Pendekar Mabuk - 123. Pengawal Pilihan.pdf

63 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)
(2)

1

Siang itu matahari tampak malas-malasan menerangi bumi. Cahayanya agak redup, karena dibayang-bayangi awan tebal. Sepertinya sang mata- hari sengaja bersembunyi di balik gumpalan awan abur abu itu.

Bunga-bunga pun tampak malas mekar dengan bebas. Daun-daun tak mau menampakkan kesegarannya. Bahkan ada yang terang-terangan menjadi layu dengan mengubah warna kehijauannya menjadi kekuning-kuningan

Burung enggan berkicau. Beberapa ekor tampak bertengger di atas pepohonan kering, tapi tak ada yang mau bercici-cuit.

Alam diselimuti duka. Angin gunung menyebarkan burita duka cita. Katanya, Pendekar Mabuk telah meninggal dunia.

"Betul. Aku mendengar sendiri keterangan itu dari tokoh tua yang mirip Semar itu. Dia bilang, Pendekar Mabuk telah meninggalkan dunia dengan selamat."

"Hussy... meninggal dunia kok dengan selamat?!"

Maksudnya... tewas! Pendekar Mabuk sekarang telah tewas dengan sukses. Artinya, tidak ada halangan apa-apa. Eeh... maksudnya... aduh, bagaimana cara menyampaikannya, ya?! Aku sedih sekali, jadi bicaraku morat-marit begini...."

Orang-orang kedai termenung. Pada dasarnya mereka mendapat kabar bahwa Suto Sinting tewas karena pertarungannya dengan Perwira Tombala. Orang yang mengabarkan kematian Pendekar Mabuk itu adalah tokoh gemuk berperawakan seperti Semar, dengan rambut potih yang hanya tumbuh di ubun ubumiya saja. Tokoh yang berasal dari Gunung Gandul iiu lain adalah si Dewa Kubur alias Ki Murcapana

Pada saat itu, Pendekar Mabuk bertarung malawan Perwira Tombala. la terluka berbahaya. Dewa Kubur muncul dan segera menahan tindakan Perwira Tombala yang ingin menuntaskan pertarungannya dengan mau membunuh Suto Sinting. Dewa Kubur memang berhasil menahan serangan pamungkas dari Perwira Tombala ke arah Suto Sinting. Tapi murid si Gila Tuak Itu justru terperosok masuk ke sumur tua yang sukar diukur kedalamannya, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode 'Kencan di Lorong Maut').

Merasa gagal menyelamatkan Pendekar Mabuk, Dewa Kubur semakin marah kepada Perwira Tombala Masalahnya ia tahu bahwa

(3)

Pendekar Mabuk itu adalah murid dari si Gila Tuak, dan si Gila Tuak adalah sahabat karibnya semasa muda. Maka dihabisinya Perwira Tombala, orang Mangol itu.

Perwira Tombala tewas di tangan Dewa Kubur, jenazahnya menempel pada sebatang pohon dalam keadaan tanpa darah, akibat sebuah pukulan maut Dewa

Kubur.

Tindakan itu diketahui oleh atasan Perwira Tombala, yaitu seorang perempuan cantik yang dulunya menjadi pimpinan dalam kapal layar bertiang figa. Perempuan itu adalah Laksamana Maharani yang dikenal dengan nama Laksamana Tanduk Naga.

Melihat satu-satunya sisa bawahannya dibuat kering oleh Dewa Kubur, Maharani mengamuk dan menyerang Dewa Kubur. Tetapi pada waktu itu, ada se- orang pemuda yang sedang dalam perjaianan menuju Bukit Esa untuk jumpai kakaknya. Perjaianan tersebut melalui Lembah Seram. Pemuda itu adalah Dimas Genggong, murid dari si Dewa Kubur.Melihat gurunya diserang oleh Laksamana Tanduk Naga, Dimas Genggong unjuk kesaktian, mengambil alih pertarungan tersebut. Tapi ia hampir saja tewas di tungan Maharani. Dewa Kubur menyingkirkan muridnya dan melarijutkan pertarungannya dengan Maharani. Pertarungan itu memakan waktu tidak hanya satu hari, tapi sampai dua hari lamanya, karena Maharani sebentar-sebentar melarikan diri. Sebentar kemudian muncul dan menyerang iagi.

Adu kesaktian itu menimbulkan ledakan-ledakan dahsyat yang menggelegar bagai memenuhi bumi. Gelegar ledakan tersebut menggetarkan alam sekeliling- i iya, membuat langit-langit lorong di bawah tebing men-

jadi runtuh, nyaris mengubur hidup-hidup Pendekar Mabuk yang kala itu diselamatkan oleh Gitra Bisu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Kencan di Lorong Maut").

Akhimya, Maharani benar-benar melarikan diri karena terluka parah dalam pertarungan tersebut. Dewa Kubur sembuhkan muridnya, lalu ceritakan tentang Suto Sinting yang masuk ke sumur tak terukur kedalamannya. Dewa Kubur menyangka Suto Sinting telah tewas, sehingga Dimas Genggong menyebarkan kabar itu dalam perjalanannya ke Bukit Esa. Dewa Kubur sendiri bermaksud pergi menemui Gila Tuak dan Bidn dari Jalang untuk sampaikan kabar tentang kematlnu Pendekar Mabuk.

Terdengar ratapan tangis di mana-mana. Orang-orang yang mengagumi Pendekar Mabuk, yang men jadi pengikut Pendekar Mabuk dan yang

(4)

menaruh sim pati kepada pemuda tampan berilmu tinggi itu, maslng masing menitikkan air mata mendengar kabar kematian tersebut.

Pada umumnya, mereka yang menitikkan air mata dukanya adalah para gadis yang menaruh hati kepada Pendekar Mabuk. Sekali pun hasrat mereka dalam mencintai Suto Sinting tidak terbalas secara mutlak, tapi rasa persahabatan mereka tetap ada. Rasa persahabatan itulah yang membuat mereka merasa kehilangan seorang teman yang selama ini melekat di hati merokn

Ada yang menangis dengan suara keras, ada ang menangis dengan terisak-isak saja, ada pula yang menangis secara kebatinan. Salah satu gadis yang mena- ngis secara kebatinan adalah murid mendiang Nyai Gagar Mayang. Gadis yang tinggai di Lereng Buana itu mendengar kabar kematian Suto Sinting dari mulut pemuda mantan pelayan Adipati Jayengrana. Pemuda yang kesohor sebagai raja tipu itu tak lain adalah si Mahesa Gibas.

Aku bertemu sendiri dengan muridnya si Dewa Kubur yang bernama Dimas Genggong itu! Aku mendengar sendiri ia bicara dengan orang-orang kedai tentang kematian Suto Sinting. Bocah itu menyampaikan kabar tersebut dengan kedua mata berkaca-kaca seperti mau menangis. Dia sangat sedih dan menyesai. Bahkan kndengar dia menggerutu sendiri, menyalahkan gurunya yang kurang tangkas dalam menyelamatkan Pendekar Mabuk. Dia tahu bahwa Pendekar Mabuk itu murid sahabat gurunya yang pernah didengar kisah-kisah kependekarannya. Dia sebenarnya punya rasa kagum kepada kehebatan ilmu Suto Sinting, dan sangat kecewa menghadapi kematian Suto Sinting!'' Mahesa Gibas bertutur dengan wajah duka. Bibir- nya melebar ingin menangis. Matanya berkedip-kedip tapi tak sampai mengucurkan air mata. Tapi gadis yang mendapat laporan tersebut diam tertunduk dengan wajah sangat sedih. Matanya merah membendung air mata yang ingin meledak keluar. Gadis yang biasanya tegar dan konyol itu tak lain adalah si Perawan Sinting.

“Di mana si murid Dewa Kubur itu sekarang berada?" "Dia menuju ke Bukit Esa!"

"Lalu, di mana Dewa Kubur berada?!"

"Katanya, sedang menuju ke Jurang Lindu untuk menghubungi si Gila Tuak dan Bidadari Jalang."

"Aku harus menemuinya ke Jurang Lindu! Aku harus mendapat penjelasan lebih lengkap lagi tentang kematian Suto Sinting! Jika benar kematian itu disebabkan oleh pertarungannya dengan Perwira Tombala,

(5)

akan kurajang sekujur tubuh Perwira Tombala dan si Laksamana Tanduk Naga itu!'' geram Perawan Sinting.

la tahu persis bahwa kedua orang Mangol itu memang mencari Suto Sinting untuk dijadikan tumbal pembangunan kuil di negeri Mangol sana. Perawan Sinting pernah terlibat dalam peristiwa itu, dengan cara menyusup dan menyamar sebagai calon peserta sayembara memburu pemuda tanpa pusar itu, (Baca se rial Pendekar Mabuk dalam episode: "Pemburu Tumbal"). Karenanya, ia percaya jika Suto Sinting telah ber tarung melawan Perwira Tombala dan Laksamana Tanduk Naga, seperti yang dituturkan dalam kabar tersebut.

"Perwira Tombala memang jahanam busuk ynmj harus dikubur di jamban!" geram Perawan Sinting.

"Tombala sudah tewas!"

"Oh...?! Siapa yang membunuhnya?!"

"Hmmm, jadi begini...," Mahesa Gibas mulai mau unjuk tipuannya. "Waktu itu, aku sedang lewat di sekitar Lembah Seram. Kulihat pertarungan Dewa Kubur dengan seseorang. Aku tak tahu kalau dia adalah Perwira Tombala. Maka kulepaskan pukulan mautku ke punggung Perwira Tombala. Orang itu terpental dan dihantam lagi oleh Dewa Kubur hingga tewas! Jadi... terus terang saja, kematian Perwira Tombaia akibat kerjasamaku dengan Dewa Kubur!"

"Hmmm...!" Perawan Sinting mendengus tanda tak percaya. "Jadi kau pernah bertemu dengan Dewa Kubur?!"

"O, iya! Dia orang yang sakti. Walaupun tubuhnya kurus, ceking, kerempeng, tua renta, tapi ilmunya lumayan tinggi!"

Perawan Sinting mencibir, sama sekali tak percaya. Sebab ia pernah mendengar cerita dari mendiang guru- nya, bahwa Dewa Kubur itu bertubuh gemuk seperti tokoh dalam pewayangan yang bernama Semar. Apa yang dikatakan Mahesa Gibas sangat berbeda dengan pcnjelasan mendiang gurunya, sehingga Perawan Sinting semakin yakin bahwa Mahesa Gibas sedang membual di depannya.

Bagi gadis cantik berwajah berani itu, kabar kematian Suto Sinting merupakan pukulan jiwa yang terberat selama ini. la sangat sayang kepada Suto Sinting. In suka kepada pemuda itu. Rasa cintanya tumbuh di hati dengan suka rela. Walaupun ia tahu, Suto Sinting cenderung menaruh hati kepada calon istrinya yang menjadi ratu di negeri Puri Gerbang Surgawi, yaitu yang bernama Dyah Sariningrum, tetapi Perawan Sinting tetap menyimpan rasa cinta yang cukup dalam kepada pemuda konyol itu.

(6)

Rasa cinta tersebut rela dipendam dalam hati, sambil menunggu perkembangan lebih lanjut. Jika sampai Dyah Sariningrum tewas, atau rencana perkawinan itu gagal, maka Perawan Sinting sudah siap meloncat masuk menggantikan kedudukan Dyah Sariningrum di hati Pendekar Mabuk. Sebab itulah, kabar kematian Suto merupakan bencana memilukan bagi hatinya.

Kepergian Perawan Sinting menuju ke Jurang Lindu hanya semata-mata ingin temui Dewa Kubur dan mengharap penjelasan lebih lengkap lagi tentang ke matian Suto Sinting. Ia pergi bersama Mahesa Gibas, walau tak pernah dipedulikan celoteh pemuda itu yang selalu menghamburkan bualan-bualan untuk dapatkan sanjungan. Tapi tak satu pun sanjungan meluncur dari mulut Dariingga Prasti, alias si Perawan Sinting.

Dalam perjaianan menuju Jurang Lindu itu, Perawan Sinting bertemu dengan seorang tokoh tua yang amat dikenal olehnya. Tokoh tua bertubuh kurus do- ngari rambut putih dikonde dan berjubah model biksii warna hijau tua itu tak lain adalah si Raja Mantra dari Muara Angker.

Pertemuan itu kurang manis menurut Perawan Sinting, sebab ia melihat Raja Mantra sedang beradu ilmu kesaktiannya dengan seorang tokoh yang sekujur tubuhnya terbungkus lumpur. Mereka bertarung tak jauh dari sebuah rawa yang ada dalam sebuah hutan liar.

Manusia yang sekujur tubuhnya penuh lumpur basah itu tak lain adalah Demit Rawa Lumpur, yang juga sering dinamakan Iblis Rawa Lumpur. Permusuhan antara Raja Mantra dengan Demit Rawa Lumpur sudah berlangsung lama, tapi salah satu dari mereka tak ada yang berhasil membunuh lawan. Bahkan ketika Demit Rawa Lumpur bertarung melawan Pendekar Mabuk untuk membela Tengkorak Liar, ia terpaksa kabur karena Pendekar Mabuk dibela oleh Raja Mantra, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Dendam Penjilat Ayu".)

"Sampai kapan pun kau tak akan bisa menghancurkan aliran silatku, Lagowo!" seru Raja Mantra dengan sikap kalem.

Mahesa Gibas berbisik dari balik persembunyian- nya, "Perawan Sinting, bukankah Raja Mantra adalah tokoh aliran putih?! Dia bersahabat dengan Pendekar Mabuk."

"Ya, aku tahu!"

"Mengapa tidak kau bantu mengalahkan orang berlumpur itu?!"

Kurasa ini urusan orang tua, termasuk juga urusan antar perguruan. Aku tak berani campurtangan kecuali Eyang Raja Mantra terdesak dalam bahaya!" "Jadi, kita tonton saja pertarungan mereka?"

(7)

"Sementara ini memang hanya begini yang bisa kita lakukan!" tegas Perawan Sinting dengan nada datar.

"Aku sudah bosan mendengar kejayaanmu, Wirambada! Hari ini juga, kuakhiri kejayaanmu dengan jurus baruku! Bersiaplah untuk mati!" ujar Demit Rawa Lumpur dengan suara menyeramkan.

"Ngomong-ngomong soal mati, sudah lama aku siap mati. Tapi bukan oleh tanganmu, Lagowo!" jawab Raja Mantra. Masing-masing menyebut nama aslinya.

"Nyawamu ditakdirkan mencelat dari tanganku, Keparat tua!"

Weesss...! Demit Rawa Lumpur melesat cepat menerjang Raja Mantra, Kedua tangannya berkelebat seperti memercikkan air. Tapi yang terpercik adalah lumpur-lumpur di tangannya itu. Craaat...!

Raja Mantra tahu-tahu melambung tinggi. Suuut...! Begitu tingginya sampai kepala Raja Mantra membentur dahan pohon. Duuuk...!

"Aduuh...!"

Tapi ia selamat dari kepretan lumpur. Sebab lumpur-lumpur yang memercik dari kedua tangan Lagowo itu ternyata membakar pohon dan tanaman semak yang dikenainya. Buuulll...! Api berkobar di tempat-tempat yang terkena kepretan lumpur. Raja Mantra segera sentakkan tongkatnya ke salah satu batang pohon terdekat. Duuhk...! Tubuhnya yang sedang meluncur turun itu melesat ke arah lain bagaikan anah pannh,

Weess...! Jleeg...! Kini ia berdiri di belakang Demit Rawa Lumpur dalam jarak sekitar sepuluh langkah.

"Heeh, heee, heee, heee, heee!" Raja Mantra terkekeh-kekeh melihat Demit Rawa Lumpur kebingungan mencari lawannya. Karena mendengar suara tawa Raja Mantra, maka manusia terbungkus Iumpur itu segera berbalik ke belakang menghadap ke arah lawannya.

"Jurus seperti itu kok dikatakan jurus baru?! Uuuh... kuno!" ejek Raja Mantra dengan tengil.

"Edan! Jurus seperti itu dikatakan kuno?!" gumam Mahesa Gibas. "Lumpurnya bisa membakar pohon, tanah yang dipijaknya bisa menjadi hangus, itu sudah merupakan gabungan ilmu yang cukup tinggi. Bukankah begitu, Perawan Sinting?!"

Gadis yang ada di sebelahnya diam saja. Pandangan matanya tertuju lurus ke arah pertarungan. Pedang di punggungnya siap dicabut kapan saja jika ia terpaksa harus selamatkan si Raja Mantra.

Demit Rawa Lumpur pun berseru, "Itu memang bukan jurus baruku. Tapi inilah jurus pamungkas untukmu, Wirambada! Heeaah...!"

(8)

Kaki kanan Demit Rawa Lumpur menghentak ke tanah satu kali. Duuhk...! Glegaaar...! Timbul suara ledakan menggelegar, mengguncangkan alam sekitar- nya. Sentakan kaki ketanah itu membuat mata Mahesa Gibas mendelik, karena ia melihat nyala api dari sentakan kaki ke tanah itu melesat cepat ke arah Raja Mantra. Tahu-tahu rumput dan tanah tempat Raja Mantra berdiri itu terbakar seketika.

Bluuub...! Wuuuurrss...!

Raja Mantra terkurung api, bahkan tubuhnya terbungkus kobaran api yang membentuk lingkaran bergaris tengah satu tombak.

"Gawat! Eyang Raja Mantra tak sempat loloskan diri. Sekarang ia sulit meloloskan diri karena terjebak api!" gumam Perawan Sinting dengan tegang.

Gadis itu ingin mencabut pedang pusakanya yang bernama Pedang Galih Petir. Tetapi niatnya menjadi ragu-ragu, sebab Raja Mantra yang tinggal tampak kepalanya saja dari bungkusan api itu tidak melakukan usaha untuk meloloskan diri. Raja Mantra justru mengangkat tongkatnya dipegang dengan dua tangan dan menyilang di atas kepala.

"Orang tua itu gendeng!" ujar Mahesa Gibas dalam bisikan. "Sudah tahu tubuhnya terbakar bukannya lari malah mainan tongkat?!"

Kejap berikutterdengar suara Raja Mantra serukan kalimat-kalimat mantera saktinya dengan ucapan cepat.

"Acang kuruk, acang kirlk, acang icik icik, gubras...!

Adem panas, sari rapet, sari udan, bres, gubras, gabres.

Simulu kutuk kublung...!"

Mahesa Gibas berbisik kepada Perawan Sinting,

"Ngomong apa itu?! Apakah dia menguasai bahasa manusia purba?!" "Itu mantera saktinya! Kita lihat saja apa yang terjadi setelah,..." Belum selesai Perawan Sinting kasih penjelasan, tiba-tiba hujan turun dengan deras di daerah itu. Breessss...! Hujan yang ajaib itu membuat Demit Rawa Lumpur terperanjat kaget. Tapi karena wajahnya berlumur lumpur, maka yang terlihat hanya kedua bola matanya terbelalak lebar.

"Keparat! Dia gunakan ilmu hujan dan salju?!" geram Demit Rawa Lumpur.

Mahesa Gibas juga memaki dalam nada gerutu dan hergegas mau ke tempat teduh. Tapi tangannya dicekal Perawan Sinting hingga ia tak bisa ke mana-mana.

(9)

"Tetaplah di tempat!" tegas Perawan Sinting dalam nada membisik. "Apakah kau tak sadar, hujan turun dengan seenak udelnya saja! sepertinya ada dewa di langit sedang buang air dari ember!"

"Pasti tak akan lama! Kita...."

Sekali lagi ucapan si Perawan Sinting belum usai, hujan telah berhenti total. Kobaran api padam sama sekali. Tinggal tanah yang hangus bersama rumputnya dan masih kepulkan asap. Tapi tubuh Raja Mantra dan pakaiannya tak terbakar sedikit pun.

Lenyapnya hujan disertai hembusan angin dinginyang makin lama semakin mencekam. Raja Mantra memutar-mutar tongkatnya dl atas kepala sambil melangkah ke samping untuk hadapi Demit Rawa Lumpur lagi.

Tapi angin yang berhembus makin menggigilkan siapa saja, kecuali Raja Mantra sendiri. Angin itu mengandung busa-busa salju yang menempel pada deda unan dan alam sekitarnya. Daun-daun segera menjadi putih, tanah segera menjadi berbusa-busa.

"Heeeaaaahhhh...!"

Demit Rawa Lumpur kerahkan tenaga apinya. Tubuh yang penuh lumpur itu menjadi merah membara, bagaikan dibungkus lahar gunung berapi. Tubuhnya melesat menerjang Raja Mantra. Wuuuss...! Suara yang terdengar adalah suara berdesis seperti bara api terkena air.

Wwooorrssss...!

Raja Mantra lepaskan tongkatnya yang berujung bentuk tangan menggenggam. Tongkat itu menghantam tubuh Demit Rawa Lumpur yang sedang melayang di udara. Wuut, jedaaarr...!

Tongkat itu terpental ke arah Raja Mantra bagaikan bola memantul balik setelah membentur dinding. Raja Mantra menangkap tongkat tersebut, tapi meleset. Akibatnya, ujung tongkat bagian bawah kenai keningnya dengan telak. Tuuung...!

"Aooh...!" Raja Mantra sendiri terlempar ke belakang dan jatuh dengan posisi terkapar. Brruuk.. Pakaiannya basah dan kotor akibat tanah becek terkena hujan tadi. Busa-busa salju menempel pada tubuhnya. Tapi ternyata hal itu tidak berbahaya bagi si Raja Mantra. la cepat bangkit dan pandangi lawannya.

Ternyata sang lawan terlempar cukup jauh pada saat terjadi ledakan keras tadi. Lumpur yang mengeras dan menjadi merah bara tadi padam dan terkelupas dengan sendirinya. Demit Rawa Lumpur bagaikan ditelanjangi. Lumpur-lumpur yang membungkus tubuhnya terkelupas mirip gips yang copot dari tubuh penderita patah tulang.

(10)

Demit Rawa Lumpur menyeringai kesakitan. Tubuhnya bersih dari Iumpur. Tampak ia hanya mengenakan cawat tanpa selembar benang pun.

"lih ..!" Perawan Sinting melengos, tak mau memandang orang setengah bugil itu. Mahesa Gibas tertawa sambil tubuhnya menggigil karena hembusan hawa salju masih berlangsung terus.

Aaaah...! Aaaahh...!" Demit Rawa Lumpur bagaikan orang yang dikuliti. la tampak menderita sekaii. Tanpa banyak berpikir panjang lagi, ia segera lari ting- tempat menuju ke rawa di sebelah kanannya. Jebruuub...! Demit Rawa Lumpur segera terjun ke rawa berlumpur. Kemudian ia menenggelamkandiri dan suara tcriakannya lenyap seketika.

"Rupanya orang itu tak bisa hidup jika tanpa terbungkus lumpur?!" gumam Mahesa Gibas. Tapi kata- katanya itu tak mendapat sambutan dari Perawan Sin- ting. Gadis itu juga melesat keluar dari persembunyian. Weess...!

Dalam waktu setengah kejap, ia sudah berada di tepian rawa. Tempat tenggelamnya Demit Rawa Lumpur itu diperhatikan baik-baik. Yang tersisa hanya ge lembung-gelembung lumpur menyerupai bubur men- didih.

Blekutuk, blekutuk, blekutuk...!

Raja Mantra hentakkan tongkatnya ke tanah. Dees...! Angin salju berhenti seketika. Tapi busa-busa salju masih melekat pada daun, batang, batu, tanah dan semua benda di sekitar tempat tersebut.

"Darlingga...?!" sapa Raja Mantra begitu mengenali gadis yang berdiri di tepi rawa. Gadis itu segera temui Raja Mantra dan sedikit membungkuk memberikan hormat kepada si tokoh tua itu.

"Maaf, aku tadi melihat pertarungan Eyang dengan manusia lumpur itu. Tapi aku tidak berani ikut campur, karena agaknya persoalan yang Eyang hadapi sangat pribadi."

"0, tak apa. Itu tadi hanya pemanasan saja. Sekedar menghilangkan pegal-pegal pada tubuh. Maklum, aku sudah tua. Jarang berolah raga," ujar Raja Mantra de ngan sengaja berlagak tengil, karena ia termasuk tokoh yang gemar bercanda.

Perawan Sinting tersenyum sangat tipis, nyaris tak terlihat. Sementara itu, Mahesa Gibas menghamburknn pujian yang tak ditanggapi oleh Raja Mantra. Gurunya Rinayi dan Utari itu segera berkata kepada PerawanSinting, setelah ia memperhatikan wajah cantik itu dan menemukan kejanggalan di sana.

(11)

"Eyang, apakah Eyang belum dengar bahwa Pendekar Mabuk, Suto Sinting, sekarang sudah... sudah...."

"Sudah tidak sinting lagi, maksudmu?"

Perawan Sinting gelengkan kepala dengan sedikit menunduk. Bibirnya digigit sendiri, tidak menyuruh orang untuk menggigitnya. Itu menandakan ia menahan tangis dan duka dalam hatinya.

"Lanjutkan bicaramu, Darlingga!"

"Suto Sinting... sekarang sudah tewas, Eyang...."

"Jabang bayi...?!!" Raja Mantra tersentak kaget. "Pendekar Mabuk sudah tiada...?! Ooh, mengerikan sekalil Padahal sebulan yang lalu aku habis bertemu dengannya, tahu-tahu sekarang kudengar kabar kematiannya?!"

Mahesa Gibas menyahut, "Lebih mengerikan lagi jika kematiannya sebulan yang lalu, tahu-tahu sekarang Eyang bertemu dengannya."

"Semakin mengerikan jika kau ikut tewas juga, nak" ujar Raja Mantra dengan kesal kepada Mahesa Gibas. Pemuda itu hanya bersungut-sungut jengkel.

"Aku mau ke Jurang Lindu untuk temui Dewa Kubur, Eyang. Sebab, saksi mata yang melihat kematian Suto adalah Eyang Dewa Kubur. Dan sekarang Eyang

Dewa Kubur sedang berada di Jurang Lindu!"

"Kalau begitu, aku ikut ke sana! Aku ingin temui si Gila Tuak. Jika dia tak mau bikin perhitungan terbadap orang yang menewaskan Suto Sinting, aku sendiri yang akan membalas kematian Suto Sinting itu!" ujar Raja Mantra yang menganggap Suto sudah seperti cucunya sendiri.

(12)

Jurang Lindu berada tak jauh dari Lembah Badai. Daerah yang bernama Lembah Badai itu dikuasai oleh saudara seperguruan si Gila Tuak yang cantik rupawan. Perempuan yang awet muda itu dikenal dengan nama Bidadari Jalang.

Dulu, perempuan ini masuk dalam aliran hitam. Sering terlibat bentrokan keras dengan si Gila Tuak. Ilmunya sama-sama hebat. Tapi sejak mereka mengangkat murid dari bocah tanpa pusar, Bidadari Jalang masuk dalam aliran putih. Sekarang ia menjadi perempuan berilmu tinggi yang lebih gemar tinggal di Lembah Badai.

Hubungannya dengan si Gila Tuak sudah seperti kakak beradik. Bidadari Jalang menaruh rasa hormat kopada si Gila Tuak karena ilmunya di bawah si Gila Tuak, juga faktor usianya sedikit lebih muda dari si Gila Tuak. Mereka berdua itulah yang bertanggung jawab atas sepak terjang pemuda tampan yang suka konyol, yaitu Pendekar Mabuk.

Oleh sebab itu, kedatangan Dewa Kubur yang mengabarkan kematian Pendekar Mabuk membuat dua wajah satu kakek guru itu menjadi tegang dan diliputi rona duka yang samar-samar.

Si Gila Tuak tak mau percaya bahwa muridnya itu telah tewas masuk ke dalam sumur tua tak terukur kedalamannya. Bidadari Jalang menjadi sangsi dengan sikapnya sendiri, sehingga dukanya menjadi duka yang ragu-ragu. Mengingat yang bicara adalah Dewa Kubur, mereka beranggapan bahwa Dewa Kubur tak mungkin berdusta kepada mereka. Tapi Gila Tuak punya alasan sendiri untuk tidak mempercayai kata-kata Dewa Kubur.

"Dewa Kubur, jika benar muridku tewas di sekitar Lembah Seram, pasti aku akan mendapat firasat ganjil sebelumnya. Setidaknya hatiku menjadi resah dan gundah memikirkan Suto Sinting. Tetapi sejak kemarin- kemarin, aku tak mengalami keresahan apa pun. Tidurku nyenyak, makanku enak!"

"Tapi aku melihatnya sendiri Kakang Sabawana," ujar Dewa Kubur menyebut nama asli si Gila Tuak. "Aku melihat sendiri saat ia terperosok masuk ke dalam su... sumur!"

"Mengapa tak kau selamatkan murid kami itu?!" ujar Bidadari Jalang. "Waktu itu aku sedang menerjang lawannya, si Perwira Tom... Tombala! Jadi aku tidak sempat me nyambar mu...."

"Mulutmu!"

"Muridmu...!" ralat Dewa Kubur yang selalu bicara menggantung kalimat akhir. Nada bicaranya memang seperti seorang guru bicara pada muridnya, tak peduli siapa orang yang diajaknya bicara kala itu. Ki Sabawana

(13)

dan Bidadari Jalang sudah tak aneh lagi dengan ciri bicara Dewa Kubur, sehingga mereka tak merasa sedang digurui.

"Aku tak punya kesempatan untuk melongok sumur itu, Kakang! Perwira Tombaia melancarkan serang- annya dengan gencar, sehingga aku terpaksa mela- yani...? Melayaninya!"

"Berapa lama kau melawannya?" tanya Gila Tuak dengan nada datar dan berwibawa.

"Cukup lama! Karena semula aku tidak ingin membunuhnya. Hanya ingin mengu...?"

"Mengusungnya."

"Mengusirnya!" tegas Dewa Kubur. "Tapi karena dia cukup alot, maka terpaksa dia kubu...?"

"Kubuntingi."

"Kubunuh! Terpaksa dia kubunuh!" tandas Dewa Kubur. "Belum sampai aku melongok ke sumur, si laksamana Tanduk Naga muncul menyerangku. Akibatnya pertarungan kami pun menjadi pan...?"

"Panjul."

Panjang...!" Dewa Kubur membetulkan maksudnya

Rupanya kedatangan Dewa Kubur ke Jurang Lindu disusul oleh beberapa tokoh lain yang mendengar kabar kematian Pendekar Mabuk dari mulut Dimas Genggong, murid si Dewa Kubur. Beberapa orang yang hadir di .Jurang Lindu itu antara lain: Sumbaruni, mantan istri Jin Kazmat yang kasmaran pada Suto Sinting. Selain Sumbaruni yang datang dengan wajah sedih, tampak juga si Resi Parangkara, gurunya Puting Selaksa dan Manggar Jingga, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Wanrta Keramat"). Hadir Juga di situ Sawung Kuntet dan Eyang Cakraduya dari Bukit Sutera, Ki Dhar mapala alias si Burung Bengal dari Bukit Semayam. Arya Suaka dan gurunya yang berjuluk Geledek Biru, Batuk Maragam dari Karang Amuk, Awan Setangkai dari Selat Bantai dan beberapa orang lainnya.

Mereka adalah orang-orang yang seeara kebetulan mendengar kabar lebih cepat mendengar kabar kematian Pendekar Mabuk ketimbang yang lainnya. Mereka datang selain ingin mendengar kepastian dari si Gila Tuak, juga ingin menyampaikan rasa ikut berduka cita jika benar Pendekar Mabuk telah tewas tak ditemukan jenazahnya.

Oleh sebab itu, kehadiran Perawan Sinting bersama Raja Mantra yang diikuti oleh Mahesa Gibas, bukan hal yang aneh bagi si Gila Tuak dan Bidadari Jalang.

(14)

Perawan Sinting langsung berlutut dan tundukkan kepala di depan si Gila Tuak. Bidadari Jalang berdiri dl sampingnya sambil mengingat-ingat wajah Perawan Sinting.

"Siapa gadis ini?" bisik Gila Tuak kepada Bidadari Jalang.

Dengan suara agak keras, Bidadari Jalang berkata, "Kalau tak salah, gadis ini adalah Darlingga Prasti, murid mendiang Gagar Mayang."

"Ooo.../' Gila Tuak yang mengenakan pakaian serba hijau dan jubah kirning itu manggut-manggut sambil menggurnam iirih.

"Benarkah kau murid mendiang sahabatku; si Gagar Mayang dari Lereng Buana itu, Nak?"

"Benar, Eyang! Aku yang bernama Darlingga Prasti alias Perawan Sinting, murid mendiang guru Nyai Gagar Mayang," jawab Perawan Sinting dengan sopan sekali.

Raja Mantra menyahut, "Aku mendengar kematian muridmu dari gadis :ni, Kakang Gila Tuak! Aku turut bersedih dan kusampaikan rasa belasungkawaku sedalam-dalamnya."

"Jangan dalam-dalam dulu, Wirambada!" potong si Gila Tuak dengan kalem. "Aku sendiri tak yakin bahwa muridku bias mati semudah itu. Artinya, tidak mengirimkan firasat apa-apa lebih duiu padaku. Aku tak yakin”.

"Kudengar,..," ujar Raja Mantra lagi. "Dewa Kubur adalah.saksi hidup yang melihat kematian Pendekar Mabuk?!"

Dewa Kubur menyahut, "Memang benar, aku yang melihat anak muda itu jatuh ke dalam sumur tua itu! Jelas sekali aku melihatnya masuk ke dalam su...?" "Suling," lanjut Raja Mantra.

"Sumur!" raiat Dewa Kubur. "Kulihat jelas sekali dia masuk dalam sumur, tapi... apa daya aku tak sempat menyam...?"

"Menyambitnya?" "Menyambarnya!"

Batuk Maragam, tokoh tua yang punya kebiasaan batuk beraneka nada itu segera menyahut.

"Masuk ke dalam sumur bukan berarti masuk ke alam kematian, Dewa Kubur! Siapa tahu Suto Sinting tersangkut akar pohon yang tersumbul dari dinding sumur itu?! Kurasa, kematian Suto Sinting perlu dicari buktinya. Harus ada yang bisa temukan jenazah Suto Sinting walaupun hanya kepalanya saja. Uuhuk, uhuuk, uhuuk, iihik, ihhik, hook, hoook, hooekk... cuih!"

(15)

Batuk Maragam berhenti bicara. Ucapannya yang bernada seenaknya itu membuat Perawan Sinting tegakkan wajah. Tapi lebih dulu si Geledek Biru ajukan tanya kepada Dewa Kubur.

"Di mana letak sumur itu, Dewa Kubur?"

"Di Lembah Seram. Tapi sekarang tempat itu sudah hancur. Tebingnya rubuh dan alam sekitarnya rusak akibat pertarunganku dengan Laksamana Tanduk Naga. Dan kulihat sumur itu sudah tertimbun ta...?"

"Tape...?!" sahut Raja Mantra. "Tanah!"

"Oo, sudah tertimbun tanah?" Raja Mantra menggumam dan manggut-manggut.

"Jika begitu, Eyang...," sahut Perawan Sinting,"... aku mohon pamit sekarang juga!"

"Mau ke mana kau?!"

"Mencari mayat Suto Sinting sampai berhasil kutemukan bukti kematiannya!"

Sumbaruni yang menyimpan rasa cemburu kepada Perawan Sinting segera berseru,

"Jangan bodoh kau, Gadis ingusan! Mayatnya pasti sudah tertimbun reruntuhan tebing, seperti yang diceritakan si Dewa Kubur tadi!"

"Aku punya dua tangan. Bisa untuk menyingkirkan tebing itu!" ketus Perawan Sinting, lalu melesat pergi tanpa bisa dicegah lags. Biaasss...!

"Konyol...!" geram Sumbaruni sambi! mendengus kesal.

Memang konyoL Bukan hanya Perawan Sinting saja yang konyol. Ternyata yang namanya Suto Sinting |uga konyol. Bahkkan lebih konyol dari kabar yang di- sampaikan Dewa Kubur stu.

Orang-orang sibuk membicarakan kematiannya, Tapi Suto Sinting saat itu justru sedang merebah di atas pangkuan seorang gadis cantik bertubuh tinggi, kekar dan sekal. Gadis itu adalah mantan prajurit Kerajaan Hastamanyiana yang ditugaskan menjaga harta karun di lorong maut, tempat mereka nyaris mati terkubur hidup-hidup.

Prajurit cantik berdada montok itu tak lain adalah si Citra Bisu alias Citra Mandagi. la dijuluki Citra Bisu, karena lebih sering tampak diam menutup mulut rapat- rapat, tapi batinnya bicara dan suara batinnya itu mampu dikirimkan ketelinga lawan orang yang dituju. la memiliki ilmu 'Tutur Selayang' yang merupakan ilmu langka dan hanya dimiliki oleh orang-orang berkekuatan batin tinggi. Dari sekian banyak prajurit Kerajaan

(16)

Hastamanyiana, hanya dia seorang yang mampu kuasai ilmu Tutur Selayang', sehingga ia kelihatannya selalu membisu dalam kesehariannya.

Tetapi lamanya di dalam lorong penyimpanan harta karun membuat Citra Bisu tak tahu bahwa waktu telah berjalan jauh ke depan. Negeri Hastamanyiana telah hancur dan tidak ada lagi. Salah satu orang Hastama-nyiana yang masih hidup adalah Nini Desah Bengi, yang kini menjadi penguasa Pulau Garong.

Seperti apa kata Citra Bisu, suasana di dalam lorong itu adalah suasana mati. Waktu tidak bergerak, zaman tidak berganti, segalanya serba abadi. Oleh karenanya, walaupun Suto Sinting merasa tinggal di dalam Sorong itu tak lebih dari sehari, tapi kenyataannya di luar lorong waktu telah berjalan sampai tiga hari. Tak heran juga jika Citra Bisu keluar dari lorong maut itu dalam keadaan masih muda, cantik, seksi dan menggairahkan.

"Menurut cerita si Kusir Hantu," ujar Pendekar Mabuk sambil merebah di pangkuan gadis montok iin"Hastamanyiana hancur pada waktu empat puluh tahun yang lalu. Aku belum lahir."

"Sudah lama sekali?!"

"Karena itulah, jika saat kau masuk ke dalam lorong itu dengan usia dua puluh lirna tahun, berarti sekarang usiamu adalah enam puluh lima tahun."

"Ooh, tua sekali aku ini?!" ujar Citra Bisu, tapi bibirnya tetap terkatup rapat. la bicara lewat suara batin, dan ucapan batin Pendekar Mabuk bisa didengar olehnya.

Gadis itu termenung. la masih sangsi dengan kenyataan yang didengarnya dari pemuda tampan berambut panjang tanpa ikat kepala. Tetapi pemuda itu tetap dibiarkan berbaring di pangkuannya, la sendiri bersandar pada sebatang pohon rindang. Mereka sedang menikmati masa istirahat, mengendurkan ketegangan dan kopanikan, karena merasa berhasil lolos dari reruntuhan lorong maut itu.

Tangannya yang berlapis perunggu ukir dari pergelangan tangan sampai batas siku, terkulai lemah didada Suto Sinting. Tangan yang satunya sengaja mengusap-usap kening Suto sambil bermainkan anak rambut di sekitar kening.

Pendekar Mabuk sengaja membawa gadis itu dalam suasana santai. Karena setelah lolos dari lorong maut, jiwa mereka sedikit terguncang dan perlu diredakan. Mereka belum tahu harus berbuat apa pada saat ini

(17)

sehingga mereka harus merenungkanriya setelah jiwa menjadi tenang kembali.

"Suto, maukah kau mengantarku ke Pulau Senida untuk membuktikan kebenaran kabar tentang hancurnya Hastamanyiana?!" ujar Citra Bisu dengan bibir terkatup. Tapi Suto Sinting merasa mendapat bisikan jelas di telinganya, sehingga ia pun segera menjawab dengan suara batinnya.

"Aku tak keberatan untuk pergi ke Pulau Senida. Tetapi bagaimana dengan harta karun sebanyak itu?!"

"Sudah terkubur dalam lorong itu. Reruntuhan tebing telah menguburkan sejarah harta kekayaan negeri Hastamanyiana yang selama ini kujaga. Kurasa, me mang sebaiknya harta itu terkubur dalam-daiam di dasar bumi agar tak menjadi bencana bagi para pemburu serakah itu!"

"Kau rela menghadapi kenyataan ini?"

"Aku harus rela jika benar Hastamanyiana telah hancur. Tapi jika Hastamanyiana masih berdiri, ratu masih hidup, maka dengan segala daya upaya aku harus bisa mengambil kembali harta itu!"

"Baiklah jika kerelaan hatimu sudah begitu. Kapan kita berangkat ke Pulau Senida?"

"Haruskah menunda waktu?' Citra Bisu ganti ber tanya. Suto Sinting mengerti maksudnya,

"Baik. Kita berangkat sekarang juga!" Suto pun bangkit berdiri. Gadis itu berdiri juga. Tinggi tubuhnya sedikit melebihi ketinggian tubuh Suto Sinting. Batas kepala Suto hanya sampai di bawah daun telinganyayang mengenakan giwang putih kecii dari jenis berlian tulen itu.

"Ke mana arah yang harus kita tuju pertama kali- nya?" tanya Suto Sinting dengan suara batin.

"Ke Pantai Bejat! Karena dari sana kita bisa me- nyeberang dengan perahu atau dengan apa saja menuju ke Pulau Senida!"

"Pantai Bejat...?!" Suto Sinting bergumam dengan suara lirih. la berkerut dahi karena teringat sesuatu yang berkaitan dengan Pantai Bejat.

"Kenapa, Suto...?!" tanya Citra Bisu dengan suara batin.

Suto menjawab dengan batin pula, "Di sana ada orang-orang Tanah Pasung. Kudengar mereka mendarat di Pantai Bejat!"

"Siapa orang-orang Tanah Pasung itu?!"

"Mereka adalah para pemburu harta karun yang kau jaga itu. Kedatangan mereka kemari dipimpin oleh pe- nguasa Tanah Pasung sendiri, yaitu Ratu Sinden. Dan... dan sebelum aku terperosok jatuh ke lorong maut, dua kenalanku ditawan oleh mereka dan dibawa ke Tanah Pasung, yaitu si

(18)

Kusir Hantu dan Pematang Hati, cucunya. Mereka menangkap Kusir Hantu dan cucunya pasti untuk dapatkan keterangan tentang letak Goa Kembar yang ikabarkan sebagai tempat penyimpanan harta karun itu. Kusir Hantu tinggal di Lembah Seram. Ratu Sinden menyangka si Kusir Hantu pasti mengetahui tempat itu."

"Apakah dia memang mengetahui lorong maut itu?"

"Kusir Hantu justru tak percaya kalau di Lembah Seram tersimpan harta kekayaan negeri Hastamanyiana. la menganggapnya semua itu hanya dongeng belaka. la sama sekali tidak tertarik untuk mencari harta ter-sebut!"

"Apa salahnya jika kita bebaskan mereka dari kerakusan si Ratu Sinden?!"

"Aku sangat setuju!"

Kliik,..! Suto Sinting menjentikkan jarinya di depan hidung Citra Bisu. Wajahnya tampak berseri-seri, pertanda sangat mendukung gagasan Citra Bisu.

Tetapi sebelum merfcka bergegas pergi, tiba-tiba sebatang tombak melesat dengan cepat ke arah punggung Pendekar Mabuk. Wuiiss...! Dengan cepat Citra Bisu menarik lengan Suto ke arahnya. Suto tersentak dan menabrak dada Citra Bisu. Gadis itu menangkap dalam pelukan sambil geser satu langkah ke belakang. Seet….!

Jeeebs...! Tombak itu menancap pada pohon yang tadi dipakai bersandar Citra Bisu. Suto Sinting mendelik tegang melihat tombak itu menancap pada pohon dan tembus ke sisi belakangnya. Dapat dibayangkan alangkah keras dan cepatnya lemparan tombak tersebut. Seandainya tadi tombak itu menancap di punggung Suto, maka tak heran jika akan tembus ke pinggang kirl Citra Bisu, sebab kala itu mereka. berada dalam jarak sekitar dua jengkal.

Hampir saja kita berdua menjadi sate tanpa bum- bu, Citra!"

Citra Bisu tidak layani ucapan Suto Sinting. ia segera menyambar tombak tersebut. Satu sentakan tangan kiri membuat tombak itu lolos dari batang pohon. Siuub...! Citra Bisu meiemparkannya ke arah semak-se- mak tempat munculnya tombak tersebut. Weess...! Jeebs...!

"Aaaaaaa...!" suara jeritan memanjang menandakan tombak itu dapat jodoh di perut pemiliknya sendiri. Menancap tembus tanpa permisi lagi.

Kejap berikutnya, dari semak-semak lainnya berloncatan manusia-manusia berwajah angker bagaikan kutu loncat. Bahkan dari semak di

(19)

belakang Suto dan Citra Bisu juga muncul wajah-wajah angker yang sudah menyiapkan senjata masing-masing.

Salah satu wajah angker itu mengenakan jubah ungu dan celana ungu kusam. Orang kurus bermata cekung dengan rambut abu-abu itu tak lain adalah si Bandar Santet yang tempo hari merampas peta harta karun dari tangan Belatung Gerhana. Suto Sinting masih ingat betul dengan si wajah angker yang menyelipkan keris gagang merah di sabuk depan perutnya itu.

"Siapa mereka, Suto?" tanya Citra Bisu dengan suara batin. Suto juga menjawab dengan suara batin, sehingga di depan lawannya mereka tampak hanya diam saja.

"Mereka juga para pemburu harta karun itu. Mereka orang-orang Selat Neraka di bawah pimpinan Bandar Santet."

"Yang mana yang bernama Bandar Santet?" "Yang kurus dan berjubah ungu itu."

"Jelek sekali wajahnya?"

"Menurut istrinya wajah seperti itu adalah wajah ganteng." "Kalau begitu biar kutangani sendiri orang itu!"

"Hati-hati, dia jago santet! Aku pernah dilukai dengan ilmu Pesona Teluh'-nya."

"Kau urus saja para cecunguknya, aku akan jajal ilmu santet si kepompong minder itu!"

Pendekar Mabuk tersenyum menahan tawa. Tentu saja mereka yang mengepung taktahu apa sebab Pendekar Mabuk ingin tertawa geli. Mereka melihat kedua mangsa yang dikepung tetap tenang, saling diam dan tidak tampak berbisik-bisik.

"Tapi kenapa si tampan itu sepertinya mau tertawa geli? Apa yang sebenarnya yang dilihatnya di wajah ketua kita itu?" bisik salah seorang anak buah Bandar Santet.

"Sst...! Jangan ngobrol sendiri, nanti ketua marah padamu!" temannya mengingatkan.

Bandar Santet maju dua langkah dengan dingin. Matanya memandang ke arah Suto Sinting yang bersebelahan dengan Citra Bisu dalam jarak tiga langkah.

"Kita bertemu lagi, Bocah sinting!" ujar Bandar Santet dengan suaranya yang datar dan dingin.

"Aku tak punya peta menuju liang kubur, Bandar Santet. Kuharap jangan bikin perkara lagi denganku!"

(20)

"Ada yang perlu kusampaikan padamu! Pertama.... Peta dari si gembrot busuk itu adalah peta palsu! Kedua.... Juru Jagal akhirnya tewas setelah menderita luka parah dan tak bisa disembuhkan."

"Aku turut berduka cita," ujar Suto Sinting kalem.

"Ketiga...," sambung Bandar Santet, .... Aku ingin menagih nyawa orang-orangku yang kau bunuh!"

"Aku tidak membunuhnya. Orang-orangmu sendiri yang saling bunuh, Bandar Santet!"

"Keempat.... Kau harus tunjukkan di mana harta karun itu berada. Aku yakin kau dan Belatung Gerhana tahu di mana tempat itu."

"Kau salah duga, Bandar Santet. Aku dan...."

"Kelima... hutang nyawamu kuanggap lunas jika kau bantu aku dapatkan harta karun itu."

"Keenam...," sahut Suto Sinting, ".... Aku tak tahu menahu tentang harta karun dan siap adu nyawa denganmu, Bandar Santet!"

"Sebuah tantangan yang bagus, Suto," bisik Citra Bisu dengan suara batin. "Awas, sebelah kananmu ada yang mau lemparkan pisau."

"Aku melihatnya. Tenang saja, Citra!" balas Suto dengan suara batin juga.

Bandar Santet bersuara geram. "Kau memang sudah bosan hidup, Anak kucing!"

Wiiiz...! Pisau metayang ke arah leher Suto Sinting dari arah kanan. Tubuh Suto segera disentakkan ke belakang sambil berseru dalam batinnya.

"Citra, tangkap pisau ini!"

Wees...! Pisau lewat depan mulut Suto. Tangan Citra Bisu berkelebat dengan tubuh sedikit memutar. Taab...! Pisau tertahgkap di tangan gadis itu, tangsung dilemparkan ke arah kiri, sebab di arah kiri ada orang yang ingin melemparkan tombaknya. Wuut...! Jrebb...!

"Aaaaahkk...!"

Pisau itu tepat menancap di ulu hati orang tersebut. Tombak yang sudah diangkat pun jatuh ke tanah, menyusul kemudian orang itu tumbang dengan tersengal- senga! beberapa saat sampai akhirnya tak mau bernyawa lagi. Mati.

Anak buah Bandar Santet menjadi tegang. Tapi si kurus Bandar Santet tetap tenang. la hanya melirik anak buahnya yang tewas tanpa tindakan apa pun. Namun ia bicara kepada Citra Bisu dengan nada lebih dingin lagi.

(21)

"Terlalu berani kau ikut campur urusan ini, Nona cantik! Apakah kau tak takut mati dengan raga membusuk dan berbelatung?!"

Citra Bisu diam saja, hanya menatap Bandar Santet penuh keberanian. Tapi ia mulai bicara dalam batinnya, dan suara batinnya dikirimkan kepada Suto Sinting

"Dia mulai menggunakan ilmu teluhnya, Suto."

"Celaka! Lekaslah menyingkir biar kuhadapi orang itu!"

"Aku mendengar batinnya mengucapkan beberapa mantera. Dadaku mulai panas! Sebaiknya kuserang dia agar tak sempat melanjutkan bacaan manteranya!"

"Tapi...," Suto Sinting tak sempat ianjutkan ucapan batin, karena tiba-tiba tangan kiri Citra Bisu menyentak ke depan dengan dua jari mengerang kejang. Suuut...! Claap...! Selarik sinar biru melesat dari ujung kedua jari itu. Sinar tersebut menghantam dada Bandar Santet.

Sinar biru itu hanya dipandang oleh Bandar Santet. Tahu-tahu berhenti sendiri dalam jarak satu jengkal di depan dada. Tapi ucapan mantera di batin Bandar Santet terhenti mendadak, karena kekuatan dan perhatiannya tertuju ke arah sinar biru itu.

Citra Bisu segera menangkap tangan kirinya sendiri dengan tangan kanan. Bagian yang ditangkap adalah bagian siku. Kemudian kedua tangan itu lebih menyentak maju lagi hingga tubuh Citra Bisu meliuk ke samping. Plak, wuuut...!

Sinar biru yang terhenti iiu menyentak maju. Bandar Santet kaget dan segera menghadangkan tangan kanannya. Dees...! Blaaarrr...!

Ledakan yang terjadi tlmbulkan gelombang sentak yang sangat kuat. Bandar Santet terlempar ke atas, rnelayang ke belakang, kepalanya membentur lekukan cabang pohon. Duuk...! Bruuk...! la jatuhterbanting tanpa ampun lagi.

Melihat ketuanya dilemparkan begitu saja, para anak buah pun melabrak Citra Bisu dan Pendekar Mabuk secara serentak. Mereka mulai menyerang dari ber- bagai arah dengan teriakan liarnya.

"Heeeaaaah...!!"

Citra Bisu mencabut pedangnya yang terbuat dari kristal bening. Pendekar Mabuk segera menyambar bumbung tuaknya yang sejak tadi menggantung di pundak kanan. Seet...! Bumbung tuak itu segera dipakai menangkis senjata-senjata yang diarahkan kepadanya. Trang, trang,

(22)

duaar...! Bumbung bambu itu se- perti besi baja, ketika berbenturan dengan senjata lawan memancarkan cahaya bunga api ke rnana-mana.

Citra Bisu bergerak dengan lincah, menangkis pedang dan tombak lawan dengan pedang kristalnya. Sa- betan pedang beling itu ternyata mampu mematahkan tombak lawan serta beberapa senjata lainnya. Bahkan seseorang yang menggunakan rantai bola berduri mencoba menyambar kepala Citra Bisu dari belakang.

Gadis itu merendahkan badan dengan kepala sedikit dirundukkan. Pedangnya berkelebat menyambar rantai bola berduri itu. Craang...! Bluuk...! Bola berduri itu jatuh ke tanah, putus dari rantainya.

"Hiaaat...!" Citra Bisu menebaskan pedangnya ke kanan dan ke kiri, menyambar perut lawan yang ingin mendekatinya. Breet, craas, breet, wreek...!

"Aaaah...! Aaooww...! Aaahk...!"

Enam orang sekali tebas jatuh terkapar dalam keadaan luka robek pada bagian tubuhnya. Sementara itu, Pendekar Mabuk berhasil menumbangkan delapan orang dalam sekali sambar bumbung tuaknya yang diputar ke atas kepala. Wuuurs...! Putaran bumbung tuak itu datangkan angin kencang dan melemparkan mereka yang mengelilinginya.

Terdengar suara batin Citra Bisu berujar kepada Suto, "Aku melompat ke atas pohon. Mau kejar si Bandar Santet itu. Urus yang iainnya, Suto!"

"Lakukan saja, Manis!" sahut batin Suto Sinting.

Wuuut...! Tubuh gadis yang tinggi sekal itu tahu- tahu sudah ada di atas pohon. la melompat dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Dalam sekejap sudah berada di depan Bandar Santet.

Pendekar Mabuk segera pergunakan jurus 'Garuda Mudik'. Bumbung tuak diputar di atas kepala, lalu dilepaskan. Wuuuung...! Bumbung tuak itu melayang sendiri dalam gerakan memutar. Tiap benda yang dilaluinya selalu terhantam dan menjadi berantakan. Beberapa kepala lawannya mengucurkan darah akibat ter- sambar gerakan cepat bumbung terbang itu. Sementara tombak dan golok yang coba-coba menghalanginya torpaksa patah menjadi berkeping-keping setelah bertabrakan dengan bumbung tuak itu.

Trak, taang, prook, traak, prook, wuung...!

Teeb...! Bumbung tuak kembali ke arah pemiliknya. Berhasil ditangkap dengan tangkas dan siap diputar kembali. Taps beberapa lawan segera undurkan diri begitu melihat jurus Garuda Mudik' yang telah membuat

(23)

empat kepala retak berlumur darah. Mereka yang terluka tak punya harapan untuk hidup lebih seratus hitungan lagi.

Di sisi lain, Citra Bisu berhadapan dengan Bandar Santet. Kali ini ia menggunakan suara mulut.

"Jika kau ingin dapatkan harta itu, kau harus berhadapan denganku. Akulah si penjaga harta itu dari Kerajaan Hastamanyiana!"

"Perempuan keparat! Kau menjadi busuk sekarang ju...."

Prook...! Belum selesai Bandar Santet mengucapkan kutukannya, kaki panjang Citra Bisu fcudah lebih dulu menendang mulut orang tersebut. Tendangan ber- tenaga dalam dilakukan sangat kerasdan cepat. Dalam sekejap saja mulut Bandar Santet menjadi remuk. Gigi depannya rontok semua. Bandar Santet tak bisa bicara karena gusinya ikut pecah.

"Grrrrrh...!"

Bandar Santet hanya bisa menggerarn dengan seri- ngai kesakitan. Kerisnya dicabut dari tempatnya. Seet...! Claap, claap...! Keris itu memancarkan sinar merah berkerilap, menandakan keris itu mempunyai kesaktian tersendiri.

' Haaaggrr...!" Bandar Santet menyentakkan keris-nya ke depan. Sinar merah seperti ekor naga menyarn bar tubuh Citra Bisu. Craiaap...!

Wiiz, wiiiz, wiiz...!

Suuut...! Pedang kristal itu pun segera disentakkan lurus ke depan seteiah ditebaskan dengan cepat beberapa kali. Pedang bening itu menyala biru, dan sinar birunya bagai bertumpuk di ujung pedang, ialu melesat keiuar berupa sinar biru berbentuk mata pedang. Ctaaap...!

Jegaaarrr.:.!

Ledakan dahsyat terjadi akibat tabrakan sinar biru pedang dan sinar dari keris. Ledakan itu membuat tubuh Citra Bisu teriempar dalam keadaan separoh wajah menjadi memar membiru, tersambar gelombang angin panas dari ledakan tadi.

Bandar Santet juga teriempar ke beiakang dan melayang-layang dalam keadaan hilang keseimbangan. ia terbanting di atas sebongkah batu sebesar anak sapi. Brook...! Krrak….!

"Aaahk...!" Bandar Santet mengerang karena tulang punggungnya bagaikan patah. Sementara kepalanya sendiri menjadi bocor akibat .membentur batu tersebut.

Melihat Bandar Santet terluka cukup parah, para anak buah segera bertindak cepat. Bandar Santet disambar oleh salah seorang anak buahnya yang berbadan besar. Wees...!

(24)

"Lari...!" seru orang itu mernberi aba-aba kepada yang lain. Maka yang lain pun berhamburan pergi tinggalkan tempat itu. Citra Bisu ingin mengejar dalam ke- adaan luka, tapi Suto Sinting berseru dengan suara batinnya.

"Tahan! Jangan kejar mereka!"

"Keparat! Kenapa kau melarangku?!" Citra Bisu berpaling cepat ke arah Suto dengan mulut tetap terkatup.

"Kau terluka, Citra! Aku tak ingin lukamu menjadi makin berbahaya jika dipakai untuk mengejar mereka!"

"Lalu apa maumu?"

"Minumlah tuakku yang...."

Suto Sinting diam, tertegun dengan hati kecewa. la baru sadar bahwa bumbung tuaknya ternyata telah kosong. Tuaknya habis, tinggal empat-lima tetes. Wajah pemuda tampan itu pun menjadi tegang.

"Tuak habis. Citra terluka separah itu. Oh, bagaimana ini?!" keluhnya dalam hati, dan keluhan itu didengar oleh Citra Bisu.

Suto Sinting menjadi lebih tegang lagi begitu ia sadari luka memar membiru itu makin lama makin menghitam. Separoh wajah Citra Bisu mulai membusuk, dan gadis itu menggigit bibir pertanda menahan rasa sakit yang bukan kepalang tanggung itu.

(25)

3

Dengan hawa sakti gaburtgan antara milik Pendekar SVIabuk dengan milik Citra Bisu sendiri, akhirnya luka di wajah gadis itu bisa terobati. Memang tak bisa sembuh dengan cepat seperti jika meminum tuak saktinya Suto, tapi setidaknya luka hangus itu dapat segera mengering dan tidak menjadi lebih parah lagi. 4;

"Aku malu dalam keadaan seperti ini, Suto. Wajahku tampak buruk sekali," ujar Citra Bisu.

"Jika begitu, sebaiknya kau kubawa ke pondoknya si Kusir Hantu. Tinggallah di sana dulu, sementara aku pergi mencari tuak. Jika kau minum tuak dari bumbung saktiku ini, maka luka-lukanmu tidak akan membekas sedikit pun, Citra. Kau dapat kembali cantik seperti sediakala dalam waktu singkat."

"Sesakti itukah tuak dari bumbungmu?"

"Aku tak bisa menjawab. Tapi kau bisa buktikan sendiri jika bumbung ini sudah kuisi dengan tuak dari mana saja."

Baiklah. Aku menurut dengan saranmu, Suto."

Mereka bergegas menuju pondoknya si Kusir Hantu. Suto Sinting juga jelaskan, bahwa di pondok itu CitraBisu tidak akan sendirian. Sekali pun Kusir Hantu dan Pematang Hati ditawan oleh orang-orang Tanah Pasung, tapi di pondok masih ada Mahligai Sukma, yaitu adiknya Pematang Hati. Juga, ada Tenda Biru dan Panji Klobot, sahabat Suto yang tinggal bersama Kusir Hantu sejak si Tenda Biru lolos dari kutukan maut berkat bantuan Suto Sinting, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Gadis Tanpa Raga").

Sudah tentu tempat yang paling dekat dari daerah itu adalah pondok si Kusir Hantu, sebab memang Kusir Hantu tinggal di Lembah Seram. Untuk mencapai pondok tersebut tidak membutuhkan waktu lama. Suto Sinting masih hafal jalan-jalan yang harus diialuinya dalam menuju pondok tersebut. Dengan melingkari bukit rmelalui jalur selatan, mereka akan lebih cepat lagi tiba di pondok.

Tetapi perjalanan mereka terhalang kembali oleh satu kejadian yang membuat langkah mereka terhenti. Sebuah pertarungan cukup menarik perhatian Suto ter- jadi di kaki bukit. Pertarungan itu dilakukan oleh seorang gadis berambut pendek dengan mengenakan jubah tanpa lengan

(26)

warna biru. Pakaian dalamnya juga berwarna biru tipis. Gadis cantik itu bermata membelalak indah dengan hidung mancung dan bibir sensual.

"Kau kenal dengan gadis itu?" tanya Citra Bisu menggunakan suara batinnya.

"Ya, aku kenal. Dia adalah si Tenda Biru yang kuceritakan tadi." "Lalu, pernuda yang berpakaian biru garis-garis putih itu siapa?" "Itu murid Nyai Jurik Wetan. Setahuku dia bernama Ragadenta. Sedangkan perempuan yang bersembunyi di balik pohon seberang sana adalah Laras Wulung. Ragadehta dan Larang Wulung punya hubungan gelap. Laras Wulung bersedia menjadi budak suruhan Ragadenta dalam mencari harta karun itu, asalkan ia dapatkan darah kemesraan dari Ragadenta...."

Suto rnenjelaskan panjang iebartentang siapa mereka, sebab ia memang pernah mengintip kencan Ragadenta dengan Laras Wulung di sebuah rumah gubuk. Saaf itu ia bersama Mangku Randa, dan menyadap persekongkolan mereka dalam mendapatkan harta karun. Keterangan yang didapat Laras Wulung dari Panji Klobot adalah letak goa di sebelah seiatan bukit.

Rupanya usaha mereka temukan Goa Kembar itu gagal. Di selatan bukit tak ada goa. Panji Klobot jadi tumpuan kekecewaan Ragadenta dan Laras Wulung. Tapi Tenda Biru yang selama ini secara tak langsung menjadi guru si Panji Klobot merasa tak rela. Ia lakukan pembelaan terhadap sang murid, sehingga terjadilah pertarungan di tempat itu.

Agaknya Laras Wulung tak mau ikut campur dalam pertarungan itu. la berada di tempat jauh, di balik pohon. Tetapi dari tempat Suto berada, sosoknya tampak jelas sekali. Suto Sinting sengaja tidak menggubris keberadaan Laras Wulung. Tapi perhatiannya lebih ditujukan pada Panji Klobot yang babak belur dan terkulai lemas di bawab pobon. Sementara itu; Tenda Biru berusaha melukai Ragadenta dengan pedangnya yang ditebaskan beberapa kali ke arah pemuda tersebut. Tapi dengan lincah Ragadenta selalu berhasil hindari tebasan pedang.

Pada satu kesempatan, Ragadenta berhasil lepaskan pukulan tenaga dalamnya dari jarak lima langkah di depan Tenda Biru. Beet...! Claap...! Sinar merah kecil melesat dari telapak tangan Ragadenta.

Tenda Biru menghindarinya dengan sebuah lompatan ke atas dan bersalto dua kali di udara. Wuuk, wuuk...! Ketika ia daratkan kakinya, sinar merah itu sudah melesat di udara belakangriya. Namun tanpa didu ga-duga, ekor sinar merah itu tiba-tiba menyebar menjadi lebar dan panjang. Bias cahayanya kenai punggung Tenda Biru. Plaass.,.!

(27)

"Aaahk...!" Tenda Biru tersentak ke depan dan jatuh terjungkal. Kejap kemudian ia terpuruk di tanah dan tak berdaya lagi. Sekujur tulangnya bagaikan menjadi .lunak, tak sedikit pun bisa dipakai untuk berdiri. Setiap ia mencoba bangkit berdiri selalu jatuh kembali dengan lemas. Brruuk...!

"Uuuhkk...!" Tenda Biru mengerang dengan berusaha mengangkat kepalanya, namun segera terkulai kembali.

Hemmh ..! Itulah akibatnya bagi orang yang coba- coba melawan Ragadenta!" ujar Ragadenta dengan sinis dan ketus. "Kau akan mati kelaparan tanpa bisa memiliki kekuatan lagi, Gadis tolol! Pemuda penipu itu pun akan kubuat sama seperti dirimu!"

"Jahanam! Jangan berani lagi sentuh muridku itu! Aku masih mampu melawanmu!" seru Tenda Biru. Rupanya ia masih punya tenaga untuk bersuara. Hanya itu yang dimiliki Tenda Biru. Tapi kekuatan untuk melepaskan pukulan jarak jauh pun sudah tak ada.

"Jika mereka temanmu, mengapa kau diam saja, Suto?" tegur Citra Bisu melalui suara batinnya.

"Ini persoalan guru membela murid. Kalau kucam- puri, aku takut akan membuat Tenda Biru tersinggung."

"Kurasa keadaan Tenda Biru sudah sebegitu lemah. la butuh bantuan! Ini bukan lagi soal guru membela muridnya, tapi soal hidup dan mati dari perkara salah dan benar."

Suto Sinting diam sejenak, kemudian menggumam lirih dengan suara mulut, "Pendapatmu benar juga, Citra. Tunggulah di sini! Aku akan maksa Ragadenta untuk pulihkan keadaan Tenda Biru!"

Zlaaap...! Jurus 'Gerak Siluman' membuat rambut Citra Bisu terhempas karena gerakan cepat Suto Sinting. Dalam sekejap pemuda tampan berbaju buntung warna coklat dan celana putih kusam itu sudah berada di depan Ragadenta yang hendak hampiri Panji Klobot. Kemunculan Suto Sinting itu jelas-jelas bersikap menghadang langkah Ragadenta, sehingga pemuda bertubuh tegap, gagah dan kekar itu terkejut, lalu hentikan langkah dengan penuh waspada.

"Suutooo...!" seru Panji Klobot dari tempatnya. Seruan itu bagai sebuah ratapan yang menghiba, minta pertolongan. Tapi seruan itu membuat Ragadenta berkerut dahi semakin tajam, karena ia mendengar Panji Klobot menyebut nama 'Suto'. Sementara itu, Laras Wulung menjadi gusar dan gelisah karena ia tahu betul siapa pemuda yang menghadang langkah Ragadenta itu.

(28)

"Apakah kau yang bernama Suto Sinting dengan gelar Pendekar Mabuk?!" tegur Ragadenta.

"Benar! Dan kau adalah Ragadenta, murid Nyai Jurik Wetan." "Dari mana kau tahu?"

"Kurasa itu tak perlu dijawab. Hanya basa-basi saja dan buang-buang waktu. Yang perlu kau lakukan adalah pulihkan kembali keadaan Tenda Biru, sahabatku!"

"Hmmh….!" Ragadenta mencibir, lalu tertawa. "Hah, haa, haa, haa...! Sangkamu siapa dirimu sehingga berani memerintahku dengan cara seperti itu, ha?!"

"Aku tak mau bikin masalah denganmu, Ragadenta. Aku tahu kau murid Nyai Jurik Wetan! Aku pernah selamatkan nyawa gurumu dari ancaman maut Siluman Tujuh Nyawa," ujar Suto dengan kalem sambil ia membayangkan peristiwa pertarungan Nyai Jurik Wetan dengan si manusia terkutuk; Siluman Tujuh Nyawa, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Misteri Lembah Seram").

"Jangan bawa-bawa guruku!" sentak Ragadenta. "Urusan guruku adalah urusan guruku. Urusanku adalah urusanku! Jelasnya, dengan cara halus ataupun cara kasar, kuharap kau menyingkir dari sini sekarang juga!"

"Jika kau tak mau pulihkan keadaan Tenda Biru, aku tak akan pergi dari sini, Ragadenta!"

"O, keparat kalau begitu! Rasakan paksaanku ini, heeeaah...!!"

Wuuut, claap...! Sinar merah seperti tadi melesat ke arah Suto Sinting dari telapak tangan Ragadenta. Jarak pukulan hanya sekitar lima langkah. Sinar itu melesat dengan sangat cepat.

Tapi bumbung tuak yang sudah di tangan Suto Sinting mampu menangkis datangnya sinar tersebut. Begitu sinar merah itu menghantam bumbung tuak, ternyata sinar itu memantul balik dalam ukuran lebih besar dan lebih cepat dari aslinya. Zlaass...!

Deeb, bluub...! Blaaaarrr...!

Ragadenta kebingungan begitu melihat sinarnya memantul balik dalam ukuran lebih besar. Gerak nalu- rinya segera bertindak. Kedua tangan menyentak ke depan keluarkan sinar hijau lebar. Sinar hijau lebar itulah yang menghantam sinar merah hingga timbulkan ledakan cukup dahsyat.

Ragadenta terlempar bagaikan boneka isi kapukditendang pemain bola. Wees...! Melayang begitu saja dan jatuh terbanting tanpa malu-malu lagi. Bruuuk...!

(29)

"Aaahhkk...!" Ragadenta mengerang sambii menggeliat. Tubuhnya menjadi merah seperti kepiting rebus. Tentu saja rasa sakit dan perih bergumul menjadi satu seperti pengantin baru bercengkerama. Ragadenta nyaris tak bisa bicara karena menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

"Bocah Sinting...,11 seru Tenda Biru dengan panggilan khas. Hanya dia yang sering memanggil Suto dengan sebutan 'Bocah Sinting', dan ia memang selalu memanggil Suto dengan nama tersebut.

Sambungnya dengan suara berat, "Jangan bunuh dia! Paksa terus agar dia mau pulihkan keadaanku, Bocah Sinting!"

"Tenang saja, Tenda Biru. Ada pepatah yang mengatakan: Kutahu apa yang kumau!" ujar Suto menirukan Kusir Hantu yang senang menggunakan pepatah atau peribahasa walau tak pernah nyambung.

Pendekar Mabuk dekati Ragadenta. Pemuda berkumis tipis yang mengenakan pakaian biru garis-garis putih itu mencoba bangkit, tapi baru bisa sampai duduk di tempat saja. la masih menyeringai menahan rasa sakitnya.

"Bangunlah, Ragadenta! Paksaanku belum selesai!" ejek Suto Sinting seenaknya saja. Tiba-tiba ia mendengar suara batin Citra Bisu yang berada agak jauh darinya. Citra Bisu tetap tak tampakkan diri, tapi Suto Sinting mulai hafal dengan nada suara sedikit serak milik Citra Bisu itu.

Suto, awas ada bayangan berkelebat menuju tempatmu. Dia akan muncui dari arah belakangmu!"

Pendekar Mabuk cepat berlari ke belakang. Tepat ia memandang ke belakang, sekelebat bayangan itu sudah hadir di depan hidungnya. Wees, bruuuss...! Pendekar Mabuk diterjangnya dan terpental hingga jatuh berguling-guling.

"Kampret! Rahangku seperti mau pecah rasanya!" gerutu Suto Sinting sambil bergegas bangkit, mencoba berdiri tegak walau sedikit agak menggeloyor.

Orang yang menerjang Suto Sinting sudah berdiri dengan mata memandang sangat tajam. Orang itu ternyata seorang nenek bertubuh kurus, rambutnya putih dilepas tanpa konde. la mengenakan jubah hijau lengan panjang dengan menggenggam tongkat warna hitam. Suto Sinting segera menyapa si nenek rada bungkuk itu dengan nada jengkel.

"Hebat juga terjanganmu, Nyai Jurik Wetan!"

"Sudah selayaknya seorang guru membela muridnya, Pendekar Mabuk!" geram Nyai Jurik Wetan yang merasa tak rela melihat muridnya dibuat seperti kepiting rebus oleh lawannya.

(30)

"Jika kau berani melukai muridku, berarti kau menantang pertarungan denganku, Pendekar Mabuk! Untuk sementara lupakan dulu jasamu yang pernah selamatkan nyawaku dan nyawa si keropos Kusir Hantu dari keganasan manusia terkutuk itu!"

"Kau seorang guru yang kurang bijaksana, Nyai Jurik Wetan." "Mungkin ini yang kau anggap iebih bijaksana lagi, heeah...!"

Nyai Jurik Wetan melompat kembali ke arah Suto Sinting. Tongkatnya dihantamkan ke arah kepala Suto. Wuuut...! Pendekar Mabuk angkat bumbung tuak menghadang tongkat. Traang...! Daaar...! Ledakan kecil terjadi menandakan beradunya kekuatan tenaga daiam dari kedua benda tersebut. Tapi Nyai Jurik Wetan tak sampai terpental mundur. la justru cepat putarkan ba- dan sambil kakinya melayang menyambar wajah Suto Sinting.

Wuut, plaak...! Suto menangkis dengan tangan kiri. Tapi kulit lengan yang menangkis tendangan itu menjadi memar membiru bagaikan menahan hantaman besi baja.

Suto agak limbung ke kanan akibat tendangan itu. Tapi buru-buru rendahkan badan karena harus hindari sodokan kepala tongkat Nyai Jurik Wetan. Suut...! Wuus...!

Pendekar Mabuk terpaksa cepat gulingkan badan ke tanah di depannya. Wuut, seet...! Dalam sekejap ia sudah separoh berdiri. Bumbung tuaknya segera di- silangkan di atas kepala dengan dipegang dua tangan, karena pada saat itu ia tahu Nyai Jurik Wetan menghantamkan tongkatnya dari atas ke bawah, sasarannya adalah kepala lawan.

"Modar kau...! Hiaaah...!"

Jedaar...! Ledakan itu membuat tongkat Nyai Jurik Wetan terpental ke atas tapi masih dalam genggaman- nya, sehingga tangannya ikut tersentak kuat hingga nyaris melintir ke belakang badannya. Melihat keadaan seperti itu, Suto Sinting segera menjejakkan kakinya ke belakang. Wuuut, buuhk...! Jejakan itu tepat kenai dada Nyai Jurik Wetan.

"Heehkk...!" Nyai Jurik Wetan terpekik dengan suara berat. Tubuhnya terpental mundur dan jatuh terduduk di samping muridnya yang masih belum bisa berdiri. Brruuk...!

Suto Sinting tarik napas dalam-dalam untuk meredam rasa sakitnya. la berdiri dengan tegak kembali. Tali bumbung tuak melilit dalam genggaman tangan ka- nannya kuat-kuat.

"Maaf kalau kakiku sedikit.tak sopan, Nyai. Kau mendesakku untuk bertindak tak menghormat padamu!"

(31)

"Keparat! Kau memang ingin cepat mati, Pendekar Mabuk! Hiaaahh...!" "Tahaaan...!" sentak Suto Sinting. Sentakan itu bagai mempunyai getaran aneh yang membuat Nyai Jurik Wetan terpaksa hentikan niatnya menyerang lagi.

"Ini persoalan yang tak perlu harus terjadi banjir darah atau korban nyawa, Nyai Jurik Wetan! Boleh saja kau membela muridmu, tapi kau harus tahu bahwa tin- dakan muridmu itu salah!" sambil Suto menuding Ragadenta tegas-tegas.

Tenda Biru berusaha ikut bicara. "Dia menyiksa Panji Klobot, karena menganggap Panji Klobot memberi petunjuk palsu tentang Goa Kembar. Padahal anak itu memang tidak tahu-menahu tentang harta karun yang terdapat di Goa Kembar! Dia memberikan petunjuk palsu karena didesak dan takut dipukuli oleh muridmu, Nyai!"

Mendengar tentang harta karun dan Goa Kembar, Nyai Jurik Wetan bangkit perlahan-lahan. Kemarahannya semakin diredakan. la memandangi muridnya yang masih duduk di tanah. Sang murid tampak gusar sambil menahan rasa sakitnya.

"Bangun kau!" geram Nyai Jurik Wetan sambil men- cengkeram baju Ragadenta dan menarik tubuh pemuda itu seperti menjinjing tas belanjaan. Wuuut...!

"Ouuh...! Guru... Guru, aku menghajar pemuda yang di bawah pohon itu karena dia ingin membuat kita terkecoh dalam mendapatkan letak Goa Kembar Itu! Pad... padahal... padahal kalau Goa Kembar itu bisa kutemukan, maka aku akan menghubungi Guru dan mencari harta orang Hastamanyiana itu! Tapi dia ku- rangajar, Guru! Dia melecehkan kita!"

"Kami tidak tahu menahu tentang Goa Kembar, Nyai!" sahut Tenda Biru sambil tetap terpuruk me-nyedihkan.

"Bohong! Mereka tahu, Guru...' Mereka sengaja menganggap kita remeh dan melakukan penghinaan terhadap dirimu secara tak langsung, Guru! Jelas mereka lakukan penghinaan itu karena mereka adalah orang-orangnya si Kusir Hantu, musuh Guru itu!" sahut Ragadenta membakar emosi gurunya. Sang guru tampak memandang Tenda Biru dengan nada penuh kemarahan. Suto Sinting segera angkat bicara.

"Jangan mudah percaya dengan hasutan muridmu, Nyai."

"Diam kau!" bentak Nyai Jurik Wetan. "Agaknya aku harus kembali berurusan dengan si keropos Kusir Hantu!"

Dengan kalem dan senyum tipis Suto mencoba meredakan kegusaran Nyai Jurik Wetan yang dulu bekas kekasihnya si Kusir Hantu.

(32)

"Nyai, kumohon jangan sangkut pautkan urusan ini dengan permusuhan pribadimu dengan Kusir Hantu. Muridmu rnemang bermaksud mengambil harta karun itu untuk kepentingan dirinya sendiri. ia bersekongkol dengan seorang perempuan, janda mantan pengawalnya mendiang Ratu Cendana Sutera. Perempuan itu adalah kekasih gelapnya yang bersedia diperintah apa saja asalkan mendapat kehangatan dari Ragadenta." "Bohong, Guru!" potong Ragadenta dengan gusar dan penuh ketegangan. "Aku tidak punya kekasih, Gu- n i! Aku tidak punya teman wanita yang...."

"Apakah kau tak kenal dengan Laras Wulung?!"

"Tidak! Kurobek rnulutmu Pendekar Mabuk! Jangan menghasut diriku di depan Guru!" Ragadenta semakin gusar, seakan lupa dengan sakitnya, lupa dengan kulit wajah dan tangannya yang menjadi merah seperti kepiting rebus.

"Aku hanya bertanya padamu, Ragadenta...," ujar Suto tetap kalem. "Apakah kau tak kenal dengan Laras Wulung, perempuan yang gemar mengenakan pakaian biru tua dan beriubuh sekal menggairahkan, berwajah cantik mempesona, yang selalu menemuimu di sebuah gubuk di tengah hutan?!"

"Tutup mulutmu, Pendekar Mabuk! Fitnahmu bisa membuat kepalamu kupenggal dengan sabitku ini!"

Ragadenta mau mencabut sabit yang dibungkus sarung kulit dan sejak tadi masih terselip di pinggangnya. Tapi gerakan tangannya ditahan oleh tangan Nyai Jurik Wetan yang mencekal kuat-kuat.

"Mulut pemuda sinting itu beracun, Guru! Jangan dengarkan celoteh orang mabuk! Aku tak kenal dengan perempuan yang bernama Laras Wulung!"

"Kau kenal, Ragadenta!" sahut Pendekar Mabuk. "Kalian bersekongkol untuk merampok harta karun itu dan membawanya kabur berdua tanpa memberitahu gurumu! Kalian berkhayal untuk hidup mewah dengan harta karun itu!"

"Bangsat! Aku tidak serendah itu!" teriak Ragadenta semakin gusar karena takut rahasianya diketahui sang guru.

"Kau dan Laras Wulung bersepakat untuk tinggalkan gurumu setelah kalian berhasil merampok harta karun itu. Karenanya, kau suruh Laras Wulung mencari keterangan dari pihak Kusir Hantu. Laras Wulung berhasil temukan Panji Klobot, dan tentunya berhasil mendesak Panji Klobot agar katakan di mana Goa Kembar itu berada. Mungkin karena Panji Klobot yang

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :