BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya penanggulangan kejahatan atau tindak pidana yang semakin

Teks penuh

(1)
(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada dasarnya penanggulangan kejahatan atau tindak pidana yang semakin tinggi intensitasnya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat bertujuan untuk menciptakan keamanan dalam negeri.1 Keamanan dalam negeri merupakan syarat utama mendukung terwujudnya masyarakat madani yang adil, makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (disingkat UUD NRI Tahun 1945).2 Keamanan dalam negeri adalah keadaan yang ditandai dengan terjaminnya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, serta terselenggaranya perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.

Tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Tujuan tersebut akan dicapai melalui pembangunan nasional yang meliputi pembangunan di segala bidang yakni bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum dan lain sebagainya. Pembangunan di bidang hukum dapat dilihat dari politik hukum nasional yang menjadi dasar kebijakan di bidang pembangunan hukum. Politik nasional dapat

1

Sri Endah Wahyuningsih, 2010, Prinsip-prinsip Individualisasi Pidana Dalam Hukum Pidana Islam, Cetakan Pertama Juli 2010, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, hlm. 17.

(3)

dimaknai sebagai kebijakan nasional mengenai pembentukan, perubahan, dan penegakan hukum, yang merupakan proses penormaan nilai-nilai keadilan masyarakat, nilai-nilai sosiologis masyarakat, nilai-nilai filosofis masyarakat, menjadi suatu perangkat aturan atau “norma” yang akan digunakan untuk mengatur sikap dan tingkah laku manusia. 3

Benturan antara hak dan kewajiban warga negara terjadi jika terdapat warga Negara yang melakukan pelanggaran maupun kejahatan, sehingga dimungkinkan warga negara tersebut dijatuhkan hukuman pidana. Terhadap perbuatan yang melawan hukum pidana diberikan ancaman pidana, dan oleh sebab itu berdasarkan kewenangan alat penegak hukum dapat diajukan tuntutan hukum dan keputusan menurut cara-cara tertentu sesuai dengan ancaman pidana yang berlaku. Seseorang (si pelanggar) yang dijatuhi putusan pidana penjara berkedudukan sebagai narapidana.4

Lembaga peradilan sebagai lembaga penegakan hukum dalam sistem peradilan pidana “Criminal Justice System” merupakan suatu tumpuan harapan dari para pencari keadilan yang selalu menghendaki peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan. Keadilan yang hakiki merupakan suatu syarat yang utama untuk mempertahankan kelangsungan hidup suatu masyarakat, dalam hal hakim

3 Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari, 2004, Dasar-Dasar Politik Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm. 59.

4Bambang Poernomo, 1986, Pelaksanaan Pidana Penjara Dengan Sistem Pemasyarakatan,

(4)

mempunyai suatu peranan penting dalam penegakan hukum pidana untuk tercapainya suatu keadilan yang diharapkan dan dicita-citakan.5

Pada hakikatnya, semua terpidana yang menjalani pidana, akan kehilangan kemerdekaannya setelah diputuskan melalui putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang selanjutnya terpidana akan ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan sebagai narapidana. Di lembaga Pemasyarakatan, seluruh narapidana kembali diproses sesuai dengan hukum yang berlaku agar nantinya dapat kembali hidup bermasyarakat. Proses ini dilakukan untuk memenuhi tujuan dari hukum pidana itu sendiri, yaitu untuk memenuhi rasa keadilan dalam masyarakat dengan cara melaksanakan dan juga menegakkan aturan hukum pidana demi untuk terciptanya keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum.6

Dalam pembaruan hukum pidana di Indonesia, perkembangan pemikiran yang menyangkut dari tujuan pemidanaan telah dimuat dalam Rancangan KUHP tahun 2015 pada Pasal 55, sebagai berikut:

(1) Pemidanaan bertujuan:

a. mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat;

b. memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna;

5 Yesmil Anwar dan Adang, 2009, Sistem Peradilan Pidana, Widya Padjadjaran, Bandung, hlm. 218.

6 Muhammad Zainal Abidin & I Wayan Edy Kurniawan, 2013, Catatan mahasiswa Pidana,

(5)

c. menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan keseimbangan, dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat; dan

d. membebaskan rasa bersalah pada terpidana;

(2) Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan merendahkan martabat manusia.

Sebenarnya pembaharuan hukum pidana yang menyeluruh harus meliputi pembaharuan hukum pidana meteriil (substantif), hukum pidana formil dan hukum pelaksanaan pidana. Apabila pembaharuan tidak serempak, maka akan terjadi kesulitan dalam pelaksanaannya.7

Berdasarkan hal tersebut, sudah seharusnya bangsa Indonesia ke depan perlu melakukan konstruksi sistem hukum pidana dengan menciptakan “karya agung” berupa KUHAP, KUHP dan Hukum Pelaksanaan Pidana yang dipakai sebagai dasar dalam setiap penanganan perkara pidana harus lebih mencerminkan rasa keadilan, baik bagi korban maupun pelaku tindak pidana dan lebih luas lagi bagi masyarakat dan bukan sekedar keadilan hukum. Selain daripada itu harus menggunakan pendekatan yang humanis dengan menggali nilai-nilai budaya hukum kearifan lokal bangsa Indonesia yang lebih adil dan bijaksana serta harus didorong dan diutamakan ketimbang suatu pendekatan formal legalistik yang kaku dan tidak menciptakan rasa keadilan dalam masyarakat.

Untuk pelaksanaan pidana penjara yang berdasarkan kepada sistem pemasyarakatan di Indonesia saat ini mengacu kepada Undang-undang Nomor 12

(6)

Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Serta penjelasan Umum Undang-undang Pemasyarakatan yang merupakan dasar yuridis filosofi tentang pelaksanaan sistem pemasyarakatan di Indonesia dinyatakan bahwa:8

1. Bagi negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila, pemikiran-pemikiran baru mengenai fungsi pemidanaan yang tidak lagi sekedar penjeraan tetapi juga merupakan suatu usaha rehabilitasi dan reintegrasi sosial warga binaan pemasyarakatan telah melahirkan suatu sitem pembinaan yang sejak lebih dari tiga puluh tahun yang dinamakan sistem pemasyarakatan.

2. Walaupun telah diadakan berbagai perbaikan mengenai tatanan (stelsel) pemidanaan seperti pranata pidana bersyarat (Pasal 14a KUHP), pelepasan bersyarat (Pasal 15KUHP), dan pranata khusus penentuan serta penghukuman terhadap anak (Pasal 45, 46, dan 47 KUHP), namun pada dasarnya sifat pemidanaan masih bertolak dari asas dan sistem pemenjaraan. Sitem pemenjaraan sangat menekankan pada unsur balas dendam dan penjeraan, sehingga institusi yang dipergunakan sebagai tempat pembinaan adalah rumah penjara bagi narapidana dan rumah pendidikan negara bagi anak yang bersalah.

3. Sistem pemenjaraan sangat menekankan kepada unsur balas dendam dan penjeraan yang disertai dengan lembaga rumah penjara secara berangsur- angsur dipandang sebagai suatu sistem dan sarana yang tidak sejalan dengan konsep rehabilitasi dan reintegrasi sosial, agar narapidana menyadari kesalahannya, tidak lagi berkehendak untuk melakukan tindak pidana dan menjadi warga masyarakat yang bertanggung jawab bagi diri, keluarga, dan lingkungannya.

Menurut Soedjono Dirdjosisworo narapidana adalah manusia biasa seperti manusia lainnya hanya karena melanggar norma hukum yang ada, maka dipisahkan oleh hakim untuk menjalani hukuman. Lebih lanjut Soedjono Dirdjosisworo mengemukakan mengenai pengertian terpidana yaitu orang yang dipidana hilang kemerdekaannya serta menjalankan pidananya dalam lingkungan yang tertentu dan terbatas yang membawa akibat bermacam-macam derita yang ingin dihindarinya

8 Dwidja Priyanto, 2009, Sistem Pelaksanaan Pidana Penjara Di Indonesia, Cet Kedua,

(7)

dengan pelan baik fisik maupun mental. 9 Narapidana menurut Salimi Budi Santoso, adalah manusia yang karena perbuatannya melanggar norma hukum, maka dijatuhi hukuman pidana oleh hakim.10

Terkait dengan masalah terpidana dan narapidana, Adi Sujatno mengemukakan, bahwa dalam ketentuan Pasal 1 ayat (6) Undang-undang No. 12 Tahun 1999 tentang Pemasyarakatan disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “terpidana adalah seseorang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap”. Sedangkan dalam Pasal 1 ayat (7) Undang-undang Pemasyarakatan yang dimaksud dengan “narapidana adalah terpidana yang menjalani hilang kemerdenaan di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS)”.11

Dari sekian banyak jenis sanksi pidana, pidana penjara lebih sering digunakan untuk menghukum pelaku tindak pidana. Hal tersebut masih dapat dilihat sampai sekarang. Dengan dibatasinya kebebasan bergerak pelaku tindak pidana di dalam penjara, dapat dikatakan sanksi penjara lebih efektif dalam menghukum pelaku. Di dalam sistem kepenjaraan, penjeraan menjadi hal utama. Dengan demikian, tujuan diadakannya penjara sebagai tempat menampung para pelaku tindak pidana,

9

Soedjono Dirdjosisworo, 1984, Sejarah dan Asas - asas Penologi (Pemasyarakatan), Amrico, Bandung, hlm. 233

10 Salimi Budi Santoso, 1987, Kebijaksanaan Pembinaan Narapidana dalam Pembangunan Nasional Berdasarkan Sistem Pemasyarakatan, Dirjen BTW, Jakarta, hlm. 36

11 Adi Sujatno, 2004, Sistem Pemasyarakatan Indonesia (Membangun Manusia Mandiri), Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Departemen Kehakiman dan HAM RI, Jakarta, hlm. 12

(8)

dimaksudkan untuk membuat jera (regred) dan tidak lagi melakukan tindak pidana, untuk itu peraturan-peraturan dibuat keras, bahkan sering tidak manusiawi.12

Pidana penjara merupakan salah satu jenis sanksi pidana yang paling sering digunakan sebagai sarana untuk menanggulangi masalah kejahatan. Penggunaan pidana penjara sebagai sarana untuk menghukum para pelaku tindak pidana baru dimulai akhir abad ke-18 yang bersumber pada faham individualisme dan gerakan perikemanusiaan, sehingga pidana penjara semakin memegang peranan penting dan menggeser kedudukan pidana mati dan pidana terhadap badan yang dipandang kejam. Atas dasar hal tersebut maka pidana penjara merupakan pidana yang paling sering dijatuhkan oleh putusan hakim, sehingga kondisi tersebut patut untuk mendapat perhatian lebih dan perlu diperbaharui. Menurut Mulder dalam Dwidja Priyatno, “Politik hukum pidana harus selalu memperhatikan masalah pembaharuan juga dalam masalah perampasan kemerdekaan”.13

Sistem pemenjaraan yang sangat menekankan pada unsur penjeraan dan menggunakan titik tolak pandangannya terhadap narapidana sebagai individu, semata-mata dipandang sudah tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Bagi bangsa Indonesia pemikiran-pemikiran mengenai fungsi pemidanaan tidak lagi sekedar pada aspek penjeraan belaka, tetapi juga merupakan suatu usaha rehabilitasi dan reintegrasi

12 C.I. Harsono HS, 1995, Sistem Baru Pembinaan Narapidana, Djambatan, Jakarta. hlm. 22. 13

Dwidja Priyatno, 2006, Sistem Pelaksanaan Pidana Penjara di Indonesia, Refika Aditama,

(9)

sosial, serta melahirkan suatu sistem pembinaan terhadap pelanggar hukum yang dikenal dengan Sistem Pemasyarakatan.

Gagasan Pemasyarakatan dicetuskan pertama kali oleh Sahardjo, pada tanggal 5 Juli 1963 dalam pidato penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa di bidang Ilmu Hukum oleh Universitas Indonesia. Berikut kutipan pidato tersebut Sahardjo, mengemukakan bahwa :

“Di bawah pohon beringin pengayoman telah kami tetapkan untuk menjadi penyuluh bagi petugas dalam membina narapidana, maka tujuan pidana penjara kami rumuskan: di samping menimbulkan rasa derita pada narapidana agar bertobat, mendidik supaya ia menjadi seorang anggota masyarakat Indonesia yang berguna. Dengan singkat tujuan pidana penjara adalah pemasyarakatan”.

Gagasan tersebut kemudian diformulasikan lebih lanjut sebagai suatu sistem pembinaan terhadap narapidana di Indonesia menggantikan sistem pemenjaraan pada tanggal 27 April 1964 dalam Konferensi Dinas Direktorat Pemasyarakatan di Lembang Bandung. Pemasyarakatan dalam konferensi ini dinyatakan sebagai suatu sistem pembinaan narapidana dan merupakan pengejawantahan keadilan yang bertujuan untuk mencapai reintegrasi sosial Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dalam kapasitasnya sebagai individu, anggota masyarakat, maupun makhluk Tuhan.14

Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor: 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, disebutkan pengertian tentang Pemasyarakatan dan Sistem Pemasyarakatan. Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) berdasarkan sistem, kelembagaan, dan cara

14

Adi Sujatno, 2008, Pencerahan di Balik Penjara. Dari Sangkar Menuju Sanggar Untuk Menjadi Manusia Mandiri, Ed. Dalmeri, Teraju, Jakarta, hlm. 122- 123.

(10)

pembinaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana.

Adapun yang dimaksud dengan Sistem Pemasyarakatan adalah suatu tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembinaan WBP berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara pembina, yang dibina, dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas WBP agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat. Selanjutnya dalam ketentuan Pasal 1 butir (3) Undang-Undang tentang Pemasyarakatan, disebutkan ”Lembaga Pemasyarakatan yang selanjutnya disebut LAPAS adalah tempat untuk melaksanakan pembinaan Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan”. 15

Sehubungan dengan pengertian tentang pemasyarakatan dan narapidana sebagaimana tersebut di atas, Adi Sujatno mengemukakan bahwa pemasyarakatan adalah suatu proses therapeutic, di mana narapidana pada waktu masuk Lembaga Pemasyarakatan merasa dalam keadaan tidak harmonis dengan masyarakat sekitarnya. Sistem pemasyarakatan juga beranggapan bahwa hakikat perbuatan melanggar hukum oleh warga binaan pemasyarakatan adalah cerminan dari adanya keretakan hubungan hidup, kehidupan dan penghidupan antara yang bersangkutan dengan masyarakat di sekitarnya. Hal ini berarti bahwa faktor penyebab terjadinya

15 Lihat Rumusan Pasal 1 butir (1), (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan.

(11)

perbuatan melanggar hukum bertumpu kepada 3 (tiga) aspek tersebut. Di mana aspek hidup diartikan sebagai hubungan antara manusia dengan pencipta-Nya.

Aspek kehidupan diartikan sebagai hubungan antara sesama manusia. Sedangkan aspek penghidupan diartikan sebagai hubungan manusia dengan alam/lingkungan (yang dimanifestasikan sebagai hubungan manusia dengan pekerjaannya). Oleh sebab itu tujuan dari sistem pemasyarakatan adalah pemulihan hubungan hidup, kehidupan dan penghidupan antara warga binaan pemasyarakatan dengan masyarakat (reintegrasi hidup, kehidupan dan penghidupan). Tugas pemasyarakatan menjembatani prosesnya kehidupan negatif antara narapidana dengan unsur-unsur masyarakat melalui pembinaan, perubahan menuju kehidupan yang positif.16

Pembinaan narapidana diperlukan terkait dengan berbagai unsur, terutama bentuk lembaga, yang sesuai dengan tingkat pengembangan semua kehidupan dan penuh rasa pengabdian. Di samping itu, masyarakat yang turut bertanggung jawab tentang adanya pelanggaran hukum, wajib diturutsertakan secara langsung dalam usaha pembinaan narapidana dan digerakkan agar menerima kembali narapidana yang telah bebas dari Lembaga Pemasyarakatan sebagai salah seorang warganya dan membantunya dalam menempuh hidup barunya.17

Usaha pembinaan adalah ditujukan terhadap kejiwaan untuk memperkembangkan caya cipta, rasa, karsa agar jujur, halus sopan, sosial serta dapat

16 Adi Sujatno, 2004, Op. Cit., hlm. 14

17 H.R. Soegondo, 2006, Sistem Pembinaan NAPI Di Tengah Overload Lapas Indonesia, Lukman, (Ed.), Insania Cita Press, Sleman –Yogyakarta, hlm. 3.

(12)

mengekang nafsunya dan suka mengabdi kepada Tuhan; terhadap hidup jasmaniahnya serta daya karyanya agar sehat, kuat dan mampu berdiri sendiri dengan mendapatkan nafkah yang halal dan cukup; terhadap pribadinya sebagai individu dan anggota masyarakat agar mempunyai rasa harga diri dan tanggungjawab yang penuh serta suka mengabdi pada masyarakat dan negara, sehingga lebih sadar akan kewajiban serta haknya sebagai warga dan menghormati hukum. Untuk menjaga agar narapidana tidak terasing dari masyarakat di mana ia akan kembali nanti, narapidana selalu dibaurkan dengan masyarakat dan keluarganya.

Harapan dari pembinaan tersebut ternyata berbeda dengan fakta di lapangan. Pembinaan narapidana yang sekarang dilakukan sering tidak sesuai lagi dengan perkembangan nilai dan hakekat yang tumbuh di masyarakat. Dalam pembinaan narapidana sering tidak sesuai dengan yang diamanahkan Undang-Undang Pemasyarakatan Pasal 14 ayat (1) mengenai hak-hak narapidana dan dalam ketentuan PP No. 31/1999 tentang Pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan, merupakan dasar bagaimana seharusnya narapidana diberlakukan dengan baik dan manusiawi di dalam suatu system pemidanaan yang terpadu.

Masalah pembinaan bagi narapidana pada dasarnya merupakan studi tentang penegakan hukum yang di dalamnya mengkaji masalah bekerjanya hukum yaitu hukum yang mengatur tentang pembinaan bagi narapidana dalam konteks sistem pemasyarakatan.

(13)

Berikut adalah data-data jumlah penghuni rutan dan lapas perkanwil pada per- bulan Januari 2019, yaitu:

Tabel 3.1.

Data Terakhir Jumlah Narapidana Perkanwil

Per Bulan Januari 201918

No Satker Jumlah Napi Kapasitas % capacity % over capacity 1 Kanwil Aceh 8373 4421 189 89 2 Kanwil Bali 3205 1453 221 121

3 Kanwil Bangka Belitung 2299 1348 171 71

4 Kanwil Banten 11106 4637 240 140

5 Kanwil Bengkulu 2804 1562 180 80

6 Kanwil D.I. Yogyakarta 1638 1920 85 0

7 Kanwil DKI Jakarta 17217 5851 294 194

8 Kanwil Gorontalo 907 767 118 18

9 Kanwil Jambi 4052 1996 203 103

10 Kanwil Jawa Barat 23821 15965 149 49

11 Kanwil Jawa Tengah 13098 8215 159 59

12 Kanwil Jawa Timur 26827 12358 217 117

13 Kanwil Kalimantan Barat 5232 2379 220 120 14 Kanwil Kalimantan Selatan 8844 3347 264 164 15 Kanwil Kalimantan Tengah 3921 2048 191 91 16 Kanwil Kalimantan Timur 12283 2998 410 310

17 Kanwil Kepulauan Riau 4545 2480 183 83

18 Kanwil Lampung 8672 4848 179 79

19 Kanwil Maluku 1185 1315 90 0

20 Kanwil Maluku Utara 1188 1477 80 0

21

Kanwil Nusa Tenggara Barat

2753 1269 217 117

22

Kanwil Nusa Tenggara Timur

3217 2751 117 17

18 SDP (Sistem Database Pemasyarakatan), Data Terakhir Jumlah Penghuni Perkanwil Per Bulan Januari 2019. http://smslap.ditjenpas.go.id/public/grl/current/monthly, diakses pada tanggal 10 Januari 2019, jam 19.30 WIB.

(14)

23 Kanwil Papua 2455 2237 110 10

24 Kanwil Papua Barat 1118 984 114 14

25 Kanwil Riau 11847 4280 277 177

26 Kanwil Sulawesi Barat 870 818 106 6

27 Kanwil Sulawesi Selatan 10315 5765 179 79 28 Kanwil Sulawesi Tengah 2939 1589 185 85 29

Kanwil Sulawesi Tenggara

2774 1966 141 41

30 Kanwil Sulawesi Utara 2733 2153 127 27 31 Kanwil Sumatera Barat 5414 3209 169 69 32

Kanwil Sumatera Selatan

13594 6605 206 106

33 Kanwil Sumatera Utara 33440 11088 302 202 Sumber: SDP (Sistem Database Pemasyarakatan) yang telah dimodifikasi

Berdasarkan data yang dihimpun dari SDP (Sistem Database Pemasyarakatan) tersebut di atas, Kanwil Sumatera Utara adalah wilayah dengan jumlah napi terbanyak yang berjumlah 33.440 narapidana terhitung tanggal 10 Januari 2019. Dilanjutkan oleh Kanwil Jawa Timur dengan jumlah sebesar 26.827 narapidana untuk periode yang sama. Sedangkan, Kanwil Sulawesi Barat merupakan wilayah dengan jumlah terendah, yaitu 870 narapidana.

Berdasarkan kapasitasnya, per bulan Januari 2019, hanya 3 (tiga) kanwil di Indonesia yang tidak mengalami kelebihan kapasitas, yaitu DI Yogyakarta, Maluku, dan Maluku Utara. Sedangkan, jumlah kanwil yang mengalami kelebihan kapasitas adalah 30 (tiga puluh) wilayah.

Kanwil Kalimantan Timur adalah wilayah dengan persentase kelebihan kapasitas lapas terbesar di Indonesia dengan kapasitas 410 persen berarti dengan over kapasitas sejumlah 310 persen. Urutan kedua adalah Kanwil Sumatera Utara dengan

(15)

kapasitas mencapai 302 persen, sehingga terjadi over kapasitas sejumlah 202 persen.. Urutan ketiga adalah Kanwil DKI Jakarta, wilayah dengan jumlah penghuni kapasitas sebesar mencapai 294 persen, sehingga terjadi over kapasitas sejumlah 194 persen.

Kondisi kelebihan kapasitas salah satunya di wilayah Sumatera Utara (Sumut) sebagai narapidana terbanyak di Indonesia sesuai dengan data tabel SDP (Sistem Database Pemasyarakatan). Walaupun Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Sumut telah menambah kapasitas pada blok hunian di 13 (tiga belas) unit pelaksana teknis (UPT) pemasyarakatan,19 tapi masih belum bisa mengatasi masalah kelebihan kapasitas tersebut.

Permasalahan kelebihan kapasitas dalam penjara ini erat kaitannya dengan sistem hukuman yang diterapkan di Indonesia, dimana seluruh napi maupun tahanan harus dipenjarakan, bukan mendapatkan pemidanaan alternatif, seperti kerja sosial. Seperti yang terlihat baik dalam KUHP maupun R KUHP.

Fenomena masalah over kapasitas yang selama ini terjadi di Lapas, semakin menguatkan pandangan negatif masyarakat terhadap pengelolaan Lapas. Lapas dipandang telah gagal memberikan pelayanan terhadap penghuninya. Institusi ini juga

19 Biro Humas, Hukum dan Kerjasama, 20 Januari 2017. Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Sumut telah menambah kapasitas pada blok hunian di 13 unit pelaksana teknis (UPT) pemasyarakatan yang diresmikan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham), Yasonna H. Laoly. Pembangunan blok hunian ini adalah salah satu bentuk kepercayaan dan komitmen pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan di pemasyarakatan. Peresmian bangunan rumah dinas dan flat imigrasi, pembangunan blok hunian dan sarana prasarana pada lapas, rutan, cabang rutan, dan balai harta peninggalan pada Kanwil Kemenkumham Sumut adalah wujud nyata yang harus segera ditindaklanjuti dengan cepat dan tepat oleh jajaran pemasyarakatan. Gubernur Provinsi Sumut, Tengku Erry Nuradi, mengatakan pembangunan yang dilakukan ini diharapkan dapat menambah daya tampung hunian, sekaligus mengurangi sedikit dari over kapasitas yang ada. https://www.kemenkumham.go.id/berita/kanwil-

sumut-atasi-lapas-over-kapasitas-dengan-tambah-kapasitas-hunian , diakses pada tanggal 7 September

(16)

dinilai gagal menjadi tempat untuk mengubah perilaku jahat menjadi perilaku baik. Dengan kata lain, pelaksanaan pidana di bawah institusi Pemasyarakatan yang dimaksudkan untuk memberikan rasa aman dan melindungi masyarakat dari kejahatan, dianggap belum dilaksanakan secara maksimal.

Pandangan di atas tentu tidak dapat disalahkan sepenuhnya, sebab selama ini publik sendiri belum mendapatkan gambaran informasi yang memadai, sebagai hasil sebuah kajian ilmiah tentang situasi yang terjadi di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Oleh karena itu, perlu ada upaya pembuktian yang mampu menjawab beragam pertanyaan seputar kondisi Lapas. Apakah Lapas dalam pengelolaannya sangat buruk dan merendahkan martabat manusia atau justru sebaliknya, sangat baik dalam memenuhi kebutuhan penghuninya?20

Sebagai dampak munculnya berbagai tingkat, bentuk, jenis, dan perilaku kejahatan, baik yang bersifat transnasional crime, organizer crime, white collar

crime, dan economic crime, pelaksanaan tugas Pemasyarakatan menghadapi

kondisi yang cukup berat, yaitu adanya tingkat hunian lembaga pemasyarakatan (Lapas) yang cukup tinggi. Berdasarkan data yang ada pada Ditjen Pemasyarakatan, tingkat hunian Lapas terus mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai kondisi overcapacity

Overcapacity ini tentu berdampak pada berbagai aspek kehidupan di dalam

Lapas yang cenderung bersifat disfungsional terhadap pencapaian tujuan

20 Artha Febriansyah, dkk, 2014, Realitas Penjara Indonesia, Survei Kualitas Layanan Pemasayarakatan (Wilayah Jakarta, Banten, Pelembang, Yogyakarta dan Surabaya), Center For

(17)

Pemasyarakatan. Dan jika kondisi ini tidak teratasi, maka tentu saja harapan masyarakat tentang integrasi yang sehat antara mantan Warga Binaan Pemasyarakatan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak akan dapat dicapai secara optimal.

Para Narapidana diupayakan untuk tidak “dihukum” namun lebih

diupayakan untuk diayom dan dibina agar nantinya dapat diterima kembali di

tengah-tengah masyarakat. Dengan kata lain, upaya penerapan HAM bagi Narapidana telah jelas terakomodir secara normatif melalui Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Adapun ketentuan dalam Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan telah mengakomodir hak-hak absolut dan hak-hak bersyarat bagi Narapidana.

Hak-hak bersyarat merupakan hak-hak yang sangat menjadi perhatian bagi Narapidana. Banyak Narapidana berharap atas hak-hak bersyarat tersebut, sehingga mereka berupaya untuk berperilaku baik di Lapas. Namun bagi Narapidana yang mengalami kesulitan menerima Remisi, mereka terlihat apatis. Mereka berpendapat tidak perlu memperbaiki diri di Lapas bila mereka tidak mendapatkan hak mereka. Tentunya sikap dan pernyataan beberapa Narapidana tersebut memberikan kecenderungan adanya sikap pamrih atau tidak adanya kesadaran dari mereka untuk memperbaiki diri, dan ini dapat dikatakan sebagai sikap manusia pada umumnya.

Overcapacity ini tentu berdampak pada berbagai aspek kehidupan di dalam

(18)

Pemasyarakatan. Dan jika kondisi ini tidak teratasi, maka tentu saja harapan masyarakat tentang integrasi yang sehat antara mantan Warga Binaan Pemasyarakatan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak akan dapat dicapai secara optimal.

Untuk menekan overcapacity di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), diantaranya adalah melakukan optimalisasi pemberian hak-hak warga binaan yaitu pemberian Remisi (pengurangan masa pidana) dan program reintegrasi sosial, seperti Pembebasan Bersyarat (PB), Cuti Bersyarat (CB) dan Cuti Menjelang Bebas (CMB).

Dapat diketahui jika semakin banyak narapidana menjalani masa pidana di Lembaga Pemasyarakatan, maka lembaga pemasyarakatan akan bertambah penuh dengan narapidana-narapidana baru. Terlebih lagi jika narapidana tersebut divonis pidana seumur hidup semakin banyak, maka akan semakin penuhlah lembaga- lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Untuk itu, perlu dicarikan solusi agar tujuan pelaksanaan pidana penjara dapat tercapai dengan baik. Upaya penyelesaian permasalahan overcapacity tersebut penerapan hak-hak narapidana, di antaranya adalah dilaksanakan melalui kegiatan Percepatan pemberian Pembebasan Bersyarat (PB), Cuti Bersyarat (CB) dan Cuti Menjelang Bebas (CMB).

Hak-hak bersyarat juga menjadi perhatian bagi Lapas karena dengan diperolehnya hak Remisi atau PB, maka akan mengurangi jumlah penghuni di Lapas yang berimbas memberikan solusi dalam kelebihan kapasitas hampir di seluruh lapas

(19)

Kebijakan percepatan reintegrasi sosial dengan optimalisasi program reintegrasi sosial bukan hanya menjadi solusi untuk masalah overcapacity lapas, tetapi juga masalah anggaran. Logikanya semakin sedikit jumlah penghuni, maka semakin sedikit anggaran yang akan dihabiskan. Pada dasarnya remisi dan PB bukanlah hal baru dan tidak melanggar aturan. Keduanya telah diatur dalam peraturan dan ketentuan yang sah. Remisi ataupun PB, diberikan kepada warga binaan sebagai reward bagi mereka yang berperilaku baik selama masa pembinaan sebagaimana telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, Kepres Nomor 174 Tahun 1999 tentang Remisi dan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.

Bagi Warga Binaan Pemasyarakatan untuk mendapatkan 2 (dua) hak ini, Kemenkumham sudah memperketat persyaratannya dengan mengubah Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 dengan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2006 dan kemudian disempurnakan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012. Peraturan Pemerintah terakhir menambah beberapa persyaratan remisi dan PB khusus kepada warga binaan kategori khusus seperti narkoba, teroris, korupsi dan kejahatan transnasional lainnya.

Pelaksanaan PB pun bukan berarti Kemenkumham serta merta mempersingkat hukuman narapidana. Pasal 15 KUHP telah menetapkan, bahwa seorang narapidana dapat diberikan pembebasan bersyarat jika telah menjalani 2/3 masa pidanannya.

(20)

Sesuai dengan namanya narapidana yang mendapatkan hak PB dapat dikeluarkan dengan berbagai persyaratan yang saat ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012.

Bahwa dalam 1/3 masa pidana yang dijalani di tengah-tengah masyarakat adalah masa percobaan dengan pengawasan. Mereka tetap harus mentaati aturan dan lapor diri. Jika aturan mereka langgar atau melakukan tindak pidana lagi selama masa percobaan, maka pembebasan bersyaratnya dicabut, dan kembali lagi hidup di dalam lapas.

Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 memberikan hambatan dalam penerapan hak-hak Narapidana khususnya hak-hak bersyarat seorang narapidana, walaupun sebenarnya dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan telah menentukan adanya hak-hak bagi Narapidana untuk memperoleh keringanan masa pidana.

Perbedaan persepsi tentang Justice Collaborator (JC) atau orang yang membantu aparat membongkar kejahatan terkait atau sejenis, karena berpedoman pada yang (aturan) normatif. Contoh pemberian pemberian remisi yang disebabkan napi mengikuti aturan lama, yaitu seperti Gayus Tambunan dan Nazaruddin yang mendapatkan remisi karena masih mengikuti aturan lama yakni Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan.21

21 https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41001319, diakses pada tanggal 20 Nopember

(21)

Contoh kasus narapidana yang bersedia menjadi Justice Collaborator yaitu dikabulkannya permohonan Justice Collaborator (JC) yang diajukan Andi Agustinus alias Andi Narogong oleh Majelis Hakim Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Majelis Hakim berpendapat, Narogong telah kooperatif dalam persidangan dan mengungkap nama-nama lain dalam kasus korupsi e-KTP. Keputusan Majelis Hakim tersebut mengacu kepada surat dari Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nomor kep 1536/2017 tanggal 5 Desember 2017 yang menetapkan terdakwa sebagai saksi pelaku yang bekerja sama atau Justice

Collaborator.22

Selain itu, hakim menilai sikap Narogong sudah sesuai dengan aturan Sema Nomor 4 tahun 2011. Aturan itu menyebutkan, seseorang bisa dinyatakan sebagai

Justice Collaborator apabila mengakui kejahatannya, bukan pelaku utama, bersedia

membantu membongkar kasus, serta bersedia mengembalikan aset-aset hasil dari korupsi yang dilakukannya. Akan tetapi, meskipun Majelis Hakim mengabulkan permohonan status Justice Collaborator, namun hakim tetap tidak meringankan hukuman Narogong. Majelis Hakim memvonis Narogong 8 (delapan) tahun penjara dan denda Rp1 miliar sesuai dengan tuntutan Jaksa KPK. Alasannya, hakim menilai dampak dari perbuatan Narogong tetap harus diperhitungkan secara adil.

Dalam kasus Andi Narogong tersebut di atas, hakim memang tidak meringankan hukuman dalam kasus korupsi e-KTP, akan tetapi status Justice

22 https://tirto.id/apa-itu-justice-collaborator-dalam-putusan-andi-narogong-cB8r, diakses

(22)

Collaborator tersebut dapat digunakan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan

remisi.

Pada kenyataan dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 telah menyimpang Hierarki Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Jenis dan Hierarki Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, yaitu antara lain: UUD 1945; TAP MPR; Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU); Peraturan Pemerintah; Peraturan Presiden; Peraturan Daerah Provinsi; Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

Seharusnya peraturan di bawahnya tidak boleh bertentangan atau mengatur hal selain yang diperintahkan oleh peraturan di atasnya. Hal ini sesuai dengan salah satu asas hukum, yakni peraturan yang lebih rendah kedudukannya tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Dengan cara seperti itu dimaksudkan akan adanya tertib administrasi pengaturan perundang-undangan yang lebih baik dan tertata dan untuk menghindari adanya pelampauan wewenang.

Sistem Pemasyarakatan di Indonesia dalam pemberian Remisi dan Pembebasan Bersyarat untuk narapidana kasus korupsi, narkoba, dan terorisme diatur dalam Pasal 34A ayat (1) dan Pasal 43A ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan.

(23)

Pengaturan dalam Pasal 34A ayat (1) dan Pasal 43A ayat (1) Peraturan Pemerintah tersebut tidak memberikan kepastian hukum (uncertainty) dan rasa keadilan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan. Syarat justice collaborator yang diatur dalam Peraturan Pemerintah bertentangan dengan semangat Pasal 14 Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Dengan demikian, Justice

collaborator tidak dapat dijadikan sebagai syarat untuk mendapatkan hak Remisi dan

Pembebasan Bersyarat. Oleh sebab itu Pasal 34A ayat (1) dan Pasal 43A ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 tersebut harus direkonstruksikan kembali dengan memperhatikan keadilan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan sesuai dengan filosofi Sistem Pemasyarakatan dalam Pelaksanaan Hak Warga Binaan.

Sekiranya ketika seseorang telah divonis pidana dan telah masuk ke dalam Lapas sebagai warga binaan, maka ia menjadi Narapidana yang telah melewati semua proses dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan, sehingga tidak diperlukan kembali adanya ketentuan atau syarat bila ia ingin mengajukan remisi dan/atau pembebasan bersyarat sebagai bentuk hukuman tambahan.

Dari latar belakang tersebut di atas, Penulis tertarik untuk menyusun disertasi dengan judul “Rekonstruksi Pemberian Hak Remisi dan Pembebasan Bersyarat

Dalam Sistem Pemasyarakatan Di Indonesia Yang Berbasis Nilai Keadilan”.

(24)

1. Bagaimanakah Pemberian Hak Remisi dan Pembebasan Bersyarat Dalam Sistem Pemasyarakatan Di Indonesia Saat Ini?

2. Bagaimanakah Kelemahan-kelemahan Pemberian Hak Remisi dan Pembebasan Bersyarat Dalam Sistem Pemasyarakatan Di Indonesia Saat Ini?

3. Bagaimanakah Rekonstruksi Pemberian Hak Remisi dan Pembebasan Bersyarat Dalam Sistem Pemasyarakatan Di Indonesia Yang Berbasis Nilai Keadilan?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui, menganalisis dan mengkaji Pemberian Hak Remisi dan Pembebasan Bersyarat Dalam Sistem Pemasyarakatan Di Indonesia Saat Ini. 2. Untuk mengetahui, menganalisis dan mengkaji Kelemahan-Kelemahan

Pemberian Hak Remisi dan Pembebasan Bersyarat Dalam Sistem Pemasyarakatan Di Indonesia Saat Ini.

3. Untuk Merekonstruksi Pemberian Hak Remisi dan Pembebasan Bersyarat Dalam Sistem Pemasyarakatan Di Indonesia Yang Berbasis Nilai Keadilan.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoritis yakni :

a. Hasil penelitian ini mempunyai implikasi yang mampu merubah paradigma pengembangan ilmu hukum, dengan Konsep Ideal dari hasil penelitian ini penemuan teori hukum baru adalah Teori Remisi dan Pembebasan

(25)

Sistem Pemasyarakatan untuk pemenuhan hak-hak warga binaan pemasyarakatan dengan memberikan Remisi dan Pembebasan Bersyarat yang berbasis nilai keadilan dan berkesimbangan bagi Narapidana yang telah melewati semua proses dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan sehingga tidak diperlukan kembali adanya ketentuan atau syarat menjadi Justice

collaborator bila mengajukan remisi dan/atau pembebasan bersyarat sebagai

bentuk hukuman tambahan

b. Kebijakan percepatan reintegrasi sosial tersebut dengan Pemberian Hak Remisi dan Pembebasan Bersyarat Dalam Sistem Pemasyarakatan, menjadi solusi untuk masalah kelebihan kapasitas (over capacity).

c. Menambah informasi yang lebih konkret bagi usaha pembaharuan hukum pidana khususnya tentang Pemberian Hak Remisi dan Pembebasan Bersyarat Dalam Sistem Pemasyarakatan.

d. Penelitian ini dipakai sebagai sumbangan bahan bacaan dan kajian serta sebagai masukan dalam pengembangan ilmu hukum khususnya hukum pidana dan ilmu pengetahuan pada umumnya.

2. Manfaat Praktek

Secara praktek penelitian ini diharapkan memberi masukan kepada Lembaga-Lembaga terkait baik eksekutif maupun legislatif terkait dengan Pemberian Hak Remisi dan Pembebasan Bersyarat Dalam Sistem

(26)

a. Agar tujuan dan program pembinaan narapidana dapat tercapai sesuai dengan peraturan perundang-undangan, maka pemerintah dan instansi terkait harus dapat mengatasi dan mencarikan solusi terhadap hambatan-hambatan dengan Pemberian Hak Remisi dan Pembebasan Bersyarat Dalam Sistem Pemasyarakatan Yang Berbasis Keadilan.

b. Undang-undang tentang pemasyarakatan perlu ditegakkan secara benar dan harus dihindarkan dari upaya-upaya penyimpangan hukum untuk kepentingan kekuasaan;

c. Undang-undang tentang pemasyarakatan sebagai regulator utama pembinaan narapidana di Lapas harus diposisikan sebagaimana mestinya, oleh sebab itu Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 tidak boleh bertentangan dengan UU No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dan tidak boleh juga bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945 dan Pancasila sebagai nilai- nilai luhur bangsa Indonesia.

E. Kerangka Konseptual

Adapun kosep-konsep yang dipergunakan dan yang akan diuraikan di bawah ini, yaitu sebagai berikut:

1. Rekonstruksi

Arti rekonstruksi menurut bahasa Inggris yaitu reconstruction kata “re“ yang artinya “perihal“ atau “ulang“ dan kata “construction” yang artinya “pembuatan” atau “bangunan” atau “tafsiran” atau “susunan” atau “bentuk” atau

(27)

“bangunan”. Dalam bahasa Belanda rekonstruksi disebut re-constructie yang berarti pembinaan/ pembangunan baru, pengulangan suatu kejadian.

Pengertian Rekonstruksi di sini adalah “membangun kembali” atau “membentuk kembali” atau “menyusun kembali” dapat berupa fakta-fakta ataupun ide-ide atau melakukan remodel. Rekonstruksi yang diberi pengertian tentang penyusunan kembali, pembangunan kembali atau menata ulang dan dapat juga diberikan reorganisasi. Pengertian rekonstruksi (reconstruction) adalah sebagai “the act or process of building recreating, reorganizing something”.23

Salah satunya seperti yang disebutkan rekonstruksi itu mencakup 3 (tiga) poin penting, yaitu pertama, memelihara inti bangunan asal dengan tetap menjaga watak dan karakteristiknya. Kedua, memperbaiki hal-hal yang telah runtuh dan memperkuat kembali sendi-sendi yang telah lemah. Ketiga, memasukkan beberapa pembaharuan tanpa mengubah watak dan karakteristik aslinya. Dari sini dapat dipahami bahwa pembaharuan bukanlah menampilkan sesuatu yang benar-benar baru, Namun demikian lebih tepatnya merekonstruksi kembali kemudian menerapkannya dengan realita saat ini.24

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat peneliti simpulkan maksud rekonstruksi dalam penelitian ini adalah pembaharuan sistem atau bentuk. Berhubungan dengan sistem pemasyarakatan di Indonesia menurut Undang-

23 Henry Campbell Black, 1990, Black’s Law Dictionary, West Publising Co, Edisi ke-enam, Minnessotta, hlm 1272

24

Yusuf Qardhawi, 2014, Problematika Rekonstruksi Ushul Fiqih, Al-Fiqh Al-Islâmî bayn Al-Ashâlah wa At-Tajdîd, Tasikmalaya.

(28)

25

Pasal 1 butir 1 Undang-undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan

Undang Nomor 12 Tahun 1995 yang berbasis nilai keadilan, oleh sebab itu Pasal 34A ayat (1) dan Pasal 43A ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan harus direkonstruksi karena dalam pelaksanaannya kan terjadi kerancuan baik secara substansi hukum, struktur hukum maupun kultur hukum yang pada akhirnya akan terjadi deskriminasi terhadap narapidana yang telah menjalani masa pidananya dalam mendapatkan hak-hak sebagai narapidan dalam Sistem Pemasyarakatan di Indonesia.

2. Sistem Pemasyarakatan

Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan sistem, kelembagaan dan cara pembinaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana.25

Sistem Pemasyarakatan adalah suatu tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara pembina, yang dibina, dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas Warga Binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima

(29)

26

Pasal 1 butir 2 Undang-undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan

kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.26

Sebagai wujud adanya penghormatan terhadap setiap warga negara untuk dapat mempertahankan hidup dan kehidupannya demi meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya maka mereka berhak untuk mendapatkan imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja. Hal ini sebagaimana dimuat dalam Pasal 28D ayat (2): “Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”.

Pelaksanaan tugas Pemasyarakatan pada kurun waktu sekarang dan yang akan datang mengalami perkembangan yang cukup berarti karena adanya perubahan pada lingkungan strategis, baik dalam skala nasional, regional, maupun internasional. Perubahan yang bergulir sejalan dengan proses reformasi dan transformasi global yang ditandai dengan terbentuknya masyarakat yang sangat kritis dalam mengemukakan berbagai permasalahan yang sarat dengan muatan-muatan HAM, demokratisasi dan isu-isu sentral lainnya, serta munculnya berbagai tingkat, bentuk, jenis dan prilaku kejahatan, baik yang bersifat transnational crime, organizir crime, white coller crime,

economic crime di samping berbagai tindak pidana yang bersifat

(30)

Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan bahwa sebagai dampak munculnya berbagai tingkat, bentuk, jenis, dan perilaku kejahatan, baik yang bersifat

transnasional crime, organizer crime, white collar crime, dan economic crime, pelaksanaan tugas Pemasyarakatan menghadapi kondisi yang cukup

berat, yaitu adanya tingkat hunian lembaga pemasyarakatan (Lapas) yang cukup tinggi.

Berdasarkan data yang ada pada Ditjen Pemasyarakatan, tingkat hunian Lapas terus mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai kondisi over kapasitas (over crowded). Over kapasitas ini tentu berdampak pada berbagai aspek kehidupan di dalam Lapas yang cenderung bersifat disfungsional terhadap pencapaian tujuan Pemasyarakatan. Dan jika kondisi ini tidak teratasi, maka tentu saja harapan masyarakat tentang integrasi yang sehat antara mantan Warga Binaan Pemasyarakatan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak akan dapat dicapai secara optimal.

Persoalan pengelolaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Indonesia belum juga selesai. Faktor over kapasitas selama ini dituding menjadi akar persoalan buruknya kondisi Lapas di Tanah Air. Namun di sisi lain ada sejumlah kalangan yang menilai persoalan lapas selama ini lebih berkaitan dengan sistem.

Kelebihan kapasitas ini tak lepas hubungannya dengan sistem hukuman di Indonesia, dimana seluruh napi maupun tahanan harus dipenjarakan.

(31)

Permasalahan kelebihan kapasitas dalam penjara ini erat kaitannya dengan sistem hukuman yang diterapkan di Indonesia, dimana seluruh napi maupun tahanan harus dipenjarakan, bukan mendapatkan pemidanaan alternatif, seperti kerja sosial. Seperti yang terlihat baik dalam KUHP maupun R KUHP.

Pemidanaan penjara masih menempati proporsi terbesar dalam proses hukuman. Padahal, seperti yang dikutip dari Badan Pembinaan Hukum Nasional (2010), pemidanaan harus mengandung unsur kemanusiaan, edukatif dan keadilan. Tak hanya semata memberikan efek jera dengan mengurung pelaku dalam sel tahanan. Bila dilihat lebih mendalam, pidana pemenjaraan tak semata berdampak bagi kapasitas penjara tetapi juga akan membuat biaya bantuan hukum meningkat.

Fenomena masalah over kapasitas yang selama ini terjadi di Lapas, semakin menguatkan pandangan negatif masyarakat terhadap pengelolaan Lapas dan Rutan. Lapas dan Rutan dipandang telah gagal memberikan pelayanan terhadap penghuninya. Institusi ini juga dinilai gagal menjadi tempat untuk mengubah perilaku jahat menjadi perilaku baik. Dengan kata lain, pelaksanaan pidana di bawah institusi Pemasyarakatan yang dimaksudkan untuk memberikan rasa aman dan melindungi masyarakat dari kejahatan, dianggap belum dilaksanakan secara maksimal.

Masalah over kapasitas tentu berdampak pada berbagai aspek kehidupan di dalam Lapas yang cenderung bersifat disfungsional terhadap pencapaian

(32)

tujuan Pemasyarakatan. Dan jika kondisi ini tidak teratasi, maka tentu saja harapan masyarakat tentang integrasi yang sehat antara mantan Warga Binaan Pemasyarakatan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak akan dapat dicapai secara optimal.

Untuk menekan masalah over kapasitas di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), diantaranya adalah melakukan optimalisasi pemberian hak-hak warga binaan yaitu pemberian Remisi (pengurangan masa pidana) dan program reintegrasi sosial, seperti Pembebasan Bersyarat (PB), Cuti Bersyarat (CB) dan Cuti Menjelang Bebas (CMB). Karena logikanya jika semakin banyak narapidana menjalani masa pidana di Lembaga Pemasyarakatan, maka lembaga pemasyarakatan akan bertambah penuh dengan narapidana-narapidana baru. Terlebih lagi jika narapidana tersebut divonis pidana seumur hidup semakin banyak, maka akan semakin penuhlah lembaga-lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Untuk itu, perlu dicarikan solusi agar tujuan pelaksanaan pidana penjara dapat tercapai dengan baik. Upaya penyelesaian permasalahan over kapasitas tersebut penerapan hak-hak narapidana, di antaranya adalah dilaksanakan melalui kegiatan Percepatan Pemberian Remisi dan Pembebasan Bersyarat.

Hak-hak bersyarat juga menjadi perhatian bagi Lapas karena dengan diperolehnya hak Remisi dan Pembebasan Bersyarat, maka akan mengurangi

(33)

jumlah penghuni di Lapas yang berimbas memberikan solusi dalam kelebihan kapasitas hampir di seluruh lapas yang ada di Indonesia saat ini.

3. Hak Remisi dan Pembebasan Bersyarat

Dalam Implementasi Sistem Pemasyarakatan di Indonesia, agar tujuan dan program pembinaan narapidana dapat tercapai sesuai dengan peraturan perundang-undangan, maka pemerintah dan instansi terkait harus dapat mengatasi dan mencarikan solusi terhadap hambatan-hambatan dengan Pemberian Hak Remisi dan Pembebasan Bersyarat Dalam Sistem Pemasyarakatan Yang Berbasis Keadilan.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan perlu ditegakkan secara benar dan harus dihindarkan dari upaya-upaya penyimpangan hukum untuk kepentingan kekuasaan. Undang-undang Pemasyarakatan tersebut sebagai regulator utama pembinaan narapidana di Lapas harus diposisikan sebagaimana mestinya, oleh sebab itu Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 tidak boleh bertentangan dengan UU No. 12 Tahun 1995 tersebut dan tidak boleh juga bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945 dan Pancasila sebagai nilai- nilai luhur bangsa Indonesia.

Rumusan Pasal 34A dan 43A Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 tersebut tidak memberikan kepastian hukum (uncertainty) dan rasa keadilan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan, oleh sebab perlu direkonstruksi dalam pemberian pemberian remisi dan pembebasan bersyarat.

(34)

Syarat justice collaborator yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 bertentangan dengan semangat Pasal 14 UU No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Dengan demikian, Justice collaborator tidak dapat dijadikan sebagai syarat untuk mendapatkan hak Remisi dan Pembebasan Bersyarat. Oleh sebab itu Pasal 34A ayat (1) dan Pasal 43A ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 tersebut harus direkonstruksikan kembali dengan memperhatikan keadilan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan sesuai dengan filosofi Pelaksanaan Hak Warga Binaan.

4. Konsep Keadilan

Keadilan merupakan salah satu tujuan hukum selain kepastian hukum dan kemanfaatan hukum. Hakekat hukum bertumpu pada ide keadilan dan kekuatan moral. Ide keadilan tidak pernah lepas dari kaitannya dengan hukum, sebab membicarakan hukum, secara jelas atau samar-samar senantiasa merupakan pembicaraan tentang keadilan pula.27

Berbicara masalah keadilan dalam hubungannya dengan hukum tidak terlepas dari masalah tujuan hukum. Tujuan hukum seperti dikemukakan oleh van Apeldoorn ialah: mengatur pergaulan hidup secara damai. Hukum menghendaki perdamaian. Apa yang disebut tertib hukum, mereka sebut damai

(vrede). Keputusan hakim, disebut vredeban (vredegebod), kejahatan berarti

pelanggaran perdamaian (vredebreuk), penjahat dinyatakan tidak damai

(35)

(vredeloos), yaitu dikeluarkan dari perlindungan hukum. Perdamaian di antara

manusia dipertahankan oleh hukum dengan melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang tertentu, kehormatan, kemerdekaan, jiwa, harta benda dsb. terhadap yang merugikannya. 28

Tujuan hukum mengatur pergaulan hidup secara damai sebagaimana dikemukakan oleh van Apeldoorn di atas, didasakan pada suatu pemikiran bahwa kepentingan dari perorangan dan kepentingan golongan-golongan manusia selalu bertentangan satu sama lain. Pertentangan kepentingan ini selalu akan menyebabkan pertikaian, bahkan peperangan antara semua orang melawan semua orang, jika hukum tidak bertindak sebagai perantara untuk mempertahankan perdamaian, dan hukum mempertahankan perdamaian dengan manimbang kepentingan yang bertentangan secara teliti dan mengadakan keseimbangan di antaranya, karena hukum hanaya dapat mencapai tujuan (mengatur pergaulan hidup secara damai) jika ia menuju peraturan yang adil, artinya peraturan pada mana terdapat keseimbangan antara kepentingan- kepentingan yang dilindungi, pada mana setiap orang memperoleh sebanyak mungkin yang menjadi bagiannya.29

Untuk menjawab penanggulangan yang komprehensif, khususnya hak-hak dasar penghuni lapas/rutan dalam menekan over kapasitas, dalam sistem

28

Van Apeldoorn, 2004, Pengantar Ilmu Hukum, Diterjemahkan oleh Oetarid Sadino, PT. Pradnya Paramita, Jakarta. hlm. 10

29

(36)

pemasyarakatan seharusnya para warga binaan diupayakan untuk tidak

“dihukum” namun lebih diupayakan untuk diayom dan dibina agar nantinya

dapat diterima kembali di tengah-tengah masyarakat. Dengan kata lain, upaya penerapan HAM bagi Narapidana telah jelas terakomodir secara normatif melalui Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Adapun ketentuan dalam Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan telah mengakomodir hak-hak absolut dan hak-hak bersyarat bagi Narapidana.

Hak-hak bersyarat merupakan hak-hak yang sangat menjadi perhatian bagi Narapidana. Banyak Narapidana berharap atas hak-hak bersyarat tersebut, sehingga mereka berupaya untuk berperilaku baik di Lapas. Namun bagi Narapidana yang mengalami kesulitan menerima Remisi, mereka terlihat apatis.

Dari uraian tersebut di atas, maka perlu merekonstruksi nilai kebijakan hukum terhadap Sistem Pemasyarakatan Di Indonesia dalam pemberian pemberian remisi dan pembebasan bersyarat untuk narapidana kasus korupsi, narkoba, dan terorisme dalam Pasal 34A ayat (1) dan Pasal 43A ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan, karena dalam pasal tersebut tidak memberikan kepastian hukum (uncertainty) dan rasa keadilan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan.

(37)

Syarat justice collaborator yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 bertentangan dengan semangat Pasal 14 UU No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Dengan demikian, Justice collaborator tidak dapat dijadikan sebagai syarat untuk mendapatkan hak Remisi dan Pembebasan Bersyarat. Oleh sebab itu Pasal 34A ayat (1) dan Pasal 43A ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 tersebut harus direkonstruksikan kembali dengan memperhatikan keadilan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan sesuai dengan filosofi Pelaksanaan Hak Warga Binaan.

F. Kerangka Teori

Permasalahan-permasalahan yang telah diajukan pada bagian perumusan masalah, akan dikaji serta diungkapkan dengan beberapa teori sebagai unit maupun pisau analisis. Dalam menjawab permasalahan dalam penelitian ini akan diajukan beberapa teori.

Teori sebenarnya merupakan suatu generasi yang dicapai setelah mengadakan pengujian dan hasilnya menyangkut ruang lingkup faktor yang sangat luas. Teori merupakan an elaborate hypothesis, suatu hukum akan terbentuk apabila suatu teori itu telah diuji dan diterima oleh ilmuwan, sebagai suatu keadaan-keadaan tertentu.30 Teori akan berfungsi untuk memberikan petunjuk atas gejala-gejala yang timbul dalam penelitian.

Kerangka teori dalam penelitian ini akan dikemukakan beberapa teori yang dapat memberikan pedoman dan tujuan untuk tercapainya penelitian ini yang berasal

(38)

dari pendapat para ahli dan selanjutnya disusun beberapa konsep dari berbagai peraturan perundangan sehingga tercapainya tujuan penelitian. Teori-Teori tersebut terdiri dari Grand Theory (Teori Utama), Middle Theory (Teori Tengah) dan Applied

Theory (Teori Aplikasi). Secara rinci yaitu sebagai berikut:

1. Grand Theory (Teori Utama): Teori Keadilan

Konsep adil dapat dirunut dari pengertian asalnya dalam bahasa, karena substansi keadilan memang bermula dari pengertiannya dalam bahasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahwa keadilan merupakan adjektiva yang menjelaskan nomina atau pronomina yang memiliki 3 (tiga) arti, yaitu Adil ialah berarti: 1. tidak berat sebelah; tidak memihak. 2. berpihak kepada yang benar; berpegang pada kebenaran. 3. sepatutnya; tidak sewenang-wenang.31 Dan keadilan ialah sifat (perbuatan, perlakuan dan sebagainya) yang adil.32

Keadilan itu mempunyai nama lain, yaitu keadilan sosial sebagaimana yang disebutkan oleh Ahmad Fadlil Sumadi, bahwa33 keadilan sosial merupakan tampilan lain dari keadilan. Selanjutnya Ahmad Fadlil Sumadi menjelaskan, bahwa34 substansi keadilan harus diformulasikan pada tiga tingkat, yaitu

Pertama; pada tingkat outcome. Kedua; pada tingkat prosedur. Ketiga; pada

tingkat sistem. Pada tingkat outcome, keadilan berhubungan dengan pembagian

31 Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, 2005, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 7.

32 Ibid.

33 Ahmad Fadlil Sumadi, 2012, Hukum Dan Keadilan Sosial, Materi Perkuliahan Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung, Tanpa Penerbit, Jakarta, hlm. 5.

(39)

(distributive) dan pertukaran (comutative), sehingga keadilan dalam hal ini berhubungan dengan suatu objek yang dalam praktiknya, antara lain, dapat berupa benda atau jasa.

Keadilan merupakan fokus utama dari setiap sistem hukum dan keadilan tidak dapat begitu saja untuk dikorbankan, hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh John Rawls dalam bukunya A Theory of Justice:

Each person possessed an inviolability founded on justice that even the welfare of society as a whole can not override. It does not allow that the sacrifices imposed on afew are outweighed by the larger sum of advantage enjoyed by many. Therefore in a just society the liberties of equal citizenship are taken as settled; the rights secured by justice are not subject to political bargaining or to the caculus of social interests. … an injustice is tolerable only when it is necessary to avoid an even greater injustice. Being first virtues of human activities, truth and justice are uncompromising.35

St. Agustinus menekankan pentingnya keadilan dalam setiap hembusan napas hukum negara. Dia menyatakan bahwa “hukum yang tidak adil sama sekali bukan hukum”. St. Agustinus juga membedakan antara hukum Illahi (jus

divinum) dan hukum manusia (jus humana). Apa yang disebut dengan hukum

alam adalah hukum Illahi, sedangkan jus humana adalah kebiasaan (customs).36 Menurut Luypen, apa yang disebut tata hukum belum tentu disebut hukum. Sebab bisa terjadi, terdapat tata hukum yang tidak mewajibkan, yakni kalau tata hukum itu menurut norma-norma keadilan. Hanya hukum yang menurut norma- norma keadilan sajalah yang sungguh-sungguh mewajibkan. Maka masalah besar

361.

35 John Rawls, 1971, A Theory of Justice, Harvard University Press, Combridge, USA, hlm. 36 Rapar, 1989, Filsafat Politik Agustinus, Rajawali Pers, Jakarta, hlm. 7.

(40)

para penganut positivisme yuridis yang menganggap hukum hanya sekedar “kenyataan legal” belaka. Mereka telah melalaikan sesuatu yang hakiki dalam hukum, yakni keinsyafan keadilan yang hidup dalam hati manusia. Luypen menuntut supaya norma-norma keadilan diindahkan dalam pembentukan hukum. Bila tidak, maka hukum yang sebenarnya tidak ada.

Keadilan dalam konsepsi Luypen lebih sebagai sebuah sikap, yaitu sikap keadilan. Karena itu ia merumuskan keadilan sebagai sikap memperhatikan tugas dan kewajiban untuk mempertahankan dan memperkembangkan perikemanusiaan. Tanpa sikap ini, hidup bersama antar manusia tidak mungkin terbangun dengan baik. Apa yang memajukan perikemanusiaan adalah adil, dan apa yang menentangnya adalah tidak adil. Namun harus diingat, isi perikemanusiaan itu sendiri tidak pernah dapat ditetapkan sebagai sesuatu yang kekal. Sebab kebenaran tentang hidup bersama dalam ko-ekseistensi tidak pernah lengkap, tetapi berkembang dalam sejarah. Maka tidak terdapat norma-norma hukum alam yang tetap. Bagi Luypen, yang penting adalah adanya sikap keadilan. Hanya dengan adanya sikap keadilan dalam hidup bersama, maka dimungkinkan tercapainya perikemanusiaan.37

Sementara itu prosedur berhubungan dengan cara penentuan dan sistem yang berhubungan dengan kait-mengait antar-struktur yang berlaku. Dalam keadilan pembagian dan pertukaran, yaitu keadilan pada tingkat pertama yang

37 Bernard L. Tanya, et al, 2010, Teori Hukum Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi, Genta Publishing, Yogyakarta, hlm. 193.

(41)

terkait dengan outcome, dalam aras praktiknya sering terjadi unequal dalam prosesnya.

Dalam keadilan prosedural, yaitu keadilan pada tingkat kedua yang berhubungan dengan cara penentuan, yang terkait dengan proses dan perlakuan terhadap orang-orang yang terlibat di dalamnya, mensyaratkan adanya tiga komponen, yaitu Pertama: sifat aturan dari prosedur yang berlaku adalah formal.

Kedua; penjelasan terhadap prosedur dan pengambilan keputusan. Ketiga;

perlakuan interpersonal. Secara substansial keadilan prosedural lebih ditentukan oleh komponen kedua dan ketiga, karena berdasarkan kedua komponen tersebut keadilan prosedural mewujudkan keadilan yang dapat terlihat oleh masyarakat, yang bahkan pada akhirnya menjadikan looking fair lebih penting daripada being

fair.

Dalam keadilan sistem, yaitu keadilan pada tingkat ketiga yang berhubungan dengan sistem, yang merupakan tingkat ketiga yang berhubungan dengan sistem, yang merupakan pola yang menjadi dasar prosedur, distribusi dan pertukaran pada dasarnnya merupakan kebijakan umum yang direalisasikan sebagai dasar dalam menentukan prosedur dan outcome.

Kahar Masyhur menyatakan apa yang disebut adil sebagai berikut:38 a. Adil ialah meletakkan sesuatu pada tempatnya;

b. Adil ialah menerima hak tanpa lebih dan memberikan hak orang lain tanpa kurang;

c. Adil ialah memberikan hak setiap yang berhak secara lengkap tanpa kurang antara sesama yang berhak, dalam keadaan yang sama, dan penghukuman

(42)

39

Satjipto Rahardjo, 1982, Ilmu Hukum, Alumni, Bandung, hlm. 45.

orang jahat atau yang melanggar hukum, sesuai dengan kesalahan dan pelanggarannya.

Orang dapat menganggap keadilan sebagai sebuah gagasan atau realitas absolut dan mengasumsikan pengetahuan dan pemahaman tentangnya hanya bisa didapatkan secara parsial dan melalui upaya filosofis yang sulit. Orang dapat menganggap, keadilan sebagai hasil dari pandangan umum agama atau filsafat tentang dunia secara umum. Jadi, orang dapat mendefinisikan keadilan dalam satu pengertian atau pengertian lain dari pandangan ini.

Keadilan merupakan salah satu tujuan hukum selain kepastian hukum dan kemanfaatan hukum. Hakekat hukum bertumpu pada ide keadilan dan kekuatan moral. Ide keadilan tidak pernah lepas dari kaitannya dengan hukum, sebab membicarakan hukum, secara jelas atau samar-samar senantiasa merupakan pembicaraan tentang keadilan pula.39

Konsep adil dapat dirunut dari pengertian asalnya dalam bahasa, karena substansi keadilan memang bermula dari pengertiannya dalam bahasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahwa keadilan merupakan adjektiva yang menjelaskan nomina atau pronomina yang memiliki tiga arti. Yaitu Adil ialah berarti: 1. tidak berat sebelah; tidak memihak. 2. berpihak kepada yang

(43)

benar; berpegang pada kebenaran. 3. sepatutnya; tidak sewenang-wenang.40 Dan keadilan ialah sifat (perbuatan, perlakuan dan sebagainya) yang adil.41

Keadilan itu mempunyai nama lain, yaitu keadilan sosial sebagaimana yang disebutkan oleh Ahmad Fadlil Sumadi, bahwa42 keadilan sosial merupakan tampilan lain dari keadilan. Selanjutnya Ahmad Fadlil Sumadi menjelaskan, bahwa43 substansi keadilan harus diformulasikan pada tiga tingkat, yaitu

Pertama; pada tingkat outcome. Kedua; pada tingkat prosedur. Ketiga; pada

tingkat sistem. Pada tingkat outcome, keadilan berhubungan dengan pembagian (distributive) dan pertukaran (comutative), sehingga keadilan dalam hal ini berhubungan dengan suatu objek yang dalam praktiknya, antara lain, dapat berupa benda atau jasa.

Sementara itu prosedur berhubungan dengan cara penentuan dan sistem yang berhubungan dengan kait-mengait antar-struktur yang berlaku. Dalam keadilan pembagian dan pertukaran, yaitu keadilan pada tingkat pertama yang terkait dengan outcome, dalam aras praktiknya sering terjadi unequal dalam prosesnya. Dalam keadilan prosedural, yaitu keadilan pada tingkat kedua yang berhubungan dengan cara penentuan, yang terkait dengan proses dan perlakuan terhadap orang-orang yang terlibat di dalamnya, mensyaratkan adanya tiga

40 Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, 2005, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 7.

41 Ibid.

42 Ahmad Fadlil Sumadi, 2002, Hukum Dan Keadilan Sosial, Materi Perkuliahan Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung, Tanpa Penerbit, Jakarta, hlm. 5.

(44)

komponen, yaitu Pertama: sifat aturan dari prosedur yang berlaku adalah formal.

Kedua; penjelasan terhadap prosedur dan pengambilan keputusan. Ketiga;

perlakuan interpersonal. Secara substansial keadilan prosedural lebih ditentukan oleh komponen kedua dan ketiga, karena berdasarkan kedua komponen tersebut keadilan prosedural mewujudkan keadilan yang dapat terlihat oleh masyarakat, yang bahkan pada akhirnya menjadikan looking fair lebih penting daripada being

fair. Dalam keadilan sistem, yaitu keadilan pada tingkat ketiga yang

berhubungan dengan sistem, yang merupakan tingkat ketiga yang berhubungan dengan sistem, yang merupakan pola yang menjadi dasar prosedur, distribusi dan pertukaran pada dasarnya merupakan kebijakan umum yang direalisasikan sebagai dasar dalam menentukan prosedur dan outcome.

Kahar Masyhur menyatakan apa yang disebut adil sebagai berikut:44 1) Adil ialah meletakkan sesuatu pada tempatnya;

2) Adil ialah menerima hak tanpa lebih dan memberikan hak orang lain tanpa kurang;

3) Adil ialah memberikan hak setiap yang berhak secara lengkap tanpa kurang antara sesama yang berhak, dalam keadaan yang sama, dan penghukuman orang jahat atau yang melanggar hukum, sesuai dengan kesalahan dan pelanggarannya.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :