ANALISA PENYEBAB LOW SPEED ALL ATTACHMENT
PADA UNIT EXCAVATOR PC 400LC - 8 HEX 401 DI
PT. HASNUR RIUNG SINERGI SITE RANTAU
TUGAS AKHIR
MUHAMMAD UTAMA REZZA PAHLEVI
NIM : 140309236491
PROGRAM STUDI ALAT BERAT
JURUSAN TEKNIK MESIN
POLITEKNIK NEGERI BALIKPAPAN
2017
ANALISA PENYEBAB LOW SPEED ALL ATTACHMENT
PADA UNIT EXCAVATOR PC 400LC - 8 HEX 401 DI
PT. HASNUR RIUNG SINERGI SITE RANTAU
TUGAS AKHIR
KARYA TULIS INI DIAJUKAN SEBAGAI SALAH SATU SYARAT UNTUK MEMPEROLEH GELAR AHLI MADYA DARI
POLITEKNIK NEGERI BALIKPAPAN
MUHAMMAD UTAMA REZZA PAHLEVI
NIM : 140309236491
PROGRAM STUDI ALAT BERAT
JURUSAN TEKNIK MESIN
POLITEKNIK NEGERI BALIKPAPAN
Karya ilmiah ini kupersembahkan kepada
Ayahanda dan Ibunda tercinta
Rahmat Hariansyah dan Utari Mahrita
Adikku tersayang
Muhammad Dicky Himawan Yahya
Jajaran seluruh dosen dan staff Politeknik Negeri Balikpapan
Seluruh dosen dan staff TMAB yang terhormat
Kepada dosen pembimbing tugas akhir yang terhormat
Bapak Wahyu Anhar, S.T., M.Eng selaku pembimbing 1
Bapak Hadi Hermansyah, S.Si., M.Si. selaku pembimbing 2
Kepada SDH, Supervisor, mekanik PT United Tractors site Rantau
Rekan mahasiswa Politeknik Negeri Balikpapan angkatan 2014
Rekan – rekan mahasiswa jurusan TMAB angkatan 2014
Serta rekan – rekan mahasiswa 3 TM 1
ABSTRACT
Hydraulic system is a power transfer system by using a liquid or fluid as its intermediary. In a hydraulic system, there is a change of hydraulic power into mechanical power. Before it is converted into mechanical energy, great flow, flow direction and magnitude of the pressure in the hydraulic system must be set in order to obtain a controlled mechanical force direction of movement, speed of movement or energy amount. In the hydraulic system there are some main components, such as Hydraulic Tank, Hydraulic Pump, Control Valve, PPC, Lever Control, and Actuator. Currently there are two types of hydraulic system that was developed for use in heavy equipment, namely the Open Center Load Sensing System (OLSS) and Close Center Load Sensing System (CLSS). In the Excavator PC 400LC - 8 units use the Close Center Load Sensing System (CLSS) hydraulic system.
When the researcher did on the job training (OJT) at PT United Tractors site Rantau, the researcher found troubleshooting to the unit Excavator PC 400LC-8 HEX 401 at PT. Hasnur Riung Sinergi site Rantau that caused the unit breakdown or cannot operate. The cause of troubleshooting to the unit Excavator PC 400LC-8 HEX 401 after doing the checking was the low Pressure Pump Control in Self Redusing Pressure Reducing Valve Self due Spool Valve jammed opened (clogging / congestion) and Spool scratched. Because the spool got jammed open then it caused the unit got trouble Low Speed All Attachment.
The technique of collecting the data used field observation documentation methods such as photos and soft copydata Excavator PC 400LC-8 HEX 401 unit in order to completed the researcher’s final project.
Keywords :Hydraulic Systems, CLSS, Control Valve, Self Pressure Redusing Valve, Low Speed All Attachment, Spool Self Pressure Reducing Valve Jammed Open, Spool Self Pressure Reducing Valve scratch.
ABSTRAK
Sistem hidrolik adalah suatu sistem pemindah tenaga dengan menggunakan zat
cair atau fluida sebagai perantaranya. Dalam sebuah sistem hidrolik, terjadi perubahan tenaga hidrolik menjadi tenaga mekanis. Sebelum diubah menjadi tenaga mekanis, besar aliran, arah aliran dan besarnya tekanan di dalam sistem hidrolik harus diatur agar didapatkan tenaga mekanis yang terkontrol arah gerakannya, kecepatan gerakannya ataupun besarnya tenaganya. Pada sistem hidrolik terdapat komponen-komponen utama yaitu Hydraulic Tank, Hydraulic
Pump, Control Valve, PPC, Control Lever, dan Actuator. Saat ini terdapat 2 jenis
sistem hidrolik yang di kembangkan untuk dipakai di alat berat yaitu Open Center
Load Sensing System (OLSS) dan Close Center Load Sensing System (CLSS).
Pada unit Excavator PC 400LC–8 menggunakan sistem hidrolik Close Center
Load Sensing System (CLSS).
Saat penulis melakukan on the job training (OJT) di PT United Tractors site Rantau, penulis menemukan kerusakan pada unit Excavator PC 400LC–8 HEX
401 di PT. Hasnur Riung Sinergi site Rantau yang menyebabkan unit tersebut
mengalami breakdown atau tidak dapat beroperasi. Penyebab terjadinya kerusakan pada unit Excavator PC 400LC–8 HEX 401 setelah di lakukan pengecekan yaitu
Control Pump Pressure terlalu rendah pada Self Pressure Redusing Valve
dikarenakan Spool Self Reducing Valve jammed open (menyumbat/kemacetan) dan spool mengalami scratch (tergores). Karena spool mengalami jammed open maka menyebabkan unit tersebut mengalami trouble Low Speed All Attachment. Dalam upaya pengumpulan data-data penulis melakukan metode observasi lapangan dan dokumentasi seperti foto-foto dan data-data soft copy unit
Excavator PC 400LC–8 HEX 401 untuk melengkapi penyusunan tugas akhir sang
penulis.
Kata Kunci : Sistem Hidrolik, CLSS, Control Valve, Self Pressure Redusing Valve,
Low Speed All Attachment, Spool Self Pressure Reducing Valve Jammed Open, Spool Self Pressure Reducing Valve Scartch.
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT,atas segala rahmat dan karunia-nya yang telah dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul “ANALISA PENYEBAB LOW SPEED ALL
ATTACHMENT PADA UNIT EXCAVATOR PC 400LC – 8 HEX 401 DI
PT. HASNUR RIUNG SINERGI SITE RANTAU ” sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Laporan tugas akhir ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan kelulusan dari Politeknik Negeri Balikpapan sebagai Diploma III. Di dalam penyusunan laporan tugas akhir banyak mendapat bantuan baik secara langsung dari berbagai pihak, dan bantuan tersebut mempunyai arti yang sangat besar bagi penyelesaian laporan tugas akhir ini. Dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas bimbingan, serta bantuan yang di berikan dari berbagai pihak, antara lain kepada :
1. Bapak Ramli, SE., M.M, sebagai Direktur Politeknik Negeri Balikpapan. 2. Bapak Zulkifli, S.T., M.T, sebagai Ketua Jurusan Teknik Mesin sekaligus
wali dosen yang telah memberikam semangat dan dorongan dalam penyelesaian tugas akhir ini
3. Bapak Wahyu Anhar, S.T., M.Eng, sebagai dosen pembimbing I yang telah membimbing dan memberikan saran, dukungan serta arahan-arahan untuk menyelesaikan tugas akhir ini.
4. Bapak Hadi Hermansyah, S.Si., M.Si, sebagai dosen pembimbing II yang telah membimbing dan memberikan saran, dukungan serta arahan-arahan untuk menyelesaikan tugas akhir ini.
5. Seluruh dosen dan staff Jurusan Teknik Mesin Alat Berat Politeknik Negeri Balikpapan atas ilmu dan motivasi yang telah diberikan.
6. Ayahanda , ibunda dan adik tercinta yang selalu mendoakan, memberikan semangat dan dukungan baik moral maupun material.
7. Service division head, supervisior dan mekanik PT.United Tractors site Rantau yang telah memberikan ilmu selama penulis On the Job Training.
8. Rekan-rekan mahasiswa Politeknik Negeri Balikpapan angkatan 2014 yang telah memberikan semangat dan dukungan hingga tugas akhir ini selesai. 9. Seluruh kawan-kawan angkatan 2014 Jurusan Teknik Mesin yang selalu
mendukung dan memberikan semangat hingga tugas akhir ini selesai.
10. Semua pihak yang penulis tidak dapat sebutkan satu per satu, yang telah memberikan bantuan langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan tugas akhir ini hingga selesai.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa dalam penyususan laporan tugas akhir ini masih banyak sekali terdapat kekurangan. Untuk itu dengan kerendahan hati penyusun mengharapkan adanya saran-saran dan kritik yang bersifat membangun dan memotivasi demi menyempurnakan laporan tugas akhir ini.
Balikpapan, 1 Agustus 2017
Muhammad Utama Rezza Pahlevi NIM : 140309236491
DAFTAR ISI
Halaman
COVER ... i
LEMBAR PERSETUJUAN... ii
SURAT PERNYATAAN... iii
SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... iv
LEMBAR PERSEMBAHAN ... v
ABSTRACT ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 1 1.3 Batasan Masalah... 2 1.4 Tujuan Penelitian ... 2 1.5 Manfaat Penelitian ... 2 1.6 Sistematika Penulisan ... 3
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Uraian Umum Mengenai Unit Komatsu Hydraulic Excavator ... 4
2.1.1 Struktur dan Fungsi System Hydraulic Excavator ... 5
2.1.2 Bagian – Bagian Hydraulic System ... 5
2.2 Hydraulic System ... 5
2.2.1 Sifat – Sifat Fluida ... 5
2.2.2 Hukum Pascal ... 6
2.3 Basic Circuit Hydraulic ... 6
2.4 Komponen System Hydraulic ... 8
2.4.1 Hydraulic Tank... 8
2.4.3 Control Valve ... 9
2.4.4 Actuator ... 10
2.5 Self Pressure Reducing Valve ... 13
2.5.1 Prinsip Kerja Self Pressure Reducing Valve... 14
2.6 Definisi Keausan ... 18
2.6.1 Jenis – Jenis Keausan ... 18
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 21
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 21
3.3 Instrument Penelitian ... 21
3.4 Alat dan Bahan Penelitian ... 22
3.5 Hasil Pengukuran ... 22
3.6 Prosedur Penelitian... 23
3.7 Diagram Alir Penelitian ... 24
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN MASALAH 4.1 Kronologi Permasalahan ... 26
4.2 Analisa Permasalahan ... 26
4.3 8 Step Troubleshooting ... 27
4.3 Analisa dan Pembahasan Masalah ... 35
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 37
5.2 Saran ... 37 DAFATAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Komatsu Hydraulic Excavator PC 400LC – 8 4
Gambar 2.2 Prinsip Dasar dari OLSS 7
Gambar 2.3 Prinsip Dasar dari CLSS 8
Gambar 2.4 Prinsip Kerja Self Pressure Reducing Valve 13
Gambar 2.5 Pengoperasian (Engine Stopped) 14
Gambar 2.6 Pengoperasian (Pressure (A2) Lower Than (PR)) 15
Gambar 2.7 Pengoperasian (Tekanan Beban (P2) Tinggi) 16
Gambar 2.8 Pengoperasian (Ketika Abnormal Pressure) 17
Gambar 2.9 Proses Perpindahan dari Logam secara Adhesi 17
Gambar 2.10 Proses Cutting 17
Gambar 3.1 Diagram Alir Metodologi Penelitian 22
Gambar 4.1 8 Step Troubleshooting 26
Gambar 4.2 Troubleshooting Chart 28
Gambar 4.3 Strainer Oil Hydraulic Terdapat banyak Kotoran 29
Gambar 4.4 Hasil Data Pengukuran Pressure Unit 31
Gambar 4.5 Disassembly Self Pressure Reducing Valve 32
Gambar 4.6 Spool Self Pressure Reducing Valve Terdapat Goresan 32
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Rumus Hukum Pascal 6
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 MCR (Machine Condition Report) Lampiran 2 EMR (Emergency Machine Report) Lampiran 3 TSR (Technical Service Report) Lampiran 4 Hydraulic Circuit Diagram
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Excavator adalah suatu alat dengan perlengkapan backhoe untuk perkerjaan menggali, membuat paret, mengangkat material. Selain itu excavator juga dapat digunakan pada sektor pertambangan. Di unit tersebut terdapat komponen-komponen utama dalam system hydraulic yaitu meliputi
hydraulic tank, hydraulic pump, control valve, dan actuator. Attachment kerja
Excavator terdiri dari arm, boom, dan bucket yang di gerakan oleh tenaga hydraulic.
Apabila unit excavator mengalami kerusakan hal ini akan sangat menghambat produktivitas dan dapat mengalami kerugian bila tidak di lakukan perbaikan dengan cepat. Oleh karena itu unit tersebut harus perlu di lakukan periodical maintenance agar unit tersebut dapat bekerja dengan maksimal sebelum berakhir masa life time unit tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan penulis selama On the Job
Training (OJT), penulis sering menemukan kerusakaan pada unit excavator
terkait dengan system hydraulic. Sehingga saat penulis menemukan kerusakan pada unit Excavator PC 400LC–8 dengan nomor lambung HEX 401 yang mengalami kerusakan terkait dengan system hydraulic yang menyebabkan unit mengalami Low Speed All Attachment membuat penulis tertarik untuk menganalisa penyebab terjadinya kerusakan tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam penulisan rumusan masalah ini, penulis akan membahas terjadinya permasalahan Low Speed All Attachment pada unit Excavator PC 400LC–8
HEX 401 sebagai berikut :
1. Apakah yang menyebabkan terjadinya Low Speed All Attachment pada unit Excavator PC 400LC–8 HEX 401 ?
2. Dampak apakah yang ditimbulkan oleh permasalahan Low Speed All
2
1.3 Batasan Masalah
Mengingat luasnya permasalahan yang terdapat dalam penelitan maka penulis memberikan batasan masalah agar penyajiannya tidak menyimpang terlalu jauh dari tujuan penelitian yang diinginkan.
1. Penulis tidak melakukan analisa data Oil Sample Analysis pada unit tersebut.
2. Penulis tidak melakukan analisa yang lebih detail pada komponen-komponen hydraulic lainnya dan terfokus pada self pressure reducing
valve karena permasalahan awal terjadi pada self pressure reducing valve jammed.
3. Pemeriksaan terkait permasalahan yang terjadi meliputi pengecekan front pump pressure, rear pump pressure, unload valve, main relief valve, self pressure reducing valve.
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu :
1. Mencari penyebab terjadinya Low Speed All Attachment pada unit
Excavator PC 400LC–8 HEX 401.
2. Mengetahui dampak akibat permasalahan Low Speed All Attachment pada unit Excavator PC 400LC–8 HEX 401.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini yaitu :
1. Diharapkan dari penulisan tugas akhir ini dapat menambah ilmu pengetahuan di bidang Heavy Equipment.
2. Menambah informasi serta wawasan bila terjadi permasalahan Low Speed All Attachment pada unit Excavator PC 400LC–8.
3. Memberikan referensi bagi peneliti selanjutnya yang berhubungan dengan analisa penyebab terjadinya Low Speed All Attachment pada unit
1.6 Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pembaca dalam memahami isi dari penulisan tugas akhir ini, maka penulis menyusun tugas akhir ini menjadi 5 (lima) bab. Berikut ini adalah penjelasaan tentang isi dari bab-bab yang ada dalam tugas akhir ini.
BAB I : PENDAHULUAN
Berisikan pendahuluan yang mencakup tentang latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, sistematika penulisan.
BAB II : LANDASAN TEORI
Berisikan tentang teori-teori dasar yang mencakup pada permasalahan yang ada di dalam karya tulis tersebut.
BAB III: METODOLOGI PENELITIAN
Berisikan tentang tanggal dan waktu penelitian, jenis penelitian, metode penelitian, dan lampiran data.
BAB IV: HASIL OBSERVASI PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berisikan tentang data-data observasi dan pengupayaan penanggulangan dalam analisa penyebab terjadinya Low Speed All Attachment pada unit
Excavator PC 400LC–8 HEX 401, hasil foto-foto observasi dan pembahasaan
untuk analisa penyebab terjadinya Low Speed All Attachment pada unit
Excavator PC 400LC–8 HEX 401.
BAB V: PENUTUP
Berisikan tentang kesimpulan dan saran agar tidak terjadi permasalahan yang sama tentang penyebab terjadinya Low Speed All Attachment pada Unit
Excavator PC 400LC–8.
DAFTAR PUSTAKA
Berisi daftar-daftar refrensi yang digunakan oleh penulis dalam menyusun penulisan tugas akhir.
LAMPIRAN
4
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Uraian Umum Mengenai Unit Komatsu Hydraulic Excavator
Komatsu hydraulic excavator merupakan sebuah perangkat alat berat yang memiliki kontruksi yang dapat berputar 360º dengan sistem penggeraknya full hydraulic, sehingga alat ini dapat dengan lincah untuk melakukan pekerjaan penggalian dan pemindahan muatan bahkan ditempat yang sempit. Dikarenakan kontruksinya yang fleksibel membuatnya cocok untuk mengerjakan beberapa jenis bidang pekerjaan, semisal agrikultur,
forestry, mining dan construksi. Untuk mengetahui excavator PC 400LC–8
bisa di lihat pada Gambar 2.1. Berikut adalah beberapa fungsi utama dari
hydraulic excavator :
1. Digging (menggali)
2. Loading (memuat)
3. Lifting (mengangkat material)
4. Scraping (mengikis tebing)
5. Braking (menghancur batu)
6. Gradding (meratakan)
Gambar 2.1 Komatsu Hydraulic Excavator PC 400 LC–8 Sumber : Miniatur Construction World.co.uk
2.1.1 Struktur dan Fungsi System Hydraulic Excavator
Hydraulic excavator terdiri dari 3 system utama yakni engine, electric, hydraulic. Dimana engine system berfungsi sebagai penghasil
torsi utama pada unit hydraulic excavator. Sedangkan electric system berperan sebagai pengatur semua gerakan unit hydraulic excavator melalui controller. Sedangkan hydraulic system berfungsi sebagai penggerakan akhir setelah torsi di salurkan dari engine.
2.1.2 Bagian–Bagian Hydraulic System
Hydraulic system mempunyai tiga komponen utama yaitu main
pump, control valve dan actuator. Main pump berfungsi untuk mengalirkan flow menuju control valve dan actuator. Control valve berfungsi sebagai pembatas pressure pada hydraulic system serta berfungsi untuk membagi aliran dari main pump ke actuator. Sedangkan actuator berfungsi sebagai penggerak akhir.
2.2 Hydraulic System
Hydraulic system ini memiliki peran penting khususnya pada unit alat berat yang dalam pengoperasiannya menggunakan tenaga hydraulic seperti dump truck, bulldozer, excavator, dan lain-lain. Prinsip dasar hydraulic digunakan untuk mengoperasikan implement hydraulic alat berat, seperti steering system, brake system, power train system, work attachment, dan implement lainnya.
Prinsip-prinsip hydraulic berlaku ketika bekerja dengan menggunakan zat cair bertekanan dan mengalir. Untuk itu perlu memahami beberapa hukum yang akan dijelaskan pada pembahasan berikut.
2.2.1 Sifat–Sifat Fluida
Beberapa alasan penggunaan fluida dalam hydraulic system karena sangat multi-guna, efisien, dan sederhana dalam menyalurkan tenaga. Fluida yang digunakan dalam hydraulic system adalah oli karena tidak
6
akan mampat, tidak mudah panas dan beku pada temperature tertentu seperti air, dan mampu melumasi system yang dipergunakan.
Beberapa kelebihan penggunaan fluida dalam hydraulic system, sebagai berikut :
A. Fluida mampu menyesuaikan sesuai dengan bentuk B. Fluida tidak dapat dimampatkan
C. Fluida dapat meneruskan tekanan kesegala arah
2.2.2 Hukum Pascal
Dari sifat-sifat fluida yang sudah digambarkan di atas, akan sesuai dengan hukum Pascal. Bunyi Hukum Pacsal tersebut adalah “Tekanan
yang bekerja pada suatu zat cair pada ruangan tertutup, akan diteruskan ke segala arah dan menekan dengan gaya yang sama pada luas area yang sama”. Artinya, gaya yang bekerja di setiap bagian dari
hydraulic oil system akan meneruskan tekanan yang sama ke segala
arah di dalam system. Untuk mengetahui rumus hukum pascal dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Rumus Hukum Pascal Rumus Hukum PASCAL
P = F/A
Dimana : P = Tekanan (Pa)
F = Gaya (N)
A = Luas penampang (m²)
2.3 Basic Circuit Hydraulic
Dalam sebuah system hydraulic, terjadi perubahan tenaga dari tenaga hidrolik menjadi tenaga mekanis. Sebelum di rubah menjadi tenaga mekanis, besarnya aliran, arah aliran dan besarnya tekanan di dalam system hydraulic harus diatur agar didapatkan tenaga mekanis yang terkontrol arah gerakannya,
kecepatan gerakannya maupun besar tenaganya. Saat ini terdapat 2 jenis
system hydraulic yang di gunakan pada unit alat berat yaitu Open Center Load Sensing System (OLSS) dan Close Center Load Sensing System (CLSS).
A. OPEN CENTER LOAD SENSING SYSTEM
Pada open center load sensing system, jika control valve dalam keadaan netral, maka aliran oli yang di supply oleh pompa langsung dikembalikan ke tangki hidrolik. Pada saat itu, flow-nya maksimum sedangkan pressure-nya nol. Berikut prinsip dasar dari OLSS dapat dilihat pada Gambar 2.2.
Gambar 2.2 Prinsip Dasar dari OLSS Sumber : BMC-Hydraulic System
B. CLOSE CENTER LOAD SENSING SYSTEM
Pada close center load sensing system, jika control valve dalam keadaan netral, maka saluran dari pompa akan tertutup. Sehingga tekanan sistem akan meningkat dan jika sudah mencapai batas yang sudah ditentukan, supply pompa dikurangi atau dihentikan sama sekali untuk menjaga tekanan dalam sistem agar tetap pada tekanan maksimum sistem. Berikut prinsip dasar dari CLSS dapat dilihat pada Gambar 2.3.
8
Gambar 2.3 Prinisp Dasar dari CLSS Sumber : BMC-Hydraulic System
2.4 Komponen System Hydraulic
Pada sistem hidrolik terdapat komponen-komponen utama yaitu Hydraulic
Tank, Hydraulic Pump, Control Valve, dan Actuator.
2.4.1 Hydraulic Tank
Fungsi utama dari hydraulic oil tank adalah untuk menyimpan oli. Akan tetapi oil tank juga mempunyai beberapa fungsi lain. Oil tank harus bisa menyerap panas dan memisahkan udara dari oli.
2.4.2 Hydraulic Pump
Hydraulic Pump berfungsi sebagai pemompa oil hydraulic dari tank hydraulic menuju ke hydraulic system dan bersamaan komponen lain menimbulkan hydraulic pressure (tenaga hidrolik).
Hydraulic Pump diklasifikasikan menjadi dua : a. Non Positive Displacement Pump
Non positive displacement pump memiliki clearance yang besar antara komponen-komponennya. Outlet flow pada non positive displacement pump akan turun jika outlet pressurenya meningkat. Pompa ini biasa digunakan pada system yang bertekanan rendah seperti pada water pump.
Contoh pompa jenis ini adalah pompa centrifugal dan pompa propeller.
b. Positive Displacement Pump
Positive displacement pump memiliki clearance antara komponen-komponennya lebih kecil, sehingga mengurangi kehilangan pressure dan lebih efektif digunakan pada high pressure hydraulic system.
Positive displacement pump diklasifikasikan menjadi tiga jenis :
a. Gear Pump b. Vane Pump c. Piston Pump
2.4.3 Control Valve
Hydraulic pump menghisap oli dari hydraulic tank kemudian mensupply kedalam sistem. Aliran yang dihasilkan hydraulic pump tersebut dinaikkan tekanannya, diatur jumlah alirannya dan diatur arah alirannya untuk mengoperasikan perlengkapan kerja unit. Pengaturan ini dilaksanakan oleh hydraulic control valve (katup pengontrol hidrolik). Berdasarkan fungsinya, hydraulic control valve terbagi menjadi empat jenis, yaitu :
A. Directional Control Valve B. Flow Control Valve C. Additional Valve D. Pressure Control Valve
a. Directional Control Valve
Directional control valve berfungsi untuk mengontrol arah dari gerakan silinder hidrolik atau motor hidrolik dengan merubah arah aliran oli atau memutuskan aliran oli. Directional control valve terbagi menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu
10
series valve circuit, tandem valve circuit dan parallel valve circuit.
b. Flow Control Valve
Flow control valve adalah katup yang berfungsi mengatur jumlah aliran oli yang akan masuk ke actuator. Katup-katup yang termasuk kedalam katup pengontrol jumlah aliran adalah throttle valve, suction valve, flow reducing valve, flow divider valve, demand valve, dan quick drop valve.
c. Additional Valve
Selain ketiga jenis control valve yang sudah disebutkan diatas, pada hydraulic system juga terdapat bermacam-macam jenis valve pelengkap yang terpasang pada unit, diantaranya pilot check valve, orbitrol valve, shuttle valve, PPC valve.
d. Pressure Control Valve
Pressure control valve adalah valve pengatur tekanan di dalam system dengan mengembalikan semua atau sebagian aliran ke tank jika tekanan dalam sirkuit telah mencapai setting pressure guna menjaga ataupun mengatur tekanan dalam system.
Pressure control valve terbagi menjadi 3 (tiga) tipe, yaitu tipe poppet, tipe piston dan tipe pilot.
2.4.4 Actuator
Actuator berfungsi untuk menggerakkan perlengkapan kerja (attachment). Dimana prinsip kerja dari actuator adalah merubah energi kinetis menjadi energi mekanik baik dalam bentuk reciprocating (naik turun) maupun rotary (putaran).
a. Hydraulic Cylinder
Berfungsi untuk merubah energi kinetis menjadi energi mekanik dengan pergerakan naik turun (reciprocating) yang dimanfaatkan untuk menggerakan perlengkapan kerja (attachment). Hydraulic cylinder terbagi menjadi dua jenis, yaitu single acting dan double acting.
1. Single Acting
Pada tipe ini cilinder hidrolik bergerak naik karena tekanan oli dan bergerak turun karena berat dari beban itu sendiri (gaya gravitasi). Contoh pemakaian single acting ini adalah Forklift.
2. Double Acting
Pada tipe ini pergerakan naik turun dari cilinder hidrolik berdasarkan tekanan oli. Contoh pemakaian double acting ini adalah pada unit-unit alat berat seperti bulldozer, motor grader dan wheel loader.
b. Hydraulic Motor
Hydraulic motor adalah bentuk lain actuator. Kalu cylinder mengahasilkan gerakan bolak-balik, maka hydraulic motor menghasilkan putaran (rpm). Bekerja hydraulic motor berlawanan dengan pompa.
Pompa : merubah tenaga mekanis (putar) menjadi tenaga hidrolis.
Motor : merubah tenaga hidrolis menjadi tenaga mekanis (putar).
Pompa dapat juga dipakai sebagai motor, tetapi tidak boleh digunakan tampa perubahan semua factor yang berhubungan dengan motor. Kalau hal ini dilakukan maka akan terjadi keausan yang parah pada shaft dan bearing.
12
Besarnya kecepatan dan torque output shaft motor bergantung pada displacement motor, yaitu volume output setiap putarannya. Semakin besar volume output putarannya torque outputnya semakin besar pula. Seperti halnya pompa. Motor di rancang dalam dua jenis displacement (pemindahan oli), yaitu :
1. Field Displacement
Motor constant, sedangkan kecepatan dapat diubah-ubah dengan variasikan aliran masuknya (input flow). Jadi pompa ini dipakai terutama menghasilkan putaran.
2. Variable Displacment
Motor jenis ini baik putaran maupun torquenya dapat diubah-ubah (bervariasi). Aliran input (input flow) dan tekanannya bisa constan saja, sedangkan kecepatan dan torquenya dapat diubah-ubah dengan menggerakan mekanisme yang akan merubah displacement motornya.
Berdasarkan strukturnya, hydraulic motor dibedakan menjadi empat jenis :
a. Gear Motor b. Vane Motor c. Piston Motor d. Orbit Motor
2.5 Self Pressure Reducing Valve
Self pressure reducing valve berfungsi untuk mengurangi tekanan
discharge dari main pump dan meneruskannya sebagai tekanan pengontrol untuk solenoid valve, EPC valve dan lainnya. Standart output pressure pada
self pressure reducing valve adalah 29 – 35 kg/cm² (2.84 – 3.43 MPa).
Berikut prinsip kerja self pressure reducing valve dapat dilihat pada Gambar 2.4.
Gambar 2.4 Prinsip Kerja Self Pressure Reducing Valve Sumber : PC400LC-8R_SHOP MANUAL_SEN04239-00
Keterangan :
1. Pressure Valve
2. Spring Pressure Valve 3. Spring Pilot/Poppet 4. Pilot/Poppet
5. Spring Pressure Reducing Valve 6. Spool Reducing Valve
14
2.5.1 Prinsip Kerja Self Pressure Reducing Valve
Self pressure reducing valve merupakan pressure control
valve normally open. Yang mana valve ini pada kondisi normal akan tetap membuka jalur oil pada system dan akan menutup pada saat tekanan dalam system meningkat melebihi set pressure yang telah ditentukan.
2.5.2 Ketika Engine Stopped
Gambar 2.5 Pengoperasian (Engine Stopped) Sumber : PC400LC-8R_SHOP MANUAL_SEN04239-00
Pada Gambar 2.5 saat engine berhenti, poppet (4) tertekan oleh spring (3) sehingga port (PR) tidak terhubung dengan port (TS). Dan spool (6) tertekan oleh spring (5) ke kiri sehingga port (P2) terhubung dengan port (TS) dan tidak ada tekanan yang tersimpan di dalam self pressure reducing valve. Valve (1) tertekan oleh spring (2) ke kiri sehingga jalur dari port (P2) ke port (A2) tertutup.
2.5.3 Saat Posisi Netral Ketika Tekanan Beban (P2) Rendah
Pada Gambar 2.6 saat load pressure (A2) lebih rendah dari output pressure self pressure reducing valve, valve (1) menutup jalur port (P2) dan (A2) karena spring (2) dan tertekan pressure (PR) (0 kg/cm²). setelah pressure (P2) sama dengan spring (2) valve (1) mulai membuka untuk menjaga tekanan (P2) tetap konstan sampai port (PR). Ketika pressure (PR) meningkat diatas aet pressure, aliran oli akan masuk ke orifice (a) pada spool (6) dan oli mendorong poppet (4) untuk di drain (TS).
Gambar 2.6 Pengoperasian (Pressure (A2) Lower Than (PR)) Sumber : PC400LC-8R_SHOP MANUAL_SEN04239-00
Terjadi perbedaan pressure sebelum dan sesudah orifice (a) pada spool (6) sehingga membuat spool (6) bergerak dan menutup jalur dari port (P2) ke port (PR). Dengan begini pressure (P2) direduksi saat poppet terbuka dan menyesuaikan tekanan yang konstan pada port (PR).
16
2.5.4 Ketika Tekanan Beban (P2) Tinggi
Pada Gambar 2.7 saat digunakan digging atau semacamnya tekanan beban (A2) meningkat dan discharge dari pompa meningkat sehingga mampu mengalahkan spring (2) dan membuka valve (1) sampai penuh. Hasil dari peningkatan pressure antara port (P2) dan port (A2) adalah berkurangnya nilai hambatannya sehingga mengurangi kehilangan horsepower dari engine. Pada saat pressure port (PR) meningkat diatas set pressure aliran oli akan masuk ke orifice pada spool (6) dan membuka poopet sehingga kelebihan pressure akan di drain ke tank (TS).
Gambar 2.7 Pengoperasian (Tekanan Beban (P2) Tinggi) Sumber : PC400LC-8R_SHOP MANUAL_SEN04239-00
Terjadi perbedaan pressure sebelum dan sesudah orifice (a) pada spool (6) sehingga membuat spool (6) bergerak dan menutup jalur dari port (P2) ke port (PR). Dengan begini pressure (P2) direduksi saat poppet terbuka dan menyesuaikan tekanan yang konstan pada port (PR).
2.5.5 Saat Terjadi Tekanan Tinggi yang Abnormal
Gambar 2.8 Pengoperasian (Ketika Abnormal Pressure) Sumber : PC400LC-8R_SHOP MANUAL_SEN04239-00
Pada Gambar 2.8 ketika pressure (PR) dari self pressure
reducing valve menjadi tinggi secara abnormal, maka abnormal
pressure menuju ke safety valve (ball) (7) dan menekan spring (8) untuk membuka dan mengalirkan oli dari port (PR) menuju ke tank (TS). Sehingga menurunkan tekanan di port (PR) untuk melindungi PPC valve, solenoid valve dan komponen lainnya dari abnormal pressure.
18
2.6 Definisi Keausan
Definisi paling umum dari keausan yang telah dikenal sekitar 50 tahun lebih yaitu hilangnya bahan dari suatu permukaan atau perpindahan bahan dari permukaannya ke bagian yang lain atau bergeraknya bahan pada suatu permukaan. Definisi lain tentang keausan yaitu sebagai hilangnya bagian dari permukaan yang saling berinteraksi yang terjadi sebagai hasil gerak relatif pada permukaan Keausan yang terjadi pada suatu material disebabkan oleh adanya beberapa mekanisme yang berbeda dan terbentuk oleh beberapa parameter yang bervariasi meliputi bahan, lingkungan, kondisi operasi, dan geometri permukaan benda yang terjadi keausan.
2.6.1 Jenis-jenis Keausan a. Adhesive Wear
Keausan adhesif adalah salah satu jenis keausan yang disebabkan oleh terikat dan berpindahnya partikel dari suatu permukaan material yang lemah ke material yang lebih keras.
Gambar 2.9 Proses Perpindahan dari Logam secara Adhesi Sumber : Tribologi, Daerah Pelumasan dan Keausan
Pada Gambar diatas proses itu bermula ketika benda dengan kekerasan yang lebih tinggi menyentuh permukaan yang lemah kemudian terjadi pengikatan. Pengikatan ini terjadi secara spontan dan dapat terjadi dalam suhu yang rendah atau moderat.
Adhesive wear sering juga disebut galling, scoring, scuffing, seizure, atau seizing.
b. Abrasive wear
Keausan abrasif disebabkan oleh hilangnya material dari permukaan sebuah benda oleh material lain yang lebih keras. Ada dua kategori keausan ini, yaitu:
1. Two body abrasion
Keausan ini disebabkan oleh hilangnya material karena
proses rubbing (penggarukan) oleh material lain yang lebih keras dibanding material yang lain. Sehingga mateial yang lunak akan terabrasi. Contohnya pada proses permesinan, antara lain cutting, atau turning.
Gambar 2.10 Proses Cutting
Sumber : Tribologi, Daerah Pelumasan dan Keausan
2. Three body abrasion
Aus yang disebabkan proses galling sehingga serpihan hasil gesekan yang terbentuk (debris) mengeras serta ikut berperan dalam hilangnya material karena proses gesekan yang terjadi secara berulang-ulang. Jadi pengertian “tiga benda” disini adalah dua material yang saling bergesekan dan sebuah benda serpihan hasil gesekan. Sedangkan pada keausan “dua benda”, debris atau serpihan hasil gesekan tidak ada.
20
c. Surface fatigue wear
Keausan lelah pada permukaan pada hakikatnya bisa terjadi baik secara abrasif atau adhesif. Tetapi keausan jenis ini terjadi secara berulang-ulang dan periodik. Hal ini akan berakibat pada meningkatnya tegangan geser. Pada Gambar 10 mengilustrasikan tentang pertumbuhan retak pada permukaan benda. Ketidaksempurnaan dalam struktur material salah satu penyebabnya adalah lokasi yang kosong yang ada dalam susunan butir pembentuk material.
21
3.1 Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang dilakukan adalah field research, guna untuk menganalisa penyebab Low Speed All Attachment pada unit Excavator PC
400LC–8 komatsu, dengan model engine SAA6D125E-5, yang melibatkan
data primer dan data sekunder.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada saat penulis melakukan on the job training (OJT) di PT. United Tractor site Rantau Kalimantan Selatan dengan unit customer yang mengalami trouble di PT. Hasnur Riung Sinergi site Rantau, selaku customer PT. United Tractors Tbk. Waktu penelitian dilakukan mulai tanggal 01 Juli – 31 November 2016.
3.3 Instrument Penelitian
Instrument penelitian adalah perantara yang di gunakan untuk membantu melakukan penelitian, yaitu :
1. Berupa dokumen laporan kerusakan unit yang mengalami trouble.
2. Berupa Form MCR (Machine Condition Report) yaitu Form yang digunakan untuk menulis hasil data pengukuran actual yang di peroleh dari pengecekan dan pengukuran dari unit yang mengalami trouble tersebut. 3. Shop manual Excavator PC 400LC–8 komatsu yaitu sebagai referensi atau
acuan dalam proses perbandingan pengukuran data secara actual dengan data standart pabrikan.
22
3.4 Alat dan Bahan Penelitian
Alat Penelitian yang Digunakan :
1. Helm safety, safety shoes dan safety googles. 2. Tool boxs set.
3. Pressure gauge untuk mengukur hydraulic pressure. 4. majun untuk membersihkan komponen.
5. CRC, CO Contact Cleaner yaitu cairan yang di gunakan untuk membersihkan komponen.
Bahan Penelitian meliputi :
1. Tipe unit : Excavator PC 400LC – 8 2. Branch/site : Rantau
3. Date : 05/10/2016
4. Lokasi unit : PT. Hasnur Riung Sinergi site Rantau, Kalsel 5. Hours meter : 18998 hours
6. S/N unit : J30210
7. S/N Engine : 661073
8. Engine model : SAA6D125E-5 9. Machine code : HEX 401
10. Trouble diagnose : Low Speed All Attachment
3.5 Data Hasil Pengukuran
Tabel 3.1 Hasil Pengukuran Pressure
No Komponen Aspek Pengukuran Nilai Standart Nilai Aktual Keterangan
1 Unload Valve Pressure 30-50
kg/cm² 36 kg/cm² OK 2 Main Relief Valve Pressure 340-375 kg/cm² 320 kg/cm² NOT OK 3 Self Pressure Reducing Valve Pressure 29-35 kg/cm² 14 kg/cm² NOT OK
3.6 Prosedur Penelitian
Penelitian dilakukan dengan prosedur untuk menentukan dan memecahkan permasalahan yang ada di lapangan agar unit dapat di lakukan perbaikan dengan tepat dan benar. Dalam melakukan prosedur tersebut peneliti menggunakan langkah troubleshooting (troubleshooting step), yaitu sebagai berikut :
1. Possibities Causes
Yaitu dugaan sementara yang didapatkan dari keluhan informasi yang telah disampaikan oleh operator terkait keluhan yang di alami saat mengoperasikan unit Excavator PC 400LC–8.
2. Observe & Diagnostic
Observasi dilakukan untuk mengambil data yang terdapat pada unit
Excavator PC 400LC–8. Observasi yang telah dilakukan yaitu berupa hasil
data pengecekan dan pengukuran dari unit dan melakukan diagnosa dengan melihat acuan standart shopmanual Excavator PC 400LC–8 berdasarkan penyebab permasalahan unit tersebut.
3. Collect Data
Setelah melakukan observasi, pengecekan dan pengukuran terhadap unit maka didapatkan hasil data actual yang sesuai untuk di lakukan analisa lebih lanjut.
4. Analysis
Data yang telah di peroleh dapat di analisa dengan membandingkan hasil data actual dengan data acuan yang ada di shop manual Excavator
PC 400LC–8. Data yang dapat diolah adalah data yang diambil secara
actual, waktu terjadinya trouble, lokasi operasi unit dan sesuai dengan standart pengetesan mesin dan dilakukan dengan benar serta cocok dengan keluhan yang terjadi pada mesin atau unit tersebut.
24
5. Suspected Cause
Penyebab utama akan didapatkan setelah melakukan langkah analisa data yang telah diolah seperti data kualitatif dan kuantitatif.
6. Conclusion
Kesimpulan yang dapat diambil untuk menentukan langkah apa yang harus dilakukan terhadap unit yang mengalami trouble. Lalu kondisi komponen atau part yang rusak yang menyebabkan unit tersebut mengalami trouble maka harus melakukan rekomendasi kepada customer untuk mengganti part baru, repair atau rekondisi apabila part tersebut masih bisa di perbaiki.
7. Action To Improvement
Langkah yang terakhir yaitu langkah untuk memperbaiki unit sesuai dengan rekomendasi yang di anjurkan sesuai dengan kerusakan pada unit tersebut agar unit dapat diperbaiki dengan tepat dan memberikan solusi agar unit tersebut tidak mengalami trouble yang sama dan dalam kondisi performa unit baik saat di operasikan.
3.7 Diagram Alir Penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh penulis memerlukan gambaran penelitian seperti diagram alir untuk memudahkan pembaca maupun penulis untuk memahami masalah yang diangkat oleh penulis. Diagram alir penelitian tersebut dapat digambarkan pada diagram 3.1 sebagai berikut.
A Start
Indentifikasi dan Rumusan Masalah
Gambar 3.1 Diagram Alir Metodologi Penelitian Hasil Pembahasan dan Penelitian
Analisa Data Pengolahan Data
Kesimpulan dan Saran
Selesai Studi Literatur Studi Lapangan Shop Manual Pengumpulan Data Data Primer 1. Dokumentasi 2. Hasil Observasi 3. MCR Data Sekunder 1. TSR 2. EMR Internet Observasi Dokument asi A
26
BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN MASALAH
4.1 Kronologi Permasalahan
Pada tanggal 05 Oktober 2016 di PT. Hasnur Riung Sinergi site Rantau, Operator Excavator PC 400LC–8 dengan nomor kode HEX 401 melaporkan kerusakan pada mekanik bahwa HEX 401 mengalami masalah ketika unit sedang beroperasi tiba-tiba all attachment unit bergerak lambat sehingga untuk melakukan perkerjaan menjadi terganggu. Akhirnya unit langsung di lakukan perbaikan untuk meminimalisir waktu produktivitas unit yang terpending akibat kerusakan unit tersebut.
4.2 Analisa Permasalahan
Berdasarkan hasil dari shop manual dan pengetahuan tambahan dari senior mekanik dapat dilakukan pemeriksaan untuk menemukan masalah dari unit yang tiba-tiba mengalami low speed all attachment dengan cara mengikuti prosedur dari 8 langkah troubleshooting agar dapat menganalisa permasalahan dengan benar dan melakukan perbaikan dengan tetap sesuai dari hasil analisa permasalahan tersebut.
8 step troubleshooting dapat dilihat pada Gambar 4.1 sebagai berikut.
Gambar 4.1 8 Step Troubleshooting Sumber : BMC 8 Step Troubleshooting
4.3 8 Step Troubleshooting
Trouble Permasalahan : Low Speed All Attachment
1. Step 1 : Troubleshooting Chart
Informasi yang di dapatkan dari customer mengenai unit yang mengalami trouble yaitu unit mengalami trouble low speed all attachment saat sedang beroperasi di area tambang batu bara. Lalu dilakukan pengecekan gejala trouble dengan melihat troubleshooting chart yang terdapat di shop manual unit tersebut.
28
Gambar 4.2 Troubleshooting Chart
Sumber : PC400LC-8R_SHOP MANUAL_SEN04239-00
2. Step 2 : Possibilities Causes
Setelah mendapat informasi sementara dari customer menganai unit yang mengalami trouble maka dilakukan pengecekan dari hasil troubleshooting chart dengan melihat kemungkinan penyebab permasalahan dari shop manual unit tersebut sebelum melakukan perbaikan pada unit.
Kemungkinan penyebab unit mengalami trouble low speed all attachment yaitu tidak berfungsinya tidak berfungsinya self pressure reducing valve, tidak berfungsinya unload valve, tidak berfungsinya main relief valve, tidak berfungsinya pc valve, tidak berfungsinya ls-epc valve, tidak berfungsinya ls valve, tidak berfungsinya servo piston, rusaknya servo
3. Step 3 : Observe & Diagnostic
Dilakukan observasi pemeriksaan pada unit untuk mencari kemungkinan-kemungkinan penyebab trouble lainnya. Hasil dari observasi pemeriksaan pada unit yaitu pengecekan oil engine, pengecekan
fuel filter, pengecekan fuel tank, pengecekan oil hydraulic, pengecekan hydraulic tank, pengecekan strainer oil hydraulic.
Gambar 4.3 Strainer Oil Hydraulic terdapat banyak kotoran dan partikel-psrtikel asing
Sumber : Data Dokumentasi Pribadi
Pada Gambar 4.3 diatas strainer oil hydraulic terdapat banyak kotoran dan partikel asing seperti gram-gram berukuran kecil. Memang sesuai fungsinya dari strainer oil hydraulic yaitu untuk menyaring kotoran atau partikel asing. Karena tidak dilakukan pengujian oil sample
analysis maka diduga ada partikel-partikel asing yang berukuran lebih
kecil yang bias lolos melalui strainer oil hydraulic tersebut.
4. Step 4 : Collect Data
Dilakukan pengukuran pada unit agar diketahui komponen-komponen apa saja yang mengalami kerusakan sehingga menyebabkan unit mengalami trouble.
30
Gambar 4.4 Hasil Data Pengukuran Pressure Unit
Sumber : MCR Unit (Machine Condition Report)
5. Step 5 : Analysis
Setelah dilakukan pengukuran pressure pada unit dan di dapatkan hasilnya maka dilakukan perbandingan hasil actual pengukuran dengan hasil standart pengukuran pressure dari shop manual unit. Setelah dilakukan perbandingan di temukan bahwa pressure dari working speed
attachment di luar standart dan pressure pada self pressure reducing valve hanya 14 kg/cm².
32
6. Step 6 : Suspected Causes
Pada komponen self pressure reducing valve hasil actualnya pengukuran pressurenya hanya 14 kg/cm² sedangkan standartnya adalah 29-35 kg/cm². Karena pressurenya terlalu rendah maka dilakukan
adjusting pressure agar pressure dari self pressure reducing valve
tersebut dapat kembali normal pressurenya menjadi standart 29-35 kg/cm². akan tetapi setalah dilakukan adjusting pressure tidak mengalami perubahan pressure sehingga diperkirakan bahwa self pressure reducing
valve bermasalah dan dilakukan disassembly pada self pressure reducing valve.
Gambar 4.5 Disassembly Self Pressure Reducing Valve Sumber : Data Dokumentasi Pribadi
7. Step 7 : Conclusion
Setelah dilakukan disassembly pada self pressure reducing valve, ditemukan bahwa terdapat banyak partikel asing. Karena partikel asing yang sangat kecil dan banyak tersebut maka dapat menghambat pergerakan dari spool dan body spool mengalami goresan akibat partikel asing tersebut.
Gambar 4.6 Spool Self Pressure Reducing Valve terdapat goresan Sumber : Data Dokumentasi Pribadi
Spool mengalami goresan
Spool mengalami goresan dikarenakan terjadi gesekan terhadap
partikel asing yang berukuran kecil.adanya pola goresan di permukaan
spool menunjukan spool mengalami keausan abrasive (three body abrasive). Keausan abrasive (three body abrasive) terjadi dikarenakan
adanya partikel asing diantara dua bidang yang saling kontak tersebut. Setelah dilakukan analisa permasalahan dengan melakukan pemeriksaan
secara menyeluruh sesuai dengan panduan dari shop manual dan langkah-langkah troubleshooting. Maka penyebab permasalahannya unit tersebut adalah self pressure reducing valve jammed opened. Karena spool dari
self pressure reducing valve jammed opened ini dapat mengakibatkan
terganggunya proses pereduksian dan terhambatnya supply yang menuju ke PPC valve, EPC valve, solenoid valve dan lain-lainnya. Akibatnya
supply yang harusnya menuju ke PPC valve jadi terhambat dan flow pressure yang di terima hanya sedikit akibat pregerakan spool yang
mengalami jammed opened karena tersumbat oleh partikel-partikel asing.
Pressure yang seharusnya menuju ke PPC valve sesuai standart akan
tetapi malah menjadi rendah dikarenakan pergerakan spool mengalami
jammed yang seharusnyaterhubung dengan PPC valve malah terhubung
langsung menuju ke tank hydraulic untuk di drain. Oleh karena itu hanya sebagian saja oli yang dapat masuk ke PPC valve dan lainnya akan tetapi
pressurenya sudah mengalami pengurangan di bawah standart pressure
normal.
Karena kecilnya supply oli yang menuju ke EPC valve, solenoid
valve dan lain-lainya menyebabkan supply oli yang ke PPC valve pun
kecil sehingga control pressure dari PPC valve yang digunakan untuk mengalahkan tension spring dan membuka spool control valve ini menjadi kecil dan mengakibatkan supply dari main pump hanya sedikit untuk diteruskan ke attachment sehingga seluruh attachment unit bergerak dengan sangat lambat.
34
8. Step 8 : Action To Improvement
Setelah dilakukan analisa dan kesimpulan dari hasil data pengecekan maka diketahui bahwa penyebab dari unit trouble low speed
all attachment adalah spool self pressure reducing valve jammed opened.
Lalu setelah itu langsung dilakukan perbaikan pada unit tersebut.
Langkah Perbaikan unit sebagai berikut : 1. Amankan area kerja.
2. Gunakan perlengkapan APD yang lengkap sesuai prosedur.
(Kecuali ketika dissembly komponen jangan menggunakan sarung tangan)
3. Setelah melakukan pengecekan sesuai dengan prosedur, remove self pressure reducing valve pada unit.
4. Disassembly komponen self pressure reducing valve. 5. Check Pergerakan main spool dan check keadaan spoolnya. 6. Repair spool yang mengalami goresan.
7. Bersihkan inner part komponen (screen, spool, spring dan lainnya). 8. Assembly komponen self pressure reducing valve.
9. Install self pressure reducing valve pada unit.
10. Test Pressure and Adjusting Pressure self pressure reducing valve. 11. Adjusting main relief valve.
4.4 Analisa dan Pembahasan Masalah
Excavator mengalami masalah Low Speed Boom Attachment
Check oil strainer hydraulic
Check pressure unload valve (std. 30 – 50 kg/cm²)
OK (act. 36 kg/cm²)
Check pressure main relief valve (std. 340 – 375 kg/cm²)
Not OK (act. 320 kg/cm²)
Check pressure self pressure reducing valve (std. 29 – 35 kg/cm²)
A
Remove self pressure reducing valve
Disassembly self pressure reducing valve Not OK (act. 14 kg/cm²)
Ditemukan banyak kotoran dan paritkel-partikel asing pada oil strainer hydraulic
36
Gambar 4.7 Analisa dan Pembahasan Masalah Sumber : Data Dokumentasi Pribadi
A
Repair spool self pressure reducing valve Spool self pressure reducing valve jammed
Diduga ada partikel-partikel asing yang masuk ke dalam system dan menggangu kinerja dari pergerakan spool self
pressure reducing valve
Assembly self pressure reducing valve dan install self pressure reducing valve
Test performance dan final check
Selesai
Dan dampaknya karena diduga ada partikel-partikel asing pada self pressure reducing valve tersebut maka diduga
37
5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan analisa sesuai dengan data yang diperoleh maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa :
1. Penyebab Excavator PC 400LC–8 mengalami pergerakan yang lambat pada all attachment dikarenakan spool self pressure reducing valve
jammed opened. Terjadinya spool self pressure reducing valve jammed opened diduga adanya partikel asing yang masuk kedalam system dan
mengganjal main spool ketika supply oli dari main pump menuju self
pressure reducing valve yang menghubungkan ke PPC valve dan
komponen lainnya.
2. Dampaknya spool mengalami keausan khususnya keausan abrasive (three body abrasive).
5.2 Saran
Untuk menghindari problem yang sama terjadi lagi serta mengurangi terjadinya kerusakan lain yang dapat menyebabkan unit breakdown lebih lama, maka penulis menyarankan agar :
1. Perlu dilakukan pengecekan oil sample analysis.
2. Ketika melakukan pergantian komponen atau pergantian oli perhatikan kebersihan komponen atau oli tersebut, dikarenakan akan berpengaruh pada life time komponen atau bahkan dapat merusak komponen lainnya. 3. Selalu melakukan Preventive Maintence yang tepat dan benar kepada unit
apabila sudah waktunya untuk dilakukan maintence untuk menjaga kondisi kinerja unit agar tidak terjadi breakdown saat bekerja.
38
DAFTAR PUSTAKA
PT. United Tractors, Tbk. 2011. Basic Machine Course Hydraulic System. Jakarta : Technical Training Department Service Division. PT. United Tractors, Tbk.
PT. United Tractors, Tbk. 2011. Basic Machine Course Product Knowledge
& Publication Book. Jakarta : Technical Training Department
Service Division. PT. United Tractors, Tbk.
PT. United Tractors, Tbk. 2011. Basic Machine Course 8 Step
Troubleshooting. Jakarta : Technical Training Department
Service Division. PT. United Tractors, Tbk.
Komatsu. 2008. Shop Manual Hydraulic Excavator KOMATSU
PC400LC-8R SN 75001 AND UP. U.S.A : Komatsu America Corp.
I. Syafa’at. 2008. Tribologi, Daerah Pelumasan Dan Keausan. Semarang : Momentum, Vol. 4, No. 2, Oktober 2008 : 21 - 26