• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

53 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

1. Gambaran Umum Kabupaten Kebumen a. Letak Geografis

Kabupaten Kebumen merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Menurut Peraturan Bupati Nomor 24 tahun 2016 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2017 dijelaskan bahwa Kabupaten Kebumen merupakan daerah yang terletak di bagian selatan Provinsi Jawa Tengah, dengan batas-batas wilayah yaitu:

a. Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia,

b. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Cilacap dan Banyumas, c. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara dan

Kabupaten Wonosobo, dan

d. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Purworejo.

Kabupaten Kebumen dalam konteks regional memiliki posisi yang strategis karena merupakan simpul penghubung antara Jawa Timur dan Jawa Tengah dan memanjang di Pulau Jawa bagian selatan. Oleh karena itu Kabupaten Kebumen menjadi penghubung kota-kota besar yang menjadi kawasan pusat pertumbuhan baik tingkat regional maupun Nasional.

(2)

54

Secara astronomis, Kabupaten Kebumen terletak pada 7°27'-7°50’ (tujuh koma dua puluh tujuh derajat sampai dengan tujuh koma lima puluh derajat) Lintang Selatan dan 109°22'-109°50' (seratus sembilan koma dua puluh dua derajat sampai dengan seratus sembilan koma lima puluh derajat) Bujur Timur. Bagian selatan Kabupaten Kebumen merupakan dataran rendah, sedang pada bagian utara berupa pegunungan.

Secara administratif Kabupaten Kebumen terdiri dari 26 kecamatan, yang mencakup sejumlah 449 desa, dan 11 kelurahan. Luas wilayah Kabupaten Kebumen sebesar 128.111,50 (seratus dua puluh delapan ribu seratus sebelas) hektar atau 1.281,115 (seribu dua ratus delapan puluh satu koma seratus lima belas) kilometer persegi. Kondisi wilayah Kebupaten Kebumen sebagian besar adalah dataran rendah dan sebagian lainnya berupa perbukitan dan wilayah pantai. Wilayah pantai memanjang di bagian selatan yang menjadikan Kabupaten Kebumen memiliki berbagai pariwisata pantai yang indah.

b. Situasi Demografi

Jumlah penduduk Kabupaten Kebumen pada tahun 2015 tercatat sebanyak 1.184.938 jiwa, tumbuh sebesar 0,33% dari tahun sebelumnya. Jumlah rumah tangga sebanyak 318.572 rumah tangga, sehingga rata-rata jumlah jiwa per rumah tangga sebesar 4 jiwa. Kepadatan penduduk Kabupaten Kebumen sebesar 922 jiwa/km², dengan Kecamatan Kebumen merupakan daerah terpadat penduduknya dengan kepadatan

(3)

55

2.893 jiwa/km² dan Kecamatan Sadang merupakan daerah terjarang penduduknya dengan kepadatan 335 jiwa/km².

Dilihat dari jenis kelamin, pada tahun 2015 jumlah penduduk laki-laki sebanyak 588.193 jiwa dan perempuan sebanyak 592.813 jiwa, sehingga angka sex ratio sebesar 99,20 artinya komposisi penduduk laki-laki 0,99% lebih sedikit dibanding penduduk perempuan. Kecenderungan sex ratio di bawah 100 (seratus) dimungkinkan dengan banyaknya penduduk yang merantau ke luar daerah demi mencari atau mendapatkan lapangan pekerjaan khususnya sektor industri dan perdagangan/jasa di kota-kota besar, yang didominasi dari kalangan laki-laki.

c. Kondisi Kemiskinan Kabupaten Kebumen

Kabupaten Kebumen seperti yang telah dijelaskan diatas pada tahun 2016 menempati peringkat kedua sebagai Kabupaten termiskin di Provinsi Jawa Tengah dengan persentase 19.86%. Lebih lanjut mengenai kondisi kemiskinan di Kabupaten Kebumen dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini tentang jumlah dan persentase penduduk miskin di 26 kecamatan yang ada di Kabupaten Kebumen.

(4)

56

Tabel 5. Jumlah penduduk miskin per kecamatan di Kabupaten Kebumen

No Kecamatan Penduduk Miskin

Total Penduduk

Persentase @ desa (Pend Miskin/ Total

Pend @ desa) 1 Ayah 10382 55267 18.79% 2 Buayan 9466 54569 17.35% 3 Puring 13253 53095 24.96% 4 Petanahan 12762 53154 24.01% 5 Klirong 9634 54589 17.65% 6 Buluspesantren 6943 52663 13.18% 7 Ambal 11988 55160 21.73% 8 Mirit 7494 44257 16.93% 9 Prembun 7612 26519 28.70% 10 Kutowinangun 7313 42476 17.22% 11 Alian 11175 54440 20.53% 12 Kebumen 11337 121580 9.32% 13 Pejagoan 2979 48442 6.15% 14 Sruweng 10233 53833 19.01% 15 Adimulyo 6738 34377 19.60% 16 Kuwarasan 4425 44424 9.96% 17 Rowokele 14929 42626 35.02% 18 Sempor 14307 59622 24.00% 19 Gombong 3396 47695 7.12% 20 Karanganyar 4998 34251 14.59% 21 Karanggayam 21112 48781 43.28% 22 Sadang 6674 18267 36.54% 23 Bonorowo 4772 18665 25.57% 24 Padureso 2066 13416 15.40% 25 Poncowarno 1848 15021 12.30% 26 Karangsambung 8261 37749 21.88% Jumlah 226097 1184938 -

Sumber : Bidang Litbang SP Bappeda, Pendataan Penduduk Miskin Tahun 2016 Berdasarkan tabel 5 diatas dapat dilihat bahwasanya angka kemiskinan per kecamatan di Kabupaten Kebumen tergolong tinggi.

(5)

57

Kecamatan Karanggayam sebagai kecamatan dengan angka kemiskinan tertinggi di Kabupaten Kebumen dengan 43.28%, disusul oleh Kecamatan Sadang dengan 36.54%, dan Kecamatan Rowokele dengan 35.02%.

Kemudian untuk kecamatan dengan angka kemiskinan terendah di Kabupaten Kebumen adalah Kecamatan Pejagoan dengan 6.15%, disusul oleh Kecamatan Gombong dengan 7.12%. Sedangkan Kecamatan Kebumen menempati peringkat ketiga dengan presentase 9.32%.

Ada perbedaan yang besar antara Kecamatan Karanggayam yang merupakan kecamatan dengan presentase kemiskinan tertinggi dengan Kecamatan Pejagoan sebagai kecamatan dengan presentase kemiskinan terendah. Mengingat ada perbedaan lokasi antara kedua kecamatan tersebut dimana Kecamatan Pejagoan berada di daerah perkotaan yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Kebumen, sedangkan Kecamatan Karanggayam berada pada bagian utara Kabupaten Kebumen yang wilayahnya cenderung masih berupa pedesaan.

Frank Ellis (dalam Edi Suharto, 2010: 133 - 135) menyebutkan ada tiga jenis-jenis kemiskinan yakni kemiskinan ekonomi, kemiskinan politik, dan kemiskinan sosial-psikologis. Mengingat persentase kemiskinan yang tinggi terdapat pada kecamatan yang daerahnya masih berupa pedesaan yang lokasinya jauh dari perkotaan, apabila merujuk pada jenis-jenis kemiskinan tersebut, kemiskinan yang terjadi di Kabupaten Kebumen termasuk kedalam jenis kemiskinan ekonomi.

(6)

58

Hal tersebut dikarenakan belum meratanya pembangunan dan persebaran perekonomian di Kabupaten Kebumen dan juga adanya faktor penghambat dalam masyarakat untuk memanfaatkan potensi yang ada guna peningkatan produktifitasnya. Faktor tersebut seperti rendahnya kualitas SDM untuk memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki desa. Terbatasnya sumberdaya tersebut berakibat terhadap minimnya kesempatan kerja dan peluang usaha masyarakatnya.

Untuk itu pemerintah daerah Kabupaten Kebumen harus mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satu solusinya adalah dengan meningkatkan pariwisata di Kabupaten Kebumen yang mampu menjangkau masyarakat-masyarakat desa untuk terlibat sehingga akan memunculkan peluang usaha baru.

d. Kondisi Pariwisata Kabupaten Kebumen

Kabupaten Kebumen adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang mempunyai banyak pesona keindahan alam. Kondisi wilayah Kabupaten Kebumen yang kebanyakan berupa daerah pegunungan, pantai, dan dataran rendah menyimpan berbagai objek wisata yang menarik.

Sebagai kabupaten yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di sebelah selatan, Kabupaten Kebumen memiliki garis pantai yang cukup panjang. Hal ini menjadikan Kabupaten Kebumen dikaruniai berbagai macam objek wisata pantai yang mempesona. Walaupun kenyataannya beberapa pantai masih belum terlalu terjamah. Objek wisata pantai yang cukup terkenal dan menjadi ikon pariwisata di Kabupaten

(7)

59

Kebumen meliputi Pantai Lembupurwo, Pantai Petanahan, Pantai Logending, Pantai Karangbolong, Pantai Suwuk, Pantai Watubale, Pantai Sawangan, Pantai dan Menganti.

Selain wisata pantai, Kabupaten Kebumen juga memiliki objek wisata lain seperti Goa Jatijajar, Goa Petruk, Goa Barat. Kemudian ada juga objek wisata air, yakni Waduk Wadaslintang, Waduk Sempor, Jembangan Wisata Alam. Selanjutnya ada objek wisata sejarah berupa Benteng Van der wijck, serta ada wisata pendidikan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Kecamatan Karangsambung dan Hutan Mangrove.

Kemudian akhir-akhir ini Kabupaten Kebumen mulai mengembangkan sektor pariwisata baru, yakni dengan mulai dibukanya desa-desa wisata. Desa wisata tersebut memberikan alternatif baru bagi kepariwisataan di Kabupaten Kebumen. Dimana desa wisata tersebut menawarkan sensasi wisata yang berbeda, yakni wisatawan diajak untuk menikmati kehidupan di desa dengan kekhasannya. Beberapa desa wisata yang ada di Kabupaten Kebumen seperti Brujul Adventure Park di Desa Peniron, Kampung Wisata Sapi di Desa Puring, Kampung Wisata Inggris Kebumen di Desa Adimulyo.

Banyaknya objek wisata di Kabupaten Kebumen tidak semua dimiliki oleh pemerintah daerah. Akan tetapi pemerintah daerah Kabupaten Kebumen dalam hal ini melalui Dinas Kepemudaan Dan Olahraga Dan Pariwisata hanya mengelola sembilan objek wisata. Objek

(8)

60

wisata tersebut meliputi, Goa Jatijajar, Pantai Logending, Goa Petruk, Pantai Petanahan, Pantai Karangbolong, Waduk Sempor, Pemandian Air Panas (PAP) Krakal, Waduk Wadaslintang dan Pantai Suwuk. Di luar sembilan objek wisata tersebut pengelolaanya dilakukan oleh pemerintah desa yang bekerjasama dengan perhutani. Hal ini dikarenakan lahan yang digunakan merupakan milik perhutani.

Pemerintah Kabupaten Kebumen sudah sejak lama menaruh perhatian terhadap sektor pariwisata. Hal ini dibuktikan dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen No. 15 Tahun 2011 tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga. Dalam Peraturan daerah tersebut diatur mengenai besarnya tarif retribusi pada tempat rekreasi dan olahraga.

Tujuan ditetapkannya besaran tarif retribusi dalam tempat rekreasi dan olahraga adalah untuk menghindari adanya pungutan liar (pungli) atas nama retribusi yang dilakukan oleh pengelola objek wisata. Selain itu tujuan adanya penetapan besaran tarif retribusi adalah untuk memperoleh keuntungan yang layak. Keuntungan yang layak adalah keuntungan yang diperoleh apabila pelayanan tempat rekreasi, pariwisata dan olah raga tersebut dilakukansecara efisien dan berorientasi pada harga pasar. Penghitungan besarnya retribusi yang pada objek wisata dilakukan berdasarkan perkalian antara tingkat penggunaanjasa dengan tarif retribusi.Tingkat penggunaan jasa yang dimaksud di sini yaitu diukur berdasarkan lokasi,luas, jenis, golongan umum, serta frekuensi

(9)

61

penggunaan fasilitas tempat rekreasi danolahraga yang digunakan atau dimanfaatkan.

Besarnya tarif retribusi ditetapkan sebagai berikut:

a. setiap memasuki tempat rekreasi dan olahraga dikenakan retribusi dengan ketentuan sebagai berikut:

No Tempat wisata Biaya retribusi (dewasa) Biaya retribusi (anak-anak) 1 Waduk Sempor 4.000,- 2.000,- 2 Waduk Wadaslintang 3.000,- 2.000,- 3 Pantai Karangbolong 3.000,- 2.000,- 4 Pantai Suwuk 3.000,- 2.000,- 5 Pantai Petanahan 3.000,- 2.000,- 6 Goa Jatijajar 7.000,- 4.000,- 7 Pantai Logending 4.000,- 2.000,- 8 Goa Petruk 7.500,- 4.000,-

9 Pemandian Air Panas (PAP) Krakal

2.500,- 1.500,-

b. Bagi setiap orang yang mandi di Pemandian Air Panas Krakal dipungut retribusi sebesarRp. 7.500,00 (tujuh ribu lima ratus rupiah) per orang;

c. Bagi setiap orang yang mengusahakan sarana rekreasi yang berupa kuda, andong dansejenisnya di lokasi objek wisata dikenakan Retribusi sebesar Rp.5.000,00 (lima ribu rupiah) setiap sarana per hari;

d. Bagi setiap orang yang mengusahakan sarana rekreasi yang berupa ATV (All-Terrain Vehicle) dan sejenisnya di lokasi objek wisata dikenakan Retribusi sebesar Rp.10.000,00(sepuluh ribu rupiah) setiap sarana per hari;

(10)

62

e. Penggunaan khusus tempat olah raga yang berada di lokasi objek wisata dikenakan retribusi menempati yang besarnya Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah) per hari;

f. Bagi pengusaha fotografi yang masuk tempat rekreasi dikenakan retribusi setiap unit sebesar Rp. 3.000,00 (tiga ribu rupiah) per hari;

g. Bagi pengusaha jasa tirta dikenakan retribusi setiap perahu sebesar Rp. 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah) per hari; dan h. Bagi setiap orang yang melakukan ritual di Karang Bolong

dikenakan Retribusi sebesar Rp. 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah) per hari.

Melalui pengaturan besaran tarif retribusi ini diharapkan akan berdampak terhadap peningkatan jumlah pengunjung di objek wisata. Apabila jumlah pengunjung meningkat tentu saja akan berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama bagi mereka yang mempunyai usaha dibidang pariwisata baik itu usaha jasa maupun usaha dagang. Berikut daftar jumlah pengunjung di sembilan objek wisata yang dikelola oleh pemerintah daerah Kabupaten Kebumen tahun 2016.

(11)

63

Tabel 6. Jumlah Pengunjung di Sembilan Objek Wisata Yang Dikelola oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen Tahun 2016.

No Tempat wisata Jumlah Pengunjung Tahun 2016 1 Waduk Sempor 39,865 2 Waduk Wadaslintang 26,754 3 Pantai Karangbolong 27,290 4 Pantai Suwuk 362,190 5 Pantai Petanahan 106,825 6 Goa Jatijajar 355,865 7 Pantai Logending 144,532 8 Goa Petruk 7,834

9 Pemandian Air Panas (PAP) Krakal

25,497 10 Jumlah Total

Pengunjung

1,096,652

Sumber: Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kebumen.

Berdasarkan tabel 6, dapat dilihat bahwa jumlah pengunjung pada tahun 2016 sebesar 1.096.652. Jumlah pengunjung pada tahun 2016 tersebut belum begitu banyak sehingga berdampak pada belum terpenuhinya target Pendapatan Asli daerah (PAD) sektor pariwisata yang ditetapkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Kebumen. Mengenai target dan realisasi Pendapatan Asli Daerah sektor pariwisata tahun 2016 dapat dilihat pada tabel berikut.

(12)

64

Tabel 7. Target dan realisasi Pendapatan Asli Daerah sektor pariwisata tahun 2016 No Tempat wisata Target Pendapatan Asli Daerah (Rupiah) Realisasi (Rupiah) Presentase (%) 1 Waduk Sempor 148,775,000 186,083,000 125.08% 2 Waduk Wadaslintang 52,600,000 59,760,600 113.61% 3 Pantai Karangbolong 106,600,000 109,523,500 102.74% 4 Pantai Suwuk 2,083,500,000 1,429,072,800 68.59% 5 Pantai Petanahan 368,600,000 369,547,500 100.26% 6 Goa Jatijajar 2,905,050,000 2,664,909,820 91.73% 7 Pantai Logending 579,600,000 679,348,000 117.21% 8 Goa Petruk 83,275,000 64,987,000 78.04% 9 Pemandian Air Panas (PAP) Krakal 146,700,000 160,370,000 109.32% 10 Lain-lain (Musiman, Sewa Tanah, Sewa Penginapan, Sewa Kios, Benteng Van der wijck, Premi Asuransi 25% )

125,300,000 129,280,025 103.18%

11 Jumlah Total Pengunjung

6,600,000,000 5,852,882,245 88.68% Sumber: Diolah dari Dinas Pemudan dan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten

Kebumen.

Seperti yang tertera pada tabel 7 di atas, bahwasanya target Pendapatan Asli daerah (PAD) sektor pariwisata yang ditetapkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Kebumen adalah sebesar Rp. 6.600.000.000,- sedangkan realisasi yang bisa diperoleh sektor pariwisata sebesar Rp. 5.852.882.245,- atau secara presentase sebesar 88,68%. Kemudian dari sembilan objek wisata ada tiga objek wisata yang belum mampu memenuhi target, yakni Pantai Suwuk, Goa Jatijajar, dan Goa Petruk. Hal ini berarti sektor pariwisata belum mampu memenuhi target

(13)

65

Pendapatan Asli Daerah (PAD) ditetapkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Kebumen.

2. Profil Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kebumen

Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kebumen beralamat di Jalan Pahlawan nomor 136 Kebumen. Nama Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kebumen baru diresmikan pada tanggal 1 Januari 2017 yang sebelumnya bernama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Mengenai tugas dan fungsi Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kebumen diatur dalam Peraturan Bupati Nomor 78 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, tugas Dan Fungsi, serta Tata Kerja Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata.

1. Tugas Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kebumen

Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kebumen mempunyai tugas untuk melaksanakan urusan pemerintahan bidang kepemudaan dan olahraga dan bidang pariwisata yang menjadi kewenangan daerah dan tugas pembantuan yang diberikan kepada daerah.

2. Fungsi Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kebumen

(14)

66

Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kebumen Dalam melaksanakan tugas menyelenggarakan fungsi:

a. penyusunan rencana dan program di bidang kepemudaan dan olahraga, pengembangan pariwisata, dan pemasaran pariwisata; b. perumusan kebijakan di bidang kepemudaan dan olahraga,

pengembangan pariwisata, dan pemasaran pariwisata;

c. pelaksanaan koordinasi di bidang kepemudaan dan olahraga, pengembangan pariwisata, dan pemasaran pariwisata;

d. pelaksanaan kebijakan di bidang kepemudaan dan olahraga, pengembangan pariwisata, dan pemasaran pariwisata;

e. pengendalian, evaluasi dan pelaporan di bidang kepemudaan dan olahraga, pengembangan pariwisata, dan pemasaran pariwisata; f. pelaksanaan administrasi Dinas;

g. pengendalian penyelenggaraan tugas Unit Pelaksana Teknis Dinas; dan

h. pelaksanaan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

(15)

67

Gambar 4. Struktur organisasi Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Parwisata Kabupaten Kebumen

Sumber: Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Parwisata Kabupaten Kebumen

3. Tugas Pokok dan Fungsi Unsur Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kebumen

(16)

68

Berdasarkan struktur organisasi Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kebumen, unsur yang terkait dengan penelitian ini yakni Bidang Pengembangan Pariwisata yang terdiri dari Seksi Destinasi dan Daya Tarik Wisata, serta Seksi Usaha dan Jasa Sarana Pariwisata. Selanjutnya Bidang Pemasaran Pariwisata yang terdiri dari Seksi Promosi dan Informasi Pariwisata serta Seksi Pengembangan Sumber Daya Pariwisata. Adapun rincian dari masing-masing unsur dijelaskan sebagai berikut:

b. Bidang Pengembangan Pariwisata 1) Tugas

Bidang Pengembangan Pariwisata mempunyai tugas melaksanakan perumusan rencana, pengkoordinasian, pelaksanaan kebijakan, pemantauan, evaluasi serta pelaporan meliputi pembinaan dan pengembangan pariwisata, pemberian pertimbangan dalam rangka penetapan tanda daftar usaha pariwisata, atraksi wisata, rekreasi dan hiburan umum, pembinaan kegiatan usaha jasa dan sarana pariwisata, pengembangan produk pariwisata.

2) Fungsi

a) pengelolaan, pembinaan dan pengembangan destinasi dan daya tarik wisata;

(17)

69

c) inventarisasi potensi destinasi dan daya tarik wisata, tenaga teknis sarana danprasarana destinasi dan daya tarik wisata; d) bimbingan teknis pengelolaan destinasi dan daya tarik wisata,

kerjasama dengan pengusaha pariwisata dalam rangka pengembangan destinasi dan daya tarik wisata;

e) pembinaan dan ketertiban destinasi dan daya tarik wisata; f) pemrosesan rekomendasi perizinan di bidang pengusahaan

destinasi dan daya tarik wisata;

g) inventarisasi potensi usaha jasa dan sarana wisata;

h) bimbingan teknis, pengelolaan dan pengembangan jasa dan sarana wisata;

i) rekomendasi kegiatan dan perizinan di bidang usaha dan jasa sarana wisata;

j) pelaksanaan kerjasama dengan pengusaha pariwisata dalam rangka pembinaan dan pengembangan bidang usaha jasa dan sarana wisata;

k) pengawasan dan pengendalian serta pelaporan pengelolaan bidang usaha dan jasa sarana wisata;

l) pemantauan standarisasi dan klasifikasi usaha bidang pengembangan jasa dan sarana wisata; dan

m) pelaksanaan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya.

(18)

70

Seksi Destinasi dan Daya Tarik Wisata mempunyai tugas untuk melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pengkoordinasian, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi sertapelaporan meliputi pengelolaan, pembinaan dan pengembangan destinasi dan dayatarik wisata, pengelolaan kawasan strategis pariwisata, inventarisasi potensidestinasi dan daya tarik wisata, tenaga teknis sarana dan prasarana destinasi dandaya tarik wisata, bimbingan teknis pengelolaan destinasi dan daya tarik wisata,kerjasama dengan pengusaha pariwisata dalam rangka pengembangan destinasidan daya tarik wisata, pembinaan dan ketertiban destinasi dan daya tarik wisata,pemrosesan rekomendasi perizinan di bidang pengusahaan destinasi dan daya tarikwisata. d. Seksi Usaha dan Jasa Sarana Pariwisata

Seksi Usaha dan Jasa Sarana Pariwisata mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahanperumusan kebijakan teknis, pengkoordinasian, pelaksanaan, pemantauan, evaluasiserta pelaporanmeliputiinventarisasi potensi usaha jasa dan sarana wisata,bimbingan teknis, pengelolaan dan pengembangan jasa dan sarana wisata,rekomendasi kegiatan dan perizinan di bidang usaha dan jasa sarana wisata,pelaksanaan kerjasama dengan pengusaha pariwisata dalam rangka pembinaandanpengembangan bidang usaha jasa dan sarana wisata, pengawasan danpengendalian serta pelaporan pengelolaan bidang usaha dan jasa sarana wisata,pemantauan

(19)

71

standarisasi dan klasifikasi usaha bidang pengembangan jasa dansarana wisata.

e. Selanjutnya Bidang Pemasaran Pariwisata 1) Tugas

Melaksanakan perumusan rencana, pengkoordinasian, pelaksanaan kebijakan, pemantauan, evaluasi sertapelaporan meliputi promosi dan informasi pariwisata, penerapan brandingpariwisata nasional dan tag line pariwisata, penyediaan dan pengembangan sisteminformasi pariwisata, fasilitasi pelaksanaan atraksi wisata, pengembangan ekonomikreatif, rekreasi dan hiburan umum, penyediaan prasarana (zona kreatif/ruangkreatif) sebagai ruang berekspresi, berpromosi dan berinteraksi bagi insan kreatif,penyiapan perizinan di bidang pengusahaan atraksi wisata, rekreasi dan hiburanumum.

2) Fungsi

a) fasilitasi pelaksanaan promosi dan informasi pariwisata; b) penetapan pedoman perencanaan dan kerjasama

pemasaran/promosi pariwisata;

c) penetapan pedoman partisipasi dan penyelenggaraan pameran/event budaya dan pariwisata;

d) pelaksanaan program promosi pariwisata serta penyediaan informasi pariwisata;

(20)

72

e) pelaksanaan pameran baik di dalam maupun di luar negeri bekerja sama dengan lintas sektoral;

f) penerapan branding pariwisata nasional dan tag line

pariwisata, penyediaan dan pengembangan sistem informasi pariwisata;

g) fasilitasi pelaksanaan atraksi wisata,pengembangan ekonomi kreatif, rekreasi dan hiburan umum;

h) pembinaan, pengembangan dan pengawasan terhadap atraksi wisata, rekreasi dan hiburan umum;

i) penyediaan prasarana (zona kreatif/ruang kreatif) sebagai ruang berekspresi, berpromosi dan berinteraksi bagi insan kreatif;

j) penyiapan perizinan di bidang pengusahaan atraksi wisata, rekreasi dan hiburan umum; dan

k) pelaksanaan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya.

f. Seksi Promosi dan Informasi Pariwisata

Seksi Promosi dan Informasi Pariwisata mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusankebijakan teknis, pengoordinasian, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi sertapelaporan meliputi fasilitasi pelaksanaan promosi dan informasi pariwisata,penetapan pedoman perencanaan dan kerjasama pemasaran/ promosi pariwisata,penetapan pedoman partisipasi dan

(21)

73

penyelenggaraan pameran/event budaya danpariwisata, pengembangan sistem informasi pariwisata, pelaksanaan programpromosi pariwisata serta penyediaan informasi pariwisata, pelaksanaan pameranbaik di dalam maupun di luar negeri bekerja sama dengan lintas sektoral,pelaksanaan penerapan branding pariwisata nasional dan tag line pariwisata,penyediaan dan pengembangan sistem informasi pariwisata, fasilitasi pelaksanaan,pengembangan dan pengawasan atraksi wisata,rekreasi dan hiburan umum,penyediaan prasarana (zona kreatif/ruang kreatif) sebagai ruang berekspresi,berpromosi dan berinteraksi bagi insan kreatif dan penyiapan perizinan di bidangpengusahaan atraksi wisata, rekreasi dan hiburan umum.

g. Seksi Pengembangan Sumber Daya Pariwisata

Seksi Pengembangan Sumber Daya Pariwisata mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pengoordinasian, pelaksanaan, pemantauan, evaluasiserta pelaporan

meliputi inventarisasi potensi kelompok

masyarakatpariwisata/kelompok sadar wisata, penyediaan dan pengembangan potensikelompok masyarakat pariwisata/kelompok sadar wisata, peningkatan kapasitassumber daya manusia pariwisata/penyuluhan wisata, penyiapan bahanrekomendasi kegiatan dan perizinan di bidang usaha pengembangan sumber dayamanusia pariwisata, pembinaan dan pengawasan terhadap

(22)

74

pengembangan sumberdaya pariwisata/penyuluhan wisata, penyiapan perizinan dibidang pengusahaanatraksi wisata, rekreasi dan hiburan umum dan pengembangan ekonomi kreatif.

B. Upaya Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam Pengentasan Kemiskinan Melalui Sektor Pariwisata

Pemerintah Kabupaten Kebumen, dalam hal ini adalah Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata (Selanjutnya disebut Disporawisata) selaku bagian dari Perangkat Daerah di Kabupaten Kebumen telah melaksanakan urusan pemerintahan pilihan yakni pengembangan sektor pariwisata. Adapun sektor pariwisata dikembangkan salah satu tujuannya adalah untuk mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Kebumen yang masih tinggi.

Terdapat dua upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam pengentasan kemiskinan melalui sektor pariwisata yakni dengan pengembangan desa wisata dan pengembangan destinasi wisata. Berdasarkan hasil penelitian, kedua upaya tersebut telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang dijadikan rujukan dalam penyelenggaran pemerintahan. Berikut ini pembahasanlebih lanjut mengenai upaya pengentasan kemiskinan melalui sektor pariwisata.

1. Pengembangan desa wisata

Salah satu sektor yang dapat dikembangkan untuk menekan angka kemiskinan adalah sektor pariwisata. Sektor pariwisata memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan perekonomian terutama dalam

(23)

75

meningkatkan kesempatan kerja dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat..

Pengembangan Desa Wisata menjadi salah satu upaya dari pemerintah Kabupaten Kebumen dalam upaya mengentaskan kemiskinan melalui sektor pariwisata. Pengembangan desa wisata ini diharapkan mampu meningkatkan pariwisata di Kabupaten Kebumen agar bisa menjangkau masyarakat-masyarakat desa untuk terlibat sehingga akan memunculkan peluang usaha baru. Desa wisata sendiri merupakan wilayah pedesaan yang mempunyai berbagai karakteristik dan kekhasan khusus yang dapat menjadi tujuan pariwisata.

Apabila merujuk pada jenis-jenis pariwisata menurut James J. Spillane, bahwasanya desa wisata masuk kedalam jenis pariwisata untuk rekreasi dan pariwisata untuk kebudayaan. Sebagai pariwisata untuk rekreasi, desa wisata memberikan tempat yang nyaman dan tenang yang sangat cocok untuk memulihkan kesegaran jasmani dan rohani. Kemudian desa wisata juga masuk kedalam jenis wisata kebudayan dimana desa wisata memberikan berbagai atraksi kebudayaan dan adat-istiadat yang ada di desa tersebut sehingga memberikan pengalaman dan pengetahuan baru mengenai kebudayaan bagi para wisatawan.

Pengembangan desa wisata ini sesuai dengan konsep kepariwisataan yang berbasis pemberdayaan masyarakat, yakni kepariwisataan yang memungkinkan masyarakat dilibatkan dalam pengelolaannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Melalui pelibatan masyarakat dalam

(24)

76

pengelolaan pariwisata diharapkan akan mampu mencapai salah satu tujuan pariwisata yakni mampu menghapus kemiskinan.

Pelibatan masyarakat dalam pengembangan desa wisata ini terlihat dalam pengelolaannya yang semua diserahkan kepada masyarakat melalui kelompok sadar wisata (pokdarwis)dimana anggota-anggota pokdarwis tersebut adalah warga masyarakat desa wisata itu sendiri. Pembentukan pokdarwis sendiri ada dua, yakni pokdarwis yang dibentuk oleh kesadaran masyarakat sendiri dan yang dibentuk atas inisiasi dari Disporawisata.

Pengembangan Desa Wisata mulai digalakkan oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen mulai tahun 2011 dengan Desa Wisata Jembangan sebagai pelopornya. Pada saat itu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (sekarang Disporawisata) memandang daerah Jembangan memiliki potensi wisata yang menjanjikan karena terdapat bendungan yang cukup besar, suasananya tenang dan udaranya juga sejuk. Oleh karena itu ada niatan dari Pemda untuk membuat wisata air di daerah Jembangan. Akan tetapi dikarenakan keterbatasan anggaran, Pemda Kebumen kemudian mengajak masyarakat Desa Jembangan untuk membuka wisata air dan membentuk pokdarwis untuk pengelolaan objek wisata air Jembangan.

Pembukaan Desa Wisata Jembangan tidak diduga mampu menarik cukup banyak wisatawan untuk berkunjung. Walaupun kebanyakan masih wisatawan dari Kabupaten Kebumen dan daerah lain yang berdekatan seperti Wonosobo, Purworejo, maupun Banjarnegara. Melihat semakin banyaknya wisatawan yang hadir membuka peluang usaha baru bagi masyarakat Desa

(25)

77

Jembangan, mereka kini bisa memaksimalkan sektor pariwisata sebagai alternatif untuk meningkatkan perekonomian mereka dengan membuka usaha penjualan makanan, minuman, aneka cenderamata, dan penyewaan perahu.

Keberhasilan Desa Wisata Jembangan membuat daerah lain termotivasi untuk ikut membentuk pokdarwis secara mandiri guna menggali potensi yang ada di desa yang nantinya dapat berkembang menjadidesa wisata.Selain itu, Disporawisata juga semakin gencar dalam menggali potensi-potensi pariwisata yang ada di desa.Adapun di Kabupaten Kebumen sampai saat initerdapat 22 desa wisata yang bisa dilihat pada tabel tabel 8. Tabel 8. Jumlah desa wisata di Kabupeten Kebumen

No. Desa Wisata Kecamatan

1. Desa wisata Karangsambung Karangsambung 2. Desa wisata Maduretno Buluspesanten 3. Desa wisata Bulupitu Kutowinangun

4. Desa wisata Peniron Pejagoan

5. Desa wisata Adiluhur Adimulyo

6. Desa wisata Candirenggo Ayah

7. Desa wisata Jemur Kebumen

8. Desa wisata Jatijajar Ayah

9. Desa wisata Argopeni Ayah

10. Desa wisata Sitiadi Puring

11. Desa wisata Sikayu Buayan

12. Desa wisata Karangsari Kutowinangun

13. Desa wisata Pasir Ayah

14. Desa wisata Giripurno Karanganyar 15. Desa wisata Jembangan Poncowarno 16. Desa wisata Karangduwur Ayah 17. Desa Wisata Grogolbeningsari Petanahan 18. Desa Wisata Tambakmulyo Puring

19. Desa wisata krakal Alian

20. Desa wisata Kedungdowo Poncowarno 21. Desa wisata Redisari Rowokele 22. Desa wisata Wagirpandan Rowokele

Sumber: Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kebumen 19 Mei 2017.

Pengembangan Desa Wisata diharapkan mampu mengentaskan kemiskinan karena akan memperluas peluang usaha dan peningkatan kesempatan kerja terutama bagi warga miskin. Dengan adanya desa wisata

(26)

78

masyarakat mendapat peluang usaha baru untuk meningkatkan perekonomian seperti penjualan berbagai cenderamata, penyewaan tempat istirahat atau homestay. Kemudian kesempatan kerja masyarakat sekitar juga akan meningkat, seiring kedatangan para wisatawantentunya membutuhkan berbagai akomodasi seperti makanan, minuman, oleh-oleh, transportasi dan tour guide. Selain itu pengembangan desa wisata juga akan menambah pemasukan untuk desa yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat desa itu sendiri.

Berkaitan dengan pengembangan desa wisata Disporawisata berperan dalam melakukan pembinaan dan promosi. Hal ini dikarenakan pengelolaan desa wisata yang sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat melalui pokdarwis.

a. Pembinaan

Disporawisata secara berkala dan berkelanjutan melakukan pembinaan kepada pokdarwis selaku pengurus desa wisata. Pembinaan ini dilakukan pada hari Selasa minggu kedua setiap bulannya yang tempatnya bergantian pada setiap desa wisata, namun untuk awal tahun pembinaan diadakan di kantor Disporawisata Kabupaten Kebumen.

Sistem pembinaan tersebut disesuaikan dengan permintaan dan kebutuhan dari pokdarwis itu sendiri. Jadi untuk pembinaan bulan depan tema ditentukan pada pembinaan bulan sebelumnya. Fokus utama pembinaan ini adalah peningkatan usaha di bidang pariwisata dan pengelolaan desa wisata.

(27)

79

Pembinaan terhadap peningkatan usaha di bidang pariwisata dilakukan untuk mendorong masyarakat membuka usaha di bidang pariwisata, baik itu usaha dagang maupun usaha jasa. Hal ini bertujuan untuk membuka peluang dan kesempatan kerja baru bagi masyarakat sekitar desa wisata sehingga mampu meningkatkan perekonomiannya yang nantinya akan mampu mengentaskan kemiskinan. Selain itu dengan banyaknya usaha dagang dan jasa di kawasan desa wisata akan mampu menopang keberadaan desa wisata itu sendiri, dimana desa wisata yang mempunyai fasilitas memadai dan kebutuhan wisatawan seperti tempat makan, istirahat, akomodasi terpenuhi dengan baik akan membuat wisatawan menjadi betah.

Berbagai usaha dagang yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk meningkatkan pendapatan dan juga untuk memenuhi kebutuhan wisatawan di desa wisata seperti usaha warung makan, oleh-oleh maupun cenderamata. Adapunberbagai oleh-olehmakanan khas dari Kabupaten Kebumen seperti Lanting dan Jenang.Selain oleh-oleh ada berbagai cenderamata seperti gantungan kunci dan berbagai hiasan rumah.

Adapun pembinaan yang dilakukan oleh Disporawisata terkait usaha dagang yang ada di desa wisata seperti bagaimana cara mengemas produk yang menarik dan menjaga kualitas produk agar tetap baik. Selain itu berkenaan dengan usaha warung makan/restoran

(28)

80

pembinaan yang dilakukan seperti menjaga kebersihan tempat dan makanan serta pembuangan limbah yang benar.

Kemudian usaha jasa yang bisa dikembangkan dalam desa wisata dalam rangka meningkatkan perekonomian sehingga mampu mengentaskan kemiskinan cukup beragam. Masyarakat bisa menawarkan jasa penginapan, tempat beristirahat, sewa alat (perahu, ATV, sepeda, sepeda motor, kamera) maupun menjadi pemandu wisata (tour guide). Disporawisata menekankan bahwa setiap desa wisata harus mempunyai pemandu wisata.

Adapun pembinaan yang dilakukan oleh Disporawisata terkait usaha jasa yang ada di desa wisata seperti melakukan pembinaan tentang bagaimana melayanai wisatawan yang baik, menjaga kebersihan dan kenyamanan tempat istirahat maupun penginapan serta menjaga kualitas barang-barang yang disewakan jangan sampai mengecewakan pengunjung. Selanjutnya pembinaan pemandu wisata ini juga menjadi perhatian Disporawisata dimana pemandu wisata dituntut mempunyai kualitas, skill, dan attitude yang baik dalam memandu para wisatawan.

Fokus pembinaan selanjutnya berkaitan dengan pengelolaan desa wisata. Hal ini dikarenakan keberhasilan pengembangan desa wisata agar mampu mengentaskan kemiskinan sangat bergantung kepada kesiapan dan dukungan masyarakat itu sendiri. Selain itu dalam desa wisata masyarakat juga akan bersinggungan langsung dengan para

(29)

81

wisatawan baik sebagai pengelola maupun sebagai pelayan yang nantinya akan menimbulkan berbagai interaksi antar masyarakat dan para wisatawan.

Terkait pengelolaan desa wisata Disporawisata melakukan pembinaan terhadap pokdarwis selaku pengelola desa wisata. Pembinaan tersebut seperti manajemen pengelolaan yang baik, pemanfaatan potensi wisata secara bijak, pengelolaaan limbah, penataan ruang, dan pengadaan sarana dan prasara.

b. Promosi

Selain melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap desa wisata, Disporawisata juga melakukan promosi desa wisata dengan mengadakan festival desa wisata tanggal 20 dan 21 Mei 2017 yang bertempat di alun-alun Kabupaten Kebumen dan pendopo rumah dinas Bupati. Festival desa wisata tersebut diikuti 18 desa wisata yang ada di Kabupaten Kebumen. Selain untuk mempromosikan desa wisata kepada masyarakat Kabupaten Kebumen tujuan diadakannya festival desa wisata tersebut adalah untuk mengetahui selama ini bagaimana perkembangan desa wisata yang ada di Kabupaten Kebumen.

Festival desa wisata terbagi dalam dua bagian acara, tanggal 20 Mei 2017 diadakan acara pameran desa wisata, yakni setiap desa wisata diharapkan mampu memberikan suguhan mengenai potensi, kekhasan dan konsep desa wisata yang dikembangkan kepada para pengunjung acara tersebut. Kemudian tanggal 21 Mei 2017 para peserta festival desa wisata

(30)

82

diharuskan mempresentasikan di depan para juri mengenai potensi desanya, apa yang menjadi nilai jual, kekhasan desanya dibanding yang lain, bagaimana pengelolaan desa wisatanya selama ini, program-program kedepannya guna pengembangan desa wisatanya, bantuan yang dibutuhkan dari pemerintah, serta kendala dalam pengelolaan maupun pengembangannya. Selain itu para peserta juga diharuskan menampilkan satu atraksi yang akan mereka jual untuk menarik minat wisatawan.

Para juri selain dari pihak Disporawisata juga ada dari Dispermades (Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa) dan dari Bappeda (Badan perencanaan dan penelitian dan pengembangan daerah). Alasan pihak Disporawisata juga mengundang juri dari Dispermades dan Bappeda adalah agar mereka mengetahui bagaimana potensi dan program-program desa wisata tersebut. Untuk itu bukan tidak mungkin tahun depan baik Dispermades maupun Bappeda bisa turut serta dalam pengembangan desa wisata dengan menganggarkan dana untuk salah satu desa maupun beberapa dea wisata di Kabupaten Kebumen.

Perkembangan desa wisata di Kabupaten Kebumen tidak semuanya berjalan dengan baik, ada desa yang perkembangannya cepat, adapula yang lambat, dan ada juga yang masih dalam tahap pembelajaran. Hal ini dikarenakan dari potensi, sumber daya alam dan masyarakatnya yang berbeda-beda, jadi pengembangannyapun tidak sama. Untuk itu dengan adanya festival desa wisata ini para peserta dapat memperoleh manfaat terutama dalam segi pengelolaan dan program kedepannya. Para

(31)

83

peserta dapat mengukur sendiri bagaimana kesiapan desanya apabila dibandingkan dengan desa wisata yang lain.

Dilihat dari strategi pengentasan kemiskinan melalui sektor pariwisata, pengembangan desa wisatacukup mampu menerapkannya dengan baik. Adapun strategi pengentasan kemiskinan melalui sektor pariwisata menurut Poultney dan Spenceley(dalam Janianton Damanik, 2005: 22-24) sebagai berikut:

2. Perluasan kesempatan berusaha bagi penduduk miskin

Perluasan kesempatan berusaha bagi penduduk miskin dapat dimulai dengan penggunaan barang dan jasa di kawasan wisata. Barang dan jasa yang digunakan adalah milik masyarakat lokal setempat sehingga akan lebih menjamin terbukanya peluang usaha bagi penduduk miskin. Dengan terbukanya peluang usaha maka diharapkan akan meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga mampu mengentaskan kemiskinan. 3. Perluasan kesempatan kerja bagi penduduk miskin

Kesempatan kerja bagi masyarakat miskin dapat diperluas dengan cara merekrut tenaga kerja dalam kegiatan kepariwisataan. Hal ini ditujukan agar masyarkat lokal mampu mendapat manfaat dari adanya kegiatan kepariwisataan di daerahnya.

4. Pengurangan dampak lingkungan bagi penduduk miskin yang lebih rentan Industri pariwisata perlu mengantisipasi dampak negatif pemanfatan sumber daya lokal yang digunakan industri pariwisata terhadap kehidupan

(32)

84

masyarakat lokal. Misalnya akomodasi perhotelan yang dapat berdampak negatif terhadap ketersediaan sumber air setempat.

5. Pengurangan dampak sosial budaya pariwisata yang negatif bagi penduduk miskin

Pariwisata dapat dengan mudah mengubah struktur ekonomi masyarakat lokal. Tetapi perubahan tersebut mungkin sulit menjangkau aspek-aspek sosial dan budaya. Misalnya, perluasan kesempatan kerja di sektor pariwisata hanya menyerap tenaga kerja laki-laki, padahal dalam kenyataanya tenaga kerja perempuan yang justru banyak menjadi penganggur.

6. Pengembangan kelembagaan yang mendorong upaya pengentasan kemiskinan

Untuk mengoptimalkan fungsi pariwisata sebagai instrumen pengentasan kemiskinan diperlukan suatu entitas kelembagaan yang mempresentasikan masyarakat miskin. Oleh sebab itu perlu dikembangkan suatu kelembagaan yang tepat agar mereka mampu melakukan negosiasi dan keputusan-keputusan strategis dalam pengelolaan sumberdaya pariwisata.

7. Penajaman kebijakan dan perencanaan pengembangan pariwisata yang lebih tepat

Kebijakan-kebijakan dan rencana pengembangan pariwisata perlu dirumuskan secara spesifik dan tegas mengakomodasi kepentingan masyarakat miskin. Masyarakat miskin di daerah tujuan pariwisata perlu

(33)

85

dihargai sebagai pemilik sumberdaya yang utama, sehingga setiap kegiatan pengembangan pariwisata harus dapat memberikan sumbangan positif bagi kehidupan mereka. Kebijakan dan rencana pengembangan tersebut juga harus menjadi komitmen kuat pemerintah.

Berkenaan dengan stategi tersebut pengembangan desa wisata mampu membuka kesempatan berusaha dan kesempatan kerja baru bagi penduduk miskin seperti masyarakat bisa menjual makanan, minuman, aneka cenderamata, menyewakan berbagai alat kepada wisatawandan juga bisa menjadi pemandu wisata. Kemudian desa wisata juga mampu mengembangkan kelembagaan yang mendorong upaya pengentasan kemiskinan dimana pengelolaan desa wisata diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat sehingga masyarakat sendiri mampu bernegosiasi dan mengambil keputusan-keputusan strategis dalam pengelolaan sumberdaya pariwisata.

Kemudian berkaitan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 20 tahun 2012 tentang Percepatan penanggulangan kemiskinan, pengembangan desa wisata termasuk kedalam kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. Hal ini dikarenakan dalam desa wisata pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat, sehingga masyarakat dituntut untuk mampu mengembangkan potensi daerahnya dan terlibat dalam pembangunannya.

Dilihat dari upaya pengentasan kemiskinan melalui sektor pariwisata, pengembangan desa wisata mencakup pelibatan masyarakat dalam pengelolaan dan perluasan kesempatan usaha baru. Kemudian apabila

(34)

86

dikaitkan dengan pengertian kemiskinan secara umum upaya yang dilakukan pemerintah Kabupaten Kebumen dapat dikatakan telah mampu mengakomodasi kondisi serba kekurangan masyarakat miskin yang kesulitan dalam mendapatkan lapangan pekerjaan dan usaha baru.

2. Pengembangan destinasi wisata

Pariwisata sebagai salah satu sektor yang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan perekonomian di Kabupaten Kebumen terutama untuk mengurangi angka kemiskinan perlu dikembangkan secara terpadu dan terencana. Untuk itu Disporawisata diharapkan mampu membuat program-program maupun kebijakan yang mampu mendorong peran dan keterlibatan masyarakat dalam kepariwisataan di Kabupatem Kebumen sehingga akan menimbulkan multipliereffect yang tertuang dalam tujuan kepariwisataan.

Salah satu multipliereffect kepariwisataan yang sangat diharapkan oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen adalah sektor kepariwisataan mampu menghapus kemiskinan. Harapan tersebut dikarenakan Kabupaten Kebumen mempunyai potensi kepariwisataan yang bagus akan tetapi angka kemiskinannya yang masih tinggi. Seperti yang telah diketahui bahwasanya sektor pariwisata berkontribusi terhadap pengentasan kemiskinan dengan jalan menyediakan lapangan pekerjaan baru, dan membuka peluang usaha untuk meningkatkan pendapatan dan juga pengurangan kerentanan.

Pengembangan destinasi wisata menjadi salah satu upaya dari Disporawisata untuk mengentaskan kemiskinan melalui sktor pariwisata di

(35)

87

Kabupaten Kebumen. Destinasi wisata sendiri merupakan daerah yang menjadi tujuan kegiatan wisata. Jadi singkatnya pengembangan destinasi wisata adalah usaha untuk mengembangkan daerah tujuan wisata menjadi lebih baik sehingga tujuan dari kegiatan kepariwisataan mampu tercapai.

Disporawisata sendiri dalam pengembangan destinasi wisata hanya mencakup sembilan objek wisata. Hal ini karena Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen hanya mengelola sembilan objek wisata. Adapun kesembilan objek wisata tersebut dapat dilihat pada tabel 9 dibawah ini. Tabel 9. Objek Wisata yang Dikelola Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen No Tempat wisata 1 Waduk Sempor 2 Waduk Wadaslintang 3 Pantai Karangbolong 4 Pantai Suwuk 5 Pantai Petanahan 6 Goa Jatijajar 7 Pantai Logending 8 Goa Petruk

9 Pemandian Air Panas (PAP) Krakal

Sumber: Statistik Kepariwisataan Kabupaten Kebumen

Pengembangan destinasi wisata oleh Disporawisata lebih menekankan dalam peningkatan infrastruktur yang ada di objek wisata. Selain itupelibatan masyarakatdalam kepariwisataan juga menjadi perhatian dari Disporawisata dalam pengembangan destinasi wisata.

a. Peningkatan Infrastruktur

Peningkatan infrastruktur yang dilakukan oleh Disporawisata dalam pengembangan destinasi wisata terwujud dengan pengadaan berbagai sarana di objek wisata.Selain itu, pembangunan berbagai

(36)

88

prasarana juga dilakukan Disporawisata dalam pengembangan destinasi wisata di Kabupaten Kebumen.Peningkatan infrastruktur tersebut diharapkan mampu mencapai tujuan kepariwisataan yang salah satunya untuk menghapus kemiskinan.

1. Pengadaan sarana objek wisata

Peningkatan sarana objek wisata oleh Disporawisata terwujud dengan pengadaan berbagai alat pendukung kegiatan kepariwisataan. Sarana pendukung tersebut seperti pengadaan peralatan keselamatan alat susur goa di objek wisata Goa Jatijajar dan Goa Baratserta pengadaan kapal wisata dan jet ski di objek wisata Pantai Logending. Pengadaan berbagai sarana tersebut diharapkan akan mampu menarik banyak wisatawan untuk datang berkunjung.

Selain itu pengadaan sarana tersebut juga bertujuan untuk ikut membantu upaya pengentasan kemiskinan bagi masyarakat sekitar objek wisata. Sebagai contoh pengadaan sarana alat susur goa di objek wisata Goa Jatijajar dan Goa Baratakan membuka kesempatan menjadi pemandu wisata untuk para wisataan yang berkenan menyusuri Goa. Hal itu tentu menjadi kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk dapat memperoleh pekerjaan baru maupun tambahan penghasilan dengan ikut menjadi pemandu wisata. Mengingat medan yang cukup terjal dan berbahaya terutama untuk Goa Barat maka dalam menjadi pemandu wisata di kedua objek wisata tersebut diperlukan pelatihan dan keterampilan khusus.

(37)

89

Kemudian sarana pengadaan kapal wisata di objek wisata Pantai Logending juga diharapkan mampu mendongkrak pemasukan objek wisata dan mampu membuka peluang kerja baru bagi masyarakat. Kapal-kapal wisata tersebut dikemudikan oleh masyarakat sekitar mengingat keterbatasan pengelola di objek wisata Pantai Logending. Hal tersebut tentu menjadi peluang bagi masyarakat sekitar untuk membuka usaha di sektor pariwisata namun terhalang oleh keterbatasan modal dan alat.

2. Peningkatan prasarana di objek wisata

Disporawisata dalam pengembangan destinasi wisata juga melakukan peningkatan terhadap prasarana di objek wisata. Fokus peningkatan prasarana tersebut yakni membangun prasarana yang baru maupun memperbaiki prasarana yang telah rusak. Adapun peningkatan prasarana yakni seperti pembangunan pasar wisata dan taman di objek wisata Goa Jatijajar, pembangunan gerbang masuk dan taman di objek wisata Pantai Logending, dan pembangunan warung, taman, serta fasilitas bermain anak di objek wisata Pantai Karangbolong.

Pembangunan pasar wisata di objek wisata Goa Jatijajar merupakan salah satu wujud pengembangan destinasi wisata yang dilakukan oleh Disporawisata. Pembangunan pasar wisata tersebut juga memberikan kontribusi nyata terhadap upaya pengentasan kemiskinan. Pasar wisata tersebuttersebut membuka peluang usaha

(38)

90

baru bagi masyarakat sekitar objek wisata Jatijajar terutama untuk perempuan. Hal ini dikarenakan banyak perempuanmaupun ibu-ibu di desa yang tidak bekerja. Dengan adanya pasar wisata ini para perempuan yang sebelumnya tidak bekerja kini sudah punya pendapatan untuk meningkatkan perekonomian.

Pasar wisata tersebut terdiri dari 42 kios pedagang yang menjual berbagai oleh-oleh khas Kabupten Kebumen seperti berbagai kerajinan tangan, aneka baju, makanan khas Kebumen. Pemerintah Kabupaten Kebumen sengaja menempatkan pasar wisata tersebut di pintu keluar Goa Jatijajar dengan alasan agar wisatawan yang sudah menikmati objek wisata Goa Jatijajar langsung berada di pasar wisata tersebut dan harapannya tertarik untuk berbelanja disana. Untuk lebih jelasnya mengenai pasar wisata Goa Jatijajar dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Kemudian Disporawisata juga membangun warung, taman serta fasilitas bermain anak di objek wisata Pantai Karangbolong. Dibangunnya warung disekitar Pantai Karangbolong memiliki dua tujuan yang saling berkaitan. Pertama dengan adanya warung tersebut tentu membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berjualan sehingga mampu menambah penghasilan yang nantinya akan mampu mendorong pengentasan kemiskinan. Kedua, keberadaan warung-warung tersebut akan mampu memenuhi kebutuhan para wisatawan yang berkunjung seperti kebutuhan akan makanan, minuman, serta

(39)

91

tempat istirahat. Selanjutnya pembangunan taman dan fasilitas bermain anak bertujuan untuk menarik wisatawan dan membuat wisatawan yang datang menjadi betah dan berkenan berkunjung lagi di kemudian hari.

Apabila dikaitkan dengan pengertian kemiskinan secara umum dimana kemiskinan merupakan suatu kondisi masyarakat yang berada pada kondisi serba terbatas, baik dalam aksesbilitas pada faktor produksi, peluang/kesempatan berusaha, dan fasilitas hidup lainnya. Upaya Pemerintah Kabupaten Kebumen dengan membangun pasar wisata di objek wisata Goa Jatijajar, pengadaan kapal-kapal wisata di Pantai Logending setidaknya mampu mendorong pengentasan kemisknan di Kabupaten Kebumen dengan membuka lapangan pekerjaan dan usaha baru di bidang pariwisata.

b. Pelibatan masyarakat

Selain peningkatan sarana dan prasarana, pengembangan destinasi wisata juga mencakup pelibatan masyarakat dalam kepariwisataan. Adapun keterlibatan masyarakat dalam kepariwisataan di Kabupaten Kebumen yakni dengan menjadi Buruh Tak Terlatih (BTT), Mas dan Mbak Duta Wisata, dan ikut dalamkomunitas pariwisata.

1. Buruh Tak Terlatih (BTT)

Pengelola pada setiap objek wisata berjumlah enam orang, yang terdiri dari satu kepala pengelola dan lima staf. Jumlah pengelola tersebut terlalu sedikit untuk mengurusi objek wisata yang sedemikian

(40)

92

luasnya. Kemudian untuk membantu tugas pengelola Disporawisata mempekerjakan masyarakat sekitar objek wisata sebagai buruh tak terlatih (BTT). Buruh tak terlatih dalam setiap objek wisata ini berjumlah lima orang. Walaupun hanya berjumlah lima orang tetapi keberadaanya sangat membantu pengelola objek wisata terutama saat objek wisata ramai seperti musim liburan dan lebaran. Tugas utama dari BTT ini adalah membantu pengelolaan di objek wisata terutama untuk mengatasi permasalahan sampah yang ada di objek wisata.

Pengangkatan BTT tersebut selain untuk membantu tugas pengelola objek wisata juga sebagai upaya dari Disporawisata untuk melibatkan masyarakat sekitar dalam pengelolaan pariwisata.Dengan adanya BTT tersebut setidaknya ada kontribusi positif dari pariwisata terhadap pengentasan kemiskinan dengan memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat sekitar walaupun tidak terlalu signifikan. 2. Mas dan Mbak Duta Wisata

Disporawisata terus mendorong partisipasi masyarakat dalam kepariwisataan dengan mengadakan pemilihan Mas dan Mbak duta wisata.Tugas utama Mas dan Mbak duta wisata adalah sebagai agen perubahan, pelopor atau penggerak kesadaran pariwisata di Kabupaten Kebumen. Banyak event-event pariwisata di luar Kebumen yang diikuti oleh Mas dan Mbak duta wisata ini untuk untuk sebagi upaya untuk mempromosikan pariwisata di Kebumen.

(41)

93

Kemudian untuk memajukan pariwisata di Kebumen duta wisata membuat berbagai event di objek wisata untuk menarik para wisatawan. Bahkan duta wisata menjadi pelopor dibukanya Wisata Pentulu Indah di Karanggayam dan Bukit Langit di Karanganyar. Hal ini tentu perlu diapresiasi, terutama untuk dibukanya objek wisata pentulu indah karena Kecamatan Karanggayam merupakan Kecamatan dengan angka kemiskinan tertinggi di Kabupaten Kebumen. Dibukanya objek Wisata Pentulu Indah tersebut diharapkan akan meningkatkan peluang usaha masyarakat Karanggayam sehingga mampu mengurangi kemiskinan.

Kemudian pada tanggal 10 Juni 2017 duta wisata mengadakan acara “Indahnya Berbagi Bersama”. Acara tersebut bertujuan untuk mengumpulkan donasi bagi kaum dhuafa dan yatim piatu yang ada di Kabupaten Kebumen. Selain itu dalam acara tersebut juga diputar film “Eksotisme Tanah Lawet”, film garapan Mas dan Mbak Duta Wisata Kebumen yang menyuguhkan tentang keindahan pariwisata di Kabupaten Kebumen untuk mempromosikan pariwisata Kebumen. Acara tersebut berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp. 4.770.000,- yang akan dibagikan ke kaum dhuafa dan yatim piatu yang ada di Kabupaten Kebumen.

3. Komunitas Pariwisata

Selain menjadi Buruh Tak Terlatih dan ikut menjadi Mas dan Mbak Duta Wisata, keterlibatan masyarakat juga bisa dilakukan dengan

(42)

94

ikut dalam berbagai komunitas-komunitas pariwisata Kebumen. Adapun komunitas-komunitas pariwisata tersebut membantu memasarkan atau mempromosikan pariwisata yang ada di Kabupaten Kebumen.

Promosi pariwisata cukup penting dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui sektor pariwisata sangat bergantung pada banyaknya wisatawan yang berkunjung di objek wisata. Hal ini dikarenakan dengan semakin banyaknya wisatawan yang datang berwisata tentu uang yang dibelanjakan semakin banyak sehingga akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan pemerintah daerah. Sehingga sektor pariwisata mampu berkontribusi terhadap pengentasan kemiskinan di Kabupaten Kebumen.

Berbagai komunitas-komunitas pariwisata dan kelompok-kelompok sadar wisata mulai banyak terbentuk. Komunitas-komunitas tersebut seperti Kebumen Memotret, Kebumen Keren, dan Plesir Kebumen. Komunitas-komunitas tersebut giat memprosikan pariwisata Kabupaten Kebumen terutama melalui media sosial. Selain itu Disporawisata juga bekerjasama dengan komunitas Kebumen Memotret untuk membuat booklet yang berisi peta wisata lengkap dengan petunjuk jalan dan jarak tempuh.

(43)

95

Gambar 7. Salah satu keterlibatan masyarakat dalam promosi pariwisata Sumber: http//www.instagram.com/kebumenkeren

Seperti yang tertera, gambar diatas merupakan salah satu bentuk keterlibatan masyarakat dalam hal ini komunitas Kebumen Keren untuk memasarkan destinasi pariwisata di Kabupaten Kebumen melalui media sosial instagram. Gambar diatas diambil pada objek wisata Waduk Sempor.

Pengembangan destinasi wisata yang baik dan terencana akan mampu mencapai tujuan kepariwisataan, terutama untuk mengentaskan kemiskinan. Menurut Cooper, untuk mencapai destinasi wisata yang baik setidaknya harus memenuhi empat unsur sebagai berikut:

1. Atraksi(Attraction)

Atraksi adalah produk utama dari sebuah destinasi, atau singkatnya apa yang dijual oleh sebuah destinasi wisata tersebut. Atraksi sendiri berkaitan

(44)

96

dengan apa yang bisa dilihat dan dilakukan oleh wisatawan di destinasi tersebut.

2. Aksesibilitas(Accessibility)

Aksesibilitas berhubungan dengan sarana dan prasarana untuk memudahkan para wisatawan untuk menuju lokasi destinasi wisata. Hal-hal yang berkaitan dengan sarana untuk mencapai destinasi adalah akses jalan yang baik, papan penunjuk arah, dan ketersediaan sarana transportasi yang memadai untuk mencapai destinasi.

3. Amenitas (Amenity)

Amenitas adalah segala fasilitas pendukung untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan selama berada di destinasi. Amenitas ini berkaitan dengan ketersediaan sarana akomodasi seperti warung makan, tempat menginap, dan sarana umum seperti toilet, tempat ibadah, tempat istirahat (rest area), tempat parkir, tempat belanja, dan klinik bila diperlukan.

4. Ancilliary

Ancilliary berkaitan dengan adanya organisasi yang mengelola dan mengatur atas destinasi wisata tersebut. Singkatnya Ancilliaryini adalah pengelola yang mempunyai wewenang untuk mengambil kebijakan terkait keberadaan destinasi wisata.

Terkait pengembangan destinasi wisata yang dilakukan oleh Disporawisata setidaknya mampu memenuhi tiga dari empat unsur yang

(45)

97

harus ada pada destinasi wisata. adapun unsur-unsur yang sudah dipenuhi yakni atraksi, amenitas, dan ancilliary.

Pengembangan destinasi wisata oleh Disporawisata sudah mencakup unsur amenitas, dimana destinasi wisata di Kabupaten Kebumen mempunyai keindahan yang khas dan mengagumkan. Kemudian unsur amenitas juga sudah terpenuhi dengan baik, banyak warung, tempat istirahat, toilet, tempat ibadah, dan tempat belanja untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Selanjutnya unsur ancilliary dimana Pemerintah Kabupaten Kebumen melalui Disporawiata yang menjadi pengelola destinasi wisata mempunyai wewenang untuk mengambil kebijakan terkait destinasi wisata.

Unsur aksesibilitas merupakan unsur yang belum mampu dipenuhi dengan baik oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen. Akses jalan menuju destinasi wisata belum tertata dengan baik, kemudian papan penujuk arah objek wisata juga belum banyak terlihat, selanjutnya terkait sarana transportasi umum untuk mencapai destinasi wisata masih sulit ditemukan terutama pada destinasi wisata pantai.

Berkenaan dengan upaya pengentasan kemiskinan, pengembangan destinasi wisata mampu memberikan kontribusi terhadap usaha percepatan penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Kebumen dengan memberikan lapangan pekerjaan dan usaha baru di bidang pariwisata. Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 20 tahun 2012 tentang Percepatan penanggulangan kemiskinan, pengembangan destinasi wisata termasuk kedalam kelompok program penanggulangan kemiskinan

(46)

98

kelompok program-program lainnya yang baik secara langsung ataupun tidak langsung dapat meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat miskin. Hal ini karena pengembangan destinasi wisata secara tidak langsung akan meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat miskin dengan jalan pembangunan warung, pasar wisata, dan pengadaan sarana seperti perahu wisata yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

C. Hambatan Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam pengentasan Kemiskinan Melalui Sektor Pariwisata

Meskipun berbagai upaya untuk mengentaskan kemiskinan melalui sektor pariwisata telah dilakukan oleh Disporawisata Kabupaten Kebumen namun upaya-upaya tersebut belum dapat sepenuhnya berhasil dalam mengentaskan kemiskinan. Hal ini dikarenakan Disporawisata menemui berbagai hambatan dalam upayanya untuk mengentaskan kemiskinan melalui sektor pariwisata. Adapun hambatan-hambatan yang muncul dalam upaya untuk mengentaskan kemiskinan melalui sektor pariwisata adalah sebagai berikut:

1.Kurangnya Sumber Daya Manusia

Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kebumen dalam usahanya untuk mengentaskan kemiskinan melalui pariwisata terhambat akibat kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. Kurangnya SDM tersebut terjadi baik di tingkat Disporawisata sendiri maupun di tingkat pengelola objek wisata.

(47)

99

Adapun kurangnya sumber daya manusia terletak pada kualitas maupun kuantitasnya. Dilihat dari segi kualitas kurangnya sumber daya manusia terlihat pada kurangnya tenaga ahli di bidang pariwisata yang dimiliki oleh Disporawisata. Hal tersebut tentu sedikit banyak akan menghambat pengembangan pariwisata di Kabupaten Kebumen. Kualitas SDM yang baik di sektor pariwisata akan menghasilkan program maupun langkah-langkah yang revolusioner untuk pengembangan pariwisata yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kekhasan destinasi wisata itu sendiri. Dengan program maupun langkah-langkah yang revolusioner tadi akan mampu mencapai tujuan pariwisata yang salah satunya untuk mengurangi kemiskinan.

Kemudian dari segi kuantitas kurangnya SDM yang dimiliki oleh Disporawisata terlihat pada minimnya jumlah pengelola yang ada pada objek wisata. Satu objek wisata hanya dikelola oleh 5 sampai 6 pengelola dari Disporawisata yang dibantu oleh 5 sampai 6 dari masyarakat sekitar sebagai Buruh Tak Tetap (BTT). Sementara itu seharusnya objek wisata dikelola oleh minimal 10 orang yang juga berperan menjadi tenaga keamanan.

Kurangnya sumber daya manusia yang ada baik dari segi kaulitas maupun kuantitas tentu sedikit banyak akan berpengaruh terhadap lambannya pengembangan pariwisata di Kabupaten Kebumen. Apabila pengembangan pariwisata di Kabupaten Kebumen berjalan lambat tentu pengentasan kemiskinan yang diharapkan sebagai salah satu multiplayer

(48)

100

effect dari pariwisata akan sulit dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen.

2.Kurangnya anggaran dana

Upaya Pemerintah Kabupaten Kebumen melalui Disporawisata dalam mengentaskan kemiskinan melalui sektor pariwisata ini sedikit terhambat dengan kurangnya anggaran dana dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen sendiri. Kurangnya anggaran dana ini tentu akan berpengaruh terhadap pengembangan pariwisata dimana dalam usahanya untuk memajukan pariwisata tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit.

Kurangnya anggaran dana dalam sektor pariwisata ini akan sangat berpengaruh terhadap perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana di objek wisata serta peningkatan pelayanan terhadap para wisatawan. Sarana dan prasarana yang memadai di objek wisata akan menarik wisatawan untuk berkunjung. Sedangkan pelayanan yang baik di objek wisata akan membuat para wisatawan menjadi betah sehingga uang yang dibelanjakan juga akan lebih banyak.

Perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana menjadi agak terhambat dengan kurangnya anggaran dana ini, seperti diketahui sarana dan prasarana ini erat kaitannya dengan pembangunan fisik sehingga memerlukan dana yang tidak sedikit. Banyak objek wisata di Kabupaten Kebumen sarana dan prasarana yang dimiliki masih belum memadai, seperti di Pemandian Air Panas (PAP) Krakal yang lahan parkirnya sangat sempit dan sarana bermain anak banyak yang sudah rusak.

(49)

101

Seperti yang tertera dalam rencana strategis Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (sekarang Disporawisata) tahun 2016 anggaran untuk peningkatan pembangunan sarana dan prasarana pariwisata sebesar Rp 500.000.000,-. Akan tetapi yang diterima oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (sekarang Disporawisata) sekitar Rp 300.000.000,-.

3.Kurangnya dukungan dari masyarakat dalam pengembangan pariwisata

Keberhasilan pengembangan pariwisata di suatu daerah akan tercipta apabila antar stakeholder pariwisata tersebut saling mendukung satu sama lain. Seperti diketahui bahwasanya sinergitas antar stakeholder pariwisata akan berkontribusi cukup besar dalam mencapai tujuan pengembangan kepariwisataan. Bentuk sinergitas antar stakeholder pariwisata tersebut dapat berupa saling memberi maupun evaluasi untuk kebijakan-kebijakan yang akan dibuat dalam pengembangan maupun pengelolaan pariwisata.

Pemerintah Kabupaten Kebumen melalui Disporawisata sebagai pengelola pariwisata di Kabupaten Kebumen harus mampu menciptakan sinergitas dengan stakeholder lain dalam upayanya mengembangkan pariwisata untuk mengentaskan kemiskinan. Salah satu stakeholder yang berhubungan dengan upaya tersebut tentu saja adalah masyarakat sekitar objek wisata. Masyarakat inilah yang nantinya akan mendapat manfaat dari adanya kegiatan wisata di daerahnya.

(50)

102

Akan tetapi masih banyak ditemukan masyarakat yang belum sepenuhnya mendukung pengembangan dan pengelolaan pariwisata di daerah mereka oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen. Masyarakat seakan tidak terlalu mendukung akan pengelolaan dan pengembangan pariwisata oleh Pemerintah Daerah. Melihat realitas tersebut upaya Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam mengentaskan kemiskinan melalui sektor pariwisata ini justru mendapat hambatan dari masyarakat sendiri.

Hambatan dari masyarakat tersebut lebih disebabkan oleh pola pikir masyarakat itu sendiri. Pola pikir masyarakat masih lebih mementingkan profit instan daripada profit jangka panjang yang disebabkan oleh multiplier effect yang ditimbulkan oleh pariwisata.

Sebagai gambaran pola pikir masyarakat yang lebih mementingkan profit instan adalah ketika objek wisata ramai seperti saat hari raya maupun liburan banyak masyarakat yang membuka usaha jasa parkir sendiri dengan tarif yang berkali lipat dari tarif normal. Ini tentu saja akan membuat para wisatawan yang tidak terlalu senang dengan perlakuan yang demikian. Hal ini tentu justru akan menimbulkan efek jera bagi para wisatawan untuk berkunjung ke objek wisata tersebut.

Di objek wisata Pantai Suwuk misalnya, warga masyarakat sekitar membuka pintu masuk sendiri dari pintu masuk yang dikelola oleh pemda. Tarif masuk yang diberikanpun lebih murah dari apa yang ditawarkan oleh pengelola. Hal ini tentu saja akan merugikan pihak pengelola objek wisata Pantai Suwuk yakni Pemerintah Kabupaten

(51)

103

Kebumen. Target pendapatan yang dibebankan kepada objek wisata Pantai Suwuk tentu menjadi agak sulit dicapai. Apabila target pendapatan tidak dapat tercapai tentu sedikit banyak akan berakibat pada Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Kemudian di objek wisata Pantai Petanahan justru kerap kali terjadi aksi premanisme oleh masyarakat setempat. Aksi premanisme tersebut kerap kali terjadi apabila objek wisata sedang ramai. Selain membuka pintu masuk sendiri, masyarakat juga tidak segan untuk memboikot para rombongan wisatawan untuk masuk melalui pintu yang mereka buka. Padahal di Pantai Petanahan pihak pengelola memberikan kesempatan masyarakat untuk mengelala parkir di objek wisata melalui karang taruna.

Selanjutnya dari pengembangan desa wisata juga ada hambatan yang justru datang dari masyarakat sendiri. Pengembangan desa wisata yang diharapkan mampu menjadi ujung tombak dalam usaha mengentaskan kemiskinan melalui sektor pariwisata juga mendapat hambatan dari masyarakat sendiri. Ada beberapa hambatan yang dari masyarkat yang menyebabkan pengembangan desa wisata belum berjalan dengan maksimal. Pertama yakni pola pikir masyarakat yang masih beranggapan pada ticket oriented, pola pikir ini harus segera diubah karena sektor pariwisata khususnya desa wisata sangat luas cakupannya untuk menghasilkan keuntungan finansial selain dari tiket. Dalam desa wisata

Gambar

Tabel 5. Jumlah penduduk miskin per kecamatan di Kabupaten Kebumen
Tabel  6.  Jumlah  Pengunjung  di  Sembilan  Objek  Wisata  Yang  Dikelola oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen Tahun 2016
Tabel  7.  Target  dan  realisasi  Pendapatan  Asli  Daerah  sektor  pariwisata tahun 2016  No  Tempat wisata  Target  Pendapatan  Asli Daerah  (Rupiah)  Realisasi (Rupiah)  Presentase (%)  1  Waduk Sempor  148,775,000  186,083,000  125.08%  2  Waduk  Wada
Gambar  4.  Struktur  organisasi  Dinas  Kepemudaan  dan  Olahraga  dan  Parwisata Kabupaten Kebumen
+4

Referensi

Dokumen terkait

dalam KUHP, menurut UU Narkotika tenggang waktu seorang dapat dikatakan recidive adalah 3 (tiga) tahun setelah dia selesai menjalani hukuman yang terdahulu, dan lebih

Adapun dalam penyusunan dan mengimplementasikan strategi komunikasi , diterapkan untuk mempertahankan citra sebagai ‘The Unique Family Shopping Mall’ ini memakan proses yang

Aktivitas kendaraan pada Area Sukun dan Terminal Terboyo yang menghasilkan emisi terjadi pada saat hot start dan cold start, kendaraan bergerak, ketika waktu

1) Pengembangan perangkat lunak ajar persamaan non linier dengan metode newton raphson telah dilakukan melalui enam tahap, yaitu: (1) melakukan analisis kebutuhan, (2)

Tanaman sirih merah tumbuh menjalar seperti sirih hijau, batangnya bersulur dan beruas dengan setiap buku tumbuh bakal akar, daunnya bertangkai membentuk

Dalam Aplikasi ini memanfaatkan beberapa fitur yang dapat memudahkan pengguna untuk mencari informasi donor darah, seperti fitur layanan informasi geografis dengan

Kompetensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja UMKM, hal ini menjelaskan bahwa jika adanya peningkatan kompetensi para SDM UMKM maka

HUBUNGAN ANTARA PARASOCIAL RELATIONSHIP DENGAN SELF-ESTEEM PADA PENGGEMAR K-POP : Studi Korelasional pada Peserta Gathering GOT7 Bandung.. Universitas Pendidikan Indonesia