• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PERMAINAN TRADISIONAL KELERENG DALAM OPERASI PENGURANGAN DI KELAS I SD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH PERMAINAN TRADISIONAL KELERENG DALAM OPERASI PENGURANGAN DI KELAS I SD"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PERMAINAN TRADISIONAL

KELERENG DALAM OPERASI

PENGURANGAN DI KELAS I SD

OLANDADWISUMINTRA1, ARMIANTI2, RULLYCHARITASINDRAPRAHMANA3

1Mathematics Education Department, Surya Research and Education Center (STKIP Surya), SuRE Building Lt. 4, Jl. Scientia Boulevard Blok U/7, Gading Serpong, Tangerang,

[email protected]

2Mathematics Education Department, Surya Research and Education Center (STKIP Surya), SuRE Building Lt. 4, Jl. Scientia Boulevard Blok U/7, Gading Serpong, Tangerang,

[email protected]

3Mathematics Education Department, Surya Research and Education Center (STKIP Surya), SuRE Building Lt. 4, Jl. Scientia Boulevard Blok U/7, Gading Serpong, Tangerang,

[email protected]

Abstrak. Siswa SD di Indonesia rata-rata berusia berkisar antara 6 sampai 12 tahun, pada usia tesebut anak berada pada fase operasional kongkrit dimana mereka lebih cenderung berpikir pada hal-hal yang kongkrit. Anak lebih senang bermain dari pada belajar dikelas. Mengingat kondisi tersebut peneliti menggunakan permainan sebagai alat untuk menunjang pembelajaran. Mengingat bahwa bermain adalah unsur yang penting untuk perkembangan anak baik fisik, emosi, mental, intelektual, kreativitas dan social. Selain itu permainan tradisional saat ini sudah jarang terlihat dimainkan oleh anak-anak pada zaman sekarang. Maka, peneliti memilih menerapkan permainan tradisional kelereng sebagai media pembelajaran dalam operasi pengurangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membantu siswa dalam memahami konsep dasar materi pengurangan dan membantu siswa untuk memperlancar operasi pengurangan. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu design research dengan tahapan preliminary design, teaching experiment, dan retrospective analysis. Penelitian ini menunjukkan bahwa permainan tradisional kelereng dapat membuat siswa tertarik dengan pembelajaran matematika serta membantu dalam memahami konsep operasi pengurangan.

Kata kunci: Design Research, Operasi Pengurangan, Permainan Tradisional

Kelereng.

1. Pendahuluan

Matematika merupakan ratu dari segala bidang ilmu pengetahuan, karena matematika merupakan akar pengetahuan dari segala bidang ilmu pengetahuan sehingga matematika merupakan ilmu yang wajib untuk dipelajari. Tak heran ketika kita menginjak bangku sekolah sudah mulai mempelajari mata pelajaran matematika. Di dalam ilmu matematika terdapat empat operasi perhitungan dasar yang di pelajari, seperti pembagian, perkalian, penjumlahan dan pengurangan. Operasi-operasi tersebut juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti

(2)

halnya dalam transaksi jual beli.

Contohnya : Ada seorang ibu yang berbelanja di sebuah toko, ibu tersebut berbelanja sebesar Rp 23.000 dan membayar dengan uang Rp 50.000, maka sang pemilik toko mengembalikan uang pembeli sebesar Rp 27.000. Dari ilustrasi tersebut dapat kita lihat bahwa operasi pengurangan digunakan dalam transaksi tersebut. Tapi banyak siswa berpendapat bahwa operasi pengurangan adalah operasi matematika yang sulit dari pada operasi penjumlahan. Hal ini dapat di lihat saat siswa diberikan soal 31-19. Dari soal tersebut siswa mengalami kesulitan saat angka kecil di belakang puluhan di kurangkan dengan angka besar pada pengurangnya, sehingga sangat diperlukan penguasaan yang baik terhadap konsep pengurangan. Pengurangan adalah mencari perbedaan antara dua bilangan, hasilnya adalah selisih dari dua bilangan tersebut.

Matematika sesungguhnya adalah pelajaran yang mudah untuk dipelajari karena matematika sangat dekat dengan kita. Tapi tidak semua orang dapat melihat dan menyadari hal itu, apalagi bagi orang-orang yang pada dasarnya tidak menyukai matematika. Untuk menumbuhkan rasa suka pada seseorang terhadap pelajaran matematika sebenarnya gampang-gampang susah apalagi bagi siswa SD. Dibutuhkan kreativitas bagi seorang pendidik agar mereka menyenangi matematika.

Siswa SD di Indonesia rata-rata berusia berkisar antara 6 sampai 12 tahun, pada usia tesebut anak berada pada fase operasional kongkrit dimana mereka lebih cenderung berpikir pada hal-hal yang kongkrit [1]. Sekolah dasar adalah jenjang pendidikan yang siswanya cenderung lebih senang bermain dari pada belajar, serta mengingat bahwa bermain adalah unsur yang penting untuk perkembangan anak baik fisik, emosi, mental, intelektual, kreativitas dan social [2].

Selama ini telah kita ketahui bahwa permainan anak-anak SD saat ini sudah jauh berbeda dengan siswa SD zaman dulu. Siswa SD saat ini lebih senang bermain dengan komputer, playstation, dan alat elektronik lainnya. Hal ini terlihat sangat beda dengan siswa SD zaman dulu yang masih menggunakan barang-barang tradisional untuk bermain. Oleh sebab itu digunakan metode pembelajaran dengan permainan tradisional untuk menunjang pembelajaran selain itu agar permainan tradisional diingat kembali dan dimainkan lagi oleh anak-anak pada zaman sekarang sehingga permainan tradisional tidak punah [3, 4].

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan hal-hal yang di ungkapkan diatas, maka rumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh permainan tradisional kelereng dalam membantu pemahaman siswa untuk memahami konsep pengurangan di kelas 1 SD Muhammadiyah, Bojong Nangka?

2. Bagaimana pengaruh permainan tradisional kelereng dalam membantu meningkatkan minat belajar siswa di kelas 1 SD Muhammadiyah, Bojong Nangka?

(3)

Prosiding Konferensi Nasional Matematika XVII - 2014 11 - 14 Juni 2014, ITS, Surabaya

3.

Tinjauan Pustaka

Dalam penelitian ini, literatur yang digunakan untuk mempelajari pengaruh permainan tradisional kelereng terhadap operasi pengurangan bilangan bulat. Permainan tradisional adalah bentuk kegiatan permainan dan atau olahraga yang berkembang dari suatu kebiasaan masyarakat tertentu. Pada perkembangan selanjutnya permainan tradisional sering dijadikan sebagai jenis permainan yang memiliki ciri kedaerahan asli serta disesuaikan dengan tradisi budaya setempat. Kegiatannya dilakukan baik secara rutin maupun sekali-kali dengan maksud untuk mencari hiburan dan mengisi waktu luang setelah terlepas dari aktivitas rutin seperti bekerja mencari nafkah, sekolah, dsb [5].

Kelereng adalah mainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca atau tanah liat. Ukuran kelereng sangat bermacam-macam, umumnya setengah inchi (1,25 cm) dari ujung ke ujung. Konsep permainan tradisional kelereng dalam pembelajaran operasi pengurangan untuk bilangan bulat yaitu ketika siswa sedang bermain kelereng dan mereka berhasil menjentik kelereng hingga keluar dari segitiga maka siswa harus menghitung selisih jumlah kelerang awal dengan jumlah kelereng setelah berhasil di keluarkan. Selanjutnya, dengan sendirinya siswa mampu menemukan sendiri konsep pengurangan dalam permainan tradisional kelereng.

4. Metodologi Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian design research.. Menurut Gravemeijer dan Eerde [6], design research adalah suatu metode penelitian yang bertujuan mengembangkan dengan kerjasama antara peneliti dan guru untuk meningkatkan kualitas local instructional theory pembelajaran. Design research merupakan metodelogi yang mempunyai lima karakteristik, yaitu Interventionist nature, Process oriented, Reflective component, Cyclic character, dan Theory oriented [7]. Terdapat 2 aspek penting yang berkaitan dengan design research, yaitu Hypothetical Learning Trajectory (HLT) dan Local Intruction Theory (LIT). Keduanya akan diarahkan pada aktivitas pembelajaran sebagai jalur pembelajaran yang akan ditempuh oleh siswa dalam kegiatan pembelajarannya. Dalam pandangan Freudenthal dalam Gravemeijer & Eerde bahwa siswa diberikan kesempatan untuk membangun dan mengembangkan ide dan pemikiran mereka ketika mengkontruksikan matematika.

Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yang dilakukan secara berulang-ulang sampai ditemukannya teori baru yang merupakan hasil revisi dari teori pembelajaran yang dicobakan. Tiga tahapan tersebut yaitu preliminary design (desain pendahuluan), teaching experiment (percobaan desain), dan restrospektif analysis (analisis restrokpektif) [8, 9, 10], yang dapat dirangkum dalam diagram ini:

(4)

1. Desain pendahuluan (preliminary design)

Pada tahapan ini segala kebutuhan saat ingin melakukan penelitian dipersiapkan. Adapun kebutuhan tersebut meliputi melakukan kajian teori, membuat desain pembelajaran atau rangkaian aktivitas pembelajaran matematika dengan konteks permainan tradisional kelereng dalam pembelajaran operasi pengurangan yang hendak dicapai. untuk mendesain pembelajaran yang baik, tepat dan efektif, peneliti perlu mempelajari teori-teori yang mendasari serta hasil penelitian yang relevan, disesuaikan dengan kondisi kelas yang akan diteliti. Untuk itu peneliti juga perlu berdiskusi secara intensif dengan dengan guru.

2. Fase pelaksanaan (teaching experiment )

Pada fase ini peneliti melakukan experimen pembelajaran yang sudah di buat pada fase desain pendahuluan. Data penelitian di kumpulkan pada fase pelaksanaan pembelajaran ini, data bisa berupa rekaman video pembelajaran, catatan observsi kelas, hasil kerja siswa, rekaman audio dari interview dengan guru dan siswa dan foto-foto kegiatan belajar. Pengumpulan data tersebut digunakan untuk menjawab rumusan masalah.

3. Analisis restrokpektif (restrospektif analysis)

Pada fase ini peneliti membandingkan HLB dengan proses belajar siswa yang sesungguhnya. Analisis restropektif dilakukan berdasarkan data yang diperoleh yang telah diurutkan sesuai urutan kegiatan pembelajaran. Fokus analisa dibatasi pada pertanyaan penelitian yang diajukan, sehingga dapat menjawab pertanyaan penelitian tersebut.

5. Hasil Penelitian dan Pembahasan

5.1 Hasil Penelitian

Setelah melakukan kajian literatur dan membuat desain pembelajaran peneliti melakukan kegiatan penelitian yang dilaksanakan pada bulan Juni 2014. Subjek

Gambar 1. Fase Penelitian Desain 1. Desain pendahuluan (preliminary design)

Pada tahapan ini segala kebutuhan saat ingin melakukan penelitian dipersiapkan. Adapun kebutuhan tersebut meliputi melakukan kajian teori, membuat desain pembelajaran atau rangkaian aktivitas pembelajaran matematika dengan konteks permainan tradisional kelereng dalam pembelajaran operasi pengurangan yang hendak dicapai. untuk mendesain pembelajaran yang baik, tepat dan efektif, peneliti perlu mempelajari teori-teori yang mendasari serta hasil penelitian yang relevan, disesuaikan dengan kondisi kelas yang akan diteliti. Untuk itu peneliti juga perlu berdiskusi secara intensif dengan dengan guru.

2. Fase pelaksanaan (teaching experiment )

Pada fase ini peneliti melakukan experimen pembelajaran yang sudah di buat pada fase desain pendahuluan. Data penelitian di kumpulkan pada fase pelaksanaan pembelajaran ini, data bisa berupa rekaman video pembelajaran, catatan observsi kelas, hasil kerja siswa, rekaman audio dari interview dengan guru dan siswa dan foto-foto kegiatan belajar. Pengumpulan data tersebut digunakan untuk menjawab rumusan masalah.

3. Analisis restrokpektif (restrospektif analysis)

Pada fase ini peneliti membandingkan HLB dengan proses belajar siswa yang sesungguhnya. Analisis restropektif dilakukan berdasarkan data yang diperoleh yang telah diurutkan sesuai urutan kegiatan pembelajaran. Fokus analisa dibatasi pada pertanyaan penelitian yang diajukan, sehingga dapat menjawab pertanyaan penelitian tersebut.

5. Hasil Penelitian dan Pembahasan

5.1 Hasil Penelitian

Setelah melakukan kajian literatur dan membuat desain pembelajaran peneliti melakukan kegiatan penelitian yang dilaksanakan pada bulan Juni 2014. Subjek

Gambar 1. Fase Penelitian Desain 1. Desain pendahuluan (preliminary design)

Pada tahapan ini segala kebutuhan saat ingin melakukan penelitian dipersiapkan. Adapun kebutuhan tersebut meliputi melakukan kajian teori, membuat desain pembelajaran atau rangkaian aktivitas pembelajaran matematika dengan konteks permainan tradisional kelereng dalam pembelajaran operasi pengurangan yang hendak dicapai. untuk mendesain pembelajaran yang baik, tepat dan efektif, peneliti perlu mempelajari teori-teori yang mendasari serta hasil penelitian yang relevan, disesuaikan dengan kondisi kelas yang akan diteliti. Untuk itu peneliti juga perlu berdiskusi secara intensif dengan dengan guru.

2. Fase pelaksanaan (teaching experiment )

Pada fase ini peneliti melakukan experimen pembelajaran yang sudah di buat pada fase desain pendahuluan. Data penelitian di kumpulkan pada fase pelaksanaan pembelajaran ini, data bisa berupa rekaman video pembelajaran, catatan observsi kelas, hasil kerja siswa, rekaman audio dari interview dengan guru dan siswa dan foto-foto kegiatan belajar. Pengumpulan data tersebut digunakan untuk menjawab rumusan masalah.

3. Analisis restrokpektif (restrospektif analysis)

Pada fase ini peneliti membandingkan HLB dengan proses belajar siswa yang sesungguhnya. Analisis restropektif dilakukan berdasarkan data yang diperoleh yang telah diurutkan sesuai urutan kegiatan pembelajaran. Fokus analisa dibatasi pada pertanyaan penelitian yang diajukan, sehingga dapat menjawab pertanyaan penelitian tersebut.

5. Hasil Penelitian dan Pembahasan

5.1 Hasil Penelitian

Setelah melakukan kajian literatur dan membuat desain pembelajaran peneliti melakukan kegiatan penelitian yang dilaksanakan pada bulan Juni 2014. Subjek

(5)

Prosiding Konferensi Nasional Matematika XVII - 2014 11 - 14 Juni 2014, ITS, Surabaya penelitian yaitu siswa-siswi kelas I SD Muhammadiyah Bojong Nangka Tangerang, yang berjumlah 12 siswa. Kegiatan awal yang dilakukan peneliti yaitu melakukan observasi terlebih dahulu terhadap kelas yang akan diteliti guna mengetahui kemampuan awal siswa dan untuk mengetahui budaya kelas yang sudah terbangun, kegiatan selanjutnya yang dilakukan peneliti yaitu memperkenalkan diri dan mengulang kembali materi tentang operasi pengurangan untuk mengetahui sejauh mana tingkat kepemahaman siswa tentang materi pengurangan, seperti tampak pada Gambar 2 .

Selanjutnya, peneliti mengajak siswa untuk bermain kelereng di lapangan guna membantu siswa dalam menemukan konsep pengurangan. Sebelum memulai permainan peneliti menjelaskan tentang aturan permainan. Cara bermain permainan kelereng ini yaitu pertama peneliti menggambar lingkaran kecil atau bangun datar lainnya yang disenangi siswa di atas tanah, selanjutnya semua pemain menaruh sebiji kelereng atau lebih di dalam lingkaran tetapi dengan jumlah yang sama dari masing-masing siswa, lalu semua anak berdiri kira-kira 3 meter dari lingkaran di belakang sebuah garis. Secara bergantian, masing-masing siswa melemparkan sebutir kelereng yang mereka pegang lainnya kearah lingkaran atau bangun datar dengan tujuan mengeluarkan kelereng yang ada di dalam lingkaran atau bangun datar tersebut. Anak yang berhasil mengeluarkan kelereng saat melempar atau anak yang melempar paling jauh boleh bermain lebih dulu. Dia harus memakai kelereng yang ada di luar lingkaran sebagai “penyerang” untuk menjentik kelereng yang ada di dalam lingkaran supaya kelereng tersebut keluar, kalau berhasil mengeluarkannya maka ia boleh menyimpan setiap kelereng yang kena jentik, seperti tampak pada Gambar 3.

Gambar 2. Siswa sedang memperhatikan.

(6)

Selama permainan berlangsung ketika siswa berhasil menjentik kelereng keluar dari dalam lingkaran peneliti selalu melakukan tanya jawab kepada siswa “Berapa sisa kelereng yang ada dalam lingkaran setelah kelereng berhasil dijentik keluar? seperti tampak pada Gambar 4. Tanya jawab tersebut berlangsung hingga permainan selesai dengan tujuan membantu siswa dalam menemukan konsep pengurangan.

Setelah melakukan kegiatan di lapangan, dilanjutkan dengan kegiatan di kelas. Kegiatan di kelas di awali dengan pemberian pertanyaan oleh peneliti kepada siswa tentang pengurangan yang di tulis di papan tulis. Setelah itu peneliti memberikan LKS sebanyak 12 lembar yang berisikan 5 soal cerita tentang aplikasi pengurangan. Pemberian LKS ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang operasi pengurangan setelah dibantu dengan permaianan tradisional kelereng. Terlihat di Gambar 5 siswa sedang mengerjakan LKS.

5.2 Pembahasan

Hasil yang di dapat saat simulasi permainan berlangsung ketika siswa berhasil menjentik 1 kelereng keluar dari segitiga yang semula disusun, maka terjadi dialog antara peneliti dan siswa. Dari setiap dialog yang terjadi terlihat bahwa siswa mulai memahami pengurangan sedikit demi sedikit dengan bantuan peneliti hingga akhirnya mereka bisa memahami konsep pengurangan, dari sini terlihat

Gambar 4. Tanya jawab peneliti dan siswa.

Gambar 5. Siswa mengerjakan LKS

Selama permainan berlangsung ketika siswa berhasil menjentik kelereng keluar dari dalam lingkaran peneliti selalu melakukan tanya jawab kepada siswa “Berapa sisa kelereng yang ada dalam lingkaran setelah kelereng berhasil dijentik keluar? seperti tampak pada Gambar 4. Tanya jawab tersebut berlangsung hingga permainan selesai dengan tujuan membantu siswa dalam menemukan konsep pengurangan.

Setelah melakukan kegiatan di lapangan, dilanjutkan dengan kegiatan di kelas. Kegiatan di kelas di awali dengan pemberian pertanyaan oleh peneliti kepada siswa tentang pengurangan yang di tulis di papan tulis. Setelah itu peneliti memberikan LKS sebanyak 12 lembar yang berisikan 5 soal cerita tentang aplikasi pengurangan. Pemberian LKS ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang operasi pengurangan setelah dibantu dengan permaianan tradisional kelereng. Terlihat di Gambar 5 siswa sedang mengerjakan LKS.

5.2 Pembahasan

Hasil yang di dapat saat simulasi permainan berlangsung ketika siswa berhasil menjentik 1 kelereng keluar dari segitiga yang semula disusun, maka terjadi dialog antara peneliti dan siswa. Dari setiap dialog yang terjadi terlihat bahwa siswa mulai memahami pengurangan sedikit demi sedikit dengan bantuan peneliti hingga akhirnya mereka bisa memahami konsep pengurangan, dari sini terlihat

Gambar 4. Tanya jawab peneliti dan siswa.

Gambar 5. Siswa mengerjakan LKS

Selama permainan berlangsung ketika siswa berhasil menjentik kelereng keluar dari dalam lingkaran peneliti selalu melakukan tanya jawab kepada siswa “Berapa sisa kelereng yang ada dalam lingkaran setelah kelereng berhasil dijentik keluar? seperti tampak pada Gambar 4. Tanya jawab tersebut berlangsung hingga permainan selesai dengan tujuan membantu siswa dalam menemukan konsep pengurangan.

Setelah melakukan kegiatan di lapangan, dilanjutkan dengan kegiatan di kelas. Kegiatan di kelas di awali dengan pemberian pertanyaan oleh peneliti kepada siswa tentang pengurangan yang di tulis di papan tulis. Setelah itu peneliti memberikan LKS sebanyak 12 lembar yang berisikan 5 soal cerita tentang aplikasi pengurangan. Pemberian LKS ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang operasi pengurangan setelah dibantu dengan permaianan tradisional kelereng. Terlihat di Gambar 5 siswa sedang mengerjakan LKS.

5.2 Pembahasan

Hasil yang di dapat saat simulasi permainan berlangsung ketika siswa berhasil menjentik 1 kelereng keluar dari segitiga yang semula disusun, maka terjadi dialog antara peneliti dan siswa. Dari setiap dialog yang terjadi terlihat bahwa siswa mulai memahami pengurangan sedikit demi sedikit dengan bantuan peneliti hingga akhirnya mereka bisa memahami konsep pengurangan, dari sini terlihat

Gambar 4. Tanya jawab peneliti dan siswa.

(7)

Prosiding Konferensi Nasional Matematika XVII - 2014 11 - 14 Juni 2014, ITS, Surabaya bahwa permainan tradisional kelereng bisa membantu siswa untuk memahami konsep pengurangan.

Kemudian, ketika permainan berlangsung juga dapat dilihat antusias siswa begitu tinggi ketika mengikuti pembelajaran dengan menggunakan permainan dibandingkan dengan pembelajaran biasa saat dikelas. Dapat disimpulkan bahwa siswa lebih berminat untuk mengikuti pembelajaran yang disertai permainan dibandingkan dengan pembelajaran monoton di kelas

Selanjutnya setelah siswa mendapatkan LKS dalam bentuk soal cerita dan mengerjakannya, siswa mampu mengubah soal tersebut kedalam bentuk matematika dan menyelesaikan soal pengurangan tersebut dengan benar seperti tampak pada Gambar 6.

6. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa penggunaan konteks permainan tradisional kelereng dalam pendesainan pembelajaran operasi pengurangan memiliki peranan penting dalam membantu meningkatkan kepemahaman siswa dalam memahami konsep operasi pengurangan dan juga bisa membantu untuk meningkatkan minat belajar siswa. Selain itu permainan tradisional kelereng juga sangat berpengaruh terhadap pembelajaran operasi pengurangan, karena dengan metode ini siswa bisa belajar tentang materi pengurangan secara konkrit dan bisa menerapkan pembelajaran matematika langsung ke dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini berpotensi tidak hanya untuk mengembangkan ranah pengetahuan dan keterampilan proses, tetapi juga untuk memberikan pengalaman secara langsung bagi siswa untuk memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan sehari-hari melalui interaksi

Gambar 6. Lembar soal dan jawaban siswa

Prosiding Konferensi Nasional Matematika XVII - 2014 11 - 14 Juni 2014, ITS, Surabaya bahwa permainan tradisional kelereng bisa membantu siswa untuk memahami konsep pengurangan.

Kemudian, ketika permainan berlangsung juga dapat dilihat antusias siswa begitu tinggi ketika mengikuti pembelajaran dengan menggunakan permainan dibandingkan dengan pembelajaran biasa saat dikelas. Dapat disimpulkan bahwa siswa lebih berminat untuk mengikuti pembelajaran yang disertai permainan dibandingkan dengan pembelajaran monoton di kelas

Selanjutnya setelah siswa mendapatkan LKS dalam bentuk soal cerita dan mengerjakannya, siswa mampu mengubah soal tersebut kedalam bentuk matematika dan menyelesaikan soal pengurangan tersebut dengan benar seperti tampak pada Gambar 6.

6. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa penggunaan konteks permainan tradisional kelereng dalam pendesainan pembelajaran operasi pengurangan memiliki peranan penting dalam membantu meningkatkan kepemahaman siswa dalam memahami konsep operasi pengurangan dan juga bisa membantu untuk meningkatkan minat belajar siswa. Selain itu permainan tradisional kelereng juga sangat berpengaruh terhadap pembelajaran operasi pengurangan, karena dengan metode ini siswa bisa belajar tentang materi pengurangan secara konkrit dan bisa menerapkan pembelajaran matematika langsung ke dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini berpotensi tidak hanya untuk mengembangkan ranah pengetahuan dan keterampilan proses, tetapi juga untuk memberikan pengalaman secara langsung bagi siswa untuk memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan sehari-hari melalui interaksi

Gambar 6. Lembar soal dan jawaban siswa

Prosiding Konferensi Nasional Matematika XVII - 2014 11 - 14 Juni 2014, ITS, Surabaya bahwa permainan tradisional kelereng bisa membantu siswa untuk memahami konsep pengurangan.

Kemudian, ketika permainan berlangsung juga dapat dilihat antusias siswa begitu tinggi ketika mengikuti pembelajaran dengan menggunakan permainan dibandingkan dengan pembelajaran biasa saat dikelas. Dapat disimpulkan bahwa siswa lebih berminat untuk mengikuti pembelajaran yang disertai permainan dibandingkan dengan pembelajaran monoton di kelas

Selanjutnya setelah siswa mendapatkan LKS dalam bentuk soal cerita dan mengerjakannya, siswa mampu mengubah soal tersebut kedalam bentuk matematika dan menyelesaikan soal pengurangan tersebut dengan benar seperti tampak pada Gambar 6.

6. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa penggunaan konteks permainan tradisional kelereng dalam pendesainan pembelajaran operasi pengurangan memiliki peranan penting dalam membantu meningkatkan kepemahaman siswa dalam memahami konsep operasi pengurangan dan juga bisa membantu untuk meningkatkan minat belajar siswa. Selain itu permainan tradisional kelereng juga sangat berpengaruh terhadap pembelajaran operasi pengurangan, karena dengan metode ini siswa bisa belajar tentang materi pengurangan secara konkrit dan bisa menerapkan pembelajaran matematika langsung ke dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini berpotensi tidak hanya untuk mengembangkan ranah pengetahuan dan keterampilan proses, tetapi juga untuk memberikan pengalaman secara langsung bagi siswa untuk memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan sehari-hari melalui interaksi

(8)

dengan sesama teman, sehingga juga dapat mengembangkan keterampilan sosial (social skills). Namun, adapun kelemahan dalam penggunaan metode ini yaitu harus dilakukan pada halaman bertanah rata tidak bisa dilakukan dilantai yang licin, di tanah berbatu ataupun berumput. Pada permainan tradisional kelereng ini juga bisa digunakan untuk pembelajaran materi penjumlahan dan pengenalan pola bilangan tapi mengingat ini merupakan penelitian pertama yang dilakukan peneliti jadi perlu metode-metode lain untuk mengembangkan pembelajaran selanjutnya.

Adapun saran yang dapat diberikan oleh peneliti yaitu ketika melakukan percobaan desain yang menggunakan lapangan terbuka sebaiknya dilakukan pada pagi hari, ini disesuaikan dengan siswa yang akan diteliti sehingga pada saat penelitian tidak ada siswa yang sakit karena berjemur.

7. Ucapan Terimakasih

Peneliti mengucapkan terimakasih kepada Bapak Rully Charitas Indra Permana atas segala bimbingannya selama penelitian berlangsung. Selain itu, peneliti juga mengucapkan terimakasih kepada dosen-dosen dan tutor STKIP Surya yang telah mendukung kelangsungan selama proses penelitian serta kepada SD Muhammadiyah Bojong Nangka dan siswa-siswa kelas I SD Muhammadiyah Bojong Nangka. Terakhir, tak lupa peneliti mengucapkan terimakasih kepada panitia KNM XVII yang telah bersedia mempublikasikan hasil penelitian ini.

Daftar Pustaka

[1] Crain, W. (2007). Teori perkembangan: konsep dan aplikasi. Yogjakarta: Pustaka Pelajar. [2] Soetjiningsih. (1998). Tumbuh Kembang Anak. Universias erlangga. Surabaya.

[3] Warmansjah, dkk. (1982). Permainan Rakyat Daerah DKI Jakarta, Jakarta: Departemen Pendidikan & Kebudayaan Sejarah & Nilai Tradisi.

[4] Hadisukatno, S. (1970). Permainan kanak-kanak sebagai alat Pendidikan. Buku Peringatan Taman Siswa 30 tahun 1922-1952. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. [5] Pontjopoetro, S. Dkk (2002). Permainan Anak, Tradisional dan Aktivitas Ritmik. (Modul).

Jakarta. Pusat Penerbitan UT.

[6] Gravemeijer, K., Eerde, D.V. (2009). Design Research as a Means for Building a

Knowledge Base for Teaching in Mathematics Education, The Elementary School

Journal Volume 109 Number 5.

[7] Akker, Jan van den, Gravemeijer, Koeno, McKenney, Susan, and Nieveen. (2006).

Education Design Research. London: Routledge Taylor and Francis Group.

[8] Bakker, A. (2004). Design Research in Statistics Education. On Symbolizing and

Computer Tools. Amersfoort: Wilco Press

[9] Cobb, P., Confrey, J., diSessa, A., Lehrer, R. ( 2003). ‘Design Experiments in Educational Research’, Educational Researcher, Vol.32. No.1, pp.9 – 13

[10] Gravemeijer, K., Cobb, P. (2006). ‘Design Research from a Learning Design

Gambar

Gambar 1. Fase Penelitian Desain
Gambar 2. Siswa sedang memperhatikan.
Gambar 5. Siswa mengerjakan LKS

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian hipotesis kedua mengatakan bahwa secara parsial, variabel gaya kepemimpinan dan variabel lingkungan kerja berpengaruh secara signifikan terhadap variabel

PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) MEDAN DAFTAR KEBUNI. Kantor Direksi KANDIR

Kesimpulan penelitian ini para pelaku UMKM merupakan generasi X kesulitan untuk belajar menyesuaikan diri dengan teknologi khususnya pada masa pandemi Covid-19

Dari Permasalahan yang sudah diungkapkan di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimana Strategi Hubungan Media PT Kereta Api Indonesia

Child Welfare Information Gateway (dalam Margaretha, 2014), menjelaskan cara-cara pelaku untuk membuat anak tetap menjadi korbannya, yaitu pelaku memberikan perhatian pada anak

Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali,

Tekstur pada sabun kopi sangat dipengaruhi oleh bahan dasar yang digunakan namun pada penelitian kali ini perlakuan juga dapat berpengaruh pada tekstur sabun kopi,

No Bagian Rumah LUAS PJG SISI TEBAL TOTAL 1 Sisi X1 BOWPLANK 1