ISBN: 978-602-71803-1-4
Prosiding
Seminar Nasional Seri Ke-5
MENUJU MASYARAKAT
MADANI DAN LESTARI
Yogyakarta, 16 Desember 2015
Editor: Prof. Akhmad Fauzy, S.Si., M.Sc., Ph.D.
Dr. Jaka Sriyana
Dr. Yulianto Purwono Prihatmaji
PROSIDING SEMINAR NASIONAL
MENUJU MASYARAKAT MADANI DAN LESTARI
Prosiding ini diterbitkan 1 (satu) kali setiap tahun oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM UII) dalam rangka diseminasi penelitian terkait dengan Rencana Induk Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (RIPPM) 2015-2018 Universitas Islam Indonesia dengan 7 tema unggulan sebagai berikut:
1. Pengembangan Model Peningkatan Kualitas Hidup Islami
2. Sistem Penyelenggaraan Negara Anti Korupsi dan Berbasis Keadilan 3. Pengembangan Wirausaha Industri Kreatif berbasis Syariah
4. Pengembangan Kawasan Permukiman yang Terintegrasi, Hijau dan Tanggap Bencana 5. Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan dan Good
Governance
6. Pengembangan Teknologi Kesehatan untuk Pencegahan, Diagnostic dan Terapeutik 7. Pengembangan Minyak Atsiri dan Fitofarmaka untuk Peningkatan Kesehatan
Diharapkan melalui penerbitan prosiding ini dapat terwujud berbagai alternatif solusi pengembangan kehidupan masyarakat yang madani dan lestari di Indonesia.
Pelindung : Rektor UII
Penanggungjawab : Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UII
Editor : Akhmad Fauzy
Jaka Sriyana
Yulianto Purwono Prihatmaji Redaksi Pelaksana : Feris Firdaus
Sumarno
Ronny Martin Saputra
Alamat Redaksi : DPPM UII, Kampus Terpadu, Jl. Kaliurang km.14,5 Yogyakarta 55584 Telp.(0274)898444 Fax.(0274)898459
Penerbit : Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM UII)
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah, Prosiding Seminar Nasional Seri ke-5 Menuju Masyarakat Madani dan Lestari dapat diterbitkan. Prosiding ini diterbitkan 1 (satu) kali setiap tahun oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM UII) dalam rangka diseminasi hasil penelitian yang sesuai dengan Rencana Induk Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (RIPPM) 2015-2018 Universitas Islam Indonesia. Diharapkan pada tahun 2015 melalui penerbitan prosiding ini dapat terwujud berbagai alternatif solusi pengembangan kehidupan masyarakat yang madani dan lestari di Indonesia.
Acara seminar nasional ini terlaksana berkat dukungan dan kerjasama yang kooperatif banyak pihak. Oleh sebab itu DPPM UII mengucapkan banyak terimakasih kepada Presiden Direktur PT Sido Muncul, Irwan Hidayat, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Dr. Muhammad Dimyati, Rektor Universitas Islam Indonesia, dan segenap instansi terkait lainnya serta semua pemakalah yang turut serta dalam acara seminar nasional ini.
Jumlah makalah yang masuk ke panitia adalah 83 makalah. Setelah melalui proses review dan editing maka makalah yang lolos untuk diterbitkan dalam prosiding ini berjumlah 56 makalah. Makalah ini berasal dari berbagai kalangan seperti peneliti, dosen, mahasiswa pascasarjana, dan instansi pemerintah.
Harapan kami selanjutnya semoga Prosiding Seminar Nasional Seri ke-5 Menuju Masyarakat Madani dan Lestari ini dapat bermanfaat bagi peningkatan kehidupan masyarakat di Indonesia. Atas kerjasama semua pihak kami ucapkan banyak terimakasih.
DAFTAR ISI
KEPUASAN HIDUP ORANG YANG BEKERJA DITINJAU DARI FAKTOR PRIBADI,
PEKERJAAN, DAN PASANGAN... 1
Hazhira Qudsyi, Resnia Novitasari, Fakhrunnisak, Tika Pratiwi Ambarito, Eri Yudhani
GENEALOGI PEMIKIRAN FIQH SOSIAL: STUDI ATAS PEMIKIRAN DAN KARYA KIAI SAHAL MAHFUDH DALAM TRANSFORMASI HUKUM ISLAM ... 18
Muhadi Zainuddin dan Miqdam Makfi
PENGARUH BIMBINGAN SPIRITUAL TERHADAP HARGA DIRI NARAPIDANA
(Studi Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Mojokerto) ... 33
Yudha Laga Hadikusuma, Eka Diah Kartiningrum
ANALISIS PENERAPAN STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAH BERBASIS AKRUAL PADA PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN KABUPATEN KUDUS ... 48
Diah Ayu Susanti, Zamrud Mirah Delima
PERGURUAN TINGGI BAGIAN DARI CIVIL SOCIETY SEBAGAI PENGGAGAS ANTI-KORUPSI ... 60 R. Eriska Ginalita Dwi Putri
ANALISIS KONDISI AWAL SISTEM MANAJEMEN MUTU PADA SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN XYZ SUMATERA SELATAN DALAM MENCIPTAKAN
PELAYANAN MASYARAKAT YANG BERKEADILAN ... 71 Saladdin Wirawan Effendy
KARAKTER ANTI KORUPSI DAN KEBAHAGIAAN PEGAWAI……….80
Sus Budiharto Retno Kumolohadi
PENGARUH PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI TERHADAP KINERJA
OPERASIONAL UMKM (Studi Empiris Pada UMKM Industri Jenang di Kabupaten Kudus) .. 91
ANALISIS PERBANDINGAN RATA-RATA DEVISA MELALUI DATA EKSPOR-IMPOR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2014 DENGAN MENGGUNAKAN UJI T INDEPENDEN TEST ... 103
Askoning, Arum Handini Primandari
MODEL PENGEMBANGAN WIRAUSAHA KREATIF BERBASIS SYARIAH
DI KOTA TASIKMALAYA MELALUI PENDEKATAN METODE ANP ... 113
Irman Firmansyah, Agus Ahmad Nasrulloh, Lina Marlina
PENGGUNAAN METODE TRIPLE EKSPONETIAL SMOOTHING TIGA PARAMETER
DARI HOLT-WINTER’S DALAM MENYUSUN FOOD BALANCE SHEET PROJECTION
UNTUK DATA TANAMAN PANGAN KEDELAI TAHUN 2015-2019 ... 131
Kharisma Mujahid AkbarRB Fajriya Hakim
OPINI MASYARAKAT ATAS HOTEL BERBASIS SYARIAH DI KOTA YOGYAKARTA ... 140
Luthfi Yuliana Utami, Sri Siska Wirdaniyati, Dian Pravitasari, Cindy Florencia B, Wuri Permadiningtyas, Baiq Yulia R, Unib Sedya P, Kariyam
PENERAPAN ETIKA BISNIS DALAM WIRAUSAHA BERBASIS SYARIAH (Studi Kasus
pada Toko Besi & Bangunan di Kabupaten Pati………149
Nanik Ermawati, Amin Kuncoro
ANALISIS TINGKAT KUALITAS PELAYANAN FRONTLINER TERHADAP NASABAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE CUSTOMER SATISFACTION INDEX DAN
IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS (Studi Kasus Di Pada Pt.Bank Muamalat, Tbk Cabang Pembantu Kota Palopo Sulawesi Selatan) ... 162
Nurjannah, Jaka Nugraha
IbM IPTEK PEMBUATAN SURABI ANTI POLUSI DI KECAMATAN CIPUTAT DAN
PONDOK AREN ... 174 Purwanti Dyah Pramanik, Diana K, Filma Festivalia
EFISIENSI TATANIAGA KERIPIK PISANG DI SENTRA PRODUKSI BANDAR LAMPUNG
... 190
OPTIMALISASI HASIL PENGELASAN DOUBLE SIDE WELDED PADA KONSTRUKSI KAPAL DENGAN VARIASI GAS PELINDUNG... 202
Yustiasih Purwaningrum, Triyono ,Fandi Alfarizi, M.Wirawan Putra Utama
PERSEPSI PETANI TERHADAP KONDISI AGRARIA DI INDONESIA DALAM
MEWUJUDKAN KEDAULATAN PANGAN (Studi Kasus: Kelompok Tani Padi Di Kabupaten Sleman) ... 210 Alfa Nur Sabila Ria Amora Yuril Atsirul aulia Siti Nurmadia Abdussamad
Radiona Pangestika Fauzia Mutmainnah SetiaraKariyam
ANALISIS KEJADIAN BANJIR DI INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA ASSOCIATION RULE METODE APRIORI (Studi Kasus : Kejadian Banjir Di Indonesia Pada Februari - Juni 2015)... 222
Alvian Imron Rosadi , Lusi Wurandhini , Agita Wisda Aryanti
PENGKAJIAN OPINI MASYARAKAT TERHADAP PENGALIHAN JALAN MALIOBORO HINGGA TITIK NOL KILOMETER MENJADI JALAN PEDESTRIAN ... 235
Berky Rian Efanna, Pria Nita Utari, Meida Ovi Rahmatunisa, Ayu Amalia,
Desy Eka Sulistiawati, Nur Aisyah Putri, Kariyam
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA PASAR LAHAN DI KECAMATAN NGAGLIK, SLEMAN, YOGYAKARTA ... 246
Dewi Setianingsih, Endah Handayani, Miftakhul Huda, Indi Febriana. S, Galih Rahmatdona, Wahyu Murti. N, Kariyam
PASAR – STASIUN LUBUK ALUNG “SIRKULASI PEMBENTUK INTEGRASI ANTARA
PASAR DAN STASIUN” ... 253
Fariz Muhammad Falza, Yulianto Purwono Prihatmaji
ANALISIS KARAKTERISTIK DAN POTENSI PEMANFAATAN SAMPAH PLASTIK
PENERAPAN ASSOCIATION RULE METODE APRIORI DALAM MENGANALISIS KEJADIAN BENCANA ABRASI DI INDONESIA (Studi Kasus : Kejadian Bencana Abrasi di Indonesia pada Pertengahan Juni 2011 dan Awal Maret 2014) ... 285
Kamal Adyasa, Askoning, Gebri Adinda, Akhmad Fauzi
LASEM SEBAGAI MODEL KOTA MADANI ... 299
L.M.F. Purwanto , Yulita Titiek S
PENGELOMPOKAN KECAMATAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BERDASARKAN TINGKAT KEPADATAN PENDUDUK TAHUN 2014 DENGAN
MENGGUNAKAN K-MEANS CLUSTER ANALYSIS ... 307 Rethy Amelia , Jaka Nugraha
INDIKATOR KEPUASAN WISATAWAN MANCANEGARA TERHADAP OBYEK WISATA DI PROVINSI DIY ... 320 Septu Kornianto, Muhammad Ulinnuha, Suhendra Pradesa, Zaidan Hilman Karami, Inuar
Zahrawati, Ardianto Imam Safe’i, Kariyam
ANALISIS HUBUNGAN KARAKTERISTIK PEDAGANG DENGAN PERILAKU MENCUCI
TANGAN DAN PERILAKU MENANGANI SAMPAH(Studi Kasus Pasar Karangwaru,
Tegalrejo, Daerah Istimewa Yogyakarta) ... 329
Akhmad Fauzy, Wahyu Listyawan
IBM TAMBAK UDANG BERWAWASAN LINGKUNGAN ... 343
Widodo Brontowiyono., Dwipraptono A. H.i, Bambang S., R Lupiyanto
Alwy H., Erwin K. W., Adam I.A
PENDEKATAN ANALISIS FAKTOR DAN CHAID TERHADAP EFEKTIVITAS
PELAYANAN AKADEMIK BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI ... 367 Anne Mudya Yolanda, Nurkholida Pratiwi, Ihdina Saumiatul Fitria
Siti Nirmala Untari, Sisca Isa Bella, Kariyam
PENGUJIAN DAN INVESTIGASI DATA DIGITAL PADA SISTEM KOMPUTER DAN JARINGAN KOMUNIKASI MENGGUNAKAN METODE DIGITAL FORENSIC
PENDEKATAN ANALISIS FAKTOR PADA KETIDAKPUASAN MAHASISWA TERHADAP
LAYANAN NON AKADEMIKDI SEPULUH PERGURUAN TINGGI YOGYAKARTA... 394
Asrianty Ali, Urwawuska Ladini, Kanthi Wulandari, Okta Dila Nurbaity Rezani, Kariyam
PEMODELAN DOUBLE EXPONENTIAL SMOOTHING DALAM MEMPREDIKSI JUMLAH
PRODUKSI KAKAO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARATA Di TAHUN 2015-2016 ... 404
Din Waikabu, Edy Widodo
ANALISIS TABULASI SILANG (CROSSTAB)pada OPINI MASYARAKAT TENTANG
PARKIR BERBASIS ANDROID ... 412 Dwima Rindy Atika, Redita Anggita Sari, Dyah Dwinda Dewanty, M. Ilyas, Fani Fibrian, Surya Mulyono, Kariyam
PENDEKATAN CUSTOMER SATISFACTION INDEX DAN ANALISIS FAKTOR
PADAKEPUASAN MAHASISWA TERHADAP LAYANAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA ... 424 Eggar Pratama, Desi Puspitasari, Nurjannah, Aditia Ariyansyah, Din Waikabu, Kariyam
KONSEP TEORI: PEMILIHAN WADAH PARTISIPASI PUBLIK BERDASARKAN TUJUAN DAN KONDISI TAHAP PELAKSANAAN KEBIJAKAN ... 435
Faishal Akbar Ilham, Iin Kurniawati
PENGARUH MUTU SEKOLAH TERHADAP NILAI UJIAN AKHIR NASIONAL SMP
DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA ... 440 Galih Alam Indrayana, Rethy Amelia, Aris Suwandi, Akhmad Fauzy
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI AKADEMIK PONDOK PESANTREN UII ... 449
Anang Andrianto, Nur Wijayaning R., Hanson Prihantoro P.
OPINI PENONTON RBTV JOGJA TERHADAP PENYAJIAN TAYANGAN STASIUN
TELEVISI LOKAL “RBTV JOGJA” ... 459
Nurul Hasanah, Melinda Kusuma Wardani, Awan Arga Saputra, Atya Arma Nindani, Indira Ihnu Brilliant, Vivien Ayuningtyas, Kariyam
PERILAKU INTERNAL AUDITOR DALAM WHISTLEBLOWING SEBAGAI
Ponny Harsanti
MOBILE TEST BERBASIS SMS GATE WAY SEBAGAI PELENGKAP E-LEARNING ... 488
R. Arri Widyanto
KERANGKA KERJA PENGUKURAN KUALITAS PERANGKAT LUNAK BERDASARKAN PADA STANDAR iso/eic 25023 ... 494 Ratih Nindyasari
IDENTIFIKASI VARIASI RESPON DARI PENGGUNA TWITTER (FOLLOWERS)
TERHADAP BERITA KICAUAN AKUN JURNALISTIK ... 502
Siti Nurmardia Abdussamad, Ria Amora, Akhmad Fauzy
IMPROVING TEACHERS’ PERFORMANCE BY IMPLEMENTING DISCIPLINARY ACTIONS IN THE PROCESS OF TEACHING AND LEARNING ( A School Action
Research) ... 512
Sudilah, Sumiyono
BERMAIN PERAN UNTUK PEMAHAMAN MATAKULIAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS ... 533
Tri Dyah Prastiti, Suparti, Yugara Pamekas, Martono
TRANSFER PELATIHAN : LANGKAH STRATEGIS KOMITMEN DITEMPAT KERJA .... 548
Trisninawati
PENGGUNAAN TIK UNTUK BIDANG PENDIDIKAN ... 555 Zen Munawar dan Dadad Zainal Musadad
KAJIAN SIMULASI TINGKAT KEPERCAYAAN DARI DATA UJI HIDUP BERDISTRIBUSI
EKSPONENSIAL DUA PARAMETER TERSENSOR TIPE-II MULTIPLE SEDERHANA ... 564
Akhmad Fauzy
TERAPI AIR SEBAGAI USAHA PREVENTIF DAN REHABILITASI TERHADAP
KESEHATAN MANUSIA ... 575
MANAJEMEN STRES MAHASISWA S1 KEPERAWATAN DITINJAU DARI JENIS
KELAMIN, GPA, DAN TEMPAT TINGGAL DI WILAYAH KABUPATEN MOJOKERTO DAN JOMBANG ... 587
Dwiharini Puspitaningsih
HUBUNGAN URUTAN KELAHIRANDAN KEMATIAN NEONATAL DI
INDONESIA(ANALISIS DATA SURVEI DEMOGRAFI DAN KESEHATAN INDONESIA TAHUN 2012) ... 595
Elyana Mafticha
PERKEMBANGAN BALITA DI BATANG GEDE TAMBAKREJO TEMPEL SLEMAN
YOGYAKARTA ... 605 Ika Fitria Ayuningtyas, Indi Bausari
PERBANDINGAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK DENGAN RIWAYAT KEHAMILAN LETAK SUNGSANG YANG DILAHIRKAN SECARA NORMAL DAN SECTIO
... 614
Sri Wardini Puji Lestari, Eka Diah Kartiningrum
PENGARUH PEMAKAIAN KB HORMONAL (ORAL, SUNTIK, IMPLAN) TERHADAP PENINGKATAN PH SALIVA DI RUMAH BERSALIN MUSLIMAT DESA SELOREJO KEC. MOJOWARNO KAB. JOMBANG ... 627
Sulis Diana
EFEKTIVITAS TERAPI BEKAM TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS ... 636
Yudha Anggit Jiwantoro, Siti Nurhayati
USAHA PENINGKATAN RENDEMEN DAN KUALITAS MINYAK ATSIRI NILAM BAGI
PETANI/PENYULING MINYAK NILAM DI DESA PAMOTAN KABUPATEN MALANG ... 645
Aning Ayucitra, Wenny Irawaty, Ery Susiany Retnoningtyas, dan Hadi Santosa
ISOLASI DAN STANDARISASI ANDROGRAFOLID DARI TANAMAN
SAMBILOTO………....795
0 20 40 60 80
Makalah Masuk Makalah Diterima Makalah Ditolak 71
Partisipasi Pemakalah Pada Tahun 2012 Berdasarkan Wilayah
Jawa Barat
Jumlah Paper Diterima Berdasarkan Tema Pada Tahun
0
Makalah Masuk Makalah Diterima Makalah Ditolak 84
Partisipasi Pemakalah Pada Tahun 2013 Berdasarkan Wilayah
DI Yogyakarta
Jumlah Paper Diterima Berdasarkan Tema Pada Tahun 2013
0 20 40 60 80
Makalah Masuk Makalah Diterima Makalah Ditolak 77
Partisipasi Pemakalah Pada Tahun 2014 Berdasarkan Wilayah
DI Yogyakarta
Jumlah Paper Diterima Berdasarkan Tema Pada Tahun 2014
0
Makalah Masuk Makalah Diterima Makalah Ditolak 87
Partisipasi Pemakalah Pada Tahun 2015 Berdasarkan Wilayah
DI Yogyakarta
Jumlah Paper Diterima Berdasarkan Tema Pada Tahun
KEPUASAN HIDUP ORANG YANG BEKERJA DITINJAU DARI FAKTOR PRIBADI, PEKERJAAN, DAN PASANGAN
Hazhira Qudsyi1*, Resnia Novitasari2, Fakhrunnisak3, Tika Pratiwi Ambarito4, Eri Yudhani5 1,2,3,4,5
Program Studi Psikologi, Universitas Islam Indonesia *
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empirik perbedaan kepuasaan hidup orang yang bekerja dilihat dari faktor pribadi (jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir), faktor pekerjaan (jenis pekerjaan, pengalaman bekerja, durasi bekerja, pendapatan dalam pekerjaan), dan faktor pasangan (status pernikahan, lama pernikahan, jumlah anak, jenis pekerjaan pasangan, pendidikan terakhir pasangan). Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran atas perbedaan kepuasan hidup berdasarkan faktor-faktor yang telah disebutkan sebelumnya, tanpa diajukan hipotesis sebelumnya. Penelitian ini dilaksanakan di Yogyakarta dengan karakteristik subjek penelitian adalah orang yang bekerja. Subjek penelitian ini berjumlah 206 orang. Pengukuran variabel kepuasan hidup dengan menggunakan skala kepuasan hidup yang dikembangkan oleh Diener, Emmons, Larsen, dan Griffin (1985), yakni Satisfaction with Lifes Scale (SWLS). SWLS diadaptasi dalam versi Indonesia dan menghasilkan koefisien reliabilitas Alpha Cronbach sebesar 0.707. faktor pribadi, pekerjaan, dan pasangan diungkap melalui dara deskripsi diri subjek yang terlampir pada alat ukur. Hasil analisis varians (ANOVA) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kepuasan hidup orang yang bekerja ditinjau dari usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, jenis pekerjaan, pengalaman bekerja, status pernikahan, lama pernikahan, jumlah anak, dan pendidikan terakhir pasangan. Selain itu, hasil analisis varians (ANOVA) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kepuasan hidup yang signifikan pada orang yang bekerja ditinjau dari durasi bekerja, pendaparan dalam pekerjaan, dan jenis pekerjaan yang dimiliki pasangan. Berdasarkan analisis varians (ANOVA) pada masing-masing faktor tersebut, didapatkan bahwa semuanya memiliki taraf signifikansi di bawah 0.05 (p<0.05), dengan kontribusi masing-masing faktor sebesar 11.5% untuk durasi bekerja, 17.5% untuk pendapatan dalam pekerjaan, dan 4.7% untuk jenis pekerjaan yang dimiliki pasangan.
Kata kunci: kepuasan hidup, orang yang bekerja, faktor pribadi, faktor pekerjaan, faktor pasangan
ABSTRACT
This study aims to test empirically differences in life satisfaction of worker seen from personal factors (gender, age, last education), occupational factors (type of work, work experience, duration of work, income of work), and spousefactors (marital status, length of marriage, number of children, spouse’s type of work, spouse’s last education). This study is intended to give an idea of the differences in life satisfaction based on the factors mentioned earlier, without prior hypotheses proposed. This study was conducted in Yogyakarta with the characteristics of subjects are worker. The subject of this research were 206 people. Life satisfaction was measured with the Satisfaction With Life Scale (SWLS), developed by Diener, Emmons, Larsen and Griffin (1985). SWLS adapted in
Indonesia version and produce Cronbach Alpha’s reliability coefficient of 0.707. Personal,
work, income of work, and spouse’s type of work. Based on analysis of variance (ANOVA) on each of these factors, it was found that they all have a significance level below 0.05 (p<0.05), with the contribution of each factor are 11.5% for the duration of work, 17.5% for theincome of work, and 4.7 % for the spouse’s type of work.
Keywords: life satisfaction, worker, personal factors, occupational factors, spouse factors
PENDAHULUAN
Pada masa sekarang, tuntutan untuk memiliki pekerja yang memiliki kinerja optimal dan baik bagi suatu organisasi menjadi suatu hal yang mutlak. Tak heran, organisasi selalu berupaya melakukan yang terbaik agar dapat memiliki pekerja dengan kinerja yang baik, mulai dari proses rekrutmen dan seleksi dengan berbagai persyaratan yang ketat, hingga pemberian bonus bagi pekerja yang berprestasi sebagai salah satu upaya memotivasi pekerja untuk dapat melaksanakan pekerjaan dengan optimal. Selain memotivasi pekerja, salah satu hal yang dapat dilakukan oleh organisasi untuk mengupayakan peningkatan kinerja pekerja adalah dengan cara membuat pekerja dapat mengerahkan seluruh kapasitas yang mereka dimiliki dalam bekerja. Leiter dan Bakker (2010) mengatakan, bahwa organisasi modern saat ini cenderung mengharapkan para pekerjanya lebih proaktif dan menunjukkan inisiatif, bertanggungjawab atas perkembangan professional dirinya, berkomitmen untuk menunjukkan performansi yang berkualitas tinggi, dan merasa penuh energi serta penuh dedikasi pada pekerjaannya.
Memiliki pekerja yang sangat berdedikasi terhadap pekerjaan dan mengerahkan segala kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan merupakan impian seluruh organisasi. Hanya dengan karakteristik pekerja seperti inilah, organisasi dapat mencapai segala tujuannya. Pekerja adalah sumber daya utama bagi setiap organisasi, karena pekerja merupakan motor penggerak dalam upaya mewujudkan tujuan organisasi. Oleh karena itu, penting bagi organisasi untuk menaruh perhatian khusus pada kepuasan dan loyalitas pekerja, yang nantinya dapat membuat pekerja menjadi lebih berenergi dan berdedikasi dalam bekerja, dengan demikian tujuan-tujuan organisasi dapat tercapai.
pekerja untuk memberikan kontribusi lebih dari standar atau extra role kepada organisasi adalah karena pekerja merasa puas terhadap organisasi tempat mereka bekerja (Soegandhi, Sutanto, & Setiawan, 2013). Berdasarkan hal tersebut, kepuasan pekerja yang dirasakan terkait hidupnya tentu akan menjadi faktor penting bagi sebuah organisasi dalam mewujudkan tujuannya.
Kepuasan hidup adalah evaluasi seseorang mengenai kehidupannya secara keseluruhan baik itu yang sudah terjadi dan masih dalam pertimbangan tentang keluarga, teman, dan juga pekerjaannya (Huebner dalam Nickerson & Nagle, 2004). Diener (dalam Antaramian, Huebner, & Valois, 2008) menjelaskan, bahwa kepuasan hidup sebagai penilaian subjektif terhadap kualitas kehidupan secara keseluruhan maupun pada domain-domain tertentu. Kepuasan hidup atau kualitas kehidupan yang dirasakan, merupakan sebuah bentuk umum yang meliputi fungsi keseluruhan dari
“sangat rendah” menjadi “OK” kemudian “sangat tinggi”, dan perhatian yang meningkat diterima
sebagai indikator keberfungsian secara optimal pada individu (Saldo & Huebner dalam Anataramian dkk., 2008). Saat seseorang mengalami emosi positif dan menggunakan sumber-sumber lainnya untuk bisa memenuhi tantangan kehidupan juga kesempatan yang ada, maka kepuasan hidup bisa tercapai (Chon dkk dalam Anataramian dkk., 2008).
Mengapa penting bagi organisasi untuk fokus pada kepuasan para pekerjanya? Ostroff (dalam Harter, Schimdt, & Killham, 2003) menjelaskan bahwa kepuasan pekerja sangat berkaitan dengan persepsi pelanggan terhadap layanan suatu organisasi dan outcome organisasi lainnya. Tidak hanya itu, jika merujuk pada hasil-hasil penelitian yang ada, pekerja yang memiliki kepuasan dalam hidup dan pekerjaannya akan memiliki banyak sekali keuntungan atau dampak positif bagi dirinya maupun bagi perusahaan atau organisasi. Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa kebahagiaan dan kepuasan yang dirasakan pekerja berkorelasi postif dengan keterikatan kerja (work engagement) dan komitmen afektif organisasi (Field & Buitendach, 2011); kualitas hidup (quality of life) yang lebih baik (Anand & Arora, 2009); kinerja dan produktivitas kerja (Argyle, 1989; Syauta, Troena, Setiawan, & Solimun, 2012; Fisher, 2003; Bakker & Oerlemans, 2010); komitmen organisasi (Lumley, Coetzee, Tladinyane, & Ferreira, 2011); berkorelasi negative dengan turnover (Idowu, Ambali, & Aihonsu, 2010). Banyaknya pengaruh positif yang dapat diperoleh jika pekerja merasakan kebahagiaan dan kepuasan, maka organisasi perlu untuk senantiasa mempertimbangkan hal-hal apa saja yang dapat dilakukan supaya pekerja merasa puas dan bahagia dalam hidup dan pekerjaannya.
2005; Barret, 1980) dan prestasi yang diperoleh saat menempuh pendidikan (Barret, 1980); keyakinan pribadi, pendapatan dan keuntungan, partisipasi pekerja dalam pengambilan keputusan organisasi, serta terpenuhinya kebutuhan pribadi (Jolodar, 2012); keamanan tempat bekerja (Jolodar, 2012; Sageer, Rafat, & Agarwal, 2012); dukungan yang diperoleh pekerja di tempat kerja (Hombrados-Mendieta & Cosano-Rivas, 2011) dan lingkungan kerja yang sehat dan menyenangkan (Ahn, 2005; Neog & Barua, 2014); gaji dan pendapatan (Parvin & Kabir, 2011; Ahn, 2005; Neog & Barua, 2014; Sageer dkk., 2012); interaksi dengan rekan kerja (Jolodar, 2012; Parvin & Kabir, 2011); karakter pribadi pekerja dan kapasitas individual (Oduro-Owusu, 2010; Johnson, Pitt-Catsouphes, Besen, & Smyer, 2008; Amin, 2013); keterlibatan pekerjaan (Dhamayanti, 2006; Johnson dkk., 2008); religiusitas (Okulicz-Kozaryn, 2009).
Tidak hanya itu, kepuasan hidup pekerja juga dipengaruhi oleh faktor demografik (Abeka-Donkor, 2013; Khan, Nawaz, & Jan, 2012; Johnson dkk., 2008), usia (Sarkisian, Pitt-Catsouphes, Bhate, Lee, Carapinha, & Minnich, 2011; Johnson dkk., 2008), gender (Dhanapal, Alwie, Subramaniam, & Vashu, 2013), serta jenis dan karakteristik pekerjaan (Luechinger, Meier, & Stutzer, 2008; Andreassi, Lawter, Brockerhoff, & Rutigliano, 2012; Young, Milner, Edmunds, Pentsil, & Broman, 2014; Ozsoy, Uslu, & Ozturk, 2014); adanya dukungan supervisi (Oduro-Owusu, 2010; Parvin & Kabir, 2011; Neog & Barua, 2014); adanya keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga (Neog & Barua, 2014; Mukhtar, 2012; Saeed & Farooqi, 2014); adanya peluang promosi karier, pelatihan yang tepat, dan pengembangan diri dan karier (Neog & Barua, 2014; Sageer dkk., 2012; Amin, 2013). Sementara itu, kepuasan pekerja pun dipengaruhi secara negatif oleh burnout (Hombrados-Mendieta & Cosano-Rivas, 2011); stress yang dirasakan saat bekerja (Ahn, 2005); persepsi bahwa pendapatan yang diperoleh lebih sedikit dibanding pendapatan di luar (Ahn, 2005); konflik keluarga-pekerjaan (Dhamayanti, 2006); tekanan pekerjaan (Dhamayanti, 2006; Saeed & Farooqi, 2014).
METODE PENELITIAN Responden Penelitian
Responden penelitian ini berjumlah 206 orang yang bekerja di Yogyakarta. Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara non probability sample, yakni cara yang digunakan dalam memilih sampel dengan tidak menghiraukan prinsip-prinsip probability dan tidak secara random (Nasution, 2003). Adapun teknik yang digunakan dalam proses pemilihan sampel ini adalah dengan teknik purposive sampling, yakni pengambilan sampel dilakukan atas dasar pertimbangan peneliti saja yang menganggap bahwa unsur-unsur yang diinginkan telah ada dalam anggota sampel yang diambil (Nasution, 2003). Adapun gambaran dari responden penelitian dapat dilihat pada tabel deskripsi responden penelitian di bawah ini.
Tabel 1. Deskripsi Diri Responden Penelitian
Deskripsi Jumlah Persentase
Jenis Kelamin Laki-laki 76 36.9%
Perempuan 130 63.1%
Usia
21-30 tahun 38 18.5%
31-40 tahun 44 21.5%
41-50 tahun 66 32.2%
51-61 tahun 49 23.9%
Tidak terdefinisikan 8 3.9%
Status Pernikahan Menikah 185 89.8%
Tidak Menikah 21 10.2%
Total 206 100%
Berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan orang yang bekerja dan digunakan sebagai perbandingan dalam proses analisis data penelitian, berikut ini deskripsi responden penelitian ditinjau dari faktor pribadi, pekerjaan, dan pasangan, yang dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini.
Tabel 2. Deskripsi Data Responden Penelitian Ditinjau dari Faktor Pribadi
Deskripsi Jumlah Persentase
Pendidikan Terakhir
Pasca Sarjana 8 3.9%
Sarjana 135 65.5%
SMA 28 13.6%
Lainnya 35 17%
Tabel 3. Deskripsi Data Responden Penelitian Ditinjau dari Faktor Pekerjaan
Deskripsi Jumlah Persentase
Pengalaman Kerja
Tidak teridentifikasi 2 1%
Jenis Pekerjaan
Pegawai Negeri Sipil 114 55.3%
Pegawai Swasta 57 27.7%
Tidak teridentifikasi 5 2.4%
Gaji/ Pendapatan per Bulan
Tidak teridentifikasi 12 5.8%
Total 206 100%
Tabel 4. Deskripsi Data Responden Penelitian Ditinjau dari Faktor Pasangan
Deskripsi Jumlah Persentase
Pengalaman Kerja
Jenis Pekerjaan
Pegawai Negeri Sipil 114 55.3%
Pegawai Swasta 57 27.7%
Wiraswasta 4 1.9%
Lainnya 31 15%
Durasi Kerja per Hari
3-6 jam/ hari 74 35.9%
7-12 jam/ hari 121 58.7%
13-20 jam/ hari 1 0.5%
21-25 jam/ hari 3 1.5%
26-30 jam/ hari 2 1%
Tidak teridentifikasi 5 2.4%
Gaji/ Pendapatan per Bulan
Rp.100.000 – Rp.500.000 26 12.6% Rp.600.000 – Rp.1.000.000 16 7.8% Rp.1.100.000 – Rp.1.500.000 25 12.1% Rp.1.600.000 – Rp.2.000.000 22 10.7% Rp.2.100.000 – Rp.2.500.000 11 5.3% Rp.2.600.000 – Rp.3.000.000 41 19.9%% Rp.3.100.000 – Rp.3.500.000 6 2.9% Rp.3.600.000 – Rp.4.000.000 35 17% Rp.4.100.000 – Rp.4.500.000 2 1% Rp.4.600.000 – Rp.5.000.000 10 4.9%
Tidak teridentifikasi 12 5.8%
Total 206 100%
Pengumpulan Data
Pengukuran variabel kepuasan hidup dalam penelitian ini menggunakan skala kepuasan hidup yang dikembangkan oleh Diener, Emmons, Larsen, dan Griffin (1985), yakni Satisfaction With Life Scale (SWLS). Versi asli dari SWLS terdiri atas 5 (lima) aitem. SWLS ini diadaptasi dalam versi Indonesia, untuk kemudian diujicobakan pada subjek orang Indonesia oleh peneliti, dan menghasilkan koefisien reliabilitas Alpha Cronbach sebesar 0.707 dengan 4 (empat) aitem. Sementara itu, faktor pribadi, pekerjaan, dan pasangan dungkap melalui data deskripsi diri subjek yang terlampir pada alat ukur.
Analisis Data
HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor Pribadi Orang yang Bekerja
Hasil analisis varians (ANAVA) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kepuasan hidup yang dirasakan oleh responden penelitian ditinjau dari faktor pribadi responden, yakni jenis kelamin, usia, dan pendidikan formal terakhir. Hasil analisis data tersebut dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini.
Tabel 5. Hasil Analisis Varians (ANAVA)-Perbedaan Kepuasan Hidup Orang yang Bekerja Ditinjau dari Faktor Pribadi (Jenis Kelamin, Usia, dan Pendidikan Formal Terakhir)
Faktor F Sig. Hasil Kesimpulan
Jenis Kelamin-Usia .902 .601 Tidak signifikan
Tidak ada perbedaan kepuasan hidup ditinjau dari usia, jenis kelamin, dan pendidikan
terakhir
Selain itu, hasil analisis varians pun menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kepuasan hidup responden ditinjau dari faktor pribadi lain, yakni status pernikahan, lama pernikahan, dan jumlah anak yang dimiliki. Hasil analisis tersebut dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini.
Tabel 6. Hasil Analisis Varians (ANAVA)-Perbedaan Kepuasan Hidup Orang yang Bekerja Ditinjau dari Faktor Pribadi (Status Pernikahan, Lama Pernikahan, dan Jumlah Anak yang Dimiliki)
Faktor F Sig. Hasil Kesimpulan
Status pernikahan – lama pernikahan
. . Tidak signifikan
Tidak ada perbedaan kepuasan hidup ditinjau dari usia, jenis kelamin, dan pendidikan
terakhir Status pernikahan – jumlah
anak
dilihat dari faktor jenis pekerjaan, pengalaman bekerja, durasi bekerja, dan pendapatan yang diperoleh dalam pekerjaan. Berdasarkan analisis varians pada masing-masing faktor tersebut, didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kepuasan hidup responden yang bekerja ditinjau dari faktor durasi bekerja (per hari) dan faktor pendapatan yang diperoleh dalam pekerjaan tersebut. Masing-masing faktor tersebut memiliki taraf signifikansi di bawah 0.05 (p<0.05), dengan kontribusi masing-masing faktor terhadap kepuasan hidup responden adalah 11.5% untuk faktor durasi bekerja per hari, dan 17.5% untuk faktor pendapatan yang diperoleh dalam pekerjaan. Adapun rangkuman hasil analisis tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 7. Rangkuman Hasil Analisis Varians (ANAVA)-Perbedaan Kepuasan Hidup Orang yang Bekerja Ditinjau dari Faktor Pekerjaan (Jenis Pekerjaan, Pengalaman Bekerja, Durasi Bekerja,
Pendapatan dalam Pekerjaan)
Faktor F Sig. Hasil Kesimpulan
Pengalaman Bekerja .984 .545 Tidak siginifikan
Tidak ada perbedaan kepuasan hidup ditinjau dari pengalaman bekerja
Jenis Pekerjaan 2.043 .109 Tidak signifikan
Tidak ada perbedaan kepuasan hidup ditinjau dari jenis pekerjaan
Durasi bekerja 1.878 0.035 Signifikan Ada perbedaan kepuasan hidup ditinjau dari durasi bekerja per hari
R Squared = .115 (Adjusted R Squared = .054)
Pendapatan dalam pekerjaan
1.645 0.042 Signifikan Ada perbedaan kepuasan hidup ditinjau dari pendapatan dalam pekerjaan
R Squared = .175 (Adjusted R Squared = .069)
Hasil analisis menunjukkan beberapa perbedaan kepuasan hidup yang signifikan pada responden jika dilihat dari faktor durasi atau lamanya bekerja per hari. Adapun rangkuman hasil analisis tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 8. Rangkuman Hasil Analisis Varians (ANAVA)-Perbedaan Kepuasan Hidup Orang yang Bekerja Ditinjau dari Durasi Bekerja hari lebih puas hidupnya dibandingkan yang bekerja 5 jam per hari
jam dengan durasi bekerja 7 jam
(p<0.05) bekerja 3 jam per hari dengan orang yang bekerja 7 jam per hari, dimana orang yang bekerja 3 jam per hari lebih puas hidupnya dibandingkan yang bekerja 7 jam per hari hari lebih puas hidupnya dibandingkan yang bekerja 8 jam per hari hari lebih puas hidupnya dibandingkan yang bekerja 8 jam per hari hari lebih puas hidupnya dibandingkan yang bekerja 7 jam per hari hari lebih puas hidupnya dibandingkan yang bekerja 7 jam per hari hari lebih puas hidupnya dibandingkan yang bekerja 6 jam per hari hari lebih puas hidupnya dibandingkan yang bekerja 7 jam per hari bekerja 7 jam per hari dengan orang yang bekerja 10 jam per hari, dimana orang yang bekerja 10 jam per hari lebih puas hidupnya dibandingkan yang bekerja 7 jam per hari
Tabel 9. Rangkuman Hasil Analisis Varians (ANAVA)-Perbedaan Kepuasan Hidup Orang yang Bekerja Ditinjau dari Pendapatan yang Diperoleh dalam Pekerjaan (per bulan)
Pendapatan bekerja dengan pendapatan Rp.200.000 per bulan dan orang yang bekerja dengan pendapatan Rp.800.000 per bulan, dimana orang dengan pendapatan Rp.800.00 per bulan lebih puas hidupnya dibandingkan dengan orang dengan pendapatan Rp.200.000 per bulan bekerja dengan pendapatan Rp.300.000 per bulan dan orang yang bekerja dengan pendapatan Rp.800.000 per bulan, dimana orang dengan pendapatan Rp.800.000 per bulan lebih puas hidupnya dibandingkan dengan orang dengan pendapatan Rp.300.000 per bulan bekerja dengan pendapatan Rp.300.000 per bulan dan orang yang bekerja dengan pendapatan Rp.2.000.000 per bulan, dimana orang dengan pendapatan Rp.2.000.000 per bulan lebih puas hidupnya dibandingkan dengan orang dengan pendapatan Rp.300.000 per bulan bekerja dengan pendapatan Rp.300.000 per bulan dan orang yang bekerja dengan pendapatan Rp.4.000.000 per bulan, dimana orang dengan pendapatan Rp.4.000.000 per bulan lebih puas hidupnya dibandingkan dengan orang dengan pendapatan Rp.300.000 per bulan bekerja dengan pendapatan Rp.400.000 per bulan dan orang yang bekerja dengan pendapatan Rp.2.000.000 per bulan, dimana orang dengan pendapatan Rp.2.000.000 per bulan lebih puas hidupnya dibandingkan dengan orang dengan pendapatan Rp.400.000 per bulan bekerja dengan pendapatan Rp.500.000 per bulan dan orang yang bekerja dengan pendapatan Rp.800.000 per bulan, dimana orang dengan pendapatan Rp.800.000 per bulan lebih puas hidupnya dibandingkan dengan orang dengan pendapatan Rp.500.000 per bulan
Rp.700.000
dengan pendapatan Rp.250.000
pendapatan Rp.1.300.000 per bulan bekerja dengan pendapatan Rp.1.300.000 per bulan dan orang yang bekerja dengan pendapatan Rp.4.500.000 per bulan, dimana orang dengan pendapatan Rp.4.500.000 per bulan lebih puas hidupnya dibandingkan dengan orang dengan pendapatan Rp.1.300.000 per bulan bekerja dengan pendapatan Rp.1.300.000 per bulan dan orang yang bekerja dengan pendapatan Rp.5.000.000 per bulan, dimana orang dengan pendapatan Rp.5.000.000 per bulan lebih puas hidupnya dibandingkan dengan orang dengan pendapatan Rp.1.300.000 per bulan bekerja dengan pendapatan Rp.1.950.000 per bulan dan orang yang bekerja dengan pendapatan Rp.300.000 per bulan, dimana orang dengan pendapatan Rp.1.950.000 per bulan lebih puas hidupnya dibandingkan dengan orang dengan pendapatan Rp.300.000 per bulan bekerja dengan pendapatan Rp.3.500.000 per bulan dan orang yang bekerja dengan pendapatan Rp.300.000 per bulan, dimana orang dengan pendapatan Rp.3.500.000 per bulan lebih puas hidupnya dibandingkan dengan orang dengan pendapatan Rp.300.000 per bulan
Faktor Pasangan dari Orang yang Bekerja
Tabel 10. Rangkuman Hasil Analisis Varians (ANAVA)-Perbedaan Kepuasan Hidup Orang yang Bekerja Ditinjau dari Faktor Pasangan (Jenis Pekerjaan Pasangan dan Pendidikan Formal Terakhir
Pasangan)
2.494 0.044 Signifikan Ada perbedaan kepuasan hidup ditinjau dari jenis pekerjaan pasangan
Pendidikan Formal Terakhir Pasangan
1.016 0.401 Tidak Signifikan
Tidak ada perbedaan kepuasan hidup ditinjau dari pendidikan formal terakhir pasangan
Hasil analisis menunjukkan beberapa perbedaan kepuasan hidup yang signifikan pada responden jika dilihat dari faktor jenis pekerjaan pasangan. Adapun rangkuman hasil analisis tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 11. Rangkuman Hasil Analisis Varians (ANAVA)-Perbedaan Kepuasan Hidup Orang yang Bekerja Ditinjau dari Jenis Pekerjaan Pasangan
Jenis Pekerjaan
Ada perbedaan kepuasan hidup antara orang dengan pasangan yang bekerja sebagai PNS dan orang dengan pasangan yang bekerja sebagai Wiraswasta, dimana orang dengan pasangan PNS lebih puas hidupnya dibandingkan dengan orang dengan pasangan Wiraswasta
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa kepuasan hidup orang yang bekerja dapat dilihat dari beberapa faktor, yakni faktor durasi bekerja dalam satu hari, pendapatan yang diperoleh per bulan, serta jenis pekerjaan yang dimiliki oleh pasangan (bagi yang menikah). Faktor tersebut pun memiliki hasil yang bervariasi jika dilihat secara lebih rinci, yang sudah dipaparkan pada subbab pembahasan sebelumnya. Pengembangan lebih lanjut dari penelitian ini disarankan.
UCAPAN TERIMAKASIH
DAFTAR PUSTAKA
Abeka-Donkor, S. 2013. Are demographic factors predictors of satisfaction?. The International Journal of Business & Management, 1(3), 1-8.
Ahn, N. 2005. Factors affecting life satisfaction among Spanish workers: Relative importance of wage and other factors. Preliminary, 1-21.
Amin, Z. 2013. Quality of work life in Indonesian public service organizations: The role of career development and personal factors. International Journal of Applied Psychology, 3(3), 38-44. Anand, M., & Arora, D. 2009. Burnout, life satisfaction, and quality of life among executives of
multi national companies. Journal of the Indian Academy of Applied Psychology, 35(1), 159-164.
Andreassi, J.K., Lawter, L., Brockerhoff, M., & Rutigliano, P. 2012. Job satisfaction determinants: A study across 48 nations. WCOB Faculty Publications, Paper 220, 1-24.
Antaramian, S.P., Huebner, E.S., & Valois, R.F. 2008. Adolescent Life Satisfaction. Applied Psychology: An International Review, 57, 112-126.
Argyle, M. 1989. Do happy workers work harder? The effect of job satisfaction on work performance. In: Ruut Veenhoven (ed), (1989) How harmfull is happiness? Consequences of enjoying life or not, Universitaire Pers Rotterdam.
Bakker, A.B., & Oerlemans, W.G.M. 2010. Subjective well-being in organizations. Chapter in K.Cameron & G.Spreitzer (Eds.), Handbook of Positive Organizatonal Scholarship. Oxford University Press.
Barrett, I.C. 1980. A comparison of life satisfaction, job satisfaction, and happiness using demographic variables. Theses. College of Education Brock University.
Dhamayanti, R. 2006. Pengaruh konflik keluarga-pekerjaan, keterlibatan pekerjaan, dan tekanan pekerjaan terhadap kepuasan kerja karyawan wanita: Studi pada Nusantara Tour & Travel kantor cabang dan kantor pusat Semarang. Jurnal Studi Manajemen & Organisasi, 3(2), 93-107.
Dhanapal, S., Alwie, S.M., Subramaniam, T., & Vashu, D. 2013. Factors affecting job satisfaction among academicians: A comparative study between gender and generations. 2nd International Conference on Management, Economics, and Finance Proceeding, 2, 48-69. Field, L.K., & Buitendach, J.H. 2011. Happiness, work engagement and organizational commitment
of support staff at a tertiary education institution in South Africa. SA Journal of Industrial Psychology, 37(1), 1-10.
Fisher, C.D. 2003. Why do lay people believe that satisfaction and performance are correlated? Possible sources of a commonsense theory. Journal of Organizational Behavior, 24, 753-777.
Harter, J.K., Schimdt, F.L., & Killham, E.A. 2003. Employee engagement, satisfaction, and business-unit-level outcomes: A meta-analysis. The Gallup Organization, July 2003, 1-58. Hombrados-Mendieta, I., & Cosano-Rivas, F. 2011. Burnout, workplace support, job satisfaction
and life satisfaction among social workers in Spain: A structural equation model. International Social Work, 56(2), 228-246.
Idowu, A.O., Ambali, O.I., & Aihonsu, J.O.Y. 2010. Job satisfaction and turnover among workers of small scale agro-allied firms in Southwest Nigeria. Asian Journal of Business and Management Sciences, 1(4), 54-62.
Johnson, J.K.M., Pitt-Catsouphes, M., Besen, E., & Smyer, M. 2008. Quality of employment and life satisfaction: A relationship that matters for older workers. Issue Brief, 13, 1-11.
Jolodar, S.Y.E. 2012. An investigation of social factors affecting on personnel job satisfaction of remedial service insurance department. Iranian Journal of Management Studies, 5(1), 97-110.
Luechinger, S., Meier, S., & Stutzer, A. 2008. Why does unemployment hurt the employed? Evidence from the life satisfaction gap between the public and the private sector. Discussion Paper Series, March 2008, 1-35.
Lumley, E.J., Coetzee, M., Tiadinyane, R., & Ferreira, N. 2011. Exploring the job satisfaction and organizational commitment of employees in the information technology environment. Southern African Business Review, 15(1), 100-118.
Mukhtar, F. 2012. Work life balance and job satisfaction among faculty at Iowa State University. Graduate Theses and Dissertations, Paper 12791.
Nasution, R. (2003). Teknik sampling. USU Digital Library
Neog, B.B., & Barua, M. 2014. Factors influencing employee’s job satisfaction: An empirical study among employees of automobile service workshops in Assam. The SU Transactions on Industrial, Financial, & Business Management, 2(7), 305-316.
Nickerson, A.B., & Nagle, R.J. 2004. The Influence of Parent and Peer Attachments on Life Satisfaction in Middle Childhood and Early Adolescence. Social Indicator Research, 66, 35-60.
Oduro-Owusu, K.N. 2010. Factors influencing construction worker job satisfaction in the Ghanaian construction industry. Theses. Faculty of Architecture and Building Techonology, Kumasi. Okulicz-Kozaryn, A. 2009. Religiosity and life satisfaction (A multilevel investigation across
nations). 1-23
Ozsoy, E., Uslu, O., & Ozturk, O. 2014. Who are happier at work and in life? Public sector versus private sector: A research on Turkish employees. International Journal of Recent Advances in Organizational Behaviour and Decision Sciences, 1(2), 148-160.
Parvin, M.M., & Kabir, M.M.N. 2011. Factors affecting employee job satisfaction of pharmaceutical sector. Australian Journal of Business and Management Research, 1(9), 113-123.
Saeed, K., & Farooqi, Y.A. 2014. Examining the relationship between work life balance, job stress, and job satisfaction among university teachers (A case of University of Gujrat). International Journal of Multidisciplinary Sciences and Engineering, 5(6), 9-15.
Sager, A., Rafat, S., & Agarwal, P. 2012. Identification of variables affecting employee satisfaction and their impact on the organization. IOSR Journal of Business and Management, 5(1), 32-39.
Sarkisian, N., Pitt-Catsouphes, M., Bhate, R., Lee, J., Carapinha, R., & Minnich, C. 2011. Effects of country & age on work engagement, job satisfaction & organizational commitment among employees in the United States. The Sloan Center on Aging & Work, 1-51.
Soegandhi, V.M., Sutanto, E.M., & Setiawan, R. 2013. Pengaruh kepuasan kerja dan loyalitas kerja terhadap organizational citizenship behavior pada karyawan PT. Surya Timur Sakti Jatim. Jurnal AGORA, 1(1), 1-12.
Syauta, J.H., Troena, E.A., Setiawan, M., & Solimun. 2012. The influence of organizational culture, organizational commitment to job satisfaction and employee performance (Study at Municipal Waterworks of Jayapura, Papua Indonesia). International Journal of Business and Management Invention, 1(1), 69-76.
GENEALOGI PEMIKIRAN FIQH SOSIAL:
STUDI ATAS PEMIKIRAN DAN KARYA KIAI SAHAL MAHFUDH DALAM TRANSFORMASI HUKUM ISLAM
Muhadi Zainuddin dan Miqdam Makfi
Fakultas Ilmu Agama Islam, UII Yogyakarta
*
ABSTRAK
Dalam jagad studi keislaman di Indonesia, Fiqh Sosial merupakan gagasan orisinil yang berusaha mengetengahkan fiqh yang berdialog dengan zaman. Gagasan Fiqh Sosial di Indonesia lahir dari arus besar pemikiran Kiai Sahal Mahfudh. Gagasan Fiqh Sosial Kiai Sahal lahir dari pergulatan keilmuan Islam yang berefleksi dengan persoalan sosial di masyarakat. Jejaring keilmuan dan intelektualitas Kiai Sahal turut berperan dalam merumuskan Fiqh Sosial sebagai basis epistemik pemberdayaan masyarakat yang dikerjakan beliau. Artikel berbasis riset ini mencoba menelusuri jejaring keilmuan Kiai Sahal serta pengaruhnya bagi perumusan Fiqh Sosial, disamping koneksi intelektual serta organisasi masyarakat yang memperluas pengaruh dari gagasan Fiqh Sosial. artikel ini, menjawab tiga pertanyaan kunci: (1) Bagaimana genealogi pemikiran Kiai Sahal Mahfudh? (2) Bagaimana rumusan Fiqh Sosial Kiai Sahal dalam peta pemikiran hukum Islam di Indonesia? (3) Bagaimana aplikasi pemberdayaan masyarakat yang diusung Kiai Sahal? Dengan melihat Kiai Sahal sebagai figur sentral, akan menjadi salah satu pintu dalam membaca dinamika fiqh di kalangan pesantren maupun mimbar akademik kampus. Tulisan ini masih terbatas pada satu figur dan gugusan pemikiran dari Kiai Sahal, yang berusaha menjenguk discourse yang terkait dengan perumusan epistemologi Fiqh Sosial.
Kata kunci:Fiqh Sosial, genealogi intelektual, Kiai Sahal, Pemberdayaan Masyarakat.
ABSTRACT
In the field of Islamic studies in Indonesia, social fiqh is an original idea that tries to offer a fiqh concept can hold dialogues with the times. The idea of social fiqh in
Indonesia was born from the great currents of Kyai Sahal Mahfudh’s thought. His social
fiqh idea was born from the struggle of Islamic scholarship that reflect the social problems in the society. His scientific and intellectual networking has played a role in formulating social fiqh as a basic epistemic ofsociety empowerment which he worked. This
research-based article tries to search Kyai Sahal’sintellectualityandits effect on formulating social
fiqh idea, in addition to the intellectual connection as well as community organizations that extend the influence of social fiqh idea. This article will answer three key questions: 1. how is the thought genealogy of Kyai Sahal Mahfudh? 2. How is the formulation of Kyai
Sahal’s social fiqh idea in the map of Islamic legal thought in Indonesia? 3 how is the
application of society empowerment workedby Kiai Sahal? By seeing Kyai Sahal as a central figure, it will be one of the doors in reading fiqh dialectics inPesantren and campus academic forum. This article is limited to one figure and thought cluster of Kyai Sahal,it tried to visit the discourses that isrelated with the formulation of fiqh social epistemology.
PENDAHULUAN
Ide fiqh sosial yang dilontarkan oleh Kiai Sahal Mahfudh (1933-2014) tidak lahir dari ruang kosong sejarah. Fiqh sosial mempunyai riwayat panjang dalam perenungan, diskusi, penulisan hingga perdebatan di pelbagai forum ilmiah. Kiai Sahal tampil sebagai salah satu pengusung pembaruan fiqh di Indonesia, yang diaplikasikan dalam konteks NU maupun ruang pemberdayaan sosial di masyarakat.
Gagasan Fiqh Sosial Kiai Sahal dipengaruhi oleh jejaring intelektual beliau, yakni perjumpaan dengan Kiai-kiai di beberapa pesantren, Kiai Mansyur (pesantren an-Nur Lasem), Kiai Muhajir (Pesantren Bendo, Pare, Kediri), Mbah Mad dan Kiai Zubair (Sarang), Syech Yasin al-Fadani (Makkah). Di samping itu kiai Sahal juga dibimbing oleh paman beliau, Kiai Abdullah Zain bin Salam, Kajen Pati. Selain jejaring Kiai dan pesantren yang menjadi fondasi keilmuan Kiai Sahal, kiprah organisasi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang digeluti Kiai Sahal juga berperan untuk menghantarkan pencapaian gagasana Fiqh Sosial. Tanpa perbenturan dengan realitas sosial masyarakat, Fiqh hanya akan menjadi teks yang tak mampu berkomunikasi dengan zaman.
Jejak organisasi Kiai Sahal, diantaranya ketika membina madrasah Mathali’ul Falah,
mengurus NU dari tingkat Ranting, MWC Margoyoso, PCNU Pati, hingga kemudian ia mendapat amanah sebagai wakil Rais PWNU Jawa Tengah, Rais Syuriah PWNU Jateng, hingga kemudian
menjadi Rais ‘Am PBNU (Muktamar Lirboyo, Kediri, dan Muktamar Makassar). Selain itu, Kiai
Sahal juga berperan sebagai Ketua Umum MUI.
Dasar keilmuan kokoh yang berasal dari penguasaan teks klasik, kiprah sosial di bidang pendidikan dan organisasi sosial, hingga keterlibatannya dengan sejumlah LSM dan NGO menghantarkan Kiai Sahal pada pemikiran yang original, yang lahir dari akar sejarah dan menapak pada realitas sosial. Kiai Sahal, tentu sejalan dengan apa yang ada dalam angan-angan Gramsci, sebagai intelektual organik.1
Menurut Kiai Sahal, “Fiqh sosial tidak sekedar sebagai alat untuk melihat setiap peristiwa
dari kacamata hitam putih, sebagaimana cara pandang fiqh yang kita temukan, tetapi fiqh sosial
1
Intelektual organik dalam bayangan Gramci adalah intelektual yang tidak hanya berada di menara gading,
namun juga berani melakukan perubahan sosial, diantaranya dengan melawan hegemoni. “whereas previous intellectual
relied on their sophistication and eloquence, the organic intellectual must actively participate in practical life, ‘as
juga menjadikan fiqh sebagai paradigma pemaknaan sosial”.2
Hal inilah yang menjadi perspektif Kiai Sahal dalam merumuskan Fiqh Sosial sebagai fondasi pemberdayaan masyarakat yang ia lakukan selama ini.
KH Sahal Mahfudh dilahirkan di Pati 17 Desember 1933. Hampir seluruh hidupnya dijalani di pesantren, mulai dari belajar, mengajar, dan mengembangkannya. Latar belakang kesejarahan yang kaya nilai tradisi inilah yang menjadikan figur kiai Sahal peka dengan problem sosial dan menghargai kearifan lokal. Kiai Sahal meruapakan intelektual sekaligus aktifis yang mengusung pemberdayaan masyarakat. Jejak pemikiran utamanya terekam dalam buku "Nuansa Fiqh Sosial (1994)3. Selain itu, Kiai Sahal juga menulis Thariqat al Hushul ila Ghayah al Ushul (2000), Al Bayan al Mulamma an Alfaz al Luma (1999), Telaah Fiqh Sosial, Dialog dengan KH. MA. Sahal Mahfudh (1997), Pesantren Mencari Makna, (1990), Ensiklopedi Ijma’ (terjemah bersama KH. Mustofa Bisri dari kitab Mausu’ah al Hajainiyah, 1960 (1987), Ensiklopedi Ijma’ (1985), Faidhu Al Hijai (1962), Al Tsamarah al Hajainiyah (1960), Intifakhu Al Wadajaini Fi Munadohorot Ulamaai Al Hajain (1959), Luma al Hikmah ila Musalsalat al Muhimmat, Al Faraid al Ajibah dan beberapa mahakarya lainnya.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran mendalam tentang Gagasan fiqh sosial Kyai Sahal dengan menggunakan pendekatan kualitatif.Metode kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alami dimana peneliti sebagai informan kunci (key informan). Pendekatan kualitatif menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data langsung, bersifat deskriptif analitik, menekankan pada proses, bersifat induktif serta mengutamakan makna. Jadi sasaran kajiannya adalah pola-pola yang berlaku berdasarkan atas perwujudan dari gejala-gejala yang ada dalam kehidupan manusia (Sugiono, 2008:46).
Disamping itu, penelitian ini bersifat deskriptif yaitu penelitian yang tujuan utamanya untuk menerangkan apa adanya atau apa yang ada sekarang. Dengan pendekatan ini berarti gambaran-gambaran dikembangkan berdasarkan atas kenyataan-kenyataan empirik sebagaimana dipahami dari permasalahan yang dirumuskan.
2
Pidato penganugerahan Dr. Honoris Causa dari UIN Syarif Hidayatullah kepada KH. Sahal Mahfudz, naskah
ini kemudian menjadi pengantar buku “Nuansa Fiqh Sosial”, Yogyakarta: LkiS. 1994. Dalam catatan Kiai Sahal, Fiqh
Sosial memiliki lima ciri pokok yang menonjol, (1) interpretasi teks-teks fiqh secara kontekstual, (2) perubahan pola bermadzhab dari bermadzhab secara tekstual, ke bermadzhab secara metodologis (madzhab manhaji), (3) verifikasi mendasar, mana ajaran yang pokok (ushul) dan mana yang cabang (furu’), (4) fiqh dihadirkan sebagai etika sosial, bukan hukum positif negara, (5) pengenalan metodologi pemikiran filosofis, terutama dalam masalah budaya dan sosial.
3
Gambaran yang demikian dilihat dari perspektif bidang studi pendidikan dengan perbandingan ciri khas tinjauan komparatif menyatakan bahwa dari dimensi ontologi, penelitian kualitatif menurut pendekatan yang holistik mengamati obyek sesuai dengan konteksnya dan tidak dieleminasi dari interpretasinya. Pada dimensi epistemologi, metode kualititatif memiliki ciri khas yaitu menyatunya subyek peneliti dengan obyek penelitian dan pendukungnya, sehingga terlibat langsung di kancah dan menghayati prosesnya.
Sumber data diperoleh secara berkesinambungan seperti menggelindingnya bola salju (snow ball) melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kegiatan pengumpulan data dihentikan ketika datanya sudah jenuh, artinya dari berbagai informan, baik yang lama maupun baru tidak diperoleh data yang baru lagi.4
Penelitian ini menggunakan mekanisme: (a) Analisis Teks
(b) Wawancara (c) Studi Dokumentasi
HASIL DAN PEMBAHASAN
Konteks Keilmuan Kajen
Membicarakan pemikiran Kiai Sahal, tak dapat lepas dari konteks keilmuan Kajen. Daerah ini dapat dikatakan sebagai pusat penyebaran Islam di Pati. Dalam posisi geografisnya di pesisir Jawa, tradisi-tradisi yang berkembang di Kajen tidak jauh dari tradisi Islam pesisir yang lekat dengan ritual lokal. Tradisi Islam pesisir inilah yang menjadi melatar belakangi pemikiran, mental dan pemberdayaan sosial Kiai Sahal.
Selain itu, kehidupan sosial keagamaan pesisiran sangat mempengaruhi mental dan cara pandang santri dan masyarakat Kajen. Kisah hidup Kiai Mutamakkin menjadi referensi penting bagi Kiai Sahal dan santri Kajen dalam melakoni hidup dan belajar di pesantren. Peranan sosial Kiai Sahal, juga tak lepas dari konteks historis Kiai Mutamakkin, yang menjadi pioner perkembangan Islam di pesisir Jawa pada pergantian abad, antara abad XVII dan XVIII.5
4
(Sugiono, 2008:57) 5
Kisah hidup Kiai Mutamakin di pesisir tanah Jawa menarik ditempatkan sebagai lambaran refleksi pergulatan sufisme-mistik dan resistensi kuasa. Ia hidup pada masa kekuasaan Amangkurat IV (1719-1726) dan Pakubuwana II (1726-1749). Kiai Mutamakin bermukim di Cebolek (ada yang menyebut Pati, sebagian menganggap Tuban), sebagai tokoh agama bagi masyarakat Jawa.
Dalam Serat Cebolek, Kiai Mutamakin dikisahkan mengajarkan ilmu agama dengan sandaran sufistik dan mistisme Jawa yang kental. Selain Kiai Mutamakin, Serat Cebolek juga mengisahkan tentang tragedi sufistik-mistis Jawa dalam menghadapi tekanan kuasa; kisah Syech Siti Jenar dihukum pancung pada zaman Sunan Giri, Pangeran Penggung mati dibakar di atas tonggak pada zaman kerajaan Demak dan riwayat Ki Bebeluk yang dihukum mati dengan ditenggelamkan. Th. Pigeaud menggolongkan Serat Cebolek yang ditulis R. Ng. Yasadipura, sebagai dongeng naratif dan didaktif serta menempatkan dalam suatu kelompok bersama Serat Gatolotjo dan Darma Gandul.6
Kiai Mutamakin bercermin pada kitab Bima Suci yang berisi kisah kearifan Dewaruci, yang disandingkan dengan tafsir kitab ajaran Muhammad. Jejak profetik Kiai Mutamakin untuk mengajar santri dan masyarakat terhadang tuduhan sebagai pembangkang. Ia didakwa mengajarkan praktik sesat kepada santri, tak mematuhi syariah agama sebagai hukum formal dan memelihara dua belas anjing.
Model ajaran dan laku Kiai Mutamakin ini dianggap Ketib Anom sebagai pemberontakan dan penyimpangan. Ketib Anom, penghulu agama di Kudus, meminta Raja menyelenggarakan pengadilan. Kiai Mutamakin dihambat oleh kekuasaan karena mengajarkan ilmu kesempurnaan (haq, esoteris). Menurut Kuntowijoyo7
, kerajaan Islam-Jawa cenderung menyingkirkan mistik dan menerapkan hukum syariah. Dalam amatan Kuntowijoyo, pilihan menyingkirkan mistisisme dan mengukuhkan syariah, bertujuan untuk menjaga kewibawaan keraton dari pengaruh sufisme yang melecehkan kekuasaan kerajaan.
Ajaran sufistik dan mistik dianggap membahayakan kekuasaan kraton, karena tak dapat dikontrol dari tangan kuasa. PJ. Zoetmulder mengungkapkan, dalam tradisi mistik Islam-Jawa, kemanunggalan antara Tuhan dan manusia merupakan ekspresi dan ekstase spiritual. Manusia adalah manifestasi Tuhan dan di dalam nyawa—atau sukma—terjadilah kontak dengan Tuhan.8
6
Pigeaud. Th, Literature of Java: Catalogue Raisonné of Javanese Manuscripts in the Library of the University of Leiden and Other Public Collections in the Netherlands. The Hague: Martinus Nijhoff. 1967.
7
Kuntowijoyo. Paradigma Islam; Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan. 1991.
Praktik sufistik dan mistisisme dalam masyarakat Jawa cenderung tak memandang masalah secara hitam-putih.
Jalan hidup Kiai Mutamakin untuk mengajarkan nilai-nilai agama memang dihadapkan pelbagai hambatan. Motif kompetisi kharisma dan kecemburuan sosial menghadang Kiai Mutamakin untuk menyebarkan ajaran agama. Lingkaran kuasa Raja-Kraton melakukan monitor terhadap model penghayatan agama rakyat. Penguasa melakukan campur tangan terhadap aktualisasi nilai-nilai agama. Pilihan Kiai Mutamakin dengan bersandar pada sufistik dan mistisme Jawa dalam strategi pengajaran ilmu kepada santri, dipandang sebagai enigma bahaya bagi masa depan kekuasaan kraton.
Tafsir Kiai Mutamakin terhadap nilai ajaran Muhammad dan pesona kitab Bimasuci menjadi substansi ajaran dakwahnya. Namun, inilah yang dianggap penguasa membahayakan kehidupan rakyat yang kondusif, sebab ilmu kesempuraan tidak tepat sebagai konsumsi awam. Mark R. Woodward9 menyatakan, mistikus kejawen memahami gagasan fana’ dengan pengertian yang sama. Ia merujuk pada suatu kondisi di mana gagasan mengenai diri sebagai suatu entitas yang terlepas (independent) dari Allah dan pikiran-pikiran mengenai segala sesuatu kecuali Allah yang disingkirkan. Tingkatan inilah yang disebut dengan penyatuan manusia dengan Tuhannya;
‘manunggaling kawula-gusti’.
Biografi Kiai Mutamakin adalah perjalanan hamba menuju Tuhan yang diwarnai dengan ketegangan spiritual-mistik dan kuasa kerajaan. Kompetisi antar otoritas keagamaan juga menjadi bingkai perjalanan hidup Kiai Mutamakin, sebagai pembesar di luar lingkaran kuasa-agama resmi kerajaan. Kondisi inilah yang menjadikan kiai Mutamakin banyak ditentang dan dicibir oleh
pemuka lain. ”Telah menjadi suratan, ia diciptakan dengan tampang dungu/ tapi diberkati hati yang suci/ untuk menjadi petugas sukma/ (ia telah) ditakdirkan memiliki hati suci”.10
Walaupun mengalami tuduhan penyimpangan, pengadilan resmi kerajaan dan pelbagai hambatan lain, Kiai Mutamakin akhirnya dibebaskan oleh Raja Pakubuwono II. Keteguhan prinsip dan ajaran Kiai Mutamakin menjadi dalil kebenaran diri. Lingkaran kuasa tak dapat menjerat Kiai Mutamakin dengan jebakan dan tuduhan. Hingga kini, kisah Kiai Mutamakin masih menjadi inspirasi sebagian besar santri, seniman dan tokoh agama.
9
Mark Woodward, Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan. Yogyakarta: LkiS, 1999.
10
Bahkan, ketika menjabat presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyempatkan diri ziarah ke makam Kiai Mutamakin di Kajen, Pati, Jawa Tengah. Gus Dur menganggap bahwa Kiai
Mutamakin merupakan landasan perjuangan dan inspirasi sikap hidup. ”Saya datang ke sini bukan
sebagai presiden, tetapi sebagai keturunan Kiai Mutamakin, dan ini bukan untuk syukuran, tetapi untuk slametan, karena kita selamat bisa melaksanakan perjuangan Kiai Mutamakin. Beliau melawan sistem yang salah. Beliau menegakkan keadilan demi kepentingan rakyat dan
mudah-mudahan bisa terwujud tidak lama lagi”, ungkap Gus Dur sewaktu beliau menjabat sebagai presiden.11
Biografi ilmu dan laku Kiai Mutamakin menjadi simbol relasi politik dengan mistisisme Jawa. Wajah politik manusia Jawa masih diselubungi tafsir mistis dalam kompetisi kepemimpinan. Keyakinan Gus Dur jadi gerbang untuk melihat celah relasi kuasa-mistisme Jawa. Gelagat beberapa politisi tanah air yang menafsirkan pencalonan presiden dengan narasi dan tafsir mistis Jawa merupakan bukti kuatnya spiritualitas dalam bingkai mistisme manusia Jawa. Kisah kompetisi anggota dewan juga diwarnai perang mistis untuk mencari perimbangan politis. Kisah hidup Kiai Mutamakin menjadi refleksi tafsir simbolis atas posisi subyek sebagai pembangkang dan pahlawan.12 Kiai Mutamakin tetap berada di atas prinsip dan keyakinan hidupnya untuk menggali kesempurnaan sebagai model pengajaran ilmu kepada murid-muridnya.
Narasi hidup dan kiprah keilmuan Kiai Mutamakkin turut membentuk karakter keturunan beliau dan santri Kajen pada umumnya, diantaranya yakni Kiai Sahal bin Mahfud Salam.
Genealogi Intelektual Kiai Sahal
KH Sahal Mahfudh dilahirkan di Pati 17 Desember 1933. Hampir seluruh hidupnya dijalani di pesantren, mulai dari belajar, mengajar, dan mengembangkannya. Latar belakang kesejarahan yang kaya nilai tradisi inilah yang menjadikan figur kiai Sahal peka dengan problem sosial dan menghargai kearifan lokal.
Kiai Sahal menimba ilmu ke Kiai Mansyur, Lasem. Di Lasem, Kiai Sahal mempelajari cara mengajar Kiai Mansyur yang enak di dengar. Selepas dari Lasem, Kiai Sahal belajar ke pesantren
11
Soebardi. Serat Cabolek: Kuasa, Agama, Pembebasan: Pengadilan KHA Mutamakin & Fenomena Shaikh Siti Jenar. Bandung: Nuansa Cendekia. 2004; Sindhunata, Memahami Mimpi Gus Dur. Kompas. 30 Juni 2001. Azyumardi Azra, Mistifikasi Politik Indonesia di Awal Milenium Baru; Gus Dur dan KH. Ahmad Mutamakin. Jakarta. Kompas: 2000. Tulisan Sindhunata lebih memberikan tafsir empatik atas kosmologi pemikiran Gus Dur, sedangkan Azra dengan sinis menulis tentang mistifikasi politik pada era Gus Dur yang ditandai dengan tradisi makam dan ziarah.
12
Bendo, Pare, Kediri. Di Bendo, Kiai Sahal belajar mengaji kitab-kitab tasawuf pada Kiai Muhajir, semisal kitab Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. “Kiai Muhajir itu orangnya tawadhu’. Sepuh
tapi tawadhu’nya bukan main. Tawadhu’nya itu bukan hanya dengan orang yang diatasnya, tetapi
kadang dengan santri yang sudah dianggap dewasa, masih menunjukkan sikap tawadhu’, saking tawadhu’nya santri tidak berani sowan.”13
Biografi personal Kiai Muhajir turut membentuk watak Kiai Sahal, pada pengembaraan hidupnya.
Di pesantren Bendo, Kiai Sahal tidak hanya belajar mengaji kitab-kitab salaf yang bernuansa sufistik, akan tetapi beliau juga belajar ilmu umum. Minat besar Kiai Sahal terhadap ilmu Tata Negara, Administrasi dan Bahasa Inggris sedikit terpuaskan di Pare. Ia mendapatkan guru untuk pelajaran ilmu bernama Hafsah,anggota Muhammadiyah, setelah diperkenalkan dengan Imam Thaha, santri mbah Mahfudh di Pare.
Di pesantren Bendo, Sahal yang haus akan ilmu pengetahuan dan informasi, mencoba berlangganan koran dan memasukkan dalam bilik pesantren. Ia pertama-tama membacanya dengan sembunyi-sembunyi, di balik kitab yang ia selipkan lembaran koran. Namun, lama-kelamaan Kiai Sahal ketahuan oleh santri senior. Dan, kemudian ia dipanggil oleh Pak Kiai Muhajir.
“Jadi benar, kamu berlangganan koran, Gus? Untuk apa?”, tanya Pak Yai. “agar tahu berita
dan yang terjadi di luar sana, kiai, seperti tentang dunia politik dan lain-lain” jawab Sahal muda.
Seketika Pak Yai pun menjawab, “Bagus itu, kalau gitu, jika ada waktu luang, sempatkan untukku
ya!”. Kisah ini memberikan makna bahwa sejak masih muda, Kiai Sahal sudah memiliki kehausan
ilmu yang luar biasa, tidak hanya pada bidang ilmu agama, namun juga pada informasi dan ilmu umum, yang menjadi referensi untuk melihat dunia. Hal ini diakui Kiai Sahal, agar santri tidak mudah diombang-ambingkan zaman.
Di Pare, Kiai Sahal juga bersinggungan dengan perlawanan pesantren terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada kurun waktu Kiai Sahal nyantri di pesantren Bendo Pare, memang sedang terjadi ketegangan antara PKI dan kelompok ormas Islam, khususnya NU dan pesantren. Santri-santri sering membubarkan rapat-rapat PKI, dan kemudian meningkatkan kontestasi antara kedua kelompok.14 Pengalaman berkontestasi dengan kelompok lintas ideologi inilah yang juga
13
Mujiburrahman dkk, Kiai Sahal: Sebuah Biografi. Jakarta: Tim KMF Jakarta. 2012.
14