• Tidak ada hasil yang ditemukan

DN AIDIT OTAK PEMBERONTAKAN G30S/PKI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DN AIDIT OTAK PEMBERONTAKAN G30S/PKI"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

DN AIDIT OTAK PEMBERONTAKAN G30S/PKI

Oleh : Noor Johan Nuh

ipa Nusantara (ON) Aidit adalah nama resmi yang ia perkenalkan kepada publik. Akan tetapi nama sebenarnya dari sosok berkulit kuning, bertubuh kekar, dengan sorot mata tajam seperti mata elang, dan beram-but agak ikal itu ialah Ojafar Nawawi Aidid (ujungnya huruf d), anak Haji Ai-did yang lahir di Oesa Air Hitam, Ka-bupaten Belitung. Keluarga Haji Aidid berasal dari Maninjau, Sumatra Barat, yang sekitar tahun dua puluhan meran-tau ke Belitung, menjadi pegawai kehu-tanan, sebagai Mantri Kehutanan pada masa pemerintahan kolonial Belanda. ON Aidit berhasil melarikan diri ke Peking setelah pemberontakan Par-tai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun pada 18 September 1948 ditumpas oleh TNI bersama Rakyat, dan dia kembali ke Indonesia pada tahun 1950. Kemu-dian ON Aidit masuk dalam elite partai sebagai Sekretaris Jenderal Comite Central (CC) PKI. Jabatan yang tera-khir sebagai Ketua CC PKI dan dalam

pemerintahan menduduki posisi sebagai Menteri Koordinator, Wakil Ketua MPRS. Oua minggu sebelum Gerakan 30 Sep-tember, tepatnya tanggal 15 September 1965, ON Aidit menerima Bintang Maha-putra. Istrinya bernama Tanti, seorang dokter - putri bapak Mudigdo. Nyonya Mudigdo adalah tokoh Gerakan Wan ita Indonesia (Gerwani) yang bersama ON Aidit memegang tampuk pimpinan partai. Tanggal 30 September 1965 pu-kul 22.00, Komandan Bimasakti Mayor Udara Sujono, sayap militer Gerakan 30 September yang bertugas menguasai obyek-obyek vital di Jakarta, menjemput ON Aidit, Ketua CC PKI di rumah Syam Kamaruzaman jalan Pramuka, Jakarta Timur. Menurut pengakuan Mayor Udara Sujono di depan Sidang Mahkamah Mi-liter Luar Biasa (Mahmilub), ia datang mengendarai Jeep Toyota, dari rumah Syam Kamaruzaman, ON Aidit dan May-or Jenderal Pranoto Reksosamudro su-dah menunggu untuk berangkat menuju Pangkalan Angkatan Udara (PAU) Halim Perdanakusuma. Masih dalam

(2)

pengakuan Mayor Udara Sujono, dalam perjalanan ke PAU Halim Perdanakusu-ma, DN Aidit menanyakan sekitar keikut-sertaan pasukan panser dan tank dalam Gerakan 30 September, sebagaimana dijanjikan oleh Komandan Brigade Infan-tri I Kodam V Jaya Kolonel A Latief. Teta-pi rencana menggunakan pasukan tank dan panser menemui kegagalan, karena semua pimpinan lapangan yang menurut rencana akan melakukan parade tang-gal 5 Oktober 1965 sudah diganti semua atas perintah Jenderal A Yani. Dengan demikian rencana itu gagal. Bahkan DN Aidit mengira rencana mereka telah bo-cor, dan diketahui lebih dulu oleh Jen-deral A Yani.

Sebenarnya rencana kudeta oleh PKI sudah terdeteksi oleh AD, akan tetapi ka-pan waktunya belum diketahui. Atas perintah Jenderal S Parman, pada tang-gal 15 September 1965, semua rumah Jenderal yang kemudian di bunuh oleh G30S dijaga satu regu tentara dari MBAD, akan tetapi tanggal 18 Septem-ber penjagaan dihentikan atas perintah Jenderal A Yani. "Saya tidak takut pada senjata Tjung," kata Yani.

Tanggal 1 Oktober 1965 jam 03.00, Komandan Pasopati Letnan Satu Dul Arif, sayap militer Gerakan 30 Sep-tember yang bertugas menculik apa yang mereka katakan sebagai Dewan Jenderal, berangkat dari PAU Halim

Per-danakusuma menuju rumah Jenderal-Jenderal yang masuk daftar untuk diculik. Jenderal AH Nasution lolos dari pencu-Iikan akan tetapi ajudannya, Letnan Satu eZI Piere Tendean dan enam jenderal ber-hasil diculik dan di bantai hingga tewas. Ke tujuh jenazah Perwira Angkatan Da-rat itu di masukan ke dalam satu sumur tua di daerah Lubang Buaya, Halim Per-danakusuma. Dalam penculikan itu putri Jenderal AH Nasution, Ade Irma Suryani Nasution, yang baru berusia 4 tahun ditembak oleh pasukan penculik. Ade Irma dirawat di RSPAD hingga mening-gal dunia pada tangmening-gal 6 Oktober 1965. Wakil Ketua Dewan Revolusi G30S Brigadir Jenderal Supardjo sejak pu-kul 06.00 pagi sudah berada di Ista-na. la bertugas menjemput Presiden Soekarno pergi ke Halim. Ternyata Presiden Soekarno pergi sendiri ke tem-pat yang digunakan oleh pimpinan pelak-sana G30S sebagai tempat berkumpul. Dengan perantaraan Menteri Pangli-ma Angkatan Udara LaksaPangli-mana Madya Udara Omar Dhani, Brigjen Supardjo menghadap Presiden dan melaporkan tentang Jenderal-jenderal yang telah berhasil diculik. Dilaporkan juga bahwa Jenderal AH Nasution lolos. Atas dicu-Iiknya Menteri Panglima Angkatan Da-rat Letnan Jenderal A Yani, Presiden Soekarno mengangkat Mayjen Prano-to Reksosamudro sebagai Pelaksana

(3)

Harian Pimpinan Angkatan Darat. Se-dang pimpinanAngkatan Darat dipegang langsung oleh Presiden Soekarno. Tidak dibicarakan pada waktu itu keberadaan Jenderal A Yani dan lima jenderallainnya yang di culikoleh pasukan Pasopati G30S. Presiden Soekarno masih ada di Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma ketika Ketua Dewan Revolusi Indonesia Letnan Kolonel Untung mengumumkan melalui RRI pu-sat tentang pendemisioneran Kabinet Dwikora, dan kekuasaan dalam Negara Republik Indonesia diambil alih oleh Gerakan 30 September. Kemudian menyusul diumumkan tentang kepang-katan yang tertinggi dalam Angkepang-katan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) adalah Letnan Kolonel. Akan tetapi, Presiden Soekarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi/Panglima Tertinggi ABRI tidak memberikan reaksi apa apa. Di Markas Komando Strategi Angka-tan Darat (Kostrad) jalan Merdeka Timur, Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soe-harto, Panglima Kodam V Jaya Mayjen Umar Wirahadikusuma dan Jenderal AH Nasution yang lolos dari pemban-taian G30S, mengadakan pembahasan dan penilaian atas peristiwa yang baru saja terjadi. Keputusan yang diambil adalah: mengadakan aksi pembalasan dan pengejaran terhadap pasukan pen-culik perwira-perwira tinggi AD. Disinyalir

mereka menuju PAU Halim Perdanaku-suma. Namun tidak tersedia pasukan. Pasukan masih harus dicari. Pasukan yang pertama dapat digunakan oleh Jenderal Soeharto adalah Resimen Para Komando Angkatan Darat (RP-KAD) dibawah komando Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, dan pada pUkul17 .00, Yon 328 Para Kujang bergabung ke Kostrad. Belum lagi pasukan digerakkan, pu-kul 16.00 Pang lima Kostrad menerima surat dari Presiden Soekarno selaku Panglima Tertinggi ABRI. Surat itu dibuat di Markas Gerakan 30 September di PAU Halim Perdanakusuma. Isinya sebuah pernyataan bahwa Presidendalam keadaan sehat walafiat dan tetap meme-gang pimpinan negara. Angkatan Darat langsung dipegang oleh Presiden dan tugas sehari hari AD diserahkan kepada Mayjen Pranoto Reksosamudro, yang bersama DN Aidit sudah berada di Halim sejak malam 30 September.

Para perwira tinggiAD yang berkumpul di Markas Kostrad kemudian mengada-kan perundingan sehubungan dengan su-rat Presiden tersebut. Jenderal Nasution sebagai yang paling senior memutuskan dalam perundingan itu sebagai berikut: 1. Operasi pembalasan dan pengejaran terhadap para penculik sedang dilak-sanakan.

2. Para Jenderal yang diculik belum ke-tahuan bagaimana nasibnya.

(4)

3. Biasanya kalau Men. Pangad. Jen-deral A Yani tidak ditempat, perwira yang mengganti atau mewakili adalah Mayjen Soeharto. Oleh karena itu diputuskan untuk sementara pimpinan AD dipegang oleh Mayjen Soeharto.

Jenderal Nasution menegaskan ke-pada Ajudan Presiden Kolonel (KKO) Bambang Widjanarko yang datang ke Markas Kostrad mengantarkan surat dari Presiden Soekarno: "Kami tidak menolak order Presiden, tapi order itu belum bisa dilakukan. Jenderal Soeharto sedang memimpin operasi dan tentulah tidak bisa ia diberhentikan begitu saja. Ini adalah urusan teknis militer yang kami hada-pi. Urusan politik terserah Oude heer (bapak)." Sedang Pak Harto mengatakan pada Bambang Widjanarko: "Kalau Kolo-nel ingin berjasa, usahakan Bapak men in-ggalkan Halim sebelum tengah malam." Pang lima Kostrad Mayjen Soeharto yang mengambil alih pimpinan AD begitu cepat bisa menguasai keadaan. Situa-si begitu cepat berubah. Di pihak sana segera merencanakan keberangkatan Presiden ke Jawa Tengah. Ketua CC PKI DN Aidit berangkat dengan pesawat terbang AURI ke Yogyakarta. Maksudnya mempersiapkan tempat bagi Presiden dan rombongan yang akan mengungsi ke Jawa Tengah. Tapi maksud itu gagal setelah Presiden dibujuk oleh Wakil Per-dana Menteri II Dr. Leimena, dalam

situ-asi krilis pada waktu itu, agar Presiden tetap berada tidak terlalu jauh dari Jakar-ta. Akhirnya malam itu juga Presiden dan rombongan berangkat ke Bogor.

Sudah masuk tanggal 2 Okto-ber, pukul 02.00, pesawat dengan penumpang DN Aidit dan dua orang pengawal mendarat di lapangan terbang Adisutjipto, Yogyakarta. Komodor S Dono Indarto, Gubernur Akademi Ang-katan Udara menjemput tamu dari Men-teri Panglima Angkatan Udara (Men. Pangau) Omar Dhani yang melalui ra-diogram jam 09.00 tanggal 30 Septem-ber mendukung G30S. Dari Yogyakarta DN Aidit menuju Semarang, menemui Lukman dan Ir. Sakirman (adik Pahla-wan Revolusi Letjen S Parman. Bagi orang komunis membunuh saudara kandung hal yang biasa seperti Mao Zee Tung membunuh beberapa orang keluarganya karena tidak sejalan den-gan ideologi partai) yang sudah be-berapa hari berada di Semarang. Ke-tiga pimpinan kudeta ini merundingkan cara melakukan perlawanan terhadap pasukan di bawah pimpinan Nasu-tion dan Soeharto, setelah mencermati Dewan Revolusi Indonesia G30S ber-jalan tidak sesuai dengan rencana. Tanggal 3 Oktober 1965, dari Sema-rang bersama Wakil Gubernur Jawa Tengah Sujono Atmo, Aidit, Lukman dan Sakirman, mengendarai kendaraan

(5)

dinas No Pol. H 2, berangkat ke Solo. Yang mereka tuju adalah kediaman Wali Kota Surakarta, Utomo Ramelan yang telah berhasil menjadikan Solo sebagai pilot project PKI. Dalam perjalanan mereka singgah di Boyo-la/i. Bupati Boyolali SuaIi adalah kader PKI. Mereka mengadakan perundingan di kantor Kabupaten Boyolali dengan pengamanan ketat dari Pemuda Rakya!. Selesai perundingan, empat tokoh PKI ini meneruskan perjalanan ke Solo, lang-sung ke rumah dinas Wali Kota Utomo Ramelan di Loji Gandrung, kembali DN Aidit dan para kameradnya mengatur strategi.

Pada tanggal 4 Oktober 1965 Aidit berusaha mendapat fasilitas pesawat ter-bang untuk pergi ke Jakarta, memenuhi undangan Presiden yang akan menga-dakan Sidang Pleno Kabinet Dwikora. Tetapi Kolonel Udara Sujoto, Komandan Pangkalan Angkatan Udara di Panasan tidak bersedia memenuhi permintaan Aidit dengan alasan pesawat terbang ru-sak. Keesokan harinya (5 Oktober 1965) kembali Aidit meminta pesawat kepada Kolonel Sujoto untuk terbang ke Bali akan tetapi tetap ditolak. Rupanya Ko-mandan Angkatan Udara di Panasan ini sudah curiga terhadap gerak-gerik DN Aidit dan kawan-kawan, dan dia sudah mendengar berila dari Jakarta bahwa PKI berada di belakang G30S.

Dengan ditolaknya permintaan fasili-tas pesawat terbang, maka lenyaplah anggapan bahwa seluruh slagorde AURI berdiri dibelakang G30S. Sejak itu DN Aidit memutuskan tetap tinggal di Jawa Tengah dan mempersiapkan perlawanan jika ABRI melakukan pem-bersihan. DN Aidit mulai turun ke bawah (turba) ke desa desa di daerah Klaten, Jatinom, Boyolali, Delangu, memperkuat organisasi organisasi perlawanan dan pertahanan. Pada saat RPKAD dibawah komando Kolonel Sarwo Edhie Wibowo mendekati Solo, DN Aidit menyingkir ke Jawa Timur. Wali Kota Surabaya Dr. Sa-trio adalah juga kader PKI. Namun apa yang terjadi di Surabaya di luar perkiraan DN Aidi!. Kelompok Agama dipelopori barisan Ansor mengobrak abrik kekuatan PKI dan organisasi onderbouw nya ham-pir diseluruh kota dan daerah di Jawa Timur. Melihat situasi itu DN Aidit kembali ke Jawa Tengah.

Setelah RPKAD tiba di Solo, DN Aid-it bersembunyi di kampung Sambeng Gede, di belakang Stasiun Kereta Api Balapan, komplek peru mahan Serikat Buruh Kerata Api (SBKA). Serikat Buruh ini sejak dari pemberontakan PKI di Ma-diun pada tahun 1948, sudah dibina oleh PKI.

Meskipun sinyalemen tempat perse-mbunyian DN Aidit sudah diketahui, teta-pi dalam setiap penggerebegan hasilnya

(6)

selalu nihil. Bahkan pemimpin pemimpin Pemuda Rakyat daerah Surakarta yang menjadi buron sukar ditangkap. Ternya-ta setiap gerakan pasukan RPKAO dii-kuti oleh pengikut PKI dan melaporkan ke pos di bengkel kereta api, tidak jauh dari desa tempat Aidit bersembunyi. Se-tiap kali RPKAO mendekat, maka ber-suitlah lokomotif sebagai tanda bahaya. Akhirnya ON Aidit diketemukan oleh Kapten Hartono dan Letnan Ning Pra-jitno pada tanggal 22 November 1965, di rumah seorang janda tua bernama Mbok Hardjosumarto, yang disewakan kepada A Kasim, pensiunan Bea dan Cukai.

Rumah tersebut berukuran 8 x 8 me-ter, setengah tembok atasnya papan. Memiliki 3 kamar tidur. Satu di depan dekat ruang tamu dan dua di belakang. Antara satu kamar dengan yang lain di-beri ruang rahasia selebar satu meter, pintu masuk ke ruang itu di tutup dengan lemari makan. Oi rumah ini ON Aidit bersembunyi dan berhasil lolos dari be-berapa kali penyergapan, sampai tang-gal 22 November 1965, pukul 21.00. Waktu rumah itu digerebek hanya ada satu orang akan tetapi ada 2 cangkir kopi bekas diminum, ini membuat ke-curigaan. Setelah diobrak abrik dan le-mari digulingkan, berteriak ON Aidit dari balik lemari: "Saya Menko Aidi!." Rakyat bersama Tentara yang ikut menggere-bek menjawab: "Mengko opo. Saiki wae

dirampungi." (Nanti apa. Sekarang saja diselesaikan)

Selama dalam tahanan ON Aidit telah membuat pengakuan sebanyak 50 hala-man dan ditandatangani. Pengakuan ON Aidit ini sebagian dimuat di harian ber-bahasa Inggris Asahi Evening News se-belum koran koran di Indonesia sendiri sempat memuatnya. Tulisan itu meru-pakan kiriman dari wartawannya di Ja-karta, Rishuke Hayashi, yang beruntung dapat memuat gambar Aidit bersama 3 orang pemeriksanya. Ini pengakuan ON Aidit yang dimuat di koran - koran di In-donesia:

"Saya adalah orang yang mempunyai tanggung jawab tertinggi pada Peristiwa 30 September dan disokong oleh penja-bat penjapenja-bat PKI lainnya serta penjapenja-bat penjabat organisasi rakyat di bawah PKI. Ketidakpuasan dengan sistem yang ada, adalah pangkal pokok daripada gagasan untuk kup ini. Saya telah merencanakan sebuah plan yang akan dilaksanakan tanggal 1 Mei 1965, tetapi Lukman, Njoto, Ir. Sakirman, dan Njono menen-tang rencana itu. Mereka mengatakan bahwa hal itu adalah berbahaya kare-na persiapan persiapan belum selesai dan plan itu tentu akan gagal. Oiskusi dengan Letkol Untung dan lain lain dilakukan banyak kali sesudah Juni 1965. Sejak Juli 1965 pasukan pasu-kan dari Pemuda Rakyat dan Gerwani

(7)

dikumpulkan di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dan dilatih dalam pe-makaian senjata berat dan ringan. Per-siapan perPer-siapan digiatkan. Ketika kem-bali dari Aljazair pada awal Agustus saya singgah di Peking dan membicarakan tentang kesehatan Presiden Soekar-no dengan pemimpin pemimpin RRC. Segera setelah saya kembali ke Jakarta pada pertengahan bulan itu juga, maka suatu pertemuan rahasia diadakan. Pelaksanaan kup dibicarakan dengan Lukman, Njoto, Brigjen Supardjo, dan Letkol Untung. Karena kami mempunyai info bahwa tentara atas perintah Men. Pangad A Yani akan menggeledah PKI dan organisasi organisasi yang berafi-liasi, karena dicurigai mempunyai sen-jata secara tidak sah, sehingga kami ter-paksa mempercepat pelaksanaan coup d'etat. Adalah pada tanggal 25 Septem-ber kami memilih tanggal 30 SeptemSeptem-ber sebagai tanggal kup. Ada usul supaya kup dilaksanakan tanggal 5 Oktober pada hari Angkatan Perang, akan tetapi tanggal dipercepat karena detail detail dari rencana kup mulai bocor ke luar." Njoto dalam wawancara persnya se-lesai sidang Paripurna Kabinet Dwiko-ra tanggal 6 Oktober mengatakan: Hubungan PKI dengan Gerakan 30 September dan pembunuhan Jender-al-jenderal Angkatan Darat tidak ada. Saya tidak tahu suatu apapun

sam-pai sesudah terjadinya," demikian kat-anya kepada wartawan di Istana Neg-ara. Dikatakan bahwa waktu itu ia ikut Subandrio bersama Jenderal jenderal dari ALRI, AURI, dan AKRI dalam per-jalanan ke Sumatra. "Saya terkejut ke-tika di Pangkalan Berandan mendengar peristiwa itu," kata Njoto. Sedang dalam pengakuan ON Aidit, dia yang memer-intahkan Njoto ke Sumatra karena per-caya bahwa Njoto akan sanggup mem-bujuk rakyat Sumatra kearah cara berfikir kami. Dengan adanya pengakuan Aidit maka kebohongan Njoto terbuka lebar.

Pengalaman Mayjen Yasir Hadibroto menangkap ON Aidit. Oiungkapkan Pada Tanggal 6 Oktober 1984

Untuk sekejap pendirian saya agak goyah. Apakah tidak akan saya lan-jutkan niat saya ini? Atau akan saya lanjutkan maksud saya mengantarkan gem bong komunis pemberontak ini ke neraka? Akhirnya saya berketetapan, bahwa itu harus saya laksanakan, apa-pun resiko yang harus saya tanggung. Saya perintahkan kepada Mayor S.T. untuk mencari sumur yang sudah ti-dak berair. Perigi itu memang sudah diketahui anak buah saya beberapa waktu sebelum peristiwa penangkapan gembong pemberontak komunis ini. Sampai di depan perigi, di tengah-tengah kebun pisang yang lebat itu,

(8)

sekali lagi Aidit menggertak: "Tahu kamu artinya membawa seorang Men-ko; seorang Wakil Ketua MPRS ke-mari? Apa ini sumur? Untuk apa?" Jawab saya santai: "Saya mengerti Pak, dan kalau Bapak mau tahu sumur ini buat apa. Ini untuk Bapak... Bapak tahu bukan, kalau Pak Yani juga

dima-sukkan ke dalam sumur seperti ini!?" "Jangan tergesa gesa saya mau pidato dulu," usul Aidi\. "Silahkan," jawab saya. Maka berpidatolah gembong komunis pemberontak itu selama sepuluh men it, di hadapan kami berempat dalam keadaan gelap malam. Tidak saya perhatikan lagi apa yang diucapkannya. la menutup pi-datonya yang berapi api itu dengan hidup PKI, tiga kali. Dan bersamaan dengan ber akhirnya ucapan terakhir Aidit itu melun-curlah beberapa peluru dari laras senjata Owen, yang telah lama menjadi teman seperjuangan saya, semenjak perang kemerdekaan. Juga tatkala melawan pemberontak PKI Muso tahun 1948. Ta-matlah anaknya PKI Muso tahun 1948 itu. Oleh tembakan-tembakan itu praju-rit lain juga terbangun dan berlarian ke kebun pisang. Saya perintahkan mereka menebang pohon-pohon pisang di ke-bun itu dan menimke-bunkannya ke dalam sumur yang berisikan almarhum Aidit tadi.

Para prajurit bertanya kepada kami, apa yang terjadi pada malam hari

menjelang fajar pagi itu. Saya jawab, bahwa yang tertembak tadi adalah mata-mata musuh, yang membantu pembe-rontakan komunis.

Fajar tanggal 25 Nopember 1965 me-nyingsing. Para perwira staf saya, N.P., ST, M.S., dan 2 Kopral pengemudi jeep melihat adanya sesuatu yang sedang bergolak di dalam batin saya. Saya lalu bertanya-tanya dalam hati, "Apakah yang dimaksud dengan 'bereskan' itu seperti yang diperintahkan Panglima Kostrad sebelum saya berangkat ke Jawa Tengah ini? Sekali lagi saya mencoba menghubungi Markas Kostrad, tetapi juga kali ini sulit diperoleh hubungan. Maka saya berketetapan untuk segera melapor kepada Pangdam VIl/Dipo-negoro di Semarang, waktu itu Briga-dir Jenderal Suryo Sumpeno. Dikala saya sedang diliput gundah-gulana, muncul M.S. "Mana dia?" tanyanya singka\. Jawab saya setengah acuh: "Sudah beres." "Wah ini bisa ramai nanti jadinya," kata M.S. "Apa yang ra-mai, Iha wong sudah beres. Ini kan ja-man perang, almarhum kan musuh kita." "Mana mayatnya?" Tanya si M.S. lagi. "Sudah beres." Jawab saya lagi. Seharian saya tidak mung kin meme-jamkan mala, dan berpikir keras apa yang saya mesti perbuat kemudian. Dan apakah yang saya lakukan itu sudah betul? Apa akan dibenarkan oleh atasan saya?

(9)

Ah, saya akan tanggung segala-galanya. Untuk menghilangkan jejak, saya per-intahkan prajurit-prajurit menumpuk kayu kering di atas lubang sumur yang sudah dipadati tanah dan tebangan pohon pi-sang itu. Kayu-kayu kering itu kemudian saya perintahkan membakarnya. Be-berapa waktu kemudian saya persilakan M.S. ke tempat itu, dan melihat kayu ba-kar dan abu yang bertumpuk. "Nah, ini Iihat, dia sudah beres, sudah jadi abu." Dengan demikian barangkali niatan sim-patisan PKI M.S. untuk menggali mayat pemberontak itu telah pudar, setelah mengira bahwa gem bong PKI itu su-dah terkremasi. Tetapi M.S. tidak habis-habisnya menakut-nakuti akan akibat dari perbuatan saya itu. Katanya lagi: "Ini bisa panjang ekornya," kata Kap-ten CPM M.S. itu. "Biar itu akan saya ha-dapi. Sekarang saya akan lapor kepada Panglima di Semarang." "Saya sajalah yang lapor," usul M.S. lagi. "Ayo sama-sama kita laporkan." Memang dialog ini sangat menjemukan, sewaktu saya sedang dirundung berbagai perasaan. Sesampai di Semarang, saya segera meneari Panglima, akan tetapi semua perwira stat tidak di tempat, keeuali Kolonel Widodo, Asisten 4/Logistik Kas-kodam VII yang ada di rumah, memang parah keadaan Kodam VII pada waktu itu. Asisten 1Ilntel, Asisten 5ITeritoriai dan masih beberapa perwira stat lagi

terlibat langsung di dalam pergolakan ini. Saya melaporkan kejadian itu ke-pada Kolonel Widodo, dan mohon dapat diteruskan laporan kepada Pangkostrad. Permohonan saya ini segera dipenuhi. Sekembali saya di Markas Brigade, saya mendapat radiogram yang menyatakan agar saya menghadap Pangkostrad di Gedung Agung Yogyakarta esok hari tanggal 29 Nopember pukul 15.00.

Malam harinya saya tidak dapat memejamkan mata, karena berbagai maeam pertanyaan timbul dibenak saya. Apalagi setelah ada dua orang utusan dari Istana Jakarta meneari Aidi!. Na-mun saya berpegang kepada perintah Pangkostrad waktu saya diperintahkan ke Jawa Tengah untuk membereskan anak anak PKI Madiun yang memberon-tak pada tahun 1948, 17 tahun yang lalu. Sore harinya, saya menghadap Pan-gkostrad di Gedung Agung Yogyakarta. Selesai menghormat, saya melaporkan tentang peristiwa beresnya Aidit, dan kemudian memberanikan diri bertanya: "Apakah yang Bapak maksud dengan bereskan itu ya seperti sekarang ini Pak?" Pangkostrad hanya tersenyum. Meskipun demikian hati saya lega sekali bahwa atasan saya memaklumi tindakan saya itu. Saya bertanya lagi, "Apakah Presiden Soekarno tidak akan mengam-bil tindakan Pak?" Jawab Pak Harto: "Tindakan tentu akan diambil, karena

(10)

ia masih dianggap Menteri Koordinator, tetapi sudah kita perhitungkan."

Memang setelah saya bertemu Pan-gkostrad di Yogyakarta masih ada dua utusan lagi yang sedang mencari ka-bar tentang Aidit. Tetapi situasi tanah air sesudah itu berubah begitu cepat-nya, sehingga kisah tentang ON Aidit, Menko, Wakil Ketua MPRS, Ketua PKI yang menjadi hulubalang pemberon-takan itu, tertimpa oleh kabar-kabar lain, yang lebih meminta perhatian kita. Kesatuan-kesatuan aksi di Jakarta dan juga di daerah-daerah, minta dan menuntut pembubaran PKI. Bahkan di Jawa Tengah Pangdam Vll/Oiponegoro telah membekukan PKI dan organisasi-organisasi massanya, sejak 20 Oktober 1965. Lahirlah kemudian di dalam seja-rah kita Surat Perintah 11 Maret 1966, dan besok harinya tanggal 12 Maret 1966 PKI resmi dibubarkan.

Oalam pada itu muncul berbagai kisah di dalam berbagai penerbitan tentang almarhum Aidit ini, yang berkisar dari dongeng dan cerita kira-kira. Memang selama itu sengaja saya diamkan, karena saya anggap belum waktunya diumum-kan duduk persoalan yang sebenarnya. Tetapi kejadian sejarah kiranya perlu juga menjadi lurus, agar kelak tidak men-jadi sumber yang sesat.

Apa yang dituturkan oleh Mayjen Yas-ir Hadibroto adalah fakta sejarah tentang

eksekusi mati terhadap gembong pem-berontakan PKI ON Aidit, yang melaku-kan kudeta berdarah dengan nama sandi Gerakan 30 September. Memang tidak banyak pilihan yang dapat dilakukan oleh Yasir Hadibroto pada waktu itu. Jika dilakukan penahanan ON Aidit di Solo, kemudian diketahui oleh masyarakat yang sudah pekat kebencian pada PKI yang telah dua kali melakuakan pembe-rontakan, dimana pada pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 banyak mem-bunuhi para Kyai dan Santri, membuat akumulasi kemarahan rakyat yang su-dah mengetahui pemberontakan G30S didalangi PKI, bukan tidak mungkin ON Aidit malah tewas dihakimi rakyat ban-yak. Jika ON Aidit dikirim ke Jakarta me-lalui jalan darat akan sangat sulit menja-ga keselamatan ON Aidit dari kemarahan rakyat yang sudah mendidih. Membawa ON Aidit ke Jakarta dengan pesawat ter-bang bukan pili han pada waktu itu.

Memang sejarah tidak dapat beran-dai, akan tetapi dari fakta sejarah di atas, jika saja Komandan Pangkalan Udara Panasan Kolonel Udara Sujoto menyediakan pesawat untuk ON Aidit ke Jakarta pada tanggal 4 Oktober 1965, bukan tidak mung kin setelah kedok PKI sebagai dalang dalam pemberontakan G30S terkuak, ON Aidit memiliki kesem-patan melarikan diri ke luar negeri, sep-erti yang dilakukannya pasca kegagalan

(11)

pemberontakan PKI di Madiun, 18 Sep-tember 1948.

Eksekusi mati terhadap gembong pemberontakan yang berbuat makar terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak kepada DN Aidit saja. Sebelumnya, dalam pemberon-takan PKI di Madiun, dimana Musso memproklamirkan berdirinya Republik Soviet Indonesia, gem bong pemberon-takan ini ditembak mati oleh pasukan TNI pada tanggal 30 Oktober 1948. Tokoh pemberontak yang di tembak mati oleh prajurit TNI juga terjadi pada Abdul Kahar Muzakar yang menyatakan memisahkan diri dengan NKRJ. Figur kharismatik dan legendaris ini, mencopot tanda pang kat Letnan Kolonel dihadapan Pang lima Kolonel Kawilarang karena usulnya membentuk satu batalyon guna

menampung laskar-Iaskar yang turut ber-juang mempertahankan kemerdekaan, proklamasi 17 Agustus 1945, ditolak KSAD Kolonel Nasution pada awal tahun 1950. Kemudian Abdul Kahar Muzakar bergabung dengan laskar yang ditolak menjadi TNI dan membentuk Tentara Is-lam Indonesia. Baru 15 tahun kemudian, tanggal 3 Februari 1965, Kahar Muzakar berhasil disergap dan tewas ditembak oleh pasukan TNI, Yon 330 Para Kujang. Belajar dari sejarah pergolakan di Re-publik Indonesia, kelompok atau partai apapun yang ingin mengkhianati Negara Proklamasi 17 Agustus 1945, mengganti Pancasila dengan "ideologi impor", atau memisahkan diri dari NKRI, akan berha-dapan dengan TNI dan Rakyat Pancasi-lais. Dan pasti akan ditumpas! •

Referensi:

1. DR. A.H. Jenderal Nasution. Memenuhi Panggilan Tugas. Jilid 4 dan 6. Penerbit Gunung Agung. Tahun 1987.

2. Kolonel Soegiarso Soerojo. Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai.1988

Mi~cii'euANA

BUKUINIMILIK UPT. PERPUSTAKAAN

Harap OIJaga Keutuhannya

Referensi

Dokumen terkait