• Tidak ada hasil yang ditemukan

Survei Geokimia Penentuan Kadar Emas Men

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Survei Geokimia Penentuan Kadar Emas Men"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Kecamatan Krueng Sabee Aceh Jaya

Muntazar*1, Nurul Aflah2, Ibnu Rusydy3

1Department of Mining Engineering, Syiah Kuala University, Banda Aceh 2Department of Geology Engineering, Syiah Kuala University, Banda Aceh

*Email : [email protected]

Abstract

Geochemical surveys were conducted to detect the content of various types of minerals. The identification of gold in rock from the traditional gold mining in Gunong Ujeun, Krueng Sabee, Aceh Jaya using X-Ray Diffraction (XRD) method had been done. In this research, the mineral identification process was performed at several locations around Krueng Sabee. Then, the gold content will be analyzed using X-Ray Diffractometer. The result of XRD process then, will be analyzed by Match!3 software. The results show that silica (SiO2), is the main mineral contained in every sample from 6 locations. The highest gold content is found in the sample BT-02 with the amount 1,746% and the lowest is from sample BT-04 as 0,029%. The test was performed using Cu-Ka with 1,542 Å wavelength. The final result then will be interpreted as gold grade map.

Keywords: Geochemical Survey, Gold, X-Ray Diffraction, Krueng Sabee.

Abstrak

Survei geokimia dilakukan untuk mendeteksi kandungan dari berbagai jenis mineral yang ada. Identifikasi emas pada batuan dari lokasi penambangan emas rakyat di Gunong Ujeun, Krueng Sabee, Aceh Jaya menggunakan metode X-Ray Diffraction (XRD) telah dilakukan. Pada penelitian ini, proses identifikasi mineral dilakukan pada beberapa lokasi di Krueng Sabee. Selanjutnya sampel tersebut akan dianalisis kadar emasnya menggunakan alat X-Ray Diffractometer. Data pengujian menggunakan XRD kemudian akan dianalisis menggunakan aplikasi Match! 3. Hasil analisis menunjukkan bahwa mineral silika (SiO2) merupakan mineral utama yang terkandung pada setiap batuan dari 6 lokasi, kandungan emas tertinggi terdapat pada lokasi BT-02 dengan kadar 1,746 % dan lokasi terendah yaitu lokasi BT-04 dengan kadar 0,029 %. Pengujian dilakukan menggunakan Cu-Ka dengan panjang gelombang 1,542 Å. Hasil akhir kemudian akan diinterpretasikan dalam bentuk peta kadar emas.

Kata kunci: Survei Geokimia, Emas, X-Ray Diffraction, Krueng Sabee.

1. Pendahuluan

Survei merupakan hal yang sangat menentukan dalam suatu proses penambangan. Dengan Survei yang baik akan mendapatkan hasil yang baik dan dengan hasil yang baik dapat ditentukan tindakan yang akan diambil dalam proses penambangan tersebut. Salah satu metode survei yang sedang berkembang pada saat ini adalah survei geokimia.

Lahirnya geokimia sebagai cabang ilmu geologi baru menyebabkan munculnya metode dan data observasi baru mengenai berbagai hal yang banyak menarik perhatian para ahli sedimentologi. Sebagian besar penelitian geokimia pada mulanya diarahkan pada penelitian kuantitatif untuk mengetahui penyebaran

unsur-unsur kimia di alam, termasuk penyebarannya dalam batuan sedimen.

(2)

.

2. Tinjauan Pustaka

Survei adalah penyelidikan yang dilakukan untuk mengidentifikasi, menentukan lokasi, ukuran, bentuk, letak dan sebaran, kuantitas dan kualitas suatu sumber daya geologi untuk kemudian dapat dilakukan analisis atau kajian kemungkinan dilakukannya penambangan. Pentahapan dalam survei mutlak dilakukan untuk meminimalkan kerugian atau resiko kegagalan karena survei merupakan aktivitas yang beresiko tinggi. Pentahapan dalam survei harus dilakukan sesuai dengan karakteristik tiap endapan mineral untuk mengurangi resiko kegagalan (kerugian) yang lebih besar dalam menemukan endapan mineral tersebut. Setelah suatu tahapan survei selesai dilakukan, perlu adanya evaluasi untuk pengambilan keputusan yang akan dilakukan selanjutnya(Syahroni, 2010).

Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam merancang suatu kegiatan survei adalah :

1. Efektifitas, yaitu mengenai sasaran dengan Metode dan strategi yang tepat.

2. Efisiensi, dengan usaha (biaya dan waktu) yang seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang optimal.

3. Unsur ekonomi, biaya survei harus sesuai dengan hasil yang diharapkan dengan memperhitungkan resiko. Hal ini disebabkan karena lebih tinggi resiko maka keuntungan yang dicapai makin berlipat ganda.

2.1 Survei Geokimia

Pengertian survei geokimia dapat diartikan sebagai penerapan praktis prinsip-prinsip geokimia teoritis pada survei mineral dengan tujuan agar mendapatkan endapan mineral baru dari logam-logam yang dicari dengan Metode kimia. Dengan metode ini kita dapat melakukan pengukuran secara terperinci satu atau lebih unsur kimia pada batuan, stream sediment, tanah, air, vegetasi dan udara. Metode ini dilakukan agar mendapatkan beberapa dispersi unsur di atas yang disebut anomali, dengan harapan menunjukkan mineralisasi yang ekonomis (Chaussier, 1987).

Sedangkan anomali geokimia adalah konsentrasi abnormal dari unsur-unsur tertentu yang sangat kontras dengan lingkungannya, yang dipercaya mengindikasikan hadirnya endapan mineral atau bijih. Pembentukan anomali ini dihasilkan oleh mobilitas dan dispersi unsur-unsur yang terkonsentrasi dalam zona zona mineralisasi (Chaussier, 1987).

Penentuan daerah target untuk penyelidikan geokimia dengan mempertimbangkan kondisi geologi suatu daerah. Daerah target yang telah ditentukan biasanya dibagi tiap interval dengan bantuan GIS, interval ini ditentukan berdasarkan exploration knowledge. Seperti, alterasi sekitar sampel batuan yang dapat digunakan untuk menentukan batas minimal jarak, atau dengan alasan geostatistik kita dapat menggunakan metode variogram(McClenaghan, 2001).

2.2 Prinsip Dasar Survei Geokimia

Survei geokimia pada dasarnya terdiri dari dua metode yaitu metode yang menggunakan pola dispersi mekanis dan metode yang didasarkan pada pengenalan pola dispersi kimiawi. Pola dispersi mekanis biasanya diterapkan pada mineral yang relatif stabil pada kondisi permukaan bumi (seperti: emas, platina, kasiterit, kromit, mineral tanah jarang). Cocok digunakan di daerah yang kondisi iklimnya membatasi pelapukan kimiawi. Sedangkan pola dispersi kimiawi, pola ini dapat diperoleh baik pada endapan bijih yang tererosi ataupun yang tidak tererosi, baik yang lapukan ataupun tidak lapuk. Pola ini kurang terlihat seperti pada pola dispersi mekanis(Syahroni, 2010).

2.3 Penerapan Geokimia dalam survei Mineral

Menurut Prinsip dasar geokimia dalam survei adalah mengetahui konsentrasi dari logam dan senyawa dalam endapan bijih. Survei geokimia telah terbukti memberikan kemajuan yang signifikan dalam survei mineral secara keseluruhan, salah satu bukti penerapan geokimia dalam survei adalah menjelaskan pemahaman bahwa mineral dapat bermigrasi (Anand, 2014).

Menurut Survei geokimia dapat memberikan manfaat yang nyata dalam kemajuan teknologi terhadap peningkatan cadangan endapan logam dengan berbagai metode terbaru. Salah satu metode survei terbaru adalah dapat mengidentifikasi migrasi mineral yang dikhususkan pada dua proses:

1. Primary Dispersion, dispersi utama memberikan informasi tentang perubahan dan elemen utama dispersi yang berkaitan dengan perpindahan bijih. 2. Secondary Dispersion, yang menjelaskan tentang

migrasi mineral dari zona dispersi utama, contoh penerapan seperti survei survei sedimen sungai aktif, tanah, air, batuan, dan tumbuhan.

Salah satu bidang terbaru dalam survei geokimia adalah biogeokimia yang berfokus pada interaksi mikroba, interaksi tanaman dan interaksi antara organisme lain dengan kandungan mineral yang ada di bumi(Kurt et al, 2015).

Dewasa ini banyaknya penemuan-penemuan baru dalam penerapan geokimia berdampak pada berkembangnya medote penerapan menggunakan geokimia, ada tiga penerapan utama geokimia pada industri pertambangan yaitu: (1) Survei geokima; (2) Geometalurgi (geokimia pertambangan); (3) Geokimia lingkungan. Ketiga penerapan ini memiliki tujuan yang berbeda namun teknik dan penerapannya hampir sama (Kurt et al, 2015).

2.4 Teknik pengambilan sampel Geokimia

Menurut Tille (2014), Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan sampel geokimia antara lain:

(3)

2. Pengambilan sampel geokimia pada umumnya dilakukan oleh minimal dua orang hal ini bertujuan tidak hanya mempercepat proses pengambilan sampel tapi juga untuk keselamatan kerja.

3. Proses sampling geokimia yang efektif membutuhkan orang yang memiliki pengetahuan tentang geokimia sehingga mampu mengenali dengan benar material sampel dan karakteristiknya.

4. Dalam pemilihan peralatan sampling (seperti sekrup, palu geologi, auger) dari bahan yang tidak menyebabkan kontaminasi.

5. Tidak hanya pada peralatan perlakuan yang sama juga harus diterapkan pada tempat peletakan sampel (seperti kantong sampel, kantong plastik, botol polipropylen).

6. Dalam pengambilan sampel hindari penggunaan aksesoris dari logam (seperti cincin, jam, kalung) karena penggunaan aksesoris terutama dalam bentuk logam dapat mengkontaminasi sampel. 7. Mulailah pengambilan sampel pada lokasi yang

memiliki indikasi tertinggi, hal ini bertujuan ketika dalam proses pengambilan sampel terjadi kendala seperti cuaca buruk tidak memberikan perubahan yang terlalu besar pada sampel. Salah satu hal yang paling penting dalam pengambilan sampel yaitu pengambilan nomor urut yang baik, diberi kode mulai dari awal sampai sampel terakir dengan tujuan meminimalisir kemungkinan terjadinya pertukaran sampel.

2.5 Sinar-X

Menurut Sejalan perkembangan ilmu pengetahuan diketahui bahwa sinar-x adalah radiasi elektromagnetik transversal, seperti cahaya tampak, tetapi dengan panjang gelombang yang jauh lebih pendek. Jangkauan panjang gelombangnya tidak terdefinisi dengan jelas tetapi diperkirakan mulai dari panjang gelombang cahaya ungu hingga sinar gamma yang dipancarkan oleh bahan-bahan radioaktif. Dalam kristalografi, panjang gelombang yang digunakan berkisar antara 0.5 hingga 2.5Å (Guinier, 1963) dalam Suminar Pratapa(2004).

2.6 Dispersi Sinar-X

Persyaratan yang harus dipenuhi agar berkas sinarX yang dihamburkan merupakan berkas difraksi dikenal sebagai Hukum Bragg. Hukum Bragg menyatakan bahwa perbedaan lintasan berkas difraksi sinarX harus merupakan kelipatan panjang gelombang, secara matematis dirumuskan:

nλ = 2dsi

nθ...(1) dengan nadalah faktor koreksi kesalahan alat, dan θ adalah sudut difraksi.

Keadaan ini membentuk pola interferensi yang saling menguatkan untuk sudutsudut yang memenuhi hukum Bragg. Gejala ini dapat diamati pada grafik hubungan antara intensitas spektrum karakteristik sebagai fungsi sudut 2θ.Untuk menentukan sudut θ dalam kristal/anoda adalah sistem kristal/atom dan parameter atau arah

difraksi ditentukan oleh bentuk dan ukuran sel satuannya (Zakaria, 2003).

2.7 X-Ray Diffraction

Ray Diffraction (XRD) adalah sebuah metode utama dalam proses identifikasi komposisi dari material sampel dan dapat menyediakan informasi dimensi dari unit molekul. Material yang dianalisis menggunakan XRD ialah batuan berukuran halus, homogen dan diutamakan dalam bentuk powder. Proses identifikasi material dengan XRD menggunakan alat yang disebut dengan nama X-Ray Diffractometer(Barbara, 2012).

Gambar 1. Contoh hasil analisis menggunakan XRD

2.8 Prinsip Kerja X-Ray Driffractometer

Menurut Ada dua proses yang terjadi bila seberkas sinar-x ditembakkan ke sebuah atom: energi berkas sinar-x terserap oleh atom, atau sinar-x dihamburkan oleh atom. Dalam proses yang pertama, berkas sinar-x terserap atom melalui Efek Fotolistrik yang mengakibatkan tereksitasinya atom dan/atau terlemparnya elektron-elektron dari atom. Atom akan kembali ke keadaan dasarnya dengan memancarkan elektron (melalui Auger effect), atau memancarkan sinar-x yang memiliki panjang gelombang karakteristik atom tereksitasinya. Pada proses yang kedua, ada bagian berkas yang mengalami hamburan tanpa kehilangan energi (panjang gelombangnya tetap) dan ada bagian yang terhambur dengan kehilangan sebagian energi (Hamburan Compton)(Suminar Pratapa, 2004).

Gambar 2. Proses Diffraksi sinar-X

(4)

menjadi i1dan i2 yang masing masing membentuk sudut θ terhadap bidang dan bersifat paralel, monokromatik dan koheren, perbedaan panjang antara i1 – M – i1 dengan i2 sama dengan n kali panjang

Penelitian telah dilaksanakan pertambangan rakyat berlokasi di Gunong Ujeun, Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh pada bulan Oktober 2016.

Gambar 3. Peta lokasi penelitian

Pada kegiatan penelitian yang akan kami lakukan, rancangan percobaan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Mencari lokasi pengukuran yang telah ditentukan menggunakan korelasi antara GPS dan peta didapat sampel yang cukup di setiap lokasi untuk dapat dianalisis menggunakan alat X - Ray sampel pada batuan yang berukuran besar. 5. Kemudian, batu yang berukuran besar terlebih

dahulu dikecilkan ukurannya menggunakan palu geologi, setelah itu batuan ukuran kecil ini dihancurkan hingga berbentuk lebih halus. 6. Batu yang berukuran halus kemudian dibawa ke

laboratorium untuk digiling sampai berbentuk powder menggunakan alat ball mill, Powder ini yang kemudian akan dianalisis menggunakan metode XRD.

Setelah dilakukan analisis menggunakan Alat XRD, hasil akan digunakan pada tahapan berikutnya yaitu pembuatan peta persebaran survei geokimia.

4. Hasil Dan Pembahasan

Pada penelitian ini penulis menerapkan metode geokimia, penulis menilai penggunaan survei geokimia sangat cocok dilakukan di daerah penambangan emas terutama pada pertambangan rakyat. Pada pertambangan di Gunong Ujeun ditemukan banyaknya penggunaan bahan kimia seperti larutan sianida dan merkuri yang dapat berbahaya bagi lingkungan sekitar, tapi pada survei geokimia ini penulis hanya memfokuskan pada survei geokimia batuan dan geokimia sedimen sungai aktif. Penerapan metode geokimia pada penelitian ini karena pada proses penelitian ini penulis akan melihat sifat kimiawi yang ada pada batuan emas dari lokasi penambangan di Gunong Ujeun Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya..

4.1 Pengujian XRD

Setelah proses pengambilan sampel dengan survei geokimia batuan akan dihaluskan sehingga berbentuk powder. Kemudian akan dilanjutkan dengan pengujian menggunakan alat X-ray Diffraction. Anailsis dilakukan secara bertahap untuk setiap sampel dari setiap titik lokasi pengukuran. Pengukuran dilakukan di laboratorium Pengujian Fisika Mineral PUSLITBANG tekMIRA (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara) menggunakan X-Ray Diffractometer dengan tipe Phylips PW3710 BASED.

Dari hasil analisis di beberapa titik sampel di dapat bahwa secara umum kandungan utama batuan dari lokasi pertambangan di Gunong Ujeun adalah batu kuarsa dan Illite. Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals) seperti pada umumnya yaitu mineral kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan Illite. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi dan untuk lebih jelas mineral yang terkandung pada batuan dari lokasi pertambangan rakyat Krueng Sabee dapat di lihat pada tabel 4.1.

Tabel 1. Hasil pengujian XRD

Kode

Sampel Komposisi Mineral

BT-01 Kuarsa, Illite

BT-02 Kuarsa, Magnetit, Zircon, Albite, Hastingsite

BT-03 Kuarsa, illite, Ankerit

BT-04 Kuarsa, Illite

BT-06 Kuarsa, Albite, illite

BT-07 Kuarsa, Albite, Hastingsite, illite

(5)

di Aceh Jaya yang kaya sumber daya mineral. Hasil pengamatan dari lokasi BT-01 hingga BT-07 juga didapatkan bahwa pada umumnya di lokasi penambangan rakyat Krueng Sabee terdiri dari batuan kuarsa.

4.2 Analisis Sampel Hasil Pengujian XRD Penggunaan XRD dalam analisis sampel memungkinkan kita mengetahui fasa dan kandungan dari berbagai sampe yang akan di uji, tetapi untuk mengetahui persentase kadarnya kita memerlukan analisis tambahan menggunakan software, dan penulis menggunakan aplikasi Match!3 dikarenakan aplikasi tersebut dapat digunakan tanpa lisensi selama 3 bulan. Hasil dari ke 6 titik sampel yang telah di proses melalui Match adalah sebagai berikut:

1. Sampel BT-01

Gambar 4. Kurva hasil analisis sampel BT-01

Secara geografis lokasi sampel BT-01 terletak pada titik koordinat 4°40'30,30" Lintang Utara dan 95°43'17,20" Bujur Timur. Lokasi merupakan tempat area penambangan rakyat yang didominasi oleh batu kuarsa dan illite, dan hasil pengukuran untuk titik BT-01 adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Data diffraksi pada sampel BT-01

Data PartikelJumlah kandunganKadar

Partikel keseluruhan 76682 100%

Radiasi hamburan 18785 24.50%

Jumlah Peak 57897 75.50%

Peak partikel yang

dipilih 288 0,375%

Peak partikel A (Gold) 115 0,15%

Peak partikel B (Gold) 68 0,09%

Peak partikel C (Gold) 63 0,09%

Peak partikel D (Gold) 42 0,04%

2. Sampel BT-02

Gambar 5. Kurva hasil analisis sampel BT-02 Secara geografis lokasi sampel BT-02 terletak pada titik koordinat 4°40'21,65" Lintang Utara dan 95°43'41,96" Bujur Timur. Merupakan lokasi penambangan baru dengan kedalaman mencapai sekitar 5,5 meter. Lokasi ini merupakan lokasi yang sangat kaya akan berbagai jenis mineral namun pada umumnya didominasi oleh mineral Kuarsa, Magnetit, Zircon, Albite dan Hastingsite. Hasil pengukuran untuk titik BT-02 adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Data diffraksi pada sampel BT-02 Data PartikelJumlah kandunganKadar

Partikel keseluruhan 50544 100%

Radiasi hamburan 24500 48,47%

Jumlah Peak 26044 51,53%

Peak partikel yang

dipilih 883 1,746%

Peak partikel A

(Gold) 270 0,54%

Peak partikel B

(Gold) 249 0,49%

Peak partikel C

(Gold) 180 0,36%

Peak partikel D

(Gold) 184 0,36%

3. Sampel BT-03

(6)

95°40'51.57" Bujur Timur. Sampel diambil dari sedimentasi sungai aktif yang didominasi oleh batuan Kuarsa, illite dan Ankerit. Hasil pengukuran untuk titik BT-03 adalah sebagai berikut:

Tabel 4. Data diffraksi pada sampel BT-03

Data PartikelJumlah kandunganKadar

Partikel keseluruhan 70124 100%

Radiasi hamburan 19147 27.30%

Jumlah Peak 50977 72.70%

Peak partikel yang

dipilih 52 0,074%

Peak partikel A (Gold) 29 0,04%

Peak partikel B (Gold) 23 0,03%

4. Sampel BT-04

Gambar 7. Kurva hasil analisis sampel BT-04 Secara geografis lokasi sampel BT-04 terletak pada titik koordinat 4°40'11,67" Lintang Utara dan 95°40'25,30" Bujur Timur. Sampel diambil dari sedimentasi sungai aktif yang didominasi oleh batuan Kuarsa dan Illite. Hasil pengukuran untuk titik BT-04 adalah sebagai berikut:

Tabel 5. Data diffraksi pada sampel BT-04

Data PartikelJumlah kandunganKadar

Partikel keseluruhan 74774 100%

Radiasi hamburan 17972 24.04%

Jumlah Peak 56802 75.96%

Peak partikel yang

dipilih 22 0,029%

Peak partikel A (Gold) 8 0,01%

Peak partikel B

(Gold) 14 0,02%

5. Sampel BT-06

Gambar 8. Kurva hasil analisis sampel BT-06 Secara geografis lokasi sampel BT-06 terletak pada titik koordinat 4°40'35,12" Lintang Utara dan 95°42'40,15" Bujur Timur. Sampel diambil dari lokasi penambangan rakyat yang didominasi oleh batuan Kuarsa, Albite dan illite. Hasil pengukuran untuk titik BT-06 adalah sebagai berikut:

Tabel 6. Data diffraksi pada sampel BT-06 Data PartikelJumlah kandunganKadar

Partikel keseluruhan 65062 100%

Radiasi hamburan 23288 35.79%

Jumlah Peak 41774 64.21%

Peak partikel yang

dipilih 258 0,396%

Peak partikel A

(Gold) 115 0,17%

Peak partikel B

(Gold) 99 0,15%

Peak partikel C

(Gold) 44 0,06%

6. Sampel BT-07

Gambar 9. Kurva hasil analisis sampel BT-07

Secara geografis lokasi sampel BT-07 terletak pada titik koordinat 4°40'48,33" Lintang Utara dan 95°42'43,68" Bujur Timur. Sampel diambil dari pertambangan rakyat yang didominasi oleh batuan Kuarsa, Albite, Hastingsite dan illite. Hasil pengukuran untuk titik BT-07 adalah sebagai berikut:

Tabel 7. Data diffraksi pada sampel BT-07

Data PartikelJumlah kandunganKadar

Partikel keseluruhan 68756 100%

Radiasi hamburan 25782 37.50%

Jumlah Peak 42974 62.50%

Peak partikel yang

dipilih 774 1,126%

Peak partikel A (Gold) 275 0,40%

Peak partikel B (Gold) 251 0,36%

Peak partikel C (Gold) 161 0,23%

Peak partikel D

(7)

hasil yang didapat untuk semua sampel adalah sebagai berikut:

Tabel 8. Kadar emas pada setiap sampel batuan

Nama

Sampel SampelMassa PersentaseKadar KandunganEmas

BT-01 40g 0,375% 0,15g

BT-02 40g 1,746% 0,6984g

BT-03 40g 0,074% 0,0296g

BT-04 40g 0,029% 0,0116g

Setelah sampel dari setiap lokasi di uji menggunakan X-Ray Diffractometer dan dianalisis menggunakan software Match! 3, hasil pengujian akan diinterpretasikan dalam bentuk peta agar hasil lebih mudah diamati. Proses pembuatan peta menggunakan software ArcGis 10.5, kadar kandungan emas dari setiap lokasi dapat dilihat pada gambar 10.

Gambar 10. Peta kadar emas pertambangan Rakyat Krueng sabee

5. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari Penelitian ini adalah:

1. Analisis geokimia kandungan emas pada batuan dari penambangan rakyat Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya menggunakan metode X-Ray Diffraction dilakukan pada 6 titik pengujian dengan sampel untuk setiap titik sebesar 40 gram. Hasil pengujian menerangkan sampel BT-02 memiliki kadar emas (Au) tertinggi yaitu 1,746%, dan sampel BT-04 memiliki kadar terendah yaitu 0,029%.

2. Hasil analisis menunjukkan bahwa tambang emas yang masih aktif yaitu titik BT-02 (1,746%) dan BT-07 (1,126%) mengandung emas paling tinggi, sedangkan hasil analisis sampel batuan dari lokasi bekas penambangan yaitu BT-01 (0,375%) dan BT-06 (0,396%) menunjukkan hasil lebih rendah. Hasil analisis dari sampel sedimen sungai aktif yaitu BT-03 (0,074%) dan BT-04 (0,029%).

Saran yang dapat penulis berikan untuk penelitian ini adalah:

1. Pengambilan sampel survei geokimia sebaiknya dilakukan secara merata dan representatif sehingga data dapat mewakili setiap lokasi pengambilan sampel. Proses pengambilan sampel yang baik menjadi hal yang sangat penting untuk memastikan agar kualitas sampel tetap terjaga. 2. Untuk mendapatkan hasil maksimal, pengujian

geokimia menggunakan metode X-ray Diffraction membutuhkan pemahaman tentang mineralisasi yang baik dan kompeten dalam menganalisis sampel.

6. Daftar Pustaka

[1] Anand R and 9 coauthors., (2014) Geochemical dispersion through transported cover in regolith-dominated terrains—toward an understanding of process: Kelley KD. Society of Economic Geologists Special Publication, 97-125.

[2] Barbara, (2012) “Geochemical Instrumentation and Analysis”. Diakses pada 14 oktober 2016.

(http://serc.carleton.edu/research_education/g eochemsheets/techniques/XRD.html)

[3] Chausier, J.B, and Jean, M., (1987) Mineral Prospecting Manual. North Oxford: AcedemiaPublisher Ltd.

[4] Ismunandar. Hunter, B. A. and Kennedy, B. J. (2006) Cation Disorder in Ferroellectric Aurrivillius phase PbBi2Nb2O9: an

Anomalous Dispersion X-ray Diffraction Study. Bandung: Elsevier.

[5] Jalil Zulkarnain, dkk. 2013. mineral composition in rock from gold mining areas at Gunong Ujeun krueng sabee aceh jaya. Banda Aceh: Journal Natural.

[6] Kurt. K, (2015) Applied Geochemistry in Mineral Exploration and Mining. Ontario, Canada: Department of Geological Sciences and Geological Engineering Queen’s University

[7] McClenaghan, (2001) Drift Exploration in Glaciated Terrain London: The Geological Society London, 177.

[8] Syahroni, (2010) Metode Analisis Geokimia. Bandung: Universitas Islam Bandung. [9] Suminar Pratapa, (2004) Difraksi Sinar-X.

Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh November.

(8)

Gambar

Gambar 1. Contoh hasil analisis menggunakan XRD
Gambar 3. Peta lokasi penelitian
Tabel 3. Data diffraksi pada sampel BT-02JumlahKadar
Tabel 4. Data diffraksi pada sampel BT-03
+2

Referensi

Dokumen terkait