• Tidak ada hasil yang ditemukan

07 Friendy G Marpaung Proposal TA

N/A
N/A
07@Friendy Givenus Marpaung_OBU 18 C

Academic year: 2025

Membagikan "07 Friendy G Marpaung Proposal TA"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN TINGKAT RISIKO WILDLIFE HAZARD TERHADAP KESELAMATAN PENERBANGAN DI BANDAR UDARA

KALIMARAU BERAU

PROPOSAL PROYEK/TUGAS AKHIR

Oleh:

FRIENDY GIVENUS MARPAUNG NIT. 15112210055

PROGRAM STUDI OPERASI BANDAR UDARA PROGRAM DIPLOMA III

POLITEKNIK PENERBANGAN INDONESIA CURUG 2025

(2)

i

KAJIAN TINGKAT RISIKO WILDLIFE HAZARD TERHADAP KESELAMATAN PENERBANGAN DI BANDAR UDARA

KALIMARAU BERAU

PROPOSAL PROYEK/TUGAS AKHIR

Oleh:

FRIENDY GIVENUS MARPAUNG NIT. 15112210055

PROGRAM STUDI OPERASI BANDAR UDARA PROGRAM DIPLOMA III

POLITEKNIK PENERBANGAN INDONESIA CURUG 2025

(3)

ii

HALAMAN PERSETUJUAN

KAJIAN TINGKAT RISIKO WILDLIFE HAZARD TERHADAP KESELAMATAN PENERBANGAN DI BANDAR UDARA KALIMARAU

BERAU

Oleh :

Friendy Givenus Marpaung NIT.15112210055

Disetujui untuk diujikan pada tanggal : Curug,

Pembimbing I : DR. AGOES SOEBAGIO S.H., DESS NIP. 19650713 199303 1 003

Pembimbing II :

(4)

iii

HALAMAN PENGESAHAN

KAJIAN TINGKAT RISIKO WILDLIFE HAZARD TERHADAP KESELAMATAN PENERBANGAN DI BANDAR UDARA KALIMARAU

BERAU

Oleh : Friendy Givenus Marpaung NIT. 15112210055

Telah dipertahankan dan dinyatakan lulus pada Ujian Proyek Akhir/Tugas Akhir Program Studi Operasi Bandar Udara Program Diploma Tiga

Politeknik Penerbangan Indonesia Curug pada Tanggal :

Panitia Penguji : 1. Ketua :

NIP.

2. Sekretaris : NIP.

3. Anggota : NIP.

Ketua Program Studi

Operasi Bandar Udara Program Diploma III

DR. AGOES SOEBAGIO S.H., DESS NIP. 19650713 199303 1 003

(5)

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan On the Job Training (OJT) ini dengan baik, lancar, dan tanpa hambatan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Penulisan laporan OJT ini dibuat berdasarkan pelaksanaan On the Job Training (OJT) yang dilakukan di Bandar Udara Internasional Yogyakarta yang merupakan salah satu syarat kelulusan mata kuliah praktek lapangan pada Program Studi Diploma III Operasi Bandar Udara di Politeknik Penerbangan Indonesia Curug. Selama penyusunan laporan ini penulis menemui banyak pihak yang telah memberikan bantuan, perhatian, dan dorongan kepada penulis. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

1. Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan anugerah rezeki, rahmat, dan lindungan-Nya kepada penulis.

2. Keluarga tercinta yang memberikan banyak support kepada penulis khususnya Bapak Oyen Marpaung, Ibu Lisbet Simanjuntak.

3. Capt. Megi Hudi Helmiadi selaku Direktur Politeknik Penerbangan Indonesia Curug.

4. Bapak Dr. Agoes Soebagio S.H., DESS, selaku Ketua Program Studi Diploma III Operasi Bandar Udara Politeknik Penerbangan Indonesia Curug dan sebagai dosen pembimbing penulis.

5. Bapak Dwi Afriyanto CH., S.Sos., MMTr selaku Dosen Pembimbing laporan On the Job Training

6. Seluruh dosen dan instruktur beserta staf pada Program Studi Operasi Bandar Udara di Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug

7. Bapak Ferdinan Nurdin, S.H., S.Si.T., M.M.Tr. sebagai Kepala Bandar Udara Kelas 1 Kalimarau

8. Bapak Yudhy Anggara RBP.,S.E.,M.A selaku Kasubag Keuangan dan Tata Usaha Bandar Udara BLU Kelas 1 Kalimarau

(6)

v

9. Bapak Martono ,S.SI. T selaku Kepala Seksi Keamanan dan Pelayanan Darurat Bandar Udara BLU Kelas 1 Kalimarau

10. Bapak Budi Sarwanto ,S.S. T selaku Kepala Seksi Teknik dan Operasi Bandar Udara BLU Kelas 1 Kalimarau

11. Bapak Muhammad Alfian selaku Kepala Unit AMC di Bandar Udara BLU Kelas 1 Kalimarau

12. Bapak Akhyari Hasan selaku Kepala Unit Avsec di Bandar Udara BLU Kelas 1 Kalimarau

13. Ibu Ninit Amalia Aprilianti selaku Senior Avsec dan Supervisor OJT di Bandar Udara BLU Kelas 1 Kalimarau

14. Mas Nawir , Mas Aris, Mba Riska, Mas Syamsul, Mas Triaji, Kak Luftisia, dan Mba Kuny Ilya Selaku Senior OJT di Unit AMC dan Unit AVSEC yang telah membimbing serta memberikan ilmu mengenai Unit AMC dan Unit AVSEC

15. Seluruh rekan-rekan OJT Bandar Udara Kelas 1 Kalimarau baik itu dari kampus PPI Curug, Poltekbang Makassar, Poltekbang Surabaya, Poltekbang Medan, dan seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu dalam penyelesaian penulisan Laporan OJT ini

Pennulis menyadari bahwa laporan ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang membangun guna meningkatkan kualitas dan kelengkapan laporan ini. Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi semua pembaca, khususnya dalam indsutri penerbangan.

Berau, 17 Februari 2024

Friendy Givenus Marpaung

(7)

vi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... Error! Bookmark not defined. DAFTAR TABEL... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Batasan Masalah ... 4

1.4 Tujuan Penelitian ... 4

1.5 Hipotesis ... 5

1.6 Manfaat Penelitian ... 5

1.7 Sistematika Penulisan ... 6

BAB II LANDASAN TEORI ... 9

2.1 Teori Penunjang ... 9

2.1.1 Penerbangan ... 9

2.1.2 Bandar Udara ... 9

2.1.3 Keselamatan Penerbangan ... 10

2.1.4 Sisi Udara ... 11

2.1.5 Hazard ... 11

2.1.6 Hewan Liar ... 11

2.1.7 Manjemen Hewan Liar(Wildlife Hazard Management) ... 11

2.2 Kajian Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 14

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 19

3.1 Desain Penelitian ... 19

3.2 Variabel Penelitian ... 20

3.3 Populasi, Sampel, dan Objek Penelitian... 21

3.3.1 Populasi ... 21

3.3.2 Sampel ... 21

3.3.3 Objek Penelitian ... 21

(8)

vii

3.4 Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian ... 21

3.4.1 Teknik Pengumpulan Data ... 21

3.5 Teknik Analisis Data... 24

3.6 Tempat dan Waktu Penelitian ... 24

DAFTAR PUSTAKA ... 25

(9)

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Tabel Penelitian Terdahulu ... 14

(10)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Transportasi udara melibatkan penggunaan pesawat untuk mengangkut penumpang, barang, dan kargo dengan aman serta efisien. Menurut Undang- Undang Penerbangan, bandar udara adalah area tertentu di darat atau perairan yang berfungsi sebagai lokasi pesawat untuk mendarat, lepas landas, serta mendukung pergerakan penumpang dan kargo. Bandara dilengkapi dengan berbagai fasilitas keamanan, keselamatan penerbangan, dan infrastruktur pendukung lainnya. Keberadaan bandara yang memadai berperan penting dalam mendukung pertumbuhan serta kelancaran transportasi udara.

Keunggulan utama dari transportasi udara adalah kecepatannya, sehingga menjadi pilihan favorit bagi banyak orang. (Ali Akbar Pratama & Kifni Yudianto, 2024)

Bandar Udara Kalimarau Berau, yang berlokasi strategis di Berau, Kalimantan Timur, merupakan salah satu bandara tersibuk di Indonesia.

Dengan kode IATA BEJ dan ICAO WAQT, bandara ini melayani jutaan penumpang setiap tahun, baik untuk keperluan bisnis maupun wisata. Sebagai gerbang utama menuju Kalimantan Timur, bandara ini menyediakan berbagai fasilitas modern, seperti ruang tunggu yang nyaman, area perbelanjaan, dan beragam pilihan kuliner. Selain itu, infrastruktur yang memadai, termasuk landasan pacu yang luas dan sistem navigasi canggih, mendukung kelancaran operasional penerbangan.

Bandar udara terdiri dari dua zona utama yang memiliki fungsi saling melengkapi. Zona darat, yang dikenal sebagai terminal, merupakan area publik yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan penumpang. Di area ini, pengguna

(11)

2

jasa penerbangan melakukan berbagai aktivitas, seperti check-in hingga menunggu keberangkatan. Sementara itu, zona udara adalah area terbatas yang diperuntukkan bagi operasional penerbangan, mencakup landasan pacu, landasan penghubung, dan apron sebagai tempat parkir pesawat. Pembagian zona ini bertujuan untuk menjaga keselamatan dan keamanan penerbangan serta meningkatkan kenyamanan bagi seluruh pengguna bandara.

Berdasarkan panduan internasional, segala sesuatu yang berpotensi menimbulkan kecelakaan pesawat dikategorikan sebagai bahaya. Salah satu ancaman yang sering terjadi adalah keberadaan hewan liar dan burung. Untuk mengurangi risiko ini, setiap negara harus memiliki prosedur khusus dalam memantau serta mengevaluasi aktivitas hewan liar di sekitar bandara. Proses ini mencakup pengumpulan data dari berbagai sumber, seperti laporan pilot, petugas bandara, dan masyarakat setempat. Data yang terkumpul kemudian dikaji oleh para ahli guna menentukan langkah-langkah pencegahan yang efektif.

Untuk memastikan keselamatan penerbangan, bandara perlu secara rutin memantau dan mencatat jenis serta jumlah hewan dan burung yang berada di sekitar area operasional. Petugas yang bertanggung jawab dalam tugas ini harus memiliki kompetensi yang memadai. Mengingat potensi risiko yang ditimbulkan oleh hewan liar terhadap operasional penerbangan, manajemen bandara diwajibkan memberikan pelatihan kepada seluruh staf terkait pengendalian bahaya burung dan hewan liar lainnya. Pelatihan ini mencakup aspek teknis, termasuk penggunaan peralatan yang diperlukan. Ketentuan ini telah diatur dalam “SKEP/42/III/2010 Petunjuk dan Tata Cara Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 139-03 tentang Manajemen Bahaya Hewan Liar,” yang diterbitkan oleh Kementerian Perhubungan pada tahun 2010. (Aswiratin et al., 2024)

Keselamatan penerbangan merupakan aspek utama dalam industri aviasi yang harus dijaga dengan baik. Salah satu faktor yang dapat mengancam keselamatan penerbangan adalah wildlife hazard, yaitu gangguan yang disebabkan oleh keberadaan satwa liar, terutama burung, di area bandara.

(12)

3

Insiden seperti bird strike tabrakan antara pesawat dan hewan dapat mengakibatkan kerusakan pesawat, penundaan penerbangan, bahkan kecelakaan serius.

Bandar Udara Kalimarau Berau, yang terletak di Kalimantan Timur, memiliki karakteristik lingkungan yang mendukung keberadaan berbagai jenis satwa liar, terutama burung. Faktor-faktor seperti habitat alami yang berdekatan dengan bandara, ketersediaan sumber makanan, serta vegetasi di sekitar landasan pacu dapat meningkatkan risiko gangguan satwa liar terhadap penerbangan. Mengingat peningkatan jumlah penerbangan dan penumpang di bandara ini, identifikasi dan mitigasi risiko yang ditimbulkan oleh satwa liar menjadi hal yang sangat penting.

Lingkungan bandara dapat menarik hewan liar dan burung, jika menyediakan sumber air, makanan, tempat berlindung, lokasi bertengger, serta area bermain. Keberadaan rumput, semak, saluran air, dan kolam di sekitar landasan pacu diduga menjadi faktor utama yang menarik satwa liar. Bandar Udara Kalimarau Berau memiliki keistimewaan karena berada di kawasan habitat utama burung. Untuk menjaga keselamatan serta kelancaran operasional penerbangan, area bandara harus bebas dari gangguan burung dan hewan liar.

Penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan kontribusi akademik dengan menyediakan data empiris yang dapat digunakan sebagai referensi untuk studi selanjutnya di bidang manajemen pengendalian hewan liar dan burung. Dengan demikian, penelitian ini dapat bermanfaat secara praktis dan teoritis. Maka dari itu, berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan, penulis tertarik untuk membuat sebuah penelitian tugas akhir Diploma Tiga Operasi Bandar Udara dengan judul “KAJIAN TINGKAT RISIKO WILDLIFE HAZARD TERHADAP KESELAMATAN PENERBANGAN DI BANDAR UDARA KALIMARAU BERAU”.

(13)

4 1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang tertulis, dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Seberapa besar tingkat risiko wildlife hazard terhadap keselamatan penerbangan di Bandar Udara Kalimarau Berau?

2. Faktor apa saja yang mempengaruhi keberadaan satwa liar di area bandara?

3. Langkah-langkah apa yang dapat diterapkan untuk mengurangi risiko wildlife hazard di bandara tersebut?

1.3 Batasan Masalah

Berdasarkan keterbatasan waktu penelitian, agar penelitian ini tetap fokus dan terarah, batasan masaalah yang diterapkan adalah sebagai berikut:

1. Penelitian ini hanya membahas wildlife hazard yang berhubungan langsung dengan keselamatan penerbangan di Bandar Udara Kalimarau Berau.

2. Fokus utama adalah pada satwa liar yang sering ditemukan di area bandara, terutama burung yang berpotensi menyebabkan bird strike.

3. Analisis risiko didasarkan pada data observasi, laporan insiden, serta wawancara dengan pihak terkait.

4. Mitigasi yang dibahas hanya mencakup tindakan yang dapat diterapkan oleh pengelola bandara dalam jangka pendek dan menengah.

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, dapat dirumuskan tujuan pada penelitian ini yaitu

1. Untuk mengetahui tingkat risiko wildlife hazard terhadap keselamatan penerbangan di Bandar Udara Kalimarau Berau.

2. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan yang menyebabkan meningkatnya potensi gangguan satwa liar terhadap operasional penerbangan.

(14)

5

3. Untuk menyusun rekomendasi strategis untuk mengurangi risiko wildlife hazard di area bandara.

1.5 Hipotesis

Hipotesis pada penelitian kali ini menggunakan metode hipotesis asosiatif yang dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. H0 : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara keberadaan satwa liar dengan tingkat risiko keselamatan penerbangan di Bandar Udara Kalimarau Berau.

H1 : Terdapat hubungan yang signifikan antara keberadaan satwa liar dengan tingkat risiko keselamatan penerbangan di Bandar Udara Kalimarau Berau.

2. H0 : Keberadaan habitat alami di sekitar bandara tidak memengaruhi jumlah satwa liar yang masuk ke area operasional penerbangan.

H1 : Keberadaan habitat alami di sekitar bandara berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah satwa liar yang masuk ke area operasional penerbangan.

3. H0 : Bird strike dan gangguan satwa liar tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap operasional penerbangan di Bandar Udara Kalimarau Berau.

H1 : Bird strike dan gangguan satwa liar memiliki dampak yang signifikan terhadap operasional penerbangan di Bandar Udara Kalimarau Berau.

1.6 Manfaat Penelitian

Manfaaat pada penelitian kali ini yaitu sebagai berikut:

1. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan data dan informasi yang dapat digunakan oleh pihak pengelola bandara dalam pengelolaan risiko satwa liar.

(15)

6

2. Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mitigasi wildlife hazard dalam operasional penerbangan.

3. Mendukung kebijakan keselamatan penerbangan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

1.7 Sistematika Penulisan 1. BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan pentingnya keselamatan penerbangan dan ancaman wildlife hazard, terutama di Bandar Udara Kalimarau Berau yang memiliki ekosistem mendukung keberadaan satwa liar. Rumusan masalah mencakup jenis satwa yang berpotensi mengganggu penerbangan, tingkat risiko yang ditimbulkan, serta strategi mitigasi yang dapat diterapkan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi satwa liar di area bandara, menganalisis tingkat risikonya, dan memberikan rekomendasi pencegahan.

Manfaat penelitian diharapkan dapat berkontribusi secara teoritis dalam bidang keselamatan penerbangan serta memberikan solusi praktis bagi pengelola bandara.

2. BAB II : LANDASAN TEORI

Bab ini mencakup beberapa konsep utama yang berkaitan dengan keselamatan penerbangan dan wildlife hazard. Pertama, konsep keselamatan penerbangan dijelaskan berdasarkan regulasi internasional dan nasional, termasuk faktor-faktor yang memengaruhi keamanan operasional penerbangan. Kedua, teori tentang wildlife hazard dalam penerbangan membahas definisi, jenis ancaman yang ditimbulkan oleh satwa liar, serta dampak yang dapat terjadi, seperti bird strike. Ketiga, kajian mengenai faktor lingkungan dan habitat satwa liar di bandara mengidentifikasi elemen-elemen seperti sumber makanan, air, dan vegetasi yang dapat menarik burung serta hewan liar ke area operasional bandara.

Selanjutnya, penelitian ini mengacu pada regulasi dan kebijakan mitigasi risiko satwa liar, termasuk standar yang ditetapkan oleh ICAO dan Kementerian Perhubungan dalam mengelola ancaman terhadap penerbangan. Landasan teori ini menjadi dasar dalam menganalisis tingkat

(16)

7

risiko serta menyusun rekomendasi strategi mitigasi yang efektif untuk Bandar Udara Kalimarau Berau.

3. BAB III : METODE PENELITIAN

Desain penelitian akan dibahas pada bagian ini termasuk penjelasan terkait metode penelitian yang akan diambil berupa metode penelitian campuran (mixed method) oleh penulis. Selain itu, bab ini mencakup pendekatan penelitian yang digunakan, lokasi dan waktu penelitian, serta metode pengumpulan dan analisis data. Observasi langsung dilakukan di Bandar Udara Kalimarau Berau untuk mengidentifikasi satwa liar, didukung dengan wawancara petugas bandara dan studi dokumentasi insiden penerbangan. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan metode statistik atau skala risiko untuk menentukan tingkat ancaman wildlife hazard terhadap keselamatan penerbangan..

4. BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini menyajikan hasil identifikasi satwa liar di area bandara, analisis tingkat risiko yang ditimbulkan, serta strategi mitigasi yang dapat diterapkan. Pembahasan ini bertujuan memberikan gambaran menyeluruh mengenai dampak wildlife hazard terhadap operasional penerbangan di Bandar Udara Kalimarau Berau serta langkah-langkah pencegahan yang efektif..

5. BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Merangkum temuan utama penelitian mengenai tingkat risiko wildlife hazard di Bandar Udara Kalimarau Berau. Kesimpulan diambil berdasarkan hasil analisis, sementara saran diberikan kepada pengelola bandara untuk meningkatkan pengendalian satwa liar dan bagi penelitian selanjutnya agar mengembangkan metode mitigasi yang lebih efektif.

6. DAFTAR PUSTAKA

Memuat referensi dan sumber sebagai rujukan dan bahan acuan penulis dalam melakukan penulisan tugas akhir.

7. LAMPIRAN

(17)

8

Pada lampiran berisi tentang hasil dokumentasi berupa foto dan dokumen yang digunakan selama melakukan kegiatan penelitian.

(18)

9 BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 Teori Penunjang

2.1.1 Penerbangan

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, penerbangan merupakan sebuah sistem terpadu yang mencakup penggunaan wilayah udara, pesawat udara, bandara, transportasi udara, navigasi penerbangan, keselamatan dan keamanan, lingkungan hidup, serta fasilitas pendukung dan fasilitas umum lainnya.

Penyelenggaraan penerbangan bertujuan untuk mencegah praktik bisnis yang merugikan serta memastikan bahwa penerbangan berjalan dengan tertib, teratur, selamat, aman, dan nyaman dengan harga yang terjangkau.

2.1.2 Bandar Udara

Berdasarkan dokumen International Civil Aviation Organization (ICAO), bandar udara merupakan suatu area yang berada di darat termasuk di perairan yang mencakup bangunan, instalasi, serta peralatan yang digunakan untuk kegiatan penerbangan. Kegiatan penerbangan yang dimaksud yaitu aktivitas pesawat lepas landas, mendarat, dan bergerak, serta pergerakan penumpang dan kargo. Pada umumnya, bandar udara memiliki fasilitas seperti landasan pacu, apron, terminal, hangar, dan fasilitas penunjang penerbangan lainnya yang dibutuhkan untuk operasional penerbangan. (ICAO Annex 14, 2018).

Sedangkan berdasarkan Undang-Undang No. 1 yang disahkan pada tahun 2009 tentang Penerbangan menjelaskan tentang pengertian “Bandar udara yaitu kawasan di daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas landas, naik turun penumpang, bongkar muat barang, dan tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi, yang dilengkapi dengan

(19)

10

fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan, serta fasilitas pokok dan fasilitas penunjang lainnya.

2.1.3 Keselamatan Penerbangan

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, Keselamatan Penerbangan diartikan sebagai suatu kondisi di mana semua persyaratan keselamatan terpenuhi dalam penggunaan wilayah udara, pesawat udara, bandara, angkutan udara, navigasi penerbangan, serta fasilitas penunjang dan fasilitas umum lainnya.

Keselamatan penerbangan bukan hanya tentang mencari keuntungan, tetapi lebih merupakan tanggung jawab untuk memastikan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan seluruh penumpang serta personel bandara yang terlibat. Keselamatan penerbangan tercapai ketika operasi penerbangan berjalan lancar sesuai prosedur dan standar teknis yang berlaku terhadap sarana dan prasarana penerbangan beserta fasilitas pendukungnya. Kewajiban untuk menjaga keselamatan penerbangan ini berlaku bagi semua maskapai penerbangan dan pihak bandara.

Untuk menjamin keamanan dan keselamatan penerbangan, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2001. Negara secara langsung bertanggung jawab penuh dalam mengelola dan mengawasi seluruh aspek keamanan dan keselamatan penerbangan sipil. Menurut peraturan ini, yang dimaksud dengan :

➢ Keamanan dan keselamatan penerbangan merupakan kondisi yang menjamin pelaksanaan penerbangan sesuai dengan standar keselamatan yang telah ditetapkan.

➢ Keselamatan penerbangan tercapai ketika semua kegiatan penerbangan mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan dan semua peralatan yang digunakan dalam kondisi baik.

(20)

11 2.1.4 Sisi Udara

Sisi Udara adalah daerah pergerakan Pesawat Udara atau movement area di Bandar Udara, termasuk daerah sekitarnya dan gedung atau bagiannya di mana akses masuk daerah tersebut dikendalikan dan dilakukan Pemeriksaan Keamanan dan/atau memiliki izin khusus.

2.1.5 Hazard

Gangguan (Hazard) adalah segala kondisi, benda, atau aktivitas yang memiliki potensi untuk menyebabkan cedera pada personel, kerusakan pada peralatan atau struktur, kerugian materi, atau penurunan kemampuan dalam menjalankan suatu fungsi. Sumber atau keadaan berbahaya adalah segala sesuatu yang berpotensi mengakibatkan kecelakaan, penyakit, kerusakan peralatan, atau kerusakan lingkungan. Bahaya kerja dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis: bahaya kesehatan (berpotensi menyebabkan penyakit), bahaya kecelakaan (berpotensi menyebabkan kecelakaan atau kerusakan), dan bahaya lingkungan (berpotensi menyebabkan kerusakan lingkungan).. (Halim & Panjaitan, 2016)

.

2.1.6 Hewan Liar

Pengertian hewan liar menurut (SKEP/42/III/2010, 2010) hewan liar adalah hewan yang berada di wilayah operasi Bandar Udara yang mengganggu /berpotensi menimbulkan bahay terhadap pengoprasian pesawat udara.

2.1.7 Manajemen Hewan Liar(Wildlife Hazard Management) 1. Pengertian Manajemen Hewan Liar

Wildlife hazard management adalah serangakaian kegiatan guna mengontrol atau pengendalian daya tarik bandar udara terhadap burung dan hewan liar lainnya yang bagian dari prosedur pedoman pengoperasian bandar udara (Sulthan Abdi Rahman Mafaza & Eny Sri Haryati, 2022). Manajemen hewan liar dapat berupa memanipulasi perilaku hewan atau habitatnya untuk mencapai tujuan tertentu sehubungan dengan perilaku, populasi, atau distribusi geografis hewan.

(21)

12 2. Petugas Manajemen Hewan Liar

Petugas yang menangani bahaya hewan liar terdiri atas AMC (Apron Movement Control), petugas safety and risk management, petugas ATC (Air Traffic Control), petugas security bandar udara, petugas PKP-PK, unit infrastruktur bandar udara. Mereka harus bekerja sama dan berkoordinasi dalam penanganan hewan liar.

3. Tugas Manajemen Hewan Liar

Tugas petugas penanggung jawab wildlife hazard management secara umum adalah mengelola burung dan hewan liar untuk mencegah burung atau hewan liar tersebut masuk ke area bandar udara. Petugas penanggung jawab wildlife hazard management secara spesifik bertugas untuk mengidentifikasi potensi bahaya serangan burung dan hewan liar, menerapkan habitat manajemen burung dan hewan liar, melakukan pencatatan pengawasan burung dan hewan liar dan koordinasi dengan unit terkait.

Tugas personil atau unit kerja:

a. Mengindentifikasi sedini mungkin adanya potensi bahaya yang timbul akibat keberadaan serangan burung dan gangguan hewan liar yang berada di bandar udara dan sekitarnya.

b. Memahami habitat burung dan hewan liar yang berada di bandar udara dan sekitarnya yang dapat membahayakan keselamatan operasi penerbangan.

c. Meminimalkan atau menghilangkan penyebab masuknya burung dan hewan liar, dengan cara membersihkan semak belukar, membatasi ketinggian rumput, penutupan drainase, dan mengatur tempat pembuangan sampah makanan.

d. Melakukan identifikasi kegiatan kawanan burung dalam radius 13 km.

e. Membuat penyimpanan catatan pengawasan keberadaan burung dan hewan liar.

(22)

13

f. Melakukan koordinasi dengan unit terkait terhadap potensi atas kemungkinan kejadian akibat burung dan hewan liar.

(23)

14 2.2 Kajian Penelitian Terdahulu yang Relevan

Tabel 2. 1 Tabel Penelitian Terdahulu

Judul Tahun Peneliti Keterangan

“IMPLEMENTASI PERATURAN KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENERBANGAN TERKAIT

MANAJEMEN BAHAYA HEWAN LIAR DI BANDAR UDARA

INTERNASIONAL HANG NADIM BATAM”

2023 1.Sri Sutarwati 2.Lusi Amelia Simanjuntak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

mengetahui dan

menganalisis implementasi peraturan keamanan dan keselamatan penerbangan terkait manajemen bahaya hewan liar di Bandar Udara Internasional Hang Nadim Batam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif- empiris. Data dalam penelitian ini diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu berusaha menjelaskan pemecahan masalah berlandaskan data-data, dengan menyajikan, menganalisis serta menginterpretasikannya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa petugas Manajemen

(24)

15

Bahaya Hewan Liar Bandar Udara Internasional Hang Nadim, telah menjalankan tugas sesuai peraturan yang dikeluarkan oleh International Civil Aviation Organization (ICAO) dalam buku Airport Service Manual (DOC.9137 – AN/898) Part 3 Bird and reduction, Chapter 6 sub bab 6.1.1., dan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2001 tentang Keamanan

dan Keselamatan

Penerbangan, yaitu melakukan mitigasi risiko yang bertujuan untuk menurunkan level risiko dari ancaman bahaya hewan liar burung dan monyet.

“Analisis Risiko Bird Strike dengan Metode Sowden dan Metode MOORA di Bandara

Internasional XYZ”

2023 1.Ima Nursani 2.Ony Arifianto

Penelitian ini berfokus pada analisis risiko bird strike dengan Metode Sowden dan Metode MOORA.

Penelitian ini

menggunakan tiga metode, yaitu metode Sowden di mana penilaian berdasarkan ukuran berat badan burung

(25)

16

dan karakteristik sosial, metode MOORA yang merupakan metode penghitungan dengan mempertimbangkan lokasi burung berada, kemampuan terbang burung dan jumlah burung pada saat pengamatan. Berdasarkan analisa penghitungan dengan metode Sowden dan metode MOORA, yang kemudian dibuat analisis lanjutan dengan risk assessment, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kemungkinan risiko bird strike di Bandara XYZ sangat tinggi karena beberapa jenis burung, seperti burung kuntul kerbau, cangak abu, cangak merah, dan blekok sawah banyak ditemukan di area airside dan landside.

“Manajemen Penanganan Hewan Liar (Wildlife Hazard) Terhadap Keselamatan Penerbangan di

2023 1.Carolina Andini Aswiratin 2.Elfi Amir 3.Martha Saulina

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penanganan terhadap keberadaan hewan liar

(anjing) yang

mempengaruhi

(26)

17 Bandar Udara

Internasional Aji Pangeran

Tumenggung Pranoto Samarinda”

keselamatan penerbangan.

Penelitian ini

menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Untuk pengumpulan data mennggunakan studi dokumentasi dan observasi secara langsung di lapangan mulai Desember 2020 hingga Februari 2021.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan hewan liar yang masuk di manouevering area dan movement area Bandar Udara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Samarinda sering menghambat pergerakan pesawat udara. Perlu adanya perhatian khusus dalam penanganan hewan liar untuk meningkatkan keselamatan penerbangan di Bandar Udara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Samarinda. Selain itu, diperlukan koordinasi serta manajemen sistem yang baik berupa pembentukan

(27)

18

tim pencegahan hewan liar dan perbaikan infrastruktur yang dapat menjadi celah untuk pintu masuk hewan liar ke manouevering area dan movement area.

(28)

19 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian

Menurut Nazir (2005), penelitian berasal dari terjemahan kata "research"

dalam bahasa Inggris, yang memiliki arti "mencari," yang pada dasarnya berarti

"mencari kembali." Dengan demikian, penelitian merupakan upaya untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji suatu fenomena atau pengetahuan dengan pendekatan ilmiah. Prosedur, alat, dan desain penelitian yang digunakan berkaitan erat dengan metode yang dipilih, yang pada gilirannya memberikan panduan kepada peneliti tentang cara penelitian harus dilaksanakan.

Metode penelitian menurut Suharsimi Arikunto (1986) adalah cara berfikir, berbuat yang dipersiapkan dengan baik-baik untuk mengadakan penelitian, dan untuk mencapai suatu tujuan penelitian.

Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, kualitatif deskriptif adalah suatu metode yang mempelajari keadaan suatu kelompok orang, objek, keadaan, sistem pemikiran, atau peristiwa tertentu pada masa sekarang. Tujuannya adalah untuk menciptakan gambaran sistematis, faktual, dan akurat tentang fakta, ciri, dan hubungan antar fenomena yang diteliti.

Dengan demikian, metode penelitian kualitatif deskriptif adalah penelitian yang mempelajari objek, situasi, kelompok orang, atau fenomena lain dalam keadaan nyata atau wajar (tanpa percobaan) untuk menghasilkan gambaran keseluruhan yang sistematis atau gambaran rinci yang faktual dan akurat.

Dalam penelitian, observasi dan dokumentasi adalah langkah pertama.

Setelah itu, fenomena dikaji. Penelitian ini memberikan gambaran umum mengenai penanganan wildlife hazard di Bandar Udara Kalimarau Berau.

Faktor yang beresiko membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan di sisi udara, selanjutnya akan dilanjutkan analisa lebih lanjut berdasarkan : SKEP 42/III/2010 tentang Petunjuk dan Tata Cara Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 139 – 03 Manajemen Bahaya Hewan

(29)

20

Liar di Bandar Udara dan Sekitarnya (Advisory Circular Casr 139 – 03, Wildlife Hazard Management on or in the Vicinity of an Aerodrome).

3.2 Variabel Penelitian

Istilah "variabel" merujuk pada sesuatu yang dapat berubah atau memiliki variasi. Dalam konteks penelitian, variabel adalah konsep atau karakteristik yang dipelajari oleh peneliti untuk mendapatkan informasi dan menarik kesimpulan.

Variabel dapat berupa apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk diukur, diamati, atau dianalisis, seperti tingkat aspirasi, pendapatan, pendidikan, atau jenis kelamin. Pada dasarnya, variabel adalah representasi konkret dari konsep abstrak yang memungkinkan peneliti untuk mempelajarinya secara sistematis.

Macam-macam Variasi Penelitian

a. Variabel Independen (Variabel Bebas)

Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau menyebabkan perubahan pada variabel lain. Ini adalah variabel yang dimanipulasi atau dikontrol oleh peneliti untuk melihat dampaknya terhadap variabel dependen.

Variabel independen sering disebut sebagai "penyebab" dalam hubungan sebab-akibat.

b. Variabel Dependen(Variabel Terikat)

Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau berubah sebagai akibat dari perubahan pada variabel independen. Ini adalah variabel yang diamati atau diukur oleh peneliti untuk melihat apakah ada pengaruh dari variabel independen. Variabel dependen sering disebut sebagai "akibat"

dalam hubungan sebab-akibat.

(30)

21 3.3 Populasi, Sampel, dan Objek Penelitian

3.3.1 Populasi

Populasi adalah kelompok atau objek yang akan digeneralisasikan dari hasil penelitian (Soegiyono, 2013). Dan populasi yang diambil penulis yaitu semua potensi cara penanganan wildlife hazard di Bandar Udara Kalimarau Berau.

3.3.2 Sampel

Sedangkan, menurut (Soegiyono, 2013), sampel merupakan bagian dari keseluruhan serta karakter yang dimiliki oleh sebuah populasi. Dalam hal ini, penulis mengambil sample dari populasi yaitu menentukan penanganan yang tepat untuk potensi adanya wildlife hazard di Bandar Udara Kalimarau Berau.

3.3.3 Objek Penelitian

Sugiyono (2017) mengatakan bahwa objek penelitian adalah fitur, sifat, atau nilai individu, objek, atau kegiatan yang memiliki variasi tertentu yang dimasukkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik akhirnya. Namun, menurut Satibi (2011:74), objek penelitian biasanya menggambarkan atau menggambarkan sasaran penelitian atau lingkup penelitian secara keseluruhan, yang mencakup atribut dari lingkup penelitian tersebut.

Adapun objek penelitian yang ditulis yaitu penanganan Birdstrike dan dengan SKEP 42/III/2010 tentang Petunjuk dan Tata Cara Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 139 – 03 Manajemen Bahaya Hewan Liar di Bandar Udara dan Sekitarnya (Advisory Circular Casr 139 – 03, Wildlife Hazard Management on or in the Vicinity of an Aerodrome 3.4 Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian

3.4.1 Teknik Pengumpulan Data

Alat penelitian dapat berupa alat pengumpulan data baku yang tersedia atau alat yang dikembangkan sendiri oleh peneliti. Untuk

(31)

22

mengembangkan alat ini, peneliti harus memiliki pemahaman yang mencukupi.Karena ada beberapa nama instrumen penelitian yang sama dengan metodenya, seperti yang disebutkan oleh Arikunto, pembahasan tentang jenis instrumen tidak akan terlepas dari jenis metode pengumpulan data, antara lain adalah sebagai berikut ini.

a. Instrumen untuk metode observasi adalah pedoman observasi atau panduan pengamatan dan juga check list

b. Instrumen untuk metode dokumentasi adalah pedoman dokumentasi atau checklist

Penulis akan melakukan metode Analisis secara kualitatif deskriptif dengan melakukan pengumpulan data primer yang dikumpulkan langsung dari sumbernya, yaitu sisi Airside Bandar Udara Kalimarau Berau dan juga dengan melakukan pengumpulan data sekunder, yaitu diperoleh dari sumber lain, seperti laporan, jurnal dan dokumen – dokumen terkait. Untuk metode pengumpulan data primer diperoleh dari observasi langsung dan pengukuran.

1) Observasi

Observasi merupakan pengamatan langsung dengan fokus pada objek dan penggunaan seluruh indra guna mengumpulkan data.

Observasi bisa berpedoman pada pengamatan, tes, kuesioner, rekaman gambar, dan rekaman suara (Thalha Alhamid dan Budur Anufia, 2019). Tujuan observasi yaitu untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku dan peristiwa yang diamati, kemudian untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang telah dirumuskan, serta mengevaluasi kesimpulan tertentu untuk mendapatkan umpan balik berdasarkan hasil penelitian.

Pada penelitian ini, observasi dilakukan secara langsung pada saat penulis melaksanakan kegiatan On the Job Training (OJT) di Bandar Udara Kalimarau Berau. Observasi langsung, yaitu mengamati secara langsung kondisi fisik komponen atau sistem yang mengalami

(32)

23

kerusakan. Dalam konteks Inspeksi wildlife hazard di Bandar Udara Kalimarau Berau, penulis melakukan pengamatan langsung di area sisi udara bandara (airside) dengan bantuan anggota AMC (Apron Movement Control) selama proses inspeksi.

2) Dokumen

Dokumen adalah catatan peristiwa yang sudah lalu. Dokumen bisa seperti, tulisan, gambar, atau karya-karya seseorang. Contoh dari dokumen tulisan yaitu, peraturan atau kebijakan. Contoh dari dokumen gambar yaitu, foto, sketsa, dan lain-lain. Sedangkan contoh dokumen dalam bentuk karya yaitu, jurnal-jurnal atau studi kasus.

Dalam dokumen ini penulis membagi menjadi 2 data, yaitu data primer dan data sekunder.

a. Data Primer

Data primer adalah informasi yang diperoleh langsung dari sumber aslinya, bukan melalui perantara. Dalam penelitian ini, data primer yang digunakan meliputi jenis-jenis hewan yang sering terlihat di area sisi udara Bandar Udara Kalimarau Berau, data operasional seperti jadwal inspeksi rutin AMC, serta catatan kejadian gangguan akibat wildlife hazard di bandara tersebut.

Selain itu, data mengenai peralatan atau instrumen yang digunakan untuk mencegah wildlife hazard di Bandar Udara Kalimarau Berau juga termasuk dalam data primer.

b. Data Sekunder

Sumber data yang didapat penulis secara tidak langsung dan diperoleh melalui media perantara, baik media cetak ataupun elektronik.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan data sekunder yang berasal dari beberapa sumber. Pertama, data yang dimiliki oleh anggota AMC Bandar Udara Kalimarau Berau. Kedua, informasi dari jurnal-jurnal yang tersedia di situs web resmi yang membahas tentang penanganan wildlife hazard di bandara-

(33)

24

bandara di Indonesia dan seluruh dunia. Ketiga, data operasional dari anggota AMC yang melakukan inspeksi terkait penanganan wlidlife hazard di Bandar Udara Kalimarau Berau. Terakhir, pengalaman pribadi penulis selama On The Job Training di Bandar Udara Kalimarau Berau juga dianggap sebagai data sekunder yang relevan.

3.5 Teknik Analisis Data

Sugiyono menjelaskan bahwa analisis data teknis adalah suatu proses yang terstruktur untuk mengolah data yang diperoleh dari lapangan atau dokumen.

Proses ini melibatkan pengelompokan data, pemecahan data menjadi bagian- bagian yang lebih kecil, penggabungan informasi, dan pembentukan pola-pola tertentu. Data yang diperoleh akan dikaji menggunakan metode risk assessment untuk menentukan tingkat risiko wildlife hazard berdasarkan frekuensi kejadian dan dampaknya terhadap penerbangan. Hasil kajian ini akan digunakan untuk merumuskan rekomendasi strategis.

Penulis akan melakukan metode Analisis secara kualitatif dengan melakukan pengumpulan data primer yang dikumpulkan langsung dari sumbernya, yaitu sisi Airside Bandar Udara Kalimarau Berau dan juga dengan melakukan pengumpulan data sekunder, yaitu diperoleh dari sumber lain, seperti laporan, jurnal dan dokumen – dokumen terkait.

3.6 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada saat penulis melaksanakan On The Job Training (OJT) yang dilaksanakan di Bandar Udara Kalimarau Berau selama kurang lebih 5 (lima) bulan.

a. Lokasi Penelitian yang digunakan untuk penyusunan Proposal Tugas Akhir ini di Unit Penyelenggara Bandar Udara Kalimarau Berau

b. Waktu Penelitian ini dimulai pada bulan Oktober 2024 – Februari 2025.

(34)

25

DAFTAR PUSTAKA

Ali Akbar Pratama, & Kifni Yudianto. (2024). Analisis Dampak Keberadaan Hewan Ternak Milik Warga Sekitar Bandara Bagi Keselamatan Penerbangan di Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid Lombok. 3.

Aswiratin, carolina andini, Amir, E., & Saulina, M. (2024).

Manajemen Penanganan Hewan Liar (Wildlife Hazard) Terhadap Keselamatan Penerbangandi Bandar Udara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Samarinda.

Aviation Business and Operations Journal, 1.

Basuki, M. R. P. dan B. (2019a). No Title. PENENTUAN FREKUENSI DAN TINGKAT TEKANAN BUNYI EFEKTIF UNTUK MENGUSIR BURUNG DI KAWASAN BANDARA AHMAD YANI SEMARANG.

Basuki, M. R. P. dan B. (2019b). No Title. PENENTUAN FREKUENSI DAN TINGKAT TEKANAN BUNYI EFEKTIF UNTUK MENGUSIR BURUNG DI KAWASAN BANDARA AHMAD YANI SEMARANG.

Cory Wulan1*, Muhammad Fadli Putra Aulia1, J. K. (2023). No Title. Identifikasi Spesies Burung Di Hutan Rawa Bento Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, 07.

Fashli, R. A., & Nawang Ginusti, G. (2022). Analisis Sistem Manajemen Keselamatan Petugas Dalam Menangani Bahaya Hewan Liar Di Area Airside Bandar Udara Internasional Adi Soemarmo Boyolali. Jurnal Penelitian, 7(1), 1–11.

https://doi.org/10.46491/jp.v7i1.838

Hadinoto, E. S. (2021). No Title. KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI KEBUN CAMPURAN, 16.

Halim, L. N., & Panjaitan, Togar. W. S. (2016). No Title.

Perancangan Dokumen Hazard Identification Risk Assessment

Risk Control (HIRARC) Pada Perusahaan Furniture: Studi

Kasus, 4.

(35)

26

Meliyana1, Rohmalia Hayatun Nufus2, Resty Apriani 3, Juhaeriyah4, An Nur Dwikanira NiswaraMeliyana1, Rohmalia Hayatun Nufus2, Resty Apriani 3, Juhaeriyah4, A. N. D. N.

(2024). No Title. Keanekaragaman Aves Di Kawasan Cagar Alam Pulau Dua, 17.

Mora, M., Bashory, m. hasan, Saaroni, Y., Setiadi, T., Rakhman, Z., & Sitompul, muhammad rafiqi. (2021). Risk Assessment Keberadaan Burung di

Lingkungan Bandar Udara Studi Kasus: Bandar Udara Soekarno- Hatta. Jurnal Perhubungan Udara, 47.

Nisa, G. K. M. A. S. (2021). No Title. IDENTIFIKASI JENIS AVES DIURNALDI SAWAH BERGAS LOR TENGAH KABUPATEN SEMARANG, 4.

Simanjuntak, L. A., & Sutarwati, S. (2023). Analisis Penerapan Manajemen Bahaya Hewan Liar Dalam Menunjang Keselamatan Penerbangan Dengan Metode Hazard Identification and Risk Assessment(HIRA) Di Bandar Udara Internasional Hang Nadim Batam. Student Scientific Creativity Journal, 1.

Sitompu, M. R., Minda Mora, & Bashory, M. H. (2021). No Title.

Risk Assessment on Birds Population in the Airport Case Study: Soekarno-Hatta Airport, 47.

Sutarwati, S. L. A. S. (2023). No Title. IMPLEMENTASI PERATURAN KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENERBANGAN TERKAIT MANAJEMEN BAHAYA HEWAN LIARDI BANDAR UDARA INTERNASIONAL HANG NADIM BATAM, 16.

Tandibua, dian bella, & Widagdo, D. (2024). Kajian Pengawasan

Unit Apron Movement Control (AMC) terhadap Kelayakan

Ground Support Equipment (GSE) di Sisi Udara Bandar Udara

(36)

27

Internasional Hang Nadim Batam. Jurnal Kajian Ekonomi Dan Bisnis Islam, 5.

Tuluk, E., & Buyung, ir. irawadi. (2017). No Title. Implementasi Alat Pengusir Hama Burung Di Area Persawahan Dengan Menggunakan Gelombang Ultrasonik Berbasis Mikrokontroler, 7.

Wicaksono, A., & Kusuma, N. M. P. (2022). No Title. Analisis Pencegahan Terhadap Bahaya Hewan Liar Untuk Meningkatkan Keselamatan Penerbangan Di Bandar Udara Tjilik Riwut Palangka Raya (Wildlife Hazard Management), 6.

Yusri, A. Z. dan D. (2020). Analisis Pelayanan Penumpang di Area Ruang Tunggu Terminal Domestik Bandar Udara Internasional Juanda Surabaya. Jurnal Ilmu Pendidikan, 7(2), 809–820.

Zahara, R. M. (2023). No Title. Pengaruh Makanan Terhadap MelanismeBulu Pada Bagian Perut Burung Bondol Jawa (Lonchuraleucogastroides), 02.

Gambar

Tabel 2. 1 Tabel Penelitian Terdahulu

Referensi

Dokumen terkait