• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum Keuangan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum Keuangan"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i Rekomendasi Menteri Keuangan tentang Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Tahun 2011

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

DAFTAR GRAFIK DAN TABEL

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

1.2 RUANG LINGKUP PERMASALAHAN 1.3 MAKSUD DAN TUJUAN

1.4 SISTEMATIKA

BAB II TINJAUAN PELAKSANAAN REKOMENDASI PENDANAAN

DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN 2009

2.1 LANDASAN HUKUM

2.2 PENGGUNAAN REKOMENDASI MENTERI KEUANGAN

2.3 GAMBARAN DAN ANALISIS ATAS PELAKSANAAN REKOMENDASI MENTERI KEUANGAN TAHUN 2009

BAB III FORMULASI KESEIMBANGAN PENDANAAN DI DAERAH UNTUK PERENCANAAN DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN TA. 2011

3.1 VARIABEL DAN DATA YANG DIGUNAKAN 3.2 SUMBER DAN CUT-OFF DATA

3.3 FORMULA PERHITUNGAN KESEIMBANGAN PENDANAAN DI DAERAH 3.4 HASIL FORMULASI KESEIMBANGAN PENDANAAN DI DAERAH

BAB IV REKOMENDASI KESEIMBANGAN PENDANAAN DI DAERAH DALAM RANGKA PERENCANAAN ALOKASI DANA DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN TAHUN 2011

(3)

ii Rekomendasi Menteri Keuangan tentang Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Tahun 2011

Dalam rangka melaksanakan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan pasal 21 ayat (2) dan pasal 50 ayat (2), Kementerian Keuangan menyusun dan menerbitkan Rekomendasi Menteri Keuangan tentang keseimbangan pendanaan di daerah dalam rangka perencanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan yang disusun dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara, keseimbangan pendanaan di daerah, dan kebutuhan pembangunan di daerah.

Tujuan rekomendasi ini adalah untuk dapat dijadikan pedoman dalam perencanaan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan tahun anggaran 2011 dalam rangka mewujudkan transparansi dan akuntabilitas, serta proporsional dalam pengalokasian dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan; meningkatkan efisiensi, efektivitas dalam pengelolaan dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan; memberikan masukan kepada kementerian/lembaga di dalam merencanakan lokasi dan alokasi dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan agar tepat sasaran dan tidak terkonsentrasi di daerah tertentu.

Rekomendasi ini menyajikan peta keseimbangan pendanaan di daerah, dijadikan sebagai indikator umum dan digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi setiap K/L untuk mengalokasikan dana dekonsentrasi/tugas pembantuan dalam perencanaan lokasi dan alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk Tahun Anggaran 2011, di samping menggunakan indikator teknis yang ditetapkan oleh masing-masing Kementerian/Lembaga (K/L)

Keseimbangan pendanaan di daerah disusun dengan mengaitkan hubungan antara Kemampuan Fiskal Daerah (KFD) dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Berdasarkan hubungan tersebut, daerah yang direkomendasikan untuk mendapat alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan adalah:

(4)

iii Rekomendasi Menteri Keuangan tentang Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Tahun 2011

Demikian disampaikan untuk dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam perencanaan lokasi dan alokasi dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan tahun anggaran 2011, sehingga dapat memberi dampak positif bagi perbaikan pengelolaan Keuangan Negara di masa yang akan datang. Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

MENTERI KEUANGAN

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan mengamanatkan bahwa dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan hanya digunakan untuk mendanai program/kegiatan yang menjadi urusan Pemerintah Pusat. Oleh karena itu, Kementerian/Lembaga wajib menyusun program/kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan sesuai Renstra-K/L dan Rencana Kerja Pemerintah yang berpedoman pada ketentuan Peraturan Perundang-undang mengenai pembagian urusan pemerintahan.

Sebagaimana diketahui, Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dalam pasal 21 ayat (2) dan pasal 50 ayat (2) jo Peraturan Menteri Keuangan nomor 156/PMK.07/2008 pasal 8, 9, dan 10 mengamanatkan bahwa rencana lokasi dan alokasi program dan kegiatan yang akan dilimpahkan/ditugaskan disusun dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara, keseimbangan pendanaan di daerah, dan kebutuhan pembangunan daerah. Berkaitan dengan hal tersebut, diperlukan adanya dasar pertimbangan/indikator yang terukur dalam perencanaan lokasi dan alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan.

Peta keseimbangan pendanaan di daerah disusun dan ditetapkan setiap tahun dengan berdasarkan kondisi terkini yang meliputi kemampuan fiskal dan kesejahteraan yang direpresentasikan dalam bentuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Informasi tersebut didapat dari pengolahan atas data terakhir yang berasal dari sumber resmi dan valid. Perhitungan peta keseimbangan pendanaan di daerah tersebut disusun berdasarkan formulasi yang bersifat kuantitatif.

(6)

dan alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan tahun anggaran 2010. Berdasarkan data atas pelaksanaan rekomendasi menteri keuangan tentang keseimbangan pendanaan tahun 2009 untuk T.A 2010, sebagian besar Kementerian/Lembaga telah menggunakan rekomendasi tersebut sebagai salah satu pertimbangan dalam penentuan lokasi dan alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan tahun 2010.

Dengan demikian, diharapkan untuk perencanaan lokasi dan alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan tahun 2011, Kementerian/Lembaga dapat lebih memperhatikan rekomendasi ini dengan harapan agar pengalokasian dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan lebih transparan, akuntabel, proporsional, serta tidak terkonsentrasi di daerah tertentu, sehingga dapat tercapai hasil yang lebih baik.

1.2. Ruang Lingkup Permasalahan

Rekomendasi Menteri Keuangan ini membahas permasalahan sebagai berikut: - Analisis atas pelaksanaan keseimbangan pendanaan dekonsentrasi dan tugas

pembantuan tahun 2009

- Formulasi peta keseimbangan pendanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan tahun 2010 untuk perencanaan lokasi dan alokasi pendanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan tahun anggaran 2011 berdasarkan data dan kondisi terkini.

1.3. Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan rekomendasi Menteri Keuangan ini adalah untuk: 1. Mewujudkan transparansi dan akuntabilitas, serta proporsional dalam

pengalokasian dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan;

(7)

3. Memberikan masukan kepada kementerian/lembaga di dalam merencanakan lokasi dan alokasi dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan agar tepat sasaran.

1.4. Sistematika

Rekomendasi ini terdiri dari empat bab dengan sistematika sebagai berikut:

Bab I Penjelasan mengenai latar belakang, ruang lingkup permasalahan, maksud dan tujuan, serta sistematika rekomendasi ini;

Bab II Penjelasan mengenai landasan hukum, penggunaan rekomendasi menteri keuangan, dan gambaran serta analisis atas pelaksanaan Rekomendasi Menteri Keuangan tahun 2009.

Bab III Menjelaskan tentang formulasi keseimbangan pendanaan di daerah untuk perencanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan T.A. 2011

(8)

BAB II

TINJAUAN HUKUM SERTA GAMBARAN

PELAKSANAAN REKOMENDASI

PENDANAAN DEKONSENTRASI DAN TUGAS

PEMBANTUAN 2009

2.1. Landasan Hukum

Landasan hukum penyusunan Rekomendasi Menteri Keuangan yang berkaitan dengan keseimbangan pendanaan dekonsentrasi/tugas pembantuan ini yaitu:

1. Undang Undang 17 Tahun 2003tentang Keuangan Negara

a. Pasal 3 ayat (1)

Keuangan Negara dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Oleh karena itu, dana dekonsenstrasi dan tugas pembantuan sebagai bagian dari keuangan negara harus dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut.

b. Bagian Penjelasan Butir (5) mengenai Kekuasaan atas Pengelolaan Keuangan

Negara

(9)

mekanisme checks and balances serta untuk mendorong upaya peningkatan profesionalisme dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan.

Sub bidang pengelolaan fiskal meliputi fungsi-fungsi pengelolaan kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro, penganggaran,administrasi perpajakan, administrasi kepabeanan, perbendaharaan, dan pengawasan keuangan. Terkait dengan fungsi pengelolaan kebijakan fiskal dan penganggaran, Menteri Keuangan mempunyai kewenangan untuk memberi bahan pertimbangan/rekomendasi kepada kementerian/lembaga dalam perencanaan lokasi dan alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan.

2. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan

a. Pasal 21 ayat (2) dan Pasal 50 ayat (2)

Rencana lokasi dan anggaran untuk program dan kegiatan yang akan didekonsentrasikan/ditugaskan disusun dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara, keseimbangan pendanaan di daerah, dan kebutuhan pembangunan daerah.”

b. Penjelasan Pasal 21 Ayat (2) dan Pasal 50 ayat (2) tersebut adalah:

Kemampuan keuangan negara dimaksudkan bahwa pengalokasian

disesuaikan dengan kemampuan APBN dalam mendanai urusan pemerintah pusat melalui bagian anggaran kementerian/lembaga.

Keseimbangan pendanaan di daerah dimaksudkan bahwa pengalokasian mempertimbangkan kemampuan fiskal daerah yang terdiri dari besarnya transfer ke daerah dan kemampuan keuangan daerah.

Kebutuhan pembangunan daerah dimaksudkan bahwa pengalokasian

(10)

3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan

a. Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10

 Keseimbangan pendanaan dilakukan secara proporsional agar sebaran alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan tidak terkonsentrasi pada daerah tertentu.

 Pengalokasian dana dekonsentrasi dan/atau tugas pembantuan mempertimbangkan Kemampuan Fiskal Daerah yang terdiri dari besarnya transfer ke daerah dan kemampuan keuangan daerah.

 Hasil rumusan keseimbangan pendanaan di daerah dimaksud dituangkan dalamRekomendasi Menteri Keuangan.

 Rekomendasi Menteri Keuangan menjadi dasar pertimbangan bagi kementerian/lembaga dalam rangka perencanaan lokasi dan anggaran kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan.

 Rekomendasi Menteri Keuangan disampaikan kepada kementerian/ lembaga dengan tembusan kepada Kepala Bappenas selambat-lambatnya bulanMaret sebelum penyusunan Renja-KL.

2.2. Penggunaan Rekomendasi Menteri Keuangan

(11)

tersebut, akan disajikan daftar daerah yang diprioritaskan untuk mendapat alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan pada lampiran rekomendasi ini sebagai indikator umum bagi kementerian/lembaga.

Setelah mempertimbangkan indikator umum, dalam perencanaan lokasi dan alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan, kementerian/lembaga menggunakan indikator teknis yang disusun oleh masing-masing kementerian/lembaga. Dengan adanya hubungan antara Menteri Keuangan dan Menteri/Pimpinan Lembaga tersebut maka dapat terwujud sinergi antara COO dan CFO dalam perencanaan alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan sebagaimana terlihat pada Gambar 1 di bawah ini. Diharapkan rekomendasi ini untuk diterapkan oleh kementerian/lembaga dalam perencanaan lokasi dan alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan sebagaimana yang disajikan pada Bab IV.

Gambar 1

Hubungan antara COO dan CFO dalam

(12)

2.3. Gambaran dan Analisis atas Pelaksanaan Rekomendasi Menteri Keuangan Tahun 2009

2.3.1 Gambaran Kelompok Daerah Prioritas Rekomendasi Tahun 2009

Sebagaimana dimaklumi, dalam Rekomendasi Menteri Keuangan Tahun 2009 disampaikan gambaran umum tentang peta Keseimbangan Pendanaan di Daerah Tahun 2009 yang diukur dari keterkaitan Kemampuan Fiskal di Daerah (KFD) yang dicerminkan dari besarnya transfer daerah dan kemampuan keuangan daerah, dengan tingkat kesejahteraan masyarakat di daerah yang dicerminkan dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Daerah. Rekomendasi Menteri Keuangan tersebut dimaksudkan agar perencanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2010 dilakukan secara proporsional agar sebaran alokasi dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan tidak terkonsentrasi pada daerah tertentu.

Salah satu butir pokok-pokok Rekomendasi Menteri Keuangan Tahun 2009 adalah merekomendasikan beberapa daerah yang diprioritaskan untuk mendapatkan perhatian sebagai lokasi/daerah penerima alokasi dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Tahun 2010. Tabel 1 di bawah ini menggambarkan lokasi yang menjadi prioritas pada tahun 2010.

Tabel 1

Kelompok Daerah Berdasarkan Tingkatan Prioritas Sesuai dengan Rekomendasi Menteri Keuangan tentang

Keseimbangan Pendanaan Tahun 2009 Daerah Jumlah Daerah

Pertimbangan Tingkatan Kelompok Provinsi Kab/Kota

(1) (2) (3) (4) (5)

Prioritas I III 14 143 Daerah yang mempunyai KFD dan IPM di bawah rata-rata nasional

(13)

Daerah Jumlah Daerah

Pertimbangan Tingkatan Kelompok Provinsi Kab/Kota

(1) (2) (3) (4) (5)

Non Prioritas

I 5 77 Daerah yang mempunyai KFD dan IPM di atas rata-rata Nasional

Non Prioritas

IV 3 75 Daerah yang mempunyai KFD di atas rata-rata Nasional, namun mempunyai IPM di bawah rata-rata Nasional

Jumlah Daerah 33 451

Dari gambaran Tabel 1 di atas, menunjukkan Daerah Kelompok III dengan jumlah sebanyak 14 Provinsi dan 143 Kabupaten/Kota merupakan daerah Prioritas I, serta Daerah Kelompok II dengan jumlah sebanyak 11 Provinsi dan 156 Kabupaten/Kota adalah daerah Prioritas II, sedangkan sisanya yaitu Daerah Kelompok I dan Daerah Kelompok IV dengan jumlah sebanyak 8 Provinsi dan 152 Kabupaten/Kota tidak termasuk daerah yang diprioritaskan sebagai lokasi/daerah penerima alokasi dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Tahun 2010.

2.3.2 Analisis Pelaksanaan Rekomendasi Menteri Keuangan Berdasarkan Alokasi Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Tahun 2010

Berdasarkan data alokasi Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2008-2010 sebagaimana tercantum dalam tabel 2, pagu anggaran Dana Dekonsentrasi Tahun Anggaran 2010 adalah sebesar Rp. 31,504 miliar atau mengalami penurunan sebesar 8,58% dibandingkan dengan Tahun Anggaran 2009 yaitu sebesar Rp 34,459 miliar, dengan distribusi alokasi sebagai berikut :

(14)

 Untuk Pemerintah Kabupaten/Kota dialokasikan sebesar Rp. 26.295 miliar atau 83,47% dari pagu anggaran atau mengalami penurunan sebesar 11,47% dibandingkan dengan Tahun Anggaran 2009.

Sedangkan pagu anggaran untuk Dana Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2010 sebesar Rp. 7.318 miliar atau mengalami penurunan sebesar 54,10% dibandingkan dengan Tahun Anggaran 2009 yaitu sebesar Rp 15.943 miliar, dengan distribusi alokasi sebagai berikut :

 Untuk Pemerintah Provinsi dialokasikan sebesar Rp. 1.901 miliar atau 25,98% dari pagu anggaran atau terjadi peningkatan sebesar 101,56% dibandingkan dengan alokasi Tahun Anggaran 2009, dan ;

 Untuk Pemerintah Kabupaten/Kota dialokasikan sebesar Rp. 5.417 miliar atau 74,02% dari pagu anggaran atau mengalami penurunan sebesar 15,02% dibandingkan dengan alokasi Tahun Anggaran 2009.

Besaran pagu anggaran dan distribusi alokasi Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan dalam Tahun Anggaran 2008-2010 dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2

(15)

Dari data besaran pagu anggaran dan distribusi alokasi dana Dekonsentrasi dan dana Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2008-2010 sebagaimana tersebut di atas, bila dikaitkan dengan daerah yang direkomendasikan sebagai daerah prioritas, maka besaran alokasi dana Dekonsentrasi dan dana Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2010 pada daerah prioritas sebagian besar

telah sejalan dengan Rekomendasi Menteri Keuangan Tahun 2009. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4 di bawah ini.

Tabel 3

Tabel Proporsi Alokasi Dana Dekonsentrasi Tahun Anggaran 2008-2010 Pada Daerah Prioritas dan Daerah Non Prioritas

Sumber data : DJA, Kementerian Keuangan

*) Kelompok daerah prioritas dan non prioritas berdasarkan Rekomendasi Tahun 2009

(16)

Daerah berdasarkan Rekomendasi Menteri Keuangan Tahun 2009 dapat ditunjukan secara jelas pada Gambar 2 di bawah ini

Gambar 2

Perbandingan Proporsi Alokasi Dana Dekonsentrasi Tahun Anggaran 2008-2010

Per Kelompok Daerah Sesuai Rekomendasi MK Tahun 2009

(17)

proporsi alokasi terutama pada daerah prioritas di beberapa Pemerintah Kabupaten/Kota.

Tabel 4

Tabel Proporsi Alokasi Dana Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2008-2010 Pada Daerah Prioritas dan Daerah Non Prioritas

Sumber data : DJA, Kementerian Keuangan

*) Kelompok daerah prioritas dan non prioritas berdasarkan Rekomendasi Tahun 2009

(18)

Gambar 3

Perbandingan Proporsi Alokasi Dana Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2008-2010

Per Kelompok Daerah Sesuai Rekomendasi MK Tahun 2009

(19)

BAB III

FORMULASI KESEIMBANGAN PENDANAAN

DI DAERAH UNTUK PERENCANAAN

DEKONSENTRASI

DAN TUGAS PEMBANTUAN TA. 2011

3.1. Variabel Yang Digunakan

Keseimbangan Pendanaan di Daerah diformulasikan dari 2 (dua) jenis variabel umum, yaitu Variabel Kemampuan Fiskal Daerah (KFD) dan Variabel Pembangunan di daerah.

A. Variabel Kemampuan Fiskal Daerah (KFD)

KFD menggambarkan kemampuan keuangan daerah dan besarnya dana transfer ke daerah. Kemampuan Keuangan Daerah meliputi Pendapatan Asli daerah (PAD) dan lain-lain pendapatan yang sah, sedangkan dana transfer ke daerah meliputi Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Otonomi Khusus, dan Dana Penyesuaian.

Selanjutnya KFD harus dapat menggambarkan fiscal space daerah, yaitu gambaran dana yang dapat digunakan oleh pemerintah daerah untuk melakukan pembagunan dan pelayanan masyarakat di daerahnya secara leluasa dan fleksibel. Oleh karena itu, total kemampuan keuangan daerah dan besarnya dana transfer daerah yang diterima daerah harus dikurangi dengan belanja PNSD.

B. Variabel Pembangunan di Daerah

Indikator yang digunakan dalam mengukur Variabel Pembangunan di daerah adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dengan alasan:

(20)

2. IPM digunakan sebagai salah satu ukuran kinerja daerah, khususnya dalam hal evaluasi proses pembangunan sumber daya manusianya.

3. IPM menjelaskan tentang bagaimana manusia mempunyai kesempatan untuk mengakses hasil dari suatu proses pembangunan, sebagai bagian dari haknya seperti dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan.

4. IPM ini belum tentu mencerminkan kondisi sesungguhnya, namun, untuk saat ini merupakan satu-satunya indikator yang dapat digunakan untuk mengukur pembangunan kualitas hidup manusia.

Menurut UNDP IPM meliputi 4 komponen indikator:

1. Angka melek huruf penduduk dewasa: menunjukkan jumlah penduduk dewasa yang dapat membaca dan menulis.

2. Rata-rata lama sekolah: menunjukkan rata-rata lamanya pendidikan formal yang pernah dijalani oleh penduduk dewasa.

3. Angka harapan hidup:menunjukkan perkiraan usia rata-rata penduduk. 4. Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebagai indikator

yang menunjukkan kesejahteraan masyarakat.

Gambar 4

(21)

3.2. Sumber, dan Cut-Off Data

Data PAD, Lain-lain Pendapatan yang Sah, DAU, DAK, DBH, Dana Otsus, Dana Penyesuaian, dan Belanja PNSD bersumber dari Database Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Departemen Keuangan, sedangkan data IPM, Jumlah Penduduk, dan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Cut-off untuk seluruh data yang digunakan dalam formulasi keseimbangan pendanaan di daerah adalah data tahun 2009 kecuali data untuk tahun tersebut tidak tersedia, maka digunakan data tahun 2008. Terhadap daerah pemekaran tahun 2008 dan 2009, menggunakan data dari daerah induk.

3.3. Formulasi Perhitungan Keseimbangan Pendanaan di Daerah

Langkah-langkah formulasi keseimbangan pendanaan adalah sebagai berikut:

1. Menentukan Indeks Kemampuan Fiskal Daerah:

a. Menghitung besaran transfer daerah (jumlah dana perimbangan: DAU, DAK, DBH Pajak, DBH SDA, dan Dana Otsus).

b. Menghitung kemampuan keuangan daerah (jumlah PAD dan Lain-lain Pendapatan yang sah dikurangi Belanja PNSD).

c. Menentukan Kemampuan Fiskal Daerah (KFD) yang merupakan hasil penjumlahan dana transfer daerah dan kemampuan keuangan daerah.

d. Menghitung KFD per kapita yang didapat dari KFD dibagi dengan jumlah penduduk.

e. Menghitung KFD Riil dengan memperhitungkan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) sebagai proxy perbedaan tingkat harga antar daerah.

(22)

g. Memperoleh Peta Keseimbangan Pendanaan antar daerah yang menjadi dasar dalam rekomendasi penentuan alokasi kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.

2. Mengkaitkan KFD dengan IPM:

a. Menghitung besarnya perbandingan KFD daerah terhadap rata-rata KFD Nasional sehingga menghasilkan daerah yang berada di atas dan di bawah rata-rata nasional.

b. Menghitung besarnya perbandingan IPM daerah terhadap rata-rata IPM Nasional sehingga menghasilkan daerah yang berada di atas dan di bawah rata-rata nasional.

c. Hasil kedua perbandingan KFD dan IPM tersebut di atas berupa 4 kelompok daerah sebagai berikut:

 Kelompok daerah yang mempunyai KFD dan IPM di atas rata-rata nasional

 Kelompok daerah yang mempunyai KFD di bawah rata-rata nasional namun IPM di atas rata-rata nasional.

 Kelompok daerah yang mempunyai KFD dan IPM di bawah dari rata-rata nasional.

 Kelompok daerah yang mempunyai KFD di atas rata-rata nasional namun IPM di bawah rata-rata nasional.

Alur pikir formulasi keseimbangan pendanaan seperti terlihat dalam gambar

(23)

Gambar 5

Alur Pikir Formulasi Keseimbangan Pendanaan di Daerah

3.4. Hasil Formulasi Keseimbangan Pendanaan di Daerah

(24)

BAB IV

REKOMENDASI KESEIMBANGAN

PENDANAAN DI DAERAH DALAM RANGKA

PERENCANAAN ALOKASI DANA

DEKONSENTRASI DAN TUGAS

PEMBANTUAN TAHUN 2011

Pokok-pokok rekomendasi pendanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan tahun 2011 adalah sebagai berikut :

1. Indikator umum dicerminkan dari hubungan antara KFD dengan IPM serta digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan lokasi/daerah penerima alokasi dana dekonsentrasi/tugas pembantuan.

2. Berdasarkan point 1, bahwa dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan direkomendasikan untuk diprioritaskan pada:

a. Prioritas I: Daerah yang mempunyai KFD dan IPM di bawah rata-rata nasional (lampiran IIA dan IIB)

b. Prioritas II: Daerah yang mempunyai KFD dibawah rata-rata nasional namun mempunyai IPM di atas rata-rata nasional (lampiran IIIA dan IIIB). 3. Kementerian/Lembaga menyusun indikator teknis untuk menentukan besaran

Gambar

Gambar 1
Tabel 1
Tabel 2
Tabel Proporsi Alokasi Dana Dekonsentrasi Tahun Anggaran 2008-2010Pada Daerah Prioritas dan Daerah Non Prioritas
+6

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

KETIGA : Dengan berlakunya Keputusan Menteri Keuangan ini, maka Keputusan Menteri Keuangan Nomor 543/KMK.010/2004 tentang Pelimpahan Wewenang Kepada Kepala Badan Pengkajian

LAMPIRAN V PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 169/PMK.07/2008 TENTANG TATA CARA PENYALURAN HIBAH KEPADA PEMERINTAH DAERAH. MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA..

pinjaman atau hibah sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 35/KMK.07/2003 tentang Perencanaan, Pelaksanaan/ Penatausahaan dan Pemantauan Penerusan Pinjaman

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor

(1) Alokasi Definitif BPHTB bagian Pemerintah Pusat yang dibagikan secara merata kepada seluruh kabupaten dan kota Tahun Anggaran 2009 merupakan revisi atas Peraturan Menteri

1. Mengkoordinasikan kegiatan keuangan inklusif dengan kementerian/lembaga terkait. Melakukan koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait dalam perencanaan dan pelaksanaan program

Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang menyusun dan menyampaikan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga (LKKL) meliputi Laporan

Dalam rangka pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 57/KMK.05/2007 tentang Pengelolaan Rekening Milik Kementerian Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja dan Peraturan