• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efek Konsentrasi NH_4 OH pada Sintesis Nanopartikel Mg〖Fe〗_2 O_4 dengan Metode Kopresipitasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Efek Konsentrasi NH_4 OH pada Sintesis Nanopartikel Mg〖Fe〗_2 O_4 dengan Metode Kopresipitasi"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Nanopartikel

Nanosains adalah salah satu penelitian yang paling penting dalam ilmu

pengetahuan modern. Nanoteknologi merupakan ilmu yang mempelajari partikel

dalam rentang ukuran 1-1000 nm (Buzea, et al., 2007). Nanoteknologi mulai

memungkinkan para ilmuwan, ahli kimia dan dokter untuk bekerja di tingkat

molekuler dan sel untuk menghasilkan kemajuan penting di bidang ilmu pengetahuan

dan kesehatan. Penggunaan bahan nanopartikel menawarkan keuntungan besar

karena ukuran mereka yang unik dan sifat fisikokimia. Penelitian nanopartikel

sedang berkembang pesat karena dapat diaplikasikan secara luas seperti dalam

bidang lingkungan, elektronik, optis dan biomedis (Jain et al. 2006; Stern dan

McNeil, 2008).

Nanopartikel menjadi kajian yang sangat menarik, karena material yang berada

dalam ukuran nano biasanya memiliki partikel dengan sifat kimia atau fisika yang

lebih unggul dari material yang berukuran besar (bulk) (C. R. Vestal et al. 2004;

Guozhong, 2004). Dua hal utama yang membuat nanopartikel berbeda dengan

material sejenis dalam ukuran besar (bulk) yaitu:

1. Karena ukurannya yang kecil, nanopartikel memiliki nilai perbandingan antara

luas permukaan dan volume yang lebih besar jika dibandingkan dengan partikel

sejenis dalam ukuran besar. Ini membuat nanopartikel bersifat lebih reaktif.

Reaktivitas material ditentukan oleh atom-atom di permukaan, karena hanya

atom-atom tersebut yang bersentuhan langsung dengan material lain;

2. Ketika ukuran partikel menuju orde nanometer, maka hukum fisika yang berlaku

lebih didominasi oleh hukum- hukum fisika kuantum (Abdullah, M. et al. 2008).

Nanopartikel dapat terdiri dari bahan konstituen tunggal atau menjadi gabungan

dari beberapa bahan. Nanopartikel di alam sering ditemukan dengan bahan

aglomerasi dengan berbagai komposisi, sedangkan komposisi bahan murni tunggal

dapat dengan mudah disintesis dengan berbagai metode. Berdasarkan sifat kimia dan

(2)

dalam keadaan menggumpal. Sebagai contoh, nanopartikel magnetik cenderung

mengelompok, membentuk sebuah aglomerat, kecuali permukaan mereka dilapisi

dengan bahan non-magnetik dan dalam keadaan menggumpal, nanopartikel dapat

berperilaku sebagai partikel yang lebih besar, tergantung pada ukuran aglomerat

tersebut (Buzea et al. 2007).

Material berukuran nanometer memiliki sejumlah sifat kimia dan fisika yang

lebih unggul dari material berukuran besar. Disamping itu, material berukuran

nanometer memiliki sifat yang kaya karena menghasilkan sifat yang tidak dimiliki

oleh material ukuran besar. Sejumlah sifat tersebut dapat diubah- ubah dengan

melalui pengontrolan ukuran material, pengaturan komposisi kimiawi, modifikasi

permukaan dan pengontrolan interaksi antar partikel. Material nanopartikel adalah

material-material buatan manusia yang berskala nano, yaitu lebih kecil dari 100nm,

termasuk didalamnya nanodot, quantum dot, nanowire dan carbon nanotube

(Abdullah, M. et al., 2008).

Berikut merupakan beberapa keunggulan sifat material berorde nano secara umum :

1. Sifat Elektrik

Pengaruh size reduction pada sifat elektrik nanopartikel dapat meningkatkan

konduktivitas nanometals, membangkitkan konduktivitas nanodielektrik dan

meningkatkan induktansi dielektrik untuk ferroelectrics. Nanomaterial dapat

mempunyai energi lebih besar dari pada material ukuran biasa karena memiliki luas

permukaan yang besar. Energi band secara bertahap berubah terhadap orbital

molekul. Umumnya resistivitas elektrik mengalami kenaikan dengan berkurangnya

ukuran partikel.

Contoh aplikasi : energi densitas yang tinggi dari baterai, nanokristalin merupakan

material yang bagus untuk lapisan pemisah pada baterai karena dia dapat menyimpan

energi yang lebih banyak. Baterai logam nikel-hidrida terbuat dari nanokristalin nikel

dan logam hidrida yang membutuhkan sedikit recharging dan memiliki masa hidup

yang lama (Pokropivny,V. et al. 2007).

2. Sifat Optik

Sistem nanokristalin memiliki sifat optikal yang menarik, yang mana berbeda

dengan sifat kristal konvensional. Pengaruh size reduction pada sifat optik

nanopartikel dapat meningkatkan penyerapan (absorbansi) dalam jarak ultraviolet

(3)

peyumbang faktor masuknya quantum tertutup dari pembawa elektrikal pada

nanopartikel, energi yang efisien dan memungkinkan terjadinya pertukaran karena

jaraknya dalam skala nano serta memiliki sistem dengan interface yang tinggi.

Dengan perkembangan teknologi dari material mendukung perkembangan sifat

nanofotonik. Dengan sifat optik linear dan non linear material nano dapat dibuat

dengan mengontrol dimensi kristal dan surface kimia, teknologi pembuatan menjadi

faktor kunci untuk mengaplikasikan. Contoh aplikasi : pada optoelektronik.,

electrochromik untuk liquid crystal display (LCD) (Pokropivny,V. et al. 2007).

3. Sifat Magnetik

Kekuatan magnetik adalah ukuran tingkat kemagnetan. Pengaruh penurunan

ukuran butiran patikel (size reduction) dan kenaikan spesifik luas permukaan per

satuan volume partikel pada sifat magnetik ini dapat meningkatkan atau menurunkan

koersivitas magnet, menurunkan temperatur Curie, memiliki sifat paramagnetik atau

feromagnetik, membangkitkan temperatur maksimal resistansi magnet dan

meningkatkan permeability magnetik pada sifat ferromagnetik.

Contoh aplikasi : magnet nanokristalin yttrium-samarium-cobalt memiliki sifat

magnet yang luar biasa dengan luas permukaan yang besar. Aplikasinya pada mesin

kapal, instrumen ultra sensitiv dan magnetic resonance imaging (MRI) pada alat

diagnostic (Pokropivny,V. et al. 2007)

4. Sifat Mekanik

Pengaruh penurunan ukuran butiran patikel (size reduction) dari partikel pada

sifat mekanik dapat meningkatkan kekerasan (hardness), kekuatan (strength),

daktilitas (fracture ductility) dan ketahanan aus (wear resistance). Nanomaterial

memiliki kekerasan dan tahan gores yang lebih besar bila dibandingkan dengan

material dengan ukuran biasa. Contoh aplikasi : automobil dengan efisiensi greater

fuel. Nanomaterial diterapkan pada automobil sejak diketahui sifat kuat, keras dan

sangat tahan terhadap erosi, diharapkan dapat diterapkan pada busi (Pokropivny,V. et

al. 2007).

2.2 Pasir Besi

Pasir besi adalah mineral endapan / sedimen yang memiliki ukuran butir 0,074

(4)

oleh perbedaan lokasi endapan. Mineral magnetik yang biasanya ditemukan di

daerah pantai atau sungai adalah magnetit (Fe3O4). Senyawa magnetit ini berasal dari

senyawa variannya yaitu titanomagnetit (Fe3−xTixO4) (Sunaryo dan Widyawidura,

2010).

Besi yang diperoleh dari bijih besi ditemukan dalam bentuk besi oksida.

Oksida logam ini ditemukan dalam dua fase di dalam pasir besi yaitu Fe2O3 dan

Fe3O4 yang berkontribusi dalam sifat kemagnetan. Fe2O3 memiliki interaksi yang

lebih lemah di dalam medan magnet dibandingkan Fe3O4. Pasir besi ini lebih

dimanfaatkan dalam bidang material science dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi

dan ramah lingkungan (Sunaryo dan Widyawidura, 2010)

Pasir besi umumnya terdiri dari mineral opak yang bercampur dengan

butiran-butiran nonlogam seperti kuarsa, kalsit, feldspar, ampibol, piroksen, biotit dan

tourmalin. Mineral tersebut terdiri atas magnetit, titaniferous magnetit, ilmenit,

limonit dan hematite. Kandungan besi yang terdapat pada endapan pasir besi utama

adalah mineral tetanomagnetik dengan komposisi Fe 60%, Al2O3 3,3%, SiO2 0,26%,

P2O5 0,55%, TiO2 9,2% dan MgO 0,6%. Biji besi dalam bentuk endapan pasir besi

dengan kadar Fe sekitar 38 – 59% n (Putra et al., 2008).

Pasir besi dapat dimanfaatkan dalam industri baja karena pasir besi banyak

mengandung besi (Fe) sebagai bahan baku pembuatan baja. Pasir besi juga banyak

mengandung mineral-mineral magnetik seperti magnetit (Fe3O4), hematit (α –

Fe2O3 ) dan maghemit (ɣ-Fe2O3 ) sehingga pasir besi dapat digunakan di dalam

industri lain. Magnetit dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan tinta kering /

toner yang biasa digunakan di dalam mesin fotokopi dan printer laser. Maghemit

adalah bahan utama pembuatan pita kaset. Ketiga mineral tersebut juga dapat

digunakan dalam industri pembuatan magnet permanen (Yulianto et al., 2002).

2.3 Nanopartikel Magnetik ( ��� )

Bahan magnetik adalah salah satu bahan yang diketahui memiliki kualitas baik

dan telah diteliti secara intensif tahun ini dari sudut pandang ilmiah murni karena

memiliki sifat listrik dan optik yang unik. (V.L. Mathe, et al. 2008). Sifat

nanopartikel magnetik ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya adalah komposisi

(5)

partikel disekitarnya. Dengan mengubah ukuran, bentuk, komposisi dan struktur

nanopartikel, sifat magnetik material dapat dikontrol (S, Gubin. 2009).

Saat ini banyak dikembangkan penelitian tentang nanopartikel ferit spinel, hal

ini dikarenakan bidang aplikasinya yang sangat luas yaitu dalam sistem penyimpanan

data, transformator, memori komputer, induktor, recording heads, microwave dan

diagnosa medis. Sifat bahan ini mempunyai permeabilitas dan hambatan jenis yang

tinggi, koersivitas yang rendah. Nanopartikel ferit spinel merupakan ferit lunak yang

mempunyai struktur kristal kubik (Hermawan, 2015).

MgFe2O4 adalah material magnetik yang halus dan salah satu kelompok

spinel invers yang sangat penting. Beberapa alasan yang menyebabkan MgFe2O4

banyak menarik perhatian para peneliti dibandingkan ferrite yang lainnya adalah

potensinya yang besar untuk di aplikasikan karena MgFe2O4 memiliki nilai

magnetisasi saturasi yang tinggi, Suhu Curie dan tahanan listrik yang tinggi.

( Thant et al. 2010 )

MgFe2O4 juga merupakan material semikonduktor tipe n yang dapat

diaplikasikan sebagai adsorbsi, sensor dan digunakan pada teknologi magnetik. Hal

lain yang menarik dari MgFe2O4 ini adalah sifat kimia dan stabilitas termalnya yang

unik, serta ketergantungan sifat magnetik pada ukuran partikel. Diantara senyawa

spinel ferrite, superparamagnetik nanopartikel magnesium ferit telah dipelajari secara

luas, karena fitur unik nanopartikel magnetik dan memiliki relevansi yang besar

untuk teknologi modern termasuk resonansi agen kontras gambar, penyimpanan

informasi data seumur hidup dalam kerapatan yang tinggi (Chen, Q, et al. 1999).

Magnesium ferit adalah magnetik bi-oksida berbahan material keramik dengan

struktur spinel sebagian terbalik, sehingga distribusi kation di dalamnya dapat

diwakilkan. ( Dalt, dat, S et al,. 2011). Spinel magnesium ferit memiliki banyak sifat

menarik seperti aktivitas katalik yang tinggi, permeabilitas magnetik yang tinggi,

kelembaman dan karakteristik gas penginderaan. Selain itu, magnesium ferit

memiliki resistivitas yang tinggi, suhu Curie yang tinggi dan stabilitas yang

membuatnya menjadi kandidat baik untuk berbagai aplikasi penginderaan ( Oliver, et

al. 1995; Busca, G et al. 1996).

Nanopartikel MgFe2O4 juga dapat berperilaku sebagai nanopartikel

(6)

momen magnetik dari nano partikel magnetik masing-masing berada dalam arah

yang berbeda, dengan demikian keseluruhan momen magnetik bulk adalah nol

(Hermawan, 2015).

Kopresipitasi merupakan proses kimia dalam mensintesis senyawa anorganik

yang didasarkan pada pengendapan lebih dari satu substansi secara bersama–sama

ketika melewati titik jenuh. Proses diawali dengan adanya zat terlarut yang

mengendap sehingga menghasilkan endapan yang diinginkan. Pengendapan terjadi

sebagai akibat pembentukan kristal campuran. Selain itu endapan ini dapat pula

terbentuk karena adanya absorbsi (penyerapan) ion-ion selama proses pengendapan

(Nugroho, 2010; Pokropivny,V. et al. 2007).

Metode kopresipitasi merupakan metode yang menjanjikan karena

prosedurnya yang relatif sederhana dan menghasilkan distribusi ukuran butir yang

relatif sempit. Selain itu, metode ini juga dapat dilakukan pada kondisi lingkungan

normal. Dengan menggunakan metode ini, struktur kristal dan sifat magnetik dari

sampel yang disintesis dapat dioptimalkan dengan mengontrol parameter-parameter

sintesis seperti suhu, bahan pelarut, pH larutan, kecepatan pengadukan, lama

pengadukan, konsentrasi garam logam, konsentrasi kopresipitan dan konsentrasi

(7)

Adsorbsi permukaan merupakan suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida,

cairan maupun gas, terikat kepada suatu padatan atau cairan (adsorben) dan akhirnya

membentuk suatu adsorbat pada permukaannya, umumnya akan paling besar pada

endapan yang mirip gelatin dan paling sedikit pada endapan dengan sifat

makro-kristalin yang menonjol. Pada saat endapan terbentuk, langkah selanjutnya dalam

proses ini adalah meningkatkan kemurnian dari endapan dengan cara

menyaringendapan, melarutkannya lagi dan mengendapkan lagi secara

berulang-ulang.Hal ini dilakukan agar terjadi dekomposisi ion-ion yang terikat oleh larutan

pengikat (larutan basa) sedangkan ion-ion yang tidak terikat oleh larutan pengikat

akan bereaksi membentuk produk/hasil reaksi. Kopresipitasi memiliki reaksi fisik

dan kimia yang dapat dilihat pada tabel 2 (Sholihah, 2010; Fernandez, 2011).

Tabel 2. Reaksi fisik dan kimia dari metode kopresipitasi

Sifat Fisik Sifat Kimia

Suhu reaksi yang diperlukan , 100o C Proses Kopresipitasi akan meningkatkan pH

Pada kopresipitasi dilakukan Kopresipitasi dilakukan pada larutan

pengadukan secara terus menerus agar encer agar memudahkan proses

larutan homogeny Penyaringan

Memiliki ukuran partikel hasil sintetis Meningkatkan homogenitas dengan

lebih kecil daripada metode sol state penambahan larutan pengendap.

dan lebih besar daripada metode sol gel

Sumber : Sholilah, 2010, Fernandez, 2011

Produk dari metode ini diharapkan memiliki ukuran partikel yang lebih kecil

dan lebih homogen daripada metoda solid state dan ukuran partikel yang lebih besar

dari pada metoda sol-gel. Bila suatu endapan memisah dari dalam suatu larutan,

endapan itu tidak selalu sempurna murninya, kemungkinan mengandung berbagai

jumlah zat pengotor, bergantung pada sifat endapan dan kondisi pengendapan.

Kontaminasi endapan oleh zat-zat yang secara normal larut dalam cairan induk

dinamakan kopresipitasi. Kita harus membedakan dua jenis kopresipitasi yang

penting. Yang pertama adalah yang berkaitan dengan adsorpsi pada permukaan

(8)

zat asing sewaktu proses pertumbuhan kristal dari partikel-partikel primer (Sholihah,

2010; Fernandez, 2011).

Bila suatu endapan memisah dari suatu larutan, endapan itu tidak selalu

sempurna murninya, kemungkinan mengandung berbagai jumlah zat pengotor,

bergantung pada sifat endapan dan kondisi endapan pengendapan. Kontaminasi

endapan oleh zat-zat yang secara normal larut dalam cairan induk dinamakan

kopresipitasi. Mengenai adsorpsi permukaan (adsorpsi adalah suatu proses yang

terjadi ketika suatu fluida, cairan maupun gas, terikat kepada suatu padatan atau

cairan (adsorben) dan akhirnya membentuk suatu lapisan tipis (adsorbat) pada

permukaannya), umumnya akan paling besar pada endapan yang mirip gelatin dan

paling sedikit endapan dengan sifat makro-kristalin yang menonjol. Endapan dengan

kisi-kisi ionik nampak mengikuti aturan adsorpsi Paneth-Fajans-Hahn, yang

menyatakan bahwa ion yang membentuk garam yang paling sedikit larut. Maka pada

sulfat yang sedikit larut, ion kalsium lebih utama diadsorpsi ketimbang ion

magnesium, karena kalsium sulfat kurang larut ketimbang magnesium sulfat. Juga

perak ionida mengadsorpsi perak asetat jauh lebih kuat disbanding perak nitrat pada

kondisi-kondisi yang sebanding, karena kelarutan perak asetat lebih rendah.

Deformabilitas (mudah diubah bentuknya) ion-ion yang diadsorpsi dan disosiasi

elektrolit dari senyawaan yang diadsorpsi juga mempunyai pengaruh yang sangat

besar, semakin kecil disosiasi senyawa maka semakin besar teradsorpsinya.

Jenis kopresipitasi yang kedua terjadi sewaktu endapan dibangun dari

partikel-partikel primernya. Partikel primer ini akan mengalami adsorpsi permukaan

sampai tingkat tertentu dan sewaktu partikel-partikel ini saling bergabung, zat

pengotor itu akan hilang sebagian jika terbentuk kristal-kristal tunggal yang besar

dan prosesnya berlangsung lambat, atau jika saling bergabung itu cepat mungkin

dihasilkan kristal-kristal besar yang tersusun dari kristal-kristal kecil yang terikat

lemah, dan sebagian pengotor mungkin terbawa masuk kebalik dinding kristal besar.

Jika zat pengotor ini isomorf atau membentuk larutan-padat dengan endapan, jumlah

kopresipitasi kemungkinan akan sangat banyak, karena tidak akan ada

kecenderungan untuk menyisihkan zat pengotor sewaktu proses pematangan.

Pascapresipitasi (postpresipitasi) adalah pengendapan yang terjadi diatas

(9)

larut, yang membentuk larutan lewat-jenuh, zat-zat ini umumnya mempunyai satu

ion yang sama dengan salah satu ion endapan primer (endapan pertama). Maka pada

pengendapan kalsium sebagai oksalat dengan adanya magnesium, magnesium

oksalat berangsur-angsur memisah dari larutan dan mengendap diatas kalsium

oksalat, makin lama endapan dibiarkan bersentuhan dengan larutan itu, maka makin

besar sesatan yang ditimbulkan oleh penyebab ini (Negara, dkk. 2008).

2.5 Pengertian Magnet

Magnet adalah suatu materi yang mempunyai suatu medan magnet. Magnet

juga merupakan material maju yang sangat penting untuk beragam aplikasi teknologi

canggih, berfungsi sebagai komponen pengubah energi gerak menjadi listrik dan

sebaliknya, seperti: otomotif, elektronik dan energi (Collocott, S.J. et al. 2007).

Magnet merupakan suatu fenomena yang sangat menarik untuk dikaji, karena

pada material magnet dapat ditarik atau ditolak tanpa adanya sentuhan secara

langsung. Hal tersebut sudah diketahui sejak ratusan tahun yang lalu. Akan tetapi

mekanisme dan prinsip yang mendasarinya mulai dimengerti secara ilmiah pada abad

ke 18, yaitu oleh fisikawan belanda Hans Cristian Oersted membuat suatu

eksperimen yang menerangkan adanya efek-efek magnet yang dialiri arus listrik

(Muklisin, 2013).

Magnet dapat menarik benda lain, beberapa benda bahkan tertarik lebih kuat

dari yang lain, yaitu bahan logam. Namun tidak semua logam mempunyai daya tarik

yang sama terhadap magnet. Besi dan baja adalah dua contoh materi yang

mempunyai daya tarik yang tinggi oleh magnet. Sedangkan oksigen cair adalah

contoh materi yang mempunyai daya tarik yang rendah oleh magnet. Satuan

intensitas magnet menurut sistem metrik Satuan Internasional (SI) adalah Tesla dan

SI unit untuk total fluks magnetik adalah weber (1 weber/m2 = 1 tesla) yang

mempengaruhi luasan satu meter persegi (Afza, 2011).

2.6 Sifat Kemagnetan Bahan 2.6.1 Ferromagnetik

Ferromagnetik merupakan bahan yang memiliki nilai suseptibilitas magnetik

positif yang sangat tinggi. Dalam bahan ini sejumlah kecil medan magnetik luar

(10)

atomnya. Dalam beberapa kasus, penyearahan ini dapat bertahan sekalipun medan

kemagnetannya telah hilang. Hal ini terjadi karena momen dipol magnetik atom dari

bahan-bahan ferromagnetik ini mengarahkan gaya-gaya yang kuat pada atom di

sebelahnya. Sehingga dalam daerah ruang yang sempit, momen ini disearahkan satu

sama lain sekalipun medan luarnya tidak ada lagi. Daerah ruang tempat momen dipol

magnetik yang disearahkan ini disebut daerah magnetik. Dalam daerah ini, semua

momen magnetik disearahkan, tetapi arah penyearahnya beragam dari daerah

sehingga momen magnetik total dari kepingan mikroskopi bahan ferromagnetik ini

adalah nol dalam keadaan normal (Tipler, 2001).

Gambar 1. Momen magnetik Ferromagnetik

2.6.2 Anti Ferromagnetik

Bahan anti ferromagnetik adalah suatu bahan yang memiliki suseptibilitas

positif yang kecil pada segala temperatur, tetapi perubahan suscepbilitas karena

tempratur adalah keadaan yang sangat khusus. Susunan dwikutubnya adalah sejajar

tetapi berlawanan arah, diperlihatkan pada Gambar 2

Gambar 2. Momen magnetik anti Ferromagnetik

2.6.3 Ferrimagnetik

Pada bahan yang bersifat dipol yang berdekatan memiliki arah yang

berlawanan tetapi momen magnetiknya tidak sama besar. Bahan ferrimagnetik

memiliki nilai susepbilitas tinggi tetapi lebih rendah dari bahan ferromagnetik,

beberapa contoh dari bahan ferrimagnetik adalah ferrite dan magnetite (Mujiman,

(11)

Gambar 3. Momen magnetik Ferrimagnetik

2.6.4 Paramagnetik

Bahan paramagnetik adalah bahan-bahan yang memiliki suseptibilitas

magnetik Xm yang positif dan sangat kecil. Paramagnetik muncul dalam bahan

atom-atomnya memiliki momen magnetik hermanen yang berinteraksi satu sama lain

secara sangat lemah. Apabila tidak terdapat medan magnetik luar, momen magnetik

ini akan berorientasi acak. Dengan adanya medan magnetik luar, momen magnetik

ini arahnya cenderung sejajar dengan medannya, tetapi ini dilawan oleh

kecenderungan momen untuk berorientasi acak akibat gerak termalnya.

Perbandingan momen yang menyearahkan dengan medan ini bergantung pada

kekuatan medan pada temperatur yang sangat rendah, hampir seluruh momen akan

disearahkan dengan medannya ( Tipler, 2001).

Gambar 4. Momen magnetik Paramagnetik

2.6.5 Diamagnetik

Bahan diamagnetik merupakan bahan yang memiliki nilai suseptibilitas

negatif dan sangat kecil. Sifat diamagnetik ditemukan oleh faraday pada tahun 1846

ketika sekeping bismuth ditolak oleh kedua kutub magnet, hal ini memperlihatkan

bahwa medan induksi dari magnet tersebut menginduksi momen magnetik pada

bismuth pada arah berlawanan dengan medan induksi pada magnet (Tipler, 2001).

2.7. Histerisis Magnet

Magnet biasanya dibagi atas dua kelompok yaitu: magnet lunak dan magnet

keras. Magnet keras dapat menarik bahan lain yang bersifat magnet. Selain itu sifat

kemagnetannya dapat dianggap cukup kekal. Magnet lunak dapat bersifat magnetik

dan dapat menarik magnet lainnya. Namun, hanya memiliki sifat magnet apabila

berada dalam medan magnet dan sifat kemagnetannya tidak kekal. Perbedaan antara

(12)

menggunakan loop histerisis yang telah dikenal seperti pada gambar 5.

Bila bahan magnet berada dalam medan magnet, H, “garis gaya yang

berdekatan” akan tertarik ke dalam bahan sehingga rapat fluks meningkat. Dikatakan bahwa, induksi magnet, B meningkat. Dengan sendirinya, jumlah induksi tergantung

pada medan magnet dan jenis bahan. Pada contoh Gambar 5, rasio B/H tidak linear,

terjadi lompatan induksi mencapai level yang tinggi, kemudian rasio tersebut hampir

konstan dalam medan yang lebih kuat.

(a) (b) (c)

Gambar 5. Kurva Magnetisasi

a. Induksi awal (B) versus medan magnet (H).

b. Loop histerisis (magnet lunak).

c. Loop histerisis (magnet keras). (Van Vlack, 1984)

Baik induksi remanen (rapat fluks) dan medan koersif, B dan –HC

masing-masing, besar untuk magnet keras. Hasil perkalian BH merupakan patokan untuk

energi demagnetisasi. Pada magnet lunak, terjadi penurunan kembali yang hampir

sempurna jika medan magnet ditiadakan.

Medan magnet bolak-balik akan menghasilkan kurva simetris dikuadran

ketiga. Kurva histeris magnet permanen sangat berbeda. Bila medan magnet

ditiadakan, induksi tersisa akan menghasilkan induksi remanen Br. Medan yang

berlawanan yang disebut medan koersif, -Hc, diperlukan sebelum induksi turun

menjadi nol. Sama dengan medan lunak, loop tertutup dari magnet memiliki simetri

(13)

energy per satuan volume (J/m3) disebut dengan energy produk maksimum (BH)max,

luas daerah hasil integrasi di dalam loop histerisis adalah sama dengan energi yang

diperlukan untuk siklus magnetisasi mulai dari 0 sampai +H hingga – H sampai 0.

Energi yang dibutuhkan magnet lunak dapat diabaikan, magnet keras memerlukan

energi lebih banyak sehingga kondisi - ruang, demagnetisasi dapat diabaikan.

Dikatakan dengan magnetisasi permanen.

Magnet permanen dapat diberi indeks berdasarkan medan koersif yang

diperlukan untuk menghilangkan induksi. Patokan ukuran yang lebih baik adalah

hasil kali BH. Hasil kali BH maksimum lebih sering digunakan karena merupakan

barier energi kritis yang harus dilampaui. Magnet lunak merupakan pilihan tepat

untuk penggunaan pada arus bolak-balik atau frekuensi tinggi, karena harus

mengalami magnetisasi dan demagnetisasi berulang kali selama selang satu detik.

Spesifikasi yang agak kritis untuk magnet lunak adalah induksi jenuh (tinggi), medan

koersif (rendah), dan permeabilitas maksimum (tinggi) (Van Vlack, 1984).

2.8 Karakterisasi

2.8.1 True Density ( Densitas )

Densitas (�) adalah suatu ukuran massa (m) persatuan volume (V) suatu material dalam satuan / 3. Beberapa faktor yang mempengaruhi densitas adalah

ukuran dan berat atom suatu elemen, kuatnya pengepakan atom dalam struktur

kristal, dan besarnya porositas dalam mikrostruktur (Mujiman, 2004).

�= (2.1)

Dengan :

� = Densitas (�/ 3) = Massa (�)

� = Volume( 3)

Ada dua macam densitas yaitu: true density dan bulk density (metode

Archimedes). True density adalah kerapatan dari serbuk yang diukur dengan

menggunakan piknometer. Densitas serbuk dapat dihitung dengan rumus:

�= 3 − 1

(14)

1 = massa piknometer kosong (g)

2 = massa piknometer + aquades (g)

3 = massa piknometer + serbuk (g)

4 = massa piknometer + serbuk + aquades (g)

� media cair = Nilai massa jenis cairan yang digunakan (g)

2.8.2 Optical Microscope (OM)

Optical Microscope (OM) mempunyai fungsi yang hampir sama dengan

Scanning Electron Microscope (SEM) yaitu untuk mengetahui bentuk dan ukuran

dari butir-butir serta mengetahui interaksi satu butir dengan butir lainnya. Melalui

observasi dengan OM dapat diamati seberapa jauh ikatan butiran yang satu dengan

yang lainnya dan apakah terbentuk lapisan di antara butiran atau disebut grain

boundary.

Adapun perbedaan antara SEM dan OM adalah terletak pada perbesaran

obyek (resolusi) yang lebih tinggi daripada mikroskop optik. Sebenarnya, dalam

fungsi perbesaran obyek, SEM juga menggunakan lensa, namun bukan berasal dari

jenis gelas sebagaimana pada mikroskop optik, tetapi dari jenis magnet. Sifat medan

magnet ini bisa mengontrol dan mempengaruhi elektron yang melaluinya, sehingga

bisa berfungsi menggantikan sifat lensa pada mikroskop optik (Tabitaria, 2015).

2.8.3 X-Ray Diffraction (XRD)

Sinar X merupakan gelombang elektromagnetik yang dapat digunakan untuk

mengetahui struktur kristal dan fasa suatu material. Bila sinar x dengan panjang

gelombang λ diarahkan kesuatu permukaan kristal dengan sudut datang, maka

sebagian sinar dihamburkan oleh bidang atom dalam kristal. Berkas sinar x yang

dihamburkan dalam arah-arah tertentu akan menghasilkan puncak-puncak difraksi

yang dapat diamati dengan peralatan X-Ray Diffraction (Cullity, 1978).

Fenomena interaksi dan difraksi sudah dikenal pada ilmu optik. Standart pengujian

laboratorium fisika adalah untuk menentukan jarak antara dua gelombang dengan

mengetahui panjang gelombang sinar, dengan mengukur sudut berkas sinar yang

terdifraksi. Pengujian ini merupakan aplikasi langsung dari pemakaian sinar-X untuk

(15)

Gambar 6. Difraksi bidang atom

Gambar 6 menunjukkan suatu berkas sinar X dengan panjang gelombang λ, jatuh

pada sudut θ pada sekumpulan bidang atom berjarak d. Sinar yang dipantulkan dengan sudut θ hanya dapat terlihat jika berkas dari setiap bidang yang berdekatan

dan menempuhkan jarak sesuai dengan perbedaan kisi yaitu sama dengan panjang

gelombang n λ. Menurut syarat terjadinya difraksi, beda lintasan merupakan

kelipatan bilangan bulat dari panjang, sehingga hal tersebut dirumuskan W.L.Brag

�= 2 � � (2.3)

dengan :

n = orde difraksi (n = bilangan bulat 1,2,3…)

λ = panjang gelombang sinar-X (mm) d = jarak antar bidang (mm)

� = sudut difraksi (o)

Untuk mengetahui fasa dan struktur material yang diamati dapat dilakukan

dengan cara sederhana, yaitu dengan cara membandingkan nilai d yang terukur

dengan nilai d pada data standart. Data d standart dapat diperoleh melalui Joint

Commitee On Powder Difraction Standart (JCPDS) atau dengan metode Hanawalt

file.

Derajat kristalinitas yaitu besaran yang menyatakan banyaknya kandungan

kristal dalam suatu material dengan membandingkan luasan kurva kristal dengan

total luasan amorf dan kristalit. Derajat kristalinitas dihitung menggunakan

parameter Full Width at Half Maximum (FWHM) (Nurmawati, 2007).

(16)

= ��

cos� (2.4)

Dimana D merupakan diameter rata-rata, K merupakan faktor keadaan, B merupakan

perluasan full width at half maximum (FWHM) puncak difraksi yang dihitung dalam

radian, dan � merupakan panjang gelombang sinar-x dan � merupakan sudut difraksi Bragg (Skoog, 1998).

2.8.4 Vibrating Sampel Magnetometer (VSM)

Semua bahan mempunyai momen magnetik jika ditempatkan dalam medan

magnetik. Momen magnetik per satuan volume dikenal sebagai magnetisasi. Secara

prinsip ada dua metoda untuk mengukur besar magnetisasi ini, yaitu metoda induksi

(induction method) dan metoda gaya (force method). Pada metoda induksi,

magnetisasi diukur dari sinyal yang ditimbulkan / diinduksikan oleh cuplikan yang

bergetar dalam lingkungan medan magnet pada sepasang kumparan. Sedangkan pada

metoda gaya pengukuran dilakukan pada besamya gaya yang ditimbulkan pada

cuplikan yang berada dalam gradien medan magnet.

VSM (Vibrating Sample Magnetometer) merupakan salah satu alat ukur

magnetisasi yang bekerja berdasarkan metoda induksi. Pada metoda ini, cuplikan

yang akan diukur magnetisasinya dipasang pada ujung bawah batang kaku yang

bergetar secara vertikal dalam lingkungan medan magnet luar H. Jika cuplikan

termagnetisasi, secara permanen ataupun sebagai respon dari adanya medan magnet

luar, getaran ini alan mengakibatkan perubahan garis gaya magnetik. Perubahan ini

akan menginduksikan/ menimbulkan suatu sinyal tegangan AC pada kumparan

pengambil (pick-up coil atau sense coil) yang ditempatkan secara tepat dalam sistem

medan magnet ini.

Selanjutnya sinyal AC ini akan dibaca oleh rangkaian pre-amp dan Lock-in

amplifier. Frekuensi dari Lock-in amplifier diset sarna dengan frekuensi getaran

sinyal referensi dari pengontrol getaran cuplikan. Lock in amplifier ini akan

membaca sinyal tegangan dari kumparan yang sefasa dengan sinyal referensi.

Kumparan pengambil biasanya dirangkai berpasangan dengan kondisi arah lilitan

yang berlawanan. Hal ini untuk menghindari terbacanya sinyal yang berasal dari

selain cuplikan, misalnya dari akibat adanya perubahan medan magnet luar itu

(17)

suhu cuplikan, sudut dan interval waktu pengukuran dapat divariasikan melalui

kendali komputer. Komputer akan merekam data tegangan kumparan sebagai fungsi

medan magnet luar, suhu, sudut ataupun waktu (Mujamilah dkk. 2000).

2.8.5 Atomic Adsorption Spectrophotometric (AAS)

Adsorpsi adalah suatu peristiwa fisik yang terjadi pada permukaan suatu

padatan. Adsorpsi terjadi jika gaya tarik-menarik antara zat terlarut dengan

permukaan penyerap dapat mengatasi gaya tarik-menarik antara pelarut dengan

permukaan penyerap (Oscik, 1982). Zat atau molekul yang terserap ke permukaan

disebut adsorbat, sedangkan zat atau molekul yang menyerap disebut adsorben

(Sukardjo, 1985).

AAS (Atomic Absorption Spectroscopy) dalam kimia analitik dapat diartikan

sebagai suatu teknik untuk menentukan konsentrasi unsur logam tertentu dalam suatu

cuplikan. Teknik pengukuran ini dapat digunakan untuk menganalisis konsentrasi

lebih dari 62 jenis unsure logam.

Teknik Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) dikembangkan oleh suatu tim

peneliti kimia Australia pada tahun 1950-an, yang dipimpin oleh Alan Walsh, di

CSIRO (Commonwealth Science and Industry Research Organization) bagian kimia

fisik di Melbourne, Australia. Unsur-unsur dalam cuplikan diidentifikasikan dengan

sensitivitas dan limit deteksi pada teknik pengukuran ini dapat mencapai < 1 mg/L (1

ppm) bila menggunakan lampu nyala biasa dan dapat dicapai sampai 0,1 ppm dengan

menggunakan prosedur SSA yang lebih canggih.

Dalam spektroskopi atomik, faktor-faktor yang dapat menyebabkan pelebaran

garsi spectra merupakan suatu masalah dalam sistem analisis metode ini. Dua hal

yang paling sering menimbulkan problem ini adalah pelebaran efek Doppler

(Doppler Boardening) dan pelebaran tekanan (Pressure Boardening) (Kumala Sari,

2001).

2.8.6 Field Emission Scaning Electron Microscopy (FE-SEM)

FE-SEM adalah alat yang sangat berguna untuk pencitraan permukaan

beresolusi tinggi di bidang nanomaterial. Pengujian FE-SEM juga dilakukan untuk

menguji penumbuhan nanopartikel pada bahan dengan menggunakan imbasan

(18)

elektron yang dipercepat dengan anoda dan difokuskan menuju sampel. Sinar

elektron yang terfokus memindai keseluruhan sampel dengan diarahkan oleh koil

pemindai. Ketika elektron mengenai sampel maka sampel akan mengeluarkan

elektron baru yang akan diterima oleh detektor dan dikirim ke monitor. Intensitas

elektron baru ini tergantung pada nomor atom unsur yang ada pada permukaan

spesimen. Mikroskop elektron mampu mencapai resolusi yaitu sekitar 10-1– 10-2 nm.

Dengan menggunakan elektron kita juga bisa mendapatkan beberapa jenis pantulan

yang berguna untuk kepentingan karakterisasi. Jika elektron mengenai suatu benda

maka akan timbul dua jenis pantulan yaitu pantulan elastis dan pantulan non elastis.

Elektron dihasilkan dari katoda (electroda gun) melalui efek foto listrik dan

dipercepat menuju anoda. Filamen yang digunakan pada umumnya adalah tungsten

atau Lanthanum Heksaborida (LaB6).

Kumparan pemindai akan melakukan pembelokan pada elektron sehingga

menjadi sekumpulan susunan berkas yang lebih kecil yang disebut pelebaran

pemindai (scaning beam) dan lensa objektif (magnetik) yang akan memfokuskannya

pada permukaan sampel. Tumbukan dengan atom material menyebabkan elektron

kehilangan energi. Sehingga mengakibatkan hamburan dan absorbsi pada daerah

interaksi dengan kedalaman 100 nm hingga 2 µm. Pada FE-SEM, sinyal yang diolah

merupakan hasil deteksi dari elektron yang berpindah dari permukaan sampel

Gambar

Tabel 1. Sifat fisika dan kimia Magnesium Ferit (MgFe2O4 )
Tabel 2. Reaksi fisik dan kimia dari metode kopresipitasi
Gambar 2. Momen magnetik anti Ferromagnetik
Gambar 4. Momen magnetik Paramagnetik
+3

Referensi

Dokumen terkait

Secara praktis kepada pihak-pihak yang terkait langsung dalam Penelitian Tindakan Kelas ini, (a) Semua siswa hendaknya lebih semangat dalam menggunakan ICT dalam

This research aims to reveal how Miss Jinjing Belanja Sampai Mati’s text book presents and reflects women image using of simulation imaginary model of Jean Baudrillard, and how

Kelas benih dasar menghasilkan jumlah gabah per malai lebih banyak daripada kelas benih lainnya, bila ditanam dengan sistem legowo 2:1 dan legowo 4:1, sedangkan benih dasar dan

Judul Skripsi : Analisis Sistem Informasi Geografi tentang Polarisasi Kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.. Menyatakan dengan

Dari 10 kali pengamatan persentase serangan A.gossypii pada tanaman cabai umur 2 mst sampai 8 mst lebih tinggi di dataran rendah di- bandingkan dengan dataran tinggi, namun

Di PT Kunango Jantan genset sangat dibutuhkan sebagai suplai cadangan1. untuk ruangan-ruangan tertentu apabila terjadi gangguan pada

Variabel afektif mengukur 11 indikator yaitu (1) pentingnya perencanaan pernikahan usia ideal, (2) pentingnya perencanaan kehamilan usia ideal, (3) pentingnya

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa setelah diberikan perlakuan yang berbeda kepada kedua kelompok siswa yang menjadi subjek penelitian, ditemukan nilai rata- rata