• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOROBUDUR SEBAGAI MANDALA : MASA LALU DAN MASA KINI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BOROBUDUR SEBAGAI MANDALA : MASA LALU DAN MASA KINI"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

S

BOROBUDUR SEBAGAI MANDALA :

MASA LALU DAN MASA KINI

Oleh :

Daud Aris Tanudirjo

Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Gadjah Mada

Sejak dimunculkan kembali pada tahun 1814, Masalahnya, apakah perbedaan tafsir itu

rasanya Candi Borobudur tidak pernah lepas harus dibiarkan ataukah harus dicari mana yang

dari kontroversi. Walaupun begitu banyak ahli lebih dapat diterima? Yang seringkali terjadi,

telah mencoba mengungkap makna yang ada di orang akan selalu mencari mana yang paling

balik candi Buddhis terbesar di belahan bumi benar dan ia akan cenderung merasa bahwa

selatan ini, masih cukup banyak hal yang belum terpecahkan. Candi Borobudur adalah layaknya teks yang tidak ada henti untuk ditafsirkan. Pemahaman terhadap teks tentu saja tidak dapat lepas dari bagaimana teks itu dimengerti dalam konteks tertentu, baik itu konteks waktu, ruang, dan suasana pikiran orang yang mencoba memahaminya. Sifat inilah yang memungkinkan tidak hanya satu pemahaman yang dapat diperoleh tentang suatu teks, tetapi bisa jadi ada beragam pemahaman yang dapat dihasilkan (lebih jauh baca Buchli, 1995). Karena itu, keragaman tafsir tentang makna dan fungsi

(2)

apa yang menurutnya benar adalah jawaban tahun yang lalu memang bukan pekerjaan

yang paling benar. Akibatnya, ada saja orang mudah. Namun, yang lebih sulit lagi adalah

yang merasa harus ada kebenaran tunggal, atau 'pemugaran' makna Candi Borobudur di masa

harus ada yang salah dan yang benar. Padahal, lampau. Bahkan, banyak pakar yang meyakini

dalam kaitan dengan pemaknaan di 'masa bahwa menemukan kembali kenyataan

lampau' tentu kebenaran tunggal itu sulit pemaknaan masa lampau hampir pasti tidak

dicapai. Masa lampau sudah lewat dan mungkin. Yang sesungguhnya terjadi adalah

sebagian data yang terkait dengan masa upaya memahami pemaknaan di masa lampau

lampau tidak lagi lengkap sampai kepada kita. dari perspektif masa kini (Shank and Hodder,

Karena itu, menemukan makna sesungguhnya 1995; Koerner and Price, 2008). Pemahaman

di masa lalu bukan pekerjaan mudah. tentang masa lampau tidak dapat hanya

Pemugaran Candi Borobudur secara fisik digantungkan pada satu pendekatan atau

sebagaimana dilakukan oleh van Erp seratus pendapat. Sebaliknya, pemahaman yang lebih

baik akan dapat dicapai dengan saling mengisi antar beragam pendapat yang berbeda. Untuk mengetahui apakah pemahaman itu bersifat relatif atau obyektif tentu harus ditimbang pula dengan keseluruhan pengetahuan yang digunakan dalam proses memahami masalah itu sendiri (Wylie, 2002). Kerangka pikir inilah yang hendak digunakan dalam tulisan tentang Candi Borobudur sebagai mandala ini.

Pertanyaan tentang apakah Candi Borobudur adalah suatu mandala sebenarnya sudah lama menjadi topik diskusi para pakar. Setidaknya pada tahun 1933, pertanyaan itu telah dijadikan judul artikel oleh W.F. Stutterheim yang menulis di majalah Djawa. Sejak itu, diskusi tentang fungsi Candi Borobudur sebagai mandala terus berkembang, sehingga akhirnya

(3)

lebih banyak pakar yang meyakini bahwa Candi memakai diagram ini untuk membantu

Borobudur memang mandala (a.l. Stutterheim, konsentrasi. Dalam konteks ini, mandala

1956; Bernet-Kempers, 1976; Miksic, 1990). dianggap sebagai pusat kekuatan psikis. Dalam

Namun, keraguan tentang fungsi Candi konteks yang lain, secara lebih luas mandala

Borobudur dimunculkan kembali oleh sarjana juga diartikan sebagai suatu medan yang

Belanda Marijke Klokke antara lain dalam disucikan. Medan ini dipisahkan dari wilayah

presentasinya di Pertemuan Ilmiah Arkeologi di profan dengan jajaran tokoh-tokoh magis di

Cipanas tahun 1996. Meskipun telah ditanggapi tempat-tempat tertentu dan 'penjaga' pintu

dengan baik oleh Miksic (2010), keraguan itu masuknya. Bagian-bagian yang ditandai khusus

m e m a n c i n g g a g a s a n u n t u k m e n c o b a pada mandala itu dipercayai ditempati oleh

meluaskan pembahasan konsep Candi dewa tertentu atau sebagai tempat kedudukan

Borobudur sebagai mandala yang tidak hanya para dewa (surga, istana, altar). Karena itu, di

terbatas pada penafsirannya untuk masa bagian yang ditandai itu sering terdapat gambar

lampau tetapi juga penafsirannya di masa kini. dewa, tokoh, atau lambangnya.

Pengertian yang tidak jauh berbeda

PENGERTIAN MANDALA dikemukakan oleh Grover (1980), ketika ia

membahas arsitektur Hindu dan Budhis.

Pada intinya, mandala berarti lingkaran. Menurut pakar ini, mandala sesungguhnya

Namun, dalam penerapannya, konsep ini diberi adalah bentuk geometris yang paling hakiki dan

makna kontekstual yang berbeda-beda. Dalam dasar dari bentuk yang lain, yaitu bentuk persegi

Hindu World, an Encyclopedic Survey of dan lingkaran. Untuk mendirikan bangunan suci

Hinduism (Walker, 1983), misalnya, disebutkan para dewa, tidak ada bentuk dasar yang paling

bahwa mandala lebih banyak dipahami sebagai sesuai selain kedua bentuk dasar ini. Karena itu,

diagram simbolis yang terdiri atas bentuk- denah bangunan suci untuk para dewa selalu

bentuk persegi, segitiga, labirin, permata, atau menggunakan konsep mandala. Dalam konteks

suluran yang ada dalam suatu lingkaran. arsitektur, bentuk persegi lebih banyak

Diagram ini seringkali dilukiskan di atas kertas digunakan pada bangunan hinduistik,

atau tanah, atau digoreskan dan dipahatkan sedangkan bentuk lingkaran lebih banyak

pada lembaran logam, batu, kayu, tulang, atau digunakan pada bangunan budhis. Namun,

(4)

rujukan utama dalam setiap karya arsitektur, tinggal di Gunung Meru dan sekaligus juga

hinduistik maupun budhis, sehingga menjadi menganggap dirinya sebagai devaraja. Sebagai

dasar apa yang disebut sebagai Vastupurush- pemimpin utama, maharaja akan dikelilingi

mandala, yang secara hurufiah dapat diartikan sejumlah pejabat yang sebagian tentunya

'skema magi untuk arsitektur Manusia Utama'. adalah para penguasa wilayah bawahan yang

Berbagai paduan bentuk dasar dalam berada di sekitar pusat kerajaan. Struktur

Vastupurushmandala ini nantinya menjadi hubungan inilah yang kemudian dipahami juga

pangkal pedoman bagi para arsitektur India sebagai konsep mandala. Dalam konteks ini,

untuk menghasilkan desain bangunan yang Wolter (1982) memahami mandala sebagai

rumit dan beragam. “lingkaran para raja” yang mendukung atau

Konsep mandala juga dapat diperluas bersekutu dengan maharaja dalam suatu

menjadi tatanan hubungan kekuasaan dan kerajaan tertentu. Karena setiap raja (bawahan)

kewilayahan. Dalam konteks ini, lingkaran memiliki wilayah kekuasaannya sendiri-sendiri,

mandala menjadi bagian tak terpisahkan dari meskipun dengan batasan yang tidak tegas,

kosmogoni Hindu dan Buddha, yang maka mandala juga bermakna geografis (baca

membayangkan jagat raya terdiri atas tujuh Kulke, 1986; Christie, 1986).

lingkaran lautan dan tujuh daratan yang Namun, Christie (1986) secara kritis

berselang-seling. Di tengah lingkaran terdalam menekankan perlunya membedakan antara

terdapat pusat dunia yang ditandai oleh bhumi dan mandala. Bhumi adalah wilayah yang

keberadaan Gunung Meru, sedangkan di luar benar-benar dikuasai secara politis dan

lautan terluar terdapat deretan pegunungan administratif oleh raja yang sedang bertahta,

besar. Menurut Heine-Geldern (1982), konsep sehingga menjadi inti atau pusat kerajaan

kosmologis ini telah menjadi dasar bagi tatanan seperti dalam ungkapan i bhumi Mataram atau

kekuasaan maupun kewilayahan banyak bhumi Kadiri. Pengertian ini tentu tidak sama

kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Asia dengan mandala yang berarti 'seluruh wilayah

Tenggara. Ia membayangkan setiap kerajaan yang didaku di bawah kekuasaan kerajaan itu.

akan memiliki maharaja yang menjadi pusat Jadi, mandala mencakup daerah inti (bhumi)

kekuasaan dan berkedudukan di pusat wilayah. dan daerah pinggiran yang tidak sepenuhnya

M a h a r a j a m e n d u d u k k a n d i r i s e b a g a i d i k u a s a i o l e h r a j a . U n g k a p a n

(5)

keseluruhan Pulau Jawa, tetapi belum tentu raja didirikan dengan konsep mandala tertentu.

benar-benar menguasai seluruh Pulau Jawa Yang pasti, bentuk dasar candi ini adalah

secara politis dan administratif. Dengan paduan lingkaran dan persegi yang merupakan

demikian, mandala lebih baik diartikan sebagai bentuk-bentuk yang hakiki. Bernet-Kempers

kesatuan wilayah inti dan pinggiran yang saling (1976) juga yakin bahwa dari denahnya yang

berinteraksi. terdiri dari paduan bentuk lingkaran, persegi,

dan tangga, Candi Borobudur pastilah BOROBUDUR SEBAGAI MANDALA DI MASA

LAMPAU

Dengan berbagai pengertian yang telah diuraikan di atas, barangkali pertanyaan tentang apakah Candi Borobudur sebagai mandala dapat dijawab. Tentu jawabnya tidak harus tunggal, tergantung pada konsep mana yang akan dipakai. Apabila konsep yang digunakan mengikuti pengertian mandala sebagaimana dikemukakan oleh Grover di atas, sudah pasti Candi Borobudur adalah mandala karena hampir semua bangunan suci dianggap sebagai pengejawantahan konsep mandala. Dalam berbagai sumber sejarah Jawa Kuno memang dapat dibuktikan bahwa pendirian candi-candi di Jawa dan Bali juga didasarkan pada konsep mandala, di antaranya Candi Sewu yang disebut

mandala dalam prasasti Kelurak (782 M) atau

gugusan Candi Gunung Kawi di Bali yang disebut sebagai “sanghyang mandala ring

Amaravati” (Soekmono, 1974). Candi Borobudur

(6)

merupakan lambang dari suatu mandala. yang didirikan di atas tanah. Baginya, pola

Lalu, apakah Candi Borobudur juga seperti itu sama persis dengan pola struktur

berfungsi sebagai mandala yang menjadi alat lukisan-lukisan dari Tibet yang disebut mandala.

bantu dalam bermeditasi? Kemungkinan ini Lukisan seperti ini biasanya dipakai sebagai alat

sebenarnya sudah lama dikemukakan oleh bantu untuk merenung dan memuja. Di bagian

sejumlah peneliti Candi Borobudur. Stuterheim tertentu candi digambarkan tokoh Budha atau

(1956), misalnya, berpendapat bahwa Candi perlambangan lain yang terkait dengan

Borobudur di masa lalu bukan tempat yang kenyataan yang tertinggi. Biasanya, tokoh

dapat dikunjungi oleh semua orang untuk utama itu dilingkungi oleh sejumlah tokoh dalam

berziarah dan belajar tentang agama Buddha di berbagai bentuk perwujudannya yang muncul

bawah bimbingan para paderi. Ia justru yakin (emanasi) di sekelilingnya.

Candi Borobudur lebih diperuntukan bagi para Pendapat bahwa Candi Borobudur adalah

paderi dari berbagai penjuru dunia yang ingin mandala juga dikemukakan oleh Miksic (1990).

bersemadi. Mereka adalah para paderi yang Bagian-bagian dari Candi Borobudur memiliki

ingin menjadi budha-budha di masa yang akan kesamaan dengan unsur-unsur yang ada dalam

datang. Karena itu, Candi Borobudur mestinya suatu mandala, terutama yang digambarkan

adalah alat bantu bermeditasi. Gagasan dalam Dharmadhatu-mandala dan

Vajradhatu-Stutterheim ini juga disetujui oleh Bernet- mandala. Lukisan kuno bentuk mandala yang

Kempers (1976) dan Zimmer. Bagi Zimmer ada di Cina dan Jepang disebutkan mirip

(1955), desain bangun Candi Borobudur sangat dengan bagian-bagian Candi Borobudur.

jelas menunjukkan fungsinya sebagai alat bantu Bentuk dan posisi candi yang berada di atas

meditasi. Hasil kajian bangunan candi ini bukit juga menyerupai gambaran pusat

memperlihatkan desain bangunan suci ini mandala yang dibayangkan berada di puncak

berdenah persegi dengan empat pintu di arah Gunung Sumeru. Sejumlah patung yang

empat mata angin utama dan masing-masing menduduki relung-relung di empat penjuru

memiliki anak tangga naik menuju ke bagian mataangin mirip dengan empat budha yang

yang paling sakral di atas. Di bagian atasnya mengeliling Budha Tertinggi (Adibudha) dalam

terdapat tiga teras melingkar, sehingga secara mandala Vajradhatu. Sementara itu, paduan

keseluruhan membentuk teras-teras melingkar kala-makara pada pintu masuk candi beserta

yang didukung oleh sejumlah teras persegi pagar langkan yang mengelilingi teras pertama

Kala-makara pada pintu masuk Candi Borobudur

(7)

berbentuk persegi pada Candi Borobudur merupakan gambaran dari

Dharmadhatu-mandala. Meskipun diakui ada kesulitan besar

untuk menafsirkan secara khusus dan rinci konsep mandala yang diterapkan di candi ini, tetapi diyakini candi ini adalah mandala dalam arti ruang yang telah dibersihkan dari kekuatan jahat, sehingga para dewa dapat diundang datang ke tempat ini. Di tempat ini pula para rahib terbantu mendapatkan kesadaran yang lebih tinggi.

Secara lebih rinci, gambaran Candi Borobudur sebagai mandala juga diuraikan oleh Huntington (1997). Ia menghubungkan candi ini dengan konsep-konsep yang ada dalam

Avatamsakasutra atau Buddhavatamsaka serta

satu teks klasik dari Mahavairo-cana Tantra. Sarjana ini sependapat dengan Krom (1927. Lihat juga Miksic, 1990) bahwa patung-patung budha yang terdapat pada relung-relung di atas empat teras terbawah dari Candi Borobudur tidak lain adalah tokoh-tokoh Jina yang menempati empat penjuru dunia dalam mandala

Vairocana : Aksobhya bersikap tangan bhumisparsamudra di timur, Ratnasambhawa

bersikap varadamudra di selatan, Amitabha bersikap dhyanamudra di barat, serta

Amoghasiddhi bersikap abhayamudra di utara.

Namun, Huntington kurang setuju dengan tafsir Krom bahwa patung di relung teras kelima yang

bhumisparsamudra

varadamudra dhyanamudra abhayamudra

(8)

bersikap tangan vitarkamudra sebagai yang masih berada di dunia dan mengajarkan

Vairocana dan patung dalam stupa terawang Mahavairocanasutra, terutama dalam konteks

yang bersikap dharmacakramudra sebagai pancajina mandala.

Vajrasattva. Huntington sendiri menafsirkan Sementara itu, patung yang ada di stupa

patung di teras kelima sebagai perwujudan dari kerawang tidak lain adalah Vairocana yang

Akanistha, yaitu tokoh Vairocana atau Sakyamuni dalam teks Avatamsakasutra disebut sebagai 'yang tak-terlihat dan tak-diketahui' (the

Unseeable and Unknowable). Vairocana ini

dapat dilihat dan diketahui hanya jika melalui wujud nyata Sakyamuni. Sifat Vairocana yang 'tak terlihat dan tak-diketahui kecuali lewat pengalaman langsung' inilah yang diwujudkan oleh arsitek Candi Borobudur dengan meletakkan patung Vairocana dalam stupa terawang, sehingga patung Vairocana yang ada di dalamnya 'kadang terlihat, kadang tak-terlihat'. Karena itu, Huntington harus mengakui bahwa Candi Borobudur adalah karya arsitektur yang luar biasa jenius. Pesan simbolik yang mendalam mampu dihadirkan secara bendawi dalam bentuk candi dan unsur-unsurnya. Berdasarkan bacaannya itu, Huntington yakin bahwa Candi Borobudur adalah perwujudan dari mandala yang dikonsepsikan dalam dua teks Buddhis, yaitu Avatamsakasutra, khususnya dari bagian Gandavyuha, dan satu teks lain yang belum jelas dari kelompok Mahavairocanasutra.

Eksperimentasi yang dilakukan oleh Gammon et als (2009) makin mempertegas makna Candi Borobudur sebagai mandala.

(9)

Sarjana ini bersama-sama dengan sejumlah menyimpulkan mandala yang paling dekat

rahib dan pendeta Geshe Yeshe Wangchuck dengan candi Borobudur adalah sarvavid

dari Tibet mencoba mengukur geometri Candi mahavairocana mandala, yaitu salah satu bentuk

Borobudur dengan alat-alat yang biasa mandala yang paling awal dalam aliran

digunakan untuk membuat mandala di Tibet, yogatantra.

yaitu segulungan tali, patok kayu, dan kapur. Berbagai pendapat di atas setidaknya

Mereka mendapati geometri candi ini menegaskan bahwa Candi Borobudur adalah

mempunyai kesamaan proporsi dengan mandala. Namun, candi ini barangkali memang

Vajrabhairava-mandala. Gammon sendiri yakin tidak dapat ditafsirkan hanya bermakna tunggal.

bahwa dalam banyak unsurnya Candi Miksic (2010) menyatakan setidaknya ada tiga

Borobudur adalah suatu mandala yang tidak makna simbolis yang secara bersamaan dapat

biasa. Candi ini awalnya didirikan mengikuti ditafsirkan dari Candi Borobudur ini : sebagai

konsep ajaran Mahayana, tetapi dalam gunung yang melambangkan sepuluh tingkatan

mengalami modifikasi menjadi yogantara menuju ke-budha-an, lambang legitimasi

mandala pada tahap pembangunannya yang kekuasaan politik dinasti Syailendra, dan stupa

kedua oleh Raja Samaratungga. Perubahan itu yang melambangkan kematian dan kelahiran

juga dikaitkan dengan penutupan bagian kembali. Bahkan, amat mungkin masih ada

Kamadhatu. Berdasarkan konsep Mahayana, makna-makna lain pula yang ada di balik

candi ini dibangun 10 tingkat dengan ukuran pendirian candi ini.

100 m x 100 m, untuk melambangkan 5 jalan M e m a n g k a r y a a r s i t e k t u r y a n g

Mahayana dan 10 bodhisattva-bhumi, monumental, seperti Candi Borobudur, pada

sedangkan tiga tingkat stupa (masing-masing umumnya adalah suatu metafora yang telah

berjumlah 32, 24, dan 16) merupakan dibendakan (baca Tilley, 1999). Karya itu tidak

perwujudan dari sutra teratai (Lotus-sutra) saja merupakan lambang metaforis yang

sebagaimana ditafsirkan oleh Paul Mus. Pada diperoleh dari ranah lain, seperti dari kosmologi,

tahap perubahan, kaki candi ini ditambah lebar t e t a p i j u g a m e m b e r i p e l u a n g u n t u k

agar memenuhi ukuran 108 bagian (unit) kontekstualisasi kembali. Proses seperti ini tentu

sebagaimana yang disyaratkan dalam s a j a m e m b e r i k a n k e s e m p a t a n p a d a

yogatantra mandala, sehingga menjadi penggandaan makna. Artinya, satu ungkapan

(10)

sejajar. Hal ini rupanya terjadi dalam kasus Artinya, seorang raja bawahan (daerah) dapat

Candi Borobudur. Kesejajaran antara makna saja memperoleh mobilitas ke atas sehingga

religius dan politis menjadi bagian yang penting menjadi maharaja (pusat). Hal ini dibuktikan

dari konsep rancangan candi ini. Di satu sisi, pula dari bacaan berbagai prasasti yang

Candi Borobudur dapat dilihat sebagai bagian menunjukkan bahwa seorang rakai (bawahan)

dari laku religius untuk mencapai ke-budha-an, dapat menjadi maharaja (pusat). Dengan

tetapi pada ranah yang lain candi ini juga dimuati demikian, ketika ia naik menjadi maharaja maka

laku politis sebagai mandala kekuasaan dan kedudukan pusat kekuasaan pun akan ikut

kewilayahan baru, khususnya bagi dinasti mengalami perubahan. Jika pusat kekuasaan

Syailendra. Tafsiran ini menjadi bermakna ketika berpindah, dibutuhkan suatu mandala baru

pemahaman struktur hubungan antara (Boechari, 1976).

maharaja/pusat dan raja bawahan/daerah Pendirian Candi Borobudur barangkali

dibayangkan juga sebagai hubungan unsur- dapat dilihat dalam konteks perubahan

unsur dalam suatu mandala. Sebagaimana konstelasi kekuasaan kerajaan Hindu-Budha di

dikemukakan oleh beberapa peneliti (lihat Jawa Tengah ketika itu. Menurut sejarah,

Kulke, 1986; Christie, 1986), hubungan suksesi dari Raja Sanjaya kepada Rakai

kekuasaan maharaja dan raja bersifat dinamis. Panangkaran merupakan peristiwa yang sangat

penting, karena tidak saja terjadi alih kekuasaan secara politis, tetapi juga secara religius. Raja Sanjaya yang Hindu digantikan oleh Rakai Panangkaran yang Buddhis. Meskipun pada masa itu suksesi dari penguasa berbeda agama mungkin bukan merupakan hal yang amat istimewa, tetapi bagaimana pun perbedaan agama akan berdampak pula pada perbedaan mandala yang dianut oleh raja. Dalam situasi seperti ini, tentu saja wajar apabila Rakai Panangkaran perlu menetapkan mandalanya sendiri. Barangkali kebutuhan ini menjadi faktor pendorong didirikannya Candi Borobudur

(11)

sebagai pusat mandala baru di Cekungan Kedu. dan pada saat yang sama adalah mandala

Menurut perhitungan Dumarcay (1978), politis, dapat dijelaskan pula dengan konsep

Candi Borobudur dibangun dalam lima tahap kesamaan antara rahib dan raja pada aliran

dan mengalami perubahan dari rancangan Budhisme tertentu, terutama yang bersifat

semula. Setidaknya dibutuhkan waktu lebih dari tantris. Dalam paham ini rahib dan raja menjalani

50 tahun untuk mewujudkan gagasan besar itu tahapan kehidupan yang sejajar dengan

menjadi kenyataan. Pendirian tahap awal candi menggunakan metafora yang hampir sama,

ini dilaksanakan sekitar tahun 780 M. Artinya, sebagaimana tergambar dalam perbandingan

pembangunan dimulai saat Rakai Panangkaran berikut ini (Davidson, 2002).

berkuasa, mungkin bersamaan atau tidak lama setelah ia meresmikan Candi Kalasan pada tahun 778 M. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Candi Borobudur adalah mandala baru bagi kerajaan Mataram Kuno. Pemilihan Cekungan Kedu sebagai lokasinya tentu juga telah diperhitungkan sesuai dengan situasi kewilayahan yang ada ketika itu. Ada petunjuk yang cukup kuat bahwa daerah ini merupakan wilayah yang lebih banyak dikuasai oleh dinasti

Syailendra yang buddhis. Sebagai pusat U r a i a n - u r a i a n d i a t a s t e l a h

mandala baru, tidak mengherankan jika candi ini menggambarkan bagaimana Candi Borobudur

disebut pula sebagai kamulan, yaitu tempat asal jelas memenuhi kriteria sebagai mandala dalam

mula (keluarga) oleh generasi sesudahnya berbagai pengertiannya. Sebagai bangunan

sebagaimana terbukti pada prasasti yang suci, Candi Borobudur dapat dipastikan

diterbitkan Sri Kahulunan (842 M). Lagipula, dibangun dengan merujuk pada

Vastupurush-b e n t u k c a n d i n y a y a n g Vastupurush-b e r t e r a s - t e r a s mandala yang menjadi pedoman dasar bagi

mengingatkan pada bangunan prasejarah untuk pendirian karya arsitektur bercorak India.

penghormatan terhadap jasa para leluhur. Penelitian sejumlah ahli juga menunjukkan

Tafsiran bahwa Candi Borobudur adalah bahwa bentuk dan susunan relief, arca, dan

(12)

memang sesuai benar dengan gambaran dan merasuki pemikiran dalam ranah

mandala dalam agama Budha. Meskipun setiap pengelolaan Candi Borobudur sebagai warisan

ahli berbeda dalam tafsir tentang aliran atau teks budaya. Dalam konteks ini, makna Candi

agama Budha yang dirujuk sebagai acuan Borobudur sebagai mandala menjadi rujukan

mandala Borobudur, tetapi setidaknya hasil untuk menentukan kebijakan dan strategi

penelitian mereka sama-sama menegaskan pengelolaan warisan budaya yang telah

candi ini sebagai mandala. Di samping itu, candi dimasukkan dalam World Heritage List sejak

ini tidak hanya dimaknai sebagai mandala tahun 1991 ini. Setidaknya ada dua cara

dalam ibadah keagamaan, tetapi juga pandang dalam pengelolaan warisan budaya

dimaksudkan sebagai mandala baru dalam Candi Borobudur berdasarkan konsep

sistem kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. mandala, yaitu akademis dan masyarakat.

Candi Borobudur menjadi mandala baru yang Cara pandang akademis muncul di

menandai perpindahan kekuasaan dari Rakai kalangan para pemikir-pemerhati pelestarian

Sanjaya yang Hindu kepada Rakai Panangkaran warisan budaya di tengah munculnya

yang Buddhis. Candi ini harus dilihat sebagai kesadaran baru tentang saujana budaya

Sumeru, gunung yang menjadi pusat dunia dan (cultural landscape) pada awal dasawarsa

1990-kekuasaan tempat kedudukan raja sebagai an. Ketika itu, wacana tentang hubungan antara

cakravartin. Karena itu, Candi Borobudur tidak warisan budaya dan warisan alam menyita

saja menjadi mandala keagamaan tetapi juga perhatian para pakar di bidang pengelolaan dan

mandala politik untuk legitimasi kekuasaan pelestarian. Pemisahan dua kategori itu, warisan

Syailendra. budaya dan alam, dianggap tidak lagi sesuai

dengan kenyataan yang menunjukkan bahwa

BOROBUDUR SEBAGAI MANDALA DI MASA sesungguhnya karya budaya dan karya alam

KINI seringkali tidak dapat dipisahkan. Keterkaitan

antara budaya dan alam begitu erat sehingga

Tafsir makna Candi Borobudur sebagai hampir tidak mungkin dipisahkan, apalagi

mandala rupanya tidak berhenti pada ranah dalam pandangan yang tidak bersifat

akademis-arkeologis yang mencoba 'memugar materialistik. Saujana atau lanskap adalah

makna' di masa lampau. Gagasan tentang perpaduan antar unsur alam dan budaya yang

(13)

benda-benda, tetapi juga ada kehidupan itu pelestarian monumen daripada kawasan secara

sendiri. Karena itu, saujana dapat berarti benda, keseluruhan.

pengalaman, atau juga lambang-lambang yang Dalam konsep saujana budaya, tidak

saling mengisi dan menyatu. Saujana tidak selayaknya perhatian pelestarian diarahkan

hanya terdiri dari kehidupan nyata manusia, hanya pada candi-candi yang ada. Sebaliknya,

tetapi dapat menjadi sesuatu yang metafisik, pelestarian harus ditujukan untuk seluruh unsur

'dikhayalkan' (imagined), dan diidealisasikan dalam kawasan Borobudur, baik itu lingkungan

(Thomas, 2001). Wacana itu akhirnya alam, tinggalan arkeologis, manusia serta tradisi

menghasilkan konsep saujana budaya. budaya yang ada. Pelestarian tidak hanya pada

Dalam pengelolaan warisan budaya, aspek fisik semata, tetapi juga unsur-unsur yang

konsep saujana budaya telah diterima secara tak-bendawi (intangible). Bahkan, pelestarian

luas dan diadopsi dalam kriteria World Heritage harus juga meliputi ruang yang 'dikhayalkan'

sejak tahun 1993 (Taylor, 1994). Bahkan, (imagined) ketika berada di puncak Candi

UNESCO World Heritage Centre (2005) telah Borobudur dan memandang ke sekelilingnya.

merumuskan 3 jenis saujana budaya secara Dari konsep itu muncul gagasan untuk

lebih terinci dalam Operational Guidelines for the melestarikan kawasan Borobudur dengan

Implementation of the World Heritage dimensi ruang yang sangat luas meliputi

Convention, yaitu saujana budaya yang sengaja Cekungan Kedu yang dikelilingi oleh lingkaran

dirancang oleh manusia, saujana yang (mandala) gunung-bukit, yaitu Gunung Merapi,

terbentuk secara lambat-laun oleh interaksi Merbabu, Andong-Telomoyo, Tidar, Sindoro,

manusia dengan alam (baik yang sudah Sumbing, dan Pegunungan Menoreh. Gagasan

menjadi relik maupun yang masih terus ini dilegitimasikan dengan menerapkan konsep

berproses), dan saujana budaya asosiatif yang mandala kewilayahan yang menggambarkan

dikaitkan dengan gagasan religius, tradisi, atau dunia sebagai lingkaran laut dan daratan yang

pemahaman budaya tertentu (terkait unsur tak- berselang-seling dengan Gunung Meru di

bendawi, intangible). Pemahaman tentang pusatnya (Taylor, 1994). Dalam konteks inilah,

saujana budaya ini telah memicu para pemikir- mandala Borobudur telah mengalami perluasan

pemerhati pelestarian mempertanyakan konsep pemaknaan yang cukup berarti di masa kini.

pengelolaan kompleks Candi Borobudur Pengelolaan warisan budaya dunia Candi

(14)

dipikirkan oleh sejumlah tokoh masyarakat dunia Candi Borobudur. Pengelolaan harus

setempat. Umumnya mereka adalah orang- dirancang dengan sinergi antara candi

orang setempat yang bersemangat mencari (monumen) dengan masyarakat yang ada di

pengetahuan tentang arti Candi Borobudur dan desa-desa sekitarnya. Kompleks Candi

pengelolaannya yang dirasakan belum mampu Borobudur yang meliputi juga Candi Pawon dan

memberikan manfaat bagi masyarakat Candi Mendut sebagai pusat mandala harus

setempat. Dalam pencarian itu, mereka juga menebarkan kekuatan sebagai daya tarik

bergaul dengan para akademisi yang peduli kunjungan ke desa-desa sekitarnya, sehingga

pelestarian kawasan Borobudur. Akhirnya, m e m b e r d a y a k a n d a n m e n i n g k a t k a n

mereka menemukan pula makna Borobudur kesejahteraan penduduknya. Jika desa dan

sebagai mandala yang dianggap sesuai dengan penduduk sekitar Kompleks Candi Borobudur

pemikiran mereka tentang bagaimana lebih berdaya dan sejahtera, maka pelestarian

mengelola kawasan Borobudur yang akan dan makna kompleks candi akan mendapat

memberikan manfaat bagi masyarakat dukungan dan penguatan dari desa-desa di

setempat. lingkungan candi tersebut. Dengan konsep

Dari perspektif masyarakat setempat, mandala ini, pengelolaan harus lebih ditujukan

Candi Borobudur adalah pusat kekuatan daya pada kawasan dan bukan terbatas pada

candi-tarik kunjungan yang sesungguhnya dikelilingi candinya saja. Selain itu, pengelolaan juga tidak

oleh kekuatan-kekuatan lain di sekelilinginya. terbatas pada unsur bendawinya (tangible) saja

Yang dimaksud kekuatan lain adalah desa-desa tetapi juga yang tak-bendawi (intangible).

dan penduduknya yang berada di sekitar Candi Dengan demikian, pengelolaan pelestarian

Borobudur dengan ciri khasnya masing-masing. kawasan Borobudur bersifat komprehensif dan

Hubungan Candi Borobudur sebagai pusat menyeluruh. Sebagai konsekuensi pengelolaan

daya tarik yang dikelilingi desa-desa pendukung kawasan Candi Borobudur berdasar konsep

di sekitarnya, disadari atau tidak, merupakan mandala ini, pemerintah seharusnya tidak lagi

adopsi mandala yang melandasi struktur memusatkan perhatian hanya pada bangunan

kekuasaan kerajaan Hinduistik di masa lampau. candi, tetapi juga pembangunan masyarakat

Bagi para tokoh masyarakat Borobudur yang ada di desa-desa di sekitar candi.

seharusnya pemerintah Indonesia menerapkan konsep ini dalam pengelolaan warisan budaya

(15)

EPILOG menyelamatkan dan memugar sebagian dari warisan budaya umat manusia ini.

Tidak diragukan lagi, baik di masa lalu maupun di masa kini, Candi Borobudur dapat

ditafsirkan sebagai mandala. Bentuk, struktur, DAFTAR PUSTAKA

bacaan relief, serta letak Kompleks Candi Borobudur pada lingkungan alamnya memberikan petunjuk yang cukup jelas tentang fungsinya sebagai mandala di masa lalu. Mandala Candi Borobudur di masa lalu ternyata tidak saja mempunyai makna tunggal, tetapi jamak. Candi Borobudur tidak hanya merupakan mandala dalam bidang keagamaan, tetapi juga politik. Mandala yang tidak saja bersifat pribadi bagi mereka yang ingin mencapai pencerahan secara individu (esoteric), tetapi juga mandala bagi seluruh keluarga Syailendra dan umat Budha ketika itu.

Rupanya pemaknaan Candi Borobudur sebagai mandala tidak hanya relevan di masa lalu. Di masa kini pun, gagasan ini masih dianut dan ditransformasikan menjadi makna baru yang dikaitkan dengan pengelolaan warisan budaya dunia ini. Kompleks Candi Borobudur memang selalu inspirasional. Pewujudan budaya masa lalu ini tidak henti-hentinya memicu gagasan-gagasan baru yang tetap relevan di masa kini. Namun, barangkali nasib Candi Borobudur akan berbeda jika seratus tahun yang lalu Theodore van Erp tidak berhasil

Bernet-Kempers, A .J. 1976. Ageless

Borobudur. Servire.

Boechari, M. 1976. Some considerations of the

problem of the shift of Mataram's Centre of Government from Central to East Java in the 10 Century AD, Bulletin of the Research Centre of Archaeology of Indonesia no. 10.

P u s a t Pe n e l i t i a n P u r b a k a l a d a n Peninggalan Nasional.

Buchli, V.A. 1995. Interpreting Material Culture :

the Trouble with Text, dalam I. Hodder et

als. (eds.) Interpreting Archaeology,

Finding Meanings in the Past. Routledge,

hlm. 181 – 193.

Christie, J.W. 1986. Negara, mandala, and

Despotic State : Images of Early Java,

dalam D.G. Marr and A.C. Milner (eds.),

th th

Southeast Asia in the 9 to 14 Centuries.

Institute of Southeast Asian Studies and Research School of Pacific Studies, hlm. 65 – 94.

Davidson, R.M. 2002. Indian Esoteric Buddhism :

a Social History of the Tantric Movement.

Columbia University Press.

Gammon, C. 2009. A Short Exploration of T.Y.S.

Lama Gangchen's Theories about the Meaning of the Sacred Geometry and Mandala Symbolism of Cand Borobudur in

(16)

the Light of Aacademic Scholarship on the Archaeology, Finding Meanings in the Past. Subject, dalam E.S. Hardiati et als (eds), Routledge, hlm. 37 – 44.

Uncovering the Meaning of the Hidden

Base of Candi Borobudur. The National Miksic, J.N. 1990. Borobudur : Golden Tales of

Research and development Centre of the Buddhas. Periplus.

Archaeology, hlm. 103- 126.

Miksic, J.N. 2010. Was Borobudur a Mandala ?,

Heine-Geldern, R von. 1982. Konsepsi tentang Jurnal Borobudur vol. IV, no. 4 Desember

Negara dan Kedudukan Raja di Asia 2010, hlm. 10 – 14.

Tenggara (edisi alih bahasa oleh Deliar

Noer). Rajawali Pers. Shank, M. and I. Hodder. 1995. Processual,

Post-processual and interpretive archaeologies,

Hesse, M. 1995. Past Realities, dalam I. Hodder dalam I. Hodder et als. (eds.) Interpreting

et als. (eds.), Interpreting Archaeology, Archaeology, Finding Meanings in the Past.

Finding Meanings in the Past. Routledge, Routledge, hlm. 3 – 29. hlm. 45 – 53.

Soekmono. 1974. Candi : Fungsi dan

Huntington, J. C. 1997. The Iconography of Pengertiannya. Disertasi Fakultas Sastra

Borobudur Revisited : the concepts of UI Jakarta.

Śleșa and sarva[buddha]kāya, dalam

Stutterheim, W.F. 1933. Is Tjandi Baraboedoer Marijke J. Klokke and Pauline L.

een Mandala ?, Djawa 13, hlm. 233 – 237.

Scheurleer (eds), Ancient Indonesian

Sculpture. KITLV Press, hlm. 133 – 153.

Stutterheim, W.F. 1956. Chandi Barabudur :

Name, Form, and Meaning, dalam Studies

Koerner, S. and Price, S. 2008. Philosophy in

in Indonesian Archaeology. KITLV Archaeology, dalam R.A. Bentley, H.D.G.

translation series. Martinus Nijhoff, hlm. 3 – Maschner, and C. Chippindale (eds.),

62.

Handbooks of Archaeological Theories.

Altamira Publisher, hlm. 351 – 371.

Taylor, K. 1994. Historical Landscape Planning. Makalah disampaikan dalam the Fourth Kulke, H. 1986. The Early and the Imperial

International Experts Meeting on

Kingdom in Southeast Asian History, dalam

Borobudur, 4 – 8 Juli 1994. D.G. Marr and A.C. Milner (eds.),

th th

Southeast Asia in the 9 to 14 Centuries.

Thomas, J. 2001. Archaeologies of Place and Institute of Southeast Asian Studies and

L a n d s c a p e , d a l a m I . H o d d e r ,

Research School of Pacific Studies, hlm. 1

Archaeological Theory Today. Polity Press,

– 22.

hlm. 165 – 186. Lucas, G. 1995. Interpretation in Contemporary

UNESCO World Heritage Centre. 2005.

Archeology : some philosophical issues,

O p e r a t i o n a l G u i d e l i n e s f o r t h e

(17)

Implementation of the World Heritage Convention.

Dr. Daud Aris Tanudirjo, MA, menamatkan kuliah S1

Walker, B. 1983. Hindu World, an Encyclopedic

dari Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah

Survey of Hinduism. Vol. II. Munshiram

Manoharlal Pusblisher.

Mada pada tahun 1985. Pada tahun 1991, mendapatkan gelar S2

dari The Australian National University, dan tahun 2002

Wylie, A. 2002. Thinking from Things : Essays in

the Philosophy of Archaeology. University

mendapatkan gelar S3 dari universitas yang sama. Pernah

of California Press.

menjabat sebagai Asisten Wakil Dekan I Bidang Pendidikan,

Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Aktif mengajar di Jurusan

Zimmer, H. 1955. The Art of Indian Asia : Its

Mythology and Transformations. Princeton

Arkeologi, FIB, UGM sampai sekarang. Selain itu juga sering

University Press.

mempublikasikan tulisan di berbagai jurnal ilmiah terutama

mengenai museum dan arkeologi prasejarah.

(18)

Referensi

Dokumen terkait