• Tidak ada hasil yang ditemukan

REVOLUSI MEDIA, JURNALISME GLOBAL, DAN HUKUM PERS INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "REVOLUSI MEDIA, JURNALISME GLOBAL, DAN HUKUM PERS INDONESIA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

E-mail: manunggal. wardaya@gmail. com dan ahmad. komari25@yahoo. com

Abst r act

The development i n i nf or mat i on t echnol ogy i nf l uences many aspect s of human l if e i ncl udi ng news medi a. Var i ous def ini t ions i n medi a have encount er ed si gni f i cant changes and cannot anymor e be us-ed. Pr ess Law as a mai n r egul at ion of news medi a Indonesi a i s no except ion. It s r el evancy i s now be-i ng quest be-i oned and even chal l enged when be-it f abe-i l s t o adopt wbe-it h t he changes be-i n socbe-iet y. Thbe-i s ar t be-i cl e bel i eves t hat t he amendment of Pr ess Law shoul d be done so t hat it wi l l be r esponsive t owar ds t he need of t he const ant l y-changi ng societ y.

Keywor ds: i nf or mat i on t echnol ogy, medi a, pr ess, ci t izen j our nal ism

Abst rak

Perkembangan di dalam bidang t eknologi inf ormasi t ak pelak menimbulkan berbagai perubahan dal-am segenap aspek kehidupan umat manusia t ermasuk daldal-am media. Berbagai def inisi masa lalu meng-alami perubahan signif ikan dan t ak lagi bisa dipert ahankan. Ket erlibat an audiens dalam media berit a (news medi a) melahirkan f enomena baru dalam j urnalist ik, apa yang t erbilang sebagai j urnalisme wa-rga (ci t i zen j our nal i sm). Undang-undang Pers sebagai regulasi ut ama bidang media berit a dengan sendirinya t ercabar relevansinya dalam menyesuaikan diri dengan perubahan j aman. Art ikel ini meyaki -ni bahwa perubahan Undang-undang Pers mut lak dilakukan agar lebih responsif dengan perubahan ya-ng t erus t erj adi dalam masyarakat .

Kat a kunci: t eknologi inf ormasi, media, pers, j urnalisme warga

Pendahuluan

Alih-alih mampu unt uk selalu didayaguna-kan sebagai alat unt uk merekayasa masyarakat , globalisasi membuat daya ikat dan wibawa hu-kum sebagai sarana kendali masyarakat t ak lagi dapat diharapkan unt uk selalu relevan dal-am durasi yang cukup lama lama. Globalisasi1 yang ant aranya dipicu inovasi di bidang t eknologi in-f ormasi dan t ransport asi memunculkan berba-gai def inisi baru yang sebelumnya t ak pernah ada dan t erbayangkan sekaligus meniadakan berbagai def inisi dan kat egori lama yang

1

Wiki pedi a menyebut Gl obal izat ion at au Gl obal isat ion dengan “ …descr i bes t he pr ocess by whi ch r egi -onal economi es, soci et i es, and cul t ur es have beco-me i nt egr at ed t hr ough a gl obal net wor k of pol i t i c-al i deas t hr ough communi cat i on, t r anspor t at i on, and t r ade. Lihat Wikipedia, ht t p: / / en. wikpedia. org/ wiki / Gl obal i-zat ion, t anggal 19 Januari 2011. ; Arief Budi Pr at ama, Impement asi E-Gover nment Dal am Penyel enggaraan Pemerint ahan di Era Gl obal is-asi, Di al ogue JIAKP,

Vol ume 02 Nomor 03, Sept ember 2005, hal 939-940.

lumnya hegemonik t ak t erkecuali yang selama ini dikukuhkan oleh hukum.

Pada sat u dasawarsa ini, dunia media t er-ut ama media berit a diunt ungkan dengan ada-nya t eknologi cet ak j arak j auh. Dengan t ekno-logi ini, media massa mendist ribusi t ugas cet ak penerbit an ke t it ik-t it ik yang t ersebar j auh dari kant or pusat media hingga surat kabar bisa sa-mpai ke t angan pembaca dengan lebih awal. Sement ara it u t eknologi sat elit membuat orang mampu mendengar dan at au menyaksikan suat u perist iwa yang t erj adi di t empat lain yang berj -auhan degan secara r eal t ime. Kini, int ernet memberikan t awaran yang lebih dari dua t ekn-ologi di at as: kebaharuaan inf ormasi bahkan pa-rt isipasi dalam pembuat an sepa-rt a penyampaian berit a dan inf ormasi, mencipt akan t ipe t ersen-diri dalam j urnalisme, apa yang disebut sebagai onl i ne j our nal i sm.2

(2)

Pro-Sudah semenj ak abad XX silam f ut urolog John Naisbit t dalam Megat r ends 2000 meramal-kan bahwa peradaban manusia ameramal-kan sampai ke-pada era yang disebut paper l ess wor l d, di mana kert as akan semakin t ergusur dengan perkem-bangan digit al. Apa yang diramalkan Naisbit t semakin menemukan kebenarannya pada masa kini. Era digit al menj adikan surat t ak lagi dide-f inisikan secara konvensional dengan asosiasi-nya pada kert as dan t int a. Sebagai gant iasosiasi-nya, e-mai l at au surat elekt ronik perlahan namun pas-t i mengganpas-t ikan surapas-t yang konvensional pas-t erse-but . Kini layanan pesan singkat memberi solusi komunikasi berbasis t eks yang lebih singkat dan cepat menggant ikan pesan t ert ulis sepert i sur-at . Pula demikian halnya dengan komunikasi r e-al t i me, yang dahulu dilakukan dengan percak-apan sudah mulai t ergant ikan dengan layanan messenger. Orang bisa berkomunikasi dari bela-han manapun, mengadakan meet ing secara on-l i ne t anpa t erbat as sekat ruang.

Era t eknologi inf ormasi, era int ernet di mana inf ormasi dipert ukarkan melalui berbagai pirant i berbasis komput er yang t erhubung de-ngan int ernet t ak pelak berimbas pula pada pe-rubahan pola mengakses inf ormasi. Media, khu-susnya media cet ak menj adi inst it usi yang se-makin t erancam berseiring dengan sese-makin pe-net rasi int erpe-net ke dalam masyarakat . Bisa di-mengert i, kini orang t ak perlu mengakses beri-t a di beri-t elevisi, radio, apalagi suraberi-t kabar. Piranberi-t i handy yang t erkoneksi j aringan int ernet me-mungkinkan orang mengakses inf ormasi dari manapun ia berada.

Adapt asi dengan perubahan menj adi kun-ci ut ama agar media dapat bert ahan, dan pro-dengan j aringan int ernet . Memant au acara ber-it a t ak berart i harus selalu berada di depan ar t elevisi at au radio, namun pula didepan lay-ar komput er maupun berbagai peralat an berba-sis komput er yang mobile dan handy.4

Lebih j auh, kit a bahkan t elah sampai di j aman yang memungkinkan orang unt uk mengu-mpulkan, menganalisa, dan menyampaikan sen-diri berit a sert a menyebarluaskannya pada war-ga dunia yang lain. Kegiat an yang pada masa la-lu hanya dimonopoli oleh wart awan alias j urna-lis ini kini bisa dilakukan siapa saj a, kapan saj a, dan di mana saj a. Inilah era int ernet dimana orang dapat saling t erhubung dengan orang lain dimanapun ia berada senyampang t erkoneksi dengan j aringan int ernet .5 Inilah era yang di-dalam mengakses inf ormasi namun di-dalam kegi-at an menyebarluaskan inf ormasi. Revolusi me-dia harus diperhit ungkan sesiapapun pelaku

(3)

media j ika hendak t et ap bert ahan dalam persa-ingan bisnis media, perubahan di bidang media ini pula harus diant isipasi oleh pembuat un-dang-undang t erkait dengan relevansi undang-undang yang mengat ur mengenai media. Hal ini karena sebagaimana t elah diuraikan di awal pa-ragraf , perubahan yang diakibat kan oleh inovasi di bidang t eknologi inf ormasi membuat berba-gai def inisi (t ermasuk yang dibent uk oleh hu-kum) menj adi t ak lagi relevan.

Tulisan ini hendak mengkaj i perkemba-ngan dalam dunia media berit a dewasa ini sert a impaknya t erhadap perat uran perundangan t er-khusus perundangan di bidang pers. Sat u pert a-nyaan besar yang hendak dicari j awabnya oleh t ulisan ini adalah apakah hukum pers Indonesia mampu mengakomodir dan at au mengant isipasi perkembangan yang amat pesat di bidang t ekn-ologi inf ormasi? Pert anyaan ini diaj ukan mengi-ngat konsiderans menimbang UU Pers menye-but kan bahwa kelahiran undang-undang t erse-but adalah karena perundangan sebelumnya (UU Nomor 21 Tahun 1982) dirasa sudah t idak sesuai lagi dengan perkembangan j aman, dalam kont eks muat annya yang t idak demokrat is se-suai dengan t unt ut an ref ormasi, dan bukannya t erkait dengan kemampuannya beradapt asi de-ngan perubahan j aman.

Selain hendak mencermat i muat an UU Pers dipandang dari perkembangan t eknologi inf ormasi, t ulisan pula hendak membawa kepa-da perenungan berbagai klausul UU Pers kepa-dan kesesuaiannya kebut uhan masyarakat yang t e-rus berubah, dan prakt ik dalam dunia media berit a dewasa ini. Pada akhirnya, t ulisan ini menawarkan pembaharuan UU Pers sebagai langkah yang niscaya demi t erpenuhinya rasa keadilan hukum dalam bidang media berit a

Pembahasan

Cit izen Jour nalism dan Media Berit a

Tak saj a mengancam media cet ak yang meniscayakan kert as dan t eknologi cet ak, t ek-nologi int ernet pula membuat berbagai media mai snt r eam sepert i media elekt ronik kehilang-an dominasinya. Int ernet t elah membuat orkehilang-ang mampu melakukan dist ribusi at as inf ormasinya sendiri, membuat media sendiri. Jika pada

ma-sa lalu orang hanya mengandalkan media berit a yang dij alankan korporat media dengan berba-gai konot asi modal dan sumberdaya manusia yang massive, kini berbagai berit a dapat di-kumpulkan, diolah, dan disampaikan dengan biaya dan sumber daya manusia yang minimalis. Kit a t elah sampai pada era int ernet yang me-mungkinkan orang memiliki dan mengelola sen-diri medianya.7 Cent ral Queensl and Universit y

(4)

bung dengan pirant i komput er dan t erhubung de-ngan j aringan int ernet akan mampu menj a-lankan f ungsi sebagai penulis berit a. Bukan per-usahaan pers at au wart awan pengisi berit a saj a yang menent ukan kont en suat u media, melain-kan pula para user yang t erdiri dari pengguna dari belahan negara manapun t anpa meman-dang asal-usul.

Monopoli kant or berit a dan media massa konvensional t elah berakhir. Garis wakt u seper-t i dikenal media konvensional yakni harian, mingguan, dwi mingguan, menj adi t ak lagi rele-van. Suat u perist iwa yang t erj adi di masyarakat t idak lagi mengharuskan kehadiran wart awan sebagai ut usan korporasi media unt uk melaku-kan liput an. Inovasi di bidang t eknologi inf or-masi berupa blog9, kamera dan video recorder digit al, int ernet menj adikan masyarakat mam-pu melakukan limam-put an sendiri dan menyiarkan sen-diri apa yang disaksikan di masyarakat dan dirasa pent ing di masyarakat . Perkembangan yang luarbiasa sit us j ej aring sosial Facebook dan Twi t t er adalah cont oh nyat a bet apa in-f ormasi kini disebarluaskan oleh sesama warga sendiri.

Inovasi di bidang t eknologi inf ormasi yang membuat orang semakin f amiliar dengan pirant i t elekomunikasi yang saling t erhubung menj adi-kan dua kekuat an media dalam masyarakat . Per t ama adalah para pelaku bisnis media yang t elah ada (exist ing pl ayer) sedangkan yang kedua adalah warga masyarakat yang menj a-lankan f ungsi penyampaian inf ormasi dengan j alur ci t i zen j our nal i sm. Keduanya bisa berdiri dan berj alan sendiri-sendiri, namun ada kala-nya berj alan beriringan secara sinergik. Sit us Tr i bun News yang berbasis di Indonesia misal-nya, adalah sat u dari sekian cont oh media be-rit a yang memberi ruang begit u luas kepada masyarakat unt uk t urut menyampaikan inf

9

Bl og yang sekal i pun ker apkal i t anpa edi t ing, si f at nya part isipat iris, bahkan merupakan t ant angan t er sendir i bagi j ur nal i sme t radi sional . Bl og di yaki ni merupakan al t ernat ive dal am penyebar an ber it a dan pemikiran-pemikir an baru. Lihat Anne Fl anagan, “ Bl ogging: A Journal Need Not A Journa-l ist Make” , For dham Int el l . Pr op. Medi a & Ent . L. J vol . 16 hl m. 395, ; Sonj a R. West , “ Awakening The Press Cl ause” , 58 UCLA LAW REVIEW

1025 (2011), hl m. 1030;

masinya. Dengan memberikan space kepada masyarakat , kebaharuan berit a Tr i bun News bahkan menj adi lebih up t o dat e lagi. Semen-t ara iSemen-t u sSemen-t asiun TV MeSemen-t ro TV Semen-t elah cukup lama membuka pint u redaksinya pada masyarakat awam unt uk mengirimkan video amat ir. Peris-t iwa bencana alam seperPeris-t i Tsunami maupun j ebolnya t anggul Sit u Gint ung di Jakart a pada 2008 adalah cont oh nyat a bet apa ket erlibat an warga dalam pembuat an berit a memikiki mak-na st rat egis.

Ket erlibat an masyarakat dalam pembe-rit aan kini seolah t elah menj adi semacam f it ur yang waj ib ada dalam media berit a. Ia t elah menj adi st andar yang harus dilakukan oleh se-buah media berit a. Pada sat u sisi, st rat egi ini membuat media berit a dapat mengat asi kekur-angan SDM yang t ak mungkin ada dalam set iap ordinat geograf is. Di sisi lain, ket erlibat an audi-ens akan menimbulkan loyalit as t ersendiri kep-ada media sehingga pkep-ada gilirannya media t ak akan kehilangan audiens, suat u hal yang dit aku-t i oleh media.

Lepas dari kesemua yang dit ulis di at as, nyat alah bahwa perkembangan t eknologi inf or-masi t elah membawa perubahan t ak saj a dalam moda penyampaian berit a namun j uga dalam pembuat an berit a. Teknologi inf ormasi me-mungkinkan media berit a dan audiens unt uk berhubungan lebih int ens dan saling mengisi. Pola penyampaian berit a sepert i pada masa lalu semakin t ert inggal digant ikan dengan pola baru yang semakin part isipat orik. Di sisi lain, kesem-pat an bagi warga masyarakat unt uk memiliki medianya sendiri lebih t erbuka. Semakin ba-nyak alt ernat if dalam memperoleh inf ormasi dalam masyarakat ini pada gilirannya akan membawa kepada persaingan yang sehat , di mana media yang mampu memenuhi kebut uhan mas-yarakat akan mendapat kan kepercayaan, seda-ngkan mereka yang gagal unt uk meme-nuhinya akan dit inggalkan.

Perkembangan Teknologi Informasi dan Kait -annya Dengan UU No. 40 Tahun 1999 Tent ang Pers

(5)

me-nyesuaikan diri dengan perubahan j aman. Oleh karenanya, hukum harus selalu t erbuka unt uk revisi j ika kenyat aan obj ekt if dalam masyara-kat menghendakinya. Hukum yang angkuh t ak mau berubah sement ara masyarakat t elah ber-ubah akan menj adi pirant i yang t ak berguna dan baj kan akan lebih menj adi beban masya-rakat . Dalam kont eks hukum media, pelbagai inovasi di bidang media yang dipicu inovasi di bidang t eknologi komunikasi t erut ama int ernet t ak pelak membawa perubahan sosial di masya-rakat . Sebagaimana t elah dipaparkan sebelum-nya, media berit a konvensional dengan pola kerj a konvensional di masa lalu yang melulu me-nempat kan korporat media dan para j ur-nalis sebagai akt or ut ama semakin t ergeser de-ngan munculnya f enomena media online mau pun j urnalisme warga. Permasalahannya, ber-bagai aspek dalam j urnalist ik yang t elah diat ur oleh hukum t ak selalu dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada. UU Pers yakni UU No. 40 Tahun 1999 lahir dalam kont eks zaman yang amat berbeda dengan kehidupan media di erah kekinian, yang sedikit banyak hanya dapat menj angkau dan memanglah dimaksudkan un-t uk mengaun-t ur para akun-t or uun-t ama kehidupan me-dia konvensional di masa lalu.

Art ikel ini mencoba menginvent aris be-berapa ket ent uan dalam UU Pers yang dalam beberapa hal t et ap menemukan relevansinya dalam kont eks kehidupan bermedia di masa ki-ni, namun pada sisi lain mendapat cabaran se-rius berseiring dengan perkembangan dan pe-rubahan-perubahan t ersebut .

Definisi Pers

Pasal 1 ayat (1) UU No 40 Tahun 1999 Tent ang Pers mendef inisikan Pers sebagai lem-baga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiat an j urnalist ik meliput i mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan inf ormasi baik dalam bent uk t ulisan, suara dan gambar, sert a dat a dan graf ik maupun dalam bent uk lainnya dengan menggunakan media cet ak, media elek-t ronik, dan segala j enis saluran yang elek-t ersedia. Frasa “ …dan segala j enis saluran yang t ersedia” dapat dikat akan sebagai rumusan

undang-und-ang yundang-und-ang visioner, dalam art i memandundang-und-ang j auh ke depan. Dalam merumuskan f rasa t ersebut , pembent uk UU ini dapat dikat akan memiliki visi bahwa wahana komunikasi massa yang melaku-kan kegiat an j urnalist ik t ak saj a amelaku-kan t erbat asi sebagai media cet ak dan elekt ronik, namun j u-ga berbau-gai alt ernat if kemungkinan yang akan muncul. Def inisi yang cukup longgar t ersebut memberikan ruang t erhadap kelahiran media yang relat if baru dalam j urnalist ik yakni cyber medi a.

Def inisi yang t ert uang dalam UU Pers berkemiripan dengan apa yang diat ur dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia (DUHAM) PBB 1948 yang menj amin kebebasan berekspresi. Art icle 19 DUHAM menyat akan ever yone has t he r i ght t o f r eedom of opi nion and expr essi on: t hi s r i ght i ncl udes f r eedom t o hol d opi ni ons wit h-out i nt er f er ence and t o seek, r eceive, and im-par t i nf or mat ion and i deas t hr ough any medi a and r egar dl ess of f r ont i er s. Sement ara, j amin-an yamin-ang sama j uga diberikamin-an dalam Pasal 21 Ket et ap-an Maj elis Permusyawarat an Rakyat (Tap MPR) No. XVII/ MPR 1998 Tent ang Hak Asa-si ManuAsa-sia dan Pasal 14 ayat (2) UU No. 39 Ta-hun 1999 Tent ang Hak Asasi Manusia yang pada int inya menegaskan j aminan hak set iap orang unt uk mencari, memperoleh, memiliki, me-nyimpan, mengolah, dan menyampaikan inf or-masi dengan menggunakan segala j enis sarana yang t ersedia.

Terlihat bahwa def inisi pers dalam UU Pers meliput i segala hal yang mencakup kegiat -an mencari, memperoleh, memiliki, menyim-pan, mengolah, dan menyampaikan inf ormasi baik dalam bent uk t ulisan, suara dan gambar, sert a dat a dan graf ik maupun dalam bent uk lainnya dengan menggunakan media cet ak, me-dia elekt ronik, dan segala j enis saluran yang t ersedia. Def inisi ini sekaligus menj adi t it ik mula unt uk mempert anyakan, apakah kegiat an media berit a yang t erbaru sebagai akibat dam-pak dari perkembangan t eknologi inf ormasi se-kaligus pula t erakomodasi dalam berbagai klau-sul UU No 40 Tahun 1999. Tulisan ini akan men-coba menj awabnya.

(6)

Pasal 1 ayat (4) UU Pers mendef iniskan wart awan sebagai orang yang secara t erat ur melakukan kerj a j urnalist ik. Tidak dit emukan ket erangan lebih lanj ut pada penj elasan UU t ersebut karena pada bagian Penj elasan Pasal 1 UU Pers dit ulis dengan “ cukup j elas” . Dengan demikian, dapat dikat akan bahwa undang-un-dang t elah memberikan def inisi f inal mengenai apa yang dimaksud dengan wart awan. Namun demikian, def inisi yang sepert i it u bukannya t anpa masalah. Pada era pra int ernet , memang demikianlah adanya seorang pencari berit a yang dikenal dengan sebut an wart awan it u. Ia melakukan kegiat an j urnalist ik yang meliput i mencari, mengolah, dan menyampaikan inf ormasi. Namun inovasi t eknologi membuat def ini -si t ersebut dapat dipert anyakan relevan-sinya.

Sebagaimana t elah disebut kan di at as, t eknologi inf ormasi memungkinkan set iap orang unt uk melakukan kerj a sebagaimana didef inisi-kan sebagai kerj a wart awan sekaligus menj a-lankan bisnis media. Seorang yang mempunyai sit us int ernet yang dikelolanya sendiri, yang mencari, mengolah dan menyampaikan inf or-masi melaluinya adalah j uga melakukan kerj a j urnalist ik. Fenomena sepert i ini t idak lagi ber-ada di alam ide dan wacana belaka, melainkan t elah diprakt ikkan secara massive. Dengan se-buah bl og orang maupun sekelompok orang da-pat mengelola sendiri suat u sit us int ernet dan menj adikannya sebagai wahana komunikasi ma-ssa, menj adikannya sebagai media berit a (news medi a). Singkat kat a, blog pula menj alankan f ungsi sepert i yang diemban media t radisional pada umumnya yakni mencari dan menyampai-kan inf ormasi. Kerapkali bahmenyampai-kan apa yang dit u-lis dan disampaikan melalui blog lebih lengkap daripada media t radisional, apa yang disebut sebagai part cipat ory j ournalism. Dalam bebera-pa hal, blog pula adalah j ournalisme.10

Pert anyaan yang dapat diaj ukan t erkait dengan hal ini adalah apakah kemudian set iap orang yang menggelut i bl og, dan menj alankan cyber j our nal i sm melalui sit us int ernet t erlepas berbayar at au t idak-j uga akan dikat egorikan (diakui oleh hukum) sebagai wart awan

10 J. D. LAsica, ” Bl ogs and Journal ism Need Each Ot her” ,

Ni eman Repor t s, Fal l 2003, hl m. 71.

mana diat ur dalam UU Pers? Permasalahan ini pent ing guna dicari j awabnya t erkait dengan konsekwensi hukum yang t ak remeh at as st at us wart awan, t erut ama j ika berkait an dengan hak dan kewaj iban wart awan. Dalam kont eks j urna-lis cyber sebagaimana diilust rasikan di at as, apakah orang yang mengelola sit us int ernet yang menj alankan kegiat an j urnalist ik t ersebut j uga mendapat j aminan perlindungan hukum karena diakui sebagai wart awan sebagaimana t ermakt -ub dalam Pasal 8 UU Pers? Jika seorang ia misalnya, mengalami t indak kekerasan at au dihalang-halangi dari kegiat annya mencari in-f ormasi ket ika melakukan peliput an misalnya, akankah ia mendapat kan perlindungan hukum dalam kapasit asnya sebagai wart awan? Masih dalam kait annya dengan hak seorang wart a-wan, akankah seorang wart awan cyber, akan-kah para pegiat ci t i zen j our nal i sm mempunyai hak t olak manakala ia harus mempert anggung-j awabkan pemberit aan di depan hukum seba-gaimana dij amin dalam Pasal 4 ayat (4) UU Pers?

Beberapa pert anyaan di at as set idaknya mengaj ak kit a unt uk merenungkan bet apa def i-nisi wart awan sekarang t elah mengalami perge-seran makna yang signif ikan. Tulisan ini sendiri amat meyakini bahwa era unt uk mengasosiasik-an wart awmengasosiasik-an dengmengasosiasik-an media t ert ent u apalagi dalam relasi buruh-maj ikan kini t elah lewat su-dah. Mengekalkan def inisi wart awan sepert i it u: yang berkerj a di harian t ert ent u, dengan membawa cat at an kecil memakai rompi dimana t ulisannya akan dibaca di surat kabar maupun media elekt ronik sepert i radio t elah menj adi kenangan masa lalu dan j ika hendak t et ap dij a-dikan sebagai def inisi wart awan seolah mengi-ngkari perubahan sosial. Sebagaimana dit ulis oleh Robert L. Berkman dan Christ oper A. Sum-way, banyak orang meyakini bahwa wart awan at au j urnalis haruslah mereka yang memiliki st andar kecakapan at au pendidikan t ert ent u. Namun demikian banyak pula yang meyakini bahwa mendef inisikan wart awan adalah t idak lagi relevan. 11

11 Robert L. Berkman & Chr ist opher A. Sumw ay, 2003,

(7)

Sensor, Bredel, dan Pelarangan Penyiaran

Persoalan lain t erkait dengan dampak inovasi di bidang t eknologi inf ormasi adalah be-rkait an dengan sensor, bredel, dan pelarangan penyiaran. Pasal 1 ayat (8) UU Pers menyat akan bahwa penyensoran adalah penghapusan secara paksa sebagian at au seluruh mat eri inf ormasi yang dit erbit kan at au disiarkan, at au t indakan t eguran at au peringat an yang bersif at mengan-cam dari pihak manapun, dan at au kewaj iban melapor, sert a memperoleh ij in dari pihak yang berwaj ib, dalam pelaksanaan j urnalist ik. Se-ment ara it u Pasal 1 ayat (9) UU Pers menya-t akan bredel amenya-t au pelarangan penyiaran seba-gai penghent ian penerbit an dan peredaran at au penyiaran secara paksa at au melawan hukum.

Pasal 4 ayat (2) UU Pers menyat akan bah-wa t erhadap pers nasional t idak dikenakan sen-sor, bredel, dan pelarangan penyiaran. Terke-san dari klausul t ersebut bahwa UU Pers me-nganut prinsip non-bredel t erhadap pers yang menj amin kebebasan inf ormasi. Namun demiki-an, secara implisit pasal t ersebut menegaskan bahwa sesungguhnya UU Pers masih mengenal bredel, sensor dan pelarangan penyiaran yakni j ika t erkait dengan pers asing.

Terlepas bahwa klausula t ersebut adal-ah diskriminat if , penaf siran secara a cont r ar i o t er-hadap ket ent uan Pasal 4 ayat (2) UU t ersebut menunj ukkan bahwa sensor, bredel, dan pela-rangan penyiaran secara legal dapat dit erap-kan t erhadap pers asing. Tulisan ini t ak hendak menggugat disksriminat if nya klausul t ersebut , namun bagaimana bredel, sensor, dan pelara-ngan penyiaran bisa dit erapkan t erhadap pers asing, t erlebih pers asing yang menggunakan media int ernet ? Dapat kah negara melakukan blokir dan sensor t erhadap pers asing? Bisa j adi dapat , namun demikian harus pula diingat bah-wa t eknologi j uga menabah-warkan j alan keluar un-t uk iun-t u.

Sebuah art ikel yang dit ulis Yoani Sanchez berj udul Lost in Cyber space mencerit akan ngan baik bagaimana elemen-elemen pro

“ Desakan Jurnal isme Baru dan Tant angan Media Cet ak” ,

Jur nal Best ar i, Vol 41 (2009), hl m. 181,

mokrasi dan kebebasan inf ormasi di Cuba men-siasat i sensor dan blokir yang dit erapkan oleh negeri komunis t ersebut . Sanchez menulis “ a f ew websi t es wit h Cuban t hemes, cr eat ed by Cubans i n exi l e, ar e not accessi bl e f r om nat io-nal ser ver s. Never t hel ess, t he pr ol if er at i on of sof t war e t o evade censor shi pl i ke Psi phon, Tor , and Tor Fr eedom-enabl e t he i nt er est ed r eader t o ent er t hose bl ocked pages. Some we-bsit es made on t he i sl and have emer ged t o give advi -ce on how t o avoi d cyvber pol i -ce” .

Demikianlah, pada era pra-int ernet , pe-nerbit an pers asing dalam f ormat cet ak ba-rangkali bisa dicegah t angkal masuknya ke wila-yah hukum Indonesia. Namun hal ini t ak lagi mudah unt uk dit erapkan. Selain harga polit ik (pol -i t i cal cost) yang t erlalu mahal, sensor dan bredel pers yang menggunakan media int ernet , radio gelombang pendek adalah hal yang secara t eknis t idak mudah dilakukan. Kalaupun hal it u dilakukan pemerint ah sebagaimana dilakukan pemerint ah China pada 2009 t erhadap sit us yout ube, t eknologi j uga memberikan j alan un-t uk keluar dari pemberangusan un-t ersebuun-t .

Pert anyaan-pert anyaan demikian menj adi pent ing diaj ukan j ika kit a t ak hendak memper-t ahankan rumusan dalam UU Pers yang memper-t erlihamemper-t ‘ heorik’ namun t ak akan ef ekt if dalam pelak-sanaannya. Disadari bahwa perundangan apa-pun sepert i UU Pers bisa saj a memuat klausul yang t idak f easi bl e sepert i demikian, namun t ent u saj a perat uran perundangan sepert i it u akan dipert anyakan daya lakunya.

(8)

hukum, kendat i minimalis sif at nya, akan lebih berkesesuaian dengan kebut uhan masyarakat .

Definisi Pers Nasional

UU Pers mendef inisikan pers nasional se-bagai perusahaan pers yang berbadan hukum Indonesia, dan pers asing sebagai perusahaan pers yang berbadan hukum asing. Dist ingsi ber-basis badan hukum nampak berlebihan, karena seolah memberikan keharusan adanya bent uk badan hukum unt uk diakuinya suat u kegiat an j urnalist ik sebagai bagian dari pers nasional. Secara implisit , ket ent uan t ersebut dapat disi-mpulkan bahwa j ika t ak berbadan hukum nasio-nal, maka suat u akt if it as pers bukanlah bagian dari pers nasional, dan j ika t idak berbadan hu-kum asing, maka ia bukan bagian dari pers asing. Namun demikian, berbagai sit us int ernet yang melakukan cit i zen j our nal i sm t ak saj a menghilangkan kewaj iban adanya kert as, na-mun j uga menaf ikan bent uk organisasi yang berbadan hukum sekedar unt uk menj adi per-usahaan pers. Apakah mereka yang menj alan-kan kegiat an mencari menyimpan memperoleh dan menyebarlu-askan inf ormasi sepert i it u t ak hendak dikat akan sebagai pers nasional sekedar karena t ak berbadan hukum? Jika st at us badan hukum adalah syarat mut lak dapat dikat akan sebagai bagian dari pers nasional, maka sesderhana it ukah (st at us berbadan hukum) krit e-ria unt uk dapat mengat akan bahwa suat u akt i-f it as masyarakat dalam mencari, mengolah, menyimpan, dan menyampaikan inf ormasi un-t uk dapaun-t un-t erbilang sebagai kegiaun-t an pers?

Jika pers nasional hanya diakui t erhadap inst it usi yang berbadan hukum saj a, maka pers nasional akan menj adi sangat sempit . Pers me-ngalami reduksi makna hanya kepada mereka yang memenuhi syarat f ormal saj a. Dalam de-raj at t ert ent u, persyarat an berbadan hukum ini bisa saj a dimaksudkan sebagai inst rumen kon-t rol Negara kon-t erhadap kebebasan inf ormasi dan berkespresi warga, menggant ikan inst rument Surat Ij in Terbit (SIT) dan Surat Ij in Usaha Pen-erbit an Pers (SIUPP) yang amat ampuh digunak-an pada masa aut horit aridigunak-an Orde Lama ddigunak-an Or-de Baru. Hal ini j elas bert olakbelakang Or-dengan kebebasan pers dan kebebasan inf ormasi

sebag-ai salah sat u wuj ud prinsip kedaulat an rakyat . Mengakui dan memberi legit imasi t erhadap ke-giat an pers semat a pada yang berbadan hukum dengan segenap perlindungan hukum yang menj adi konsekwensinya sama samenj a dengan pembat -asan bahkan diskriminasi t erhadap hak warga unt uk mencari, mengolah, dan menyampaikan inf ormasi sert a hak unt uk mendapat kan perlin-dungan hukum.

Kant or Berit a: Hanya Menyediakan Berit a?

Perkembangan t eknologi dan inf ormasi t elah pula berimbas pada akt if it as kant or beri-t a. Pasal 1 buberi-t ir 3 UU Pers menyaberi-t akan bahwa kant or berit a adalah perusahaan pers yang layani media cet ak, media elekt ronik, at au dia lainnya sert a masyarakat umum dalam me-mperoleh inf ormasi. Jika kit a melihat akt if it as kant or berit a ent ah yang berbasis di dalam mau pun di luar Indonesia, kant or berit a kini t ak lagi benar-benar sebagai pelayan media cet ak. Li-hat lah sit us kant or berit a Ant ara (ant ara. co. id). Kini, Ant ar a sebagai kant or berit a Indonesia t ak saj a melayani media berit a, namun j uga men-j alankan f ungsinya sebagai media berit a. Dalam port al Ant ar a t ak lagi dapat kit a bedakan f it ur-nya dengan sit us media berit a lainur-nya sepert i. Hal yang sama j uga dij umpai dalam kant or be-rit a int ernasional sepert i Reut er s maupun Asso-ci at ed Pr ess Kant or berit a ini t elah menj adi media berit a, menj alankan akt ivit as j urnalist ik yang sama dengan media berit a umumnya.

(9)

Redef inisi t erhadap prof esi wart awan menj adi mut lak diperlukan, yang mau t ak mau mengharuskan perubahan UU Pers ini. Hal ini agar t idak t erj adi ancaman pelanggaran hak at as kebebasan wart awan hanya karena t idak ada pengakuan wart awan. Dalam hal sensor dan bredel, j uga akan menj adi pasal yang t idak ef ekt if karena perkembangan t eknologi akan memungkinkan bredel dan sensor unt uk dihada-pi.

Perubahan UU Pers: Perlukah

Dari paparan di at as maka kit a dapat sim-pulkan bahwa perubahan t eknologi inf ormasi nyat alah menj adi hal yang amat berpengaruh dalam kehidupan media berit a kit a. Bat as-bat as dan def inisi sebagaimana t ert uang dalam per-undangan maupun perat uran hukum mengenai pers menj adi semakin t idak relevan dan t ak berkesesuaian lagi dengan realit a di masa kini. UU Pers masih menyibukkan diri dengan meng-at ur media berit a dan segala aspeknya, namun dalam paradigma lama yang t ak lagi sesuai dengan kebut uhan dan prakt ik media kekinian. Oleh karenanya sesungguhnyalah perubahan da-lam UU Pers menj adi sesuat u yang harus dilaku-kan. Perubahan ini pent ing unt uk menj angkau berbagai hal yang kini berada di dal-am ranah abu-abu (gr ey ar eas). Unt uk it u, perlu berbagai t erobosan unt uk mengat asi berbagai perubahan yang berada dalam ruang vakum t anpa peng-at uran oleh hukum.

Perubahan undang-undang misalnya perlu memberikan bat asan yang lebih t egas lagi ke-pada apa yang hendak didef inisikan sebagai wart awan. Hal ini pent ing unt uk menghindari adanya orang yang menj adi korban manakala melakukan kegiat an j urnalist ik namun t ak di-anggap sebagai wart awan dan oleh karenanya t ak dilindungi oleh hukum. Selain it u, pent ing pula mengadakan pelbagai perubahan lainnya dalam UU pers sekalipun t ak bersangkut paut dengan dampak perkembangan t eknologi t er-kini t erhadap kelangsungan media. Perubahan dimaksud adalah langkah yang dirasakan t elah mendesak dilakukan unt uk mengakhiri

keberpi-hakan UU Pers pada pengusaha daripada kepa-da wart awan. Posisi wart awan kepa-dalam kont eks keberadaannya sebagai buruh dari perusahaan amat sangat kent ara t ak diunt ungkan.

Sat u hal yang dapat dij adikan cont oh me-ngenai ini adalah soal perlindungan pada war-t awan. Pasal 8 UU pers memberi j aminan per-lindungan pada wart awan, namun hingga kini t ak j elas benar apa yang dimaksud dengan per-lindungan hukum t erhadap wart awan it u. Yang past i, UU Pers sama sekali t idak memberikan klau-sul perlindungan t erhadap wart awan da-lam hal liput an di medan konf lik maupun dae-rah bencana. Lebih j auh ada indikasi bahwa UU Pers t ak hendak mewaj ibkan pada pengusaha unt uk selalu dalam kedaan melindungi wart a-wan alias buruh yang bekerj a padanya.12

Penut up Simpulan

Perkembangan yang begit u pesat dalam bidang media sert a akt if it as j urnalist ik warga yang dipicu oleh perkembangan di bidang t ek-nologi inf ormasi nyat alah t idak cukup t erako-modir dalam hukum pers yang kini berlaku di Indo-nesia. Akt ivit as-akt ivit as sepert i ci t i zen j our na-l i sm, bl og j our nal i sm yang t elah nyat a dij alankan oleh media berit a seolah merupakan ranah abu-abu yang t ak j elas pengat urannya, karena hukum pers yang ada belum disesuaikan dengan perkembangan.

Tulisan ini meyakini bahwa adalah pen-t ing unpen-t uk menyadari bahwa perkembangan ya-ng pesat t erut ama di bidaya-ng t eknologi inf ormasi t elah membawa manusia kepada babak baru peradaban dimana manusia kian mampu meng-olah inf ormasi yang didapat nya. Di sini, mono-poli inf ormasi t ermasuk dalam mengolah, me-nyampaikan inf ormasi t idak lagi dimiliki oleh

12

Mengenai per masal ahan perl i ndungan w art aw an kait an-nya dengan regul asi hukum medi a di Indonesi a bacal ah Manunggal K. War daya, “ Keker asan Ter hadap Jurnal is, Perl indungan Prof esi War t awan, dan Kemer dekaan Per s di Indonesia” , makal ah di sampaikan dal am Di skusi Ad-vokasi Jurnal is, Bat urraden, 20 Mei 2011, ; Ishvi at i J Koent i, “ Perkembangan Media Massa Dal am Kerangka Pol it ik Di Indonesi a Dan Peranannya Dal am Pemil u” ,

(10)

perusahaan pers besar yang mensyarat kan aku-mulasi kapit al yang besar. Semakin murahya t ekno-logi j uga membuat media berit a menj adi dapat dimiliki dan dilakukan oleh semua.

Perundangan pers Indonesia seharusnya mengant isipasi dan memf asilit asi perkembang-an t eknologi, sehingga kehidupperkembang-an pers menj adi lebih demokrat is. Sudah saat nya pemerint ah dan DPR memahami hal ini dan unt uk kemudian melakukan perubahan t erhadap UU Pers. Peru-bahan yang dilakukan t idak dit uj ukan unt uk membat asi namun lebih kepada memf asilit asi pers nasional agar t et ap dapat berf ungsi maksi-mal sebagai kont rol sosial di t engah perubahan t eknologi. Just eru di sini yang perlu dit ekankan adalah bahwa perubahan dit uj ukan pada perlin-dungan hukum yang lebih kuat t erhadap insan pers.

Daft ar Pust aka

Bardoel, Jo & Mark Deuze, “ Net work Jour-nalism: Converging Compet ences of Old And New Media Prof essionals” . Aust r al i an Jour nal i sm Revi ew Vol. 23 No. 2 2001;

Berkman, Robert L. & Christ opher A. Sumway. 2003. Di gi t al Di l l emas: Et hi cal Issues f or Onl i ne Media Pr of essional s. Iowa St at e Press;

Cardoso, Gust avo. 2006. The Medi a i n The Net -wor k Societ y: Br owsing, News, Fi l t er s, and Ci t i zenshi p. Lulu. com

Chadwick, A. & PN. Howards (eds). The Hand-book of Int er net Pol i t i cs. New York: Rout ledge;

Debat in, Bernhard. “ The Int ernet as A New Plat -f orm f or Expressing Opinions and as a New Public Sphere” , dalam Donsbach: Publ i c Opi ni on Resear ch (SAGE Hand-book);

Deuze, Mark. “ The Prof essional Ident it y of Journalist s in t he Cont ext of Convergence Cult ure” . Observat orio (OBS*) Jour nal, 7 (2008);

Educause. “ 7 Things You Should Know About Ci-t izen Journalism” . dalam hCi-t Ci-t p: / / neCi-t . edu-cause. edu/ ir/ library/ pdf / ELI7031. pdf , t anggal 17 Januari 2011;

Flanagan, Anne. “ Blogging: A Journal Need Not A Journalist Make” . For dham Int el l . Pr op. Medi a & Ent . L. J Vol. 16;

Flew, Terry. “ Democracy, Part icipat ion and Convergent Media: Case St udies in Con-t emporary Online News Journalism in Aust ralia” . Communi cat ion, Pol i t i cs & Cul t ur e, Vol. 42 No. 2 2009;

Grimes, Charlot t e. 1999. Whi t her t he Ci vi c Jour nal i sm Bandwagon?. Discussion Paper D-36, The Joan Shorenst ein Cent re on t he Press, Polit ics, and Public Policy, Cam-bridge;

Kern, Thomas. and Sang-Hui Nam, Soci al Move-ment s as Agent s of Innovat ion: Cit i zen Jour nal i sm i n Sout h Kor ea. (GIGA) Ger-man Inst it ut e of Global and Area St u-dies/ Leibniz-Inst it ut f ür Globale und Re-gionale St udien, WP 73/ 2008, April 2008; Knight , Alan. 2003. Gl obal i sed Jour nal i sm i n t he Int er net Age. ej ournalist . com. au Issue 03/ 0-2/ 2003, Cent ral Queensland Universit y

Koch, Jochen. “ St rat egic Pat hs and Media Ma-nagement –A Pat h Dependency Analysis of t he German Newspaper Branch of High Qualit y Journalism” . Schmal enbach Busi -ness Revi ew, 60 January 2008;

Koent i, Ishviat i J. “ Perkembangan Media Massa dalam Kerangka Polit ik di Indonesia dan Peranannya dalam Pemilu” , Jur nal Kons-t i Kons-t usi, Vol. II, No. 1, Juni 2009;

LAsica, J. D. ” Blogs and Journalism Need Each Ot her” . Ni eman Repor t s, Fall 2003;

Lih, Andrew. Wi ki pedi a as Par t i ci pat or y Jour -nal i sm: Rel i abl e Sour ces? Met r i cs f or eva-l uat i ng coeva-l eva-l abor at ive medi a as a news r esour ce. 5t h Int ernat ional Symposium on Online Journalism, Universit y of Texas at Aust in, April 2004

Meyer, Philip. “ The Elit e Newspaper of The Fu-t ure” . Amer i can Jour nal i sm Review, Oc-t ober/ November 2008;

---. 2009. The Vani shi ng Newspaper : Savi ng Jour nal i sm i n t he Inf or mat ion Age. Co-lumbia: Universit y of Missouri Press,

Neumann, Julie. The Impact of i nt er net Jour nal i sm: An exami nat ion of Bloggi ng, Ci t i -zen Jour nal i sm, and a Dot . Com Sol ut ion f or t he Onl ine Edi t ion. Universit y of Texas;

(11)

Nurudin. “ Desakan Jurnalisme Baru dan Tan-t angan Media CeTan-t ak” . Jur nal Best ar i, Vol 41 2009;

Paulussen, St eve; Ari Heinonen, David Domingo, Thorst en Quandt . “ Doing It Toget -her: Cit izen Part icipat ion In The Prof es-sional News Making Process” , Obser va-t or io (OBS*) Jour al, Vol. 3 (2007);

Perkins, John. Social and Communit y Medi a i n Poor and Mar gi nal i zed Ur ban Communi -t i es: a S-t udy of Col l ec-t ive Ac-t i on i n Ki ber a. Di gi -t al Col l ect i -ons@SIT, 4-1-2010;

Prat ama, Arief Budi. “ Impement asi E-Gover

n-ment dalam Penyelenggaraan Pemerint a-han di Era Globalisasi” . Di al ogue JIAKP, Vol. 02 No. 03, Sept ember 2005;

R. Sonj a. West , “ Awakening t he Press Clause” , 58 UCLA LAW REVIEW 1025 2011;

Uskali, Turo. “ Paying At t ent ion t o Weak Signals-The Key Concept f or Innovat ion Journalism” . Innovat ion Jour nal i sm, Vol. 02 No. 04, 25 Apr 2005;

Referensi

Dokumen terkait