1
PENGEMBANGAN SIKAP PEDULI LINGKUNGAN MELALUI
PEMBELAJARAN GEOGRAFI BERBASIS ECOPEDAGOGY
PADA SISWA DILINGKUNGAN PESISIR
(SMA Negeri Di Lingkungan Pesisir Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat)
Asep Gunawan1, Darsiharjo2, Lili Somantri3
Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Pendidikan Indonesia
Email:[email protected]ABSTRAK
Kepedulian lingkungan merupakan suatu sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk
memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi dilingkungan pesisir. Untuk
menumbuhkembangkan kepedulian lingkungan pada diri siswa dapat melalui pembelajaran Geografi yang berbasis lingkungan sekitar atau ecopedagogy. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Untuk populasi penelitian ini adalah siswa SMA yang ada dilingkungan pesisir. Hasil dari penelitian terdapat hasil belajar siswa yang di bagi terhadp tiga aspek yang meliputi aspek kognitif (Pengetahuan), aspek afektif (sikap), dan aspek psikomotor (keterampilan). Namun dalam hal ini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang perkembnagan pembelajaran Geografi berbasis ecopedagogy terhadap pembentukan kepedulian lingkungan pada siswa SMA di lingkungan pesisir. Untuk melihat keberhasilan penerapan pembelajaran secara ecopedagogy dalam aspek afektif, pada penelitian ini ditetapkan kedalam empat indikator ialah sebagai beikut “Apresiasi dan kepedulian terhadap lingkungan hidup di wilayah pesesir, respon dan pemikiran terhadap isu-isu lingkungan hidup di wilayah pesesir, menghargai pendapat dan pandangan orang lain terhadap lingkungan hidup di wilayah pesesir, keterbukaan dalam berbagai permasalahan dan pengelolaan lingkungan hidup di wilayah pesesir. Dari pemahaman akan lingkungan pesisir tersebut bertujuan untuk menumbukan kepedulian siswa terhadap lingkungannya, Aspek afektif pada penelitian ini dilihat dari hasil penelitian dengan menggunakan instrumen penelitian berupa angket.
Kata Kunci: Pembelajaran Geografi, Ecopedagogy, Kepedulian Lingkungan Pesisir
PENDAHULUAN
Interaksi antara manusia dengan lingkunganya tidaklah sederhana tetapi lebih kompleks. Pada dasarnya lingkungan itu terdapat banyak unsur yang saling mempengaruhi terhadap unsur lain. Namun, banyak manusia yang tidak menyadari pengaruh unsur tersebut. Untuk itu kewajiban manusia yaitu memanfaatkan lingkungan sesuai dengan etika lingkungan, dengan cara menjaga dan melestarikan tatanan lingkungan yang ada.
Perkembangan tatanan lingkungan seharusnya diperhatikan agar tidak mendatangkan berbagai jenis bencana. Untuk itu diperlukan tanggungjawab dari semua elemen masyarakat dalam menjaga tatanan lingkungan hidup dan lingkungan sosial. Diharapkan dengan tanggung jawab, akan tercipta suatu cara pandang yang lebih baik dalam memandang lingkungan itu sendiri. Untuk menyikapi hal tersebut perlu adanya pendidikan atau proses pembelajaran di masyarakat khususnya di kalangan generasi muda. Sasaran dalam pembelajaran ini adalah peserta didik agar peduli tentang keadaan lingkungan yang mereka tempati. Kahn (2010) berpendapat bahwa: “Ecopedagogy merupakan salah satu pendekatan alternatif untuk mendidik para siswa dan komunitas belajar hidup lebih adil, selaras dengan alam dan mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal yang dianut masyarakat serta kelestarian alam guna menunjang peradaban berkelanjutan guna mengubah manusia, sosial, dan
2
hubungan lingkungan saat ini. Ecopedagogy merupakan salah satu jalan untuk terhubung dengan alam sehingga dapat melihat masalah isu-isu lingkungan secara kritis”.
Berkaitan dengan pendapat tersebut bahwa ecopedagogy mengarahkan setiap orang, khususnya siswa untuk mengembangkan keterampilan dan strategi guna mempercepat respon dalam melakukan tindakan ekologis. Ecopedagogy juga dapat mengarahkan dan melatih setiap siswa untuk menanamkan rasa ingin tahu yang lebih mendalam terhadap masalah isu-isu lingkungan saat ini. siswa juga diharapkan dapat mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal yang di anut oleh masyarakat setempat, oleh karena itu perlu adanya pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai kepedulian pada siswa terhadap lingkungan pesisir.
Hal tersebut sesuai dengan pembelajaran Geografi yang memiliki objek kajian interaksi antara manusia dan lingkungannya maupun kajian interaksi antara manusia dengan manusia itu sendiri. Untuk itu keberadaan lingkungan dalam pembelajaran Geografi tidak dapat dilepaskan sebagai sumber belajar yang mempunyai nilai lebih. Sikap peduli lingkungan sebagaimana tujuan mata pelajaran Geografi sesuai dengan konsep etika lingkungan.
Pendidikan lingkungan dalam pelajaran geogarfi akan memberi kesadaran akan isu-isu lingkungan dan melihat dampak tindakan manusia terhadap bumi. Dalam pandangan Richard Kahn, ecopedagogy dapat memberi peluang untuk menganalisis kritis ekologis seperti gobal warming, kerusakan lingkungan, menipisnya sumber daya alam, kemiskinan, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Kollmuss dan Agyeman (2002, hlm. 240)mengemukakan bahwa perilaku pro-lingkungan sebagai “perilaku yang secara sadar berusaha untuk meminimalkan dampak negatif dari tindakan seseorang pada alam yang dibangun.
Sesuai penyatan diatas dapat disimpulkan Pembelajaran Geografi berbasis ecopedagogy memiliki peran dan tujuan yang strategis, dalam menumbuh kembangkan kepedulian terhadap lingkungan. Selain itu diharapkan juga dapat memberi nurturant effect kepada perserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan tujuan akhir dari suatu proses pembelajaran yang mengharapkan adanya perubahan dari aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor. Proses perubahan dapat terjadi dari yang paling sederhana sampai pada paling kompleks yang bersifat pemecahan masalah. Pentingnya peran kepribadian dalam proses serta hasil belajar yang mampu mengubah perilaku siswa.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif untuk menggambarkan dan menginterpretasi sikap Peduli lingkungan Pada siswa dilingkungan pesisir, Jumlah subjek penelitian adalah 250 orang. Pengumpulan data menggunakan angket skala sikap sebagai instrumen penelitian untuk mengukur sikap. Instrumen penelitian menggunakan angket skala sikap (The Ecological Paradigm
Scale) berisi 15 pertanyaan dengan skala Likert 1-5. Angket terdiri atas sikap ekologis terhadap :
Apresiasi dan kepedulian terhadap lingkungan hidup di wilayah pesesir, Respon dan pemikiran terhadap isu-isu lingkungan hidup di wilayah pesesir, Menghargai pendapat dan pandangan orang lain terhadap lingkungan hidup di wilayah pesesir, Keterbukaan dalam berbagai permasalahan dan pengelolaan lingkungan hidup di wilayah pesesir. Analisis deskriptif hasil penelitian menggunakan Program SPSS 21.0 for Windows.
3
HASIL DAN PEMBAHASAN
Untuk melihat keberhasilan penerapan pembelajaran secara ecopedagogy dalam aspek afektif, pada penelitian ini ditetapkan kedalam empat indikator ialah sebagai beikut “Apresiasi dan kepedulian terhadap lingkungan hidup di wilayah pesesir, respon dan pemikiran terhadap isu-isu lingkungan hidup di wilayah pesesir, menghargai pendapat dan pandangan orang lain terhadap lingkungan hidup di wilayah pesesir, keterbukaan dalam berbagai permasalahan dan pengelolaan lingkungan hidup di wilayah pesesir. Dari pemahaman akan lingkungan pesisir tersebut bertujuan untuk menumbukan kepedulian siswa terhadap lingkungannya, Pembelajaran Geografi berbasis
ecopedagogy juga berpengaruh terhadap pembentukan kepedulian terhadap lingkungan siswa di
lingkungan pesisir. Kollmuss dan Agyeman (2002, hlm. 240) mengemukakan bahwa perilaku pro-lingkungan sebagai “perilaku yang secara sadar berusaha untuk meminimalkan dampak negatif dari tindakan seseorang pada alam yang dibangun. misalnya, meminimalkan sumber daya alam dan konsumsi energi, penggunaan non-beracun zat, mengurangi produksi sampah dan menjaga hutan mangrove yang ada wilayah pesisir.
Hal ini Sesuai dengan dengan tuntutan seseorang dalam berprilakau lingkunagan yang di ungkapan Lee (2008, hlm.5) Mengungkapkan Environmental behavior seseorang di tuntut oleh tujuh variable yaitu : 1).Environmental Attitude (sikap terhadap lingkungan) yaitu mengacu kepada penilaian kognitif individu terhadap nilai dari perlindungan lingkungan. 2). Environmental Concern (kepedulian terhadap lingkungan yaitu sebagai tingkatan dari keterlibatan secara emosional dalam isu-isu lingkungan. Maloney et al (1975) mendefinisikan Environmental Concern sebagai tingkatan dari emosi, pengetahuan dan kesediaan dalam mengubah perilaku. 3). Perceived seriousness of
environmental problem (pemahaman mengenai keseriusan dari masalah-masalah lingkungan), yaitu
sebuah tingkatan seberapa serius masalah lingkungan juga dipengaruhi terhadap green purchase
behavior seseorang. 4). Perceived environmental responsibility (pemahaman mengenai tanggung
jawab atas lingkungan). Dengan adanya pendidikan menganai adanya lingkungan yang baik seperti yang di unggkapkan oleh Lai (2000) yang mengemukan bahwa ; seseorang akan lebih mengerti akan masalah yang dihadapi oleh lingkungan dan apa tanggung jawab dan peranan yang seseorang miliki dalam pelestarian lingkungannya. 5). Perceived effectiveness environmental behavior (Pemahaman mengenai keefektifan dari perilaku lingkungan). Lee (2008) mengemukakan bahwa
Perceived seriousness of environmental problem berhubungan dengan persepsi atau pandangan
seseorang ketika seseorng melibatkan dirinya dalam perilaku yang mendukung lingkungan, maka seseorang itu akan berkontribusi yang banyak kepada lingkungan. 6). Perceived self-image in
environmental protection (pemahaman mengenai self-image dalam perlindungan lingkungan).
Waterman (2004) menemukan bahwa seorang individu lebih suka terlibat dalam aktivitas yang menggambarkan identitas aktual mereka. 7). Peer influence (pengaruh teman sebaya). Menurut Ryan (2001) pengaruh social adalah suatu perubahan social dimana seorang individu mengasosiasikan dirinya dengan orang lain dengan menunjukkan kemiripan.
Dari aspek afektif tersebut tentunya akan membentuk pemahaman siswa dalam bersikap secara ekologis dalam pembelajaran geografi berbasis ecopedagogy. Adapun pendapat Gardner (1975) Sikap didefenisikan sebagai "Afektif atau evaluatif di alam, dan itu ditentukan oleh keyakinan orang tentang objek sikap. Kebanyakan orang memegang keyakinan positif dan negatif tentang suatu objek, dan sikap dipandang sesuai dengan keseluruhan pengaruh yang terkait dengan kepercayaan mereka". Pendapat tersebut sesuai dengan apa yang dijadikan suatu pengukuran dalam ecopedagogy dalam menentukan sikap pada pesrta didik terhadap lingkunganya. Adapun yang menjadi cara dalam mengukur diungkapkan oleh Muhaimin (2015, hlm. 125) mengemukakan bahwa sikap yang akan diukur dalam ecopedagogy meliputi: “1) Apresiasi dan kepedulian terhadap lingkungan hidup, 2) Respon dan pemikiran terhadap isu-isu lingkungan hidup. 3) Menghargai pendapat dan pandangan orang lain terhadap lingkungan hidup. 4) Menghargai bukti dan argumentasi yang logis terhadap pengelolaan lingkungan hidup, dan 5) Toleransi dan keterbukaan dalam berbagai permasalahan dan pengelolaan lingkungan hidup”. Dari hasil aspek afektif ini
4
diharapkan adanya perubahan tingkah laku siswa, adapun tingkah laku peserta tersebut dapat dilihat juga dengan adanya perubahan kemampuan dan keterampilan yang ada dalam diri siswa .
Penjelasan tersebut didukung dengan hasil penelitian, berdasarkan hasil penelitian pengaruh pembelajaran Geografi berbasis ecopedagogy terhadap lingkungan pesisir dalam aspek afektif siswa, Sekolah-sekolah dilingkungan pesisir Kabupaten Karawang disimpulkan bahwa proses pembelajaran Geografi berbasis ecopedagogy berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan kepedulian lingkungan aspek afektif siswa.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap siswa SMA dilingkungan pesisir, mereka menyatakan bahwa pembelajaran Geografi di sekolah diarahkan kepada lingkungan pesisir. Selanjutnya didasarkan pada hasil observasi, peneliti menemukan bahwa pembelajaran Geografi disekolah menekankan pada pembelajaran lingkungan pesisir dengan materi yang disampaikan diantaranya; abrasi pantai, pencemaran laut, banjir rob, rusaknya hutan mangrove dan lain sebagainya, dengan tujuan siswa dapat memahami lingkungan dimana tempat tinggal mereka berada sehingga ada sikap kepedulian terhadap kerusakan yang ada.
Untuk melihat keberhasilan penerapan pembelajaran secara ecopedagogy dalam aspek afektif, pada penelitian ini ditetapkan kedalam empat indikator ialah sebagai beikut “Apresiasi dan kepedulian terhadap lingkungan hidup di wilayah pesesir, respon dan pemikiran terhadap isu-isu lingkungan hidup di wilayah pesesir, menghargai pendapat dan pandangan orang lain terhadap lingkungan hidup di wilayah pesesir, keterbukaan dalam berbagai permasalahan dan pengelolaan lingkungan hidup di wilayah pesesir. Dari pemahaman akan lingkungan pesisir tersebut bertujuan untuk menumbukan kepedulian siswa terhadap lingkungannya, Aspek afektif pada penelitian ini dilihat dari hasil penelitian dengan menggunakan instrumen penelitian berupa angket.
Nilai tertinggi aspek afektif siswa dari keseluruhan jawaban rata-rata di SMA dilingkungan pesisir adalah pemahamna akan apresiasi dan kepedulian terhadap lingkungan hidup di wilayah pesesir, respon dan pemikiran terhadap isu-isu lingkungan hidup di wilayah pesesir dan keterbukaan dalam berbagai permasalahan dan pengelolaan lingkungan hidup di wilayah pesesir, salah satu contohnya pemahan siswa akan pentingnya menjaga keberadaan hutan mangrove (Bakau, api-api, pidada dan lain-lain) melalui kegiatan peduli terhadap lingkungan pesisir. Jawaban terendah dari siswa dilingkungan pesisir yang dijadikan obyek penelitain ialah pemahaman akan keberadaan pemukiman, tambak, dan berbagai aktivitas lainnya yang merusak tatanan lingkungan dapat memicu terjadinya degradasi lingkungan pesisir, jawaban mereka rendah dalam pertanyaan ini dikarnakan siswa tidak merasa aktivitas manusia dilingkungan pesisir merusakan lingkungan yang ada.
PENUTUP
Model pembelajaran berbasis ecopedagogy efektif meningkatkan kompetensi ekologis siswa. Ada perbedaan yang signifikan dari aspek sikap lingkungan hidup dengan implementasi berbasis ecopedagogy. Lokalitas juga memberikan masalah esensial dan aktual tentang permasalahan lingkungan. Dalam konteks ini siswa memahami secara lebih jelas masalah yang akan dikaji, karena terjadi dalam lingkungannya dan dekat baik secara geografis maupun psikologis. Muatan materi yang bersumber dari realitas dan fenomena lokal dapat mempermudah pemahaman siswa dan efektif meningkatkan kompetensi ekologis yang diharapkan. Penelitian ini merekomendasikan secara lebih luas implementasi model berbasis masalah yang berangkat dengan isu-isu lokal dari permasalahan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah perlu menumbuhkan kompetensi ekologis dengan pembiasaan (habit formation), memberikan keteladanan (role model), dan gerakan bersama yang membentuk perilaku dan budaya sekolah yang selaras dengan green curriculum dan green living.
5
DAFTAR PUSTAKA Gardner, P. L. (1975). Studies in Science Education. (2), 1-41.
Kahn, R. 2010.critical pedagogy, Ecoliteracy and planetary crisis. New York:peter lang.
Kahn, R. 2008. From education for sustainable development to ecopedagogy : sustaining capitalisn sustaining life? Green theory & practice: the journal of ecopedagogy. Volume 4 No. 1 2008. pp 1-14.
Kollmuss, A., & Agyeman, J. (2002). Mind the gap: Why do people act environmentally and what
are the barriers to pro-environmental behavior? Environmental Education Research, 8(3),
239–260.
Lai, O.K. (2000). Greening of hong kong; Froms of maniferstation of environmental movement. In: the dynamics of social movement in hong kong, chiu, S.W.K and T.L liu. Hong kong University press, 259-296.
Lee, K (2008).Opportunities for green market ing : young consumer”, Marketing intelligence & Planning. VOL. 26, No 6, 573-586.
Lee, J. A. and S. J. S. Holden (1999), ‘‘Understanding the Determinants of Environmentally Conscious Behavior,’’ Psychology and Marketing 16(5), pp. 373–392.
Maloney, M. P., Ward, M. P. & Braucht, G. N. (1975). Psychology in action: a revised scale for
the measurement of ecological attitudes and knowledge. American Psychologist 30, 787-790.
Muhaimin (2015) membangun kecerdasan Ekologis, Model pendidikan untuk meningkatkan kecerdassan ekologis, Bandung : Alfabeta.
Muhaimin (2015) Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah Lokal Dalam Mengembangkan Kompetensi Ekologis Pada Pembelajaran IPS, SOSIO DIDAKTIKA: Social Science Education Journal, 2 (1).
Ryan. A.M. (2001). The peer group as a contex for the development of young andolescent
motivation and achievement. child development, vol. 72 1135-1150.
Waterman, A.S. (2004). finding someone to be : studies on the role of intrinsic motivation in
identity formation. Identity. Vol. 4 209-228.
Witherington, Henry Carl . (1952). Educational psychology. Edition revised. the University of California