BAB I PENDAHULUN 1.1. Latar Belakang
Pada hampir semua mahluk hidup suatu generasi baru dimulai dari suatu telur yang telah difertilisasi (dibuahi), atau zigot yaitu suatu sel hasil penggabungan dari sel induk betina dan sel induk jantan, dimana masing-masing induk berperan dalam menentukan sifat-sifat individu baru yakni dalam hal ukuran, bentuk, perlengkapan fisiologis dan pola perilakunya. Pada proses perkembangan manusia melalui berbagai tahap yang dimulai dari gametogenesis pada masing-masing induk, dimana induk jantan mengalami spermatogenesis (proses pembentukan sperma), dan induk betina mengalami oogenesis ( proses pembentukan ovum). Setelah terjadi vertilisasi (proses peleburan dua gamet sehingga terbentuk individu dengan sifat genetik yang berasal dari kedua induknya) maka akan terbentuk zigot. Zigot akan mulai membentuk suatu organisme yang multiseluler yang dilakukan dengan proses-proses pembelahan. Pembelahan awal yang terjadi disebut sebagai blastulasi, dimana sel yang merupakan hasil fertilisasi antara dua induk mengalami pembelahan menjadi 2, 4, 8, 16, 32, 64, 128, 256, dsb.
Setelah beberapa kali mengalami pembelahan sinkron, embrio kemudian membentuk suatu bola yang disebut morulla. Setelah embrio menjalani tahap pembelahan dan pembentukan blastula, embrio akan masuk kedalam suatu tahapan yang paling kritis selama masa perkembangannya, yaitu stadium grastula. Grastulasi (proses pembentukan grastula) ditandai dengan perubahan susunan yang sangat besar dan sangat rapi dari sel-sel embrio. Grastulasi akan menghasilkan suatu embrio yang mempunyai tiga lapisan lembaga yaitu lapisan endoderm disebelah dalam, mesoderm disebelah tengah dan ektoderm disebelah luar. Dalam perkembangan selanjutnya, ketiga lapisan lembaga akan membentuk jaringan-jaringan khusus dan organ-organ tubuh, dimana proses ini disebut organogenesis. Organ pertama yang terbentuk adalah jantung. Perkebangan embrio manusia sangatlah kompleks dimana pada awalnya hanya satu sel kemudian berkembang menjadi individu yang terdiri dari miliaran sel. Oleh karena itu, perlu suatu pembelajaran khusus mengenai perkembangan manusia.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan dibuat makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui lebih jelas proses perkembangan embrio manusia setelah terjadi fertilisasi antara sel telur dan sel sperma
2. Untuk lebih memahami hal-hal yang terjadi disetiap tahapan yang terjadi pada perkembangan embrio
3. Untuk memperdalam pengetahuan mengenai mata kuliah Praktikum Perkembangan Hewan
1.3. Manfaat Makalah
Setelah membaca makalah ini maka pembaca akan mendapat beberapa manfaat :
1. Sebagai bahan pembantu materi yang akan dipelajari pada mata kuliah Perkembangan Hewan
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Fertilisasi
Sel telur mamalia di kelilingi oleh lapisan ekstra seluler tebal yang deisebut zona pelusida. Langkah pertama fertilisasi adalah perlekatan sperma secara longgar di permukaan zona pelusida. Peristiwa itu diikuti oleh pengikatan sperma dengan zona pelusida. Ikatan yang terbentuk sangat spesifik dan erat. Reseptor pengikatan sperma ada di zona pelusida sedang protein spesifik pengikatan sel telur terdapat dalam membran plasma sperma. Ribuan sperma dapat melekat kesatu sel telur yang sama. Sperma yang melekat lalu menyelesaikan reaksi akrosom yang merupakan proses persiapan penyatuan sperma dan sel telur. Membran terluar dari struktur dua lapis akrosomal melekat dan berfusi dengan membran plasma sperma di tempat-tempat sepanjang bagian tepi kepala sperma. Reaksi akrosomal melepaskan enzim-enzim hidrolitik (akrosin) yang memungkinkan sperma bergerak melalui zona pelusida ke sel telur. Terowongan yang sangat sempit dihasilkan oleh sperma selama perjalanannya menembus zona tersebut.
Setelah berhasil melewati zona pelusida sperma tiba di terowongan perivitelin yang memisahkan sel telur dengan zona pelusida. Satu sperma menjalani fusi dengan sel telur melalui penyatuan membran akrosomal posterior sperma dengan membran plasma sel telur. Halangan yang terbentuk secara cepat dapat mencegah polispermi (fertilisasi satu sel telur oleh lebih dari satu sperma) kemuungkinan terjadi akibat perubahan-perubahan potensial listrik pada membran sel telur setelah masuknya sperma. Masuknya sperma mengaktifasi sel telur dan nukleusnya. Pronukleus sperma menyatu dengan pronukleus sel telur. Granula kortikal di bagian tepi sitoplasma sel telur berfusi dengan membran plasma, dan berbagai enzim dilepaskan ke dalam rongga perivitelin. Enzim-enzim itulah yang menyebabkan zona pelusida menjadi kaku dan hilang kemampuannya untuk mengikat sperma. Sehingga dengan adanya zona pelusida yang menjadi kaku ini dapat mencegah polispermi.Fertilisasi mamalia berlangsung dalam oviduk.
2.2. Tahapan Perkembangan Embrio
Perkembangan embrio dimulai dari pembelahan zygote (cleavage), stadium morula (morulasi), stadium blastula (blastulasi), stadium gastrula (gastrulasi), dan stadium organogenesis.
2.2.1 Stadium Cleavage (Pembelahan)
Cleavage adalah pembelahan zygote secara cepat menjadi unit-unit yang lebih kecil yang di sebut blastomer. Stadium cleavage merupakan rangkaian mitosis yang berlangsung berturut-turut segera setelah terjadi pembuahan yang menghasilkan morula dan blastomer.
Gambar 2.1. Proses Awal Pembelahan Embrio
umumnya tidak memiliki yolk, dibuahi disaluran telur sewaktu bergerak kearah uterus dan pembelahan-pembelahan awalnya berlangsung kurang dari 24 jam. Pembelahannya adalah meridional tidak ekual. Pembelahan berikutnya agak tidak teratur, tetapi dengan cepat membentuk suatu bola padat berisi sel, yang disebut morulla.
2.2.2. Stadium Morula
Morula merupakan pembelahan sel yang terjadi setelah sel berjumlah 32 sel dan berakhir bila sel sudah menghasilkan sejumlah blastomer yang berukuran sama akan tetapi ukurannya lebih kecil. Sel tersebut memadat untuk menjadi blastodik kecil yang membentuk dua lapisan sel. Pada saat ini ukuran sel mulai beragam. Sel membelah secara melintang dan mulai membentuk formasi lapisan kedua secara samar pada kutup anima. Stadium morula berakhir apabila pembelahan sel sudah menghasilkan blastomer. Blastomer kemudian memadat menjadi blastodisk kecil membentuk dua lapis sel. Pada akhir pembelahan akan dihasilkan dua kelompok sel. Pertama kelompok sel-sel utama (blastoderm), yang meliputi sel-sel formatik atau gumpalan sel-sel dalam (inner mass cells), fungsinya membentuk tubuh embrio. Kedua adalah kelompok sel-sel pelengkap, yang meliputi trophoblast, periblast, dan auxilliary cells. Fungsinya melindungi dan menghubungi antara embrio dengan induk atau lingkungan luar.
Gambar 2.3 Bentuk Morulla pada Embrio Manusia
9 hari, seluruh blastokista tertahan dalam dinding uterus. Sewaktu ini berlangsung, sel-sel yang berada disebelah bawah dari masa sel dalam menyusun diri menjadi suatu lapisan yang disebut endoderm primer, yang akan membentuk saluran pencernaan makanan. Sel-sel sisa dari masa sel dalam memipih membentuk suatu keping yaitu, keping embrio. Antara keping embrio dan tropoblast yang menutupi timbulnya suatu rongga (rongga amnion) berisi carian. Dinding rongga yaitu amnion, menyebar mengelilingi embrio dan dikelilingi bantalan yaitu cairan amnion.
2.2.3. Stadium Blastula
Blastulasi adalah proses yang menghasilkan blastula yaitu campuran sel-sel blastoderm yang membentuk rongga penuh cairan sebagai blastocoel. Pada akhir blastulasi, sel-sel blastoderm akan terdiri dari neural, epidermal, notochordal, mesodermal, dan endodermal yang merupakan bakal pembentuk organ-organ. Dicirikan dua lapisan yang sangat nyata dari sel-sel datar membentuk blastocoel dan blastodisk berada di lubang vegetal berpindah menutupi sebagian besar kuning telur. Pada blastula sudah terdapat daerah yang berdifferensiasi membentuk organ-organ tertentu seperti sel saluran pencernaan, notochorda, syaraf, epiderm, ektoderm, mesoderm, dan endoderm.
Pada manusia, hasil pembelahan berbentuk suatu bola padat (morulla). Lapisan luar dari blastula ini membentuk lapisan yang mengelilingi embrio sebenarnya, sedangkan embrio dibentuk dari bagian morulla (inner cells mass atau masa sel dalam)./lapisan luar (tropoblast) pada satu sisi masa sel dalam melepaskan diri, membentuk suatu bentuk yang mirip suatu blastula dan struktur ini disebut sebagai blastokista. Embrio akan menempel dan menetap pada dinding uterus untuk periode waktu tertentu, ditempat dimana embrio akan mendapatkan makanan sampai dilahirkan.
2.2.4. Stadium Gastrula
Gambar 2.5. Proses Grastulasi Manusia
Gambar 2.6. Gasrulasi embrio Manusia.Massa sel-sel dalam berhadapan dengan balstocoel pada pembentukan embryonic knob
.
2.2.5. Stadium Organogenesis
Ektoderm mengalami diferensiasi menjadi kulit, rambut, sistem saraf, dan alat-alat indra.
Mesoderm mengalami diferensiasi menjadi otot, rangka, alat reproduksi (seperti testis dan ovarium), alat peredaran darah, dan alat ekskresi seperti ginjal.
Endoderm mengalami diferensiasi menjadi alat pencernaan, dan alat-alat pernapasan seperti paru-paru.
Gambar 2.7. Pembentukan Organ Tubuh a. Turunan Ektoderm
Ektoderm sebagai lapisan luar dari embrio terdiri dari bakal bumbung neural, bakal pial neural, dan bakal epidermis. Bumbung neural (neural tube) merupakan bakal dari sistem saraf pusat sedangakan pial neural (neural chest) akan membentuk sistem saraf periferi serta ganglion, medulla adrenal, sel-sel pigmen, rawan larinks dan rawan kepala. Turunan epidermis dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu: Yang berasal dari penebalan epidermis (plakioda), seperti lensa mata, telinga bagian dalam, puting-puting pengecap dan epidermis lainnya akan membentuk epidermis kulit, rambut, tanduk, kuku, dan lapisan permukaan mulut dan anus, serta hipofisa anterior.
a. Sistem Saraf Pusat
Setelah notocord dibentuk, notocord akan menginduksi ektoderm yang ada diatasnya untuk mulai terjadi neuralisasi. Sel-sel ektoderm akan berubah bentuk menjadi panjang seperti palisade sehingga daerah ini menjadi lebih tebal dan mendatar bila dibandingkan dengan daerah disekitarnya dan penebalan ini selanjutnya disebut keping neural.Tidak lama kemudian bagian tepi keping neural menebal serta tumbuh diatas membentuk lipatan neural dengan parit neural dibagian tengahnya. Lipatan neural akan tumbuh sehingga mendekati daerah dorso medial embrio. Setelah bertemu, mereka akan melebur menjadi bumbung neural yang diliputi oleh ektoderm diatasnya. Sel-sel yang terdapat pada antara bumbung neural dengan ektoderm luar menjadi sel-sel pial neural yang kelak akan bermigrasi keseluruh tubuh embrio untuk membentuk sel-sel pigmen, sistem saraf tepi dan medula adrenal.diferensiasi bumbung neural menjadi daerah daerah sistem saraf pusat berlangsung melalui tiga cara serentak. Secara anatomi, bumbung neural dan rongganya menggelembung, berkonstriksi sehingga terbentuk ruang-ruang. Pada tangkai jaringan, sel-sel pada dinding bumbung neural menyusun diri sehingga membentuk bagian-bagian fungsional khusus dari otak dan sumsum tulang belakang dan pada tingkat selular, sel-sel akan berdiferensiasi menjadi neuron dan sel-sel penunjang.
Pada awalnya bumbung neural membentuk lurus. Sebelum bumbung neural posterior terbentuk, bumbung neural bagian paling anterior telah memulai dengan pembentukan otak. Bumbung neural menggelembung membentuk tiga vesikula: otak depan (prosensefalon), otak tengah (mesensefalon) dan otak belakang Rhombosensefalon terdiferensiasi menjadi metensefalon disebelah anterior dan miensefalon disebelah posterior. Mielensefalon kelak akan menjadi medula oblongata sedang metensefalon menjadi serebelum (otak kecil) dan pons varoli (jembatan varoli)
Pada daerah otak depan bagian posterior terbentuk vesikula optik yang merupakan penonjolan kearah lateral. Vesikula optik menyentuh ektoderm dan menginduksi ektoderm membentuk plakoda. Induksi ini sangat spesifik, bila vesikula optik dipindahkan kedaerah lain dari kepala, ia akan mengiduksi ektoderm untuk membentuk lensa bukan epidermis kepala. Setelah plakoda lensa terbentuk, ia akan berinvaginasi dan mengiduksi balik vesikula optik dan menyebabkan perubahan pada vesikula tersebut. Vesikula optik berinvaginasi sehingga terbentuk suatu cawan optik dengan dinding rangkap. Sambil invaginasi berlangsung lebih lanjut, hubungan antara cawan optik dan otak menyempit menjadi tangkai optik, sedang lapisan cawan optik mengalami diferensiasi. Sel-sel pada lapisan luar menghasilkan pigmen dan disebut lapisan berpigmen retina yang akhirnya menjadi retina berpigmen. Lapisan dalam memperbanyak diri dengan cepat dan membentuk neuron, glia, interneuron dan sel-sel ganglion, lapisan ini disebut lapisan sensori retina yang kelak akan menjadi retina sensoris. Akson dari sel-sel ganglion bertemu pada bagian dasar mata sepanjang tangkai optik dan menjadi saraf mata.
sehingga menjadi transparan. Diferensiasi ini menyangkut perubahan struktur sel maupun terjadinya sintesis suatu protein spesifik yang disebut kristalin. Sel-sel lensa pada sisi dekat retina mula-mula berubah menjadi panjanf berbentuk serabut dan menghasilkan kristalin. Sel-sel tumbuh terus sehingga mengisi rongga lensa, dengan demikian lensa sekarang terisi penuh dengan sel-sel kristalin yang jernih atau transparan serta tidak berisi. Langsung dimuka lensa terdapat jaringan ikat, yaitu iris, yang berasal dari ektoderm daerah cawan optik yang tidak terdiferensiasi menjadi retina sensoris. Lapisan koroid dan sklera, yaitu lapisan luar dari mata yang dibentuk dari mesenkim yang berakumulasi mengelilingi bola mata. Kornea akan menjadi jernih karena pigmen pada sel-sel epidermis hilang
b. Turunan Mesoderm
Mula-mula sel lapisan benih mesoderm membentuk lembaran tipis jaringan ikat pada kedua sisi garis tengah berkembang membentuk mesoderm paraksial, lebih ke lateral tetap tipis disebut lempeng lateral. Dengan timbulnya serta bersatunya rongga interselular pada lempeng lateral jaringan ini terpecah menjadi dua lapisan yaitu :
a. Mesoderm parietal yang meliputi amnion
b. Mesoderm viseral yang meliputi kandung kuning telur.
Kedua selaput ini membatasi suatu rongga baru yang disebut rongga selom intra-embrional, dimana melanjutkan diri dengan selon ekstra-embrional pada kedua sisi mudigah. Jaringan yang menghubungkan mesoderm paraksial dan lempeng lateral disebut mesoderm intermediat.
Mesoderm Paraksial
Gambar 2.9. Pembentukan Mesoderm
Mesoderm intermediet
Jaringan ini berdiferensiasi dengan cara yang berbeda dengan somit. Di daerah servikal dan torakal bagian atas jaringan ini secara segmental menyusun kelompok-kelompok sel yang kelak menjadi nefrotom, sedangkan lebih kaudal membentuk massa jaringan yang tak bersegmen dikenal sebagai korda nefrogenik yang nantinya berkembang menjadi sistem ekskresi dan saluran genital
Sistem Ekskresi
Pada manusia pronefros, mesonefros dan metanefros terbentuk secara berurutan. Pronefros merupakan ginjal yang pertama dibentuk dan terletak paling kranial, sangat vestigial. Kemudian dibentuk mesonefros yang terletak lebih kaudal dari pronefros. Mesonefros merupakan organ ekskresi pada embrio, tetapi seperti pronefros pada dewasa akan hilang kecuali sebagian salurannya yang akan menjadi saluran genital jantan. Metanefros merupakan ginjal yang paling akhir dibentuk dan terletak paling kaudal. Mulai berfungsi pada tahapan akhir embrio kalau mesonfros mengalami regresi dan akan berfungsi sebagai ginjal fungsional pada individu dewasa
Sistem Genitalia
Gonad dibentuk sebagai suatu penebalan pada permukaan ventromedial mesonefros. Penebalan ini berbentuk sebagai suatu pematang yang membujur antero-posterior serta menonjol kedalam coelem disebut pematang genital. Pematang genital terdiri atas mesenkim dibagian dalam dan epitelium bagian luar bersambung dengan epitelium mesonefros. Epitelium pematang genital tumbuh dan disebut epitel germinal. Pada epitel germinal inilah BSK, yang datang dari luar gonad pertama kali berada didalam gonad. Epitel germinal pematang gonad berfoliferasi kearah dalam dan membentuk pita-pita seks primer. Pada tahap ini belum dapat dipisahkan antara gonad jantan dan betiana dan disebut gonad
albuginea. Pada awalnya pita-pita testis ini adalah fasif, baru pada periode
pubertas akan membentuk ronggadan menjadi tubulus seminiferus yang bermuara di duktus eferensia. Selama periode fetus, mesenkim yang terdapat di antara pita-pita testis berdiferensiasi menjadi sel Leydig yang menghasilkan testosteron sedan pita-pita testis berdiferensiasi menjadi sel Sertoli.
Pada betina (dengan kromosom XY), BSK berada pada epitelium germinal pita sek yang pertama dibentuk dan akan berdegenerasi dan gonad bagian dalam berisi mesenkim dan pembuluh darah. Epitelium germinal atau korteks menebal dan sel-sel korteks sebelah dalam berkelompok mengelilingi BSK yang kelak menjadi folikel frimer dari ovarium.
Lapisan-lapisan mesoderm parietal dan viseral
Kedua lapisan ini membatasi selom intra-embrional. Mesoderm pariental bersama ektoderm disekitarnya membentuk dinding lateral dan ventral tubuh. Mesoderm viseral dan entoder embrional membentuk dinding usus.
Diferensiasi Mesoderm Lateral
Lebih kearah lateral mesoderm intermedier terdapat mesoderm lateral membelah dua menjadi mesoderm somatik (parietal) terletak dibawah ektoderm dan mesoderm splanknik (visera) mengelilingi endoderm. Mesoderm somatik dan endoderm sangat erat hubungannya sehingga tampak sebagai suatu lapisan dan disebut splanknopleura demikian pula mesoderm splanknik terdapat rongga tubuh yang terbentan dari arah leher hingga posterior. Dalam perkembangan selanjutnya akan terbentuk lipatan-lipatan dari mesoderm somatik yang membagi coelem menjadi beberapa organ. Pada mamalia coelem terbagi menjadi rongga pleura, perikardium dan perioteneum.
Pembentukan Anggota Tubuh
suatu ketergantungan antara AER dan mesoderm tunas anggota tubuh. Kalau mesoderm tunas tidak ada maka AER tidak akan terbentuk, sebaliknya bila AER tidak ada maka mesoderm tidak tumbuh. Asal mesoderm dari daerah pembentuk anggota tubuh mempunyai dua sumber yaitu mesoderm somatik dan sel-sel somit yang berpindah kedaerah bakal anggota tubuh yang akan menjadi otot anggota tubuh. Setelah sel-sel somit berada ditunas anggota tubuh, sel-sel somit tidak dapat dibedakan dari mesoderm somatik. Sambil tunas memanjang, sel-sel bakal rawan menenpati bagian tengah. Tunas anggota tubuh kemudian berubah bentuk dari bentuk dayung menjadi bentuk kerucut menjadi bentuk anggota tubuh yang sebenarnya. Bentuk anggota tubuh dicapai karena terjadi tumbuh secara diferensiasi dan dibantu dengan kematian sel. Morfologi anggota tubuh dicapai melalui kemtian sel sepanjang tepi anterior dan posterior mesoderm anggota tubuh. Kematian sel terjadi pula pada erosi jarungan antara jari dalam pembentukan jari, sehingga bila hal ini ridak terjadi maka jari akan tetap dihubungkan dan disatukan oleh selaput seperti halnya pada selaput renang pada bebek
Sistem Peredaran Darah Pembentukan Jantung
2.9. Gambar Proses Pembentukan Jantung
berdiferensiasi menjadi sel darah embrio. Sambil pulau darah tumbuh, mereka lalu bersatu membentuk jaringan kapoler yang bermuara di kedua pembuluh vitelin membawa makanan dan darah kedalam jantung yang baru dibentuk. Pembentukan pembuluh darah dalam tubuh berlangsung sama seperti halnya pembentukan darah ekstra-embrio pada kantung yolk. Hanya disini sel-selnya dari mesenkim. Sel-sel darah dan kapiler berkembang di dalam mesoderm ekstraembrional dari jonjot-jonjot dan tangkai penghubung. Dengan terus bertunasnya pembuluh ekstra-embrional terbentuklah hubungan dengan pembuluuh darah mudigah, sehingga menghubungkan mudigah dan plasenta.
Gambar 2.10. (A) sel‐sel mesenkim tidak yang tidak berdiferensiasi. (B) pembentukan pulau pulau darah pulau‐pulau darah (C) kapiler primitif
Sel-sel darah dan pembuluh darah intra-embrional termasuk tabung jantung dibentuk dengan cara yang sama dengan pembuluh ekstra-embrional yakni dari sel-sel mesoderm yang membentuk kelompok sel-sel angiogenetik yang membentuk rongga karena bergabungnya celah antar sel-sel. Yang terletak di tengah membentuk sel darah sederhana sedangkan sel yang terletak di tepi yang bersatu membentuk pembuluh kecil.
Gambar 2.10 Sistem Peredaran Darah Embrio Turunan Endoderm
Endoderm membangun permukaan dua saluran didalam tubuh. Saluran pertama, terbentang disepanjang tubuh, yaitu saluran pencernaan. Tunas-tunas yang keluar dari saluran ini adalah hati, kantung empedu, dan pankreas. Saluran kedua bercabang membentuk saluran pernapasan. Saluran pencernaan dan pernapasan terbagi menjadi suaru ruangan pada bagian anterior embrio, yaitu pada farinks. Kantung-kantung yang keluar dari farinks membentuk kelenjar tonsil, tiroid, timus, dan paratiroid. Saluran pernapasan dan pencernaan keduanya berasal dari usus primitif. Setelah embrio membuat lipatan kepala dan lipatan ekor, usus dapat dibagi menjadi 3 wilayah, yaitu usus depan, usus tengah dan usus belakang. Pada awalnya ujung oral tertutup, ektoderm disebut sebagai keping oral atau stomodium, lalu pecah dan terbentuk lubang dibatasi oleh endoderm pada ujung saluran pencernaan. Ektoderm keping oral berhubungan dengan ektoderm otak telah melekuk ke ventral embrio. Kedua ektoderm bersatu, atap-atap dari daerah oral menjadi bagian anterior dari hipofis. Sedang jaringan neural dari jaringan neural dari dasar diensefalon membentu tinfunddilibumi yang kelak akan menjadi bagian neural dari hipofisa
3.1 Saluran Penceraan
sebagai saluran dari hati dan cabangya akan membentuk kantung empedu. Pankreas dibentuk sebagai fusi dari divertikulum yang berasal dari sebelah dorsal dan ventral saluran pencernaan tepat disebelah kaudal empedu.
a. Saluran Pernapasan
Paru-paru berasal dari saluran pencernaan walaupun tidak mempunyai peranan dalam pencernaan. Pada bagian tengah farinks antara kantung faringks ke tempat keluar alur laringo farinks yang tumbuh keventral. Alur ini bercabang dua sebagai cabang utama dari paru-paru. Endodermnya membentuk batas permukaan trakea, bronchii, dan alveolus paru-paru. Seperti hal nya pada hati percabangan dari saluran-saluran disini juga tergantung pada interaksi dengan mesenkim yang ada disekitarnya
BAB III. PENUTUP