P ada ayat 3 di pasal yang sama disebutkan bahwa sarana pintu keluar darurat dan jalur evakuasi harus dilengkapi dengan tanda arah yang mudah dibaca dan jelas. Prinsip penyelenggaraan bangunan dengan standar keselamatan dan kemudahan evakuasi ini juga dijelaskan dalam UU No 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG dimana pada pasal 27 dinyatakan Persyaratan kemudahan meliputi kemudahan hubungan ke, dari, dan di dalam bangunan gedung, serta kelengkapan prasarana dan sarana dalam pemanfaatan bangunan gedung. Pada pasal 30 ayat 1 dinyatakan bahwa akses evakuasi dalam keadaan darurat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 27 ayat(2) harus disediakan di dalam bangunan gedung meliputi sistem peringatan bahaya bagi pengguna, pintu keluar darurat, dan jalur evakuasi apabila terjadi bencana kebakaran dan/atau bencana lainnya, kecuali rumah tinggal.
Adapun kriteria atau syarat jalur evakuasi diantaranya memenuhi kriteria berikut :
Jalur Evakuasi harus memiliki akses langsung ke jalan atau ruang terbuka yang aman, dilengkapi Penanda yang jelas dan mudah terlihat.
Jalur Evakuasi dilengkapi penerangan yang cukup.
Jalur Evakuasi bebas dari benda yang mudah terbakar atau benda yang dapat membahayakan.
Jalur Evakuasi bersih dari orang atau barang yang dapat menghalangi gerak, tidak melewati ruang yang dapat dikunci.
Jalur Evakuasi memiliki lebar minimal 71.1 cm dan tinggi langit-langit minimal 230 cm. Pintu Darurat dapat dibuka ke luar, searah Jalur Evakuasi menuju Titik Kumpul, bisa
dibuka dengan mudah, bahkan dalam keadaan panik. Pintu Darurat dilengkapi dengan penutup pintu otomatis.
Pintu Darurat dicat dengan warna mencolok dan berbeda dengan bagian bangunan yang lain.
Sudahkah Instansi Anda mengatur jalur evakuasi? Mudah-mudahan pelanggan Anda telah anda buatkan sistem akses evakuasi minimal mendekati ketentuan yang telah disebutkan diatas. Jangan sampai malah rambu jalur evakuasi mengarah ke pintu terkunci atau gang buntu. hehehe. Ketentuan diatas setidaknya memberikan gambaran ketika Anda hendak menata rambu jalurnya. Mengenai ketentuan yang menyangkut pintu darurat dan lain-lainnya bisa Anda
sesuaikan atau bahkan dapat “diabaikan” ketika secara teknis dan secara fisik memang bangunan Anda tidak memerlukan itu, atau memang bangunan Anda sudah ada sebelum regulasi tersebut ada. Masak iya Anda akan nyusuli membuatkan pintu darurat?
Bagaimana Cara Mudah Membuat Rambu Jalur Evakuasi?
Rambu jalur evakuasi kanan
Rambu jalur evakuasi kiri
Ulasan tadi masih lebih banyak bicara jalurnya, nah sekarang tentu Anda membutuhkan rambunya. Anda dapat membuat sendiri rambu jalur evakuasi dengan cara yang sangat mudah. Rambu jalur evakuasi bisa dibuat dari bahan akrilik atau foam dengan ukuran kira-kira 30 x 12 cm. Untuk penandanya anda dapat mendownload dari link download dibawah ini. Pertama kali yang harus anda tentukan adalah faktor ruangan atau gedung yang akan anda buatkan jalur evakuasi. Tentukan berapa titik dan dimana saja anda akan memasang jalur evakuasi. Lalu tentukanlah dimana kira-kira anda akan memasang titik berkumpul dan berapa titik berkumpul yang akan Anda sediakan.
Rambu evakuasi turun tangga kanan
Rambu evakuasi turun tangga kiri
Setelah anda mempunyai perhitungan itu anda tinggal mencetak logo jalur evakuasi yang telah kami sediakan dibawah ini pada kertas stiker, tinggal anda tentukan saja berapa buah arah kanan dan berapa buah arah kiri. Lalu tinggal tempelkan stiker tersebut pada akrilik. Akrilik secara eceran bisa Anda dapatkan di banyak toko yang menyediakan bahan akrilik, di Yogyakarta misalnya di Liman, yang ada di Jalan Malioboro. Toko ini cocok untuk membeli akrilik dalam jumlah eceran karena Liman menjual akrilik dalam satuan ukuran 1/2 lembar dan bahkan 1/4 pun boleh. Akrilik 1/4 lembar cukup untuk membuat rambu evakuasi kira-kira 10 buah dan 1 titik berkumpul. mengenai ukurannya Anda bisa membuat perkiraan saja, karena selama ini saya juga menjual rambu itu hanya berdasarkan ukuran kira-kira. Saya belum menemukan regulasi atau aturan yang secara spesifik mengatur ukuran rambu jalur evakuasi. Untuk pembelian rambu jalur evakuasi di tempat saya biasanya Anda akan mendapatkan ukuran kira-kira 30 cm x 11 cm. Teknis pemotongan akriliknya bisa dilakukan dengan gerinda atau gergaji besi atau cutter khusus untuk akrilik. Kalau saya memotongnya dengan cutting laser karena hasilnya lebih rapi dan bisa dimodifikasi bentuknya agar sudut-sudutnya tidak tajam yang bisa berpotensi mencederai orang lain.
Coba cek Jalur Evakuasi di gedung kantor Anda, pastikan ia memenuhi
beberapa persyaratan berikut ini:
• Jalur Evakuasi bersifat permanen, menyatu dengan bangunan
gedung.
• Jalur Evakuasi harus memiliki akses langsung ke jalan atau ruang
terbuka yang aman.
• Jalur Evakuasi dilengkapi Penanda yang jelas dan mudah terlihat.
• Penanda/ Safety Sign dapat menyala di kegelapan (glow in the
dark).
• Jalur Evakuasi dilengkapi penerangan yang cukup.
• Jalur Evakuasi bebas dari benda yang mudah terbakar atau benda
yang dapat membahayakan.
• Jalur Evakuasi bersih dari orang atau barang yang dapat
menghalangi gerak.
• Jalur Evakuasi tidak melewati ruang yang dapat dikunci.
• Jalur Evakuasi memiliki lebar minimal 71.1 cm dan tinggi
langit-langit minimal 230 cm.
• Pintu Darurat dapat dibuka ke luar, searah Jalur Evakuasi menuju
Titik Kumpul.
• Pintu Darurat bisa dibuka dengan mudah, bahkan dalam keadaan
panik.
• Pintu Darurat dilengkapi dengan penutup pintu otomatis.
• Pintu Darurat dicat dengan warna mencolok dan berbeda dengan
bagian bangunan yang lain.
• Tangga Darurat dirancang tahan api, minimal selama 1 jam.
Jika Anda menemukan kekurangan atau bahkan ketiadaan Jalur Evakuasi,
segera laporkan kepada pengelola gedung kantor Anda.
Awali dengan memahami Jalur Evakuasi
Jalur Evakuasi saja tentu belum cukup, masih banyak hal yang perlu kita
siapkan untuk menghadapi kejadian darurat. Meski begitu, semoga dengan
mengenali dan memahami Jalur Evakuasi bisa menjadi titik start bagi Anda
untuk selalu waspada dan tanggap terhadap kejadian darurat di gedung
bertingkat.
https://sjatnoalfan.wordpress.com/2014/06/18/insiden-dan-keselamatan-pasien/ tgl 17 okt 2016
INSIDEN DAN KESELAMATAN PASIEN
Dewasa ini sering kali terjadi komplain yang berhubungan dengan pelayanan/ perawatan pasien di rumah-sakit, baik yang meyangkut ketidak puasan pelayanan RS atau masalah yang berkaitan dengan proses pengobatan yang diterima pasien. Untuk yang terakhir ini seringkali rumah-sakit harus mengeluarkan biaya yang besar sebagai kompensasi. Andaikata setiap tahun kasus-kasus seperti ini terus terjadi, mampukah Rumah-sakit menanggung kerugian finansial dan menurunnya akuntabilitas ? lalu siapa yang bersalah , dokter yang merawat ?, manajemen rumah-sakit ?
Belajar dari dunia aviasi, dimana keselamatan sudah menjadi prioritas utamanya. Bisa dimaklumi kerena hal ini erat kaitannya dengan kelangsungan bisnis perusahaan. Laporan insden
penerbangan yang dilaporkan membawa dampak pada penurunan insiden pada masa mendatang
Data dari Bristish Airways yang dikumpulkan sejak tahun 1994 – 1999 seperti gambar 1. diatas dapat disimpulkan , semakin banyak laporan insiden yang masuk ternyata insiden yang terjadi justru menurun. Data statistik didapatkan insiden keselamatan penerbangan adalah 1 : 3.000.000 ( pada tiga juta aktivitas penerbangan terjadi satu accident ), untuk pelayanan kesehatan rumah-sakit insiden keselamatan yang terjadi adalah 1 : 300 ( dari 300 pasien yang dirawat di rumah-sakit satu pasien mengalami accident ). Hal ini menggambarkan bahwasanya bepergian menggunakan pesawat terbang 10.000 kali lebih aman dibandingkan dengan tinggal di rumah-sakit ( WHO, 2005 )
PENGERTIAN
Laporan insiden keselamatan rumah sakit adalah suatu pelaporan secara tertulis kejadian yang seharusnya tidak terjadi pada saat pemberian pelayanan / perawatan dilingkungan unit kerja RSU
Beberapa istilah yang berhubungan dengan istilah ini adalah : 1. Keselamatan / safety
Bebas dari bahaya atau risiko ( hazard ) 2. Hazard / bahaya
Adalah suatu keadaan,perubahan atau tindakan yang dapat meningkatkan resiko pada pasien a. Keadaan
Adalah semua faktor yang berhubungan atau mempengaruhi suatu peristiwa keselamatan pasien, agent atau personal
b. Agent
Adalah substansi, objek atau sistem yang menyebabkan perubahan 3. Harm / cedera
Dampak yang terjadi akibat ganggunan struktur atau fungsi tubuh dapat berupa fisik, psikologis dan sosial . yang termasuk harm
/ cedera adalah : penyakit, cedera fisik/psikososial, penderitaan, cacat dan kematian a. Penyakit / disease
Disfungsi fisik atau psikis b. Cedera / injury
Kerusakan jaringan yang disebabkan oleh agent /keadaan c. Penderitaan / suffering
Pengalaman / keadaan yang tidak menyenangkan termasuk nyeri, malaise, mual, muntah , depresi, agitasi dan ketakutan
d. Cacad / disability
Segala bentuk kerusakan struktur atau fungsi tubuh , keterbatasan aktivitas dan restriksi dalam pergaulan sosial yang berhubungan dengan harm / cedera yang terjadi sebelumnya atau saat ini
4. Keselamatan Pasien / patient safety
Pasien bebas dari harm / cedera yang tidak seharusnya terjadi atau bebas dari harm yang potensial akan terjadi ( penyakit, cedera fisik / sosial / psikologis, cacad, kematian ), terkait dengan pelayanan kesehatan
5. Keselamatan pasien RS / Hospital Patient safety
Suatu sistem dimana rumah-sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Hal ini termasuk : assesmen risiko, Identifikasi dan pengelolaan hal yang nerhubungan dengan risiko pasien; pelaporan dan analisis insiden; kemampuan belajar dari insiden dan tindaklanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang diakibatkan melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
6. KTD ( Kejadihan Tidak Diharapkan )
Suatu kejadian yg mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada pasien karena suatu tindakan (commission) atau karena tidak bertindak (omission), daripada karena penyakit dasarnya atau kondisi pasien.
7. KNC ( Kejadian Nyaris Cedera )
Suatu kejadian akibat melaksanakan suatu tindakan (commission) atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan (omission), yang dapat mencederai pasien, tetapi cedera serius tidak terjadi :
b. Dosis lethal akan diberikan, diketahui, dibatalkan ( prevention )
c. Diberi obat yang seharusnya kontra indikasi / dosis lethal, tetapi diketahui, dan diberikan diberikan antidotenya ( mitigation )
KTC ( Kejadian Tidak Cedera )
Kejadian Tidak Cedera, selanjutnya disingkat KTC adalah insiden yang sudah terpapar ke pasien, tetapi tidak timbul cedera
KPC ( Kejadian Potensi Cedera )
kondisi yang sangat berpotensi untuk menimbulkan cedera, tetapi belum terjadi insiden.
8. Kejadian Sentinel
Pemilihan kata “sentinel” terkait dengan keseriusan cedera yang terjadi (mis. Amputasi pada kaki yg salah, dsb) sehingga pecarian fakta terhadap kejadian ini mengungkapkan adanya masalah yang serius pada kebijakan & prosedur yang berlaku.
Rumah sakit menetapkan definisi operasional dari kejadian sentinel yang meliputi :
a) Kematian yang tidak diduga dan tidak terkait dengan perjalanan penyakit pasien atau kondisi yang mendasari penyakitnya (contoh, bunuh diri)
b) Kehilangan fungsi yang tidak terkait dengan perjalanan penyakit pasien atau kondisi yang mendasari penyakitnya
c) Salah tempat, salah prosedur, salah pasien bedah dan
d) Bayi yang diculik atau bayi yang diserahkan kepada orang yang bukan orang tuanya 9. Medical Error
Kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien. Kesalahan termasuk gagal melaksanakan sepenuhnya suatu rencana atau menggunakan rencana yang salah untuk mencapai tujuannya. Dapat akibat melaksanakan suatu tindakan (commission) atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan (omission).
10. Faktor kontributor
Adalah keadaan, tindakan atau faktor yang mempengaruhi atau berperan dalam
mengembangkan dan atau meningkatkan risiko suatu kejadian ( misalnya pembagian tugas yang tidak sesuai kebutuhan )
Contoh :
a. Faktor kontributor diluar organisasi ( eksternal )
b. Faktor kontributor didalam organisasi ( internal ) misalnya tidak ada prosedur
c. Faktor kontributor yang berhubungan dengan petugas ( kompetensi, supervise, komunikasi ) d. Faktor kontributor yang berhubungan dengan pasien
11. Analisis akar masulah / root cause analysis ( RCA )
Adalah suatu proses berulang yang sistematik dimana faktor-faktor yang berkontribusi dalam suatu insiden diidentifikasi dengan merekonstruksi kronologis kejadian menggunakan pertanyaan
“ mengapa / why “ yang diulang-ulang, hingga menemukan akar penyebabnya dan menjelasnya. Pertanyaan “ mengapa” harus ditanyakan hingga tim investigator mendapatkan fakta, bukan hasil spekulasi
Semua kejadian sentinel yang sesuai dengan definisi dilakukan evaluasi dengan cara melakukan RCA. Jika RCA menghasilkan bahwa perbaikan sistem atau tindakan dapat mencegah dan mengurangi risiko dari kejadian sentinel terulang kembali, maka rumah sakit harus melakukan rancangan kembali dari proses atau mengambl tindakan-tindakan yang sudah diperbaiki. Sangat penting diperhatikan bahwa ”kejadian sentinel tidak selalu terkait dengan kesalahan atau