TESIS
ANDRIYATI RAHAYU 0606012844
UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA PROGRAM STUDI ILMU SUSASTRA
DEPOK JANUARI 2009
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Humaniora
ANDRIYATI RAHAYU 0606012844
UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA PROGRAM STUDI ILMU SUSASTRA
PENGKHUSUSAN FILOLOGI DEPOK
Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri,
dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar
Nama : Andriyati Rahayu
NPM : 0606012844
Tanda Tangan :
Nama : Andriyati Rahayu
NPM : 0606012844
Program Studi : Ilmu Susastra
Judul Tesis : Naskah Merapi Merbabu: Tinjauan atas Aksara dan Perkembangannya
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Humaniora pada Program Studi Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia
DEWAN PENGUJI
Pembimbing : Dr. Titik Pudjiastuti ( )
Pembimbing : Dr. Ninie Susanti ( )
Penguji : Prof. Dr. Achadiati ( )
Penguji : Dwi Puspitorini, M. Hum ( )
Ditetapkan di : Tanggal : Oleh
Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia
Dr. Bambang Wibawarta NIP.131882265
Puji dan Syukur saya panjatkan kepada Tuhan YME karena karunia-Nya saya bisa menyelesaikan tesis ini, lengkap dengan segala kekurangannya. Perkenankan saya mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan tesis ini.
1. Terimakasih kepada Dr. Titik Pudjiastuti dan Dr Ninie Susanti selaku pembimbing satu dan dua, yang dengan kasih sayang dan kesabaran telah membimbing penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
2. Terimakasih kepada Prof. Dr. Achadiati dan Dwi Puspitorini, M.Hum selaku dewan penguji yang bersedia meluangkan waktu untuk membaca tesis penulis dan memberikan masukan-masukan yang berharga untuk tesis ini.
3. Terimakasih juga saya ucapkan kepada mas Agung Kriswanto, yang telah membantu penulis dalam memahami isi dari naskah-naskah yang menjadi objek penelitian ini, dan memberikan wawasan tentang arti kata-kata sulit dalam naskah saya.
4. Terimakasih kepada bu Hasni dan segenap karyawan PNRI yang telah membantu penulis selama penelitian di PNRI.
5. Terimakasih kepada seluruh dosen-dosen arkeologi yang selalu memompakan semangat dan menanyakan perkembangan tesis ini.
6. Terimakasih untuk mbak Nur dan mbak Rita juga seluruh karyawan FIB yang telah membantu penulis selama ini.
7. Terimakasih untuk semua karyawan perpustakaan FIB-UI yang telah membantu penulis dalam mencari data untuk kepentingan penulisan tesis.
8. Terimakasih untuk semangatnya kepada teman-teman Susastra, terutama angkatan 2006, mbak Dian, mbak Diyan, mbak Dina, Mbak Lina, Bram, Dika, Hana dan Come. Juga teman-teman Susastra dari angkatan lain, dan teman-teman FIB dari jurusan lain, terutama mbak Wiwin, yang sama-sama menyelesaikan tesis ☺.
9. Terimakasih untuk rekan-rekan arkeo, terutama Dian, untuk power point, laptopnya, dan kesediannya bangun pagi-pagi. Untuk mbak Misra, makasih semangatnya. Untuk
terjemahan beberapa kalimat Belandanya.
11. Untuk teman teman di FD, terutama Nay, Wang, Cici Lee, Mbak Adien, Ori, Ogu, Dmit, Marlin, Castie, Rumie, Soli, dll. terimakasih karena terus mengingatkan penulis untuk menyelesaikan tugas berat ini.
12. Untuk Chantal, terutama Syinthia, makasih untuk ketikan dan gambar-gambar rajahnya yang bagus (dan sensasional hehehe). Untuk mbak Liza untuk terjemahan bahasa inggrisnya. Pay n Santi buat tawa dan candanya.
13. Untuk teman-temanku lainnya, Iis, Desi, Atik, makasih buat doanya.
14. Untuk mereka yang pergi terlebih dulu. Untuk almarhum mama, ini pemenuhan amanat untuk mama. Untuk Danny, sahabatku sejak SD yang pergi di awal penulisan, dan Bude Ni, budeku tersayang yang pergi di akhir penulisan. Kepergian kalian insya Allah membuatku semakin kuat.
15. Untuk mereka-mereka yang telah memberiku banyak sekali energi untuk selalu menjadi lebih baik lagi ☺
16. Untuk semua pihak yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu.
17. Terakhir untuk bapak, terimakasih, terimakasih terimakasih, untuk segala doa, kesabaran, dan pengertiannya yang tiada batas selama penulis menyelesaikan tesis ini.
sebagai sivitas akademik universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Andriyati Rahayu
NPM : 0606012844 Program Studi : Ilmu Susastra Departemen : Susastra
Fakultas : Ilmu Pengetahuan Budaya Jenis karya : Tesis
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Non-eksklusif (Non-exclusive Royalty-Free
Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Naskah Merapi Merbabu: Tinjauan atas Aksara dan Perkembangannya
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non eksklusif ini, Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Depok
Pada Tanggal : 5 Januari 2009
Yang Menyatakan
HALAMAN JUDUL ……… i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS……… ii
HALAMAN PENGESAHAN……….. iii
KATA PENGANTAR……… iv
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH………… vi
ABSTRAK……….. vii
DAFTAR ISI……… viii
DAFTAR TABEL ……… x
DAFTAR GAMBAR……… xi
DAFTAR FOTO………. xiv
DAFTAR LAMPIRAN……… xv
1. PENDAHULUAN ………. 1
1.1. Latar Belakang………. 1
1.2. Permasalahan……… 6
1.3. Tujuan Penelitian……….. 7
1.4. Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori………. 7
1.4.1. Tinjauan Pustaka……… 7
1.4.2. Landasan Teori……… 10
1.5. Ruang Lingkup Penelitian……… 13
1.6. Tahapan Penelitian………. .. 14
1.7. Sistematika Penyajian ………... 16
2. DESKRIPSI NASKAH………. 17
2.1. Pendahuluan……… 17
2.2. Deskripsi Naskah Ramayana……….. 17
2.3. Deskripsi Naskah Parimbwan ……… 20
2.4. Deskripsi Naskah Cacanden L 305………. 29
2.5. Deskripsi Naskah Cacanden L105a………. 32
3. SUNTINGAN TEKS DAN TERJEMAHAN……… 34
3.1. Pertanggungjawaban Suntingan Teks dan Terjemahan…………. 34
3.1.1. Pertanggungjawaban Suntingan Teks Diplomatik………… 34
3.1.2. Pertanggungjawaban Suntingan Teks Kritik……… 36
3.1.3. Pertanggungjawaban Terjemahan dan Catatan……… 36
3.2. Suntingan Teks Menggunakan Metode Diplomatik……….. 37
3.3. Suntingan Teks Menggunakan Metode Kritik……… 43
4.4. Ukuran Aksara-Aksara pada Naskah Merapi Merbabu………… 89
4.5. Kemiringan Aksara-Aksara pada Naskah Merapi Merbabu……. 92
4.6. Ketebalan Garis Aksara-Aksara pada Naskah Merapi Merbabu… 94 5. TINJAUAN NASKAH-NASKAH YANG SEJAMAN ……… 98
5.1. Pendahuluan……… 98
5.2. Naskah Aji Kembang……….. 100
5.2.1. Alih Aksara Awal dan Akhir Teks ……….. 100
5.2.2. Bentuk dan Duktus Aksara……….. 100
5.3.Naskah Arjuna Wiwaha………..………. 106
5.3.1. Alih Aksara Awal dan Akhir Teks……… 106
5.3.2. Bentuk dan Duktus Aksara……… … 106
5.4. Naskah Kidung Subrata……… 112
5.4.1. Alih Aksara Awal dan Akhir Teks……… 112
5.4.2. Bentuk dan Duktus Aksara………. 112.
6. PENUTUP……… 119
Tabel 4.1. Ukuran Aksara pada Naskah Ramayana ... 90
Tabel 4.2. Ukuran Aksara pada Naskah Parimbwan ... 90
Tabel 4.3. Ukuran Aksara pada Naskah Cacanden L 305... 91
Tabel 4.4. Ukuran Aksara pada Naskah Cacanden L 105a... 91
Tabel 4.5. Kemiringan Aksara pada Naskah Ramayana... 92
Tabel 4.6. Kemiringan Aksara pada Naskah Parimbwan... 93
Tabel 4.7. Kemiringan Aksara pada Naskah Cacanden L 305... 93
Tabel 4.8. Kemiringan Aksara pada Naskah Cacanden L 105a... 94
Tabel 4.9. Ketebalan Garis Aksara pada Naskah Ramayana... 95
Tabel 4.10. Ketebalan Garis Aksara pada Naskah Parimbwan... 95
Tabel 4.11. Ketebalan Garis Aksara pada Naskah Cacanden L 305... 96
Gambar 2.1. Penanda Akhir Teks Pada Naskah Ramayana.. ... 18
Gambar 2.2. Gambar Rajah Putri... 21
Gambar 2.3. Gambar Rajah Kamadenen... 21
Gambar 2.4. Gambar Rajah Tapak i Maling ... 22
Gambar 2.5. Gambar Rajah Panipisan... 22
Gambar 2.6. Gambar Rajah Kawaliwojo... 23
Gambar 2.7 Gambar Rajah Kawaliwojo... 23
Gambar 2.8. Gambar Rajah Sapurogol... 23
Gambar 2.9. Gambar Rajah Sisigah... 24
Gambar 2.10 Gambar Rajah Wika... 24
Gambar 2.11. Gambar Rajah Agring... ... ... 25
Gambar 2.12 Gambar Rajah Bayu Siddhi... ... 25
Gambar 2.13 Gambar Rajah Bulung Buyang... 26
Gambar 2.14 Gambar Rajah Kawaliwojo... ... 26
Gambar 2.15. Gambar Rajah Kawaliwojo... ... 27
Gambar 2.16. Gambar Rajah Panglet... ... ... 27
Gambar 2.17. Gambar Rajah Klar... ... ... 28
Gambar 2.18. Gambar Rajah Tumbal Hilandak... 28
Gambar 2.19. Penanda Akhir Naskah Parimbwan... ... ... 29
Gambar 2.20. Penanda Awal Teks Cacanden L 305 ... ... ... 30
Gambar 2.21. Daftar Pancawara dan Nilainya pada Naskah Cacanden L 305... 30
Gambar 2.22. Gambar Rajah Tapak Maling ... ... 31
Gambar 2.23. Gambar Rajah Palasapen. ... ... 31
Gambar 2.24. Penanda Awal Teks Naskah Cacanden L 305... 32
Gambar 2.25. Penanda Akhir Teks Naskah Cacanden L 305... 33
Gambar 4.1. Bentuk Aksara A dalam Naskah Ramayana ... 59
Gambar 4.2. Bentuk Aksara A dalam Naskah Parimbwan ... 59
Gambar 4.3. Bentuk Aksara A dalam Naskah Cacanden L 305... 60
Gambar 4.4. Bentuk Aksara A dalam Naskah Cacanden L 105a... 61
Gambar 4.5. Bentuk Aksara Ka dalam Naskah Ramayana ... 62
Gambar 4.6 Bentuk Aksara Ka dalam Naskah Parimbwan... 63
Gambar 4.7. Bentuk Aksara Ka dalam Naskah Cacanden L 305... 63
Gambar 4.8. Bentuk Aksara Ka dalam Naskah Cacanden L 105a... 64
Gambar 4.9. Bentuk Aksara Ga dalam Naskah Ramayana ... 64
Gambar 4.10. Bentuk Aksara Ga dalam Naskah Parimbwan... 65
Gambar 4.11. Bentuk Aksara Ga dalam Naskah Cacanden L 305... 65
Gambar 4.12. Bentuk Aksara Ga dalam Naskah Cacanden L 105a... 66
Gambar 4.13. Bentuk Aksara Na dalam Naskah Ramayana ... 67
Gambar 4.14. Bentuk Aksara Na dalam Naskah Parimbwan... 67
Gambar 4.15. Bentuk Aksara Na dalam Naskah Cacanden L 305... 68
Gambar 4.16. Bentuk Aksara Na dalam Naskah Cacanden L 105a... 69
Gambar 4.17. Bentuk Aksara Sa dalam Naskah Ramayana... 69
Gambar 4.18. Bentuk Aksara Sa dalam Naskah Parimbwan... 70
Gambar 4.24. Bentuk Aksara Ca dalam Naskah Cacanden L 105a... 74
Gambar 4.25. Duktus Aksara A dalam Naskah Ramayana... 75
Gambar 4.26. Duktus Aksara A dalam Naskah Parimbwan... 75
Gambar 4.27. Duktus Aksara A dalam Naskah Cacanden L 305... 76
Gambar 4.28 Duktus Aksara A dalam Naskah Cacanden L 105a... 77
Gambar 4.29. Duktus Aksara Ka dalam Naskah Ramayana... 78
Gambar 4.30. Duktus Aksara Ka dalam Naskah Parimbwan... 78
Gambar 4.31. Duktus Aksara Ka dalam Naskah Cacanden L 305... 79
Gambar 4.32 Duktus Aksara Ka dalam Naskah Cacanden L 105a... 79
Gambar 4.33. Duktus Aksara Ga dalam Naskah Ramayana... 80
Gambar 4.34. Duktus Aksara Ga dalam Naskah Parimbwan... 81
Gambar 4.35. Duktus Aksara Ga dalam Naskah Cacanden L 305... 81
Gambar 4.36 Duktus Aksara Ga dalam Naskah Cacanden L 105a... 82
Gambar 4.37. Duktus Aksara Sa dalam Naskah Ramayana... 82
Gambar 4.38. Duktus Aksara Sa dalam Naskah Parimbwan ... 83
Gambar 4.39. Duktus Aksara Sa dalam Naskah Cacanden L 305... 83
Gambar 4.40 Duktus Aksara Sa dalam Naskah Cacanden L 105a... 84
Gambar 4.41. Duktus Aksara Na dalam Naskah Ramayana... 85
Gambar 4.42. Duktus Aksara Na dalam Naskah Parimbwan... 85
Gambar 4.43. Duktus Aksara Na dalam Naskah Cacanden L 305... 86
Gambar 4.44. Duktus Aksara Na dalam Naskah Cacanden L 105a... 87
Gambar 4.45. Duktus Aksara Ca dalam Naskah Ramayana... 87
Gambar 4.46. Duktus Aksara Ca dalam Naskah Parimbwan... 88
Gambar 4.47. Duktus Aksara Ca dalam Naskah Cacanden L 305... 88
Gambar 4.48. Duktus Aksara Ca dalam Naskah Cacanden L 105a... 89
Gambar 4.49. Contoh Pengukuran Kemiringan Aksara... 92
Gambar 5.1. Bentuk Aksara A pada Naskah Aji Kembang... ... 101
Gambar 5.2. Duktus Aksara A pada Naskah Aji Kembang... 101
Gambar 5.3. Bentuk Aksara Ka pada Naskah Aji Kembang... 102
Gambar 5.4. Duktus Aksara Ka pada Naskah Aji Kembang... 102
Gambar 5.5. Bentuk Aksara Ga pada Naskah Aji Kembang... 103
Gambar 5.6. Duktus Aksara Ga pada Naskah Aji Kembang... 103
Gambar 5.7. Bentuk Aksara Na pada Naskah Aji Kembang... 104
Gambar 5.8. Duktus Aksara Na pada Naskah Aji Kembang... 104
Gambar 5.9. Bentuk Aksara Sa pada Naskah Aji Kembang... 105
Gambar 5.10. Duktus Aksara Sa pada Naskah Aji Kembang... 105
Gambar 5.11. Bentuk Aksara A pada Naskah Arjuna Wiwaha... 107
Gambar 5.12. Duktus Aksara A pada Naskah Arjuna Wiwaha... 107
Gambar 5.13. Bentuk Aksara Ka pada Naskah Arjuna Wiwaha... 108
Gambar 5.14. Duktus Aksara Ka pada Naskah Arjuna Wiwaha... 109
Gambar 5.15. Bentuk Aksara Ga pada Naskah Arjuna Wiwaha... 109
Gambar 5.16. Duktus Aksara Ga pada Naskah Arjuna Wiwaha... 110
Gambar 5.17. Bentuk Aksara Na pada Naskah Arjuna Wiwaha... 110
Gambar 5.23. Bentuk Aksara Ga pada Naskah Kidung Subrata... 114
Gambar 5.24. Duktus Aksara Ga pada Naskah Kidung Subrata... 115
Gambar 5.25. Bentuk Aksara Na pada Naskah Kidung Subrata... 115
Gambar 5.26. Duktus Aksara Ka pada Naskah Kidung Subrata... 116
Gambar 5.27. Bentuk Aksara Sa pada Naskah Kidung Subrata... 116
Foto 4.1. Aksara A pada Naskah Ramayana... 59
Foto 4.2. Aksara A pada Naskah Parimbwan... 59
Foto 4.3. Aksara A pada Naskah Cacanden L 305... 60
Foto 4.4 Aksara A pada Naskah Cacanden L 105a... 61
Foto 4.5. Aksara Ka pada Naskah Ramayana... 61
Foto 4.6. Aksara Ka pada Naskah Parimbwan... 62
Foto 4.7.Aksara Ka pada Naskah Cacanden L 305... 63
Foto 4.8 Aksara Ka pada Naskah Cacanden L 105a... 63
Foto 4.9. Aksara Ga pada Naskah Ramayana ... 64
Foto 4.10.Aksara Ga pada Naskah Parimbwan... 65
Foto 4.11 Aksara Ga pada Naskah Cacanden L 305... 65
Foto 4.12 Aksara Ga pada Naskah Cacanden L 105a ... 66
Foto 4.13.Aksara Na pada Naskah Ramayana... 66
Foto 4.14.Aksara Na pada Naskah Parimbwan... 67
Foto 4.15.Aksara Na pada Naskah Cacanden L 305... 68
Foto 4.16 Aksara Na pada Naskah Cacanden L 105a ... 68
Foto 4.17. Aksara Sa pada Naskah Ramayana... 69
Foto 4.18. Aksara Sa pada Naskah Parimbwan... 70
Foto 4.19. Aksara Sa pada Naskah Cacanden L 305... 70
Foto 4.20. Aksara Sa pada Naskah Cacanden L 105a... 71
Foto 4.21. Aksara Ca pada Naskah Ramayana... 72
Foto 4.22. Aksara Ca pada Naskah Parimbwan... 72
Foto 4.23. Aksara Ca pada Naskah Cacanden L 305... 73
Foto 4.24 Aksara Ca pada Naskah Cacanden L 105a ... 73
Lampiran 1 Tabel Aksara dalam Empat Naskah Merapi Merbabu………. 126
Lampiran 2 Peta Perkiraan Lokasi Skriptoria di Sekitar Merapi Merbabu... 133
Lampiran 3 Foto Naskah Ramayana Lempir Pertama Recto Sebelah Kiri …… 134
Lampiran 4 Foto Naskah Ramayana Lempir Pertama Recto Sebelah Kanan… 135 Lampiran 5 Foto Naskah Ramayana Lempir Terakhir Verso Sebelah Kiri ……136
Lampiran 6 Foto Naskah Ramayana Lempir Terakhir Verso Sebelah Kanan… 137. Lampiran 7 Foto Naskah Parimbwan Lempir Pertama Recto………..138
Lampiran 8 Foto Naskah Parimbwan Lempir Terakhir Verso……….139
Lampiran 9 Foto Naskah Cacanden L 305 Lempir Pertama Recto………..140
Lampiran 10 Foto Naskah Cacanden L 305 Lempir Terakhir Verso……….141
Lampiran 11 Foto Naskah Cacanden L 305 Lempir ke-50 Verso ……….142
Lampiran 12 Foto Naskah Cacanden L 105a Lempir Pertama Recto………143
Lampiran 13 Foto Naskah Cacanden L 105a Lempir Terakhir Verso…………...144
Program Studi : Ilmu Susastra, Filologi
Judul : Naskah-Naskah Merapi Merbabu: Tinjauan atas Aksara dan Perkembangannya.
Tesis ini membahas tentang variasi bentuk dan pola perkembangan aksara Buda dalam empat naskah Merapi Merbabu.dan dikaitkan dengan penanggalan naskah. Penelitian ini memakai metode dinamis yang menganalisis aksara berdasarkan bentuk, ukuran, kemiringan, ketebalan, dan duktus dari aksara yang bersangkutan.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa:
1. Aksara Merapi Merbabu mempunyai bentuk yang bervariasi 2. Semakin mutakhir usia naskah, jumlah duktusnya semakin sedikit 3. Semakin mutakhir usia naskah, jarak antar aksara semakin renggang 4. Semakin mutakhir usia naskah, penulisan aksaranya semakin tegak . 5. Semakin mutakhir usia naskah, garis pada aksara semakin tipis. Kata kunci:
Naskah Merapi Merbabu, Perkembangan Aksara Buda, Metode Dinamis
ABSTRACT
Name : Andriyati Rahayu
Study Program : Literature, Philology
Title : Manuscripts of Merapi Merbabu: A Review on Merapi Merbabu Alphabetical Letters
This thesis is discussing about the variation of forms and patterns of development in Buda alphabetical letters. It consists of four dated manuscripts of Merapi Merbabu collection. This research analyzed the manuscripts according to its date. This research applies dynamic method in analyzing letters based on the letter’s form, size, inclination, thickness and ductus.
The result of this research was concluded as below:
1. The letters of Merapi Merbabu have many variations in it’s form. 2. The more recent manuscript has less ductus than the older one.
3. The more recent manuscript has more spaces between letters than the older one. 4. The more recent manuscript has less inclination letters than the older one. 5. The more recent manuscript has thinner letters than the older one.
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pengetahuan tentang kebudayaan kita di masa lampau tergali dari peninggalan masa lalu, termasuk di antaranya adalah naskah. Isi naskah-naskah dapat memberikan gambaran tentang kehidupan spiritual nenek moyang kita, serta alam pikiran dan lingkungan hidupnya. Dengan mengkaji naskah-naskah tersebut, kita tidak saja dapat mengetahui kehidupan mereka di masa lampau, tapi juga dapat memahami pandangan dan pedoman hidup mereka (Sudjiman, 1995:46).
Naskah-naskah yang ditemukan di Indonesia jumlahnya amat banyak dan jenisnya beraneka ragam. Di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tersimpan 9.870 naskah (Behrend, dkk., 1998:xiii). Di luar Perpustakaan Nasional Republik
Indonesia, banyak sekali tempat-tempat penyimpan naskah, misalnya museum, yayasan, perpustakaan pemerintah daerah, pesantren, unversitas dan istana. Selain itu banyak juga naskah yang tersimpan sebagai koleksi pribadi dan perpustakaan-perpustakaan di luar Indonesia.
Dari sekian banyak naskah yang menjadi koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, baru sebagian kecil yang diteliti, sedangkan sebagian besar lainnya belum mendapat perhatian. Naskah-naskah koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang belum banyak diteliti di antaranya adalah naskah-naskah koleksi Merapi Merbabu1.
Akhir abad ke-14 dan 15 M adalah masa suram bagi perkembangan kesusastraan Jawa. Hal ini antara lain karena adanya peristiwa-peristiwa politik yang meruntuhkan kebesaran kerajaan Majapahit. Setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, kegiatan kesusastraan Jawa berpindah ke Bali. Kumpulan naskah sastra Jawa Kuna dan Pertengahan hampir semuanya berasal dari Bali (Zoetmulder, 1994: 47). Fakta tersebut membuat para ahli menganggap bahwa Bali adalah mata rantai utama yang menghubungkan antara kesusastraan Jawa Kuna2 dengan Jawa Baru3.
Namun penelitian Wiryamartana (1990) tentang transformasi teks Arjuna Wiwaha ke teks Wiwaha Jarwa4 telah mengungkapkan adanya satu mata rantai penting lainnya dalam peralihan dari sastra Jawa Kuna ke sastra Jawa Baru. Mata rantai itu adalah naskah-naskah koleksi Merapi-Merbabu.
Keberadaan naskah-naskah Merapi Merbabu ini sudah diketahui sejak tahun 1822 M. Berdasarkan riwayat kepemilikan naskah, diketahui bahwa naskah-naskah
1
Naskah-naskah yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, terdiri dari beberapa koleksi. Koleksi-koleksi tersebut umumnya dinamakan sesuai nama pemilik atau kolektor naskah sebelumnya. Misalnya koleksi CS merupakan singkatan dari Cohen Stuart, kolektor naskah tersebut sebelumnya. Koleksi Merapi Merbabu dinamakan sesuai dengan tempat penemuan naskah (Kuntara Wiryamartana dan W. van der Molen, “The Merapi-Merbabu Area Manuscripts, A Neglected Collection,”Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde, 157 (2001:51))
2
Istilah sastra Jawa Kuna mengacu pada karya-karya sastra yang ditulis pada masa kekuasaan Mpu Sindok sampai dengan Kerajaan Majapahit, yaitu sekitar abad 9-14 M (Sri Sukesi Adiwimarta, “Periodisasi”, Sastra Jawa Kuna: Suatu Tinjauan Umum, ed. Edi Sedyawati, Jakarta: Balai Pustaka, 2001:3).
3
Istilah sastra Jawa Baru mengacu pada karya-karya sastra yang ditulis pada masa keraton Mataram Islam dan berlanjut pada masa Keraton Surakarta dan Yogyakarta, yaitu sekitar abad 18-19 M (ibid).
4
Penelitian ini melacak transformasi teks Arjuna Wiwaha sebagai karya sastra Jawa Kuna, hingga ke teks Wiwaha Jarwa yang merupakan karya sastra Jawa Baru. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa antara teks Arjuna Wiwaha dan teks Wiwaha Jarwa dihubungkan oleh teks Wiwaha Kawi Jarwa. Salah satu naskah yang memuat teks Wiwaha Kawi Jarwa adalah lontar 181, yang termasuk dalam koleksi Merapi Merbabu .
Merapi-Merbabu mulanya adalah koleksi pribadi Kyai Windusana. Ketika ditemukan, naskah-naskah itu sudah diwariskan pada cucunya. Menurut keterangan cucunya jumlah naskah yang dimiliki oleh Kyai Windusana mencapai seribu. Namun, saat diserahkan pada Bataviaasch Genootschap tahun 1852, jumlah naskah yang ada hanya 400 naskah. Naskah-naskah itu kini sebagian besar menjadi koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, sedangkan sisanya tersimpan di perpustakaan-perpustakaan lain di dunia (Wiryamartana dan Molen, 2001:52).
Walaupun keberadaannya sudah diketahui sejak akhir abad ke-19 M, tetapi perhatian terhadap naskah-naskah Merapi Merbabu baru muncul terutama sejak penelitian Molen (1983) tentang prosa Kunjarakarna. Penelitian tentang naskah-naskah Merapi Merbabu selanjutnya dilakukan oleh Wiryamartana (1990). Setelah itu muncul penelitian-penelitian lain tentang naskah-naskah koleksi Merapi-Merbabu yang juga dilakukan oleh kedua ahli tersebut. Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut diketahui bahwa naskah-naskah Merapi Merbabu bervariasi dalam hal isi, penanggalan, dan aksara.
Isi naskah-naskah Merapi-Merbabu meliputi berbagai genre. Beberapa di antaranya adalah kakawin, misalnya Arjuna Wiwaha, Ramayana, Bharatayuddha, Surajaya, dan Subrata. Teks-teks Islam pun ada dalam koleksi Merapi-Merbabu misalnya teks Tapel Adam. Selain itu juga ditemukan berbagai teks mantra dan primbon (Wiryamartana dan Molen, 2001:53-55).
Dari segi penanggalan, naskah-naskah Merapi-Merbabu meliputi rentang waktu selama dua abad, yaitu dari abad ke-16 M sampai abad ke-18 M. Usia naskah-naskah Merapi Merbabu lebih tua bila dibandingkan dengan naskah-naskah Jawa yang berasal dari keraton Jawa Tengah dan ditulis sekitar abad ke-18 M dan awal ke-19 M. Dari segi bahasa, naskah-naskah Merapi Merbabu menggunakan bahasa Jawa Baru, bahasa Jawa Kuna, bahasa Sansekerta, dan bahasa Arab (Setyawati dkk, 2002:1 dan 6).
Selain isi, penanggalan dan bahasa, naskah-naskah Merapi Merbabu juga bervariasi dalam hal penggunaan aksara. Tercatat ada tiga tipe aksara yang digunakan dalam naskah-naskah Merapi Merbabu yaitu aksara Buda, aksara Jawa dan sedikit aksara Arab. Namun, aksara yang paling banyak digunakan adalah aksara Buda (Wiryamartana dan Molen, 2001:58).
Aksara Buda mempunyai bentuk yang berbeda dengan aksara Jawa Baru ataupun aksara Bali. Pigeaud (1967:53) berpendapat bahwa bentuk aksara Buda lebih mirip dengan aksara yang digunakan di Jawa pada masa pra Islam. Penamaan aksara Buda mengacu pada ajaran agama yang terkandung dalam naskah-naskah tersebut yang umumnya adalah ajaran agama pra Islam5. Aksara Buda disebut juga aksara gunung. Hal ini disebabkan naskah-naskah yang menggunakan aksara ini umumnya ditemukan di gunung-gunung (Pigeaud, 1967:53, 81 dan 283; 1970:53-54).
Ditemukannya naskah-naskah tersebut di daerah pegunungan diperkirakan karena di daerah pegunungan tersebut juga terjadi kegiatan keagamaan yang berkaitan dengan kegiatan penulisan dan penyalinan naskah. Penelitian Wiryamartana (1993:503) membawa pada satu kesimpulan bahwa daerah Merapi Merbabu dahulu merupakan satu kompleks yang terdiri dari beberapa skriptorium. Dimungkinkan bahwa mereka yang tinggal di skriptorium ini adalah juga para agamawan yang sedang menimba ilmu (Yulianto dan Pudjiastuti, 2001:205).
Diperkirakan, pada awalnya, di wilayah Merapi Merbabu ini berdiri suatu mandala yaitu pusat kajian keagamaan yang didirikan oleh para Brahmin. Para Brahmin ini menempati suatu wilayah tertentu, yaitu mandala tersebut, sebagai tempat untuk berkreasi dan mengajarkan hal-hal keagamaan. Mandala di sekitar Merapi Mebabu merupakan salah satu mandala yang mempunyai peran demikian. Selain sebagai tempat menimba ilmu keagamaan, wilayah Merapi Merbabu juga menjadi tempat bagi para Brahmin untuk menuliskan ajaran-ajarannya pada lontar (Munandar, 2001:101). Jadi mereka menuntut ilmu keagamaan sekaligus menulis dan menyalin naskah-naskah, yang sebagian di antaranya juga dianggap sebagai kitab suci mereka.
Penelitian yang dilakukan oleh Wiryamartana dan Molen (2001:58) menunjukkan bahwa bentuk aksara Buda yang digunakan dalam tiap naskah berbeda-beda. Hal itu terjadi akibat perbedaan waktu penulisan. Perbedaan daerah dan perbedaan gaya tulisan tangan juga turut mempengaruhi perbedaan bentuk aksara Wiryamartana dan Molen (2001:62) menganalisis kaitan antara perbedaan waktu penulisan dengan bentuk aksara ‘sa’ dari tiga buah naskah. Ketiga naskah itu mempunyai penanggalan yang berbeda-beda yaitu 1521 M, 1632 M dan 1710 M.
5
Di Jawa, ketika agama Islam mulai berkembang, masa sebelum masuknya agama Islam disebut zaman Buda (Th.G.TH Pigeaud, Literature of Java. Vol I: Synopsis of Javanese Literature, 900-1900 AD (The Hague: Martinus Nijhoff, 1967:54))
Kesimpulan mereka, ada proses penyederhanaan penulisan aksara’sa’ dari naskah yang tua ke naskah yang lebih mutakhir.
Namun, tentu saja kesimpulan tersebut belum mewakili seluruh naskah karena mereka hanya meneliti satu aksara dari tiga naskah. Jadi, masih terbuka kemungkinan untuk penelitian lebih lanjut tentang aksara Buda pada naskah-naskah Merapi Merbabu. Penelitian terhadap aksara Buda dalam naskah-naskah Merapi Merbabu diharapkan akan dapat memberi gambaran tentang variasi bentuk aksara tersebut dan kaitannya dengan penanggalan naskah karena tidak semua naskah Merapi Merbabu mempunyai penanggalan.
Penelitian ini akan membuka pintu bagi peneliti-peneliti lain dalam mengkaji naskah-naskah koleksi Merapi Merbabu. Pertama, hasil penelitian ini diharapkan akan dapat menambah pengetahuan mengenai bentuk-bentuk aksara Buda dan membantu peneliti-peneliti selanjutnya untuk melakukan pembacaan yang tepat terhadap naskah-naskah Merapi Merbabu. Kedua, penelitian ini akan menarik minat penelitian lain tentang hubungan antara aksara-aksara pada naskah Merapi Merbabu dengan aksara Jawa lainnya. Penelitian tersebut akan sangat berguna untuk melacak perkembangan aksara Jawa Kuna yang terputus setelah runtuhnya kerajaan Majapahit.
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, naskah-naskah Merapi Merbabu sangat variatif dari segi aksara, bahasa, penanggalan, isi, dan aspek agama. Hal ini menunjukkan kedinamisan skriptorium yang ada di daerah Merapi Merbabu. Kehidupan kesusastraan di mandala ini akan sangat menarik bila dikaji lebih lanjut. Penelitian tentang peranan mandala atau skriptorium Merapi Merbabu terhadap kehidupan kesusastraan di pusat kerajaan akan mengungkapkan proses pelestarian naskah-naskah Jawa Kuna yang sampai pada kita.
Dari penelusuran naskah pada katalog naskah Merapi Merbabu diketahui bahwa dari sekitar 400 naskah Merapi Merbabu yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI, hanya sekitar 53 naskah yang mencantumkan penanggalan. Itu berarti sekitar 350 naskah lainnya tidak diketahui waktu penulisan atau penyalinannya. Dengan mengetahui bentuk aksara Buda yang ada dalam naskah-naskah Merapi Merbabu, diharapkan dapat diperkirakan penanggalan atau masa penulisan naskahnya. Lebih jelasnya lagi, penelitian ini diharapkan dapat membantu peneliti selanjutnya dalam
menentukan kronologi relatif bagi naskah-naskah Merapi Merbabu yang tidak bertanggal.
Dalam penelitian ini akan diambil empat contoh naskah sebagai objek penelitian. Keempat naskah itu adalah Ramayana (L 335), Parimbwan (L 31), Cacanden (L 305) dan Cacanden (L 105a). Sebelumnya telah disebutkan bahwa ada 53 naskah yang mempunyai unsur penanggalan. Dari 53 naskah tersebut, hanya 43 naskah yang angka tahunnya dapat dibaca dengan jelas. Angka tahun pada 10 naskah lainnya tidak dapat dibaca dengan jelas karena kondisi naskah yang rusak.
Dari 43 naskah, dipilihlah empat naskah yang mewakili masa setiap 50 tahun dan yang mempunyai genre sama yaitu primbon. Alasan pemilihan keempat naskah tersebut sebagai contoh adalah:
a. Satu naskah yang mewakili tiap 50 tahun. Masa 50 tahun dianggap dapat menggambarkan perkembangan satu jenis aksara.
b. Ada tiga naskah bergenre sama. Naskah-naskah bergenre sama cenderung mempunyai istilah dan kata-kata yang mirip. Hal ini akan mempermudah proses penyuntingan naskah. Primbon dipilih karena naskah-naskah bergenre ini yang paling banyak ditemukan di antara naskah-naskah Merapi Merbabu yang mempunyai penanggalan.
c. Satu naskah bergenre kakawin, yaitu Ramayana. Naskah ini dipilih karena merupakan naskah tertua dalam koleksi Merapi Merbabu. Aksara yang digunakan dalam naskah ini dianggap dapat memberi gambaran tentang bentuk aksara Buda pada masa-masa awal. Selain itu pada masa 50 tahun pertama, hanya naskah ini saja yang bertanggal, di antara naskah-naskah Merapi Merbabu lainnya.
1.2. Permasalahan
Berdasarkan pemaparan di atas, permasalahan penelitian ini adalah: 1. Bagaimanakah teks dari keempat naskah tersebut di atas ?
2. Bagaimanakah variasi bentuk dan pola perkembangan aksara dalam keempat naskah tersebut dan kaitannya dengan penanggalan naskah?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian ini adalah:
1. Menyajikan suntingan teks dari keempat naskah yang menjadi objek penelitian. 2. Menggambarkan variasi bentuk dan pola perkembangan aksara pada keempat
naskah Merapi Merbabu yang bertanggal dan menjelaskan hubungannya dengan penanggalan naskah.
1.4. Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori 1.4.1 Tinjauan Pustaka
Pada mulanya para ahli membedakan paleografi dan epigrafi berdasarkan objek penelitiannya. Objek penelitian paleografi adalah naskah sedangkan objek penelitian epigrafi adalah prasasti. Namun, pada perkembangan selanjutnya para ahli membedakan kedua ilmu tersebut berdasarkan bidang keahliannya. Menurut mereka, paleografi adalah ilmu tentang aksara kuno, sedangkan epigrafi adalah ilmu tentang sumber-sumber tertulis yang digunakan untuk membantu kita dalam mengungkapkan fakta sejarah (Naveh, 1982:6).
Penelitian paleografi di Indonesia memiliki riwayat yang panjang. Oleh karena itu, dalam tinjauan pustaka ini hanya akan disebutkan penelitian-penelitan paleografi yang menunjang dan berkaitan dengan penelitian ini.
Tahun 1975, terbit sebuah buku yang berjudul Indonesian Paleography yang ditulis oleh J.G. de Casparis. Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukannya, Casparis menguraikan secara rinci sejarah perkembangan aksara di Indonesia, dari abad ke-4 M, sehingga abad ke-15 M. Meski karya ini tidak berkaitan langsung dengan tujuan penelitian, tetapi karya Casparis telah memberi gambaran pada pembacanya tentang bagaimana suatu penelitian paleografi dilakukan. Buku ini juga membantu kita untuk mengetahui bentuk-bentuk aksara yang ada di Indonesia dari abad ke-4 sampai abad ke-15 M, secara rinci.
Salah satu bentuk penelitian paleografi di Indonesia dilakukan oleh Astuti (2005). Dalam tesisnya yang berjudul “tulisan Ulu dalam Naskah Serawai dan Pasemah: Suntingan Teks dan Kajian Paleografis”, ia meneliti perkembangan aksara Ulu dalam naskah Serawai dan Pasemah. Kajian paleografis ini dikaitkan dengan penanggalan naskah karena umumnya naskah Serawai dan Pasemah tidak memiliki
kolofon yang berisi informasi tentang penanggalan dan penyalinan naskah. Dalam tesisnya, Astuti memakai model dinamis untuk meneliti bentuk aksara Ulu. Penelitian yang dilakukan oleh Astuti ini terutama memberikan gambaran tentang penerapan model dinamis dalam penelitian paleografi.
Penelitian paleografi lainnya juga menggunakan model dinamis dilakukan oleh Anton Wibisono (2006) dalam skripsinya yang berjudul “Perkembangan Aksara Bercorak Khusus pada Prasasti-prasasti abad XV M: Sebuah Kajian Paleografi”. Penelitian ini menganalisis aksara pada sejumlah prasasti yang ditemukan di Jawa Timur, yang tidak memiliki pertanggalan. Prasasti-prasasti itu antara lain prasasti Gerba dan Widodaren yang ditemukan di Malang dan prasasti Pasru Jambe yang ditemukan di daerah Lumajang. Hasil penelitiannya berupa tabel paleografi aksara dari masing prasasti. Dari tabel tersebut, dapat ditentukan kronologi relatif dari masing-masing prasasti.
Model dinamis diterapkan oleh Willem van der Molen pada prasasti di Indonesia ketika ia meneliti bentuk aksara prasasti Ngadoman. Pada mulanya, aksara prasasti Ngadoman oleh Casparis (1975:65-66) dianggap sebagai penyederhanaan dan kelanjutan dari bentuk aksara pada prasasti-prasasti Majapahit. Pendapat ini dibantah oleh Molen (1985:10-12) yang mengatakan bahwa aksara prasasti Ngadoman justru lebih rumit daripada aksara prasasti-prasasti Majapahit. Molen mengemukakan hal tersebut setelah ia menganalisis bentuk aksara prasasti Ngadoman dengan model dinamis.
Poerbatjaraka pada tahun 1926 pernah melakukan penyuntingan terhadap teks Arjuna Wiwaha. Suntingannya tersebut memakai 12 naskah dan satu terbitan. Dari 12 naskah tersebut, di antaranya adalah naskah koleksi Merapi Merbabu. Naskah-naskah yang termasuk koleksi Merapi Merbabu tersebut adalah lontar 181, lontar 164, lontar 220, dan lontar 641. Poerbatjaraka (1926:8) tidak menyebut aksara dalam naskah-naskah tersebut sebagai aksara Buda. Ia menyebutnya sebagai aksara Bali pertengahan. Pada tahun 1977, Soepomo melakukan penyuntingan teks Arjuna Wijaya. Ada sekitar 20 naskah yang berisi teks Arjuna Wijaya, tetapi Soepomo hanya menggunakan 10 naskah sebagai dasar suntingannya. Dari kesepuluh naskah tersebut, satu di antaranya yaitu Cod.219, menurut Soepomo menggunakan aksara yang tidak umum. Sesudah diadakan perbandingan dengan bentuk-bentuk aksara lainnya, Soepomo
berpendapat bahwa aksara pada naskah Cod. 219 lebih dekat pada aksara Sunda (hlm. 86). Namun setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, diketahui bahwa Cod. 219 termasuk ke dalam koleksi Merapi Merbabu (Wiryamartana, 1993:1).
Riboet Darmasoetopo (1982:291) meneliti naskah pribadinya yang disebut sebagai keropak dari Dakan. Ia menyebut aksara yang digunakan dalam keropak itu adalah aksara Kawi yang sudah mengalami perkembangan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh van der Molen (1983:293-294) dapat diketahui bahwa aksara yang digunakan dalam keropak itu sama dengan aksara yang digunakan dalam naskah lontar 53 dan lontar 187 yang berisi teks Kunjarakarna.
Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa tiap peneliti mempunyai istilah masing-masing untuk menyebut aksara yang digunakan dalam koleksi Merapi Merbabu. Hal ini mungkin disebabkan karena istilah aksara Buda belum dikenal.
Istilah aksara Buda atau aksara gunung diperkenalkan oleh Pigeaud pada tahun 1967 dalam bukunya yang berjudul Literature of Java. Vol I: Synopsis of Javanese
Literature, 900-1900 AD (hlm.53-54). Namun Pigeaud bukanlah orang pertama
menyebut aksara dalam naskah-naskah Merapi Merbabu ini sebagai aksara Buda. Ranggawarsita, seperti yang dikutip oleh Wiryamartana (1993:507), pernah menyebutkan “Punika haksara Buda hingkang kahangge para hajar-hajar hing redi”: (ini adalah aksara Buda yang digunakan oleh para agamawan di gunung).
Keberadaan naskah-naskah Merapi Merbabu semakin menjadi perhatian setelah terbit karya Willem van der Molen (1983) yang berjudul Javaanse Tekst Kritiek. Een
Overzicht en Een Nieuwe Benadering Geillustreerd Aan de Kunjarakarna. Dalam
bukunya tersebut, van der Molen selain melakukan suntingan teks juga membicarakan aksara Buda yang digunakan dalam teks Kunjarakarna koleksi Merapi Merbabu yaitu lontar 187 dan lontar 53.
Pada tahun 1990, Wiryamartana menulis sebuah buku berjudul Arjuna Wiwaha:
Transformasi Teks Jawa Kuna lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. Buku tersebut membicarakan transformasi teks Arjuna Wiwaha ke serat Wiwaha
Jarwa. Namun secara singkat dibicarakan juga tentang bentuk-bentuk aksara Buda yang ada pada naskah Arjuna Wiwaha koleksi Merapi Merbabu, lontar 165. Kesimpulannya, aksara lontar 165 mirip dengan aksara naskah Kunjarakarna lontar 187 dan lontar 53 (hlm. 20-22).
Penelitian ini mencantumkan tabel aksara Buda dari masing-masing naskah yang bersangkutan. Daftar aksara tersebut diharapkan dapat menambah pengetahuan kita tentang bentuk aksara Buda yang digunakan dalam naskah-naskah yang menjadi objek penelitian tersebut .
Buduroh (2006) dalam tesisnya yang berjudul “Naskah Darma Jati: Edisi Teks, Terjemahan, disertai Tinjauan Isi dan Aksara” melakukan penyuntingan terhadap teks Darma Jati. Dari 20 naskah yang ditemukannya, lima di antaranya merupakan koleksi Merapi Merbabu.
Dalam Naskah Darma Jati koleksi Perpustakaan Nasional RI nomor inventaris CS.72, sang penyalin yaitu R.P Soeria-Widjaja, memberikan pertanggungjawaban alih aksara dari aksara Buda ke aksara Jawa (Buduroh, 2006:105-108). Dari daftar bentuk aksara itu kita dapat mengetahui jenis aksara yang digunakan dalam naskah Darma Jati. Adanya daftar aksara Buda yang disertai padanannya dalam aksara Jawa, membantu peneliti selanjutnya dalam proses alih aksara dari aksara Buda ke aksara latin.
Penelitian lain tentang naskah-naskah Merapi Merbabu dilakukan oleh Sugiyarto (2006) dalam tesisnya yang berjudul “Mantra Tolak Teluh Naskah Merapi Merbabu: Edisi Teks dan Kajian Peristiwa Magis”. Penelitian ini lebih menitikberatkan pada masalah mantra tolak teluh sebagai tradisi lisan dan peristiwa magis yang berkaitan dengannya. Walaupun begitu, Sugiyarto tetap melakukan penyuntingan terhadap naskah-naskah Merapi Merbabu yang berisi mantra tolak teluh. Ia juga membuat tabel aksara yang digunakan oleh naskah-naskah tersebut (hlm. 29-32).
Jadi, walaupun keempat penelitian di atas berfokus pada penyuntingan naskah, tetapi dari daftar aksara yang dilampirkan, kita dapat mengetahui jenis aksara Buda yang digunakan dalam naskah-naskah yang bersangkutan. Hasil dari penelitian itu akan menambah pengetahuan tentang bentuk-bentuk aksara Buda. Selain itu hasil penyuntingan teks dari para peneliti sebelumnya juga membantu peneliti selanjutnya untuk memahami kata-kata yang digunakan dalam naskah-naskah koleksi Merapi Merbabu.
1.4.2 Landasan Teori
Penelitian yang akan dilakukan ini merupakan kajian paleografis terhadap aksara Buda dalam naskah-naskah Merapi Merbabu. Sebelum dianalisis bentuk
aksaranya, teks dalam naskah-naskah tersebut akan disunting terlebih dahulu. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan filologi selain pendekatan paleografi.
Paleografi adalah ilmu yang mempelajari tentang aksara kuno dan melacak perkembangan bentuk aksara. Tujuannya agar suatu dokumen kuno dapat dibaca dengan benar dan bila perlu, diperkirakan penanggalannya. Pengetahuan tentang bentuk aksara ini adalah prasyarat bila kita ingin mengolah sumber-sumber sejarah yang berupa tulisan (Naveh, 1982:6).
Untuk seorang filolog, pengetahuan tentang paleografi antara lain berguna untuk menghindari kesalahan pembacaan teks. Kesalahan pembacaan akan mengakibatkan kesalahan penerjemahan dan pada akhirnya akan membawa kekeliruan pada penafsiran teks yang bersangkutan. Dalam hal ini, studi tentang tulisan diperlukan untuk menghindari hal tersebut. Dengan cara ini paleografi menjadi ilmu bantu bagi filologi (Robson, 1978:29). Di lain pihak, analisis terhadap aksara dalam suatu naskah, akan lebih akurat jika teks naskah itu disunting terlebih dahulu. Hal itu perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya kesalahan penafsiran bentuk aksara tertentu (Astuti, 2005:15).
Penyuntingan naskah dapat dilakukan dengan metode diplomatik dan metode kritik. Metode diplomatik adalah metode penyuntingan teks dimana teks yang disajikan sama seperti teks yang terdapat dalam naskah sumber. Sebaliknya metode kritik adalah metode penyuntingan dimana penyunting mengidentifikasikan bagian teks yang bermasalah dan memberi alternatif perbaikan (Robson, 1994:24-25).
Dalam penelitian ini penyuntingan akan dilakukan dengan metode diplomatik dan kritik. Metode diplomatik digunakan dengan tujuan agar pembaca dapat mengikuti teks dengan teks yang tercantum dalam naskah sumber. Metode kritik digunakan agar pembaca dapat memahami makna dari teks yang disajikan. Selain itu tujuan penggunaan metode kritik dalam penelitian ini adalah untuk menghindari kesalahan penafsiran bentuk aksara dalam teks tersebut. Dalam penelitian ini edisi yang memakai metode kritik disajikan dengan koreksi dari peneliti.
Tahap selanjutnya yang akan dilakukan adalah penerjemahan. Menurut Nida dan Taber (1969:12) terjemahan adalah pengungkapan kembali pesan bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dengan padanannya yang paling alamiah, pertama-tama artinya,
kemudian gaya bahasanya. Dalam penelitian ini, penerjemahan lebih ditekankan pada arti bukan gaya bahasa, karena tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perkembangan aksara. Selain itu teks yang diterjemahkan tidak terlalu panjang, sehingga tidak memerlukan penafsiran yang terlalu luas.
Penelitian ini berkaitan dengan unsur kronologi. Oleh karena itu, akan dilakukan tinjauan terhadap naskah-naskah yang sezaman. Dalam penelitian tentang sumber tertulis, proses ini dikenal dengan nama kritik. Tujuannya adalah untuk menguji kredibilitas data yang berupa sumber tertulis. Apakah data yang digunakan dalam penelitian ini otentik dan tidak terdapat anakronisme? (Yulianto, 1996:15). Dalam penelitian ini, tinjauan terhadap naskah-naskah yang sezaman bertujuan untuk membuktikan bahwa naskah-naskah yang dijadikan data utama memang benar berasal dari tanggal yang disebutkan dalam kolofonnya. Caranya adalah dengan membandingkan naskah-naskah utama dengan naskah-naskah lain yang sezaman.
Dalam penelitian tentang sumber sejarah tertulis, kritik terbagi menjadi kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern dilakukan dengan cara membandingkan unsur fisik dari data utama dengan unsur fisik dari sumber lain yang sejenis dan sezaman. Apakah unsur fisik antara kedua sumber tersebut mempunyai kesamaan (Yulianto, 1996:17). Untuk naskah, akan dibandingkan unsur fisik naskah yang menjadi data utama dengan unsur fisik naskah yang sezaman.
Sementara itu, kritik intern dilakukan dengan menguji isi dan bahasa yang digunakan dalam data utama. Pengujian bahasa terdiri dari pengujian kata dan kalimat yang digunakan dalam data utama (Yulianto, 1996:19). Jadi akan dilakukan pengujian terhadap kata dan kalimat yang digunakan dalam naskah yang menjadi data utama. Apakah kata-kata tersebut lazim digunakan pada masa yang tercantum di dalam teks? Namun, dalam penelitian ini tidak akan dilakukan kritik intern, karena naskah-naskah yang menjadi objek penelitian belum disunting.
Setelah dilakukan penyuntingan teks, akan dilakukan kajian terhadap bentuk aksaranya. Dalam hal ini akan digunakan pendekatan paleografi. Salah satu tugas paleografi adalah meneliti sejarah tulisan, yaitu menjelaskan perubahan bentuk tulisan dari masa ke masa (Molen, 1985:4).
Menurut Molen (1985:9-10) ada dua cara untuk mengkaji bentuk aksara yaitu model statis dan model dinamis. Model statis menganggap aksara hanya sebagai
susunan garis saja. Model ini bertujuan untuk meneliti bentuk aksara. Oleh karena itu, dalam penelitian model statis, aksara dianalisis satu persatu. Sebaliknya, model dinamis menganggap aksara atau tulisan sebagai hasil gerakan tangan dan terdiri dari unsur nyata dan tidak nyata. Unsur nyata adalah aksara tersebut, sedangkan unsur tidak nyata adalah gerakan tangan di udara ketika sedang menulis aksara tersebut. Perubahan dalam bentuk tulisan dipahami sebagai gerakan perpaduan antara kedua unsur tersebut. (Molen, 1985:9-10)
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti perkembangan aksara Buda dalam naskah-naskah Merapi Merbabu, dan model penelitian yang akan digunakan adalah model dinamis. Melalui model penelitian ini diharapkan akan dapat diketahui sejarah perkembangan aksara Buda dalam naskah-naskah Merapi Merbabu.
Perbedaan bentuk aksara dapat disebabkan oleh beberapa hal, misalnya perbedaan waktu penulisan, perbedaan tempat dan perbedaan gaya tulisan tangan (Wiryamartana dan Molen, 2001:58). Casparis (1975:9) menyebutkan beberapa hal yang menyebabkan suatu aksara berubah. Pertama adalah perubahan teknik penulisan, yang berkaitan dengan perbedaan alat dan bahan yang digunakan untuk menulis. Kedua adalah perubahan selera, yang berkaitan dengan estetika dan keindahan. Ketiga adalah kecenderungan untuk mencari bentuk yang lebih sederhana. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari upaya-upaya yang tidak perlu dalam penulisan suatu aksara.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Sesuai dengan tujuannya, penelitian ini membahas bentuk-bentuk aksara Buda yang digunakan dalam naskah-naskah Merapi Merbabu yang mempunyai unsur penanggalan. Naskah-naskah tersebut kini sebagian besar menjadi koleksi Perpustakaan Nasional RI. Setelah dilakukan penelusuran melalui katalog, diketahui bahwa ada 53 naskah Merapi Merbabu yang mencantumkan unsur-unsur penanggalan di dalamnya. Dari 53 naskah tadi dipilih empat naskah sebagai contoh yang mewakili keseluruhan naskah.
Keempat naskah tersebut adalah:
• Kakawin Ramayana yang berangka tahun 1443 MM6, dengan nomor naskah 335 dan nomor peti 31
• Parimbwan, yang berangka tahun 1536 MM, dengan nomor naskah 31 dan nomor peti 7
• Cacanden, yang berangka tahun 1587 MM, dengan nomor naskah 305 dan nomor peti 3
• Cacanden, yang berangka tahun 1641 MM dengan nomor naskah 105a dan nomor peti 3
Keempat naskah di atas menjadi data utama dalam penelitian ini.
1.6. Tahapan Penelitian
Secara garis besar ada tiga tahap yang akan dilakukan dalam penelitian ini, yaitu: 1. Pengumpulan Data
Tahap ini terbagi menjadi pengumpulan data kepustakaan dan pengumpulan data di lapangan. Data utama dalam penelitian ini adalah naskah-naskah koleksi Merapi Merbabu yang beraksara Buda dan mencantumkan unsur-unsur penanggalan di dalamnya. Data penunjang dalam penelitian ini adalah berbagai tulisan dan hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan data utama. Pada pengumpulan data kepustakaan, dilakukan pelacakan terhadap data utama melalui berbagai katalog yang memuat keterangan tentang naskah-naskah Merapi Merbabu. Kemudian dilakukan pemilihan naskah-naskah Merapi Merbabu yang akan dijadikan data utama.
Setelah didapat keterangan dalam katalog, dilakukan pencatatan tentang nomor inventaris, lokasi dan deskripsi singkat tentang data utama tersebut. Selanjutnya
6
Tahun Merapi Merbabu (MM). Naskah-naskah Merapi Merbabu menggunakan sistem penanggalan Saka, yang mempunyai perbedaan 78 tahun dengan sistem penanggalan Masehi (J.G. de Casparis,
Indonesian Chronology, (Leiden/Koln: E.J. Brill, 1978:3)). Namun penanggalan Merapi Merbabu
mempunyai beberapa perbedaan dengan sistem penanggalan Saka pada umumnya. Perbedaan itu misalnya, satu windu MM terdiri dari lima tahun bukan delapan tahun. Selain itu dalam penanggalan MM ada penyebutan Wuku luar dan Wuku dalam, yang masih belum diketahui maknanya. (Kuntara Wiryamartana dan W. van der Molen, “The Merapi-Merbabu Area Manuscripts, A Neglected Collection,”Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde, 157 (2001:55-56)). Oleh karena itu tahun MM dalam tesis ini tidak akan dikonversikan ke dalam tahun Masehi, karena beberapa unsur yang belum diketahui maknanya.
dilakukan pengumpulan data di lapangan, berupa pendeskripsian dan pendokumentasian data utama. Kemudian akan dilakukan pembacaan dan penyeleksian untuk mencari naskah yang akan dijadikan sumber data utama. Setelah didapat naskah yang dimaksud, dilakukan pencatatan aspek kodikologi.
2. Pengolahan Data
Pada kegiatan ini akan dilakukan penyuntingan dan penerjemahan teks. Penyuntingan akan dilakukan dengan edisi diplomatik dan edisi kritik, sedangkan penerjemahan yang akan dilakukan lebih menekankan pada arti, tidak pada gaya bahasa.
Penyuntingan hanya akan dilakukan pada sebagian naskah saja, yaitu bagian kolofon dan beberapa lembar lempir pertama. Penyuntingan sebagian teks dianggap cukup untuk mengetahui bentuk-bentuk aksara Buda dari naskah-naskah yang bersangkutan. Dalam hal ini juga dipastikan bahwa teks yang disunting dalam satu naskah menggunakan aksara yang sama.
Tahapan selanjutnya dalam pengolahan data ini adalah analisis bentuk aksara dari sumber data utama. Analisis ini menggunakan model dinamis dalam penelitian paleografi. Analisis ini diawali dengan pembahasan bentuk aksara dari tiap naskah yang menjadi sumber data utama. Selanjutnya dilakukan perbandingan bentuk aksara dari tiap naskah, untuk mengetahui sejarah perkembangan aksaranya. Tidak semua aksara akan diteliti. Aksara yang akan dianalisis adalah yang bentuknya mengalami perubahan secara signifikan dan frekuensi kemunculannya cukup tinggi. Bersamaan dengan analisis aksara akan dilakukan juga perbandingan dengan naskah-naskah lain yang sezaman. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah naskah-naskah yang menjadi data utama memang berasal dari tahun yang disebutkan dalam kolofonnya.
3. Penafsiran Data
Pada tahap ini, data utama yang telah diolah kemudian dilengkapi dengan data penunjang, untuk selanjutnya ditafsirkan menjadi suatu kesimpulan yang utuh. Kesimpulan inilah yang kemudian akan menjawab permasalahan penelitian ini.
1.7. Sistematika Penyajian
Sistematika penyajian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Bab I Pendahuluan
Bab ini berisi uraian tentang latar belakang permasalahan, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, tahapan penelitian dan sistematika penyajian. Bab II Deskripsi Naskah
Bab ini berisi deskripsi mengenai data utama yang meliputi seluruh aspek –aspek fisik dari naskah-naskah yang bersangkutan
Bab III Suntingan Teks dan Terjemahan
Bab ini berisi suntingan teks dari naskah-naskah yang menjadi data utama disertai dengan terjemahannya, dari bahasa sumber ke bahasa tujuan.
Bab IV Tinjauan atas Perkembangan Aksara Naskah
Bab ini berisi analisis bentuk aksara Buda yang digunakan dalam data utama. Selain itu juga berisi analisa kaitan antara bentuk aksara yang digunakan dengan penanggalan naskah.
Bab V Tinjauan atas Naskah-Naskah yang Sezaman
Bab ini berisi hasil perbandingan unsur-unsur fisik dan isi dari naskah-naskah utama dengan naskah-naskah lain yang sezaman.
Bab VI. Penutup
BAB 2
DESKRIPSI NASKAH
Pendahuluan
Dalam bab ini akan disajikan deskripsi dari naskah-naskah yang menjadi data utama. Ada empat naskah yang menjadi data utama dalam penelitian ini yaitu Ramayana, Parimbwan, Cacanden L 305 dan Cacanden L 105a.
2.2. Deskripsi Naskah Ramayana
Naskah ini tersimpan di PNRI bagian koleksi naskah dengan kode naskah L 335 peti 31. Alas naskah berupa lontar berukuran 63,7 cm x 3,7 cm. Naskah tersimpan di dalam kotak kayu berwarna coklat tua. Tidak ada pengapit naskah. Tali pengikat naskah terbuat dari benang kapas berwarna putih yang dimasukkan ke dalam lubang
yang ada di tengah naskah dan mengikat lempirnya agar tidak terburai. Ujung tali di akhir naskah diikatkan pada sekeping uang logam cina.
Naskah ini terdiri atas 132 lempir. Satu lempir naskah terdiri dari empat baris tulisan. Tulisan pada recto dan verso. Kondisi naskah tidak terlalu bagus karena banyak lempir yang patah, sobek dan berlubang-lubang. Empat lempir pertama keadaannya sangat rusak. Sisi kiri dan kanannya patah. Oleh karena itu agak sulit untuk melihat penanda awal teks. Lempir terakhir verso hanya terdiri dari dua baris tulisan di sisi kanan dan tiga baris tulisan di sisi kirinya. Penanda akhir teks adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1. Penanda Akhir Teks pada Naskah Ramayana
Selain patah geripis pada bagian pinggir naskah, kerusakan juga terjadi pada bagian tengah naskah. Lubang tempat tali perangkai naskah bentuknya sudah tidak bulat lagi, melainkan melebar karena rusak. Hal ini mengakibatkan beberapa aksara pada bagian ini hilang. Kerusakan pada bagian tengah ini terjadi pada lempir pertama hingga lempir keenam puluh.
Ada satu lempir yang patah menjadi dua dan bagian pinggirnya rusak. Lempir ini juga terlepas dari tali perangkainya sehingga sulit untuk menentukan lempir keberapa yang patah tersebut. Lempir tersebut ditempatkan sebagai lempir pertama.
Kerusakan-kerusakan yang terjadi pada naskah Kakawin Ramayana ini sebagai berikut:
1. Lempir ke-1 patah menjadi dua dan terlepas dari talinya
2. Lempir ke-2 sampai ke-4 bagian pinggir kiri dan kanannya patah dan hilang 3. Lempir ke-9 sisi kiri atas geripis
4. Lempir ke-14 sisi kiri atas dan kanan bawah geripis 5. Lempir ke-16 sisi kiri atas geripis
6. Lempir ke-17 sisi kiri atas geripis 7. Lempir ke-20 sisi kiri atas geripis 8. Lempir ke-21 sisi kiri bawah geripis
9. Lempir ke-25 sisi kiri bawah geripis
10.Lempir ke-26 dan ke-27 bagian tengah bawah patah, namun sudah dijahit dengan benang berwarna putih
11.Lempir ke-33 dan ke-34 pada bagian tengah bawahnya berlubang cukup besar
12.Lempir ke-35 sisi kiri atas geripis 13.Lempir ke-41 sisi kiri atas geripis
14.Lempir ke-42 sisi kiri atas patah, namun patahannya masih bisa ditemukan 15.Lempir ke-44 sampai ke-51 sisi kiri patah dan hilang sepanjang 5-7 cm 16.Lempir ke-53 pada bagian tengah patah dan dijahit dengan benang wol
berwarna biru
17.Lempir ke-54 sisi kiri atas geripis 18.Lempir ke-55 sisi kanan atas geripis
19.Lempir ke-63 dan 64 patah menjadi dua, namun kedua patahan sudah dijahit dengan benang wol berwarna biru
20.Lempir ke-68 sisi kiri bawah geripis 21.Lempir ke-70 sisi kiri bawah geripis 22.Lempir ke-73 sisi kiri atas geripis 23.Lempir ke-85 sisi kiri bawah geripis 24.Lempir ke-90 sisi kiri atas geripis
25.Lempir ke-91 patah menjadi dua, namun patahan tidak hilang 26.Lempir ke-92 sisi kiri atas geripis
27.Lempir ke-94 dan ke-96 patah menjadi dua, dan kedua patahan itu dijahit dengan benang putih
28.Lempir ke 110 sampai ke 111 sisi kanan patah dan hilang sepanjang 15 cm 29.Lempir ke-112 dan ke-113 pada sisi kanan berlubang cukup besar sehingga
beberapa aksara hilang
30.Lempir terakhir sebelah kanan bawah patah dan hilang namun karena lempir ini hanya terdiri dari dua baris tulisan, hal itu tidak mengganggu tulisan. Berdasarkan keterangan pada katalog, disebutkan bahwa tahun penulisan adalah 1443 MM. Tempat penulisan adalah Damapungut dan nama penulisnya adalah Lurah Adipamawan. Aksara yang digunakan adalah aksara Buda dan bahasanya bahasa Jawa
Kuna. Naskah ini berisi teks Kakawin Ramayana yang dimulai dari Sarga VI.80.b (Setyawati, dkk., 2002:236)
2.3. Parimbwan
Naskah ini tersimpan di PNRI di bagian naskah dengan kode naskah L 31 peti 7. Alas naskah berupa lontar berukuran 36,5 cm x 3,4 cm. Pengapit naskah terbuat dari bambu berwarna coklat gelap. Ada tali pengikat berwarna merah dan putih yang dijalin menjadi satu. Tali pengikat masuk ke dalam lubang yang ada di tengah naskah. Ujung tali ini hanya dibuat simpul saja, tidak diikatkan pada apa pun.
Naskah ini terdiri dari 17 lempir. Kondisi naskah masih cukup bagus namun di beberapa bagian naskah berlubang-lubang karena dimakan serangga. Selain itu di bagian atas dan bawah lempir menghitam sehingga menyulitkan pembacaan. Tulisan ada di sisi recto dan verso. Sisi recto lempir pertama kosong. Tulisan dimulai di sisi verso lempir pertama.
Lontar pertama dan kedua patah di sudut kiri bawah sehingga beberapa aksara hilang. Kondisi yang sama terjadi pada lempir ketiga di sudut kiri atas. Lempir kesembilan mulanya patah menjadi dua, namun sudah disatukan kembali dengan menggunakan double tape. Bagian yang patah pada lempir ini ada di tengah-tengah naskah, sehingga tidak mengganggu tulisan. Kondisi lempir-lempir selanjutnya baik. Bagian awal tulisan tidak terlalu jelas karena kondisi tulisan yang menghitam.
Berdasarkan keterangan pada katalog diketahui bahwa tahun penulisan adalah 1536 MM. Tempat penulisan adalah kaki gunung Kanistan sisi tenggara, lereng alas Mamalang, Pangudaksitan, Sesela. Penulis naskah adalah Ki Batur Alihan. Aksara yang digunakan aksara Buda dan bahasanya Jawa Kuna. Teks berbentuk prosa dan rajah yang berisi tentang obat-obatan, mantra untuk mempengaruhi orang, obat-obatan dan rajahnya, mantra dan rajahnya (Setyawati, dkk., 2002:26).
Berikut akan disajikan gambar-gambar yang ada pada rajah beserta keterangan singkatnya7:
7
Keterangan tentang gambar-gambar rajah ini didapat berdasarkan pembacaan sekilas pada naskah yang bersangkutan, tidak melalui proses penyuntingan dan penerjemahan yang baku. Selain itu banyak kata-kata yang sulit diterjemahkan, sehingga keterangan mengenai gambar-gambar rajah ini belum memadai. Oleh karena itu perlu diadakan penelitan lebih lanjut untuk mengetahui secara lengkap maksud dari gambar-gambar rajah yang bersangkutan .
a. Lempir 3 recto
Gambar 2.2. Rajah Putri
Rajah ini digunakan sebagai sarana agar seorang ibu cepat melahirkan
b. Lempir 5 verso kanan
Gambar 2.3. Rajah Kamadenen
c. Lempir 8 recto
Gambar 2.4. Rajah Tapak I Maling
Rajah ini digunakan sebagai sarana untuk memulangkan maling
d. Lempir 8 verso
Gambar 2.5. Rajah Panipisan
e. Lempir 9 verso
Gambar 2.6. Rajah Kawaliwojo
Keterangan mengenai rajah ini tidak terbaca karena lempir menghitam
f. Lempir 10 verso
Gambar 2.7. Rajah Kawaliwojo
Rajah ini digunakan sebagai sarana untuk memperbesar alat kelamin pria.
g. Lempir 11 verso
Gambar 2.8. Rajah Sapurogol
Rajah ini digunakan sebagai sarana untuk mengobati penyakit Suren 8
h. Lempir 12 recto sebelah kanan
Gambar 2.9. Rajah Sisigah
Rajah ini digunakan sebagai sarana untuk mengobati penyakit Tarangan9
i. Lempir 12 recto kiri
Gambar 2.10. Rajah Wika
Rajah ini digunakan sebagai sarana untuk mengusir hama di sawah.
9
j. Lempir 12 verso kanan
Gambar 2.11. Rajah Agring
Rajah ini digunakan sebagai sarana agar orang menjadi waras.10
k. Lempir 12 verso kiri
Gambar 2.12. Rajah Bayu Siddhi
Rajah ini sebagai sarana agar orang menjadi waras. Tulisan pada rajah adalah
’yapaye’, namun apa kaitan tulisan tersebut dengan penggunaan rajah belum
diketahui secara pasti.
10
Waras berarti sehat (Tim Balai Bahasa Yogyakarta, 2001:841). Namun penyakit apa yang dapat disembuhkan melalui rajah ini belum diketahui secara pasti.
l. Lempir 14 recto kiri
Gambar 2.13. Rajah Bulung Buyang Rajah ini digunakan sebagai sarana mengobati kena racun
m. Lempir 14 recto kanan
Gambar 2.14. Rajah Kawaliwojo
Rajah ini digunakan sebagai sarana untuk membuat minyak tertentu yang digunakan dalam pengobatan.
n. Lempir 15 recto kiri
Gambar 2.15. Rajah Kawaliwojo
Rajah ini digunakan sebagai sarana untuk membuat minyak tertentu yang digunakan dalam pengobatan.
o. Lempir 15 verso kanan
Gambar 2.16. Rajah Panglet
p. Lempir 17 recto kiri
Gambar 2.17. Rajah Klar
Rajah ini digunakan di sawah 11
q. Lempir 17 recto kanan
Gambar 2.18. Rajah Tumbal Hilandak
Rajah ini digunakan sebagai sarana mengusir landak
Tiap gambar rajah selalu diakhiri oleh tanda sebelum diikuti oleh teks. Penanda awal teks tidak jelas karena kondisi lempir yang menghitam. Penanda Akhir teks adalah
Gambar 2.19. Penanda Akhir Teks Naskah Parimbwan
2.4. Cacanden L 305
Naskah ini tersimpan di PNRI di bagian koleksi naskah dengan kode naskah L 305 peti 3. Alas naskah berupa lontar berukuran 33,7 x 3,3 cm. Pengapit naskah terbuat dari bambu berwarna coklat muda dengan bercak-bercak coklat tua. Pengapit bagian belakang tidak utuh lagi karena rusak. Tali pengikat naskah berupa tali kasur berwarna putih. Namun tali ini hanya diikatkan saja pada naskah, tidak dimasukkan ke dalam lubang yang ada di tengah naskah. Ujung tali diikatkan pada sebatang lidi berukuran 2,5 cm.
Naskah ini terdiri dari 52 lempir. Tiap lempir terdiri dari empat baris. Tulisan ada pada recto dan verso. Lempir ke-51 kosong. Pada lempir ke-52 recto tertulis teks sedangkan verso terdiri dari gambar rajah yang disertai teks.
Keadaan naskah masih cukup baik, tulisan masih cukup jelas terbaca.. Bagian pinggiran naskah umumnya sudah tidak rata karena terkikis atau rusak. Lempir ke-51 sisi bawah rusak sehingga dua baris terbawah lempir ini hilang. Hal yang sama terjadi pada lempir ketiga dan keempat sisi kiri atas yang menyebabkan baris pertama kedua lempir ini hilang. Hampir semua lempir geripis di bagian kanan sehingga beberapa aksara di bagian ini hilang.
Seluruh lempir pada naskah ini dilaminasi. Pada beberapa bagian, laminasi ini menyebabkan tulisan menjadi sulit untuk dibaca. Bahkan di lempir ke-12 recto dan
verso, tulisan hampir tidak terbaca. Selain karena laminasi, juga karena tulisan pada lempir ke-12 ini amat tipis. Tidak ada penanda akhir teks.
Penanda awal teks adalah sebagai berikut
Gambar 2.20 Penanda Awal Teks Cacanden L 305
Berdasarkan keterangan pada katalog diketahui bahwa tahun penulisan naskah adalah 1587 MM. Tempat penulisannya adalah Damalung. Aksara yang digunakan adalah aksara Buda dan bahasanya adalah bahasa Jawa. Berdasarkan keterangan pada katalog pula diketahui bahwa naskah terdiri dari empat teks yang terdiri dari:
• 51 lempir teks Cacanden
• Lempir 50b adalah daftar Pancawara yang nilainya dinyatakan dengan bulat-bulatan
• Lempir 50b di samping daftar Pancawara tadi adalah teks tentang petunjuk memulai menanam.
• Satu lempir terakhir adalah rajah (Setyawati, dkk., 2002:219)
Lempir 50b berisi daftar pancawara dan nilainya, yang diilustrasikan dengan gambar berikut
Gambar rajah di verso lempir terakhir berjumlah dua buah, terletak di sebelah kiri dan kanan. Ilustrasi gambar rajah tersebut adalah sebagai berikut
Rajah di sisi sebelah kiri
Gambar 2.22. Rajah Tapak Maling
Rajah ini digunakan sebagai sarana untuk membunuh maling
Rajah di sisi sebelah kanan
Gambar 2.23. Rajah Palasapen
2.5. Cacanden L 105a
Naskah ini tersimpan di PNRI bagian koleksi naskah dengan kode naskah L 105a peti 3. Alas naskah berupa lontar berukuran 43,9 x 3,7 cm. Pengapit naskah terbuat dari bambu berwarna coklat tua. Tali pengikat naskah terbuat dari benang kapas berwarna putih yang dimasukkan ke dalam lubang yang ada di tengah naskah. Ujung tali diikatkan pada sebatang lidi berukuran 2,5 cm.
Kondisi naskah tidak terlalu bagus, karena berlubang-lubang dimakan serangga. Naskah ini terdiri dari 42 lempir. Tulisan ada di recto dan verso naskah. Lempir pertama, lempir ke-40 dan lempir ke-42 kosong. Tiap lempir terdiri dari empat baris.
Kondisi tulisan cukup jelas terbaca, walaupun di beberapa lempir tulisan yang digoreskan amat tipis. Pada lempir kedua dan ketiga beberapa aksara hilang karena lubang-lubang yang ada pada alas naskah akibat dimakan serangga. Lempir kelima sebelah kanan dilaminasi dan menyebabkan tulisan menjadi tidak dapat dibaca. Hal yang sama terjadi pada lempir kesembilan yang dilaminasi di bagian tengah naskah. Lempir-lempir lain yang dilaminasi adalah lempir ke-13 sebelah kiri dan lempir ke-26 bagian kanan. Pada lempir ke-42 sebelah kanannya patah, namun karena lempir ini tidak berisi tulisan, maka kondisi tadi tidak mengganggu pembacaan.
Tulisan pada naskah ini amat tipis. Bahkan pada beberapa lempir, tampaknya setelah digoreskan di atas lontar, tulisan tidak diberi kemiri yang dibakar. Walaupun demikian bentuk aksara masih dapat terlihat dengan jelas.
Pada lempir ke-39 verso, tulisan terdiri dari satu baris saja. Di lempir ke-40 verso, tulisan hanya terdiri dari tiga baris. Pada lempir ke-19 hingga lempir ke-21 bagian kanan bawah rusak sehingga baris terakhir dari lempir-lempir tersebut sulit dibaca. Hal yang sama terjadi pada lempir ke-32 bagian kanan bawah.
Penanda awal teks adalah
Penanda akhir teks adalah
Gambar 2.25. Penanda Akhir Teks Naskah Cacanden L 105a
Berdasarkan keterangan pada katalog diketahui bahwa tahun penulisan nashkah ini adalah 1641 MM. Tempat penulisan adalah kaki gunung Mandarageni, sisi timur laut, lereng Argabelah. Aksara yang digunakan adalah aksara Buda dan bahasanya adalah bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang dimaksud dalam naskah ini adalah bahasa Jawa Pertengahan dan bahasa Jawa Baru. Kedua bahasa tersebut sulit dibedakan dalam naskah-naskah Merapi Merbabu, oleh karena itu disebut dengan bahasa Jawa (Setyawati, dkk., 2002:4).
Teks dalam naskah ini terdiri dari:
• 40 lempir teks Cacanden
• Satu lempir teks sajen dan mantra
BAB 3
SUNTINGAN TEKS DAN TERJEMAHAN
3.1. Pertanggungjawaban Suntingan Teks dan Terjemahan
3.1.1. Pertanggungjawaban Suntingan Teks Menggunakan Metode Diplomatik
Tujuan dari penggunaan metode diplomatik dalam penelitian ini adalah agar pembaca bisa mengikuti teks sedekat mungkin sesuai dengan naskah sumber. Walau demikian jarak antara naskah sumber dan pembaca tak dapat dihilangkan sama sekali.
Suntingan teks dengan menggunakan metode diplomatik dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk alih aksara yang belum diberi perbaikan-perbaikan. Dalam hal ini sangat mungkin terjadi penafsiran peneliti tentang sistem aksara dan sistem ejaan yang ada dalam keempat naskah aslinya.
Suntingan metode diplomatik dalam penelitian ini dilakukan sebagai berikut : 1. Alih aksara disajikan berdasarkan urutan lempir halaman dan baris