• Tidak ada hasil yang ditemukan

04 Amri Dzikri Al Hakim 225010100111132 UTS MAYANTARA

N/A
N/A
Amri Dzikri Al Hakim

Academic year: 2025

Membagikan "04 Amri Dzikri Al Hakim 225010100111132 UTS MAYANTARA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

KEJAHATAN MAYANTARA

MEMBUAT LEGAL MEMORANDUM DARI PUTUSAN PENGADILAN

Disusun Untuk Memenuhi Ujian Tengah Semester Mata Kejahatan Mayantara Diampu oleh: Dr. Faizin Sulistio, S.H., L.LM.

Disusun oleh:

Amri Dzikri Al Hakim 225010100111132 (04)

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2025

(2)

1. PENDAHULUAN

Kepulauan Karimunjawa adalah sebuah kawasan wisata bahari dan taman nasional di Jawa Tengah, saat ini sedang menghadapi ancaman serius akibat maraknya tambak udang ilegal yang beroperasi sejak 2016. Aktivitas ini tidak hanya melanggar peraturan zonasi kawasan konservasi tetapi juga menyebabkan pencemaran lingkungan yang masif, termasuk kerusakan terumbu karang, deforestasi mangrove, dan penurunan kualitas perairan1. Limbah tambak yang mengandung bahan organik tinggi dibuang langsung ke laut tanpa pengolahan, memicu eutrofikasi, kematian biota laut, dan gangguan kesehatan masyarakat seperti gatal-gatal pada kulit nelayan. Dampak ekonomi pun signifikan, dengan kegagalan panen rumput laut dan penurunan pendapatan nelayan yang menggantungkan hidup pada ekosistem pesisir.

Kasus ini semakin kompleks dengan adanya kriminalisasi aktivis lingkungan.

Salah satunya adalah Daniel Frits, yang divonis 7 bulan penjara akibat mengkritik pencemaran tambak udang melalui media sosial. Padahal, aksinya merupakan bagian dari kampanye #SAVEKARIMUNJAWA yang didukung 800 warga lewat petisi2. Ironisnya, sementara masyarakat sipil dikenakan sanksi hukum, pelaku utama tambak ilegal, termasuk empat pengusaha yang ditetapkan sebagai tersangka pada 2024 baru diproses setelah bertahun-tahun merusak lingkungan. Penegakan hukum yang timpang ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas regulasi lingkungan dan perlindungan hak asasi manusia dalam konteks pembangunan berkelanjutan.

Daniel Frits diadili di Pengadilan Negeri Jepara dalam perkara pidana Nomor 14/Pid.Sus/2024/PN Jpa. Perkara ini berpusat pada dugaan tindak pidana penyebaran informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), sebagaimana diatur dalam Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45A ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Daniel Frits diduga melakukan perbuatan tersebut melalui unggahan di akun Facebook pribadinya pada bulan November 2022. Unggahan tersebut memuat komentar yang dianggap dapat memprovokasi dan menimbulkan konflik di masyarakat,

1 Afkar, A. (2024, April 5). Ancaman Keindahan Pesisir Karimunjawa Muncul dari Tambak Udang [Halaman web].

Diakses dari https://nationalgeographic.grid.id/read/134058915/ancaman-keindahan-pesisir-karimunjawa- muncul-dari-tambak-udang?lgn_method=google&google_btn=onetap

2 Aktivis Kuatkan Alasan Petambak Jadi Tersangka Perusak Lingkungan di Karimunjawa. (2024, Maretl 21).

Diakses pada April 2, 2025 dari Halaman Web: https://www.tempo.co/lingkungan/aktivis-kuatkan-alasan- petambak-jadi-tersangka-perusak-lingkungan-di-karimunjawa-75079

(3)

khususnya terkait isu lingkungan dan aktivitas tambak di Kepulauan Karimunjawa.

Dalam persidangan, Daniel Frits didampingi oleh tim penasihat hukum yang memberikan pembelaan terhadap dakwaan dan tuntutan yang diajukan oleh Penuntut Umum.

Putusan ini menjadi penting untuk dikaji karena menyangkut penerapan hukum pidana terhadap ujaran di media sosial, yang sering kali berada dalam wilayah abu-abu antara kebebasan berekspresi dan pelanggaran hukum. Legal memorandum ini bertujuan untuk menganalisis aspek hukum dari putusan tersebut, termasuk dasar hukum yang digunakan, fakta-fakta yang terungkap di persidangan, serta pertimbangan hakim dalam menjatuhkan hukuman.

Melalui analisis ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai penerapan Pasal 28 ayat (2) UU ITE dalam kasus-kasus ujaran kebencian, serta implikasinya terhadap perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi di Indonesia.

2. RUMUSAN MASALAH

Dari uraian pendahuluan yang telah dijabarkan mengenai kriminalisasi para aktivis lingkungan yang tengah menyuarakan hak-haknya, salah satunya adalah Daniel Frits. Sehingga hakim memvonisnya dengan pidana penjara selama 7 bulan dan denda sebesar Rp.5.000.000-, terdapat rumusan masalah untuk mempertajam analisis pada legal memorandum ini, yaitu:

a. Mengapa majelis hakim tingkat pertama tidak mempertimbangkan status Daniel sebagai environmental defender dan perlindungan khusus bagi pembela HAM lingkungan dalam putusan Nomor 14/Pid.Sus/2024/PN Jpa?

b. Bagaimana implikasi penerapan Pasal 28 ayat (2) UU ITE terhadap kebebasan berekspresi aktivis lingkungan yang memperjuangkan hak atas lingkungan sehat sesuai Pasal 66 UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup?

3. TUJUAN

Dari rumusan masalah yang telah disusun, terdapat tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam membuat legal memorandum ini, yaitu:

(4)

a. Untuk mengetahui alasan majelis hakim tingkat pertama tidak mempertimbangkan status Daniel sebagai environmental defender dan perlindungan khusus bagi pembela HAM lingkungan dalam putusan Nomor 14/Pid.Sus/2024/PN Jpa?

b. Untuk mengetahui implikasi penerapan Pasal 28 ayat (2) UU ITE terhadap kebebasan berekspresi aktivis lingkungan yang memperjuangkan hak atas lingkungan sehat sesuai Pasal 66 UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup?

4. PEMBAHASAN

a. (Mengapa majelis hakim tingkat pertama tidak mempertimbangkan status Daniel sebagai environmental defender dan perlindungan khusus bagi pembela HAM lingkungan dalam putusan Nomor 14/Pid.Sus/2024/PN Jpa?)

Pertimbangan Hakim merupakan pandangan atau pendapat majelis Hakim dalam memutus dan mengadili suatu perkara dengan memperhatikan dan mempertimbangkan keadaan yang memberatkan dan meringankan pelaku tindak pidana. Hakim dalam memberikan hukuman atau pidana kepada terdakwa haruslah memiliki banyak pertimbangan, mulai dari pertimbangan terhadap tuntutan Penuntut Umum, terpenuhi atau tidaknya unsur-unsur delik yang dilanggar dengan pasal yang didakwakan, hingga pertimbangan mengenai keadaan yang meringankan dan memberatkan pidana.

Dalam perkara sebagaimana putusan pengadilan yang menjadi pembahasan tulisan ini dapat diketahui bahwa berdasarkan dakwaan Penuntut Umum dalam Putusan Nomor : 14/Pid.Sus/2024/PN Jpa. Daniel Frits didakwa oleh penuntut umum dengan dakwaan primer telah melanggar Pasal 45A ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang berbunyi “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang sifatnya menghasut, mengajak, atau memengaruhi orang lain sehingga menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan terhadap individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan ras, kebangsaan, etnis, warna kulit, agama, kepercayaan, jenis kelamin, disabilitas mental, atau disabilitas fisik”. Dan dakwaaan subsider telah melanggar pasal Pasal 45 ayat (3) jo Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang RI Nomor

(5)

19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Majelis hakim menggunakan Pasal 28 ayat (2) UU ITE untuk menjerat Daniel atas tuduhan "ujaran kebencian" terhadap kelompok tertentu. Hakim berfokus pada penggunaan istilah "komunitas otak udang" dalam unggahan Facebook Daniel, yang dianggap memicu permusuhan antar kelompok masyarakat. Namun, menurut Amnesty International dan ELSAM, istilah tersebut sebenarnya hanya ditujukan kepada pelaku tambak udang ilegal, bukan masyarakat Karimunjawa secara keseluruhan. Hakim gagal mengidentifikasi bahwa kritik tersebut adalah bagian dari advokasi lingkungan untuk melawan perusakan ekosistem.

Indonesia memiliki mekanisme anti-SLAPP (Strategic Lawsuit Against Public Participation) yang diatur dalam Pasal 66 UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Mekanisme ini bertujuan melindungi individu atau kelompok yang memperjuangkan hak atas lingkungan sehat dari kriminalisasi. Namun, hakim tidak menggunakan pendekatan ini dalam kasus Daniel, meskipun aktivitasnya jelas berhubungan dengan advokasi lingkungan di kawasan Taman Nasional Karimunjawa.

Hakim lebih menitikberatkan pada dampak sosial unggahan Daniel daripada tujuan ekologisnya. Dalam putusan, hakim menyebut bahwa unggahan tersebut

"menimbulkan keresahan" di masyarakat tanpa mempertimbangkan bahwa keresahan tersebut berasal dari pihak yang terlibat dalam tambak ilegal. Menurut ELSAM, hanya pekerja tambak udang ilegal yang merasa tersinggung oleh unggahan tersebut, sehingga tidak relevan untuk menggeneralisasi dampaknya pada seluruh masyarakat Karimunjawa. Putusan ini menunjukkan bahwa UU ITE sering digunakan untuk membungkam aktivis yang mengkritik perusakan lingkungan.

Amnesty International menyatakan bahwa kriminalisasi seperti ini mengancam kebebasan berekspresi dan membatasi ruang gerak bagi pembela HAM lingkungan di Indonesia. Reformasi hukum diperlukan untuk memastikan bahwa kritik terhadap praktik merusak lingkungan tidak dianggap sebagai pelanggaran hukum3.

3 Wulan, E. R. Batasan Perlindungan Hukum Aktivis Lingkungan Hidup Dalam Tindak Pidana Ujaran Kebencian Di Media Sosial (Studi Kasus Putusan Nomor 374/Pid. Sus/2024/PT. SMG). PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, Vol.4, No.2, Februari 2025.

(6)

b. (Bagaimana implikasi penerapan Pasal 28 ayat (2) UU ITE terhadap kebebasan berekspresi aktivis lingkungan yang memperjuangkan hak atas lingkungan sehat sesuai Pasal 66 UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup?)

Implikasi penerapan Pasal 28 ayat (2) UU ITE terhadap kebebasan berekspresi aktivis lingkungan, seperti dalam kasus Daniel Frits Maurits Tangkilisan, menunjukkan kompleksitas yang signifikan dalam konteks perlindungan hak atas lingkungan sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 66 UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Penerapan Pasal 28 ayat (2) UU ITE, yang mengatur tentang penyebaran informasi yang dapat menimbulkan kebencian atau permusuhan, sering kali dipahami secara sempit oleh aparat penegak hukum. Dalam kasus Daniel, kritiknya terhadap tambak udang ilegal dianggap sebagai ujaran kebencian, meskipun tujuannya adalah untuk melindungi lingkungan. Menurut Andrie Yunus dari KontraS, penyampaian pendapat yang tidak setuju pada individu atau kelompok tidak termasuk perbuatan terlarang, kecuali ada unsur ajakan untuk menghasut atau menimbulkan kebencian.

Pasal 66 UU No. 32/2009 memberikan perlindungan bagi individu yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Namun, dalam praktiknya, tidak ada definisi jelas mengenai status "aktivis lingkungan," sehingga perlindungan hukum ini sering kali tidak diterapkan secara efektif. Hal ini menyebabkan ketidakpastian bagi aktivis seperti Daniel, yang berjuang untuk melindungi ekosistem Karimunjawa tetapi justru dihadapkan pada ancaman hukum.

Penggunaan UU ITE dalam kasus Daniel Frits Maurits Tangkilisan menunjukkan ketidaksesuaian dengan komitmen Indonesia terhadap Paris Agreement, terutama dalam konteks partisipasi publik dalam isu lingkungan.

Penerapan UU ITE dalam konteks ini menciptakan ketidakselarasan antara kebijakan hukum nasional dan komitmen internasional Indonesia. Sementara Paris Agreement mendorong keterlibatan masyarakat dalam isu-isu lingkungan, UU ITE seharusnya tidak digunakan untuk menghukum mereka yang mengadvokasi

(7)

perlindungan lingkungan.4 Hal ini menunjukkan perlunya reformasi hukum untuk memastikan bahwa undang-undang tidak menjadi alat untuk mengekang kebebasan berekspresi di kalangan aktivis lingkungan.

5. KESIMPULAN

Kasus Daniel Frits Maurits Tangkilisan menunjukkan bagaimana undang- undang dapat digunakan untuk mengekang kebebasan berekspresi, terutama bagi mereka yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup. Pengadilan Negeri Jepara memvonis Daniel dengan hukuman tujuh bulan penjara berdasarkan Pasal 28 ayat (2) UU ITE, yang mengatur tentang penyebaran informasi yang dapat menimbulkan kebencian. Vonis ini mencerminkan ketidakpahaman aparat penegak hukum terhadap konteks advokasi lingkungan dan perlindungan hak asasi manusia.

Dengan demikian, penting untuk melakukan reformasi hukum guna memastikan bahwa undang-undang tidak digunakan sebagai alat untuk mengkriminalisasi aktivis lingkungan. Perlunya pemahaman yang lebih baik mengenai hak-hak pembela lingkungan dan penerapan prinsip-prinsip internasional mengenai kebebasan berekspresi adalah langkah krusial untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi advokasi lingkungan di Indonesia. Kesimpulan ini menegaskan bahwa keberlanjutan dan perlindungan hak asasi manusia harus berjalan seiring dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup.

4 Alif Duta Hardenta dan Ardianto Budi Rahmawan, Manifestasi Partisipasi Publik dalam Doktrin Kepercayaan Publik bagi Pemenuhan Komitmen Perubahan Iklim Indonesia, dalam “Jurnal Hukum Lingkungan Indonesia,”

Vol 9 Nomor 1, Oktober 2022.

(8)

DAFTAR PUSATAKA Putusan Pengadilan:

Nomor Perkara : 14/Pid.Sus/2024/PN Jpa

Undang-undang :

Indonesia. Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik. Lembaran Negara RI Tahun 2016 Nomor 251, Tambahan Lembaran RI Nomor 5952. Sekretariat Negara.

Jakarta.

Indonesia. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran RI Nomor 5059. Sekretariat Negara. Jakarta.

Jurnal :

Azmi, F. N., & Nurhilmiyah, N. (2024). Analisis Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Oleh Aktivis Lingkungan Hidup Terhadap Tambak Udang Ilegal di Taman Nasional Karimunjawa (Study Kasus Daniel Frits Tangkilisan). UNES Law Review, 6(4), 11564- 11570.

Nurlaili, S. A., & Prayoga, W. B. (2024). Dinamika Kebebasan Berpendapat: Kasus Penahanan Aktivis Lingkungan Karimunjawa dalam Konteks Kritik terhadap Tambak Ilegal. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10(23), 640-652.

Hardenta, A. D., & Rahmawan, A. B. (2022). Manifestasi Partisipasi Publik dalam Doktrin Kepercayaan Publik bagi Pemenuhan Komitmen Perubahan Iklim Indonesia. Jurnal Hukum Lingkungan Indonesia, 9(1), 157-186.

Wulan, E. R. (2025). Batasan Perlindungan Hukum Aktivis Lingkungan Hidup Dalam Tindak Pidana Ujaran Kebencian Di Media Sosial (Studi Kasus Putusan Nomor 374/Pid.

Sus/2024/PT. SMG). PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, 4(2), 3574-3579.

Referensi

Dokumen terkait