BAB II.TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
2. Bank syariah
a) Pengertian Perbankan Syariah
Bank Syariah merupakan bank yang berjalan dengan menggunakan system yang tidak bergantung pada bunga atau tidak menggunakan system bunga melainkan system bagi hasil, dimana lembaga-lembaga pada perbankan syariah berjalan dengan system yang berlandaskan pada AL-Qur‟an dan Hadist Nabi Muhammad SAW. Atau bisa juga dikatakan bahwa bank islam merupakan lembaga yang kegiatan utamanya adalah memberikan pembiayaan dan jasa-jasa yang lainnya dalam bentuk syariah islam.
b) Prinsip Operasional Bank Syariah
Prinsip oprasional pada perbankan syariah adalah sebagai berikut : 1) Prinsip simpanan titipan (Al-Wadiah)
2) Prinsip pembagian hasil (profit sharing) 3) Prinsip penjualan dan pembelian (Al-Tijarah) 4) penyewaan (Al-Ijarah)
5) Prinsip jasa atau tenaga (Fee-Based Service) c) Dimensi persepsi bank syariah
Dimensi yang mempunyai peran untuk membentuk persepsi menurut Ricardo Baba dan Ricky Lang yaitu:
1) Pengetahuan atau pemahaman mengenai bank syariah, dimensi ini memperlihatkan bahwa pengetahuan dan pemahaman tentang bank syariah di antaranya adalah reputasi bank syariah dimasyarakat, prinsip system operasional bank syariah dan juga bank syariah hanya untuk pelanggan yang muslim.
2) Keyakinan kepada bank syariah, dimensi ini memperlihatkan bahwa tabungan dibank syariah lebih aman, berinvestasi dibank syariah kurang beresiko dan juga bank syarih bisa bersaing dengan bank lainnya.
3) Produk dan pelayanan pada perbankan syariah, dimensi ini memperlihatkan bahwasanya bank syariah memberikan pelayanan yang cepat tanggap dan efisien, dimana staf pada bank syariah berlaku sopan dan ramah juga menyiapkan segala macam produk dan pelayanan yang baik.
b) Minat menabung
Pengertian Minat Menabung
Minat adalah kecederungan diri yang ada pada diri seseorang untuk tertarik kepada sebuah objek yang membuatnya senang. Minat adalah dorongan atau yang menggerakkan seseorang untuk melakukan suatu hal. Minat merupakan rangsangan keinginan dan daya yang menggerakkan kemauan seseorang untuk mencapai suatu hal.
Secara etimologi minat merupakan kecenderungan, atau perhatian seseorang kepada sebuah keinginan. Sedangkan menurut istilah adalah sebuah perangkat mental yang terbentuk dari suatu campuran harapan, prasaan, prasangka, pendirian, yang berarah kepada sebuah pilihan. Secara singkat minat dapat kita artikan kecenderungan untuk memberikan kepedulian atau berlaku
kepada orang lain, Yang dimana dalam melakukan hal itu disertai dengan perasaan senang.
Minat menurt Winkeni merupakan kecenderungan yang ada pada diri seseorang untuk merasa tertarik dan senang berkecimpung dalam bidang itu. Sedangkan menanbung merupakan tidakan yang dinajurkan dalam islam karena dengan menabung berarti kita sebagai muslim telah mempersiapkan diri untuk memenuhi perencenaan masa yang akan dating dan juga untuk memprediksi menghadapi hal-hal yang tak terduga kedepannya.
b) Penentuan Minat
Ada sangat banyak hal yang bias mempengaruhi minat, hal tersebut bias berasal dari dalam diri orang tersebut atau bias juga berasal dari lingkungan disekitarnya. Crow & crow mengemukakan ada tiga faktor utama yang membentuk minat yaitu:
1) Factor pendorong dari dalam diri 2) Factor dari motif sosial
3) Factor dari emosional atau perasaan
c) Aspek-aspek Minat Menabung
Menurut Lucas dan Britt ada beberapa aspek yang berpengaruh dalam minat menabung yaitu:
a) Ketertarikan yang artinya Interest yang memperlihatkan adanya pemusatan perhatian dan perasaan senang
b) Keinginan yang dimana Desire diperlihatkan dengan adanya dorongan untuk memiliki.
c) Keyakinan dimana Conviction yang memperlihatkan dengan adanya rasa percaya diri pada seseorang terhadap sebuah kualitas, daya guna, dan keuntungan dari produk yang akan dibeli.
d) Dimensi minat menabung
Dimensi yang mempengaruhi minat menabung Umi Widyastuti, et. al., 1) Tujuan menabung, dimensi ini memperlihatkan bahwasanya dimensi ini
mengasilkan kemauan untuk menyimpan uang dibank syariah untuk mengantisipasi pengeluaran tak terduga, lebih menghemat uang untuk beberapa bulan yang akan dating, untuk mencapai tujuan masa depan yang dinginkan, serta sebagai alat untuk mencapai tujuan penting dalam jangka panjang.
2) Resiko menabung, dimensi ini memperlihatkan bahwasanya bersedia enggunakan prooduk jika terdapat keuntungan besar, keinginan untuk mencapai banyak keuntungan sehingga memiliki keinginan untuk mengambil risiko dengan menabung, kesediaan mengambil risiko untuk sesuatu dalam hidup serta keinginan menyimpan uang dengan mengambil risiko hanya karena ingin memuaskan diri denga rasa ingi tahu.
3) Hambatan menabung dimana dimensi ini memperlihatkan bahwa menabung seringkali di anggap tidak perlu, dianggap membosankan sehingga seseorang seringkali berfikir untuk tidak menabung dalam waktu dekat menabung dalam waktu dekat.
e) Hubungan persepsi dan minat menabung
Persepsi adalah hal yang mnyebabkan seseorang meiliki minat. Hal ini dikarenakan dengan adanya persepsi orang-orang akan mencari pengalaman,
informasi dan faktor yang memberikan pengaruh yang diperoleh dari proses , yang memnegaruhi minat.
Menurut Maxxwell konsumen yang akan memutuskan produk ang akan mereka beli berdasarkan pandangan mereka terhadap produk yang mereka inginkan, sehingga semakin baim atau semakin tinggi persepsi seseorang terhdapa sebuah produk makan akan semakin minat yang timbul juga akan semakin tinggi. Sama halnya dengan masyarakat yang memiliki pandangan atau ppersepsi terhadap bank konvensional dan bank syariah. Mereka akan mencari tahu segala informasi yang berkaitan dengan produk yang ditawarkan pada lembaga keuangan dan juga mereka akan mencari tahu apa saja keuntungan yang didapatakan dengan menjadi Begitu juga dengan menjadi nasabah pada bank syariah. Sebuah persepsi yang baik pada sebuah lembaga keuangan seperti bank syariah akan mempengaruhi minat masyarakat untuk melakukan transaksi atau bergabung dengan menjadi nasabah pada lembaga keuangan perbankan syariah.
Falsafah Bank Syariah
Setiap lembaga keuangan syariah mempunyai falsafah mencari keridhoan Allah untuk memperoleh kebajikan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, setiap kegiatan lembaga keuangan yang dikhawatirkan menyimpang dari tuntunan agama harus dihindari. Berikut adalah falsafah yang harus diterapkan oleh bank syariah (Muhammad, 2005) (1) Menjauhkan diri dari unsur riba, caranya a. Menghindari penggunaan sistem yang menetapkan di muka secara pasti keberhasilan suatu usaha (QS. Luqman, ayat: 34) b. Menghindari penggunaan sistem bagi presentasi untuk pembebanan biaya terhadap hutang atau pemberian imbalan terhadap simpanan yang mengandung unsur
melipatgandakan secara otomatis hutang/simpanan tersebut hanya karena berjalannya waktu (Q.S. Ali‟Imron, 130) c. Menghindari penggunaan sistem perdagangan/penyewaan barang ribawi dengan imbalan barang ribawi lainnya dengan memperoleh kelebihan baik kuantitas maupun kualitas (HR. Muslim Bab Riba No. 1551 s/d 1567) d. Menghindari penggunaan sistem yang menetapkan di muka tambahan atas hutang yang bukan atas prakarsa yang mempunyai hutang secara sukarela (HR. Muslim, Bab Riba No. 1569 s/d 1572)
Bank syariah atau bank Islam mempunyai keistimewaan pada pengaplikasiannya sehingga bank syariah berbeda dengan bank konvensional. Bisa kita lihat perbandingan antara bank syariah dan bank konvensional seperti yang tertera pada tabel berikut:
Tabel 2.1
Perbedaan Bank Islam dan Bank Konvensional
Sumber: Ismail, Perbankan Syariah, 2011.
Ada beberapa bentuk yang membedakan bank syariah dengan bank konvensional dilihat dari tabel tersebut. ( Ismail : 2011)
a. Bank syariah dalam mengalirkan dananya terhadap pihak yang menggunakan dana, amat ketat dan hanya boleh mengalirkan dananya
No Bank syariah No Bank konvensional
1. Melakukan investasi yang halal saja 1. investasi yang halal dan haram
2. Berpatokan pada asas bagi hasil, jual
beli dan sewa 2. Menggunakan bunga
3. Profit dan falah oriented 3. Profit oriented. 4. interaksi dengan nasabah dalam
Bentuk jalinan kemitraan. 4.
Interakdi dengan nasabah berbentuk debitur-kreditur 5. Pengumpulan dan pengarahan dana
harus sesuai dengan fatwa DPS 5.
Tidak adanya dewan sejenis
dalam bentuk investasi yang halal. Namun tidak demikian dengan bank konvensional, bank konvensional tidak memperhatikan jenis investasinya, namun pengaliran dananya dilakukan untuk perusahaan yang memberikan keuntungan walaupun menurut islam hal itu tergolong produk yang tidak halal.
b. Pengembalian atau penukaran yang diberikan oleh bank syariah terhadap pihak investor dihitung dengan cara sistem bagi hasil, agar hasilnya adil bagi kedua pihak. Namun sebaliknya, bank konvensional return yang diberikan maupun yang diterima oleh nasabah tetap dihitung berlandaskan bunga. c. Tujuan bank syariah dalam memberikan anggaran adalah falah dan profit
oriented. Bank syariah memberikan dana atau pembiayaan semata-mata tidak hanya berfokus pada keuntungan yang didapatkan atas pembiayaan yang diberikan, Tetapi juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Beda halnya dengan bank konvensional, Bank konvensional akan memberikan pinjaman kepada nasabah apabila usaha nasabah memberikan profit yang jelas.
d. Hubungan yang terjalin antara bank syariah kepada nasabah yang menggunakan dana, dianggap sebagai hubungan kerjasama. Kedua belah pihak mempunyai kedudukan yang sama, sehingga dapat kita ketahui bahwasanya hasil upaya atas kerjasama yang dilakukan oleh nasabah pengguna dana akan dibagikan dengan rata dengan bank syariah dengan nisbah yang memang sebelumnya sudah disepakati bersama dan tertuang dalam akad. Sedangkan hubungan yang terjalin antara nasabah dengan bank konvensional adalah hubungan yang biasa disebut debitur dan kreditur.
e. Dewan pengamat bank syariah terdiri dari beberapa pihak antara lain: Komisaris, Bank Indonesia, Bapepam, dan dewan pengawas syariah (DPS). Sedangkan bank konvensional tidak memiliki DPS.