TUGAS AKHIR-RE 091324
UNIT AERASI, SEDIMENTASI, DAN BIOSAND
FILTER SEBAGAI PEREDUKSI COD, TSS,
NITRAT, DAN FOSFAT AIR LIMBAH
ARTIFICIAL ( CAMPURAN GREY DAN BLACK
WATER)
BAHARI PURNAMA NRP. 3309100060 Dosen Pembimbing
PROF. DR. NIEKE KARNANINGROEM, MSC.
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
FINAL PROJECT-RE 091324
AERATION, SEDIMENTATION, AND BIOSAND
FILTER UNIT AS COD, TSS, NITRATE AND
PHOSPHATE REMOVER OF MIX GREYWATER
AND BLACKWATER ARTIFICIAL
BAHARI PURNAMA NRP. 3309100060 Supervisor
PROF. DR. NIEKE KARNANINGROEM, MSC.
DEPARTEMENT OF ENVIRONMENTAL ENGINEERING FACULTY OF CIVIL ENGINEERING AND PLANNING INSTITUTE OF TECHNOLOGY SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
iii
FOSFAT AIR LIMBAH ARTIFICIAL (CAMPURAN GREY
DAN BLACK WATER)
Mahasiswa : Bahari Purnama NRP : 3309100060
Pembimbing : Prof. Dr. Nieke Karnaningroem, MSc
ABSTRAK
Meningkatnya jumlah air limbah domestik yang tidak diimbangi dengan peningkatan badan air dari aspek kapasitas maupun kualitasnya, menyebabkan jumlah air limbah yang masuk ke badan air melebihi daya tampung maupun daya dukungnya. Untuk mengantisipasi potensi dampak tersebut, maka perlu alternatif teknologi pengolahan limbah yang efektif dan hemat biaya, yaitu berupa biosand filter. Penelitian ini bertujuan menghitung efisiensi penyisihan dan memperoleh variasi diameter dan ketebalan media yang optimal dalam menyisihkan parameter pencemar COD, TSS, nitrat, dan fosfat pada limbah
artificial (campuran black dan grey water).
Hasil dari analisis yang dilakukan didapatkan penyisihan rata – rata dari reaktor biosand filter 1, 2, dan 3 dalam penyisihan organik (COD) 74,09%; 76,93%; dan 70,81%, TSS 79,99%; 81,32%; dan 79,61%, nitrat 36,44%; 37,27%; dan 34,62%, fosfat 28,40%; 30,37%; dan 28,39%.. Variasi media yang paling optimal adalah reaktor biosand filter 2 dengan diameter 0,59 mm dan kedalaman media 10 cm.
Kata Kunci : Biosand filter, COD, fosfat, limbah domestik, nitrat,
v
REMOVER OF MIX GREYWATER AND BLACKWATER ARTIFICIAL
Mahasiswa : BahariPurnama
NRP : 3309100060
Pembimbing : Prof. Dr. Nieke Karnaningroem, MSc
ABSTRACT
The amount of domestic wastewater production has now increased and over the limit of maximum capacity which environment able to support.
In order to anticipate the negative potency that occurred, biosand filter had chosen as an effective and economic alternative of wastewater treatment. The purpose of this research is getting the optimum variation of sand filter’s diameter and thickness and calculating it’s removal efficiencies in terms of removing COD, TSS, nitrate and phosphate within the mix of greywater and blackwaterwhich is artificially made.
According to the analysis, an average removal of biosand filter 1, 2, and 3 over COD sequentially were 74,09%; 76,93%; and 70,81%. TSS 79,99%; 81,32%; and79,61%. nitrat 36,44%; 37,27%; and34,62%. fosfat 28,40%; 30,37%; and28,39%. Biosand filter 2 had came out to be the most optimum media with 0,59 mm of diameter and 10 cm thickness variation.
Keywords :Biosand filter, COD, domestic wastewater, nitrat, phosphate, TSS
vii
Alhamdulillah, puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga laporan tugas akhir yang berjudul “UNIT AERASI, SEDIMENTASI, DAN
BIOSAND FILTER SEBAGAI PEREDUKSI COD, TSS,
NITRAT ,DAN FOSFAT AIR LIMBAH ARTIFICIAL (CAMPURAN GREY DAN BLACK WATER)” dapat
diselesaikan dengan baik. Dalam penyusunan tugas akhir tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, oleh karena itu penyusun menyampaikan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada:
1. Ibu Prof. Dr. Nieke Karnaningroem, MSc., selaku dosen pembimbing yang sangat berperan besar dalam membimbing dan memberikan masukan untuk laporan tugas akhir ini.
2. Bapak Ir. Mohammad Razif, MM, Ibu Ir. Rr. Atiek Moesriati, MS, dan Bapak Ir. Didik Bambang Supriyadi, MT selaku dosen penguji yang telah memberikan pengarahan, kritikan dan masukan sehingga tugas akhir ini menjadi lebih baik.
3. Kedua orang tua yang memberikan dukungannya. 4. Teman-teman sesama pejuang tugas akhir.
5. Seluruh pihak yang secara langsung maupun tidak langsung dalam memberikan bantuan dan masukan kepada penyusun.
Penyusunan laporan tugas akhir ini telah diusahakan semaksimal mungkin, namun sebagaimana manusia biasa tentunya masih terdapat kekurangan atau kesalahan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penyusun harapkan.
Surabaya, Juni 2014
ix
ABSTRAK iii
ABSTRAK ENGLISH v
KATA PENGANTAR vii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR TABEL xiii
DAFTAR GAMBAR xv BAB 1 PENDAHULUAN 1 1.1. Latar Belakang 1 1.2. Rumusan Masalah 2 1.3. Tujuan 2 1.4. Ruang Lingkup 2 1.5 Manfaat 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 5
2.1. Pencemaran Air 5
2.2. Air Limbah Domestik 6
2.2.1 Karakteristik Air Limbah Domestik 6
2.2.2 Air Limbah Grey Water 6
2.2.3 Air Limbah Black Water 7
2.2.4 Kualitas Air Limbah Domestik 8
2.3. Parameter Pencemar 9
2.3.1 COD (Chemical Oxygen Demand) 9 2.3.2 TSS (Total Suspended Solid) 10
2.3.4 Nitrat 11
2.3.5 Fosfat 11
2.4 Biofilter 12
2.5 Biosand filter 15
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 19
3.1. Umum 19 3.2. Kerangka Penelitian 19 3.3 Tahap-Tahap Perencanaan 21 3.3.1 Ide Studi 21 3.3.2 Studi Literatur 21 3.3.3 Persiapan Penelitian 21
x
3.3.3.3 Unit Bak Sedimentasi 23
3.3.3.4 Reaktor Biosand filter 24
3.3.3.5 Analisis Blanko 27
3.3.3.6 Proses Aklimatisasi 27
3.3.4 Running dan Analisis Air Effluent 27
3.3.5 Hasil dan Pembahasan 28
3.3.6 Kesimpulan dan Saran 28
BAB 4 HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN 29
4.1. Umum 29
4.2. Analisis Blanko pada Reaktor Biosand filter 29 4.2.1. Analisis Blanko Penurunan Kadar COD pada Reaktor
Biosand filter 30
4.2.2. Data Analisis Blanko Penurunan Kadar Nitrat pada
Reaktor Biosand filter 33
4.2.3. Data Analisis Blanko Penurunan Kadar Fosfat pada
Reaktor Biosand fiter 37
4.2.4. Data Analisis Blanko Penurunan Kadar TSS pada
Reaktor Biosand filter 41
4.3 Data Analisis Efisiensi Penurunan Kadar COD pada
Reaktor Biosand filter 45
4.4. Data Analisis Efisiensi Penurunan Kadar Fosfat pada
Reaktor Biosand filter 52
4.5 Data Analisis Efisiensi Penurunan Kadar TSS pada
Reaktor Biosand filter 58
4.6 Data Analisis Efisiensi Penurunan Kadar Nitrat pada
Reaktor Biosand filter 64
4.7 Perbandingan Antara Analisis Blanko dengan Unit
Biosand filter yang Sudah Diaklimatisasi 70
4.8 Perhitungan Gabungan Efisiensi Penyisihan Seluruh Parameter pada Unit Biosand filter 71
BAB 5 Saran dan Kesimpulan 75
5.1 Kesimpulan 75
xi
xv
Gambar 3.1 Kerangka perencanaan tugas akhir 20
Gambar 3.2 Foto aerator 23
Gambar 3.3 Foto reaktor bak sedimentasi 24 Gambar 3.4 Biosand filter dengan variasi diameter dan kedalaman
media 25
Gambar 3.5 Gambar rangkaian reaktor 25
Gambar 3.6 Layout reaktor 26
Gambar 3.7 Foto rangkaian reaktor 26
Gambar 4.1 Grafik perbandingan efisiensi penyisihan blanko COD
BSF 1, BSF 2, dan BSF 3 33
Gambar 4.2 Grafik perbandingan efisiensi penyisihan blanko nitrat
BSF 1, BSF 2, dan BSF 3 37
Gambar 4.3 Grafik perbandingan efisiensi penyisihan blanko fosfat
BSF 1, BSF 2, dan BSF 3 41
Gambar 4.4 Grafik perbandingan efisiensi penyisihan blanko TSS
BSF 1, BSF 2, dan BSF 3 45
Gambar 4.5 Grafik perbandingan efisiensi penyisihan COD BSF 1,
BSF 2, dan BSF 3 50
Gambar 4.6 Grafik perbandingan efisiensi penyisihan fosfat BSF 1,
BSF 2, dan BSF 3 56
Gambar 4.7 Grafik perbandingan efisiensi penyisihan TSS BSF 1,
BSF 2, dan BSF 3 62
Gambar 4.8 Grafik perbandingan efisiensi penyisihan fosfat nitrat 1,
BSF 2, dan BSF 3 68
Gambar 4.9 Grafik penyisihan seluruh parameter pencemar pada
BSF 1 72
Gambar 4.10 Grafik penyisihan seluruh parameter pencemar pada
BSF 2 72
Gambar 4.11 Grafik penyisihan seluruh parameter pencemar pada
xiii
Tabel 3.1.Karakteristik limbah black water Kelurahan 22 Tabel 3.2.Karakteristik limbah grey water perumahan 22 Tabel 4.1.Data analisis blanko COD setelah diaerasi 30 Tabel 4.2.Data analisis blanko COD pada unit prasedimentasi 23 Tabel 4.3. Data analisis blanko COD pada BSF 1 31 Tabel 4.4. Data analisis blanko COD pada BSF 2 32 Tabel 4.5. Data analisis blanko COD pada BSF 3 32 Tabel 4.6.Data analisis blanko nitrat setelah diaerasi 34 Tabel 4.7.Data analisis blanko nitrat pada unit prasedimentasi 34 Tabel 4.8. Data analisis blanko nitrat pada BSF 1 35 Tabel 4.9. Data analisis blanko nitrat pada BSF 2 35 Tabel 4.10. Data analisis blanko nitrat pada BSF 3 36 Tabel 4.11.Data analisis blanko fosfat setelah diaerasi 38 Tabel 4.12.Data analisis blanko fosfat pada unit prasedimentasi 38 Tabel 4.13. Data analisis blanko fosfat pada BSF 1 39 Tabel 4.14. Data analisis blanko fosfat pada BSF 2 39 Tabel 4.15. Data analisis blanko fosfat pada BSF 3 40 Tabel 4.16.Data analisis blanko TSS setelah diaerasi 42 Tabel 4.17.Data analisis blanko TSS pada unit prasedimentasi 42 Tabel 4.18. Data analisis blanko TSS pada BSF 1 43 Tabel 4.19. Data analisis blanko TSS pada BSF 2 43 Tabel 4.20. Data analisis blanko TSS pada BSF 3 44 Tabel 4.21.Data analisis COD setelah diaerasi 46 Tabel 4.22.Data analisis COD pada unit prasedimentasi 46 Tabel 4.23. Data analisis COD pada BSF 1 47 Tabel 4.24. Data analisis COD pada BSF 2 48 Tabel 4.25. Data analisis COD pada BSF 3 48 Tabel 4.26. Data perbandingan efisiensi penyisihan COD seluruh
BSF 49
Tabel 4.27. Data efisiensi penyisihan COD gabungan BP dan unit
BSF 51
Tabel 4.28.Data analisis fosfat setelah diaerasi 52 Tabel 4.29.Data analisis fosfat pada unit prasedimentasi 53
xiv
Tabel 4.32. Data analisis fosfat pada BSF 3 54 Tabel 4.33. Data perbandingan efisiensi penyisihan fosfat seluruh
BSF 55
Tabel 4.34. Data efisiensi penyisihan fosfat gabungan BP dan unit
BSF 57
Tabel 4.35.Data analisis TSS setelah diaerasi 58 Tabel 4.36.Data analisis TSS pada unit prasedimentasi 59 Tabel 4.37. Data analisis TSS pada BSF 1 59 Tabel 4.38. Data analisis TSS pada BSF 2 60 Tabel 4.39. Data analisis TSS pada BSF 3 61 Tabel 4.40. Data perbandingan efisiensi penyisihan TSS seluruh
BSF 61
Tabel 4.41. Data efisiensi penyisihan TSS gabungan BP dan unit
BSF 63
Tabel 4.42.Data analisis nitrat setelah diaerasi 64 Tabel 4.43.Data analisis nitrat pada unit prasedimentasi 65 Tabel 4.44. Data analisis nitrat pada BSF 1 65 Tabel 4.45. Data analisis nitrat pada BSF 2 66 Tabel 4.46. Data analisis nitrat pada BSF 3 66 Tabel 4.47. Data perbandingan efisiensi penyisihan nitrat seluruh
BSF 67
Tabel 4.48. Data efisiensi penyisihan nitrat gabungan BP dan unit
BSF 69
Tabel 4.49. Data perbandingan efisiensi penyisihan rata-rata unit
BSF 1 70
Tabel 4.49. Data perbandingan efisiensi penyisihan rata-rata unit
BSF 2 70
Tabel 4.49. Data perbandingan efisiensi penyisihan rata-rata unit
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar BelakangMeningkatnya jumlah air limbah domestik yang tidak diimbangi dengan peningkatan badan air penerima, menyebabkan jumlah air limbah yang masuk ke badan air tersebut dapat melebihi daya tampung maupun daya dukungnya.Untuk mengantisipasi potensi dampak tersebut, maka perlu upaya minimasi limbah baik itu dari aspek kebijakan pemerintah dalam rangka menekan jumlah air limbah domestik yang dihasilkan maupun dari aspek ilmu pengetahuan dan teknologi guna mendapatkan berbagai alternatif teknologi pengolahan limbah yang efektif dan efisien.
Mengingat karakteristik air limbah domestik yang banyak mengandung bahan organik, maka alternatif sistem pengolahan limbah secara biologis dapat dijadikan pilihan utama. Dengan konsentrasi bahan pencemar yang tidak terlalu besar, maka sistem pengolahan dapat dilaksanakan dengan teknologi yang sederhana dan praktis dalam pemeliharaannya. Atas dasar pertimbangan tersebut, maka diperlukan sistem pengolahan air limbah (IPAL) yang sederhana, mudah dioperasionalkan & murah untuk biaya pembuatan dan operasionalnya. Salah satu alternatif sistem pengolahan air limbah tersebut adalah dengan menggunakan unit
biosand filter sederhana. Biosand filter merupakan unit
pengolahan yang menggunakan media pasir sebagai penyaring dan batuan dengan beberapa gradasi ukuran sebagai media penyangganya.
Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menghitung efisiensi penyisihan dan juga memperoleh variasi diameter dan ketebalan media yang optimal dalam menyisihkan parameter pencemar COD, TSS, nitrat, dan
fosfat pada limbah artificial (campuran black dan grey water) pada unit biosand filter.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, dapat disusun suatu disusun suatu permasalahan, yaitu:
1. Berapa efisiensi penyisihan unit biosand filter terhadap parameter pencemar COD, TSS nitrat, dan fosfat pada limbah artificial (campuran black dan grey water). 2. Berapa variasi diameter dan ketebalan media yang
optimal dalam menyisihkan parameter pencemar COD, TSS nitrat, dan fosfat pada limbah artificial (campuran black dan grey water).
1.3 Tujuan
Tujuan dari tugas akhir ini adalah
1. Menghitung efisiensi penyisihan unit biosand filter terhadap parameter pencemar COD, TSS, nitrat, dan fosfat pada limbah artificial (campuran black dan grey water).
2. Memperoleh variasi diameter dan ketebalan media yang optimal dalam menyisihkan parameter pencemar COD, TSS nitrat, dan fosfat pada limbah artificial (campuran black dan grey water).
1.4 Ruang Lingkup
Ruang lingkup tugas akhir ini adalah :
1. Air limbah yang digunakan sebagai bahan uji adalah air limbah campuran black dan grey water artificial.
2. Variasi yang digunakan adalah variasi diameter media pasir halus dan variasi ketinggian media.
Variasi diameter media pasir halus: a. Pasir halus mesh Ø 0,595 mm. b. Pasir halus mesh Ø 1,19 mm. Variasi ketinggian media
a. Pasir halus Ø 1,19 mm ketinggian 10cm dan pasir kasar ketinggian 5 cm
b. Pasir halus Ø 1,19 mm ketinggian 5 cm dan pasir kasar ketinggian 10cm
3. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah COD, TSS nitrat, dan fosfat.
4. Biosand filter yang digunakan adalah skala laboratorium. 5. Menggunakan sistem aerasi terdifusi.
6. Air yang masuk ke biosand filter merupakan outlet dari unit prasedimentasi.
1.5 Manfaat
Manfaat dari tugas akhir ini adalah
1.
Memberikan informasi mengenai efektifitas penggunaan unit biosand filter dalam mengolah limbah domestik.2.
Sebagai salah satu alternatif sistem pengolahan airlimbah yang efektif dan efisien dalam upaya minimisasi pencemaran air limbah domestik ke badan air.
5
2.1 Pencemaran Air
Pencemaran air sungai, air danau, air, parit, dan air laut akibat aktifitas manusia sehari hari dapat merubah kualitas air menjadi semakin menurun. Air sungai atau selokan telah berubah warna yaitu dari warna kecoklatan bahkan sampai menjadi kehitaman, sudah menjadi suatu pemandangan yang biasa terlihat dalam kehidupan sehari hari di permukiman perkotaan
.
Air limbah industri dan domestik yang mengandung: zat organik, nitrat, fosfat, logam berat, toksik, minyak, dan zat lainnya yang dibuang ke saluran, selokan, dan sungai dapat mengakibatkan penurunan kandungan oksigen yang terlarut dalam air. Bahkan, air limbah tersebut juga menyebabkan kerusakan bahkan matinya habitat sungai, serta mengakibatkan timbulnya masalah kesehatan bagi masyarakat yang menggunakan air sungai tersebut untuk keperluan hidup sehari harinya seperti memanfaatkan MCK (Mandi, Cuci, dan Kakus). Tingkat pencemaran air sungai maupun air laut yang tinggi, akan dapat menyebabkan ekosistem dan habitat air menjadi rusak bahkan mengalami kematian dan merusak habitat sungai.
Air limbah rumah tangga atau domestik ikut mempunyai andil besar dalam masalah pencemaran air karena banyak mengandung organik, nitrat, dan fosfat serta zat pencemar lain. Kegiatan pertanian yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebih, juga dapat mencemari air permukaan di sekitarnya. Demikian pula, air limbah yang mengandung yang mengandung fosfat dapat memicu pertumbuhan gulma air seperti ganggang dan enceng gondok yang tidak terkendali. Pestisida dalam air limbah memiliki aktifitas jangka waktu lama dan dapat mematikan kehidupan air seperti: ikan, udang, dan hewan air lainnya.
2.2 Air Limbah Domestik
2.2.1 Karakteristik Air Limbah Domestik
Secara prinsip air limbah domestik terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu air limbah yang terdiri dari air buangan tubuh manusia yaitu tinja dan urine (black water) dan air limbah yang berasal dari buangan dapur dan kamar mandi (grey water), yang sebagian besar merupakan bahan organik.
Debit air limbah yang dihasilkan akan sangat tergantung dengan jenis kegiatan dari masing – masing sumber air limbah, sehingga fluktuasi harian akan sangat bervariasi untuk masing – masing kegiatan. Fluktuasi harian pada suatu kawasan perumahan merupakan faktor yang mempengaruhi cukup komplek, mengingat aktivitas harian pada suatu kawasan perumahan akan sangat tergantung pada sosial-budaya maupun tingkat ekonomi dari penghuninya.
2.2.2 Air Limbah Grey water
Grey water adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi,
dan tempat cuci, tidak termasuk air limbah WC, sehingga secara umum mengandung konsentrasi ekskreta yang rendah. Kontaminan di dalam grey water dicirikan dengan sumber darimana air limbah ini berasal. Air buangan dapur misalnya mengandung residu makanan, lemak dan minyak dalam jumlah agak banyak, termasuk deterjen pencuci piring. Hal ini mengakibatkan tingginya kadar nutrien dan suspended solid. Sedangkan air yang berasal dari kamar mandi, adalah air yang paling sedikit tercemar. Meskipun demikian di dalamnya terkandung sabun, shampoo, pasta gigi dan produk perawatan tubuh lainnya.
Menurut Jefferson dalam Widyaningsih (2011) dari penelitian di Inggris, menyimpulkan karakteristik utama dari grey water adalah:
1.
Konsentrasi bahan organic yang sangat bervariasi.2.
Rasio COD/BOD tinggi, yang hal ini sebenarnya disebabkan kandungan deterjen di dalam grey water.3.
Ketidakseimbangan antara makronutrien (nitrogen) dan mikronutien (fosfor).4.
Sebagian besar partikel berukuran 10-100 µm dan perbandingan rasio SS/turbiditas rendah.5.
Konsentrasi koliform 3 log (tanpa identifikasi jenis pathogen).2.2.3 Air Limbah Black water
Limbah black water adalah air limbah yang berasal dari buangan biologis seperti kakus, berbentuk tinja manusia, maupun buangan lainnya berupa cairan ataupun buangan biologis lainnya yang terbawa oleh air limbah rumah tangga bekas cuci piring, maupun limbah cairan dari dapur.
Setiap manusia rata-rata mengeluarkan 125-250 gram limbah
black water (tinja dan air kencing) per hari, sehingga ribuan ton
limbah hitam diproduksi setiap harinya. Di luar jumlahnya, limbah hitam mengandung empat komponen berbahaya:
1. Mikroba (seperti bakteri Salmonela typhi penyebab demam tifus dan bakteri Vibrio cholerae penyebab kolera, hepatitis A, dan virus penyebab polio). Tinja manusia mengandung puluhan miliar mikroba termasuk bakteri koli-tinja (E. coli). 2. Materi organik berupa sisa dan ampas makanan yang tidak
tercerna dalam bentuk karbohidrat, enzim, lemak, mikroba, dan sel-sel mati. Satu liter tinja mengandung materi organik yang setara dengan 200-300 mg BOD5. Kandungan BOD yang tinggi mengakibatkan air mengeluarkan bau tak sedap dan berwarna hitam.
3. Telur cacing. Prevalensi anak cacingan yang diakibatkan cacing cambuk dan cacing gelak bisa mencapai 70 persen dari balita di Indonesia.
4. Nutrien yang umumnya merupakan senyawa nitrogen (N) dan fosfat (P) yang dibawa oleh sisa sisa protein dan sel-sel mati. Nitrogen keluar dalam bentuk senyawa amonium, sedangkan fosfor dalam bentuk fosfat. Satu liter tinja manusia mengandung amonium sekitar 25 mg dan fosfat seberat 30 mg. Senyawa nutrien memacu pertumbuhan ganggang (algae). Akibatnya warna air jadi hijau. Gangang menghabiskan oksigen dalam air sehingga ikan dan hewan air lainya mati. Fenomena yang disebut eutrofikasi ini mudah dijumpai, termasuk di waduk dan danau.
2.2.4 Kualitas Air Limbah Domestik
Kualitas suatu air limbah akan dapat terindikasi dari kualitas parameter kunci, dimana konsentrasi parameter kunci tidak melebihi dari standard baku mutu yang ada sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mengingat air limbah domestik kandungan terbesar adalah bahan organik, maka parameter kunci yang umum digunakan adalah BOD, COD, dan lemak/minyak. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik, maka parameter kunci untuk air limbah domestik adalah BOD, TSS, pH serta lemak & minyak.
Hasil penelitian di perumahan ITS – Sukolilo-Surabaya oleh Tangahu & Warmadewanthi (2001), bahwa rata – rata karakteristik limbah rumah tangga adalah sebagai berikut:
- pH = 6,92 - BOD5 = 195 mg/l - COD = 290 mg/l - TSS = 480 mg/l - Suhu = 29oC
Dari hasil penelitian di Kelurahan Gabahan yang dilakukan oleh Ragil (2012) bahwa karakteristik air limbah black water adalah sebagai berikut: COD = 3.000 mg/l BOD = 1.218 mg/l TSS = 1.800 mg/l pH = 7,13 Suhu = 27,03o C DO = 0,51 mg/l 2.3 Parameter Pencemar
2.3.1 COD (Chemical Oxygen Demand)
COD adalah jumlah oksigen (mg/l O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada dalam satu liter sampel air, dimana oksidator yang digunakan adalah K2Cr2O7 atau KMnO4.
Angka COD merupakan ukuran pencemaran air oleh zat-zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses mikrobiologis dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air. Sebagian besar zat organik melalui tes COD ini dioksidasi oleh K2Cr2O7 dalam keadaan asam yang mendidih maksimal. Perak sulfat (Ag2SO4) ditambahkan sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi. Merkuri sulfat ditambahkan untuk menghilangkan gangguan klorida yang pada umumnya ada di dalam air limbah. Untuk memastikan bahwa hampir semua zat organik habis teroksidasi maka zat pengoksidasi K2Cr2O7 masih harus tersisa sesudah direfluks. K2Cr2O7 yang tersisa menentukan berapa besar oksigen yang telah terpakai. Sisa K2Cr2O7 tersebut ditentukan melalui titrasi dengan Ferro Ammonium Sulfat (FAS). Indikator ferroin digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi yaitu disaat warna hijau biru larutan berubah menjadi coklat merah. Sisa K2Cr2O7 dalam larutan blanko adalah K2Cr2O7 awal,
karena diharapkan blanko tidak mengandung zat organik yang dioksidasi oleh K2Cr2O7 (Alaerts dan Santika,1987).
2.3.2 TSS (Total Suspended Solid)
Dalam air alam ditemui dua kelompok zat, yaitu zat terlarut seperti garam dan molekul organis, dan zat padat tersuspensi dan koloidal seperti tanah liat, kwarts. Perbedaan pokok antara kedua zat ini ditentukan melalui ukuran/diameter partikel-partikel tersebut.
Perbedaan antara kedua kelompok zat yang ada dalam air alam cukup jelas dalam praktek namun kadang-kadang batasan itu dapat dipastikan secara definitip. Dalam kenyataan suatu molekul organis polimer tetap bersifat zat yang terlarut. Walaupun panjangnya lebih dari 10 µm sedangkan beberapa jenis zat padat koloidal mempunyai sifat dapat bereaksi seperti sifat-sifat zat-zat yang terlarut.
Analisis zat padat dalam air sangat penting bagi penentuan komponen-komponen air secara lengkap, juga untuk perencanaan serta pengawasan proses-proses pengolahan dalam bidang air minum maupun dalam bidang air buangan.Zat padat yang berada dalam suspensi dapat dibedakan menurut ukurannya sebagai: partikel tersuspensi koloidal (partikel koloid) dan partikel tersuspensi biasa partikel tersuspensi).
Dalam metode analisis zat padat, pengertian zat padat total adalah semua zat-zat yang tersisa sebagai residu dalam suatu bezena, bila sampel air dalam bezena tersebut dikeringkan pada suhu tertentu. Zat padat total terdiri dari zat padat terlarut dan zat padat tersuspensi yang dapat bersifat organik dan anorganik. Zat padat tersuspensi sendiri dapat diklasifikasikan sekali lagi menjadi antara lain zat padat terapung yang selalu bersifat organis dan zat padat terendap yang dapat bersifat organik dan anorganik. Zat padat terendap adalah zat padat dalam suspense yang dalam
keadaan tenang dapat mengendap setelah waktu tertentu karena pengaruh gaya beratnya. Penentuan zat padat terendap ini dapat melalui volumnya, disebut analisis volum lumpur, dan dapat melalui beratnya disebut analisis lumpur kasar atau umumnya disebut zat padat terendap.
2.3.4 Nitrat
Di dalam limbah nitrogen ada dalam bentuk organik dan ammonia. Tahap demi tahap nitrogen organik didegradasi menjadi ammonia dan dalam kondisi aerob menjadi nitrit dan nitrat (Mahida, 1993). Senyawa ammonia dapat mengalami nitrifikasi dan denitrifikasi.
Adanya kandungan nitrit dalam limbah menunjukkan sedikit dari senyawa nitrogen organik yang mengalami oksidasi. Kandungan nitrit hanya sedikit dalam limbah baru, tetapi dalam limbah basi ditemukan kandungan nitrit dalam jumlah besar. Adanya nitrit menunjukkan bahwa perubahan sedang berlangsung, dengan demikian dapat menunjukkan pembenahan limbah yang tidak sempurna (Mahida, 1993).
Nitrat mewakili hasil akhir degradasi bahan organik (nitrogen), nitrat berasal dari limbah domestik, sisa pupuk pertanian, atau dari nitrit yang mengalami proses nitrifikasi. Nitrat dapat menyebabkan pencemaran karena dapat menimbulkan eutrofikasi sehingga mengurangi jumlah oksigen terlarut dan menaikkan BOD5. Limbah yang dibenahi secara efisien akan menunjukkan kandungan nitrat yang tinggi (Mahida, 1993).
2.3.5 Fosfat
Fosfat terdapat dalam air alam atau air limbah, fosfat di dalam air limbah dijumpai dalam bentuk orthofosfat yang terdapat dalam deterjen dan fosfat organik. Semua polyfosfat dan fosfat organik dalam air secara bertahap akan dihidrolisa menjadi bentuk orthofosfat yang stabil, melalui dekomposisi secara biologi.
Orthofosfat merupakan sumber fosfat terbesar yang digunakan oleh fitoplankton dan akan diserap dengan cepat pada konsentrasi kurang dari 1 mg/l (Reynold dalam Widyaningsih, 2011). Pada konsentrasi kurang dari 0.01 mg/l pertumbuhan tanaman dan algae akan terhambat, keadaan ini dinamakan oligotrop. Bila kadar fosfat serta nutrien lainnya tinggi, pertumbuhan tanaman dan algae tidak terbatas lagi disebut eutrofikasi (Alaerts dan Santika, 1987).
Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut, tersuspensi, atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Dalam air limbah senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk, industri dan pertanian. Orthofosfat berasal dari bahan pupuk yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. Polyfosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan bahan detergen yang mengandung fosfat. Fosfat organik terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. Fosfat organik dapat pula terjadi dari orhofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat bagi pertumbuhannya (Alaerts dan Santika, 1987).
2.4 Biofilter
Biofilter adalah reaktor yang dikembangkan dengan prinsip
mikroba tumbuh dan berkembang pada suatu media filter dan membentuk lapisan biofilm (attached growth). Pengembangan konsep ini dilakukan dengan cara merendam media filter dalam air secara terus menerus.
Biofilter tersebut telah banyak diterapkan dalam beberapa tahun
terakhir sebagai teknik kontrol sumber untuk mengelola air secara biologis. Pengolahan air limbah dengan proses biofilter dilakukan dengan cara mengalirkan air limbah ke dalam reaktor biologis yang di dalamnya telah diisi dengan media penyangga yang berguna sebagai pengembangbiakkan mikroorganisme.
Sedangkan senyawa polutan yang ada di dalam air limbah, misalnya senyawa organik (BOD dan COD), amonia, fosfor, dan lainnya akan terdifusi ke dalam lapisan biofilm yang melekat pada permukaan media. Pada saat yang bersamaan dengan menggunakan oksigen yang terlarut di dalam air limbah, senyawa polutan tersebut akan diuraikan oleh mikroorganisme yang ada di dalam lapisan biofilm dan energi yang dihasilkan akan diubah menjadi biomasa. Jika lapisan mikrobiologis cukup tebal, maka pada bagian luar lapisan mikrobiologis akan berada dalam kondisi aerobik sedangkan pada bagian dalam biofilm yang melekat pada medium akan berada dalam anaerobik. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses biofilter adalah :
- Temperatur
Temperatur bukan hanya dapat mempengaruhi aktifitas metabolisme populasi mikroorganisme, akan tetapi juga akan mempengaruhi beberapa faktor seperti kecepatan transfer gas, dan karakteristik pengendapan lumpur. Temperatur optimum untuk mikroorganisme dalam proses aerob dan tidak berbeda dengan proses anaerob.
- Oksigen Terlarut
Konsentrasi oksigen terlarut dapat memberikan pengaruh pada laju pertumbuhan bakteri aerobik dalam pengolahan secara biologis. Kehadiran oksigen terlarut dalam jumlah yang cukup sangat diperlukan untuk proses oksidasi dan sintesa sel. Oksigen dalam proses oksidasi ditujukan sebagai sumber elektron akseptor. Oksigen juga sangat diperlukan oleh bakteri nitrifikasi untuk oksidasi nitrogen organik dan ammonia.
- pH
Nilai pH merupakan faktor kunci bagi pertumbuhan mikroorganisme. Beberapa bakteri dapat hidup pada pH
diatas 9,5 dan di bawah 4,0. Secara umum pH optimum bagi pertumbuhan mikrorrganisme adalah sekitar 6,5-7,5. - Beban Hidrolik
Beban hidrolik (hydraulic loading) digunakan untuk menjelaskan debit atau kapasitas pengolahan per satuan volume atau persatuan luas permukaan (filter bed). Sehingga dalam istilah ini dikenal dengan beban hidrolik permukaan (surface hydraulic loading) dan beban hidrolik volume (volume hydraulic loading).
- Beban Organik.
Laju pengurangan zat organik dalam sistem pengolahan limbah secara biologis dikategorikan berdasar pada konsentrasi BOD yang ada didalam air limbah.
Mekanisme penyisihan bahan organik pada biofilter hampir sama dengan mekanisme penyisihan pada proses lumpur aktif. Penyisihan material organik yang tersuspensi dan yang terlarut terjadi karena proses biosorbsi dan koagulasi pada aliran yang melewati media dengan cepat. Sedangkan pada aliran yang melewati media dengan waktu retensi yang lama, proses penyisihannya disebut dengan cara sintesa dan respirasi. Sedangkan waktu retensi sangat berhubungan dengan beban hidrolik. Semakin besar beban hidrolik, proses biosorbsi semakin besar pula. Sedangkan semakin kecil beban hidrolik, proses sintesa dan respirasi juga semakin kecil.
Media biofilter secara umum berupa material organik atau materail anorganik, seperti misalnya media dari bahan anorganik misalnya, batu pecah (split), kerikil, batu marmer, batu tembikar, dan lain-lain. Dan biasanya untuk media biofilter dari bahan anorganik, semakin kecil diameternya luas permukaannya semakin besar, sehingga jumlah mikroorganisme yang dapat dibiakkan menjadi semakin besar pula.
Reaktor dengan pertumbuhan mikroorganisme melekat pada suatu media (attached gowth) adalah merupakan salah satu jenis pengolahan air limbah yang paling awal digunakan. Lekatan ini biasa disebut dengan biofilm. Biofilm didefinisikan sebagai material organik terdiri dari mikroorganisme terlekat pada matriks polimer (materi polimer ekstraseluler) yang dibuat oleh mikroorganisme itu sendiri, dengan ketebalan lapisan biofilm berkisar antara 100 µm-10 mm yang secara fisik dan mikrobiologis sangat kompleks. Terbentuknya biofilm adalah karena mikroorganisme cenderung menciptakan lingkungan mikro. Komposisi biofilm terdiri dari sel-sel mikroorganisme, produk ekstraseluler, detritus, polisakarida, dan air dengan kandungan sampai 97%. Adapun bahan-bahan pembentuk lapisan
biofilm yang lain adalah protein, lipid, dan lektin, dan struktur
dari suatu biofilm bentuknya tergantung dari lingkungan.
2.5 Biosand filter
Biosand filter merupakan teknologi yang diadaptasi dari proses
slow sand filter. Ide ini berawal saat Prof. Dr. Manz David melakukan penerapan dalam berbagai ukuran dan variasi. Desain yang banyak dijumpai tidak sesuai bila digunakan untuk mengolah air sumur skala rumah tangga, sehingga dilakukan suatu pengembangan teknologi yang sesuai untuk skala rumah tangga (Manz dalam Kikkawa, 2008).
Gambar 2.1 Unit Biosand filter (Manz dalam Kikkawa, 2008)
Biosand filter merupakan suatu proses penyaringan atau
penjernihan air yaitu air yang akan diolah dilewatkan pada suatu media proses dengan kecepatan rendah yang dipengaruhi oleh diameter butiran pasir dan pada media tersebut telah diberi bakteri sehingga terjadi proses biologis. Biosand filter (BSF) sangat mirip dengan Slow Sand Filter (SSF) dalam arti bahwa mayoritas dari filtrasi dan kepindahan kekeruhan terjadi ada di puncak lapisan pasir dalam kaitan dengan ukuran pori-pori yang menurun, disebabkan oleh deposisi partikel butir (Kusuma dalam Nugroho, 2013).
Keuntungan teknologi ini selain murah, membutuhkan sedikit pemeliharaan dan beroperasi secara grafitasi. Kelebihan biosand
filter dibandingkan dengan jenis slow sand filter skala rumah
tangga yaitu desain pada pipa outlet yang mampu menjaga ketinggian air diatas media agar lapisan biofilm yang ada terhindar dari kekeringan dan tidak membutuhkan daya listrik karena dioperasikan secara intermitten.
Faktor yang berperan penting dalam biosand filter yaitu ukuran butiran pasir dan kedalaman pasir. Keduanya memiliki efek penting dalam kualitas air secara fisik. Kebanyakan literatur merekomendasikan bahwa ukuran pasir yang efektif digunakan untuk saringan pasir lambat sekitar 0.15-0,35 mm dan keseragaman koefisien sekitar 1.5-3 mm (Murcott & Lucas salam Sukawati, 2008).
Biosand filter didesain memiliki ketinggian air setinggi 5 cm dari
permukaan media paling atas. Ketinggian 5 cm menjadi ketinggian maksimal dari perpindahan patogen. Jika tingkatan air terlalu dangkal, lapisan biofilm dapat lebih mudah terganggu karena rusak oleh kecepatan datangnya air.
Penelitian yang dilakukan Widyaningsih (2011) mengenai pengolahan limbah kantin dengan menggunakan biosand filter, didapatkan kandungan TSS menurun rata-rata sebesar 96,99%, fosfat 22,83%, dan COD 59,37%.
19
3.1 Umum
Tugas akhir ini secara umum bertujuan untuk menghitung efisiensi penyisihan dan juga memperoleh variasi diameter dan ketebalan media yang optimal dalam menyisihkan parameter pencemar COD, TSS, nitrat, dan fosfat pada limbah artificial (campuran black dan grey water) pada unit biosand filter. Penelitian ini akan dilakukan pengolahan terhadap air limbah
artificial (campuran black dan grey water). Salah satu pengolahan
yang dilakukan adalah dengan melakukan teknologi pengolahan reduksi pencemar organik dengan sistem biosand filter. Biosand
filter merupakan unit pengolahan yang menggunakan media pasir
sebagai penyaring dan batuan dengan beberapa gradasi ukuran sebagai media penyangganya. Keuntungan teknologi ini selain murah, membutuhkan sedikit pemeliharaan dan beroperasi secara grafitasi. Media yang digunakan adalah pasir halus, pasir kasar, dan kerikil yang disusun secara berurutan. Parameter pencemar yang akan di analisis efisiensi penyisihannya adalah COD, TSS, nitrat, dan fosfat.
3.2 Kerangka Penelitian
Kerangka penelitian merupakan gambaran mengenai tahapan – tahapan yang disusun secara berurutan secara sistematis. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1 Kerangka Perencanaan Tugas Akhir UNIT AERASI, SEDIMENTASI, DAN
BIOSAND FILTER SEBAGAI PEREDUKSI COD, TSS, NITRAT DAN FOSFAT AIR
LIMBAH DOMESTIK ARTIFICIAL (CAMPURAN GREY DAN BLACK WATER)
Persiapan Penelitian o Pembuatan reaktor biosand filter o Pembuatan bak sedimentasi o Pembuatan limbah artificial o ProsesSeeding Pelaksanaan Penelitian
Hasil penelitian penyisihan pencemar organik air limbah domestik artificial dengan sistem penyaringan biosand filter
Analisis dan Pembahasan
Kesimpulan dan Saran Studi Literatur
3.3 Tahap – tahap Perencanaan 3.3.1 Ide Studi
Mengacu pada kenyataan yang terjadi pada aktivitas rumah tangga yang hampir seluruh air limbahnya disalurkan sungai atau aluran di sekitar permukiman Demikian juga black water yang berasal dari toilet/WC, sistem resapan hampir sebagian besar belum mengacu pada sistem sanitasi yang benar dan disalurkan/dibuang juga ke got/selokan atau sungai dekat rumah. Oleh sebab itu, dalam upaya untuk mempertahankan kualitas perairan dan untuk menciptakan suatu teknologi pengolahan air keluaran dari tangki septik yang ramah lingkungan dibutuhkan suatu penelitian. Penelitian ini dapat digunakan sebagai upaya agar air limbah rumah tangga (grey dan black wáter) yang dibuang ke lingkungan perairan tidak lagi menimbulkan dampak pencemaran serta dapat dijadikannya sebagai bahan baku untuk pengolahan air bersih dalam upaya melakukan konservasi sumber daya air.
3.3.2 Studi Literatur
Studi literatur dilakukan secara terus – menerus, yakni dari tahap awal perencanaan hingga pada analisis dan pembahasan hasil dari perencanaan yang nantinya diperoleh suatu kesimpulan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh dasar teori yang kuat dan akurat yang berasal dari teks book, laporan penelitian tugas akhir, tesis, artikel, dan jurnal ilmiah.
3.3.3 Persiapan Penelitian
3.3.3.1 Pembuatan Air Sampel
Sampel air limbah yang digunakan menggunakan air limbah
artificial. Hal ini disebabkan karena adanya kesulitan dalam
limbah artificial disesuaikan dengan kualitas air limbah black
water yang sebenarnya. Air limbah yang dibuat menggunakan
perbandingan C:N:P= 100:5:1.
Karakteristik air limbah yang digunakan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
No. Parameter Satuan Hasil Uji
1 COD mg/l 3.000 2 BOD mg/l 1.218 3 TSS mg/l 1.800 4 pH - 7,13 5 Suhu oC 27,03 6 DO mg/l 0,51 Sumber: Ragil, 2012
Parameter Satuan Hasil uji
BOD mg/l 195
COD mg/l 290
TSS mg/l 480
pH - 6,92
Suhu oC 29
Sumber: Tangahu dan Warmadewanthi, 2001
Limbah artificial dibuat dengan bahan dasar gula pasir sebagai organik, KNO3 sebagai nitrat, KH2PO4 sebagai fosfat, dan tanah sebagai TSS. Air limbah campuran black dan grey water menggunakan perbandingan 50:50 dari total air limbah yang digunakan yaitu 30L.
Tabel 3.1 Karakteristik limbah black water Kelurahan Gabahan
Tabel 3.2 Karakteristik limbah grey water perumahan ITS
3.3.3.2 Proses Aerasi
Salah satu kegunaan dari aerasi adalah memberikan suplai oksigen pada proses pengolahan biologi secara aerobik. Pengaruh lamanya waktu pada proses oksidasi akan mempengaruhi kemampuan mikroorganisme untuk mendegradasikan bahan organik yang terdapat dalam air limbah (Droste dalam Sukawati, 2008). Semakin lamanya waktu yang diberikan pada proses oksidasi maka akan memberi kesempatan bagi mikroorganisme untuk tumbuh dan melakukan degradasi bahan organik. Penelitian ini dilakukan aerasi dengan menggunakan aerator terdifusi ke dalam air limbah selama 30 menit.
Gambar 3.2 Foto aerator 3.3.3.3 Unit Bak Sedimentasi
Air limbah black water memiliki kandungan organik dan TSS yang sangat tinggi. Penelitian yang dilakukan Widyaningsih (2011) mengenai pengolahan limbah kantin dengan menggunakan
biosand filter, kualitas air limbah yang diolah adalah BOD
sebesar 185,45 mg/l, COD sebesar 956,8 mg/l, TSS 250 mg/l, dan total fosfat sebesar 3,9 mg/l. Jika air limbah campuran black dan
diolah dengan biosand filter, maka terjadi kemungkinan clogging lebih cepat. Maka dari itu diperlukan pre treatmen berupa bak sedimentasi untuk mereduksi kandungan organik yang terdapat pada air limbah sebelum masuk ke unit biosand filter.
Gambar 3.3 Foto reaktor bak sedimentasi 3.3.3.4 Reaktor Biosand filter
Pada penelitian ini akan digunakan tiga buah unit biosand filter yang terbuat dari ember plastik. Biosand filter ini memiliki ketinggian 30 cm dan diameter 25 cm. Media yang digunakan adalah pasir halus (< 1.0 mm) dengan ketinggian media 10cm, pasir kasar (5-7 mm) dengan ketinggian media 5 cm, dan kerikil (1-2 cm) dengan ketinggian media 5 cm. Kemudian dilakukan variasi berupa variasi diameter pasir halus pada BSF 2 dan variasi ketinggian media antara pasir halus dan pasir kasar pada BSF 3.
Gambar 3.4 biosand filter dengan variasi diameter media dan kedalaman media
Gambar 3.6 Layout reaktor
3.3.3.5 Analisis Blanko
Analisis blanko dilakukan dengan menuangkan 30 L air sampel ke dalam reservoar dan dialirkan dengan aliran down flow dengan sistem intermittent menuju bak sedimentasi dan unit biosand
filter. Analisis blanko dilakukan tanpa melalui proses aklimatisasi
terlebih dahulu. Kemudian dari hasil running tersebut dilakukan analisis COD, nitrat, fosfat, dan TSS pada outlet. Analisis blanko dilakukan selama 10 hari.
3.3.3.6 Proses Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah tahap mengkondisikan mikroorganisme agar dapat hidup dan melakukan adaptasi. Proses seeding dilakukan dengan cara merendam media yang sudah terisi pada biosand
filter dengan sampel air limbah selama 5 hari. Ketinggian air pada
lapisan biofilm dijaga setinggi 5 cm dari permukaan media pasir halus. Pertumbuhan biofilm diamati dengan ditandai permukaan media licin bila dipegang (Darmawanti, 2005).
3.3.4 Running dan Analisis Air Effluent
Setelah alat biosand filter sudah siap digunakan maka selanjutnya dilakukan running pada alat tersebut dengan menggunakan air limbah artificial sebagai sampel. Running dilakukan dengan cara menuangkan 30 L air sampel ke dalam reservoar dan dialirkan dengan aliran down flow dengan sistem intermittent menuju bak sedimentasi dan unit biosand filter. Kemudian dari hasil running tersebut dilakukan analisis COD, nitrat, fosfat, dan TSS. Running dilakukan selama 10 hari.
Biosand filter
3.3.5 Hasil dan Pembahasan
Analisis dan pembahasan adalah tahap yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam penelitian dan sekaligus digunakan sebagai upaya untuk menghasilkan suatu kesimpulan dan saran.
3.3.6 Kesimpulan dan saran
Kesimpulan dibuat berdasarkan dari hasil analisis dan pembahasan, sedangkan saran bermanfaat untuk pengembangan penelitian serta sebagai dasar dari penelitian berikutnya. Selain itu, kesimpulan dan saran disusun sesuai dengan tujuan penelitian yang diinginkan.
29
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi dari reaktor biosandfilter dalam mereduksi parameter limbah berupa COD, nitrat, fosfat, dan TSS pada limbah campuran antara limbah black water dan limbah grey water.
Sampel air limbah yang digunakan pada penelitian ini menggunakan air limbah artificial atau air limbah buatan. Hal ini disebabkan karena adanya kesulitan dalam pengambilan limbah black water langsung dari tangki septik. Air limbah artificial disesuaikan dengan kualitas air limbah black water dan grey water yang sebenarnya. Limbah artificial dibuat dengan bahan dasar gula pasir sebagai organik, KNO3 sebagai nitrat, KH2PO4 sebagai fosfat, dan tanah sebagai TSS. Air limbah campuran black dan grey water menggunakan perbandingan 50:50 dari total air limbah yang digunakan yaitu 30L. Penelitian ini menggunakan tiga jenis reaktor biosand filter yang berbeda. BSF 1 dengan diameter media pasir halus 1,19 mm dan kedalaman 10 cm. BSF 2 dengan diameter media pasir halus 0,59 mm dan kedalaman 10 cm. BSF 3 dengan diameter media pasir halus 1,19 mm dan kedalaman 5 cm.
4.2 Analisis Blanko pada Reaktor Biosand filter
Analisis blanko merupakan proses running keseluruhan unit tanpa melalui proses aklimatisasi terlebih dahulu pada media di biosand filter. Sampel air limbah yang telah dibuat sebanyak 30 L diaerasi selama 30 menit untuk menambah jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan dalam perkembangan biofilm pada reaktor biosand filter. Kemudian sampel air limbah dimasukkan ke dalam reservoar dan dialirkan ke bak prasedimentasi dan kemudian ke reaktor biosand filter dengan aliran downflow secara intermitten.
4.2.1 Data Analisis Blanko Penurunan Kadar COD pada Reaktor Biosand filter
Hasil analisis blanko penurunan kadar COD dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini.
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) efisiensi (%)
1 1.742 1.434 17,67 2 1.803 1.452 19,45 3 1.639 1.335 18,52 4 1.648 1.347 18,29 5 1.687 1.352 19,87 6 1.736 1.378 20,63 7 1.692 1.370 19,03 8 1.667 1.362 18,28 9 1.726 1.421 17,65 10 1.654 1.349 18,44 rata-rata 18,78
Sumber: Hasil analisis
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
1 1.434 973 32,13 2 1.452 992 31,67 3 1.335 955 28,49 4 1.347 933 30,68 5 1.352 912 32,57 6 1.378 973 29,41 7 1.370 952 30,48
Tabel 4.1 Data hasil analisis blanko COD setelah diaerasi
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
8 1.362 905 33,57
9 1.421 931 34,53
10 1.349 909 32,63
rata-rata 31,62
Sumber
: Hasil analisisBerdasarkan dari tabel 4.2 di atas dapat dilihat bahwa bak prasedimentasi mampu menurunkan konsentrasi COD pada air limbah. Nilai efisiensi penyisihan rata-rata COD pada bak prasedimentasi adalah 31,62 %. Dari data outlet bak prasedimentasi dijadikan sebagai inlet dari reaktor biosand filter. Setelah itu dilakukan analisis COD di setiap outlet dari reaktor biosand filter. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 4.3, 4.4, dan 4.5 di bawah ini.
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
1 973 596 38,73 2 992 593 40,26 3 955 529 44,57 4 933 479 48,69 5 912 480 47,31 6 973 542 44,26 7 952 450 52,74 8 905 360 60,27 9 931 363 61,03 10 909 380 58,24 rata-rata 49,61
Sumber: Hasil analisis
Tabel 4.5 Data hasil analisis blanko COD pada BSF 3 `
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
1 973 585 39,85 2 992 574 42,18 3 955 463 51,53 4 933 498 46,60 5 912 454 50,24 6 973 435 55,28 7 952 398 58,20 8 905 340 62,46 9 931 367 60,53 10 909 380 58,18 rata-rata 52,51
Sumber: Hasil analisis
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
1 973 620 36,27 2 992 607 38,80 3 955 550 42,44 4 933 505 45,87 5 912 500 45,20 6 973 525 46,05 7 952 493 48,27 8 905 504 44,32 9 931 425 54,34 10 909 401 55,86 rata-rata 45,74
Sumber: Hasil analisis
Setelah itu dapat dibandingkan efisiensi penyisihan COD antara BSF 1, BSF 2, dan BSF 3. Grafik perbandingannya dapat dilihat di bawah ini.
Berdasarkan gambar 4.1 di atas dapat dilihat bahwa efisiensi penyisihan COD pada seluruh unit biosand filter mengalami kenaikan dari hari pertama sampai dengan hari kesepuluh. Peningkatan nilai penyisihan COD disebabkan oleh semakin banyaknya biofilm yang tumbuh di media pasir setiap harinya. Biofilm ini yang berfungsi untuk mereduksi konsentrasi COD pada air limbah. Efisiensi penyisihan rata-rata COD pada BSF 1, BSF 2, dan BSF 3 adalah 49,61%, 52,51 %, dan 45,74 %.
4.2.2 Data Analisis Blanko Penurunan Kadar Nitrat pada Reaktor Biosand filter
Hasil analisis blanko penurunan kadar Nitrat dapat dilihat pada tabel 4.6 di bawah ini.
0 10 20 30 40 50 60 70 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 p e rsen tase r e m o val hari ke- bsf 1 bsf 2 BSF 3
Gambar 4.1 Grafik perbandingan efisiensi penyisihan blanko COD BSF 1, BSF 2, dan BSF 3
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%) 1 93,50 83,70 10,49 2 88,60 78,80 11,07 3 93,50 83,70 10,49 4 83,70 73,90 11,71 5 78,80 73,90 6,22 6 83,70 78,80 5,86 7 88,60 78,80 11,07 8 78,80 68,99 12,44 9 83,70 78,80 5,86 10 78,80 73,90 6,22 rata-rata 9,14
Sumber: Hasil analisis
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
1 83,70 59,19 29,28 2 78,80 54,29 31,10 3 83,70 54,29 35,14 4 73,90 64,09 13,27 5 73,90 54,29 26,53 6 78,80 59,19 24,88 7 78,80 49,39 37,33 8 68,99 59,19 14,21 9 78,80 49,39 37,33 10 73,90 64,09 13,27 rata-rata 26,23
Sumber: Hasil analisis
Tabel 4.6 Data hasil analisis blanko nitrat setelah diaerasi
Berdasarkan data dari tabel 4.7 di atas dapat dilihat bahwa bak prasedimentasi mampu menurunkan konsentrasi nitrat pada air limbah. Nilai efisiensi penyisihan rata-rata nitrat pada bak prasedimentasi adalah 26,23 %. Dari data outlet bak prasedimentasi dijadikan sebagai inlet dari reaktor biosand filter. Setelah itu dilakukan analisis nitrat di setiap outlet dari reaktor biosand filter. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 4.8, 4.9, dan 4.10 di bawah ini.
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
1 59,19 44,48 24,85 2 54,29 39,58 27,09 3 54,29 39,58 27,09 4 64,09 49,39 22,95 5 54,29 39,58 27,09 6 59,19 39,58 33,13 7 49,39 34,68 29,78 8 59,19 39,58 33,13 9 49,39 34,68 29,78 10 64,09 39,58 38,24 rata-rata 29,31
Sumber: Hasil analisis `
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
1 59,19 39,58 33,13
2 54,29 39,58 27,09
Tabel 4.8 Data hasil analisis blanko nitrat pada BSF 1
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%) 3 54,29 39,58 27,09 4 64,09 44,48 30,59 5 54,29 34,68 36,12 6 59,19 39,58 33,13 7 49,39 29,78 39,70 8 59,19 39,58 33,13 9 49,39 29,78 39,70 10 64,09 39,58 38,24 rata-rata 33,79
Sumber: Hasil analisis
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
1 59,19 44,48 24,85 2 54,29 44,48 18,06 3 54,29 39,58 27,09 4 64,09 44,48 30,59 5 54,29 39,58 27,09 6 59,19 39,58 33,13 7 49,39 34,68 29,78 8 59,19 39,58 33,13 9 49,39 34,68 29,78 10 64,09 39,58 38,24 rata-rata 29,17
Sumber: Hasil analisis
Setelah itu dapat dibandingkan efisiensi penyisihan nitrat antara BSF 1, BSF 2, dan BSF 3. Grafik perbandingannya dapat dilihat di bawah ini.
Berdasarkan gambar 4.2 di atas dapat dilihat bahwa efisiensi penyisihan nitrat pada seluruh unit biosand filter mengalami kenaikan dari hari pertama sampai dengan hari kesepuluh. Peningkatan nilai penyisihan nitrat disebabkan oleh semakin banyaknya biofilm yang tumbuh di media pasir setiap harinya. Biofilm ini yang berfungsi untuk mereduksi konsentrasi nitrat pada air limbah Eisiensi penyisihan rata-rata nitrat pada BSF 1, BSF 2, dan BSF 3 adalah 29,31%, 33,79 %, dan 29,17 %.
4.2.3 Data Analisis Blanko Penurunan Kadar Fosfat pada Reaktor Biosand filter
Hasil analisis blanko penurunan kadar fosfat dapat dilihat pada tabel 4.11 di bawah ini.
0 10 20 30 40 50 60 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 p e rsen tase r e m o val hari ke- bsf 1 bsf 2 BSF 3
Gambar 4.2 Grafik perbandingan efisiensi penyisihan blanko nitrat BSF 1, BSF 2, dan BSF 3
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%) 1 18,18 16,22 10,73 2 17,34 15,39 11,25 3 17,34 15,67 9,64 4 17,06 15,11 11,43 5 18,18 15,95 12,27 6 16,50 14,55 11,82 7 16,78 14,83 11,62 8 17,34 15,39 11,25 9 18,45 16,50 10,57 10 16,50 14,83 10,13 rata-rata 11,07
Sumber: Hasil analisis
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
1 16,22 13,72 15,46 2 15,39 12,88 16,30 3 15,67 12,88 17,79 4 15,11 12,32 18,44 5 15,95 12,88 19,23 6 14,55 12,04 17,24 7 14,83 12,60 15,03 8 15,39 13,16 14,49 9 16,50 14,00 15,20 10 14,83 12,32 16,91 rata-rata 16,61
Sumber: Hasil analisis
Tabel 4.11 Data hasil analisis blanko fosfat setelah diaerasi
Berdasarkan data dari tabel 4.12 di atas dapat dilihat bahwa bak prasedimentasi mampu menurunkan konsentrasi fosfat pada air limbah. Nilai efisiensi penyisihan rata-rata fosfat pada bak prasedimentasi adalah 16,61 %. Dari data outlet bak prasedimentasi dijadikan sebagai inlet dari reaktor biosand filter. Setelah itu dilakukan analisis fosfat di setiap outlet dari reaktor biosand filter. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 4.13, 4.14, dan 4.15 di bawah ini.
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
1 13,72 11,77 14,22 2 12,88 10,65 17,31 3 12,88 10,65 17,31 4 12,32 10,09 18,09 5 12,88 10,09 21,64 6 12,04 9,54 20,83 7 12,60 9,81 22,12 8 13,16 10,09 23,30 9 14,00 10,09 27,88 10 12,32 8,98 27,14 rata-rata 20,98
Sumber: Hasil analisis `
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) efisiensi (%)
1 13,72 11,21 18,29
2 12,88 10,37 19,47
3 12,88 10,37 19,47
Tabel 4.13 Data hasil analisis blanko fosfat pada BSF 1
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) efisiensi (%) 4 12,32 9,81 20,35 5 12,88 9,81 23,80 6 12,04 9,26 23,14 7 12,60 9,26 26,54 8 13,16 9,54 27,53 9 14,00 10,09 27,88 10 12,32 9,26 24,88 rata-rata 23,14
Sumber: Hasil analisis
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) efisiensi (%)
1 13,72 11,77 14,22 2 12,88 10,93 15,15 3 12,88 10,65 17,31 4 12,32 10,09 18,09 5 12,88 10,37 19,47 6 12,04 9,81 18,51 7 12,60 9,81 22,12 8 13,16 9,54 27,53 9 14,00 10,37 25,89 10 12,32 8,98 27,14 rata-rata 20,54
Sumber: Hasil analisis
Setelah itu dapat dibandingkan efisiensi penyisihan fosfat antara BSF 1, BSF 2, dan BSF 3. Grafik perbandingannya dapat dilihat di bawah ini.
Berdasarkan gambar 4.3 di atas dapat dilihat bahwa efisiensi penyisihan fosfat pada seluruh unit biosand filter mengalami kenaikan dari hari pertama sampai dengan hari kesepuluh. Peningkatan nilai penyisihan fosfat disebabkan oleh semakin banyaknya biofilm yang tumbuh di media pasir setiap harinya. Biofilm ini yang berfungsi untuk mereduksi konsentrasi fosfat pada air limbah Eisiensi penyisihan rata-rata fosfat pada BSF 1, BSF 2, dan BSF 3 adalah 20,98%, 23,14 %, dan 20,54 %.
4.2.4 Data Analisis Blanko Penurunan Kadar TSS pada Reaktor Biosand filter
Hasil analisis blanko penurunan kadar TSS dapat dilihat pada tabel 4.16 di bawah ini.
0 10 20 30 40 50 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 p e rsen tase r e m o val ( % ) hari ke- BSF 1 BSF 2 BSF 3
Gambar 4.3 Grafik perbandingan efisiensi penyisihan blanko fosfat BSF 1, BSF 2, dan BSF 3
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%) 1 1.257 1.216 3,24 2 1.287 1.235 4,08 3 1.178 1.127 4,36 4 1.195 1.149 3,87 5 1.208 1.144 5,27 6 1.226 1.179 3,80 7 1.186 1.142 3,75 8 1.143 1.083 5,21 9 1.246 1.198 3,82 10 1.368 1.307 4,47 rata-rata 4,19
Sumber: Hasil analisis
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
1 1.216 425 65,06 2 1.235 416 66,34 3 1.127 406 63,97 4 1.149 377 67,19 5 1.144 385 66,38 6 1.179 384 67,43 7 1.142 396 65,30 8 1.083 365 66,29 9 1.198 414 65,47 10 1.307 430 67,08 rata-rata 66,05
Sumber: Hasil analisis
Tabel 4.16 Data hasil analisis blanko TSS setelah diaerasi
Berdasarkan data dari tabel 4.17 di atas dapat dilihat bahwa bak prasedimentasi mampu menurunkan konsentrasi TSS pada air limbah. Nilai efisiensi penyisihan rata-rata TSS pada bak prasedimentasi adalah 66,05 %. Dari data outlet bak prasedimentasi dijadikan sebagai inlet dari reaktor biosand filter. Setelah itu dilakukan analisis TSS di setiap outlet dari reaktor biosand filter. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 4.18, 4.19, dan 4.20 di bawah ini.
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) efisiensi (%)
1 425 126 70,40 2 416 116 72,17 3 406 105 74,25 4 377 91 75,80 5 385 81 78,83 6 384 86 77,62 7 396 82 79,28 8 365 72 80,30 9 414 81 80,31 10 430 75 82,62 rata-rata 77,16
Sumber: Hasil analisis
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
1 425 114 73,22
2 416 103 75,17
3 406 100 75,37
4 377 86 77,19
Tabel 4.18 Data hasil analisis blanko TSS pada BSF 1
Tabel 4.20 Data hasil analisis blanko TSS pada BSF 3 hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
5 385 83 78,40 6 384 77 79,86 7 396 69 82,60 8 365 65 82,29 9 414 70 83,04 10 430 66 84,63 rata-rata 79,18
Sumber: Hasil analisis
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
1 425 126 70,42 2 416 123 70,36 3 406 114 71,80 4 377 102 73,05 5 385 95 75,35 6 384 93 75,68 7 396 90 77,19 8 365 75 79,57 9 414 86 79,32 10 430 85 80,18 rata-rata 75,29
Sumber: Hasil analisis
Setelah itu dapat dibandingkan efisiensi penyisihan TSS antara BSF 1, BSF 2, dan BSF 3. Grafik perbandingannya dapat dilihat di bawah ini.
Berdasarkan gambar 4.4 di atas dapat dilihat bahwa efisiensi penyisihan TSS pada seluruh unit biosand filter mengalami kenaikan dari hari pertama sampai dengan hari kesepuluh. Eisiensi penyisihan rata-rata TSS pada BSF 1, BSF 2, dan BSF 3 adalah 77,16%, 79,18 %, dan 75,29 %.
4.3 Data Analisis Efisiensi Penurunan Kadar COD pada Reaktor Biosand filter
Sampel air limbah yang telah dibuat sebanyak 30 L diaerasi selama 30 menit untuk menambah jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan dalam perkembangan biofilm pada reaktor biosand filter. Kemudian sampel air limbah dimasukkan ke dalam eservoar dan dialirkan ke bak parsedimentasi dan kemudian ke reaktor biosand filter dengan aliran downflow secara intermitten. Analisis dilakukan di tiga titik sampling, yaitu di inlet bak prasedimentasi, outlet bak prasedimentasi, dan outlet reaktor
0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 p e rsen tase r e m o val hari ke- bsf 1 bsf 2 bsf 3
Gambar 4.4 Grafik perbandingan efisiensi penyisihan blanko TSS BSF 1, BSF 2, dan BSF 3
biosand filter. Untuk menentukan efisiensi penyisihan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.
Total efisiensi penyisihan (100%) = ((inlet-outlet)/inlet x 100%)
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) efisiensi (%)
1 1.652 1.345 18,60 2 1.694 1.388 18,07 3 1.739 1.402 19,40 4 1.746 1.436 17,75 5 1.620 1.323 18,33 6 1.673 1.364 18,46 7 1.735 1.435 17,30 8 1.682 1.360 19,17 9 1.642 1.363 16,97 10 1.790 1.464 18,21 rata-rata 18,23
Sumber: Hasil analisis
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) efisiensi (%)
1 1.345 895 33,46 2 1.388 943 32,06 3 1.402 956 31,80 4 1.436 999 30,47 5 1.323 908 31,36 6 1.364 930 31,85 7 1.435 971 32,30
Tabel 4.21 Data hasil analisis COD setelah diaerasi
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) efisiensi (%)
8 1.360 937 31,09
9 1.363 906 33,57
10 1.464 959 34,51
rata-rata 32,25
Sumber: Hasil analisis
Berdasarkan data dari tabel 4.22 di atas dapat dilihat bahwa bak prasedimentasi mampu menurunkan konsentrasi COD pada air limbah.Nilai efisiensi penyisihan rata-rata COD pada bak prasedimentasi adalah 32,25 %. Dari data outlet bak prasedimentasi dijadikan sebagai inlet dari reaktor biosand filter. Setelah itu dilakukan analisis COD di setiap outlet dari reaktor biosand filter. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 4.23, 4.24, dan 4.25 di bawah ini.
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
1 895 327 63,47 2 943 295 68,73 3 956 232 75,68 4 999 216 78,37 5 908 312 65,63 6 930 165 82,27 7 971 209 78,48 8 937 138 85,30 9 906 293 67,63 10 959 236 75,36 rata-rata 74,09
Sumber: Hasil analisis
Tabel 4.25 Data hasil analisis COD pada reaktor BSF 3 hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
1 895 283 68,42 2 943 250 73,52 3 956 139 85,47 4 999 137 86,30 5 908 230 74,62 6 930 257 72,36 7 971 247 74,53 8 937 167 82,18 9 906 249 72,49 10 959 198 79,37 rata-rata 76,93
Sumber: Hasil analisis
hari ke- inlet (mg/l) outlet (mg/l) Efisiensi (%)
1 895 354 60,47 2 943 326 65,38 3 956 232 75,68 4 999 223 77,63 5 908 221 75,67 6 930 245 73,60 7 971 309 68,17 8 937 250 73,36 9 906 288 68,24 10 959 289 69,85 rata-rata 70,81
Sumber: Hasil analisis
Perbandingan nilai efisiensi penyisihan dari ketiga biosand filter dapat dilihat pada tabel 4.26 di bawah ini.
hari ke- BSF 1 (%) BSF 2 (%) BSF 3 (%) 1 63,47 68,42 60,47 2 68,73 73,52 65,38 3 75,68 85,47 75,68 4 78,37 86,30 77,63 5 65,63 74,62 75,67 6 82,27 72,36 73,60 7 78,48 74,53 68,17 8 85,30 82,18 73,36 9 67,63 72,49 68,24 10 75,36 79,37 69,85 rata-rata 74,09 76,93 70,81 Sumber: Hasil analisis
Berdasarkan tabel 4.26 di atas, kemudian dibuat grafik perbandingan efisiensi penyisihan COD dari seluruh biosand filter.
Tabel 4.26 Data perbandingan efisiensi penyisihan COD seluruh BSF
Berdasarkan gambar 4.5 di atas dapat diketahui bahwa efisiensi yang diperoleh dari ketiga unit BSF dengan variasi diameter dan ketinggian media yang berbeda menunjukkan penurunan efisiensi yang belum stabil. Secara umum dapat dilihat bahwa efisiensi mengalami kenaikan dari hari pertama dan mulai turun setelah hari ke enam. Penurunan konsentrasi COD pada air limbah disebabkan karena adanya biofilm pada media pasir. Pada biofilm tersebut terdapat mikroorganisme yang menyebabkan terjadinya proses biologis dimana bakteri yang tumbuh pada media menggunakan oksigen yang terlarut dalam air limbah untuk menguraikan zat organik yang terdapat pada air limbah.
Efisiensi rata-rata penurunan konsentrasi COD dari BSF 1 adalah 74,09% untuk BSF 2 adalah 76,93% dan untuk BSF 3 adalah 70,81%. Hal ini dapat terlihat bahwa nilai efisiensi BSF 2 memiliki nilai efisiensi penyisihan yang paling baik.
0 20 40 60 80 100 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 p e rsen tase r e m o val hari ke- bsf 1 bsf 2 BSF 3
Gambar 4.5 Efisiensi penyisihan konsentrasi COD pada unit BSF 1, BSF 2, dan BSF 3
Berdasarkan keseluruhan data yang ada, kemudian dihitung nilai efisiensi penurunan konsentrasi COD total antara bak pengendap dan unit biosand filter. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.27 di bawah ini.
hari ke- efisiensi penyisihan (%) BP+BSF 1 BP+BSF 2 BP+BSF 3 1 75,69 78,96 73,68 2 78,75 81,99 76,51 3 83,45 90,09 83,45 4 84,96 90,46 84,47 5 76,42 82,62 83,30 6 87,90 81,16 81,96 7 85,44 82,79 78,47 8 89,85 87,72 81,62 9 78,50 81,73 78,94 10 83,88 86,48 80,26 rata-rata 82,48 84,40 80,27 Sumber: Hasil analisis
Berdasarkan tabel 4.27 di atas, dapat dilihat bahwa unit BSF 2 memiliki nilai efisiensi penyisihan yang paling baik. Hal ini menunjukkan bahwa diameter dan kedalaman media pasir halus mempengaruhi besarnya nilai efisiensi penyisihan konsentrasi COD pada air limbah. Semakin kecil diameter pasir, maka total luas permukaan media pasir yang dapat ditumbuhi oleh biofilm akan semakin banyak, sehingga kemampuan mikroorganisme dalam menyisihkan konsentrassi COD semakin baik. Kedalaman media yang semakin dalam mengakibatkan volume pasir juga semakin banyak, sehingga biofilm yang tumbuh juga semakin
Tabel 4.27 Data efisiensi penyisihan COD gabungan BP dan unit BSF