praktik sosial konvensional lain, dipandang sebagai sejenis bahasa yang

t er susun dar i tanda-tanda ber makna yang dikomunikasikan atas dasar

relasi-relasi. Pr insip mendasar sifat tanda adalah sifat representatif dan sifat

48

(12)

159 int er pretatif. Sifat representatif tanda berar ti tanda mer upakan sesuatu yang

mew akili sesuatu yang lain, sedangkan sifat int er pretatif ar tinya tanda t er sebut

member ikan peluang bagi int er pretasi bergantung pada pemakai dan

pener imanya. Dalam kont eks ini proses pemaknaan (signifikasi) menjadi

penting karena manusia member i makna pada realitas yang dit emuinya.

2.5. Teor i Konstr uksi Realitas Sosial

Membahas t eor i konstr uksi sosial (social constr uct ion), t entu tidak bisa dilepaskan dar i bangunan t eor itik yang dikemukakan oleh Pet er L Ber ger dan

Thomas Luckmann. Pet er L Ber ger mer upakan sosiolog dar i New School for

Social Reserach, New Yor k. Sementara Thomas Luckman adalah sosiolog dar i

Univer sity of Frankfur t . Teor i konstr uksi sosial, sejatinya dir umuskan kedua

akademisi ini sebagai suatu kajian t eor itis dan sistematis mengenai sosiologi

pengetahuan.49 Ber ger dan Luckmann meyakini secara substantif bahw a realitas

mer upakan hasil ciptaan manusia kreatif melalui kekuatan konstr uksi sosial

t er hadap dunia sosial di sekelilingnya, “r ealit y is socially constr uct ed”.

Konstr uksi sosial atas realitas (social constr uct ion of r ealit y)

didefinisikan sebagai proses sosial melalui tindakan dan int eraksi dimana

individu menciptakan secara t er us-mener us suatu realitas yang dimiliki dan

dialami ber sama secar a subyektif.50 Sementara fakta sosial seper ti dijelaskan

Dur kheim yang menjadi gagasan Soetandyo itu bahw a fakta sosial t erdir i dar i

dua bentuk, yaitu fakta-fakta sosial yang kentara dan fakta-fakta sosial yang tak

kentara (abstrak). Atau dengan kata lain, suatu fakta sosial itu mer upakan setiap

cara ber per ilaku baik yang t etap maupun yang tidak t etap atau setiap cara

ber tingkah laku yang umum di dalam masyarakat , yang pada w aktu yang

ber samaan tidak ber gantung pada manifes invidual.

49

Berger, Pet er L, Luckm ann, Thomas. 1996. The Social Construct ion of Realit y A Treat ise in t he Sociology of Knowledge, New York.

50

(13)

160 Realitas sosial menur ut Szt ompka dibagi menjadi dua, yaitu realitas

pot ensial dan realitas aktual. Realitas pot ensial adalah realitas yang secara

pot ensial dapat diungkapkan oleh peneliti melalui pengamatan yang mendalam

dan kajian yang panjang. Sedangkan realitas aktual adalah r ealitas yang dapat

langsung diamati melalui pengindraan.51

Ber ger dan Luckmann mengatakan bahw a realitas ada tiga macam, yaitu

realitas objektif, r ealitas subjektif, dan realitas inter subjektif.52Realitas sosial

adalah pengetahuan yang ber sifat kesehar ian yang hidup dan ber kembang di

masyarakat seper ti konsep, kesadaran umum, w acana publik, sebagai hasil dar i

kontr uksi sosial. Realitas sosial t er sebut ber langsung dalam proses simultan: (1)

ekst er nalisasi (penyesuaian dir i) dengan dunia sosiokultur al sebagai produk manusia; (2) objekt ivasi, yaitu int eraksi sosial yang t er jadi dalam dunia int er subjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi; (3)

int er nalisasi, yaitu proses yang mana individu mengidentifikasikan dir inya dengan lembaga-lembaga sosial atau or ganisasi t empat individu menjadi

anggotanya.53

individu baik di dalam maupun di luar realitas t er sebut . Realitas sosial memi liki

makna, manakala realitas sosial dikonstr uksi dan dimaknai secar a subyektif oleh

individu lain sehingga memantapkan realitas itu secar a obyektif. Individu

mengkostr uksi realitas sosial, dan merekonstr uksinya dalam dunia realitas,

51

Szt om pka, Piotr. 2004. Sosiologi Perubahan Sosial. Prenada, Jakarta. Hal 251

52

Bungin, Burhan. 2001. Im aji M edia M assa: Konstruksi dan M akna Realitas Iklan Televisi dalam M asyarakat Kapitalist ik. Jendela, Yogyakarta. Hal 14

53

(14)

161 memantapkan realitas itu berdasarkan suyektivitas individu lain dalam institusi

sosialnya.

3. METODE PENELITIAN 3.1. Metode dan Paradigma Penelitian

Penelitian ini t entu saja berakar pada paradigma konstr uktivis yang

melihat realitas sosial sebagai konstr uksi sosial yang diciptakan oleh individu

yang mer upakan manusia bebas.

Met ode penelitian yang diper gunakan dalam penelitian ini adalah

met ode deskr iptif dengan pendekatan kualitatif yang dilakukan untuk

mendeskr ipsikan bagaimana penggambaran menyelur uh (holistik) secara

semiotika mengenai sosok ibu yang direpresentasikan dalam talk show

Indonesia Law yer s Club (ILC) TVONE episode 23 Juni 2015 dengan t opik

“Menyingkap Tabir Kematian Engeline”. Pendekatan kualitatif menur ut Bur han

Bungin adalah pendekatan yang lebih ingin mencar i makna, selain itu

berdasar kan pada fakta, dengan fakta yang dit emukan kemudian dipahami

secara mendalam ser ta membuat deskr ipsi fenomena yang diamati.54

Pengambilan sampel sumber data dilakukan secara pur posive dan snowball, t eknik pengumpulan dengan tr ianggulasi (gabungan), analisis data ber sifat

induktif/ kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna

dar ipada generalisasi.55 Dalam penelitian ini met ode analisa yang digunakan

adalah analisa semi otika Char les Sander s Peirce.

54

Bungin, Burhan. 2012. Analisis Data Penelitian Kualitat if : w acana dan t eoritis Penafsiran Teks. Jakarta : Raja Grafindo Persada, hal 225

55

(15)

162 4. HASIL PENELITIAN

4.1. Analisis Pemaknaan Segitiga Elemen Pierce

Dar i penelitian ini peneliti ber usaha menjabar kan beberapa tanda yang

dimunculkan dalam tayangan talk show Indonesia Law yer s Club (ILC) TVONE

episode 23 Juni 2015 dengan t opik “Menyingkap Tabir Kematian Engeline”

dengan menggunakan pemaknaan Sign, Object dan Int er pretant yang

dikemukakan Peirce. Dar i beber apa jenis tanda yang muncul, peneliti kemudian

menganalisanya seper ti yang t erdapat pada tabel-tabel di baw ah ini:

Tabel 3. Makna Sign, Objek, dan Inter pretan teks 1

Sign

Objek Pada gambar ini Hamidah, ibu kandung Engeline menggunakan jaket ber w ar na hitam. Dia t er lihat sangat emosi saat mendengar

per kataan Hotma Sit ompul pengacara Mar gr iet Megaw e. Kedua alis

matanya t erangkat ke atas dan mulutnya yang menganga. Pada

gambar ini Hamidah menyela dan ber t er iak keras kepada Hotma

Sit ompul karena per nyataannya t elah menyinggung perasaan

Hamidah sebagai ibu kandung Engeline. Dalam dialog ini Hotma

Sit ompul mengatakan “kenapa begitu banyak or ang ber semangat sekali membela Engeline, padahal masih banyak anak-anak di jalanan seper t i Engeline?”. Hotma seakan mencur igai ada kepentingan t ert entu di balik tingginya solidar itas dan kepedulian

masyarakat luas atas kasus yang menimpa Engeline. Ar ist Merdeka

(16)

163 per nyataan Hotma dengan penuh emosi, karena menganggap

Hotma menyepelekan kasus kematian Engeline. Sementara seorang

pr ia di sebelah kanan dan seorang w anita di sebelah kir i Hamidah

t er lihat ber usaha menenangkannya. Pada gambar ini juga ada

seorang pr ia yang t er lihat samar -samar duduk di belakang Hamidah

dengan tangan kanan yang menutupi mulutnya. Di sebelah kanan

atas ada logo stasiun t elevisi yang menayangkan acara talk show ini

yaitu TVONE. Lalu di baw ah logo TVONE t erdapat tulisan LIVE.

Sementara di sebelah kir i atas layar t erdapat logo bulat ber w ar na

merah dengan angka 1 yang besar dan tulisan MENUJU

KEMENANGAN. Logo t er sebut t er lihat ber putar -putar. Teknik

pengambilan gambar dilakukan dengan cara close up untuk memper lihat kan benda atau objek ser ta gestur secara detil.

Hamidah menjadi objek yang menar ik karena ekspresi

kemar ahannya t er lihat jelas dan detil. Bahkan Hamidah ditampilkan

secara for egr ound dan orangorang di belakangnya t er lihat samar -samar (blur ).

Inter pr etan Jaket ber w ar na hitam yang dikenakan Hamidah menandakan suasana hatinya masih dalam kedukaan mendalam atas kematian

anak kandungnya Engeline. Wajah emosi Hamidah yang

ditunjukkan dengan alis mata yang t erangkat ke atas diser tai

t er iakan sambil mengacung-acungkan tangan kepada Hotma

mer upakan sebuah bentuk perasaan marah yang ter lontar secara

spontan. Sementara alis mata yang t erangkat ke atas menandakan

sebuah ekspresi kemarahan yang sudah sangat memuncak. Kondisi

ini bisa t er jadi karena ada sesuatu yang tidak sesuai dengan apa

yang diyakininya atau mengusik perasaannya. Inilah kemarahan

dar i seorang ibu atas per lakuan bur uk yang menimpa anaknya.

Sikap Hamidah bahkan diper t egas dengan pepatah yang

(17)

164 anaknya sendir i”. Pesan simbolik dalam gambar ini adalah bahw a

seorang ibu tidak akan per nah mener ima per lakuan bur uk yang

dilakukan orang lain t er hadap anaknya. Apalagi per lakuan itu

dilakukan sangat biadab hingga menghilangkan nyaw a anaknya.

Logo di sebelah kanan atas layar menunjukkan bahw a t elevisi yang

menayangkan acara talk show ILC ini adalah TVONE. Tulisan LIVE

di baw ah logo menandakan bahw a acar a ini memang disiar kan

secara langsung. Jadi, apapun yang t er jadi dalam perdebatan di

acar a ini benar -benar t er jadi apa adanya tanpa ada pihak yang

men-scr eening. Semua reaksi, ekspresi maupun per t engkaran yang sengit akan t er jadi di luar kendali. Dalam hal ini Host Kar ni Ilyas

har us pintar mengendalikan perdebatan yang kerap mendapat kan

kr itikan pedas dar i penont on. Karena tak jarang dialog yang

ditayangkan ILC ini selalu mendapat t eguran dar i KPI (Komisi

Penyiaran Indonesia). Sementara logo bulat ber w ar na merah di

sebelah kir i atas layar dengan angka 1 dan tulisan MENUJU

KEMENANGAN menandakan bahw a acar a ini ditayangkan pada saat

bulan suci Ramadhan. Sungguh ir onis memang, karena di saat

bulan suci Ramadhan, pemir sa justr u disuguhkan t ont onan yang

menguras emosi. Apalagi perdebatan para nar asumber juga kerap

diser tai dengan kata-kata kasar yang dinilai t elah melanggar etika.

Tabel 4. Tabel 2. Makna Sign, Objek, dan Inter pretan teks 2

(18)

165 Objek Pada gambar ini t er lihat seorang aktivis per empuan, yakni Ratna

Sar umpaet mengenakan pakaian ber w ar na ser ba hitam ber padu

motif kembang ber w ar na emas. Ratna sedang berbicara sambi l

memegang mikropon dan tangan kir inya diangkat hingga

mendekati keningnya. Pada gambar ini Ratna mengatakan

“kayanya kit a per lu mer asakan betul kejahat an seper t i apa yang dilakukan seseor ang hingga t ega menghancur kan seor ang anak seper t i Engeline kalau bukan kar ena kebiadaban”. Pada gambar ini juga t er lihat tiga orang pr ia duduk di belakang Ratna. Ketiganya

t erdir i dar i kalangan yang ber beda usia, diantaranya pr ia muda,

pr ia set engah tua dan pria tua. Mereka mengarahkan pandangan

ke Ratna. Bahkan satu or ang diantaranya yang ber ada di sebelah

kanan layar t er paksa har us memalingkan pandangannya ke

sebelah kir i untuk menyimak per nyataan Ratna. Di hadapan Ratna

juga t er lihat lima bot ol minuman suplemen ber w ar na bir u dan

gelas kaca. Logo nama progr am talk show ini ditampilkan di

sebelah kir i baw ah layar. Tulisan Indonesia Law yer Club ber ada di

dalam kotak ber w ar na mer ah. Teknik pengambilan gambar ini

dilakukan secar a close up, untuk memper lihat kan ekspresi w ajah Ratna yang penuh semangat dan amarah itu ser ta benda-benda

yang ada di depannya.

Inter pr etan Pakaian ber war na ser ba hitam yang dikenakan Ratna Sar umpaet menandakan bahw a dir inya juga tur ut merasakan duka yang

mendalam atas kematian Engeline. Tangan kir i Ratna yang

diangkat hingga ke mendekati keningnya seakan ingin mengajak

selur uh penont on baik di studio maupun di r umah untuk ber pikir

dan membayangkan betapa kejinya per lakuan yang dilakukan

Mar gr iet t er hadap anak angkatnya Engeline. Ekspresi w ajahnya

pun t er lihat sangat emosi, membayangkan kebiadaban yang

(19)

166 yang duduk di belakang Ratna dengan usia yang bervar iasi seakan

ingin menunjukkan bahw a kejahatan yang dilakukan seorang ibu

angkat seper ti Mar griet patut menjadi per hatian ber sama selur uh

masyarakat dar i ber bagai kalangan tanpa batasan usia. Seorang

pr ia tua yang t er paksa memalingkan kepalanya ke ar ah Ratna,

menandakan bahw a per nyataan yang disampaikan Ratna memang

har us mendapat kan per hatian dan penanganan yang ser ius.

Per hatian masyar akat luas tampaknya juga dibuktikan oleh

sejumlah produk iklan dalam minuman suplemen yang ditampilkan

di meja para nar asumber. Produk iklan t entunya ber banding lur us

dengan perolehan r ating dan share dar i acara ini. Ini menandakan

bahw a acara ini memang banyak diminati pemir sanya. Logo nama

program Indonesia Law yer s Club dalam kotak dengan latar

belakang ber w ar na merah menunjukkan bahw a acara dialog ini

benar -benar ber ani menampilkan sebuah per debatan yang

ber beda dengan acara talk show -talk show di t elevisi lainnya.

Meski di dalam per jalanannya ILC kerap menuai kr itik pedas dar i

masyarakat dan t eguran keras dar i KPI (Komisi Penyiaran

Indonesia). Namun dar i per nyataan yang diungkapkan Ratna

semuanya ber muar a pada sebuah kesimpulan bahw a keker asan

t er hadap anak yang dilakukan siapapun har us mendapat

per hatian yang ser ius oleh ber bagai kalangan, tanpa t er kecuali.

Ratna juga menggambar kan Mar gr iet sebagai sosok ibu angkat

yang kejam dan tidak ber pr ikemanusiaan karena Engeline kerap

dicaci maki, dianiaya. Engeline bahkan t elah dibunuh dan

dikubur kan secara tidak layak dengan kondisi yang mengenaskan

di belakang r umah Mar gr iet , berdekatan dengan kandang ayam

(20)

167 Tabel 5. Tabel 2. Makna Sign, Objek, dan Inter pretan teks 3

Sign

Objek Pada gambar ini t er lihat ketua komnas per lindungan anak, Ar ist Merdeka Sirait mengenakan kemeja batik ber w ar na merah

ber padu motif kembang. Disini Arist ber bicara dengan memegang

mikropon sambil mengangkat tangan kanannya ke bagian

belakang kepala. Ar ist mencer itakan kondisi Engeline saat

dit emukan t er kubur di halaman belakang r umah ibu angkatnya

Mar gr iet . Ar ist mencer itakan secara detil ker usakan yang parah

pada bagian belakang kepala Engeline akibat pukulan benda

tumpul. Hal itu diilustrasikan Ar ist dengan gerakan tangannya yang

memegang bagian belakang kepalanya. Teknik pengambilan

gambar dilakukan secara medium shot dengan memper lihat kan tubuh manusia dar i pinggang ke atas. Gestur ser ta ekspresi w ajah

mulai tampak.

Inter pr etan Kemeja batik ber war na mer ah menandakan bahwa Ar ist berani dan ber semangat menyampaikan kebenar an sesuai fakta-fakta

yang dilihatnya langsung mengenai kondisi Engeline. Ar ist bahkan

tak gentar dengan ber bagai ancaman dar i pihak-pihak yang tak

suka dengan kesaksiannya t er kait bukti-bukti yang mengungkap

mist er i kematian Engeline. Sementara gerakan tangan yang

menunjuk ke arah bagian belakang kepala seakan ingin

(21)

168 sang ibu angkat Mar gr iet mengakhir i hidup Engeline dengan

pukulan benda tumpul yang keras. Hal t er sebut juga dipert egas

dengan per nyataannya yang mengatakan bahw a kondisi kepala

belakang Engeline hancur. Selain itu mayat Engeline juga diakuinya

dalam posisi jongkok dengan mulut menganga. Kondisi ini

menggambar kan betapa Engeline mengalami kesakitan yang

t eramat parah. Pesan simbolik yang ingin disampaikan Arist

adalah bahw a sampai kapan pun tindak kekerasan t er hadap anak

tidak bisa dit oler ir, meski itu dilakukan ibunya sendir i, apalagi

dilakukan oleh ibu angkatnya.

Tabel 6. Tabel 2. Makna Sign, Objek, dan Inter pretan teks 4

Sign

Objek Pada gambar ini Hamidah t er lihat tampil penuh keseder hanan. Hamidah t er lihat hanya memakai make up yang tipis dengan rambut yang diikat satu. Bahkan per hiasan seper ti anting-anting

pun tidak tampak di t elinga Hamidah. Ibu kandung Engeline ini

t er lihat menundukkan kepala sambil menangis. Dia tak mampu

menahan tangisnya saat menjaw ab per tanyaan dar i Host ILC Kar ni

Ilyas, mengenai apa alasan Hamidah menyerahkan Engeline untuk

menjadi anak angkat Mar gr iet Megaw e. Hamidah mengaku sejak

diserahkan kepada Margr iet dengan sejumlah uang imbalan,

(22)

169 Hamidah semakin menjadi set elah mengatakan bahw a Mar gr iet

per nah ber janji akan mer aw at dan menyayangi Engeline dengan

baik seper ti anaknya sendir i. Pada gambar ini juga ter lihat samar

-samar empat orang pr ia duduk di belakang Hamidah sambil

melihat ke ar ahnya. Teknik pengambilan gambar dilakukan secara

close up dengan memper lihat kan secara benda atau objek, ser ta ekspresi dan gestur dar i Hamidah secara mendetil.

Inter pr etan Penampilan Hamidah yang seder hana, tanpa asesor is yang menghiasi dir inya menunjukkan bahw a ibu kandung Engeline ini

memang hidup dalam kondisi mempr ihatinkan. Ini juga dibuktikan

dengan pengakuan Hamidah bahw a Engeline diber ikan kepada

Mar gr iet untuk dijadikan anak angkatnya karena dir inya tak

sanggup membayar biaya per salinan. Hamidah bahkan mener ima

uang tambahan dar i Margr iet atas hak anak yang diber ikannya.

Tangisan disertai gerakan menundukkan kepala seakan ingin

menunjukkan bahw a selain ber sedih Hamidah juga merasa malu

atas tindakannya yang 'menjual' anaknya kepada Mar gr iet . Janji

Mar gr iet kepada Hamidah yang akan meraw at dan menyayangi

Engeline juga menandakan bahw a seorang ibu angkat selain

mer upakan sosok yang kasar, kejam dan tak segan-segan

membunuh anak angkatnya, t er nyata adalah pembohong besar.

Karena sepanjang hidupnya Engeline mendapat kan per lakuan

yang kasar. Gambar empat orang pr ia yang dibuat samar -samar

(blur ) juga dilakukan untuk member ikan fokus per hatian hanya kepada Hamidah yang t engah ber sedih. Pesan simbolik yang

t er lihat adalah bahw a kepedihan dan kesedihan yang amat

mendalam membuat seseorang tak akan mampu lagi

mengendalikan dirinya dalam situasi apapun. Per bincangan

Hamidah juga bahkan har us t er henti saat kepedihan dan

(23)

170 parau diser tai kepala yang t er tunduk ke baw ah juga menjadi bukti

bahw a kepedihan itu amat t eramat dalam dirasakan Hamidah.

Tabel 7. Tabel 2. Makna Sign, Objek, dan Inter pretan teks 5

Sign

Objek Pada gambar ini memper lihat kan seorang pr ia ber kaos merah bercer ita dengan ber semangat sambil memegang mikropon dan

mengangkat serta mengepalkan tangan kanannya. Pr ia ini

ber nama Franky. Dia mer upakan kerabat dekat Mar gr iet (istr i

Franky adalah keponakan Mar gr iet ). Pada gambar ini Franky

mengaku per nah tinggal di r umah Mar gr iet ber sama istr inya

selama 3 bulan. Fr anky mengaku ser ing melihat Engeline dimarahi

ibu angkatnya yang disertai dengan kekerasan fisik, seper ti

memukul, dan menjambak r ambut sambil membentur kan

kepalanya ke t embok. Karena itu Franky mencont ohkan per lakuan

Mar gr iet yang menjambak rambut Engeline dengan tangannya

sendir i. Franky juga mengungkapkan bahw a per lakuan kasar yang

dilakukan Mar gr iet hanya karena Engeline tidak melakukan

tugasnya dengan baik. Pada gambar ini juga t er lihat dua orang pr ia

t er paksa har us menggerakkan badan dan

memalingkan penglihatannya ke arah Franky untuk menyimak

(24)

171

close up untuk memper jelas objek yaitu ekspresi w ajah, gestur ser ta gerakan-gerakan yang menjelaskan sesuatu hal secara

mendetil.

Inter pr etan Kaos merah yang dikenakan Franky menandakan bahwa dir inya penuh percaya dir i dan berani untuk mengungkapkan kebenaran

yang diyakininya. Meski hanya tinggal dan beker ja di r umah

Mar gr iet selama 3 bulan, Franky berani menjadi saksi mata atas

keker asan yang kerap dit er ima Engeline semasa hidupnya.

Kepalan tangan yang ditunjukkan Franky seakan ingin

membuktikan bahw a dir inya yakin betul dengan apa yang

disaksikannya selama tinggal ser umah dengan Mar gr iet . Bahkan

Franky tak segan-segan mencont ohkan kata-kata makian yang

kerap dilontar kan Mar griet kepada Engeline. Sementara dua or ang

pr ia yang berada di belakang Franky menunjukkan bahw a

per nyataannya patut disimak karena Franky t er lihat mantap

menyampaikan kesaksiannya. Franky bahkan tak segan-segan

berani ber sumpah di hadapan Tuhannya bahw a semua yang

dikatakan adalah benar seper ti yang dilihat dengan mata kepalanya

sendir i. Pesan simbolik yang ingin disampaikan pada gambar ini

adalah bahw a seor ang ibu angkat mer upakan sosok yang ker ap

mencaci maki dengan kata-kata kasar, kejam dan tak segan-segan

membunuh anak angkatnya.

5. KESIMPULAN

Jika mer ujuk pada t eor i konstr uksi sosial yang dikemukakan Ber ger dan

Luckmann bahw a realitas sosial yang 't er bungkus' dalam tayangan talk show ILC

(25)

172 (ekst er nalisasi) sehingga seakan-akan hal itu ber ada di luar (objektif) dan

kemudian ada proses penar ikan kembali ke dalam (int er nalisasi) sehingga

sesuatu yang berada di luar t er sebut seakan-akan berada dalam dir i atau

kenyataan subyektif. Namun pada kenyataannya, realitas sosial itu berdir i

sendir i tanpa kehadiran individu baik di dalam maupun di luar realitas t er sebut .

Realitas sosial memi liki makna, manakala realitas sosial dikonstr uksi dan

dimaknai secara subyektif oleh individu lain sehingga memantapkan realitas itu

secara obyektif. Individu mengkostr uksi realitas sosial, dan merekonstr uksinya

dalam dunia realitas, memantapkan realitas itu berdasar kan subyektivitas

individu lain dalam institusi sosialnya.

Manusia dalam ber int eraksi akan membuat dan menggunakan

simbol-simbol, hal ini oleh Ber ger dan Luckmann diistilahkan ext er nalizat ion. Pada saat t erekst ernalisasi, simbol-simbol menjadi t erobjektifikasi, maksudnya bahw a

simbol itu kemudian menjadi perantara manusia untuk ber int eraksi, simbol

mempunyai keber adaannya dan suatu makna yang penting yang kemudian

menjadi independen dar i pencipta aslinya. Sehingga dalam penelitian ini peneliti

melihat ada pemahaman atau penafsiran bar u dar i pemir sa t elevisi dalam hal ini

pemir sa ILC TVONE bahw a dar i per istiw a pembunuhan Engeline yang

dilakukan ibu angkatnya Mar gr iet Megaw e. Jika kita memahami bahw a seor ang

ibu adalah sebagai sosok yang t er buka, kooperatif, dan lebih menger ti mengenai

per kembangan anak sekaligus pember i rasa aman, kasih sayang, t empat

curahan hati dan pengatur kehidupan r umah tangga.

Namun saat ini ibu digambar kan sebagai sosok yang keras, kasar,

kejam, dan tak segan-segan menghabisi nyaw a anak angkatnya. Bahkan peneliti

melihat hal t er sebut sudah t er jadi pelumrahan. Hal ini disebabkan karena

media massa t er us mener us 'membombardir ' r uang kognisi masyarakat lew at

pember itaan. Tanpa t er kecuali TVONE yang merasa per lu untuk

membincangkan kasus t er sebut lebih ser ius dalam tayangan talk show ILC.

Sehingga masyarakat akan mengikuti simbol t er sebut yang t elah melalui proses

(26)

173 manusia mengkonstr uksikan realitas sosial dimana proses subjektif menjadi

t erobjektif dalam kehidupan sosial.

Dar i hasil analisis di atas dapat dikemukakan bahw a dalam tayangan itu,

ibu direpresentasikan sebagai sosok yang kasar, kejam dan t ega membunuh

anaknya. Sosok ibu dalam tayangan itu bert olak belakang dengan representasi

ibu dalam masyarakat yaitu sosok yang sangat menyayangi anaknya, penuh

kehangatan dan keramahan, mampu menger ti kebutuhan dan keinginan

anak-anaknya. Dengan demikian dalam kajian t eks media (dialog ILC TVONE)

dit emukan sebuah r epresentasi ibu yang bar u.

DAFTAR PUSTAKA

Almanak Per s Antara, 1976.

Bar ker, Chr is. 2013. Cultural Studies: Teor i & Praktik. Yogyakar ta: Kr easi

Wacana.

Ber ger, Pet er L, Luckmann, Thomas. 1996. The Social Constr uction of Reality A

Treatise in t he Sociology of Know ledge, New Yor k.

Budi HH, Setio. 2000. Teknik-t eknik Analisa Media. Yogyakar ta: Univer sitas

Atma Jaya.

Budiman, Kr is. 2011. Semiotika Visual: Konsep, I su, dan Problem Ikonisitas.

Jalasutra, Yogyakar ta.

Bungin, Bur han. 2001. Imaji Media Massa: Konstr uksi dan Makna Realitas Iklan

Televisi dalam Masyarakat Kapitalistik. Jendela, Yogyakar ta.

... 2003. Por nomedia: Kontr uksi Sosial Teknologi Telematika dan

Perayaan Seks di Media Massa. Jakar ta: Kencana.

(27)

174 Penafsiran Teks. Jakar ta : Raja Grafindo Per sada

... 2007. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan

Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Kencana, Jakar ta.

Danesi, Marcel. 2004. Pesan, Tanda dan Makna. Jalasutra, Yogyakar ta.

Effendy, Onong Uchjana. 2002. I lmu, Teor i dan Filsafat Komunikasi. Bandung:

PT. Citra Aditya Bakti.

Gautama dkk, Chandra. 2010. Ashadi Siregar : Penjaga Akal Sehat dar i Kampus

Bir u. Kepustakaan Populer Gramedia & Fisipol UGM, Yogyakar ta.

Hall, S. 1997. Representation: cultur al r epr esent at ions and signifying pr act ices. London: SAGE Publications.

Hamad, Ibnu, Sudibyo, Agus dan Qodar, Muhamad. 2001. Kabar -kabar

Kebencian Prasangka Agama di Media Massa: ISAI. Jur nal Pantau, 2000.

Kompas, Surat Kabar. 24 Juli 2015. Rehabilitasi Pelaku Minim: Kekerasan

Ter hadap Anak Rentan Ber ulang. Jakar ta

Mar vin de Fleur. 1996. Theor y of Mass Communication. New Yor k. Long man.

Rusmana, Dadan. 2014. Filsafat Semiotika: Paradigma, Teor i, dan Met ode

Int erpretasi Tanda dar i Semit oka Str uktural hingga Dekonstr uksi Praktis.

Pustaka Setia, Bandung.

Sobur, Alex. 2001. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana,

Analisis Semiotika dan Analisis Framing. Bandung: Remadja Kar ya.

...2009. Semi otika Komunikasi. PT. Remaja Rosdakar ya, Bandung

Soekant o, Sur yono. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajaw ali Per s. Jakar ta.

St ephen W. Litt le Jhon, Theor ies of Human Communication, Wadsw or t h,

(28)

175 Subiyakt o, Henr y. 1997. Dominasi Negara dan Wacana Pember itaan Per s, dalam

Basis Susilo (ed.), Masyarakat dan Negara. AUP.

Sugiyono. 2010. Met ode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif,

Kualitatif, dan R&D. Alfabeta, Bandung

Sunar t o. 2009. Televisi, Keker asan, & Perempuan. PT. Kompas Media

Nusantara, Jakar ta.

Szt ompka, Piotr. 2004. Sosiologi Per ubahan Sosial. Pr enada, Jakar ta.

Wignyosoebrot o, Soetandyo. 2004. Nor ma dan Ni lai Sosial, dalam Sosiologi:

Teks Pengantar dan Terapan. Kencana, Jakar ta.

Williams, Raymond. 2009. Televisi. Resist Book, Yogyakar ta.

Yatim and Ir w ant o.1991. Kepr ibadian, Keluar ga, dan Nar kotika: Tinjauan Sosial

Psikologis. Jakar ta: Arcan

Sumber Inter net:

http:/ / w w w.kompasiana.com/ hanna-ch/

tragedi-angeline-kepolosan-vs-kepalsuan_557d4650c523bddb6a31ee4d, diunduh 31 Juli 2015, pukul

14.27 WIB

http:/ / indonesiasatu.kompas.com/ read/ 2015/ 06/ 18/ 18484511/ Kata.Francky.

Setiap.Har i.Engeline.Ser ing.Dibentak.dan.Dipukul.Mar gr iet, diunduh 1

Agustus 2015, pukul 04.08 WIB

http:/ / m.new s.viva.co.id/ new s/

read626485-komnas-pa--ada-339-kasus-keker asan-pada-anak-selama-2015 diakses 23 Juli 2015, pukul 08.49

WIB

http:/ / cimengayan.blogspot .com/ p/ ibu-tir i-dan-ibu-angkat .html, diunduh 2

Agustus 2015 pukul 21.28 WIB.

(29)

176 ng.dan.Kubur.di.Septic.Tank.Apa.Alasan.Sang.Ibu., di unduh 2 Agustus

2015 pukul 21.58 WIB

http:/ / w w w.kompasiana.com/ oplosan/

kejamnya-ibu-angkat-sekejam-ibu-tir i_559124b0aa23bd6b21bfb91b, diunduh 2 Agustus 2015 pukul

21.50 WIB

Gambar

Tabel 3. Makna Sign, Objek, dan Interpretan teks 1
Tabel 4. Tabel 2. Makna Sign, Objek, dan Interpretan teks 2
gambar dilakukan secara medium shot dengan memperlihatkan
Tabel 6. Tabel 2. Makna Sign, Objek, dan Interpretan teks 4
+2

Referensi

Dokumen terkait