EVOLUSI KESADARAN, INDUSTRI MEDIA DAN MELEK MEDIA Oleh Yosal Iriantara
Dalam sebuah seminar di Surabaya tahun 2005, seorang guru besar satu universitas negeri di Jawa Timur secara satiris menyatakan, kini betapa banyak warga masyarakat yang bertanya kapan kebebasan pers akan berakhir. Alasannya, secara psikologis merasa tidak nyaman berhadapan dengan kebebasan pers itu. Orang jadi makin mudah memperoleh media cetak yang dinilai tidak senonoh, mulai dari gambar seronok hingga informasi yang sebenarnya tidak perlu diketahui publik karena persoalannya memang bersifat pribadi.
Wakil media yang hadir dalam seminar tersebut menjelaskan, banyak pihak yang ‘mendompleng’ kebebasan pers. Dia mencontohkan, pornografi bukanlah produk pers namun memanfaatkan kebebasan pers untuk menjual komoditas pornografis. Pornografi dan media adalah dua hal yang berbeda, meski menggunakan jalur yang sama yakni jalur kebebasan pers. Wakil pers itu juga menyatakan kekhawatirannya, bila ungkapan satiris yang disampaikan guru besar tadi akan mempengaruhi persepsi banyak orang tentang makna kebebasan pers yang sejak lama diperjuangkan oleh kalangan pers. Dia merasa khawatir bila kebebasan pers hanya menjadi berarti bebas menyajikan informasi atau gambar yang tidak bermakna apa-apa secara sosial seperti pornografi tadi, akhirnya membuat orang untuk lebih memilih “ketidakbebasan” pers.
Makna kebebasan pers kini lebih populer dengan istilah kebebasan media inilah yang
kerap dilupakan. Untuk siapa sebenarnya kebebasan media itu? Apakah hanya demi kepentingan komersial industri media? Apakah demi kemaslahatan hidup manusia? Atau, sekedar aksesori untuk menggenapkan “rukun” negara demokratis? Lebih jauh lagi tapi lebih sederhana, peranyaannya menjadi: Untuk apa kebebasan media?
Tulisan ini diniatkan membahas permasalahan tersebut dengan latar perubahan mediascape yang sedang terjadi di Indonesia, setelah lebih dari 10 tahun mengalami masa transisi dari negara yang otoriter menjadi negara demokratis. Perubahan mediscape itu tampak dari bermunculannya stasiun televisi komersial baik yang bersiaran nasional maupun lokal, radio swasta yang diperbolehkan menyiarkan berita dan tidak perlu lagi merelai siaran berita dari RRI, lahir, mati dan tumbuhnya industri media cetak komersial serta lahirnya media baru yang berbasis internet yang antara lain sering melaporkan berita saat peristiwanya berlangsung. Tentu juga tidak bisa kita pungkiri isi media yang jika dilihat dari sisi nilai,
tidak terasa atau minimal tidak terlihat manfaatnya bagi kemaslahatan hidup bersama sebagai bangsa atau sebagai manusia.
Dalam konteks seperti inilah, kita bisa memaknai bahwa kebebasan informasi akan melahirkan kesejahteraan seperti yang dikemukakan ekonom Amartya Sen. Karena kita bisa juga bertanya, informasi seperti apa yang dipertukarkan yang akan membawa kesejahteraan itu? Tentu bukan informasi remeh-temeh, isi media yang hanya membongkar aib pribadi figur publik yang akan mendorong peningkatan taraf hidup masyarakat. Karena di dalamnya juga tidak akan ada kontrol sosial, yang merupakan salah satu tugas media di negara demokrasi.
A. Industri Media di Indonesia
Setelah terjadi perubahan tatanan politik di Indonesia, yang populer dengan sebutan reformasi, dunia media massa mengalami perubahan mendasar. Bukan hanya terjadi peningkatan jumlah media massa ─cetak dan elektronik─ tapi juga secara kualitatif terjadi perubahan sifat dan keragaman isi media massa. Iklim kebebasan pers atau kebebasan media memungkinkan terjadinya perubahan mendasar itu. Pada era reformasi ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang industri media massanya berkembang dengan pesat.
Jumlah stasiun televisi yang mengudara secara nasional saat ini bertambah, dari 6 stasiun sebelum era reformasi menjadi 11 stasiun. Di samping itu, ada juga stasiun-stasiun televisi yang mengudara secara regional seperti TVRI Stasiun Bandung, TVRI Stasiun Denpasar, TVRI Stasiun Samarinda dan Papua-TV. Selain ada juga yang mengudara secara lokal seperti J-TV, Programa 2 TVRI Jakarta, Bandung TV, dan Bontang-TV. Berdasarkan hasil penelitian Agus Sudibyo (2004: 154-157) di luar 22 stasiun regional yang dimiliki TVRI ada 48 stasiun televisi lokal baik milik swasta maupun pemerintah kota/kabupaten. Dengan demikian, saat ini setidaknya ada 81 stasiun televisi di Indonesia. Di samping itu, ada juga siaran televisi yang disalurkan hanya kepada pelangganya, yang biasa dinamakan TV kabel, yang didistribusikan antara lain melalui Indovision dan Telkomvision.
dipancarkan melalui stasiun televisi yang mengudara secara nasional yakni Metro-TV dan Indosiar. Tercatat ada 803 stasiun radio milik pemerintah dan swasta yang mengudara di Indonesia, yang terdiri atas 678 stasiun radio yang mengudara di jalur AM, 43 di jalur FM dan 82 di jalur SW. Namun tidak diperoleh data untuk radio komunitas yang ada di seluruh Indonesia.
Sedangkan untuk media cetak, jumlah media cetak yang terbit di Indonesia tak bisa diketahui dengan pasti. Mengingat banyak media cetak ─koran harian, majalah dan tabloid─ yang terbitnya tidak teratur dan banyak pula yang hanya sekali dua kali terbit, setelah itu tidak terbit lagi. Keadaan ini terjadi terutama karena setelah era reformasi media cetak tidak lagi memerlukan ijin terbit. Cukup mendaftarkan perusahaan penerbitan pers itu sebagai badan usaha seperti halnya perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha non-pers.
Ahli komunikasi dari Universitas Indonesia S. Djuarsa Sendjaja (1993:118), melihat tiga hal yang menandai kecenderungan perkembangan media massa di Indonesia, yaitu:
a. Pengelolaan usaha di bidang media massa tidak lagi dilakukan dalam bentuk yayasan serta semata mengutamakan aspek idealnya, tetapi berupa PT (Perseroan Terbatas) yang didukung sistem manajemen profesional dan penggunaan produk-produk teknologi canggih serta mengarah pada komersialisme.
b. Semakin banyaknya para pengusaha nasional atau lazim disebut para “konglomerat” yang menanamkan modalnya di bidang usaha media massa.
c. Media massa yang ada semakin beragam bentuknya dan mengarah pada spesialisasi. Perkembangan itu mengubah mediascape Indonesia sehingga membawa masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang hidup dalam apa yang biasa diistilahkan sebagai “dunia sesak-media” (media-saturated world). Media massa pun mengalami perubahan dari “media perjuangan” menjadi “media komersial”. Menurut Goonasekera (1998:101) tipe ideal media massa di Indonesia adalah model komunitarian yang pada satu sisi menempatkan keuntungan sebagai prioritas media massa, namun pada sisi lain, media massa bersama pemerintah berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun dalam praktiknya, media massa di Indonesia memasuki era komersialisme yang bertemu dengan kebebasan media, sehingga perikehidupan media bisa dikatakan mulai memasuki era keemasannya sebagai industri.
media ini cukup banyak. Menyatu dan berpadu dengan media yang pada akhirnya pada satu sisi kita melihat keragaman jenis dan bentuk media yang dikonsumsi masyarakat dan pada sisi lain kita pun menyaksikan media yang makin komersial dan memanjakan selera khalayaknya sampai lupa melakukan refleksi atas makna kebebasan media yang sedang dinikmatinya itu.
B. Isi Media
Isi media komersial, sesuai dengan namanya, tentu disajikan untuk memuaskan selera khalayaknya. Kita bisa menyaksikan bagaimana stasiun-stasiun televisi menyajikan acara yang identik. Satu stasiun sukses dengan sinetron yang disebut sinetron religi, maka stasiun-stasiun lain pun akan melakukannya karena sinteron seperti itulah yang dipandang memuaskan seleranya. Kita juga menyaksikan, bagaimana acara bergunjing yang diberi nama infotainment disiarkan hampir semua stasiun televisi. Dalam acara seperti itu, perosoalan-persoalan privat figur publik disajikan seolah-olah menjadi persoalan publik, bahkan terkadang berlindung di balik adagium hak publik untuk memperoleh informasi.
Secara konseptual, isi media selalu dikategorikan menjadi isi yang menginformasikan, mendidik dan menghibur. Dalam perkembangan berikutnya, isi tersebut kemudian ramuan dari ketiga kategori itu, sehingga kita mengenal isi media yang mendidik namun menghibur (edutainment), memberi informasi dan menghibur (infotainment). Namun harus diakui kemudian terjadi pergeseran pada isi media yang berupa ramuan itu, karena bobot hiburannya lebih besar, bahkan hiburannya pun merupakan hiburan dengan h kecil bukan dengan H besar.
Lebih dari itu, isi media yang isinya tidak mengandung muatan informasi bagi kepentingan publik melainkan informasi yang disukai publik pun diberi nama generik infotainment. Makin samarlah batas-batas antara informasi yang dibutuhkan dan menjadi kepentingan publik, dengan informasi yang disukai publik. Begitu juga dengan hiburan dan pendidikan, menjadi lebih diarahkan pada apa yang disukai publik bukan yang dibutuhkan dan menjadi kepentingan publik.
for the fittest) dirumuskan dengan kemampuan membaca selera dan keinginan publik, untuk kemudian diikuti dengan eksploitasi atas selera publik tersebut, yang kadangkala dilakukan dengan cara yang bertentangan dengan akal-sehat bahkan menumpulkan logika.
Kritik tajam terhadap fakta isi media yang seperti itu, sebenarnya sudah cukup banyak. Namun media tentunya akan lebih banyak memperhatikan apa yang menjadi selera khalayaknya, dan bukan selera kritisi media. Inilah yang diungkapkan ahli komunikasi dari Universitas Airlangga Henry Subiakto (2005:3) sebagai menempatkan khalayak menjadi konsumer (consumers) dan bukan sebagai warga negara (citizens). Selanjutnya dinyatakan Subiakto (2005:3), tujuan utama media komersial adalah menghasilkan keuntungan bagi pemilik dan pemegang sahamnya, dan bukan mendorong mengembangkan warga negara yang aktif. Konsekuensi dari perkembangan tersebut, media komersial mendorong khalayaknya “menikmati dirinya sendiri dan membeli produk, sehingga media massa menyajikan apa yang laku atau populer di masyarakat tanpa memperdulikan apakah hal tersebut melecehkan logika, mengacak-acak budaya, menumpulkan hati nurani, atau mengabaikan kepentingan publik” (Subiakto, 2005:3). Tanggung jawab sosial yang sesungguhnya melekat pada kebebasan media, menjadi persoalan yang makin jarang dipercakapkan. Meski tidak dinyatakan secara eksplisit, tapi terkesan ada semacam keyakinan bahwa tanggung jawab sosial itu mengerangkeng kebebasan media. Antara kebebasan dan tanggung jawab rupanya lebih dipandang sebagai satu kontinum, ketimbang dua sisi dari sekeping uang. Dengan dipandang sebagai kontinum, maka praktik media akan dipandang seperti pendulum. Bila berayun ke arah tanggung jawab sosial akan dipandang mengurangi derajat kebebasan dan bila berayun ke arah kebebasan maka untuk sesaat tanggung jawab sosialo diabaikan dulu, yang penting selera khalayak dipuaskan.
Dalam cara pandang seperti itu, maka yang dicari adalah keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab sosial. Sayangnya, karena cara pandang sebagai kontinum itu, keseimbangan (ekuilibirium) tidak selalu tercapai. Kondisi antara kebebasan dan tanggung jawab sosial selalu berada dalam kondisi disekulibirium.
kebebasan dan tanggung jawab tidak dipandang dikhotomis atau diupayakan untuk memperoleh keseimbangan. Melainkan lebih pada bagaimana kedua hal tersebut dijalankan dalam praktik profesional (awak) media.
C. Evolusi Kesadaran
Dalam pandangan aliran neo-evolusionisme/neo-Darwinisme, evolusi fisikal manusia sudah berakhir. Kini manusia sedang berjalan dalam evolusi nonfisikal, khususnya kesadaran dan nilai. Dalam evolusi ini, arah gerak peradaban selalu diandaikan menuju kondisi yang terbaik meski faktanya tidak selalu begitu. Ada kalanya manusia berputar pada titik yang sama, namun dipersepsi seolah-olah sedang bergerak maju, namun sesungguhnya tidak beranjak sedang menjadi lebih baik. Bahkan mungkin sebaliknya, sedang berjalan menjadi semakin memburuk. Antara maju, diam di tempat dan mundur, tidak cukup tersadari karena kita memang tidak tahu atau tidak mau tahu bagaimana semua itu sedang bergerak, berubah atau tumbuh dan berkembang. Semua dipandang sebagai pergerakan, perubahan, pertumbuhan dan perkembangan alamiah belaka yang diikuti begitu saja tanpa ada upaya untuk memberi arah. Semua dipandang mengalir seperti sungai menuju laut.
Apalagi arah perubahan, pertumbuhan dan perkembangannya sendiri tidak berjalan linear. Ada yang mundur, ada yang maju, ke atas ke bawah, lama dan baru muncul, bersatu begitu rumit bahkan semrawut. Karena kita memang berjalan dalam dinamika spiral yang terkadang membuat kita merasa sedang maju, padahal sedang mundur, terasa naik namun sesungguhnya turun. Atau bisa juga hanya berjalan di tempat saja, selama beberapa waktu namun dipandang kita sedang melakukan perjalanan menuju kondisi yang lebih baik.
Tantu saja, media massa menjadi salah satu sumberdaya yang sejatinya bisa dipergunakan bangsa ini untuk menjalani perubahan, pertumbuhan dan perkembangan dengan menyajikan informasi, pendidikan dan hiburan yang memang mendorong ke tangga sosial yang lebih tinggi. Bukan informasi yang misalnya hanya membuat bangsa ini tertahan pada level instinktif belaka dengan memberikan informasi yang mengintip kehidupan pribadi orang lain (voyeurisme) atau menggunjikan orang lain. Bukan informasi yang hanya meodrong orang saling mencaci dan melakukan tindakan tidak produktif bahkan destruktif melainkan informasi yang memberi ilham (inspiring) sehingga individu, komunitas, masyarakat dan warga bangsa terdorong untuk membuat dirinya menjadi lebih baik, lebih unggul dan lebih bermanfaat bagi manusia lainnya. Bukankah, seperti dinyatakan dalam hadist, “sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya”?
Gambar 1: Dinamika Spiral
Sumber: Adaptasi dari Center for Human Emergence
melalui evolusi kesadaran seperti yang divisualisasikan pada Gambar 2. Dalam pertumbuhan dan perkembangan individu, misalnya, kita bergerak menuju kemanusiaan universal setelah kita mencapai atau memiliki pandangan dunia yang baru. Kita muncul menjadi pribadi yang bersama-sama orang lain membangun kemaslahatan (ko-kreatif), yang membina relasi ko-kreatif seperti melalui silaturahmi dan saling menghargai, lalu memiliki vokasi ko-kreatif bukan destuktif baik lahir maupun batin, sehingga akhirnya kita bisa mencapai tatanan masyarakat ko-kreatif.
Perjalanan evolutif seperti ini bergerak dalam dinamika spiral, yang terkadang membuat kita bahagia dan bangga karena sudah bisa menjadi lebih baik, kadangkala dihadapkan pada keputusasaan dan mengalami jalan buntu karena meski segenap ikhtiar sudah dilakukan namun perubahan tak kunjung terjadi, kadangkala berlangsung biasa-biasa saja karena tidak membutuhkan begitu banyak ikhtiar namun hasilnya cukup memuaskan. Namun, dengan kemampuan berpikirnya, yang antara lain dibangkitkan melalui pendidikan dan informasi dari media massa, manusia sebenarnya berkemampuan untuk terus menjadi lebih baik.
Gambar 2 Evolusi Kesadaran Diolah dari Hubbard, B.M. (tt).
isi media yang menyenangkan namun sebenarnya sedang membenamkan kita bersama baik secara individual, komunitas, masyarakat atau pun sebagai warga bangsa.
Pada sisi lain, praktik pertukaran informasi dalam komunikasi sosial kita sendiri pun seyogyanya berlangsung dengan mempertimbangkan dinamika spiral tadi. Kita melakukan komunikasi sosial yang bermanfaat dan membawa kemaslahatan, bukan komunikasi sosial yang saling menghancurkan, saling menistakan dan saling merendahkan. Bila diperluas, praktik komunikasi seperti itu tentu diharapkan juga berlangsung dalam komunikasi politik dan komunikasi budaya kita.
D. Acuan Nilai
Bila dalam evolusi fisikal, informasi yang diwariskan pada generasi berikutnya disimpan dalam gen, maka dalam evolusi kesadaran kita pun mendapat warisan dari generasi sebelumnya yakni nilai yang disimpan dalam memes. Dalam ajaran Islam, nilai-nilai tadi menjadi bagian dari fitrah manusia, seperti nilai-nilai ketauhidan yang di-install-kan sebelum kita lahir dan jadi komitmen kita pada Allah swt.
Kecenderungan pada nilai-nilai kebaikan itu secara memetik memang kita miliki. Dalam berbagai kesempatan, Prof. Dr. Achmad Sanusi selalu menjelaskan 5 nilai dasar yang hendaknya menjadi acuan dalam segenap tindakan, pikiran dan perilaku kita. Kelima nilai tersebut meliputi (a) nilai ilahiyah/teologis, (b) nilai guna/manfaat/teleologis, (c) nilai logis, (d) nilai etik, dan (e) nilai estetika.
Evolusi kesasadaran yang berlangsung itu, tidak selalu berjalan dengan mengacu pada kelima nilai tersebut. Bahkan bukan mustahil, justru evolusi berlangsung dengan mengabaikan dan tidak mempertimbangkan sama sekali kelima nilai tadi sehingga evolusi berjalan di tempat atau bahkan mundur dan terjatuh. Tentu saja tidak semua aspek dalam kehidupan sosial kita secara bersama-sama maju atau mundur atau mengabaikan nilai.
Di sini, yang terpenting adalah bagaimana nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam upaya kita untuk melakoni hidup sosial, kultural, ekonomi, politik, pendidikan, komunikasi, pertahanan dan keamanan yang berbasis nilai untuk menapaki dinamika spiral yang seringkali bergerak tanpa kita bisa duga arahnya. Inilah yang membuat kita membutuhkan pegangan sekaligus pedoman arah tindakan kita dalam dinamika perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan. Kita juga memerlukan landasan untuk mendorong kita bergerak menuju kondisi yang lebih baik dalam evolusi kesadaran dan menapaki jenjang dalam dinamika spiral itu.
Kita perlu memperhatikan nilai-nilai itu mengingat secara konseptual, kita bisa merasakan terjadinya perubahan itu setidaknya karena tiga pendorong perubahan, yaitu (a) adanya visi baru, yang sudah kita bahas di atas, (b) tekanan masyarakat yang berkaitan dengan dimensi etik, yang juga sudah kita bahas, dan (c) ketidakpuasan. Untuk hal yang disebut terakhir itu, cukup banyak contoh bagaimana perubahan yang berlangsung karena ketidakpuasan itu seperti gerakan reformasi politik di Indonesia atau berbagai gerakan sosial yang muncul di Eropa seperti Revolusi Prancis.
E. Kebebasan Media dan Evolusi Kesadaran
Ideal kebebasan media adalah tercapainya kesejahteraan sosial dan kebahagiaan warga negara sebagai wujud kemaslahatan sosial. Kebebasan media bukan berarti adanya atau tersedianya kebebasan untuk menyajikan apa pun sebagai isi media tanpa memperhatikan kelima nilai yang dikemukakan tadi. Bisa saja orang hanya berpikir dengan mengacu pada nilai teleologis belaka, yang kemudian dipersempit menjadi bermakna dan bermanfaat bagi media semata. Namun tidak memberikan manfaat apa pun pada masyarakat secara keseluruhan apalagi bisa turut membantu masyarakat untuk menapaki dinamika spiral menjalani evolusi kesadaran menuju masyarakat yang lebih baik.
Dalam kritik lama, media seringkali dipandang sebagai penyebab bergesernya idola produktif menjadi idola konsumtif. Maksudnya, bila sebelumnya kita mengidolakan tokoh-tokoh produktif yang melahirkan perubahan, yang inovasinya membuat masyarakat berubah dan menjadi lebih baik, yang ijtihadnya melahirkan perubahan di tengah masyarakat kini justru mengidolakan orang-orang yang konsumsinya berlebih, luar biasa dan mimpi bagi banyak orang. Ini terwujud misalnya dalam tayangan tentang kemewahan atau gaya hidup konsumtif kalangan pesohor yang kemudian didambakan menjadi gaya hidup oleh banyak orang. Orang pun akhirnya lebih senang diberi daripada memberi.
Kebebasan media, yang sekarang sedang dinikmati di Indonesia, tentunya tidak abdikan untuk pencapaian tujuan korporasi media belaka. Kebebasan media bagaimana pun akan diabdikan pada kemaslahatan sosial dan bersama-sama lingkungannya untuk memperbaiki perikehidupan sosial masyarakat Indonesia. Secara konstitusional, tentu kebebasan media ini diabdikan untuk mencapai tujuan sosial. Dalam konteks kemaslahatan sosial, kebebasan media itu dengan sendirinya diabdikan untuk melahirkan kondiri ko-kreatif dalam proses ko-evolusi bersama aspek lain kehidupan untuk memperbaiki kehidupan dan menjalankan peran sebagai khalifah yang akan memakmurkan bumi ini.
Sekaitan dengan hal tersebut, maka kebebasan media itu tentu dijalankan untuk mencapai kemaslahatan sosial melalui evolusi kesadaran dalam dinamika spiral perubahan, pertumbuhan dan perkembangan sosial. Fungsi kontrol sosial yang diemban media, tentunya kontrol dalam kerangka perjalanan menapaki dinamika spiral untuk menuju masyarakat Indonesia yang perilaku, tindakan, pemikiran dan niat yang tidak sekedar instinktif atau imitatif. Melainkan masyarakat yang memiliki kemampuan ko-kreatif yang dalam bahasa konstitusi dinyatakan sebagai “turut menjaga perdamaian dunia” itu.
Kebebasan media bukanlah peluang bisnis bagi korporasi padat-modal untuk mengeksploitasi selera publik, sehingga khalayak media lebih diposisikan sebagai konsumen ketimbang warga negara. Karena bila diperlakukan sebagai konsumen, maka media dengan kebebasan yang dimilikinya hanya akan berusaha sekuat tenaga dan sebisa
mungkin untuk memuaskan selera bahkan selera instinktif dan imitatif khalayak demi
bersama dengan cara yang adakalanya tidak sesuai dengan selera dan keinginan individualnya namun bermanfaat bagi kemaslahatan sosial.
Bila kebebasan media semata membawa pada pemosisian khalayak sebagai konsumen, maka kritik menggeser idola produktif menjadi idola konsumtif itu, diwujudkan oleh media sendiri. Dalam kondisi seperti itu, tidak banyak yang dapat diperoleh masyarakat untuk memperoleh pencerahan dalam proses evolusi kesadaran, bahkan mungkin saja hanya memberi kekaburan dan keburaman untuk melihat arah evolusi kesadarannya. Dengan begitu, jangankan bisa menapaki tangga-tangga dalam proses yang berlangsung di spiral dinamika, malah sebaliknya mungkin turun dalam tangga-tangga itu menuju tingkatan yang lebih bawah atau setidaknya merasa lebih baik pada saat sesungguhnya sedang mengalami kondisi memburuk.
F. Gerakan Melek Media
Mengingat konsep ko-evolusi, maka apa yang terjadi pada media massa Indonesia sekarang ini tentunya penting untuk diimbangi oleh masyarakat sendiri. Bila media sudah berevolusi sehingga menjadi seperti sekarang ini, tentu juga harus diimbangi oleh evolusi yang terjadi di masyarakat khususnya dalam interaksinya dengan media massa. Konsep penguatan masyarakat untuk menaikkan posisinya dalam lingkungan media yang semakin bebas adalah melek media. Secara sederhana, melek media merupakan upaya untuk melahirkan konsumen media yang cerdas yang turut mempengaruhi apa yang sebaiknya disajikan media massa untuk mendorong perubahan, pertumbuhan dan perkembangan masyarakat.
Konsep melek media sendiri mengalami perubahan sejak konsep ini dikembangkan pada tahun 1960-an. Pada tahun 1960-an, saat UNESCO mulai mengemukakan istilah melek media, konsep yang dikembangkan adalah upaya perlindungan (proteksi) warga masyarakat dari pengaruh buruk media massa. Pada tahun 1980-an, mulai terjadi perubahan konsep melek media dari proteksi menjadi preparasi, sehingga kegiatan pendidikan melek media lebih diarahkan untuk mempersiapkan warga masyarakat untuk hidup di dunia sesak-media. Sedangkan pada tahun 1990-an, terjadi perubahan konsep melek media dari pendidikan menjadi gerakan sosial. Meski melek media dapat merupakan satu gerakan sosial terhadap media massa, namun dasar gerakan sosial tersebut adalah pendidikan melek media.
dibadikan pada ikhtiar mendorong proses evolutif kesadaran. Artinya, memperkuat posisi khalayak media untuk memberikan tekanan terhadap media agar menjalankan amanah kebebasan pers, yakni untuk menjamin kemaslahatan bersama dan bukan demi kepentingan dan keuntungan korporasi media belaka.
Melalui gerakan melek media kita bisa membangun visi baru mengenai tugas dan tanggung jawab sosial yang menyertai kebebasan media. Visi baru tersebut adalah bahwa kebebasan media diabdikan untuk proses evolusi kesadaran untuk mewujudkan peran manusia sebagai khalifah di muka bumi. Seperti sudah kita bahas sebelumnya, visi baru atau cara pandang baru merupakan landasan untuk evolusi kesadaran menuju masyarakat ko-kreatif yang secara bersama melakukan ko-evolusi bersama dengan bidang-bidang lain dalam kehidupan sosialnya. Visi baru itu bisa dibangun bersama kekuatan pendidikan, kebudayaan, sosial, politik dan ekonomi.
Pada sisi lain, melek media sebagai gerakan sosial yang antara lain diwujudkan dalam bentuk pemboikotan produk yang menayangkan iklannya dalam acara televisi yang dipandang kontraproduktif dan tidak membawa manfaat apa pun, merupakan wujud tekanan masyarakat terhadap media massa dalam menjalankan kebebasan yang dimilikinya. Kebebasan yang dimiliki bukan hanya untuk kepentingan komersial korporasi media melainkan yang utama adalah kemaslahatan bersama. Etika profesional yang menggariskan untuk melindungi kepentingan bersama kembali menjadi perhatian dan menjadi landasan tindakan. Bahkan di atas semua itu, landasan 5 nilai seperti yang sudah dikemukakan tadi merupakan dasar kerja atau menjadi falsafah kerja media massa dalam menjalankan kebebasannya.
Dengan demikian, gerakan melek media yang benih-benihnya mulai tumbuh di tengah masyarakat Indonesia, perlu ditempatkan dalam konteks evolusi kesadaran pada kerangka dinamika spiral. Media massa perlu diingatkan bahwa kebebasan yang dimilikinya bukanlah kebebasan untuk kebebasan media belaka atau hanya demi keuntungan finansial yang dinikmati media, melainkan kebebasan yang harus diabdikan pada kepentingan dan kemaslahatan sosial. Media massa menjalankan kebebasannya untuk mendorong berlangsungnya evolusi kesadaran sehingga kehidupan bangsa ini menjadi semakin baik, semakin bermutu dan semakin bermartabat.
G. Bacaan
Sudibyo, A. (2004) Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta: LKIS bekerja sama dengan Institut Studi Arus Informasi
Sendjaja, S. Dj. (1993). “Ekologi Media: Analisa dan Aplikasi Teori “Niche” dalam Penelitian tentang Kompetisi Antar Industri Media” dalam Jurnal Komunikasi Audientia Vol. 1/No. 2 April-Juni 1993. Hlm. 118-128
Goonasekera, A. (1998). “The Emerging Media Ecology in Asia”. Makalah yang disampaikan pada Agora Seminar on Children and the New Global Media Landscape dalam Konferensi Antar-Pemerintah UNESCO tentang Kebijakan Kultural untuk Pembangunan di Sitockholm, 30 Maret-2 April 1998
Subiakto, H. (2005) “Mengembangkan Media Literacy melalui Pemberdayaan Media Watch”. Makalah yang disampaikan pada Forum Fasilitasi Pembentukan dan Pengembangan Media Watch di Perguruan Tinggi - Departemen Komunikasi dan Informatika dan Universitas Airlangga, Surabaya 23-24 November 2005