• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemerintah Belanda Orang Mee dan Misi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pemerintah Belanda Orang Mee dan Misi "

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

i

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra

Program Studi Sejarah

Disusun Oleh: Ligia Judith Giay

074314005

JURUSAN ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)
(5)

vi Free at last,

Free at last,

Thank God Almighty, We’re free at last.

(Martin Luther King, Jr ‘I Have a Dream’)

(6)

vi Free at last,

Free at last,

Thank God Almighty, We’re free at last.

(7)

vii

(8)

viii

di Onderafdelling Wisselmeren 1938-1956' bertujuan untuk menguraikan dinamika hubungan pemerintah Belanda, orang Mee dan zending C&MA mulai dari tahun 1938 hingga tahun 1956 ketika Perang Obano dimulai.

Perang Obano merupakan usaha orang Mee untuk menyingkirkan pihak-pihak yang dianggap bertanggungjawab dalam masalah-masalah yang menimpa masyarakat Mee saat itu. Kehadiran Belanda membawa masalah karena kekerasan yang mereka pakai untuk menegakkan kekuasaan mereka. Pihak zendingC&MA berada di tengah kedua pihak ini, namun pada awal perang Obano pihak C&MA merupakan pihak dengan korban terbanyak. Hal ini mengindikasikan bahwa pihak C&MA juga menjadi sasaran antagonisme orang Mee.

Penjelasan mengenai antagonisme massa terhadap C&MA ini diurai dalam karya ini. Analisa ini dimulai dengan menjelaskan posisi C&MA dalam kolonisasi pemerintah Kolonial Belanda di Onderafdelling Wisselmeren dan bagaimana posisi ini mempengaruhi hubungan C&MA dengan orang Mee. Teori yang dipakai adalah konsep Repressive State Apparatus (RSA) dan Ideological State Apparatus (ISA) yang digagas oleh Louis Althusser. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian di lapangan dengan melakukan wawancara dan studi pustaka.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa selama bekerja di Wisselmeren, C&MA perlu mempertahankan hubungan mereka dengan pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda tidak diterima oleh mayoritas orang Mee. Hubungan dekat antara pemerintah Belanda-C&MA ini berdampak buruk. C&MA-Pemerintah Belanda dianggap sebagai sebuah kesatuan. Kebencian terhadap pemerintah Belanda kemudian turut dialamatkan kepada C&MA. Dalam perang Obano, konsekuensi dari persepsi mengenai kesatuan tersebut nyata dalam serangan terhadap para pekerja dan aset-aset C&MA.

(9)

ix

C&MA di Onderafdelling Wisselmeren 1938-1956'. It intends to explain the dynamics of the relation between Dutch Government, the Mee people and C&MA between the year 1938 when Dutch began to settle in Wisselmeren until 1956 when the Obano War took place.

The Obano War (also called the Obano Revolt) was an effort of the Mee people to chase away parties considered responsible for problems that arose during that period. The presence of Dutch government brings problem due to the violence they use to enforce their authority over the Mee people. C&MA is stuck in the middle of this tension, but in the beginning of the war they were the party with most casualties. This indicates the antagonism of Mee people towards the C&MA.

Explanation of the mass antagonism towards C&MA is explored in this work. This analysis begins with the examination of the position C&MA holds in the colonization of Dutch government and how that position affects the relation between C&MA and Mee people. The theory used is the Louis Althusser’s concept of Repressive State Apparatus (RSA) and Ideological State Apparatus (ISA). The data gathering methods used are field studies by conducting interviews and literary studies.

It was found that during their work in Wisselmeren, C&MA maintains a close relationship with C&MA out of necessity. The Dutch administration was not widely accepted by Mee people. This close relation between C&MA and the Dutch government reflects poorly on the C&MA, causing the Mee people to see them as a single unit. The hatred towards the Dutch government was also quickly addressed to C&MA. In the Obano War, the consequence of being considered a unit with the Dutch government was tangible in the attack to the C&MA workers and properties.

(10)

x

Akhirnya selesai juga! Skripsi yang dibuat dengan perang tiada henti melawan kemalasan akhirnya selesai. Tuhan, rasa terimakasih yang paling besar merupakan milik-Mu. Ucapan terimakasih juga dialamatkan kepada pihak-pihak yang sudah membantu dan mendukung saya:

1. Dosen Pembimbing, Pak Silverio R. L. A. S., yang sekarang juga merupakan Kaprodi Ilmu Sejarah dan Pak Hery selaku Pembimbing Akademik yang dua-duanya sering jadi sasaran rasa ingin tahu dan tidak tahu malu saya. Terimakasih untuk semua kesabaran yang sudah dimanfaatkan selama menghadapi saya.

2. Rm. G. Budi Subanar, SJ yang bersedia membuang waktu untuk mendengar dan memberikan saya ide-ide segar yang saya pakai dalam penyelesaian tugas ini. Rm. FX. Baskara T. Wardaya, SJ terimakasih untuk perbedaan pendapat yang sehat, yang terus menerus memaksa saya untuk berpikir dan bersifat kritis terhadap diri sendiri dan semua pilihan akademis saya.

(11)

xi

mencari sumber lain hanya supaya tidak kalah gengsi haha…

5. Mas Tri yang berkantor di Sekretariat Fakultas, trims untuk semua bantuan administratif selama saya kuliah.

6. Trimakasih banyak untuk keluarga yang menggedor-gedor dengan pertanyaan kuliah, Paps, Ma, Libbie, dan Vico. Mam Rukiah dan keluarga di Pulo Sapi, Malinau dan Onago, yang terus mengingat sa dalam doa. Kode yang bawel dan kak Kede yang seperjuangan juga,sok atuh!

7. Teman-teman seperjuangan di Jurusan Ilmu Sejarah, terutama angkatan 2007, Irawan ‘om Ir’, Adi, Aryo, Bene, Audy, Mbak Wahyu, Mbak Krisna, Tian dan Andri, terimakasih untuk pertemanan selama kuliah, dan penerimaan yang tidak ragu-ragu. Trimakasih untuk semua toleransi yang sudah diberikan untuk saya yang sangat ‘tidak Jawa’ ini… Terus semangat!

8. Masyarakat di Malompo Nabire: Bapade Sepe, Mama Buna, rombongan anak-anak kecil; Eben, Samy, Sonia, Abi, Jenny, trims untuk semua hiburan selama sa tinggal di sana. Kaka Mister Johan, Bapade Mister Yesaya dan Bapade Grandmaster Yos, trimakasih untuk semua kursus kilat bahasa Mee. Aniko inimana topiine, Idekagaga..

(12)

xii

10. Orang-orang di Obano, thanks for making my work there easy and fun. Pdt. Paulus ‘Bomaadama’ Boma dan keluarga, Pak Isak Boma, Kaka Gad Boma, Kaka Hanokh Pigai yang sudah bantu menerjemahkan dan memastikan bahwa sa tra ketinggalan dalam FGD. Bomaadama, idekagaga, juga untuk wededannotabakar paling enak yang pernah sa makan.

11. Terimakasih banyak untuk teman-teman di kost; Melisa, kak Winta dan kak Eno terutama: ayo lulus! Juga kak Elen, kak Rina, kak Linda, kak Dini, kak Riska, kak Dewi.

12. Rekan-rekan di Komunitas MAGiS Yogyakarta: Bang Toyib, kak Ayek, kak Ijup, kak Ana, kak Dhiyu, Via, Yudho, kak Lisa Budhe, kak Pras, kak Tio, Rodo, Bintang, kak Thomas, Sekar. Trimakasih untuk semua usaha memaksa sa menghadapi diri sendiri walaupun berat. Terimakasih juga untuk komunitas FcJ Soropadan dan Baciro; Sr. Betha, Sr. Inez, Sr. Iren untuk semua dukungan yang saya peroleh selama masa-masa akhir kuliah. AMDG! 13. Trimakasih banyak untuk tim Papuaweb untuk kesediaan referensi gratis dan

mudah diakses tentang Papua. semoga papuaweb dapat terus membantu orang-orang lain yang juga menulis tentang Papua, salam!

(13)

xiii

HALAMAN JUDUL...i

HALAMAN PERSETUJUAN...ii

HALAMANPENGESAHAN...iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...iv

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH...v

HALAMAN MOTTO ...vi

HALAMAN PERSEMBAHAN ...vii

ABSTRAK ...viii

ABSTRACT...ix

KATA PENGANTAR ...x

DAFTAR ISI...xiii

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latarbelakang Masalah ...1

1.2 Rumusan Masalah ...13

1.3 Tujuan Penelitian...13

1.3.1 Tujuan Akademis ...13

1.3.2 Tujuan Praktis ...13

1.4 Manfaat Penelitian...14

1.4.1 Manfaat Teoretis ...14

1.4.2 Manfaat Praktis ...14

1.5 Tinjauan Pustaka ...14

1.6 Landasan Teori ...16

1.7 Metode Penelitian...17

1.8 Sistematika Penulisan...18

BAB II PEMERINTAH KOLONIAL BELANDA DAN MASYARAKAT MEE 1938-1956 ...19

2.1 Pemerintah Kolonial di Nieuw Guinea Belanda ...19

(14)

xiv

2.4 Pemerintahan Belanda setelah Perang Dunia II ...28

2.3.1 Polisi Belanda sebagai RSA dan wajah Belanda...29

2.3.2 Pemerintah Belanda dalam Ingatan...34

BAB III MISI C&MA DI WISSELMEREN 1939-1956 ...40

3.1 Pendahuluan ...40

3.2 ZendingC&MA...40

3.2.1 Profil C&MA...40

3.2.2ZendingC&MA di Wisselmeren...42

3.3 Zending C&MA dan Pemerintah Kolonial Belanda ...44

3.3.1 Persaingan dengan Misi Katolik sebagai Ukuran Posisi Tawar Misi C&MA ...44

3.3.2 Hubungan antara misi C&MA dengan Pemerintah Kolonial Belanda ...47

3.3.2.1 Kerja C&MA dalam Sektor Pendidikan ...49

3.3.2.2 Cara Kerja C&MA...52

3.3.2.3 Kerja C&MA di Bidang Pendidikan dan Posisinya sebagai ISA ...57

3.4. Kerja C&MA dan Pengaruhnya kepada Masyarakat Mee ...62

BAB IV HUBUNGAN PEMERINTAH BELANDA-ZENDING C&MA SEBAGAI FAKTOR PENYEBAB PERANG OBANO 1956-1957 ...65

4.1 Pendahuluan ...65

4.2 Hubungan Zending C&MA dan Pemerintah dalam Perspektif Orang Mee...65

4.2.1 Pemerintah dan Zending C&MA: Orang Asing dan Pembawa Perubahan...67

4.2.2 Kedatangan Pemerintah Kolonial Belanda dan C&MA ...68

4.2.3 Program Kerja C&MA dan Pemerintah Belanda ...68

4.2.4 Tidak Adanya Usaha Pihak C&MA untuk Membedakan Diri ...70

4.3 Serangan Obano sebagai Konsekuensi...71

4.3.1 Hubungan C&MA dengan Orang Mee... ....72

4.3.2 Relevansi C&MA sebagai ISA ...74

4.4 Setelah Perang Obano ...77

BAB V PENUTUP ...79

(15)

1 1.1 Latarbelakang

Minggu, 4 November 1956 merupakan bagian dari sejarah kelam karya kaum misionaris di Papua. Hari Minggu itu merupakan titik dimana pertemuan antara dua budaya yang sama sekali berbeda akhirnya berujung pada krisis besar. Kaum zending1 menjadi sasaran serangan masyarakat Mee di Obano, wilayah yang merupakan bagian dari Distrik Paniai Barat, Onderafdeling Wisselmeren2 (Kini merupakan bagian dari Kabupaten Paniai, Papua).

Bertahun-tahun setelah itu, serangan yang menjadi awal dari perang Obano ini diingat dengan deskripsi yang jelas; ‘setelah kebaktian Minggu ada pemberontakan di kalangan orang Kapauku3di daerah Obano.’4 Sasaran serangan

1

Zending merupakan istilah untuk para penginjil Protestan, dipakai untuk membedakan dengan para penginjil Katolik yang cenderung diberi istilah ‘misionaris’. Penggunaan istilah zending di sini dipakai karena para penginjil yang diserang dalam perang Obano berasal dari Christian and Missionary Alliance (C&MA, atau sering disebut CAMA), yang notabene adalah pusat penginjilan Protestan yang berpusat di Amerika Serikat. Penggunaan istilah ‘misionaris’ dalam tulisan ini karena itu akan dipakai untuk menyebut para pekerja penginjilan secara umum, kecuali dinyatakan sebaliknya.

2

Wilayah administratif di bawah Afdeling, yang setingkat dengan kabupaten. Dengan demikian Onderafdeling adalah sebutan untuk wilayah administratif setingkat wedana. Pada jaman kekuasaan Belanda wilayah Papua (saat itu dikenal dengan istilah Nugini-Belanda) dibagi menjadi 6 Afdeling. Onderafdeling Wisselmeren merupakan bagian Afdeling Centraal-Nieuw-Guinea. Lihat Pim Schoorl, 2001, Belanda di Irian Jaya: Amtenar di Masa Penuh Gejolak 1945-1962,Jakarta: Garba Budaya.

3

(16)

itu adalah gedung gereja, sekolah zending beserta asramanya, gudang dan rumah tukang.5 Serangan ini tidak hanya terbatas pada benda-benda milik zending, namun juga pada staf kaum zending, yang paling terkenal di antaranya Pdt. Ruland Lesnussa dan istrinya.6 Keduanya bukan hanya dibunuh tetapi juga dimutilasi. Pesawat milik zending dirusak dengan menggunakan kapak hingga tidak bisa dipakai lagi.7Perang Obano kemudian berlangsung selama 3 bulan.

Ditinjau dari misiologi, Perang Obano merupakan salah satu contoh tentang betapa beresikonya pekerjaan sebagai penginjil. Namun sama seperti banyak kematian penginjil sebelumnya, kematian Ruland Lesnussa tidak lantas mengakhiri kehadiran maupun karya zending di Paniai setelah itu. Penginjilan merupakan pekerjaan yang membutuhkan dedikasi, komitmen dan keyakinan yang kuat bahwa Injil harus disebarkan ke seluruh bumi.8 Agama, atau lebih tepatnya keimanan terhadap agama, yang menjadi dasar dari semangat ini. Keyakinan ini tidak membuat misi tersebut menjadi lebih mudah; cerita mengenai tantangan yang dialami para penyebar Injil adalah sesuatu yang lazim. Tantangan

4

Lihat William F. Smalley, t.t. Alliance Mission in Irian Jaya 1950-1962 Volume I. New York: C&MA. Hlm. 285

5 Ibid. 6

Lihat Albert Keiya, 1998, Perang Obano tahun 1956: Suatu Tinjauan Sejarah dan Pengaruhnya dalam Pertumbuhan Gereja di Daerah Obano Skripsi, Sentani: STT Walter Post Jayapura. Hlm. 30-31

7

Smalley,loc.cit. 8

(17)

bisa berarti banyak hal; tidak tentunya reaksi subjek misi, penolakan, bahasa, penyakit, tiadanya lahan dan sebagainya.9

Hubungan antara kaum misionaris dengan pemerintah kolonial umumnya dekat dan saling mendukung, bahkan pada abad ke-16 dan ke-17 karya misionaris menjadi bagian penting dari eksplorasi Dunia Baru. Penyebaran Kristianitas mengikuti dengan setia ekspansi Eropa di seluruh dunia.10 Belanda merupakan pengecualian terhadap tradisi itu, dan hingga tahun 1962 Papua merupakan wilayah kekuasaan Belanda. Jelas bahwa kebijakan dan posisi Belanda sehubungan dengan kehadiran misionaris di wilayahnya penting untuk diamati. Terutama karena di berbagai wilayah Nusantara (Jawa, Makassar, dan Timor) Belanda berkali-kali menghentikan kegiatan kaum misionaris Katolik. 11 Pesan yang sampai jelas: bahwa sehubungan dengan agama dan karya misi, pemerintah Belanda memiliki posisi yang sangat praktis dan sederhana; kalau mengganggu, hentikan saja kegiatan misi.

Dalam keadaan yang tidak pasti para pekerjazending C&MA bekerja, tidak hanya di bawah ancaman serangan sewaktu-waktu dari orang Mee yang bermukim di daerah Paniai namun juga di bawah administrasi pemerintah Belanda yang seperti telah disebut sebelumnya memiliki reputasi sehubungan dengan naik turunnya ijin beraktifitas kaum misionaris di Nusantara hingga akhir abad ke-19.

9

Hilliard,op.cit.,hlm. 48 10

Lihat Peter N. Stearns, 2000 (2006),Gender in World History,New York: Routledge, hlm. 63

11

(18)

Jelaslah bahwa zending di Paniai perlu bergerak dengan hati-hati, menyadari posisinya yang (sepertinya) terjepit di tengah-tengah kedua kekuatan tersebut.

Perang Obano terjadi di tengah situasi politik yang tidak stabil karena belum tegaknya kekuasaan pemerintah Belanda di Wisselmeren. Pada tahun 1956 itulah, posisi kaum zending yang sudah menetap di Onderafdeling Wisselmeren selama 15 tahun benar-benar terancam secara fisik. Zendingmulai menetap dan berkarya di Wisselmeren pada tahun 1941,12 namun ancaman fisik terhadap keberadaan mereka secara keseluruhan baru terjadi pada 1956. Apa yang terjadi selama 15 tahun itu? Apalagi ketika seorang penulis merasakan kebutuhan untuk menekankan bahwa apapun yang menyebabkan serangan ini bukanlah kebencian terhadap misi,13 pertanyaan mengenai kontribusi dan hakikat hubungan pemerintah kolonial Belanda-zending-masyarakat Mee dalam menyebabkan perang Obano menjadi perlu untuk diangkat.

Sebelum eksplorasi hubungan antara kolonial Belanda-zending-masyarakat Mee, penting untuk melihat faktor- faktor lain yang telah ditinjau dan disebut sebagai penyebab perang Obano. Albert Keiya menyebut paling tidak 8 faktor yang dianggap sebagai penyebab perang Obano. Faktor-faktor tersebut antara lain:14

12

Lihat Gotay R. Pigay, 2008,Mungkinkah Nilai-nilai Budaya Hidup Suku Mee Bersinar Kembali?, Jayapura: Deiyai, Hlm. 30-31

13

Albert,op.cit.,hlm. 3 14

(19)

1) Tersebarnya wabah penyakit di kalangan masyarakat maupun ternak babi. Keiya menyebutkan bahwa bersamaan dengan kedatanganzending C&MA tersebar penyakit yang membunuh banyak anak-anak laki-laki berumur di bawah 12 tahun.15 Dalam masyarakat yang patriarkal, kehilangan anak laki-laki yang dianggap sebagai harapan keluarga berdampak besar bagi keluarga. Ternak pun tidak luput dari kemalangan ini, dimana Keiya mencatat banyak kematian ternak babi milik masyarakat.16 Tuduhan ini bukannya tidak masuk akal, terutama ketika kita melihat bahwa wabah merupakan salah satu bagian yang tidak terpisah dari kontak orang-orang Eropa dengan masyarakat pribumi lain di berbagai belahan dunia. Diamond menyebutkan bahwa ‘kuman Eurasia memiliki peran besar dalam menyingkirkan banyak kaum pribumi di belahan dunia lain.’17 Penyakit jarang merupakan alat yang secara sengaja dipakai dalam perang, namun dalam hubungan bangsa Eropa dengan dunia lain, penyakit menjadi efek samping yang rutin dalam kontak budaya. Gerrit Jan Inauri, seorang pegawai Belanda mengakui bahwa orang-orang yang datang dari daerah luar

15

Ibid.,hlm. 112 16

Ibid.,hlm. 110 17

(20)

bertanggungjawab membawa bermacam-macam penyakit ke daerah Wisselmeren.18

Mengenai apakah orang-orang asing yang datang membawa penyakit ini sengaja atau tidak merupakan hal lain. Kenyataannya adalah bahwa banyak orang mati karena penyakit yang sebelumnya tidak ditemukan. Logika orang Mee, meski tidak secanggih pengetahuan Diamond di atas, cukup untuk menemukan hubungan antara kemunculan orang asing dan penyakit yang timbul setelah kehadiran mereka. Walaupun tidak definitif, kemungkinan ini tidak boleh dibuang hingga terbukti salah.

2) Kecurigaan terhadap ternak babi yang dibawa oleh misi zending. Zending C&MA yang datang ke wilayah Wisselmeren membawa jenis babi yang baru di daerah itu dan masyarakat mencurigai babi jenis ini karena berbeda dengan jenis babi yang selama ini dipelihara oleh orang Mee.19 Keiya menyimpulkan bahwa kecurigaan ini didasari oleh ketidaktahuan masyarakat Mee mengenai ternak babi jenis lain yang dipelihara di luar daerah pedalaman Papua.20 Kehadiran babi yang berbeda dengan yang biasa dilihat masyarakat ini kemudian berdampak pada kecurigaan sehubungan dengan penyakit yang menyerang ternak babi seperti telah disebutkan di atas.

18

Lihat Gerrit Jan Inauri, Perang Tiga Bulan di Paniai dalam Leontine E. Visser & Amapon Jos Marey, 2008, Bakti Pamong Praja Papua: di Era Transisi Kekuasaan Belanda ke Indonesia.Jakarta: Kompas. Hlm. 120

19

Lihat Albert,op.cit.,hlm. 113 20

(21)

3) Kecurigaan terhadap proyek pembangunan misi (rumah dan lapangan terbang). Sehubungan dengan wabah penyakit yang menyerang anak laki-laki seperti disebutkan pada poin pertama, lapangan terbang yang dibangun dipandang dengan curiga. Pesawat yang menggunakan lapangan terbang itu pulang pergi Wisselmeren dan sekitarnya dianggap masyarakat membawa roh orang mati yang kemudian kembali menyebar penyakit.21 Menggunakan argumen yang sama dengan penjelasan untuk poin pertama, pernyataan Diamond yang menyatakan bahwa orang Eropa mempunyai peranan dalam menyebar penyakit menunjukkan bahwa pendapat dan pemikiran masyarakat ini bukannya tidak mungkin benar. Dalam konteks masyarakat Mee sebelum Perang Obano, ini berarti bahwa dengan kehadiran pesawat terbang yang memudahkan kedatangan orang asing, dan penyebaran penyakit baru menjadi semakin mungkin di kalangan orang Mee yang belum memiliki kekebalan terhadap penyakit-penyakit yang dibawa.

4) Pergeseran posisi orang kaya (tonawi) dalam masyarakat Mee. Sebelum kedatanganzending,pihak yang paling memiliki pengaruh dalam sebuah kelompok masyarakat adalah orang yang kaya. Kekayaan diukur dengan berdasar pada kepemilikan babi.22 Dengan cara inilah orang kaya juga menjadi orang yang berpengaruh di kalangan masyarakat, yakni

21

Ibid.,hlm. 119 22

(22)

superioritas pengetahuan dan ekonomi.23 Orang kaya (tonawi) ini dipandang penting dalam tradisi karena peran mereka sebagai pihak yang menyelesaikan masalah yang muncul dalam masyarakat.24

Kehadiran zending dan pemerintah Belanda mengubah hal ini, di satu sisi zendingmenyediakan pendidikan yang diikuti oleh anak muda dan karenanya kemudian menyamakan posisi mereka secara pengetahuan dan politik dengan tonawi.25 Ketika pendidikan sudah ada dan anak-anak muda ini dilatih oleh zending maka mereka juga tidak terlalu bergantung lagi pada tonawi. Sudah disebutkan sebelumnya bahwa tonawi merupakan pihak yang menjadi pembimbing dalam masalah-masalah sosial, dan salah satu alasan mereka memiliki posisi seperti itu ialah karena anggota masyarakat yang lain berhutang kepada mereka.26Zendingkemudian mulai menggaji pekerjanya denganmege,27

23

Albert,op.cit.hlm. 115 24

(23)

anak muda yang bekerja pada misi CAMA tidak terlalu bergantung lagi padatonawidan karenanya posisi paratonawitidak sekuat dulu lagi.28

Sehubungan dengan isu mege, Dubbeldam menambahkan bahwa pemerintah kolonial Belanda dan misi zending juga bertanggungjawab dalam terjadinya inflasi di wilayah Wisselmeren, dan karenanya juga pada goyahnya posisi tonawi.29 Mege berharga karena jumlahnya terbatas, kenyataan bahwa zending dan pemerintah kolonial Belanda memasok mege ke wilayah Wisselmeren, ‘banyak kotak’ mengutip Dubbeldam, setara problematisnya dengan mencetak terlalu banyak dalam sistem moneter modern – menjamin terjadinya devaluasi yang juga berdampak bagi mege yang dimiliki para tonawi. Kehadiran zending dan pemerintah Belanda beserta mege yang mereka bawa dengan kedatangan mereka bukan hanya mengganggu cara hidup yang selama ini dimiliki oleh orang Mee (order), tapi juga mengakhiri dominasi orang yang dalam cara hidup sebelumnya memiliki posisi yang tinggi dalam masyarakat.

Kehadiran orang asing di Wisselmeren terbukti merevolusi hidup orang Mee, C&MA memecah masyarakat menjadi setidaknya dua kelompok masyarakat, yakni kelompok yang menolak C&MA karena perubahan yang mereka bawa dan kelompok lain yang menerima C&MA, menjadi Kristen serta turut beruntung dalam perubahan yang

28

Dubbeldam,op.cit,hlm 299 29

(24)

terjadi. Kelompok yang menerima C&MA hingga Perang Obano terjadi masih merupakan kelompok minoritas. Kelompok yang menolak C&MA inilah yang kemudian terlibat dalam Perang Obano dan serangan para pekerja C&MA.

5) Kondisi tanah yang bercacing. Pada masa-masa sebelum perang ini dimulai, masyarakat memperhatikan adanya gejala yang tidak menyenangkan: muncul cacing-cacing yang merusak hasil kebun, dege toka.30Cacing-cacing ini menyebabkan hasil kebun (umumnya Ipomoea batatas, sering disebut betatas) menjadi kecil. Masyarakat kemudian menghubungkan masalah cacing dege toka tersebut dengan kehadiran orang asing di daerah mereka.

6) Campur tangan pemerintah dalam kasus pelanggaran hukum adat. Masyarakat Mee memiliki ketentuan-ketentuan yang sangat tegas sehubungan dengan segala jenis perzinahan. Seperti diungkapkan oleh Pigay, tindakan berzinah bisa mengakibatkan hukuman mati bagi para pelakunya.31 Hal yang sama sedianya berlaku ketika putri Makitopai Boma menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang guru Katolik dan kemudian meninggal.32 Masyarakat Mee mengharapkan penyelesaian secara adat (yang bisa saja berarti denda atau kematian bagi sang guru), namun pemerintah Belanda kemudian menyelesaikan

30

Albert,op.cit.,hlm. 120 31

Gotay R. Pigay, 2008, Mungkinkah Nilai-nilai Budaya Hidup Suku Mee Bersinar Kembali?, Jayapura: Deiyai hlm.

32

(25)

masalah itu dengan menggunakan ketentuan hukum yang disusun oleh orang Belanda.33 Hal ini menimbulkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat Mee di Paniai Barat.

Wisselmeren bukanlah satu-satunya daerah di mana ketidakpuasan karena tubrukan sistem hukum menjadi masalah bagi Belanda yang tengah berusaha untuk menegakkan dominasi mereka di seluruh wilayah Nieuw Guinea.34 Lagerberg dan Schoorl mengalami masalah yang sama dalam tugas masing-masing di Muyu dan di Mimika.35 Dalam hampir semua kasus sebisa mungkin hukum adat dikedepankan dalam penyelesaian masalah-masalah di tengah masyarakat, namun seperti diungkapkan Lagerberg, ‘tatanan hukum yang baru tidak selalu sejalan dengan adat setempat.’36 Dalam kasus seperti ini, semua kembali pada agen pemerintah yang memiliki kewenangan di daerah itu. Beberapa keputusan yang diambil oleh agen pemerintah, seperti diungkapkan oleh Keiya, Schoorl dan Lagerberg di atas, mengakibatkan rasa tidak puas baik bagi masyarakat maupun agen pemerintah Belanda yang terlibat dalam masalah tersebut. Dalam kasus pemerkosaan yang telah disebut di

33

Ibid.,hlm. 117 34

Lihat Pim Schoorl,Kontrollir BB sebagai Agen Pembangunandalam Pim Schoorl (peny), 2001, Belanda di Irian Jaya: Amtenar di Masa Penuh Gejolak 1945-1962,Jakarta: Garba Budaya hlm. 11-13

35

Ibid,. hlm. 12 dan Kees Lagerberg, Ibu kota dan Kontrolir di Lapangan dalam Schoorl,ibid.,hlm. 45-47

36

(26)

atas, tampak jelas bahwa masyarakat tidak puas dengan solusi yang diambil pemerintah.

7) Ketidakpatuhanogai37terhadap norma-norma masyarakat. Telah disebut sebelumnya bahwa masyarakat Mee memiliki peraturan sehubungan dengan perzinahan. Hal yang sama berlaku untuk interaksi antara laki-laki dan perempuan, dan demikian pula dengan seks yang (hampir) tabu untuk dibicarakan. Bahkan setelah menikah pun pasangan suami istri masih tidur terpisah dan berjauhan.38 Semua orang asing yang datang tidak mengikuti ketentuan ini (bahkan untuk orang Protestan yang paling konservatif sekalipun ini mungkin tampak aneh), dan hal ini tidak menyenangkan orang Mee.

Semua faktor kausal yang disebut di atas berkumpul menjadi alasan penyerangan terhadap kaum zending, dan semuanya dapat dijelaskan secara rasional kecuali faktor rusaknya hasil perkebunan karena cacing. Beberapa faktor lain yang tidak disebut Keiya akan dijelaskan dalam bab-bab berikutnya, seperti pengaruh pendudukan Jepang dan dinamika hubungan masyarakat dengan orang asing.

Semua asumsi di atas menyatukan dua pihak asing menjadi satu: ogai. Zending dan pemerintah kolonial Belanda berasal dari pihak yang berbeda dengan tujuan yang berbeda, namun bagi masyarakat Mee kesalahan ini dibagi dan

37

Istilah ogai berarti Tuan, dan digunakan untuk merujuk orang yang memiliki posisi dan status sosial yang tinggi. Namun dalam konteks ini ogai dipakai untuk merujuk pada orang-orang asing.

38

(27)

serangan kemudian turut dialamatkan dan paling dirasakan zending. Di mana posisi pemerintah Belanda dalam faktor-faktor penyebab konflik ini? Di mana posisi zending dalam faktor-faktor tersebut? Bagaimana masyarakat kemudian memposisikan mereka? Hal-hal ini yang ingin digali secara mendalam melalui penelitian ini.

1.2 Rumusan Masalah

Sehubungan dengan latar belakang tersebut, penelitian ini hendak mengangkat dan menjawab 3 pertanyaan berikut:

1. Bagaimanakah hubungan zending dengan pemerintah kolonial Belanda sebelum Perang Obano dimulai?

2. Bagaimanakah hubungan pemerintah kolonial Belanda dengan masyarakat Mee?

3. Bagaimana masyarakat menilai hubungan zending dengan pemerintah kolonial dan apakah hubungannya dengan serangan yang kemudian terjadi?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Akademis

(28)

penelitian ini ingin menggali ketegangan-ketegangan laten dalam hubungan antarpihak yang terlibat dalam kolonialisme.

1.3.2 Tujuan Praktis

Secara praktis, tujuan yang ingin dicapai oleh penelitian ini adalah ikut menyumbang bagi bertambahnya penelitian dan penulisan narasi sejarah lokal yang selama ini sering dianggap kalah penting dari sejarah nasional.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoretis

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya penulisan dan narasi sejarah lokal yang saat ini sedang diusahakan untuk dikembangkan dalam bidang keilmuan sejarah Indonesia. Penelitian ini juga akan menyediakan narasi alternatif tentang pemerintah kolonial Belanda di Papua.

1.4.2 Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penulisan ini antara lain memberikan pemahaman lebih jauh tentang proses Kristenisasi dan posisi lembaga penginjilan Kristen dalam kolonialisme di Indonesia, dalam hal ini di daerah Paniai.

1.5 Tinjauan Pustaka

(29)

dengan ini apa yang diungkap para penulis lain tentang peranan hubungan pemerintah kolonial-zending-masyarakat Mee sebagai faktor penyebab perang tersebut.

Mengenai Perang Obano dan penyebabnya sendiri telah ditulis oleh Albert Keiya Perang Obano tahun 1956: Suatu Tinjauan Sejarah dan Pengaruhnya dalam Pertumbuhan Gereja di Daerah Obano.39 Penulisan ini menguraikan Perang Obano dalam hubungannnya dengan sejarah masuknya Gereja Kingmi di Paniai. Meski ia memberikan penyebab langsung Perang Obano, ia tidak menggambarkan hubungan pemerintah kolonial–zending–masyarakat Mee dan menggali lebih dalam factor-faktor penyebab peristiwa tersebut.

Selain itu Perang Obano juga diceritakan dalam buku Gotay Ruben Pigay Mungkinkah Nilai-nilai Budaya Hidup Suku Mee Bersinar Kembali?40 Pigay merupakan saksi mata yang melihat Perang Obano secara langsung dan sama seperti Keiya, ia pun menceritakan kembali peristiwa tersebut tetapi tidak menganalisa secara mendalam kontribusi kaum zending sebagai faktor yang menyebabkan perang Obano.

Hal baru yang ingin dicapai oleh penelitian ini adalah pengertian mengenai bagaimana hubungan pemerintah kolonial Belanda–zending–masyarakat Mee sebelum tahun 1956 dan kontribusinya sebagai faktor penyebab perang Obano.

39 Ibid., 40

(30)

1.6 Landasan Teori

Dalam melihat hubungan pemerintah kolonial-zending-masyarakat Mee seperti yang telah disebut di atas ini pendekatan yang akan dipakai adalah pemikiran Louis Althusser tentang fungsi Repressive State Apparatus (RSA, Aparatur Negara yang Represif) dan Ideological State Apparatus (ISA, Aparatur Negara Ideologis) dalam reproduksi hubungan produksi, yang pada akhirnya bertujuan untuk memastikan keberlangsungan dominasi kelas borjuis yang berkuasa dalam sebuah masyarakat kapitalis.

Althusser berangkat dari pemikiran Marx tentang pertentangan antara kaum proletar dan borjuasi, dan asumsi bahwa negara merupakan alat represi kelas yang berkuasa.41 Negara (the State) disebut Repressive State Apparatus (RSA), untuk menyebut aparat yang dikuasai oleh kelas yang berkuasa untuk mempertahankan kekuasaan kelas tersebut dengan menggunakan kekerasan.42Di samping itu masih adaIdeological State Apparatus(ISA), yang ada dengan tujuan yang sama dengan RSA namun bergerak di wilayah yang ideologis.43

Selain ruang gerak dan cara yang dipakai untuk mendukung kelanggengan kekuasaan, ISA juga berbeda dengan RSA karena ISA bisa saja merupakan lembaga-lembaga atau wadah yang non-pemerintah. Termasuk RSA antara lain

41

Lihat Louis Althusser, 1971,Ideology and Ideological State Apparatuses,

diunduh dari

http://www.marxists.org/reference/archive/althusser/1970/ideology.htm, pada tanggal 12 Maret 2011

42

Lihat ‘Louis Althusser’, http://www.marxists.org/glossary/people/a/l.htm, diunduh tanggal 12 Maret 2011

(31)

polisi, pemerintah, administrasi, pengadilan,44 yang semuanya itu adalah milik umum/ publik. Termasuk ISA baik lembaga agama, pendidikan, keluarga,45 maupun institusi yang dimiliki atau dijalankan oleh swasta.

Terpisah dari semua perbedaan itu RSA dan ISA dihubungkan oleh satu benang merah yang menjadi inti dari keberadaan mereka: fungsi. Fungsi semua aparat ini sesuai dengan pihak yang berkuasa, karena itulah Althusser menulis ‘apakah lembaga-lembaga ini swasta atau publik tidaklah penting, yang penting adalah bagaimana mereka berfungsi’.46 Fungsi kedua lembaga ini terpisah dari sifatnya yang berbeda adalah menjamin kelanggengan kekuasaan pihak yang berkuasa.

Dalam penelitian ini, yang diambil bukanlah fokus pada pentingnya reproduksi hubungan produksi, namun mengenai pertentangan antara pihak yang berkuasa dengan semua aparatnya versus pihak yang dikuasai. Demikian juga mengenai apa fungsi dan gerak ISA dan RSA dalam konteks kolonialisme Belanda akan dipakai untuk menganalisa hubungan pemerintah kolonial-zending-masyarakat suku Mee.

1.7 Metode Penelitian

Metode yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah studi pustaka dan wawancara. Dalam studi pustaka sumber yang akan dicari adalah sumber primer yang berupa surat menyurat para pekerja zendingyang bisa dipakai untuk melihat

44

Althusser.,op.cit., 45

Ibid., 46

(32)

hubungan mereka dengan masyarakat Mee dan pemerintah Belanda. Setelah pengumpulan data dilakukan dan ditemukan relevan, semua data yang ada diverifikasi dan diinterpretasi. Verifikasi dilakukan dengan melihat sumber-sumber lain yang ada dan dipakai. Interpretasi dan analisa data digunakan untuk membentuk kesimpulan penelitian.

Studi wawancara dilakukan untuk memperoleh data tentang pandangan dan hubungan orang Mee dengan pekerja zending dan pemerintah Belanda sekitar tahun 1956. Dalam studi ini selain mencari orang-orang yang menjadi saksi Perang Obano 1956, digunakan juga metode oral history karena sebagai masyarakat yang tidak memiliki budaya menulis, sejarah dan pengetahun diwariskan secara lisan terhadap generasi berikut orang Mee.

1.8 Sistematika Penulisan

(33)

19 1938-1956

2.1. Pemerintah Kolonial Belanda di Nieuw Guinea Belanda

Kehadiran administrasi Belanda di Nieuw Guinea Belanda adalah kehadiran yang luar biasa tertunda. Nieuw Guinea Belanda merupakan wilayah yang sudah diakui sebagai milik Belanda dari tahun 1814.47 Pengakuan ini mengamankan wilayah New Guinea Belanda dari gangguan negara Barat lain.48 Pengakuan itu tidak berarti banyak bagi orang Nieuw Guinea Belanda hingga tahun 1884 ketika Jerman mulai mengklaim utara Nieuw Guinea Belanda.49 Tahun 1884 penting bagi pemerintah Belanda karena setelah Konferensi Berlin semua negara induk (yang notabene adalah para penjajah) merumuskan prinsip yang mengharuskan adanya pemerintahan kolonial yang efektif di wilayah jajahan.50 Adanya prinsip tersebut dan kesadaran bahwa kekuatan Eropa lain mulai menunjukkan ketertarikan pada wilayah ini mendorong Belanda untuk mulai mewujudkan klaimnya.51

47

Schoorl,op.cit.,hlm. 2

48

Perjanjian ini memang hanya merupakan perjanjian bilateral antara Inggris dan Belanda, namun sejujurnya, yang diperlukan pada titik ini hanya pengakuan dari Inggris untuk mengamankan wilayah ini, karena hanya kedua pihak inilah yang memperebutkan klaim wilayah Nusantara.

49

Schoorl,loc.cit.

50

Lihat Marieke Bloembergen, 2011, Polisi zaman Hindia Belanda: Dari Kepedulian dan Ketakutan,Jakarta: Kompas & KITLV, hlm. xxxvii

51

(34)

Klaim ini sendiri sulit untuk dijelaskan pengaruhnya bagi orang Papua. Jaarsma tepat ketika menyatakan ‘sebelum Perang Pasifik, Nieuw Guinea Belanda memiliki posisi yang sangat marjinal.’52 Bentuk klaim Belanda adalah adanya pos-pos pemerintah, namun selain itu kendali pemerintah atas wilayah ini tidak solid. De Wolf & Jaarsma melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa sebelum perang Pasifik ‘sebagian besar wilayah pulau tersebut masih di luar kendali teratur (pemerintah).’53 Yang relevan bukanlah sejauh apa pemerintah kolonial Belanda berhasil dalam hal wilayah kekuasaannya, tetapi seberapa ‘terasa’ kehadiran mereka di wilayah di mana mereka menunjukkan klaimnya dengan mendirikan pos-pos pemerintahan.

Onderafdeling Wisselmeren merupakan wilayah di pedalaman Nieuw Guinea Belanda yang mencakup Danau Paniai, Danau Tage dan Danau Tigi. Wilayah ini ditemukan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1936.54 Pada tahun 1938 Jan van Eechoud mendirikan pos pemerintah di Enarotali.55 Setelah pos ini didirikan, administrasi Belanda mulai bekerja di wilayah Wisselmeren.

52

Lihat J.J. de Wolf dan S.R. Jaarsma, Colonial ethnography: West New Guinea (1950-1962) dimuat dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 148 (1992), no: 1, Leiden, hlm. 109. Istilah ‘marjinal’ berarti bahwa Nieuw Guinea Belanda tidak memperoleh perhatian dari pemerintah Belanda dan karenanya tidak menjadi sasaran dari kebijakan-kebijakan kolonisasi Belanda.

53

Ibid.

54

Lihat P.J. Drooglever, 2010, Tindakan Pilihan Bebas! Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri,Yogyakarta: Kanisius , hlm. 34

55

(35)

2.2. Masyarakat Mee dan Wisselmeren Sebelum Kehadiran Pemerintah Belanda

Mee merupakan sebutan yang diberikan untuk masyarakat yang menghuni daerah sekitar Danau Paniai. Pada zaman Belanda, danau ini disebut Danau Wissel, sesuai dengan nama pilot pertama yang berhasil mengambil foto udara danau ini (Wisselmeren: Danau Wissel).56Sebelum kehadiran pemerintah Belanda dan misi/zending daerah ini memiliki cara hidup yang kemudian berubah seiring dengan kehadiran pihak asing tersebut.

Kekerabatan orang Mee patrilineal, di mana pernikahan mengharuskan perempuan untuk mengikuti keluarga suaminya, dan umumnya memiliki struktur sosial masyarakat yang patriarkal poligini.57Dalam sebuah kelompok masyarakat, nilai-nilai yang ada diterapkan dengan ketat,58 hukum dan ketertiban diatur oleh seorang pemimpin yang kaya (tonawi).59 Adanya nilai-nilai ini menghambat perpindahan ke agama Kristen (baik Katolik maupun Protestan), karena dianggap cukup dan sudah memuaskan kebutuhan masyarakat akan ketertiban.

56

Benny,loc.cit.

57

Leopold Pospisil, 1958,Social Change and Primitive Law: Consequences of a Papuan Legal Casedimuat dalamAmerican Anthropologist, New Series, vol. 60, No. 5 (Okt., 1958) hlm. 832-837. Hlm. 832

58

Gotay, op.cit. hlm. xiii. Gotay menyebut ketentuan-ketentuan ini, yakni Akaitai, akukai ibo eyaikai (hormatilah ayahmu dan ibumu), Me tewagi (jangan membunuh), Puya mana teyawagai (jangan berdusta), Mogai tetai (jangan berzinah), Oma temoti (jangan mencuri), Puya daa (jangan berbohong), Meka yagamo, kibigi tegai(jangan mengingini istri sesamamu), Meka yame, kibigi tegai (jangan mengingini suami sesamamu) Meka owa, kibigi tegai jangan mengingini rumah sesamamu,Meka tai kibigi tegai(jangan mengingini kebun sesamamu) dan Meka muniya agiyo kigibi tegai(jangan mengingini harta sesamamu).

59

(36)

Selain keberadaan Tonawi, setiap orang Mee dalam masyarakatnya memiliki posisi yang relatif setara. Tonawi merupakan orang yang paling berpengaruh dalam masyarakat, dan wibawanya ia peroleh berdasarkan kekayaannya. Mege (kulit kerang yang berperan sebagai uang) merupakan komoditi yang terbatas sebelum kehadiran Barat, dan posisi seorang tonawi bergantung pada sistem ekonomi yang berpusat pada mege ini.60 Salah satu indikasi lain dari kekayaan adalah kepemilikan babi, yang merupakan sumber protein utama dalam konsumsi masyarakat Mee.61

Hanya orang yang memiliki babi yang bisa terlibat dalam kelompok yang memakai mege.62 Sebagian besar masyarakat Mee berprofesi sebagai petani. Biasanya satu keluarga memiliki 3-4 kebun.63 Berburu dan mencari ikan dilaksanakan namun terbatas hanya untuk subsistensi, umumnya makanan merupakan sayur-sayuran dan daging babi, seperti telah disebutkan sebelumnya, menjadi sumber protein yang jarang dikonsumsi karena fungsinya yang cenderung sebagai investasi.64 Gaya hidup seperti ini tidak menyediakan waktu luang,65 dan sebab itu budaya menulis tidak pernah dikembangkan.

Stratifikasi sosial di dalam masyarakat Mee terbatas padatonawidan rakyat biasa. Dua pihak yang berbeda ini pada perkembangan selanjutnya menanggapi

60

Dubbeldam,op.cit.,hlm. 299

61

(37)

keberadaan orang asing (baik pemerintah Belanda maupun C&MA) dan perubahan yang menjadi mungkin dengan kehadiran mereka.

2.3. Penguasaan Wisselmeren sebelum dan selama Perang Dunia II (1938-1946)66

2.3.1. Wisselmeren pada masa kekuasaan Belanda (1938-1943)

Telah disebut di bagian sebelumnya, pada tahun 1938 pos pemerintah di Enarotali dibuka, menandakan permulaan usaha Belanda untuk menyusun administrasinya di wilayah Wisselmeren. Pelaksanaan pemerintahan Belanda di Wisselmeren terhambat karena guncangnya politik internasional di Eropa karena Perang Dunia II. Pada bulan Maret 1940 pos ini ditutup karena ketidakpastian status koloni Belanda setelah invasi Jerman.67 Bulan Oktober 1940 pos ini kembali dibuka oleh pemerintah Belanda.68 Pada tahun 1943, ketika Jepang sedang mengekspansi wilayahnya di koloni-koloni negara Barat di Asia Tenggara, Nieuw Guinea Belanda tidak luput dari ekspansi tersebut. Tanggal 24 Mei 1943, dua hari setelah para pegawai Belanda dan zending dievakuasi, Jepang tiba di Enarotali.69 Pos pemerintah Belanda kembali ditutup dan kehadiran administrasi Belanda untuk sementara berakhir.

Karena banyaknya ‘gangguan’ dalam usaha pemerintah Belanda menguasai Wisselmeren, sulit untuk mengatakan apa yang berhasil dilakukan dan dicapai

66

Penggunaan Perang Dunia II sebagai alat untuk melakukan periodisasi di Onderafdeling Wisselmeren dilakukan karena Perang Dunia II mempengaruhi penguasaan di wilayah ini.

67

Ibid.,hlm. 27

68

Ibid.

69

(38)

oleh pemerintah Belanda dalam masa kerja mereka sebelum 1943. Pigay menyatakan bahwa sebelum tahun 1943 Belanda diterima dengan baik, sebab pemerintah Belanda (dianggap oleh orang Mee) telah menjaga keamanan ketertiban dan kemakmuran hidup mereka.’70 Pernyataan penulis ini tidak dapat diterima begitu saja, mengingat kenyataan bahwa segera setelah masa Belanda ini hadir para tentara Jepang dan dengan demikian perbandingan dibuat. Sebelum tahun 1943 pun, ada penolakan terhadap kehadiran Belanda. Penolakan itu diekspresikan dengan pemberontakan di Kebo pada tahun 1939 yang kemudian dihentikan dengan kekerasan khas penjajah, pada akhir usaha untuk menghentikan pemberontakan ini Kebo hancur.71

Kesimpulan yang dapat diambil dari pernyataan Pigay adalah bahwa hingga tahun 1943, Pemerintah Belanda belum melakukan intervensi yang relevan pada hidup masyarakat Mee. Intervensi yang ada dilakukan karena ada penolakan terhadap kehadiran ogai dan bukan karena hal-hal yang disebabkan oleh pemerintah Belanda. Penolakan ini terbatas pada suatu daerah, dan di tempat lain termasuk di kampung Pigay, kehadiran Belanda tidak dianggap sebagai masalah. Ini tidak berarti banyak, tapi pada skala minimal ini menunjukkan bahwa Belanda belum mulai ikut campur dalam perang antarkampung, atau mengganggu posisi para tonawi maupun menuntut ketaatan dari masyarakat dengan menggunakan kekerasan.

70

Gotay,op.cit.,hlm. 36

71

(39)

2.3.2. Wisselmeren pada masa kekuasaan Jepang (1943-1946)

Dominasi Belanda di Nieuw Guinea terhenti sementara pada masa Perang Dunia II. Nieuw Guinea Belanda turut diincar Jepang dalam usaha mereka untuk membuat persemakmuran, dan turut menjadi wilayah sengketa dalam Perang Pasifik. Dalam hal durasi, keberadaan Jepang di Nieuw Guinea Belanda berlangsung lebih singkat daripada pemerintah Belanda, namun kehadiran mereka dan dampaknya menggema dalam ingatan orang Mee.

Kehadiran Jepang di Nieuw Guinea Belanda dimulai pada April 1942.72 Sama seperti Belanda, penguasaan ini dimulai dengan pengambilalihan daerah-daerah yang berada di sepanjang pantai utara Nieuw Guinea Belanda. Intervensi Sekutu yang dimulai pada paruh pertama 1944 mengakhiri semua niat Jepang untuk memperluas dan memperlama dominasi mereka di Nieuw Guinea Belanda. Pada akhir Perang Dunia II hanya ada dua onderafdelling yang masih menjadi milik Belanda yakniOnderafdellingMerauke dan Boven-Digul.73Belanda sendiri baru mulai kembali secara resmi menjalankan pemerintahan ini (tanpa campur tangan Sekutu) pada Juli 1946.74

Kehadiran Jepang di seluruh Nieuw Guinea Belanda (kecuali di dua onderafdelling yang telah disebut) tidak terbantahkan. Hal ini benar bukan hanya dalam hal klaim secara wilayah namun juga bahwa kehadiran fisik mereka ‘terasa’. Jepang tidak ragu dalam menjalankan otoritas mereka, Drooglever

72

Drooglever,op.cit., hlm. 75

73

Schoorl, op.cit., hlm. 4 Dua onderafdelling ini karenanya adalah pengecualian pos terakhir Belanda yang tidak berhasil diambil alih oleh Jepang selama keberadaan mereka di Nieuw Guinea Belanda.

74

(40)

menulis tentang kekerasan dan kerja paksa yang dialami oleh orang Papua.75 Semua masalah ini terutama dialami oleh penduduk daerah pantai utara Nieuw Guinea Belanda, namun tidak terbatas hanya pada daerah itu.

Orang Mee diOnderafdeling Wisselmeren juga mengalami kekerasan yang sama. Jepang merupakan penjajah yang efektif, dalam waktu kurang dari tiga tahun mereka berhasil menebar lebih banyak kebencian daripada kehadiran pemerintah Belanda sebelumnya. Kehadiran Jepang dimulai dengan awal yang tidak baik, mereka mengancam masyarakat karena tidak bekerjasama.76 Ketidakmampuan Jepang memperoleh informasi tentang keberadaan J.V. De Bruijn77 menyebabkan masyarakat menjadi korban. Beberapa desa di Komopa dibakar dan ada masyarakat yang dibunuh; Jepang menyalahkan masyarakat Mee karena tidak memberi informasi yang dapat membantu mereka menangkap De Bruijn.78 Di luar itu sejumlah masyarakat dibunuh dan juga dilakukan pemerkosaan oleh para tentara Jepang.79

Selain kekerasan yang dialami masyarakat, kehadiran Jepang juga berdampak pada kehidupan ekonomi masyarakat. Selama tentara Jepang tinggal di wilayah Wisselmeren, kehidupan mereka ditopang oleh masyarakat. Ini bencana bagi orang Mee, yang karena kehadiran Jepang tidak dapat bertani seperti biasa

75

Ibid.,hlm. 80-81

76

Benny,op.cit.,hlm. 29

77

Kontrolir Belanda yang bertahan di wilayah hutan Wisselmeren selama setahun setelah invasi Jepang di Wisselmeren sebelum bergabung dengan para pegawai pemerintah lain di Australia.

78

Benny,loc.cit

79

(41)

dan kemudian harus menyerahkan bahan makanan yang ada kepada tentara Jepang sebagai upeti.80 Orang Mee juga dipaksa untuk menjadi romusha dan membuat perahu untuk tentara Jepang,81 menjauhkan mereka bukan hanya dari kegiatan ekonomi, namun juga mengganggu apa yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Penolakan terhadap Jepang lebih dari sekedar penolakan terhadapogai dan segala perubahan yang dibawaogai,penolakan terhadap Jepang merupakan usaha untuk mengusir orang-orang yang mengancam hidup dan penghidupan orang Mee, secara harfiah. Orang Mee dari berbagai kampung bersatu dan kemudian membantai para tentara Jepang yang ada di daerah mereka.82 Pembantaian ini dilakukan di berbagai tempat, dan dilakukan secara serentak.83 Dalam waktu kurang dari tiga tahun para tentara Jepang menciptakan kebencian yang begitu besar di kalangan masyarakat terhadap orang asing hingga pembantaian oleh massa ini dapat terjadi. Dampak kehadiran Jepang kemudian masih berlanjut bahkan sesudah mereka pergi dan Belanda kembali lagi ke wilayah Wisselmeren.

80

Ibid.,hlm. 40

81

Ibid.

82

Ibid., hlm. 43-44, tentang waktu pasti dari pembantaian ini tidak disebutkan oleh Pigay. Giay hanya menyebut bahwa pemberontakan ini terjadi pada tahun 1943

83

(42)

2.4. Pemerintahan Belanda di Wisselmeren setelah Perang Dunia II (1946-1956)

Ketika Belanda kembali ke Wisselmeren, suasana sudah berubah. Orang Mee yang memiliki pengalaman buruk menjadi lebih gerah melihat kehadiran kembali orang-orang berkulit putih ini.84 Pengalaman tinggal bersama dengan Jepang dan ingatan kolektif akan banyaknya masalah dan penderitaan yang disebabkan oleh Jepang membuat orang Mee ragu menerima orang asing. Hal ini berarti sesuatu, bahkan sebelum kedatangan Perang Dunia II pun tidak semua orang Mee menerima kehadiran orang asing di Wisselmeren (termasuk orang Kebo yang pernah menunjukkan penolakan mereka dengan melakukan pemberontakan).

Tanggapan orang Mee terhadap orang asing dapat dilihat dari catatan zending C&MA pada tahun 1952. Pada tahun 1951, Troutman seorang pekerja C&MA mencatat bahwa setelah tiga tahun bekerja di tengah orang Kapauku (Mee), ia berpendapat bahwa mereka ‘sangat bersahabat, tapi untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, sangat mengambil jarak dan sangat curiga.’85 Troutman menghubungakan ini dengan pengalaman tidak menyenangkan yang dimiliki orang Mee dengan orang Jepang, yang membuat mereka sangat sinis dan curiga pada orang asing.86

Di daerah Komopa Troutman menyebut bahwa Rumaseb, seorang pekerja mereka mengalami masalah karena masyarakat setempat sangat menjaga jarak,

84

Ibid, hlm.51 dan Benny,op.cit.,hlm. 29 dan 41

85

Smalley,op.cit.,hlm. 56

86

(43)

dan ‘setiap masalah kecil atau penyakit disalahkan pada orang asing dan pada hakikatnya sangat mengecilkan hati’.87 Pemerintah Belanda pun pada titik paling baik memperoleh perlakuan yang sama; keramahan tapi juga pemahaman bahwa ada sesuatu yang berlangsung di bawah permukaan dan siap meledak setiap saat. Pemerintah Belanda sadar bahwa posisi mereka sebagai orang asing tidak membantu mereka dalam interaksi mereka dengan masyarakat.

Dalam mengamati hubungan orang Mee-Pemerintah Belanda sebelum tahun 1956, kebijakan pemerintah Belanda di Wisselmeren tidak serelevan pelaksanaan kebijakan tersebut dan opini serta ingatan orang Mee akan kebijakan tersebut. Kebijakan pemerintah Belanda dalam sudut pandang masyarakat dinilai dan diingat berdasarkan guncangangan yang terjadi pada struktur sosial masyarakat tradisional dan revolusi budaya orang Mee yang kemudian dihasilkan olehnya.

2.4.1. Polisi Belanda sebagai RSA dan Wajah Belanda

Pelaksanaan kekuasaan pemerintahan Belanda tercermin dalam cara kerja para pelaksana kebijakan pemerintah pada level yang paling bawah dan berhadapan langsung dengan masyarakat. Berdasarkan pekerja yang langsung berhadapan dengan masyarakatlah citra pemerintah kemudian terbentuk. Di koloni-koloni Belanda pihak yang berperan dalam membangun wajah ini terutama adalah kepolisian yang bertugas mendorong pelaksanaan kebijakan pemerintah segera setelah diputuskan di kalangan masyarakat. Polisi juga penting karena dalam usaha pemerintah kolonial untuk menjalankan kekuasaannya serta

87

(44)

menegaskan keberadaannya di sebuah wilayah, ia menjadi tulang punggung untuk meniadakan perlawanan dan menjaga kewibawaan pemerintah.88

Di tengah sebuah pemerintahan yang baru mulai menjalankan kekuasaannya, polisi memainkan peranan yang penting. Polisi menjadi makin penting ketika dominasi pemerintah kolonial semakin didemonstrasikan, karena makin penting untuk berurusan dengan isu keamanan.89 Pada tahap ketika pemerintah kolonial makin dominan, rencana pemerintah untuk tidak ikut campur dalam politik dan masalah lokal sudah hilang, dan intervensi pemerintah bisa dipastkan. Görlich mencirikan tahap ini dengan momen ketika patroli polisi dilakukan untuk menanggapi adanya pembunuhan di suatu daerah.90 Tindakan tersebut menunjukkan mulai adanya campur tangan pemerintah kolonial dalam isu-isu yang dalam tahap sebelumnya tidak disentuh karena administrasi pemerintah belum kokoh.

Pada tahun 1946, pemerintah mulai menjalankan dengan serius kekuasaan mereka di Wisselmeren, dan dampak kehadiran mereka lebih terasa. Sebagian dikarenakan sudah relatif stabilnya politik dunia pasca Perang Dunia, setidaknya di Belanda dan juga karena orang Mee setelah membantai orang Jepang memiliki paradigma baru sehubungan dengan kehadiran kembali orang asing. Di Wisselmeren ketika Belanda mulai dengan makin intensif hadir dan mulai ikut

88

Bloembergen,op.cit.,hlm. xvii

89

Ibid.,hlm. xix

90

(45)

campur dalam masalah lokal, budaya lokal secara radikal berkonfrontasi dengan administrasi kolonial.91

Perubahan merupakan tujuan dan dampak dari kehadiran pemerintah Belanda. Kehadiran mereka di daerah Wisselmeren merupakan bagian dari agenda besar pemerintah Belanda untuk membangun Nieuw Guinea Belanda. Usaha untuk membangun Wisselmeren tidak hanya terbatas pada bidang pendidikan, atau integrasi Wisselmeren ke dalam administrasi pemerintahan Belanda, namun juga usaha untuk menghentikan semua praktek yang dianggap menghambat kemajuan. Di bidang pendidikan, pemerintah kolonial Belanda memanfaatkan misi dan zending untuk memodernkan orang Mee. Untuk integrasi ke dalam administrasi pemerintah Belanda, yang bergerak adalah para pekerja pemerintah Belanda sendiri, dengan memanfaatkan kontrolir dan aparat untuk membuat infrastruktur yang mengakomodasi kerja pemerintah Belanda.

Praktek yang dianggap menghambat kemajuan terbukti lebih sulit untuk diakhiri. Inauri menuturkan bahwa pemerintah Belanda dibenci oleh masyarakat karena dianggap mengekang, menekan dan melarang kehidupan sosial-budaya mereka.92 Ketika pemerintah Belanda menemukan kebiasaan yang menghambat program pembangunan mereka, maka kebiasaan itu dilarang. Pelarangan praktek dan usaha untuk ‘menertibkan’ massa inilah yang kemudian menimbulkan masalah dalam hubungan pemerintah Belanda dengan masyarakat.

91

Maclean, N. 1998. Mimesis and Pacification: The Colonial Legacy in Papua New Guinea seperti dikutip dalamibid.,

92

(46)

Perang antarkampung merupakan salah satu praktek yang paling menghambat usaha pemerintah untuk mengintegrasi masyarakat dan memajukan Wisselmeren. Perang terjadi dalam frekuensi yang tinggi, pada bulan Juni 1951 saja ada setidaknya dua konflik lokal yang berlangsung di dua daerah yang berbeda pada waktu yang sama.93Demikian juga pada Juli 1952, ada dua konflik yang terjadi pada saat yang sama,94 menunjukkan bahwa konflik dan perang antarkampung merupakan hal yang sering terjadi dan merupakan bagian tetap dari kehidupan orang Mee.

Perang dan konflik merupakan faktor yang paling penting untuk dilihat jika ingin mengetahui kerja polisi dan dampak langsung kehadiran administrasi Belanda di Wisselmeren. Campur tangan pemerintah Belanda (dengan polisi-polisinya) dalam konflik-konflik lokal inilah yang paling dirasakan oleh masyarakat luas, dan tidak bisa diabaikan.

Perang merupakan titik di mana perbedaan antara paradigma pemerintah Belanda dan masyarakat Mee berkonfrontasi. Seperti beberapa suku di pedalaman Papua, hidup orang Mee berjalan dengan prinsip reciprocity.95 Prinsip ini tidak berlaku hanya dalam kehidupan sehari-hari dan hubungan sosial namun juga dalam situasi konflik, sebagai prinsip untuk menyelesaikan masalah yang ada

93

Smalley,op.cit.,hlm. 26

94

Benny,op.cit.,hlm. 36

95

(47)

dalam masyarakat.96 Prinsip reciprocity menjadi bagian dari manajemen konflik lokal, namun tidak dapat diterima oleh orang Barat yang memiliki pandangan berbeda tentang hukum dan prosedurnya sebagai manajemen konflik. Bagi orang Mee (sama seperti bagi orang Kobon dalam tulisan Görlich), konflik seperti ini merupakan bagian dari siklus hidup biasa dan bukannya masalah yang harus diselesaikan untuk mencapai keadaan sosial yang stabil.97 Pandangan bahwa konflik harus diselesaikan untuk mengembalikan tertib sosial merupakan pandangan Belanda. Polisi dalam pandangan ini penting karena ia berfungsi untuk mengembalikan ketertiban.

Perbedaan perspektif merupakan salah satu alasan mengapa semua konflik yang ada kemudian membuat makin nyata jarak antara masyarakat Mee dengan polisi (dan pemerintah) Belanda. Selain perbedaan perspektif, ada satu motif yang tak kalah penting bagi orang Belanda, yakni memastikan keberlangsungan kekuasaan. Bloembergen mengutip David Arnold menyatakan bahwa dalam kepentingan pemerintah kolonial, semua gejolak sosial perlu untuk disikapi sebagai ancaman terhadap status quo.98 Semua konflik dan kebiasaan berkonflik dalam pandangan pemerintah Belanda perlu dihentikan karena merupakan ancaman dan hambatan bagi eksekusi kekuasaan pemerintah Belanda di Wisselmeren. Monopoli kekerasan oleh negara dan aparatur negara merupakan tanda kewenangan dan kekuasaan negara atas warganya. Dengan menghentikan

96

Ibid.

97

Ibid.,hlm. 153

98

(48)

semua perang antarkampung orang Mee maka pemerintah Belanda menegakkan posisinya sebagai pemerintah atas orang Mee.

Polisi merupakan Repressive State Apparatus, aparat yang bekerja mengamankan kepentingan pemerintah Belanda menggunakan kekerasan. Mengambil posisi sebagai RSA, posisi mereka sebagai pihak yang berseberangan dengan masyarakat jelas dalam ingatan masyarakat. Posisi polisi dalam benak masyarakat dan dalam skema pertentangan antara masyarakat Mee-pemerintah Belanda sudah jelas. Polisi tidak memiliki kesempatan untuk berpretensi atau mempertahankan posisi mereka di wilayah abu-abu seperti para pekerja C&MA. Polisi merupakan wajah dan bagian penting dari ingatan massa akan keberadaan pemerintah Belanda di wilayah Wisselmeren.

2.4.2. Pemerintah Belanda dalam Ingatan

Dalam ingatan kolektif masyarakat, sulit untuk mengingat pemerintah Belanda dengan melihat kebijakan yang dibuat pemerintah. Belanda diingat dalam hubungan mereka dengan masyarakat, apa saja yang mereka bawa, bagaimana mereka memperlakukan orang Mee, dan perubahan apa yang mereka bawa dalam kehidupan orang Mee. Pemerintah Belanda dan aparaturnya percaya akan kebenaran tindakan dan kehadiran mereka. Orang Mee di pihak lain, mengabaikan klaim itu karena pemahaman bahwa lahan yang mereka tinggali merupakan milik mereka, dan selamanya demikian.

(49)

pembangunan fasilitas umum) dijalankan dengan partisipasi masyarakat. Partisipasi ini tidak sepenuhnya sukarela, dan turut menjadi alasan pemerintah semakin tidak popular. Inauri mengakui bahwa pemerintah tidak terlalu disukai karena dalam proyek pembangunan di Wisselmeren, mereka mencari lalu memaksa orang untuk bekerja.99Pemerintah Belanda bersikap kasar100dan karena itu memiliki hubungan yang tidak baik dengan masyarakat.

Pemerintah Belanda dikatakan pernah memaksa masyarakat Obano untuk membuat perahu dari pohon.101 Masyarakat dikumpulkan untuk menebang pohon dan kemudian membawa batangnya ke pinggir danau untuk mengerjakan perahu itu.102 Hal ini sangat mengganggu masyarakat Obano, karena melawan dengan tradisi orang Mee. Menurut tradisi, sebuah perahu dalam pengerjaannya harus diselesaikan di tempat kayu tersebut diambil dan dibawa ke danau setelah pengerjaan ini selesai.103 Di bawah pemerintah Belanda, ketentuan-ketentuan adat yang ada terbuka untuk dikontestasi dan kemudian kalah dalam nama program pembangunan pemerintah.

Pelanggaran ini sangat tidak menyenangkan hati orang Mee,104 karena pelanggaran ini tidak hanya membuat mereka melanggar tradisi, tetapi juga karena local wisdom Mee yang berkeras bahwa selalu ada alasan di balik sebuah

99

Gerrit dalam Visser,op.cit.,hlm. 119

(50)

ketentuan tradisi. Ketika ketentuan yang ada ini dilanggar, maka ada hal buruk yang akan terjadi. Dalam logika yang sama, ketika ada masalah terjadi pola pikir yang berpegang pada prinsip reciprocity akan berbalik ke belakang dan mencari apa yang kira-kira bisa menyebabkan masalah.

Dari sudut pandang ini, kehadiran Belanda dan programnya pada skala minimal dibenci karena program yang mereka jalankan mencabut orang dari kehidupan sehari-hari mereka. Paksaan yang dipakai untuk memperoleh tenaga terbukti tidak membantu. Program ini membuat orang Mee melanggar tradisi, membuat Belanda dibenci, dan semua masalah yang kemudian ada (terutama ketika muncul bertubi-tubi seperti sebelum tahun 1956) dihubungkan dengan para ogai.

Polisi juga memainkan peranan yang penting dalam menentukan hubungan masyarakat Mee dengan pemerintah Belanda. Seperti telah disebut sebelumnya, para polisi Belanda inilah yang mengakhiri semua konflik antar masyarakat Mee dan juga memadamkan pemberontakan yang terjadi di Kebo, pemberontakan Pupubago dan kemudian, pemberontakan di Obano.105 Mekanisme penanganan pemberontakan yang dimiliki oleh pemberontakan Belanda kurang lebih sama, dan mekanisme ini bergantung pada polisi.

Pasifikasi orang Mee oleh pemerintah Belanda dalam bentuknya yang paling efektif bukanlah campur tangan dalam konflik lokal, tapi penghentian secara efektif semua upaya untuk melawan ogai. Dalam kasus di Kebo dan pemberontakan Pupubago semua pemberontakan itu berakhir dengan kehancuran

105

(51)

kampung di mana pemberontakan terjadi, lengkap dengan rusaknya kebun dan korban jiwa.106 Dalam sebuah masyarakat yang tidak mengenal budaya tulis dan bergantung pada budaya oral, berita-berita ini beredar dan terbentuklah pemahaman kolektif tentang pemerintah Belanda dan aparatnya.

Polisi juga bertindak dalam kasus-kasus individual di mana terjadi pelanggaran hukum. Di Obano ada kasus di mana beberapa orang mencuri di kebun seorang pastor.107 Pastor ini melapor pada pemerintah lalu mengejar pelakunya, dan dalam usaha mereka untuk mengejar orang itu (sang pencuri bernama Ewaidakebo Boma) aparat membunuh babi dan membuat warga lari meninggalkan rumah mereka.108 Pemerintah Belanda memperkenalkan hukum mereka dan mengupayakan ketaatan orang Mee terhadap hukum mereka.

Pencurian merupakan pelanggaran hukum, dan adat orang Mee sepakat soal itu. Yang menjadi masalah adalah bagaimana masalah ini kemudian diselesaikan oleh pihak pemerintah Belanda. Adat Mee sudah memiliki mekanisme sendiri untuk menyelesaikan masalah seperti ini, dan sekali lagi mekanisme ini bertabrakan dengan mekanisme hukum yang dipegang oleh pemerintah Belanda.

Bloembergen mengungkapkan bahwa ‘upaya mengadabkan masyarakat yang diprakarsai pemerintah kolonial ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pemerintah akan pengawasan dan kontrol, artinya perolehan kekuasaan.’109 Pemerintah Belanda bertabrakan dengan orang Mee dalam usaha ‘mengadabkan’

106

Ibid.

107

Paulus dan Isak Boma dalam wawancara,op.cit

108

Ibid.

109

(52)

mereka demi kepentingan pemerintah Belanda. Dalam semua tabrakan sistem nilai yang kemudian terjadi karena perbedaan perspektif ini, Belanda menang karena ia secara militer superior dan wajah superioritas Belanda itu adalah lembaga kepolisian yang mereka miliki. Wajah dan keberlangsungan pemerintah Belanda di Wisselmeren ditentukan oleh kerja polisi. Kebencian terhadap polisi kuat, demikian juga kebencian terhadap pemerintah yang diwakili oleh polisi. Kekuasaan yang hanya ditopang oleh Repressive State Apparatus tidak dapat berlangsung lama, dan karenanya, diperlukan kehadiran Ideological State Apparatus, pihak yang menjamin akan terjadinya persetujuan akan keberlangsungan kekuasaan. Di tengah masyarakat Obano, posisi ini dipegang oleh kaum misi/zending.

Hubungan masyarakat Mee dengan pemerintah Belanda merupakan hubungan yang tidak menyenangkan karena berbagai alasan. Belanda dibenci karena bertindak selayaknya penjajah, mengganggu semua siklus hidup yang sudah dijalani orang Mee selama berabad-abad sebelumnya. Kehadiran Jepang yang ketika berada di Wisselmeren menindas orang Mee juga menimbulkan ketidaksenangan pada orang asing dan pemerintah Belanda.

(53)
(54)

40

3.1. Pendahuluan

Christian & Missionary Alliance sebagai lembaga zending bekerja di Wisselmeren yang situasinya sebelum tahun 1956 telah dijelaskan di Bab

sebelumnya. Sebelum membedah posisi dan hubungan C&MA-Pemerintah

Belanda, C&MA sebagai sebuah lembaga dan karyanya akan diurai terlebih

dahulu.

3.2.ZendingC&MA

3.2.1. Profil C&MA

Christian and Missionary Alliance merupakan lembaga penginjilan yang berpusat di Amerika Serikat. Lembaga ini didirikan oleh Albert Benjamin

Simpson pada tahun 1887.110 Simpson mendirikan C&MA karena tergerak ‘setelah menyaksikan masalah fisik dan spiritual para tunawisma, orang-orang

yang dieksploitasi dan sakit serta imigran di New York’111 untuk ‘mengabdikan hidup dan pelayanannya untuk membawa injil ke seluruh dunia’.112

110

Christian and Missionary Alliance’ di situs Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Christian_and_Missionary_Alliance, diakses pada tanggal 29 Maret 2011

111

About the Alliance’, Situs The Alliance

http://www.cmalliance.org/about/, diakses pada tanggal 29 Maret 2011

(55)

Christian & Missionary Alliance merupakan salah satu lembaga yang

kemudian pergi ke seluruh dunia – wilayah kerja mereka saat ini mencakup 81

negara.113 Kerja misi dan zending didasari terutama oleh ‘Amanat Agung’ yang

dimuat dalam Kitab Matius 28: 19, ‘Karena itu pergilah, dan jadikanlah semua

bangsa muridKu.’114 C&MA termasuk salah satu di antaranya, dengan Simpson

yang mengembangkan teologi sendiri (disebut Four-fold Gospel), menyatakan

Yesus sebagai penyelamat, yang menyucikan, penyembuh, dan Raja yang akan

Datang.115 Hingga sekarang teologi ini masih menjadi dasar dari semua gereja

yang dipengaruhi C&MA dan C&MA sendiri.

Pada tahun 1989, C&MA National Office pindah ke Colorado Springs.116

Sebelumnya, termasuk pada saat C&MA masih aktif bekerja di Wisselmeren,

C&MA National Headquarters masih berada di Nyack, New York. Telah

disebutkan sebelumnya, C&MA berbasis di Amerika Serikat, beroperasi tanpa

dukungan dari pemerintah dan bergantung pada donasi. Masuk akal bila kemudian

ini mempengaruhi bagaimana pertimbangan finansial menjadi tidak terhindarkan.

Selain itu, kenyataan bahwa C&MA asing serta tidak memiliki afiliasi dengan

partai politik kemudian meletakkan C&MA di bawah administrasi pemerintah

Belanda tanpa posisi tawar.

113 Ibid. 114

‘Missionaries’, dalam Stearns (ed.), Encyclopedia…,hlm. 655-657 115

‘About the Alliance’, op,cit., ‘Fourfold Gospel, proclaiming Jesus as Savior, Sanctifier, Healer and Coming King’

116

‘Historical Timelime’, SitusThe Alliance

Referensi

Dokumen terkait