• Tidak ada hasil yang ditemukan

Toleransi Sosial Dalam Lingkungan Sekolah Multikultural (Studi Pada Siswa Siswi SMA YP. Sultan Iskandar Muda Medan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Toleransi Sosial Dalam Lingkungan Sekolah Multikultural (Studi Pada Siswa Siswi SMA YP. Sultan Iskandar Muda Medan)"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah negara yang memiliki keberagaman baik suku, ras maupun agama. Keberagaman ini merupakan sesuatu yang dapat dikatakan suatu daya tarik Negara ini. Sebagaimana semboyan Indonesia yaitu “Bhinneka Tunggal Ika” yang berartimeski berbeda-beda namun tetap satu jua, yakni Indonesia. Dari semboyan tersebutlah rakyat Indonesia di harapkan dapat tetap berdampingan secara damai dalam keberagaman tersebut. Dimana Indonesia merupakan Negara dengan beragam suku, etnis dan juga agama. Negara kita memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, dan 6 agama nya yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghuchu.

(2)

dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang keragaman budayanya amat sangat bervariasi.

(3)
(4)

Lalu seperti yang dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 yang mengakui adanya enam agama di Indonesia. Kehidupan beragama tercermin dalam sikap, perilaku dan tindakan sesuai dengan nilai-nilai agama yang menekankan hidup beragama, toleransi dan penghargaan atas pluralitas yang belakangan ini mengalami tantangan yang hebat sekali. Toleransi itu sendiri dalam kehidupan beragama di Indonesia yang sangat multikultural dan multiagama, mungkin tidak akan mudah untuk belajar toleransi apalagi dalam hal beragama karena agama adalah hal yang sangat luhur dan tidak bisa diganggu gugat.

Dengan segala perbedaan yang ada tersebut sudah tentu rentan terhadap konflik. Sehingga agar terhindar dari konflik yang tidak diinginkan tentu kita membutuhkan suatu sikap saling menghargai perbedaan masing-masing yang biasa disebut dengan toleransi. Dalam penerapan toleransi tentu saja bukan hal yang selalu berjalan mulus terutama bagi negara yang multikultural. Misalnya adanya konflik

keberagaman atau ketidakrukunan hidup yang muncul dari perbedaan. Sebagai contoh

kasus yang terjadi di Poso.

(5)

pemeluk agama islam dan kristen. Peristiwa kerusuhan diawali dengan pertikaian antardua pemuda yang berbeda agama sehingga belarut dan berhujung dengan terjadinya kerusuhan. Impliksasi – implikasi kepentingan politik elite nasional, elite lokal dan miiter militer juga diduga menyulut terjadinya konflik horizonttal sehingga sulit mencari penyelesaian yang lebih tepat. Bahkan, terkesan pihak keamanan porli lamban menangani konflik tersebut. Sehigga konflik terjadi belarut – larut yang memakan korban jiwa dan harta.

Secara umum konflik di poso sudah berlangsung tiga kali. Peristiwa pertama terjadi akhir 1998, lebih 17 bulan kemudian tepatnya pada 16 april 2000 konflik kedua pun pecah. Pada kerusuhan ini ada dugaan bahwa ada oknum yang bermain di belakang peristiwa ini yaitu : Herman Parimo dan Yahya Patiro yang beragama kristen. Kedua oknum ini adalah termasuk elite politik dan pejabat pemerintah daerah kabupaten poso.

(6)

( Oktober 2014, pukul 11.00 WIB )

Selain itu dari sikap toleransi, tumbuhlah sikap perduli juga sangat dibutuhkan meski sulit di praktekkan. Sikap perduli atau empati merupakan sikap yang secara ikhlas mau merasakan pikiran dan perasaan orang lain serta keperdulian yang mendalam sehingga tumbuh rasa iba dan kasih untuk dapat menolong orang lain. Rasa empati ini merupakan kelanjutan rasa simpati. Maka dari itu sikap empati sosial ini sangat dibutuhkan didalam masyarakat majemuk agar tercipta suasana aman dan tenteram serta sejahtera.

(7)

Faktor lainnya yang sering diutarakan adalah kenyataan sejarah bahwa masyarakat wilayah ini sudah lama menjadi masyarakat majemuk. Bahkan sebelum era kemerdekaan ketika wilayah pantai timur pulau Sumatera dibuka terutama untuk perkebunan, hingga membutuhkan banyak pekerja dan menarik banyak perantau untuk datang. Ini juga dikatakan sebagian pihak membentuk watak orang medan sekitarnya yang kalkulasi untung ruginya hingga ke peringkat tertentu masih bisa meredam keganasan semangat primordial sebagian besar warga. Itulah sebabnya kerusuhan sosial juga baru akan meletus jika adanya momentum yang tepat dan konteks yang mendukung. Memang aneh mengapa kecelakaan kecil dapat membakar kembali konflik horizontal di Ambon. Sedangkan di Medan, beberapa kali ledakan bom terjadi bahkan ada yang menelan korban, namun tidak menimbulkan riuh kerusuhan.

(8)

untuk saling menjaga ketentraman umat beragama karena bukan tidak mungkin nantinya hal seperti ini berakhir dengan konflik SARA.

Untuk menjaga kondusif nya lingkungan beragama dalam masyarakat dilakukan penandatanganan kesepakatan majelis-majelis agama dan FKUB yang isinya antara lain kesepakatan menjaga kekondusifan dan harmonisasi umat beragama di Kota Medan demi terwujudnya Kota Medan yang modern, madani, religius dan harmonis.

(http://www.jpnn.com/read/2010/09/18/72482/Kapolda:-Perusakan-Masjid-Murni-Kriminal-dilihat : 11 Maret Pukul 11:40)

(9)

tidak dilakukan, dan sebagian kecil orang tua memilih untuk pendidikan home-schooling, e-learning atau yang serupa untuk anak-anak mereka. (Wikipedia Pendidikan)

Sekolah adalah salah satu lembaga pendidikan formal utama dalam dunia pendidikan, sekolah juga dapat dikatakan sebagai kelompok sosial karena adanya interaksi sosial yang berlangsung didalamnya seperti interaksi antara guru dan murid dimana mereka dapat berinteraksi lebih dekat. Contohnya saat murid kurang paham tentang pelajaran yang diberikan oleh gurunya, maka guru dapat memberikan penjelasan yang lebih detail. Robert K Merton menyatakan sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan, disebut kelompok sosial, hal ini menegaskan bahwa sekolah merupakan kelompok sosial. Merton membagi tiga kriteria suatu kelompok :

1. Memiliki pola interaksi

2. Pihak yang berinteraksi mendefenisikan dirinya sebagai anggota kelompok

3. Pihak yang berinteraksi didefenisikan oleh orang lain sebagai anggota kelompok.

(10)

akan semakin kuat jika diantara mereka ada kepentingan atau pun adanya kepercayaan. Namun tidak jarang terjadi hubungan yang tidak baik misalnya perkelahian atau pun hubungan siswa laki-laki dan perempuan yang tidak semestinya dibentuk di sekolah.sekolah melarang adanya hubungan pacaran disekolah karena pihak sekolah merasa siswa tidak seharusnya membangun hubungan seperti ini, siswa memiliki tanggung jawab sebagai seorang siswa, yakni belajar dan menaati peraturan.

(11)

Sekolah ini juga menjunjung tinggi Nasionalisme dan Pancasila dan serta Bhineka Tunggal Ika dimana siswa-siswi dididik untuk mencintai Negara tanpa ada perselisihan karena perbedaan suku,ras maupun agama. Perbedaan merupakan indikator terbesar konflik dalam keberagaman di sekolah. Jika dalam sekolah mendidikkan pentingnya toleransi sosial dalam kehidupan beragama maka potensi konflik dalam sekolah tidak akan membesar sebab dengan adanya ajaran-ajaran kebaikan seperti tenggang rasa, saling hormat-menghormati dan saling tolong menolong pun masih memiliki potensi konflik yang disebabkan banyak hal antara lain beberapa siswa yang memiliki ego yang tinggi atau siswa-siswi yang memiliki tingkat kenakalan yang diluar batas kendali. (Ibnu.blogspot.com:2011).

(12)

memiliki interaksi sosial tidak saja bersifat formal namun juga informal misalnya sesama siswa/i dididik dan ditanamkan perasaan kebersamaan dalam perbedaan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dilatar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana bentuk toleransi sosial multikultural yang ada di lingkungan sekolah YP. Sultan Iskandar Muda Medan.

2. Bagaimana aplikasi-aplikasi penerapan toleransi sosial yang ada di sekolah serta kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan nilai toleransi multikultural pada siswa-siswi SMA YP. Sultan Iskandar Muda Medan?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana bentuk toleransi sosial multikultural yang ada di lingkungan sekolah YP. Sultan Iskandar Muda Medan.

2. Untuk mengetahui aplikasi-aplikasi penerapan toleransi sosial yang ada di sekolah serta kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan nilai toleransi pada siswa-siswi SMA YP. Sultan Iskandar Muda Medan

1.4 Manfaat Penelitian

(13)

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan kajian ilmiah bagi mahasiswa khususnya bagi mahasiswa sosiologi serta dapat memberikan kontribusi bagi ilmu sosial, masyarakat, dan pemerintah serta diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan pada umumnya.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan penulis karya ilmiah khususnya yang berhubungan dengan masalah toleransi antar pemeluk agama. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat bermanfaat bagi pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan dapat dijadikan acuan bagi pihak sekolah yang terkait dalam meningkatkan konsep toleransi sosial dalam lingkungan sekolah multikultural.

1.5 Defenisi Konsep

Konsep-konsep yang digunakan dan sesuai dengan konteks penelitian ini adalah :

1. Toleransi adalah sikap dimana adanya rasa saling menghargai dalam perbedaan.

(14)

3. Multikultural adalah kondisi dalam suatu kelompok sosial dimana terdiri dari beberapa komunitas budaya dengan berbagai perbedaan konsepsi tentang sistem, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan.

4. Kelompok sosial menurut soerjono soekanto adalah himpunan atau satu kesatuan manusia yang hidup bersama karena adanya hubungan antara mereka secara timbal balik dan saling mempengaruhi.

5. Interaksi Sosial yang dimaksud disini adalah hubungan timbal balik yang terjadi antar pemeluk agama di kalangan siswa-siswi SMA serta bentuk hubungan yang terbentuk dengan guru-guru, staf dan siswa-siswi lainnya di YP.Sultan Iskandar Muda Medan.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk melihat apakah student engagement tergambar dalam sekolah yang bermuatan pendidikan multikultural, dalam hal ini adalah SMA Sultan Iskandar Muda Medan, maka

Alat ukur yang digunakan adalah skala persepsi iklim sekolah yang disusun oleh peneliti berdasarkan 4 aspek persepsi iklim sekolah yang dikemukakan oleh Thapa,

Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Ritonga (2016) tentang gambaran student engagement di sekolah dengan pendidikan multikultural, dalam hal ini SMA Sultan Iskandar Muda

terdapat pengaruh persepsi iklim sekolah terhadap student engagement pada siswa. SMA Sultan Iskandar

Guru di sekolah saya hanya menyukai siswa yang memiliki prestasi yang baik di kelas.. NO PERNYATAAN STS TS S

Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik observasi partisipasi dengan mengamati segala kegiatan warga sekolah.Wawancara yang dilakukan kepada warga sekolah

Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik observasi partisipasi dengan mengamati segala kegiatan warga sekolah.Wawancara yang dilakukan kepada warga sekolah

program pendidikan perdamaian yang sudah dilakukan oleh Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan dan Sekolah Karang Turi yaitu Pelatihan dan pembentukan kelompok-kelompok