• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM DIPLOMA III ANALIS KESEHATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PROGRAM DIPLOMA III ANALIS KESEHATAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PHLEBOTOMY

TUGAS I

Disusun untuk memenuhi tugas browsing ilmiah

Disusun oleh :

Sega Fajar Andriyani

G0C015033

PROGRAM DIPLOMA III ANALIS KESEHATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

(2)

PHLEBOTOMY

A. Faktor-faktor yang mempengaruhi Phlebotomy

1. Pelaksanaan phlebotomy.

2. Tempat phlebotomy yang dilakukan.

3. Peralatan phlebotomy dan cara penggunaanya.

4. Keadaan pasien.

B. Faktor-faktor yang menyebabkan hemolisis secara in-vitro dan in-vivo.

In-vitro hemolisis :

1) Pengocokan atau pencampuran terlalu keras.

2) Terguncang-guncang selama pengiriman.

3) Pengambilan darah pada daerah yang hematoma.

4) Penarikan syringe plunger terlalu cepat.

5) Penggunaan jarum yang terlalu kecil

6) Penggunaan tabung yang terlalu besar untuk wing needle yang

diameternya kecil.

7) Terjadi gelembung darah karena pemasangan jarum spuit kurang pas.

8) Pemindahan darah dari spuit ketabung dilakukan dengan tekanan

(3)

Hemolisis adalah kerusakan dari membrane sel darah merah, menyebabkan pembebasan hemoglobin dan komponen internal lainya

kedalam cairan sekitarnya. Hemolisis dideteksi secara visual dengan

menampilkan warna merah dalam serum atau plasm. Hemolisis

adalah kejadian umum dilihat dalam sampel serum dan dapat

mengganggu uji parameter laboratorium. Hemolisis dapat terjadi dari

dua sumber : invivohemolisis oleh karena kondisi patologis, seperti anemia hemolitik autoimun atau reaksi transfusi dan in-vitrohemolisis

oleh karena koleksi spesimen yang tidak tepat, pengolahan spesimen,

atau transportasi spesimen (www.bd.com/vacutainer).

C. Protap Phlebotomy

Pengambilan spesimen dilaksanakan dengan benar, agar

spesimen tersebut mewakili keadaan yang sebenarnya.

1) Phlebotomy dengan spuit

a) Menyiapkan tourniquet, kapas alkohol, kapas kering,spuit, tabung dan plester.

b) Posisi lengan pasien harus lurus,jangan membengkok siku, pilih lengan yang banyak melakukan aktifitas, letakan tangan diatas

meja.

c) Melakukan perabaan (palmasi) pada lokasi vena yang akan ditusuk, pasien diminta untuk mengepalkan tangan.

d) Pasang tourniquet lebih kurang 3 jari diatas liat siku .

(4)

f) Tusuk bagian vena tadi dengan lubang jarum menghadap keatas dengan kemiringan antara jarum dan kulit 15 derajat.

g) Setelah volume darah cukup, dilepaskan tourniquet dan pasien diminta membuka kepalan tanganya.

h) Lepaskan atau tarik jarum dan segera letakan kapas alkohol 70 % & diatas bekas suntikan untuk menekan bagian tersebut dan

ditutup dengan plester atau hepavyx.

i) Memindahkan sampel darah dari dalam spuit ke tabung dengan cara melepaskan jarum lalu mengalirkan darah perlahan melalui

dinding tabung.

j) Jika sampel harus diberi antikoagulan, maka segera mungkin darah dimasukan kedalam tabung dengan antikoagulan

(EDTA,Citras) campur dengan membolak- balikan tabung

beberapa kali (Anonim, 2004).

2) Phlebotomy dengan vacuntainerneedle (jarum vacutainer).

a) Menyiapkan tourniquet, kapasal kohol, kapas kering, jarum,

holder, tabung dan plester/ hepavyx.

b) Memasang jarum pada holder dengan cara memasukan bagian jarum yang tertutup karet kedalam lubang holder lalu memutarnya searah jarum jam hingga kencang.

c) Meminta pasien untuk meletakan tanganya diatas meja,

melakukan perabaan (palmasi) untuk mencari vena yang akan ditusuk.

d) Memsang tourniquet pada lengan leih kurang 3 jari diatas lipatan siku dan mendesinfeksi lokali vena yang akan ditusuk

dengan kapas alcohol 70 % dengan sekali usap.

e) Menusukan jarum pada vena pasien dengan posisi lubang jarum

(5)

f) Memasukan tabung vacutainer kedalam holder dengan cara mendorongnya hingga tertancap pada jarum dan darah akan

terhisap masuk kedalam tabung dan akan berhenti sendiri jika

volume telah sesuai dengan kapasitas isi tabung.

g) Melepas torniquet lalu menarik tabung dari dalam holder dan menarik jarum dari vena, menutup vena yang ditusuk dengan

kapas,ditekan dan ditutup dengan plester atau hepavyx (Anonim

2008).

3) Phlebotomy dengan wing needle (jarum bersayap) Jika menggunakan spuit :

a) Melepaskan bagian jarum yang berpelindung karet.

b) Melepaskan jarum spuit.

c) Memasang slang wingneedle pada ujung spuit dengan cara memutar searah jarum jam hingga kencang.

d) Melakukan pengambilan darah seperti pada pengambilan darah

menggunakan spuit. Jika menggunakan vacutainer :

a) Memasang bagian jarum yang berpelindung karet pada holder

dengan cara memasukanya pada lobang holder lalu memutarkanya hingga terpasang dengan kencang.

b) Melakukan pengambilan darah dengan cara seperti pada

pengambilan darah dengan menggunakan vacuntainerneedle

(6)

4) Penangan sampel darah pasca phlebotomy

a) Peralatan dan tabung yang diperlukan telah siap sebelum

melaksanakan phlebotomy.

b) Sampel darah yang telah berhasil diambil dengan spuit, segera

jarum dilepas dari spuit, masukan darah kedalam botol yang

berisi anti koagulan maupun botol kimia, dengan cara

mengalirkan darah perlahan melalui dinding tabung.

c) Campur segera darah yang diberi antikoagulan,dengan cara

memutar botol searah dan berlawanan jarum jam.

d) Pemberian identitas pada sampel darah dengan menempelkan

barcode pada botol atau berilah formulirnya laboratorium sesuai permintaan pemeriksaan.

e) Mengirim sampel darah ke laboratorium beserta dengan formulir

pemeriksaan laboratorium.

f) Spuit dan tabung tempat sampel harus bersih dan kering agar

sampel tidak hemolisis ( Anonim, 2008 ).

D. Landasan teori

Phlebotomy berasal dari bahasa Yunani: phlebos adalah vena, tome adalah insisi (Muliaty, tanpa tahun).

1. Tujuan phlebotomy

Tujuan phlebotomy adalah memperoleh sampel darah dalam volume yang cukup untuk pemeriksaan yang dibutuhkan, dengan

menusuk vena (venipunctur ) dengan jarum dan peralatan pendukungnya. Agar mendapatkan darah untuk pemeriksaan

(7)

tersebut diantaranya yaitu peralatan yang akan dipakai, lokasi

pengambilan darah vena yang umunya didaerah vena fossacubiti yaitu vena cubiti atau didaerah pergelangan tangan, selain itu vena yang

dipilih tidak didaerah infuse yang terpasang (http//prainstrumentasi htm).

Praktik phlebotomy di rumah sakit atau laboratorium dapat dilakukan oleh phlebotomiest atau analis laboratorium atau orang yang dilatih khusus untuk itu, yang selanjutnya akan disebut sebagai teknisi

phlebotomy. Tindakan phlebotomy itu sendiri mempunyai risiko diantaranya adalah adanya rasa sakit akibat tusukan, perdarahan yang

berlebihan, pingsan atau lemas, hematom (disebabkan oleh darah yang

bocor kedalam jaringan disekitar tusukan vena dan membeku), infeksi

dan terjadinya beberapa tusukan akibat sulitnya mencari vena sehingga

menimbulkan berbagai persepsi bagi pasien terkait dengan tindakan

phlebotomy (Budi Sampurna2004).

2. Phlebotomiest

Phlebotomiest adalah orang yang dilatih untuk melakukan prosedur

phlebotomy dengan kemampuan yang harus dimiliki sebagai berikut:

a) Kemampuan teknis: trampil mengambil spesimen darah melalui

teknik tusukan vena (venipunctur) dan tusukan kulit (skinpuntre)

b) Kemampuan mental: trampil mengorganisasi pekerjaanya secara

efisien, sekalipun dalam kondisi tekanan dan selalu mengikuti

prosedur tertulis yang telah baku dan menjadi penghubung yang

baik antara pasien dan laboratorium

c) Kemampuan pengetahuan produk: menguasai kriteria dan segala

macam persyaratan pengambilan darah untuk setiap pemeriksaan

(8)

E. Quality Control Dalam Phlebotomy

Quality control dalam phlebotomymeliputi pemantapan mutu dalam tahap-tahap :

1. Prosedur persiapan pasien

Mutu pemeriksaan sangat tergantung pada mutu persiapan pasien.

a. Pasien rawat inap atau Rumah Sakit : perawat harus mengontrol

persiapan pasien.

b. Pasien laboratorium klinik : mulai dari petugas penerima pasien sampai

phlebotomy harus memastikan pemenuhan persyaratan persiapan pasien.

c. Bila persyaratan tidak dipenuhi, catat sebagai situasi khusus.

d. Buku persyaratan persiapan pasien dipakai sebagai pedoman.

2. Prosedur pengambilan spesimen

Perlu diperhatikan kebenaran dalam tahapan-tahapan : identitas, pemberian

tabel, teknik phlebotomy dan prioritas bagi pemeriksaan cito.

3. Penanganan spesimen penanganan yang benar :

a.Penanganan khusus : disimpan dingin, beku, terhindar dari cahaya.

b.Pengiriman spesimen.

4. Dokumentasi

Bagian Quality Control harus menyediakan dokumen-dokumen :

(9)

b.Buku pengiriman kepada laboratorium rujukan.

c. Petunjuk pelaksanaan atau prosedur tetap laboratorium.

d.Formulir-formulir quality control phlebotomy.

5. Keselamatan kerja dalam phlebotmy

Keselamatan kerja dalam phlebotomy : penggunaan sarung tangan, lab jas, masker, penggunaan anti septic, penggunaan desinfektan.

6. Sistem pendidikan dan latihan phlebotomy

Pendidikan dan latihan phlebotomy untuk menjaga mutu para phlebotomiest

atau meningkatkan pengetahuan, pemahamam dan ketrampilan dalam

pelaksanaan phlebotomy (Muliaty, tanpa tahun ).

(10)

BIODATA

Nama : Sega Fajar Andriyani

Tempat, Tanggal Lahir : Jepara, 09 Agustus 1996

Alamat : Pengkol Jepara

Pendidikan :

SD : SDN Pengkol 02 Jepara (2008)

SMP : SMPN 01 Jepara (2011)

SMA : SMKN 03 Jepara (2014)

Hobi : Renang

Nama Ayah : Mintarno

Pekerjaan : Wiraswasta

Nama Ibu : Dwi Agus Andariyanti

Pekerjaan : PNS

Semarang, 02 Maret 2016

Hormat Kami,

Referensi

Dokumen terkait