Bab 9 Pilihan Kata (Diksi)
D. Gaya Bahasa dan Idiom
3. Kesalahan Pemakaian Gabungan Kata dan Kata
a. Kesalahan Pemakaian Gabungan Kata yang, mana, di mana, daripada
Selain ungkapan idiomatik yang telah dicontohkan, ada juga gabungan kata yang lain yang fungsinya berbeda dengan ungkapan idiomatik. Gabungan kata yang dimaksud adalah yang mana, di mana, dan daripada. Ketiga bentuk itu sengaja diangkat di sini karena pemakaiannya di tengah masyarakat masih banyak yang keliru. Perhatikan contoh pemakaian di mana, yang mana, dan daripada yang salah dalam kalimat di bawah ini.
(1) *Marilah kita dengarkan sambutan yang mana akan disampaikan oleh Pak Lurah. (2) *Dalam rapat yang mana dihadiri oleh para ketua RT dan Ketua RW telah
dibacakan ...
(3) *Demikian tadi sambutan Pak Lurah di mana beliau telah menghimbau kita untuk lebih tekun bekerja.
(4) *Kita perlu mensyukuri nikmat di mana kita telah diberi rezeki oleh Tuhan. (5) *Mari kita perhatikan kebersihan daripada lingkungan kita.
(6) *Tujuan daripada pertemuan ini adalah untuk memperkenalkan pejabat baru di lingkungan unit kerja kita.
Kalimat (1) sampai (4) kerapkali kita dengar dalam aktivitas kita bermasyarakat. Kalau kita amati, ada dua jenis kesalahan dalam pemakaian bentuk gabungan di atas. Kesalahan pertama, dalam sebagian besar kalimat itu terdapat kata yang berlebihan atau mubazir yang mengakibatkan terjadinya polusi bahasa. Kata mana dalam kalimat (1) dan (2) tidak diperlukan. Cobalah baca kalimat (1) dan (2) tanpa mengikutsertakan kata mana; kedua kalimat itu menjadi efektif bukan? Demikian juga kalimat (5) dan (6), cobalah dibaca tanpa mengikutsertakan daripada, pasti kalimatnya menjadi mulus. Hal itu membuktikan pemakaian bentuk gabung yang mana dalam kalimat (1) dan (2) dan daripada dalam kalimat (5) dan (6) tidak tepat.
Kesalahan kedua, dalam sebagian besar kalimat di atas terjadi salah pakai alias
salah alamat. Bentuk gabung di mana tidak boleh dipakai dalam kalimat (3) dan (4) karena –seperti juga dua bentuk gabung lainnya- peruntukannya salah. Fungsi di mana dan yang mana bukan sebagai penghubung klausa-klausa, baik di dalam sebuah kalimat maupun penghubung antarkalimat. Kalimat (3) harus dipecah menjadi dua kalimat, yaitu:
(3a) Demikian tadi sambutan Pak Lurah.
Ataupun perbaikan kalimat (4) dapat dilakukan dengan menempatkan kata karena sebagai kata penghubung yang tepat untuk menggantikan di mana sehingga bunyi kalimatnya menjadi:
(4a) Kita perlu mensyukuri nikmat (Tuhan) karena (kita) telah diberikan rezeki oleh Tuhan. Sesuai dengan fungsinya yang benar, pemakaian dimana, yang mana, dan
daripada yang tepat adalah sebagai berikut.
a) Bentuk gabung di mana dipakai sebagai kata tanya untuk menanyakan tempat. Contoh:
Di mana Anda tinggal?
Anda tinggal di mana?
Di mana disket itu kamu simpan?
b) Bentuk gabung yang mana di pakai dalam kalimat tanya yang mengandung pilihan, termasuk dalam pertanyaan retoris.
Contoh:
Anda akan memakai computer yang mana? Komputer yang mana yang akan kita bawa?
Karena kembar, sukar membedakan yang mana Ana yang mana Ani.
c) Bentuk gabung daripada dipakai untuk membuat perbandingan atau pengontrasan sesuatu terhadap yang lainnya.
Contoh:
Biaya rental internet lebih mahal daripada rental komputer.
Daripada kuliah di kota A lebih baik di kota B.
b. Kesalahan Pemakaian Kata dengan, di, dan ke
Pemakaian kata dengan dalam kalimat sering tidak tepat. Perhatikan contoh yang salah berikut ini.
(1) *Sampaikan salam saya dengan Dona.
(2) *Mari kita tanyakan langsung dengan dokter aslinya. (3) *Rumahnya digunakan dengan baik bank.
Kata dengan pada kalimat (1), (2), dan (3) harus diganti dengan kepada. Jika tidak, kepada siapa salam ditunjukan; kepada siapa pertanyaan diajakun; dan kepada siapa rumah diragukan; sebenarnya belum jelas. Kata dengan tidak cocok dipakai dalam ketiga kalimat itu karena dengan dapat berarti bersama. Bukankah pengertian kalimat Rudi pergi dengan Doni sama dengan Budi pergi bersama Doni? Karena itu, kalimat (1), (2), dan (3) harus:
Bab 9 Pilihan Kata (Diksi) 81
(1a) Sampaikan salam saya kepada Dona.
(2a) Mari kita tanyakan langsung kepada dokter ahlinya. (3a) Rumahnya diagunkan kepada bank.
Selain untuk mengungkapkan arti ‘bersama’, kata dengan dapat difungsikan untuk menyatakan hal berikut.
a) Adanya alat yang digunakan untuk melakukan sesuatu. Contoh:
Saya mengetik dengan komputer.
Dengan gas air mata polisi menghalau pengunjuk rasa.
b) Adanya beberapa pelaku yang mengambil bagian pada peristiwa yang sama. Contoh:
Peneliti itu sedang bercakap-cakap dengan respondennya. Secara kebetulan aku bertemu dengan guru SD-ku di pesta itu. c) Adanya sesuatu yang menyertai sesuatu yang lain. Contoh:
Bersama dengan surat lamaran pekerjaan ini, saya lampirkan CV saja. Ujian akhir semester berlangsung dengan tertib.
Selain ketiga fungsi tersebut, kata dengan juga digunakan untuk membentuk kata berpasangan. Kata-kata seperti berbeda, berkenaan, bersamaan, bertentangan, bertepatan, sehubungan, sesuai; jika ditambahi kata dengan seterusnya yang dapat dimanfaatkan antara lain sebagai frasa transisi untuk membentuk kalimat dan alinea.
Senada dengan kekeliruan pemakaian kata sambung dengan, pemakaian yang keliru juga sering terjadi untuk kata depan di dan ke yang seharusnya diisi oleh kata pada dan kepada. Kata depan di dan ke harus diikuti oleh tempat, arah, dan waktu, sedangkan kata kepada harus diikuti oleh nama/jabatan orang atau kata ganti orang. Contoh:
Buku agendaku tertinggal di rumah Andi. Jangan menoleh ke kiri!
Masyarakat agraris umumnya berorientasi ke masa lalu. Permohonan cuti diajukan kepada direktur.
Dalam kenyataan masih cukup banyak orang yang salah memakai kata depan di dan ke. Di kampus-kampus pun sering kita mendengar para mahasiswa memakai
kedua kata ini secara keliru. Kekeliruan itu terjadi akibat pencampuradukan pemakaian ragam lisan dan ragam tulis; atau ragam tidak resmi dan ragam resmi. Kesalahan diksi dalam ragam lisan/tidak resmi itu sering terbawa-bawa ke dalam ragam tulis/ragam resmi. Perhatikan diksi yang salah berikut ini. Kata-kata yang seharusnya dipakai adalah yang ditempatkan dalam tanda kurung.
Dokumen itu ada di kita. (pada)
Setelah tugas selesai, harap segera melapor ke dosen. (kepada) Tolong berikan buku ini ke Tuty. (kepada)
c. Kesalahan Pemakaian Kata berbahagia
Dalam pertemuan formal di tengah masyarakat, kita sering mendengar kata berbahagia dipakai secara keliru oleh pembawa acara dan juga oleh pembicara lain, termasuk para pejabat yang meyampaikan kata sambutan. Umumnya kata berbahagia itu dimunculkan pada bagian awal pembicaraan ketika pembicara menyapa hadirin, seperti contoh yang keliru berikut ini.
(1) *Selamat malam dan selamat datang di tempat yang berbahagia ini. (2) *Pada kesempatan yang berbahagia ini, kami mengajak hadirin untuk ....
Mengapa pemakaian kata berbahagia dalam kalimat (1) dan (2) dikatakan keliru, karena kata berbahagia bukan sifat. Jika kata berbahagia pada kalimat (1) diisi oleh kata sifat, misalnya aman, bersih, atau indah, tentu saja kalimatnya benar. Demikian juga jika kata sifat langka atau baik menggantikan kata berbahagia pada kalimat (2), kalimatnya juga menjadi benar.
Kata berbahagia berasal dari kata sifat bahagia, lalu diberi awalan ber- sehingga menjadi kata kerja. Perhatikan proses perubahan kata sifat menjadi kata kerja dan arti yang ditimbulkannya:
bahagia (ks) → berbahagia (kk)= ‘merasa bahagia’ sedih (ks) → bersedih (kk)= ‘merasa sedih’
Seperti kita ketahui, kata kerja dipakai untuk menerangkan aktivitas atau pekerjaan. Kalimat (1) dan (2), menimbulkan pertanyaan, dapatkah tempat dan kesempatan melakukan pekerjaan merasakan atau menunjukkan bahagia? Tentu saja tidak. Yang dapat merasakan bahagia adalah orang, buka tempat atau kesempatan. Oleh manusia, tempat dapat dijadikan aman, bersih, dan indah sehingga dapat membahagiakan orang atau menjadikan orang bahagia atau senang. Kesempatan yang langka, misalnya, dapat membahagiakan orang yang memperolehnya. Karena itu, kalimat (1) dan (2) itu salah diksinya. Agar arti kedua kalimat itu menjadi logis dan
Bab 9 Pilihan Kata (Diksi) 83
mantap, kata berbahagia yang dipakai di situ harus diganti menjadi membahagiakan atau menyenangkan.
(1a) *Selamat malam dan selamat datang ditempat yang membahagiakan ini. (2a) *Pada kesempatan yang membahagiakan ini, kami mengajak hadirin untuk .... (2b) *Pada kesempatan yang menyenangkan ini, kami mengharapkan hadirin untuk ....