• Tidak ada hasil yang ditemukan

KHAZANAH PENERBITAN BUKU DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KHAZANAH PENERBITAN BUKU DI INDONESIA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

KHAZANAH PENERBITAN BUKU ISLAM DI INDONESIA jawab atas terbitan dan ada yang sekaligus sebagai pemegang hak cipta atau copy right.

Adapun tugas-tugas penerbit antara lain: menyeleksi naskah yang diterima; mengedit naskah sebelum dicetak; secara sendirian atau bersama pengarang hak cipta; merencanakan format dan tata wajah atau layout terbitan; menyiapkan bahan-bahan terbitan seperti kertas, tinta dll; membayar honorarium pengarang.3

Di Indonesia, awalnya bentuk buku masih berupa gulungan daun lontar. Menurut Ajib Rosidi (sastrawan dan mantan ketua IKAPI), secara garis besar, usaha penerbitan buku di Indonesia dibagi dalam tiga jalur, yaitu usaha penerbitan buku pelajaran, usaha penerbitan buku bacaan umum (termasuk sastra dan hiburan), dan usaha penerbitan buku agama.

Pada masa penjajahan Belanda, penulisan dan penerbitan buku sekolah dikuasai orang Belanda. Kalaupun ada orang pribumi yang menulis buku pelajaran, umumnya mereka hanya sebagai pembantu atau ditunjuk oleh orang Belanda.

Usaha penerbitan buku agama dimulai dengan penerbitan buku-buku agama Islam yang dilakukan orang Arab, sedangkan penerbitan buku–buku agama Kristen umumnya dilakukan oleh orang-orang Belanda.4

1 Mahasiswa Pascasarjana Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta Konsentrasi Ilmu Perpustakaan dan Infornasi.

2 Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Penerbit diakses pada tanggal 19 November 2012 jam 01.12

3 Lasa Hs. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher. Hal. 242

4Dalam http://www.sejarah.indah.web.id/2011/11/sejarah-perkembangan-buku-di-dunia-dan.html

(2)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan produksi kertas memunculkan profesi baru dalam khazanah Islam. Profesi tersebut dinamakan warraq. Warraq

adalah penyalin naskah atau buku. Mereka menyalin naskah dengan cepat dan akurat. Industri penerbitan buku dipelopori oleh warraq. Mereka bekerja dalam sebuah sistem kerja sama yang saling menguntungkan antara para penulis dengan pihak penerbit. Seorang penulis yang ingin menerbitkan bukunya akan menghubungi satu atau dua orang warraq. Buku tersebut akan dipublikasikan di masjid atau sebuah toko buku terkemuka tempat penulisnya mendiktekan bukunya pada hari dan waktu yang telah ditentukan. Pembacaan itu akan membutuhkan waktu selama berbulan-bulan. Selama itu, warraq yang telah ditunjuk akan selalu hadir. Pada saat buku tersebut selesai, naskah dalam tulisan tangan diserahkan kepada sang penulis untuk diperiksa dan diperbaiki. Buku tersebut bisa beredar di masyarakat hanya bila telah mendapat izin final dari pengarangnya, dan bebas disalin dari naskah aslinya. Pengarang, menurut perjanjiannya dengan warraq, akan menerima royalti. Industri penerbitan yang mendominasi wilayah kekhalifahan Muslim, mulai abad ke-8 sampai dengan abad ke-15. Hingga pada puncaknya, dalam setahun terbit puluhan ribu buku.5

1.1 Perkembangan Penerbitan Buku Islam di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tak hanya itu, bahkan Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Di Indonesia sejak kemerdekaan hingga kini jumlah penerbit telah cukup banyak. Sebagian penerbit tersebut bergelut dalam penerbitan buku-buku umum, dan sebagian lain berkonsentrasi pada jenis penerbitan tersebut seperti buku-buku teks sekolah, ensiklopedi, atau buku-buku keagamaan saja, misalnya buku-buku Islam.

Menurut Azyumardi, secara umum penerbitan buku Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang menekankan pada Islam murni berdasarkan Al Quran dan sunah atau yang biasa disebut sebagai

(3)

Islam Salafis dan Harakah (gerakan) serta kelompok yang bergerak pada wacana atau diskursus, yang kadang disebut sebagai Islam kritis.6

Penerbit buku islam adalah institusi yang mempromotori terwujudnya buku-buku mengenai islam dalam aspek yang luas, serta kemudian menyebarluaskannya ke masyarakat pembaca. Dalam perkembangannya, penebitan buku telah menjelma menjadi sebuah industri, karenanya institusi penerbitan buku mengambil bentuk perseroan dagang seperti PT ataupun C.V. Dalam hal ini, penerbit buku islam pun telah mengambil bentuk usaha dagang. Maka dalam usaha penerbitan buku ini rata-rata penerbit buku islam memiliki devisi marketing dan memperlakukan masyarakat pembacanya sebagai pasar.7 Penerbitan Islam berkembang pada Abad Pertengahan hingga akhir abad kesembilanbelas. Dari permulaan yang sederhana, penerbitan Islam tumbuh dan kemudian membanjiri dunia penerbitan di Timur Tengah. Pencetakan dan peredaran buku-buku ini sendiri merupakan salah satu jenis usaha yang terlambat perkembangannya di dunia Islam. Salah satu alasannya adalah keberatan para penguasa dan ulama terhadap hal ini. Ibrahim Muteferrika, seorang pelopor usaha percetakan dan penerbitan buku di Timur Tengah, menghabiskan waktu lebih dari satu dekade untuk meyakinkan penguasa Dinasti Utsmani dan para ulama bahwa usaha ini bukanlah sesuatu yang membahayakan bagi kebudayaan dan peradaban Islam. Ibrahim menegaskan bahwa Dinasti Usmani dan kaum muslim pada umumnya akan memperoleh banyak manfaat dengan adanya usaha percetakan dan penerbitan buku-buku mengenai keislaman ini. Dalam pembelaannya terhadap usaha pencetakan dan peredaran buku-buku Islam, Ibrahim Muteferrika menyatakan bahwa kaum Muslim lebih unggul dibanding kaum Nasrani dan Yahudi dalam memelihara kitab suci, tetapi tidak dalam hal pemeliharaan buku-buku. Banyak buku karangan ilmuan muslim yang musnah akibat invasi bangsa Mongol dan terusirnya kaum muslim dari Spanyol.8 Ia juga menekankan

6Dalam http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0311/15/pustaka/688310.htm Diakses pada

tanggal 19 November 2012 jam 22.30

(4)

manfaatnya bagi kaum muslim: harga buku lebih murah dan buku lebih cepat tersebar, sehingga lebih banyak dibaca dan dipelajari oleh kaum muslim.9

Kondisi penerbitan di Indonesia banyak diwarnai oleh penerbitan yang bernuansa keagamaan terutama agama Islam. Berdasarkan data yang diperoleh dari IKAPI diketahui bahwa hingga tahun 2008 jumlah anggota IKAPI adalah 691 penerbit. Dari jumlah tersebut 137 penerbit di antaranya adalah penerbit yang terbitan utamanya adalah buku-buku keagamaan. Penerbit buku agama (umum) berjumlah 36 penerbit, penerbit buku agama Islam berjumlah 86, penerbit buku agama Kristen/Katolik berjumlah 11, dan penerbit buku agama Hindu/Budha berjumlah 4 penerbit. Geliat perkembangan buku-buku Islam di Indonesia dalam dua puluh lima tahun terakhir dapat dilihat dari uraian historis di bawah ini:

A. Penerbitan Buku Islam Indonesia 1950-1969

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Maka wajar saja apabila kegiatan perbukuan di Indonesia banyak diwarnai oleh penerbitan bernuansa ke-Islaman. Di Indonesia penerbitan buku-buku Islam sebenarnya telah tumbuh dan berkembang sejak lama. Pada tahun 1949 misalnya telah lahir Penerbit Ma’arif dengan terbitan utama Al-Qur’an. Kemudian pada tahun 1951 Abdul Manaf Zamzami yang lebih dikenal sebagai Amelz mendirikan penerbit Bulan Bintang, dengan buku pertama berjudul Islam dan Sosialisme karya HOS. Cokroaminoto. Selanjutnya Bulan Bintang banyak menerbitkan buku-buku terjemahan dan karya-karya tokoh Islam nasional seperti Hasbi As-Shiddieqy, A. Hasjmy, Hamka, Syafruddin Prawiranegara, dll. Dalam perjalanannya, Bulan Bintang menjadi penerbit Islam paling penting pada periode 1960-an hingga 1970-an.10

B. Penerbitan Buku Islam Indonesia 1970-1989

8Dalam http://arif-nhisco.blogspot.com/2009/04/sejarah-penerbitan-islam.html diakses pada

tanggal 19 November 2012 jam 00.17

9Esposito, John L. 2001. Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern. Bandung: Mizan. Hal.

302-306

(5)

Pada akhir tahun 70-an dan awal tahun 80-an kita dapat menyaksikan suatu gelombang baru pergerakan dinamis pemuda Islam di Indonesia.11 Hal ini dapat terlihat pada kalangan mahasiswa muslim Indonesia terutama di Jakarta. Masjid-masjid di dalam maupun di sekitar kampus semarak oleh kegiatan keislaman seperti Masjid Salman (ITB), Arief Rahman Hakim (UI), Al-Ghifari (IPB), dan Jama’ah Shalahudin (UGM). Aktivitas keislaman yang mereka lakukan tidak hanya sebatas ritual seperti sholat dan membaca Al-Qur’an. Lebih dari itu mereka juga mengembangkan aktivitas sosial dan dan intelektual, mahasiswa-mahasiswa muslim ini banyak mempelajari Islam dengan cara berbeda dengan para pendahulunya. Mereka banyak mengkaji berbagai jenis buku pemikiran Islam dari negara-negara Islam lain seperti Mesir, Iran, Arab Saudi, dan negara lainnya. Pada era ini, H.A. Malik Fadjar mengatakan bahwa kampus dan kelompok terpelajar Muslim sudah banyak berkenalan dengan pemiliran Maududi, Maryam Jameelah, Hasan Al Banna, Shariati, dan lain-lain.12

Kegiatan-kegiatan mengakses ilmu dari pemikir-pemikir Islam tersebut sangatlah sulit dilakukan bila tidak ada usaha penerjemahan terhadap karya-karya mereka. Maka pada saat inilah muncul beberapa penerbit buku Islam. Penerbit-penerbit ini menawarkan karya-karya terjemahan buku-buku pemikiran Islam dari berbagai tokoh di dunia Islam. Karena para pemikir tersebut memiliki metodologi serta visi keilmuan yang beranekaragam, maka muncullah dinamika intelektual yang positif di kalangan pemuda Islam Indonesia. Selanjutnya, hadirnya penerbit-penerbit buku Islam ini berperan sebagai stimulus pergerakan pemuda Islam Indonesia. Serta buku-buku Islam yang telah diterbitkan menjadi bahan rujukan kaum intelektual muda Islam saat itu hingga kini.

Azyumardi Azra memaparkan gejala yang tampak jelas terjadinya pertumbuhan literatur Islam justru di awal 1980-an. Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta ini memaparkan bahwa perkembangan yang terjadi tidak lepas dari pengaruh revolusi Iran tahun 1979 yang menimbulkan perhatian dan minat

11Widjanarko, Putut dan Karlina Leksono. 2000. Elegi Gutenberg: memposisikan buku di era

cyberspace. Bandung: Mizan

12Fadjar, H. A. Malik. 1990. Buku Agama dan Pengaruh Sosialnya. Jakarta: Yayasan Buku

(6)

masyarakat terhadap Syiah dan cendekiawan Syiah, seperti Ali Syariati dan Syekh Syaid Nasir. Dari minat kepada kedua cendekia tersebut selanjutnya merambah kepada para pemikir Islam yang lainnya. Sementara kegairahan tengah berlangsung, di saat yang bersamaan kegairahan terhadap suasana keislaman puntengah tumbuh subur di negeri ini. Suasana inilah yang mendorong lahirnya penerbit-penerbit buku Islam. Di antara sekian banyak penerbit Islam yang ada di Indonesia, empat di antaranya lahir dari nuansa keislaman di kampus-kampus yaitu Pustaka Salman (1980), Shalahudin Press (1983), Mizan (1983), dan Gema Insani Press (1986).

Dari keempat penerbit tersebut yang yang kemudian berkembang menjadi besar hingga sekarang adalah Mizan dan Gema Insani Press. Bahkan kedua penerbit ini hingga kini merupakan dua penerbit Islam terbesar di Indonesia. Sementara Shalahuddin Press yang diprakarsai oleh para mahasiswa UGM yang sangat aktif dan dinamis, telah berhenti menerbitkan buku pada tahun 1988-1989 diperkirakan akibat masalah manajerial.13 Selain itu, Pustaka Salman yang telah menerjemahkan berbagai karya penting Fazlur Rahman (tokoh neomodernis Islam asal Pakistan), dan karya Edward Said seperti ”Orientalisme”.

Buku-buku seperti pemikiran dan politik Islam, ekonomi Islam, seni dan budaya Islam, filsafat Islam, dan sebagainya sudah banyak terbit dan beredar di masyarakat. Mizan adalah satu contoh dari penerbit yang memiliki ciri khas dalampenerbitan mengenai pemikiran-pemikiran dalam Islam tersebut. Di samping itu, juga terjadi kemajuan dalam hal penyajian informasinya maupun artistiknya.

C. Penerbitan Buku Islam Indonesia 1990-2000

Tradisi keilmuan Islam ini terus bergulir seiring dengan perjalanan waktu. Penerbitan buku Islam terus mengalami peningkatan pada tahun 1990-an. Bahkan makin marak pada awal tahun 2000. Penerbitan buku Islam di Indonesia telah berkembang baik dari sisi kuantitas dan kualitas isi dari pengetahuan sesuai konteks tersebut sejak tahun 1998. Buku terjemahan dalam konteks Islam seperti

13Widjanarko, Putut dan Karlina Leksono. 2000. Elegi Gutenberg: memposisikan buku di era

(7)

Marx tentang agama, karya Karen Amstrong mengenai Allah SWT dan Rasul-Nya, Muhammad SAW, buku-buku tentang sufisme dan lainnya melaju sesuai dengan publikasi dari pengembangan originalitas buku-buku Islam.

Keadaan ini amat berbeda dibandingkan pada jaman Orde Baru, ketika para pemikir dan aktivis Islam terpaksa diam-diam menerbitkan buku mereka. Dalam ulasan tentang perbukuan Islam di Indonesia, Peeters (1998) menyatakan, yang dikutip Pendit (2007), bahwa sejak 1980-an sebenarnya sudah ada upaya dari para intelektual yang baru pulang dari belajar di Timur Tengah untuk menerjemahkan karya-karya penulis Islam bagi kepentingan dakwah. Penerbit Ishlahy yang didirikan oleh Abdi Sumaithi (kini dikenal dengan sebutan Abu Ridho), seorang aktivis dakwah Islam, menerbitkan karya-karya Hasan Al Banna, Musthafa Masyhur, dan Sa’id Hawwa. Karya Sayyid Quthb, Ma’alim fit Thariq diterjemahkan sebagai Petunjuk Jalan oleh Rahman Zainuddin dan diterbitkan oleh Media Dakwah. Banyak dari buku ini kemudian masuk ke kampus dan menjadi buku bacaan inti dari para pendakwah yang berbasis di kampus.14

Ketika pemerintahan Orde Baru menganggap gerakan-gerakan dakwah ini mengganggu ketertiban, penerbitan buku-buku Islam sempat terganggu dan oplah mereka pun terbatasi. Ketika Orde Baru tumbang, penerbit-penerbit buku Islam bermunculan kembali. Salah satu yang sukses dan bertahan sejak dulu adalah Penerbit Mizan dari Bandung.

Analisa mengenai perbukuan Islam Indonesia yang terkait dengan kondisi politik, sosial budaya dan ekonomi dengan dapat dilihat dari hal-hal di bawah ini: Pertama, Era Reformasi juga menyentuh bidang informasi yang terlihat pada konteks kekuasaan penyelenggara negara. Pemerintahan pasca reformasi di Indonesia didominasi oleh para alim ulama (Kyai/Mullah), cendikiawan Muslim dan kelompok penganut demokrasi. Tampuk kekuasaan demikian mengubah pendekatan pemerintah dalam mendidik masyarakatnya. Dengan demikian, tingkat pendidikan semakin maju dan masyarakat semakin sadar kebutuhannya akan ilmu di era informasi kini. Tak hanya itu, situasi ini dapat ditunjukkan

14Pendit, Putu Laxman. 2007. Mata membaca kata bersama: kumpulan esai tentang buku,

(8)

dengan adanya kebebasan dalam pengembangan serta akses ke sumber pengetahuan Islam. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya terbitan yang terkait dengan ataupun mengenai Islam telah diterbitkan sejak Era Reformasi dan pada saat itulah menjadi masa berkembangnya penerbitan buku Islam.

Kedua, masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam semakin meningkat dalam hal kesadaran beragama. Masyarakat Muslim Indonesia mulai menunjukkan minat mereka untuk membaca buku-buku agama. Hal ini dikarenakan orang Indonesia ingin menemukan akar budayanya, yaitu Islam. Sejak dulu mereka beragama Islam tetapi belum sempat mendalaminya.15 Bukan saja buku-buku agama yang memuat petunjuk dan ajaran agama, tetapi segala macam buku yang berkaitan dengan Islam pun mulai mendapat tempat di pasaran. Kebebasan dalam menerbitkan buku dengan segala jenis isi ini ikut dipromosikan pula oleh majalah-majalah khusus Islam yang dapat mengalahkan kepopuleran majalah umum. Contohnya adalah majalah Sabili sebuah majalah yang diterbitkan pada tahun 1989 tetapi diberangus di masa Orde Baru, namun pada tahun 1999-2000 bisa mencapai oplah 120.000 menyaingi majalah Tempo atau majalah populer Gadis.16

Ketiga, penerjemahan buku-buku Islam menjadi kegiatan yang semarak dan digemari hasilnya oleh pembaca. Buku-buku Islam terjemahan menjadi populer dikarenakan pada masa Orde Baru masyarakat tidak dapat leluasa menuruti selera intelektualnya. Atas dasar itu, banyak penerbit memanfaatkan kesempatan ini menerbitkan buku-buku terjemahan. Hal ini dimaksudkan tidak hanya sebagai lahan bisnis yang menguntungkan, buku juga dianggap sebagai jembatan untuk mengetahui informasi atau perkembangan Islam di negara-negara lain. Buku-buku terjemahan yang dipasarkan di Indonesia sebagian besar berasal dari negeri-negeri Arab juga dari akademisi atau orientalis Barat. Tak hanya itu, ternyata buku-buku terjemahan juga menyemai lahirnya buku-buku Islam yang

15 Dalam skripsi yang berjudul Perkembangan Buku Literatur oleh Ceria Isra Ningtyas FIB Universitas Indonesia, 2008.

16Damanik, Ali Said. 2002. Fenomena Partai Keadilan: Transformasi 20 Tahun Gerakan

(9)

ditulis asli dalam bahasa Indonesia oleh para akademisi dan penulis di Indonesia. Kemudian pada akhirnya buku Islam menjadi media atas kebebasan belajar ilmu-ilmu Islam baik dalam format buku tercetak maupun format elektronik yang dikenal dengan sebutan electronic book atau e-book.17

D. Penerbitan Buku di Indonesia Sekarang

Sudah Beberapa Tahun Sebelumnya Industri penerbitan Indonesia masih sulit berkembang karena menghadapi masalah klasik, terutama pembajakan dan perkembangan tren buku elektronik (e-book). Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Lucya Andam Dewi mengemukakan industri penerbitan di Indonesia jalan di tempat dalam beberapa tahun terakhir karena banyak masalah klasik belum terpecahkan.

Pada saat ini, ketika terbitnya buku baru yang keluar, tindakan para pembajakannya sudah marak beredar. Disisi lain hal ini sangat merugikan penerbit dan penulis. Selain itu, kemajuan teknologi juga mulai menggeser cara membaca sebagian masyarakat perkotaan dengan mengakses buku elektronik di Internet. Tren buku elektronik ini telah menekan penjualan di toko buku.

Kondisi industri penerbitan cukup menghawatirkan karena masih dianggap sebagai perusahaan komersial yang penuh dengan pungutan pajak. Padahal, industri ini juga mengandung unsur edukatif dan berperan mencerdaskan bangsa. Beragam masalah ini berimbas pada menurunnya minat penulis karena mereka sering menerima royalti yang minim. Akibatnya jumlah buku berkualitas yang dicetak di Indonesia semakin minim.18

KESIMPULAN

Dari awal mula adanya Penerbitan di Indonesia. Namun beberapa tahun terakhir ini lah merupakan ancaman bagi penerbit di karenakan menjamurnya

17 Dalam http://arizona.openrepository.com/arizona/bitstream/10150/106413/1/95.Poster-Ike_Iswary_Lawanda_pp651-654_.pdf pada tanggal 22 November 2012 jam 14.24

(10)

buku elektronik yang mudah di temukan di internet. Tapi di lain sisi keuntungan yang didapat oleh pembeli yang tidak merogoh kocek lagi dalam pembelian buku. Karena hanya dengan mengakses internet pembeli buku sudah bisa mendapatkan buku yang dia inginkan, walaupun hanya sedikit buku terbitan indonesia yang terdapat pada internet. Maka dari itu pada era sekarang perlunya strategi yg kuat dalam kemunduran bagi para penerbit dalam mengatasi kemajuan dunia virtual.

DAFTAR PUSTAKA

(11)

Dalam http://www.sejarah.indah.web.id/2011/11/sejarah-perkembangan-buku- di-dunia-dan.html Di akases pada tanggal 20 November 2012 jam 10.28

Dalam http:// arizona.openrepository.com/arizona/bitstream/10150 /106413 /1/95. Poster-Ike_Iswary_Lawanda_pp651-654_.pdf pada tanggal 22 November 2012 jam 14.24

Dalam http://www.bisnis.com/ articles/industri-penerbitan-hadapi-masalah-klasik-1 diakses pada tanggal 22 November 20articles/industri-penerbitan-hadapi-masalah-klasik-12 jam 00.37

Dalam http://www2.kompas.com/ kompas –cetak/ 0311 /15/ pustaka /688310.html Diakses pada tanggal 19 November 2012 jam 22.30

Dalam http://arif-nhisco.blogspot.com /2009/04/sejarah – penerbitan -islam. html diakses pada tanggal 19 November 2012 jam 00.17

Lasa Hs. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.

Sardar, Ziauddin dan Zafar Abbas Malik. 2001 Mengenal Islam For Beginners. Bandung: Mizan.

Fadjar, Abdullah. 2006. Khasanah Islam Indonesia. Jakarta: The Habibie Center.

Esposito, John L. 2001. Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern. Bandung: Mizan.

(12)

Widjanarko, Putut dan Karlina Leksono. 2000. Elegi Gutenberg: memposisikan buku di era cyberspace. Bandung: Mizan

Fadjar, H. A. Malik. 1990. Buku Agama dan Pengaruh Sosialnya. Jakarta: Yayasan Buku Utama.

Pendit, Putu Laxman. 2007. Mata membaca kata bersama: kumpulan esai tentang buku, membaca dan keberaksaraan. Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan melakukan pemetaan gen kanker untuk lokasi spesifik, pada break point cluster region (BCR), terjadi penggabungan antara BCR dan abelson (ABL) yang disebut

Peleburan dengan tungku ini dapat menghasilkan logam cair dengan komposisi kimia yang lebih konsisten dengan kadar impuritas yang lebih rendah karena bahan baku yang dilebur

Noor Soesanti H., selaku Pembimbing Akademik beserta dosen- dosen di Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sebelas Maret,

Dalam menerapkan manajemen resiko etika, terdapat beberapa tahapan yang dapat dilakukan oleh para investigator perusahaan, yaitu dengan mengidentifikasi dan menilai

Berdasarkan hasil wawancara dengan SR diperoleh informasi bahwa SR belum mengerti cara menyelesaikan soal pembagian dengan dua operasi sehingga SR tidak dapat menuliskan

Selain itu kami juga melakukan analisa kadar inhibin A serum dan plasenta antara early onset preeclampsia (preeklamsia yang terjadi pada usia kehamilan < 34

Berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam KUH Perdata menyebutkan bahwa kekuasan orang tua terhadap diri anak adalah kewajiban untuk memberi pendidikan dan

Keterlibatan alumni yang sekarang belum optimal (berdaya) perlu memperoleh perhatian dari Pimpinan Universitas dan Fakultas serta Pengurus Besar Alumni agar