4.1 Temuan Penelitian
Film saat ini sudah menjadi sebuah media komunikasi yang paling efektif untuk menyebarkan suatu informasi. Dalam setiap film terkandung maksud bahkan sebuah ideologi. Film berideologi tertentu sangat mudah kita jumpai karena kebebasan untuk berpendapat dan berkarya di negara barat sangat mudah didapat. Di Indonesia sendiri pun sudah banyak film yang bermuatan ideologi sang sautradaranya. Salah satu film yang menarik perhatian penulis adalah film dokumenter karya Ucu Agustin dan Ursula Tumiwa, yaitu “Di Balik Frekuensi”.
Film ini berhasil melakukan pemutaran perdananya pada hari Kamis, 17 Januari 2013 pada pukul 19.00 WIB di Blitz Megaplex-Grand Indonesia, Jakarta. Setelah pemutaran perdananya, film ini pun dibawa berkeliling 15 Kota di Indonesia, 30 kampus dan 5 negara di Asia Pasifik.
Film yang bercerita tentang di balik frekuensi publik yang terjadi di Indonesia ini secara tidak langsung mengajak publik untuk melihat apa yang kini tengah terjadi di dunia media di negara kita, khususnya berkenaan dengan media yang menggunakan frekuensi publik sebagai sarananya yaitu televisi.
Setelah reformasi, konglomerasi media terlihat jelas di Indonesia.
Terlihat dari ribuan media dengan aneka format baik itu cetak, online,
radio, televisi, yang informasinya kita baca, kita simak, kita lihat, kita dengar setiap hari ternyata cuma dikendalikan oleh 12 grup media saja.
Grup-grup media dengan pemilik-pemiik yang memiliki kepentingannya sendiri-sendiri, membanjiri publik dengan tayangan-tayangan dalam kanal- kanal media milik mereka yang me-manisfestasi-kan kepentingan yang jelas bukan merupakan kepentingan publik. Selain itu film ini juga membahas nasib Luviana, seorang jurnalis yang telah bekerja 10 tahun di Metro TV, di-PHK kan karena mempertanyakan sistem manajemen yang tak berpihak pada pekerja, dan ia juga mengkritisi newsroom.
Penulis akan membedah film “Di Balik Frekuensi” karya Ucu Agustin melalui metode kualitatif menggunakan pendekatan Semiotika John Fiske dengan ulasan Television Codes. Television Codes merupakan teori yang dikemukakan olehnya atau biasa disebut kode-kode yang digunakan dalam dunia pertelevisian. Meskipun film yang penulis teliti tidak berasal dari televisi, namun menurut penulis diantaranya terdapat kesamaan, yaitu keduanya menampilkan cerita dalam kemasan audiovisual. Menurut John Fiske, peristiwa yang ditayangkan dalam dunia televisi, telah diencode oleh kode-kode sosial yang terbagi dalam tiga level, yaitu:
1. Level Realitas (Reality)
Kode sosial yang terdapat di dalamnya adalah appearance (penampilan), dress (kostum), make-up (riasan), environment
(lingkungan), behavior (kelakuan), speech (dialog), gesture (gerakan), expression (ekspresi) dan sound (suara).
2. Level Representasi (Representation)
Kode sosial yang terdapat di dalamnya adalah camera (kamera), lighting (pencahayaan), editing (perevisian), music (musik) dan sound (suara)
3. Level Ideologi (Ideology)
Kode sosial yang terdapat di dalamnya adalah individualism (individualisme), patriarchy (patriarki), race (ras), class (kelas), materialism (materialisme) dan capitalism (kapitalisme). (dalam Eriyanto, 2011:151)
Berikut adalah orang-orang yang berada dibalik layar pembuatan film “Di Balik Frekuensi”
Production : Gambar Bergerak
Music Composer : Frans Martatko Filman
Sound Designer : Dono Firman
Graphic Designer & Animation : Affan Diaz dan Erickson Siregar
Additional Cameraman : Harto Wiyono, Nizar Davian Revata, Ipunk Puwono, Dana Putra dan Ucu Agustin
Archival Researcher : Ucu Agustin dan Kiki Febriyanti
Researcher : Ucu Agustin
Administration & Finance : Bince Mulyono
Online Editor : Juan Mayo
Editor : Darwin Nugrah
Cinematography : Affan Diaz dan Darwin Nugrah
Line Producer : Sidik Ilmawan
Executive Producer : Ucu Agustin dan Ursula Tumiwa
Producer : Ursula Tumiwa dan Ucu Agustin
Written & Director : Ucu Agustin Release Date(s) : 20 Februari 2013
Running Time : 145 Menit
Country : Indonesia
Language : Indonesia
4.2 Pembahasan
Dalam film Di Balik Frekuensi, peneliti telah menemukan data yang sesuai dengan objek penelitan yang akan dibahas. Hal yang paling utama dalam penelitian ini adalah meneliti bagaimana peran pemilik media di Indonesia. Hal pertama yang akan dilakukan peneliti adalah melihat dan mengamati film Di Balik Frekuensi part to part. Adapun beberapa adegan yang telah diamati dapat mewakili analisis peneliti dalam menguak peran pemilik media di Indonesia dalam film karya sutradara Ucu Agustin tersebut.
Setelah mengamati beberapa adegan yang telah dicapture, kemudian dapat diteliti berdasarkan pendekatan semiotika John Fiske melalui kode- kode televisi yang terbagi menjadi, yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi. Pencarian data ini akan ditutup dengan kesimpulan secara keseluruhan dari peran pemilik media dalam film Di Balik Frekuensi.
Melalui analisis ini, peneliti ingin meneliti bagaimana upaya-upaya yang dilakukan Ucu Agustin untuk membuat masyarakat dapat mengetahui peran pemilik media di Indonesia.
Maka, dengan menggunakan kode-kode yang terdapat dalam film Di Balik Frekuensi, peneliti ingin mencari tahu, bagaimana teknik dan metode yang dilakukan Ucu Agustin untuk membongkar peran pemilik media saat ini. Berikut adalah temuan data yang telah peneliti dapatkan :
Gambar 4.1
Wawancara dengan mantan senior produser news Metro TV
Di dalam gambar ini, terjadi wawancara antara kameramen dengan Edi Wahyudi, mantan senior produser news Metro TV mengenai pekerja Metro TV yang tidak bisa memberitakan berita sesuai yang terjadi di lapangan.
Edi: “Banyak tangan Tuhan, banyak perintah yang oleh teman-teman disebut sebagai perintah Dewa. Ini harus tayang! Ini ga boleh tayang! Si itu harus muncul! Si ini gak boleh muncul! Itu bisa langsung dari pimpinan yang paling tinggi, bisa dari menetes, menetes, menetes gitu. Dan itu sudah sangat dipahami oleh teman-teman news room dan ini diperintah harus tayang di headline news jam 10 malam. Itu yang kita tanya, apa kepentingannya?? Gak ada!! Kita tanya apa kepentingannya? Itu dosa besar!”
Analisis Semiotika Kode Televisi John Fiske mengenai gambar di atas, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1 Analisis Gambar 4.1 Kode
Televisi Kode Sosial Keterangan
Level Realitas
Kode Penampilan
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat salah satu mantan senior produser news Metro TV memakai baju putih dan menggunakan kaca mata.
Kode Dialog
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terjadi wawancara antara kameramen dengan Edi Wahyudi sebagai mantan senior produser news Metro TV.
Pada gambar ini, terlihat salah satu mantan senior produser news Metro TV sedang diwawancarai mengenai kondisi Metro TV saat ia menjadi senior produser news
Seperti yang dikatakan oleh Edi di atas, pekerja Metro TV secara tidak langsung, tidak bisa memberitakan sebuah berita sesuai dengan yang terjadi di lapangan.
Semua sudah diatur oleh pimpinan mereka, mulai dari siapa yang harus dan yang tidak boleh muncul. Dan mereka bertanya mengenai kepentingan, maka itu termasuk dosa besar bagi mereka.
Level Representasi
Kode Kamera
Pada gambar ini, teknik pengambilan gambar yang diambil oleh kameramen adalah Medium Close-Up
Maksud pengambilan gambar secara Medium Close-Up ini adalah untuk menegaskan ‘profil’ seseorang sehingga penonton merasa puas.
Peneliti memilih scene saat Edi Wahyudi, mantan senior produser news Metro TV sedang diwawancara mengenai Metro TV saat ia menjadi senior produser news. Menurutnya banyak perintah-perintah dari atasan yang biasa mereka sebut perintah dewa. Dan jika kita bertanya apa kepentingannya, itu dosa besar. Jika dilihat dari fungsi komunikasi massa, tentu ini bertentangan.
Jika dilihat dari level realitas, terlihat salah satu mantan senior produser news Metro TV sedang diwawancarai mengenai kondisi Metro TV saat ia menjadi senior produser news. Kondisi yang dijelasakan oleh Edi, sama sekali tidak sesuai dengan fungsi media massa pada umumnya. Media massa adalah medium dari komunikasi massa itu sendiri. Salah satu fungsi dari komunikasi massa adalah sebagai sarana pendidikan bagi penikmatnya. Bila dilihat dari kasus di atas, masyarakat harus lebih kristis saat menerima pesan dari sebuah media massa.
Tidak semua pesan yang diberikan oleh media massa bisa dijadikan sebagai sarana pendidikan. Hal ini dikarenakan pengakuan dari Edi yang secara tidak langsung menjelaskan bahwa berita-berita di media massa sekarang lebih memihak kepada kepentingan pemilik, tidak sesuai fakta. Terbukti saat ia menjabat sebagai senior produser news di Metro TV, ia diperintah untuk menayangkan berita sesuai keinginan atasannya. Siapa yang harus muncul, siapa yang tidak boleh muncul, semua sudah diatur. Dan jika kita menanyakannya, itu menjadi sebuah kesalahan yang besar.
Jika dilihat dari level representasi, sutradara Ucu Agustin mencoba menegaskan profil dari Edi Wahyudi selaku mantan senior produser news Metro TV dengan menggunakan teknik pengambilan gambar Medium Close-Up
Gambar 4.2
Wawancara dengan mantan senior produser news Metro TV
Di dalam gambar ini, terjadi wawancara antara kameramen dengan Edi Wahyudi, mantan senior produser news Metro TV mengenai pekerja Metro TV yang tidak bisa memberitakan berita sesuai yang terjadi di lapangan.
Matheus: “Waktu saya di produser newsmaker, dulu kan acaranya ngundang orang, menteri kan gitu, tapi saya gak akan ngundang menteri yang tidak jadi newsmaker. Tapi beberapa produser menawari saya, ini ada menteri pertanian mau ngomong, bisa gak? Kenapa memangnya dia?
Ya apalah nanti dibikin cari apa. Ini ada dananya sepuluh juta. Waktu itu saya masih baru di program itu, jadi katanya itu sudah menjadi kebiasaan. Kenapa dia berani menelpon saya? Dengan langsung to the point gitu, bearti dia merasa nyaman dong bicara soal itu. Padahal saya baru sekali ditelepon orang itu. Bearti, bahayanya dalam arti kemudian, berita itu bisa dibeli sesuai dengan orang mau beli kan?
Dari yang besar sampe kemudian yang tingkat reporter, dibeli lima ratus ribu, bisa. Dan itu, bahaya sekali. Dan itu bener-bener real bagi saya. Bagi seorang wartawan, melihat itu sangat real bener-bener ada.
Yang kemarin-kemarin tu jadi habitat yang kayak gitu Metro tu, mulai dari atas sampai bawah”
Analisis Semiotika Kode Televisi John Fiske mengenai gambar di atas, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.2 Analisis Gambar 4.2
Kode Televisi Kode Sosial Keterangan
Level Realitas Kode Penampilan
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat salah satu mantan senior produser news Metro TV memakai baju merah dan menggunakan kaca mata.
Kode Dialog
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terjadi wawancara antara kameramen dengan Matheus Dwi Hartanto sebagai mantan senior produser news Metro TV.
Pada gambar ini, terlihat salah satu mantan senior produser news Metro TV sedang diwawancarai.
Ia menjelaskan kondisi Metro TV saat ia menjadi senior produser news di salah satu acara Metro, yaitu Newsmaker.
Seperti yang dikatakan oleh Matheus di atas, secara tidak langsung berita di Metro TV itu bisa dibeli. Seperti yang ia alami saat masih menjadi senior produser news di Metro TV.
Temannya sesama produser menawari ia narasumber yang tidak ada hubungannya dengan masalah yang akan diangkat dan dengan berani menggelontorkan dana sebesar sepuluh juta rupiah.
Ternyata hal seperti itu sudah menjadi kebiasaan.
Level Representasi
Kode Kamera
Pada gambar ini, teknik pengambilan gambar yang diambil oleh kameramen adalah Medium Close-Up
Maksud pengambilan gambar secara Medium Close-Up ini adalah untuk menegaskan ‘profil’
seseorang sehingga penonton merasa puas.
Peneliti memilih scene saat Matheus Dwi Hartanto, mantan senior produser news Metro TV sedang diwawancara mengenai Metro TV saat ia menjadi senior produser news. Menurutnya, sekarang berita-berita bisa dibeli dari harga yang termurah hingga yang termahal sekalipun.
Jika dilihat dari level reatlitas, terlihat salah satu mantan senior produser news Metro TV sedang diwawancarai. Ia menceritakan pengalamannya yang ia alami sendiri ketika menjabat sebagai senior produser dalam salah satu acara
Metro TV, yaitu Newsmaker. Menurutnya, di Metro TV, berita bisa dibeli.
Bahkan ada beberapa produser lainnya sempat menawarkan pembicara yang tidak ada kepentingannya dalam masalah yang akan di bahas dan berani membayar hingga sepuluh juta. Bila hal ini terus dilakukan, tentu saja akan menjadi sangat berbahaya bagi perkembangan media massa di Indonesia. Sebagai salah satu bentuk dari komunikasi satu arah, media massa mampu mempengaruhi para penikmatnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Jason dan Anne Hill (1997), media massa dalam teori Jarum Hipodermik mempunyai efek langsung
“disuntikkan” ke dalam ketidaksadaran audience (Nurudin, 2013: 166).
Yang dimaksud dengan “disuntikkan” di sini adalah media memberikan sebuah pesan kepada khalayak, entah itu pesan yang bersifat mendidik atau pesan yang lebih memihak kepada pemilik medianya sendiri. Khalayak bisa dikelabui sedemikian rupa dari apa yang disiarkannya. Tentu saja ini sangat menguntungkan para pemilik media itu sendiri karena mereka bisa leluasa menyampaikan kepentingan pribadi atau kepentingan tertentu lewat media massa yang ia miliki.
Kasus di atas adalah salah satu contoh bagaimana keadaan media massa di Indonesia. Tidak hanya di Metro TV, sangat mungkin juga hal yang serupa terjadi di media massa lainnya.
Jika dilihat dari level representasi, sutradara Ucu Agustin mencoba menegaskan profil dari Matheus Dwi Hartanto selaku mantan senior produser news Metro TV dengan menggunakan teknik pengambilan gambar Medium Close-Up.
Gambar 4.3
Salah satu anggota AJI Jakarta melakukan orasi di depan gedung Metro TV
Di dalam gambar ini, terjadi orasi yang dilakukan oleh salah satu anggota AJI Jakarta yaitu Winuranto Adhi. Ia mengatakan bahwa Surya Paloh sebagai pemilik Metro TV sekaligus ketua umum Partai Nasdem menggunakan frekuensi publik untuk mengkampanyekan partainya yaitu Partai Nasdem. Menurutnya, hal ini menyalahi undang-undang penyiaran
Winuranto: “kita tau kawan - kawan, Metro TV adalah stasiun televisi yang dimiliki oleh politisi Surya Paloh. Kita tau, setiap hari Metro TV selalu memproduksi kampanye-kampanye yang dilakukan oleh Surya Paloh dan partainya partai Nasdem. Setiap hari, mereka menggunakan frekuensi publik untuk mengkampanyekan kepentingan pemiliknya.
Hal ini jelas melanggar undang-undang penyiaran kawan-kawan.
Hampir setiap hari, kita dijejali kampanye Surya Paloh dan partainya yang akan membawa perubahan bagi Indonesia melalui restorasi Indonesia. Tapi, ketika Surya Paloh melakukan kampanye secara luas melalui stasiun Metro TV, yang terjadi di perusahaannya adalah penindasan terhadap Luviana. Dan kita tau praktik politik semacam
ini juga dilakukan dengan kongsi menguasai media-media melalui konglomerasi media. Kita tau, Surya Paloh juga bersama pengusaha Hary Tanoesoedibjo, bergandengan tangan masuk ke dalam partai Nasdem dan melalui media-media nya mereka mengkampanyekan kepentingan para pemiliknya kawan-kawan. Konglomerasi media seperti inilah, yang sebenernya membodohi rakyat. Kita tidak ingin, bahwa pekerja di Metro TV, hanya menghamba kepada kepentingan para pemilik media media semacam ini. Jurnalis harus kritis, ruang redaksi harus independen, berani melawan kepentingan politik ekonomi para pemiliknya kawan-kawan. Metro TV hari ini, besok bisa jadi di berbagai media lain kawan-kawan.
Analisis Semiotika Kode Televisi John Fiske mengenai gambar di atas, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Analisis Gambar 4.3 Kode
Televisi Kode Sosial Keterangan
Level Realitas
Kode Penampilan
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat salah satu anggota AJI Jakarta, Winuranto Adhi sedang berorasi di depan gedung Metro TV. Ia mengenakan kemeja coklat lengan pendek dan memakai kaca mata
Kode Dialog
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terjadi orasi salah satu anggota AJI Jakarta yaitu Winuranto Adhi.
Pada gambar ini, terlihat salah satu anggota AJI Jakarta sedang berorasi di depan gedung Metro TV. Ia berorasi mengenai penggunaan frekuensi publik untuk mengkampanyekan kepentingan pribadi Surya Paloh sebagai pimpinan Metro TV yang juga sebagai inisiator partai Nasdem
Seperti yang dikatakan oleh Winuranto di atas, Surya Paloh sebagai pimpinan Metro TV dan juga sebagai inisiator partai Nasdem menggunakan frekuensi publik untuk mengkampanyekan kepentingannya pribadi. Dengan berkoalisi dengan Hary Tanoe, mereka secara gamblang mengkampanyekan partainya di medianya masing-masing seperti di Metro TV, RCTI, Global TV dan MNC.
Level Representasi
Kode Kamera
Pada gambar ini, teknik pengambilan gambar yang diambil oleh kameramen adalah Mid Shot dan Full Shot.
Maksud pengambilan gambar secara Mid Shot adalah untuk memperlihatkan sosok seseorang dengan 'tampangnya'.
Sedangkan Full Shot untuk memperlihatkan objek dengan lingkungan di sekitarnya.
Peneliti memilih scene saat Winuranto Adhi, anggota AJI Jakarta yang sedang berorasi di depan gedung Metro TV. Ketiga gambar yang dipilih peneliti menjelaskan keadaan saat ia berorasi. Menurutnya, Surya Paloh telah menggunakan frekuensi publik untuk mengkampanyekan kepentingan pribadi atau golongannya sebagai pemilik dari Metro TV dan Inisiator Partai Nasional Demokrat yang tentunya dengan tujuan dan kepentingan tertentu.
Jika dilihat dari level realitas, terlihat salah satu anggota AJI Jakarta sedang berorasi di depan gedung Metro TV. Ia berorasi mengenai penggunaan frekuensi publik untuk mengkampanyekan kepentingan pribadi Surya Paloh sebagai pimpinan Metro TV yang juga sebagai inisiator partai Nasdem. Tentu saja hal ini bertentangan dengan etika profesi pemimpin menurut Kartini Kartono dalam bukunya yang berjudul “Pemimpin dan Kepemimpinan”
“Etika profesi pemimpin memberikan landasan kepada setiap pemimpin untuk selalu bersikap kritis dan rasional, bersikap otonom dan memberikan perintah-perintah dan larangan-larangan yang adil dan harus ditaati oleh setiap lembaga dan individu. Bersikap otonom di sini bukan bearti pemimpin dapat berbuat semau sendiri atau bisa berlaku sewenang-wenang, melainkan dia bebas memeluk norma-norma yang diyakini sebagai baik dan wajib dilaksanakan untuk membawa anak buah pada pencapaian tujuan tertentu.” (Kartono, 2006: 99)
Menurut peneliti, hal yang dilakukan oleh Surya Paloh sudah bisa dikategorikan sebagai bentuk kesewenang-wenangan. Surya Paloh menggunakan frekuensi publik dan memanfaatkannya melalui media massa miliknya yaitu Metro TV untuk mengkampanyekan partainya Partai Nasdem. Kata ‘otonom’ di sini bukan bearti sang pemimpin dapat berbuat sesukanya atau sewaenang- wenang. Yang dimaksud dengan otonom di sini ialah bebas menentukan norma-
norma yang menurutnya baik dan wajib dilaksanakan dengan tujuan membawa apa yang ia pimpin bersama anak buahnya pada pencapaian tujuan tertentu, tentunya bukan tujuan sang pemilik media.
Jika dilihat dari level representasi, pada gambar pertama, sutradara Ucu Agustin mencoba memperlihatkan sosok seseorang yaitu Winuranto Adhi, anggota AJI Jakarta dengan menggunakan teknik pengambilan gambar Mid Shot.
Sedangkan pada gambar kedua dan ketiga, sutradara mengambil gambar dengan teknik Full Shot. Teknik Full Shot digunakan untuk memperlihatkan objek dengan lingkungan di sekitarnya sehingga penonton mengetahui dimana orasi Winaranto Adhi dilakukan.
Gambar 4.4
Metro TV mengangkat berita tentang kasus lumpur lapindo
Di dalam gambar ini, terlihat Metro TV sedang mengangkat berita kasus lumpur lapindo dengan menghadirkan narasumber Bambang Sulistomo selaku Sekertaris Jendral Gerakan Menutup Lumpur Lapindo (GMLL).
Anchor : “dan pemirsa 6 tahun sudah lumpur lapindo ini menyembur dari perut bumi di kawasan Porong Sidoardjo, Jawa Timur. Sejak lama itu pula ribuan korban harus menanggung penderitaan hidup, terkena imbas dari semburan lumpur naas itu. Di lain pihak Negara juga harus ikut menanggung kerugian dengan menggelontorkan uang untuk mengendalikan luberan lumpur dan ganti rugi bagi warga yang terdampak. Dan untuk membahas soal itu di studio telah hadir sekjen gerakan menutup lumpur lapindo GMLL Bambang Sulistomo. Ada penyelesaian tidak untuk lumpur lapindo ini?”
Bambang : “ya terimakasih sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih kepada Metro TV yang selalu mengangkat penderitaan keluarga korban lumpur busuk lapindo, sehingga itu bisa membuat warga tetap bersemangat menuntut haknya itu”
Analisis Semiotika Kode Televisi John Fiske mengenai gambar di atas, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.4 Analisis Gambar 4.4
Kode Televisi Kode Sosial Keterangan
Level Realitas Kode Penampilan
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat news anchor sedang membacakan berita kasus lapindo. news anchor perempuan mengenakan pakaian berwarna cream, sedangkan news anchor laki-laki mengenakan jas berwarna abu. Pada gambar berikutnya, narasumber Bambang Sulistomo terlihat mengenakan jaket jeans.
Kode Dialog
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat news anchor sedang membacakan berita kasus lapindo dan mengundang narasumber sekjen GMLL, Bambang Sulistimo. Selain itu terlihat juga wawancara reporter Metro TV kepada Hari Suwandi mengenai berita yang menyebutnya sebagai warga Porong palsu yang hanya mencari sensasi.
Pada gambar ini, terlihat news anchor sedang membawakan berita mengenai kasus lumpur lapindo. Metro TV pun mengundang narasumber Bambang Sulistimo selaku sekjen Gerakan Menutup Lumpur Lapindo (GMLL).
Bambang berterima kasih kepada Metro TV karena selalu membahas kasus lumpur lapindo.
News anchor membawakan berita tentang kasus lumpur lapindo. Metro TV pun mengundang narasumber sekjen GMLL, Bambang Sulistimo. Di sini, Bambang mengucapkan terima kasih kepada Metro TV karena Metro TV selalu mengangkat berita tentang penderitaan korban lumpur lapindo.
Pada scene lainnya, Hari Suwandi terlihat sedang mengklarifikasi terkait pemberitaan yang memberitakan dirinya warga porong palsu dan hanya mencari sensasi.
Level Representasi
Kode Kamera
Pada gambar ini, teknik pengambilan gambar yang diambil oleh kameramen adalah Full Shot dan Medium Close-Up
Maksud pengambilan gambar secara Full Shot adalah untuk memperlihatkan objek dengan lingkungan di sekitarnya Sedangkan Medium Close-Up ini adalah untuk menegaskan
‘profil’ seseorang sehingga penonton merasa puas.
Peneliti memilih scene saat news Anchor Metro TV membawakan berita mengenai kasus lumpur Lapindo. Menurut peneliti, ke-enam gambar yang dipilih peneliti merepresentasikan bahwa Metro TV berupaya untuk menjatuhkan saingannya yaitu TV One. Hal ini terlihat dari berita yang diangkat oleh Metro TV yaitu tberita mengenai penderitaan korban lumpur lapindo dan cara news Anchor mebawakan beritanya. Dalam acara ini pun Mtero TV mengundang salah satu korban lumpur lapindo yang juga sebagai Sekertaris Jendral Gerakan Menutup Lumpur Lapindo (GMLL) yaitu Bambang Sulistimo. Dalam dialognya, Bambang mengucapkap rasa terima kasihnya kepada Metro TV yang selalu mengangkat berita tentang penderitaan korban lumpur busuk lapindo. dari dialog di atas cukup jelas bahwa berita yang diangkat oleh Metro TV mempunyai tujuan tersendiri, yaitu menjatuhkan media saingannya yaitu TV One yang dimiliki oleh Abu Rizal Bakrie.
Jika dilihat dari level realitas, terlihat news anchor sedang membawakan berita mengenai kasus lumpur lapindo. Metro TV pun mengundang narasumber Bambang Sulistimo selaku sekjen Gerakan Menutup Lumpur Lapindo (GMLL).
Bambang berterima kasih kepada Metro TV karena selalu membahas kasus lumpur lapindo. Kejadian ini dilatar belakangi oleh para pemimpin mereka yang berada di partai politik berbeda. Metro TV dipimpin oleh Surya Paloh selaku inisiator Partai Nasional Demokrat, sedangkan media saingannya, TV One dipimpin oleh Ketua Umum Partai Demokrat, Abu Rizal Bakrie. Dari kasus ini kita bisa melihat persaingan media di Indonesia dilatar belakangi oleh masalah politik para pemilik medianya. Mereka menggunakan media mereka sendiri untuk
berkampanye atau untuk menjatuhkan lawan politik mereka dengan cara memberitakan hal yang negatif dari kubu lawannya.
Jika dilihat dari level representasi, scene pada gambar di atas mencoba menegaskan profil dari news Anchor yang sedang membawakan berita kasus lumpur lapindo dengan menggunakan teknik pengambilan gambar Medium Close- Up. Sedangkan pada scene lainnya, gambar diambil dengan teknik Full Shot.
Teknik Full Shot digunakan untuk memperlihatkan objek dengan lingkungan di sekitarnya sehingga penonton mengetahui dimana kejadian itu sedang berlangsung.
Gambar 4.5
TV One mengangkat berita tentang kasus lumpur Sidoardjo
Di dalam gambar ini, terlihat TV One sedang mengangkat berita kasus lumpur Sidoardjo dengan mewawancara Kairul Huda, sekertaris Gabungan Korban Lumpur Lapindo (GKLL).
Anchor : “Hari Suwandi, orang yang mengaku korban lumpur Sidoardjo yang berjalan kaki dari Porong Sidoardjo, Jawa Timur ke Jakarta untuk melakukan aksi depan Istana Negara. Ya lantas siapakah Hari Suwandi sebenarnya? Benarkah pria yang rela berjalan dari Sidoardjo ke Jakarta ini adalah korban lumpur lapindo? Ya dan apakah perjuangannya benar- benar mewakili korban lumpur Sidoardjo? Kami hadirkan liputan mendalamnya untuk anda.
Narator : ”Hari Suwandi berjalan kaki dari porong ke Jakarta niatnya adalah untuk memperjuangkan nasib para korban lumpur. Tapi alasan memperjuangkan nasib korban lumpur ditepis kawan-kawan sesama korban. Menurut sekertaris Gabungan Korban Lumpur Lapindo, Khairul Huda, politisasi korban lumpur memang menjadi semacam keniscayaan. Banyak warga yang polos, tidak tau menau kecuali ganti rugi dimanfaatkan oleh sejumlah politikus dan LSM.
Huda : “ya hari ini kita menunjukan kepada temen-temen sekalian bahwa tidak ada politisasi, artinya korban lumpur semuanya berjuang di Sidoardjo.
Kalau ada yang ke Jakarta atau diluar lain mengatakan korban lumpur, kita tahu bahwasanya itu adalah kamuflase dan palsu”
Analisis Semiotika Kode Televisi John Fiske mengenai gambar di atas, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.5 Analisis Gambar 4.5
Kode
Televisi Kode Sosial Keterangan
Level Realitas
Kode Penampilan
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat rombongan Hari Suwandi sedang berjalan dengan memakai pakaian sehari-harinya mereka. Sedangkan Khairul Huda mengenakan baju muslim putih dan menggunakan peci berwarna hitam
Kode Dialog
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat narator sedang membacakan narasi dan Khairul Huda selaku sekertaris GKLL sedang diwawancarai mengenai kasus lumpur Sidoardjo.
Pada gambar ini, terlihat Hari Suwandi sedang berjalan dengan rombongannya. Tujuan Hari Suwandi berjalan ke Jakarta adalah untuk meminta ganti rugi korban lumpur Sidoardjo kepada Bakrie dan pemerintah pusat. Sedangkan Kahirul Huda selaku sekertaris GKLL menyatakan bahwa korban lumpur semua berjuang di Sidoardjo. Menurutnya, jika ada aksi selain itu, maka termasuk kamuflase dan palsu. Dengan kata lain Huda menganggap aksi yang dilakukan Hari Suwandi adalah kamuflase dan palsu.
Narator membawakan narasi yang yang menyatakan bahwa kebenaran Hari Suwandi sebagai korban lumpur Sidoardjo dan warga asli Porong diragukan. Hari dianggap mengaku-ngaku warga Porong dan korban lumpur Sidoardjo, karena menurut Huda selaku sekertaris GKLL bila terdapat aksi di luar Sidoardjo maka itu hanyalah kamuflase belaka.
Level Representasi
Kode Kamera
Pada gambar ini, teknik pengambilan gambar yang diambil oleh kameramen adalah Medium Close-Up dan Full Shot
Maksud pengambilan gambar secara Medium Close-Up adalah untuk menegaskan ‘profil’ seseorang sehingga penonton merasa puas. Full Shot untuk memperlihatkan objek dengan lingkungan di sekitarnya
Peneliti memilih scene saat TV One memberitakan mengenai kasus lumpur Sidoardjo. Menurut peneliti, ke-empat gambar yang dipilih peneliti merepresentasikan bahwa TV One sedang berupaya melakukan pembelaan terhadap isu-isu tentang kasus lumpur Sidoardjo.
Jika dilihat dari level realitas, terlihat Hari Suwandi sedang berjalan dengan rombongannya. Tujuan Hari Suwandi berjalan ke Jakarta adalah untuk meminta ganti rugi korban lumpur Sidoardjo kepada Bakrie dan pemerintah pusat.
Sedangkan Kahirul Huda selaku sekertaris GKLL menyatakan bahwa korban lumpur semua berjuang di Sidoardjo. Menurutnya, jika ada aksi selain itu, maka termasuk kamuflase dan palsu. Dengan kata lain Huda menganggap aksi yang dilakukan Hari Suwandi adalah kamuflase dan palsu. Hal ini dikarenakan pemilik dari TV One, Abu Rizal Bakrie secara tidak langsung bertanggung jawab terhadap kasus lumpur Sidoadjo. Kasus ini terjadi karena kesalahan pengeboran yang di lakukan oleh PT Lapindo Brantas. Lapindo ini adalah salah satu perusahaan dari Energi Mega Persada. Energi Mega Persada sendiri adalah salah satu perusahaan besar yang dimiliki oleh Bakrie Grup di sektor energi. Secara tidak langsung, Abu Rizal Bakrie harus bertanggung jawab terhadap penderitaan korban lumpur Sidoardjo.
Selain kerena pemilik TV One berhubungan langsung dengan kasus ini, pembelaan terhadap Abu Rizal Bakrie juga bisa kita lihat dari cara TV One memberitakan kasus ini. Terlihat dari narasi yang dibacakan oleh news Anchor, tentang penyampaian masalah kasus ini. TV One mengatakan lumpur “Sidoardjo”
sedangkan Metro TV mengatakan lumpur “Lapindo”. Hal ini secara tidak
langsung membuktikan bahwa Metro TV sedang berupaya menjatuhkan Abu Rizal Bakrie yang sedang mencalonkan diri menjadi Presiden Indonesia periode 2014-2019 dari Partai Golkar, sedangkan TV One ingin menjaga citra pemiliknya agar masyarakat tetap percaya kepada Abu Rizal Bakrie. Selain tiu, narator juga membacakan narasi mengenai Hari Suwandi sebagai orang yang mengaku-ngaku sebagai korban lumpur Lapindo. Berita ini diperkuat oleh wawancara reporter TV One kepada Kahirul Huda selaku Sekertaris Gerakan Korban Lumpur Lapindo (GKLL). Huda menyebutkan bahwa korban lumpur semua berjuang di Sidoardjo dan menurutnya jika ada yang ke Jakarta atau diluar lain yang mengaku bahwa dirinya salah satu dari korban lumpur lapindo, itu adalah kamuflase dan palsu.
Jika dilihat dari level representasi, scene pada gambar di atas mencoba menegaskan profil dari Khairul Huda, sekertaris Gabungan Korban Lumpur Lapindo (GKLL) dengan menggunakan teknik pengambilan gambar Medium Close-Up. Sedangkan pada scene lainnya, gambar diambil dengan teknik Full Shot. Teknik Full Shot digunakan untuk memperlihatkan objek dengan lingkungan di sekitarnya sehingga penonton mengetahui dimana kejadian itu sedang berlangsung.
Gambar 4.6
Wawancara dengan pendamping Hari Suwandi & Harto Wiyono
Di dalam gambar ini, terjadi wawancara antara kameramen dengan Paring Waluyo, pendamping Hari Suwandi dan Harto Wiyono. Hari Suwandi sendiri adalah korban lumpur lapindo yang melakukan aksi jalan kaki dari Porong menuju Jakarta. Tujuannya adalah mewakili masyarakat untuk meminta ganti rugi kepada pemilik dari PT. Lapindo Brantas, Abu Rizal Bakrie.
Paring : “Huda itu adalah sekertaris GKLL, salah satu kelompok korban lumpur lapindo yang sedari awal jadi bonekanya lapindo. Saya bisa mengatakan itu misalkan menjelang Abu Rizal Bakrie mencalonkan diri sebagai ketua umum Golkar. Huda dan kawan-kawannya juga meng set up acara korban lapindo mengucapkan terima kasih pada keluarga Bakrie atas usaha-usaha Bakrie Grup dalam rangka menormalisasi hidup korban lumpur dan itu yang diangkat oleh TV One, berkali-kali.
Saya gagal paham, memahami berita ini dengan akal sehat. Itu sangat tidak elok. Jauh dari prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Lapindo ini salah satu perusahaan dari Energi Mega Persada. Nah Energi Mega Persada ini adalah salah satu perusahaan besar yang dimiliki oleh Bakrie Grup di sektor energi. Jadi Lapindo brantas ini cucunya Bakrie Grup, kira-
kira begitu. Dan kita tahu, bahwa Viva.ews Grup sebagai induk perusahaan TV One, itu menjadi salah satu perusahaannya Bakrie Grup yang Bakrie nya sendiri ingin mencalonkan diri sebagai calon presiden.
Kasus lapindo adalah kita tau bersama kasus ini menjadi titik penting yang sangat mempengaruhi tingkat elektabilitas atau keterpilihan Abu Rizal Bakrie nanti.
Analisis Semiotika Kode Televisi John Fiske mengenai gambar di atas, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.6 Analisis Gambar 4.6 Kode
Televisi Kode Sosial Keterangan
Level Realitas
Kode Penampilan
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat Paring Waluyo sebagai pendamping Hari Suwandi dan Harto Wiyono sedang diwawancara mengenakan topi dan pakaian berwarna hitam. Sedangkan pada gambar berikutnya, Paring Waluyo menggunakan pakaian berwarna merah
Kode Dialog
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terjadi wawancara antara kameramen dengan Paring Waluyo, pendamping Hari Suwandi dan Harto Wiyono.
Pada gambar ini, Paring Waluyo terlihat sedang diwawancarai. Ia menanggapi berita yang disiarkan oleh TV One mengenai kasus lumpur lapindo. Selain itu ia juga mengomentari tanggapan dari Khairul Huda selaku sekjen Gerakan Korban Lumpur Lapindo. Menurutnya Huda adalah boneka yang digunakan lapindo untuk menaikkan citra Abu Rizal Bakrie yang sedang mencalonkan diri menjadi Presiden periode 2014-2019 dari Partai Golkar.
Seperti yang dikatakan oleh Paring di atas, ia tidak percaya dengan berita- berita yang ditayangkan oleh TV One.
TV One mewawancarai Huda selaku sekertaris GKLL yang menurutnya Huda adalah boneka yang digunakan lapindo untuk menjaga elektabilitas Abu Rizal Bakrie yang sedang mencalonkan diri menjadi Presiden periode 2014-2019 dari partai Golkar.
Level Representasi
Kode Kamera
Pada gambar ini, teknik pengambilan gambar yang diambil oleh kameramen adalah Medium
Maksud pengambilan gambar secara Medium Close-Up ini adalah untuk menegaskan ‘profil’ seseorang sehingga penonton merasa puas.
Peneliti memilih scene saat kameramen sedang mewawancarai Paring Waluyo, pendamping Hari Suwandi dan Harto Wiyono. Menurutnya berita-berita yang diberitakan oleh TV One tidak benar.
Jika dilihat dari level realitas, Paring menjelaskan tentang wawancara reporter TV One kepada Kahirul Huda selaku Sekertaris Gerakan Korban Lumpur Lapindo (GKLL). Menurutnya Huda adalah bonekanya Lapindo karena menjelang pencalonan Abu Rizal Bakrie menjadi Presiden, Huda dan kawan- kawannya meng set up acara korban lapindo untuk mengucapkan terima kasih pada keluarga Bakrie atas usaha-usaha Bakrie Grup dalam rangka menormalisasi hidup korban lumpur dan karena Abu Rizal Bakrie sebagai pemilik dari TV One, berita ini pun yang diangkat berkali-kali oleh TV One. Paring pun menyebutkan bahwa berita yang diangkat oleh TV One jauh dari prinsip-prinsip dasar jurnalistik.
Jika dilihat dari level representasi, sutradara Ucu Agustin mencoba menegaskan profil dari Paring Waluyo sebagai pendamping Hari Suwandi dan Harto Wiyono dengan menggunakan teknik pengambilan gambar Medium Close- Up.
Gambar 4.7
Wawancara dengan anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)
Di dalam gambar ini, terjadi wawancara antara kameramen dengan Ezki Tri Rezeki Widianti, anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengenai pemberitaan di beberapa media yang dianggap berpihak kepada pemiliknya.
Ezki :“Mereka kan bilangnya angle, bukan framing. Padahal kita sebagai orang yang bergerak di bidang media tau bahwa itu framing. Selama ini yang kita lihat kayaknya kan mereka lebih baikan kalau di televisi mereka.
Lapindo misalnya, itu kan, kayaknya mereka lebih baik, yang terusir dari lapindo itu sudah punya rumah, gitu ya misalnya ya. Terus kita mau komplain apa? Memang ada yang sudah punya rumah. Tapi di televisi yang satunya, lalu mengatakan bahwa korban lumpur lapindo masih bermasalah, masih segala macet. Kita juga ga bisa buat apa apa, karena itu tadi, angle-angle tadi ya. Nah, tv berita di Indonesia ratingnya memang tidak setinggi tv-tv yang banyak hiburannya ya, tapi mungkin bukan itu tujuan mereka membuat tv berita, bukan soal rating, memang akses mereka kepada publik untuk memberikan pesan, sikap-sikap dari pada yang kita pinjamkan frekuensi itu, atau yang beraviliasi dengan golongan atau partai politik tertentu itu. Saya gak bisa bilang bahwa tv berita itu jurnalismenya sakit, tapi yang saya katakan adalah bahwa orang di dalamnya tidak independen.”
Analisis Semiotika Kode Televisi John Fiske mengenai gambar di atas, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.7 Analisis Gambar 4.7
Kode Televisi Kode Sosial Keterangan
Level Realitas Kode Penampilan
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat Ezki Tri Rezeki Widianti sebagai anggota KPI sedang diwawancara menggunakan kaca mata dan baju berwarna merah marun.
Kode Dialog
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat Ezki Tri Rezeki Widianti sedang menjelaskan bagaimana keadaan media sekarang yang menayangkan berita sesuai dengan keinginan pemilik media tersebut.
Pada gambar ini, Ezki Tri Rezeki Widianti terlihat sedang diwawancarai. Ia melihat berita- berita yang ditayangkan oleh media-media sekarang tidak sesuai dengan kenyataan. Media tersebut membingkai berita sedemikian rupa demi para pemiliknya.
Seperti yang dikatakan Ezki di atas, media sekarang membingkai berita sesuai dengan keinginan pemilik media tersebut. Tentu saja dengan maksud tujuan tertentu. Ia pun tidak bisa menyalahkan media tersebut, karena media itu menayangkan berita sesuai fakta, namun dengan angle yang berbeda. Menurutnya juga, orang-orang yang berada dalam media tersebut tidak independen.
Level Representasi
Kode Kamera
Pada gambar ini, teknik pengambilan gambar yang diambil oleh kameramen adalah Medium Close-Up
Maksud pengambilan gambar secara Medium Close-Up ini adalah untuk menegaskan ‘profil’
seseorang sehingga penonton merasa puas.
Peneliti memilih scene saat kameramen sedang mewawancarai Ezki Tri Rezeki Widianti sebagai anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Jika dilihat dari level realitas, menurutnya kebanyakan media massa sekarang secara gamblang memberitakan berita sesuai kepentingan pemiliknya. Ia pun tidak
menyalahkan media massa tersebut, karena memang benar mereka menyampaikan informasi sesuai dengan fakta, namun dengan angle yang berbeda. Angle berita yang disampaikan oleh media tersebut tentu punya maksud dan tujuan tertentu, apakah untuk menjaga citra pemiliknya atau bahkan untuk menjatuhkan seseorang. Menurut Ezki tujuan mereka (para pemilik media) membuat TV berita bukan untuk berlomba mendapatkan rating tertinggi, melainkan untuk mempermudah akses mereka berkampanye kepada masyarakat. Fenomena ini yang sedang terjadi di dalam media massa di Indonesia sekarang. Ini bukan masalah jurnalisme yang sakit, melainkan orang-orang di dalamnya yang tidak independen. Jika wartawan tidak independen, tidak fair, dan tidak objektif dalam menjalankan fungsinya, tentunya ini akan membawa keuntungan bagi pihak yang punya kepentingan-kepentingan khusus, dalam hal ini pemilik media. Komentar serupa pun dilontarkan oleh Adi Marsiela selaku Ketua AJI Bandung. Menurutnya pemilik media lah yang “sakit”. Pemilik terus-terusan menekan, redaksi nya tidak kuat dan akhirnya mengikuti pemiliknya.
Jika dilihat dari level representasi, sutradara Ucu Agustin mencoba menegaskan profil dari Ezki Tri Rezeki Widianti, anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dengan menggunakan teknik pengambilan gambar Medium Close-Up.
Gambar 4.8
Perbincangan antara Narto (RCTI) dan Windu (TV One)
Di dalam gambar ini, terjadi percakapan antara Narto (kameramen RCTI) dan Windu Rustandi (kameramen TV One). Mereka berbicara masalah kepentingan pemilik dan masalah wartawan TV One yang diusir oleh Hari Suwandi saat meliput aksi jalan kakinya dari porong ke Jakarta. Menurutnya pemberitaan TV One mengada-ada.
Kameramen : “Sebagai jurnalis, temen TV One selalu diusir gitu gimana perasaannya?
Narto : ”Ya kita sih pasti merasa sedih juga yah. Kasihan juga gitu, perasaan kita juga pasti kaya gitu juga kalau kita kaya gitu.
Kameramen : ”Tapi tau kenapa mereka diusir, alesannya?”
Narto : ”Ya pasti. Karena, ya itu mungkin karena kepentingan.”
Kameramen : ”Jadi lo sadar banget memihak pada kepentingan pemilik?”
Windu : ”Gue pemilik, ya gue kerja disitu. Gue (disuruh) liput kesini, ya gue liputan sini.
Narto : “Ya itu saya bilang kepentingan sama kepentingan, gontrok- gontrokan di atas. Yaudah. Kita bikin yang sebenarnya pun ga akan sampe, begitu sampe meja mereka dirubah lagi. Kadang kita pun kaya gitu kalau pas kepentingan Hary Tanoe lagi digini- giniin, temen-temen ngambil yaudah. Kemarin Hary Tanoe yang diberitain, dia yang pusing.”
Analisis Semiotika Kode Televisi John Fiske mengenai gambar di atas, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.8 Analisis Gambar 4.8 Kode
Televisi Kode Sosial Keterangan
Level Realitas
Kode Penampilan
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat Narto (RCTI) dan Windu (TV One) sedang berbincang. Narto terlihat menggunakan Polo Shirt abu dan Windu menggunakan kaos hitam.
Kode Dialog
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat Narto (RCTI) dan Windu (TV One) sedang berbincang. Narto sedih saat melihat temannya sesama jurnalis diusir oleh narasumber saat sedang liputan kasus lapindo.
Pada gambar ini, terlihat Narto (RCTI) dan Windu (TV One) sedang berbincang- bincang mengenai masalah Windu yang diusir oleh Hari Suwandi saat sedang liputan mengenai kasus lumpur lapindo. Ia diusir lantaran menurut Hari Suwandi TV One tidak benar dalam memberitakan kasusnya.
Seperti yang kita lihat, mereka berbincang mengenai masalah Windu, kameramen TV One yang diusir Hari Suwandi saat melakukan liputan kasus lapindo. Narto sebagai sesama jurnalis sedih saat melihat Windu diusir. Namun ia tidak heran, karena berita yang diangkat oleh TV One lebih memihak kepada pemiliknya yaitu Abu Rizal Bakrie yang juga sebagai pemilik dari PT. Lapindo Brantas
Level Representasi
Kode Kamera
Pada gambar ini, teknik pengambilan gambar yang diambil oleh kameramen
Maksud pengambilan gambar secara Medium Close-Up ini adalah untuk menegaskan ‘profil’ seseorang sehingga
Peneliti memilih 12 scene saat kameramen sedang mewawancarai wartawan RCTI dan TV One. Dalam wawancaranya, kameramen ikut prihatin atas kejadian diusirnya wartawan TV One saat melakukan liputan kasus lumpur lapindo.
Namun sebaliknya, wartawan TV One justru biasa saja saat diusir oleh Hari Suwandi.
Jika dilihat dari level realitas, mereka sudah sudah jelas menyadari bahwa tugas mereka di sini tidak murni memberikan informasi kepada khalayak. Mereka sadar tugas mereka di sini untuk menaikan citra pemilik media atau menurunkan citra lawan politik dari pemilik media tertentu. Situasi ini bisa di kategorikan sebagai krisis moral wartawan.
“Kalau sumber –sumber informasi menganggap sikap dasar setiap wartawan dapat “dibeli” secara politik atau ekonomi, dan masyarakat pembaca tidak terpenuhi harapannya mendapat informasi yang jujur, fair dan objektif, di situlah saatnya kita mengatakan memang terjadi krisis moral.” (Siregar, 1995: 77)
Sedangkan dilihat dari level representasi, sutradara Ucu Agustin mencoba menegaskan profil wartawan RCTI dan TV One, terlihat dari cara kameramen menggambil gambar yaitu dengan teknik Medium Close-Up.
Gambar 4.9
Global TV dan RCTI mengangkat berita tentang kasus dugaan suap pajak PT. Bhakti Investama
Di dalam gambar ini, terlihat Global TV dan RCTI sedang mengangkat berita kasus dugaan suap pajak PT. Bhakti Investama. Hary Tanoe Soedibyo pun mengklarifikasi masalah pemanggilan dirinya ke KPK.
Reporter : “Sebagai warga Negara yang baik dan juga atas inisiatifnya sendiri, Hary tanoe soedibyo mendatangi KPK guna mengklarifikasi keterkaitan adanya dugaan keterkaitan antara PT bhakti investama dengan kasus suap pajak.”
Hary : “Saya sebagai warga Negara yang taat hukum, saya tidak mau berpolemik, yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa yang katanya James tidak ada kaitannya dengan bhakti investama, apalagi saya, semua orang sudah tau, saya lebih banyak aktif di media, saya di kenal masyarakat sebagai orang media televisi, dan apalagi 6 bulan ini saya sangat aktif di politik. Pelan-pelan medianya pun mulai saya tinggal. Saya harus katakan beberapa media ada media cetak maupun media elektronik yang mengangkat ini berlebih-
terus mengangkat nama saya. Saya menghimbau, kita sesama keluarga media, marilah kita profesional. Bangsa kita ini bisa maju kalau kita semua sadar, bagaimana kita membangun secara konstruktif dan memberitakan berita secara benar. Saya melihat bangsa kita perlu pertolongan, karena bangsa Indonesia perlu bantuan untuk berubah. Ini sudah merupakan bagian dari pertanggungjawaban saya, bagaimana saya memperkenalkan Nasdem ke daerah-daerah bahwa Nasdem murni membawa gerakan perubahan. Perubahan apa? Indonesia yang lebih baik, lebih bersih, lebih damai, lebih tenteram bagi masyarakat.”
Analisis Semiotika Kode Televisi John Fiske mengenai gambar di atas, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.9 Analisis Gambar 4.9
Kode Televisi Kode Sosial Keterangan
Level Realitas Kode Penampilan
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat reporter Global TV mengenakan kemeja berwarna putih.
Sedangkan Hary Tanoe mengenakan kemeja berkerah merah marun
Kode Dialog
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat reporter Global TV sedang melakukan liputan di depan gedung KPK
Pada gambar ini, terlihat reporter Global TV sedang melakukan liputan dugaan keterkaitan Hari Tanoe bersama perusahaannya PT. Bhakti Invertama dengan kasus suap pajak.
Seperti yang kita lihat, reporter Global TV sedang melakukan liputan dugaan keterkaitan Hari Tanoe bersama perusahaannya PT. Bhakti Invertama dengan kasus suap pajak di depan gedung KPK. Dalam liputannya, reporter menjelaskan bahwa Hary Tanoe datang atas inisiatifnya sendiri.
Level Representasi
Kode Kamera
Pada gambar ini, teknik pengambilan gambar yang diambil oleh kameramen adalah Medium Close-Up
Maksud pengambilan gambar secara Medium Close-Up ini adalah untuk menegaskan ‘profil’
seseorang sehingga penonton merasa puas.
Peneliti memilih 4 scene saat Global TV dan RCTI sedang memberitakan kasus dugaan keterkaitan Hari Tanoe bersama perusahaannya PT. Bhakti Invertama dengan kasus suap pajak di depan gedung KPK.
Jika dilihat dari level realitas, Global TV dan RCTI memberitakan kasus dugaan keterkaitan Hari Tanoe dengan angle yang berbeda. Terlihat dari cara reporter membawakan sebuah berita. Disana dikatakan bahwa “Sebagai warga Negara yang baik dan juga atas inisiatifnya sendiri”. Hary Tanoesoedibjo sebagai pemilik dari MNC grup dalam hal ini meliputi Global TV, RCTI, dan MNC tentu tidak mau citranya sebagai pengusaha sekaligus pemlik media turun dimata masyarakat. Ia menggunakan media miliknya untuk memulihkan citranya yang sedang terkait kasus dugaan suap pajak bersama perusahaannya PT. Bhakti Investama. Selain untuk memulihkan citranya, ia pun secara terang-terangan mengkampanyekan partai Nasdem. menurutnya partai Nasdem murni membawa gerakan perubahan menuju Indonesia yang lebih baik, lebih bersih, lebih damai, lebih tenteram bagi masyarakat.
Sedangkan dari level representasi, sutradara Ucu Agustin mencoba menegaskan profil wartawan RCTI dan TV One, terlihat dari cara kameramen menggambil gambar yaitu dengan teknik Medium Close-Up
Gambar 4.10
Wawancara dengan direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP)
Di dalam gambar ini, terjadi wawancara antara kameramen dengan Ignatius Haryanto, direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan mengenai keadaan media massa saat ini.
Ignatius :“saat ini ada 10 televisi yang bersiaran secara Nasional. Tapi dari 10 stasiun televisi yang ada, 4 diantaranya sudah memberikan satu keuntungan kepada satu partai yang baru, Partai Nasional Demokrat, yang pada saat sekarang baru lolos verifikasi, belum terbukti dalam pemilu. Tetapi 4 stasiun televisi sudah berada dibelakang dia. Kita tau juga misalnya partai yang lebih mapan seperti Golkar juga didukung oleh 2 stasiun televisi.”
Analisis Semiotika Kode Televisi John Fiske mengenai gambar di atas, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.10 Analisis Gambar 4.10 Kode
Televisi Kode Sosial Keterangan
Level Realitas
Kode Penampilan
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat Ignatius Haryanto, direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) mengenakan kemeja garis - garis berwarna putih Kode Dialog
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat direktur Lembaga Studi Pers dan Pengembangan (LSPP) sedang diwawancarai mengenai media massa saat ini.
Pada gambar ini, Ignatius Haryanto terlihat sedang diwawancarai mengenai media massa saat ini.
Menurutnya, media massa sekarang beravisiliasi dengan partai politik.
Seperti yang kita lihat, kameramen sedang mewawancarai direktur LSPP, Ignatius Haryanto. Menurut dia, media massa sekarang dikuasai oleh partai politik. Terlihat dari 4 media sekarang yang sudah memberikan satu keuntungan kepada satu partai, yaitu Partai Nasdem
Level Representasi
Kode Kamera
Pada gambar ini, teknik pengambilan gambar yang diambil oleh kameramen adalah Medium Close-Up
Maksud pengambilan gambar secara Medium Close-Up ini adalah untuk menegaskan ‘profil’
seseorang sehingga penonton merasa puas.
Jika dilihat dari level realitas, Ignatius Haryanto, direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) terlihat sedang diwawancarai mengenai media massa saat ini. Menurutnya, media massa sekarang beravisiliasi dengan partai politik. Media massa sekarang sudah jelas berpihak kepada kepentingan pemilik media. Media massa tidak lagi berfungsi sebagai media informasi yang netral bagi masyarakat. Menurutnya kepentingan politik sangat jelas terlihat belakangan ini.
Empat dari sepuluh stasiun televisi yang ada di Indonesia sudah terlihat memberikan keuntungan kepada satu partai politik yang baru lolos verifikasi, yaitu Partai Nasdem.
Sedangkan dari level representasi, sutradara Ucu Agustin mencoba menegaskan profil Ignatius Haryanto dengan menggunakan teknik pengambilan gambar Medium Close-Up.
Gambar 4.11
Peta kepemilikan media di Indonesia
Di dalam gambar ini, terlihat peta kepemilikan media di Indonesia, dimana dari berbagai media massa di Indonesia, hanya 12 saja pemiliknya.
Narator : “Adalah serupa konstelasi membentuk lingkaran kuasa. Bayangkan, sebuah sentral yang berbinar dengan banyak kanal. Ada media cetak, ada media berbasi frekuensi seperti radio dan televisi. Ada ribuan portal, media online. Di Indonesia, kini terdapat 1248 stasiun radio, 1706 media cetak, 76 televisi, 176 stasiun televisi yang sedang mengajukan izin siaran. Dan yang sedang menjadi tren, dalam waktu hitungan hari terus bermunculan portal-portal media online dengan nama yang bermacam-macam. Dari ribuan kanal yang ada di Indonesia, hanya 12 orang saja pemiliknya. Konsentrasi kepemilikan ribuan media di tangan segelintir kecil pemilik, adalah yang kini tengah terjadi di dalam industri media di Indonesia. Dalam istilah ekonomi, pola seperti ini disebut oligopoly, dalam istilah yang dikenal secara umum, kepemilikan yang dari hari ke hari makin berkonsentrasi ini disebut konglomerasi. Konsentrasi kepemilikan media dalam hal yang berkenaan dengan frekuensi terutama televisi, mempengaruhi tidak hanya dalam penggunaan frekuensi publik tersebut, untuk grup media itu, tetapi juga berimbas pada alokasi frekuensi publik yang akan jatuh pada tangan pemilik yang sama dan ini akan sangat berbahaya.”
Analisis Semiotika Kode Televisi John Fiske mengenai gambar di atas, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.11 Analisis Gambar 4.11
Kode Televisi Kode Sosial Keterangan
Level Realitas Kode Penampilan
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat 12 pemilik media yang ada di Indonesia.
Sebagaian dari mereka terlihat memakai jas dan dasi.
Sebagiannya lagi memakai kemeja
Kode Dialog
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat narator sedang menjelaskan 12 pemilik media di Indonesia.
Pada gambar ini, terlihat 12 pemilik media yang minimal memiliki dua media besar di Indonesia. Mereka semua adalah pemilik dari kanal-kanal yang ada di Indonesia yang seringkali memasukkan kepentingan pribadinya.
Seperti yang kita lihat, narator sedang menjelaskan para pemilik media bersama dengan media- medianya. Disana terlihat para pemilik media menguasai ribuan kanal media di Indonesia
Level Representasi
Kode Musik
Pada gambar ini, terdapat backsound lagu yang berjudul Televisi yang dipoulerkan oleh band Naif
Pada gambar ini, terdapat backsound lagu yang berjudul Televisi yang di populerkan oleh band Naif. Lagu ini menceritakan tentang keadaan televisi yang diamana semua orang ingin tampil di televisi. Backsound ini sangat cocok dengan keadaan media massa saat ini.
Peneliti memilih 12 scene kepemilikan media yang ada di Indonesia.
Ternyata dari sekian banyak media yang ada di Indonesia hanya dimiliki oleh 12 orang saja.
Jika dilihat dari level realitas, para pemilik media Indonesia, minimal memiliki dua media besar di Indonesia. Mereka semua adalah pemilik dari kanal- kanal yang ada di Indonesia yang seringkali memasukkan kepentingan pribadinya.
Konsentrasi kepemilikan ribuan media di tangan segelintir kecil pemilik, adalah situasi yang kini tengah terjadi di dalam industri media di Indonesia atau dalam bahasa sekarang biasa disebut konglomerasi media.
Sedangkan dari level representasi, sutradara Ucu Agustin mencoba menggambarkan situasi ini dengan backsound lagu Naif - Televisi. Lagu ini menceritakan tentang keadaan televisi yang diamana semua orang ingin tampil di televisi
Gambar 4.12
Pemilik Metro TV menggunakan frekuensi publik untuk berkampanye
Di dalam gambar ini, terlihat pemilik Metro TV sekaligus inisiator Partai Nasdem, Surya Paloh sedang berkampanye menggunakan medianya sendiri.
Tabel 4.12 Analisis Gambar 4.12
Kode Televisi Kode Sosial Keterangan
Level Realitas Kode Penampilan
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat Surya Paloh menggunakan jas hitam berlambangkan partai Nasdem di saku kiri. Pada gambar selanjutnya, Surya Paloh terlihat memakai kemeja biru berlambangkan partai Nasdem di saku kirinya.
Kode Ekspresi
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat ekspresi wajah Surya Paloh yang terlihat bersemangat saat berpidato di hadapan para kader partai Nasdem.
Kode Gerakan
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat Surya Paloh
sedang menunjuk
menggunakan tangan
kanannya.
Pada gambar ini, Surya Paloh sedang berpidato di acara Partai Nasdem dan disiarkan live di media miliknya yaitu Metro TV
Seperti yang kita lihat di gambar, ekpresi wajah Surya Paloh yang terlihat bersemangat saat berpidato di hadapan para kader partai Nasdem.
Seperti yang kita lihat di gambar, Surya Paloh sedang berpidato. Ia menunjuk dengan menggunakan tangan kanannya sambil menyerukan gerakan restorasi perubahan kepada kader partai Nasdem
Level Representasi
Kode Kamera
Pada gambar ini, teknik pengambilan gambar yang diambil oleh kameramen adalah Medium Close-Up
Maksud pengambilan gambar secara Medium Close-Up ini adalah untuk menegaskan ‘profil’
seseorang sehingga penonton merasa puas.
Peneliti memilih 3 scene dimana terlihat dengan jelas para pemilik media menggunakan medianya dan frekuensi publik untuk mengkampanyekan kepentingan golongannya atau pribadi. Jika dilihat dari level realitas, pemilik media secara terang-terangan menggunakan media massa miliknya untuk
yang diterima masyarakat telah bercampur dengan kepentingan pemilik media tersebut. Sedangkan dari level representasi, sutradara Ucu Agustin mencoba menegaskan profil Surya Paloh dengan menggunakan teknik pengambilan gambar Medium Close-Up
Gambar 4.13
Pemilik TV One menggunakan frekuensi publik untuk berkampanye
Di dalam gambar ini, terlihat pemilik TV One sekaligus ketua umum Partai Golkar, Abu Rizal Bakrie sedang berkampanye menggunakan medianya sendiri.
Tabel 4.13 Analisis Gambar 4.13
Kode Televisi Kode Sosial Keterangan
Level Realitas
Kode Penampilan
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat Abu Rizal Bakrie menggunakan kemeja kuning berlambangkan partai Golkar di saku kiri. Pada gambar selanjutnya, Abu Rizal Bakrie terlihat memakai jas kuning berlambangkan partai Golkar di saku kirinya.
Kode Ekspresi
Pada scene yang diambil oleh peneliti, terlihat ekspresi wajah Abu Rizal Bakrie yang terlihat bersemangat saat berpidato di hadapan para kader partai Golkar.
Pada gambar ini, Abu Rizal Bakrie sedang berpidato di acara Partai Golakr dan disiarkan live di media miliknya yaitu TV One dan ANTV
Seperti yang kita lihat di gambar, ekpresi wajah Abu Rizal Bakrie yang terlihat bersemangat saat berpidato di hadapan para kader partai Golkar.
Level Representasi
Kode Kamera
Pada gambar ini, teknik pengambilan gambar yang diambil oleh kameramen adalah Medium Close-Up
Maksud pengambilan gambar secara Medium Close-Up ini adalah untuk menegaskan ‘profil’
seseorang sehingga penonton merasa puas.
Peneliti memilih 3 scene dimana terlihat dengan jelas para pemilik media menggunakan medianya dan frekuensi publik untuk mengkampanyekan kepentingan golongannya atau pribadi. Jika dilihat dari level realitas, pemilik media secara terang-terangan menggunakan media massa miliknya untuk kepentingan tertentu. Tentu ini sangat berbahaya bagi masyarakat luas. Informasi yang diterima masyarakat telah bercampur dengan kepentingan pemilik media tersebut. Sedangkan dari level representasi, sutradara Ucu Agustin mencoba menegaskan profil Abu Rizal Bakrie dengan menggunakan teknik pengambilan gambar Medium Close-Up
Gambar 4.14
Pemilik MNC Grup menggunakan frekuensi publik untuk berkampanye
Di dalam gambar ini, terlihat pemilik MNC Grup sekaligus ketua dewan pakar Partai Nasdem, Hary Tanoesoedibjo sedang berkampanye menggunakan medianya sendiri.