PENERAPAN RESTORATIVE JUSTICE DALAM KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (STUDI KASUS DI KEPOLISIAN DAERAH
ISTIMEWA YOGYAKARTA)
MINI RISET
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH SISTEM PERADILAN PIDANA
OLEH:
DANANG KUSUMA ADMAJA 21103040047
DOSEN PENGAMPU:
GILANG KRESNANDA ANNAS, S.H., M.H.
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2024
Abstract
Domestic violence is a crime that is prohibited and punishable. In its development, the settlement of criminal cases is no longer resolved through formal channels but is resolved by making peace between the perpetrator and the victim known as penal mediation, which is a form of implementation of restorative justice. Restorative justice as an alternative to criminal case settlement is the adoption of law enforcement in Indonesia which prioritizes the role of justice in re-enforcing the rules of human nature after a violation. Therefore, there are several problem formulations contained in this study, namely 1. How is the application of restorative justice in cases of domestic violence in the Yogyakarta Special Region Police? 2. What are the success and failure factors in the application of restorative justice in cases of Domestic Violence in the Yogyakarta Special Region Police? The research method used is empirical research (non- doctrinal), which examines the applicable legal provisions and what happens in reality in society. The application of restorative justice in cases of domestic violence in the Yogyakarta Special Region Police can be applied for and with the will of the complainant (victim), namely asking to settle the case through peace (penal mediation) even though there are no strict rules governing the settlement of cases of domestic violence. 2. Factors that become successes and failures in the application of restorative justice in cases of domestic violence in the Yogyakarta Special Region Police are factors that support success are the victim and the perpetrator have agreed to make peace, the investigator as a facilitator provider for the parties, while the factors that hinder the failure are the absence of a strong legal basis in resolving cases of domestic violence through mediation which can lead to law enforcement officials not daring to exercise discretion and the impact caused by the crime is severe enough that the victim cannot forgive.
Keywords: Implementation of Restorative Justice, Domestic Violence, Police Department
Abstrak
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah kejahatan yang dilarang dan diancam hukuman. Dalam perekembangannya, penyelesaian perkara pidana tidak lagi diselesaikan melalui jalur formil akan tetapi diselesaikan dengan cara melakukan perdamaian antara pihak pelaku dan korban yang dikenal dengan mediasi penal, yang merupakan bentuk pelaksanaan restorative justice.
Restorative justice sebagai alternatif penyelesaian perkara pidana merupakan adopsi penegakan hukum di Indonesia dimana mengedepankan peran keadilan dalam menegakkan kembali aturan kodrat manusia sesudah terjadinya pelanggaran. Maka dari itu, terdapat beberapa rumusan masalah yang terdapat dalam penelitian ini yaitu 1. Bagaimana penerapan restorative justice dalam kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta? 2.
Apa faktor yang menjadi keberhasilan dan kegagalan dalam penerapan restorative justice dalam kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta?. Metode Penelitian yang digunakan adalah penelitian empiris (non doktrinal), yaitu mengkaji ketentuan hukum yang berlaku serta yang terjadi dalam kenyataan di masyarakat. Hasil penelitian adalah 1. Penerapan restorative justice dalam kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Keplisian Daerah Istimewa Yogyakarta dapat diterapkan untuk dan dengan kehendak pelapor (korban) yakni meminta untuk menyelesaikan perkara melalui perdamaian (mediasi penal) walaupun belum terdapat aturan tegas yang mengatur penyelesaian perkara Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). 2. Faktor yang menjadi keberhasilan dan kegagalan dalam penerapan restorative justice dalam kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta adalah faktor yang mendukung atas keberhasilan adalah korban dan pelaku sudah bersepakat untuk melakukan perdamaian, penyidik sebagai penyedia fasilitator untuk para pihak, sedangkan faktor yang menghambat sehingga terjadi adanya kegagalan adalah belum adanya dasar hukum yang kuat dalam penyelesaian perkara Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) melalui mediasi yang dapat menimbulkan aparat penegak hukum tidak berani melakukan diskresi dan dampak yang ditimbulkan dari tindak pidana tersebut cukup parah sehingga korban tidak bisa memaafkan.
Kata Kunci: Penerapan Restorative Justice, Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Kepolisian
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berkeluarga merupakan bentuk dari kecenderungan manusia untuk menjalin hubungan sosial. Hal ini menjadi ciri bahwa manusia membutuhkan manusia lain guna melakukan hubungan sosial. Laki-laki dan perempuan membangun keluarga melalui proses perkawinan yang sah berdasarkan pada keyakinan agama masing-masing.1
Namun, dalam kehidupan berumah tangga kadang timbul adanya permasalahan yang disebabkan berbagai faktor seperti konflik akibat adanya kesalahpahaman diantara sepasang suami istri yang terjadi berlarut-larut sehingga terjadi adanya kekerasan rumah tangga yang dapat berujung penderitaan. KDRT memiliki beberapa bentuk, seperti kekerasan fisik, seksual, penelantaran, dan psikis.2Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam rumah Tangga, bentuk-bentuk kejahatan tersebut merupakan kejahatan yang dilarang dan diancam hukuman.
Lahirnya UU ini merupakan dukungan pemerintah dalam upaya menghapuskan tindakan yang mengarah pada kekerasan yang menjadi bentuk dari KDRT.
Dalam perkembangannya, penyelesaian pekara pidana dalam kasus tertentu tidak lagi dilakukan dengan jalur formil melainkan diselesaikan dengan mediasi penal yakni melakukan perdamaian para pihak yang berperkara, yang merupakan bentuk pelaksanaan restorative justice.3 Sebagai
1 Eva Widyastuti, “Penerapan Restorative Justice Dalam Perkara Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Studi Kasus Pada Polresta Yogyakarta),” Uii Yogyakarta, 2022.
2 Abdul Wahab, Syamsuddin Pasamai, Dan Nur Fadhillah Mappaselleng, “Penerapan Restoratif Justice Terhadap Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Makassar: Studi Di Polrestabes Makassar,” Journal Of Lex Generalis (Jls) 2, No. 3 (2021): 1440–53.
3 Ni Luh Putu Amanda Cahayani, Dkk., “Implementasi Restorative Justice Pada Kasus Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Polres Karangasem,” Konstruksi Hukum 5, No. 1 (2024): 104–10.
suatu alternatif dalam penyelesaian perkara pidana, restorative justice hadir sebagai adopsi penegakan hukum di Indonesia dimana menitikberatkan pada keadilan dalam menanamkan kembali aturan-aturan yang ada pada nasib manusia sesudah terjadinya pelanggaran.
Kepolisian sebagai subsistem peradilan pidana memiliki andil dalam penerapan restorative justice sebelum memasuki persidangan. Namun pelaksanaan restorative justice masih memerlukan berbagai tahapan dan belajar untuk mencapai keberhasilan. Maka dari itu, pelaksanaan dan faktor- faktor yang berpengaruh dalam penerapan restorative justice menarik untuk menjadi bahan riset yang diharapkan bisa memberikan titik terang keilmuan, khususnya di bidang hukum pidana.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan paparan pendahuluan di atas, dapat dituliskan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana penerapan restorative justice dalam kasus KDRT di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta?
2. Apa faktor yang menjadi keberhasilan dan kegagalan dalam penerapan restorative justice dalam kasus KDRT di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, dapat dituliskan tujuan penelitian sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui penerapan restorative justice dalam kasus KDRT di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta.
2. Untuk mengetahui faktor yang menjadi keberhasilan dan kegagalan dalam penerapan restorative justice dalam kasus KDRT di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta.
D. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum empiris (non doktrinal).
Penelitian ini berfokus pada realitas hukum yaitu pelaksanaan restorative justice dalam penyelesaian KDRT di Kepolisian Daerah Istimewa
Yogyakarta, pemilihan lokasi tersebut memiliki harapan bahwa dapat ditemukan berbagai data baik primer maupun sekunder yang relevan dan membantu dalam proses penyusunan penelitian ini.
E. Kerangka Teoritik
Kerangka teoritik atau kerangka konseptual merupakan suatu cara berfikir untuk meneliti terhadap permasalahan yang ada pada mini riset ini.
Berdasarkan judul yang diangkat oleh peneliti, maka peneliti akan menggunakan beberapa teori sebagai berikut:
1. Teori Negara Hukum
Menurut Aristotels, negara hukum adalah negara yang berdiri di atas hukum yang menjamin keadilan kepada warga negaranya.4 Jadi pada hakikatnya dalam suatu negara hukum terdapat instrumen hukum dimana instrumen tersebut dapat memberikan rasa adil bagi warganya.
Kedudukan teori negara hukum sangat diperlukan dalam suatu negara, hal ini menjadi demikian dikarenakan untuk fungsi penegakan dan fungsi pengawasan, menajmin tujuan hukum baik dalam kekuasaan kehakiman atau pada lembaga peradilan serta menjamin akan adanya penegakan hukum.
Di aliran Eropa Kontinental terdapat pemikiran akan negara hukum yang mana paling berpengaruh diungkapkan oleh Fredrich Julius Stahl.
Menurut Fredrich Julius Stahl, terdapat empat ciri-ciri negara hukum yakni sebagai berikut:5
a. Terdapat pengakuan atas hak dasar manusia.
b. Terdapat pembagian kekuasaan.
c. Pemerintahan berdasaarkan peraturan.
d. Peradilan administrasi dalam perselisihan.
4 Negara Hukum Adalah : Pengertian, Menurut Para Ahli, Unsur, Contoh (Ppkn.Co.Id) diakses 2 Mei 2024
5 Achmad Irwan Hamzani, “Menggagas Indonesia Sebagai Negara Hukum Yang Membahagiakan Rakyatnya,” Yustisia 3, No. 1 (2021): 1–20. hlm. 2.
Sedangkan menurut A.V. Dicey mengemukakan adanya tiga ciri- ciri negara hukum yang disebutnya dengan istilah “the rule of law”, yakni sebagai berikut:6
a. Supermacy of Law.
b. Equality before the Law.
c. Due Process of Law.
2. Teori Tujuan Hukum
Sebagai perlindungan atas kepentingan manusia, hukum memiliki tujuan sesuai dengan pembentukannya. Pembentukan hukum tersebut mempunyai target yang ingin dicapai. Secara umum, hukum memiliki tujuan pokok yakni guna terciptanya masyarakat dengan tatanan yang tertib serta dapat tercipatnya keseimbangan dan ketertiban. Menurut Van Apeldoorn, tujuan hukum adalah mengatur pergaulan hidup secara damai.7 Jadi dapat diartikan bahwa dalam teori ini perlu untuk mengedepankan adanya perdamaian antaramanusia yang mana dipertahankan dengan hukum yakni melindungi kepentingan-kepentingan manusia tersebut terhadap apa yang merugikannya.
6 Ibid.
7 Yanuar Chandra, Pengantar Hukum Indonesia, (Jakarta: Sangir Multi Usaha, 2022) hlm. 2.
BAB II PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Restorative Justice dalam Penyelesaian Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta
Penyelesaian kasus KDRT ini dapat ditinjau dari berbagai aspek, diantaranya aspek filosofis dan aspek sosiologis. Berdasarkan aspek filosofis, penyelesaian kasus KDRT berhubungan dengan nilai-nilai dalam perkawinan yakni keterikatan suami dan istri. Berdasarkan aspek sosiologis, penyelesaian kasus KDRT ini memperhitungkan pengeluaran yang tinggi dan membutuhkan waktu yang cukup lama jika kasus KDRT dilanjutkan pada proses hukum.8
Secara umum pelaksanaan restorative justice memiliki beberapa prinsip fundamental yang terkandung didalamnya yakni sebagai berikut:9
a. Prinsip keadilan yang memiliki tujuan untuk memberikan pemulihan kepada pihak yang mengalami kerugian.
b. Setiap orang yang terlibat dan terkena dampak dari tindakan yang dilakukan diwajibkan mendapatkan kesempatan ikut serta dalam proses- proses selanjutnya.
c. Pemerintah memiliki peran yakni berupaya untuk terciptanya ketertiban umum, sementara masyarakat memiliki peran yakni untuk menjaga serta membangun adanya perdamaian di lingkungan masyarakat.
Berdasarkan atas kondisi yang terjadi pada proses tersebut, restorative justice dalam penerapannya dapat menggabungkan berbagai mekanisme yang dirasa membantu dalam pelaksanaannya. Secara umum terdapat beberapa mekanisme komunikasi yang sering digunakan terlebih dalam proses
8 Wahab, Pasamai, Dan Mappaselleng, “Penerapan Restoratif Justice Terhadap Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Makassar: Studi Di Polrestabes Makassar.”
9 Widyastuti, “Penerapan Restorative Justice Dalam Perkara Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Studi Kasus Pada Polresta Yogyakarta).”
penerapan restorative justice. Adapun beberapa mekanisme tersebut sebagai berikut:10
a. Restitution (ganti rugi).
b. Victim assistance (pendamping kepada korban).
c. Community service (pelayanan kepada masyarakat).
d. Exoffender assistance (pendamping kepada mantan pelaku).
e. Victim offender mediation (mediasi antara pihak korban dan pelaku).
f. Conferencing (pertemuan).
g. Circles (bernegosiasi).
Sebagai bagian dari konsep restorative justice dalam penyidikan, mediasi mencakup kombinasi model informal mediation, repration negotiation programmes, dan victim-offender mediation dengan menetapkan berbagai cara dalam melakukan mediasi penal yaitu sesudah mempelajari kasus tersebut dan dalam hal ini korban menginginkan penawaran berupa jalan lain yang digunakan dalam proses penyelesaian kasus di luar proses peradilan.
Kasus KDRT yang upaya penyelesaiannya dengan restorative justice yakni konsep berfikir dalam memahami perkembangan sistem peradilan pidana berdasarkan prinsip subsidaritas dan fungsi hukum pidana, yang dikenal sebagai ultimum remedium (hukuman formal yang ditempuh adalah sebagai upaya terakhir). Dengan demikian diharapkan melalui konsep restorative justice ini dapat memberikan alternatif lain yang dapat memiliki manfaat dan keadilan pada pihak yang terlibat.
Dalam prosesnya menyelesaikan tindak pidana KDRT dengan metode restorative justice merupakan tindakan yang penting dilakukan oleh penyidik.
Hal ini sesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dimana menjunjung tingii akan tujuan hukum yaitu memberikan perlindungan kepada setiap warga negara.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Penyidik Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta Bripka Anggun Puspitasari, S.H. bahwa proses
10 Ibid.
penyelesaian tindak pidana KDRT dengan metode restorative justice dilaksanakan melalui proses mediasi kepada para pihak yang berperkara.11 Mediasi tersebut dilakukan antara pelaku dan korban yang didampingi oleh pihak kepolisian. Dimana melalui proses mediasi tersebut diharapkan dapat memberikan solusi yang bermanfaat bagi kedua belah pihak yang berkonflik dan menghindarkan keduanya dari proses peradilan pidana. Selain itu, mediasi penal sebagai bagian konsep restorative justice dengan mengupayakan penyelesaian dengan solusi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak dan berusaha untuk menyeselaikan permasalahan dalam sistem peradilan pidana.12
KDRT adalah suatu bentuk kekerasan yang memiliki kekhasan dimana pelaku dan korban merupakan anggota keluarga dan dilakukan di rumah serta acap kali bukan dianggap sebagai bentuk kekerasan. Melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) menjadi dasar hukum bahwa pada awalnya urusan rumah tangga diurus secara pribadi namun kini menjadi urusan negara sebagai publik. Maka dari itu, perlu adanya upaya lain yang dapat dilakukan dalam mengatasi permasalahan KDRT.
Pemberian fasilitas berupa mediasi penal oleh kepolisian kepada para pihak yakni pelaku dan korban dalam proses restorative justice bukan hal baru bagi masyarakat. Ketidakbaruan mediasi dalam masyarakat ini dapat dilihat dengan adanya musyawarah yang sudah ada dalam kehidupan bermasyarakat.13 Indonesia sendiri mengedepankan adanya penanaman budaya kesepakatan dan kerjasama yang dapat ditemukan di berbagai bagian masyarakat. Masyarakat sendiri lebih memilih untuk menyelesaikan
11 Hasil wawancara dengan penyidik di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, Bripka Anggun Puspitasari, S.H. Dilaksanakan Pada Hari Kamis, 2 Mei 2024.
12 Wahab, Pasamai, Dan Mappaselleng, “Penerapan Restoratif Justice Terhadap Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Makassar: Studi Di Polrestabes Makassar.”
13 Ibid.
permasalahan yang dihadapi dengan membawanya ke lembaga adat dan dapat terselesaikan dengan suasana damai.
Berdasarkan wawancara peneliti dengan Penyidik Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta Bripka Anggun Puspitasari, S.H. menyatakan bahwa:
“Restorative justice ini dapat dilakukan apabila adanya keinginin dari kedua belah pihak”.14 Jadi, apabila pihak-pihak tersebut tidak berkeinginan untuk melakukan upaya diluar hukum maka proses tersebut akan tetap berjalan.
Restorative justice menjadi kewenangan kepolisian karena adanya kewenangan diskresi yang mana dalam menyelesaikan kasus berdasar pertimbangan sendiri dengan tujuan kasus tersebut dapat diselesaikan dengan mengedepankan pada rasa kebermanfaatan serta keadilan bagi pihak-pihak yang terlibat. Delik aduan sendiri merupakan jenis delik yang ditangani pihak berwajib menggunakan dasar aduan korban. Delik ini dapat ditarik kembali asalkan korban menarik aduannya, seperti apabila terjadi adanya perdamaian dengan diketahui penyidik jika telah masuk pada tingkat penyidikan. Dalam kasus KDRT sendiri, penarikan kembali delik aduan tersebut didasarkan pada keadaan korban yang mana memiliki keinginan untuk melindungi rumah tangga yang telah dibangun dari perceraian. Melalui mediasi penal, diharapkan adanya hasil kesepakatan sehingga terdapat jalan keluar dari permasalahan yang terjadi karena kesepakatan pelaku dan korban yang berperkara. Dengan demikian diharapakan para pihak dapat menemukan jalan tengah sehingga mendapatkan solusi guna menyelesaikan permasalahan tersebut.
Tabel 1.1 Data Jumlah Laporan Perkara Kekerasan Dalam Rumah Tangga Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2021 s.d. 2024
Tahun Jumlah Perkara
2021 14
2022 14
2023 11
14 Hasil wawancara dengan penyidik di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, Bripka Anggun Puspitasari, S.H. dilaksanakan pada hari Kamis, 2 Mei 2024.
2024 2
Jumlah 51
Sumber: Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, 2024
Tabel 1.2 Jenis Kasus KDRT di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2021 s.d. 2024
No Jenis KDRT 2021 2022 2023 2024 Jumlah
1 Fisik 7 9 7 2 25
2 Non Fisik 7 5 4 - 16
Sumber: Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, 2024
Dari tabel 1.1 dan 1.2 dapat diketahui bahwa masih marak terjadinya KDRT di wilayah kerja Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, adapun kekerasan yang banyak dilakukan adalah kekerasan berupa fisik. Adapun kekerasan fisik tersebut dapat berupa pemukulan, penamparan, menarik rambut, didorong hingga jatuh, disetubuhi dengan paksa, dan membenturkan kepala. Namun, terdapat pula kombinasi antara jenis kekerasan fisik dan non fisik. Ahli kriminolog Universitas Indonesia berpendapat bahwa kekerasan non fisik selalu mengawali terjadinya kekersan fisik.15
Restorative justice adalah sebuah instrumen yang ada pada teori keadilan.
Dalam hal ini, lembaga peradilan tidak memiliki wewenang dalam memutuskan nilai keadilan yang diharapkan oleh para pihak. Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan Penyidik Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta Bripka Anggun Puspitasari, S.H. bahwa aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian hanya terlibat dalam menyediakan mediator dalam proses penyelesaian perkara tersebut.16
Berdasarakan wawancara peneliti dengan Penyidik Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta Bripka Anggun Puspitasari, S.H. bahwa proses
15 Soeroso, Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dalam Perspektif Yuridis-Viktimologis, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), Hlm. 28.
16 Ibid.
pelaksanaan penyelesaian tindak pidana KDRT dengan metode restorative justice dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:17
a. Tahap pertama yang dilakukan dalam pelaksanaan proses perdamaian yaitu dengan adanya gagasan dari pihak yang berselisih. KDRT yang terjadi kemudian akan diidentifikasi apakah terdapat kekerasan fisik ringan atau sedang sehingga penyidik dapat memberi gambaran dampak apabila perkara ini dilanjutkan kepada para pihak.
b. Tahap kedua korban secara tertulis membuat pengajuan permohonan disertai dengan surat pernyataan perdamaian antara kedua belah pihak serta adanya bukti pemulihan hak korban.
c. Tahap ketiga sebagaimana aturan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2021 tentang Penanganan Tindak Pidana Berdasarkan Keadilan Restoratif, penyidik diharuskan mencermati dan memahami apakah tindak pidana KDRT tersebut memenuhi syarat materil dan syarat formil.
d. Tahap keempat yakni setelah gelar perkara selesai, penyidik menyusun laporan hasil gelar perkara dan menerbitkan surat perintah untuk menghentikan penyelidikan atau penyidikan.
e. Tahap kelima yakni mencatat pada buku register Keadilan Restoratif pengehntian penyelidikan/penyidikan dan dihitung sebagai penyelesaian perkara.
B. Faktor yang Menjadi Keberhasilan dan Kegagalan dalam Penerapan Restorative Justice Dalam Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta
Penyelesaian kasus KDRT dengan restorative justice memiliki beberapa faktor yang memengaruhi dalam pelaksanaannya baik faktor yang menjadi keberhasilan maupun faktor yang menjadi gegalan diterapkannya metode ini.
Adapun beberapa faktor yang menjadi keberhasilan dalam penerapan restorative justice dalam kasus KDRT di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai berikut:18
17 Hasil wawancara dengan penyidik di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, Bripka Anggun Puspitasari, S.H. dilaksanakan pada hari Kamis, 2 Mei 2024.
a. Faktor dari korban dan pelaku
Keinginan para pihak untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan restorative justice yakni dengan mediasi penal dianggap lebih efektif dalam mendapatkan solusi yang diinginkan dengan kekeluargaan, korban dapat memberikan maaf terhadap apa yang pelaku lakukan serta pelaku telah melalukan apa saja yang terkandung dalam isi perjanjian kesepakatan perdamaian dengan baik.
b. Faktor dari penegak hukum
Dalam hal ini penyidik memberikan tindakan berupa komunikasi dimana penyidik menyediakan fasilitator untuk para pihak.
c. Faktor dari masyarakat dan kebudayaan
Faktor-faktor seperti golongan etnis dengan budaya ketimuran dan pengetahuan yang ada pada diri masyarakat merupakan bagian dari kesadaran hukum. Hal ini terjadi dikarenakan masyarakat berkeinginan untuk melakukan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.
Keberhasilan pelaksanaan restorative justice melalui perdamaian merupakan manifestasi pembaharuan konsep hukum dimana sebagao alternatif penyelesaian masalah. Disamping adanya faktor keberhasilan terdapat pula faktor yang menjadi kegagalan dalam proses ini.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Penyidik Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta Bripka Anggun Puspitasari, S.H. dalam menerapkan restorative justice untuk menangani kasus KDRT memiliki beberapa faktor yang mengakibatkan kegagalan. Adapun faktor-faktor tersebut sebagai berikut:19
a. Belum ada dasar hukum yang kuat untuk menyelesaikan perkara melalui proses mediasi yang dapat menimbulkan aparat penegak hukum tidak berani melakukan diskresi.
18 Ibid.
19 Hasil wawancara dengan penyidik di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, Bripka Anggun Puspitasari, S.H. dilaksanakan pada hari Kamis, 2 Mei 2024.
b. Dampak yang ditimbulkan dari tindak pidana KDRT cukup parah hal ini menjadikan korban berat untuk memaafkan tindakan pelaku.
Dalam mengimplementasikan restorative justice, penyidik sering mengalami keraguan dalam mengambil keputusan pada proses penyidikan, hal ini dapat terjadi dikarenakan masih adanya keinginan perdamaian dalam penyelesaian perkara oleh pihak-pihak tersebut yakni pelaku beserta keluarga atau korban beserta keluarga. Hal tersebut terjadi karena tidak ada aturan atau prosedur formal yang mengakomodir sehingga situasi menjadi kesulitan bagi penyidik kepolisian di lapangan yang berdasarkan beberapa faktor berikut.20 a. Penyidik khawatir apabila dipersalahkan oleh pimpinan dan berlanjut
pada pengawasan dan pemeriksaan oleh pengawas dan pemeriksa internal polisi dengan standar formal prosedural.
b. Proses pengambilan keputusan pada proses penyidikan yang perlu memperhatikan apakah dengan menggunakan konsep social jurisprudence atau dengan konsep restorative justice yang mana hal ini perlu adanya payung hukum guna mengatur dan menjadi landasan dasar.
c. Belum terdapat adanya prosedur formal yang digunakan dalam pelaksanaannya.
Faktor kegagalan lain yang timbul pada proses pelaksanaan restorative justice dalam penyelesaian kasus KDRT adalah hambatan teknis yakni sebagai berikut:21
a. Korban sulit dalam melakukan musyawarah mufakat dan berkompromi dikarenakan berbagai faktor yang melatar belakanginya.
b. Pihak korban dan keluarganya dirasa belum menerima akan tindakan yang terjadi sehingga kesulitan dalam mengundangnya.
c. Kehadiran para pihak yang perlu menentukan waktu sehingga dapat terjalin musyawarah.
20 Wahab, Pasamai, dan Mappaselleng, “Penerapan Restoratif Justice terhadap Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Makassar: Studi di Polrestabes Makassar.”
21 Ibid.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Penyidik Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta Bripka Anggun Puspitasari, S.H. terdapat upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan yang menjadi faktor kegagalan pelaksanaan restorative justice dalam penyelesaian kasus KDRT yakni dengan memberikan nasihat kepada pihak pelapor dan terlapor apa saja konsekuensi kedepannya apabila kasus ini naik ke pengadilan. Selanjutnya, akan diberikan pembahaman kepada korban dan juga pelaku berkaitan dengan alternatif lain yang dapat digunakan dalam menyelesaikan permasalahan tersebut sehingga dapat memutuskan tindakan yang tepat untuk kedepannya.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan oleh peneliti tentang penerapan restorative justice dalam penyelesaian KDRT di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, maka dapat dituliskan kesimpulan sebagai berikut:
a. Penerapan restorative justice dalam kasus KDRT di Keplisian Daerah Istimewa Yogyakarta dapat diterapkan dengan keinginan korban dalam hal ini melalui permohonan yang diajukan yakni meminta untuk menyelesaikan perkara melalui perdamaian (mediasi penal). Dimana dalam pelaksanaannya, mediasi penal ini belum terdapat landasan yang kokoh yang mengatur penyelesaian perkara KDRT.
b. Dalam pelaksanaannya terdapat faktor yang menjadi keberhasilan dan kegagalan dalam penerapan restorative justice dalam kasus KDRT di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta. Faktor yang mendukung atas keberhasilan adalah korban dan pelaku sudah bersepakat untuk melakukan perdamaian, penyidik sebagai penyedia fasilitator untuk para pihak. Faktor yang menghambat sehingga terjadi adanya kegagalan adalah belum adanya dasar hukum yang kuat dalam penyelesaian perkara KDRT melalui mediasi yang dapat menimbulkan aparat penegak hukum tidak berani melakukan diskresi dan dampak yang ditimbulkan dari tindak pidana KDRT cukup parah hal ini menjadikan korban berat untuk memaafkan tindakan pelaku.
B. Saran
Setelah melakukan penelitian dalam penulisan mini riset ini, terdapat saran yang peneliti berikan sebagai berikut:
a. Pihak kepolisian dapat melakukan sosialisasi Pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dengan menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah yang mana mengikutsertakan masyarakat luas. Selain itu, adanya persepsi aturan yang jelas dan tegas terkait penanganan KDRT melalui
proses restorative justice baik ditingkat Polsek, Polres, dan Polda sehingga memungkinkan Mahkamah Agung dapat segera membuat regulasi sebagai pedoman sistem peradilan pidana.
b. Dalam proses restorative justice ini, masyarakat memiliki peran penting yakni keikutsertaan dalam kehadiran para pihak yakni korban maupun pelaku.
DAFTAR PUSTAKA Buku
Chandra Yanuar, Pengantar Hukum Indonesia, (Jakarta: Sangir Multi Usaha, 2022).
Soeroso, Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dalam Persepektif Yuridis- Viktimologis, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010).
Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Skripsi/Tesis/Jurnal/Artikel
Achmad Irwan Hamzani. “Menggagas Indonesia Sebagai Negara Hukum Yang Membahagiakan Rakyatnya.” Yustisia 3, No. 1 (2021): 1–20.
Https://Doi.Org/10.31090/Hukumbisnis.V3i1.829.
Cahayani, Ni Luh Putu Amanda, I Nyoman Gede Sugiartha, Dan I Made Minggu Widyantara. “Implementasi Restorative Justice Pada Kasus Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Polres Karangasem.” Konstruksi Hukum 5, No. 1 (2024): 104–10.
Wahab, Abdul, Syamsuddin Pasamai, Dan Nur Fadhillah Mappaselleng.
“Penerapan Restoratif Justice Terhadap Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Makassar: Studi Di Polrestabes Makassar.”
Journal Of Lex Generalis (JLS) 2, No. 3 (2021): 1440–53.
Widyastuti, Eva. “Penerapan Restorative Justice Dalam Perkara Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Studi Kasus Pada Polresta Yogyakarta).” UII Yogyakarta, 2022.
Internet
Negara Hukum Adalah: Pengertian, Menurut Para Ahli, Unsur, Contoh (Ppkn.Co.Id) diakses 2 Mei 2024.
Wawancara
Wawancara dengan penyidik di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, Bripka Anggun Puspitasari, S.H. dilaksanakan pada hari Kamis, 2 Mei 2024.